Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL

TRANNING OF TRAINER
PANTI WREDHA HANNA BOGOR

Disusun Oleh :

Elsye Sopacua 18160100000 Nadia Aulian 18160100000

Evie Roch Harfiani 18160100054 Nelson Gultom 18160100000

Cucu Malihah 18160100000 Neneng Hasanah 18160100000

Hendra Saepulloh 18160100000 Rachmad Saleh 18160100000

Ikhsan Sodik 18160100000 Sesye Fransiska 18160100000

Khoerunnisa 18160100000 TiniJumariah 18160100000

Meriontha 18160100000 Zemi Ahmad M 18160100000

Muhammad Ropiq 18160100000

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGI ILMU KESEHANTAN INDONESIA MAJU

2017
LEMBAR PENGESAHAN

Proposal TOT Lansia


Panti Wredha Hanna Bogor

Telah Disyahkan

Pada tanggal:............/ Desember /2017

Mengetahui :

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

(………………...………..) (….....……………………)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGI ILMU KESEHANTAN INDONESIA MAJU

2017
PROPOSAL KEGIATAN
TRAINING OF TRAINER
A. Topik
Manajement Demensia
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Pengasuh dapat mamahami dengan baik dan benar mengenai manajamen
demensia pada lansia di panti wreda hanna sehingga mampu memberikan terapi
yang tepat untuk penanganan demensia.
2. Tujuan Khusus
a. Pengasuh dapat memahami tentang definisi Manajament Demensia
b. Pengasuh dapat memahami tanda dan gejala demensia
c. Pengasuh dapat memahami jenis jenis terapi pada lansia yang mengalami
demensia
d. Pengasuh dapat memahami cara atau strategi komunikasi pada lansia dengan
demensia
C. Landasan Teori
1. Konsep dasar lansia
Terapi demensia merupakan solusi terbaik untuk mengatasi penderita gejala
parkinson dan Alzheimer yang menyerang otak dan menyebabkan seseorang mudah
lupa. Demensia seringkali menimpa orang lanjut usia yaitu sekitar 1,4 persen adalah
yang berusia 65 sampai 70 tahun , Sekitar 2,8 persen adalah yang berusia 71 sampai 75
tahun dan sekitar 5,6 persen adalah yang berusia 75 keatas.
a. Pengertian
Demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang
menyebabkan deteriorasi kognisi dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan
fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. (Turana, 2006). Sementara itu
Watson (2003) menyatakan bahwa demensia adalah suatu kondisi konfusi kronik
dan kehilangan kemempuan kognitif secara global dan progresif yang dihubungkan
dengan masalah fisik.
b. Penyebab
1. Genetika
Jika dalam keluarga memiliki keturunan penyakit demensia maka akan
diturunkan pada keturunan berikutnya. Penyakit demensia akan 5 kali lebih
cepat menyerang pada pecandu alkohol dan Obata obatan terlarang yang
dikeluarganya memiliki riwayat demensia
2. Diabetes
penderita diabetes termasuk diabetes mellitus beresiko besar mengalami
demensia karena kadar gula dalam darah yang berlebih mampu menyebabkan
fungsi kognitifnya menjadi sangat lambat dan fungsi utamanya menjadi lebih
rentan mengalami kemunduran dalam mengingat sesuatu.
3. Faktor usia
Pada usia lebih dari 50 tahun maka saraf saraf pada jaringan otak akan
menyusut dan melemah fungsinya secara alami. Untuk tetap mempertahankan
kesehatan saraf maka dapat segera dikonsultasikan pada dokter yang terkait
agar kemunduran dalam mengingat sesuatu bisa diperbaiki lebih awal.
4. Penggunaan obat obatan
Obat obatan pereda rasa sakit yang dikonsumsi secara terus menerus
(kebiasaan) dalam jangka panjang ataupun obat jenis narkoba sama sama
memiliki zat kimia yang bersifat menghambat masuknya oksigen melalui arteri
dan aliran darah menuju otak yang dapat merusak memori dan daya ingat
seseorang secara bertahap. Hal ini berlaku pada orang orang yang masih berusia
prodiukrtif yaitu anatara usia 20 sampai 35 tahun. Tak heran jika usia muda yang
oecandu narkoba memiliki cara berfikir yang mundur dan mudsah lupa serta
lebih sering terserang depresi.
5. Trauma Fisik
Seseorang yang pernah sembuh dari luka dan peradangan kepala akibat
benturan keras maka akan rentan terkena demensia. Kerusakan ringan yang
poernah menjadi trauma dibagian dalam kepala mampu menimbulkan trauma
baru kertika tubuh terserang depresi berat.
6. Stroke ringan dan berat
Penyakit stroke ringan ataupun yang berat mampu menyebabkan seseorang
menderita kelumpuhan separuh atau seluruh badan. Kelemahan saraf saraf dan
otot tubuh akibat stroe akibat penyumbatan pada pembuluh darah tersebut
mampu mempengaruhi kelancaran aliran darah menuju otak. Akibatnya
seseorang bisa mengalami penyakit lupa secara bertahap atau demensia
c. Tanda dan gejala
Tanda dan Gejala Tanda dan gejala terjadinya demensia secara umum adalah
sebagai berikut : (Hurley, 1998).
1. Daya ingat yang terus terjadi pada penderita demensia, ”lupa” menjadi bagian
keseharian yang tidak bisa lepas.
2. Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan,
tahun, tempat penderita demensia berada.
3. Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar,
menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mangulang kata atau
cerita yang sama berkali-kali.
4. Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis yang berlebihan saat melihat
sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang di lakukan orang
lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak
mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
5. Adanya perubahan tingkah laku seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah
d. Terapi demensia
1. Terapi Farmakologi
Terapi demensia bisa dilakukan dengan upaya pengobatan terapi farmakologi
yang dapat dilakukan dengan memberikan obat tertentu dengan izin dokter
yang tujuannya agar dapat memperbaiki penurunan daya ingat serta dapat
memblokir perluasan penyakit yang berkaitan dengan psikologis, meliputi
depresi, gelisah, kesulitan tidur, tidak dapat memgendalikan amarah dan lain
sebagainya.
2. Terapi non-farmakologi
Metode non farmakologi bias dilakukan dengan latihan serta pembelajaran
untuk melafalkan kata kata, memperbanyak humor, untuk menganalisa catatan,
melatih bahasa, untuk melakukan olahraga atau untuk melakukan senam otak,
kecepatan menjawab dan mengingat secara berulang-ulang dan melakukan
rekreasi untuk peregangan otot dan saraf seputar otak secara teratur agar dapat
meningkatkan daya ingat dengan bertahap. Salah satu permainan untuk
penderita demensia adalah permainan kartu ceki. Permainan kartu ceki adalah
sebuah permainan dengan menggunakan media kartu dengan tujuan
menyamakan pola dan kelompok kartu. Kartu ceki sangat terkenal pada zaman
dahulu saat pedagang dari Cina datangke Indonesia, hingga akhirnya kartu ceki
menjadi tradisi Indonesia dan sering dimainkan setelah acara pernikahan. Usaha
untuk menyamakan pola dan kelompok kartu pada permainan kartu ceki dapat
menstimulasi otak pemain untuk berfikir dan mengenang memori masa lalu
secara visual dan kinestetik
3. Terapi Audio Gelombangotak
Audio gelombang otak bias berbentuk music atau lagu yang mempunyai
karakter untuk menenangkan serta dapat meningkatakan kecerdasan, dapat
meningkatkan konsentrasi serta lebih kreatif untuk berfikir dan mengaktifkan
listrik di dalam darah yang menuju jaringan otak.
4. Terapi Psikologi
Meningkatkan daya ingat dan meningkatkan kecerdasan untuk menganalisa
sesuatu bias dilakukan dengan menerapkan kebiasaan pola hidup yang sehat
termasuk dalam mengkonsumsi makanan sehat, kebiasaan olahraga,
menjauhirokok, menghindari minuman alcohol serta menghindari konsumsi
obat – obatan terlarang.
5. Terapi dengan obat penghambat Asetilkolinesterase
Obat untuk penghambat asetilkolinesterase dapat digunakan dalam terapi
demensia yang tujuannya agar dapat mengurangi depresi serta dampak mudah
lupa
e. Perawatan Demensia.
Perawatan Demensia Merawat pasien dengan demensia sangat penting peranan
dari perawat. Apakah ia anggota keluarga atau tenaga yang diupah, ia harus
mempunyai pengetahuan yang memadai tentang demensia dan mau belajar terus
untuk mendapatkan cara-cara efektif dalam mengasuh pasien. Perawat perlu
berdiskusi dan berkonsultasi dengan dokter yang merawat pasien sehingga dapat
dibuat suatu program pengobatan yang tepat. (Turana, 2006).
Pemberian obat anti demensia pada fase demensia dini akan lebih jelas
manfaatnya dibandingkan demensia fase berat. Karenanya semakin cepat
didiagnosa adalah semakin baik hasil terapinya. Kadang-kadang orang takut
mengetahui kondisi yang sebenarnya, lalu menunda mencari pertolongan dokter.
Pemeriksaan kondisi mental dan evaluasi kognitif yang rutin (6 bulan sekali) sangat
dianjurkan bagi orang yang berusia sekitar 60 tahun supaya dapat segera diketahui
jika ada kemunduran kognitif yang mengarah pada demensia, dan dapat segera
dilakukan intervensi guna mencegah kondisi yang lebih parah. (Turana, 2006).

Masih kurangnya bukti yang menunjukkan intervensi farmakologis yang efektif


dalam pengobatan pada pasien demensia dengan gejala perubahan perilaku dan
psikologis. Laporan terbaru mengindikasikan penggunaan antipsikotik tipikal dan
atipikal berhubungan dengan peningkatan risiko kematian. Oleh karena itu, terapi
nonfarmakologi sangatlah penting menjadi garda terdepan dalam manajemen dan
pengobatan pasien demensia dengan gejala perubahan perilaku dan psikologis.
Sebuah tinjauan sistematis menunjukkan bahwa pendidikan caregiver, musik, latihan
fisik, rekreasi, dan terapi yang validitasi mampu mengurangi gejala perubahan
psikologis pada pasien dengan demensia. Tujuan terapi nonfarmakologi atau
intervensi psikososial adalah meningkatkan kualitas hidup Orang dengan Demensia
(ODD). Tidak ada pendekatan psikososial tunggal yang optimal, sehingga pendekatan
multidimensial sangat penting untuk intervensi yang efektif. Pendekatan sebaiknya
terfokus pada individu dan disesuaikan dengan kebutuhan, kepribadian, kekuatan
dan preferensi.186 Pendekatan individu dalam mengelola masalah perilaku
diperlukan pada pasien demensia.

f. Tehnik komunikasi pada pasien demensia


Komunikasi yang baik dengan orang dengan demensia menggunakan bahasa
sederhana , kalimat-kalimat pendek dan konkrit yang sesuai dengan tingkat
pemahaman. Komunikasi nonverbal termasuk isyarat dan gerak tubuh. Komunikasi
bisa juga dalam bentuk tertulis atau bergambar, seperti buku memori. Penglihatan
dan pendengaran ODD (orang dengan demensia) juga perlu diuji dan dikoreksi
dengan alat bantu yang telah ditentukan. Bagi ODD yang memiliki masalah
komunikasi khusus, kemampuan berbicara, dan gangguan bahasa perlu
berkonsultasi mengenai strategi tepat untuk mengatasinya
Berikut Cara Berkomnikasi Odd :
1. Berikan Kenyamanan
ODD akan merasa lebih baik ketika ia berada dalam situasi yang nyaman. Maka
dari itu, bawa dia ke tempat yang lebih tenang dan tidak berisik. Kondisi ribut
membuat pikiran ODD menjadi 'penuh' dan kacau. dibawa ke tempat yang lebih
tenang, berikan ODD tempat duduk. Kemudian kalau dirasa perlu, tawarkan
ODD makan atau minum.
2. Sopan
Lansia yang mengidap demensia akan mudah tersulut emosi. Maka, berlaku
sopan akan meningkatkan rasa percaya dan kenyamanan bagi mereka.
Beberapa hal dapat dilakukan untuk bisa dianggap sopan.Pertama, kenalkan
diri terlebih dahulu. Kemudian gunakan panggilan netral seperti ibu atau bapak
kepada ODD. Lalu tanyakan nama mereka dan bagaimana mereka ingin
dipanggil. Ini untuk mencegah menyapa ODD dengan sebutan yang membuat ia
tersinggung.
Kemudian, pastikan mata Anda dan ODD sejajar ketika saling berkomunikasi.
Andai ODD duduk, maka Anda sebaiknya ikut duduk atau berjongkok agar
pandangan saling sejajar.
3. Perhatian
Memberikan perhatian bukan hanya dalam bentuk pertanyaan akan kondisi
ODD, namun juga memberikan kesempatan mereka menceritakan kejadian
yang mereka alami. Dan ketika ODD tengah bercerita, jangan pernah
membantah mereka. Karena dikhawatirkan akan membuat ODD tersinggung
sehingga mengubah emosi mereka.
4. Sabar
Sabar dan bersikap sederhana menjadi strategi ampuh menghadapi ODD.
Dalam aspek ini pun, beberapa teknik perlu diperhatikan saat berhadapan
dengan ODD. Pertama-tama, sediakan waktu saat berbicara dengan ODD.
Jangan berbicara kepada ODD dengan terburu-buru atau dalam kondisi sibuk.
Selain karena daya menangkap informasi mereka sudah melemah, ini bisa
membuat ODD enggan berkomunikasi dengan orang lain. Akan lebih baik bila
hanya satu orang yang menjadi juru bicara kepada ODD guna memudahkan dia
mendapatkan informasi. Karena kemampuan menerima informasi yang sudah
melambat, maka upayakan bicara dengan jelas dan lebih lambat dibandingkan
berbicara kepada orang awam. Gunakan nada bicara yang lebih tenang agar
tidak memancing emosi ODD. Bukan hanya bicara lebih lambat, sebaiknya
menggunakan kalimat tanya yang lebih sederhana guna mempermudah ODD
mencerna informasi. Beberapa kalimat sederhana. Ketika sudah mengupayakan
berbicara dengan ODD namun ia tetap tak bergeming, maka jangan
memaksanya berbicara. Jangan panik ketika ODD tidak merespon upaya Anda
untuk berkomunikasi. Membantah saja sangat tidak dianjurkan ketika
berkomunikasi dengan ODD, apalagi bertengkar. Namun ketika nada ODD
meninggi, coba alihkan topik pembicaraan sebelum Anda dan ODD bertengkar
serta situasi menjadi makin buruk.
Strategi komunikasi yang dilakukan oleh perawat terhadap pasien
demensia antara lain :
1. Dekati klien dari depan, jangan dari belakang untuk mencegah respons terkejut.
2. Orientasi dan perkenalkan diri kepada klien dengan tepat.
3. Berbicara dengan perlahan, tenang, dan tidak terburu-buru.
4. Jangan Bantah klien tentang kesalahan persepsinya setelah terjalin hubungan
saling percaya.
5. Gunakan sentuhan yang bijaksana, dan minta ijin sebelum menyentuh klien.
6. Perinci setiap perintah menjadi langkah-langkah sederhana yang dapat dicapai.
7. Perhatikan saat klien menggunakan konfabulasi (suka mengarang hal-hal yang
tak bisa diingatnya/ membual).
8. Buat pernyataan yang spesifik dan terfokus (misal: “Anda perlu menggunakan
jaket Anda”), jangan diberikan secara abstrak.
9. Berkomunikasi secara nonverbal jika klien sudah kehilangan penggunaan
bahasa.
Cara berkomunikasi dengan lansia dengan demensia :
1. Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat pagi / siang / sore /
malam atau sesuai dengan konteks agama pasien.
2. Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara, termasuk
menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang akan merawat pasien.
3. Tanyakan pula nama pasien dan nama panggilan kesukaannya.
4. Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang akan dilakukan.
5. Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa lama aktivitas
tersebut.
6. Bersikap empati dengan cara:
a. Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri sentuhan dan
menunjukkan perhatian
b. Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk berpikir dan
menjawab
c. Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih baik
d. Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan pengharapan pada
klien.
7. Gunakan kalimat yang singkat, jelas, sederhana dan mudah dimengerti (hindari
penggunaan kata atau kalimat jargon)
8. Bicara lambat , ucapkan kata atau kalimat yang jelas dan jika betranya tunggu
respon pasie
9. Tanya satu pertanyaan setiap kali bertanya dan ulang pertanyaan dengan kata-
kata yang sama.
10. Volume suara ditingkatkan jika ada gangguan pendengaran, jika volume
ditingkatkan, nada harus direndahkan.
11. Sikap komunikasi verbal disertai dengan non verbal yang baik
12. Sikap berkomunikasi harus berhadapan, pertahankan kontak mata, relaks dan
terbuka
13. Ciptakan lingkungan yang terapeutik pada saat berkomunikasi dengan klien:
a. Tidak berisik atau rebut
b. Ruangan nyaman, cahaya dan ventilasi cukup
c. Jarak disesuaikan, untuk meminalkan gangguan.
Mengkaji pasien lansia dengan demensia Untuk mengkaji pasien lansia dengan
demensia, saudara dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan
wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi yang saudara
lakukan terutama untuk mengkaji data objective demensia. Ketika mengobservasi
prilaku pasien untuk tanda-tanda seperti:
1. Kurang konsentrasi
2. Kurang kebersihan diri
3. Rentan terhadap kecelakaan: jatuh
4. Tidak mengenal waktu, tempat dan orang
5. Tremor
6. Kurang kordinasi gerak
7. Aktiftas terbatas
8. Sering mengulang kata-kata.
Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat : apakah lansia
mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan afek yang labil, datar atau tidak
sesuai.
D. Klien
1. Sasaran
Pengasuh di Panti Wreda Hanna
2. Jumlah
10 Orang
E. Pengorganisasian
Penanggung Jawab : Ns. Saipul Gunardi, S.Kep, M.Kes
Ketua : Ikhsan Sodik
Sekretaris : Evie Roch Harfiani
Bendahara : Nadia Aulia
Sie Acara : 1. Muhammad Ropik
2. Nelson Gultom
3. Cucu Malihah
Sie Konsumsi : 1. Khoirun Nisa
2. Hendra Saepulloh
3. Tini Jumariah
Sie Perlengkapan : 1. Neneng Hasanah
2. Rahmad Saleh
3. Elsye
Sie Humas : 1. Sesye
2. Zemi Ahmad M
3. Meriontha
F. Metode
1. Ceramah
2. Role Play
G. Waktu
Hari : Jumat
Tanggal : 08 Desember 2017
Pukul : 13: 00 s/d 13: 30 WIB
H. Tempat
Acara ini berlangsung di ruang kegiatan Panti Wredha Hanna
I. Alat
1. Laptop
2. LCD
J. Proses Pelaksanaan
1. Faseorientasi
a. Salam teurapeutik
Memberikan salam dan memperkenalkan seluruh anggota Tranning Of
Trainer.
b. Evaluasi Validasi
Menanyakan perasaan dan keadaan saat ini kepada peserta TOT
c. Kontrak
1) Topic
Menjelaskan tentang TOT yang akan di lakukanya itu tentang
manajement demensia dan role play
2) Waktu
Menjelaskan waktu yang dibutukan untuk melakukan TOT yaitu selama 2
jam.
3) Tempat
Menjelaskan tempat pelaksanaan TOT yaitu di ruang aula panti wredha
Hanna.
4) Tujuan
Menjelaskan tujuan pelaksanaan TOT yaitu untuk memberikan
pemahaman kepada pengasuh di Panti Wredha Hanna mengenai
manajement demensia, terapi yang dapat diberikan untuk penderita
demensia.
2. FaseKerj
a. Menjelaskan teori tentang demensia
b. Menjelaskan tentang terapi yang dapat diberikan kepada penderita demensia
c. Melakukan Role Play pelaksanaan TOT tentang strategi komunikasi.
3. FaseTerminasi
a. Evaluasi subjektif
Menanyakan kepada peserta tentang perasaan setelah dilakukan TOT
b. Evaluasi objektif
Meminta peserta untuk mengulang kembali stategi komunikasi yang telah
diajarkan

Rundown Acara

No Pukul Kegiatan Pelaksana Waktu

1 13:00 - 13:05 Pembukaan MC : Cucu Malihah, 5 menit


S.Kep

2 13:05 - 13: 10 Sambutan dari ketua Ikhsan Sodik, S.Kep 5 menit


TOT
4 13:10 - 13:15 Sambutan dari Bpk. Ns.Saipul Gunardi, 5 menit
akademik (STIKIM) S.Kep, M.Kes.

5 13:15 - 13:25 Sambutan dari pihak Ibu Riska 10 menit


panti
6 13:25 - 13:40 Penyajian Materi TOT Nelson Gultom, S.Kep 15 menit

8 13:40 - 13:50 Role Play Rahmat Saleh, S.Kep 10 menit


Zemi Ahmad M, S.Kep
9 13:50 - 13:55 Penutup MC : Cucu Malihah, 5 menit
S.Kep

10 13:55 - 14:00 Foto Bersama 5 menit


K. Daftar Pustaka
Riyadi, S dan Purwanto, T. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa.

Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC. Jakarta; 1999

Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002 Iklan

LilikMa'rifatulAzizah (2011) Keperawatan Jiwa Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta:

Graha Ilmu

Boedhi-Darmojo, (2009), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Jakarta : FKUI.

Maslim Rusdi, 2001, Diagnosis Gangguan Jiwa, Jakarta

Pujiastuti Sri Suruni, 2003, Fisioterapi Pada Lansia, EGC, Jakarta