Anda di halaman 1dari 4

Azka Rizky Pamula

FAA 113 047

Modul Ilmu Kedokteran Komunitas

Kelompok 5

Fasilitator dr.Adelgrit Trisia, M.Imun

5 Level of prevention menurut Leavel dan clark adalah

1. Peningkatan kesehatan (health promotion)


Pada tingkat ini dilakukan tindakan umum untuk menjaga keseimbangan proses bibit
penyakit-pejamu-lingkungan, sehingga dapat menguntungkan manusia dengan cara
meningkatkan daya tahan tubuh dan memperbaiki lingkungan. Tindakan ini dilakukan pada
seseorang yang sehat.

2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu (general and


specific protection)
Merupakan tindakan yang masih dimaksudkan untuk mencegah penyakit, menghentikan
proses interaksi bibit penyakit-pejamu-lingkungan dalam tahap prepatogenesis, tetapi sudah
terarah pada penyakit tertentu. Tindakan ini dilakukan pada seseorang yang sehat tetapi memiliki
risiko terkena penyakit tertentu.

3. Penegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early diagnosis
and prompt treatment)
Merupakan tindakan menemukan penyakit sedini mungkin dan melakukan penatalaksanaan
segera dengan terapi yang tepat.

4. Pembatasan kecacatan (dissability limitation)


Merupakan tindakan penatalaksanaan terapi yang adekuat pada pasien dengan penyakit yang
telah lanjut untuk mencegah penyakit menjadi lebih berat, menyembuhkan pasien, serta
mengurangi kemungkinan terjadinya kecacatan yang akan timbul.

5. Pemulihan kesehatan (rehabilitation)


Merupakan tindakan yang dimaksudkan untuk mengembalikan pasien ke masyarakat agar
mereka dapat hidup dan bekerja secara wajar, atau agar tidak menjadi beban orang lain.
Kemudian menurut pengaplikasiannya teori tersebut dibagi kedalam 3 kategori yaitu primer,
sekunder dan tersier. Untuk pencegahan primer sendiri didalamnya terdapat Peningkatan
kesehatan (health promotion) dan Perlindungan umum serta khusus terhadap penyakit-penyakit
tertentu (general and specific protection). Pencegahan sekunder terdiri dari Penegakkan diagnosa
secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat (early diagnosis and prompt treatment). Yang
terakhir adalah pencegahan tersier terdiri dari Pembatasan kecacatan (dissability limitation) dan
Pemulihan kesehatan (rehabilitation)

Pengaplikasian 5 Level of Prevention terhadap penyakit demam berdarah adalah yaitu


yang pertama dengan melakukan Pencegahan tingkat dasar atau pencegahan yang merupakan
usaha untuk mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam
masyarakat terhadap masyarakat secara umum. Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan
mempertahankan kebiasaan yang sudah ada yang dapat mencegah terjadinya penyakit DBD
seperti memelihara perilaku hidup bersih dan sehat dengan membersihkan tempat penampungan
air secara rutin. Pencegahan tingkat pertama atau primary prevention adalah pencegahan melalui
usaha mengatasi berbagai faktor risiko dengan sasaran utamanya orang sehat melalui usaha
peningkatan derajat kesehatan secara umum serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit
tertentu. Usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni
meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal seperti penyuluhan
tentang bahaya penyakit DBD. Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) adalah
usaha yang ditujukan pada pejamu atau penyebab untuk meningkatkan daya tahan maupun untuk
mengurangi risiko terhadap penyakit DBD seperti perbaikan kondisi lingkungan atau
meningkatkan daya tahan tubuh.

Selanjutnya dapat dilakukan pencegahan sekunder dengan melakukan penentuan sasaran


utama pada meraka yang baru terkena penyakit atau terancam akan menderita penyakit DBD
melalui diagnosis dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat untuk mencegah
meluasnya penyakit tersebut. Salah satu kegiatan pencegahan tingkat sekunder yaitu dengan
penemuan penderita secara aktif sedini mungkin melalui pemeriksaan berkala untuk populasi
tertentu, penyaringan atau pencarian penderita secara dini dan surveilans epidemiologi termasuk
pemberian kemoprofilaksis. Kemudian pencegahan selanjutnya yaitu pencegahan tersier dengan
melakukan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit DBD dalam usaha
mencegah bertambah beratnya penyakit tersebut atau mencegah terjadinya cacat karena pada
penyakit DBD sering terjadi demam dan ditakutkan sekali terjadi kejang demam dan yang paling
dikhawatirkan jika sudah terjadi kejang demam pasien tidak dapat kembali sadar pada kesadaran
yang seharusnya sehingga dapat menyebabka kecacatan serta melakukan program rehabilitasi.
Rehabilitasi ini mencakup rehabilitasi baik rehabilitasi fisik maupun rehabilitasi medis,
rehabilitasi mental dan rehabilitasi sosial.

Nyamuk A. aegypti dan A. albopictus adalah suatu vektor penyebab terjadinya DBD.
Untuk mencegah agar penyakit DBD tidak mewabah maka dilakukan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN) DBD sebab belum didapat vaksin yang dapat mencegah penyakit tersebut.
Gerakan PSN-DBD adalah seluruh kegiatan masyarakat bersama pemerintah yang dilakukan
secara berkesinambungan untuk dapat mencegah dan untuk menanggulangi penyakit DBD.

Pemberantasan nyamuk A. Aegypti didasarkan oleh pemutusan rantai penularan yang dilakukan
termasuk dalam pencegahan primer yaitu bertujuan sebagai usaha pencegahan khusus (specific
protection) yang usahanya ditujukan pada pejamu atau penyebab untuk meningkatkan daya tahan
maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit DBD seperti perbaikan kondisi lingkungan
atau meningkatkan daya tahan tubuh. Adapun pemberantasan nyamuk A. Aegypti dengan
berbagai cara antara lain :

1. Pemberantasan vektor jangka panjang


Gerakan yang efektif dilakukan yaitu gerakan 3 M, meliputi:
a. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, tempayan, vas bunga,
tempat minum burung dan lain-lain dilaksanakan sekali seminggu.
b. Menutup rapat semua tempat penampungan air.
c. Mengubur semua barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung
air hujan.

2. Pemberian Bahan Kimia


a. Abatisasi yaitu pemberian serbuk abate pada tempat tempat yang digenangi air termasuk
bak mandi, jambangan bunga dan sebagainya dengan tujuan membunuh jentik jentik
nyamuk A. Aegypti dan mencegah terjadinya wabah DBD. Pemberian serbuk abate
dilakukan dua sampai tiga bulan sekali. Dengan takaran 10 gram abate untuk 100 liter air
atau 2,5 gram altosid untuk 100 gram air.
b. Abatisasi selektif adalah menaburkan bubuk abate atau altosid kedalam penampungan air
yang ditemukan jentik pada waktu pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan oleh
petugas kesehatan setiap bulan sekali di rumah rumah dan tempat tempat tempat umum.
Bubuk abate berwarna kecoklatan terbuat dari pasir yang dilapisis zat kimia yang dapat
membunuh jentik nyamuk. Sedangkan altosid berbentuk butiran seperti gula pasir
berwarna hitam arang. Zat kimia dalam altosid akan menghambat.
c. Fogging penyemprotan insektisida dilakukan di wilayah yang ada penderita DBD
(endemis) yang bertujuan membasmi nyamuk A.Aegypti. Fogging dilakukan dengan
mallation atau fenitrothion dan dilakukan sekurang kurangnya 2 kali dengan jarak antara
10 meter di rumah penderita DBD.

Berbagai usaha dilakukan untuk memutuskan rantai penularan penyakit DBD. Usaha yang
dilakukan tersebut berupa tindakan pencegahan agar tidak terinfeksi virus dengue yang dibawa
oleh nyamuk A. aegyti seperti menaburkan abate pada tempat penampungan air ataupun gerakan
3M yang biasa dianjurkan oleh pemerintah dan petugas kesehatan atau pemerhati kesehatan
lainnya. Berbagai penelitian mengemukakan hasil yang serupa bahwa ada hubungan antara
tindakan pencegahan dengan kejadian DBD di masyarakat. Hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan ada hubungan antara keberadaan jentik A. aegypti pada kontainer, kebiasaan
menggantung pakaian, ketersediaan tutup pada kontainer, frekuensi pengurasan kontainer,
pengetahuan responden tentang DBD dengan kejadian DBD.

Kegiatan menaburkan abate pada tempat penampungan air memiliki hubungan yang
signifikan dengan keberadaan jentik yang secara tidak langsung berhubungan juga dengan
tingkat kejadian DBD. Penelitian yang telah dilakukan menyatakan bahwa ada hubungan antara
abatisasi selektif dengan keberadaan jentik dengan tingkat keeratan hubungan rendah. Hal ini
menunjukkan bahwa rumah yang pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan
tidak ada jentik, sedangkan rumah yang tidak pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas
kesehatan ada jentiknya sehingga abatisasi selektif mempunyai hubungan signifikan dengan
keberadaan jentik sebesar 0,315. Dari hasil tersebut berarti bahwa rumah yang tidak pernah
dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan berisiko ada jentiknya sebesar 0,315 kali
lebih besar daripada rumah yang pernah dilakukan abatisasi selektif oleh petugas kesehatan.
Abatisasi memiliki hubungan bermakna dengan keberadaan jentik A. aegypti. Keberadaan jentik
A. aegypti memiliki hubungan bermakna dengan DBD.

Sumber

Rivai. Ilmu Kedokteran Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan. Jurnal Mutiara Kesehatan
Indonesia. 2005. Vol 1 No 1.1-7

http://ners.unair.ac.id/materikuliah/promosi%20kesehatan2.pdf