Anda di halaman 1dari 11

Bed Side Teaching

ABORTUS

oleh :

Ditya Fitri Wahyuni 1210312

Handyka Milfiadi 1210313

Rori Syahnidep 1210312123

Preseptor:

dr. Syahrial Syukur, Sp.OG

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2017
BAB I

1.1 Definisi

Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat bertahan hidup di luar

kandungan. Sebagai batasannya, aborsi didefinisikan sebagai pengeluaran hasil konsepsi

sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat badan janin kurang dari 500 gram.1

Secara umum, abortus diklasifikasikan menjadi abortus spontan dan abortus provokatus.

Abortus spontan merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan sedangkan yang terjadi

dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus provokatus. Abortus provokatus ini juga

dibagi menjadi 2 yaitu abortus provokatus medisinalis apabila didasarkan pada pertimbangan

dokter untuk menyelamatkan ibu dan abortus provokatus kriminalis.2

1.2 Epidemiologi

Abortus merupakan kasus yang sangat sering terjadi. Sebuah data menyebutkan bahwa

hanya 62,5% kehamilan yang menghasilkan kelahiran hidup, 21,9% aborsi legal, 13,8% abortus

spontan, 1,3% kehamilan ektopik, dan 0,5% kematian janin. Data lain menyebutkan bahwa

abortus spontan terjadi sekitar 15-40%. Abortus spontan sering terjadi pada usia kehamilan yang

lebih awal, sekitar 75% terjadi sebelum usia kehamilan 16 minggu dan kurang lebih 60% terjadi

sebelum 12 minggu.

Mortalitas yang diakibatkan oleh abortus spontan jarang terjadi (0,7 per 100.000), factor

risikonya meliputi: wanita usia lebih 35 tahun, ras selain kulit putih, dan aborsi pada trimester

kedua. Penyebab langsung dari kematian meliputi: infeksi 59%, perdarahan 18%, emboli 13%,

dan komplikasi dari anesthesia 5%.3

1.3 Etiologi dan Patologi


Lebih dari 80% kasus abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan sedikitnya

hampir setengah dari kasus tersebut disebabPatkan oleh kelainan kromosom. Setelah trimester

pertama, angka abortus maupun insiden kelainan kromosom menurun.1

a. Faktor Janin1

Perkembangan Zigot Abnormal
Abortus spontan dini biasanya disebebkan oleh abnormalitas perkembangan zigot,

embrio, early fetus, atau plasenta. Analisis yang pernah dilakukan pada 1000 kasus

abortus spontan menyebutkan bahwa hampir setengahnya disebabkan oleh ketiadaan

embrio atau blighted ovum.



Abortus Aneuploidi
Trisomi autosom merupakan anomaly kromosom yang paling sering terjadi pada

trimester pertama. Trisomi autosom 13,16, 18, 21, dan 22 merupakan yang paling

sering terjadi. Kelainan lain seperti monosom X (45X), triploidi, dan tetraploidi.

Abortus Euplodi
b. Faktor Maternal

Infeksi
Patogen yang dapat menyebabkan abortus antara lain:
-
Bakteri: Listeria monositogenes, Klamidia trakomatis, Ureaplasma urealitikum,

Mikoplasma hominis, Bakterial vaginosis


-
Virus: CMV, Rubela, HSV, HIV, Parvovirus
-
Parasit: Toksoplasma gondii, Plasmodium falciparum
-
Spiroketa: Treponema pallidum

Beberapa teori diajukan untuk menerangkan peran infeksi terhadap terjadinya

abortus, antara lain:


-
Adanya metabolic toksik, endotoksin, eksotoksin, atau sitokin yang berdampak

langsung pada janin atau unit fetoplasenta


-
Infeksi janin yang bisa berakibat kematian janin atau cacat berat sehingga janin

sulit bertahan hidup


-
Infeksi plasenta yang berakibat insufisiensi plasenta
-
Infeksi kronis endometrium dari penyebaran kuman genitalia bawah dapat

mengganggu proses implantasi


-
Amnionitis
-
Adanya hal yang dapat memacu perubahan genetic dan anatomic embrio.1,2

Penyakit Kronik
Pada awal kehamilan, janin dapat mengalami abortus akibat penyakit kronis seperti

TB atau carcinomatosis. Celiac sprue juga pernah dilaporkan dapat menyebabkan

infertilitas baik pada pria maupun wanita dan juga dapat menyebabkan abortus

berulang.1

Kelainan Endokrin
-
Hipotiroidisme. Defisiensi iodium berat dapat berkaitan dengan keguguran.

Defisiensi hormone tiroid sering terjadi pada wanita, biasanya disebabkan oleh

penyakit autoimun, tetapi efek hipotiroidisme pada abortus dini belum diteliti

secara mendalam.1
-
Diabetes mellitus. Angka abortus spontan dan malformasi congenital mayor

meningkat pada wanita dengan diabetes bergantung insulin. Risiko tampaknya

berkaitan dengan derajat kontrol metabolic pada awal kehamilan.1


-
Kadar progesterone yang rendah (defek fase luteal). Progesteron memiliki peran

penting dalam penerimaan endometrium terhadap implantasi embrio, sehingga

kadar progesterone yang rendah berhubungan dengan risiko abortus. Support fase

lutel memiliki peran kritis pada kehamilan sekitar 7 minggu, yaitu saat trofoblas

harus menghasilkan cukup steroid untuk menunjang kehamilan.1,2



Nutrisi
Defisiensi salah satu nutrient dalam makanan atau defisiensi moderat semua nutrient

tampaknya bukan merupakan penyebab penting abortus.1



Pemakaian Obat dan Faktor Lingkungan1
-
Alkohol.
-
Kafein
-
Radiasi
-
Kontrasepsi
-
Toksin lingkungan

Faktor Imunologi
Terdapat hubungan yang nyata antara abortus berulang dengan penyakit autoimun.

Misalnya, pada Systematic Lupus Erythematosus (SLE) dan Antiphospolipid


Antibodies (aPA). Antiphospolipid Antibodies merupakan antibody spesifik yang

didapati pada perempuan dengan SLE yang akan berikatan dengan sisi negative dari

fosfolipid. Antiphospolipid Syndrome (APS) juga sering ditemukan pada beberapa

keadaan seperti preeclampsia, IUGR, dan prematuritas. Pada kejadian abortus

berulang ditemukan infark plasenta yang luas akibat adanya atherosis dan oklusi

vascular. Trombosis plasenta pada APS diawali adanya peningkatan rasio tromboksan

terhadap prostasiklin, selain itu juga akibat dari peningkatan agregasi trombosit,

penurunan c-reaktif protein dan peningkatan sintesis platelet-activating factor. Secara

klinis lepasnya kehamilan pada pasien APS sering terjadi pada usia kehamilan di atas

10 minggu.2

Faktor Hematologik
Beberapa kasus abortus berulang ditandai dengan defek plasentasi dan adanya

mikrotrombi pada pembuluh darah plasenta. Berbagai komponen koagulasi dan

fibrinolitik memengang peran penting dalam implantasi embrio, invasi trofoblas, dan

plasentasi. Pada kehamilan terjadi keadaan hiperkoagulasi dikarenakan:


-
Peningkatan kadar factor prokoagulan
-
Penurunan factor antikoagulan
-
Penurunan aktivitas fibrinolitik2

Trauma Fisik
Trauma abdomen dapat mencetuskan terjadinya abortus.1

Defek pada Uterus
-
Kelainan Uterus Didapat
Kelainan seperti leiomioma uterus, Asherman syndrome dapat menyebabkan

abortus. Asherman syndrome, dikarakteristikan dengan adanya sinekia pada

uterus, yang biasanya dihasilkan dari destruksi area endometrium yang luas

oleh tindakan kuretase sehingga endometrium tidak cukup kuat untuk

mendukung terjadinya kehamilan. 2


-
Kelainan Perkembangan Uterus
Anomali congenital yang mendistorsi atau mengurangi ukuran kavum uterus,

seperti uterus unikornu, bikornu, atau septa berisiko 25-50% terjadi abortus.4
Pada abortus spontan, perdarahan ke dalam desidua basalis sering terjadi. Nekrosis dan

inflamasi terlihat di daerah implantasi. Adanya kontraksi uterus dan dilatasi serviks

menghasilkan ekspulsi pada seluruh hasil konsepsi. 4


1.4 Macam-macam Abortus
Dikenal berbagai macam abortus sesuai dengan gejala, tanda, dan proses patologi yang

terjadi.2
a. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya abortus, ditandai oleh

perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup, dan hasil konsepsi masih baik di

dalam kandungan.
Pasien mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali kecuali perdarahan

pervaginam. Ostium uteri masih tertutup, besar uterus masih sesuai dengan umur

kehamilan, dan tes kehamilan urin masih positif.


b. Abortus Insipien
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks telah mendatar dan

ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih di dalam kavum uteri dan

dalam proses pengeluaran.


Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat, perdarahannya

bertambah sesuai dengan pembukaan serviks uterus dan umur kehamilan. Besar uterus

masih sesuai dengan umur kehamilan dan tes urin kehamilan masih positif.
c. Abortus Komplit
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 atau

berat janin kurang 500 gtam. Ostium uteri telah menutup dan uterus sudah mengecil

sehingga perdarahan sedikit. Besar uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan.
Gambar 1 Abortus komplit.4
d. Abortus Inkomplitus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan sebagian masih tertinggal.

Kanalis servikasil masih terbuka dan akan teraba jaringan dalam kavum uteri atau

menonjol pada ostium uteri eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi jumlahnyapun

masih bisa banyak atau sedikit tergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan

sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus. Pasien dapat

jatuh dalam keadaan anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan konsepsi

dikeluarkan.
Gambar 2 Abortus inkomplit.4
e. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan

sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam

kandungan.
Pasien missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun kecuali merasakan

pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Kadang missed abortion juga

diawali dengan abortus iminens yang kemudian merasa sembuh tetapi pertumbuhan

janjin terhenti.
f. Abortus Habitualis
Abortus yang terjadi 3 kali atau lebih berturut-turun. Salah satu penyebab yang sering

dijumai adalah inkompetensia serviks atau keadaan serviks uterus tidak dapat menerima

beban untuk bertahan menutup setelah kehamilan melewati trimester pertama, dimana

ostium serviks akan membuka tanpa disertai kontraksi rahum dan akhirnya terjadi

pengeluaran janin. Kelainan ini sering disebabkan oleh trauma serviks pada kehamilan

sebelumnya, misalnya pada tindakan usaha pembukaan serviks yang berlebuhan,

robeknya serviks yang luas sehingga diameter kanalis servikalis sudah melebar.
g. Abortus Infeksiosus, Abortus Septik
Abortus infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi pada alat genitalia sedangkan

abortus septic adalah abortus yang disertai penyebaran infeksi pada peredaran darah

tubuh atau peritoneum (septicemia atau peritonitis). Kejadian ini merupakan salah satu

komplikasi tindakan abortus yang paling sering terjadi apalagi bila dilakukan kurang

memperhatikan asepsis dan antiseptic.


h. Kehamilan Anembrionik (Blighted Ovum)
Merupakan kehamilan patologi dimana mudigah dan yolk sac tidak terbentuk sejak awal

walaupun kantong gestasi tetap terbentuk


1.5 Diagnosis abortus
Perlu ditanamkan bahwa pada wanita usia reproduktif dengan perdarahan spontan

pervaginam yang aktif, sebaiknya dianggap hamil sebelum terbukti lainnya. Abortus yang terjadi

secara spontan memiliki risiko jika tidak ditatalaksana dengan baik. Sedangkan untuk abortus

yang diinduksi secara medis biasanya bersifat lebih aman khususnya jika dilakukan pada 2 bulan

pertama kehamilan.5
Berikut poin-poin diagnosis pada kasus abortus spontan;
1. Abortus iminens
Abortus iminens dicurigai terjadi ketika terdapat vaginal discharge atau darah dari

vagina yang muncul pada awal kehamilan. Biasanya perdarahan dikeluhkan

terlebih dahulu, yang kemudian diikuti nyeri kram abdomen beberapa jam atau hari

setelah perdarahan tersebut. Abortus iminens sangat sering dijumpai, dimana satu

dari empat sampai 5 perempuan mengalami perdarahan atau keluar flek pada saat

kehamilannya. Hampir sekitar setengah dari perempuan yang mengalami ini akan

berlanjut pada abortus. Perempuan yang tidak aborsi setelah ini bisanya memiliki

risiko terjadinya hasil kehamilan yang tidak optimal seperti melahirkan preterm,

berat lahir rendah, dan kematian perinatal.5


Diagnosis banding pada perempuan dengan perdarahan seperti itu ialah seperti

perdarahan normal pada saat mens, lesi servikal, polip serviks, servisitis, dan reaksi
desidual dari serviks. Selain itu juga harus dipertimbangkan adanya keadaan hamil

ektopik pada abortus iminens ini.


Pada pemeriksaan biasanya ditemukan ukuran uterus yang masih sesuai usia

kehamilan, dan juga ostium uteri yang masih tertutup. Selain itu juga perlu

dilakukan pencarian terhadap penyulit seperti kehamilan ektopik atau adanya torsi

dari kista ovarium yang tidak diketahui sebelumnya.


2. Abortus insipiens
Abortus insipiens biasanya ditandai dengan rupture membran sekaligus adanya

dilatasi dari serviks. Pada keadaan ini hampir dapat dipastikan bahwa abortus

terjadi. Kontraksi uterus akan segera terjadi supaya tidak terjadi infeksi.
Dengan adanya rupture dari membrane dan dilatasi dari serviks yang signifikan,

maka tindakan untuk menyelamatkan janinnya sudah tidak memungkinkan lagi.

Jika sudah tidak ada nyeri atau perdarahan lagi, maka perempuan tersebut

diobservasi untuk melihat perdarhan, nyeri keram, atau demam. Jika setelah 48 jam

sudah tidak ada tanda tersebut maka perempuan tersebut dapat kembali beraktivitas

seperti biasa, kecuali tindakan penetrasi ke dalam vagina dalam bentuk apapun.

Namun jika masih terdapat keluarnya cairan atau darah yang disertai nyeri, ataupun

pasien mengeluhkan adanya demam, maka uterus kemudian harus dikosongkan.


3. Abortus inkomplit
Abortus inkomplit didiagnosis ketika plasenta, baik seluruhnya ataupun sebagian,

tertinggal dalam uterus tetapi janin telah keluar. Perdarahan biasanya lebih banyak

pada abortus inkomplit dan dapat sangat signifikan jika usia kehamilan sudah lebih

tua. Embrio-fetus dan plasenta mungkin dikeluarkan bersama sama jika usia

kehamilan masih kurang dari 10 minggu.


4. Missed aborsi
Missed aborton didefinisikan sebagai retensi dari sisa konsepsi yang telah mati di

dalam uterus selama beberapa minggu. Setelah kematian janin, mungkindapat


terjadi perdarahan atau tidak sama sekali ataupun tidak menimbulkan gejala.

Ukuran dari uterus biasanya tidak bertambah, dan perubahan pada payudara

biasanya malah kembali ke seperti semula. Kebanyakan dari missed abortion dapat

keluar sendiri, akan tetapi, jika retensi dari janin yang mati tersebut telah

berlangsung lama, maka mungkin dapat terjadi gangguan koagulasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Mc Donald PC, Gant NF. Abortion. In: Williams obstetrics. 21st ed, New
York: Appleton & Lange. 2006
2. Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2010.
3. Pernoll ML. Handbook of Obstetrics & Gynecology 10 th edition. New York: McGraw-Hill.
2001
4. DeCherney AH, Nathan L, Goodwin TM, Laufer N. Current Diagnosis & Treatment
Obstetrics & Gynecology 10th edition. New York: McGraw-Hill. 2007