Anda di halaman 1dari 5

BAB.V.

KARAKTERISASI RESERVOAR

5.1. Tinjauan umum


Karakterisasi reservoar adalah upaya penentuan kualitas reservoar, berupa:
1. sistem batuan dan fluida pengisi batuan reservoar,
2. sistim geometri dan penyebarannya,
3. sifat kimia fisika,
4. inter-aksi dan inter-relasinya dalam kaitannya dengan pemodelan geologi-reservoar
setempat yg mencakup memelajaran mengenai kandungan HC dan prakiraan
cadangan statik
5. kinerja reservoar yang dinyatakan sbg a l: kemampuan alir, tekanan dan suhu
reservoarnya, pengembangan dan pengelolaan cadangannya.
Sebagai istilah teknis, karakterisasi reservoar lebih umum saat ini digunakan, yang sebe
lumnya menggunakan terminologi deskripsi reservoar, karena dianggap hanya menitik beratkan
evaluasinya pada sistim batuan reservoarnya.
Kelayakan hasil karakterisasi reservoar sangat tergantung pada ketersediaan dan
kualitas data dan cakupan pemanfaatannya serta kebutuhanya dapat disesuaikan dengan
tingkat ketersediaan datanya

Tujuan dari karakterisasi reservoar, adalah:


1. meminimasi ketidakpastian (uncertainity) dalam prakiraan OIP migas
2. mengoptimisasi kontribusi dari berbagai sumber data
3. meminimisasi analisis stand-alone dengan mengintegrasikan dan menyelaraskannya
terhadap kondisi setempat (local know ledge)
4. memodelkan geologi reservoar setempat dengan tingkat kelayakan tinggi, secara
statik-dinamik, makro-mikro, dependent-independent
5. menentukan strategi dasar pengembangan, metoda pengurasan & pengelolaan
lapangan secara optimum berdasarkan model geologi reservoar setempat.
6. Mengantisipasi berbagai problematik dalam memproduksi suatu lapangan dan
kemungkinan penyelesaiannya.

Karakterisasi reservoar merupakan evaluasi terpadu kegiatan eksplorasi dan eksploitasi


yang ditunjukan untuk mengoptimalkan kontribusi dari setiap data dan informasi (secara
regional-lokal, statik-dinamik, makro-mikro, serta dependent-independent), agar konsistensi dan
kerepresensian data dan informasi dapat selalu dikontrol
Manfaat karakterisasi reservoar untuk maksud pengembangan daerah/ lapangan/
struktur dalam tahap eksplorasi dan eksploitasi adalah:
1. pengembangan eksplorasi lebih ditujukan pada penemuan cadangan baru
1
berdasarkan model geologi setempat, penyebaran perangkap, dan sumber
hidrokarbonnya
2. pengembangan produksi lebih difokuskan pada prakiraan kandung hidrokarbon untuk
meminimasi kasus over-under estimate dan bypassed/ overlooked, pengurasan
hidrokarbon secara efektif-efisien sesuai kaidah good-engineering practice,
optimalisasi pemanfaatan potensi-alir dan mekanisme alami nya, penentuan strategi
produksi termasuk penerapan IOR/ EOR dan pengelolaan migas terpadu.

Evaluasi eksplorasi dan produksi terpadu sangat tepat dan bermanfaat dalam
menanggulangi permasalahan:
1. reservoar retak-alami
2. reservoar karbonat
3. reservoar ber- heterogenitas tinggi
4. reservoar marginal dan
5. untisasi dan/atau lease area

Pendekatan
ARPS (Original manuscript 1956, SPE Reprint Series 1970) memperlihatkan per
kembangan kualitas dan kuantitas cadangan berdasarkan tahapan analisis eksplorasi dan
produksi yang meskipun mempunyai kecenderungan perbedaan makin mengecil, akan tidak
pernah mencapai kesepakatan (asymtotic) seperti digambarkan pada gambar 1.10
Analisis eksplorasi cenderung bersifat optimistik dan over-estimate terutama pada saat
awal, dilain pihak analisis eksploitasi cenderung pesimistik dan under-estimate yang secara
ekstrim dimulai dari cadangan nol pada saat awal. Dengan berjalannya waktu, dalam artian
dengan bertambahnya data dan informasi maka keduanya diharapkan akan saling mencapai
kesepakatan secara asimptutik
Ketidak serasian antara kedua pendekatan secara independent dan stand-olane
(terpisah) tersebut telah disadari sejak lama, akan tetapi dilain pihak berbagai metoda baru
diperkenalkan dan masing-masing pendekatannya berusaha memberikan impresi bahwa
metodanya yang canggih dapat digunakan secara terpisah dalam pengertian tidak tergantung
pada metoda lain, dan hasil analisisnya tak dipakai dengan tingkat validitas tinggi. Hal ini
merupakan salah satu penyebab mengapa upaya integrasi antara aktivitas eksplorasi dan
eksploitasi berjalan lambat sekali, disamping kebutuhan akan energi migas dan pabum belum
terasa memuncak pada saat itu dan tingkat penemuan cadangan baru dilahan-lahan baru
masih tinggi.
Gambar I-11 adalah gambaran atas berbagai kerancuan akibat cara penerapan metoda,
pendekatan dan interpretasi secara terpisah. Masing-masing metoda dan pendekatan tsb
adalah ibarat orang buta yang mencoba untuk mendiskripsi gajah, sehingga besar
2
kemungkinan hasil interpretasinya saling kontradiksi. Sebagai contoh, dikemukakan porositas
batuan adalah salah satu parameter reservoar. Berbagai metoda dan pendekatan dapat
digunakan untuk memperkirakan besaran porositas batuan, sebagai akibatnya muncul
beberapa harga porositas untuk suatu reservoar atau bagian dari reservoar, bahkan pada satu
titik pengamatan yang sama.
Pertanyaannya adalah manakah dari besaran-besaran porositas tsb yang laik pakai
(dalam artian mempunyai tingkat validitas yang tinggi)?

Dengan makin sulitnya penemuan cadangan baru, makin tinggi tingkat kebutuhan akan
energi, dan makin tingginya nilai ekonomi migas sebagai energi, timbul pemikiran untuk
mengurangi kesenjangan dan kerancuan antara kecenderungan optimistik dan pesimistik
dengan maksud meminimasi ketidak pastian dalam memperkirakan cadangan migas
Makin sulit dan langkanya penemuan cadangan baru tercermin dari makin banyaknya
penemuan-penemuan lapangan kecil dan lapangan yang relatif besar di daerah baru yang
tingkat kesulitannya tinggi. Hal ini bila ditinjau dari segi keekonomian memberikan dampak tidak
dikembangkannya lapangan tsb yang dikenal sebagai lapangan marginal.
Upaya meminimasi ketidak pastian tsb melahirkan pendekatan dan evaluasi terpadu.
Ketidak pastian dan kerancuan dalam memperkirakan kandungan migas dan cadangannya
mempunyai pengaruh yang sangat besar, terutama terhadap lapangan marginal.
Akurasi sebesar 1.000.000 barel minyak ditempat atau ekivalen dengan 200.000
-300.000 barel cadangan yang dapat diproduksi tidak atau sedikit sekali pengaruhnya terhadap
lapangan dengan tingkat komersialisasi yang tinggi, dilain pihak, keakurasian cadangan
tersebut sangat berarti bagi lapangan-lapangan marginal karena dapat merubah status dari
lapangan tidak komersial menjadi lapangan komersial.

5.2. Lingkup Karakteristik Reservoir.


Lingkungan karakterisasi batupasir diper ihatkan dalam gambar I-12 yang mengintegrasi
kan unsur-unsur statik-dinamik, makro-mikro, independent-dependent dan terdiri dari tiga
bagian

a. Rekonstruksi Model Geologi


Model geologi mengacu kepada model analisis heterogenitas, berskala besar (ana lisis
makro) dengan cakupan stratigrafi, distri busi fasies, serta struktur, Geologycal set ting-
framework, analisis lingkungan pengen dapan, dan pola penyebaran dipadukan untuk
merekonstruksi model geologi setem pat berdasarkan:
- analisis serbuk-bor sbg acuan penentu-an umur dan karakterisasi geologi
- interpretasi seismik sbg acuan pengon-trol struktur dan model stratigrafi
- log sumur untuk korelasi geologi dan identifikasi litologi umum
3
Lingkungan pengendapan dan pola lithofa sies dpt ditentukan dng penggabungan hasil
interpretasi log sumur dan analisis petrografi serbuk bor

b. Model Fasies Reservoar


Model Fasies-reservoar dngn cakupan: penentuan kualitas batuan reservoar serta
kandungan fluidanya dgn mengacu pada analisa mikro (heterogenitas dg skala kecil),. Sistim
pori (geometri, susunan butiran, diagenesa batuan), berdasarkan petrografi sayatan tipis, SEM-
EDAX dan XRD.
Hasil analisis percontoan batuan rutin dan spesial, serta interpretasi log sumur dilaku-kan
untuk mendapatkan gambaran sifat pe trofisika yang layak dan representatif.

c. Model Reservoar –Geologi


Model Geo-res mrpkan paduan antara pendekatan mikro-makro, dependent-inde pendent,
pendekatan statik berdsrkan model geologi, fasies reservoar, dan scr dinamik dr interpretasi
UKL. Perpaduan ini dpt menen tukan harga pancung (cut-off) yg layak scr litologi (volume
clay/shale porosity) dan kandung fluida (saturasi air ) berdasarkan hasil uji kandung reservoar
(uji-kering, uji basah, uji hidrokarbon)
Proses lumping dilakukan untuk memperoleh konfigurasi reservoar yg memenuhi persya-ratan
berupa sebaran kualitas bat dan fluida nya disamping prakiraan kandungan HC.

Hasil Karakterisasi Reservoar


Keterpaduan ketiga tahap dan bagian analisis di atas akan memberikan gambaran rinci
atas reservoar batuan pasir yg mengan-dung migas scr lengkap dgn tingkat keyakan tinggi
tergantung data informasi penunjang.
Keluaran dari pelaksanaan suatu karak terisasi reservoar antara lain adlah:
Geologi: Reservoar
- kerangka geologi regional, dan lokal - sifat bat reservoar dan penyebarannya.
- pola penyebaran dan lingk pengendapan - geometri resrvoar
- litologi dan tipe penyebaran - kandungan awal HC diempat
- stratigrafi dan struktur - perkiraan tenaga pendorong reservoar
- geometri reservoar - perkiraan faktor pengurasan statik
- pola dasar pengembangan lapangan

Keluaran karakterisai reservoar dpt di gunakan sepenuhnya untuk pelaksanaan stu di


detail, spt simulasi reservoar, (model sumur/lap) untuk memperoleh gambaran ulah-laku
reservoar bila sejarah uji-kandung dan produksi cukup akurat
4
Kelayakan karakteristik reservoar suatu lapangan/strk sangat tergantung pada
ketersediaan, kuantitas dan keabsahan data. Pemutahiran model dilakukan (terutama da lam
kasus reservoar dng tingkat komplek sitas tinggi) bilamana tdp ketidakserasian antara data
yang diperoleh dan dianalisis dengan model geologi-reservoar yang telah direkonsrtuksi
sebelumnya.
Karakteisasi reservoar merupakan eva luasi terpadu kegiatan E&P yang ditujukan untuk
mengoptimalisasi kontribusi dari setiap data dan informasi reservoar scr regional-lokal, statik-
dinamik,makro-mikro serta inde pendent-dependent, shg konsistensi serta representasi data
dan informasi dapat selalu dikontrol. Pendekatan dalam evaluasi terpa du dari berbagai
aktivitas dan disiplin terkait diperlihatkan pada gambar I-12.
Terpadu atau integrated merupakan suatu hal mudah untuk diucapkan akan ttp dalam
penerapannya, pengertian terpadu sering disalah artikan sebagai al:
(1) kalibrasi -calibrating
(2) penyesuaian -matchingsi
(3) penyamaan -equating
(4) korelasi -correlating
Contoh dr kerancuan penerapan tsb adalah dlm masalah reservoir/formasi ber-resistivitas
rendah (low resistive formation), dimana dibbrp lokasi terdapat reservoar dng uji produksi yang
menghasilkan HC tanpa air (clean oil) meskipun interpretasi log-sumur nya memberikan
gambaran kadar-air tinggi.
Kedua metoda pendekatan tsb adalah independent, dan bila penyebab utama dari kasus
resistivity rendah tsb belum dpt ditentu kan dng tepat, maka hasil dari interpretasi log-sumur
cenderung untuk dikalibrasi/ dise suaikan thdp uji produksi. Selanjutnya hasil
kalibrasi/penyesuaian yg bersifat setempat (lokal) tersebut diberlakukan secara umum, baik
lateral, vertikal bahkan thdp reservoir/ lap/struktur lain yang berlainan karakterisasi dan kondisi
geologinya.
Kesimpulan dari pembahasan metoda dan pendekatan adalah:
(1) penerapan metoda dan pendeketan in terpretasi scr terpisah (independent dan stan-
alone) cenderung tdk dpt memi nimasi ketidak pastian (uncertainity)
(2) berbagai kontradiksi dan kerancuan, di selesaikan dng menerapkan kalibrasi,
penyesuaian, penyelarasan, penyamaan terhadap hasil akhir.
(3) Proses cenderung tidak dilakukan scr terpadu/integrasi mulai dari data –dasar (raw
data)