Anda di halaman 1dari 118

KEBUTUHAN ZAT – ZAT MAKANAN PADA TERNAK SAPI PERAH

KEBUTUHAN ZAT – ZAT MAKANAN


PADA TERNAK SAPI PERAH

Kebutuhan zat-zat makanan pada ternak perah didasarkan pada ukuran / berat badan,
tingkat kemampuan produksi air susu dan kadar lemak susu yang dihasilkan. Zat-zat makanan
dibutuhkan ternak sapi untuk:
 Memenuhi kebutuhan hidup pokok (maintenance).
 Mendukung proses produksi dan kebuntingan.
 Mendukung proses pertumbuhan ternak sampai mencapai dewasa tubuh.
 Mempertahankan produksi susu pada ternak yang sedang laktasi.
Zat – zat yang dibutuhkan oleh ternak perah adalah:
 Energi
 Protein
 Mineral
 Vitamin
 Air

1. Energi
Sumber energi yang paling utama adalah karbohidrat dan lemak. Karbohidrat
mempunyai kelebihan dibanding lemak sebagai sumber energi yaitu:
 Mudah dicerna
 Mudah diserap
 Mudah ditransformasi untuk produksi susu/daging dan lemak tubuh
Tujuan energi untuk proses kehidupan adalah:
 Aktivitas jantung
 Peredaran darah
 Aktivitas otot
 aktivitas sistem saraf
 Sintesa protein dan lemak
 Sekresi air susu
 Pertumbuhan fetus
 Pertumbuhan pada anak sapi
Akibat kekurangan energi :
 Pertumbuhan terhambat
 Terlambat pubertas
 Menurunkan berat badan
 Produksi susu menurun

2. Protein
Protein dibutuhkan oleh ternak untuk:
 Pertumbuhan
 Memperbaiki jaringan yang sudah tua
 Produksi susu/daging
 Perkembangan ternak terutama yang baru lahir
 Keseimbangan protein protein dalam tubuh
Akibat kekurangan protein :
 Pertumbuhan terhambat
 Pertahanan tubuh menurun
 Menurunkan berat lahir
 Produksi susu/daging menurun
 Kandungan solid non fat pada susu menurun

Sumber protein yang paling utama adalah tanaman dan hewan. Pada umumnya hewan
mengandung lebih banyak protein dibandingkan dengan tanaman . Kadar protein secara
keseluruhan pada hewan (10 – 20 %), sedangkan pada tanaman (6 – 8 %). Pada bagian tanaman
umumnya mengandung protein lebih tinggi pada biji, kemudian daun baru batang.
3. Mineral
Fungsi Mineral secara umum :
a. Menguatkan dan mengeraska struktur tulang
b. Mengaktifkan system enzim
c. Mengontrol keseimbangan pengeluaran air dan gas dalam tubuh ternak
d. Mengatur keseimbangan asam yang dibutuhkan
e. Meransang aktivitas otot dan urat saraf.
Kebutuhan makro mineral pada ternak perah meliputi NaCl (garam dapur), Calsium,
Phosphor, Magnesium dan Sulfur. Adapun kebutuhan mikro mineral pada ternak perah adalah
Mn, Co, Cu, Se dan Zn.
4. Vitamin
Vitamin yang dibutuhkan pada ternak perah adalah Vitamin, A, B, C, D, E dan K. Di
dalam tubuh hewan vitamin dibutuhkan untuk kesehatan dan kekuatan tubuh. Vitamin-vitamin
yang diperlukan oleh hewan ruminansia hanya yang larut dalam lemak seperti Vitamin A, D, E
dan K.
Vitamin A
Hijauan banyak mengandung Carotein, jadi dalam hijauan cukup tersedia pro- vitamin
A dalam bentuk carotein dan dapat dirubah menjadi vitamin A dalam tubuh hewan. Apabila
hijauan yang diberikan tidak cukup maka perlu diberikan vitamin A suplemen. Gejalah
kekurangan Vitamin A adalah rabun mata, bulu kusam, mata berair, kulit bersisik, diare,
keguguran, infeksi cepat menjadi parah dan anak yang lahir lemah atau mati.
Vitamin B
Vitamin B complex kesemuanya dapat dibentuk di dalam tubuh ruminansia. Oleh
karena itu kemungkinan terjadinya kekurangan vitamin B sangat kecil, kecuali ternak
kekurangan pakan.
Vitamin D
Vitamin D dibentuk (disintesa) dalam jaringan tubuh dengan bantuan sinar matahari,
karena jaringan di bawah kulit terdapat pro-vitamin D yang apabila dikena sinar matahari maka
akan terbentuk vitamin D. Ternak-ternak di daerah tropis jarang terjadi kekurangan vitamin D.
Ternak yang kekurangan vitamin D akan kerdil. Sumber vitamin D juga terdapat pada hijauan
yang selalu kena sinar matahari.
Vitamin E
Semua makanan hijauan dan padi-padian mengandung vitamin E. Ternak yang diberi
hijauan segar tidak akan terjadi kekurangan vitamin E. Ternak yang kekurangan hijauan segar
sebaiknya diberikan sumber vitamin E seperti padi-padian.
5. Air
Ternak lebih menderita terhadap kekurangan air dibandingkan dengan kekurangan zat-
zat makanan lainnya. Ternak yang sedang laktasi sangat membutuhkan air, karena di dalam susu
terdapat 85 – 87 % air, begitu pula di dalam tubuh ternak terdiri dari 60 –70 % air. Faktor-faktor
yang mempengaruhi konsumsi air pada ternak adalah:
a. Umur
b. Berat badan
c. Tingkat produksi
d. Cuaca
e. Jenis ransum
Di dalam tubuh air berfungsi dalam:
a. Mengatur suhu dalam tubuh
b. Membantu proses pencernaan
c. Membantu proses metabolisme
d. Membantu proses pelepasan kotoran
e. Pelumas pada persendian.

6. Serat Kasar
Secara umum, ternak ruminansia membutuhkan serat dalam ransumnya untuk menjamin
berjalannya fungsi rumen secara normal dan sekaligus untuk mempertahankan kadar lemak susu

http://syahrianasabil.blogspot.co.id/2013/04/kebutuhan-zat-zat-makanan-pada-ternak.html

KEBUTUHAN ZAT MAKANAN DALAM PAKAN


TERNAK SAPI
a. Protein
Pakan ternak berkualitas harus mengandung protein dalam jumlah cukup karena
protein memiliki peran sangat penting untuk pertumbuhan maupun perkembangan
ternak. Berikut ini dijelaskan secara singkat mengenai peran dan fungsi protein pada
ternak .

Protein berfungsi memperbaiki dan menggantikan sel tubuh rusak, terutama untuk
ternak tua atau lanjut usia.

 Protein berperan untuk membantu pertumbuhan atau pembentukan sel-sel


tubuh, terutama untuk pedet maupun sapi muda.
 Protein berperan dalam mendukung keperluan berproduksi, terutama untuk sapi-
sapi dewasa produktif.
 Protein akan diubah menjadi energi, terutama untuk sapi-sapi pekerja.

Sapi muda fase pertumbuhan membutuhkan asupan protein lebih tinggi daripada sapi-
sapi dewasa. Protein merupakan zat yang tidak bisa dibentuk atau diproduksi dalam
tubuh, sehingga untuk mencukupi kebutuhan protein, binatang ternak harus
mendapatkan suplai protein dari makanan. Oleh karena itu, pemberian pakan ternak
harus memiliki kandungan protein dalam jumlah cukup bagi petumbuhan dan
perkembangan sapi.

Untuk memenuhi kebutuhan protein, peternak atau pembudidaya sapi harus


menyertakan protein tersebut saat memberiakn pakan. Beberapa sumber protein untuk
membantu menopang pertumbuhan dan perkembangan ternak sapi diantaranya
adalah:

Pakan hijauan, terutama memanfaatkan tumbuhan berasal dari famili leguminosae atau
kacang-kacangan, seperti Centrosema pubescens, daun turi, lamtoro, daun kacang
tanah, daun kacang panjang, daun kedelai, dll.
Makanan tambahan, terutama berfungsi sebagai makanan penguat, seperti bungkil
kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging, dll.

Perlu diketahui bahwa, pemenuhan kebutuhan protein berasal dari protein hewani
memiliki kualitas lebih unggul dibanding dengan pemberian protein berasal dari protein
nabati. Protein hewani mengandung asam amino esensial serta nilai gizi lebih
kompleks. Bahan makanan yang memiliki kandungan protein bermutu tinggi adalah
bahan makanan berkandungan protein mendekati susunan protein tubuh, misalnya
protein hewani. Kelebihan lain dari protein hewani ialah protein tersebut lebih mudah
diproses menjadi jaringan tubuh dengan resiko kerugian lebih kecil dibandingkan
dengan protein nabati.

Kebutuhan protein pada hewan ternak ruminansia, seperti sapi, tidak begitu
memerlukan kualitas protein bermutu tinggi karena di dalam rumen maupun usus
banyak terjadi aktifitas penguraian oleh mikroorganisme yang terkandung didalamnya.
Perlu diperhatikan dalam hal ini adalah untuk membangun kembali protein yang telah
terurai, maka dibutuhkan protein berkandungan asam amino lengkap. Oleh karena itu,
jika sapi peliharaan terpaksa hanya diberi pakan jerami, maka untuk memenuhi
kebutuhan zat-zat makan yang tidak terkandung pada jerami tersebut harus diberikan
melalui pakan tambahan berkandunganprotein, lemak, dan karbohidrat tinggi. Selain itu,
pakan ternak berupa jerami mengandung banyak serat kasar yang tidak mudah dicerna
serta hanya sedikit sekali mengandung protein, lemak, dan karbohidrat.

b. Lemak
Lemak memiliki peranan penting bagi baik bagi pertumbuhan maupun perkembangan
sapi, sebab lemak dapat berfungsi sebagai cadangan sumber energi bagi ternak
peliharaan.

Berikut ini akan diuraikan secara singkat beberapa fungsi lemak bagi pertumbuhan dan
perkembangan sapi:

 Lemak berfungsi sebagai sumber energi atau tenaga.


 Lemak berfungsi sebagai pembawa vitamin A, D, E, dan K. Vitamin-vitamin
tersebut merupakan jenis vitamin larut dalam lemak.

Lemak yang berasal dari bahan makanan dapat disimpan dalam jaringan sel-sel tubuh
dalam bentuk lemak cadangan. Namun, jika dibutuhkan, lemak juga dapat diubah
menjadi pati dan gula yang digunakan sebagai sumber energi. Tubuh ternak akan
membentuk lemak dari karbohidrat maupun lemak makan yang belum digunakan.
Setiap kelebihan lemak akan disimpan sebagai lemak cadangan terutama di bawah
kulit. Berbeda dengan domba, domba meyimpan kelebihan lemak terutama pada
ekornya, sapi memiliki tempat khusus untuk menyimpan kelebihan lemak ini terutama
pada punuknya (terletak di belakang leher). Di samping itu kelebihan lemak juga dapat
disimpan di sekitar buah pinggang, selaput penggantung usus maupun di antara otot-
otot.

Pada dasarnya, tubuh binatang tersusun atas tiga jaringan utama, yaitu tulang, otot,
dan lemak. Lemak merupakan jaringan tubuh yang dibentuk paling akhir. Pada sapi
peliharaan sebagai sapi potong, biasanya jaringan lemak tersebut akan menyelubungi
serabut-serabut otot, sehingga otot dan daging sapi akan terasa lebih lembut. Lemak
pada tubuh binatang memiliki sifat berbeda-beda, tergantung pada jenis binatang
bersangkutan, kualitas nutrisi yang dikonsumsi, umur, aktivitas, serta kesehatan. Sapi
yang dimanfaatkan sebagai pekerja memiliki daging lebih liat dibanding dengan sapi
potong, apalagi jika mutu makan yang dikonsumsinya hanya mengandung sedikit
mengandung lemak. Dalam pemberian ransum pakan ternak sapi, bahan yang banyak
mengandung sumber lemak, antara lain bungkil kacang tanah, bungkil kelapa serta
bungkil kacang kedelai.
c. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu zat makanan yang merupakan sumber utama energi
bagi ternak, Beberapa fungsi karbohidrat antara lain:

 Karbohidrat sebagai sumber utama tenaga atau energi.


 Karbohidrat berfungsi sebagai komponen pembentukan lemak tubuh.

Setelah dicerna, karbohidrat pada bahan makanan diserap oleh darah dalam bentuk
glukosa. Karbihidrat ini langsung dioksidasi untuk menghasilkan energi atau disimpan
sebagai cadangan lemak dalam tubuh. Komponen yang termasuk karbohidrat antara
lain serat kasar, BETN yaitu bahan makanan berkandungan gula dan pati tinggi.
Jagung merupakan salah satu bahan makanan sumber karbohidrat tinggi. Kebutuhan
karbohidrat pada ternak sapi juga bisa dipenuhi dari hijauan, sehingga dalam
pemenuhan kebutuhan akan karbohidrat, ternak peliharaan bisa mendapatkannya
dengan mudah.

d. Mineral
Beberapa fungsi mineral pada sapi antara lain:

 Mineral berperan untuk pembentukan jaringan tulang dan urat.


 Mineral berperan untuk membantu keperluan berproduksi.
 Mineral berperan untuk membantu proses pencernaan serta penyerapan zat-zat
makanan.
 Mineral yang diberikan melalui pakan berperan untuk menggantikan mineral
tubuh yang hilang, dan memelihara kesehatan.

Sekalipun tidak dibutuhkan dalam jumlah besar, tetapi mineral memiliki peran sangat
penting terutama bagi kelangsungan hidup ternak sapi. Mineral terdapat pada tulang
maupun jaringan tubuh. Hewan ternak muda fase pertumbuhan sangat membutuhkan
mineral. Demikian juga untuk pertumbuhan janin, keberadaan mineral merupakan suatu
keharusan.

Unsur mineral pada umumnya banyak terdapat pada pakan ternak sapi yang diberikan.
Adapun unsur mineral yang sering dibutuhkan oleh ternak antara lain natrium, khlor,
kalsium, phosphor, sulfur, magnesium, kalium, seng, selenium, serta tembaga. Diantara
unsur-unsur tersebut, kadang-kadang binatang ternak membutuhkan unsur mineral
tertentu dalam jumlah lebih banyak dibanding unsur mineral lain. Unsur mineral yang
sering dibutuhkan dalam jumlah lebih banyak diantaranya adalah natrium klorida,
kalsium, dan phosphor.

Pakan ternak berasal dari tanaman padi-padian biasanya banyak mengandung unsur
phosphor, sementara unsur kalsium biasanya banyak terdapat pada pakan ternak
berbentuk kasar. Sapi kekurangan unsur mineral biasanya menunjukkan perilaku sering
makan tanah. Kekurangan unsur mineral berpotensi mengakibatkan penurunan fertilitas
serta penyakit tulang. Pemberian pakan ternak sapi dapat berasal dari pakan hijauan
maupun pemberian feed supplement-mineral.

e. Vitamin
Kesehatan dan kelangsungan hidup ternak bahkan pada kebanyakan mahluk hidup
tidak lepas dari keberadaan vitamin di dalam tubuh. Beberapa fungsi vitamin pada
ternak antara lain:

 Vitamin berperan untuk mempertahankan serta meningkatkan kekuatan tubuh.


 Vitamin berperan untuk meningkatkan kesehatan ternak terutama saat
berproduksi.

Bahan-bahan pakan ternak berasal dari hijauan biasanya mengandung banyak vitamin,
sehingga pemenuhan kebutuhan vitamin pada ternak peliharaan tidak terlalu
mengalami kesulitan. Disamping itu, kebanyakan vitamin dapat dibentuk dalam usus
binatang pemamah biak, terutama vitamin B kompleks. Kandungan vitamin pada pakan
ternak dari hijauan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti: tanah, iklim, waktu
pemotongan serta penyimpanan. Vitamin A dan E banyak terdapat pada tanaman
hijauan maupun padi-padian. Hal yang perlu diperhatikan oleh peternak atau
pembudidaya sapi tidak boleh menyepelekan pemenuhan kebutuhan vitamin pada sapi
peliharaan, terutama ketika musim kemarau, dimana bahan-bahan pakan hijauan
biasanya mengalami kekurangan kadar vitamin A. Oleh karena itu, saat musim
kemarau perlu ditambahkan vitamin A dalam ransum pakan ternak sapi.

Kelebihan vitamin A dapat disimpan di dalam hati. Sapi memiliki kemampuan


menyimpan vitamin A selama enam bulan, sementara itu kambing hanya memiliki
kemampuan menyimpan vitamin A selama tiga bulan. Sumber vitamin A bisa diperoleh
dari bahan pakan ternak berupa hijauan, terutama terdapat pada bagian pucuk
tanaman. Bagian pucuk tanaman biasanya mengandung karotin tinggi, dimana karotin
tersebut akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh hewan.

Proses pembentukan vitamin dalam tubuh binatang:

 Vitamin A dapat dibentuk dari karotin yang banyak terdapat pada ransum pakan
hijauan.
 Vitamin B dapat dibentuk sepenuhnya di dalam tubuh hewan.
 Vitamin C dibentuk sendiri oleh semua jenis hewan dewasa
 Vitamin D akan dibentuk dalam tubuh dengan bantuan sinar matahari.

f. Air
Air merupakan komponen sangat penting bagi kehidupan mahluk hidup. Tanpa air,
kemungkinan tidak akan berlangsung kehidupan. Beberapa fungsi air, khususnya pada
binatang ternak antara lain:

 Air berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh.


 Air berperan besar dalam membantu proses pencernaan.
 Air berfungsi untuk mengeluarkan bahan-bahan tak berguna di dalam tubuh, baik
dalam bentuk keringan, urine, maupun feses (80% air).
 Air berfungsi sebagai pelumas persendian serta membantu mata untuk dapat
melihat.

Pada umumnya komposisi tubuh hewan ternak lebih dari 50% terdiri dari air. Sebagian
besar jaringan tubuh hewan ternak mengandung air sebanyak 70-90%. Mahluk hidup
yang mengalami kekurangan air akan lebih cepat mati dari pada kekurangan pakan. Hal
tersebut membuktikan bahwa peran air sangat vital bagi kehidupan. Oleh karena itu,
peternak atau pembudidaya sapi harus betul-betul memperhatikan kebutuhan air pada
ternak sapi peliharaannya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan air pada hewan ternak, antara lain
jenis ternak, umur, ternak, suhu lingkungan, jenis pakan yang diberikan, volume pakan
ternak yang diberikan, serta aktivitas yang dilakukan. Bagi sapi pekerja, kebutuhan
airnya akan lebih tinggi daripada sapi potong.
Pada umumnya hewan ternak dapat mencukupi kebutuhan air dari air minum, air dalam nutrisi pakan
serta air metabolik yang berasal dari glugosa, lemak dan protein. Bagi sapi pekerja dewasa, kebutuhan
air minum yang harus disediakan kurang lebih 35 liter per hari, sedangkan bagi sapi dewasa lain cukup
25 liter per hari.
http://tipspetani.blogspot.co.id/2014/04/kebutuhan-zat-makanan-dalam-pakan.html

Zat-zat Makanan yang Penting bagi Unggas


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada umumnya ternak unggas membutuhkan asupan gizi yang baik bagi
pertumbuhannya. Zat gizi atau nutrien tersebut bisa berupa sumber protein, karbohidrat, lemak,
vitamin dan mineral dalam pakan yang dikonsumsinya atau yang dapat disintesis dalam
tubuhnya sendiri. Pakan merupakan semua bahan yang dapat dimakan ternak, dicerna, diserap,
dan dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Ternak unggas apabila diberi beberapa pakan secara terpisah (cafeteria) maka ia akan
memilih makanan sesuai dengan kebutuhannuya. Selain itu unggas lebih mengandalkan indra
penglihatan untuk memilih pakan, berbeda dengan ruminansia yang mengandalkan penciuman
dari pada penglihatannya. Ada beberapa bentuk pakan (ransum tunggal) yang diberikan pada
ternak
diantaranya pellet, mash (tepung),crumble (butiran), cube (kubus), cake (lempengan), chip (emp
ing) atau hijauan.
Ternak unggas merupakan salah satu sumber pangan utama masyarakat Indonesia dari
hasil ternak. Tingkat konsumsi yang sangat tinggi tidak diringi dengan pembudidayaan secara
intensif. Apalagi populasi masyarakat yang semakin meningkat menyebabkan kekurangan
pemenuhan konsumsi hasil ternak unggas setiap orangnya. Hal ini disebabkan karena manajemen
pemeliharaan yang belum baik dan efektif. Hanya sebagian kecil dari peternakan rakyat yang
sudah menerapkan manajemen pemeliharaan yang sesuai dan diikuti dengan penerapan
teknologi. Ini merupakan salah satu hambatan dalam peningkatan populasi unggas.
Indonesia merupakan salah satu kawasan tropis di dunia. Kawasan tropis cocok untuk
dilakukan pembudidayaan ternak unggas. Selanjutnya peternak memerhatikan ransum yang
diberikan terhadap hewan ternaknya, agar ternak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik,
serta bisa memenuhi kebutuhan pangan manusia.

1.2. Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui zat-zat makanan yang
penting untuk unggas.
1.3. Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari makalah ini dapat menjadi salah satu sumber bacaan
mengenai zat-zat makanan yang penting untuk pertumbuhan unggas.

II. PEMBAHASAN

2.1. Zat-Zat Makanan yang Dibutuhkan Unggas


Ilmu Nutrisi Unggas adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara unggas
dengan makanannya atau ilmu tentang zat-zat dan bahan-bahan makanan, kebutuhan terhadap
zat-zat makanan, dan cara mempersiapkan serta pemberian ransum untuk unggas.
Zat-zat Makanan yang Dibutuhkan Unggas
 Karbohidrat
 Vitamin
 Lipid
 Protein
 Mineral
 Air
Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu sebesar
65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi
(Suprijatna et al. 2005).
Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu
karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari
(Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu
tersedia/tidak dibatasi).
Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat
pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap
pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%.
Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar
protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. Efisiensi pakan dinyatakan dalam
perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio).

2.1.1. Karbohidrat
Karbohidrat didefinisikan sebagai zat yang mengandung atom karbon, hidrogen, dan
oksigen. Karbohidrat berasal dari kata karbon dan hidrat, karbon artinya adalah atom karbon dan
hidrat adalah air.
Oleh karena itu rumus umum karbohidrat dapat ditulis Cx(H2O)y. Definisi ini hanya
berlaku untuk sebagian besar kelompok karbohidrat, karena ada beberapa jenis karbohidrat lain
yang mengandung bagian oksigen yang lebih rendah dibandingkan dengan yang ada dalam air
atau derivat ada derivat karbohidrat yang mengandung nitrogen dan sulfur.
Karbohidrat merupakan kelompok ketiga terbesar senyawa organik dalam tubuh ternak
unggas.. Namun demikian karbohidrat merupakan zat makanan organik terbesar yang ada dalam
jaringan tanaman. Kelompok senyawa karbohidrat yang terpenting meliputi glukosa, fruktosa,
sukrosa, laktosa, pati, glikogen, chitin, dan sellulosa. Karbohidrat yang terdapat dalam tubuh
ternak unggas sebagian besar berupa glikogen dan chitin, glikogen dijumpai dalam daging dan
chitin dalam kulit dan sisik terutama pada kulit udang.
A. Fungsi Karbohidrat pada Ternak Unggas
Pada ternak unggas zat nutrisi tersebut sangat mutlak diperlukan sebagai sumber energi
dibandingkan zat nutrisi protein dan lemak. Keberadaan karbohidrat dalam pakan ternak
monogastrik seperti unggas dan kelinci mutlak diperlukan. Karbohidrat dalam pakan ternak
unggas umumnya diperlukan untuk :
 Sumber energi yang murah bagi ternak unggas
 Penggunaan karbohidrat dapat mengefisienkan fungsi protein dengan menghemat penggunaan
protein sebagai sumber energi.
 Karbohidrat berguna sebagai zat pengikat atau binder antar partikel-pertikel
 penyusun ransum sehingga dapat meningkatkan stabilitas dan durabilitas pellet.
 Karbohidrat berguna untuk meningkatkan palatabilitas (kesukaan) pakan.

B. Penggunaan Karbohidrat pada Ternak Unggas


Pada unggas, karbohidrat digunakan sebagai sumber energi utama. Efisiensi penggunaan
karbohidrat sebagai zat nutrisi pada ternak monogastrik tergantung kepada jenis ternaknya.
Untuk ternak monogastrik jenis unggas, kemampuan menghidrolisis atau mencerna karbohidrat
sangat terbatas karena aktivitas enzim selulolitik dalam proses pencernaannya sangat rendah.
Dengan demikian, tidak semua sumber energi dari karbohidrat, potensial dipergunakan
oleh ayam. Misalnya selullosa (bagian rangka dari tanam-tanaman) yang hanya merupakan serat
kasar dalam bahan makanan, tidak dapat dicerna oleh pencernaan ayam, karena tidak mempunyai
enzim selulolitik dalam saluran pencernaannya. Dengan demikian selullosa hanya pengganjal
kasar (bulk) yang tidak esensial pada ransum ayam.
Pada umumnya, bagian-bagian penting dari alat pencernaan adalah mulut, parinks,
esophagus, lambung, usus halus dan usus besar. Makanan akan dicerna bergerak melalui mulut
sepanjang saluran pencernaan oleh gelombang peristaltik yang disebabkan karena adanya
kontraksi otot sirkuler di sekeliling saluran. Usus halus merupakan alat absorbsi yang utama pada
ayam broiler, pertama-tama karena mempunyai villi, suatu bangunan seperti jari yang hanya
dapat dilihat dengan mikroskop, karena bentuknya mempunyai daerah absorbsi yang luas. Tiap
bentuk villi mengandung sebuah anteriole, sebuah venule dan sebuah lakteal, yaitu bagian dari
sistem limfatika venula, yang merupakan bagian dari sistem peredaran darah, yang langsung
berhubungan menuju vena porta; sedangkan lakteal-lakteal akan menuju duktus limpatikus
torasikus.
Broiler juga mempunyai beberapa sekresi yang dimasukkan ke dalam saluran
pencernaan, dan banyak sekresi-sekresi ini mengandung enzim-enzim yang menunjang hidrolisa
sebagai zat-zat makanan organik. Pencernaan pada broiler umumnya mengikuti pola pencernaan
pada ternak non ruminansia, tetapi terdapat berbagai perbedaan. Biasanya, unggas menimbun
makanan yang dimakan dalam tembolok, suatu vertikulum (pelebaran) esophagus yang tak
terdapat pada non ruminasia lain. Tembolok berfungsi sebagai penyimpanan makanan dan
mungkin terdapat adanya aktivitas jasad renik yang ada di dalamnya, dan menghasilkan asam-
asam organik. Osephagus, seperti halnya ternak non ruminansia lain, berakhir pada lambung
yang mempunyai banyak kelenjar dan di dalamnya terjadi reaksi-reaksi enzimatik.
Namun makanan yang berasal dari lambung masuk ke dalam empela, yang tidak terdapat
pada hewan non ruminansia lain. Empela mempunyai otot-otot kuat yang dapat berkontraksi
secara teratur untuk menghancurkan makanan sampai menjadi bentuk pasta yang dapat masuk ke
dalam usus halus. Jenis karbohidrat yang menjadi sumber energi terbesar pada ayam adalah
karbohidrat dari jenis pati. Jagung merupakan sumber pati (energi) yang paling murah untuk
penyusunan ransum ayam. Butir-butiran dan biji-bijian juga juga merupakan sumber energi.
Berdasarkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian karbohidrat yang terlalu
tinggi pada ternak unggas akan menurunkan tingkat pertumbuhan dan menaikkan deposit
glikogen pada hati dan pada akhirnya menyebabkan penurunan pertumbuhan. Namun pada
ternak monogastrik jenis kuda dan kelinci, karena tergolong hewan herbivora dan mempunyai
secum pada saluran pencernaannya, pemberian karbohidrat maksimal masih dapat ditoleransi.
Efisiensi penggunaan karbohidrat sebagai nutrien pada ternak unggas dipengaruhi oleh
beberapa faktor antara lain :
 Jenis karbohidrat ; polisakarida dan disakarida mempunyai efek yang lebih menguntungkan
terhadap pertumbuhan daripada monosakarida.
 Keadaan fisik karbohidrat; pati yang dimasak atau digelatinisasi lebih cepat dicerna dan berefek
menguntungkan terhadap pertumbuhan daripada pati alami atau tidak dimasak.
 Pembatasan pemberian karbohidrat; pemberian karbohidrat yang dibatasi akan berefek
menguntungkan terhadap kemampuan mencerna karbohidrat tersebut. Penggunaan karbohidrat
jenis sellolusa dan hemisellusa pada keadaan yang berlebihan akan mengurangi pertumbuhan
ternak unggas efisiensi pakan. Hal ini disebabkan kedua jenis karbohidrat di atas tidak dapat
dicerna oleh ternak unggas karena aktivitas enzim selloluse dalam saluran pencernaan ternak
unggas lemah atau relatif tidak ada. Selain itu sellolusa dan hemiselulosa ini bersifat tahan
terhadap perlakuan kimia asam dan alkali.
2.1.2. Vitamin
Vitamin adalah zat organik yang esensial untuk pertumbuhan dan dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit.
Penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin disebut AVITAMINOSIS atau HYPOVITAMINOSIS.
Sebagian besar kebutuhan vitamin bagi unggas telah diketahui dengan tepat, terutama
bagi vitamin-vitamin yang jumlahnya tidak cukup dalam ransum sehari-hari. Unggas sangat peka
terhadap defisiensi vitamin. Hal tersebut disebabkan karena:
1. Unggas tidak memperoleh keuntungan dari sintesis vitamin oleh jasad renik di dalam alat
pencernaan. Jasad renik usus pada unggas bersaing dengan "tuan rumahnya" sendiri bagi
vitamin-vitamin tersebut.
2. Unggas mempunyai kebutuhan yang tinggi terhadap vitamin, vitamin penting bagi reaksi-reaksi
metabolik vital dalam tubuh hewan.
3. Populasi yang padat dalam peternakan unggas modern menimbulkan berbagai macam stress bagi
unggas tersebut, sehingga memerlukan kebutuhan vitamin yang semakin tinggi.
Dalam prakteknya, ransum unggas tidak disusun berdasarkan kadar kebutuhan minimum,
karena bahan pakan dapat bervariasi kadar zat-zat pakannya dan lagi pula zat-zat pakan tersebut
dapat hilang pada waktu bahan pakan diproses atau selama disimpan.
Perkiraan kebutuhan minimum untuk vitamin bagi unggas diterbitkan oleh National
Research Council(NRC) dalam Nutrient Requirements of Poultry. Perkiraan-perkiraan tersebut
adalah perkiraan kadar minimum yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi telur atau
reproduksi.
Dalam prakteknya, ransum unggas biasanya disusun agar mengandung jumlah vitamin
yang lebih banyak dari yang dipaparkan untuk memperoleh batas aman dalam mengimbangi
kemungkinan hilangnya vitamin-vitamin tersebut akibat pengolahan bahan pakan, pengangkutan,
penyimpanan dan adanya variasi dalam komposisi bahan pakan dan kondisi sekelilingnya.
Bila suatu defisiensi harus timbul, maka hal tersebut biasanya disebabkan karena tidak
terdapatnya salah satu zat pakan yang diperlukan atau karena rusaknya satu atau lebih zat-zat
vitamin waktu pengolahan bahan pakan tersebut. Vitamin-vitamin yang mudah mengalami
kerusakan adalah vitamin-vitamin yang larut dalam lemak. Sedangkan thiamin dan asam
panthotenat dapat rusak akibat pengolahan atau penyimpanan.
vitamin adalah ikatan organik yang :
 Merupakan komponen dari bahan makanan yang berbeda dengan protein, lemak, karbohidrat maupun air.
 Terdapat dalam bahan makanan dalam jumlah kecil.
 Esensial untuk pertumbuhan normal suatu jaringan, kesehatan, pertumbuhan dan pemeliharaan.
 Jika kekurangan akan menyebabkan gejala-gejala yang spesifik.
 Tidak dapat disintesa oleh tubuh, oleh karena itu harus terdapat dalam makanan atau berasal dari
mikroorganisme dalam alat pencernaan.
Vitamin yang Larut Dalam Air:
 Vitamin Bl, atau disebut juga aneurin, thiamin, vitamin anti radang syaraf, vitamin anti
beri-beri.
 Vitamin B6 atau disebut adermin atau pyridoxine.
 Nicotinamid atau disebut juga niacin, PP- faktor, anti pellagra faktor
 Asam folat disebut juga faktor M (Megaloblastik anaemia) atau: folacin.
 Asam panthotenat atau vitamin anti dermatitis.
 Vitamin B12 atau cyanocobalamin.
 Cholin atau faktor pencegah pelemakan hati.
 Vitamin C
Vitamin yang Larut Dalam Lemak
 Vitamin A atau disebut juga anti xerophthalmia, anti infeksi, vitamin pelindung epithel,
retinol, retinal, atau retinoic acid.
 Vitamin D atau disebut vitamin anti rakhitis. Ada dua macam vitamin D yaitu vitamin D2
dan vitamin D3. Vitamin D2 disebut kalsiferol atau ergokalsiferol, sedangkan vitamin D3 disebut
kolekalsiferol atau 7-dehidrokolesterol.
 Vitamin E disebut juga vitamin anti sterilitet atau alpa tokoferol.
 Vitamin K disebut juga menadion, menapthone, vitamin anti haemorrhagi atau
phylloquinone.
A. VITAMIN B1
Vitamin B1 terdapat dalam hati, telur, air susu, daging, biji-bijian terutama yang dikecambahkan, tomat,
wortel, dll.
Vitamin Bl merupakan suatu senyawa yang mengandung nitrogen yang merupakan
penggabungan dari pyrimidin dan cincin thiazole.
Defisiensi vitamin Bl dapat menyebabkan :
 Pada unggas: penyakit polineuritis/radang syaraf. Gejalanya adalah kelumpuhan syaraf
kaki dan syaraf leher hingga kepala terkulai kebelakang.
 kekurangan vitamin B2 adalah sebagai berikut :
 Pada anak ayam: kaki lumpuh .dengan ujung jari melengkung kedalam "curled-toe paralysis" dan biasanya
diikuti dengan gejala diare yang dapat menimbulkan kematian dalam waktu tiga minggu.
 Pada ayam petelur: produksi dan daya tetas menurun .
 Kekurangan vitamin ini akan mengakibatkan :
 Pada anak ayam: nafsu makan berkurang, tak berdaya untuk mematuk makanan, lari-lari
kian kemari, jatuh pingsan dan berdiri lagi
 Pada ayam dewasa: defisiensi yang ringan mengakibatkan produksi telur dan daya tetas
menurun.
 Convulsi (kekejangan) rupanya merupakan gejala umum kekurangan vitamin ini pada
semua spesies hewan
B. NICOTINAMIDE
Vitamin ini dalam bahan makanan tidak berbentuk sebagai nicotiamide, tetapi sebagai
asam nikotinat dan baru berubah menjadi nicotinamide setelah masuk dalam tubuh. Kacang
tanah, gandum. daging dan ikan merupakan bahan yang kaya akan nicotinamid.
Sebagaimana disebut diatas, vitamin ini dalam tubuh hewan mempunyai fungsi sebagai
komponen dari dua koensim, yaitu koensim I atau DPN (diphosphopyridine nucleotide) atau
NAD, (nicotinamide adenine dinucleotide) dan koensim II atau TPN (triphosphopyridins
nucleotide) atau NADP (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate).
Gejala kekurangan vitamin ini adalah:
 Pada ayam terjadi pembesaran pada sendi tibiotarsal, paha bengkok, pertumbuhan bulu
jelek dan ada gejala dermatitis. Ada juga gejala black tongue pada unggas.
C. ASAM FOLAT
Bahan makanan yang banyak mengandung asam folat adalah: hijauan, gandum, daging
dan kacang-kacangan.
Vitamin ini tersusun dari inti pteridine yaitu asam p-aminobenzoat dengan asam
glutamat. Defisiensi asam folat pertama dikemukakan oleh Wills (1931) dengan diketemukannya
anemia macrocytic pada wanita hamil di India dimana makanan utamanya hanya terdiri dari nasi
putih.
gejala kekurangan asam folat adalah :
 Pada ayam: pertumbuhan terhambat, bulu jelek, depigmentasi, ada gejala anemia dan
perosis.
D. ASAM PANTHOTENAT
Kacang-kacangan, kuning telur, ginjal, hati dan ragi merupakan sumber asam patotenat
yang baik. Skim milk, ketela rambat dan molasses sedikit mengandung asam pantotenat. Asam
pantotenat telah berhasil diisolasi dari hati dan ragi. Asam pantotenat merupakan gugus prostetik
dari koensim A mempunyai fungsi dalam reaksi acetilasi pada karbohidrat, lemak dan
metabolisme asam amino.
Gejala kekurangan asam pantotenat adalah :
 Pada ayam: pertumbuhan badan dan bulu terhenti, granulasi pada mata sehingga mata
tertutup, kudis disekitar mulut, luka-luka pada badan dan kaki dan kerusakan pada medulla.

E. VITAMIN B12
Semula vitamin ini dikenal sebagai "animal protein factor" (APF) karena hanya terdapat
dalam bahan makanan yang berasal dari hewan seperti telur, hati, air susu, ikan dan sebagainya.
Tetapi dalam kotoran sapi ditemukan adanya vitamin B12 yang berarti ada sintesa
vitamin B12 dalam rumen. Vitamin B12 berperan serta dalam sintesa asam nucleat, mungkin
pada perubahan dari ribose ke deoxyribose dan pada pembentukan gugus methyl pada thiamine.
Pada ayam dan hewan lain gejala yang spesifik adalah pertumbuhan yang tidak baik dan
kegagalan fungsi reproduksi dengan sedikit gejala anemia atau tidak sama sekali.
F. CHOLINE
Berguna dalam pembentukan dan pemeliharaan sel-sel tubuh penting dari lecithin dan
sebagai methyldonator. Bahan makanan yang banyak mengandung choline adalah kacang-
kacangan, ragi, ikan, hati dan lain-lain. Gejala kekurangan cholin pada ayam adalah gangguan
pertumbuhan dan gangguan pembentukan kuning telur.
G. VITAMIN C
Semua spesies kecuali manusia, kera, dan kelelawar India mempunyai ensim tertentu
yang dapat mensitesa vitamin C. Ensim ini adalah L-gulonolactone oxidase.
Jadi dapat dikatakan bahwa vitamin C adalah esensial untuk semua hewan/spesies, tetapi
tidak esensial secara diet bagi hewan ternak.
H. VITAMIN A
Vitamin A adalah faktor pelengkap makanan yang pertama diindentifikasi sebagai
komponen spesifik dari makanan. Sifat Kimiawi Vitamin A terdapat dalam produk ternak
terutama dalam bentuk alkohol yaitu Retinol, dan didalam tubuh ternak tersimpan dalam bentuk
gabungan dengan asam lemak, terutama asam palmitat
I. VITAMIN D
Gejala Defisiensi Pada hewan dewasa menyebabkan penyakit osteomalasia. Pada ternak
unggas kekurangan vitamin D menyebabkan tulang dan paruh lunak, pertumbuhan terhambat,
dan produksi telur rendah
J. VITAMIN E
Vitamin E bersifat antioksidan didalam sel, sehingga mencegah oksidasi asam lemak
tidak jenuh yang banyak terdapat pada dinding sel. Juga berpartisipasi pada respirasi jaringan
yaitu pada sistim ensim sitokrom reduktase dan menjaga struktur lipid pada mitokondria dari
kerusakan oksidatif. Berperan pada phosporilasi keratin phospat, ATP.
Vitamin E juga berperan pada sintesa asam askorbat, metabolisme asam nukleat dan
asam amino mengandung belerang.
K. VITAMIN K
Nama vitamin K diambil dari huruf pertama kata Koagulation (bahasa Denmark). Pada
tahun 1939 Dam dkk. berhasil mengisolasi vitamin K murni dari alfalfa.
Gejala Defisiensi
Ternak unggas. Gejala defisiensi biasanya timbul setelah 2-3 minggu ayam diberi makan tanpa
vitamin K.
Adanya obat sulfa seperti sulfa quinoksalin baik dalam pakan atau air minum akan
menambah parah gejala defisiensi ini. Kekurangan ini akan memperpanjang waktu
penggumpalan darah dan dapat menyebabkan pendarahan jika ternak mengalami luka. Gejala
yang sering terlihat adalah adanya hemoragi pada dada, paha, sayap, dan pada permukaan
intestinum. Ayam menunjukkan gejala anemia.
2.1.3. Lemak
Lipid adalah senyawa heterogen yang terdapat dalam jaringan tanaman dan hewan,
mempunyai sifat tidak larut dalam air dan larut dalam pelarut organik. Salah satu kelompok yang
berperan penting dalam nutrisi adalah lemak dan minyak. Lemak tersimpan dalam tubuh hewan,
sedangkan minyak tersimpan dalam jaringan tanaman.
Lipid dapat digunakan sebagai pengganti protein yang sangat berharga untuk
pertumbuhan, karena dalam keadaan tertentu, trigliserida (fat dan oil) dapat diubah menjadi asam
lemak bebas sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi metabolik dalam otot unggas dan
monogastrik. Lipid dapat berguna sebagai penyerap dan pembawa vitamin A, D, E dan K.
Fungsi lipid:
 Lipid berfungsi sebagai sumber asam lemak esensial,
 Bersifat sebagai pemelihara dan integritas membran sel,
 Sebagai prekursor hormon-hormon sex seperti prostagtandin, hormon endrogen dan
estrogen,
 Berfungsi sebagai pelindung organ tubuh yang vital,
 Sebagai sumber steroid, yang sifatnya meningkatkan fungsi-fungsi biologis yang
penting,
 Bertindak sebagai pelicin makanan yang berbentuk pellet, sebagai zat yang
mereduksi kotoran dalam makanan dan berperan dalam kelezatan makanan.
Pada umumnya lemak dan minyak yang terdapat dalam bahan makanan (tanaman) dan
dalam cadangan lemak hewan berbentuk gliserida, yaitu esterisasi dari asam lemak dan gliserol.
Lemak dan minyak merupakan bahan bakar atau energi yang tersimpan dalam hewan dan
tanaman.
Disamping lemak dan minyak, cadangan energi tersimpan dalam bentuk pati dan
glikogen. Minyak tanaman dibuat dari karbohidrat, hal ini dapat dilihat dari fakta bahwa tanaman
yang berbuah masak kandungan patinya akan menurun sedangkan lemaknya meningkat.
Demikian pula lemak hewan dapat dibuat dari karbohidrat. Berbeda dengan tanaman, hewan juga
bisa menyimpan lemak dalam tubuhnya dalam bentuk “lemak ingested”. Perbedaan lemak dan
minyak adalah minyak dalam suhu kamar berbentuk cair sedangkan lemak berbentuk semi padat.
Fosfolipid adalah ester dari asam lemak dan gliserol.
Berdasarkan komponen nitrogen yang tersedia, fosfolipid dapat dibagi dalam 2 kelompok
yaitu lesitin (nitrogen dasarnya adalah cholin) dan sefalin (nitrogen dasarnya adalah etanolamin).
Fospfolipid berperan penting sebagai pengemulsi dalam sistem biologis dan secara khusus
dilibatkan dalam transportasi lemak dalam tubuh. Fospfolipid berperan dalam pengemulsian lipid
dalam saluran pencernaan dan sebagai unsur lipoprotein.
2.1.4. Protein
Protein berasal dari kata Yunani “proteios” yang berarti pertama atau kepentingan utama.
Sesuai namanya, protein sangat penting sebagai penyusun dari semua kehidupan sel dan
merupakan kelompok kimia terbesar didalam tubuh setelah air. Daging rata-rata mengandung
75% air, 16% protein, 65% lemak , dan 3% abu. Protein merupakan komponen esensial dari inti
sel dan protoplasma sel. Oleh sebab itu protein jumlahnya besar dalam jaringan otot karkas,
organ-organ dalam, syaraf, dan kulit.
Fungsi protein pada unggas adalah sebagai berikut :
 Sebagai zat pembangun, protein berfungsi untuk memperbaiki kerusakan atau penyusutan
jaringan (perbaternak dan pemeliharaan jaringan) dan untuk membangun jaringan baru
(pertumbuhan dan pembentukan protein).
 Protein dapat dikatabolisasi menjadi sumber energi atau sebagai substrat penyusun
jaringan karbohidrat dan lemak.
 Protein diperlukan dalam tubuh untuk penyusun hormon, enzim dan substansi biologis
penting lainnya seperti antibodi dan hemoglobin.
Gejala-gejala yang timbul akibat kekurangan dan kelebihan protein.
Kekurangan :
 Menurunya pertumbuhan.
 Meningkatnay deposisi lemak dalam tubuh karena kelebhan energy dalam tubuh tidak di
pakai untuk pertumbuhan, sehingga disimpan dalam bentuk lemak.
Kelebihan :
 Sedikit penurunan pada pertumbuhan.
 Penurunan kandungan lemak tubuh.
 Meningkatnya sam urat dalam tubuh.
 Meningkatnya konsumsi air karena di perlukan untuk mengeluarkan asam urat
Stress yang di tandai dengan membesarnya kelenjar adrenal dan meningkatnya produksi
adrenokortikosteroid.
Protein adalah komponen utama dalam jaringan tubuh unggas. Persentasinya di dalam
tubuh unggas berada dalam posisi ke dua setelah air, yaitu berkisar antara 18 – 30 persen. Protein
merupakan suatu polimer heterogen dari ratusan bahkan ribuan molekul senyawa asam amino.
Sejumlah asam amino akan saling berikatan satu sama lain dengan perantaraan ikatan peptida
untuk membentuk protein.
Tingkat kebutuhan protein bagi setiap jenis unggas tidak sama, bahkan pada satu species
unggas yang sama, kebutuhan proten dapat berbeda. Unggas membutuhkan protein sekitar 24 –
57 persen dari berat total makanan, namun kebutuhan optimumnya berkisar antara 30 – 36
persen. Jika protein yang dikonsumsi tidak mencapai kebutuhan akan mengganggu kecepatan
pertumbuhan. Biaya yang diperlukan untuk menyediakan protein di dalam makanan dapat
mencapai lebih dari 60 persen dari biaya pakan unggas, penggunaan protein seoptimal mungkin
sangat penting dalam pemeliharaan unggas.
Pengetahuan tentang sumbersumber pakan perlu dipelajari, antara lain mengenai : harga,
ketersediaan, komposisi zat pakan termasuk asam amino dan kecernaannya dalam tubuh unggas.
Pengelolaan dan pencampuran sumber-sumber pakan yang tidak baik dapat berakibat kurang
tersedianya protein atau asam amino pakan yang dapat dicerna. Hal ini disebabkan karena
ketersediaan asam amino dan protein pada pakan antara lain dipengaruhi oleh: keseimbangan
asam amino esensial yang tersedia dalam pakan, perlakuan panas dan kimia terhadap pakan,
pencucian pakan di dalam air, kandungan serat kasar pakan, serta kandungan sumber energi lain
di dalam pakan seperti lemak dan karbohidrat.
Asam amino adalah unit dasar dari struktur protein. Semua asam amino sekurang-
kurangnya mempunyai satu gugus asam karboksil (-COOH) dan satu gugus amino (-NH2) pada
posisi alfa dari rantai karbon yang asimetris, sehingga dapat terjadi beberapa isomer. Asam amino
mempunyai sifat optik aktif dengan adanya isomerisasi dan dalam larutan bersifat amfoter yaitu
dapat bereaksi dengan asam basa tergantung dari lingkungannya.
Asam amino esensial/EAA (esensial amino acid) yaitu asam amino yang harus disediakan
dalam pakan karena ternak tidak mampu mensintesanya. Yang termasuk asam amino esensial
adalah: Lysin, Methionine, Valin, Histidin, Fenilalanin, Arginine, Isoleusin, Threonin, Leusin,
dan Triptofan. Asam amino non esensial/NEAA (non esensial amino acid) adalah asam amino
yang dapat disintesa dalam tubuh dari sumber karbon yang tersedia dan dari gugus amino dari
asam amino lain atau dari senyawa-senyawa sederhana seperti diamonium sitrat, sehingga tidak
harus disediakan dalam pakan.
2.1.5. Mineral
Mineral merupakan salah satu zat nutrisi yang sangat esensial untuk kehidupan unggas
dan organisme akuatik lainnya. Berdasarkan jumlah kebutuhan dan keberadaan dalam tubuh
unggas, mineral dibedakan atas dua kelompok yaitu makro mineral dan mikro meineral. Makro
mineral terdiri dari phosphor, kalsium, maagnesium, sodium, potasium, klor, dan sulfur. Mikro
mineral terdiri dari besi, seng, mangan, tembaga, kobalt, iodin, selenium dan kromium.
Fungsi utama mineral dalam tubuh unggas adalah sebagai berikut :
1. Penyusun penting dalam struktur skeleton (tulang dan gigi) dan esoskeleton.
2. Penting dalam pemeliharaan tekanan osmotik dan mengatur perubahan air dan
larutan dalam tubuh unggas.
3. Berguna sebagai penyusun struktur jaringan lunak unggas.
4. Penting untuk transmisi impuls syaraf dan kontraksi otot.
5. Berperanan vital di dalam keseimbangan asam-basa tubuh, dan mengatur pH
darah dan cairan tubuh lainnya.
6. Berguna sebagai komponen penting dari banyak enzim, vitamin, hormon, pigmen
pernafasan atau sebagai kofaktor dalam metabolisme, katalis dan aktifator enzim.
Akibat defisiensi atau kekurangan salah satu mineral dapat menyebabkan pertumbuhan
menurun, efisiensi pakan rendah, demineralisasi pada tulang, deformati skeletal, pengapuran
abnormal dari tulang rusuk dan sirip punggung, , anoresia, dan sebagainya.
Sumber yang kaya mineral terdapat pada hampir semua jaringan hewan dan tumbuhan.
Umumnya jaringan hewan lebih banyak mengandung mineral dibandingkan dengan jaringan
tanaman. Mineral yang terdapat dalam jaringan tanaman terikat dengan senyawa-senyawa
organik lainnya seperti asam phytic, sehingga untuk penggunaannya mineral tersebut harus
terlebih dahulu diberi perlakuan pendahuluan seperti dihidrolis dengan enzim atau dengan
perlakuan fisik seperti pemanasan dan perendaman.
Tabel 1. Komposisi Mineral pada Tubuh unggas dewasa
(Kandungan dalam 1 kg jaringan bebas lemak)
Mineral Ayam
Natrium 51
(mEq)
Kalium (mEq) 69
Klor (mEq) 44
Kalsium (g) 13
Phospor (g) 7,1
Magnesium (g) 0,50
Besi (mg) 60
Seng (mg) 30
Tembaga (mg) 1,5
Yodium (mg) 0,4

Tabel 2. Komposisi Mineral pada Tubuh unggas baru lahir


(Kandungan dalam 1 kg jaringan bebas lemak)
Mineral Ayam
Natrium 83
(mEq)
Kalium (mEq) 56
Klor (mEq) 60
Kalsium (g) 4,0
Phospor (g) 3,3
Magnesium (g) 0,3
Besi (mg) 38
Seng (mg) 12
Tembaga (mg) 2,8
Yodium (mg) 0,5

2.1.6. Air
Air merupakan komponen darah dan cairan tubuh, pencernaan, transport makanan dan
sisa pencernaan, pengatur suhu tubuh, Sumber : air minum, air dalam makanan. Air mempunyai
peranan yang sangat vital bagi proses kehidupan ternak, karena air merupakan salah satu
penyusunan jaringan tubuh yang sangat penting. Suatu data persentase komposisi dari tubuh
hewan menunjukkan bahwa kadar air menurun dengan meningkatnya umur hewan
tersebut. Variasi pada umur tertentu disebabkan terutama oleh keadaan gizi makanan seperti
yang terlihat pada penimbunan lemak, pada hewan yang terlalu gemuk mempunyai 40% air.
Air lebih penting peranannya bagi kehidupan dari pada energi, dan minum air menempati
posisi ke dua setelah bernafas. Peranan air dalam tubuh erat hubungannya dengan sifat fisik dan
kimianya, yaitu:
1. Sebagai pelarut zat pakan.
2. Sebagai pengangkut zat pakan.
3. Membantu kelancaran proses pencernaan, penyerapan dan pembangunan ampas
metabolisme.
4. Memperlancar reaksi kimia dalam tubuh.
5. Membantu kelancaran kerja syaraf dan pancaindera.
6. Sebagai bantalan yang melindungi organ dari goncangan /trauma dari luar.
7. Sebagai pelicin.
8. Untuk mengedarkan zat-zat gizi dari jaringan dan alat tubuh yang satu ke
jaringan dan alat tubuh lain.
9. Berperan dalam pengaturan suhu tubuh ternak serta dalam pertukaran zat.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Kebutuhan nutrisi pada hewan dibedakan menjadi dua yaitu nutrien essensial dan nutrien
non-essensial. Nutrien essensial adalah senyawa kimia yang harus terdapat dalam pakan, seperti
vitamin dan mineral dan juga beberapa asam amino dan asam lemak (kalau tidak ada maka
hewan akan mati). Nutrien non-essensial adalah senyawa kimia yang hewan dapat memproduksi
dari molekul lain (tidak terlalu penting).
3.2. Saran
Dalam beternak unggas zat-zat pakan adalah yang terpenting, karena bahan makanan dan
zat-zat makanan yang diterima unggas bisa mempengaruhi kualitas telur, pertumbuhan, dan
kualitas daging untuk ayam broiler.

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. Edisi kesatu. PT Gramedia,


Jakarta.
Leeson, S. and J.D. Summers. 2001. Commercial Poultry Nutrition. University Books Guelph.
Tillman, D.A., Hari Hartadi, Soedomo R, Soeharto P, dan Soekarno L. 1986. Ilmu
makanan ternak dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Wahju, J. 1997. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

http://etikafarista.blogspot.co.id/2012/12/zat-zat-makanan-yang-penting-bagi-unggas.html

Pakan ternak adalah makanan atau asupan yang diberikan kepada hewan ternak atau hewan
peliharaan. Pakan ternak merupakan faktor yang sangat penting dalam kegiatan budidaya di sektor
peternakan. Oleh karena itu, pemilihan pakan ternak yang tepat sangat menentukan keberhasilan
dalam usaha ternak tersebut.

Pakan Ternak Sapi


Demikian halnya dengan usaha ternak sapi, kualitas pakan yang diberikan sangat mempengaruhi
tingkat keberhasilan usaha ternak tersebut. Kalaupun bibit sapi yang digunakan berasal dari bibit
unggul dan memiliki sifat genetis yang baik, tetapi jika tidak diimbangi dengan pemberian pakan
yang tepat dan berkualitas, maka kelebihan yang dimiliki tidak akan memberikan nilai tambah yang
signifikan. Pemberian pakan yang tepat dan berkualitas dapat meningkatkan potensi keunggulan
genetis pada sapi yang dipelihara sehingga dapat meningkatkan hasil produksi agar sesuai dengan
target yang telah ditetapkan.

Pemberian pakan yang tepat dan berkualitas harus dilakukan secara konsisten. Jika pemberiannya
tidak dilakukan secara konsisten, maka akan mengakibatkan pertumbuhan sapi tersebut terganggu.
Hal ini sering terjadi terutama di negara-negara tropis, seperti Indonesia, dimana pada
umumnya pakan ternak yang diberikan pada saat musim kemarau memiliki kualitas yang lebih
rendah dibanding dengan pakan ternak yang diberikan saat musim hujan. Dengan demikian,
pertumbuhan sapi peliharaan akan mengalami kurva naik turun, pada saat musim kemarau
pertumbuhan ternak akan mengalami penurunan, sementara pada musim hujan pertumbuhan ternak
akan meningkat dengan cepat, karean pakan yang diberikan memenuhi persyaratan yang
dibutuhkan.

Pada musim kemarau, biasanya terjadi penurunan energi, minaral, dan protein yang terkandung
dalam pakan hijauan akibat tanaman hijauan mengalami kekurangan air, bahkan pada musim
tersebut sering kali terjadi kekurangan volume pemberian pakan akibat kelangkaan bahan pakan
berupa hijauan. Dengan demikian, pakan yang diberikan pada saat musim kemarau sering kali tidak
memenuhi syarat dan berkualitas rendah. Kondisi seperti ini mengakibatkan pertumbuhan ternak
menjadi terhambat, pada sapi dewasa akan mengalami penurunan berat badan dan prosentase
karkas yang rendah. Selain itu, perkembangbiakan ternak juga akan mengalami penurunan karena
terjadi penurunan fertilitas.

Oleh karena itu, peternak atau pembudidaya sapi harus memberikan pakan yang memenuhi syarat
bagi pertumbuhan sapi. Pakan yang memenuhi syarat dan berkualitas adalah pakan yang
mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin-vitamin, mineral, dan air. Pakan tersebut bisa
disediakan dalam bentuk hijauan dan konsentrat.
Kebutuhan Zat Makanan Dalam Pakan Ternak
a. Protein
Pakan yang baik harus mengandung protein yang cukup. Protein memiliki peran yang sangat
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan ternak. Berikut ini dijelaskan secara singkat
mengenai peran dan fungsi protein pada ternak sapi.

 Protein berfungsi untuk emperbaiki dan menggantikan sel tubuh yang rusak, terutama pada
sapi yang sudah lanjut usia.
 Protein berperan dalam membantu pertumbuhan atau pembentukan sel-sel tubuh, terutama
pada pedet dan sapi muda.
 Protein berperan dalam mendukung keperluan berproduksi, terutama pada sapi-sapi dewasa
yang masih produktif.
 Protein akan diubah menjadi energi, terutama pada sapi-sapi yang dimanfaatkan untuk kerja.

Sapi muda yang masih berada pada fase pertumbuhan membutuhkan asupan protein yang lebih
tinggi daripada sapi-sapi yang sudah dewasa. Protein merupakan zat yang tidak bisa dibentuk atau
diproduksi dalam tubuh, sehingga untuk mencukupi kebutuhan protein, binatang ternah harus
mendapatkan suplai protein dari makanan. Oleh karena itu, makanan yang diberikan harus memiliki
kandungan protein yang cukup bagi petumbuhan dan perkembangan sapi.

Untuk memenuhi kebutuhan protein, peternak atau pembudidaya sapi harus menyertakan protein
tersebut dalam pakan. Beberapa sumber protein yang bisa dimanfaatkan untuk menopang
pertumbuhan dan perkembangan ternak diantaranya adalah:

 Pakan hijauan terutama yang berasal dari famili leguminosae atau kacang-kacangan, seperti
centrosema pubescens, daun turi, lamtoro, daun kacang tanah, daun kacang panjang, daun
kedelai, dan lain-lain.
 Makanan tambahan, terutama yang berfungsi sebagai makanan penguat, seperti bungkil
kelapa, bungkil kacang tanah, katul, tepung darah, tepung ikan, tepung daging dan lain-lain.

Pemenuhan kebutuhan protein yang diperoleh dari protein hewani memiliki kualitas yang lebih
unggul dibanding dengan pemberian protein nabati. Protein hewani mengandung asam amini
esensial serta nilai gizi yang lebih kompleks. Bahan makanan yang memiliki kandungan protein
dengan mutu tinggi adalah bahan makanan yang memiliki kandungan protein mendekati susunan
protein tubuh, misalnya protein hewani. Kelebihan lain dari protein hewani ialah protein tersebut
lebih mudah untuk diproses menjadi jaringan tubuh dangan resiko kerugian yang lebih kecil
dibandingkan dengan protein nabati.

Kebutuhan protein pada hewan ternak ruminansia, seperti sapi, tidak begitu memerlukan kualitas
protein yang bermutu tinggi karena di dalam rumen dan usus banyak terjadi aktifitas penguraian
oleh mikroorganisme yang terkandung di dalamnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah untuk
membangun kembali protein yang telah terurai, maka dibutuhkan protein dengan kandungan asam
amino yang lengkap. Oleh karena itu, jika sapi peliharaan terpaksa hanya diberi pakan jerami, maka
untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makan yang tidak terkandung pada jerami tersebut harus
diberikan melalui pakan tambahan yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat tinggi. Selain
itu, pakan yang berupa jerami mengandung banyak serat kasar yang tidak mudah dicerna dan sedikit
mengandung protein, lemak, dan karbohidrat.

b. Lemak
Lemak memiliki peranan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan sapi, sebab lemak dapat
menjadi cadangan sumber energi bagi ternak peliharaan. Berikut ini akan diuraikan secara singkat
beberapa fungsi lemak bagi pertumbuhan dan perkembangan sapi:

 Lemak berfungsi sebagai sumber energi atau tenaga.


 Lemak berfungsi sebagai pembawa vitamin A, D, E, dan K. Vitamin-vitamin tersebut
merupakan jenis vitamin yang larut dalam lemak.

Lemak yang berasal dari bahan makanan dapat disimpan dalam jaringan sel-sel tubuh dalam bentuk
lemak cadangan. Namun, jika dibutuhkan, lemak juga dapat diubah menjadi pati dan gula yang
digunakan sebagai sumber energi. Tubuh ternak akan membentuk lemak dari karbohidrat maupun
lemak makan yang belum digunakan. Setiap kelebihan lemak, akan disimpan sebagai lemak
cadangan terutama di bawah kulit. Berbeda dengan domba, yang meyimpan kelebihan lemak
terutama pada ekornya, sapi memiliki tempat khusus untuk menyimpan kelebihan lemak ini terutama
pada punuknya yang terletak di belakang leher. Di samping itu kelebihan lemak juga dapat disimpan
di sekitar buah pinggang, selaput penggantung usus dan di antara otot-otot.

Pada dasarnya, tubuh binatan tersusun atas tiga jaringan utama, yaitu tulang, otot, dan lemak. Lemak
merupakan jaringan tubuh yang dibentung paling akhir. Sapi yang dipelihara sebagai sapi potong
biasanya jaringan lemak tersebut akan menyelubungi serabut-serabut otot, sehingga otot dan
daging sapi tersebut akan terasa lebih lembut. Lemak pada tubuh binatang memiliki sifat yang
berbeda-beda, tergantung pada jenis binatang yang bersangkutan, mutu makanan yang dikonsumsi,
umur, aktivitas, serta kesehatan. Sapi yang dimanfaatkan sebagai pekerja memiliki daging yang lebih
liat dibanding dengan sapi potong, apalagi jika mutu makan yang dikonsumsinya hanya
mengandung sedikit lemak. Dalam pemberian ransum pakan ternak bahan yang banyak
mengandung sumber lemak, antara lain bungkil kacang tanah, bungkil kelapa dan bungkil kacang
kedelai.

c. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu zat dalam makanan yang merupakan sumber utama energi bagi
ternak, Beberapa fungsi karbohidrat antara lain:

 Karbohidrat sebagai sumber utama tenaga atau energi.


 Karbohidrat berfungsi sebagai komponen pembentukan lemak di dalam tubuh.

Setelah dicerna, karbohidrat yang terkandung dalam bahan makanan diserap oleh darah dalam
bentuk glukosa dan langsung dioksidasi untuk menghasilkan energi atau disimpan sebagai
cadangan lemak dalam tubuh. Komponen yang termasuk dalam karbohidrat antara lain serat kasar,
BETN yaitu bahan makanan yang banyak mengandung gula dan pati. Jagung merupakan salah satu
bahan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi. Kebutuhan karbohidrat juga bisa dipenuhi
dari hijauan, sehingga dalam pemenuhan kebutuhan akan karbohidrat, ternak peliharaan bisa
mendapatkannya dengan mudah.

d. Mineral
Beberapa fungsi mineral pada sapi antara lain:

 Mineral berperan dalam pembentukan jaringan tulang dan urat.


 Mineral berperan dalam membantu keperluan berproduksi.
 Mineral berperan dalam membantu proses pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan.
 Mineral yang diberikan melalui pakan berperan untuk menggantikan mineral dalam tubuh
yang hilang, dan memelihara kesehatan.

Sekalipun tidak dibutuhkan dalam jumlah yang besar, tetapi mineral memiliki peran yang sangat
penting terutama bagi kelangsungan hidup ternak. Mineral terdapat pada tulang dan jaringan tubuh.
Hewan ternak muda yang masih dalam fase pertumbuhan sangat membutuhkan mineral. Demikian
juga untuk pertumbuhan janin, keberadaan mineral merupakan suatu keharusan.

Unsur mineral pada umumnya banyak terdapat pada pakan ternak yang diberikan. Unsur mineral
yang sering dibutuhkan oleh ternak antara lain natrium, khlor, kalsium, phosphor, sulfur, magnesium,
kalium, seng, selenium, dan tembaga. Diantara unsur-unsur tersebut, kadang-kadang binatang
ternak membutuhkan unsur mineral tertentu dalam jumlah lebih banyak dibanding unsur mineral
lain. Unsur mineral yang sering dibutuhkan dalam jumlah lebih banyak diantaranya adalah natrium
klorida, kalsium, dan phosphor.

Pakan yang berasal dari tanaman padi-padian biasanya banyak mengandung unsur phosphor,
sementara unsur kalsium biasanya banyak terdapat pada pakan yang berbentuk kasar. Sapi yang
mengalami kekurangan unsur mineral ini biasanya menunjukkan perilaku sering makan tanah.
Kekurangan unsur mineral berpotensi mengakibatkan penurunan fertilitas serta penyakit tulang.
Sumber mineral bisa diperoleh dari pakan hijauan maupun pemberian feed supplement-mineral.

e. Vitamin
Kesehatan dan kelangsungan hidup ternak bahkan pada kebanyakan mahluk hidup tidak lepas dari
keberadaan vitamin di dalam tubuh. Beberapa fungsi vitamin pada ternak antara lain:

 Vitamin berperan dalam mempertahankan dan meningkatkan kekuatan tubuh.


 Vitamin berperan dalam meningkatkan kesehatan ternak terutama dalam berproduksi.

Bahan-bahan pakan yang berasal dari hijauan biasanya mengandung banyak vitamin, sehingga
pemenuhan kebutuhan vitamin pada ternak peliharaan tidak terlalu mengalami kesulitan. Disamping
itu, kebanyakan vitamin dapat dibentuk dalam usus binatang pemamah biak, terutama vitamin B
kompleks. Kandungan vitamin yang terdapat pada pakan dari hijauan dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti: tanah, iklim, waktu pemotongan dan penyimpanan. Vitamin A dan E banyak terdapat
pada tanaman hijauan dan padi-padian. Hal yang perlu diperhatikan oleh peternak atau
pembudidaya sapi tidak boleh menyepelekan pemenuhan pemenuhan kebutuhan vitamin pada sapi
yang dibudidayakannya, terutama pada musim kemarau, dimana bahan-bahan pakan hijauan
biasanya mengalami kekurangan kadar vitamin A. Oleh karena itu, pada musim kemarau perlu
ditambahkan vitamin A dalam ransum pakan ternak.

Kelebihan vitamin A dapat disimpan di dalam hati. Sapi memiliki kemampuan untuk menyimpan
vitamin A selama enam bulan, sementara itu kambing hanya memiliki kemampuan untuk menyimpan
vitamin A selama tiga bulan. Sumber vitamin A bisa diperoleh dari bahan pakan yang berupa hijauan,
terutama terdapat pada bagian pucuk tanaman. Bagian pucuk tanaman biasanya mengandung
karotin yang tinggi, dimana karotin tersebut akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh hewan.

Proses pembentukan vitamin dalam tubuh binatang:

 Vitamin A dapat dibentuk dari karotin yang banyak terdapat pada ransum pakan hijauan.
 Vitamin B dapat dibentuk sepenuhnya di dalam tubuh hewan.
 Vitamin C dibentuk sendiri oleh semua jenis hewan yang telah dewasa
 Vitamin D akan dibentuk dalam tubuh dengan bantuan sinar matahari.

f. Air
Air merupakan komponen yang sangat penting dalam kehidupan mahluk hidup. Tanpa air,
kemungkinan tidak akan berlangsung kehidupan. Beberapa fungsi air, khususnya pada binatang
ternak antara lain:

 Air berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh.


 Air berperan besar dalam membantu proses pencernaan.
 Air berfungsi untuk mengeluarkan bahan-bahan yang tidak berguna di dalam tubuh, baik
dalam bentuk keringan, urine, maupun feses (80% air).
 Air berfungsi sebagai pelumas persendian dan membantu mata untuk dapat melihat.

Pada umumnya komposisi tubuh hewan ternak lebih dari 50% terdiri dari air. Sebagian besar jaringan
tubuh hewan ternak mengandung air sebanyak 70-90%. Mahluk hidup yang mengalami kekurangan
air akan lebih cepat mati dari pada kekurangan pakan. Hal tersebut membuktikan bahwa peran air
sangat vital dalam kehidupan. Oleh karena itu, peternak atau pembudidaya sapi harus betul-betul
memperhatikan kebutuhan air pada ternak peliharaannya.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan air pada hewan ternak, antara lain jenis ternak,
umur, ternak, suhu lingkungan, jenis pakan yang diberikan, volume pakan yang diberikan, dan
aktivitas yang dilakukan. Bagi sapi yang dimanfaatkan sebagai pekerja, maka kebutuhan airnya akan
lebih tinggi daripada sapi yang dipelihara sebagai sapi potong.
Pada umumnya hewan ternak dapat mencukupi kebutuhan air yang diperoleh dari air minum, air
dalam bahan makanan dan air metabolik yang berasal dari glugosa, lemak dan protein. Bagi sapi
pekerja dewasa, kebutuhan air minum yang harus disediakan kurang lebih 35 liter per hari,
sedangkan bagi sapi dewasa yang tidak digunakan sebagai pekerja cukup 25 liter per hari.

http://uternak.blogspot.co.id/2013/06/nutrisi-dan-pakan-ternak-sapi_25.html

MINERAL MAKRO PADA TERNAK


1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lambatnya pertumbuhan termak dapat disebabkan faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan salah satunya adalah pakan, pakan yang tidak mencukupi kebutuhan mineral tubuh
ternak dapat mengakibatkan defisiensi mineral. Defisiensi mineral, berhubungan dengan kadar
mineral dalam tanah tempat hijauan atau sumber pakan tersebut tumbuh. Mineral yang
dibutuhkan ternak jumlahnya sedikit, namun sangat penting dan diperlukan untuk pertumbuhan
dan perkembangan (Darmono dan S. Bahri, 1989). Kekurangan mineral mengakibatkan ternak
mengalami penurunan nafsu makan, efisiensi makanan tidak tercapai, terjadi gangguan
pertumbuhan, dan gangguan kesuburan ternak bibit. Apabila defisiensi tersebut hebat, gejala
klinis dapat terlihat, tetapi bila terjadinya ringan kemungkinan gejala klinis tidak akan terlihat
atau sulit terdiagnosa (Almatsier, 2004).

Mineral makro adalah kelompok mineral yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif
besar dibandingkan kelompok mineral yang lain, kekurangan unsur mineral ini akan
menyebabkan terganggunya proses fisiologis yang terjadi dalam tubuh. Mineral sangat penting
untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir

semua mineral ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat penting
dalam proses metabolisme ternak.
Mineral merupakan kebutuhan tubuh manusia maupun hewan yang mempunyai peranan penting
dalam pemeliharaan fungsi tubuh, seperti untuk pengaturan kerja enzim-enzim, pemeliharaan
keseimbangan asam-basa, membantu pembentukan ikatan yang memerlukan mineral seperti
pembentukan haemoglobin. Mineral digolongkan atas mineral makro dan mineral mikro. Mineral
makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari, sedangkan
mineral mikro dibutuhkan tubuh kurang dari 100 mg sehari. Yang termasuk mineral makro
antara lain: natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium, dan sulfur (Almatsier, 2004).

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui:
1. macam-macam mineral makro yang penting bagi ternak dan kebutuhannya;
2. bahan pakan yang mengandung mineral makro;
3. akibat defisiensi mineral makro.

II. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kebutuhan Mineral Makro pada Ternak


Kebutuhan mineral makro pada ternak dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Kebutuhan Mineral Makro pada Ternak.


Mineral Makro Bobot Tubuh (g/kg)
Kalsium (Ca) 15
Fosfor (P) 10
Magnesium (Mg) 0,4
Sulfur (S) 1,5
Natrium (Na) 1,6
Kalium (K) 2
Klor (Cl) 1,1

Sumber: McDonald et al. (2002).

Tabel 2. Kebutuhan Mineral Sapi Pedaging

Mineral Growing Finishing Dara Awal laktasi


Ca (%) 0,13 0,27 0,16
P (%) 0,05 0,19 0,09
Mg (%) 0,10 0,12 0,20
S (%) 0,15 0,15 0,15
Na (%) 0,06 -0,08 0,06-0,08 0,10
Fe (mg/kg) 50 50 50
Mn (mg/kg) 20 40 40
Zn (mg/kg) 30 30 30

Sumber: NRC (2002).

Tabel 3. Kebutuhan Mineral untuk Sapi Perah Laktasi


Laktasi
Awal
Mineral Jantan Dara Kering Produksi Produksi
laktasi
7—13 liter 13—20 liter
Ca (%) 0,30 0,41 0,77 0,39 0,43 0,51
P (%) 0,19 0,30 0,48 0,24 0,28 0,33
Mg (%) 0,16 0,16 0,25 0,16 0,20 0,20
S (%) 0,16 0,16 0,25 0,16 0,20 0,20

Sumber: NRC (2002).

B. Bahan Pakan Sumber Mineral Makro dan Akibat Defisiensi Mineral Makro
Unsur mineral makro antara lain adalah natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium,
dan sulfur (Almatsier, 2004). Berikut adalah tabel mengenai mineral makro pada ternak.
Tabel 4. Fungsi Dan Gejala Defisiensi Mineral Makro Pada Ternak.
Mineral Fungsi Gejala Defisiensi Klinis Sumber Utama
Kalsium Pembentukan tulang dan Rakhitis, pertumbuhan Susu, leguminosa,
(Ca) gigi, pembekuan darah, lamat, pembentukan tulang tepung ikan,MBM,
pengaktifan enzim, dan lambat, osteomalasi. kalsium, kulit
kontraksi otot. kerang.
Fosfor (P) Pembentukan tulang dan Bulu kasar, nafsu makan Susu, bungkil,
gigi, bagian dari enzim, berkurang, pertumbuhan tepung tulang,
pelepasan energi tubuh, lambat. dikalsium fosfat,
bagian dari DNA dan defluorinated
RNA. phosphate.
Magnesium Aktivator enzim, bagian Anoreksia, hiper irritabilitas, Hijauan dan
(Mg) dari jaringan kerangka. tetani, saliva berlebihan, leguminosa.
opistholonus.
Natrium Kontraksi otot, Kehilangan bobot badan, Garam dapur.
(Na) pemeliharaan tekanan anoreksia, makan tanah.
osmtik cairan tubuh,
pencernaan lemak.
Kalium (K) Memelihara keseimbangan Kerusakan jantun, bobot Ransum normal.
elektrolit, aktivator enzim, badan menurun, bulu kasar.
fungsi otot.
Khloor (Cl) Hubungan asam-basa, Nafsu makan berkurang, Garam dapur.
memelihara tekanan kadar Cl darah menurun.
osmotok cairan tubuh,
pencernaan.
Sulfur Sinesis asam amino pada pertumbhan lambat, efisiensi Hijauan dan
ruminansia. ransum rendah, leguminosa.
pertumbuhan bulu lambat.

1. Kalsium (Ca)
Fungsi: Kalsium (Ca) merupakan elemen mineral yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh
ternak. Kalsium memiliki peranan penting sebagai penyusun tulang dan gigi. Sekitar 99 % dari
total tubuh terdiri dari Ca. Fungsi Kalsium adalah sebagai berikut:
a. pembentukan tulang dan gigi;
b. kalsium dalam tulang berguna sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat
menyimpan kalsium;
c. mengatur pembekuan darah;
d. meningkatkan fungsi transport membran sel, stabilisator membrane, dan transmisi ion melalui
membrane organel sel;
e. katalisator reaksi biologi, seperti absorpsi vitamin b12, tindakan enzim pemecah lemak, lipase
pancreas, eksresi insulin oleh pancreas, pembentukan dan pemecahan asetilkolin;
f. relaksasi dan kontraksi otot, dengan interaksi protein yaitu aktin dan myosin;
g. berperan dalam fungsi saraf, tekanan darah dan fungsi kekebalan.

Kalsium berperan sebagai penyusun sel dan jaringan (McDonald et al., 2002). Menurut Piliang
(2002), fungsi Ca yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai penyalur rangsangan syaraf dari
satu sel ke sel lain. Kalsium pada ternak berfungsi sebagai pembentuk tulang dan gigi, transmisi
saraf, pengaturan jantung, pembekuan darah, aktivitas dan stabilisasi enzim dan sebagai
komponen mineral dalam susu pada sapi laktasi (NRC, 2002; Horst et al., 1994).

Defisiensi: Jika ransum ternak pada masa pertumbuhan defisien Ca maka pembentukan tulang
menjadi kurang sempurna dan akan mengakibatkan gejala penyakit tulang. Gejala penyakit
tulang diantaranya adalah wajah keriput, pembesaran tulang sendi, tulang tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Sedangkan pada ransum ternak dewasa yang mengalami defisien Ca akan
menyebabkan osteomalacia (Piliang, 2002). Ca air susu cukup stabil walaupun defisiensi Ca,
namun produksi susu akan turun. Ransum yang memiliki kadar Ca yang rendah akan
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin (Foley et al.,1972).
Sumber Utama: Susu, leguminosa, tepung tulang, kulit kerang, MBM, kapur, dll. Beberapa
faktor makanan dapat membantu meningkatkan absorpsi Ca, sedangkan beberapa faktor lain
dapat menurunkan absorpsi Ca oleh usus halus. Asam fitat dan asam oksalat dapat menurukan
absorpsi mineral Ca dengan jalan mengikat Ca dan membentuk garam Ca yang tidak larut dalam
lumen usus halus (Piliang, 2002).

2. Magnesium (Mg)
Fungsi: Magnesium merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan oleh ternak yang berfungsi
dalam perkembangan tulang dan aktivitas sistem enzim (McDonald, 1988), kadarnya dalam
tulang sekitar 62% dan 1% dalam sel. Kadar Mg plasma dalam keadaan normal adalah 1,70—
2,5 mg/dl (Georgievskii, 1982) atau 2—4 mg/dl (McDowell, 1992). Tubuh hewan dewasa
mengandung 0,05% Mg. Menurut McDonald et al. (2002), Mg berperan dalam membantu
aktivitas enzim seperti thiamin phyrofosfat sebagai kofaktor. Ketersediaan Mg dalam ransum
harus selalu tersedia. Fungsi Magnesium:
a. magnesium berperan penting dalam sistem enzim dalam tubuh;
b. berperan sebagai katalisator dalam reaksi biologi, termasuk metabolisme energi, karbohidrat,
lipid, protein dan asam nukleat, serta dalam sintesis, degradasi, dan stabilitas bahan gen DNA di
dalam semua sel jaringan lunak.;
c. di dalam sel ekstraselular, magnesium berperan dalam transmisi saraf, kontraksi otot dan
pembekuan darah. dalam hal ini magnesium berlawanan dengan kalsium;
d. magnesium mencegah kerusakan gigi dengan cara menahan kalsium dalam email gigi.

Defisiensi: Perubahan konsentrasi Mg dari keadaan normal selama 2-18 hari dapat
menyebabkan hipomagnesemia (Toharmat dan Sutardi, 1985). Sekitar 30-50% Mg dari rata-rata
konsumsi harian ternak akan diserap di usus halus. Penyerapan ini dipengaruhi oleh protein,
laktosa, vitamin D, hormon pertumbuhan dan antibiotik (Ensminger et al.,1990). Magnesium
sangat penting peranannya dalam metabolisme karbohidrat dan lemak. Defisiensi Mg dapat
meningkatkan iritabilitas urat daging dan apabila iritabilitas tersebut parah akan menyebabkan
tetany (Linder, 1992). Defisiensi Mg pada sapi laktasi dapat menyebabkan hypomagnesemic
tetany atau grass tetany. Keadaan ini disebabkan tidak cukupnya Mg dalam
cairan ekstracellular, yaitu plasma dan cairan interstitial (National Research Council, 1989).
Sumber Utama: Semua bahan makanan, terutama tumbuh-tumbuhan (hijauan dan leguminosa).
3. Fosfor (P)
Fungsi: Fosfor memegang peranan penting dalam proses mineralisasi tulang (Piliang, 2002).
Fosfor (P) adalah mineral yang jumlahnya terbesar kedua setelah Ca yaitu29% dari total mineral
tubuh (McDowell, 1992), atau sekitar 80%-85% total P tubuh; P seperti juga Ca berfungsi dalam
pembentukan tulang dan gigi, dan berperan dalam fosforilasi dan oksidasi beberapa enzim
penting. Fosfor juga merupakan pembentuk protein fosfor, asam nukleat dan lipida-lipida fosfor,
dan mempunyai peranan dalam metabolisme Ca (Williamson dan Payne, 1993). Pada
ruminansia P dibutuhkan untuk perkembangan mikroba rumen (Vrzgula, 1990). Fosfor pada
ruminansia juga sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan sel mikroba rumen dan mencerna serat
maksimal oleh bakteri selulolitik serta menstimulir produksi VFA (Chruch 1988; Rukebusch dan
Stivend, 1980). Fosfor dibutuhkan oleh semua sel mikroba terutama untuk menjaga integritas
dari membran sel dan dinding sel, komponen dari asam nukleat dan bagian dari molekul
berenergi tinggi seperti ATP dan ADP (Bravo et al., 2003; Rodehutscord et al., 2000).
McDonald et al. (2002) menyatakan P mempunyai fungsi sangat penting bagi tubuh ternak
diantara elemen mineral lainnya. Fosfor umumnya ditemukan dalam bentuk phospholipid, asam
nukleat dan phosphoprotein. Kandungan P dalam tubuh ternak lebih rendah daripada kandungan
Ca.
Defisiensi: Gejala defisiensi P yang parah dapat menyebabkan persendian kaku dan otot
menjadi lembek. Ransum yang rendah kandungan P-nya dapat menurunkan kesuburan
(produktivitas), indung telur tidak berfungsi normal, depresi dan estrus tidak teratur. Pada ternak
ruminansia mineral P yang dikonsumsi, sekitar 70% akan diserap, kemudian menuju plasma
darah dan 30% akan keluar melalui feses.
Sumber Utama: Susu, tepung tulang, leguminosa, dikalsium fosfat, defluorinated phosphate.
4. Sulfur (S)
Fungsi: Sulfur (S) merupakan komponen penting protein pada semua jaringan tubuh. Pada
ruminansia 0,15% komponen jaringan tubuh terdiri atas unsur S, sedangkan pada air susu sebesar
0,03%. Sulfur adalah komponen penting dari beberapa asam amino (metionin dan sistein),
vitamin (thiamin dan biotin), hormon insulin dan eksoskleton krustacea. Sulfur dalam bentuk
asam sulfat merupakan komponen penting dari chondrotin, fibrinogen,dan taurin. Beberapa
enzim seperti koenzim A dari glutathione, keaktifan mereka tergantung kepada gugus sulphidril
bebas. Sulfur juga terlibat dalam detoksifikasi senyawa-senyawa aromatik di dalam hewan.
Sulfur atau belerang adalah salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi
dalam rumen. Sulfur berperan dalam pembentukan protein mikroba. Rasio N : S dalam protein
mikroba berkisar antara (11:1) sampai (22:1), dengan perbandingan rata 14:1. Sulfur diabsorpsi
di dalam rumen dalam bentuk sulfida (Arora,1989). Belerang berada dalam bentuk sulfat yang
terdapat pada tulang rawan dan terikat dalam ikatan ester ke asam amino serin dalam hormon
peptide kolesistokinin. Peran S sangat penting dalam tubuh yaitu untuk pembentukan protein
mikroba dan defisien S mengindikasikan defisien protein mikroba dalam tubuh (McDonald,
2002). Selain berperan dalam pembentukan protein mikroba, S juga berperan dalam menstimulir
produksi VFA (Ruckebusch dan Stivend,1980). Sebagian besar senyawa sulfur dapat disintesis
secara in vivo dari asam amino esensial.
Defisiensi: Hewan-hewan yang diberi ransum defisien dalam mineral sulfur akan menunjukkan
penyakit anorexia,penurunan bobot badan, penurunan produksi susu, kekurusan, kusut, lemah
dan akhirnya mati. Tanda-tanda tersebut berhubungan erat dengan menurunnya fungsi rumen dan
fungsi sistem peredaran darah (McDowell, 1992).
Sumber Utama: Kandungan mineral S pada tanaman hijauan dapat berkisar dari 0,04% sampai
melebihi 0,3%. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi akan mengandung kadar
mineral S yang tinggi pula (Piliang, 2002).
5. Natrium (Na)
Fungsi: Natrium merupakan kation utama dalam cairan ekstraseluler, 35-40 % terdapat dalam
kerangka tubuh. Cairan saluran cerna, sama seperti cairan empedu dan pancreas mengandung
banyak natrium. Fungsi Natrium yaitu:
a. menjaga keseimbangan cairan dalam kompartemen ekstraseluer;
b. mengatur tekanan osmosis yang menjaga cairan tidak keluar dari darah dan masuk ke dalam sel;
c. menjaga keseimbangan asam basa dalam tubuh dengan mengimbangi zat-zat yang membentuk
asam;
d. berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot;
e. berperan dalam absorbsi glukosa dan sebagai alat angkut zat gizi lain melalui membrane,
terutama melalui dinding usus sebagai pompa natrium;

Defisiensi: Devisiensi Natrium menyebabkan ternak kehilangan bobot badan, anoreksia, makan
tanah

Sumber Utama: Sumber utama Natrium adalah garam dapur (NaCl). Sumber lainnya
seperti hijauan, dan tepung ikan.

6. Klorida (Cl)
Klor merupakan anion utama cairan ekstraselular. Konsentrasi klor tertinggi adalah dalam
cairan serebrospinal (otak dan sumsum tulang belakang), lambung dan pancreas. Fungsi Klorida:
a. berperan dalam memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit dalam cairan ekstraseluler;
b. memelihara suasana asam dalam lambung sebagai bagian dari hcl, yang diperlukan untuk
bekerjanya enzim-enzim pencernaan;
c. membantu pemeliharaan keseimbangan asam dan basa bersama unsur-unsur pembentuk asam
lainnya;
d. ion klor dapat dengan mudah keluar dari sel darah merah dan masuk ke dalam plasma darah guna
membantu mengangkut karbondioksida ke paru-paru dan keluar dari tubuh;
e. mengatur system rennin-angiotensin-aldosteron yang mengatur keseimbangan cairan tubuh.

Defsiensi: Defisiensi Klor dapat menyebabkan menurunkan nafsu makan, dan kadar Cl dalam
darah menurun.

Sumber Utama: Klor terdapat bersamaan dengan natrium dalam garam dapur dan beberapa
jenis hijauan.

7. Kalium (K)
Fungsi: Kalium merupakan ion yang bermuatan positif dan terdapat di dalam sel dan cairan
intraseluler. Fungsi Kalium:
a. berperan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit serta keseimbangan asam dan
basa bersama natrium;
b. bersama kalsium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan kontraksi otot;
c. di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologi, terutama
metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein;
d. berperan dalam pertumbuhan sel.

Kalium diabsorpsi dengan mudah dalam usus halus. Kalium dieksresi melalui urin,feses, keringat
dan cairan lambung. Kalium dikeluarkan dalam bentuk ion dengan menggantikan ion natrium
melalui mekanisme pertukaran di dalam tubula ginjal.

Defisiensi: Defisiensi kalium dapat menyebabkan kerusakan jantung, nafsu makan turun, dan
pertumbuhan bulu kasar.

Sumber Utama: Kalium berasal dari Hijauan dan pakan asal hewan. Sumber utama
adalah hijauan segar atau, terutama kacang-kacangan/leguminosa.

III. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah lebih dari 100 mg sehari.
Unsur mineral makro antara lain adalah natrium, klorida, kalium, kalsium, fosfor, magnesium,
dan sulfur;
2. Mineral makro banyak terdapat pada bahan pakan, seperti tepung tulang, MBM, garam
dapur, feed aditif buatan, hijauan serta leguminosa;
3. Defisiensi mineral makro dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang akan berdampak
pada produksi ternak. Masalah kesehatan yang umumnya terjadi disebabkan defisiensi mineral
makro adalah, anoreksia, penurunan kadar Cl darah, bulu kasar, pertumbuhan lambat dan
penurunan bobot badan.

Daftar Pustaka

Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Edisi Indonesia. Penerbit Gajah Mada
Universitas Press. Yogyakarta.
Bravo, D., D. Sanvant, C. Bogaert and F. Meschy. 2003. Quantitative aspect of phosphorous absorption
in ruminant. Reproductive Nutrition Development 43 : 271-284. INRA. EDP. Sciences.
Church, D. C. 1988. Livestock Feed and Feeding. Third Edition. Prentice Hall. International Edition.
Rhoma, Italy.
Foley, T. P., Owings, J., Hayford, J. T., and Blizzard, R. M. (1972). Serum thyrotropin responses to
synthetic thyrotropin-releasing hormone in normal children and hypopituitary patients. J'ournal
of Clinical Investigation, 51, 431.
Georgievskii. 1982. Mineral Nutrition of Animal. English Transition Butterworth and Co. English.
Linder, C. M., 1992 Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Terjemahan : A. Parakkasi. UI Press. Jakarta.
McDonald, P. ; Edwards, R.A. ; Greenhalgh, J. F. D., 2002. Animal Nutrition. 6th Edition. Longman,
London and New York. 543 pp
McDowell, L. R. 1992. Minerals in Animal and Human Nutrition. Academic Press, Inc. Publisher, San
Fransisco.
NRC. 1989. National Research Council Nutrient Requirement of Dairy Cattle. 7th Edition. Natl. Acad.
Sci., Washington, D. C.

Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Vitamin. Volume I. Edisi ke-5. Institut Pertanian Bogor. Press,
Bogor. Piliang, W. G. & S. Djojosoebagio. 2000. Fisiologi Nutrisi.
Ruckebusch, Y and P. Thivend, 1980. Digestive Physiologi and Metabolism in in Ruminant. Avi
Publishing Co. Westport, Connecticut.
Toharmat, T & T. Sutardi. 1985. Kebutuhan mineral makro untuk produksi Susu pada sapi perah laktasi
Dihubungkan dengan kondisi faalnya. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Vrzgula, L., Sokol, J. 1990: Interpretacia enzymatickeho profilu. In: Vrzgula L. a kol.: Poruchy
latkoveho metabolizmu hospodarskych zvierat a ich prevencia. 2th ed., Priroda Bratislava, pp.
479-481

Williamson dan Payne G. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Diterjemahkan oleh Djiwa
Darmaja. Yogyakarta : UGM Press.
Posted 29th January 2015 by Nia Yuliyanti
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ternak ruminansia sangat berbeda dengan ternak mamalia lain karena ruminansia
mempunyai lambung besar yaitu abomasum, lambung muka yang membesar dan memiliki tiga
ruangan yaitu rumen, reticulum dan omasum. Lambung ruminansia berkembang karena sebagai
tempat fermentasi serat kasar yang dimakannya. Ternak ruminansia sebagaimana ternak lainnya
memerlukan gizi sesuai dengan stadia fisiologisnya. Kebutuhan gizi saat bunting tentu berbeda
dengan kebutuhan untuk laktasi maupun pejantan atau anakan, karena enersi yang dibutuhkan
untuk kelangsungan proses tersebut juga berbeda.
Nutisi (zat gizi) merupkan ikatan kimia yang yang diperlukan tubuh untuk melakukan
fungsinya yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses
kehidupan. Nutrisi (zat gizi) yang terkandung dalam pakan akan masuk kedalam tubuh hewan
yang dapat digunakan untuk menunjang fungsinya organ dalam rangkaian proses pertumbuhan/
perkembangan, reproduksi dan aktivitas biologi lainnya. Nutrisi tersebut yaitu energi, viamin-
vitamin, mineral dan air. Nutrisi tersebut dipeoleh dari ransum yang dberikan kepada ternak.
Kebutuhan ternak akan pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah nutrisi
setiap harinya sangat tergantung pada jenis ternak, umur, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan
menyusui), kondisi tubuh, dan lingkungan tempat hidupya, serta bobot badannya
Mineral merupakan unsur peting dalam tanah, bebatuan, air, dan udara. Sedangkan pada
tubuh makhluk hidup sendiri mineral merupakan suatu komponen penyusun tubuh, 4-5% berat
badan kita sendiri atas mineral, sekitar 50% mineral tubuh terdiri atas kalsium, 25% fosfor,dan
25% lainnya terdiri atas mineral lain.
Berdasarkan jumlah yang dibutuhkan ternak, mineral digolongkan dalam dua kelompok
yaitu makro mineral antara lain : Kalsiun (Ca), Fosfor (P), Kalsium (K), Magnesium (Mg),
Natrium (Na), Clor (Cl), dan Mineral mikro antara lain : Zn (seng), molybdenum (Mo), mangan
(Mn), kobalt (Co), Krom (Cr), nikel (Ni), dan yodium (I), mineral makro dibutuhkan lebih
banyak dibandingkan dengan mineral mikro. Mineral tidak dapat dibuat didalam tubuh hewan,
sehingga harus disediakan dalam rasum baik dalam hijauan, kosentrat, maupun pakan suplemen.
Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya penyusunan makalah yang berjudul “Mineral
Makro Dalam Ransum Ruminansia”.

B. Tujuan dan Kegunaan


Tujuan penyusunaan makalah ini adalah untuk mengetahui jumlah kebutuhan mineral
makro pada ransum ruminansia.
Kegunaan penyusunaan makalah ini adalah agar dapat mengetahui jumlah kebutuhan
mineral makro pada ransum ruminansia.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Mineral
Mineral merupakan zat makanan yang berperan dalam metabolisme tubuh terutama
pada ternak dan keberadaannya dalam tubuh ternak sekitar 5 % dari bobot tubuh ternak. Mineral
secara umum diklasifikasikan menjadi dua golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan dalam
pakan yaitu mineral makro dan mikro. Murtidjo (2007) menambahkan bahwa mineral esensial
diklasifikasikan kedalam mineral makro dan mineral mikro tergantung kepada konsentrasi
mineral tersebut dalam tubuh hewan atau jumlah yang dibutuhkan dalam makanan.
Mineral bagi ternak ruminansia, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri, juga digunakan untuk mendukung dan memasok kebutuhan mikroba rumen. Apabila
terjadi defisiensi salah satu mineral maka aktifitas fermentasi mikroba tidak berlangsung
optimum sehingga akan berdampak pada menurunnya produktivitas ternak. Mineral secara
umum diklasifikasikan menjadi 2 golongan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan dalam
pakan yaitu mineral makro yaug dibutuhkan dalam jumlah lebih besar dan berada dalam tubuh
ternak pada level yang lebih tinggi yaitu lebih besar dari 100 ppm yang dinyatakan dalam persen
(%) dan mineral mikro yang dibutuhkan dalam jumlah lebih sedikit yaitu lebih kecil dari 100
ppm yang dinyatakan dalam ppm atau ppb. Mineral makro meliputi Ca, P, Mg, Na, K, S dan Cl
(Arora, 1995).
Mineral mempunyai peranan antara lain sebagai komponen struktural organ tubuh dan
jaringan, sebagai katalis dalam sistem enzim dan hormon, berperan dalarn konstituen cairan
tubuh dan jaringan atau sebagai larutan garam dalam darah dan cairan tubuh lainnya yang
berhubungan dengan tekanan osmotik dan keseimbangan asam-basa. Mineral makro berfungsi
dalam pembentukan struktur sel dan jaringan, keseimbangan cairan dan elektrolit dan berfungsi
dalam cairan tubuh baik intraseluler dan ekstraseluler (Kerley, 2000).
Kekurangan mineral makro dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan
kualitas susu yang dihasilkan. Pemberian mineral makro yang cukup dalam ransum sapi juga
dapat meningkatkan aktivitas mikroba rumen yang pada akhirnya akan meningkatkan
metabolisme dari sapi itu sendiri sehingga akan dihasilkan produksi yang meningkat (Kuchel, P.
dan Gregory B., 2006).

B. Suplementasi Mineral
Mineral sangat penting untuk kelangsungan hidup ternak. Hampir semua mineral
ditemukan dalam jaringan ternak dan mempunyai fungsi yang sangat penting dalam proses
metabolisme ternak. Suplementasi berbagai bahan pada pakan ternak menghasilkan bobot ternak
yang meningkat. Suplemen mineral dianjurkan untuk memenuhi beberapa prinsip, antara lain (1)
campuran akhir minimal mengandung 6-8% total P; (2) rasio Ca : P tidak melampaui 2 : 1; (3)
dapat menyuplai 50% elemen mikro Co, Cu, I, Mn dan Zn; (4) bentuk mineral yang digunakan
adalah yang mudah digunakan dan dihindarkan dari kontaminasi dengan mineral-mineral
beracun (misalnya sumber P yang terkontaminasi dengan F); (5) suplemen tersebut hendaknya
cukup palatable untuk menjamin tingkat konsumsi yang baik; (6) perlu diperhatikan ketepatan
menimbang, pencampuran yang homogen dan lain sebagainya; (7) besar partikel hendaknya
lebih kecil dan seragam sehingga pencampuran dapat dilakukan secara homogen; (8) perkiraan
kebutuhan yang cukup baik dan akurat dalam hal kebutuhan; (9) daya guna setiap elemen yang
digunakan, dan (10) tingkat konsumsi hewan (Poedjiadi, 1994).
Mineral mempunyai peranan penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba rumen. Zn
dapat mempercepat sintesa protein oleh mikroba melalui pengaktifan enzim-enzim mikroba.
Suplementasi Zn dapat meningkatkan ketahanan sapi perah terhadap mastitis. Mineral Co
berperan dalam sintesis vitamin B12. Mineral Cu dan Co bersama-sama dapat memperbaiki daya
cerna serat kasar. Sulfur adalah salah satu unsur penting yang mempengaruhi proses fermentasi
dalam rumen (Sudarmo, 2008).

C. Kebutuhan Mineral Makro Pada Ternak Ruminansia


Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan mineral pada ternak adalah tingkat
produksi, umur, konsumsi dan ketersediaan mineral tersebut. Kebutuhan mineral makro
berdasarkan bobot badan (BB) setiap individu ternak disajikan tabel berikut dan kebutuhan
mineral makro pada sapi perah dapat dilihat pada Tabel 2, serta kebutuhan mineral pada
sapi pedaging ditunjukkan pada Tabel 3. Berdasarkan kedua tabel tersebut dapat disimpulkan
bahwa semakin tinggi produksi ternak semakin tinggi pula kebutuhan akan mineral yang harus
dipenuhi. Kebutuhan mineral antara sapi perah dan sapi pedaging juga menunjukkan adanya
perbedaan. Kebutuhan mineral untuk sapi perah lebih tinggi daripada sapi pedaging karena sapi
perah membutuhkan mineral yang tinggi untuk produksi susu selain memenuhi kebutuhan hidup
pokok (Suryahadi, 1997).
Tabel 1. Kebutuhan Mineral Makro Pada Ternak Ruminansia

Mineral Makro g/kg Bobot tubuh


Kalsium (Ca) 15
Fosfor (P) 10
Magnesium (Mg) 0,4
Sulfur (S) 1,5
Natrium (Na) 1,6
Kalium (K) 2
Klor (Cl) 1,1
Sumber : Suryahadi (1997).
Tabel 2. Kebutuhan Mineral untuk sapi perah

Mineral Jantan Dara Awal Laktasi Masa Kering Laktasi Laktasi


Produksi Produksi
7-13 liter 13-20
liter
Ca (%) 0,30 0,41 0,77 0,39 0,43 0,51
P (%) 0,19 0,30 0,48 0,24 0,28 0,33
Mg(%) 0,16 0,16 0,25 0,16 0,20 0,20
S (%) 0,16 0,16 0,25 0,16 0,20 0,20
Na (%) 0,65 0,65 1 0,65 0,90 0,90
Sumber : Suryahadi (1997).
Tabel 3. Kebutuhan Mineral Pada Sapi Pedaging

Mineral Growing Finishing Dara Awal Laktasi


Ca(%) 0,13 0,27 0,16
P(%) 0,05 0,19 0,09
Mg (%) 0,10 0,12 0,20
S(%) 0,15 0,15 0,15
Na (%) 0,06 -0,08 0,06-0,08 0,10
Sumber : Suryahadi (1997).
1. Kalsium (Ca)
Kalsium (Ca) merupakan elemen mineral yang paling banyak dibutuhkan oleh tubuh
ternak. Ca memiliki peranan penting sebagai penyusun tulang dan gigi. Sekitar 99 % dari total
tubuh terdiri dari Ca. Selain itu Ca berperan sebagai penyusun sel dan jaringan. Fungsi Ca yang
tidak kalah pentingnya adalah sebagai penyalur rangsangan-rangsangan syaraf dari satu sel ke sel
lain. Jika ransum ternak pada masa pertumbuhan defisien Ca maka pembentukan tulang menjadi
kurang sempurna dan akan mengakibatkan gejala penyakit tulang. Gejala penyakit tulang
diantaranya adalah pembesaran tulang sendi dan tulang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Sedangkan pada ransum ternak dewasa yang mengalami defisien Ca akan menyebabkan
osteomalacia. Ca air susu cukup stabil walaupun defisiensi Ca, namun produksi susu akan turun
(Sutama, 2009).
Ransum yang memiliki kadar K yang rendah akan mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan janin. Beberapa faktor makanan dapat membantu meningkatkan absorpsi Ca,
sedangkan beberapa faktor lain dapat menurunkan absorpsi Ca oleh usus halus. Asam fitat dan
asam oksalat dapat menurukan absorpsi mineral Ca dengan jalan mengikat Ca dan membentuk
garam Ca yang tidak larut dalam lumen usus halus (Tillman, 1998).
2. Fosfor (P)
Fosfor (P) merupakan mineral kedua terbanyak dalam tubuh dengan distribusi dalam
jaringan yang menyerupai distribusi Ca. Fosfor memegang peranan penting dalam proses
mineralisasi tulang. Fosfor mempunyai fungsi sangat penting bagi tubuh ternak diantara elemen
mineral lainnya. Fosfor umumnya ditemukan dalam bentuk phospholipid, asam nukleat dan
phosphoprotein. Kandungan P dalam tubuh ternak lebih rendah daripada kandungan Ca
(Tillman, 1998).
Gejala defisiensi P yang parah dapat menyebabkan persendian kaku dan otot menjadi
lembek. Ransum yang rendah kandungan P-nya dapat menurunkan kesuburan (produktivitas),
indung telur tidak berfungsi normal, depresi dan estrus tidak teratur. Pada ternak ruminansia
mineral P yang dikonsumsi, sekitar 70% akan diserap, kemudian menuju plasma darah dan 30%
akan keluar melalui feses. Fosfor yang berasal dari makanan diabsorpsi tubuh dalam bentuk ion
fosfat yang larut (PO4 -). Gabungan mineral P dan mineral Fe dan Mg akan menurunkan
absorpsi P (Piliang, 2002). Asam fitat yang mengandung P ditemukan dalam bijibijian dapat
mengikat Ca untuk membentuk fitat. Fitat yang terbentuk tidak dapat larut sehingga menghambat
absorpsi Ca dan P. Dari seluruh jumlah P yang terdapat dalam makanan sekitar 30% melewati
saluran pencernaan tanpa diabsorpsi. Seperti halnya dengan kalsium, maka vitamin D dapat
meningkatkan absorpsi P dari usus halus (Tillman, 1998).
3. Magnesium (Mg)
Tubuh hewan dewasa mengandung 0,05% Mg. Retensi dan absorpsi Mg pada sapi perah
erat kaitannya dengan kebutuhannya. Enam puluh persen Mg dalam tubuh hewan terkonsentrasi
di tulang sebagai bagian dari mineral yang mengkristal dan permukaan kristal terhidrasi. Mg
berperan dalam membantu aktivitas enzim seperti thiamin phyrofosfat sebagai kofaktor.
Ketersediaan Mg dalam ransum harus selalu tersedia. Perubahan konsentrasi Mg dari keadaan
normal selama 2-18 hari dapat menyebabkan hipomagnesemia. Sekitar 30-50% Mg dari rata-rata
konsumsi harian ternak akan diserap di usus halus. Penyerapan ini dipengaruhi oleh protein,
laktosa, vitamin D, hormon pertumbuhan dan antibiotik (Poedjiadi, 1994).
Magnesium sangat penting peranannya dalam metabolisme karbohidrat dan lemak.
Defisiensi Mg dapat meningkatkan iritabilitas urat daging dan apabila iritabilitas tersebut parah
akan menyebabkan tetany. Defisiensi Mg pada sapi laktasi dapat menyebabkan hypomagnesemic
tetany atau grass tetany. Keadaan ini disebabkan tidak cukupnya Mg dalam cairan ekstracellular,
yaitu plasma dan cairan interstitial. Kebutuhan Mg untuk hidup pokok adalah 2-2,5 gram dan
untuk produksi susu adalah 0,12 gram per milligram susu. Ransum yang mengandung 0,25% Mg
cukup untuk sapi perah yang berproduksi tinggi (Arora, 1995).
4. Sulfur (S)
Sulfur (S) merupakan komponen penting protein pada semua jaringan tubuh. Pada
ruminansia 0,15% komponen jaringan tubuh terdiri atas unsur S, sedangkan pada air susu sebesar
0,03%. Pada hewan ruminansia terjadi sintesis asam-asam amino yang mengandung mineral S
dengan vitamin B oleh mikroba di dalam rumen. Terdapat dua macam mekanisme metabolisme
mineral S pada hewan ruminansia, yaitu mekanisme yang menyerupai mekanisme mineral S
pada hewan-hewan monogastrik dan mekanisme yang dihubungkan dengan aktivitas
mikroorganisme dalam rumen (Arora, 1995).
Kandungan mineral S pada tanaman hijauan dapat berkisar dari 0,04% sampai melebihi
0,3%. Bahan makanan yang mengandung protein tinggi akan mengandung kadar mineral S yang
tinggi pula. Kadar S dalam ransum sebesar 0,20% diperkirakan cukup untuk memenuhi
kebutuhan sapi perah laktasi. Hewan-hewan yang diberi ransum defisien dalam mineral sulfur
akan menunjukkan penyakit anorexia, penurunan bobot badan, penurunan produksi susu,
kekurusan, kusut, lemah dan akhirnya mati. Tanda-tanda tersebut berhubungan erat dengan
menurunnya fungsi rumen dan fungsi sistem peredaran darah (Kuchel, P. dan Gregory B., 2006).
5. Kaliaum (K)
Kalium memegang peranan dalam pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit
serta keseimbangan asam basa. Bersama kalium, kalium berperan dalam transmisi saraf dan
relaksasi otot. Di dalam sel, kalium berfungsi sebagai katalisator dalam banyak reaksi biologik,
terutama dalam metabolisme energi dan sintesis glikogen dan protein. Kalium berperan penting
dalam pertumbuhan sel. Taraf kalium dalam otot berhubungan dengan massa otot dan simpanan
glikogen, oleh karena itu bila otot berada dalam pembentukan dibutuhkan kalium dalam jumlah
cukup. Kalium merupakan bagian esensial semua sel hidup, kelium banyak terdapat dalam
bahan makanan, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Kekurangan kalium jarang terjadi
(Poedjiadi, 1994).
Kebutuhan minimum akan kalium ditaksir sebanyak 2000 mg sehari. Kalium tidak
ditemukan tersendiri di alam, tetapi diambil melalui proses elektrolisis hidroksida. Metoda panas
juga lazim digunakan untuk memproduksi kalium dari senyawa-senyawa kalium dengan CaC2,
C, Si, atau Na. Kekurangan kalium dapat terjadi karena kebanyakan kehilangan melalui saluran
cerna atau ginjal. Kehilangan banyak melalui saluran cerna dapat terjadi karena muntah-muntah,
dieare kronis atau kebanyakan menggunakan laksan (Kerley, 2000).
Hewan kebutuhan K untuk produksi susu, pemeliharaan cairan tubuh, transmisi impuls
saraf, kontraksi otot, dan pemeliharaan sistem enzim. Kandungan K dalam pakan berbeda sedikit
di antara jenis rumput. Isi K pakan biasanya akan memenuhi kebutuhan sapi perah selama
suplemen butir tidak lebih dari 40-50% dari konsumsi bahan kering total. Karena kandungan K
dalam hijauan bisa mengurangi penyerapan Mg hewan dari diet (Kerley, 2000).
6. Natrium (Na)
Hewan membutuhkan Na untuk glukosa dan transportasi asam amino, mempertahankan
cairan tubuh, dan asam-basa keseimbangan Na. Pastura berisi hanya 0,029%. Jika garam tidak
ditambah untuk sapi dan domba, Na bisa menjadi gizi membatasi dalam makanan. Memadai
garam harus disediakan untuk ternak untuk memastikan bahwa mereka memenuhi kebutuhan
mereka untuk natrium (Kerley, 2000).
Pada umumnya, makanan kasar hijauan mengandung Natrium yang rendah, maka
pemberian garam dapur untuk sapi potong muda sekitar 10 kg / 100 kg berat tubuh / hari dan sapi
potong dewasa 7,5 gram untuk membantu peningkatan kualitas makanan. Kekurangan natrium
pada sapi dapat menyebabkan(Kerley, 2000) :
a. Sapi kurus, lemah, lesu, nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat.
b. Berat badan merosot dan pertambahan berat tidak ada.
c. Sapi tampak kaku, menggigil dan kehilangan keseimbangan.
d. Denyut jantung tidak teratur dan bisa menyebabkan kematian.
7. Klorida (Cl)
Kekurangan Klorida (Cl) pada sapi menyebabkan (Sudarmo, 2008) :
a. Rambut kusam, jalannya kaku, menjilat – jilat tanah.
b. Nafsu makan berkurang, lesu, kondisi lemah, menggigil, kehilangan keseimbangan, denyut
jantung tidak teratur, dan bisa menyebabkan kematian.
c. Gangguan fungsi otot dan saraf, dan kematian mendadak.
Keseimbangan asam-basa dan Pemeliharaan konsentrasi garam, Alkalosis (bikarbonat
yang berlebihan dalam darah), terbelakang dalam kasus-kasus ekstrim pertumbuhan.
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa mineral merupakan suatu
komponen penyusun tubuh ternak ruminansia, 4-5% berat badan ternak ruminansia terdiri atas
mineral, sekitar 50% mineral tubuh ruminansia terdiri atas kalsium, 25% fosfor dan 25% lainnya
terdiri atas mineral lain. Mineral makro meliputi Ca, P, Mg, Na, K, S dan Cl. Mineral yang
dibutuhkan pada ternak ruminansia berbeda – beda.
B. Saran
Diharapkan kepada peternak untuk memperhatikan penyusunan ransum pada ternak
ruminansia, agar kebutuhan mineral makro dan kebutuhan lainnya terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
Agus Murtidjo, Bambang. 2007. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. UGM. Press. Yogyakarta.

Kerley, M.S., 2000. Feeding For Enhancing Rumen Function. Departement of Animal Sciences,
University of Missouri – Columbia, USA. Diakses pada tanggal 21 Mei 2013.

Kuchel, Philip dan Gregory B. Ralston. 2006. Biokimia. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Poedjiadi, A. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Sudarmo, S dkk. 2008. Beternak Ruminansia. Penebar Swaday Jakarta.

Suryahadi, dkk. 1997. Manajemen Pakan Sapi Perah. IPB. Bogor.

Sutama, B. 2009. Panduan Lengkap Kambing & Domba. Penebarar Swadaya. Jakarta,

Tillman, Allen D, dkk. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press. Yogyakarta

Lampiran Diskusi
Moderator : Azmi Mangalisu (I111 11 053)
Pemateri : Syahriana Sabil (I111 11 273)
Notulis : Nur Amalia (I111 11 271)

1. Penanya : Muh. Faisal Saade (I111 11 313)


Bagaimana cara memperoleh mineral makro secara alami?
Penjawab :
Adriawan Zainuddin ( I111 11 011) dan Erwin Eko Wartoyo (I111 11 277)
Dapat digunakan feed mineral atau ,mineral tambahan yang dikelola sendiri dari bahan – bahan
yang ada di sekitar. Misalnya dapat digunakan bahan herbal seperti jahe, garam, kunyit yang
kemudian dibuat jamu sehinggga dapat dicampur pada air minum ternak ruminansia. Maka dari
itu, kebutuhan mineral makro dapat diperoleh dari bahan-bahan herbal tersebut.

2. Penanya : Rachmat Budianto (I111 11 291)


Apa pengaruh mineral makro terhadap mikroba rumen?
Penjawab : Nevyani Asikin (I111 11 049)
Apabila terjadi defisiensi salah satu mineral maka aktifitas fermentasi mikroba tidak berlangsung
optimum sehingga akan berdampak pada menurunnya produktivitas ternak.

3. Penanya : Aprisal Nur (I111 11 369)


Mengapa Fosfor lebih banyak dibperlukan pada ternak dibandingkan mineral lainnya?
Penjawab :
Nur Amalia (I111 11 271) dan Muh. Qurnaldi Hakim (I111 11 001)
Yang paling banyak dibutuhkan oleh ternak ruminansia adalah Kalsium (Ca) lalu Posfor (P)
yang urutan kedua paling dibutuhkan. Kalsium (Ca) dibutuhkan dalam ransum ruminansia
sebanyak 90% sedangakan Posfor (P) dibutuhkan 70%

4. Penanya : Muh. Nurchaidir SR. (I111 11 303)


Apabila kekurangan mineral makro secara anatomi berpengaruh ke sistem apa?
Penjawab : Ayu Prasetya TW. (I11 11 101)
Apabila kekurangan mineral makro pada ransum ternak ruminansia dapat mempengaruhi proses
metabolisme tubuh ternak sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan tulang dan
gigi, dapat menurunkan produktivitas ternak dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada
ternak rumianansia.

5. Penanya : Imanuel Isar (I111 11 335)


Sebutkan satu contoh proses kenapa mineral makro banyak dibutuhkan?
Penjawab :
Azmi mangalisu (I111 11 053) dan Nur Amalia (I111 11 271)
Contoh proses bahwa mineral makro banyak dibutuhkan untuk ternak ruminansia adalah pada
masa pertumbuhan tulang dan gigi ternak. Kalsium (Ca) dan Posfor (P) sangat dibutuhkan karena
apabila kekurangan mineral makro tersebut akan mengakibatkan kelumpuhan pada ternak yang
lama – kelamaan dapat menyebabkan kematian ternak.

6. Penanya : Handayani ( I111 11 347)


Apa yang menyebabkan bila terjadi kekurangan natrium pada ternak sapi?
Penjawab : Syahriana Sabil (I111 11 273)
Kekurangan natrium pada sapi dapat menyebabkan :
a. Sapi kurus, lemah, lesu, nafsu makan berkurang dan pertumbuhan terhambat.
b. Berat badan merosot dan pertambahan berat tidak ada.
c. Sapi tampak kaku, menggigil dan kehilangan keseimbangan.
d. Denyut jantung tidak teratur dan bisa menyebabkan kematian.

7. Penanya : Ruslan (I111 11 903)


Apa aspek – aspek yang melatarbelakangi mengapa mineral makro dibutuhkan dalam
ruminansia?
Penjawab : A. Faisal (I111 11 269) dan Syahriana Sabil (I111 11 273)
Aspek – aspek yang melatarbelakangi dibutuhkannya mineral makro pada ransum ruminansia
karena dalam proses pertumbuhan dan perkembangan ternak ruminansia ada zat nutrisi mineral
yang dibutuhkan dan apabila tidak terpenuhi dapat mengakibatkan terhambatnya proses
metabolisme tubuh ternak sehingga terjadi defisiensi dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Semua mahluk hidup memerlukan unsur anorganik atau mineral untuk proses
kehidupan yang normal. Semua jaringan ternak dan makanan atau pakan mengandung
mineral dalam jumlah dan proporsi yang sangat beragam.
Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh
makhluk hidup di samping karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin, juga dikenal sebagai
zat anorganik atau kadar abu. Sebagai contoh, bila bahan biologis dibakar, semua
senyawa organik akan rusak; sebagian besar karbon berubah menjadi gas karbon
dioksida (CO hidrogen menjadi uap air, dan Nitrogen menjadi uap Nitrogen (N) Sebagian
besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu dalam bentuk senyawa anorganik
sederhana, serta akan terjadi penggabungan antar individu atau dengan oksigen
sehingga terbentuk garam anorganik (Davis dan Mertz 1987).

Berbagai unsur anorganik (mineral) terdapat dalam bahan biologi, tetapi tidak atau
belum semua mineral tersebut terbukti esensial, sehingga ada mineral esensial dan non
esensial. Mineral esensial yaitu mineral yang sangat diperlukan dalam proses fisiologis
makhluk hidup untuk membantu kerja enzim atau pembentukan organ. Unsur-unsur
mineral esensial dalam tubuh terdiri atas dua golongan, yaitu mineral makro dan mineral
mikro.

Mineral makro diperlukan untuk membentuk komponen organ di dalam tubuh.


Mineral mikro yaitu mineral yang diperlukan dalam jumlah sangat sedikit dan umumnya
terdapat dalam jaringan dengan konsentrasi sangat kecil. Mineral non esensial adalah
logam yang perannya dalam tubuh makhluk hidup belum diketahui dan kandungannya
dalam jaringan sangat kecil. Bila kandungannya tinggi dapat merusak organ tubuh
makhluk hidup yang bersangkutan.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui informasi mengenai Biokimia Mineral Mikro

2. Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui pengertian mineral mikro

2) Untuk mengetahui sumber mineral mikro

3) Untuk mengetahui fungsi mineral mikro

4) Untuk mengetahui dampak kelebihan dan kekurangan mineral mikro


5) Untuk mengetahui bagaimana penyerapan/ metabolism mineral mikro

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MINERAL MIKRO

Mineral merupakan unsur isensial bagi fungsi normal sebagian enzim dan sangat
penting dalam pengendalian komposisi cairan tubuh 65% adalah air dalam bobot tubuh.
Mineral adalah bahan anorganik atau bahan kimia yang didapat makhluk dari alam, yang
asalnya ialah dari tanah. Mineral ada yang larut dalam air lalu masuk tubuh lewat air
minum atau air yang dipakai untuk mencuci sayur dan memasak. Mineral masuk ke
dalam tubuh dalam bentuk garam lalu digunakan dalam bentuk elektrolit. Elektrolit
adalah bentuk ion dari mineral yang bermuatan positif (+) dan negatif (-), ada sebagian
mineral yang dipakai sel sebagai poros atau inti suatu molekul, ada pula yang dipakai
untuk menghubungkan suatu cabang ke cabang yang lain. Mineral yang masuk kedalam
tubuh lewat makanan sebagian diabsorpsi oleh dinding usus. Makanan yang masuk
kedalam tubuh terdiri dari bahan organik dan air sebesar 96 % dan sisanya terdiri dari
unsur mineral. Mineral dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu, dalam proses
pembakaran, bahan-bahan organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak terbakar, karena
itu bahan anorganik disebut abu (Winarno 1992).

Berdasarkan dari kebutuhannya, mineral terbagi menjadi 2 kelompok yaitu mineral


makro dan mineral mikro. Mineral makro dibutuhkan dengan jumlah > 100 mg per hari
sedangkan mineral mikro dibutuhkan dengan jumlah <100 mg per hari. Mikromineral
adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Mineral Mikro adalah salah satu
zat gizi yang juga penting bagi tubuh selain karbohidrat, protein, lemak dan Mineral
Makro. Mineral Mikro terdiri dari : Besi (Fe), Seng (Zn), Iodium (I), Selenium (Se),
Tembaga (Cu), Mangan (Mn), Flour, Kobalt, Kromium (Cr), Timah, Nikel, Vanadium,
silicon.

B. SUMBER MINERAL MIKRO

1. Besi (Fe)

Besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat didalam tubuh manusia
dewasa.dan hewan yaitu sebanyak 3-5 gr didalam tubuh manusia dewasa, di mana 70
persennya terdapat dalam hemoglobin, 25 persennya merupakan besi cadangan (iron
storage) yang terdiri dari feritin edan homossiderin terdapat dalam hati, limfa dan sum-
sum tulang :

Sumber baik besi adalah makanan hewani ,seperti daging,ayam dan ikan .Sumber
baik lainnya adalah telur, serealia tumbuk, kacang kacangan, sayuran hijau dan beberapa
jenis buah.

Pada umumnya besi di dalam daging, ayam dan ikan mempunyai ketersediaan
biologic tinggi ,besi didalam serealia dan kacang kacangan mempunyai ketersediaan
biologic sedang,dan besi didalam sebagian besar sayuran ,terutama yang mengandung
asam oksalat tinggi seperti bayam mempunyai ketersediaan biologik rendah.

Nilai besi berbagai bahan makanan ( mg/100gram)

Bahan Makanan Nilai Fe Bahan Makanan Nilai Fe

Tempe kacang kedelai murni 10,0 Biscuit 2,7

Kacang kedelai kering 8,0 Jagung kuning,pipil, lama 2,4

Kacang hijau 6,7 Roti putih 1,5

Kacang merah 5,0 Beras setengah giling 1,2

Kelapa tua, daging 2,0 Daun kacang panjang 6,2

Udang besar 8,0 Bayam 3,9

Hati sapi 6,6 Sawi 2,9

Daging sapi 2,8 Daun katuk 2,7

Telur bebek 2,8 Kangkung 2,5

Telur ayam 2,7 Daung singkong 2,0

Ikan segar 2,0 Pisang ambon 0,5

Ayam 1,5 Keju 1,5

Angka kecukupan besi yang dianjurkan

Widya karya pangan dan gizi tahun 1998 menetapkan AKG besi untuk Indonesia sbb:

· Bayi : 3-5 mg
· Anak, balita : 8-9 mg

· Anak sekolah : 10 mg

· Remaja laki – laki : 14 – 17 mg

· Remaja perempuan : 14 – 25 mg

· Dewasa laki – laki : 13 mg

· Dewasa perempuan : 14 – 26 mg

· Ibu hamil : +20 mg

· Ibu menyusui : + 2 mg

· Manula perempuan : 14 mg

· Manula laki – laki : 13 mg

2. Zeng (Zn)

Seng merupakan komponen penting pada struktur dan fungsi membran sel, sebagai
antioksidan, dan melindungi tubuh dari serangan lipid peroksidase. Seng berperan
dalam sintesis dan transkripsi protein, yaitu dalam regulasi gen. Pada suhu tinggi,tubuh
banyak mengeluarkan keringat dan seng dapat hilang bersama keringat sehingga perlu
penambahan (Richards 1989; Ahmed et al. 2002). Ikatan enzim seng yang merupakan
katalis reaksi hidrolitik melibatkan enzim pada bagian aktif yang bertindak
”superefisien”. Enzim karbonik anhidrase meng-katalisis CO2 dalam darah, enzim
karboksi peptidase mengkatalisis protein dalam prankreas, enzim alkalin fosfatase.

Sumber utama Zeng adalah daging, unggas, telur, ikan, susu, keju, hati, lembaga
gandum, ragi, selada, roti dan kacang-kacangan. Sumber paling baik adalah sumber
protein hewani, terutama daging, hati, kerang, biji-bijian (lengkap), serelia, leguminosa
dan telur. Serelia tumbuk dan kacang-kacangan merupakan sumber yang terbaik namun
mempunyai ketersediaan biologik yang rendah.

Angka Kecukupan Zn Yang Dianjurkan

Angka kecukupan seng pada tingkat :

a. Bayi : 3-5 mg
b. Anak-anak : 8-10 mg

c. Remaja dan dewasa : 15 mg (baik pria maupun wanita)

d. Ibu hamil : + 5 mg

e. Ibu menyusui : + 10 mg

3. Iodium (I)

Iodin merupakan komponen esensial tiroksin dan kelenjar tiroid. Tiroksin berperan
dalam meningkatkan laju oksidasi dalam sel sehingga meningkatkan Basal Metabolic
Rate (BMR).Tiroksin juga berperan menghambat proses fosforilasi oksidatif sehingga
pembentukan Adenosin Trifosfat (ATP) berkurang dan lebih banyak dihasilkan panas.
Tiroksin juga mempengaruhi sintesis protein (Mills1987; Darmono 1995). Iodin secara
perlahan-lahan diserap dari dinding saluran pencernaan ke dalam darah. Penyerapan
tersebut terutama terjadi dalam usus halus, meskipun dapat berlangsung pula dalam
lambung. Dalam usus, iodin bebas atau iodat mengalami reduksi menjadi iodida sebelum
diserap tubuh. Dalam peredaran darah, iodida menyebar ke dalam cairan ekstraseluler
seperti halnya klorida. Iodida yang masuk ke dalam kelenjar tiroid dengan cepat
dioksidasi dan diubah menjadi iodin organik melalui penggabungan dengan tiroksin.
Proses tersebut terjadi pula secara terbatas dalam ovum (Graham 1991; Puls 1994; Lee et
al. 1999).

Sumber iodium di antaranya adalah : sayur-sayuran, ikan laut, dan rumput laut.
Sedangkan fungsi dari iodium di antaranya dalah sebagai komponen esensial tiroksin
dan kelenjar tiroid.

4. Selenium (Se)

Sumber : Makanan hasil laut, daging, hati, serelia, sayuran, sayuran, bergantung
pada kandungan selenium tanah.

AKG orang dewasa: 70 µg (Laki-laki) & 55 µg (Perempuan).

5. Tembaga (Cu)
Tembaga merupakan unsur esensial yang bila kekurangan dapat menghambat
pertumbuhan dan pembentukan hemoglobin. Tembaga sangat dibutuhkan dalam proses
metabolisme, pembentukan hemoglobin, dan proses fisiologis dalam tubuh (Richards
1989; Ahmed et al. 2002).Tembaga ditemukan dalam protein plasma,seperti
seruloplasmin yang berperan dalam pembebasan besi dari sel ke plasma. Tembaga juga
merupakan komponen dari protein darah, antara lain eritrokuprin, yang ditemukan dalam
eritrosit (sel darah merah) yang berperan dalam metabolisme oksigen (Darmono 1995;
2001). Selain ikut berperan dalam sintesis hemoglobin, tembaga merupakan bagian dari
enzim-enzim dalam sel jaringan. Tembaga berperan dalam aktivitas enzim
pernapasan,sebagai kofaktor bagi enzim tirosinase dan sitokrom oksidase.

Tirosinase mengkristalisasi reaksi oksidasi tirosin menjadi pigmen melanin


(pigmen gelap pada kulit dan rambut). Sitokrom oksidase, suatu enzim dari gugus heme
dan atom-atom tembaga, dapat mereduksi oksigen (Davis dan Mertz 1987; Mills 1987;
Sharma et al.2003).

Tembaga terdapat luas didalam makanan. Sumber utama tembaga adalah tiram,
kerang, hati, ginjal, kacang-kacangan, unggas, biji-bijian , serelia, dan cokelat. Air juga
mengandung tembaga dan jumlahnya bergantung pada jenis pipa di gunakan sebagai
sumber air.

Angka Kecukupan Tembaga (Cu) Yang Dianjurkan

Kekurangan tembaga karena makanan jarang terjadi, oleh karena itu, AKG untuk
tembaga di Indonesia belum ditentukan. Amerika serikat menetapkan jumlah tembaga
yang aman untuk dikonsumsi adalah sebanyak 1,5-3,0 mg sehari.

6. Mangan

Mangan berkaitan dengan jumlah enzim dalam beberapa proses metabolisme


termasuk piruvatanya dan karboksilse asetil CoA dan dehidrogenase isositrat dalam
siklus krebs dan mitokondria; bentuk mitokondria ;dismutase super oksida yang
menolong melindungi membran mitokondria. Yang lebih menarik adalah hubungannya
dengan enzim mukopolisakarida , glikoprotein dan produksi lipopolisakarida ,termasuk
trasferase galaktose dan trasferse glikosil lain yang terikat dalam membran.

Sumber : Serelia utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, teh.

AKG orang dewasa: 2,5-5,0 mg.


Lokasi : Terbanyak di dalam tulang, jaringan di dalam hati, pankreas, jaringan saluran
cerna dan kelenjar ptuitari.

7. Flour

Sumber flour di antaranya adalah air, makanan laut, tanaman, ikan dan makanan hasil
ternak.

AKG : Konsumsi fluor yang dianggap cukup dan aman adalah 1,5 – 4,0 mg/sehari.
Hendaknya air minum mengalami fluorodisasi sehingga mengandung 1 bagian flour/ 1
juta bagin air (1 ppm), yang berarti 1 mg/L air.

8. Kobalt

Kobalt (Co) merupakan unsur mineral esensial untuk pertumbuhan hewan, dan
merupakan bagian dari molekul vitamin B12. Konversi Co dari dalam tanah menjadi
vitamin B12 pada makanan hingga dicerna hewan nonruminansia kadang-kadang disebut
sebagai siklus kobalt. Ternak ruminansia (sapi, domba, dan kambing) memakan hijauan
pakan, di mana tanaman menyerap kobalt dari dalam tanah dan bakteri-bakteri yang ada
di dalam lambung (rumen) menggunakan kobalt dalam penyusunan vitamin B12. Hewan
menyerap vitamin B12 dan mendistribusikannya ke seluruh jaringan tubuh (Davis dan
Mertz 1987; Mills 1987; Darmono 1995). Semua bangsa hewan membutuhkan vitamin
sehingga secara tidak langsung memerlukan kobalt. Ternak babi dan unggas tidak
mempunyai mikroflora dalam saluran pencernaan untuk mengubah kobalt dalam ransum
sehingga harus mendapat vitamin B12 yang cukup dalam ransum (Lee et al. 1999).

Sumber utamanya adalah vitamin B12, B1, dan sayuran berdaun


hijau. AKG: Sebagian besar kobal dalam tubuh terikat dalam vitamin B12 plasma darah
mengandung kurang lebih 1 µg kobal/100.

9. Kromium (Cr)

Sumber kromium terbaik adalah makanan nabati. Kandungan kromium dalam


tanaman bergantung pada jenis tanaman, kandungan krom tanah dan musim. Sayuran
mengandung 30 hingga 50 ppm, biji-bijian dan serealia utuh 30 hingga 70 ppm dan buah
20 ppm. Hasil laut dan daging merupakan sumber kromium yang baik.
C. FUNGSI MINERAL MIKRO

1. Besi (Fe)

Besi berperan dalam proses respirasi sel, yaitu sebagai kofaktor bagi enzim–enzim
yang terlibat didalam reaksi oksidasi reduksi. Metabolisme energi ,di dalam tiap sel ,besi
bekerja sama dengan rantai protein-pengangkut-electron ,yang berperan dalam langkah-
langkah akhir metabolism energi. Sebanyak lebih dari 80 % besi yang ada dalam tubuh
berada dalam hemoglobin.

Menurunnya produkytivitas kerja pada kekerangan besi disebabkan oleh dua hal
yaitu

· Berkurangnya enzim-enzim mengandung besi dan besi sebagai kofaktor enzim-enzim


yang terlibat dalam metabolism tinggi,

· Menurunnya hemoglobin darah.akibatnya metabolisme energy didalam otot terganggu


dan terjadi penumpukan asam laktat yang akan menyebabkan rasa lelah.

Kemampuan belajar,ada perbedaan antara keberhasilan belajar anak anak yang


menderita anemia gizi besi dan anak – anak sehat,defisiensi besi berpengaruh negative
terhadap fungsi otak,terutama fungsi neurotransmitter (kepekaan saraf)

Sistem kekebalan ,respon kekebalan sel oleh limfosit T terganggu karena


berkurangnya pembentukan sel-sel tersebut,yang kemungkinan disebabakan oleh
berkuranggnya sintesisi DNA. Berkurangnya sisntesis DNA ini disebabkan oleh
gangguan enzim reduktalase ribonukleotida yang membutuhkan besi untuk dapat
berfungsi.

Pelarut obat obatan , obat obatan tidak larut air oleh enzim mengandung besi dapat
dilarutkan sehingga dapat dikeluarkan dari tubuh.

2. Zn

Zn memegang peranan esensial dalam banyak fungsi tubuh, yaitu :

· Zn Sebagai bagian dari enzim atau sebagai kofaktor pads kegiatan lebih dari 200 enzim.
· Zn berperan dalam berbagai aspek metabolisme seperti reaksi yang berkaitan dengan
sintesis dan degradasi karbohidrat, protein, lipida, dan asam nukleat.

· Zn berperan dalam pemeliharaan keseimbangan asam basa.

· Zn sebagai bagian integral enzim DNA polymerase dan RNA polymerase yang
diperlukan dalam sintesis DNA dan RNA.

· Zn berperan dalam pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan


luka.

· Zn berperan dalam pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma.

· Zn berperan dalam kekebalan yaitu, dalam sel T dan pembentukan antibody oleh sel B.

3. Iodium (I)

Iodin (I) diperlukan tubuh untuk membentuk tiroksin, suatu hormon dalam kelenjar
tiroid. Tiroksin merupakan hormone utama yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid. Setiap
molekul tiroksin mengandung empat atom iodin (Darmono 1995). Sebagian besar iodin
diserap melalui usus halus, dan sebagian kecil langsung masuk ke dalam saluran darah
melalui dinding lambung. Sebagian iodin masuk ke dalam kelenjar tiroid, yang kadarnya
25 kali lebih tinggi dibanding yang ada dalam darah (Mills 1987). Namun bila jumlah yang
sedikit ini tidak terdapat dalam bahan pakan maka ternak akan kekurangan iodin. Lebih
dari setengah iodin dalam tubuh terdapat pada kelenjar perisai (tiroid). Meskipun
sebagian besar iodin tubuh terdapat dalam kelenjar tiroid, iodin juga ditemukan dalam
kelenjar ludah, lambung, usus halus, kulit, rambut, kelenjar susu, plasenta, dan ovarium
(Puls 1994; Stangl et al. 2000).

4. Selenium (Se)

Enzim selenium peroksidase berperan sebagai katalisator dalam pemecahan


peroksida yang terbentuk di dalam tubuh menjadi ikatan yang tidak bersifat toksik.
Peroksida dapat berubah menjadi radikal bebas yang dapat mengoksidasi asam lemak
tidak jenuh yang ada pada membran sel, sehingga merusak membran sel tersebut.
Selenium berperan serta dalam sistem enzim yang mencegah terjadinya radikal bebas
dengan menurunkan konsentrasi peroksida dalam sel, sedangkan vitamin E menghalangi
bekerjanya radikal bebas setelah terbentuk. Dengan demikian konsumsi selenium dalam
jumlah cukup menghemat penggnaan vitamin E.
Selenium dan vitamin E melindungi membran sel dari kerusakan oksidatif,
membantu reaksi oksigen dan hidrogen pada akhir rantai metabolisme, memindahkan
ion melalui membran sel dan membantu sintesa immununoglobulin dan ubikinon.
Glutation peroksidse berperan di dalam sitosol dan mitokondria sel, sedangkan vitamin
E di dalam membran sel

Karena selenium mengurangi produksi radikal bebas di dalam tubuh, mineral mikro
ini mempunyai potensi untuk mencegah penykit kanker dan penyakit degenaratif lainnya.
Bukti tentang hal ini belum cukup untuk menganjurkan penggunaan selenium sebagai
suplemen. Enzim tergantung-selenium lain adalah gliisn reduktase yang ditemukan di
dalam sistem bakteri. Selenium juga merupakan bgian dari kompleks asam amino RNA.

5. Tembaga (Cu)

Fungsi utama enzim di dalam adalah sebagai bagian dari enzim. Enzim-enzim
mengandung tembaga mempunyai berbagai macam peranan yang berkaitan dengan
reaksi yang menggunakan oksigen atau radikal oksigen.

· Tembaga berperan dalam mencegah anemia dengan cara membanu absorbs besi,
merangsang sisntesis hemoglobin , melepas simpanan besi dari feritin dalam hati dan
sebagai bagian dari enzim seruloplasmin.

· Tembaga berperan dalam oksidasi besi bentk fero menjadi feri.

· Tembaga berperan dalam perubahan asam amino tirosin menjadi melanin, yaitu pigmen
dan kulit.

· Tembaga juga berperanan dlam pngikatan silanh kolagen yang diperluka untuk menjaga
kekuatannya.

6. Mangan

Dalam tubuh, Mn berperan sebagai katalisator dari beberapa reaksi metabolik yang
penting pada protein, karbohidrat, dan lemak. Pada metabolisme protein, Mn
mengaktifkan interkonversi asam amino dengan enzim spesifik seperti arginase,
prolinase, dipeptidase. Pada metabolism karbohidrat, Mn berperan aktif dalam beberapa
reaksi konversi pada oksidasiglukosa dan sintesis oligosakharida. Pada metabolisme
lemak, Mn berperan sebagai kofaktor dalam sintesis asam lemak rantai panjang dan
kolesterol. metabolisme energi & sintesis lemak
7. Flour

Fungsi : Mineralisasi tulang dan pengerasan email gigi. Pada saat gigi dan tulang
dibentuk, pertama terbentuk kristal hidroksiapatit yang terdiri atas kalsium dan fosfor.
Kemudian flour akan menggantikan gugus hidroksil (OH) pada kristal tersebut dan
membentuk fluoropatit. Pembentukan fluoropatit ini menjadikan gigi dan tulang tahan
terhadap kerusakan. Fluor diduga dapat mencegah osteoporosis (tulang keropos) pada
orang dewasa dan orang tua. fluorordisasi air minum, masyarakat terutama anak-anak
akan terlindungi dari karies gigi ini. Penambahan fluorida pada pasta gigi juga
melindungi masyarakat terhadap karies gigi.

8. Kobalt

Fungsi : Kobal merupakan vitamin B12 (kobalmin). Vitamin ini diperlukan untuk
mematangkan sel darah merah dan menormalkan fungsi semua sel. Kobal mungkin juga
berperan dalam fungsi berbagai enzim.

9. Kromium (Cr)

Fungsi : Krom dibutuhkan dalam metabolisme karbohidrat dan lipida. Krom bekerja sama
dengan pelepasan dalam memudahkan masuknya glukosa ke dalam sel-sel, dengan
demikian dalam pelepasan energi, percobaan pada hewan menunjukan bahwa
kekurangan krom dapat menyebabkan gangguan toleransi terhadap glukosa, walaupun
konsentrasi insulin normal. Dalam keadaan berat defisiensi krom dapat menunjukkan
sindroma mirip diabetes. Krom diduga merupakan bagian dari ikatan organik faktor
toleransi terhadap glukosa (glucose tolerance factor) bersama asam nikotinat dan
glutation. Toleransi terhadap glukosa tampaknya dapat diperbaiki dengan suplementasi
krom. Hal ini harus dilakukan dibawah pengawasan dokter. Konsentrasi krom di dalam
jaringan tubuh menurun dengan umur, kecuali pada jaringan paru-paru yang justru
meningkat.

D. DAMPAK KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MINERAL MIKRO

1. Besi (Fe)

Kelebihan :
Kelebihan besi jarang terjadi karena makanan ,tetapi dapat disebabkan oleh suplemen
besi ,gejalanya adalah rasa nek,muntah .diare,denyut jantung meningkat,sakit kepala
,mengigau dan pingsan.

Kekurangan :

Menurunnya kemampuan kerja, kekurangan energi pada umumnya menyebaabkan pucat,


rasa lemah,letih pusing,kurang nafsu makan , menurunnya kebugarankekebalan dan
gangguan penyembuhan luka.kemampuan mengatur suhu tubuh menurun.

2. Zeng (Zn)

Kelebihan :

a. Kelebihan Zn hinggga 2 sampai 3 kali menurunkan absorpsi tembaga.

b. Kelebihan sampai 10 kali mempengaruhi metabolism kolesterol, mengubah nilai


lipoprotein dan tampaknya dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis.

c. Kelebihan sampai sebanyak 2 gram atau lebih dapat menyebabkan muntah, diare,
demam, kelelahan, anemia, dan gangguan reproduksi.

Kekurangan :

a. Akibat kekurangan seng pertumbuhan badan tidak sempurna (kerdil).

b. Gangguan dan keterlambatan pertumbuhan kematangan seksual.misalnya, pencernaan


terganggu, gangguan fungsi pangkreas, gangguan pembentukan kilomikron dan
kerusakan permukaan saluran cerna.

c. Kekurangan Zn menganggu pusat system saraf dan ungsi otak.

d. Kekurangan Zn menganggu metabolisme dalam hal kekurangan vitamin A, gangguan


kelenjar tiroid, gangguan nafsu makan serta memperlambat penyembuhan luka.

3. Iodium (I)

Kekurangan :

Gondok, kretinisme, pembesaran kelenjar tiroid, hambatan mental dan pertumbuhan


pada anak; gemuk padaorang dewasa.
Kelebihan :

Pembesaran kelenjar tiroid yang menutupi jalan pernafasan.

4. Selenium (Se)

Kelebihan :

Dosis tinggi selenium (= 1 mg sehari) menyebabkan muntah-muntah, diare, rambut dan


kuku rontok, serta luka-luka pada kulit dan sistem saraf. Kecenderungan menggunakan
suplemen selenium untuk mencegah kanker harus dilakukan secara hati-hati, jangan
sampai dosis berlebihan.

Kekurangan :

Kekurangan selenium pada manusia karena makanan yang dikonsumsi belum bayak
diketahui. Pada tahun 1979 para ahli dari Cina melaporkan hubungan antara status
selenium tubuh dengan penyakit kesban, dimana terjadi kardiomiopati atau degenerasi
otot jantung yang terutama terlihat pada anak-anak dan perempuan dewasa (keshan
adalah sebuah propinsi di Cina). Penyakit keshan-Beck pada anak remaja menyebabkan
rasa kaku, pembengkakan dan rasa sakit pada sendi jari-jari yang diikuti osteoartritis
secara umum, yang terutama dirasakan pada siku, lutut dan pergelangan kaki. Pasien
yang mendapat makanan prenteral total yang pada umumnya tidak mengandung
selenium menunjukkan aktivitas glutation peroksidase rendah dan kadar selenium dalam
plasma dan sel darah merah yang rendah. Beberapa pasien menjadi lemah, sakit pada
otot-otot dan terjadi kardiomiopati pasien kanker mempunyai taraf selenium plasma yang
rendah. Kekurangan selenim dan vitamin E juga dihubungan dengan penyakit jantung.

5. Tembaga (Cu)

Kelebihan :

· Menyebabkan nekrosis hati atau serosis hati.


· Konsumsi sebanyak 10-15 mg tembaga sehari dapat menimbulkan muntah-muntah dan
diare. Berbagai tahap perdarahan intravascular dapat terjadi ,begitupun nekrosis sel-sel
hati dan ginjal.

· Konsumsi dosis tinggi dapat menyebabakan kematian.

Kekurangan :

Kekurangan tembaga dapat menganggu pertumbuhan dan metabolisme, disamping itu


terjadi demineralisasi tulang-tulang. Bayi gagal tumbuh kembang edema dengan serum
albumin rendah. Gangguan fungsi kekebalan.

6. Mangan

Kelebihan :

Keracunan karena kelebihan mangan dapat terjadi bila lingkungan terkontaminasi oleh
mangan. Pekerja tambang yang mengisap mangan yang ada pada debu tambang untuk
jangka waktu lama, menunjukkan gejala-gejala kelainan otak disertai penampilan dan
tingkah laku abnormal, yang menyerupai penyakit parkinson.

Kekurangan :

Kekurangan mangan pernah terlihat pada manusia. Kebutuhan mangan kecil, sedangkan
mangan banyak terdapat dalam makanan nabati. Kekurangan mangan menyebabkan
steril pada hewan jantan dan betina. Keturunan dari induk yang menderita kekurangan
mangan, menunjukkan kelainan kerangka dan gangguan kerangka otot. Penggunaan
suplementasi besi dan kalsium perlu diperhatikan karena kedua zat gizi ini menghambat
absorbsi mngan. Kekurangan mangan sering terjadi bersamaan dengan kekurangan
besi. Makanan tinggi protein dapat melindungi tubuh dari kekurangan mangan.

7. Flour

Kelebihan :

Kelebihan fluor dapat menyebkan keracunan. Hal ini baru terjadi pada dosis sangat
tinggi atau setelah bertahun-tahun menggunakan suplemen fluor sebanyak 20-80 mg
sehari. Gejalanya adalah fluorosis (perubahan warna gigi menjadi kekuningan), mulas,
diare, sakit di daerah dada, gatal, dan muntah.

Kekurangan :

Kekurangan fluor terjadi di daerah dimana air minum kurang mengandung fluor.
Akibatnya adalah kerusakan gigi dan keropos tulang pada orang tua.

8. Kobalt

Kekurangan :

Terjadi bila kekuangan vitamin B12. Karena faktor intrinsik, sindroma gangguan absorpsi
dan gastrektomi.

Kelebihan :

Belum diketahui karena belum ada penelitian yang menunujukan tentang seseorang
yang mengidap penyakit akibat kelebihan kobalt. Percaya saja bahwa sesuatu yang
berlebihan.

9. Kromium (Cr)

Kekurangan :

Kekurangan krom karena makanan jarang terjadi, oleh karena itu AKG untuk krom belum
ditentukan.

Kelebihan :

Kelebihan krom karena makanan belum pernah ditemukan. Pekerja yang terkena limbah
industri dan cat yang mengandung krom tinggi dikaitkan dengan kejadian penyakit hati
dan kanker paru-paru. Kromat adalah bentuk krom dengan valensi 6, tubuh tidak dapat
mengoksidasi krom makanan dengan valensi 3 yang tidak toksik menjadi bentuk vlensi 6
yang toksik. Jadi, krom di dalam makanan tidak ada kaitannya dengan kanker paru-paru.

E. METABOLISME DAN PENYERAPAN MINERAL MAKRO

1. BESI
PENCERNAAN DAN PENYERAPAN

Sebelum diabsorsi dalam tubuh besi dibebaskan dari ikatan organic seperti protein.Sebagian
besar besi dalam bentuk feri direduksi menjadi bentuk fero.hal ini terjadi dalam suasana asam di
dalam lambung dengan adanya HCL dan vitamin C yang terdapat dalam makanan

Absorsi terutama terjadi dalam usus halus dengan bantuan alat angkut protein khusus,yaitu
transferin dab feritin.,Transferin mukosa mengangkut besi besi dari saluran cerna kedalam sel
mukossa dan memindahkan ketrasferin reseptor yang ada dalam sel mukosa.Transferin mukosa
kemudian kembali ke rongga saluran cerna untuk mengikat besi lain ,sedangkan trasferin reseptor
mengangkut besi melalui darah kesemua jaringan tubuh.

METABOLISME :

Fe yang dibebaskan dari proses degradasi Hb dan porfirin dapat secara cepat terlihat transferin
dan dalam feritin serum pada plasma.Transferin mengangkut Fe kembali ke sumsum tulang untuk
mensintesisi Hb kembali atau dimana saja dibutuhkan.Feritin serum secara cepat diambil oleh
hati dan mungkin oleh sel –sel lain.Besi feritin intrseluler juga dimobilisasi untuk diangkut
kesumsum tulang Untuk mobilisasi tersebut Fe yang ada dalam pusat inti feritin harus
direduksidikilasi dan dipindahkan kedalam plasma ,dimana dioksidasi kembali menjadi F 3+ untuk
diangkut pada transferin.

2. ZENG

PENCERNAAN DAN PENYERAPAN

Enzim yang sama berperan dalam pengeluaran amoniak dan didalam produksi hidroklorida yang
diperlukan untuk pencernaan sebagai bagian dari enzim peptidase karbosil yang terdapat didalam
cairan pangkreas, dan dalam pencernaan protein. Zn juga dihubungkan dengan hormone insulin
yang dibentuk dida;lam pangkreas walaupun tidak berperan langsung terhadap kegiatan insulin.

Tingkat penyerapannya sedikit banyaknya ada hubungan dengan status Zn lebih besar dari
normal dalam defesiensi Zn . dayaguna Zn makanan juga merupakan faktor dalam menentukan
penyerapan, walaupun ini tidak banyak variasinya atau tidak sekritis Fe. Pitat dan serat yang
banyak dalam biji-bijian merupakan faktor-faktor utama yang menurunkan nilai gunanya pada
waktu bersamaan tingkat konsumsinya, keseimbangan Zn sedikit kurang pada orang yang dengan
diet berserat tinggi. Penyerapan Zn sedikit banyak berkompetisi dengan ion-ion metal transisi,
terutama Fe2+ , Fe3+, dan Cu2+. Penyerapan Zn memerlukan energi dan tingkatan oleh sitrat.dalam
air susu manusia banyak Zn terikat dalam sitrat dan daya gunanya lebih tinggi dari Zn yang terikat
oleh protein. Setelah penyerapan dan pemindahan Zn dalam plasma, Zn terikat dalam 3 komponen
yang satu dengan yang lainnya.sebagian diikat oleh albumin, walauoun cukup besar yang terikat
pada antiprotease, α-makroglobulin.

METABOLISME
Di dalam pangkreas seng digunakan untuk membuat enzim pencernaan, yng pda waktu mkan
dikeluarkan ke dalam saluran cerna. Dengan demikaian saluran cerna menerima seng dari dua
sumbar, yaitu dri makanan dan dari cairan pencernan yang kembali ke pngkreas dinmakn
sikrulasi entropangkreatik. Bila di komsumsi seng tinggi, didalam sel dinding saluran cerna
sebagian diubah menjadi metalotionein sebagai simpanan, sehingga absobrsi berkurang. Seperti
halnya dengan besi, bentuk simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang
umurnya adalah 2-5 hari. Metalotionien di dalam hati mengikat seng hingga di butuhkan oleh
tubuh. Metalotionien diduga mempunyai peranan dalam mengatur kandungan seng didalam
cairan intarseluler.

3. YODIUM

Pembentukan dan sekresi tiroglobulin sebagai bahan dasar hormon thyroid dilakukan oleh sel-sel
thyroid. Setiap molekul tiroglobulin mengandung 140 asam amino tirosin, dan tirosin merupakan
substrat utama yang berikatan dengan yodium untuk membentuk hormon thyroid dimana hormon
ini dibentuk dalam molekul tiroglobulin. Oksidase ion yodida adalah langkah penting dalam
pembentukan hormon thyroid yaitu perubahan ion yodida menjadi bentuk yodium teroksidasi
yang kemudian mampu berikatan langsung dengan asam amino tirosin. Proses oksidasi ini
dipermudah oleh enzim peroksidase dan hidrogen peroksida yang menyertainya. Pengikatan
yodium dengan molekul tiroglobulin dinamai organifikasi tiroglobulin. Yodium yang telah
dioksidasi dalam bentuk molekul akan terikat langsung tetapi perlahan-lahan dengan asam amino
tirosin, tetapi bila yodium yang btelah teroksidasi disertai dengan sistem enzim peroksidasi, maka
proses ini dapat terjadi dalam beberapa detik atau menit. Stadium akhir dari yodinasi tirosin
adalah pembentukan dua hormon thyroid yang penting yaitu tiroksin dan triyodotironin. Tirosin
mula-mula dioksidasi menjadi monoyodotironin dan diyodotironin. Dua molekul diyodotironin
bergabung membentuk tiroksin (T4), dan satu molekul diyodotironin bergabung dengan satu
molekul monoyodotironin membentuk triyodotironin (T3).

4. SELENIUM

Selenium berada dalam makanan dalam bentuk selenometionin dan selenosistein. Absorbsi
selenium terjadi pada bagian atas usus halus secara aktif, selenium diangkut oleh albumin dan
alfa-2 globulin. Absorbsi lebih efesien, bila tubuh dalam keadaan kekurangan selenium. Konsumsi
tinggi menyebabkan peningkatan ekresi melalui urin

5. MANGAN

Mekanisme absorpsi mangan hingga sekarang belum diketahui dengan pasti. Seperti halnya
dengan mineral mikro lainnya, faktor makanan mempengaruhi absorpsi mangan. Besi dan kalsium
menghambat absorpsi mangan. Mangan diangkut oleh protein transmanganin dalam plasma.
Setelah diabsorpsi, mangan dalam waktu singkat terlihat dalam empedu dan dikeluarkan melalui
feses. Taraf mangan dalam jaringan diatur oleh oleh sekresi selektif melalui empedu. Pada
penyakit hati, mangan menumpuk dalam hati.

6. FLOUR
Sebagian flour dari makanan atau minuman diserap oleh lambung dan sebagian lagi oleh usus
kecil. Dari 90% F diserap, setengahnya dikeluarkan lagi dan setengah bagian lainnya digunakan
sebagai bagian integral tulang dan gigi. Dengan tidak dipengaruhi oleh jumlah yang dikonsumsi,
kadar flour dalam darah selalu konstan. Hal ini berkat kemampuan ginjal untuk mengaturnya.
Selain dalam darah, F juga terdapat dalam jaringan (lunak), saliva, susu dan darah janin : yang
konsentrasinya leboh rendah.

7. COBALT

Absorbsi terjadi pada bagian atas usus halus mengikuti mekanisme absorbsi besi. Absorbsi
meningkat bila konsumsi besi rendah. Sebanyak 85% ekskresi kobal dilakukan melalui urin,
selebihnya feses dan keringat.

8. TEMBAGA

PENCERNAAN DAN PENYERAPAN

Absorsi sedikit terjadi didalam lambung dan sebagian besar di bagian atas usus halus
secara aktif dan pasif.Absorbsi terjadi dengan alat angkut protein pengikat tembaga
metalotionin yang juga berfungsi dalam absorbsi seng dan kadmium.Tembaga diangkut
keseluruh tubuh oleh seruloplasminin dan transkuprein.Tembaga juga dikeluarkan dari
hati ,sebagai bagian dari empedu.Didalam saluran cerna tembaga dapat diabsorsi
kembali atau dikeluarkan dari tubuh bergantung kebutuhan tubuh.Pengeluaran melalui
empedu meningkat bila terdapat kelebihan tembaga dalam tubuh.

METABOLISME

Dalam plasma darah ,tembaga mula – mula diikat pada albumin dan suatu protein baru
dan dibawa kehati dimana kan mendapat proses :

· Diinkorporasikan ke dalam seruloplasmin dan protein / enzim hati yang spesifik

· Hilang melalui empedu ,seruloplasmin disekresi kedalam plasma disamping


kemungkinan fungsi enzimatiknya ,juga mengangkut tembaga kedalam sel seluruh tubuh

· Sebagian kecil cu diangkut melalui transkuprein dan albumin ; rendahnya berat molekul
dari pool –cu dalam plasma mungkin tidak merupakan sumber Cu seluler yang nyata.

9. KROMIUN

Krom dalam bentuk Cr+++ diabsorbsi sebanyak 10% hingga 25%. Bentuk lain krom hanya
diabsorbsi sebanyak 1%. Mekanisme absorbsi belum diketahui dengan pasti. Absorbsi dibantu
oleh asam-asam amino yang mencegah krom mengendap dalam media alkali usus halus. Jumlah
yang diabsorbsi tetap hingga konsumsi sebanyak 49 ug, setelah itu ekskresi melalui urin
meningkat. Ekskresi melalui urin meningkat oleh konsumsi gula sederhna yang tinggi, aktivitas
fisik berat atau trauma fisik.
Seperti halnya besi, krom diangkut oleh transferin. Bila tingkat kejenuhan transferin tinggi, krom
dapat diangkut oleh albumin.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

1. Mikromineral adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah


sedikit, mineral mikro dibutuhkan dengan jumlah <100 mg per hari.
2. Sumber Mineral Mikro terdiri dari :
· Besi (Fe) : makanan hewani ,seperti daging,ayam dan ikan .Sumber baik lainnya adalah
telur, serealia tumbuk, kacang kacangan, sayuran hijau dan bebebrapa jenis buah
· Seng (Zn) : daging, unggas, telur, ikan, susu, keju, hati, lembaga gandum, ragi, selada,
roti dan kacang-kacangan

· Iodium (I): sayur-sayuran, ikan laut, dan rumput laut

· Selenium (Se) : Makanan hasil laut, daging, hati, serelia, sayuran, sayuran

· Tembaga (Cu) : tiram, kerang, hati, ginjal, kacang-kacangan, unggas, biji-bijian , serelia,
dan cokelat

· Mangan (Mn): Serelia utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, teh.

· Flour : air, makanan laut, tanaman, ikan dan makanan hasil ternak

· Kobalt vitamin B12, B1, dan sayuran berdaun hijau

· Kromium (Cr) : makanan nabati

3. Makro mineral mempunyai fungsi dan peranan tersendiri yang


penting bagi tubuh.
4. Mineral juga dapat menyebabkan dampak negatif
apabilakekurangan dan kelebihan, ini dapat disebabkan dari makanan dan aktifitas yang
terjadi, seperti muntah, diare, dan sebagainya, yang bisa memberikan dampak negatif bagi
tubuh.
B. SARAN
Untuk kelangsungan hidup yang wajar dan sehat hendaknya kita harus memperhatikan
semua hal – hal yang dapat menunjang kesehatan baik dari hal yang besar sampai ke hal
yang sekecil-kecilnya
Diposkan oleh syahriana sabildi 03.37

JENIS PENYAKIT PADA TERNAAK BAABI


BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Peternakan Babi adalah salah satu sumber dari komoditi ekspor yang mempunyai pangsa pasar bagus.
Kebutuhan daging babi di luar negeri sangat tinggi sekali. Cara pemeliharaan ternak babi juga tidaklah
terlalu sulit, namun begitu beberapa penyakit pada babi perlu mendapatkan perhatian serius. Bila ingin
berhasil dalam beternak babi tentunya harus menguasai manajemennya, baik itu perkandangan,
penyakit maupun pemasaran. Pengendalian penyakit adalah salah satu bagian dari manajemen
pemeliharaan ternak babi yang tidak bisa disepelehkan.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan ternak babi dari aspek
manajemen adalah faktor kesehatan atau pengendalian penyakit. Ternak babi sangat peka dan rentan
terhadap penyakit. Penyakit menyebabkan kerugian ekonomi dalam pengertian mortalitas dan
morbiditas laju pertumbuhan, konversi makanan yang buruk, biaya pengobatan meningkat serta
gangguan kontinuitas produksi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang
sering muncul akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian
penyakit.
Para ahli penyakit ternak khususnya ternak babi menyadari bahwa problematika penyakit sangat
bervariasi baik penyebab maupun permasalahannya. Penelitian yang mendalam tentang permasalahan
penyakit pada ternak babi saat ini menghasilkan suatu konsep penanggulangan yang di sebut
multifactorial (penanggulangan dengan berbagai cara berdasarkan banyak faktor).
Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis penyakit yang sering menyerang
ternak babi serta bagaimana cara menanggulanginya (pencegahan dan pengobatan).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Babi
Penyakit pada ternak babi umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit. Selain dari organism
pembawa penyakit, manajemen pemeliharaan yang kurang baik turut berpengaruh pada kesehatan
ternak babi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang sering muncul pada
ternak babi akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit
(Sihombing, 2006).
Penyakit ternak babi ada bermacam-macam jenisnya baik itu penyakit menular maupun penyakit tidak
menular. Penyakit- penyakit tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, dari dalam babi itu sendiri
ataupun faktor dari luar seperti serangan virus dan bakteri. Untuk dapat berhasil dalam ternak babi,
perlu untuk mengendalikan berbagai penyakit yang sering muncul dalam peternakan (Subronto dan
Tjahajati, 2001).
Menurut Dharma dan Putra (1997), terjadinya suatu penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
sangat kompleks. Secara umum terdapat tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu agen penyakit, hospes
dan lingkungan, yang sering disebut sebagai segitiga epidemiologi.
Pencegahan Dan Penanggulangan
Melaksanakan upaya pencegahan penyakit adalah lebih baik daripada membiarkan ternak sakit baru
mengobatinya, karena apabila sampai babi yang dipelihara mengalami sakit, peternak akan rugi tenaga,
waktu dan biaya (Atiyah, 2001).
Pengendalian penyakit pada ternak babi didasarkan pada pengujian dan pemisahan serta pengafkiran
ternak yang terinfeksi (Sihombing, 2006).
Menurut Tarmudji dkk (1988), upaya-upaya pencegahan penyakit secara umum adalah sebagai berikut:

1. Babi yang dipelihara hendaknya berasal dari kelompok babi yang sehat, tidak pernah terjangkit suatu
penyakit;
2. Kandang selalu dibersihkan setiap pagi, sebaiknya sebelum makan diberikan;
3. Kandang tidak becek;
4. Jumlah ternak babi dalam kandang harus sesuai dengan luas kandang;
5. Ransum setiap hari diberikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan ternak babi;
6. Berikan obat cacing dan pencegahan penyakit/vaksin secara teratur;
7. Bila ada kelainan segera hubungi petugas peternakan.

BAB III
PEMBAHASAN
Pada prinsipnya penyakit yang menyerang babi bisa digolongkan menjadi dua:
Penyakit Tak Menular
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency) seperti anemia, bulu rontok,
rachitis, keracunan, dan lain – lain.
Penyakit Menular
Yakni penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus dan parasit) seperti
cacing, kutu, lalat dan lain - lain.
Dibawah ini akan diutarakan beberapa penyakit, baik penyakit menular maupun tak menular yang biasa
menimpa dan merugikan usaha ternak babi.
Anemia (Penyakit Kekurangan Darah)
Penyakit ini banyak dialami oleh babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.
Penyebab:

1. Biasanya kekurangan zat besi dan tembaga, dimana babi tak ada kesempatan mendapatkan
tambahan mineral dari dalam tanah;
2. Babi induk air susunya hanya sedikit mengandung zat besi.

Gejalan:

1. Pucat
2. Diare (mencret)
3. Pertumbuhan terganggu dan kekurangan berat badan
4. Babi banyak berbaring dan buang kotoran disekitar tempat mereka berbaring.

Pencegahan dan Pengobatan:


1. Babi bunting diberi makanan tambahan mineral yang bnayak mengandung zat besi dan tembaga;
2. Anak babi bisa diberi zat besi dan tembaga dengan jalan injeksi: misalnya pigdex, dengan dosis:
untuk anak babi umur 2 - 4 hari 1cc / ekor (tindakan pencegahan), umur 5 - 28 hari 1-2 cc / ekor
dengan cara injeksi intramuscular dibagian pantat (untuk tindakan penyembuhan).

Catatan:

1. Anemia yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba;


2. Sedangkan yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret).

Agalactia
Penyakit ini adalah penyakit babi induk yang habis melahirkan dimana mengalami kegagalan didalam
mengeluarkan atau memproduksi air susu.
Penyebab:

1. Oleh Eshericho coli


2. Karena keracunan didalam usus akibat kontaminasi (tak biasa buang kotoran), yang kemudian terus
diikuti dengan hilangnya nabsu makan dan kadang-kadang panas guna mengatasi konstipasi bisa
diberi obat peluncur, misalnya: garam inggris
3. Akibat peradangan pada uterus (metritis). Ternak yang bersangkutan sakit kehilangan nabsu makan
temperatur tubuh naik: 106° F yang normal 102° F – 103°F. Dari vulva keluar cairan yang berwarna
kemerahan atau kekuningan. Peradangan uterus ini biasanya diikuti peradangan ambing (mastitis)
mengakibatkan kegagalan air susu (Agalactia), maka penyakit ini juga disebut MMA Complek
(Mastitis Metritis Agalactia Complek).

Gejala Umum:

1. Gejala pertama biasanya nampak 3 hari sesudah melahirkan, walaupun sering dapat terlihat belum
melahirkan atau sebelum anak-anak disapih ;
2. Temperatur 103°F – 106°F ;
3. Babi tak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali ;
4. Dari vagina keluar nanah (pus) berwarna keputihan atau kekuning-kuningan ;
5. Anak babi mencret;
6. Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi kelaparan

Pencegahan dan Pengobatan:

1. Makanan baik, dan kebersihan harus terjamin


2. Untuk menghindarkan konstipasi, babi bisa diberi obat peluncur, atau cairan gula (gula tebu) 6-10%,
pada ransum, garam inggris.
3. Pengobatan dengan injeksi antibiotik (penicilin, penstrep, terramycin, sulmet)

Catatan:

1. Untuk menstimulir air susu bisa diberi suntikan dengan Oxytocin 5-10 I.U dan 25 mg stillbestrol;
2. Peristiwa ini akan menimpa semua anak babi yang melahirkan . oleh karena itu anak babi harus
diberi susu extra.
Rheumatik
Penyebab:

1. Babi kurang mendapat sinar matahari, adanya udara lembab, dan ventilasi yang kurang sempurna
merupakan penyebab faktor yang penting.
2. Makanan serba kurang baik
3. Ternak sering menderita Erysipelas

Gejala:

1. Napsu makan berkurang dan kehilangan berat badan


2. Konstipasi, dan air kencing agak menjadi keruh.
3. Sering menunjukkan gejala dimana babi selalu berbaring dan berteriak bila ditekan urat-urat
sepanjang tulang belakang.

Pencegahan dan Pengobatan:

1. Ransum harus baik, lebih-lebih vitamin A dan D haris cukup.


2. Kandang bersih, hangat dan kering
3. Pengobatan dengan penicilin injeksi dan sulfa

Scours (Mencret)
Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis yang ditandai adanya peradangan usus, scours banyak
menyerang anak babi atau babi – babi muda.
Penyebab:
Untuk mengetahui penyebab dan gejalanya secara khusus sangat sulit, karena sebenarnya scour itu ada
berbagai tipe yang masing - masing penyebabnya tak sama. Akan tetapi perlu diketahui bahwa yang
mempercepat scours atau enteritis ini adalah karena sanitasi kurang diperhatikan, kelembaban udara,
kedinginan, alas kandang kurang, makanan yang tak memenuhi syarat, kurang zat besi (anemia), stress.
Tipe-Tipe Scours atau Enteritis:

1. Non Infectious Enteritis, jenis penyakit ini pertama-tama timbul akibat makanan yang tak menjamin,
terutama kekurangan vitamin B, yang mengakibatkan scours. Walaupun scours ini tak berinfeksi
(Non Infectious Scours) tetapi sangat mengurangi daya tahan tubuh yang akhirnya mudah kena
infeksi enteritis dan penyakit lain.
2. Infectious Enteritis

- Nonspectious Enteritis disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (tak khusus oleh salah satu bakteri),
yang sudah berjangkit akibat stress.
- Necrotic Enteritissering disebut necro yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.
a) Banyak menyerang babi umur 2-6 bulan
b) Kotoran berbau busuk, dan berwarna agak hitam keabuan
c) Kotoran sering bercampur jaringan2 usus yang telah lepas.

3. Desentri yakni scours yang berinfeksi parah. Kadang - kadang penyakit ini
disebut bloody atau black scours, yang disebabkan oleh bakteri vibrio dan bisa dari bakteri lain
(salmonella bakteri). Bakteri ini mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau
menimbulkan kematian.
4. Transmisible Gastro Enteritis (T.G.E) yakni penyakit Enteritis yang disebabkan oleh virus. Babi
disegala umur bisa diserang TGE pada babi muda kematian akibat TGE bisa mencapai 100%.

Pencegahan dan pengobatan:


a) Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (lysol, creolin) untuk menyemprot dan
kandang selalu kering.
b) Terhadap anak babi, hendaknya selalu diberi alas lantai dari rumput, brambut, serbuk gergaji, dsb,
yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.
c) Makanan diberi TM 10 dengan dosis 5-10 gram per 100 kg ransum, atau Aureomycin
d) Pengobatan dengan:
- Sulmet injeksi; Aureomycin Soluble Powder pada air minum.
- Aureomycin selama 15 hari ( dosis biasanya ada petunjuk dari perusahaan)
- Antibiotic lainnya (Penstrep, Penisilin, Terramycin, Sul-Q-Nox, Noxal)
Catatan:
a) Stress: ialah tekanan jiwa pada diri ternak yang sangat merugikan akibat terkejut diperjalanan
(transport), kedinginan, penyapihan, kastrasi, vaksinasi, pergantian udara, atau pergantian makanan
yang mendadak.
b) Dosis Aureomycin:
- Pencegahan: 1 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 8 liter air minum.
- Penyembuhan: 2 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 4 liter air minum.
White Scours (Mencret Putih)
Penyebab:
- Bakteri Escherichia Coli. Bakteri ini bisa masuk lewat tali pusat yang sakit (infeksi). Dan biasanya babi
kecil mudah menderita mencret putih akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek,
dsb. Atau anak babi terlampau banyak menyusu.
Gejala:

1. Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.


2. Tak mau menyusu terhadap induk dan nampak sangat lemah.
3. Kepala ditundukkan

Pencegahan dan Pengobatan:

1. Kandang diusahakan selalu kering dan hangat, lantai diberi alas dan sering ganti, tidak sampai
menjadi kotor ataupun basah akibat air kencing
2. Makanan diberi tambahan aureomycin, TM 10.

Catatan:
- White Scours biasanya diikuti penyakit Anemia, TGE, Necro, Desentri dan penyakit lainnya.

Cholera
Penyebab: Virus
Gejala:

1. Temperatur tubuh naik 104-1080F.


2. Napsu makan hilang dan lemah, sehingga tak mau makan tetapi minum cukup banyak
3. Terhuyung-huyung
4. Pada tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.
5. Kadang- kadang seperti kedinginan yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berimpitan.

Pencegahan dan pengobatan:


Vaksinasi dengan Serum Anti Cholera Babi atau Rovac Hog Cholera. Sesudah babi berumur 6 minggu,
diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedangkan
pejantan bisa sewaktu-waktu.

Brucellosis ( Keguguran Menular)


Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testis).
Penyebab: Bakteri Brusella Suis
Gejala:

1. Keguguran, anak mati didalam kandungan atau sangat lemah.


2. Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen; kadang2 lumpuh
pada kaki belakang; jantan ada gejala radang testis.

Pencegahan dan Pengobatan:

1. Sanitasi
2. Belilah bibit yang bebas dari penyakit Brucellosis
3. Vaksinasi
4. Obat belum diketemukan

Pneumonia (Penyakit Radang Paru-Paru)


Suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang, termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50-
70% ternak babi akan mati.
Penyebab: Mikroorganisme, Virus, cacing paru-paru (lungworms
Gejala:

1. Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasan cepat dan dangkal.


2. Kaki nampak terbuka lebar.
3. Konstipasi
4. Nafsu makan hilang
5. Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering
6. Kulit dan bulu kasar, kering.

Pencegahan dan pengobatan:

1. Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan didalam kandang dan sekelilingnya.


2. Ternak babi yang sakit ditempatkan di tempat yang bersih, dan tak berangin
3. Makanan yang mudah dicerna dan diberi Aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat
stress
4. Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi; agribon (mengandung sulfadimethoxine, vitamin
A dan K)
Catatan:
Dosis Agribon: 1 gr agribon per 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 per 50 kg berat badan setiap hari
selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.
Erysipelas
Penyebab: Erysipelothrix insidiosa, bakteri ini sering terdapat pada usus kelenjar leher, radang empedu.
Gejala:
Gejala penyakit ini ada 3 fase.

1. Akut

a) Menyerupai babi yang menderita cholera


b) Temperatur tubuh tinggi (40oC)
c) Ternak babi menyendiri dan selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan bila didekati merasa
terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan
d) Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh atau kadang – kadang lumpuh.
e) Nafsu makan turun atau tak makan sama sekali
f) Kotoran keras, dan bagi babi muda encer
g) Kulit (diamond skin) nampak pada hari ke 2-3 sesudah inkubasi, yakni kulit luka kecil, berwarna merah
muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya pada bahu, samping tubuh dan perut
h) Sering mendengkur, karena hidung bengkak
i) Diikuti dengan kematian yang tiba-tiba.

2. Sub Akut

a) Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila dibandingkan dengan yang akut.
b) Temperatur tubuh tak begitu tinggi, dan nafsu makan masih normal.
c) Beberapa luka nampak seperti segi empat, apabila mengering, pada telinga, ekor, bisa mengelupas.
d) Bila tak berkomplikasi, biasanya sembuh.

3. Kronis

Yang kronis biasanya mendapat serangan lokal seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki
belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
Pencegahan dan Pengobatan:
a) Karena organisme itu dapat menyebar didalam tanah ataupun pada ternak, maka agak sulit dilakukan
pencegahan.
b) Bila ada ternak babi yang menderita serangan penyakit tersebut, harus segera di isolasi.
c) Obati dengan Serum Erysipelas (Susserin), injeksi subcutaneous atau intrapenous. Dosis tergantung
berat badan, 10-40 cc atau lebih.
d) Bisa diberi sulfa, penicilin, streptomycin.
Penyakit Mulut dan Kuku (Apthae Epizootticae)
Penyebab: Virus (cepat menular)
Gejala:

1. Nampak perubahan pada mulut dan kuku


2. Selaput lendir dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi
cairan kuning sesudah 2-3 hari.
3. Sering keluar ludah seperti benang bercampur lendir atau berbuih.
4. Timbul luka-luka diantara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.
5. Kadang - kadang pada ambing timbul luka dan lepuh juga
6. Temperatur tubuh naik dan napsu makan hilang.

Pencegahan dan pengobatan:

1. Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, didesinfektir (cairan caustic soda 2%)
2. Ternak yang mati akibat AE harus ditanam
3. Vaksinasi setahun sekali
4. Obat antibiotic (penicilin powder); obat khusus belum diketahui.

Penyakit Cacing Bulat (Ascarids)


Banyak menyerang babi-babi muda hingga mengakibatkan kematian.
Gejala:

1. Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.


2. Pertumbuhan sangat lambat
3. Anak babi menjadi kurus dan perut buncit
4. Mencret dan napsu makan berkurang
5. Selaput mata pucat.

Pencegahan dan Pengobatan

1. Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (lysol, kreolin, yodofoor)


2. Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas ditempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi
dewasa.
3. Pengobatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan: biasanya ada
keterangan dari perusahaan.

Scabies (Kudis)
Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babi yang kekurangan zat-zat
makanan yang diperlukan.
Penyebab:
Semacam kutu kecil, yang tak terlihat oleh mata.
Gejala:

1. Nafsu makan ternak babi menurun, sehingga pertumbuhan kurang normal.


2. Timbul suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.
3. Permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal; keras, kencang dan kulit berkerut (melipat).

Pencegahan dan Pengobatan:

1. Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tak menular kepada yang lain.
2. Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektan dengan lysol, kreolin, dan lain - lain. Sebab
walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak
kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.
3. Pengobatan dengan Scabisix, dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh. Dosis 10cc Scabisix
dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tak boleh dipakai).

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Salah satu penyebab kegagalan dalam berternak babi yang sangat dirasakan peternak adalah masalah
kesehatan atau penyakit. Penyakit menyebabkan kerugian ekonomis dalam pengertian mortalitas dan
morbiditas laju pertumbuhan dan konversi makanan yang buruk, biaya pengobatan meningkat dan
gangguan kontinuitas produksi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang
sering muncul akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian
penyakit.

Sumber Dari: http://dodymisa.blogspot.com/2015/06/manajemen-penanggulangan-penyakit-


pada.html#ixzz4Jp3SzThH

Mencegah lebih baik daripada mengobati”

Kalimat di atas bukan hanya berupa slogan saja, tetapi benar adanya karena dengan
mengupayakan pencegahan maka secara otomatis ternak itik akan sehat. Dengan demikian, biaya
yang dikeluarkan tidak akan sia-sia dan usaha produksi peternakan pun dapat memberikan
keuntungan sesuai dengan harapan. Berbagai cara pengendalian dilakukan antara lain dengan cara
pemeliharaan kesehatan dan kebersihan lingkungan peternakan maupun vaksinasi terhadap
penyakit tertentu yang sulit diobati.

Walaupun ternak itik tahan terhadap berbagai penyakit tetapi pengetahuan dan keterampilan
peternak dalam mendiagnosa atau menentukan jenis penyakit pada ternak itik perlu
dimiliki. Adapun kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki peternak antara lain seperti
berikut :

1. Peternak dapat membedakan penampilan itik yang sehat dan itik yang sakit.
2. Dapat mengenali bagian tubuh itik yang mengalami kelainan.
3. Dapat menentukan langkah-langkah pertolongan pertama yang perlu segera dilakukan.
4. Dapat membedakan penampilan tinja (kotoran itik) yang normal dan tinja itik yang sakit.
5. Mengetahui tempat untuk berkonsultasi bila terjadi gangguan penyakit pada ternak
peliharaannya.
6. Mampu menyiapkan informasi sebagai bahan konsultasi sehingga memudahkan dan
mengarahkan dugaan jenis penyakit sebelum dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Jenis Penyakit Pada Ternak Itik


Pada dasarnya penyakit yang menyerang ternak itik dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu :
Penyakit tidak menular dan Penyakit menular.

A. Penyakit Tidak menular


Penyakit ini disebabkan oleh buruknya tata laksana pemeliharaan seperti keracunan, pemeliharaan
kesehatan dan kebersihan yang buruk, kekurangan vitamin dan mineral dan lain-lain.

1. Stress (cekaman)
Stress atau cekaman pada itik bisa disebabkan oleh berbagai faktor pengganggu yang secara
langsung mempengaruhi fisiologi tubuh itik, misalya kebisingan, kurang kebebasan bermain dekat
air, berpindah-pindah tempat, pertukaran pakan dan lain sebagainya.
Obat untuk menanggulangi stress belum ada. Yang dapat dilakukan peternak adalah menghidari
segala gangguan yang dapat menimbulkan stress yaitu dengan cara memelihara lingkungan dan
menjaga kebersihan lingkungan peternakan.

2. Kekurangan Vitamin A
Pakan yang tidak cukup mengandung vitamin A dapat menyebabkan kekurangan vitamin A pada
ternak itik dan akhirnya mengganggu pertumbuhan. Tanda-tanda itik yang kekurangan vitamin A
adalah : itik akan tampak selalu mengantuk, kondisi kaki lemah, mata tertimbun lendir warna putih
dan mudah terkena infeksi. Pada itik umur sekitar 4 minggu itik yang kekurangan vitamin A terlihat
selaput matanya menebal dan kering, air mata keluar berlebihan, bagian bawah mata tertimbun
cairan lendir. Sedang pada itik dewasa, kekurangan vitamin A mengakibatkan penurunan produksi
telur, tubuh mengurus dan lemah.
Jagung kuning merupakan sumber vitamin A yang sangat diperlukan dalam komposisi pakan itik.
Penyakit kekurangan (defisiensi) vitamin A umumnya terjadi karena peternak mengganti jagung
kuning dengan jagung putih yang miskin vitamin A.

3. Brooder Pneumonia
Penyakit brooder pneumonia umumnya menyerang anak itik yang masih memiliki bulu-bulu halus.
Penyakit ini disebabkan oleh karena kotak atau pelingkar tripleks/seng terlalu padat, lampu
pemanas untuk induk buatan kurang panas sehingga anak itik kedinginan dan merasa pengap.
Tanda-tanda anak itik terserang penyakit ini adalah pembengkakan di kepala, pernapasan terlihat
sulit dan mata selalu mengeluarkan air.
Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan mengontrol kapasitas kotak atau
pelingkar dan mengontrol panas induk buatan. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian
satu sendok teh baking soda dalam satu quart (1,136 liter) air minum selama 12 jam untuk
mengurangi penyebaran penyakit.
4.Rickets Duck (kekurangan vitamin D)
Kekurangan vitamin D yang disertai kekurangan Calsium dan Fosfor dapat menimbulkan penyakit
tulang yang menyebabkan kelumpuhan pada itik. Penyakit ini biasanya dinamakan “Rickets duck”.
Itik yang terserang penyakit ini akan mengalami penyimpangan dan kelainan pada persendian
kakinya.
Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan pakan yang cukup mengandung mineral calsium,
fosfor da vitamin D. Ke dalam ransum itik harus ditambahkan 2% tepung tulang dan itik harus
mendapat sinar matahari langsung.

5. Antibiotika Dermatitis
Penyakit ini terjadi pada itik karena penggunaan obat-obatan yang mengandung antibiotika secara
berlebihan.
Akibatnya kulit itik menjadi kering , bulu rontok dan mudah patah, itik selalu gelisa karena gatal-
gatal pada kulitnya.
Pencegahan terhadap penyakit ini adalah dengan menggunakan antibiotika seperlunya.
Penghentian pemberian antibiotika serta pemberian “laxative” (obat pencahar) ringan seperti
“molasses” dapat memulihkan kondisi ternak itik yang menderita dalam 4 – 6 hari.

6. Mycosis
Penyakit mycosis pada itik terjadi karena itik secara tidak sengaja mengkonsumsi pakan yang sudah
basi atau jamur yang tumbuh di lantai (litter) kandang. Itik yang keracunan jamur terlihat lesu,
nafsu makan berkurang dan dalam beberapa hari berat badan merosot tajam. Bila tidak diketahui,
itik akan mati dalam waktu seminggu.
Pencegahan dapat dilakukan dengan pemeliharaan kesehatan dan kebersihan kandang yang baik.
Lantai kandang secara berkala dijemur dan diusahakan tidak lembab dan diberi kapur terutama
pada musim hujan.
Pengobatan penyakit mycosis karena jamur bisa dilakukan dengan memberi antibiotika yang
dicampurkan ke dalam air minum atau pakan itik.

7. Botulism
Penyakit botulism (limberneck) pada umumnya terjadi karena itik makan bangkai. Misalnya
pemberian makanan daging bekicot yang sudah layu. Bangkai yang sudah berulat mengandung
kuman yang berbahaya yaitu “clastrididium botulinium”. Kuman tersebut memproduksi racun.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah leher itik seperti tidak bertulang, tidak tegap
atau lunglai setelah itik memakan bangkai 1 – 3 hari. Beberapa jam kemudian setelah leher lunglai
mengakibatkan kematian.
Pencegahan dilakukan dengan memelihara kesehatan lingkungan yang baik dan tidak memberi
pakan yang sudah basi (bangkai). Bila masih memungkinkan ternak itik yang sakit dapat diberikan
obat-obatan pencahar agar itik mencret dan kuman beserta racunnya dapat ikut keluar dari
saluran pencernaan.
Pengobatan secara tradisional yang dapat membantu menyembuhkan yaitu dengan memberikan
minyak kelapa satu sendok makan dan air minum yang bersih. Minyak kelapa akan membuat itik
haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya. Jika itik banyak minum, racun dalam darah itik akan
encer dan daya kerjanya berkurang, dengan demikian angka kematian dapat dihindari.

8. Keracunan Garam
Penyakit keracunan garam umumnya terjadi bila air itik atau kolam air mengandung kadar garam
yang tinggi, juga bila bahan baku pakan tertentu mengandung kadar garam yang tinggi.
Keracunan garam pada itik lebih sering terjadi di lokasi peternakan dekat pantai/tambak yang
airnya tercemar garam.
Ternak itik tidak tahan terhdap garam yang berlebihan, konsentrasi 2% saja dalam ransum atau
4.000 ppm dalam air minum dapat menimbulkan kematian terhadap ternak itik.

B. Penyakit Menular
Penyakit menular pada itik merupakan penyakit yang disebabkan oleh : virus, bakteri atau kuman
yang dapat ditularkan melalui kontak langsung atau melalui udara.

1. Fowl Cholera (kolera itik)


Penyakit ini disebabkan oleh bakteri “Pasteurella Avicia”. Kandang yang basah serta lembab dapat
mempercepat penularan. Penyakit yang menyerang anak itik umur 4 minggu dapat menimbulkan
kematian hingga 50%, sedangkan pada itik dewasa dapat menimbulkan kematian kurang dari 50%.
Gejala penyakit ini adalah : sesak nafas, pial bengkak dan panas, jalan sempoyongan. Itik yang
terserang penyakit kolera yang akut akan meratap dan mengeluarkan suara yang nyaring dan
keluar dari kelompoknya.
Keganasan penyakit ini dapat menyebabkan infeksi darah dan itik akan mengalami kematian secara
mendadak.
Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi Fowl Cholera. Pengobatan bagi itik yang terserang
pada tingkat awal dapat digunakan obat Choramphenicol, Tetracycline atau Preparat-preparat
Sulfat.

2.Fowl Pox (Cacar)


Penyakit cacar ini menyerang itik pada segala umur dan penyebabnya adalah virus. Tanda-tanda
penyakit ini adalah dengan munculnya benjolan-benjolan pada bagian badan itik yang tidak
tertutupp bulu seperti kaki dan kepala. Penyakit cacar basah menyerang rongga mulut dan bentuk
“diptherie” dan kematian terjadi karena itik kesulitan makan dan minum.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksinasi yang disuntikan dibalik sayap itik. Pengobatan
cacar kering berupa benjolan-benjolan dapat dilakukan dengan jalan mengelupasi benjolan-
benjolan sampai berdarah kemudian diolesi dengan yodium tingture (6-10%).

3. White Eye (Mata Memutih)


Penyakit yang diduga disebabkan oleh virus ini menyerang itik pada segala umur dan yang paling
peka adalah itik umur
kurang dari 2 bulan. Biasanya itik yang kurang vitamin A mudah terserang penyakit ini. Kandang
yang lembab dan lantai (litter) yang basah juga memudahkan itik terserang penyakit ini.
Tanda-tanda anak itik yang terserang penyakit ini adalah : cairan putih bening keluar dari mata dan
paruh, kotoran yang bening dalam beberapa jam berubah menjadi kekuning-kuningan, itik sulit
bernafas, lemah dan akhirnya lumpuh. Bila sampai kejang-kejang, kematian tak bisa dihindari.
Pencegahan dan pengobatan bisa dilakukan daengan antibiotika yang dicampur air minum atau
pakan. Antibiotika yang
sering digunakan adalah Oxytetracycline (terramycin) atau Chlortetracycline (aureomycins) dengan
dosis 10 gram per 100 kg pakan atau 10 gram dalam 40 gallon air minum akan membantu
mengontrol penyakit white Eye.

4. Coccidiosis
Coccidiosis adalah penyakit berak darah yang juga menyerang itik, gejala itik yang terserang
penyakit ini adalah kurang nafsu makan, berat badan menurun drastis dan akhirnya lumpuh.
Penularan melalui kotoran itik yang membawa coccida dan terjadi relatif cepat pada itik segala
umur, tetapi yang banyak terserang adalah anak itik.

5. Coryza
Penyakit coryza disebut juga penyakit pilek menular. Penyebabnya adalah semacam mircro
organisme. Penyakit ini biasanya terjadi pada awal pergantian musim. Penularannya sangat cepat
yaitu melalui kontak langsung antara itik yang sakit dan itik yang sehat.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit pilek menular adalah keluarnya kotoran cair kental dari
mata. Jadi penyakit ini mirip dengan penyakit White Eye. Anak itik umur 1 minggu sampai umur 2
bulan, merupakan itik yang sering terserang penyakit ini. Akan tetapi itik dewasa pun dapat pula
terserang wabah penyakit coryza ini.
Pengobatan yang paling efesien adalah dengan menyuntikan “Streptomycin Sulphat” secara
individual dengan dosis 0,4 gram rendah dengan patokan berat badannya. Penyuntikan dapat
dilakukan sekali dalam sehari selama beberapa hari dengan dosis streptomycin setengah dari dosis
di atas.
6. Salmonellosis
Penyakit salmonellosis menyerang itik pada segala umur dan dapat menyebabkan angka kematian
hingga 50%. Penyebabnya adalah kuman “Salmonella Anatis”, melalui perantaraan lalat atau
makanan atau minuman yang tercemar kuman tersebut.
Pencegahan, dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan dan kebersihan kandang dan secara
berkala dilakukan pembersihan kandang agar kandang terbebas dari kuman salmonella.
Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan “Furazolidone”.

7. Sinusitis
Penyakit sinusitis dapat menyerang itik dewasa sehingga dapat menyebabkan kerugian yang tidak
sedikit. Penyakit ini dikarenakan tata laksana pemeliharaan yang buruk, kekurangan mineral dalam
pakan dan tidak tersedianya kolam untuk bermain. Akibatnya itik menjadi renta mendapat infeksi
sekunder.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah : terjadi pembengkakan sinus, dari lubang
hidung keluar cairan jernih, sekresi mata menjadi berbuih, sinus yang membengkak menimbulkan
benjolan di bawah dan didepan mata.
Pencegahan dapat dilakukan dengan tata laksana pemeliharaan yang baik. Pengobatan bagi iti
yang sakit, adalah dengan menyuntikan antibiotika (streptomycin) ke dalam sinus yang sakit. Dosis
pada itik dewasa adalah sebanyak 0,5 gram streptomycin yang dilarutkan ke dalam 20 cc aquadest.
Larutan ini disuntikan ke dalam sinus. Untuk pengobatan yang lebih mudah, dosisnya dikurangi.
Pengobatan seperti ini dilakukan sekali dalam 48 jam.

8.Aflatoksikosis
Aflatoksikosis yang menyerang itik pada umumnya disebabkan oleh “Aflatoksin” yang dihasilkan
oleh “Asperqillus Flavus”. Aflatoksin menyerang hati, sehingga itik yang terserang penyakit ini
hatinya membersar.
Tanda-tanda itik yang terserang penyakit ini adalah : kondisi sangat lemah, terjadi pendarahan di
bawah kulit dan jari, terhuyun-huyun, akhirnya mati dalam posisi terlentang. Anak itik lebih muda
terserang penyakit ini dibanding dengan itik dewasa.
Pencegahan bisa dilakukan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kandang, penaburan
kapur di lantai kandang, pembersihan kandang agar terbebas dari serangga. Pengobatan hanya
dapat diusahakan dengan memberikan antibiotika yang dicampurkan dalam air minum atau pakan.

Demikianlah beberapa jenis penyakit yang dapat menyerang ternak itik serta cara pencegahan dan
cara mengobati, semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi para peternak, sekian dan
terima kasih.
Oleh : Eniza Saleh

Salam sukses!

https://far71.wordpress.com/2011/05/22/pencegahan-penyakit-itik/

Cara Mencegah Berbagai Penyakit Ayam Kampung

Masalah serius dari peternakan ayam kampung adalah timbulnya berbagai penyakit. Seiring dengan
musim kemarau yang berkempanjangan tentu akan menimbulkan berbagai penyakit pula. Untuk itu
langkah terbaik dalam beternak ayam adalah mencegah berbagai penyakit ayam. Dengan mencegah
akan lebih baik dari pada mengobati bukan?

Banyak penyakit datang dari fasilitas kandang yang kurang baik. Untuk itu langkah mencegah datangnya
penyakit adalah sanitasi atau kebersihan kandang itu sendiri. Dengan begitu ancaman dari virus dan
bakteri yang merugikan semakin ditekan sehingga penyakit dapat dihindari. Adapun cara mencegah
penyakit pada ayam kampung adalah sebagai berikut :

1. Berilah abu atau bahan lain yang dapat menyerap air dari
kotoran ayam. Letakkan dimana terdapat penumpukan kotoran ayam. Biasanya di bawah tempat
bertengger atau di bawah sarang bertelur. Cara ini dilakukan dengan maksud mengurangi kelembaban
atau air pada kotoran. Sehingga virus dan bakteri tidak akan berkembang. Bahan lain yang dapat
digunakan adalah kapur atau gamping (bahasa jawa). Bila ingin dijadikan kompos taruh kulit padi atau
gabah (bahasa jawa). Usahakan lantai atau litter dalam keadaan kering.
2. Di dalam kandang usahakan udara dapat keluar masuk dengan bebas.
Artinya usahakan kandang memiliki ventilasi atau saluran udara yang cukup. Dengan demikian udara
atau bahkan penyakit dapat bersirkulasi dengan baik. Cara ini dimaksudkan untuk ayam mendapat udara
yang selalu baru dan dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit. Kandang yang terlalu tertutup atau
bahkan redup akibat kurangnya udara dan cahaya yang cukup mengakibatkan ayam kurang nafsu
makan.

3. Gantilah air setiap paling lama 2-3 hari 1X.


Air harus dalam keadaan yang bersih dan bebas dari tanah atau kotoran ayam. Biasanya untuk kandang
model litter akan rawan terhadap air kotor. Jadi pastikan air selalu diganti. Air yang bersih mengurangi
tersumbatnya hidung ayam karena biasanya ayam akan mencelupkan paruhnya sampai ke hidungnya.
Dengan begitu penyakit dapat dicegah terutama untuk pernapasan.
4. Sarang bertelur (induk) bisanya adalah tempat yang selalu kotor.
Terutama setelah menetas, biasanya akan timbul hewan kecil seperti mreki (bahasa jawa). Untuk itu
sarang hanya 1x pakai, bakar sarang tersebut dan ganti dengan yang baru. Tidak hanya itu, sarang
bertelur yang pada umumnya lembab akan muncul nyamuk yang juga bersarang di bawahnya.
Semprotlah dengan desinfektan atau air daun sirih untuk pencegahan timbulnya penyakit.

5. Pisahkan ayam yang sakit atau isolasikan ke tempat yang jauh dari ayam-ayam sehat.
Dengan mengisolasi ayam yang sakit akan memutus rantai penularan bibit penyakit ayam. Ayam yang
sakit biasanya akan berakibat dengan perkembangannya. Untuk itu cara penanggulangannya adalah
mengobati dan memacu pertumbuhannya. Dengan kata lain saat ayam yang sakit kita pisahkan langkah
yang kita lakukan adalah mengobati penyakit dan memacu dari pakan agar mengejar pertumbuhan dari
ayam-ayam yang sehat.
6. Jangan membeli ayam yang sakit!
Ayam yang sakit biasanya didapat dari hasil transportasi atau dari penjual ayam. Untuk itu bila terlanjur
dibeli usahakan jangan ditaruh di kandang dahulu. Isolasikan setiap ayam baru sebelum ditaruh di
kandang bersama ayam lama meski berada di kandang yang berbeda. Dengan adanya ayam baru yang
sakit merupakan langkah awal munculnya penyakit.

7. Karakter asli ayam kampung adalah mengais atau menceker-ceker tanah dengan kakinya.
Dengan begitu kaki ayam menjadi rawan tercemarnya penyakit. Banyak penyakit dimulai dari kaki kotor
seperti bubul ayam. Bila kaki ayam kotor atau sakit bubul ayam semprotlah dengan air garam dan
bawang putih. Tapi ingat, jangan langsung di goreng ya! :D
8. Cegah datangnya penyakit dengan menghindari tergenangnya air di kandang ayam.
Air yang menggenang atau kelembaban yang berlebih dapat menjadi sarang berbagai penyakit atau
nyamuk yang dapat merugikan ayam di dalam kandang. Kelembaban di dalam kandang yang berlebih
mengakibatkan ayam kurang bergerak lincah dan ayam hanya merenung.

9. Kubur ayam yang mati.


Biasanya malah di bakar, tapi menurut kami ayam yang dibakar menjadi pembawa atau penyebar
penyakit karena udara yang dihasilkan dari pembakaran ayam yang mati. Dengan mengubur ayam maka
tidak akan menimbulkan penyakit namun malah kebalikannya yaitu sebagai pupuk. Kuburlah ayam yang
mati di sekitar pohon seperti pisang dan lainnya.

10. Usahakan membersihkan kandang ayam setiap hari.


Sapulah kotoran ayam dengan sapu lidi dan pinggirkan kotoran ayam. Kotoran yang menumpuk di
kandang akan menyebabkan bau yang menyengat dan hidupnya bibit penyakit.
11. Berilah tanaman sebagai penyejuk di sekitar kandang.
Ada banyak pilihan yang dapat kita gunakan. Misalnya tanaman anti serangga, dan lainnya. Dengan cara
ini dimaksudkan memberi sejuk kandang dan menyerap bibit penyakit. Tanaman ditempatkan di pinggir
kandang dan usahakan tanaman yang ada di kandang adalah tanaman yang apabila dimakan ayam akan
aman. Seperti sifat ayam yang akan memakan dedaunan di sekitarnya.

12. Pisahkan antara tempat bertengger/nangkring dari tempat bertelur.


Jika sarang bertelur dekat dengan tempat bertengger maka kotoran akan jatuh pada sarang ayam yang
dapat merugikan ayam terutama telur yang dierami tersebut.

Selain cara tersebut di atas masih banyak lagi cara untuk mencegah datangnya penyakit ayam. Di
antaranya adalah :
a. Semprotlah sekitar kandang pada siang hari untuk mengurangi panas yang berlebih yang dapat
menyebabkan stress pada ayam
b. Berilah pakan yang selalu baru. Pakan yang terlalu lama dapat menimbulkan tumbuhnya jamur dan
hewan merugikan lain
c. Bersihkan tempat pakan sebelum memberi atau menghidangkan pakan
d. Berilah sarapan pagi yang hangat untuk menghangatkan badan.
e. Berilah kunyit sebagai jamu dan berbagai obat herbal atau jamu alami lainnya.

Sekiranya kurang lebih seperti itu untuk cara mencegah penyakit ayam kampung. Dengan mencegah
maka ternakan ayam kita akan nyaman. Salam sukses!

ARTIKEL TERKAIT
http://korek12.blogspot.co.id/2013/01/cara-mencegah-berbagai-penyakit-ayam.html

METABOLISME ZAT-ZAT MAKANAN PADA TERNAK RUMINANSIA

METABOLISME ZAT-ZAT MAKANAN PADA


TERNAK RUMINANSIA

Pencernaan adalah serangkaian proses yang terjadi di dalam alat pencernaan ( tractus
digestivus ) ternak sampai memungkinkan terjadinya penyerapan. Proses pencernaan tersebut
merupakan suatu perubahan fisik dan kimia yang dialami oleh bahan makanan dalam alat pencernaan.
Pencernaan pada ternak ruminansia merupakan proses yang sangat komplek yang melibatkan interaksi
dinamis antar pakan, populasi mikroba dan ternak itu sendiri.
Berdasarkan perubahan yang terjadi pada bahan makanan dalam alat pencernaan, proses
pencernaan dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu : pencernaan mekanis, pencernaan fermentatif dan
pencernaan hidrolitik. Makanan yang masuk dalam mulut ternak ruminansia akan mengalami proses
pengunyahan/pemotongan secara mekanis sehingga membentuk bolus. Dalam proses ini makanan akan
bercampur dengan saliva, lalu masuk ke dalam rumen melalui oesofagus untuk selanjutnya mengalami
proses pencernaan fermentatif. Di dalam rumen bolus-bolus tadi akan dicerna oleh enzim yang
dihasilkan oleh mikroorganisme. Selama dalam rumen makanan yang kasar akan dipecah lagi dimulut
(ruminasi), kemudian masuk lagi melalui reticulum, omasum dan abomasum. Hasil fermentasi di rumen
tadi tadi diserap oleh usus halus (proses pencernaan hidrolitik) yang selanjutnya masuk dalam sistem
peredaran darah
Saluran pencernaan pada ternak ruminansia dibagi atas 4 bagian yaitu mulut, perut atau
lambung, usus halus, dan organ pencernaan bagian belakang. Perut atau lambung dibagi lagi jadi
menjadi 4 bagian yaitu reticulum, rumen, omasum dan abomasum. Reticulum dan rumen tidak terpisah
sempurna sehingga dipandang sebagai satu kesatuan yang disebut reticulorumen. Dalam reticulorumen
terdapat sejumlah mikroba yang cukup banyak. Omasum fungsinya belum jelas, tetapi pada omasum
tersebut terjadi penyerapan air, amonia dan VFA dan diduga juga dapat memproduksi VFA dan amonia.
Abomasum fungsinya sama dengan perut atau lambung pada ternak monogastrik.
Tahapan proses pencernaan pada ternak ruminansia dibagi menjadi dua bahagian yaitu 1)
proses pencernaan yang terjadi dalam rumen dan reticulum dan 2) dan proses pencernaan berikutnya
yang terjadi di saluran pencernaan pasca rumen ( usus halus dan usus besar ). Didalam reticulorumen
dan organ pencernaan bagian belakang, pencernaan dibantu oleh enzim yang dihasilkan
oleh mikroba (pencernaan fermentative), sedangkan di usus halus pencernaan dibantu oleh enzim yang
dihasilkan oleh usus halus dan pankreas (pencernaan enzymatis).
Rumen dan reticulum merupakan organ pencernaan yang terbesar, volumenya 10 – 20 persen
dari bobot ternak. Jumlah tersebut meliputi lebih kurang 75 persen dari volume organ pencernaan
ternak ruminansia. Proses pencernaan didalam reticulorumen adalah pencernaan fermentatif yang
dibantu oleh mikroba yang jumlahnya cukup banyak. Pencernaan fermentatif ini berjalan sangat
intensif, kapasitasnya besar dan terjadi sebelum usus halus (organ penyerapan utama). Hal ini memberi
beberapa keuntungan yaitu : (1) produk fermentasi dapat dialirkan ke usus dalam bentuk yang mudah
diserap, (2) Rumen dan retikulum dapat menampung pakan dalam jumlah yang lebih banyak, (3) Di
Rumen dan Retikulum dapat terjadi pencernaan pakan berkadar serat kasar tinggi, (4) Mikroba pada
Rumen dan Retikulum dapat menggunakan Non Protein Nitrogen ( NPN ).
Didalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Mikroba rumen dapat
dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa dan fungi. Kehadiran fungi dalam rumen diakui
sangat bermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni pada jaringan selulosa
pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman, sehingga pakan lebih akan lebih
terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen. Bakteri merupakan mikroba rumen yang paling banyak
jenisnya dan lebih beragam macam substratnya. Populasi bakteri dalam rumen berkisar antara 10 10 -
10 12 bakteri per gram cairan rumen, sedangkan protozoa populasinya lebih sedikit yaitu 105- 106 per ml
cairan rumen. Populasi mikroba yang banyak jumlahnya tersebut sangat penting dalam proses
pencernaan pakan serat.
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat yang didiaminya karena sulit
mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya. Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan
morfologinya sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri rumen yang
dilaporkan oleh Hungate (1966) adalah, (a) bakteri pencerna selulosa (Bacteroides succinogenes,
Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrivibrio fibrosolvens), (b) bakteri pencerna
hemiselulosa(Butyrivibrio fibrosolvens, Bacteroides ruminocola, ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna
pati (Bacteroides amylophilus, streptococcus bovis, Succinimonasamylolytica),(d) bakteri pencerna
gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminusj, dan (e) bakteri pencerna
protein (Clostridium sporogenes, Bacillus licheniformis).
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu : holotrichs yang mempunyai silia
hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan oligotrichs yang
mempunyai silia sekitar mulutnya yang umumnya merombak karbohidrat yang lebih sukar dicerna.

PENCERNAAN DAN METABOLISME KARBOHIDRAT


Karbohidrat merupakan komponen utama dalam ransum ternak ruminansia. Jumlahnya
mencapai 60 -75 persen dari total bahan kering ransum. Dalam makanan kasar, sebagian besar
karbohidrat terdapat dalam bentuk selulosa dan hemiselulosa, sedangkan dalam konsentrat umumnya
karbohidrat terdapat dalam bentuk pati. Karbohidrat merupakan sumber energi utama untuk
pertumbuhan mikroba rumen dan ternak induk semang.
Karbohidrat dalam pakan dapat dikelompokkan menjadi karbohidrat struktural (fraksi serat) dan
karbohidrat non struktural (fraksi yang mudah tersedia). Selulosa dan hemiselulosa termasuk dalam
karbohidrat fraksi struktural (fraksi serat) yang merupakan komponen utama dari dinding sel tanaman.
Sering Sellulosa dan Hemisellulosa ini berikatan dengan lignin sehingga menjadi sulit dicerna oleh
mikroba rumen. Lignifikasi tanaman akan meningkat seiring dengan meningkatnya umur tanaman.
Untuk itu penggunaannya dalam ransum ternak ruminansia memerlukan pengolahan terlebih dulu guna
merenggangkan ikatan lignoselulosa atau lignohemisellulosa sehingga lebih fermentabel dalam rumen.
Selulosa adalah kelompok polisakarida yang mempunyai berat molekul tinggi, berantai lurus
dimana banyak terdapat dalam bentuk ikatan 1- 4 unit glukosa dan biasanya terdapat dalam bentuk
kristal, sedangkan hemiselulosa terdiri dari rantai lurus silosa dan sejumlah arabinosa, asam uronat dan
galaktosa. Ternak ruminansia mampu memanfaatkan selulosa dan hemiselulosa ( karbohidrat struktural
= fraksi serat) disebabkan oleh adanya mikroorganisme dalam rumen yang membantu proses
fermentasi, sehingga karbohidrat struktural tersebut dirombak menjadi produk yang dapat dicerna dan
dapat diserap oleh usus halus. Kecernaan selulosa dan hemiselulosa ( karbohidrat struktural ) dalam
rumen biasanya lebih rendah dibanding karbohidrat non struktural. Tapi ini sangat tergantung pada
beberapa faktor seperti sifat faktor fisik tanaman, pengolahan dan frekuensi pemberian makanan.
Kecernaan selulosa dan hemiselulosa ini juga bisa dipengaruhi oleh suplai nutrien lain seperti nitrogen,
asam amino dan asam lemak berantai cabang yang penting untuk pertumbuhan bakteri selulolitik.

Jalur Fermentsi Karbohidrat dalam Rumen


Proses pencernaan karbohidrat dalam rumen merupakan proses yang komplek. Karbohidrat
yang komplek (selulosa, hemiselulosa, pati dan pectin) akan mengalami dua tahap pencernaan yaitu
pencernaan oleh enzim ekstraseluler dan enzim intraseluler mikroba. Tahap pertama karbohidrat yang
masuk rumen akan difermentasi oleh enzim ektraseluler menghasilkan monomernya berupa
oligosakarida, disakarida dan gulasederhana. Tahap kedua monomer itu difermentasi/metabolisme lebih
lanjut oleh enzim intraseluler membentuk piruvat melalui lintasan Embden-Meyerhoft dan pentosa
fosfat. Piruvat adalah produk intermedier yang segera dimetabolisasi menjadi produk akhir berupa asam
lemak berantai pendek yang sering disebut dengan Volatil Fatty Acid ( VFA ) yang terdiri dari : asam
asetat, asam propionat dan asam butirat dan sejumlah kecil asam valerat. Secara skematis jalur
fermentasi karbohidrat dalam rumen dapat dilihat pada gambar 1.

Fermentasi Piruvat dalam Rumen


Piruvat yang dihasilkan dalam proses fermentasi karbohidrat dalam rumen akan dimetabolisasi
lebih lanjut menjadi produk-produk seperti dibawah ini.
1. Produksi asam laktat
Laktat dalam rumen dibentuk dari
piruvat melalui enzym NAD linked laktatdehidrogenase. Piruvat + NADH2 → Laktat + NAD
Gambar 3.1. Skema Lintasan Utama Fermentasi Karbohidrat Menjadi VFA
dalam Rumen (Mc Donald, 1988)

Enzim ini ditemukan pada bakteri Selenomonas, Megasphaera laktobasilus, danStreptokokus spp.

2. Pembentukan Asetil CoA


Asetil Coa yang diperlukan untuk berbagai reaksi selanjutnnya dibentuk melalui beberapa reaksi yaitu:

a) Produksi acetyl CoA melalui pyruvate–ferredoxin oxidoreductase


Pyruvate + CoASH → 2-α-lactyl-TPP-CoA Enzyme → 2- Hydroxyethyl-TPP-
CoA + FD → Acetyl CoA + FDH2 + CO2

b) Produksi acetil CoA dan asam format melalui pyruvate-formate lyase.


Pyruvate + CoASH →Acetyl CoA + Formate
c) Produksi acetyl CoA and formate melalui reduksi CO2
Pyruvate + CoASH → Acetyl CoA + CO2
CO2 + XH2 → Formate + X

3. Produksi VFA dalam Rumen

Produksi Asam Asetat


Terdapat dua jalur utama untuk produksi asam asetat.
a. Phosphotransacetylase dan asetat kinase
- Phosphotransacetylase : Asetil KoA + Pi → Asetil ~ P + CoASH
- Asetat kinase : Asetil ~ P + ADP → Asetat + ATP
b. Asetil KoA lyase diidentifikasi hanya terjadi pada anaerobik protozoa
- Asetil KoA + ADP + Pi → ATP + Asetat + CoASH

Secara keseluruhan jalur pembentukan asetat dapat dilihat pada Gambar


2.
Gambar 3.2. Pembentukan Asam Asetat (Van Soest, 1994)

1. Produksi Butirat
Pembentukan butirat dalam rumen melalui 6 tahap reaksi.
a) Acetylacetyl CoA thiolase
2 Acetyl CoA → Acetylacetyl CoA + CoASH
b) β-hydroxybutyrate dehydrogenase
Acetylacetyl CoA + NADH2 → β-hydroxybutyrl-CoA + NAD
c) Enoyl-CoA dehydratase
β-hydroxybutyrl-CoA → Crotonyl CoA + H20
d) Butyrl CoA dehydrogenase
Crotonyl CoA + NADH2 → Butyrl CoA + NAD
e) Phosphate butyrl transferase
(1) Butyrl CoA + Pi → Butyrl-P
f) Butyrate kinase
Butyrl∼P + ADP → Butyrate + ATP

Skema pembentukan asam butirat dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3.3. Pembentukan Asam Butirat Dalam Rumen (Baldwin, and Allison . 1983)

2. Produksi Asam Propionat


Asam Propionat dalam rumen dibentuk melalui dua jalur reaksi yaitu jalur suksinat dan jalur
akrilat ( Gambar 3.4 dan 3.5 )

Gambar 3.4. Pembentukan propionate melalui jalur suksinat didalam rumen (Baldwin, and Allison .
1983)

Gambar 3.5. Pembentukan propionat melalui jalur akrilat dalam rumen (Baldwin, and Allison .
1983)

Skema dari keseluruhan reaksi yang terjadi dalam rumen dalam pembentukan VFA dapat dilihat
pada Gambar 6.

Gambar 3.6. Reaksi pembentukan VFA dalam rumen (Baldwin, and Allison . 1983)
Pemanfaatan produk fermentasi Karbohidrat
Fermentasi karbohidrat dalam rumen untuk membentuk Volatil Fatty Acid (VFA) atau asam
lemak terbang menghasilkan kerangka karbon (C) untuk sintesis sel mikroba dan membebaskan
sejumlah energi dalam bentuk Adenosin Tri Phospat (ATP), CO2 ( Carbon diokside) dan CH4 (gas
methan). Energi dalam bentuk ATP digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan
pertumbuhan mikroba rumen. Pertumbuhan mikroba rumen proporsional terhadap jumlah ATP yang
yang dihasilkan dari katabolisme energi. Maksimum sintesis sel mikroba yang dihasilkan dalam rumen
mendekati 25 gram per mol ATP.
Proses fermentasi karbohidrat dalam rumen menghasilkan energi dalam bentuk VFA mencapai
80 persen dan 20 persen merupakan energi yang terbuang dalam bentuk produksi gas C02, CH4 dan
energi dalam bentuk ATP. Energi dalam bentuk ATP hanya 6.2 persen dari total energi yang hilang .
Hanya energi dalam bentuk ATP inilah yang digunakan oleh mikroba rumen untuk pertumbuhannya,
sedangkan VFA merupakan by produk atau hasil sampingan dari aktivitas mikroba rumen. Dari uraian ini
jelas bahwa mikroba rumen memproduksi VFA bukan untuk kepentingannya terutama tetapi sebagai
"elektron sink" dalam menjaga potensial redoks dalam rumen agar tetap layak bagi pertumbuhan
mikroba rumen.
Gas hasil fermentasi berupa CO2, H2 (hidrogen) dan CH4 ( Methan ) dikeluarkan dari rumen
melalui proses eruktasi. Pada ternak kambing produksi gas CO2sekitar 90 liter dan gas CH4 sekitar 30
liter perhari. Stoikiometri reaksi fermentasi pakan karbohidrat dalam rumen menghasilkan tiga produk
utama dapat disederhanakan menjadi:

C6H1206 + 2H20 --------------- 2CH3COOH + 2C02 + 4H2


C6H1206 + 4H2 --------------- 2CH3CH2COOH+ 4H20
C6H1206 --------------- CH3(CH2)2COOH + 2C02 + 2H2
4H2 + C02 --------------- CH4+ 2H2O

Dari Stoikiometri reaksi tersebut diatas dapat dilihat bahwa proses sintesis asam asetat dan
asam butirat menghasilkan gas hidrogen. Sebaliknya pada sintesis asam propionat gas H2 (hidrogen)
digunakan. Gas hidrogen dan CO2 merupakan prekursor utama sintesis gas metan yang sesungguhnya
tidak bermanfaat untuk ternak. Maka dari itu proses fermentasi dalam rumen yang mengarah pada
sintesis asam propionat akan lebih menguntungkan karena produksi CH4 bisa ditekan dan akan
meningkatkan efsiensi penggunaan energi pakan.
Jumlah komponen utama VFA (asetat, propionat, dan butirat) yang terbentuk dalam rumen
serta proporsi relatifnya sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor makanan seperti komposisi
ransum, terutama rasio antara hijauan dan konsentrat, bentuk fisik makanan, tingkat konsumsi,
frekuensi pemberian pakan dan tipe fermentasi sebagai akibat perbedaan populasi mikroba yang
berkembang sebagai pengaruh langsung dari zat makanan yang diberikan. Menurut Forbes dan France
(1993) konsentrasi VFA total dalam cairan rumen umumnya berkisar antara 70 - 130 mM. Nisbah asam
asetat, asam propionat dan asam butirat pada pakan dengan kandungan hijauan /serat yang tinggi
adalah 70 : 20 :10. Tingginya konsentrasi asetat dalam cairan rumen sangat erat kaitannya dengan
tingginya proporsi hijauan atau pakan serat yang dikonsumsi. Sebaliknya jika proporsi konsentrat dalam
ransum meningkat maka konsentrasi asam asetat akan turun dan konsentrasi asam propionat akan
meningkat namun proporsi asam asetat hampir selalu lebih banyak. Dengan kata lain dapat dinyatakan
bahwa ransum dengan hijauan/pakan serat tinggi akan menghasilkan nisbah asetat : propionat lebih
tinggi dibanding ransum yang proporsi konsentratnya tinggi.
VFA ( asetat, propionat, dan butirat) merupakan sumber energi utama bagi ternak dan punya
fungsi penting dalam metabolisme zat makanan. Sumbangan energi yang berasal dari VFA ini dapat
mencapai 60 – 80 persen dari kebutuhan energi ternak rumiansia. Sebahagian besar VFA diserap
langsung dari reticulorumen dan masuk kedalam aliran darah, hanya 20 persen saja yang masuk ke
omasum dan abomasum dan diserap disini. Asam butirat dalam rumen sebelum diserap terlebih dulu
dirubah menjadi beta hidroksi butirat dan bersama dengan asam asetat masuk kedalam peredaran
darah dalam bentuk badan-badan keton yang nantinya dalam jaringan tubuh digunakan sebagai sumber
energi dan untuk sintesis lemak tubuh. Asam propionat setelah masuk dalam peredaran darah dibawa
ke hati. Di hati asam ini diubah menjadi glukosa. Sebagian glukosa disimpan di hati sebagai glikogen hati
dan sebagian lagi menjadi alfa gliserolfosfat untuk digunakan sebagai koenzim pereduksi dalam sintesa
lemak tubuh, sebagai sumber energi, dan dalam tubuh disimpan sebagai glikogen otot.. Oleh sebab itu
asam propionat disebut juga asam yang bersifat glukogenik karena dapat dikatabolisme menjadi glukosa
atau sebagai sumber glukosa tubuh . Asam lemak glukogenik dapat dipakai sebagai konstanta yang
dinamakan sebagai non glukogenik ratio (NGR) yang secara sederhana dirumuskan sebagai berikut:

NGR = (Asetat + Butirat + Valerat) / (Propionat + Valerat)

Nilai NGR ini berhubungan erat dengan produksi gas metan dalam rumen. NGR tinggi akan
menyebabkan produksi gas metan dalam rumen juga tinggi.

Penyerapan Asam Lemak Terbang (VFA)


Asam Lemak Terbang atau VFA yang dihasilkan didalam rumen dan merupakan sumber energi
bagi ternak ruminansia, akan diserap sebagian besar dalam retikulum (75 %) kemudian masuk kedalam
darah. Sebagian lagi akan diserap oleh abomasum dan omasum ( 20 % ) dan usus halus
( 5 % ). Penyerapan VFA sangat dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi VFA dalam cairan rumen
dengan konsentrasi VFA yang terdapat di dalam sel-sel epitel atau darah. Laju penyerapan
VFA pada rumen meningkat sejalan dengan penurunan pH cairan rumen dan Panjang pendeknya rantai
aton C dari VFA. Semakin panjang rantai aton C nya maka semakin cepat laju absorbsinya, sehingga
urutan absorbsinya adalah asam butirat, asam propionat dan asam asetat. Asam butirat pada rumen
akan diserap melalui dinding rumen untuk masuk ke dalam darah guna dikonversi menjadi β-
hidroksibutirat, sedangkan asam propionat akan dikonversi menjadi asam laktat. Hal ini terjadi karena
peran enzim-enzim tertentu yang ada di dalam sel-sel epitel rumen. β-hidroksibutirat dapat digunakan
sebagai sumber energi bagi sejumlah jaringan, seperti otot kerangka dan hati.

Produksi Gas Methan


Metan merupakan produk sampingan dalam proses fermentasi karbohidrat/ gula secara an-
aerob. Metan merupakan energi yang terbuang. Bakteri Metanogen akan menggunakan H2 yang
terbentuk dari konversi asam piruvat menjadi asam asetat, untuk membentuk metan dan juga dari
dekomposisi format, atau metanol. Dalam pembentukan metan oleh mikroorganisme, terlibat pula
peran Asam Folat dan Vitamin B12.
Untuk mengurangi pembentukan metan disarankan :
1. Menambahkan asam lemak tidak jenuh ke dalam ransum.
2. Menggunakan feed additive seperti choloform, chloral hidrat dan garam
tembaga.
Produksi gas (CH4, CO2 dan H2) yang berlebihan dari ternak akan menimbulkanpenyakit bloat.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi VFA di dalam Rumen


Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi VFA didalam Rumen antara lain adalah :
1. Makanan serat (sumber hijauan) yang tinggi dalam ransum akan memproduksilebih
banyak asam asetat dari pada asam propionat sehingga lebih sesuai untuk ternak sapi perah
guna menghasilkan produksi susu dengan kadar lemak tinggi.
2. Makanan pati (biji-bijian/ konsentrat) yang tinggi dalam ransum akan memproduksi
lebih banyak propionat dan ini sesuai dengan ternak untuk tujuan penghasil daging ( sapi potong
).
3. Rasio antara konsentrat dan hijauan pakan.
4. Bentuk fisik atau ukuran partikel pakan.
5. Jumlah intake atau konsumsi.
6. Frekuensi pemberian pakan.
7. Faktor lain yang mempengaruhi VFA adalah : volume cairan rumen yang berhubungan dengan
saliva dan laju aliran air di dalam darah.
8. Konsentrasi VFA rumen diatur oleh keseimbangan antara produksi dan penyerapan. Konsentrasi
meningkat setelah makan, sehingga akibatnya pH menurun.
9. Puncak fermentasi : 4 jam setelah makan (jika hijauan ditingkatkan), namun lebih cepat ( lebih dari 4
jam) jika konsentrat ditingkatkan
10. pH rumen normal ( untuk pertumbuhan mikroba optimal ) : 6.0 - 7.0 ; yang dipertahankan oleh
kapasitas saliva dan penyerapan VFA.
11. Faktor-faktor yang juga mempengaruhi produksi VFA ini antara lain adalah Konsentrasi VFA itu sendiri
didalam rumen

Metabolisme VFA di dalam Jaringan Tubuh Ternak.


Volatil Fatty Acid ( VFA ) yang diserap dari retikulorumen melalui jaringan, akan mengalami
oksidasi dan perombakan menjadi energi ternak melalui biosintesa lemak atau glukosa. Jumlah
setiap VFA yang digunakan tersebut berbeda-beda menurut jenisnya. 50 persen asam asetat dioksidasi
di jaringan tubuh sapi perah sedangkan 2/3 asam butirat dan asam propionat akan mengalami
oksidasi. Metabolisme asam propionat dan butirat terjadi di hati, 6 persen asam asetat
dimetabolisasikan di jaringan perifer (otot dan adiposa) dan hanya 20 % yang di metabolis di hati. Pada
ternak laktasi asam asetat, digunakan untuk sintesis lemak air susu diambing.

Proses Oxidasi VFA dan Penghasilan ATP


Asam Propionat sebagai sumber energi :
ada 2 jalur oksidasi yang dilalui oleh asam propiona yaitu :
1. Oksidasi setelah propionat dikonversi menjadi glukosa melalui Jalur
Glukonegenesis. Disini di hasilkan 17 mol ATP/ mol asam propionat
2. Oksidasi langsung asam propionat dimana akan dihasilkan 18 mol ATP/mol asam propionat.

Asam Butirat sebagai sumber energi :


Asam Butirat di konversi menjadi β-hidroksibutirat yang menghasilkan 2 mol ATP

Asam Asetat sebagai sumber energi :


Asetat + CoA + ATP ------- CH3CO-CoA (AsetilCoA) + PP + H2
(dihasilkan 10 mol ATP/ mol Asetat)

Disarnping scbagai sumber energy, asam lernak rantai cabang dari VFAbersama-sama dengan N-
anwn~a digunakan dalam sintesis protein, sehingga VFA inidapat dikatakan sebagai prekursor sintesis
protein mikroba.

Pencernaan Karbohidrat di dalam Usus Ruminansia


Karbohidrat tercerna ( pati, selulosa dan hemi selulosa) dan polisakarida selluler dari mikroba
yang lolos dari fermentasi rumen, akan masuk ke dalam usus sebagai digesta, jumlahnya 10-20 % dari
karbohidrat yang dicerna. Jumlah selulosa atau pati yang tahan dari degradasi rumen, dipengaruhi oleh
pakan itu sendiri atau prosesing. Misalnya pati dari jagung giling dapat dicerna 20 % nya di usus halus
oleh enzim yang sama dengan monogastrik. Pencernaan pati di usus halus akan menghasilkan energi
yang dapat digunakan oleh induk semang lebih efisien daripada didegradasi oleh mikroba rumen,
dimana akan hilang sebagai CH4 atau panas. Selulosa, hemiselulosa dan pati yang lolos dari usus halus
difermentasi juga di dalam cecum menjadi VFA, CO2 dan CH4 dengan jalur yang sama dengan di dalam
rumen. VFA yang terbentuk di cecum ini (ruminan atau kuda) di serap masuk ke dalam
sirkulasi darah dan digunakan di jaringan,seperti yang terjadi di dalam rumen.

Metabolisme Glukosa Pada Ruminansia


Glukosa dicerna / difermentasi di retikulorumen. Glukoneogenesis di hati (terutama) dan di
ginjal sangat sedikit terjadi. Glukosa pada ruminan adalah 40-60 % berasal dari
propionat, 20 % berasal dari protein (asam amino yang diserap melaluisaluran
pencernaan) dan sisanya 20 % berasal dari VFA rantai cabang, asam laktat dan gliserol.

Fungsi Metabolis Glukosa pada Ruminansia.


Fungsi metabolisme Glukosa pada rumen berfungsi untuk :
1. Sumber utama energi di jaringan syaraf terutama di otak dan sel-sel darah merah.
2. Untuk metabolisme otot dan produksi glikogen (persediaan energi di otot dan di hati).
3. Pada ternak laktasi glukosa digunakan untuk prekursor utama dari pembentukan laktosa
dan gliserol (komponen lemak susu) dan untuk suplai nutrisi pada janin. Kebutuhan
glukosa akan meningkat pada akhir kebuntingan.
4. Untuk pembentukan co enzym NADPH

PENCERNAAN DAN METABOLISME PROTEIN DALAM RUMEN

Protein merupakan unsur yang sangat penting dalam tubuh karena protein menjalankan
sebagai besar fungsi-fungsi fisiologis tubuh. Dalam tubuh, protein berperan sebagai:
a) Bahan pembangun dan pengganti tenunan atau jaringan tubuh yang aus atau terpakai.
b) Bahan baku pembuatan hormon,enzim dan zat penangkal penyakit.
c) Mengatur lalu lintas cairan tubuh dan zat-zat terlarut di dalamnya ke dalam atau keluar sel
d) Sebagai sumber energi.

Protein diperoleh ternak dari makanan. Sebelum dimanfaatkan ternak, protein


makanan itu terlebih dahulu mengalami perubahan dalam saluran pencernaan. Pada ternak ruminansia
sebelum dimanfaatkan protein akan melalui beberapa proses terlebih yaitu:
1. Mengalami fermentasi dalam reticulo rumen oleh mikroba rumen.
2. Mengalami pencernaan hidrolisis di dalam usus halus
3. Protein yang tidak dicerna akan dikeluarkan melalui feses.
Dalam memepelajari pencernaan dan metabolisme protein pada ternak ruminansia ada
beberapa istilah yang terlebih dahulu harus dipahami sehingga proses pencernaan protein dalam tubuh
ternak ruminasia bisa dimengerti dengan jelas. Beberapa istilah tersebut adalah:

1. Protein Kasar (PK)


Adalah kadar protein yang didapatkan dengan cara menganalisa kandungan nitrogen suatu bahan
dengan metode Kjedhal. Kandungan nitrogen yang didapatkan dikalikan dengan konstanta 6.25 dengan
anggapan semua protein bahan mengandung 16 % nitrogen. Padahal itu tidak seluruhnya pengalian
dengan konstanta ini benar. Adabeberapa protein bahan yang mengandung lebih dari 16 % nitrogen.
Oleh sebab itu nilai ini disebut dengan protein kasar.
2. Soluble Protein ( protein mudah larut)
Soluble protein adalah fraksi protein kasar yang mudah larut dalam larutan buffer, air dan cairan
rumen. Sebagian fraksi protein dari hijauan yang masih muda, silase, leguminosa dan biji-bijian
merupakan soluble protein. Soluble protein akan didegaradasi dengan cepat didalam rumen menjadi
NH3. Fraksi soluble protein mengandung nitrogen non protein (NPN) dan sebagian true protein.

3. Nitrogen Non Protein (NPN)


NPN Adalah semua senyawa nitrogen yang tidak mempunyai struktur yang komplek seperti
protein. Yang termasuk senyawa NPN adalah ammonia, peptide, asam amino
bebas, amida, dan amina. Sebagian besar soluble nitrogen yang terdapat pada silase, limbah pertanian
merupakan NPN. NPN sama halnya dengan soluble protein akan didegaradasi dengan cepat didalam
rumen.
4. Neutral detergent insoluble protein (NDIN)
Adalah fraksi protein yang tidak larut dalam larutan netral. Fraksi ini didapatkan dari analisa protein
kasar yang terdapat dalam NDF. NDIN ini degradasinya lambat dalam rumen, karena berhubungan
dengan dinding sel. Sebagai besar NIDN lolos kepasca rumen dan bisa dicerna diusus halus.

5. Acid detergent insoluble protein (ADIN)


Adalah fraksi protein yang tidak larut dalam larutan detergen asam. Fraksi protein ini tidak bisa dicerna
oleh enzim mikroba rumen maupun enzim yang dihasilkan oleh usus halus. Oleh sebab itu fraksi protein
ini disebut juga dengan protein yang tidak bermanfaat. ADIN ini ditentukan dengan cara menganalis
kandungan protein kasar dari residu ADF. Kandungan ADIN yang tinggi dari suatu bahan pakan
menunjukkan rendahnya kualitas protein dari bahan tersebut.

6. Ruminal undegraded protein (RUP)


Adalah fraksi protein pakan yang tidak didegradasi oleh mikroba dalam rumen. Atau dengan kata lain
fraksi protein yang tahan terhadap pencernaan dalam rumen.

7. Protein mikroba
Adalah fraksi protein yang disintesis oleh mikroba didalam rumen. Mikroba rumen menggunakan
ammonia, asam amino dan peptide untuk mensintesis protein tubuhmikroba itu sendiri. .

Degradasi protein dalam rumen


Protein yang dikonsumsi oleh ternak ruminansia dalam rumen akan mengalami 2 proses penting
yaitu:
1. Hidrolisis ikatan peptida menghasilkan peptida dan asam amino
2. Deaminasi asam amino
3.
Hydrolisis
Dalam rumen protein pakan akan mengalami hidrolisa menjadi oligopeptida oleh enzim
proteolitik yang dihasilkan oleh mikroba rumen. Oligopeptida selanjutnya akan diubah menghasilkan
peptida dan asam amino yang bisa digunakan oleh sebagian mikroba rumen untuk pertumbuhannya,
terutama oleh Bacteroides ruminocola dimana bakteri ini mempunyai sistem transpor untuk
mengangkut asam amino ke dalam tubuhnya. Bacteroides ruminocola bisa menggunakan 40 % peptida
dalam rumen sedangkan Butyrivibrio fibrosolvent menggunakan kurang dari 10 % untuk
pertumbuhannya. Karena tidak semua peptida dan asam amino yang terbentuk dalam rumen,
digunakan oleh mikroba, dimana sebagian akan mengalir ke usus halus.
Pemberian ransum yang berkualitas tinggi pada sapi perah, 30 persen dari NAN (non amonia nitrogen)
yang masuk ke usus halus adalah dalam bentuk peptida dan asam amino. Namun Sebagian besar dari
peptida dan asam amino akan mengalami deaminasi didalam rumen.

Deaminasi
Metabolisme asam amino selanjutnya adalah dari degradasi protein oleh mikroba rumen. Asam
amino akan mengalami katabolisame (deaminasi) menghasilkan produk utama NH3. produk samping
dari deaminasi asam amino adalan VFA rantai cabang (iso valerat, iso butirat dan n metilbutirat), yang
sangat dibutuhkan oleh mikroba selulolitik rumen untuk pertumbuhannya. Proses deaminasi asam
amino menjadi ammonia lebih cepat dari proteolisis, sehingga kadar asam amino bebas dalam rumen
selalu sedikit. Amonia yang dihasilkan dari deaminasi asam amino akan digunakan oleh mikroba sebagai
sumber nitrogen untuk pembentukan protein tubuhnya. Sebagain besar mikroba rumen (82 %)
menggunakan ammonia untuk membentuk protein tubuhnya.
Tidak seluruh protein yang masuk dalam rumen didegradasi oleh mikroba. Protein yang lolos
dari degradasi dalam rumen bersama dengan protein mikroba akan mengalir ke abomasum terus ke
usus halus, dicerna oleh enzim yang dihasilkan oleh usus dan pankreas dan diserap di usus halus. Proses
pencernaan dan metabolisme protein didalam rumen dapat dilihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Proses pencernaan Protein dalam rumen (Allison, 1993)


Pool amonia dalam rumen tidak hanya disuplai oleh proses degradasi protein pakan saja.
Hampir 30 persen nitrogen dalam pakan ternak ruminansia juga terdapat dalam bentuk senyawa organik
sederhana seperti asam amino, amida, dan amina atau senyawa anorganik seperti nitrat, dan pada
penggunaan pakan yang bermutu rendah, urea sering ditambahkan. Semua senyawa tersebut di atas
disebut juga dengan Non Protein Nitrogen (NPN) yang dalam rumen akan mengalami degradasi dengan
cepat menghasilkan amonia. Amonia yang terbentuk bersama dengan asam organik alfa keto akan
membentuk asam amino baru untuk sintesis protein mikroba. Bila kecepatan degradasi melebihi
kecepatan sintesis protein mikroba, akan terjadi akumulasi NH3dalam rumen. Amonia yang berlebih itu
akan diserap oleh dinding rumen masuk ke dalam aliran darah dibawa ke hati untuk diubah menjadi
urea. Urea yang terbentuk akan masuk ke aliran darah, sebagian akan difiltrasi oleh ginjal dan
dikeluarkan melalui urine dan sebagian lagi masuk kembali ke rumen melalui dinding rumen dan saliva
yang kemudian akan menjadi sumber N lagi bagi sintesis protein mikroba Lebih dari 25 % nitrogen
protein pakan akan hilang melalui jalur ini. Karena protein merupakan bahan pakan ternak ruminansia
yang cukup mahal harganya, maka perhatian untuk meminimalkan degradasi protein pakan dalam
rumen perlu di pertimbangkan.
Degradasi protein dalam rumen merupakan multi proses yang meliputi tingkat kelarutan,
hidrolisis enzim ekstra selluler, deaminasi, dan lamanya pakan dalam rumen. Jenis pakan juga
mempengaruhi degradasi protein dalam rumen. Pakan yang terdiri dari rumput segar yang tinggi akan
protein dan karbohidrat mudah larut, meningkatkan pertumbuhan mikroba proteolitik sehingga aktivitas
degradasi dalam rumen 9 kali lebih besar dibandingkan pakan yang rendah proteinnya seperti hay.
Proses degradasi protein dan deaminasi asam amino dalam rumen akan terus berlangsung
walaupun telah terjadi akumulasi amonia yang cukup tinggi. Proses degradasi ini tidak dapat dipandang
sebagai suatu proses yang menguntungkan ataupun merugikan, karena disatu sisi proses degradasi
diharapkan untuk memenuhi kebutuhan amonia dan peptida untuk pertumbuhan mikroba rumen,
sedang dilain sisi, protein yang bermutu tinggi diharapkan tidak banyak mengalami degradasi
dalam rumen sehingga bisa menyumbangkan asam amino bagi hewan induk semang. Untuk
memperkecil degradasi protein pakan dalam rumen dapat dilakukan dengan cara: 1) penambahan
bahan kimia (formaldehyd, asam tannin), 2) pemasakan (protein menggumpal sehingga kelarutannya
turun, 3) pembuatan pellet (meningkatkan rate of passage).
Dari gambar tersebut terlihat bahwa sumber protein bagi ternak ruminansia berasal dari protein
pakan yang lolos dari degradasi dalam rumen dan dari protein mikroba. Untuk itu usaha memacu
produksi ternak melalui perbaikan nutrisi protein dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pemberian
protein pakan yang tahan degradasi dalam rumen dan memaksimalkan sintesis protein mikroba,
sehingga pasokan asam-asam amino untuk diserap di usus halus menjadi lebih banyak.

Penggunaan Amonia dan Sintesis protein Mikroba


Amonia adalah sumber nitrogen utama untuk sintesis protein mikroba. Sekitar 82 % jenis
mikroba rumen mampu menggunakan amonia sebagai sumber nitrogen untuk sintesis protein
tubuhnya, walaupun ada sebagian kecil yang membutuhkan peptida dan asam amino. Maka dari itu
konsentrasinya dalam rumen merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan. Konsentrasi minimum NH3
yang diperlukan untuk sintesis protein mikroba adalah 5 mg% atau setara dengan 3.74 mM. Optimum
konsentrasi NH3 yang diperlukan untuk perkembangan mikroba yang lebih baik, sehingga kecernaan
dari pakan serat yang rendah kecernaan dan kandungan proteinnya, lebih tinggi yaitu 20 mg% atau
setara dengan 14.29 mM. Disamping ammonia, sintesis protein mikroba juga membutuhkan energi dan
kerangka karbon dari karbohidrat. Sintesis Protein mikroba dapat ditingkatkan dengan cara
menambahkan karbohidrat mudah terpakai dalam ransum seperti pati, tetes, dll. Adanya karbohidrat
tersebut memungkinkan mikroba dapat menggunakan ammonia yang lebih banyak untuk membentuk
protein tubuhnya.Hal ini dikarenakan incoporasi N amonia menjadi protein mikroba sangat tergantung
pada ketersediaan karbohidrat yang siap pakai ( soluble carbohydrate ) sebagai sumber
energi. Disamping karbohidrat siap pakai untuk sintesisi protein mikroba juga diperlukan VFA yang
cukup, sebagai sumber kerangka karbon. Masing-masing mikroba membutuhkan kerangka karbon yang
berbeda untuk membentuk asam amino tubuhnya. Selain, NH3, sumber energy, dan VFA sebagai
kerangka karbon untuk sintesis protein mikroba yang optimal, pada kondisi tertentu juga membutuhkan
mineral Sulfur. Ratio antara sulfur dan nitrogen yang ideal untuk sintesa protein mikroba adalah
1:10. Proses sintesa protein mikroba dalam rumen dapat dilihat pada gambar 3.8
Kadar amonia dalam rumen merupakan petunjuk antara proses degradasi dan proses sintesis
protein oleh mikroba rumen. Jika pakan defisien akan protein atau proteinnya tahan degradasi,
konsentrasi amonia dalam rumen akan rendah dan pertumbuhan mikroba rumen akan lambat yang
menyebabkan turunnya kecernaan pakan.
Mikroba rumen memberikan sumbangan protein yang cukup banyak untuk kebutuhan ternak
ruminansia. Mikroba rumen mampu mensuplai 40 – 80 % protein untuk mencukupi kebutuhan asam
amino ternak ruminansia. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa sekitar 59 % dari nitrogen bukan amonia
yang masuk ke duodenum sapi perah berasal dari protein mikroba rumen. Oleh karena itu usaha untuk
mengoptimalkan sintesis protein mikroba perlu menjadi perhatian dalam memenuhi kebutuhan asam
amino ternak ruminansia.
Gambar.3.8 Penggunaan amonia dan karbohidrat untuk sintesa protein mikroba(Baldwin, and M. J.
Allison . 1983)

Protein mikroba mempunyai nilai gizi yang tinggi dan nilai biologis yang hampir menyamai
casein. Analisa asam amino menunjukkan bahwa protein mikroba kaya akan cystin, metionin, arginin
dan glutamate. Protein protozoa lebih unggul disbanding protein bakteri karena kandungan asam amino
esensialnya yang lebih tinggi terutama lisin. koefisien cerna protein protozoa (68-91 %) sedangkan
bakteri hanya 55-80%. Nilai biologis protein protozoa 68-81% sedangkan bakteri 40-60 %. Tetapi
kandungan protein bakteri lebih tinggi (41.8%) dibanding protein protozoa ( 26,5 %).
Protein Bypass
Protein by pass adalah protein yang berasal pakan yang tidak mengalami fermentasi didalam
rumen, tetapi langsung masuk ke abomasum dan usus halus. Tingginya VFA dalam rumen
akibat tingginya energy dan rendahnya protein dapat menstimulir peningkatan protein bypass dalam
rumen. Protein bypass dalam rumen juga bisa dipengaruhi oleh keseimbangan hormone ternak
ruminansia, yang dapat memberipetunjuk tingginya level hormone pertumbuhan dalam darah. Besar
kecilnya jumlahprotein bypass tergantung pada beberapa faktor antara lain:
1. Daya larut protein ransum, protein yang daya larutnya rendah maka protein bypassnya tinggi.
2. Kualitas protein ransum, semakin tinggi kualitas protein maka protein bypass akan lebih besar.
3. Frekuensi pemberian pakan, semakin sering pemberian makanan maka protein bypass semakin tinggi.
4. Preparasi atau penyediaan makanan, baik secara fisik ataupun kimia akan meningkatkan protein
bypass misalnya memasukkan pakan dalam kapsul, penambahan formaldehid atau tannin.

Pencernaan protein di usus halus


Protein yang masuk keusus halus berasal dari protein mikroba, protein pakan yang lolos
degradasi dalam rumen dan protein endogenus. Protein yang berasal dari protein mikroba sekitar 30-
100 %, dan yang berasal dari protein yang lolos degaradasididalam rumen sekitar 0-70%. Pencernaan
protein diabomasum dan usus halus ternak ruminansia sama dengan ternak non
ruminansia. Pencernaan protein di abomasum dibantu oleh aktivitas enzim peptidase sedangkan diusus
halus dibantu oleh aktivitas enzim trypsin, chymotrypsin, and carboxypeptidase.
Proses pencernaan protein di abomasum dan usus halus menghasilkan asam amino. Asam
amino diserap oleh dinding usus halus. Kemudian asam amino masuk ke vena porta dibawa ke hati. Di
hati asam amino ini akan disintesis menjadi protein. Selain itu asam amino juga akan dibawa oleh darah
ke jaringan tubuh yang membutuhkan untuk disintesa menjadi protein jaringan, protein susu, protein
fetus, untuk pertumbuhan atau untuk pembentukan wool. Selain itu asam amino tersebut juga akan
dimetabolis menjadi sumber energi.

Aspek Protein Pada Ruminansia


Untuk meningkatkan protein makanan yang selamat dari degradasi dalam rumen supaya ternak
mendapat protein yang cukup, dapat dilakukan dengan melindungi atau memproteksi protein pakan
dengan cara memasak, membungkus dengan kapsul atau dengan mempercepat laju alir makanan ( rate
of passage ) dengan cara meningkatkan konsumsi air minum, menggiling bahan, dan membuat
pakan dalam bentuk pellet. Tetapi hal ini tidak selalu memberikan hasil yang memuaskan karena bisa
saja proses inibahkan menguragi kecernaan zat-zat makanan yang lain.
Nilai protein makanan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh tingkat ketahanannya
dari degradasi oleh mikroba rumen guna menghasilkan ammonia. Derajat ketahanan protein bahan dari
degradasi oleh mikroba rumen sangat beragam (Tabel ..). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tingkat ketahanan degradasi protein yang rendah dalam rumen, mampu memberikan
pertambahan bobot badan yang lebih baik pada sapi perah muda. Berdasarkan hal tersbut makan
syarat ideal suatu bahan pakan sumber protein bagi ternak ruminansia adalah :
a. Mampu menghasilkan ammonia (NH3) yang cukup untuk menunjang pertumbuhan miroba rumen
yang optimal.
b. Mampu menyediakan protein yang lolos degradasi dalam rumen untuk memenuhi kebutuhan protein
bagi ternak induk semang.
c. Mempunyai nilai hayati (Biological Value = BV ) yang tinggi.

Mikroba rumen mampu mensintesis asam amino esensial maupun non esensial dalam rumen,
maka komposisi asam amino dari protein pakan tidak terlalu penting artinya bagi ternak
ruminansia. Oleh karena itu dalam ransum ruminansia sebagai sumber ammonia sering digunakan
senyawa bukan protein (NPN). Penggunaan NPN dalam ransum harus disertai dengan sumber
energi yang mudah tersedia.
Asam amino dan peptida yang berasal dari pencernaan protein mikroba atau protein pakan yang
lolos degradasi dalam rumen, setelah diserap oleh villi usus halus,akan dimetabolisme melalui dua jalur
yaitu anabolisme dan katabolisme. Pada proses anabolisme asam –asam amino akan digunakan untuk
sintesis protein, sedangkan pada proses katabolisme, protein akan dirombak menjadi senyawa
sederhana dan urea. Sebagian urea ini akan kembali ke rumen melalui saliva atau dinding rumen dan
sebagaian lagi akan dikeluarkan melalui ginjal dalam bentuk urine.
Efisiensi penggunaan protein pakan sangat ditentukan oleh intensitas proses anabolisme dan
katabolisme. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses anabolisme dan katabolisme protein adalah
: 1). Kecukupan asam-asam amino,2) kecukupan konsumsi energy, 3) Status nutrisi dan fisiologis ternak,
4) pembentukan jaringan, 4) kontrol oleh hormon. Aktivitas proses anabolisme dan katabolisme
protein dalam tubuh, bisa dipantau dengan mengukur neraca nitrogen atau retensi nitrogen. Retensi
nitrogen adalah selisih antara konsumsi nitrogen dengan nitrogen yang dikeluarkan melalui feses dan
urine.
Neraca nitrogen dalam tubuh bisa bernilai positif, nol atau negatif . Bila Neraca nitrogen bernilai
positif menunjukkan bahwa terjadi pertambahan protein jaringan tubuh atau pembentukan jaringan
baru, Bila nilainya sama dengan nol hal tersebut berarti terjadi keseimbangan antara proses anabolisme
dan proaes katabolisme dalam tubuh, tetapi apabila neraca nitrogen bernilai negative, ini berarti terjadi
kehilangan nitrogen dalam tubuh melalui proses katabolisme akibat konsumsi nitrogen atau protein dari
pakan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ternak.

PENCERNAAN LEMAK PADA RUMINANSIA

Lemak merupakan sumber energy penting dalam ransum ternak ruminansia. Beberapa tahun
terakhir ada kecendrungan menggunakan suplementasi lemak untuk meningkatkan kandungan energy
ransum. Lemak adalah merupakan zat makanan yang biasanya terdapat dalam jumlah kecil
dalam makanan ternak (50 gram/kg BK). Pada pakan ternak ruminansia, lemak terdapat
dalam hijauan maupun konsentrat. Kandungan lemak dalam hijauan pakan berkisar 3-10 % yang
terdiri dari glukolipid.Pakan hijauan dan biji-bijian umumnya berbentuk lemak tidak jenuh. Lemak pada
daun didominasi oleh asam linolenat, linoleat dan oleat. Lemak dalam konsentrat (biji-bijian) kaya
kandungan asam linoleat. Untuk memenuhi kebutuhan ternak akan energi seringpetani
menambahakan minyak dalam ransum. Lemak mengandung energi yang tinggi dan merupakan sumber
energi yang murah dibandingkan zat makanan lain seperti karbohidrat. Sering dipertanyakan apakan
kualitas ransum atau kualitas produk yang dihasilkan (susu dan daging) dipengaruhi oleh suplementasi
lemak. Jawabannya sangat tergantung pada jenis ternak dan tipe produksi. Hubungan lemak ransum
dengan lemak yang terdapat pada produk, berbeda antara ternak non ruminansia dan ruminansia, juga
antara ternak muda dan ternak dewasa.

Pencernaan Lemak Dalam Rumen


Lemak yang terdapat dalam rumen ternak ruminansia terdiri atas lemak pakan (80,3 %),
lemak ptotozoa (15,6 %) dan lemak bakteri (4,3 %). Metabolisme lemak dalam rumen memiliki dampak
yang besar terhadap profil asam lemak yang tersedia untuk diserap dan digunakan oleh jaringan tubuh
ternak. Pencernaan lemak pada ternak ruminansia dimulai didalam rumen. Lemak dalam rumen akan
mengalamidua proses penting yaitu hidrolisis dan biohidrogenasi (Gambar.3.9)

3.2.1. Hidrolisis (Lipolisis)


Pertama kali lemak dari pakan masuk ke dalam rumen maka langkah awal dari metabolisme
lemak adalah hidrolisis ikatan ester dari triglicerida, phospholipid dan glikolipid. Hidrolisis dari lemak
pakan umumnya dilakukan oleh bakteri rumen, dan sangat sedikit sekali bukti yang meninjukkan
keterlibatan protozoa dan fungi dalam hidrolisis lemak. Proses hidrolisis (lipolisis) lemak dalam rumen
oleh lipase mikroba rumen, akan menghasilkan asam lemak, gliserol dan galaktosa yang siap
dimetabilisme lebih lanjut oleh bakteri rumen. Asam lemak tak jenuh (linoleat dan linolenat) akan
dipisahkan dari kombinasi ester, galaktosa dan gliserol dan akan difermentasi menjadi VFA. Bakteri yang
paling berperan dalam hidrolis lemak adalah Anaerovibrio lipolyticayang menghidrolisis trigliserida
dan Butyrivibrio fibrisolvens yang berperan dalam menghidrolisis phospholipid dan glikolipid. Proses
hidrolisis. dalam rumen berlangsung cukup tinggi namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kecepatannya seperti meningkatnya level lemak dalam ransum maka hidrolisis menurun, pH rumen yang
rendah dan ionophor yang menghambat aktivitas dan pertumbuhan bakteri.

Hidrogenasi
Hidrogenasi terjadi pada asam lemak tak jenuh bebas yang dilepaskan dalam proses hidrolisis
lemak dalam rumen. Langkah pertama dari proses biohidrogenasi ini adalah isomerisasi dari bentuk cis
menjadi bentuk trans. Hidrogenasi ini menyebabkan pengurangan asam lemak tak jenuh dengan hasil
akhir asam lemak jenuh (stearat =C18).Hidrogenasi umumnya terjadi pada tingkat lebih lambat dari
lipolisis, namun asam lemak tak jenuh ganda sedikit yang hadir dalam rumen.
Sebagian besar asam lemak esensial akan rusak oleh karena proses biohidrogenasi, namun ternak
tidak mengalami defisiensi. Sebagian kecil asam lemak esensial yang lolos dari proses di dalam rumen,
sudah dapat memenuhi kebutuhan ternak.
Gambar 3.9. Proses hidrolisis dan biohidrogenasi
Lemak dalam rumen

Kebanyakan lipid pada ruminan masuk ke duodenum sebagai asam lemak bebas dengan
kandungan asam lemak jenuh yang tinggi. Monogliserida adalah asam lemakyang dominan pada
monogastrik. Pada ruminan lemak mengalami hidrolisis di dalam rumen, sehingga sangat sedikit
terdapat pada ternak ruminan.

Sintesis Lemak oleh Bakteri Rumen


Mikroba rumen juga mampu mensintesis beberapa asam lemak rantai panjang dari propionat
dan asam lemak rantai cabang dari kerangka karbon asam-asam amino valin, leusin dan isoleusin. Asam-
asam lemak tersebut akan diinkorporasikan ke dalam lemak susu dan lemak tubuh ruminansia.

Penyerapan Lemak pada Ternak ruminansia


Asam lemak hasil hidrolisis yang berantai pendek ( < C12) diserap oleh dinding rumen
(Gambar 3.10). Asam lemak rantai panjang masuk ke sel-sel epitheliumdan diserap diusus halus. Di
usus halus lemak dihidrolisis menjadi monogliserida dan asam lemak bebas oleh enzim lipase
pankreas. Asam lemak rantai pendek diserap sel mukosa usus. Monogliserida dan asam lemak tak larut
membentuk misel untuk dapat melewati dinding usus. Asam lemak C14 membentuk triasil gliserol
dalam sel epithelium usus. Triasil gleserol, fosfolipid dan kolesterol membentuk kilomikron dan masuk
ke peredaran darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh.
.

Gambar 3.10. Penyerapan Lemak pada Ruminansia (Baldwin,and Allison . 1983)

Ruminansia muda mempunyai kemampuan untuk mengkonversi glukosa menjadi asam lemak,
namun ketika rumen berfungsi, kemampuan itu hilang dan asetat menjadi sumber karbon utama yang
digunakan untuk mensintesis asam-asam lemak. Asetat akan didifusi masuk ke dalam darah dari rumen
dan dikonversi di jaringan menjadi asetil-CoA, dengan energi berasal dari hidrolisis ATP menjadi AMP.
Jalur ini terjadi di tempat penyimpanan lemak tubuh yaitu jaringan adiposa (di bawah kulit, jantung dan
ginjal). Konversi asetil-CoA menjadi asam-asam lemak rantai panjang sama terjadinya antara ruminan
dan monogastrik

http://lathivahlalatt.blogspot.co.id/2014/02/metabolisme-zat-zat-makanan-pada-ternak.html

SISTEM PENCERNAAN DAN PENYERAPAN KARBOHIDRAT PADA UNGGAS


TUGAS PEAPER NUTRISI TERNAK DASAR

SISTEM PENCERNAAN DAN PENYERAPAN KARBOHIDRAT PADA UNGGAS


OLEH :

BAGUS DIMAS SETIAWAN

E1C013061

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN


UNIVERSITAS BENGKULU

2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadiran ALLAH SWT atas segala rahmat dan karunia yang di berikan
kepada kita semua, sehinga penulis dapat menyelesaikan penulisan paper ini.

Paper ini merupakan tugas yang di berikan sebagai tugas pertama yang berjudul “Sistem
Pencernaan dan Penyerapan Karbohidrat pada Unggas” di mata kuliah Produksi Ternak Unggas.

Ucapkan terimah kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada Dr. Ir. Yosi fenita, MP
selaku pengasuh mata kuliah Nutrisi Ternak dasar, yang telah memberikan bimbingan dan ilmunya
kepada kami sehingga penulisan paper ini dapat di selesaikan. Dan ucapkan terima kasih kami sampakan
kepada rekan-rekan yang banyak membantu dan saling memberikan masukan dan informasi yang
bermamfaat dalam penulisan paper ini.

Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua. Kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun sehingga dapat menjadi acuan untuk penulisan dan perbaikan paper ini.

Bengkulu, ... Nopember 2014


Bagus dimas setiawan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Klasifikasi Karbohidrat

Karbohidrat adalah zat organik utama yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan biasanya
mewakili 50 sampai 75 persen dari jumlah bahan kering dalam bahan makanan ternak. Karbohidrat
sebagian besar terdapat dalam biji, buah dan akar tumbuhan. Zat tersebut terbentuk oleh proses
fotosintesis, yang melibatkan kegiatan sinar matahari terhadap hijauan daun. Hijauan daun merupakan
zat fotosintetik aktif pada tumbuh-tumbuhan. Zat tersebut merupakan molekul yang rumit dengan suatu
struktur yang serupa dengan struktur hemoglobin, yang terdapat dalam darah hewan. Hijauan daun
mengandung magnesium : hemoglobin mengandung besi. Lebih terperinci lagi, karbohidrat dibentuk
dari air (H2O) berasal dari tanah, karbondioksida (CO2) berasal dari udara dan energi berasal dari
matahari. Suatu reaksi kimiawi sederhana yang memperlihatkan suatu karbohidrat (glukosa) disintesis
oleh fotosintesis dalam tumbuh-tumbuhan adalah sebagai berikut :

6CO2 + 6H2O + 673 cal —-> C6H12O6 + 6 O2

Menurut Abun,(2008). Struktur kimia karbohidrat dapat dibagi menjadi dua kelompok besar
yaitu gula dan non gula. Kelompok gula atau lebih dikenal dengan senyawa gula sederhana disebut
dengan monosakarida. Berdasarkan jumlah atom karbon yang terdapat dalam molekulnya, kelompok
monosakarida ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu triosa yang mengandung tiga atom karbon (C3H6O3),
tetrosa yang mengandung empat atom karbon (C4H8O4), pentosa yang mengandung lima atom karbon
(C5H10O5), dan heksosa yang mengandung atom karbon enam (C6H12O6).

Monosakarida ini dapat bergabung satu sama lain dengan melepaskan air menjadi bentuk
disakarida (mengandung dua unit monosakrida) atau polisakarida (mengandung lebih dari dua unit
monosakarida). Istilah sakarin atau gula hanya terbatas kepada karbohidrat yang mengandung kurang
dari 10 unit monosakarida. Kelompok non gula adalah karbohidrat yang mengandung lebih dari 10 unit
monosakarida dan tidak memiliki rasa manis. Non gula dibagi menjadi dua sub kelompok yaitu
homopolisakarida dan heteropolisakarida. Homopolisakarida dibentuk dari unit-unit monosakarida yang
sama sedangkan heteropolisakarida dibentuk dari unit-unit monosakarida yang berbeda.

a. Monosakarida

Monosakharida adalah gula-gula sederhana yang mengandung lima atau enam atom karbon dalam
molekulnya. Zat tersebut larut dalam air. Monosakharida yang mengandung enam karbon mempunyai
formula molekul C6H12O6. Termasuk di dalamnya glukosa (juga dikenal sebagai dekstrosa) terdapat pada
tumbuhan, buah masak, madu, jagung manis, dan sebagainya. Pada hewan zat tersebut terutama
terdapat dalam darah yang pada konsentrasi tertentu adalah sangat vital untuk kehidupan. Orang sakit
dapat diberi makan dengan menginfus glukosa langsung ke dalam peredaran darah.

b. Disakharida adalah karbohidrat yang mengandung dua molekul gula-gula sederhana. Mempunyai
formula umum C12H22O11. Karenanya zat tersebut mewakili dua molekul gula sederhana minus air (dua
atom hidrogen dan satu atom oksigen). Disakharida yang sangat penting adalah sukrosa, maltosa dan
laktosa.

c. Homopolisakarida merupakan jenis karbohidrat yang tersusun dari beberapa unit (lebih dari dua unit)
monosakarida yang sejenis. Umumnya unit monosakarida tersebut berasal dari kelompok heksosa.
Homopolisakarida banyak ditemukan dalam tanaman dan hewan sebagai cadangan makanan seperti
pati dan glikogen atau sebagai bahan struktural seperti selulosa dan chitin.

d. Heterolisakharida mempunyai formula kimiawi umum (C6H10O5)n. Berarti bahwa zat tersebut
mengandung banyak molekul gula-gula sederhana. Kedua golongan utama dari polisakharida adalah pati
dan selulosa, meskipun masih ada golongan-golongan lebih kecil lainnya yang kurang penting. Selulosa
merupakan kelompok organik terbanyak di alam; hampir 50 persen zat organik dalam tumbuh-
tumbuhan diduga terdiri dari selulosa. Meskipun selulosa dan pati kedua-duanya adalah polisakharida
yang terdiri dari unit-unit glikogen, ayam hanya mempunyai enzim yang dapat menghidrolisa pati.
Karenanya selulosa tidak dapat dicerna sama sekali. Selulosa terutama terdapat dalam dinding sel dan
bagian tumbuh-tumbuhan yang berkayu.

BAB II

PENCERNAAN KARBOHIDRAT PADA UNGGAS AYAM


2.1 Prinsip Pencernaan Pada Unggas Ayam

Pencernaan ayam yang memiliki panjang 245 – 255 cm, tergantung pada umur dan jenis unggas
memiliki prinsip pencernaan yang terdiri dari tiga macam yaitu pencernaan secara mekanik (fisik),
pencernaan secara kimiawi (enzimatik) dan Pencernaan secara mikrobiologik yang terjadi di sekum dan
kolon.

1. Pencernaan secara mekanik (fisik); Pencernaan ini dilakukan oleh kontraksi otot polos, terutama terjadi
di empedal (gizzard) yang dibantu oleh bebatuan (grit). Pencernaan ini banyak terjadi pada ayam yang
dipelihara secara umbaran sehingga mendapatkan grit lebih banyak daripada ayam yang dipelihara
secara terkurung.

2. Pencernaan secara kimiawi (enzimatik); Pencernaan secara kimia dilakukan oleh enzim pencernaan
yang dihasilkan: (1) kelenjar saliva di mulut; (2) enzim yang dihasilkan oleh proventrikulus; (3) enzim dari
pankreas; (4) enzim empedu dari hati; dan (5) enzim dari usus halus. Peranan enzim-enzim tersebut
sebagai pemecah ikatan protein, lemak, dan karbohidrat.

3. Pencernaan secara mikrobiologik (jumlahnya sedikit sekali) dan terjadi di sekum dan kolon. Secara
umum pencernaan pada unggas meliputi aspek: digesti yang terjadi pada paruh, tembolok,
proventrikulus, ventrikulus (empedal/gizzard), usus halus, usus besar, dan ceca; absorpsi yang terjadi
pada usus halus (small intestinum) melalui vili-vili (jonjot usus);

4. metabolisme yang terjadi pada sel tubuh yang kemudian disintesis menjadi protein, glukosa, dan hasil
lain untuk pertumbuhan badan, produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan lemak, dan
menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya. (Parakkasi, 1990).

2.2 Alat Pencernaan Pada Unggas Ayam

Sistem pencernaan adalah penghancuran bahan makanan (mekanis/enzimatis, kimia dan


mikrobia) dari bentuk komplek (molekul besar) menjadi sederhana (bahan penyusun) dalam saluran
cerna. Tujuan dari pencernaan itu sendiri adalah untuk mengubah bahan komplek menjadi sederhana.
Dan kegunaanya adalah unuk mempermudah penyerapan oleh vili usus.

Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan dan organ asosori. Saluran pencernaan
merupakan organ yang menghubungkan dunia luar dengan dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses
metamolik di dalam tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari 10 bagian antara lain:

1. Mulut
2. Esophagus (Kerongkongan)

3. Crop (Tembolok)

4. Proventriculus (Lambung kelenjar)

5. Gizzard (Empedal)

6. Duodenum

7. Usus halus (Small Intestine)

8. Ceca (Usus Buntu)

9. Rectum (Usus Besar)

10. Kloaka

Sementara organ pencernaan tambahan terdiri dari 2 bagian antara lain:

1. Pankreas

2. Hati

Fungsi Dari Masing-Masing Organ Diatas Antara Lain:

1. Mulut

Mulut ayam tidak memiliki lidah, pipi, dan gigi. Langit-langitnya lunak, tetapi memiliki rahang
atas dan bawah yang menulang untuk menutup mulut. Rahang atas melekat pada tulang tengkorak dan
yang bawah bergantung. Langit-langit kertas dibagi oleh celah sempit yang panjang di bagian tengah
yang terbuka ke bagian saluran nasal. Lubang ini dan tidak adanya langit-langit lunak menjadikan tidak
mungkin bagi burung untuk melakukan penghampaan untuk menghisap air ke dalam mulut. Burung
harus menyeduk air ke atas bila minum dan membiarkannya turun kerongkongan oleh adanya gaya
gravitasi.

Kedua rahang berhubungan sebagai paruh. Lidah berbentuk seperti pisau yang memiliki
permukaan kasar di bagian belakang untuk membantu mendorong makanan ke esophagus. Seliva
dengan enzim amilase disekresikan oleh kelenjer di mulut. Namun, pakan melalui mulut lajunya terlalu
cepat sehingga sedikit terjadi perubahan pada pencernaan di sini.

2. Esophagus
Esophagus sering disebut juga kerongkongan yang berupa pipa tempat pakan, melalui saluran ini
dari bagian belakang mulut (pharynx) ke proventrikulus. Bagian dalam kerongkongan terdapat kelenjar
mukosa yang berfungsi membasahi makanan sehingga makanan menjadi licin. Pada dinding
kerongkongan terdapat otot-otot yang mengatur gerakan peristaltic, yaitu gerak meremas-remas
makanan yang berbentuk gumpalan-gumpalan untuk didorong masuk ke proventrikulus.

3. Crop (tembolok)

Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian yang melebar di salah satu sisinya
menjadi kantong yang di kenal sebagai crop (tembolok). Tembolok berperan sebagai tempat
penyimpanan pakan. Sedikit atau bahkan tidak ada proses pencernaan di sini, kecuali pencampuran
sekresi saliva dari mulut yang di lanjutkan aktivitasnya di tembolok.

4. Proventriculus

Proventriculus adalah suatu pelebaran dari kerongkongan sebelum berhubungan dengan gizzard
(empedal). Kadang-kadang di sebut glandula stomach atau true stomach. Di sini, gastric juice di
produksi. Pepsin, suatu enzim untuk membantu pencernaan protein, dan hidrocoloric acid di sekresi
oleh glandular cell. Oleh karena pakan berlalu cepat melalui proventriculus maka tidak ada pencernaan
material pakan di sini. Akan tetapi, sekresi enzim mengalir ke dalam gizzard sehingga dapat bekerja di
sini.

5. Gizzard (empedal)

Gizzard sering kali juga disebut muscular stomach (perut otot). Lokasinya berada di antara
ventrikulus dan bagian atas usus halus. Gizzard memiliki dua pasang otot yang sangat kuat sehingga
ayam mampu menggunakan tenaga yang kuat. Mukosa permukaan gizzard sangat tebal, tetapi secara
tetap tererosi. Reruntuhan gizzard tertinggal bila kosong, tetapi bila pakan masuk, otot berkontraksi.
Partikel pakan yang lebih besar menyebabkan kontraksi juga semakin cepat. Biasanya, gizzard
mengandung material yang bersifat menggiling, seperti grit, karang dan batu kerikil. Partikel pakan
segera digiling menjadi partikel kecil yang mampu melalui saluran usus. Material halus akan masuk
gizzard dan keluar lagi dalam beberapa menit, tetapi pakan berupa material kasar akan tinggal di gizzard
untuk beberapa jam.

6. Usus halus (small intestine)

Usus halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya pencernaan dan absorpsi produk
pencernaan. Berbagai enzim yang masuk ke dalam saluran pencernaan ini berfungsi mempercepat dan
mengefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah proses absorpsi.
Pada ayam dewasa, panjang usus halus sekitar 62 inci atau 1,5 m. Secara anatomis, usus halus di bagi
menjadi tiga bagian, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum.

a. Duodenum

Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh
selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Usus dua belas
jari bertanggung jawab untuk menyalurkan makanan ke usus halus. Secara histologis, terdapat kelenjar
Brunner yang menghasilkan lendir. Dinding usus dua belas jari tersusun atas lapisan-lapisan sel yang
sangat tipis yang membentuk mukosa otot.

b. Jejunum

Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas
jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam
tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat
jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus
dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus
penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong
dan usus penyerapan secara makroskopis. Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti "lapar"
dalam bahasa Inggris modern. Arti aslinya berasal dari bahasa Latin, jejunus, yang berarti "kosong".

c. Ileum

Usus penyerapan atau adalah bagian terakhir dari usus halus dan terletak
setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pHantara 7 dan 8
(netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

7. Ceca (usus buntu)

Diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua kantong yang disebut sebagai ceca (usus
buntu). Dalam keadaan normal, panjang setiap ceca cekitar 6 inci atau 15 cm. Pada unggas dewasa yang
sehat, ceca berisi pakan lembut yang keluar-masuk. Akan tetapi, tidak ada bukti mengenai peran serta
dalam pencernaan. Hanya sedikit air terserap, sedikit karbohidrat dan protein dicerna berkat bantuan
beberapa bakteri.

8. Usus besar

· Panjang usus besar sekitar 10 cm dan diameternya dua kali usus halus, hal ini dapat dilihat pada ayam
dewasa

· Bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus dan kloaka
· Berfungsi mengatur kadar air sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat bakteri Esecherichia coli
yang membusukan sisa-sisa makanan menjadi feses. Pembusukan menyebabkan feses lunak dan mudah
di keluarkan.

· Bagian akhir usus besar (rectum) tidak terjadi lagi penyerapan air. Rectum dapat berkontraksi sehingga
menimbulkan terjadinya defekasi yaitu pengeluaran zat-zat sisa makanan melalui anus.

9. Kloaka

Kloaka sering disebut common sewer yaitu saluran umum tempat saluran pencernaan, saluran
reproduksi dan saluran kencing bermuara. Air kencing yang sebagian besar merupakan endapan asam
urat (dalam bentuk pasta berwarna putih) dikeluarkan melalui kloaka bersama sisa pencernaan atau
tinja. Kloaka berbentuk bulat terletak pada akhir saluran pencernaan.

11. Organ pencernaan tambahan

Organ-organ tertentu berkaitan erat dengan pencernaan sebagai saluran sekresi ke dalam
saluran pencernaan. Fungsinya membantu dalam pemprosesan pakan organ tersebut yaitu pankreas,
liver, kantong empedu.

a. Pankreas

Pankreas terletak di antara duodenal loop pada usus halus. Pankreas merupakan suatu kelenjer
yang berfungsi sebagai kelenjer endokrin maupun sebagai kelenjer eksokrin. Sebagai kelenjar endokrin,
pankreas mensekresikan hormon insulin dan glukagon. Sementara sebagai kelenjer eksokrin, pankreas
mensekrsikan cairan yang diperlukan sebagai proses pencernaan di dalam usus halus, yaitu pencreatic
juice. Cairan ini selanjutnya mengalir kedalam duodenum melalui pancreatic duct (saluran pankreas),
dimana lima enzim yang kuat membantu pencernaan pati, lemak, dan protein.

Beberapa enzim dari pankreas disimpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif dan menjadi aktif
pada saat berada di saluran pencernaan. Tripsinogen adalah enzim proteolitik yang di aktifkan di dalam
usus halus oleh enterokinase, suatu enzim yang di sekresikan dari mukosa usus. Tripsinogen di aktifkan
menjadi tripsin. Kemudian, tripsin akan mengaktifkan kimotripsinogen menjadi kimotripsin. Enzim yang
lainnya-nuklease, lipase dan amilase-disekresikan dalam bentuk aktif. Beberapa enzim membutuhkan
kondisi lingkungan optimal untuk dapat berfungsi.

b. Liver (hati)

Dari perut dan usus halus, sebagian besar pakan yang diserap masuk ke dalam vena portal menuju
hati, suatu kelenjar terbesar ke dalam tubuh. Hati tersusun dari dua lobi besar.
Fungsi fisiologi hati sebagai beriku:

1. Sekresi empedu.

2. Detoksifikasi persenyawaan racun bagi tubuh.

3. Metabolisme protein, karbohidrat dan lipida.

4. Penyimpan vitamin.

5. Penyimpan karbohidrat.

6. Destruksi sel-sel darah merah.

7. Pembentukan protein plasma.

8. Inaktifasi hormon polipeptida.

Fungsi utama hati dalam pencernaan dan absorpsi adalah produksi empedu. Empedu penting
dalam proses penyerapan lemak pakan dan ekskresi limbah produk, seperti kolesterol dan hasil
sampingan degradasi hemoglobin. Warna kehijauan empedu disebabkan karena produk akhir destruksi
sel darah merah, yaitu biliverdin dan bilirubin.

Volume empedu tergantung pada :

1. Aliran darah

2. Status nutrisi unggas

3. Tipe pakan yang dikonsumsi

4. Sirkulasi empedu enterohepatic.

c. Kantong empedu (gallblader)

Ayam memiliki kantong empedu tetapi beberapa jenis burung tidak. Dua saluran empedu
mentransfer empedu dari hati ke usus. Saluran kanan kantong empedu terbentuk melebar, dimana
sebagian besar empedu mengalir dan kadang-kadang di tampung. Sementara pada saluran sebelah kiri
tidak melebar. Oleh karena itu, hanya sedikit empedu yang mengalir melalui bagian ini secara langsung
ke usus. (DeoPudaka, 2011).

Gambar 1. Bagian organ-organ sitem pencernaan Ayam

2.3 Pencernaan Karbohidrat Pada Unggas Ayam


Ayam tidak mempunyai gigi, tetapi mempunyai paruh untuk melumatkan makanannya.
Kelenjar air ludah (salive) ayam sedikit yang mengandung enzyme pitialin (amilase) yang memecah pasti
menjadi maltosa (jamarun, 1980). Biasanya ayam menimbun makanan yang dinamakannya di dalam
tembolok, suatu verikulum (pelebaran) oeshopaghus yang tidak terdapat pada nonruminansia lain.
Tembolok tidak mengandung kelenjar. Di dalam tembolok makanan disimpan dan dilunakan oleh air
ludah yang ditelan bersama makanan dan mungkin terdapat aktifitas jasad renik yang penting di
dalamnya. Lamanya makanan dalam tembolok bergantung pada sifat makannnya. Makanan hewani
disinmpan sekitar 8 jam sedangkan makanan nabati dapat mencapai16-18 jam.

Makanan yang berasal dari tembolok diteruskan ke proventrikulus (lambung kelenjar) dan
ventrikulus lambung otot. Di dalam lambung tidak terjadi pencernaan karbohidrat yang penting (Tillman
dkk. , 1989). Makanan yang berasal dari lambung masuk ke dalam rempela atau gizzard. Gizzard tidak
mengandung enzim tetapi disini terdapat batu-batuan yang berfungsi untuk memecah makanan
(Jamarun, 1990). Gizzard mempunyai otot-otot yang kuat yang dapat berkontraksi secara teratur untuk
menghancurkan makanan sampai menjadi bentuk pasta yang dapat masuk ke dalam usus halus. Ayam
yang diberi makanan allmash umumnya mempunyai gizzard yang lunak dan kurang berotot
dibandingkan dengan gizzard ayam yang diberi makanan keras atau butiran yang keras, bila grit tidak
tersedia.

Angorodi (1985) menyatakan bahwa setelah makanan yang dihaluskan bergerak melalui gizzard
kelekukan duodenal makan getah pancreatic dikeluarkan dari pancreas kelekukan duodenal. Pada waktu
yang bersamaan, garam empedu alkalis dalam hati yang disimpan dalam kantong empedu dikeluarkan
pula ke dalam lekukan duodenal. Garam empedu menetralisir keasaman isi usus di daerah tersebut dan
menghasilkan keadaan yang alkalis. Tiga macam enzim pencernaan dikeluarkan dalam getah pankreas.
Salah satu diantaranya amylase yang memecah pati ke dalam dysaccarida atau gula kompleks. Apabila
makanan melalui usus kecil maka sukrosa dan enzim yang memecah gula lainnya (maltase) yang
dikelurarkan didaerah ini selanjutnya menghidrolisir atau mencerna senyawa-senyawa gula ke dalam
gula-gula sederhana terutama glukosa. Gula sederhana adalah hasil akhir pencernaan karbohidrat. Pati
dan gula mudah dicerna oleh ayam dan diubah ke dalam glukosa sedangkan pentose dan serat kasar
sulit dicerna.

Usus besar ayam sangat pendek jika dibandingkan dengan ternak nonruminansia lainnya,
terutama babi dan rodensia. Bila kenyataan ini dihubungkan dengan jalannya makanan dikolon dan
ceacum, diketahui bahwa ada aktifitas jasat renik dalam usus besar ayam tetapi sangat rendah jika
dibandingkan dengan ternak nonruminansia lainnya. Kenyataannya, sangat diragukan apakah selulosa
mengalami hidrolisa dalam usus besar ini, namun pada petunjuk bahwa hemyselulosa mengalami sedikit
hidrolisa (Tillman dkk. , 1989). Saluran pencernaan pada ayam sedemikian pendeknya dan perjalanan
makan yang melalui saluran tersebut begitu cepatnya sehingga jasad renik mempunyai waktu sedikit
untuk mengerjakan karbohidrat yang kompleks.
BAB III

PENYERAPAN KARBOHIDRAT

3.1 Penyerapan Karbohidrat Pada Ayam

Menurut Rizal (2008). Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida, seperti: glukosa,
fruktosa, galaktosa dan mannosa. Glukosa dan galaktosa diserap lebih cepat karena ia menggunakan
sistem transport aktif yang terikat pada protein pembawa (carrier) bersama-sama dengan sodium
(Na). Fruktosa dan mannosa diserap lebih lambat karena menggunakan transport pasif (secara diffusi)
yang difasilitasi. Tempat penyerapan utama pada bagian Jejunum. Sedangkan menurut
Widodo Karbohidrase merupakan enzim-enzim yang memecah karbohidrat menjadi gula-gula yang lebih
sederhana. Amilase berfungsi merombak pati menjadi gula-gula yang lebih sederhana. Oligosakaridase
memecah oligosakarida menjadi gula sederhana. Disakarida sukrosa dan maltosa secara berturut-turut
dihidrolisis oleh sukrase dan maltase. Sekresi saliva umumnya mengandung enzim amilase. Pati yang
tidak dirombak dalam proventrikulus oleh amilase air liur, dalam lingkungan netral usus dengan cepat
diubah menjadi maltosa oleh amilase pankreas. Dalam cairan usus mungkin terdapat juga sedikit
amilase.

Sebagian besar penyerapan merupakan suatu proses aktif dan bukan sekedar suatu proses
yang pasif. Hal ini diperlihatkan dari kemampuan sel-sel epitel untuk menyerap secara selektif zat-zat
seperti glukosa, galaktosa dan fruktosa dalam konsentrasi yang tidak sama. Glukosa diserap lebih cepat
dari fruktosa, sepanjang epitelnya masih hidup dan tidak rusak. Akan tetapi, setelah unggas mati, ketiga
macam gula sederhana itu akan melintasi mukosa dengan kecepatan yang sama, karena yang bekerja
hanyalah kekuatan fisik dalam bentuk penyerapan pasif. Glikogen suatu karbohidrat khas hewan,
berfungsi sebagai simpanan jangka pendek, yang dapat dipergunakan secara cepat jika gula yang
tersedia dalam darah atau tempat lain telah habis. Glikogen dapat disimpan dalam kebanyakan sel,
terutama dalam sel-sel hati dan otot.

Pada waktu darah dari saluran pencernaan melewati hati, kelebihan gula yang diserap dari
usus diambil oleh sel hati dan diubah menjadi glikogen. Insulin yang dihasilkan oleh kelompok sel-sel
endokrin pankreas, yaitu pulau Langerhans, mengontrol pengambilan glukosa oleh sel-sel dan sintesis
glikogen. Peningkatan gula dalam darah merangsang sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin.
Insulin diangkut melalui darah ke seluruh tubuh tempat hormon ini merangsang sintesis glikogen dalam
sel otot dan hati. Reaksi kebalikannya, yaitu perombakan glikogen menjadi glukosa diatur oleh enzim
pankreas, glukagon, dan oleh epinefrin. Tetapi sel-sel otot tidak mempunyai enzim untuk mengubah
glukosa-6-fosfat menjadi glukosa, sehingga glikogen otot hanya dapat dipergunakan sebagai
penimbunan energi untuk sel otot. Setelah proses penyerapan melalui dinding usus halus, sebagian
besar monosakarida dibawa oleh aliran darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida mengalami proses
sintesis menghasilkan glikogen, oksidasi menjadi CO2 dan H2O, atau dilepaskan untuk dibawa dengan
aliran darah ke bagian tubuh yang memerlukannya. Sebagian lain, monosakarida dibawa langsung ke sel
jaringan organ tertentu dan mengalami proses metabolisme lebih lanjut.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa karbohidrat yang
dibutuhkan oleh unggas meliputi energi metabolisme dan serat kasar. Beberapa karbohidrat sulit
dicerna oleh unggas. Selain itu, pencernaan karbohidrat berupa glikolisis, siklus kreb’s, dan fosforilasi
oksidatif. Karbohidrat tersusun atas unsur C, H, dan O serta berupa monosakarida, disakarida,
oligosakarida, dan polisakarida.

DAFTAR PUSTAKA
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. Ilmu Dasar ternak Unggas. Penebar Swadaya,
Jakarta.

http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/01/metabolisme-karbohidrat.html

http://chickaholic.wordpress.com/2007/11/01/karbohidrat-dan-fungsinya-pada-ransum-ayam/

http://dewintatetew.wordpress.com/2012/05/16/27/

http://budisma.web.id/materi/sma/kelas-xii-biologi/pengertian-proses-siklus-krebs-siklus-asam-sitrat/

http://task-list.blogspot.com/2008/03/ilmu-nutrisi-unggas.html

BAHAN PAKAN SUMBER ENERGI


Bahan pakan sumber energi .

Bahan pakan sumber energi mengandung


1. karbohidrat ( pati ) relative tinggi dibandingkan zat –zat makanan lainnya .
2. kandungan protein sekitar 10%. Bahan pakan yang termasuk golongan tersebut yang pada
umumnya digunakan sebagai bahan pakan peternak ayam di Indonesia . yaitu:
a) Jagung kuning .
b) dedak padi .
c) ubi kayu .
d) sorghum( cantel ) dan lain-lainnya.
1. Jagung
Penggunaan jagung bagi pakan ternak terutama unggas rata-rata berkisar 45-55% porsinya. Hal ini
karena jagung mempunyai banyak keunggulan di bandingkan bahan baku lainnya. Dua diantara
keunggulan jagung adalah kandungan energinya yang bisa mencapai 3350 kcal/kg (NRC 1994) dan
xantophil yang cukup tinggi. Dari sisi asam amino jagung dipandang sebagai bahan yang cukup kaya akan
methionine (rasio) sehingga kombinasi jagung dengan sumber lysine seperti Soybean Meal dirasa cukup
baik dalam penyusunan ransum. Namun demikian, kandungan energi, xantophil dan asam amino jagung
sebenarnya di pengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu contoh adalah kadar air, semakin tinggi kadar air
jagung maka semakin rendah kandungan energi di dalamnya.
Selain jagung kuning, masih ada 2 warna lagi, pada jagung (Zea mays), yaitu jagung putih dan jagung
merah. Diantara ketiga warna itu, jagung merah dan jagung putih jarang terlihat di Indonesia. Jagung
kuning merupakan bahan baku ternah dan ikan yang populer digunakan di Indonesia dan di beberapa
negara. Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan
sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino
penting, terutama lysin dan triptofan.

Kandungan nutrisi jagung :


 Bahan kering : 75 – 90 %
 Serat kasar : 2,0 %
 Protein kasar : 8,9 %
 Lemak kasar : 3,5 %
 Energi gross : 3918 Kkal/kg
 Niacin : 26,3 mg/kg
 TDN : 82 %
 Calcium : 0,02 %
 Fosfor : 3000 IU/kg
 Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg
 Riboflavin : 1,3 mg/kg
 Tiamin : 3,6 mg/kg
2. Sorgum
Sorgum (Sorghum bicolor L.) adalah tanaman serealia yang potensial untuk dibudidayakan dan
dikembangkan, khususnya pada daerah-daerah marginal dan kering di Indonesia. Keunggulan sorgum
terletak pada daya adaptasi agroekologi yang luas, tahan terhadap kekeringan, produksi tinggi, perlu
input lebih sedikit serta lebih tahan terhadap hama dan penyakit dibading tanaman pangan lain. Selain
itu, tanaman sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, sehingga sangat baik digunakan sebagai
sumber bahan pangan maupun pakan ternak alternatif. Terkait dengan energi, di beberapa negara
seperti Amerika, India dan Cina, sorgum telah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar
etanol (bioetanol). Sorgum merupakan merupakan salah satu komoditi unggulan untuk meningkatkan
produksi bahan pangan dan energi, karena keduanya dapat diintegrasikan proses budidayanya dalam
satu dimensi waktu dan ruang Kandungan nutrisi sorgum yaitu :
Tabel 1. Kandungan nutrisi sorgum dibanding sumber pangan lain yaitu :

Unsur Nutrisi Kandungan/100 g


Sorgum
Kalori (cal) 332
Protein (g) 11.0
Lemak (g) 3.3
Karbohidrat (g) 73.0
Kalsium (mg) 28.0
Besi (mg) 4.4
Posfor (mg) 287
Vit. B1 (mg) 0.38
Sumber: DEPKES RI., Direktorat Gizi (1992).

3. UBI KAYU
Singkong (ubi kayu) sebagai bahan makanan memang tidak pernah dimakan dalam bentuk mentah
sebagaimana ubi manis. Secara fisik, apabila ubi kayu dibuka kulitnya dan dibiarkan, tidak segera
digoreng atau direbus, maka akan berubah warna menjadi kebiru-biruan. Hal ini menunjukkan adanya
sesuatu zat yang perlu diperhatikan secara serius. Namun apabila ubi kayu t digoreng, dibakar atau
direbus, maka zat yang kebiru-biruan tersebut akan punah. Oleh karena itu diperlukan proses tertentu
sebelum ubi kayu digunakan.
Kandungan energi ubi kayu ± 2970 Kkal/kg, mengalahkan energi dalam dedak, kacang kedelai dan
bungkil kelapa. Oleh karena itu ubi kayu banyak diberikan kepada unggas pedaging yang memang
memerlukan energi tinggi, seperti : ayam broiler, bebek, angsa dan sejenisnya, tetapi tidak diperlukan
untuk anggas petelur.
Tabel 1. Komposisi Ubi Kayu (per 100 gram bahan)
KOMPONEN KADAR
Kalori 146,00 kal
Air 62,50 gram
Phosphor 40,00 mg
Karbohidrat 34,00 gram
Kalsium 33,00 mg
Vitamin C 30,00 mg
Protein 1,20 gram
Besi 0,70 mg
Lemak 0,30 gram
Vitamin B1 0,06 mg
Berat dapat dimakan 75,00

4. BEKATUL
Banyak orang menggambarkan bekatul sebagai limbah dengan bau tengik, apek, dan asam. Persepsi
tersebut tidak sepenuhnya benar karena bekatul memiliki karakteristik cita rasa yang lembut dan agak
manis. Bau tidak sedap akan muncul jika bekatul mulai mengalami kerusakan. Bekatul mengandung
karbohidrat cukup tinggi, yaitu 51-55 g/100 g. Kandungan karbohidrat merupakan bagian dari
endosperma beras karena kulit ari sangat tipis dan menyatu dengan endosperma. Kehadiran karbohidrat
ini sangat menguntungkan karena membuat bekatul dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.
Kandungan protein pada bekatul juga sangat baik, yaitu 11-13 g/100 g. Dibandingkan dengan telur, nilai
protein bekatul memang kalah, tapi masih lebih tinggi bila dibandingkan dengan kedelai, biji kapas,
jagung, dan tepung terigu.
Dibandingkan dengan beras, bekatul memiliki kandungan asam amino lisin yang lebih tinggi. Zat gizi lain
yang menonjol pada bekatul beras adalah lemak, kadarnya mencapai 10-20 g/100 g. Minyak yang
diperoleh dari bekatul dapat digunakan sebagai salah satu minyak makan yang terbaik di antara minyak
yang ada, dan sudah dijual secara komersial di beberapa negara.

Keunggulan dari minyak bekatul untuk menurunkan kolesterol. Bekatul beras juga kaya akan vitamin B
kompleks dan vitamin E. Vitamin B kompleks sangat dibutuhkan sebagai komponen pembangun tubuh,
sedangkan vitamin E merupakan antioksidan yang sangat kuat.

Selain itu, bekatul merupakan sumber mineral yang sangat baik, setiap 100 gramnya mengandung
kalsium 500700 mg, magnesium 600-700 mg, dan fosfor 1.000-2.200 mg.

Mempunyai kandungan nutrisi yang sedikit berbeda dengan dedak kasar. Kandungan nutrisi dari bekatul
adalah energi metabolisme sebesar 1.630 Kkl/kg. protein kasar 10,8%, lemak kasar 2,9% dan serat kasar
4,9%..

5. Dedak halus
Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi manusia, sehingga tidak
bersaing dalam penggunaannya. Dedak mengandung bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi
tercampur pula dengan bagian penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya kandungan
serat kasar dedak.
Kandungan nutrisi dedak :
 Bahan kering : 91,0 %
 Protein kasar : 13,5 %
 Lemak kasar : 0,6 %
 Serat kasar : 13.0 %
 Energi metabolis : 1890,0 kal/kg
 Calcium : 0,1 %
 Total Fosfor : 1,7 %
 Asam Pantotenat : 22,0 mg/kg
 Riboflavin : 3,0 mg/kg
 Tiamin : 22,8 mg/kg
6. Bungkil Kacang Kedelai
Selain sebagai bahan pembuat tempe dan tahu, kacang kedele mentah mengandung “penghambat
trypsin” yang harus dihilangkan oleh pemanasan atau metoda lain, sedangkan bungkil kacang kedelai,
merupakan limbah dari proses pembuatan minyak kedelai.

Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai :


 Protein kasar : 42 – 50 %
 Energi metabolis : 2825 - 2890 Kkal/kg
 Serat kasar :6%
Yang menjadi faktor pembatas pada penggunaan kedelai ini adalah asam amino metionin.

7. Bungkil Kacang Tanah


Merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang atau olahan lainnya. Kualitas bungkil kacang tanah
ini tergantung pada proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak. Disamping itu, proses pemanasan
selama pengolahan berlangsung, juga menentukan kualitas bungkil ini, selain dari kualitas tanah,
pengolahan tanah dan varietas kacang itu sendiri.
Kandungan nutrisi bungkil kacang tanah :
• Bahan kering : 91,5 %
• Protein kasar : 47,0 %
• Lemak kasar : 1,2 %
• Serat kasar : 13,1 %
• Energi metabolis : 2200 Kal/kg

Kadar metionin, triptofan, treonin dan lysin bungkil kacang tanah juga mudah tercemar oleh jamur
beracun Aspergillus flavus.

8. Minyak Nabati
Penggunaan minyak diperlukan pada pembuatan pakan ikan yang membutuhkan pasokan energi tinggi,
yang hanya dapat diperoleh dari minyak. Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak nabati yang
baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari
kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2 – 6 %.

9. BUNGKIL KELAPA
Bungkil Kelapa Merupakan limbah dari pembuatan minyak kelapa
Kandungan protein cukup tinggisekitar 21,6%
Energi metabolis sekitar 1540 – 1745 Kkal/Kg.
Secara umum bungkil kelapa berwarna coklat, ada coklat tua ada coklat muda (coklatterang) sebaiknya
dipilih bungkil kelapa yang berwarna coklat muda atau coklat teranginilah yang kita pilih
Bungkil Kelapa mudah dirusak oleh jamur dan mudah tengik, sehingga harushati-hati dalam
menyimpannya

10. hasil ikutan penggilingan padi .


Hasil ikutan penggilingan padi, berupa dedak halus.dedak lunteh dan bekatul. Semua ini merupakan
bahan pakan sumber energi karena mengandung karbohidrat tinggi, Bekatul merupakan bahan kedua
setelah jagung sebagai bahan campuran pakan ayam .Hal ini disebabkan bahan pakan tersebut
berlimpah, murah dan zat-zat makanan yang tinggi . kelemahan sebagai hasil sampingan produk
pertanian ini ,kandungan serat kasar dan lemaknya tinggi. Bekatul dan dedak mengandung Pitat dalam
ikatan fosfor pitat sehingga daya cernanya rendah Mudah tengik ,dan menganggu penyerpan kalsium.
Oleh karena itu pengunaan harus dibatasi 30% . sebagai bahan pakan ayam petarung,pengunaan sampai
80% asal ditambahkan Vitamin dan Mineral ( Premix ).

Pakan tambahan:
 Beras merah .
Beras merah memiliki kandungan yang lebih baik dibandingkan beras putih .. Beras Merah sangat
mendukung pertumbuhan karena zat besinya tinggi. Juga mendukung kecerdasan , dan karbohidartnya
rendah,
Kandungan zat besi (ferro = Fe) beras merah adalah 4,61 mg/100 gram, sedangkan beras putih hanya
0,13 mg, . Kandungan zat seng (Zinkum=Zn) 8,30 mg/100 gram, sedangkan beras putih 0,6 . Kandungan
karbohidrat, paling rendah yakni 71,34 persen sedangkan beras putih 80 persen .( informasi dari peneliti
UGM ). Kekuranganya adalah , harus diimbangi dengan protein hewani atau sumber protein hewani atau
bahan sumber asam amino esensial.

11. hasil pengolahan produk pertanian lainnya .


Banyak hasil ikutan pengolahan hasil pertanian yang dapat digunakan sebagai sumber enegi, contohnya
dedak jagung.dedak gandum.tepung ampas tapioka, tepung ampas tahu.tepung ampas ketan hitam, dan
tepung ampas brem. Bahan pakan tersebut diatas bukan sebagai bahan utama karena keterbatasan
dalam pengadaan atau karena kandungan zat-zat makananya rendah.

Anda mungkin juga menyukai