Anda di halaman 1dari 48

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kanker diartikan sebagai pertumbuhan sel tubuh yang abnormal, dimana sel
bertumbuh sangat cepat dan tidak terkontrol sehingga dapat menekan dan atau menyusup
ke jaringan normal disekitarnya dan mengakibatkan gangguan fungsi tubuh.1 Kanker
merupakan masalah kesehatan yang serius dengan jumlah penderita yang meningkat
sekitar 20% per tahun di dunia.2 Kanker dinyatakan sebagai pembunuh nomor dua di
dunia setelah penyakit jantung. Setiap tahun terdapat 12 juta manusia di dunia terkena
kanker dan 7,6 juta meninggal karena kanker. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar
2013, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia mencapai 1,4 per 1000 penduduk
dengan angka tertinggi terdapat di pulau Jawa, yakni Yogyakarta yang mencapai 4,1 per
1000 penuduk.3

Serviks atau leher rahim merupakan bagian terendah dari rahim yang menempel
pada puncak vagina.1 Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah kanker yang
terdapat dalam leher rahim/serviks. Berdasarkan GLOBOCAN 2012, kanker serviks
merupakan kanker ketujuh terseringdi dunia dan menepati urutan keempat tersering pada
perempuan.8Di dunia, tiap 1 menit muncul 1 kasus baru dan tiap 2 menit 1 orang
meninggal karena kanker serviks. Sekitar 490.000 perempuan didiagnosa terkena kanker
serviks dengan 80% penderita berada di negara berkembang termasuk Indonesia.1 Di
Indonesia, kanker serviks merupakan penyebab kematian nomer satu. Setiap hari, 40-45
kasus baru ditemukan dan 20-25 perempuan meninggal karena kanker serviks. Adapun
sekitar 92,4% penderita kanker serviks terakumulasi di Jawa dan Bali. Di Provinsi DKI
Jakarta, kanker serviks berada di urutan keempat pada tahun 2013 dengan 5.919 (1,2%)
kasus baru kanker serviks. Sementara itu, di RS Kanker Dharmais Jakarta, selama tahun
2010-2013 kanker serviks memasuki peringkat ketiga terbesar kasus kanker, dengan
jumlah kasus baru serta jumlah kematian akibat kanker tersebut yang terus meningkat
setiap tahunnya.7

Kanker serviks biasanya tejadi pada wanita berusa 35-55 tahun2 dengan tanda dan
gejala berupa perdarahan, cairan vagina yang berwarna kmerahan, dan rasa berat atau
nyeri di perut bawah. Namun demikian, sekitar 92% penderita tidak memiliki keluhan.1
Keluhan biasanya baru akan muncul pada stadium lanjut4sementara angka kematian yang
tinggi terjadi akibat sekitar sepertiga penanganan kasus kanker termasuk kanker serviks
terjadi pada stadium lanjut.9Mengatasi hal tersebut, sejak tahun 2007 Kemenkes
mengembangkan program deteksi dini kanker serviks.4

Terdapat sejumlah pemeriksaan yang dapat dilakukan dalam upaya deteksi dini
kanker serviks, antara lain Tes Papanicolaou (PAP) Smear, Kolposkopi, Gineskopi,
Servikografi Konisasi, Inspeksi serviks, PAPNET, Tes HPV-DNA.1Di hampir seluruh
dunia, upaya deteksi dini kanker serviks masih terfokus pada pemeriksaan dengan tes
PAP. Namun demikian, keberhasilannya di negara berkembang seperti Indonesia masih
terbatas. Hal ini antara lain dikarenakan keterbatasan fasilitas kesehatan yang dapat
melayani tes PAP serta kurangnya tenaga ahli yang kompeten dalam pemeriksaan
maupun interpretasi tes PAP. Karena sulitnya melakukan tes PAP di negara berkembang,
diupayakan suatu tes alternatif untuk deteksi lesi prakanker serviks dengan metode yang
lebih mudah, sederhana, cepat, sensitif, serta cost effective,,yakni pemeriksaan Inspeksi
Visual Asam Asetat (IVA).5,6

Pemeriksaan IVA merupakan pemeriksaan visual dengan mata tekanjang pada


serviks/leher rahim yang telah diberikan cairan asam asetat 3%-5%. Menurut WHO,
pemeriksaan IVA direkomendasikan pada wanita usia subur berusia 30-50 tahun dan
dapat mendeteksi adanya lesi prakanker 10-20 tahun lebih awal sebelum terdiagnosis
sebagai kanker serviks. Adapun American Cancer Society merekomendasikan
pemeriksaan IVA secara ideal dimulai sejak 3 tahun setelah hubungan seksual pertama
kali dilakukan.7

Meskipun merupakan pemeriksaan yang mudah diupayakan di Indonesia,


pengetahuan masyarakat akan pemeriksaan IVA masih tergolong rendah. Pada suatu
penelitian di Pusat Layanan Primer yang dilakukan kepada 198 responden, didapatkan
61,6% responden yang menjawab kegunaan IVA dengan benar sementara 19,3%
responden menjawab salah.4 Hingga tahun 2016, cakupan pemeriksaan IVA dan
SADANIS sebesar 4,34%, angka yang masih sangat jauh dari target nasional yaitu
sebesar 10% pada akhir tahun 2015. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan angka
cakupan tertinggi kedua setelah Bali, yakni 9,88%.9Namun demikian, data Puskesmas
Kelurahan Palmerah I menunjukkan jumlah kunjungan IVA pada tahun 2016 masih
rendah, yakni sebanyak 181 kunjungan dan pada bulan Oktober 2016 hingga Oktober
2017. Menurut survei kecil yang dilakukan di Puskesmas Kelurahan Palmerah I, 88,7%
perempuan masih banyak yang tidak mengetahui mengenai pemeriksaan IVA.

Berdasarkan hal tersebut, upaya penanggulangan kanker serviks melalui peningkatan


pencegahan dini kanker serviks di wilayah kerja Puskesmas Palmerah I sangat penting
dilakukan.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Berdasarkan GLOBOCAN 2012, kanker serviks merupakan kanker ketujuh
tersering di dunia dan menepati urutan keempat tersering pada perempuan3
dengan 80% penderita berada di negara berkembang.1 8Di dunia, tiap 1 menit
muncul 1 kasus baru dan tiap 2 menit 1 orang meninggal karena kanker
serviks.1
1.2.2. Di Indonesia, kanker serviks merupakan penyebab kematian nomer
satu.Sekitar 92,4% penderita kanker serviks terakumulasi di Jawa dan Bali.
Setiap hari, 40-45 kasus baru ditemukan dan 20-25 perempuan meninggal
karena kanker serviks.7
1.2.3. Di Provinsi DKI Jakarta, kanker serviks berada di urutan keempat pada tahun
2013 dengan 5.919 (1,2%) kasus baru kanker serviks. RS Kanker Dharmais
Jakarta, selama tahun 2010-2013 kanker serviks berada di peringkat ketiga
terbesar kasus kanker, dengan jumlah kasus baru serta jumlah kematian akibat
kanker tersebut yang terus meningkat setiap tahunnya.7
1.2.4. Sekitar 92% penderita tidak memiliki keluhan.1 Keluhan biasanya baru akan
muncul pada stadium lanjut4 sementara angka kematian yang tinggi terjadi
akibat sekitar sepertiga penanganan kasus kanker termasuk kanker serviks
terjadi pada stadium lanjut.9
1.2.5. Jumlah kunjungan IVA pada di Puskesmas Keluahan Palmerah I pada bulan
Oktober 2016 - Oktober 2017 masih rendah, yakni sebanyak 181 kunjungan
dan 88,7% perempuan yang berkunjung ke Puskesmas Kelurahan Palmerah I
masih banyak yang tidak mengetahui mengenai pemeriksaan IVA.
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Meningkatkan cakupan kunjungan pemeriksaan IVA di Puskesmas Kelurahan
Palmerah I.
1.3.2. Tujuan Khusus
1.3.2.1. Meningkatkan pengetahuan warga Kelurahan Palmerah I terkait kanker
serviks dan pemeriksaan IVA sebagai pendeteksi dini kanker serviks.
1.3.2.2. Membentuk kader IVA di setiap Rukun Warga (RW) yang berada di
wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah I.
1.3.2.3. Meningkatkan angka kunjungan pemeriksaan IVA di Puskesmas
Kelurahan Palmerah I.

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat Bagi Akademisi
Tambahan wawasan dan pengetahuan mengenai kanker serviks dan
pemeriksaan IVA.
1.4.2. Manfaat Bagi Puskesmas
Meningkatkan pelayanan masyarakat di bagian Kesehatan Ibu dan Anak.
1.4.3. Manfaat Bagi Masyarakat
1.4.3.1. Masyarakat memahami kanker serviks dan bahayanya.
1.4.3.2. Masyarakat memahami pentingnya deteksi dini kanker serviks melalui
pemeriksaan IVA dan memiliki kesadaran untuk melakukannya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kanker Serviks


2.1.1. Definisi
Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks.
Keganasan pada serviks ini diketahui disebabkan oleh infeksi virus Human
Papilloma Virus (HPV) sub tipe onkogenik, terutama sub tipe 16 dan 18.10
Karsinoma serviks diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara
seksual.11

2.1.2. Epidemiologi
Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker serviks
setiap tahunnya. Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat
laboratorium patologi, kanker serviks merupakan penyakit kanker yang
memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu kurang lebih 36%. Di
Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo, frekuensi kanker serviks sebesar
76,2% di antara kanker ginekologi. Mayoritas pasien datang pada stadium
lanjut, yaitu stadium IIB-IVB sebanyak 66,4%, stadium IIIB, yaitu stadium
dengan gangguan fungsi ginjal sebanyak 37,3% atau lebih dari sepertiga
kasus.11
Relative survival pada wanita dengan lesi preinvasif hampir 100%.
Relative survival 1 dan 5 tahun masing-masing sebesar 88% dan 73%. Apabila
dideteksi pada stadium awal, kanker serviks invasif merupakan kanker yang
paling berhasil diterapi, dengan survival rate 5 tahun sebesar 92% untuk
kanker lokal.11
Wanita di kelas sosialekonomi yang rendah memiliki faktor risiko lima
kali lebih besar daripada wanita dengan sosialekonomi tinggi. Hubungan
mungkin dikacaukan oleh hubungan seksual dan akses ke sistem pelayanan
kesehatan. Wanita dengan ras negro dan wanita Asia memiliki insiden kanker
serviks lebih tinggi. Wanita dengan suami yang bekerja dengan paparan bahan
tertentu seperti debu, logam, bahan kimia, tar, atau oli mesin dapat menjadi
faktor risiko kanker serviks.11

2.1.3. Anatomi Serviks

Serviks merupakan sepertiga bagian bawah uterus, berbentuk silindris,


menonjol, dan berhubungan dengan vagina melalui ostium uteri eksternum.10
Serviks uteri atau serviks merupakan jaringan berbentuk silinder,
dengan panjang 2,5 sampai 3 cm dan merupakan penghubung vagina dan
uterus. Serviks dikenal juga dengan istilah mulut rahim. Disebut demikian
karena serviks memang merupakan bagian terdepan dari rahim yang menonjol
ke dalam vagina. Serviks uteri terbentuk dari jaringan ikat, pembuluh darah,
otot polos, dengan konsistensi kenyal. Ada dua bagian utama serviks yaitu
bagian ektoserviks dan bagian endoserviks. Bagian dari serviks yang dapat
dilihat dari dalam vagina selama pemeriksaan ginekologi dikenal sebagai
ektoserviks. Endoserviks, atau kanal endoserviks adalah bagian yang
merupakan terusan dari os eksternal yang menghubungkan serviks dan rahim.
Ektoserviks merupakan bagian vaginal dari serviks. Os eksternal adalah
pembukaan kanal yang ada diantara endoserviks dan ektoserviks. Os internal
adalah bagian atas kanal. Forniks adalah refleksi dinding vaginal yang
mengelilingi ektoserviks.12
Epitel serviks terdiri dari 2 jenis, yaitu epitel skuamosa (ektoserviks)
dan epitel kolumnar (endoserviks). Daerah pertemuan kedua jenis epitel
disebut sambungan skuamosa kolumnar (SSK) dan letaknya dipengaruhi oleh
faktor hormonal yang berkaitan dengan umur, aktivitas seksual dan paritas.
Pada perempuan berusia sangat muda dan menopause, SSK terletak di dalam
ostium. Sedangkan pada perempuan usia reproduksi/seksual aktif, SSK
terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot oleh
prostaglandin.12
Terdapat 2 ligamen yang menyokong serviks, yaitu ligamen kardinal
dan uterosakral. Ligamen kardinal adalah jaringan fibromuskular yang keluar
dari segmen bawah uterus dan serviks ke dinding pelvis lateral dan
menyokong serviks. Ligamen uterosakral adalah jaringan ikat yang
mengelilingi serviks dan vagina dan memanjang hingga vertebra. Pasokan
darah dari serviks berasal dari arteri iliaka internal, yang membentuk uterine
arteri. Serviks dan cabang arteri vagina dari uterus mensuplai bagian vagina
bagian atas.12
Serviks diinervasi oleh saraf sensorik dan susunan saraf otonom baik
susunan saraf simpatis maupun susunan saraf parasimpatis. Susunan saraf
simpatis berasal dari daerah T5-L2 yang mengirimkan serat-serat yang
bersinaps pada satu atau banyak pleksus yang terdapat pada dinding perut
belakang atau di dalam panggul sehingga yang sampai di serviks ialah saraf
pascaganglion. Serat parasimpatis berasal dari daerah S2-S4 dan bersinaps
dalam pleksus dekat dinding rahim. Serat-serat saraf masuk ke uterus melalui
serviks dalam dan kebanyakan melalui ganglion Frankenhauser (ganglion
serviks, pleksus uterovaginal) yang merupakan pleksus utama pada panggul
dan terletak dekat pada ujung ligament sakrouterina.12

2.1.4. Patogenesis dan Perjalanan Penyakit


Kanker serviks umumnya berasal dari SSK yang diawali dengan
infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Ada dua tipe HPV, yaitu HPV
onkogenik (risiko tinggi menyebabkan kanker serviks) tipe 16 dan 18, serta
HPV non-onkogenik (risiko rendah) antara lain tipe 6 dan 11 yang
menyebabkan kondiloma akuminata. Infeksi HPV pada umumnya bersifat
self-limiting. Akan tetapi, 10% infeksi akan menjadi kronis dan dapat
menyebabkan lesi pra-kanker (CIN/cervical intraepithelial neoplasia) dalam
2-3 tahun.11,13
Perkembangan kanker invasif berawal dari terjadinya lesi neoplastik
pada lapisan epitel serviks, dimulai dari neoplasia intraepitel serviks (NIS) 1,
NIS 2, NIS 3 atau karsinoma in situ (KIS).10
Pada CIN, displasia ringan sel-sel epitel mukosa serviks akan
berkembang menjadi displasia sedang-berat, karsinoma in-situ, hingga
akhirnya berkembang menjadi kanker invasive setelah menembus membran
basalis. Progresivitas ini sangat bervariasi (3-17 tahun) dan diduga hasil
interaksi antara stimuli lingkungan, imunitas, dan variasi genetik.11
Secara histologis, kanker serviks yang paling banyak dijumpai adalah
tipe karsinoma sel skuamosa dan adenokarsinoma. Tumor sel skuamosa paling
umum (75%) dan berasal dari ektoserviks. Adenokarsinoma mencakup 20-
25% dan berasal dari endoserviks.11

2.1.5. Faktor Risiko


Mempunyai satu atau beberapa faktor risiko, meningkatkan
kemungkinan terkena kanker, antara lain11,13,14
 Koitus pertama pada usia muda (kurang dari 20 tahun). Hal ini disebabkan
karena sel kolumnar serviks lebih peka terhadap metaplasia selama usia
muda maka wanita yang berhubungan seksual sebelum usia 18 tahun akan
berisiko terkena kanker serviks lima kali lipat. Kehamilan pertama pada
usia kurang dari 17 tahun memiliki risiko 2x lebih besar terkena kanker
serviks dibandingkan usia ≥ 25 tahun.11
 Aktivitas seksual yang tinggi dan sering berganti pasangan atau
berhubungan seks dengan laki-laki yang sering berganti pasangan. Wanita
dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan
seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks
dengan risiko lima kali lipat.11 Beberapa studi kasus kontrol menyebutkan
sirkumsisi pada pria pernah dipertimbangkan menjadi faktor pelindung.
 Riwayat infeksi menular seksual, contohnya infeksi Chlamydia yang dapat
menyebabkan inflamasi/radang panggul.
 Multiparitas (≥ 3 kali) dan jarak persalinan terlalu pendek. Belum
diketahui pasti penyebabnya, namun ada beberapa pendapat mengenai hal
tersebut, antara lain:
o Sering terjadi perlukaan pada organ reproduksi yang akan
memudahkan tertular HPV.
o Tidak memakai pelindung/kondom saat berhubungan, sehingga
memiliki kemungkinan terpajan HPV lebih sering.
o Perubahan hormonal saat hamil membuat wanita lebih rentan terkena
infeksi HPV atau pertumbuhan kanker.
o Wanita hamil memiliki sistem imun lebih lemah, memungkinan
infeksi HPV atau pertumbuhan kanker.
 Pemakaian kontrasepsi oral jangka panjang (> 5 tahun) mempunyai risiko
2x lebih besar terkena kanker serviks. Hubungan antara clear cell
adenocarcinoma serviks dan paparan dietilstilbesterol in utero telah
dibuktikan.11
 Perokok aktif maupun pasif. Merokok meningkatkan risiko 2 kali lebih
besar terkena kanker serviks. Konsentrasi nikotin wanita perokok pada
getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum, yang
dapat merusak DNA sel serviks, menurunkan status imun lokal sehingga
bersifat kokarsinogen dari infeksi HPV, dan berkontribusi dalam
perkembangan kanker serviks. Perokok pasif mempunyai risiko 1,4 kali
dibandingkan perempuan yang hidup dengan udara bebas.
 Imunosupresi seperti pada penderita HIV/AIDS atau penggunaan
kortikosteroid jangka panjang. Sistem imun penting dalam
menghancurkan sel-sel kanker dan memperlambat pertumbuhan dan
penyebarannya.
 Usia >35 tahun mempunyai risiko tinggi terjadinya kanker serviks, karena
lamanya waktu pemaparan terhadap karsinogen dan makin menurunnya
sistem imun seiring bertambahnya usia.
 Riwayat kanker serviks pada keluarga (ibu atau saudara perempuan)
mempunyai risiko 2-3 kali lebih besar dibandingkan mereka tanpa riwayat
keluarga.
 Diet rendah karotenoid dan defisiensi asam folat dapat dimasukkan dalam
faktor risiko kanker serviks.
2.1.6. Manifestasi Klinis
Lesi pra-kanker dan stadium dini kanker serviks pada umumnya
asimptomatik (92%). Gejala seringkali baru muncul saat lesi sudah menjadi
kanker invasif dan menyebar ke jaringan sekitar. Manifestasi klinisnya antara
lain sebagai berikut10, 13,15, 16
 Perdarahan pervaginam, merupakan gejala yang paling umum muncul,
seperti perdarahan intermenstrual, post coitus (75-80%), atau perdarahan
setelah menopause.
 Keluarnya duh vagina purulen, berwarna kekuningan (terutama bila lesi
nekrotik) seperti keputihan, berbau dan dapat bercampur dengan darah,
yang muncul saat periode intermenstrual atau setelah menopause.
 Perubahan siklus haid.
 Nyeri saat senggama.
 Pada stadium lanjut dapat ditemukan:
i. Perdarahan spontan diluar senggama akibat terbukanya pembuluh
darah.
ii. Anemia akibat perdarahan berulang.
iii. Gejala dapat berkembang menjadi nyeri pinggang atau perut bagian
bawah yang disebabkan akibat adanya desakan tumor di daerah pelvik
ke arah lateral sampai obstruksi leher rahim yang dapat menyebabkan
oligouria bahkan anuria. Nyeri yang menjalar ke tungkai bawah akibat
infiltrasi sel tumor ke serabut saraf lumbar. Gejala lanjutan dapat
terjadi sesuai dengan infiltrasi tumor ke organ yang terkena seperti,
fistula vesikovaginal, fistula rektovaginal, atau edema tungkai.
iv. Sindroma Anoreksia-Kaheksia
Suatu keadaan yang merusak dan melemahkan pada setiap tahap
keganasan. Manifestasi yang terutama adalah anoreksia, penurunan
berat badan, dan berkurangnya massa otot akibat asupan oral yang
tidak adekuat dan perubahan metabolik. Mekanisme patogenik diduga
akibat dari interaksi tumor-pejamu dan sitokin. Sindrom ini sering
terjadi pada pasien kanker dan mempunyai dampak besar terhadap
morbiditas, mortalitas, dan kualitas hidup pasien.17
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang
Selain melakukan pemeriksaan dengan melakukan inspeksi, dapat dilakukan
dengan melakukan kolposkopi, biopsi serviks, sistoskopi, rektoskopi, USG,
BNO-IVP, foto thoraks, CT scan atau MRI, serta PET scan. Kecurigaan
metastasis ke kandung kemih atau rektum harus dikonfirmasi dengan biopsi
dan histologik. Konisasi dan amputasi serviks dianggap sebagai pemeriksaan
klinik, untuk pemeriksaan sistoskopi dan rektoskopi dilakukan hanya pada
kasus dengan stadium IB2 atau lebih. Pemeriksaan harus dilakukan dengan
cermat, bila perlu dilakukan dalam narkose. Kalau ada keraguan dalam
penentuan maka dipilih stadium yang lebih rendah.10

2.1.8. Diagnosis Banding


2.1.8.1. Adenokarsinoma Endometrial
2.1.8.2. Polip Endoservikal
2.1.8.3. Infeksi Chlamydia trachomatis atau infeksi menular seksual lainnya
Pada wanita yang mengalami infeksi chlamydia atau infeksi menular
seksual lainnya, wanita dapat mengeluhkan keluhan perdarahan
vagina, disertai keluarnya duh vagina yang serosanguinosa, dan nyeri
pelvis. Hal ini disebabkan karena pada beberapa penyakit akibat
infeksi, serviks menjadi radang, rapuh, dan mudah berdarah terutama
setelah berhubungan seksual.10

2.1.9. Klasifikasi
Stadium kanker serviks ditentukan berdasarkan klasifikasi
International Federation of Obstetricians and Gynecologists (FIGO) dan
didasarkan atas pemeriksaan klinis. Jika terdapat keraguan dalam penentuan
stadium, maka dipilih stadium yang lebih rendah.14,18
Stadium Karakteristik
0 Karsinoma insitu (pre-invasif).
I Karsinoma terbatas di serviks (persebaran ke korpus uteri diabaikan).
IA Invasi kanker ke stroma yang hanya dapat didiagnosis secara mikroskopik.
IA1: Invasi ke stroma dengan kedalaman ≤ 3 mm dan lebar horizontal ≤ 7
mm.
IA2: Invasi ke stroma dengan kedalaman > 3 mm tapi ≤ 5 mm dan lebar
horizontal ≤ 7 mm.
IB Lesi invasif > 5 mm, terbatas di serviks
IB1: Lesi ≤ 4 cm.
IB2: Lesi > 4 cm.
II Tumor telah menginvasi di luar uterus tapi belum mengenai dinding panggul
atau sepertiga bawah vagina.
IIA Tanpa invasi ke parametrium.
IIB Sudah invasi parametrium.
III Tumor telah meluas ke dinding panggul dan atau mengenai sepertiga bawah
vagina dan atau menyebabkan hidronefrosis/tidak berfungsinya ginjal.
IIIA Tumor telah meluas ke sepertiga bawah vagina dan tidak invasi ke
parametrium tidak sampai dinding panggul.
IIIB Tumor telah meluas ke dinding pangul dan atau menyebabkan
hidronefrosis/tidak berfungsinya ginjal.
IV Tumor telah meluas ke luar organ reproduksi.
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kamih, rektum, atau keluar dari rongga
panggul minor.
IVB Metastasis jauh penyakit mikroinvasif

Tabel . Stadium kanker serviks berdasarkan FIGO.19


2.1.10. Tatalaksana
Tatalaksana lesi pra-kanker disesuaikan dengan fasilitas pelayanan
kesehatan, sesuai dengan kemampuan sumber daya manusia dan sarana-
prasana yang ada. Pada tingkat pelayanan primer dengan sarana dan prasarana
terbatas dapat dilakukan skrining dengan tes IVA. Bila hasil positif, maka
dapat dilakukan pengobatan sederhana dengan krioterapi oleh dokter umum
atau bidan yang sudah terlatih.
Pada skrining dengan pap smear, temuan hasil abnormal
direkomendasikan untuk konfirmasi diagnostik dengan kolposkopi. Bila
diperlukan, dapat dilanjutkan dengan Loop Excision Electrocauter Procedure
(LEEP) atau Large Lopp Excision of the Transformation Zone (LLETZ) untuk
kepentingan diagnostik sekaligus terapeutik. Bila hasil elektrokauter tidak
mencapai bebas batas sayatan, maka dilanjutkan dengan konisasi atau
histerektomi total. Temuan abnormal setelah kolposkopi, yaitu11,14
 Low grade squamous intraepitheliat lesion (LSIL), dilakukan LEEP dan
observasi 1 tahun.
 High grade squamous intraepitheliat lesion (HSIL), dilakukan LEEP
dan observasi 6 bulan.
Berbagai metode yang dapa digunakan untuk terapi lesi prakanker
serviks adalah terapi NIS dengan destruksi lokal, dengan metode krioterapi
dengan N2O dan CO2, elektrokauter, elektrokoagulasi, dan laser. Prinsip terapi
dengan metode ini adalah destruksi lokal lapisan epitel serviks dengan
kelainan lesi prakanker yang bertujuan agar pada fase penyembuhan
berikutnya akan digantikan dengan epitel skuamosa yang baru.10
Sedangkan penatalaksaan pada kanker serviks yang invasif dapat
dibedakan menjadi operatif atau non-operatif. Penatalaksanaan operatif dapat
dilakukan dengan histerektomi radikal dengan limfadenektomi pelvik, adjuvan
radioterapi atau kemoradiasi terutama bila terdapat risiko metastasis atau risiko
lainnya, serta hanya adjuvan radiasi eksterna (EBRT) bila metastasis pada
kelenjar getah bening saja. Penatalaksanaan non-operatif dapat dilakukan
dengan radiasi (EBRT dan brakiterapi) atau kemoradiasi. Tatalaksana
selanjutnya bergantung dari faktor risiko dan hasil patologi anatomi untuk
dilakukannya ajuvan radioterapi atau kemoterapi.10
Pasien kanker serviks perlu mendapat nutrisi yang adekuat yang
mencakup kebutuhan nutrisi umum, farmakoterapi, aktivitas fisik, dan terapi
nutrisi operatif. Pendampingan oleh dokter SpGK dapat diperlukan pada
kondisi-kondisi pasien kanker serviks yang mengalami gangguan saluran
cerna, berupa diare, konstipasi, mual muntah yang diakibatkan oleh tindakan
pembedahan serta kemo dan/atau radioterapi. Pasien kanker sebaiknya
memiliki berat badan ideal dna menerapkan pola makan yang sehat, tinggi
buah, sayur, biji-bijisn, rendah lemak, daging merah, dan alkohol, yang
disertai aktivitas fisik sesuai kemampuan secara teratur.10
Rehabilitasi medik dapat diberikan pada pasien kanker serviks, karena
kanker serviks dan penanganannya (operasi, kemoterapi, radioterapi) dapat
menimbulkan keterbatasan dalam melakukan aktivitas atau disabilitas pada
organ serviks maupun sistem organ lainnya. Disabilitas yang paling sering
terjadi adalah disfungsi traktus urinarius bawah, nyeri, edema, serta gangguan
sistem lainnya. Dengan melakukan rehabilitasi medik pada pasien diharapkan
kualits hidup pasien juga dapat membaik, serta mengurangi kecacatan yang
mungkin terjadi pada pasien.10,20
Stadium Pengobatan
IA1 Histerektomi sederhana atau
Konisasi servikal
IA1 Histerektomi radikal modifikasi dan limfadenektomi pelvis atau
(dengan Trakelektomi radikal dan limfadenektomi pelvis (untuk pasien
LVSI) yang masih ingin fertil)
IA2 Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis atau
Trakelektomi radikal dan limfadenektomi pelvis (untuk pasien
yang masih ingin fertil)
IB1 Histerektomi radikal dan limfadenektomi pelvis atau
Beberapa IB2 Trakelektomi radikal dan limfadenektomi pelvis (untuk pasien
IIA1 yang masih ingin fertil) atau
Kemoradiasi
IB2 besar Kemoradiasi
IIA2
IIB-IVA Kemoradiasi atau
Eksenterasi pelvis
IVB Kemoterapi paliatif dan/atau
Radioterapi paliatif atau
Suportif

Tabel . Prinsip tatalaksana umum pada karsinoma serviks invasif.21

2.1.11. Prognosis
Ketahanan hidup penderita kanker serviks bergantung pada beberapa
faktor. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang
lemah, status sosial ekonomi yang rendah, keterbatasan sarana dan prasarana,
jenis histopatologi, dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan
prognosis penderita. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prognosis,
yaitu11
a. Status KGB Penderita tanpa metastasis ke KGB memiliki 5-year
survival rate (5-YSR) 85-90%. Bila didapatkan metastasis ke KGB
maka 5-YSR 20-74% bergantung pada jumlah, lokasi, dan ukuran
metastasis.
b. Ukuran tumor
Penderita dengan ukuran tumor < 2 cm memiliki 5-YSR 90% dan bila
> 2 cm menjadi 60%. Jika tumor primer berukuran > 4 cm, 5-YSR
turun menjadi 40%.
c. Invasi ke jaringan parametrium
Penderita dengan invasi ke parametrium memliki 5-YSR 69%
dibandingkan 95% tanpa invasi. Bila invasi disertai keterlibatan KGB
turun menjadi 39-42%.
d. Kedalaman invasi
Invasi < 1 cm memiliki 5-YSR sekitar 90% dan akan turun menjadi 63-
78% bila > 1 cm.
e. Ada tidaknya invasi ke ruang limfevaskular (LVS)
Invasi ke LVS sebagai faktor prognosis masih menjadi kontroversi.
Beberapa laporan menyebutkan 50-70% 5-YSR bila didapatkan invasi
ke LVS dan 90% 5-YSR bila tidak didapatkan invasi. Akan tetapi,
laporan lain mengatakan tidak ada perbedaan bermakna dengan adanya
invasi atau tidak.
Stage 5-Years Survival
IA 100%
IB 88%
IIA 68%
IIB 44%
III 18-39%
IVA 18-34%
Tabel . Angka kesintasan kanker serviks berdasarkan stadium.11
2.1.12. Pencegahan
Skrining atau deteksi dini merupakan pencegahan terbaik dengan
menemukan lesi pra-kanker agar dapat ditatalaksana lebih awal sebelum
berkembang menjadi kanker serviks. Jenis skrining kanker serviks, antara
lain14,18,20,10
 Kolposkopi, yaitu pemeriksaan untuk menilai serviks, vagina, dan
vulva secara visual. Biasanya disertai biopsi jaringan yang tampak
abnormal.
 IVA, yaitu pemeriksaan inspeksi visual seluruh permukaan serviks
menggunakan asam asetat. Pemeriksaan ini memiliki tingkat
sensitivitas yang lebih tinggi dari papsmear, namun angka positif palsu
yang cukup tinggi.7
 Pap smear, yaitu pemeriksaan konvensional atau liquid-base
cytology/LBC dengan melakukan pemeriksaan sitologi apusan sel
serviks.
 Pemeriksaan DNA HPV.
Program pemeriksaan atau skrining yang dianjurkan oleh WHO untuk
kanker serviks adalah minimal satu kali pada usia kurang 25 tahun Idealnya,
skrining dilakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 25-49 tahun. Pada wanita
usia 50-64 tahun disarankan pemeriksaan dilakukan tiap 5 tahun sekali.
Sedangkan pada wanita usia lebih dari 65 tahun skrining hanya dilakukan bila
belum pernah dilakukan skrining, atau pernah melakukan skrining di atas usia
50 tahun dengan hasil yang abnormal.7
2.2. Pemeriksaan IVA
2.2.1. IVA Sebagai Alat Deteksi Dini Kanker Serviks
Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan metode skrining paling
efektif yang biasa digunakan untuk deteksi dini kanker serviks pada negara-
negara berkembang dengan sumber daya yang masih belum adekuat.
Pemeriksaan IVA adalah pemeriksaan paling sederhana dan memiliki
sensitivitas yang paling tinggi dibandingkan pemeriksaan deteksi dini kanker
serviks lainnya, seperti papsmear.7
Pemeriksaan IVA dilakukan dengan cara melihat serviks dengan mata
telanjang untuk mendeteksi abnormalitas setelah pengolesan asam asetat atau
cuka (3-5%). Daerah yang tidak normal akan berubah warna dengan batas
yang tegas menjadi putih (acetowhite) yang mengindikasikan bahwa serviks
mungkin memiliki lesi pra-kanker.18
Pemerintah melalui Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja
(OASE KK) bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintahan, lembaga
swadaya masyarakat, organisasi lintas profesi, serta berbagai pihak lain
mengadakan Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker pada Perempuan
Indonesia selama 5 tahun sejak tahun 2015. Salah satu fokus utama adalah
menggalakan deteksi dini kanker serviks dengan IVA dan/atau Pap smear.18
Metode IVA dapat dijadikan pilihan skrining yang tepat pada
pelayanan primer. Hal ini disebabkan oleh pemeriksaan IVA mempunyai
karakteristik sebagai berikut14,20
a. Murah dan aman.
b. Akurasi sama dengan skrining lainnya. Sensitifitas IVA sebesar 77%
(range antara 56-94%) dan spesifisitas 86% (antara 74-94%).
c. Metode sederhana, mudah dilakukan, dan tidak memerlukan fasilitas
laboratorium.
d. Memberikan hasil segera sehingga dapat dengan cepat diambil
keputusan mengenai penatalaksanaannya (pengobatan atau rujukan).
2.2.2. Sasaran Pemeriksaan IVA
Deteksi dini kanker serviks dilakukan pada kelompok perempuan 20
tahun ke atas, namun prioritas program deteksi dini di Indonesia pada
perempuan usia 30-50 tahun. Berdasarkan perjalanan penyakit kanker serviks,
kelompok sasaran skrining adalah sebagai berikut13,18,20
a. Wanita usia ≥ 20 tahun atau telah melakukan hubungan seksual secara
aktif.
b. Wanita dengan duh vagina yang abnormal atau nyeri pada abdomen
bawah.
c. Wanita yang secara khusus meminta skrining kanker serviks.
2.2.3. Prosedur Pengerjaan Pemeriksaan IVA
2.2.3.1. Syarat Pengerjaan Pemeriksaan IVA13
 Tidak sedang menstruasi.
 Tidak sedang hamil.
 Tidak berhubungan badan 1-2 hari sebelum pemeriksaan.
2.2.3.2. Alat dan Bahan
Peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan IVA
adalah peralatan yang biasa tersedia di klinik atau poli KB seperti
berikut20,18
i.
Meja periksa ginekologi dan kursi.
ii.
Lampu yang memadai untuk menyinari vagina dan serviks.
iii.
Nampan atau wadah alat.
iv.
Sarung tangan periksa sekali pakai.
v.
Spekulum cocor bebek.
vi.
Kondom yang telah dipotong ujungnya untuk disarungkan pada
bilah spekulum. Hal ini berfungsi untuk mencegah dinding
vagina masuk ke dalam celah spekulum sehingga leher rahim
dapat terlihat dengan jelas.
vii.
Kapas lidi atau forceps untuk memegang kapas.
viii.
Spatula kayu untuk mendorong jaringan ikat yang menonjol
diantara bilah spekulum.
ix.
Larutan asam asetat 3-5% (asam cuka dapur: Dixi®).
Dapat digunakan asam cuka 25% yang dijual di pasaran
kemudian diencerkan menjadi 5% dengan perbandingan 1:4 (1
bagian asam cuka dicampur dengan 4 bagian air). Contohnya:
10 ml asam cuka 25% dicampur dengan 40 ml air akan
menghasilkan 50 ml asam asetat 5 %. Atau 20 ml asam cuka 25
% dicampur dengan 80 ml air akan menghasilkan 100 ml asam
asetat 5%.
x.
Larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi alat dan sarung
tangan.

2.2.3.3. Langkah-langkah Pemeriksaan


1) Penilaian klien didahului dengan memastikan identitas,
kelengkapan informed consent, riwayat singkat kesehatan
reproduksi, dan termasuk komponen berikut20,18
 Paritas.
 Usia pertama kali berhubungan seksual atau usia pertama
kali menikah.
 Pemakaian alat KB.Jumlah pasangan seksual atau sudah
berapa kali menikah.
 Riwayat IMS (termasuk HIV).
 Merokok.
 Hasil pap smear sebelumnya yang abnormal.
 Ibu atau saudara perempuan kandung yang menderita
kanker leher rahim.
 Penggunaan steroids atau obat-obat alergi yang lama
(kronis).
2) Pasien diminta untuk menanggalkan pakaiannya dari pinggang
hingga lutut dan menggunakan kain yang sudah disediakan.
3) Pasien diposisikan dalam posisi litotomi dan tutup area pinggang
hingga lututnya dengan kain.
4) Gunakan sarung tangan.
5) Bersihkan genitalia eksterna pasien dengan air DTT (Desinfeksi
Tingkat Tinggi).
6) Inspeksi genitalia eksternal dan lihat apakah terdapat duh pada
mulut uretra. Palpasi kelenjar Skene and Bartholin. Jangan
menyentuh klitoris karena akan menimbulkan rasa tidak nyaman
pada pasien. Katakan pada ibu/klien bahwa spekulum akan
dimasukan dan mungkin ibu akan merasakan beberapa tekanan.
7) Masukan spekulum sepenuhnya atau sampai terasa ada tahanan,
lalu secara perlahan buka bilah spekulum untuk melihat leher
rahim. Atur spekulum sehingga seluruh leher rahim dapat terlihat.
8) Bila serviks dapat terlihat seluruhnya, kunci spekulum dalam
posisi terbuka sehingga tetap berada di tempatnya. Dengan cara ini
petugas memiliki satu tangan yang bebas bergerak.
9) Amati serviks apakah ada infeksi (serviksitis), duh ektopik, kista
Nabothi, atau lesi “strawberry” (infeksi Trichomonas).
10) Bersihkan serviks dari cairan, darah, dan sekret dengan kapas lidi
bersih.
11) Identifikasi ostium servikalis dan SSK serta daerah di sekitarnya.
 Terdapat kecurigaan kanker atau tidak.
 Jika tidak dicurigai kanker, identifikasi sambungan skuamo
kolumnar (SSK).
 Jika SSK tidak tampak, maka dilakukan pemeriksaan mata
telanjang tanpa asam asetat lalu beri kesimpulan sementara,
misalnya hasil negatif namun SSK tidak tampak. Klien
disarankan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya lebih
cepat atau Pap smear maksimal 6 bulan lagi.
 Jika SSK tampak, lakukan IVA dengan mengoleskan kapas
lidi yang sudah dicelupkan ke dalam asam asetat 3-5% ke
seluruh permukaan serviks. Tunggu hasil IVA selama 1
sampai 2 menit di bawah pencahayaan 100 watt, perhatikan
apakah ada bercak putih (acetowhite epihelium) atau tidak.
12) Gunakan kapas lidi baru untuk menghilangkan sisa asam asetat
dari serviks dan vagina. Buang kapas sehabis pakai pada
tempatnya.
13) Lepaskan spekulum secara halus. Jika hasil tes IVA negatif,
letakkan spekulum ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit
untuk didesinfeksi. Jika hasil tes IVA positif dan setelah konseling
pasien menginginkan pengobatan segera, letakan spekulum pada
nampan atau wadah agar dapat digunakan pada saat krioterapi.
14) Buang sarung tangan, kapas, dan bahan sekali pakai lainnya
sementara alat-alat lainnya direndam dalam larutan klorin 0,5%
selama 10 menit untuk dekontaminasi.
15) Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien, kapan harus melakukan
pemeriksaan lagi, serta rencana tata laksana jika diperlukan.
2.2.4. Hasil dan Interpretasi Pemeriksaan IVA
Pada pasien dengan serviks yang normal, serviks akah terlihat halus,
bulat, berwarna merah muda, seragam, tidak berfitur, dan terlubrikasi dengan
cairan mukus yang encer dan terlihat lubang di bagian tengah (os eksternal).
Pemeriksaan IVA dikatakan negatif apabila lesi acetowhite tidak ditemukan,
dan positif apabila terdapat lesi acetowhite setelah dilakukan pemulasan asam
asetat dan dibiarkan 1 sampai 2 menit.7
Bila ditemukan IVA positif, segera lakukan krioterapi,
elektrokauterisasi, atau eksisi LEEP/LLETZ.22
 Krioterapi dilakukan oleh dokter umum atau dokter spesialis
obstetri dan ginekologi.
 Elektrokauterisasi dan LEEP/LLETZ dilakukan oleh dokter
spesialis obstetri dan ginekologi.
Sementara pasien dengan kecurigaan kanker serviks, segera dilakukan
biopsi. Apabila hasil pemeriksaan patologi anatomi mengonfirmasi
terdapatnya kanker serviks, segera rujuk ke dokter spesialis obstetri dan
ginekologi untuk penatalaksanaan.

Klasifikasi Kriteria Klinis


IVA
Negatif Tidak terdapat lesi acetowhite
Ektropion/serviksitis/kista Naboti/lesi acetowhite tidak signifikan.
+ Terlihata batas berwarna putih yang jelas pada sambungan
skuamo kolumnar.
++

Tabel . Klasifikasi Hasil Pemeriksaan IVA.18,7


2.3. Profil Wilayah
2.3.1. Data Umum
2.3.1.1. Data Geografis
2.3.1.1.1. Lokasi
Lokasi Puskesmas Kelurahan Palmerah 1 berada di Jalan
Kemanggisan Pulo Nomor 20, RT 012, RW 003, Kelurahan
Palmerah, Kecamatan Palmerah, Kota Administrasi Jakarta
Barat, DKI Jakarta.
2.3.1.1.2. Wilayah kerja
Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah 1 terdiri dari 9
Rukun Warga (RW), dimana 9 RW ini memiliki total luas
wilayah sebesar 119 km2. Kesembilan RW ini terdiri dari 93
Rukun Tetangga (RT) dan 10.122 Kepala Keluarga (KK).
2.3.1.1.3. Batas wilayah
Secara administratif, wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Palmerah 1 memiliki batas – batas wilayah sebagai
berikut:
a. Utara : Kelurahan Kemanggisan
b. Selatan : Kota Administrasi Jakarta Selatan
c. Barat : Kecamatan Kebon Jeruk
d. Timur : Kelurahan Slipi
2.3.1.2. Data Demografis
2.3.1.2.1. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan
Palmerah 1 pada tahun 2017 sejumlah 33.681 jiwa, dengan rata
– rata kepadatan penduduk per km2 adalah 283,03 jiwa/km2
2.3.1.2.2. Jumlah Kepala Keluarga (KK) di wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Palmerah 1 sejumlah 10.122 KK dan rata – rata jiwa
per rumah tangga adalah 3,58 jiwa.
2.3.1.2.3. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai
berikut, laki – laki sebanyak 18.544 jiwa dan perempuan
sebanyak 17.748 jiwa.
2.3.1.2.4. Jumlah balita sebanyak 4.447 balita, Ibu hamil sebanyak Ibu
hamil, dan Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak PUS.
2.3.1.3. Data Fasilitas Kesehatan
2.3.1.3.1. Puskesmas :1
2.3.1.3.2. Rumah bersalin pemerintah :1
2.3.1.3.3. Rumah bersalin swasta :1
2.3.1.3.4. Rumah sakit swasta :1
2.3.1.3.5. Posyandu : 18
2.3.1.3.6. Kader Kesehatan : 120
2.3.1.3.7. PLKB :1
2.3.1.3.8. Apotik swasta :1
2.3.1.3.9. Bidan praktek :3
2.3.1.3.10. Balkesmas :1
2.3.1.4. Data Tenaga Kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah 1
2.3.1.4.1. Dokter umum : 2 orang
2.3.1.4.2. Dokter gigi : 1 orang
2.3.1.4.3. Perawat : 2 orang
2.3.1.4.4. Bidan : 2 orang
2.3.1.4.5. Asisten apoteker : 1 orang
2.3.1.4.6. Administrasi : 2 orang
2.3.1.4.7. Petugas kesehatan lingkungan : 1 orang
2.3.1.4.8. Petugas gizi : 1 orang
2.3.1.4.9. Petugas kebersihan : 1 orang
2.3.1.4.10. Petugas keamanan : 1 orang
2.3.2. Kependudukan
Jumlah penduduk : 33.681 (Oktober 2017)
Rata-rata kepadatan penduduk : 283,03 jiwa/km2
Jumlah Kepala Keluarga : 10.567 KK
Jumlah penduduk laki-laki : 17.358 jiwa
Jumlah penduduk perempuan : 16.333 jiwa
No Uraian Jumlah
1 0–4 2.567
2 5–9 2.861
3 10 – 14 2.844
4 15 – 19 2.438
5 20 – 24 2.502
6 25 – 29 3.107
7 30 – 34 3.595
8 35 – 39 3.221
9 40 – 44 2.918
10 45 – 49 2.250
11 50 – 54 1.789
12 55 – 59 1.355
13 60 – 64 926
14 65 – 69 652
15 70 – 74 408
16 75 keatas 248
Jumlah 33.681
Tabel . Susunan penduduk Kelurahan Palmerah 1 berdasarkan kelompok usia

Jumlah
No RW
Penduduk Kepala Keluarga
1 Rukun Warga 01 3.690 1.099
2 Rukun Warga 02 2.546 814
3 Rukun Warga 03 5.714 1.779
4 Rukun Warga 04 3.353 1.058
5 Rukun Warga 05 2.406 762
6 Rukun Warga 06 3.325 1.071
7 Rukun Warga 13 4.782 1.530
8 Rukun Warga 16 2.793 901
9 Rukun Warga 17 5.072 1.553
Total 33.681 10.567
Tabel . Susunan penduduk berdasarkan Kepala Keluarga per RW
Jenis Kelamin
No RW
Laki-Laki Perempuan
1 Rukun Warga 01 1.861 1.829
2 Rukun Warga 02 1.258 1.288
3 Rukun Warga 03 2.990 2.724
4 Rukun Warga 04 1.776 1.587
5 Rukun Warga 05 1.239 1.167
6 Rukun Warga 06 1.732 1.593
7 Rukun Warga 13 2.435 2.347
8 Rukun Warga 16 1.418 1.375
9 Rukun Warga 17 2.649 2.423
Total 17.348 16.333
Tabel . Susunan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin wilayah palmerah I

No Tingkat Pendidikan Jumlah No Pekerjaan Jumlah


1 Tidak/belum sekolah 4.359 1 Karyawan Swasta 9.740
2 Tidak tamat SD 3.318 2 Pelajar Mahasiswa 7.874
3 Tamat SD 2.906 3 Ibu Rumah Tangga 5.848
4 Tamat SLTP 4.246 4 Wiraswasta 2.155
5 Tamat SLTA 13.353 5 Buruh Harian Lepas 837
6 Tamat Akademi / PT 1.106 6 Pensiunan 516
7 Diploma IV 168 7 Pegawai Negeri Sipil 479
Pedagang
8 Strata II 398 8 479
Guru
9 Strata III 25 9 334
Pengangguran
10 4.350
Tabel. Susunan penduduk berdasarkan pendidikan (kiri) dan pekerjaan (kanan)

Karakteristik RW 6

Jumlah
Umur
0-4 th 224
5-9 th 268
10-14 th 257
15-19 th 261
20-24 th 247
25-29 th 311
30-34 th 344
35-39 th 291
40-44 th 300
45-49 th 233
50-54 th 216
55-59 th 139
60-64 th 95
65-69 th 66
70-74 th 37
>75 th 36
Jenis Kelamin
Perempuan 1593
Laki-laki 1732
Pendidikan
Tidak/belum sekolah 401
Belum tamat SD/Sederajat 314
Tamat SD/Sederajat 306
SMP/Sederajat 515
SMA/Sederajat 1423
Diploma I/II 10
Diploma III/Akademi/Sarjana Muda 65
Diploma IV/Strata I 270
Strata II 20
Strata III 1
Pekerjaan
Belum/tidak bekerja 401
Mengurus Rumah Tangga 622
Pelajar/mahasiswa 763
Pensiunan 12
Pegawai Negeri Sipil 16
TNI 1
Kepolisian RI 6
Industri 2
Konstruksi 4
Transportasi 1
Karyawan swasta 937
Karyawan BUMN 3
Karyawan BUMD 1
Karyawan Lepas 79
Tukang Jahit 6
Mekanik 2
Pendeta 1
Wartawan 2
Dosen 1
Guru 24
Pengacara 1
Konsultan 1
Dokter 2
Sopir 18
Pedagang 111
Wiraswasta 269
Lain-lain 36
Total 3325
BAB III

ANALISIS MAS344ALAH

3.1 Identifikasi Masalah


Berdasarkan laporan Puskesmas Kelurahan Palmerah I bagian Kesehatan Ibu dan
Anak, jumlah kunjungan IVA pada bulan Juli 2016 hingga desember 2016 adalah 172
kunjungan, dan pada bulan Januari 2017 hingga Oktober 2017 adalah sebanyak 98
kunjungan. Jika terhitung selama satu tahun, yakni dari bulan Oktober 2016 hingga
Oktober 2017, total jumlah kunjungan IVA adalah sebanyak 181 kunjungan (dengan
tidak melihat batas rentang usia) dengan rincian sebagai berikut:
Menurut SADANIS 2015, target pencapaian pemeriksaan IVA yang diberikan
oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015-2019 adalah sebesar 50%
pada rentang usia 30-49 tahun. Hal ini berarti, estimasi pencapaian pemeriksaan IVA tiap
tahun di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah I adalah sebesar 10% pada
rentang usia 30-49 tahun atau sebesar 1.162 perempuan dengan perhitungan sebagai
berikut:

Bulan/RW RW1 RW2 RW3 RW4 RW5 RW6 RW13 RW16 RW17 TOTAL
Oktober 2016 3 5 11 5 4 3 3 3 8 45
November 2016 1 - 9 - 2 - 4 1 6 23
Desember 2016 1 - 8 2 - - - 2 2 15
Januari 2017 - 1 6 3 1 1 1 1 3 17
Februari 2017 1 6 1 1 1 1 1 1 13
Maret 2017 - - 2 6 6 - 1 8 1 24
April 2017 - - 2 5 2 1 2 - 12
Mei 2017 - - - - - - - - - -
Juni 2017 - - 2 2 - - - - 2 6
Juli 2017 - - - - 1 - - - 1
Agustus 2017 - - 2 - 1 - - - 2 5
September 2017 - - - - 1 1 - - - 2
Oktober 2017 - 1 7 4 4 - - 2 - 18
TOTAL 6 7 55 28 23 6 11 20 25 181
Persentase Perempuan di wilayah Puseksmas Kelurahan Palmerah I 2015-2019:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑒𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛 16.333
× 100% = × 100% = 48,5%
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 33.681

Estimasi Jumlah Perempuan usia 30-49 tahun di wilayah Puseksmas Kelurahan


Palmerah I tiap tahun:
48,5% × 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑢𝑠𝑖𝑎 30 − 49 𝑡ℎ = 48,5% × 11,984 = 5.812 orang

Pencapaian kunjungan IVA tahun 2015-2019 menurut SADANIS 2015 adalah


sebesar 50% dari total perempuan usia 30-59 th:
5.812 × 50% = 2.906
atau 581 kunjungan tiap tahun

Estimasi pencapaian IVA tiap bulan di tiap RW (total 9 RW di wilayah Puskesmas


Kelurahan Palmerah I):
2.906
= 5.38 ≈ 5perempuan
5 𝑡ℎ × 12 𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 × 9 𝑅𝑊

Jika dibandingkan dengan pencapaian IVA satu tahun (Oktober 2016-Oktober


2017) menurut SADANIS 2015 (dengan estimasi 10% tiap tahun), pencapaian IVA di
Puskesmas Kelurahan Palmerah I tergolong masih rendah dengan persentase sekitar
3,1%.

Mini Survey
Untuk mengetahui kemungkinan rendahnya cakupan pemeriksaan IVA di wilayah
Puskesmas Kelurahan Palmerah I, survei kecil dilakukan pada tanggal 23 Oktober 2017
kepada seluruh perempuan yang berkunjung ke puskesmas dan datang dalam acara
Posyandu RW 05 Palmerah, di dapatkan bahwa 92,6% perempuan tidak melakukan
pemeriksaan IVA dan 88,7% diantaranya dikarenakan tidak mengerti mengenai
pemeriksaan IVA meskipun semua responden mengatakan mengetahui tujuan
pemeriksaan IV sebagai alat deteksi dini kanker serviks.
Berdasarkan survei tersebut, edukasi mengenai pemeriksaan IVA perlu dilakukan
dengan mendalam dan meluas kepada masyarakat guna meningkatkan cakupan
pemeriksaan IVA di wilayah puskesmas.
3.2 Penyebab Masalah
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja sistem yang diterapkan
pada waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Dibentuknya suatu sistem pada
dasarnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Untuk
terbentuknya sistem tersebut perlu dirangkai beberapa unsur atau elemen sedemikian
rupa sehingga secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-
sama berfungsi untuk mencapai kesatuan. Ada 6 unsur yang saling berhubungan dan
mempengaruhi pada system, yaitu:
i. Masukan (input)
Masukan adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. Terdiri dari tenaga
(man), dana (money), sarana (material) dan metode (method).
ii. Proses (process)
Proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan
berfungsi untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output) yang
direncanakan. Menurut George R Terry, proses terdiri dari perencanaan
(planning), organisasi (organization), pelaksanaan (actuating) dan
pengawasan (controlling).
iii. Keluaran (output)
Keluaran adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
iv. Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem, tetapi
mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.
v. Umpan Balik (feed back)
Umpan balik adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran
dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
vi. Dampak (impact)
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
Diagram tersebut menerangkan suatu pendekatan sistem menurut Ryans yang
merupakan gabungan dari elemen-elemen yang berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam
menghasilkan suatu yang telah ditetapkan.

Berdasarkan pendekatan sistem yang ditinjau dari input, cakupan yang rendah dapat
disebabkan oleh 4 elemen, yaitu tenaga (man), dana (money), sarana (material) dan metode
(method). Hal ini dapat diuraikan dalam suatu diagram tulang ikan (fishbone), yakni sebagai
berikut:
Method Man

 Kurangnya konseling mengenai pentingnya  Kurangnya tenaga terlatih yang dapat


pemeriksaan IVA dan cara pemeriksaan IVA mensosialisasikan ke warga mengenai
oleh tenaga kesehatan. pemeriksaan IVA
 Kurangnya penyuluhan mengenai kanker  Kurangnya Tenaga kesehatan yang
serviks, dari faktor risiko, mengenali, deteksi dapat melakukan pemeriksaan IVA
dini, hingga penanganannya
 Kurangnya waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA

MASALAH

Cakupan IVA di
Puskesmas
Kelurahan
Palmerah I belum
mencapai target.

Material
LINGKUNGAN
 Kurangnya media promosi mengenai
pemeriksaan IVA (seperti banner, spanduk,  Kesadaran warga untuk deteksi dini rendah.
leaflet)  Pengetahuan masyarakat tentang IVA yang kurang dan
tidak tepat
 Kurangnya peralatan medis untuk melakukan  Ketakutan masyarakat akan cara dan hasil pemeriksaan
pemeriksaan IVA IVA.
 Terdapatnya budaya malu dan tabu mengenai pemeriksaan
IVA
 Jarak antarafasilitas kesehatan dengan tempat tinggal
3.3 Prioritas Masalah
Setelah dilakukan analisis dengan paradigma Ryans,kemudian dilakukan penentuan prioritas
masalah dengan cara non scoring (Delphi) melalui diskusi bersamabidan dan dokter. Dari hasil
diskusi dan Mini Survey didapatkan prioritas masalahnya terdapat pada kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai pemeriksaan IVA sebagai deteksi dini Kanker Serviks sehingga
menyebabkan rendahnya cakupan IVA di wilayah Puskesmas Kelurahan Palmerah I.

3.4 Pemecahan Masalah

No. Alternatif pemecahan masalah Efektivitas Efisiensi Prioritas


M I V C 𝑴×𝑰×𝑽
𝑪
1 Melakukan konseling mengenai pemeriksaan 4 4 2 1 32
IVA oleh tenaga kesehatan.
2 Melakukan penyuluhan IVA minimal tiap 5 4 5 3 33,3
bulan sekali di tiap RW
3 Menambah waktu pelaksanaan pemeriksaan 2 5 5 2 25
IVA.
4 Membentuk kader IVA per RW. 5 5 4 2 50
5 Mengadakan pelatihan pemeriksaan IVA 3 3 2 4 4,5
bagi tenaga kesehatan.
6 Membuat dan menyebarkan media promosi 5 4 4 2 40
(seperti leaflet, banner, spanduk)
7 Mengajukan proposal pengadaan alat untuk 3 3 2 1 18
pemeriksaan IVA
8 Mengadakan pemeriksaan IVA mobile ke 3 5 5 4 16,25
setiap RW.
9 Menggalakkan program perayaan khusus 1 2 3 5 4 7,5
hari untuk IVA di puskesmas (berisi
perlombaan, seminar, hingga silaturahmi
antar warga).
10 Menggalakan grup diskusi untuk sharing 4 4 2 3 10,67
antara mereka yang sudah IVA dengan
mereka yang belum.
Keterangan:
Magnitude (M) : besarnya masalah yang dapat diselesaikan
Importance (I) : pentingnya masalah
Vulnerability (V) : kecepatan jalan keluar dalam menyelesaikan masalah
Cost (C) : besarnya biaya yang diperlukan

1. Magnitude
a. Konseling mengenai pemeriksaan IVA akan menambah pengetahuan mengenai
pemeriksaan IVA, namun kurang efektif karena terbatasnya waktu, tempat, dan
tenaga konselor. Selain itu, kurangnya keinginan masyarakat untuk melakukan
konseling, sehingga kami memberikan skor 4.
b. Penyuluhan IVA tiap bulan sekali akan meningkatkan cakupan kunjungan IVA
melalui peningkatan pengetahuan masyarakat, sehingga kami memberikan skor 5.
c. Penambahan waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA dapat meningkatkan cakupan
kunjungan IVA, namun bukan merupakan pemecahan dari prioritas masalah,
sehingga kami memberi skor 2.
d. Pembentukkan kader IVA akan membantu tenaga kesehatan untuk
mensosialisasikan informasi mengenai pemeriksaan IVA sehingga meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan dapat meningkatkan cakupan
kunjungan IVA, oleh karena itu kami memberi skor 5.
e. Pengadaan pelatihan pemeriksaan IVA bagi tenaga kesehatan dapat menambah
jumlah tenaga kesehatan yang dapat melakukan pemeriksaan IVA, sehingga
meningkatkan cakupan IVA, namun hal ini bukan merupakan pemecahan dari
prioritas masalah, sehingga kami memberi skor 3.
f. Media promosiberupa leaflet, banner, dan spanduk diharapkan menjadi alat bantu
dalam meningkatkan pengetahuan warga, sehingga kami berikan skor 5.
g. Pengajuan proposal pengadaan alat untuk pemeriksaan IVA dapat meningkatkan
cakupan IVA, namun tidak dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat akan
pemeriksaan IVA, sehingga kami memberi skor 3.
h. Pemeriksaan IVA mobile ke setiap RW dapat meningkatkan cakupan IVA, namun
cara ini tidak efektif karena tidak memecahkan masalah utama sehinggakami
memberi skor 3.
i. Program perayaan hari khusus IVA tidak berkaitan langsung dengan sebab-sebab
masalah yang kami fokuskan sehingga hanya mendapat skor 2.
j. Pembentukan grup diskusi akan berdampak pada adanya role model bagi warga
untuk mau memeriksakan diri sehingga kami memberi skor 4.
2. Importance
a. Konseling mengenai pemeriksaan IVA akan menambah pengetahuan mengenai
pemeriksaan IVA, namun tidak berhubungan secara langsung dalam
meningkatkan cakupan IVA sehingga kami memberikan skor 4.
b. Penyuluhan IVA tiap bulan sekali akan meningkatkan cakupan kunjungan IVA,
namun tidak berhubungan secara langsung dalam meningkatkan cakupan IVA
sehingga kami memberikan skor 4.
c. Penambahan waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA dapat meningkatkan cakupan
kunjungan IVA, sehingga kami memberikan skor 5.
d. Pembentukan kader IVA sangat penting untuk menjamin keberlangsungan
program IVA secara kontinu sehingga mendapat skor 5.
e. Pengadaan pelatihan pemeriksaan IVA bagi tenaga kesehatan belum tentu
meningkatkan cakupan kunjungan IVA, sehingga kami memberikan skor 3.
f. Pembuatan media promosi (seperti leaflet, banner, spanduk)akan meningkatkan
cakupan kunjungan IVA, namun tidak berhubungan secara langsung dalam
meningkatkan cakupan IVA sehingga kami memberikan skor 4.
g. Pengajuan proposal pengadaan alat pemeriksaan IVA belum tentu meningkatkan
cakupan kunjungan IVA, sehingga kami memberikan skor 3.
h. Pemeriksaan IVA mobiledapat meningkatkan cakupan pemeriksaan IVA sehingga
mendapat skor 5.
i. Pengadaan 1 hari khusus IVA meningkatkan kesadaran warga secara keseluruhan,
namun belum tentu meningkatkan cakupan kunjungan IVA, sehingga kami
memberikan skor 3.
j. Pengadaan grup diskusi untuk saling memengaruhi warga, memotivasi, dan
menginspirasi untuk mau memeriksakan diri sehingga kami memberi skor 4.
3. Vulnerability
a. Konseling mengenai pemeriksaan IVA akan menambah pengetahuan mengenai
pemeriksaan IVA, namun membutuhkan waktu hingga dapat meningkatkan
cakupan IVA sehingga kami memberikan skor 2.
b. Penyuluhan IVA minimal tiap bulan sekali di tiap RWdapat memberikan efek
secara langsung terhadap peningkatan pengetahuan pasca penyuluhan, sehingga
mendapat skor 5.
c. Penambahan waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA dapat meningkatkan cakupan
kunjungan IVA secara langsung, sehingga kami memberikan skor 5.
d. Pembentukan kader IVA akan berdampak adanya warga dari tiap RW yang
memeriksakan diri tiap bulannya. Jumlahnya tidak akan banyak namun setidaknya
pasti ada peningkatan yang sifatnya berkesinambungan sehingga mendapat skor 4.
e. Pengadaan pelatihan pemeriksaan IVA bagi tenaga kesehatan membutuhkan
waktu hingga dapat meningkatkan cakupan IVA sehingga kami memberikan skor
2.
f. Adanya media promosiakan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Akan tetapi,
efektivitasnya berbeda dibanding memberikan edukasi langsung melalui
penyuluhan sehingga kami memberikan skor hanya 4.
g. Pengajuan proposal pengadaan alat untuk pemeriksaan IVA membutuhkan waktu
hingga dapat meningkatkan cakupan IVA sehingga kami memberikan skor 2.
h. Pemeriksaan IVA secara mobile ke setiap RW tentu akan segera meningkatkan
jumlah cakupan IVA dalam 1 bulan sehingga mendapat skor 5.
i. Perayaan hari khusus IVA akan berdampak langsung dalam meningkatan
kesadaran, tapi belum tentu meningkatkan angka cakupan secara langsung,
sehingga kami memberi skor 5
j. Penggalakkan grup diskusi diharapkan dapat memotivasi warga yang belum
periksa IVA, namun membutuhkan waktu hingga dapat meningkatkan cakupan
IVA sehingga kami memberikan skor 2.

4. Cost
Biaya akan dikategorikan dalam rentang penilaian obyektif sebagai berikut:
 Rp 0 sampai Rp 50.000,00 mendapat skor 1
 Rp 50.001,00 sampai Rp 100.000,00 mendapat skor 2
 Rp 100.001,00 sampai Rp 500.000,00 mendapat skor 3
 Rp 500.001,00 sampai Rp 1.000.000,00 mendapat skor 4
 Lebih dari Rp 1.000.000,00 mendapat skor 5
Detail penjelasan dari ke-8 solusi adalah sebagai berikut:
a. Konseling mengenai pemeriksaan IVA oleh tenaga kesehatan tidak membutukan
banyak biaya.
b. Penyuluhan IVA minimal tiap bulan sekali di tiap RW memerlukan biaya untuk
konsumsi. Estimasi peserta 10 per RW @Rp 5.000,00 dengan total 9 RW
sehingga total biaya Rp 450.000,00.
c. Pembentukan kader IVA per RW dengan total 9 RW akan memakan biaya
terutama untuk konsumsi. Estimasi peserta 12 @Rp 5.000,00 sehingga total Rp
60.000,00.
d. Pengadaan pelatihan pemeriksaan IVA bagi tenaga kesehatan akan memakan
biaya besar dalam pelaksanaannya. Estimasi tenaga kesehatan 2 @ Rp 300.000.
e. Pembuatan media promosi diperkirakan memakan biaya cetak dengan harga
banner sebesar Rp 110.000,00, spanduk sebesar Rp 64.000,00, leaflet sebesar Rp
200.000,00 dengan perkiraan diperbanyak dengan fotokopi.
f. Pengajuan proposal pengadaan alat untuk pemeriksaan IVA tidak membutuhkan
biaya banyak. Estimasi makalah proposal sebesar Rp 30.000,00.
g. Pengadaan pemeriksaan IVA mobile ke setiap RW memerlukan biaya transportasi
yang cukup besar. Perkiraan9 RW maka akan memerlukan transportasi Rp
15.000,00 (PP) x 9 = Rp 135.000,00 + estimasi pengadaan alat-bahan tambahan
(kursi, pencahayaan, sterilisasi, dsb) Rp 500.000 + konsumsi Rp 30.000,00 x 9 =
Rp 270.000,00 sehingga total Rp 905.000,00.
h. Program 1 hari khusus perayaan IVA di puskesmas memerlukan biaya sekitar Rp
700.000,00 mencakup pengadaan konsumsi dan alat-bahan perlombaan.
i. Program diskusi sharing diperkirakan hanya memerlukan biaya konsumsi Rp
100.000,00 untuk mereka yang datang.

Berdasarkan perhitungan matriks pemecahan masalah, kami memutuskan untuk


melaksanakan 3 solusi terkait cakupan IVA yang belum mencapai target, yaitu
mengadakan penyuluhan langsung ke setiap RW, membentuk kader IVA, dan
membuat media promosi tentang kanker serviks dan IVA.

3.6 Rencana Solusi


Fokus utama solusi atau intervensi yang akan kami lakukan bertempat di 9 RW
berbeda di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah I, yaitu RW 01, 02, 03, 04, 05,
06, 13, 16, dan 17. Setiap RW akan dipegang oleh satu dokter internsip penanggung
jawab (PJ). 9 RW tersebut masuk dalam wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Palmerah I.

Tabel 1. Daftar PJ per RW


RW PJ
01 dr. Marintan Butarbutar
02 dr. Steaffie Eunike Cassandra
03 dr. Josephine
04 dr. Steaffie Eunike Cassandra
05 dr. Marintan Butarbutar
06 dr. Karla Kalua
13 dr. Drey
16 dr. Alvin Wijaya
17 dr. Drey
.
3.7 Rencana Pelaksanaan Kegiatan

No Kegiatan Tujuan (Tolok Sasaran Tempat Pelaksana Waktu Biaya Metode


Ukur Hasil)
1 Melakukan validasi Kuesioner Kuesioner Puskesmas Dokter Internship 23 Oktober Anggaran Melakukan
kuesioner tervalidasi dan pengetahuan Kelurahan Puskesmas 2017 pribadi SPSS pada
dapat digunakan Tes IVA Palmerah I Kelurahan Palmerah kuesioner agar
untuk mini survey I divalidasi
2 Melakukan mini Mengetahui Pasien yang Puskesmas Dokter Internship 23 Oktober Anggaran Kuesioner
survey tentang sejauh mana datang Kelurahan Puskesmas 2017 pribadi
pengetahuan tes pasien mengerti berobat ke Palmerah I Kelurahan Palmerah
IVA secara garis Pemeriksaan IVA Puskesmas I
besar Kelurahan
Palmerah I
3 Melakukan Mengetahui Wanita yang Puskesmas Dokter Internship 30 Oktober Anggaran Menghitung
rekapitulasi cakupan sudah Kelurahan Puskesmas 2017 pribadi cakupan secara
cakupan Pemeriksaan IVA melakukan Palmerah I Kelurahan Palmerah manual di tiap
Pemeriksaan IVA Pemeriksaan I RW
di RW wilayah IVA
kerja Puskesmas
Kelurahan
Palmerah I
4 Membagi Adanya Puskesmas Dokter Internship 6 November Anggaran Mengundi
penanggungjawab penanggungjawab Kelurahan Puskesmas 2017 pribadi
tiap RW di tiap RW Palmerah I Kelurahan Palmerah
I
5 Menghubungi Izin dari Lurah Lurah dan Puskesmas Dokter Internship 7 November - Menghubungi
Lurah dan para dan Para ketua para Ketua Kelurahan Puskesmas 2017 lurah dan para
Ketua RW untuk RW untuk RW binaan Palmerah I Kelurahan Palmerah ketua RW
meminta izin mengadakan I binaan via
menyelenggerakan kegiatan telepon dan tatap
kegiatan penyuluhan muka.
penyuluhan di
masing-masing RW
binaan
6 Membuat brosur Brosur Warga di Puskesmas Dokter Internsip 8 November Anggaran Desain dengan
mengenai kanker wilayah Kelurahan Puskesmas 2017 Sendiri Microsoft Word
serviks dan IVA Puskesmas Palmerah I Kelurahan Palmerah dan
Kelurahan I memberbanyak
Palmerah I brosur
7 Membentuk, Membekali kader Kader IVA Puskesmas Dokter Internship 10 Anggaran Berkonsultasi
menghubungi, dan dengan Kelurahan Puskesmas November Sendiri dengan Bidan
mengumpulkan pengetahuan Palmerah I Kelurahan Palmerah 2017 Koordinator
kader-kader IVA tentang IVA I Program IVA
terkait untuk beserta tugas dan Puskesmas
melakukan tanggungjawab Kelurahan
sosialisasi dan kader IVA. Palmerah I
memberitahukan terkait calon
tugas sebagai kader kader IVA, dan
IVA menghubungi
calon kader via
telepon,
membagikan
brosur.
8 Menyusun materi Tersedianya Wanita Usia Puskesmas Dokter Internsip 10 - Diskusi untuk
penyuluhan materi informasi Subur di Kelurahan Puskesmas November membuat slide
mengenai kanker untuk penyuluhan RW binaan Palmerah I Kelurahan Palmerah 2017 presentasi yang
serviks dan test berupa slide I mudah
IVA untuk presentasi dimengerti
masyarakat. mengenaipenyakit masyarakat
kanker serviks
dan test IVA
9 Menyediakan Tersedianya Masyarakat Puskesmas Dokter Internsip 13 Anggaran Membuat
media penyuluhan media cetak umum Kelurahan Puskesmas November pribadi spanduk dan
berupa media cetak penyuluhan diwilayah Palmerah I Kelurahan Palmerah 2017 banner yang
yaitu: spanduk dan berupaspanduk kerja I menarik dan
banner. dan banner. Puskesmas mudah
dimengerti
masyarakat
dengan
photoshop
10 Penyuluhan Meningkatnya Wanita usia Pos RW Dokter Sesuai Anggaran a. Meakukan
mengenai kanker pengetahuan dan subur di setempat InternshipPuskesmas jadwal yang pribadi penyuluhan
serviks dan test tingkat kesadaran wilayah Kelurahan Palmerah telah tentang
IVA kepada wanita masyarakat akan Puskesmas I disepakati kanker serviks
usia subur bahaya kanker Kelurahan dengan dan test IVA
serviks, sehingga Palmerah I masing- b. Melakukan
tumbuh kesadaran masing tanya jawab
unrtuk segera ketua RW mengenai
melakukan test kanker serviks
IVA. dan test IVA
c. Mengajak
peserta untuk
melakukan
test IVA di
Puskesmas
Kelurahan
Palmerah I
11 Pemeriksaan IVA Meningkatkan Wanita usia Poli Bidan, Dokter Pertengahan Anggaran a. Melakukan
angka cakupan subur di KIA/KB Internsip Puskesmas November pribadi pendaftaran
IVA Puskesmas wilayah Puskesmas Kelurahan Palmerah hingga di loket
Kelurahan Puskesmas Kelurahan I Desember b. Registrasi
Palmerah I Kelurahan Palmerah I 2017 ulang di Poli
Palmerah I KIA/KB
c. Infrom
consent
d. Anamnesa,
pemeriksaan
BB, TB dan
tanda Vital
e. Pemeriksaan
IVA
f. Interpretasi
hasil
3.8 Timetable
No Kegiatan Bulan
Oktober November Desember
2017 2017 2017
1 Membuat pertanyaan untuk mini survey mengenai pemeriksaan IVA

2 Melakukan mini survey

3 Merekap hasil dari mini survey

4 Menyusun materi dan media penyuluhan berupa slide power point, leaflet, spanduk, dan banner mengenai
deteksi dini kanker serviks dengan pemeriksaan IVA
5 Berkoordinasi dengan Bidan Yusnita selaku pemegang program pemeriksaan IVA untuk penunjukkan kader IVA

6 Menghubungi kader IVA RW 16

7 Sosialisasi pemeriksaan IVA dan tugas kader IVA kepada kader – kader IVA yang telah ditunjuk

8 Sosialisasi pemeriksaan IVA dan tugas kader IVA kepada kader – kader IVA yang telah ditunjuk

9 Memberikan penyuluhan di RW 16

10 Melakukan pemeriksaan IVA

11 Menyusun laporan mini project


DAFTAR PUSTAKA

1. Astuti DF, Setyowati H, Salafas E. Analisis Faktor Pemeriksaan IVA dalam


Upaya Deteksi Dini Kanker Serviks di Kelurahan Candirejo Kabupaten
Semarang.Prosiding Seminar Nasional Kebidanan dan Call For Paper 2017.
2. Wahyuningsih T, Mulyani EY. Faktor Risiko Terjadinya Lesi Prakanker
Serviks Melalui Deteksi Dini dengan Metode IVA. Forum Ilmiah 2014;
11(2):192-193
3. Sudarmi, Nurchairina. Implementasi Deteksi Dini Kanker Payudara dan
Kanker Leher Rahimdengan Menggunakan Metode CBE dan IVAdi
Kabupaten Lampung Selatan. 227 Jurnal Kesehatan; 8(2): 225-226
4. Ahmad M. Persepsi tentang Kanker Serviks, Promosi Kesehatan, Motivasi
Sehat terhadap Perilaku Pencegahan Kanker Serviks pada Bidan di Wilayah
Depok. Jurnal Ilmiah Kesehatan 2017; 16(2): 33-34
5. Ocviyanti D. untuk Tes IVA Positif: Upaya Tindak Lanjut Deteksi Dini
KankerServiks pada Fasilitas Kesehatan dengan Sumber Daya
Terbatasbeserta Analisis Sederhana Efektivitas Biayanya. Indones J Obstet
Gynecol 2007; 31(4):201-11
6. Prasida DW, Nihayah A,Fransiska P,Oktavia Y, Qurani N. Persepsi Kader
tentang Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) Tes dalam Upaya Deteksi Dini
Kanker Serviks di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari. Prosiding 2015.
7. Nakash A, Al-Assadi AF, Al-Safi ZAH, et al. Naked eye visual inspection
with acetic acid versus cervical smear as a screening test for cervical
intraepithelial neoplasia. Res Rep Gynaecol Obstet., 2017; 1(2): 1-8
8. World Health Organization. Globocan Cancer Fact Sheet Cervical
Cancer:Estimated Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide in 2012.
http://globocan.iarc.fr/old/FactSheets/cancers/cervix-new.asp
9. Kemenkes 2016. Infodatin: Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan RI. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/info-
datin/InfoDatin%20Bulan%20Peduli%20Kanker%20Payudara_2016.pdf
10. Kementrian Kesehatan RI. Penanggulangan penatalaksanaan kanker serviks.
11. Imam Rasjidi. Divisi Ginekologi Onkologi, Departemen Obstetri dan
Ginekologi Siloam Hospitals Lippo Karawaci. 2009. Epidemiologi Kanker
Serviks.
12. World Health Organization. Comprehensive cervical cancer control: a guide
to essential practice. Ed 2nd. Switzerland: WHO Press; 2014. 31-5.
13. Kementrian Kesehatan RI. 2015. Buletin Jendela Data dan Informasi
Kesehatan Situasi Penyakit Kanker.
14. Kementrian Kesehatan RI, Komite Nasional Penanggulangan Kanker (14).
2015. Panduan Pelayanan Klinis Kanker Serviks.
15. Sulistiowati Eva, Maria Anna Sirait. 2014. Pengetahuan tentang Faktor
Risiko, Perilaku dan Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inspeksi Visual
Asam Asetat (IVA) pada Wanita di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Buletin Penelitian Kesehatan Vol.42. 193-202
16. Weisntein ND, Sandman PM, Blalock SJ. The Precaution Adoption Process
Model. New York 2008. Available from www.psandman.com
17. Muliawati Y, Haroen H, Rotty LWA. Cancer anorexia-cachexia syndrome.
Acta Medica Indonesiana-The Indonesian Journal of Internal Medicine April
2012. 44(2). 154-63.
18. Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular.
2015. Panduan Program Nasional Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini
Kanker Leher Rahim dan Kanker Payudara.
19. Kampono N. Kanker Ganas Alat Genital. In: Anwar M, Baziad A, Prabowo
RP, editors. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2011.
20. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kandungan edisi kedua cetakan
ketujuh. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
21. Cervical Cancer. In: Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM,
Bradshaw KD, Cunningham FG, editors. Williams Gynecology. 2nd ed. New
York: McGraw-Hill; 2012.
22. Sulistiowati Eva, Maria Anna Sirait. 2014. Pengetahuan tentang Faktor
Risiko, Perilaku dan Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inspeksi Visual
Asam Asetat (IVA) pada Wanita di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Buletin Penelitian Kesehatan Vol.42. 19