Anda di halaman 1dari 9

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Capital Budgeting ( Penganggaran Modal ).


Penganggaran Modal ( Capital Budgeting ) digunakan untuk melukiskan tindakan
perencanaan dan pembelanjaan pengeluaran modal, seperti untuk pembelian equipmen baru
untuk memperkenalkan produk baru, dan untuk memodernisasi fasilitas pabrik.
Definisi Penganggaran Modal (Capital Budgeting) menurut para ahli adalah sebagai
berikut :
Menurut Bambang Riyanto (hal 121, thn 1995) Capital Budgeting adalah
keseluruhan proses perencanaan dan pengambilan keputusan mengenai pengeluaran
danadimana jangka waktu kembalinya dana tersebut melebihi waktu satu tahun.
Menurut James C. Van Horne (2004:324) penganggaran modal adalah proses
mengidentifikasi, menganalisa, dan memilih proyek investasi yang pengembaliannya (arus
kas) diharapkan lebih dari satu tahun.
Menurut Keown Arthur (2005:306) penganggaran modal adalah proses pembuatan
keputusan investasi pada aset tetap.
Menurut Keown, Martin, Petty, Scott (2002) penganggaran modal adalah
keseluruhan proses perencanaan pengeluaran uang, dimana pengembaliannya terjadi dalam
jangka waktu lebih dari satu tahun.
Menurut Brigham dan Houston ( 2007 ) Capital Budgeting is the whole process of
analyzing project and deciding which one to include in the capital budget,boeing,airbus and
other companies use the techniques in this chapter when deciding to accept or reject proposed
capital expendicres.
Menurut Syamsuddin (2004) Capital Budgeting merupakan proses pengevaluasian,
penyeleksian dan penentuan investasi yang diharapkan akan memberikan hasil bagi suatu
perusahaan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun.
Menurut Gitman (2006 : 307) Capital Budgeting is the procces of evaluating and
selecting long-term investment that are consistent with firm’s goal of maximizing ownee
wealth.
Menurut Margaretha (2004) Capital Budgeting merupakan keseluruhan proses
analisis proyek – proyek pengembangannya di harapkan akan berlanjut lebih dari satu tahun
dan menentukan proyek mana yang akan dimasukan dalam capital budget.
Menurut Atmaja (2008) penganggaran modal adalah keseluruhan proses
menganalisis proyek - proyek dan menentukan apakah proyek – proyek tersebut harus di
masukan dalam anggaran modal.

Jadi penganggaran modal (Capital Budgeting) adalah proses kegiatan yang mencakup
seluruh aktivitas perencanaan penggunaan dana dengan tujuan untuk memperoleh manfaat
(benefit) pada waktu yang akan datang.
Penganggaran modal berkaitan dengan penilaian aktivitas investasi yang diusulkan.
Aktivitas suatu investasi ditujukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan selama periode
tertentu di waktu yang akan datang, yang mempunyai titik awal (kapan investasi
dilaksanakan) dan titik akhir (kapan investasi akan berakhir).
.

2.2 Pentingnya Capital Budgeting


1. Keputusan Capital Budgeting akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga
akan kehilangan fleksibilitasnya

Contoh pembelian sebuah aktiva yang memiliki umur ekonomis 10 tahun akan mengunci
perusahaan selama periode 10 tahun, karena perluasan aktiva didasarkan atas penjualan yang
diharapkan dimasa depan. Maka keputusan untuk membeli sebuah aktiva yang akan habis
dalam jangka waktu 10 tahun membutuhkan perencanaan penjualan selama 10 tahun.
Akhirnya keputusan penganggaran modal akan menentukan arah strategis perusahaan karena
perusahaan bergerak ke arah produk, jasa atau pasar baru yang harus didahului dengan
pengeluaran modal.

2. Penanggaran modal yg efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari
penambahan aktiva

Contoh perusahaan berusaha beroperasi mendekati kapasitas sepanjang waktu , selama 4


tahun, PT A telah mengalami permintaan secara besar-besaran secara tiba-tiba yang bersifat
tidak rutin sehingga perusahaan terpaksa menolak permintaan tersebut. Oleh karena itu PT A
merecanakan untuk menambah kapasitas produksi dengan menyewa gedung tambahan dan
membeli peralatan produksi yang baru yang diperlukan untuk kegiatan produksi, untuk itu
diperlukan waktu 6-8 bulan agar kapasitas produksi dapat digunakan , namun pada saat itu
perminttan mulai menurun, karena perusahaan lain mempunyai kapasitas yang mencukupi.
PT A mulai merencanakan meramalkan permintaan secara tepat dan merencanakan
kebutuhan kapasitasnya satu tahun sebelumnya atau lebih maka perusahaan mampu
mempertahankan dan bahkan meningkatkan pangsa pasar.

3. Pengeluaran Modal sangatlah Penting

Perusahaan dalam mencukupi semua kebutuhan yang diperlukan dalam kegiatan produksi,
perusahaan harus mempunyai dana yang cukup dan memadai karena untuk mencukupi semua
kebutuhan perusahaan mengeluarkan dana yang besar. Jumlah uang yang besar yang
dikeluarkan perusahaan tidak dapat tersedia secara otomatis oleh karena itu, Untuk
mencukupi itu semua perusahaan harus memikirkan program pengeluaran modal yang besar
dengan merencanakan membuat capital budgeting dana jauh-jauh hari sebelum dana itu
tersedia.
.
2.3 Peraturan Keputusan Penganggaran Modal
Ada 5 metode yang dapat digunakan untuk memberi peringkat proyek dan memutuskan
apakah suatu proyek itu harus diterima atau di tolak, dan dimasukkan ke dalam anggaran
modal atau tidak. Beberapa metode penilaian itu antara lain :
 Pemulihan (payback)
 Pemulihan yang didiskontokan
 Nilai sekarang bersih ( NPV )
 Tingkat pengembalian internal ( IRR )
 Tingkat pengembalian internal yang dimodifikasi ( MIRR )

2.3.1 Periode pemulihan ( Payback ) dan Pemulihan yang di Diskontokan


Metode ini didefenisikan sebagai ekspetasi jumlah tahun yang diperluakan untuk
menutupi investasi awal, dan merupakan metode formal pertama yang digunakan untuk
mengevaluasi proyek penganggaran modal.
Semakin pendek periode pemulihan, maka semakin baik. Dalam metode ini, apabila
perushaan sudah mendapatkan hasil analisinya, maka harus ada pemilihan terhadap proyek
yang akan dipilih.
Kelemahan utama dari metode ini adalah bahwa metode ini mengabaikan arus kas
yang dibayarkan atau yang diterima setelah periode pemulihan. Walaupun metode tersebut
memiliki beberapa kesalahan, namun metode tersebut memberikan informasi tentang berapa
lama dana akan terikat dalam proyek.
Jadi, semakin pendek periode pemulihan, sementara yang lain dianggap konstan,
semakin besar likuiditas proyek. Arus kas yang diharapkan dalam jangka panjang umumnya
lebih berisisko daripada arus kas jangka pendek, maka pemulihan seringkali digunakan
sebagai salah satu indikator dari tingkat risiko proyek.

2.3.2 Nilai Sekarang Bersih (NPV)


Setelah kelemahan metode pemulihan, maka ada metode lain yang di jadikan sebagai
alternatif pilihan dalam mengevaluasi keefektifan proyek. Salah satu metode seperti itu
adalah metode nilai sekarang bersih (net present value = NPV ), dimana metode ini
mengandalkan pada teknik arus kas yang didiskontokan ( discounted cash flow ). Beberapa
proses dalam teknik ini antara lain :
 Tentukan nilai sekarang dari setiap arus kas, termasuk arus kas masuk dan arus kas keluar,
yang didiskontokan pada modal proyek.
 Jumlah arus kas yang didiskontokan ini merupakan hasil sebagai NPV proyek.
 Jika NPV adalah positv, maka proyek harus diterima, sementara jika negativ, maka proyek
tersebut harus di tolak.
Alasan yang rasional untuk menggunakan metode ini adalah kejelasan yang disediakan
oleh metode ini. NPV sebesar nol menyiratkan bahwa arus kas proyek sudah mencukupi
untuk membayar kembali modal yang diinvestasikan dan memberikan tingkat pengembalian
yang dibutuhkan atas modal.
Apabila NPV yang dihasilkan positif, maka proyek tersebut akan menghasilkan lebih
banyak kas dari yang dibuthkan untuk menutupi utang dan memberikan pengembalian yang
diperlukan kepada pemegang saham, dan kelebihan kas ini hanya akan bertambah kepada
pemegang saham. Oleh karena itu, jika perusahaan mengambil proyek yang menghasilkan
perhitungan NPV positiv, maka akan memberikan peningkatan terhadap posisi pemegang
saham dalam perusahaan.
2.7.3 Tingkat Pengembalian Internal ( IRR )
IRR didefenisiskan sebagai tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus
kas masuk proyek yang diharapkan terhadap nilai sekarang dari arus kas masuk proyek yang
diharapkan terhadap nilai sekarang dari biaya proyek.
Jika arus kas adalah konstan dari tahun ke tahun, maka kita akna memmiliki anuitas, dan
kita dapat menggunakan faktor anuitas untuk mencari IRR. Namun, apabila arus kas tidak
konstan, maka akan sulit untuk menghitung IRR.
Secara matematis, baik metode NPV maupun IRR akan memberikan keputusan
menerima atau menolak yang sama atas proyek independen, karena jika NPV positiv, maka
IRR akan melebihi k. Namun, NPV dan IRR dapat membuat peringkat yang berbeda untuk
proyek mutually excusive .
Ada beberapa alasan rsional mengapa tingkat diskonto tertentu menyamakan biaya
proyek dengan nilai sekarang penerimaannya, antara lain :
 IRR proyek adalah tingkat pengembalian yang diharapakan (expected return)
 Jika IRR melebihi biaya dana yag digunakan untuk membiayai proyek, maka akan terdapat
surplus setelah pembayaran modal, dan surplus ini akan menjadi bagian pemegang saham.
 Oleh karena itu, memilih proyek yang IRR nya melebihi biaya modal meningkatkan
kekayaan pemegang saham.
 Disisi lain, apabila IRR lebih kecil daripada biaya modal, maka memilih proyek ini akna
menimbulkan biaya bagi pemegang saham sekarang.
 Hal ini merupakan karaktertistik breakeven yang mebuat IRR berguna dalam megevaluasi
proyek modal.

2.7.4 Tingkat Pengembalian Internal yang diModifikasi (MIRR)


Para manajer lebih menarik untuk mengevaluasi investasi dalam istilah persentase
tingkat pengembalian dibandingkan dolar NPV. Kita dapat memodifikasi IRR dan
menjadikan indikator profitabilitas yang relatif lebih baik, sehingga lebih baik untuk
digunakan dalam penganggaran modal.
MIRR memiliki keunggulan yang signifikan apabila dibandingkan dengan IRR biasa.
MIRR mengasumsikan bahwa arus kas dari semua proyek direinvestasikan pada biaya modal.
Sedangkan pada IRR reguler mengasumsikan bahwa arus kas dari setiap proyek
diinvestasikan pada IRR proyek. Karena reinvestasi pada biaya modalumumnya lebih benar,
maka MIRR adalah indikator yang lebih baik dari profitabilitas proyek yang sesungguhnya.
CONTOH SOAL
PT. Maju Tak Gentar mengajukan dua proposal proyek untuk di analisis. Data tentang kedua
proposal proyek tersebut adalah sebagai berikut:
Proyek “A” Proyek “B”
Kebutuhan investasi Rp 250.000.000 Rp 200.000.000
Nilai residu Rp 50.000.000 Nihil
Umur ekonomis 5 tahun 5 tahun
Bunga modal 15% 15%
Pola penjualan untuk lima tahun mendatang sebagai berikut :
Proyek “A” Proyek “B”
Tahun 1 Rp 525.000.000 Rp 400.000.000
Tahun 2 Rp 400.000.000 Rp 400.000.000
Tahun 3 Rp 550.000.000 Rp 200.000.000
Tahun 4 Rp 450.000.000 Rp 250.000.000
Tahun 5 Rp 150.000.000 Rp 250.000.000
Biaya dan pajak yang harus diperhitungkan dari masing-masing proyek setiap tahun adalah
sebagai berikut :
Proyek “A” Proyek “B”
Biaya tetap per tahun Rp 100.000.000 RP 75.000.000
Biaya variabel 60% 50%
Pajak keuntungan 40% 40%
Dalam biaya tetap sudah termasuk biaya penyusutan dan biaya bunga baik untuk proyek “A”
maupun proyek “B”.

Ditanyakan :
1. Menentukan pola EAT untuk kedua proyek
2. menentukan proyek yang dipilih berdasarkan PBP (Pay Back Period)
3. Menentukan proyek yang dipilih berdasarkan NPV (discount rate 15%)
4. Hitunglah profitability indek kedua proyek
5. Kesimpulan yang dapat diambil jika kedua proyek bersifat contigent? dengan asumsi dana
cukup tersedia.
Penyelesaian :
1. Pola EAT proyek “A” (dalam rupiah)
Pajak
T Penjualan FC VC TC EBT EAT
40%
h (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
(Rp)
1 525.000.0 100.000.0 315.000.0 415.000.0 110.000.00 44.000.00 66.000.000
00 00 00 00 0 0
2 400.000.0 100.000.0 240.000.0 340.000.0 60.000.000 24.000.00 36.000.000
00 00 00 00 0
3 550.000.0 100.000.0 330.000.0 430.000.0 120.000.00 48.000.00 72.000.000
00 00 00 00 0 0
4 450.000.0 100.000.0 270.000.0 370.000.0 80.000.000 32.000.00 48.000.000
00 00 00 00 0
5 150.000.0 100.000.0 90.000.00 190.000.0 (40.000.00 - (40.000.00
00 00 0 00 0) 0)

Pola EAT proyek “B” (dalam rupiah)


Pajak
T Penjualan FC VC TC EBT EAT
40%
h (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
(Rp)
1 400.000.0 75.000.00 200.000.0 275.000.0 125.000.00 50.000.00 75.000.000
00 0 00 00 0 0
2 400.000.0 75.000.00 200.000.0 275.000.0 125.000.00 50.000.00 75.000.000
00 0 00 00 0 0
3 200.000.0 75.000.00 100.000.0 175.000.0 25.000.000 10.000.00 15.000.000
00 0 00 00 0
4 250.000.0 75.000.00 125.000.0 200.000.0 50.000.000 20.000.00 30.000.000
00 0 00 00 0
5 250.000.0 75.000.00 125.000.0 200.000.0 50000.000 20.000.00 30.000.000
00 0 00 00 0

2. Pola Proceed proyek “A” Pola Proceed proyek “B”


T
T Penyusuta h Penyusuta
EAT Proceed EAT Proceed
h n n

1 400.000.00 75.000.000 200.000.00 1 125.000.00 50.000.000 75.000.000


0 0 0
2 400.000.00 75.000.000 200.000.00 2 125.000.00 50.000.000 75.000.000
0 0 0
3 200.000.00 75.000.000 100.000.00 3 25.000.000 10.000.000 15.000.000
0 0
4 250.000.00 75.000.000 125.000.00 4 50.000.000 20.000.000 30.000.000
0 0
5 250.000.00 75.000.000 125.000.00 5 50000.000 20.000.000 30.000.000
0 0
Proceed proyek “A” Proceed proyek “B”
Tahun 1 Rp. 106.000.000 Tahun 1 Rp. 115.000.000
Tahun 2 Rp. 76.000.000 + Total out lay Rp. 200.000.000 -
Jumlah Rp. 182.00.000 Kekurangan Rp. 85.000.000
Total out lay Rp. 250.000.000 -
Kekurangan Rp. 68.000.000

Waktu = x 12 bulan Waktu = x 12 bulan


Waktu = 7,3 bulan Waktu = 8,9 bulan
PBP proyek “A” = 2 tahun PBP proyek “B” = 1 tahun 8,9 bulan
Proyek yang baik di pilih berdasarkan PBP adalah proyek “B”

3. Net present value


Proyek “A” Proyek “B”
Proceed DF 15% PV Proceed DF 15% PV
106.000.00 0,870 92.220.000 115.000.00 0,870 100.050.00
0 0
76.000.000 0,756 57.456.000 115.000.00 0,756 86.940.000
0
112.000.00 0,658 73.696.000 55.000.000 0,658 36.190.000
0
88.000.000 0,572 50.336.000 70.000.000 0,572 40.040.000
50.000.000 0,497 24.850.000 70.000.000 0,497 34.790.000
Total present value 298.558.00 Total present value 298.010.00
0 0
Present value out lay 250.000.00 Present value out lay 200.000.00
0 0
Net present value (NPV) 48.558.000 Net present value (NPV) 98.010.000

Proyek yang baik untuk dipilih berdasarkan NPV adalah proyek “B”

4. Profitability indek (PI)


Proyek “A” Proyek “B”
PI = = 1,19 PI = = 1,49

5. PI gabungan = = 1,33
Kesimpulan : kedua proposal proyek dapat diterima karena menghasilkan PI gabungan lebih
besar dari satu.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham, Eugene.F Gepenski, Louis C. 2008. Financial Manajemen Theory and Practice
Ross Westerfield Jeff. 2010. Corporate Finance 9th Edition. Irwin, McGraw-Hill

Anda mungkin juga menyukai