Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Di dalam kehidupan modern yang semakin kompleks, maka akan terjadi
peningkatan stress apabila seseorang kurang mengadaptasi keinginan-keinginan
dengan kenyataan kenyataan yang dimiliki, baik kenyataan yang ada di dalam
maupun di luar dirinya.Gaya hidup dan persaingan hidup menjadi semakin
tinggi, hal ini disebabkan karena tuntutan akan kebutuhan ekonomi,
sandang,pangan dan papan, pemenuhan kebutuhan kasih sayang, rasa aman, dan
aktualisasi diri dapat berakibat tingginya tingkat stress di kalangan masyarakat.
Jika individu kurang atau tidak mampu dalam menggunakan mekanisme koping
dan gagal dalam beradaptasi maka individu akan mengalami berbagai penyakit
baik fisik maupun mental (Rasmun, 2004 ).
Menurut hasil Survei Kesehatan Mental 2005 ditemukan 185 per 1000
penduduk di Indonesia menunjukan adanya gejala gangguan jiwa. Hal ini
didukung data dari Depkes RI yang melaporkan bahwa di Indonesia jumlah
penderita penyakit jiwa berat sekitar 6 juta orang atau sekitar 2,5% dari total
penduduk di Indonesia. Perilaku kekerasan merupakan salah satu penyakit jiwa
yang ada di Indonesia, dan hingga saat ini diperkirakan jumlah penderitanya
mencapai 2 juta orang.
Menurut kebutuhan Maslow,maslow menentukan prioritas diagnosa yang
akan direncanakan berdasarkan kebutuhan di antaranya kebutuhan fisiologi,
keselamatan dan keamanan, mencintai dan dicintai, harga diri dan aktualisasi
diri. Kebutuhan mencintai dan dicintai meliputi masalah kasih sayang,
seksualitas, afiliasi dalam kelompok, hubungan dengan teman keluarga, teman
sebaya, dan masyarakat. Sehingga pada perilaku kekerasan kebutuhan
mencintai dan memiliki kurang terpenuhi.
2

1.2.Rumusan masalah
1. Apa saja yang diagnosa yang didapat?
2. Intervensi apa saja yang dilakukan?
3. Serta evaluasi yang diharapkan?
1.3.Tujuan
1. Melakukan pengkajian pemenuhan kebutuhan mecintai dan dimiliki
2. Menentukan diagnosa keperawatan pemenuhan kebutuhan mencintai dan
memiliki.
3. Menyusun rencana asuhan keperawatan pemenuh kebutuhan mencintai dan
dimiliki.
4. Melakukan implementasi pemenuhan kebutuhan mencintai dan dimiliki.
5. Melakukan evaluasi.
6. Menganalisin pemenuh kebutuhan mencintai dan dicintai.
3

BAB II

2.1. PENGKAJIAN

Klien dibawa oleh tetangganya dengan alasan klien di rumah ngamuk-


ngamuk,memukul orang, mudah tersinggung, bicara kotor, mengamuk dan merusak
barang-barang di rumahnya. Keluarga tidak pernah membawa klien kontrol
sehingga klien sering marah dan mengamuk.Klien sebelumnya sudah memiliki
riwayat gangguan jiwa dimasa lalu. Pengobatan sebelumnya tidak berhasil kerena
klien kurang mampu beradaptasi di masyarakat dan masih ada gejala gangguan
jiwa. Klien mengatakan di rumah sering merasa bingung dan marah karena di
tinggal cerai istrinya sekitar 2 bulan yang lalu. Tidak ada anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data yaitu TD: 130/90 mmHg,
N: 80 x/menit, RR : 24 x/menit, TB : 168 cm, BB : 58 kg. Tidak ada kenaikan dan
penurunan berat badan selama di rumah sakit. Klien tidak mengalami keluhan
fisik dan klien mengatakan badannya baik-baik saja. Rambut pendek, hitam,
bersih (tidak berketombe). Mata simetris kanan-kiri, sklera putih, conjungtiva
tidak anemis. Hidung simetris, bersih,tidak ada polip. Mulut simetris, tidak
sianosis dan tidak ada stomatitis. Telinga simetris kanan-kiri, serumen sedikit.
Leher tidak kaku kuduk, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Dinding dada
simetris kanan-kiri. Ektremitas lengkap dan tidak ada oedema. Dari hasil
pengkajian status mental didapatkan pembicaraan klien cepat dan keras,
pembicaraan koheren, dan pandangan matanya tajam dan terlihat gelisah. Klien
terlihat sedih dan mengatakan bosan di rumah sakit. Data penunjang diagnosa
medis mendapat terapi Heloperidol 2 x 1 mg, Trihexypenidile 3 x 1 mg dan
Chlorpormazine 100 mg. Salah satu gejala skizofrenia adalah gangguan proses
pikir,emosional, dan cemas. Didukung terapi obat Heloperidol yang mempunyai
indikasi memperbaiki gejala positif skizofrenia seperti kecurigaan dan rasa
4

permusuhan, sedangkan Trihexypenidile menetralkan efek dari Halloperidol dan


Chlorpormazine.

2.2. INTERVENSI

Berdasarkan hasil pengkajian, dirumuskan rencana keperawatan pada Tujuan


Umum (TUM): Klien tidak melakukan tindakan kekerasan.Tujuan Khusus
(TUK1): Klien dapat membina hubungan saling percaya. Dengan kriteria evaluasi
setelah 1x pertemuan klien tampak: Menunjukan tanda - tanda percaya pada
perawat, wajah cerah (tersenyum),mau
berkenalan, bersedia menceritakan perasaannya. Intervensi yang akan dilakukan
bina hubungan saling percaya dengan, memberi salam setiap berinteraksi,
perkenalkan nama perawat dan tujuan perawat berinteraksi, tanyakan dan panggil
nama kesukaan klien,tunjukan sikap empati jujur dan menepati janji setiap kali
berinteraksi, tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien, buat
kontrak interaksi yang jelas, dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan
perasaan klien. TUK 2: Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
yang dilakukannya. Dengan kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan klien
menceritakan penyebab perilaku kekerasan yang dilakukannya, menceritakan
penyebab perasaan kesal (jengkel), baik dari diri sendiri maupun lingkungannya.
Intervensi yang akan dilakukan, bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya,
motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa kesal (jengkel),dengarkan tanpa
mencela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan klien. TUK 3: Klien
dapat mengidentifikasi tanda - tanda perilaku kekerasaan. Dengan kriteria evaluasi
setelah 1x pertemuan klien menceritakan tanda - tanda saat terjadi perilaku
kekerasan, tanda fisik mata merah, tangan mengepal, ekspresi wajah tegang,tanda
emosional,perasaan marah jengkel marah bicara kasar, tanda sosial bermusuhan
yang dialami saat terjadi perilaku kekerasan. Intervensi yang akan dilakukan,bantu
klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialaminya,motivasi
5

klien menceritakan kondisi fisik saat perilaku kekerasan terjadi, motivasi klien
menceritkan kondisi emosinya saat terjadi perilaku kekerasan,
motivasi klien menceritakan kondisi hubungan dengan orang lain saat terjadi
perilaku kekerasan.
TUK 4: Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang
pernah dilakukanya. Dengan kriteria evaluasi setelah 1x pertemuan klien
menjelaskan, jenis - jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukanya,
perasaannya saat melakukan kekerasan, efektifitas cara yang dipakai dalam
menyelesaikan masalah.Intervensi yang akan dilakukan, diskusikan dengan klien
perilaku kekerasan yang dilakukan selama ini, motivasi klien menceritakan jenis -
jenis tindakan kekerasan yang selama ini pernah dilakukannya, motivasi klien
menceritakan perasaan klien setelah
6

2.3. IMPLEMENTASI

Proses keperawatan yang dilakukan selama 3 hari pada klien Tn.D dengan
masalah utama resiko perilaku kekerasan mencakup tindakan keperawatan yang
diberikan antara lain dibawah ini : Pada tanggal 02 April 2016 melakukan
implementasi diagnosa keperawatan resiko perilaku kekerasan yaitu pada pukul
11.00 WIB melakukan membina hubungan saling percaya dengan/ menerapkan
prinsip komunikasi terapeutik, mengidentifikasi penyebab marah, mengidentifikasi
tanda - tanda perilaku kekerasan, mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa
dilakukan, mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan oleh
klien dengan cara membicarakan akibat dari perilaku kekerasan,mengidentifikasi
cara konstruktif dalam berespon terhadap kernarahan. Pada tanggal 03 April 2012
melakukan implementasi pada pukul 09.00 WIB melakukan Strategi Pelaksanaan (
SP I ) yaitu membantu klien dalam mendemonstrasikan cara yang konstruktif
dengan cara yang pertama yaitu tehnik nafas dalam, yaitu dengan ambil nafas
melalu hidung lalu tahan sebentar kemudian keluarkan melalui mulut dan ulangi
sampai 5 kali,menganjurkan klien untuk dilakukan 3 kali sehari terutama jika klien
sedang marah. Pada tanggal 4 April 2012 melakukan implementasi pada pukul
09.00 WIB melakukan SP II yaitu membantu klien dalam mendemonstrasikan cara
yang konstruktif dengan cara yang kedua yaitu memukul bantal, yaitu dengan ambil
nafas melalui hidung lalu tahan sebentar kemudian keluarkan melalui mulut
bersamaan itu sambil meluapkan rasa emosi dengan cara memukul bantal,
menganjurkan klien untuk dilakukan 3 kali sehari terutama jika klien sedang marah.
7

2.4. EVALUASI

Setelah dilakukan implementasi atau tindakan keperawatan, makalangkah


selanjutnya dalam proses keperawatan adalah evaluasi. Adapun evalusi dari
tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada tanggal 2-4 April 2012 adalah
dibawah ini. Evaluasi pada tanggal 2 April 2012 pukul 12.00 WIB dengan
melakukan tindakan keperawatan diagnosa keperawatan resiko perilaku kekerasan,
evaluasi secara subyektif: klien menyebutkan nama dan mau berjabat tangan. Klien
mengatakan sering marah dan bingung karena ditinggal cerai istrinya Klien
mengatakan saat marah klien memukul orang dan merusak barang disekitarnya.
Klien mengatakan akibat jika klien marah tangannya sakit karena memukul dan
barang-barang di sekitarnya menjadi rusak. Klien mengatakan cara yang di gunakan
mengontrol marah dengan cara tarik nafas dalam, memukul bantal dan berbincang-
bincang dengan teman. Evaluasi obyektif klien mau berkenalan dengan berjabat
tangan, ekspresi wajah tegang, pandangan tajam, mata sedikit melotot. Dari
evaluasi subyektif dan obyektif maka penulis menganalisa bahwa klien mampu
mengungkapkan terjadinya perilaku kekerasan, sehingga rencana selanjutnya SP I,
yaitu mengajarkan ,mengontrol marah dengan cara nafas dalam. Evaluasi pada
tanggal 3 April 2012 pukul 09.30 WIB dengan melakukan tindakan keperawatan
diagnosa keperawatan resiko perilaku kekerasan,evaluasi SP I secara subyektif
klien mengatakan mau mencoba cara mengontrol marah dengan nafas dalam. Dari
evaluasi obyektif klien mampu mendemonstrasikan cara konstrutif yang pertama
yaitu dengan tarik nafas dalam, klien tampak tenang. Dari evaluasi subyektif dan
obyektif maka penulis menganalisa bahwa SP I tercapai yaitu klien mampu
mendemonstrasikan cara konstruktif dalam mengontrol kemarahan dan klien mau
berlatih SP I tarik nafas dalam, sehingga rencana selanjutnya adalah melanjutkan
SP II yaitu mendemonstrasikan cara konstrutif dengan cara yang kedua, dengan
cara memukul bantal dan evaluasi SP I. Evaluasi pada tanggal 4 April 2012 pukul
09.30 WIB dengan melakukan tindakan keperawatan diagnosa keperawatan resiko
perilaku kekerasan, evaluasi SP II secara subyektif klien mengatakan kemarin telah
mencoba sendiri SP I tehnik nafas dalam,klien mengatakan bersedia di ajari cara
8

mengontrol marah dengan cara memukul bantal. Dari evaluasi obyektif klien
mampu mendemonstrasikan cara konstrutif yang kedua yaitu dengan memukul
bantal. Dari evaluasi subyektif dan obyektif maka penulis menganalisa bahwa SP
II tercapai yaitu klien mampu mendemonstrasikan cara konstruktif dalam
mengontrol kemarahan dan klien mau berlatih SP II memukul bantal, sehingga
rencana selanjutnya adalah melanjutkan SP III yaitu mendemonstrasikan cara
konstrutif dengan cara yang ke tiga, dengan melakukan kegiatan positif dan
memasukkan ke jadwal harian dan evaluasi SP II.
9

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan penulis dapatkan setelah melakukan asuhan keperawatan pemenuhan
kebutuhan mencintai dan memiliki pada Tn.D dengan resiko perilaku kekerasan, dari
hasil pengkajian didapatkan data meliputi data subyektif dan data obyektif. Datasubyektif
Klien mengatakan merasa ingin
marah dan bingung karena di tinggal cerai istrinya. Klien mengatak
an saat
merasa marah rasanya ingin memukul orang dan barang di sekitarnya.
Sedangkan data obyektif : tampak tegang, bingung, nada bicara agak ti
nggi,
mata sedikit melotot, bicara kotor. Sehingga dapat diambil diagnosa
keperawatan resiko perilaku kekerasan. Rencana keperawatan meli
puti TUM:
Klien tidak melakukan tindakan kekerasan. TUK 1: Klien dapat me
mbina
hubungan saling percaya. TUK 2: Klien dapat mengidentifikasi penyebab
perilaku kekerasan yang dilakukannya. TUK 3: Klien dapat mengidentif
ikasi
tanda - tanda perilaku kekerasaan. TUK 4: Klien dapat mengidentif
ikasi jenis
perilaku kekerasan yang pernah dilakukanya. TUK 5: Klien dapat
mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan. TUK 6: Klien dapat
mengidentifikasi cara konstruktif dalam mengungkapkan kemarahan. TU
K 7:
Klien dapat mendemontrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
sedangkan
untuk implementasi hanya bisa dilakukan penulis dari TUK 1 – TUK 7 kar
ena
keterbatasan waktu sehingga tidak semua TUK bisa dilakukan. Set
elah
dilakukan implementasi didapatkan hasil/evaluasi, klien mampu
mengungkapkan resiko perilaku kekerasan yang dialami dan klien mampu
mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara tarik nafas dala
m dan
memukul bantal. Analisa pemenuhan kebutuhan mencintai dan memiliki
pada
Tn.D dengan resiko perilaku kekerasan sudah dapat terpenuhi sebag
ian.
10

3.2 Saran

1.Bagi Perawat
a.Perawat mampu meningkatkan kualitas dalam memberikan asuhan
keperawatan pemenuhan kebutuhan mencintai dan memiliki pada klien
dengan resiko perilaku kekerasan karena banyak perawat yang
melakukan tindakan keperawatan bukan berdasarkan rencana
keperawatan tetapi berdasarkan intuisi.
b.Perawat mampu melakukan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan
mencintai dan memiliki pada klien dengan resiko perilaku kekerasan
sesuai dengan SOP (Standart Operasional Prosedur).
2.Bagi Rumah Sakit
Diharapkan Rumah Sakit mampu memberikan pelayanan yang baik kepada
setiap pasien, khususnya pada penderita gangguan jiwa dengan gangguan
resiko perilaku kekerasan.

Daftar Pustaka
11

http://beulel029.blogspot.co.id/2013/05/makalah-penyakit-terminal-menjelang-
ajal.html (online)

Smith, Sandra F, Smith Donna J with Barbara C Martin. Clinical Nursing Skills. Basic to
Advanced Skills, Fourth Ed, 1996. Appleton&Lange, USA. (online)