Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu penyakit yang paling sering mengenai Nervus medianus adalah neuropati
tekanan/jebakan (entrapment neuropathy). Di pergelangan tangan nervus medianus berjalan
melalui terowongan karpal (carpal tunnel) dan menginnervasi kulit telapak tangan dan
punggung tangan di daerah ibu jari, telunjuk, jari tengah dan setengah sisi radial jari manis.
Pada saat berjalan melalui terowongan inilah nervus medianus paling sering mengalami
tekanan yang menyebabkan terjadinya neuropati tekanan yang dikenal dengan istilah Sindroma
Terowongan Karpal/STK (Carpal Tunnel Syndrome/CTS).
Secara epidemiologi CTS merupakan cedera akibat pekerjaan yang kedua terbanyak
setelah nyeri punggung bawah dan menyumbang 90% kasus dari semua entrapment
neuropathy, serta terjadi pada 3,8% dari populasi umum. Insiden CTS dapat mencapai hingga
276:100.000 per tahun dengan tingkat prevalensi hingga 9,2% pada wanita dan 6% pada pria.
Pada umumnya CTS bersifat bilateral, dan terjadi pada rentang usia puncak 40–60 tahun
(Ibrahim, 2012).
Di Indonesia, urutan prevalensi CTS dalam masalah kerja belum diketahui karena sampai
tahun 2001 masih sangat sedikit diagnosis penyakit akibat kerja yang dilaporkan karena
berbagai hal, antara lain sulitnya diagnosis. Penelitian pada pekerjaan dengan risiko tinggi pada
pergelangan tangan dan tangan melaporkan prevalensi CTS antara 5,6% sampai dengan 15%.
Penelitian Harsono pada pekerja suatu perusahaan ban di Indonesia melaporkan prevalensi
CTS pada pekerja sebesar 12,7%. Silverstein dan peneliti lain melaporkan adanya hubungan
positip antara keluhan dan gejala CTS dengan faktor kecepatan menggunakan alat dan faktor
kekuatan melakukan gerakan pada tangan. (5)
Tingginya angka prevalensi yang diikuti tingginya biaya yang harus dikeluarkan
membuat permasalahan ini menjadi masalah besar dalam dunia okupasi. Beberapa faktor
diketahui menjadi risiko terhadap terjadinya CTS pada pekerja, seperti gerakan berulang
dengan kekuatan, tekanan pada otot, getaran, suhu, postur kerja yang tidak ergonomik dan lain-
lain. (2)
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Anatomi Nervus Medianus


Wrist Joint disusun oleh 3 tulang : tulang radius, tulang ulna dan tulang carpal.
Dimana terowongan carpal terletak dipergelangan tangan yang kerangkanya di bentuk
oleh 8 tulang carpal yang tersusun atas 2 deretan. Deretan proximal terdiri dari (lateral
dan medial : naviculare, lunatum, triquertum, dan pisiformis). Deretan distal
(trapezium, trapezoideum, capitatum dan hamatum). Tulang-tulang carpal tangan
susunannya membusur dengan bagian konkaf menghadap ke arah telapak tangan.
Ruangan ini tertutup oleh ligamentum karpi transversum sehingga terbentuk suatu
terusan yang sempit yang disebut terowongan carpal.
Terowongan carpal ini mengandung banyak struktur, yaitu :
1. Empat tendo dari m. flexor digitorum superfisialis
2. Empat dari m. flexor digitorum profundus
3. Tendo dari m. flexor pollicis longus
4. N. medianus (De Wolf, 1994)

Gambar 1.
Nervus medianus terbentuk dari fasikulus lateralis asal radiks C5, C6, C7 dan fasikulus
medialis C8 dan T1. Fasiculus lateralis, terdiri dari serabut C6 dan C7. Serabut C6 berfungsi
mensuplai serabut sensorik ke thenar eminence dan ibu jari, serabut C7 berfungsi mensuplai
serabut sensorik ke jari tengah, dan bersama-sama mensuplai serabut sensorik ke jari telunjuk
(C6–C7), begitu juga serabut motorik ke otot-otot lengan bawah. Fasiculus medialis, terdiri
dari C8–Th1, mensuplai serabut motorik ke otot-otot medial distal pada lengan bawah dan
tangan, begitu pula serabut sensorik ke bagian lateral dari jari manis (Freimer et al., 2001;
Preston et al., 2002; Kimura, 2001).
Saraf medianus di atas siku tidak mempunyai cabang-cabang artikuler menuju sendi siku
cabang muskuler mempersarafi pollicis longus, pronator quadratus. Setelah memberi cabang
pada otot-otot lengan bawah untuk berbagai gerakan lengan dan jari-jari tangan di bawah
ligamentum carpi transversal syaraf medianus bercabang dua, yang lateral (motorik)
mempersyarafi otot abductor pollicis brevis, flexor pollicis brevis, oponen pollicis dan otot
lumbricalles kesatu dan kedua, sedang cabang medial (sensorik) mempersyarafi bagian volar
jari-jari 1, 2, 3 dan ½ jari ke 4 (sisi lateral) serta bagian tengah sampai sisi radial juga
dipersyarafi oleh n. medianus.

Nervus medianus merupakan struktur yang pertama terganggu dan menimbulkan gejala
jika terdapat stenosis atau peningkatan tekanan dalam terowongan. Kondisi apapun yang
menyebabkan penurunan ruang dalam terowongan karpal atau peningkatan tekanan dalam
terowongan akan meningkatkan friksi atau gesekan antara tendon fleksor, nervus medianus,
dan ligamen karpal transversalis. Gerakan fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang
berulang dapat menyebabkan stenosis dan peningkatan tekanan dalam terowongan (Durrant et
al., 2002)
Gambar 2.

2. 2 Carpal Tunnel Syndrome


2.2.1 Definisi
CTS merupakan neuropati tekanan atau cerutan terhadap nervus medianus di
dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan, tepatnya di bawah retinaculum
musculorum flexorum. Dulu, sindroma ini juga disebut dengan nama acroparesthesia,
median thenar neuritis atau partial thenar atrophy. CTS pertama kali dikenali sebagai
suatu sindroma klinik oleh Sir James Paget pada kasus stadium lanjut fraktur radius
bagian distal. CTS spontan pertama kali dilaporkan oleh Pierre Marie dan C.Foix pada
1913. Istilah carpal tunnel syndrome diperkenalkan oleh Moersch pada tahun 1938
(Campbell, 2005).
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons Clinical Guideline,
Carpal Tunnel Syndrome adalah gejala neuropati kompresi dari N. medianus di tingkat
pergelangan tangan, ditandai dengan bukti peningkatan tekanan dalam terowongan
karpal dan penurunan fungsi saraf di tingkat itu. Carpal Tunnel Syndrome dapat
disebabkan oleh berbagai penyakit, kondisi dan peristiwa. Hal ini ditandai dengan
keluhan mati rasa, kesemutan, nyeri tangan dan lengan dan disfungsi otot. Kelainan ini
tidak dibatasi oleh usia, jenis kelamin, etnis, atau pekerjaan dan disebabkan karena
penyakit sistemik, faktor mekanis dan penyakit local (8).

2.2.2 Epidemiologi
CTS adalah salah satu gangguan saraf yang umum terjadi. Sebuah survei di
California memperkirakan 515 dari 100.000 pasien mencari perhatian medis untuk CTS
pada tahun 1988. Di Belanda, prevalensinya dilaporkan 220 per 100.000 orang (Pecina,
2001).
Angka kejadian CTS di Amerika Serikat telah diperkirakan sekitar 1–3 kasus
per 1.000 orang setiap tahunnya dengan revalensi sekitar 50 kasus dari 1.000 orang
pada populasi umum. Orang tua setengah baya lebih mungkin berisiko dibandingkan
orang yang lebih muda, dan wanita tiga kali lebih sering daripada pria. (American
Academy of Orthopaedic Surgeons, 2008; Joseph J, 2012)
National Health Interview Study (NHIS) mencatat bahwa CTS lebih sering
mengenai wanita daripada pria dengan usia berkisar 25–64 tahun, prevalensi tertinggi
pada wanita usia >55 tahun, biasanya antara 40–60 tahun. Prevalensi CTS dalam
populasi umum telah diperkirakan 5% untuk wanita dan 0,6% untuk laki-laki. CTS
adalah jenis neuropati jebakan yang paling sering ditemui. Sindroma tersebut unilateral
pada 42% kasus (29% kanan, 13% kiri) dan 58% bilateral (Tana, 2004).
Perkembangan CTS berhubungan dengan usia. Phalen melaporkan jumlah
kasus meningkat untuk setiap dekade usia 59 tahun, setelah itu, jumlah kasus di setiap
dekade menurun. Atroshi et al. mengamati serupa distribusi usia dengan prevalensi
tertinggi CTS pada pria dari 45–54 tahun dan wanita usia 55–64 tahun. Lunak dan
Rudolfer menemukan bahwa kasus CTS memiliki distribusi usia dengan puncak pada
usia 50–54 tahun (Mc Cabe, 2007).
Menurut Tana et al. menyimpulkan bahwa dapat jumlah tenaga kerja dengan
CTS di beberapa perusahaan garmen di Jakarta sebanyak 20,3% responden dengan
besar gerakan biomekanik berulang sesaat yang tinggi pada tangan pergelangan tangan
kanan 74,1%, dan pada tangan kiri 65,5%. Pekerja perempuan dengan CTS lebih tinggi
secara bermakna dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Tidak terdapat perbedaan
antara peningkatan umur, pendidikan, masa kerja, jam kerja serta tekanan biomekanik
berulang sesaat terhadap peningkatan terjadinya CTS (Tana, 2004).
Jagga et al. meneliti bahwa pekerjaan yang beresiko tinggi mengalami CTS adalah :
1. pekerja yang terpapar getaran,
2. pekerja perakitan,
3. pengolahan makanan & buruh pabrik makanan beku,
4. pekerja toko,
5. pekerja industri,
6. pekerja tekstil, dan
7. pengguna komputer.

2.2.3 Etiologi
Kawasan sensorik N. Medianus bervariasi terutama pada permukaan volar. Dan
pola itu sesuai dengan variasi antara jari ketiga sampai jari keempat sisi radial telapak
tangan. Pada permukaan dorsum manus, kawasan sensorik N. Medianus bervariasi
antara dua sampai tiga palang distal jari kedua, ketiga dan keempat. Di terowongan
karpal N. Medianus sering terjepit. N. Medianus adalah saraf yang paling sering
mengalami cedera oleh trauma langsung, sering disertai dengan luka di pergelangan
tangan. Tekanan dari n median sehingga menghasilkan rasa kesemutan yang menyakiti
juga. Itulah parestesia atau hipestesia dari “Carpal Tunnel Sydrome” (11).
Etiologi CTS sebagian besar idiopatik atau disebut CTS primer. Apabila
berhubungan dengan penyakit lain disebut dengan CTS sekunder. CTS idiopatik
banyak terjadi pada perempuan, pada umur 40–60 tahun, dan bilateral.

2.2.4 Patofisiologi
Secara anatomis terdapat dua tempat penekanan nervus medianus. Pertama pada
batas proksimal terowongan karpal yang apabila pergelangan tangan fleksi akan
merubah ketebalan dan kekakuan fascia lengan bawah dan bagian proksimal
retinaculum musculorum flexorum dan yang kedua pada bagian tersempit yaitu pada
hamulus ossis hamati (Prastiyo, 2015).
Patogenesis CTS masih belum jelas. Beberapa teori telah diajukan untuk
menjelaskan gejala dan gangguan studi konduksi saraf. Yang paling populer adalah
kompresi mekanik, insufisiensi mikrovaskular, dan teori getaran. Menurut teori
kompresi mekanik, gejala CTS adalah karena kompresi nervus medianus di terowongan
karpal. Kompresi diyakini dimediasi oleh beberapa faktor seperti ketegangan, tenaga
berlebihan, hyperfunction, ekstensi pergelangan tangan berkepanjangan atau berulang
(5).
Teori insufisiensi mikro - vaskular mennyatakan bahwa kurangnya pasokan
darah menyebabkan penipisan nutrisi dan oksigen ke saraf yang menyebabkan ia
perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk mengirimkan impuls saraf. Scar dan
jaringan fibrotik akhirnya berkembang dalam saraf. Tergantung pada keparahan cedera,
perubahan saraf dan otot mungkin permanen. Karakteristik gejala CTS, terutama
kesemutan, mati rasa dan nyeri akut, bersama dengan kehilangan konduksi saraf akut
dan reversibel dianggap gejala untuk iskemia
Menurut teori getaran gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari jangka panjang
alat yang bergetar pada saraf median di karpal tunnel. Lundborg et al mencatat edema
epineural pada saraf median dalam beberapa hari berikut paparan alat getar genggam.
Selanjutnya, terjadi perubahan serupa mengikuti mekanik, iskemik, dan trauma kimia
(5).
Hipotesis lain dari CTS berpendapat bahwa faktor mekanik dan vaskular memegang
peranan penting dalam terjadinya CTS. Umumnya CTS terjadi secara kronis dimana
terjadi penebalan fleksor retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus
medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian
tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat. Kongesti
yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang
akan merusak endotel. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein
sehingga terjadi edema epineural. Hipotesa ini menerangkan bagaimana keluhan nyeri
dan sembab yang timbul terutama pada malam atau pagi hari akan berkurang setelah
tangan yang terlibat digerakgerakkan atau diurut, mungkin akibat terjadinya perbaikan
sementara pada aliran darah. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis
epineural yang merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi atrofi dan
digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus medianus terganggu
secara menyeluruh (13).
CTS idopatik berhubungan dengan hipertrofi membrana sinovial dari tendo otot
fleksor yang dikarenakan degenerasi jaringan ikat, dengan sclerosis vaskuler, edema,
dan fragmentasi kolagen. CTS sekunder dapat disebabkan oleh abnormalitas
penampung ataupun isinya. Gangguan pada penampung dapat disebabkan oleh kelainan
bentuk atau posisi tulang karpal, tulang radius, gangguan sendi pergelangan tangan, dan
akromegali. Gangguan pada isi dapat disebabkan oleh hipertrofi tenosinovial,
tenosinovitis, gangguan cairan seperti pada kehamilan dan hipotiroidisme, gangguan
otot, tumor di dalam terowongan, hematoma, dan obesitas (Prastiyo, 2015).
Sejumlah bukti mendukung pendapat bahwa kerusakan selular iskemik dan
oksidatif dan perubahan biokimia memediasi terjadinya idiopatik CTS. Bukti
eksperimental dan klinis kini menunjukkan bahwa reactive oxygen intermediates
(ROIs) adalah molekul bioaktif baik dalam keadaan fisiologis dan patologis. Produksi
senyawa aldehida, seperti malondialdehyde (MDA) pada konsentrasi yang sangat
rendah dan tidak beracun telah terbukti dapat memodulasi dan mempengaruhi beberapa
fungsi sel termasuk transduksi sinyal, ekspresi gen, dan proliferasi sel (Freeland et al.,
2007).
Iskemik lokal intermiten dan reperfusi selama periode pemulihan dapat
menyebabkan cedera oksidatif sel dan jaringan. Reactive oxygen intermediates dan
agen pro-oksidan lainnya menyebabkan peroksidasi lipid membran sel. Hal ini
menyebabkan pembentukan suatu campuran kompleks dari aldehyde end product CTS,
termasuk malondialdehyde (MDA), 4-hydroxy-2,3-nonenal (HNE), dan 4-hydroxy-2,3-
alkenals (HAKs) lainnya dengan panjang rantai yang berbeda. Molekul-molekul
aldehida ini merupakan mediator utama dari efek seluler toksik yang ditimbulkan oleh
stres oksidatif. Dengan berlanjutnya stres oksidatif, sistem pertahanan antioksidan
normal pada tubuh manusia menjadi kewalahan dan cedera seluler terjadi. Jaringan
saraf yang bermielin, merupakan sumber yang kaya lipid, merupakan target dominan
untuk peroksidasi lipid yang dimediasi radikal bebas dan lebih berat mnegalami
kerusakan akibat kompresi dibandingkan serabut saraf yang tidak bermielin (Freeland
et al., 2007).
Iskemia dan cedera seluler memulai metabolism asam arakidonat menjadi
produk siklooksigenase seperti prostaglandin E2. Prostaglandin E2 merupakan
vasodilator poten yang diketahui akan meningkatkan sensitivitas nerve endings
terhadap stimulus kimia dan mekanik dan dengan demikian memberikan kontribusi
terhadap timbulnya rasa nyeri yang dialami oleh pasien CTS. Studi menunjukkan
bahwa prostaglandin (PGE) dapat menyebabkan peningkatan negativitas dari tekanan
cairan interstisial yang menyebabkan peningkatan pesat dalam pembentukan edema,
berkontribusi terhadap gangguan fungsi jaringan. Jumlah PGE2 dalam tenosynovium
pasien CTS telah dilaporkan meningkat empat kali lipat dari control (Freeland et al.,
2007).
Interleukin-6 memainkan peran penting dalam perkembangan, diferensiasi,
regenerasi, dan degenerasi dari neuron pada sistem saraf perifer dan sentral, tetapi
biasanya tidak terdeteksi. Kerusakan selular yang diciptakan oleh iskemik neural dan
sinovial juga dapat memberikan kontribusi pada produksi sitokin. Interleukin-6
bertanggung jawab untuk perubahan peptida saraf yang berkaitan dengan cedera saraf
constriction-type. Kompresi saraf kronis pada hewan percobaan menyebabkan kadar
IL-6 yang terdeteksi pada beberapa neuron motorik dan sensorik dan beberapa jaringan
ikat dan menginduksi proliferasi fibroblas synovial jika berikatan dengan reseptor IL-
6. Kadar IL-6 serum secara statistik tidak berbeda antara pasien CTS dan kontrol,
meskipun kadar IL6 tenosynovial kali lebih tinggi pada kelompok pasien CTS. Data ini
menunjukkan bahwa IL-6 mungkin memainkan peran lokal pada patofisiologi CTS
(Freeland et al., 2007).

2.2.5 Faktor Resiko


Faktor risiko CTS terdiri dari okupasi dan non-okupasi faktor yang
berhubungan dengan kejadian CTS pada pekerja industri. Faktor risiko okupasi yaitu
bekerja dengan cepat, gerakan berulang, serta pekerjaan yang banyak menggunakan
pergelangan tangan dan getaran. Faktor yang bukan okupasi yaitu jenis kelamin, umur,
indeks massa tubuh, merokok, dan status kehamilan (Maghsoudipour, 2008).

2.2.6 Klasifikasi
Derajat CTS berdasarkan pemeriksaan ENMG dibagi menjadi derajat ringan,
sedang, dan berat.

(a) Ringan, merupakan prolongasi relatif atau absolut dari nervus sensorik atau palmar
median, amplitudo potensial sedikit berkurang
(b) Sedang, latensi sensorik dan motorik menjadi lebih panjang secara relatif atau
absolut
(c) Berat, latensi sensorik dan motorik yang diperpanjang dengan ketiadaan potensial
sensorik atau amplitudo rendah atau ketiadaan potensial motorik.

2.2.7 Manifestasi Klinis


Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja. Gangguan
motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat. Gejala awal biasanya berupa parestesia,
kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari 1-
3 dan setengah sisi radial jari 4 sesuai dengan distribusi sensorik nervus medianus
walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari (14).
Komar dan Ford membahas dua bentuk carpal tunnel syndrome: akut dan
kronis. Bentuk akut mempunyai gejala dengan nyeri parah, bengkak pergelangan
tangan atau tangan, tangan dingin, atau gerak jari menurun. Kehilangan gerak jari
disebabkan oleh kombinasi dari rasa sakit dan paresis. Bentuk kronis mempunyai gejala
baik disfungsi sensorik yang mendominasi atau kehilangan motorik dengan perubahan
trofik. Nyeri proksimal mungkin ada dalam carpal tunnel syndrome (6).
Keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala lainnya
adalah nyeri di tangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam hari sehingga sering
membangunkan penderita dari tidurnya. Rasa nyeri ini umumnya agak berkurang bila
penderita memijat atau menggerak-gerakkan tangannya atau dengan meletakkan
tangannya pada posisi yang lebih tinggi. Nyeri juga akan berkurang bila penderita lebih
banyak mengistirahatkan tangannya (15).
Apabila tidak segera ditagani dengan baik maka jari-jari menjadi kurang
terampil misalnya saat memungut benda-benda kecil. Kelemahan pada tangan juga
sering dinyatakan dengan keluhan adanya kesulitan yang penderita sewaktu
menggenggam. Pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar (oppones
pollicis dan abductor pollicis brevis).dan otot-otot lainya yang diinervasi oleh nervus
medianus (16).

2.2.8 Diagnosis
Diagnosa CTS ditegakkan berdasarkan gejala-klinis dan diperkuat dengan
beberapa pemeriksaan sebagai berikut.
1. Pemeriksaan Fisik
Tes provokasi yang sering dilakukan adalah tes Phalen, tes Tinel, dan tes
penekanan saraf. Tes Phalen dilakukan dengan cara memfleksikan pergelangan
tangan 90 derajat selama 1 menit. Tes dianggap positif bila timbul gejala CTS.
Tes Tinel dilakukan dengan cara mengetuk bagian volar pergelangan tangan
disebelah distal dari lipatan pengelangan tangan distal. Tes dianggap positif bila
gangguan sensorik menjalar ke daerah distribusi saraf medianus. Tes penekanan
saraf dilakukan dengan cara menekankan dua ibu jari pada pergelangan tangan
selama 1 menit. Tes dianggap positif bila timbul gejala pada distribusi nervus
medianus (Prastiyo, 2015).

Gambar 3. Phalen’s Test


Gambar 4. Tinel’s Test

2. Pemeriksaan Neurofisiologi (Elektrodiagnostik)


Elektroneuromiografi (ENMG) terdiri atas tahap stimulasi dan tahap
deteksi. ENMG dapat memeriksa konduksi saraf sensorik dan motorik dari nervus
medianus. ENMG juga dapat menganalisis amplitudo dan durasi respon sensorik
dan motorik. Kelainan elektris yang paling awal dan paling sensitif adalah
penurunan kecepatan konduksi sensorik antara telapak tangan dan jari dan
pergelangan tangan. Kecepatan <45 m/s dianggap patologis sedangkan nilai
normal ≥50 m/s.21 Elektrodiagnostik dianggap pemeriksaan tunggal yang paling
akurat, tetapi masih ditemukan false positive dan false negative pada
pemeriksaan. Tidak ada gold standard untuk diagnosa positif CTS.
3. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar-X terhadap pergelangan tangan dapat membantu melihat
apakah ada penyebab lain seperti fraktur atau artritis (Rambe, 2004).
4. Pemeriksaan Laboratorium
Bila etiologi CTS belum jelas, misalnya pada penderita usia muda tanpa adanya
gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan seperti
kadar gula darah, kadar hormon tiroid ataupun darah lengkap (Rambe, 2004).

2.2.9 Tatalaksana
Penatalaksanaan carpal tunnel syndrome kasus ringan bisa diobati dengan obat
anti inflamasi non steroid (OAINS) dan menggunakan penjepit pergelangan tangan
yang mempertahankan tangan dalam posisi netral selama minimal dua bulan, terutama
pada malam hari atau selama gerakan berulang. Kasus lebih lanjut dapat diterapi dengan
injeksi steroid lokal yang mengurangi peradangan. Jika tidak efektif, dan gejala yang
cukup mengganggu operasi sering dianjurkan untuk meringankan kompresi. Oleh
karena itu sebaiknya terapi CTS dibagi atas 2 kelompok, yaitu sebagai berikut (Aroori,
2008).
a. Terapi konservatif
1. Istirahatkan pergelangan tangan.
2. Obat anti inflamasi non steroid.
3. Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai dapat
dipasang terus-menerus atau hanya pada malam hari selama 2–3
minggu.
4. Nerve Gliding, yaitu latihan terdiri dari berbagai gerakan (ROM)
latihan dari ekstremitas atas dan leher yang menghasilkan ketegangan
dan gerakan membujur sepanjang saraf median dan lain dari
ekstremitas atas. Latihan-latihan ini didasarkan pada prinsip bahwa
jaringan dari sistem saraf perifer dirancang untuk gerakan, dan bahwa
ketegangan dan meluncur saraf mungkin memiliki efek pada
neurofisiologi melalui perubahan dalam aliran pembuluh darah dan
axoplasmic. Latihan dilakukan sederhana dan dapat dilakukan oleh
pasien setelah instruksi singkat.
5. Injeksi steroid, berupa deksametason 1–4 mg 1 atau hidrokortison 10–
25 mg atau metilprednisolon 20 mg atau 40 mg diinjeksikan ke dalam
terowongan karpal dengan menggunakan jarum nomor 23 atau 25
pada lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah
medial tendon musculus palmaris longus. Sementara suntikan dapat
diulang dalam 7 sampai 10 hari untuk total tiga atau empat suntikan.
Tindakan operasi dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum
memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan. Suntikan harus digunakan
dengan hati-hati untuk pasien di bawah usia 30 tahun.
6. Vitamin B6 (piridoksin). Beberapa penulis berpendapat bahwa salah
satu penyebab CTS adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka
menganjurkan pemberian piridoksin 100–300 mg/hari selama 3 bulan.
Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian
piridoksin tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila
diberikan dalam dosis besar. Namun pemberian dapat berfungsi untuk
mengurangi rasa nyeri.
7. Fisioterapi. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan
tangan.

b. Terapi operatif
Operasi hanya dilakukan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan
dengan terapi konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik yang berat atau
adanya atrofi otot-otot thenar. Pada CTS bilateral biasanya operasi pertama
dilakukan pada tangan yang paling nyeri walaupun dapat sekaligus dilakukan
operasi bilateral. Penulis lain menyatakan bahwa tindakan operasi mutlak
dilakukan bila terapi konservatif gagal atau bila ada atrofi otot-otot thenar,
sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah hilangnya sensibilitas yang
persisten (Bahrudin, 2011) .
Biasanya tindakan operasi CTS dilakukan secara terbuka dengan
anestesi lokal, tetapi sekarang telah dikembangkan teknik operasi secara
endoskopik. Operasi endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara
dini dengan jaringan parut yang minimal, tetapi karena terbatasnya lapangan
operasi tindakan ini lebih sering menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera
pada saraf. Beberapa penyebab CTS seperti adanya massa atau anomaly maupun
tenosinovitis pada terowongan karpal lebih baik dioperasi secara terbuka
(Rambe, 2004).
Keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya CTS harus
ditanggulangi, sebab bila tidak dapat menimbulkan kekambuhan CTS kembali.
Pada keadaan di mana CTS terjadi akibat gerakan tangan yang repetitif harus
dilakukan penyesuaian ataupun pencegahan. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya CTS atau mencegah kekambuhannya
antara lain (Bahrudin, 2011):
1. mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetisi,
getaran peralatan tangan pada saat bekerja,
2. desain peralatan kerja supaya tangan dalam posisi natural saat kerja,
3. modifikasi tata ruang kerja untuk memudahkan variasi gerakan, dan
4. mengubah metode kerja untuk sesekali istirahat pendek serta
mengupayakan rotasi kerja.

2.2.10 Prognosis
Pada kasus CTS ringan, dengan terapi konservatif umumnya prognosa baik.
Bila keadaan tidak membaik dengan terapi konservatif maka tindakan operasi harus
dilakukan. Secara umum prognosa operasi juga baik, tetapi karena operasi hanya
dilakukan pada penderita yang sudah lama menderita CTS penyembuhan post
operatifnya bertahap (13).
Bila setelah dilakukan tindakan operasi, tidak juga diperoleh perbaikan maka
dipertimbangkan kembali kemungkinan berikut ini (13):
1. Kesalahan menegakkan diagnosa, mungkin jebakan/tekanan terhadap nervus
medianus terletak di tempat yang lebih proksimal.
2. Telah terjadi kerusakan total pada nervus medianus.
3. Terjadi CTS yang baru sebagai akibat komplikasi operasi seperti akibat edema,
perlengketan, infeksi, hematoma atau jaringan parut hipertrofik.
Sekalipun prognosa CTS dengan terapi konservatif maupun operatif cukup baik,
tetapi resiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. Bila terjadi kekambuhan, prosedur
terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali.