Anda di halaman 1dari 13

PAPER

PENGELOLAAN TANAH GARAMAN

Disusun oleh :

Nama : Eka Dyah A

NIM : H0715043

Kelas : AGT-B

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt, karena dengan karunia
dan hidayahNya sehingga paper Pengelolaan Tanah dengan judul “Pengelolaan
Tanah Garaman” dapat terselesaikan dengan baik. Terimah kasih penulis ucapkan
kepada Dosen mata kuliah yang bersangkutan atas bimbingannya dalam
menyelesaikan paper ini dan kepada teman-teman yang mendukung dan turut
serta dalam membantu demi terselesaikannya makalah ini, serta terimah kasih
kepada semua pihak yang terlibat.
Paper ini disusun sebagai tugas pokok pada mata kuliah Pengelolaan
Tanah dan sebagai persyaratan untuk mengikuti mata kuliah ini. Penulis
mengharapkan agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi semua kalangan,
terutama dalam kalangan mahasiswa khususnya bagi penulis sendiri.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penyusun mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun demi
penyelesaian paper selanjutnya.

Surakarta, Maret 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tanah merupakan hamparan benda alam yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan makhluk di permukaan bumi. Tanah berasal dari suatu bahan
yang dinamakan bahan induk (parent / materials). Bahan induk tanah dapat
berupa suatu batuan atau bahan tanah yang terangkut dari tempat lain, lalu
diendapkan pada suatu tempat. Selain berasal dari bahan induk tertentu, tanah
juga memiliki beberapa sifat yakni sifat fisik, kimia, dan biologi. Sifat-sifat
tersebut sangat berpengaruh pada daya dukung tanah terhadap kesuburan
tanaman yang tumbuh di tanah tersebut. Hal tersebut juga tidak terlepas dari
faktor ketersediaan unsur hara dalam tanah yang berhubungan dengan
beberapa sifat tanah, yaitu sifat kimia dan biologi tanah.
Pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia oleh pemerintah secara
terus menerus bertujuan mengakatkan kesejahteraan rakyat di seluruh wilayah
republik Indonesia. Wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang
dihubungkan oleh lautan secara geografis sangat memerlukan kebijakan yang
baik agar pembangunan di segala bidang dapat merata dan berkelanjutan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan pulau dimana sebagian
wilayahnya adalah lautan. Dimana laut yang berpotensi menghasilkan garam.
Kadar garam air laut tersebut dapatmembawa dampak buruk pada
kebanyakan pertumbuhan taaman karena tidak tercukupinya nutrisi bagi
tanaman. Oleh karena itu, lahan pertanian di sekitar laut sangat berpotensi
memiliki kadar garam yang tinggi, sehingga tanahnya disebut tanah garaman.
Tanah garaman yaitu tanah yang mempunyai kadar garam netral larut dalam
air sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Berkurangnya lahan subur untuk usaha pertanian serta meningkatnya
kebutuhan pangan nasional terutama beras akibat pertambahan jumlah
penduduk menyebabkan pilihan pemenuhan kebutuhan pangan diarahkan
pada pemanfaatan lahan garaman, untuk kepentingan pertanian. Penggunaan
lahan garaman untuk pertanian dengan semestinya dan dilakukan secara
efisien. Dengan kata lain, pemanfaatan lahan garaman dengan tidak
semestinya akan menyebabkan kehilangan salah satu sumber daya yang
berharga, dikarenakan lahan garaman merupakan lahan marginal dan
merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Pemanfaatan lahan
garaman sebagai areal produksi pertanian khususnya tanaman pangan
merupakan alternatif yang sangat tepat, mengingat arealnya yang sangat luas
pemanfaatannya belum dilakukan secara intensif dan ekstensif. Oleh karena
itu, sekarang ini tanah garaman harus banyak dimanfaatkan dengan sebaik-
baiknya mengingat banyaknya kebutuhan masyarakat akan pangan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sifat dan ciri dari tanah garaman?
2. Apa saja kendala pada tanah garaman?
3. Bagaimana cara pengelolaan tanah garaman?
C. Tujuan
1. Mengetahui sifat dan ciri dari tanah garaman
2. Megetahui dan mempelajari kendala-kendala yang ada pada tanah garaman
3. Mengetahui dan memahami cara pengelolaan tanah garaman yang baik
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sifat dan Ciri Tanah Garaman


Tanah garaman atau juga tanah salin yaitu tanah yang mempunyai
kadar garam netral larut dalam air sehingga dapat mengganggu pertumbuhan
kebanyakan tanaman. Proses penimbunan garam mudah larut dalam tanah
sehingga membentuk tanah garaman atau tanah salin disebut salinisasi.
Jumlah H2O yang berasal presipitasi tidak cukup untuk menetralkan jumlah
H2O yang hilang oleh evaporasi dan evapotranspirasi. Sewaktu air di uapkan
ke atmosfer, garam-garam tertinggal dalam tanah. Garam-garam tersebut
terutama adalah NaCl, Na2SO4, CaCO3 dan atau MgCO3 (Candrabarata 2011).
Tanah salin (garam) dapat ditemukan di dua daerah berbeda yaitu daerah
pantai yakni salinitas yang disebabkan oleh genangan atau intrusi air laut dan
daerah arid dan semi arid yakni salinitas yang disebabkan oleh evaporasi air
tanah atau air permukaan.
Karakteristik dari tanah salin, yaitu : Tanah-tanah salin mempunyai
pH tanah = 8,5 atau lebih rendah. Tanah-tanah sodik dapat memiliki pH tanah
= 10, tetapi beberapa tanah ini dapat bereaksi netral, sedang yang lain
bereaksi masam. Untuk membedakan tanah-tanah salin dan sodik dari jenis-
jenis tanah yang lain. Laboratorium Salinitas mengusulkan garam terlarut dari
kadar Na+ tertukarkan sebagai kriteria. Parameter-parameter tersebut
dinyatakan dalam bentuk (1) daya hantar listrik (DHL) bagi kadar garam dan
(2) persentase natrium dapat ditukar (PNT) bagi kadar Na+ tertukarkan.
Salinitas tanah ditetapkan dengan mengukur DHL dalam mmho/cm pada
ekstrak jenuh tanah. Yang tersebut terakhir ini diperoleh dari penghisapan dan
penyaringan pasta jenuh-air. BD dari tanah mempengaruhi terhadap porosita
tanah, yaitu apabila BD rendah porositasnya tinggi, dan apabila BD tinggi
porositasnya rendah (Hasibuan 2008).
Berdasarkan nilai PNT dan DHL dikenal tiga kelompok tanah yaitu :
(1) tanah salin, (2) tanah salin-alkali, dan (3) tanah bukan salin alkali (sodik).
Tanah bukan salin-alkali dicirikan oleh DHL 15%. Kebanyakan dari Na+ ada
dalam bentuk dipertukarkan dan hanya sejumlah kecil dari garam bebasnya
terdapat dalam larutan tanah. Nilai pH tanah berkisar dari 8,5 hingga 10,0.
sebagai akibat irigasi, kondisi akan sangat alkalin dapat terbentuk pada tanah
ini dan pH tanah setinggi 10 merupakan hal yang umum (Sipayung 2008).
Sedangkan, sifat tanah garaman ada sifat fisik, kimia dan sifat
biologi :
1. Sifat Fisik
Tanah salin dicirikan oleh daya hantar listrik (DHL) > 4 mmho/cm
pada 25 oC, dan presentase natrium dapat ditukar (PNT) <pnt =" 15%"> 4
mmho/cm pada 25 oC, dan PNT > 15%. Jenis tanah ini mempunyai garam
bebas dan Na+ yang dipertukarkan. Selama garam ada dalam jumlah
berlebih, tanah-tanah tersebut akan terflokulasi dan pH nya biasanya ≤ 8,5.
Jika tanah ini dilindi, kadar garam bebas menurun dan reaksi tanah dapat
menjadi sangat alkalin (pH > 8,5) akibat berhidrolisis Na+ yang dapat
dipertukarkan. DHL sebesar 4 mmho/cm bersesuaian dengan suatu
tekanan osmotik pada kapasitas lapang sebesar 5 bar.
2. Sifat Kimia
Peningkatan konsentrasi garam terlarut di dalam tanah akan
meningkatkan tekanan osmotik sehingga menghambat penyerapan air dan
unsur-unsur hara yang berlangsung melalui proses osmosis. Jumlah air
yang masuk ke dalam akar akan berkurang sehingga mengakibatkan
menipisnya jumlah persediaan air dalam tanaman (Follet et al. 1981).
Dalam proses fisiologi tanaman, dan Cl⁻ diduga mempengaruhi pengikatan
air oleh tanaman sehingga menyebabkan tanaman tahan terhadap
kekeringan. Sedangkan Cl⁻ diperlukan pada reaksi fotosintetik yang
berkaitan dengan produksi oksigen. Sementara penyerapan oleh partikel-
partikel tanah akan mengakibatkan pembengkakan dan penutupan pori-
pori tanah yang memperburuk pertukaran gas, serta dispersi material
koloid tanah. Berikut beberapa hal yang berhubungan dengan sifat kimia
tanah garaman :
a) Hubungan pH dengan ketersediaan unsur hara pada tanah salin
Tanah salin memiliki nilai pH tanah berkisar 8,5 hingga 10.
Nilai pH yang tinggi pada banyak di antara tanah-tanah tersebut juga
menurunkan ketersediaan sejumlah hara mikro. Jenis tanah ini sering
kahat dalam Fe, Cu, Zn, dan/atau Mn. Selain itu, dengan pH lebih dari
7,5 kandungan kalsium yang tinggi dapat mengikat fosfat sehingga
ketersediannya menurun (Karyanto et al. 2012).
b) Hubungan salinitasisasi dengan ketersediaan unsur hara pada tanah
salin
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan
rusaknya struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah
tersebut menjadi sangat rendah.Banyaknya ion Na di dalam tanah
menyebabkan berkurangnya ion-ion Ca, Mg, dan K yang dapat ditukar,
yang berarti menurunnya ketersediaan unsur tersebut bagi tanaman.
Pengaruh salinitas terhadap tanaman mencakup tiga hal yaitu tekanan
osmosis, keseimbangan hara dan pengaruh racun. Bertambahnya
konsentrasi garam didalam suatu larutan tanah, meningkatkan potensial
osmotik larutan tanah tersebut. Oleh sebab itu salinitas dapat
menyebabkan tanaman sulit menyerap air hingga terjadi kekeringan
fisiologis.
3. Sifat Biologi
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan
rusaknya struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut
menjadi sangat rendah. Penyerapan oleh partikel-partikel tanah akan
mengakibatkan pembengkakan dan penutupan pori-pori tanah yang
memperburuk pertukaran gas, serta dispersi material koloid tanah
(Candrabarata 2011). Akibat yang ditimbulkan dari keadaan tersebut yaitu
mikrobia dalam tanah salin berjumlah sedikit. Hal tersebut dikarenakan
aerasi pada tanah salin sangat rendah, sehingga mikrobia tanah tidak dapat
bernafas karena pertukaran gas terhambat.
B. Kendala Tanah Garaman
Horizon-horizon penciri yang berkaitan dengan salinitas tinggi
umumnya berkaitan dengan tanah-tanah salin di daerah arid dan semi arid
misalnya horizon gipsik (akumulasi gipsum), horizon kalsik (akumulasi Ca
atau Ca/Mg karbonat), horizon salik (akumulasi garam-garam lebih mudah
larut daripada gipsum) dan horizon natrik (ESP atau SAR tinggi)
(Sipayung 2003). Salinitas tanah padi sawah (pasang surut) biasanya terlalu
rendah atau terlalu beragam untuk digunakan sebagai ktiteria penciri dalam
taksonomi tanah. Tanah-tanah pantai yang salin umumnya tidak termasuk
Halaquept, karena kadar garamnya tidak menurun (Hardjowigeno 2005).
Salinitas merupakan tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam
air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.
Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan aluran air alami
sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar.
Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara defenisi, kurang dari
0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau menjadi
saline bila konsentrasinya 3% sampai 5%.
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan rusaknya
struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut menjadi
sangat rendah. Banyaknya ion Na di dalam tanah menyebabkan berkurangnya
ion-ion Ca, Mg, dan K yang dapat ditukar, yang berarti menurunnya
ketersediaan unsur tersebut bagi tanaman. Pengaruh salinitas terhadap
tanaman mencakup tiga hal yaitu tekanan osmosis, keseimbangan hara dan
pengaruh racun. Bertambahnya konsentrasi garam di dalam suatu larutan
tanah, meningkatkan potensial osmotik larutan tanah tersebut. Oleh sebab itu
salinitas dapat menyebabkan tanaman sulit menyerap air hingga terjadi
kekeringan fisiologis.
Spesies tanaman yang hanya mentoleransi konsentrasi garam rendah
termasuk dalam kelompok tanaman glikofita, dan spesies-spesies tanaman
yang mentoleransi konsentrasi garam tinggi termasuk kelompok tanaman
halofita. Pengenalan pengaruh tingkat salinitas merupakan bahan yang sangat
berguna sehubungan dengan berbagai akibat kerusakan atau gangguan yang
ditimbulkannya terhadap pertumbuhan tanaman. Melalui pengenalan gejala
yang timbul pada tanaman akibat tingkat salinitas yang cukup tinggi,
perbaikan struktur tanah akan dapat diupayakan seperlunya, ataupun
pemilihan jenis tanaman yang cocok untuk lokasi pertanian yang bermasalah.
Tanah-tanah pertanian yang produktivitasnya menurun karena bahan
organik ikut terangkut dengan bagian tanah yang terkikis dan terhanyutkan,
setahap demi setahap dapat dipulihkan kembali dengan kegiatan dan
teraturnya pembenaman pupuk kandang ke dalam bagian atau lapisan tanah
yang masih tersisa. Perlu juga dikombinasi dengan kegiatan penyengkedan
tanah atau pengolahan tanah sejajar dengan garis kontur. Maksudnya agar
pupuk kandang yang telah dibenamkan itu tidak mudah tercuci atau ikut
hanyut sewaktu adanya aliran permukaan (Candrabarata 2011).
Berdasarkan kasus tersebut, ada beberapa tanaman yang rentan jika
dibudidayakan di tanah salin. Selain itu, tanah salin juga mengalami
penurunan kandungan unsur hara yang menyebabkan tanaman tidak dapat
tumbuh dengan baik. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain sebagai berikut :
a) Tanaman yang rentan terhadap salinitas digolongkan dalam tanaman
glikofit. Contoh dari tanaman glikofit antara lain: tomat, timun, bawang
merah, wortel, kentang, dan selada, serta jenis kacang-kacangan.
Tanaman yang kurang atau tidak toleran terhadap salinitas akan
mengalami perubahan struktur sel, yaitu pembengkakan mitokondria dan
badan golgi, peningkatan jumlah retikulum endoplasma, dan kerusakan
kloroplas. Di samping itu tanaman akan mengalami perubahan aktivitas
metabolisme, meliputi penurunan laju fotosintesis, peningkatan laju
respirasi, perubahan susunan asam amino, serta penurunan kadar gula dan
pati di dalam jaringan tanaman. Peningkatan konsentrasi garam terlarut
dalam tanah akan meningkatkan tekanan osmotik larutan tanah, akibatnya
jumlah air yang masuk ke dalam akar tanaman akan berkurang atau
jumlah air yang tersedia menipis. Hal tersebut dapat mengakibatkan
terjadinya kekeringan fisiologis yang pada akhirnya tanaman akan mati.
b) Tanah salin mengandung NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan
rusaknya struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut
menjadi sangat rendah. Banyaknya ion Na di dalam tanah menyebabkan
berkurangnya ion-ion Ca, Mg, dan K yang dapat ditukar, yang berarti
menurunnya ketersediaan unsur tersebut bagi tanaman. Selain itu, tanah
salin memiliki nilai pH yang tinggi sehingga dapat menurunkan
ketersediaan sejumlah hara mikro. Jenis tanah ini sering kahat dalam Fe,
Cu, Zn, dan/atau Mn. Selain itu, dengan pH lebih dari 7,5 kandungan
kalsium yang tinggi dapat mengikat fosfat sehingga ketersediannya
menurun (Karyanto et al. 2012).
C. Cara Pengelolan Tanah Garaman
Sebelum tanah salin dapat dimanfaatkan untuk lahan pertanian harus
dan perlu dilakukan beberapa usaha untuk mengurangi kendala-kendala yang
dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Usaha-usaha tersebut antara lain :
1. Mereklamasi tanah salin
Reklamasi tanah salin dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a. Eradikasi yakni pencucian garam-garam terlarut di dalam tanah
dengan cara irigasi dan drainase.
b. Pertukaran kation yakni penambahan bahan-bahan seperti gips
(CaSO4) atau batu kapur (CaCO3) dan penambahan bahan organik.
c. Pengelolaan irigasi yang baik.
2. Menggunakan tanaman yang toleran terhadap tanah salin yang tinggi
seperti asparagus, bayam, kapas, barley; salin sedang yaitu tomat, kubis,
jagung, padi; dan salin rendah seperti wortel, seledri, kacang hijau, dan
lain-lain.
3. Penggunaan varietas yang tahan salin, misal varietas padi yang toleran
terhadap garam antara lain : Johns 349, Kalarata, PoY~ali, Nonabokra,
dan Benisail.
4. Perbaikan tanah dengan pengairan air irigasi (air irigasi yang digunakan
memiliki DHLT ekstrak jenuh kurang dari 0,75 mmhos/cm karena pada
air seperti ini kandungan natrium dan boron yang rendah) sehingga garam
di daerah perakaran tercuci keluar.
5. Pemakaian mulsa organik. Mulsa organik (misal jerami) yang
ditambahkan ke tanah mengurangi bahaya yang dialami tanaman di tanah
salin, yang kemungkinan disebabkan terjerapnya garam dan oleh
penurunan evaporasi sehingga mengurangi pergerakan air ke permukaan.
6. Peng-inokulasian jamur mikoriza (Glomus sp) pada tanaman yang akan
ditanam untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa fungi mikoriza dapat meningkatkan pertumbuhan
tanaman yang ditanam pada habitat salin. Tanaman bawang merah yang
diinokulasikan dengan fungi mikoriza dari spesies Glomus ternyata
memiliki berat bulbus dan bobot kering bawang serta total serapan hara
yang lebih tinggi pada tanah salin.
7. Pengelolaan tanah dapat dilaksanakan dengan mencegah terjadinya
akumulasi garam (salt) pada daerah perakaran, yaitu dengan mengatur
gundukan barisan tanaman. Salah satu cara dengan double row bed pada
tanah yang tingkat salintasnya tidak terlalu tinggi. Dengan cara single row
bed maka akan terjadi akumulasi garam di daerah perakaran. Penggunaan
irigasi sprinkler pada saat pre-emergen dapat mencegah akumulasi garam
atau dengan spesial furrow.
8. Penggunaan bahan-bahan kimia, seperti kapur dapat memperbaiki
perkembangan bibit tanaman, memperbaiki kualitas air yang masuk dan
disimpan, dan meningkatkan pencucian garam-garam terlarut.
9. Penggunaan pupuk organik, baik berupa pupuk kandang, pupuk hijau,
maupun kompos dari bahan sisa-sisa tanaman dan gulma. Hal ini
memiliki tujuan untuk menyeimbangkan hara terutama terhadap ratio
antara Na, Ca dan Mg.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tanah salin merupakan tanah yang mengandung garam mudah larut
yang jumlahnya cukup besar bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman seperti
NaCl. Kandungan NaCl yang berlebih dapat menghambat pertumbuhan
tanaman, sehingga ada beberapa tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan
baik pada tanah salin. Selain itu, salinitas pada tanah dapat menyebabkan
berkurangnya unsur hara dalam tanah. Karakteristik dari tanah salin yaitu
memiliki pH tanah 8,5 atau lebih rendah. Tanah salin memiliki sifat fisik
(daya hantar listrik (DHL) > 4 mmho/cm pada 25 oC, dan presentase natrium
dapat ditukar (PNT) <pnt =" 15%"> 4 mmho/cm pada 25 oC, dan PNT >
15%); sifat kimia (pH tanah 8,5 – 10 dan kandungan NaCl tinggi) dan sifat
biologi (mikrobia ditanah berkurang). Oleh karena itu diperlukan beberapa
cara untuk mengatasinya baik dalam hal pengolahan tanah, pengairan maupun
pemilihan tanaman yang akan dibudidayakan pada tanah salin.
B. Saran
Pemanfaatan tanah garaman sudah bukan suatu hal yang baru lagi
mengingat banyaknya kebutuhan pangan masyarakat yang diiringi dengan
meningkatnya jumlah penduduk. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah lebih
meningkatkan upaya untuk mengembangkan tanah garaman dan
memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Hal itu dilakukan supaya
kebutuhan pangan dapat terpenuhi sehingga kita tidak perlu mengimport
pangan dari luar negeri lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Adib F dkk. 2013. Makalah Pengelolaan lahan Pasang Surut.


http://adibfauzanh0712004.blogspot.co.id/2014/09/makalah-
pengelolaan-tanah-pengelolaan_24.html. Diakses tanggal 26 Maret
2017.
Candrabarata. 2011. Konservasi dan Reklamasi Tanah Garam. Kalimantan
Tengah : Universitas Pelangka Raya.
Hardjowigeno. 2005. Konservasi dan Reklamasi Lahan. Manado : Universitas San
Ratulangi.
Hasibuan BE. 2008. Pengelolaan Tanah dan Air Lahan Marginal. Medan : USU
Press.
http://faiezblo.blogspot.co.id/2015/12/reklamasi-tanah-garam.html
Inayatul F. 2012. Problematika Hubungan Air, Tanah dan Tanaman
“Ketersediaan Unsur Hara pada Tanah Garaman”. Yogyakarta :
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Karyanto AL. Zen dan M.S. Hadi. 2012. Ketersediaan Hara Dalam Tanah
http://dc127.4shared.com/doc/eTJK4mmd/preview.html. Diakses 26
Maret 2017.
Sipayung R. 2008. Stres Garam dan Mekanisme Toleransi Tanaman. Medan :
USU Press.