Anda di halaman 1dari 19

Case Session Report

GIGI TIRUAN JEMBATAN


(Fixed Bridges)

IDENTITAS

No. Kartu : L.6666

Nama Pasien : Marselina Lagu

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Wanita

KASUS
Seorang wanita berusia 20 tahun mahasiswa kedokteran gigi berdomisili di Manado, datang
ke klinik RSGM-PSKG UNSRAT atas kemauannya sendiri untuk mengganti gigi M1 kiri
bawah yang telah dicabut akibat sisa akar dengan gigi tiruan yang tidak bisa dilepas. Setelah
dilakukan pemeriksaan di dalam mulut, pasien kehilangan gigi 46. Gigi yang akan dipakai
sebagai penyangga yaitu gigi 45 dan 47 memenuhi syarat sebagai gigi penyangga.

Tanggal Pemeriksaan : 14 Maret 2016 Gigi yang dirawat : 45, 46, 47

Kondisi Sistemik

Keluhan / gejala
Nama Penyakit Keterangan
Ya Tidak

Penyakit jantung √

Hiper/hipotensi √

Kelainan darah √

Haemophilia √

Diabetes melitus √

Penyakit ginjal √

Hepatitis √

Penyakit pernafasan √

1
Kelainan pencernaan √

Epilepsi √

HIV/AIDS √

Alergi obat √

Alergi makanan √

Hamil/menyusui √

Oral hygiene OHI-S index : 1,6 (sedang)


Kondisi gingiva : normal (berwarna merah muda, tak sensitif, tak mudah
berdarah, perlekatan dengan tulang alveolar baik, tahanan jaringan cukup).

Pemeriksaan Ekstra Oral


Tl.
Fasial Neuromuscular K. Ludah K. Limfe TMJ
Rahang

Deformitas t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k

Nyeri t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k

Tumor t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k

Gangguan
t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k t.a.k
Fungsi

Tahap pemeriksaan visual daerah wajah dan leher dilihat dari depan.
Perhatikan apakah ada tonjolan, cacat, bercak dikulit, tahi lalat asimetris wajah yang berlebih.
 Pemeriksaan leher, mintalah pasien mengangkat dagunya ke atas sehingga daerah
leher akan terlihat. Dalam posisi kepala seperti ini setiap pembengkakan atau
keabnormalan lain akan terlihat jelas. Perhatikan pada saat pasien menelan;
pembengkakan pada kelenjar tiroid akan bergerak pada saat menelan.

 Pemeriksaan kepala kembali dalam posisi tegak supaya pemeriksaan bilateral untuk
kelenjar parotis akan dilakukan. Catatan: pembengkakan unilateral pada kelenjar
parotis dapat menunjukan adanya sumbatan pada duktus, tumor, abses, infeksi
retrograde pada kelenjar.Pembengkakan bilateral kelenjar parotis menunjukan adanya
: infeksi virus, pembengkakan degeneratif.

2
B. Pemeriksaan otot-otot mastikasi.

Untuk melakukan palpasi pada otot/ musculus, maka teknik palpasi yang dilakukan
tergantung dengan otot mastikasi ( pengunyahan).

Otot/ musculus Palpasi


Masseter Palpasi dilakukan secara bi manual, tangan
yang satu (dengan satu jari) dibagian intraoral
Temporalis Palpasi langsung pada region temporal dan
meminta pasien untuk mengoklusikan gigi
geliginya
Pterygoid lateral Dengan menempatkan sedikit jari dibelakang
tuberositas maksila
Pterygoid medial Palpasi secara intraoral pada bagian lingual
ramus mandibula.

C. Nodus limfatik :
Nodus limfatik yang normal tidak dapat diraba, bila keadaan nodus limfatik teraba,
berarti kondisi itu abnormal.
Pemeriksaan klinis nodus limfatik diperiksa secara ekstraoral, bimanual, dan palpasi
yang dilakukan dari arah belakang pasien.
Bagian leher dibiarkan terbuka dengan meminta pasien melonggarkan bajunya.Leher
tidak perlu dipanjangkan karena otot sternomastoideus harus dalam posisi relaks.
Dengan menggunakan ujung jari , bawa kelenjar kearah struktur yang lebih keras.
Submental : kepala sedikit menunduk kedepan gerakan nodus kearah bagian dalam
tulang mandibula.
Submandibula: sama seperti diatas hanya kepala pasien dimiringkan kearah sisi yang
akan diperiksa.

D. Kelenjar saliva terdiri dari 2 bagian :


Kelenjar saliva parotis : pemeriksaan dilakukan dari arah depan. Bagian bawah
daun telinga akan terdorong keluar bila kelenjar membengkak .lakukan palpasi pada
kelenjar untuk melihat adanya pembengkakan atau perabaan yang lunak. Kelenjar
terletak di distal ramus asendens mandibula, kadang tampilan kelenjar parotis yang
lebih baik diperoleh dari arah punggung pasien.
Kelenjar saliva submandibula : gunakan jari telunjuk dan jari tengah dari satu
tangan untuk pemeriksaan intraoral, kemudian jari telunjuk dan jari tengah tangan
yang lain diluar mulut. Lakukan palpasi pada kelenjar saliva submandibula di atas dan
dibawah otot milohioideus.Jangan lupa untuk memeriksa juga dukturs kelenjar untuk
melihat adanya batu kelenjar saliva.

E. Pemeriksaan temporomandibula (TMJ):


Palpasi pada bagian pre artikuler pasien dengan menggunakan jari telunjuk atau
menggunakan steteskop untuk mendengarkan adanya kliking atau krepitasi.
Penggunaan steteskop dalam mendeteksi suara kliking atau krepitasi.

3
Palpasi TMJ, respon pasien untuk palpasi :
Skor 1 : ringan, 2 : nyeri sedang 3 : sakit parah refleks palpebral.

Riwayat yang berhubungan dengan gigi :


Lama tidak bergigi : ±6 bulan lalu sejak 2015
Terakhir cabut gigi : ±6 bulan lalu sejak 2015
Sebab pencabutan gigi : dikarenakan giginya sudah gangren radix
Riwayat gigi tiruan : Belum pernah memakai gigi tiruan

Status lokal luar mulut :


Sendi kanan : tidak bengkak, tidak sakit
Sendi kiri : tidak bengkak, tidak sakit
Pemeriksaan dilakukan dengan cara :

(1) palpasi, pasien duduk tegak dan relaks, kedua jari telunjuk ditempatkan pada
kondilus kanan dan kiri pasien, kemudian pasien diinstruksikan membuka dan
menutup mulut perlahan-lahan. Rasakan apabila terdapat lompatan/gerakan tidak
teratur. (2) auditori, pada saat digerakan, dengarkan/tanyakan pada pasien (dapat
pula menggunakan stetoskop) apakah mendengar suara gemeriksik berupa bunyi
klutuk sendi (clicking) atau kretek sendi (crepitasi). (3) visual, memperhatikan
kondilus ketika bagian ini menggerakan kulit pelindungnya, bila terdapat kelainan
(pembengkakan) maka hentakan/lompatan dapat terlihat dengan jelas pada regio ini.
(4) nyeri tekan, lakukan palpasi bimanual dengan cara menekan bagian lateral sendi
menggunakan jari kelingking yang ditempatkan kedalam Meatus akustikus
eksternus (MAE) dan menekannya kearah depan. Rasa sakit menunjukkan adanya
peradangan.

4
Pembukaan mulut : sedang
Pasien diinstruksikan membuka mulut lebar kemudian diukur menggunakan jangka
sorong jarak interinsisal dari tepi insisal central rahang atas ke rahang bawah dalam
satuan mm untuk pasien bergigi sedangkan untuk pasien tidak bergigi diukur dari
puncak linggir rahang atas ke rahang bawah. Untuk perempuan jarak normal nya 35
mm (untuk pasien bergigi) dan 10-15 mm (untuk pasien tidak bergigi)Mengetahui
keterbatasan dalam bukaan mulut.

Gerakan protrusive : lancar


Gerakan lateral kanan : lancar
Gerakan lateral kiri : lancar
Pasien diinstruksikan untuk mengerakan rahang bawah kearah depan dan belakang
serta kanan dan kiri, kemudian dilihat apakah terdapat hambatan selama pergerakan
atau tidak.

Bibir : simetris, ukuran sedang, oto bibir sedang.


 Bibir yang tidak simetris akan mempengaruhi factor estetis dalam pembuatan gigi
tiruan
 Ukuran bibir akan mempengaruhi penentuan garis orientasi dan menentukan ukuran
atau lebar gigi depan atas.
 Tonus bibir kuat akan memengaruhi kestabilan gigi tiruan
Pemeriksaan Bibir dilakukan dengan cara ;
 Bentuk bibir, diperiksa secara visual dengan cara menarik garis median wajah yang
terletak pada titik glabella-subnasion-pogonion, kemudian bandingkan dan amati
bentuk bibir bagian kanan dan kiri. Adapun titik landmark pada bibir yang dapat
dijadikan panduan yakni : titik lip upper line , titik chelion, titikstomion, dantitik lip
lower line
 Ukuran bibir, diperiksa secara visual dengan menarik garis vertikal imaginer
interpupil dan garis vertikal imaginer alae nasi. Bila, ip < C > al = normal, ip > C >
al = panjang, ip < C < al = pendek.

5
 Tonus otot, diperiksa menggunakan kaca mulut yang diletakkan di dasar
vestibulum, kemudian pasien diinstruksikan untuk melakukan gerakan penelanan,
lalu dirasakan kekencangan ototnya. Bila otot terasa kencang = hipertonus, normal
= sedang, dan lemah = hipotonus. Dapat pula diperiksa dengan menginstruksikan
pasien untuk melakukan gerakan penelanan, lalu amati secara visual. (1) kuat, bila
saat melakukan gerakan penelanan bibir atas dan bibir bawah pasien mengatup
dengan mudah dan bibir telihat tebal. (2) sedang, bila saat melakukan gerakan
penenlanan, tidak terlihat adanya kontraksi/kesulitan pada pasien dan bibir seakan-
akan terlihat normal (tidak sedang melakukan gerakan penelanan). (3) lemah, bila
saat melakukan gerakan penelanan pasien terlihat kesulitan mengatupkan bibir atas
dan bawahnya, terlihat adanya kontraksi berlebih dan dalam keadaan rileks mulut
pasien tebuka.

Dalam mulut :
Bentuk lengkung RA : lonjong
Bentuk lengkung RB : lonjong
 Lonjong  Membulat di daerah anterior
 Lancip  menyempit didaerah anterior melebar diposterior
 Persegi  Lebar yang sama di ante-poste
 Berpengaruh terhadap kemantapan dan kekokohan gigi tiruan
 Lonjong dan Persegi lebih kokoh dibanding yang lancip

Ukuran lengkung RA : sedang


Ukuran lengkung RB : sedang

6
 Diukur dengan sendok cetak
 Makin besar makin baik sebagai penampang gigi-gigi yang akan disusun.
 Besar yang tidak sama antara RA dan RB berpengaruh pada penyusunan gigi

Bentuk linggir RA : lonjong


Bentuk linggir RB : lancip
Ukuran linggir RA : sedang
Ukuran linggir RB : sedang
(Ketinggian prosesus alveolar menunjukkan resorpsi tulang yan terjadi.Prosesus menjadi
rendah bila resorbsi besar. Cara memeriksanya dengan membandingkan dengan gigi di
sebelahnya.Bila pasien sudah tidak bergigi samasekali tinggi prosesus alveolar diperiksa
dengan menggunakan kaca mulut nomor 3.)

Hubungan RA-RB : normal


 Normal apabila puncak linggir RA berada tepat diatas atau + 1-2mm di depan
RB
 Retrognatik apabila puncak linggir RA berada didepan RB
 Prognatik apabila puncak linggir RA berada dibelakang RB

 Hubungan rahang ditentukan dengan meletakkan jari telunjuk pada dasar


vestibulum anterior RA dan ibu jari pada dasar vestibulum RB. Ujung kedua
jari terletak segaris vertical sehingga dapat ditentukan hubungan rahang pasien.
Kesejajaran linggir RA/RB : sejajar
 Sejajar apabila linggir RA dan RB mempunyai jarak dianterior dan diposterior
sama.
 Konvergen apabila RA dan RB dibagian anterior lebih besar dari posterior
 Divergen apabila RA dan RB dibagian posterior lebih besar dari anterior

7
Anterior Posterior A P A P

Sejajar Konvergen Divergen

Ruang antar maksila : sedang


Torus palatina : tidak ada
Torus mandibula : tidak ada
(tulang tonjol pada garis tengah palatum. Cara pemeriksaan memakai burnisher dengan
menekan beberapa tempat sehingga dapat dirasakan beberapa perbedaan kekenyalan
jaringan)

Palatum lunak : klas III gerakan sedang


(Daerah ini memiliki jaringan yang sangat kuat yang disebut aponeuresis, sebagai
tempat posterior palatal seal (postdam). House membagi palatum mole menjadi 3:
Kelas I: gerakan palatum durum yang kecil besarnya 0-15 derajat, dapat dibuat postdam
bentuk kupu-kupu
Kelas II: gerakan palatum durum membentuk sudut < 30 derajat, postdam dibuat bentuk
kupu-kupu dengan ukuran yang lebih kecil c.
Kelas III: gerakan palatum durum membentuk sudut < 60 derajat, postdam dibentuk
dengan cekungan berbentuk V atau U (berbentuk parit).
Getaran waktu bergerak dikategorikan aktif, pasif atau sedang.

Perlekatan otot labial RA : sedang


Perlekatan otot bukal ka. : sedang
Perlekatan otot bukal ki. : sedang
Perlekatan otot labial RB : sedang
Perlekatan otot lingual : sedang
Perlekatan otot bukal ka. : sedang
Perlekatan otot bukal ki. : sedang
 Batas antara jaringan yang bergerak dan tidak bergerak yang akan membatasi gigi
tiruan

8
 Kalau gigi tiruan terlalu panjang akan mudah lepas, bila terlalu pendek akan
mempengaruhi pada stabilitas
 Tinggi jika mendekati puncak linggir/gigi
 Rendah jika menjahui linggir/gigi

Frenulum labialis RA : sedang


Frenulum bukalis kanan : sedang
Frenulum bukalis kiri : sedang
Frenulum labialis RB : rendah
Frenulum lingualis : sedang
Frenulum bukalis kanan : rendah
Frenulum bukalis kiri : rendah
 Tinggi bila perlekatannya hampir sampai ke puncak residual ridge/prosesus
alveolar
 Sedang bila perlekatannya kira-kira ditengah antara puncak residual ridge/prosesus
alveolar dan fornix/mukobukal
 Rendah bila perlekatannya dekat dengan fornix/mukobukal.
 Bedah frenektomi jika frenulum tinggi

Tahanan jaringan linggir : sedang diregio 36


 Bisa juga ditekan dengan burnisher selama 3-5 detik sampai berwarna putih pucat
dan dilihat lamanya kembali ke warna normalnya gingiva berapa lama.
 Perbedaan tahanan jaringan linggir akan menyebabkan ketidakstabilan gigi tiruan

Bentuk palatum : bentuk U


Kedalaman palatum : dalam
 Persegi dan Lonjong dengan kedalaman yang tinggi akan memberikan stabilitas dan
retensi dibandingkan yang dangkal.
 Kedalaman palatum diukur dengan kaca mulut no.3

Retromylohyoid : sedang
 Diukur pada daerah lingual dibelakang gigi-gigi molar 2 dan 3 RB dengan kaca
mulut no.3.

9
 Tinggi jika melewati stengah kaca mulut
 Sedang jika kira-kira ditengah lebar kaca mulut
 Rendah jika kurang dari stengah diameter kaca mulut

Ludah, konsistensi : sedang


Volume ludah : sedang
Konsistensi dan volume ludah penting untuk menentukan retensi gigi tiruan. Ludah yang
encer dan dalam jumlah yang cukup akan mempertinggi tegangan permukaan yang akan
memperbesar gigi tiruan.

Refleks muntah : kecil


 Diperiksa dengan cara menempatkan kaca mulut diposterior palatum keras.
 Pasien dengan reflex muntah tinggi akan langsung bereaksi. Refleks muntah tinggi
akan mengganggu saat pencetakan.

Lidah, ukuran : normal


Gerakan lidah : sedang
 Besar jika permukaan lidah melewati insisal gigi RB (jika bergigi) dan menutupi
dasar mulut
 Sedang jika permukaan lidah berada diantara insisal dan servikal gigi (jika
bergigi) dan menutupi dasar mulut
 Kecil jika permukaan lidah berada kira-kira sejajar atau kurang dari margin
gingiva (jika bergigi).

Status gigi-geligi :

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

X X X

Keterangan : X : gigi yang telah dicabut

 Diagnosis Klinik : Missing teeth pada gigi 46 (Keneddy Kls III)

10
 Rencana Perawatan : Mahkota dan Jembatan tipe fixed-fixed bridge berbahan porcelain
fused to metal.
 Gigi 45 dan 47 (Gigi abutment) sebagai retainer
 Gigi 46 (missing) : Pontik dengan desain Sanitary
 Prognosis : Baik, karena kondisi gigi penyangga masih kuat (tidak goyah), pasien masih
dalam usia mudah, derajat kemiringan kecil, dan pasien kooperatif.

Foto keadaan gigi sebelum perawatan

Gambaran radiografi x-ray panoramik gigi 45, 47

11
Adapun desain gambar Gigi Tiruan Mahkota dan Jembatan:

Keterangan :
Abutment (Gigi 45 & 47)
Retainer
(Gigi 45 : Porselen fused to metal)
(Gigi 47 : Porselen fused to metal)
Pontik (Porselen fused to metal)

Alat dan Bahan yang perlu disediakan :


 Masker, hanscoen, penutup dada (celemek)
 Diagnostik Set (Kaca Mulut, Sonde, Eskavator, Pinset)
 Nierbekken
 Contra AngleHandpiece (Low- Speed & High- Speed)
 Mata Bur Low-Speed (round dan fissure diamond bur)
 Mata Bur High-Speed (round, long – fissure, small wheel, dan fine finishing diamond bur
serta diamond bur bentuk buah pear atau flame bur)
 Spatula Semen
 Cement Stopper
 Glass Lab
 Dappen Glass
 Benang Retraksi
 Kapas + Alkohol 70%
 Cotton Roll dan Cotton Pellet
 Shade Guide (Vitapan Classical)
 Penahan Rahang

12
 Dental Floss
 GIC Tipe I (Luting Cement)
 Temporary Cement
 Sendok Cetak No.2 dan Sendok Cetak Partial
 Bahan Cetak Elastomer (Double Impression), Putty Type dan Light Body (Esaflex)
 Bahan Cetak Alginat
 Gips Biru + Gips Kuning
 Mahkota Sementara Siap Pakai (Buatan Pabrik)

TAHAP PERAWATAN

1. Pengisian Kartu Status Bagian (14 Maret 2016)


Dilakukan indikasi pasien pada instruktur yang bertugas, kemudian dilakukan pengisian
kartu status dengan pemeriksaan subjektif dengan cara anamnesa dan pemeriksaan
objektif dengan cara pemeriksaan ektra oral dan intra oral. Kemudian dilakukan
pengambilan foto intraoral dan panoramik dan dilakukan pencetakan rahang atas dan
rahang bawah untuk dibuatkan model studi dan model kerja.
Instruktur : drg. Ellen Tumewu
2. Pembuatan Study Model
Sebagai persiapan untuk DST

Rahang bawah Rahang atas

Tampak bukal

13
3. Dental Side Teaching (11 April 2016)
Instruktur : drg. Ellen Tumewu

4. Preparasi Gigi 45 (16 Juni 2016, 14 Juli 2016)


a. Preparasi gigi 45 dilakukan dalam 2 kali kunjungan yaitu pada tanggal 16 Juni 2016
dan 14 Juli 2016
b. Pengurangan bagian oklusal gigi 45 sebesar 1 – 1,5 mm menggunakan small wheel
diamond bur dengan sudut 45o
c. Pengurangan bagian proksimal menggunakan long – fissure diamond bur berdiameter
0,8-1,0 mm dengan sudut 5°- 6o

Preparasi gigi 45

d. Pengurangan bagian bukal menggunakan long – fissure diamond bur dengan


kedalaman 1 mm.
e. Pengurangan bagian lingual sebesar 1 mm.
f. Preparasi daerah servikal/pundak berbentuk chamfer pada subgingiva. Sebelum
preparasi, dilakukan retraksi gingival menggunakan benang retraksi yang telah
dicelupkan kedalam larutan adrenalin. Preparasi chamfer dibentuk sepanjang batas
margin oklusal preparasi kavitas menggunakan chamfer diamond bur. Posisi bur
membentuk sudut 120° terhadap permukaan aksial dan lebar preparasi berkisar 1 - 1,5
mm.
g. Gigi yang telah selesai dipreparasi dipasangkan mahkota sementara

14
Hasil preparasi gigi 45
Instruktur : drg. Ellen Tumewu

5. Preparasi Gigi 47 (4 Agustus 2016, 22 Agustus 2016)


a. Preparasi gigi 47 dilakukan dalam 2 kali kunjungan yaitu pada tanggal 4 Agustus 2016
dan 22 Agustus 2016
b. Pengurangan bagian oklusal gigi 47 sebesar 1,5 – 2 mm menggunakan small wheel
diamond bur dengan sudut 35o
c. Pengurangan bagian proksimal menggunakan long – fissure diamond bur berdiameter
0,8-1,0 mm dengan sudut 5°- 6o
d. Pengurangan bagian bukal menggunakan long – fissure diamond bur dengan
kedalaman 1,5 mm
e. Kemudian dilakukan pengurangan bagian lingual sebesar 1,5 mm.

Preparasi gigi 47

f. Tahap selanjutnya dilakukan preparasi daerah servikal/pundak berbentuk chamfer


pada subgingiva. Sebelum preparasi, dilakukan retraksi gingival menggunakan benang

15
retraksi yang telah dicelupkan kedalam larutan adrenalin. Preparasi chamfer dibentuk
sepanjang batas margin oklusal preparasi kavitas menggunakan chamfer diamond bur.
Posisi bur membentuk sudut 120° terhadap permukaan aksial dan lebar preparasi
berkisar 1 - 1,5 mm.
g. Gigi yang telah selesai dipreparasi dipasangkan mahkota sementara.

Hasil preparasi gigi 47


Instruktur : drg. Ellen Tumewu

6. Tahap Penyelesaian (Toilet Form) (29 Agustus 2016)


 Diperiksa kembali kesejajaran preparasi gigi 45 dan 47.
 Line angle gigi 45 dan 47 ditumpulkan dan dipoles menggunakan fine finishing
diamond bur.

Kesejajaran hasil preparasi

 Sebelum proses pencetakan gigi dimulai, dilakukan pembersihan menyeluruh pada


kavitas. Semua partikel kotoran dibersihkan dengan semprotan udara dan air, lalu
dikeringkan.

16
 Dilakukan pencetakan menggunakan bahan cetak double impression pada rahang
bawah dan pencetakan menggunakan alginate pada rahang atas sebagai model
kerja laboratorium.
 Dilakukan pengambilan warna gigi menggunakan Shade Guide Clasical Vitapan
A3
 Gigi 45 dan 47 ditutup kembali menggunakan mahkota sementara
 Dilakukan pengambilan catatan gigitan menggunakan 2 lapis lempeng malam
merah yang diantaranya diberi selapis kasa dan pasien dituntun untuk menggigit
untuk pengambilan oklusi sentrik
 Hasil cetakan dicor dengan gips kuning beserta dengan catatan gigitan dikirim ke
laboratorium
Instruktur : drg. Ellen Tumewu

7. Try-in Mahkota Bridge (19 September 2016)


 Mahkota sementara dilepas dan gigi dibersihkan dan dikeringkan menggunakan
semprotan air dan udara, kemudian diisolasi menggunakan cotton roll.
 Mahkota bridge PFM dibersihkan dan dikeringkan menggunakan semprotan air
dan udara
 Dilakukan uji coba mahkota bridge PFM pada gigi pasien
 Dilakukan sementasi menggunakan Zinc Phospat Cement pada mahkota bridge,
sisa semen yang kelebihan dibersihkan menggunakan eksavator
 Cek oklusi menggunakan articulating paper

Try-in mahkota bridge


Instruktur : drg. Ellen Tumewu

17
8. Tahap Insersi (26 September 2016)
a. Mahkota bridge dikeluarkan
b. Gigi dikeringkan menggunakan syringe udara dan diisolasi menggunakan cotton roll
c. Mahkota bridge dibersihkan dan dikeringkan
d. Semen GIC Tipe 1 dicampur dan diaplikasikan ke 2 permukaan gigi penyangga dan
juga dimahkota jembatan
e. Mahkota jembatan didudukkan pada tempatnya dengan menggunakan jari
f. Saliva ejector dilepas dan pasien diminta untuk oklusi sekitar 1 menit
g. Dipasang kembali saliva ejector dan rongga mulut dipertahankan terisolasi dari saliva
h. Setelah semen agak mengeras, kelebihan semen mulai dibersihkan dengan eskavator
i. Sisa semen yang berada di daerah tersembunyi (proksimal) dihilangkan/dibersihkan
dengan menggunakan benang gigi (dental floss). Benang gigi harus melewati titik
kontak, tepi gingiva dan sulkus gingival
j. Diperiksa kembali kondisi mahkota dan jembatan pada gigi, oklusi serta artikulasi
pasien.

Tampak labial Tampak lingual

9. Tahap Kontrol (10 Oktober 2016)


Kontrol dilakukan 1-2 minggu kemudian setelah pemasangan mahkota dan jembatan.
Pada saat pasien datang kontrol dilakukan pemeriksaan oklusi dan tepi mahkota jembatan.
Saat pemeriksaan subjektif pasien tidak ada keluhan, dan pemeriksaan objektif tidak
terlihat adanya kelainan pada jaringan sekitar.
Instruktur : drg. Ellen Tumewu

18
Tampak bukal

Sebelum Sesudah

19