Anda di halaman 1dari 17

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa, ialah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur’an
adalah mashdar yang diartikan dengan arti isim maf’ul, yaitu maqru (yang dibaca).
Menurut istilah ahli agama (‘uruf syara’) al-Qur’an adalah nama bagi kalamullah
yang dirurunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang ditulis dalam mushaf. 1
Menurut Subhi Ash-Shalih dari segi bahasa terdapat berbagai pendapat para
ahli mengenai pengertian Al-Qur’an. sebagian berpendapat, penulisan lafal Al-
Qur’an dibubuhi huruf hamzah (dibaca Al-Qur’an ‫)الققققرءان‬. Pendapat lain
mengatakan penulisannya tanpa dibubuhi huruf hamzah (dibaca al-Qur’an ‫)القران‬.
Asy-Syafi’i, al-Farra, dan al-Asy’ari termasuk di antara ulama yang berpendapat
bahwa lafal Al-Qur’an ditulis tanpa huruf hamzah.2
Asy-Syafi’i mengatakan, lafal Al-Qur’an bukan musytaq (pecahan dari akar
kata apapun) dan bukan pula berhamzah. Lafal tersebut sudah lazim digunakan
dalam pengertian kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.
dengan demikian lafal tersebut bukan berasal dari kata Qara’a (membaca), sebab
kalau akar katanya Qara’a tentu tiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai Al-
Qur’an.3
Al-Farra sebagaimana Asy-Syafi’i, berpendapat bahwa Al-Qur’an
merupakan musytaq dari kata qara’in (jamak dari qarinah) yang berarti kaitan,
karena ayat-ayat Al-Qur’an satu sama lain saling berkaitan. Karena itu huruf nun
pada akhir lafal Al-Qur’an adalah huruf asli bukan huruf tambahan. Dengan
demikian, kata Al-Qur’an itu dibaca dengan bunyi Al-Quran, bukan Al-Qur’an. 4
Masih sejalan dengan pendapat di atas Al-Asy’ari dan para pengikutnya
mengatakan, lafal Al-Qur’an adalah musytaq dari kata qarn yang bermakna
gabungan atau kaitan. Karena surah-surah dan ayat-ayat Al-Qur’an saling
bergabung dan berkaitan.
Di antara para ulama yang berpendapat bahwa lafal Al-Qur’an ditulis
dengan tambahan huruf hamzah di tengahnya adalah al-Zajjaj dan al-Lihyani.
1
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: PT. Bulan
Bintang, 1987), h. 1-2
2
Subhi, Ash-Shalih, Mabahits fi ulum Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka
Firdaus, 1991) h. 10
3
Subhi, Ash-Shalih, Mabahits fi ulum Al-Qur’an, h. 11
4
Subhi, Ash-Shalih, Mabahits fi ulum Al-Qur’an, h. 11

1
2

Menurut al-Zajjaj lafal Qur’an sewazan (seimbang) dengan fu’lan dan


musytaq dari kata Qar’un yang bermakna kumpul. Karena Al-Qur’an
mengumpulkan beberapa surat atau mengumpulkan saripati kitab-kitab yang telah
lalu.5
Sedangkan menurut Al-Lihyani, bahwa lafal Qur’an bermakna yang dibaca.
Karena Al-Qur’an itu dibaca. Pendapat ini lah yang terkenal dikalangan ulama dan
dipegang oleh masyarakat pada umumnya.6
Menurut pendapat Subhi As-Shalih pendapat terakhir di atas merupakan
pendapat yang kuat dan lebih tepat. Ini diperkuat dengan adanya nash yang
bermakna sama. Dalam surat Al-Qiyamah ayat 17 berbunyi:
    
Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu
pandai) membacanya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 17)

Begitu pula Manna’ Khalil al-Qattan mengatakan bahwa Al-Qur’an berasal


dari kata qara’a yang mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun. Dan
qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam
suatu ucapan yang tersusun rapih.7
Dari segi istilah para ahli memberikan definisi Al-Qur’an sebagai berikut:
Menurut Al-Zarqani, Al-Qur’an adalah lafal yang diturunkan kepada nabi
Muhammad Saw. dari permulaan surat al-Fatihah sampai surat Al-Nass.8
As-Suyuthi dalam Al-Itmam mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah
kalamullah yang diturunkan kepada Muhammad yang tak dapat ditandingi oleh
yang menentangnya, walaupun sekedar sesurat saja daripadanya.9
Sedangkan Manna Khalil Qattan menyebutkan bahwa Al-Qur’an adalah
kalam atau firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yang
pembacaannya merupakan suatu ibadah.10
Jika direnungkan secara mendalam dan seksama, terdapat beberpa unsur Al-
Qur’an yang disepakati oleh pakar ilmu Al-Qur’an, yaitu 1) Al-Qur’an adalah
wahyu atau kalam Allah, 2) Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.,

5
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h. 4
6
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h.4
7
Manna’, al-Qattan, Mabahits fi ulumul Qur’an, terj. Mudzakir (Bogor: Penerbit Litera Antar
Nus, 2016), h.15
8

10
Manna’, al-Qattan, Mabahits fi ulumul Qur’an, h. 17
3

3) Al-Qur’an disampaikan melalui Malaikat Jibril dan, 4) Al-Qur’an diturunkan


dalam bentuk lafal dan bahasa Arab.11
Berdasarkan definisi-definisi dan empat unsur di atas, dapat disimpulkan
bahwa al-Qur’an ialah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
dalam bentuk lafal Arab dengan perantara Malaikat Jibril diriwayatkan secara
Mutawattir, diawali surat Al-Fatihah diakhiri surat Al-Nas dan ditulis dalam
mushaf.

B. Nama-nama Al-Qur’an
Banyaknya nama dan julukan yang dimiliki Al-Qur’an menunjukkan betapa
mulianya kedudukan Al-Qur’an.
Dalam Ulumul Qur’an yang ditulis oleh Ahmad Izzan, ‘Uzayzi ibn ‘Abd al-
Mulk (lebih populer dikenal dengan nama Abu al-Ma’ali Syaydzalah) mengatakan
bahwa Al-Qur’an memiliki 55 nama, sedangkan Abu al-Hasan al-Harali menyebut
lebih dari 90 nama atau julukan Al-Qur’an. sebaliknya, ibnu Jazzi al-Kilabi
menegaskan bahwa Al-Qur’an hanya memiliki nama al-Qur’an, al-Kitab, al-
Furqan, dan ad-Dzikr.12
Menurut Ibnu Jarir Ath-Thabary dalam Jami’ul Bayan, terdapat empat nama
Al-Qur’an dan sebab-sebabnya. Yaitu:
1. Al-Qur’an
Nama Al-Qur’an banyak dijumpai pada ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.
Salah satunya dalam surat al-Isra’ ayat 12 yang berbunyi:
       
      
 
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan
petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi
khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang
mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar” (al-Isra’ [17]:9)

2. Al-Kitab
Dalam surat al-Anbiya’ ayat 10 berbunyi:
         
“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab
yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka
Apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya’ [21]:10)

11
Ahmad, Izzan, Ulumul Qur’an, (Bandung: Tafakur, 2007), h. 29-30
12
Ahmad, Izzan, Ulumul Qur’an, h, 31
4

3. Al-Furqan
Dalam surat al-Furqan ayat 1 berbunyi:
       
 
“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran)
kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada
seluruh alam.” (QS.Al-Furqan [25]:1)

4. Adz-Dzikr
Dalam surat al-Hijr ayat 9 berbunyi:
       
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr
[15]:9)

Selain empat nama yang disebutkan di atas, Manna’ Khalil al-Qattan


menambahkan “Tanzil” sebagai nama Al-Qur’an.13 Dalam surat asy-Syu’ara ayat
192 dikatakan:
    
“Dan Sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan
oleh Tuhan semesta alam” (QS. Asy-Syuara [26]:192)

Disamping nama-nama tersebut tercantum dalam Al-Qur’an sendiri,


penamaan itu juga didasarkan atas alasan atau sebab tertentu. Al-Qur’an dinamai
Al-Qur’an karena ia dibaca, dinamai al-Furqan karena ia memisahkan antara hak
dan yang bathil. Dinamai al-Kitab karena ditulis dan dinamai adz-Dzikr karena
ia berisi peringatan dari Allah. Di dalamnya Allah menerangkan halal, haram,
hudud faraidh, dan lain-lain. Ia dinamai adz-Dzikr juga karena itu merupakan
sebutan yang mulia. 14

C. Garis besar kandungan Al-Qur’an


Dari segi isi, al-Qur’an adalah kalamullah atau firman Allah. Dengan sifat ini,
ucapan Rasulullah, Malaikat, Jin dan sebagainya tidak dapat disebut Al-Qur’an.
kalamullah mempunyai keistimewaan-keistimewaan yang tak mungkin dapat
ditandingi oleh perkataan lainnya. 15
Al-Qur’an mengandung tiga dasar-pilar Islam: akidah, akhlak, dan hukum
syariat. Al-Qur’an membimbing manusia kepada kebahagiaan sejati. Ia mengajarkan
13
Manna’, al-Qattan, Mabahits fi ulumul Qur’an, h. 19
14
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h. 7-8
15
Abuddin, Nata, Al-Qur’an dan Hadits (Dirasah Islamiyah I), (Jakarta: Citra Niaga Rajawali
Press, 1993) h. 56
5

doktrin dan kepercayaan sejati, akhlak mulia dan perbuatan-perbuatan yang menjadi
dasar bagi kebahagiaan individu dan kelompok umat manusia.16
Al-Qur’an mengandung keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan
(tafshil) tentang keimanan, perbuatan-perbuatan baik (amal shaleh), pahala, dan
ancaman, riwayat orang terdahulu, teladan (uswah hasanah)dan ibarat yang dapat
diambil dari pengalaman mereka, serta hal-hal yang erat hubungannya dengan hidup
dan kehidupan kemasyarakatan manusia. Menurut perkiraan ahli, kurang lebih 500 ayat
dari seluruh ayat Al-Qur’an (sekitar 8%) mengandung ketentuan tentang iman, ibadah,
dan hidup kemasyarakatan.17

D. Pengertian Wahyu

Dalam segi bahasa wahyu adalah isyarat yang sangat cepat, surat, tulisan, dan
segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain untuk diketahui. 18 Dalam Al-
Qur’an, wahyu digunakan dalam beberapa pengertian:

1. Ilham sebagai bawaan dasar manusia. Atau ilham yang diberikan kepada
selain dari Nabi dan Malaikat.19 Sebagaimana dalam surat Al-Qasas ayat 7
yang berbunyi:
      
“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia (Musa)...”
(QS. Al-Qasas [28]:7)
2. Ilham yang berupa naluri pada binatang, seperti wahyu kepada lebah:
        
    
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-
sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat
yang dibikin manusia." (QS. An-Nahl [16]: 68)

3. Isyarat yang cepat melalui rumus dan kode. Seperti dalam surat Maryam ayat
11:
        
  
“Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi
isyarat kepada mereka, hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan
petang.” (QS. Maryam [19]:11)
16
Ahmad, Izzan , Ulumul Qur’an, h. 237
17
Ahmad, Izzan, Ulumul Qur’an, h. 238
18
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h. 12
19
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h. 11
6

4. Bisikan dan tipu daya setan untuk yang menjadikan buruk kelihatan indah
dalam diri manusia. Seperti dalam surat Al-An’am ayat 121:
        
      
      
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak
disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan
yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu
membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah
kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am [6]:121)

5. Apa yang disampaikan Allah kepada para malaikatnya berupa suatu perintah
untuk dikerjakan.20 Seperti dalam surat Al-Anfal ayat 12:

        


 

“(ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada Para Malaikat:


"Sesungguhnya aku bersama kamu, Maka teguhkan (pendirian) orang-
orang yang telah beriman". (QS. Al-Anfal [12]:8)

Sedangkan wahyu menurut istilah adalah pengetahuan yang diperoleh


seseorang dan diyakini bahwa pengetahuan itu datang dan berasal dari Allah, baik
melalui perantara suara atau tanpa suara maupun tanpa perantara. Dengan
demikian, dapat dipastikan bahwa wahyu tidak sama dengan ilham, kasyaf
(penglihatan batin), perasaan dalam jiwa dan sebagainya.21

Menurut Manna’ Al-Qattan wahyu adalah kalam Allah yang diturunkan


kepada seorang Nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul yaitu al-
Muuha(yang diwahyukan).22

Menurut Hasbi Ash-Shiddiqi wahyu adalah nama bagi sesuatu yang


dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada Nabi-nabiNya.
Sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadh Al-Qur’an.23
20
Manna’, al-Qattan, Mabahits fi ulumul Qur’an, h. 35-36
21
Ahmad, Izzan, Ulumul Qur’an, h. 42
22
Manna’, al-Qattan, Mabahits fi ulumul Qur’an, h. 36
23
Hasbi, Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, h. 13
7

Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu didalam Risalatut Tauhid


sebagai pengetahuan yang didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai
keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara atau
tidak. Yang dengan perantaraan bersuara dan dapat didengar atau dengan tidak
bersuara. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang
diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa
mengetahui darimana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar,
haus, dan senang.

E. Pengertian Nuzulul Qur’an

Allah menurunkan Qur’an kepada Rasul kita Muhammad untuk memberikan


petunjuk kepada manusia. Turunnya al-Quran merupakan kejadian yang besar
sekaligus penting, karena dengan adanya kitab suci al-Qur’an tersebut berarti
manusia sudah difasilitasi oleh Allah untuk menerima al-Qur’an sebagai buku
panduan (manual book) di dunia.

Secara bahasa Nuzulul Qur’an berasal dari kata Nuzul yang memiliki arti
menetap disuatu tempat atau turun dari tempat yang tinggi. Sedangkan al-Qur’an
adalah kitab suci al-Qur’an yang memiliki arti bacaan. Jadi secara bahasa Nuzulul
Qur’an berarti turunnya al-Qur’an (bacaan). Sedangkan secara istilah Nuzulul
Qur’an adalah peristiwa penting dalam penurunan al-Qur’an secara keseluruhan,
diturunkan dari Lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, hingga diturunkan
secara berangsur-angsur kepada rasulullah saw sesuai dengan peristiwa dalam
jangka waktu kurang lebih 23 tahun.24

Turunnya al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatur qadar merupakan
pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malikat-malaikat atas
kemulian umat Muhammad. Umat ini dimuliakan oleh Allah dengan risalah baru
agar menjadi umat yang paling baik. Selanjutnya turunnya Al-Qur’an yang kedua
ialah turun secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya. Sampai Allah
menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmatnya.25

1. Turunnya Al-Qur’an Sekaligus


24
Dikutip dari http://warohmah.com/pengertian-nuzulul-quran/ pukul 15.25 tanggal 10-10-2017
25
Manna Khalil al-Qathan, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, (Literasi Antar Nusa, 2015, Jakarta), h.142
8

Terdapat tiga ayat yang terkait mengenai turunnya al-Qur’an secara


sekaligus.

Ayat pertama :

         

“Sesungguhya Kami menurunkannnya (Qur’an) pada malam


yang dberkahi”.(QS ad-Dukhan: 3)

Ayat kedua :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Qur’an pada malam Qadar”.

(QS al-Qadr: 1)

Ayat ketiga :

“Bulan ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan al-Quran,


sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda (antara yang benar dan batil)”. (QS al-baqarah: 185)

Pedapat pertama mengenai turunnya al-Qur’an yakni menurut Ibn Abbas dan
sejumlah ulama lain. Menurutnya turun al-Qur’an terkait dengan ketiga ayat di atas
ialah turunnya al-Qur’an secara sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia agar para
malaikat menghormati kebesarannya.

Ibn Abbas juga mengatakan bahwa “Qur’an diturunkan sekaligus kelangit dunia
pada malam lailatul qadar. Kemudian setelah itu, ia diturunkan selama dua puluh tahun.
Lalu Ibn Abbas juga mengatakan lagi “Allah menurunkan Qur’an sekaligus ke langit
dunia, tempat turunnya secara berangsur-angsur. Lalu Dia menurunkannya kepada
Rasul-Nya saw bagian demi bagian”.

Dalam pendapat kedua, Asy-Syabi meriwayatkan bahwa turunya al-Qur’an


dalam terkait ayat diatas ialah permulaan turunnya Qur’an kepada Rasulullah saw.
Permulaannya turunnya al-Qur’an itu dimulai pada malam lailatul qadar di bulan
ramadhan, yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian berlanjut turun secara
9

bertahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih dua puluh
tiga tahun. Dengan demikian, Qur’an turun hanya satu mavam, yakni turun secara
bertahap kepada Rasulullah. Sebagaimana AL-Qur’an menyatakan:

“Dan Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau Muhammad


membacakan kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara
bertahap.”

(QS al-Isra: 106)

Selanjutnya pendapat ketiga bahwa Qur’an diturunkan kelangit dunia selama


dua puluh tiga malam lailaul qadar. Yang pada setiap malamnya selama malam-malam
lailatul qadar itu adayang ditentukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan
jumlah wahyu yang diturunkan ke langit dunia di malam lailatul qadar, untuk masa satu
tahun penuh diturunkan secara bengasur-angsur kepada rasulullah saw sepanjang tahun.
Pendapat ini hasil ijtihad para ulama, dan tidak memiliki dalil.

Pendapat pertama dari Ibn Abbas dan pendapat kedua dari Asy-Sya’bi dengan
dalil-dalil shahih dapat diterima, dan tidaklah ada pertentangan antara keduanya.
Dengan demikian pendapat yang paling kuat ialah al-Qur’an itu dua kali diturunkan.
Pertama, diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadarke Baitul Izzah di langit
dunia. Kedua, Diturunkan dari langit dunia ke bumi secara benrangsur-amgsur selama
dua puluh tiga tahun26.

2. Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap

Bagian ini masih terkait dengan turunnya al-Qur’an, namun lebih khusus kepada
al-Qur’an yang turun secara bertahap. Dapat kita lihat juga bahwa keistimewaan al-
Qur’an dengan kitab lainnya terlatak pada perbedaan peurunannya. Kita ketahui bahwa
kitab samawi seperti Injil, Taurat, Zabur turunnya sekaligus tidak berangsur-angsur.
Sebagimana dalam firman Allah:

“Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Qur’an itu tidak diturunkan


kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu

26
Manna Khalil al-Qathan, Studi ilmu-ilmu al-Qur’an, (Literasi Antar Nusa, 2015, Jakarta), h.142
10

(Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-


angsur, perlahan dan benar).
(QS al-Furqan: 32)

Selama dua puluh tiga tahun al-Qur’an turun secara berangsur-angsur.


Beriringan dengan perjalananan rasululah di kehidupannya. Yakni, tiga belas tahun
dimekah (menurut pendapat yang kuat). Sepuluh tahun di madinah.

“Kitab ini diturunkan dari Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS al-Jasiyah: 2)

“Dan jika kamu Muhammad meragukan (Qur’an) yang Kami turunkan kepada
hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu semisal dengannya”.
(QS al-Baqarah 23)

“Katakanlah (Muhammad), “Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka


(ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Qur’an) ke dalam hatimu
dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi
petunjuk serta berita gembira orang-orang beriman.”
(QS AL-Baqarah: 97)

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dengan


lafalnya yang berbahasa arab, dan bahwa Jibril menurunkannya ke hati rasulullah saw.
Tetapi yang dimaksudkan adalah turunnya Qur’an secara bertahap. Ungkapan (untuk
arti menurunkan) dalam ayat-ayat diatas menujukan bahwa turunnya kata tanzil bukan
inzal. Tanzil berarti turun secara berangsur-angsur sedang inzal hanya menunjukan
turun atau menurunkan dalam arti umum.

E. Macam- Macam Turunnya Ayat


11

1. Ayat-AyatHadhari dan Ayat-AyatSafar

Ayat-ayat hadari adalah ayat yang turun bukan dalam perjalanan. Seperti ayat-
ayat yang turun ketika rasulullah sedang tinggal, berada dirumah, dan tidak berada
dalam perjalanan. Berikut contohnya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berkah menerimanya”.
(QS an-Nissa: 58)

Sedangkan ayat safar adalah ayat yang turun dalam perjalanan. Berikut
contohnya :

“Dan bukanlah kebajikan itu jika kamu memasuki rumah-rumah dari


belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertaqwa. Dan
masuklah ke rumah-rumah itu dari pintunya, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu
beruntung.”
(QS al-Baqarah: 182)

Ibnu Jarir meriwayatkan sebuah hadist dari Az-Zuhri, ia mengatakan bahwa ayat
ini turun saat rasulullah mengerjakan umrah di di Al-Hudaibiyah. Tapi As-Suddi
meriwayatkan bahwa ayat ini turun saat Rasulullah saw mengerjakan haji wada.

2. Ayat-Ayat Saify dan Ayat-Ayat Syita’i

Pengertian ayat saify adalah ayat yang turun di musim panas, sedangkan ayat
syita’i adalah ayat yang turun di musim dingin. Berikut contoh ayat yang turun dimusim
panas dan musim dingin. Al-Wahidi berkata ada dua ayat dalam al-Qur’an yang
membahas tentang masalah al-kalalah (yaitu seseorang yang meninggal tapi tidak
memiliki ahli waris seorang pun). Salah satunya ayat syita’i yang turun di musim
dingin. Ayat ini terdapat di awal surat an-Nisa’, sedangkan yang lainnya turun di saat
musim panas, yang terdapat di surat an-Nisa.
12

3. Ayat-Ayat Al-Firasy dan Ayat-Ayat An-Naumy

Pengertian ayat firasy adalah ayat yang turun di atas tempat tidur sedangkan ayat
naumy adalah ayat yang turun saat rasulullah saw sedang tidur. Berikut contoh ayat
firasy:

“Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak


memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
(QS al-Maidah: 67)

Seperti yang disebutkan di atas yang diimasukkan kedalam golongan ayat firasy
adalah ayat tentang tiga orang sahabat yang tidak ikut berperang dalam surat al-Ahzab.
Hal ini berdasarkan seuah hadist dalam riwayat shahih Bukhari dan Muslim bahwa ayat
diatas turun saat sepertiga malam ketika rasullulah berada di rumah Ummu Salamah.
Sedangkan ayat yang turun saat rasulullah saat beliau sedang tidur, di antaranya
adalah surat al-Kautsar. Namun terdapat penjelasan lebih lanjut menurut as-Suyuthi
bahwa keadaan rasulullah saat itu bukanlah tidur namun pinsan karena pengaruh wahyu.

4. Ayat ayat Ardhi dan Ayat ayat Sama’i

Pengertian ayat Ardhi adalah ayat turun dibumi dan ayat Sama’i adalah ayat
yang turun di langit. Ibnu Ar-Arabi bahwa dalam al-Qur’an itu terdapat ayat-ayat yang
turun di langit, turun di bumu, turun di antara langit dan bumi, dan ada pula ayat-ayat
yang turun dibawah tanah yakni di dalam gua.
Terkait mengenai ayat-ayat ardi, yakni ayat yang turun di bumi amatlah banyak.
Karna ayat-ayat al-qur’an hanya turun di dua kota yakni Mekkah dan Madinah.
13

Adapun ayat yang diturunkan dilangit yakni ketika rasulullah melakukan isra
dan beliau di bawa naik sampai Sidratul Muntaha. Yakni dua ayat terakhir dalam surat
al-Baqarah. Menurut As-Suyuthi ayat di dukung dengan hadist riwayat Muslim dari
Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: Ketika Rasulullah saw dibawa ke atas langit dari hari
isra’, beliau naik sampai Sidratul Muntah., Dalam hadist ini disebutkan Rasullulah
diberikan tiga hal oleh Allah swt, beliau diperintahkan untuk mengerjakan shalat lima
waktu, beliau diberi ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah, dan terakhir beliau diberi janji
oleh Alah bahwa dosa besar akan diampuni kecuali dosa syirik.

5. Ayat yang Pertama Kali di Turunkan Kepada Nabi

Terdapat beberapa pendapat ulama yang berbeda mengenai ayat pertama kali
diturunkan. Serta penjelasan panjang dalam hal ini, maka penulis meringkasnya sebagai
berikut.
Pendapat pertama, yakni pendapat yang benar. Yaitu bahwa ayat yang pertama
kali diturunkan adalah ayat pertama dari surat al-Alaq. Imam Bukhari dan Muslim serta
selain mereka telah meriwayatkan hadist dari Aisyah ra, berkata: Pertama kali wahyu
diturunkan kepada rasullulah saw adalah berupa mimpi dalam tidur beliau. Kemudian
setelah itu Rasullulah tidaklah melihat suatu mimpi kecuali menjelang subuh. Sejak saat
itu Rasullulah mulai senang sekali menyendiri di gua Hira. Beliau tinggal disana setiap
malam dan tidak sedikit jumlahnya. Sampai pada suatu ketika ia dikagetkan dengan
kehadiran Jibril di gua Hira. Jibril berkata: Bacalah!.
Pendapat kedua, yakni pendapat yang mengatakan bahwa surat Muddatsir adalah
yang pertama kali turun. Hal ini diperkuat oleh hadis Bukhari dan Muslim yang
diriwayatkan oleh Salammah bin Abdurrahman, ia berkata: Saya bertanya kepada Jabir
bin Abdillah ra: Apakah ayat ang pertama kali diturunkan? Ia menjawab: Surat yang
pertama kali diturunkan adalah “Yaa ayyuhal Muddatstsir”. Saya berkata: Bukankah
ayat yang pertama kali turun adalah surat al-Alaq “Iq`ra bismmirabbik”?.
Lalu Jabir ra menjawab: Kalau kamu tidak percaya, saya akan memberitaukan
sebuah hadist dimana beliau bersabda: “Saya dulu sering tiggal di dalam gua Hira.
Setelah saya tidak lagi tinggal disana, saya pun menuruni lembah yang ada disana, saya
melihat ke kanan, kiri, de`pan, belakang. Setelah itu saya melihat ke langit, rupanya
14

disana terlihat Jibril. Saya pun langsung ketakutan dan gemetaran. Lalu saya
mendatangi Khadijah ra, saya ketakutan dan gemetaran. Saya menyuruhnya untuk
menyilimuti saya. Maka Allah swt menurunkan surat ini (Surat al-Muddadtsir).
Namun pendapat kedua ini dibantah oleh pendapat pertama, karena Jabir ra
menjawab pertanyaan tadi, dengan jawaban bahwa surat yang pertama kali diturunkan
adalah surat al-Muddatstsir, maka jawaban ini berdasarkan ijtihad Jabir ra sendiri, dan
hadist ini bukan pula riwayatny, tapi hadist yang diriwayatkan oleh sahabat lainnya,
maka di sini lebih diutamakan hadist Aisyah ra yang meriwayatkannya sendiri,
ketimbang hadist Jabir ra yang bukan asli riwayatnya. Ini adalah alasan menurut Al-
Kirmani.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa yang pertama kali turun adalah surat al-
Fatihah. Az Zamakhsyari berkata dalam al-Kasysaf: Abdullah bin Abbas dan mujtahid,
keduanya telah menegaskan bahwa surat yang pertama kali turun adalah al-Alaq, tetapi
kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa yang pertama kali turun surat al Fatihah.
Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan sebenarnya yang ditegaskan oleh kebanyakan
para ulama adalah pendapat pertama, yang pertama turunyakni lima ayat petama surat
al-Alaq, bukan pendapat kedua. Sedangkan pendapat ketiga yang mengatakan banyak
ahli tafsir yang berpandapat bahwa surat al-Fatihah yang pertama turun. Namun
nyatanya jumlah orang ini sangatlah sedikit jika dibanding pendapat pertama.

6. Ayat Yang Hukumnya Di Akhirkan Dari Penurunannya Dan Ayat Yang


Turunnya Di Akhirkan Dari Hukumnya

Az-Zakarsy berkata dalam al-Burhan, ada beberapa ayat yang turun lebih dulu
dari hukumnya. Salah satu contohnya seperti firman Allah ini:

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),


dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”.
(QS al-A’la: 14-15)
Al Baihaqi dan laiinya telah meriwayatkan hadist ini dari Abdullah bin Umar
bahwa ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan zakat fitrah. Dan ini adalah surat
Makkiyah, padahal di kota Mekkah saat itu belum ada hari raya, zakat maupun puasa.
15

Dan contoh ayat yang hukumnya turun terlebih dahulu sebelum ayatnya adalah
ayat tetang kewajiban berzakat. Ayat ini diturunkan pada tahun kesembilan hijiryah,
padahal kewajiban bezakat telah diharuskan pada tahun-tahun permulaan hijriyah.
Berikut ayatnya:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang fakir, orang miski,
pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan)
budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang
dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
(QS at-Taubah: 60)

7. Ayat Yang Sedikit Demi Sedikit dan Sekaligus

Ayat yang diturunkan sedikit demi sedikit adalah mayoritas ayat di dalam al-
Quran. Seperti surat al-Alaq dan ad-Dhuha. Sedangkan kategori kedua yakni ayat
diturunkan secara sekaligus adalah surat al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Kautsar, al-Lahab, al-
Bayyinah, an-Nashr, dan surat yang diturunkan secara bersamaan yakni al-Falaq dan an-
Nass.

F. Hikmah Turunya Qur’an Secara Bertahap

1. Hikmah pertama
Menguatkan atau meneguhkan hati rasullulah saw, rasulullah telah
menyampaikan dakwahnya kepada manusia, tetapi ia menghadapi sikap mereka yang
membangkang dan watak yang begitu keras. Ia ditantang oleh mereka yang berhati batu,
berperangai kasar, dan keras kepala. Mereka senantiasa melemperkan berbagai
gangguan dan ancaman kepada rasulullah. Padahal dengan hati yang tulus ia
menyampaikan segala yang baik kepada mereka.
Wahyu yang turun kepada rasulullah saw, dari waktu ke waktu sehingga dapat
meneguhkan hatinnya atas dasar kebenaran dan memperkuat kemauannya untuk tetap
melangkahan kaki di jalan dakwah tanpa menghiraukan perlakuan jahil mereka.
16

2. Hikmah kedua
Tantangan dan Mukjizat, Orang-orang musyrik senantiasa berda dalam
kubangan kesesatan dan kesombongan yang melampaui batas. Mereka sering
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang melemahkan, menantang dan menguji
Rasulullah saw. Mereka juga sering menanyakan hal batil yang tidak masuk akal, seperti
hari kiamat.
Maka turunlah al-Quran dengan ayat yang menjelaskan tentang kebenaran yang
memberikan jawaban amat jelas atas pertanyaan mereka, seperti firmaan Allah berikut:
“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (embawa) sesuatu
yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang
baik”.
(QS al-Furqon: 33)
Saat mereka keheranan terhadap turunnya al-Qur’an secara bertahap atau
berangsur-angsur, Maka Allah menjelaskan kepada mereka kebenaran itu. Sebab
tantangan Allah kepada mereka dengan Qur’an yang diturunkan secara berangsur
sedang mereka tidak sanggup membuat yang serpa dengan Qur’an.

3. Hikmah ketiga
Mempermudah hafalan dan pemahamannya, al-Qur’an karim turun di tengah
ummat yang ummi, yang tidak pandai membaca ataupun menulis. Catatan mereka
adalah dengan hafalan dan daya ingatan. Mereka tidak mempunyai pengatahuan tata
cara menulis dan pembukuan.
Jelasnya bahwa turunnya al-Qur’an secra bertahap adalah bentuk bantuan
terbaikbagi mereka yang menghafal dan memahami ayat-ayatnya. Setiap kali turun satu
atau beberapa ayat, para sahabat segera menghafalnya, memikirkan hafalannya, dan
mempelajari hukumnya.
17