Anda di halaman 1dari 6

Satuan Acara Penyuluhan

(SAP)

Pokok Bahasan : PHBS di tatanan Rumah Tangga

Sub Pokok Bahasan : Jamban Sehat

Sasaran : Kepala keluarga dan Ibu rumah tangga

Tempat :

Hari/tanggal :

Waktu :

A. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan peserta dapat mewujudkan lingkungan sehat dan mampu
mencegah serta menanggulangi penyakit dan masalah kesehatan akibat kurangnya
perhatian terhadap penggunaan jamban sehat.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan hasil yang diharapkan :
a. Peserta dapat memahami penggunaan jamban sehat.
b. Peserta dapat memahami syarat penggunaan jamban sehat.
c. Peserta dapat menggunakan jamban sehat dengan bersih.
B. Materi(Terlampir)
1. Pengertian Jamban
2. Jenis-Jenis Jamban
3. Siapa saja yang harus menggunakan Jamban
4. Mengapa harus menggunakan jamban
5. Syarat-Syarat Jamban Sehat
6. Tujuan Jamban Sehat
7. Akibat tidak menggunakan Jamban Sehat

C. Media

D. Metode
-ceramah diskusi
E. kegiatan penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Respon Peserta


1 Pembukaan 5 Salam Perkenalan dan menjelaskan Menjawab salam
menit tujuan penyuluhan. Mendengar dan
memperhatikan.
2 Inti Review materi untuk mengetahui sejauh Menjawab pertanyaan
20 menit mana pengetahuan peserta tentang Mendengar dan
materi. memperhatikan
Menjelaskan pengertian, jenis,syarat,
dan tujuan penggunaan jamban sehat.
Mengajukan pertanyaan Menyebut dan
3 Evaluasi Mereward atas jawaban yg betul menjelaskan jawaban
10 menit Menyimpulkan materi diskusi dari pertanyaan
Menjawab salam
Salam penutup
4 Penutup
5 menit

LAMPIRAN MATERI

1. Pengertian Jamban
Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran
manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa atau
tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan
air untuk membersihkannya.
Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang
tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau
WC ( Madjid, 2009 ). Jamban keluarga terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk
dengan leher angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit
penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya (Abdullah, 2010).
2. Jenis-Jenis Jamban
a. Jamban cemplung/jamban tanpa leher angsa
Adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi menyimpan
dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke
dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada penutup agar tidak berbau.
→ Kurang aman, sering terbuka sehingga banyak lalat dan tidak memenuhi syarat
kesehatan
b. Kakus Empang
→ Dibuat di atas empang/kolam ikan, dengan maksud kotorannya dapat sebagai
makanan ikan.
c. Jamban leher angsa
Adalah jamban berbentuk leher angsa yang penampungannya berupa tangki septik
kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses penguraian/dekomposisi kotoran
manusia yang dilengkapi dengan resapannya.
→ Model terbaik, pada lekukan lehernya terdapat genangan air yang dimaksudkan
untuk mencegah bau dan keluar masuknya hewan

3. Syarat-Syarat Jamban Sehat


a. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang
penampungan minimal 10 meter
b. Tidak berbau tinja
b. Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus
c. Tidak mencemari tanah di sekitamya
d. Mudah dibersihkan dan aman digunakan
e. Dilengkapi dinding dan atap pelindung
f. Penerangan dan ventilasi cukup
g. Lantai kedap air dan luas ruangan memadai
h. Tersedia air, sabun, dan alat pembersih

4. Siapa saja yang harus menggunakan Jamban?


Semua anggota keluarga harus menggunakan jamban untuk membuang tinja, baik anak
anak (termasuk bayi dan anak balita) dan terlebih kepada orang dewasa. Dengan
pemikiran tertentu oleh orang tua , sering kali tinja bayi dan anak anak dibuang
sembarangan oleh orang tuanya. Misalnya ke halaman rumah, kebun, sungai dan
lainnya. Hal ini perlu diluruskan, bahwa tinja bayi dan anak anak juga harus dibuang ke
jamban, karena tinja bayi dan anak anak tersebut sama bahayanya dengan tinja orang
dewasa.
5. Mengapa harus menggunakan jamban?
Tinja atau kotoran manusia merupakan media sebagai tempat berkembang dan
berinduknya bibit penyakit menular (misalnya kuman/bakteri, virus dan cacing).
Apabila tinja tersebut dibuang ke sembarang tempat misalnya kebun, kolam, sungai dan
lainnya maka bibit penyakit tersebut akan menyebar luas ke lingkungan, dan akhirnya
akan masuk dalam tubuh manusia dan beresiko menimbulkan penyakit pada seseorang
dan bahkan menjadi wabah penyakit pada masyarakat yang lebih luas.
6. Tujuan Jamban Sehat
a. Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau
b. Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya.
c. Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular
penyakit Diare, Kolera Disentri, Thypus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan,
penyakit kulit dan keracuanan
7. Akibat tidak menggunakan jamban sehat
a. Tifus
Tifus merupakan penyakit yang menyerang usus halus. Penyebabnya adalah
Salmonella typhi, dengan reservoir adalah manusia. Gejala utama adalah panas
yang terus menerus dengan taraf kesadaran yang menurun, terjadinya 1-3 minggu
(rata-rata 2 minggu) setelah infeksi. Penularan dapat terjadi dari orang ke orang,
atau tidak langsung lewat makanan, minuman yang terkontaminasi bakteri.
Sesekali, Salmonella itu keluar bersama tinja ataupun urine, memasuki
lingkungan dan berkesempatan menyebar ( Slamet, 2009 ),
b. Disentri
Disentri amoeba disebut juga Amoebiasis disebabkan oleh E. histolytica, suatu
protozoa. Gejala utama penyakit adalah tinja yang tercampur darah dan lendir.
Berbeda dari Disentri basillaris, disentri ini tidak menyebabkan dehidrasi.
Penyakit ini sering pula ditemukan tanpa gejala yang nyata, sehingga seringkali
menjadi kronis. Tetapi, apabila tidak diobati dapat menimbulkan berbagai
komplikasi, seperti asbes hati, radang otak dan perforasi usus. Amoebiasis
iniseringkali menyebar lewat air dan makanan yang terkontaminasi tinja dengan
kista amoeba serta dapat pula dibawa oleh lalat. Karena amoeba memberntuk
kista yang tahan lama di dalam lingkungan di luar tubuh, maka penularan mudah
terjadi dengan menyebarnya kista – kista tersebut ( Slamet, 2009).
c. Kolera
Penyakit kolera disebabkan oleh Vibrio cholera. Kolera adalah penyakit usus
halus yang akut dan berat, sering mewabah yang mengakibatkan banyak
kematian. Gejala utamanya adalah muntaber, dehidrasi dan kolaps dapat terjadi
dengan cepat. Sedangkan gejala kolera yang khas adalah tinja yang menyerupai
air cucian beras, tetapi sangat jarang ditemui. Orang dewasa dapat meninggal
dalam waktu setengah sampai dua jam, disebabkan dehidrasi. Reservoir bakteri
kolera adalah manusia yang menderita penyakit, sedangkan penularan dari orang
ke orang, ataupun tidak langsung lewat lalat, air serta makanan dan minuman
(Slamet, 2009).

d. Schistosomiasis
Schistosomiasis atau Bilharziasis adalah penyakit yang disebakan cacing daun
yang bersarang di dalam pembuluh darah balik sekitar usus dan kandung kemih.
Reservoirnya selain penderita, juga anjing, kijang dan lain – lain hewan penderita
Schistosomiasis. Telur Schistosomiasis ini keluar dari tubuh penderita bersama
urin ataupun tinja. Untuk dapat hidup terus telur itu harus berada di perairan,
menetas menjadi larva miracidium dan untuk dapat berubah menjadi larva yang
infektif, maka ia harus masuk ke dalam tubuh siput air. Miracidium di dalam siput
berubah menjadi larva cercaria, keluar dari tubuh siput, berenang bebas di
perairan. Larva ini dapat memasuki kulit orang sehat, yang kebetulan berada di air
tersebut (misalnya di sawah). Larva kemudian ikut dengan peredaran darah,
memasuki paruparu, kemudian ke hati di mana ia menjadi dewasa dan kemudian
bermigrasi ke dalam pembuluh darah balik sekitar usus ataupun kandung kemih.
Jumlah telur cacing yang banyak akan mendesak dinding pembuluh darah
sehingga robek dan terjadi perdarahan. Gejala 4 – 6 minggu setelah infeksi berupa
kencing dan berah darah. Penyakit ini jarang menyebabkan kematian yang
langsung, tetapi menimbulkan kelemahan karena terjadinya perdarahan.
Komplikasi – komplikasi dapat terjadi, yakni rusaknya jaringan hati sehingga
terjadi cirrhosis atrofis dan kadang – kadang cacing dapat ikut dengan peredaran
darah ke dalam otak dan menimbulkan kerusakan. Cacing ini sudah banyak
menyebabkan kerugian dan penderitaan, karena pengobatannya kurang efisien,
pemberantasan terhadap cacing sulit dilaksanakan, karena spectrum reservoirnya
yang luas dan meninggalkan banyak cacat dan kelemahan (Slamet, 2009).
e. Diare
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan / tanpa darah dan
lendir dalam tinja (Mansjoer,2002). Penyebab diare dapat dikelompokkan dalam
tujuan besar, yatu virus, bakteri, parasite, keracunan makanan, malabsorpsi, alergi
dan immunodegesiensi (Widoyono, 2008). Penyakit diare sebagian besar (75%)
disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare
melalui orofekal terjadi dengan mekanisme berikut (Widiyono, 2008):
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama diare
Diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum yang sudah
tercemar, baik yang tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan
sampai ke rumah – rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah.
Pencemaran dirumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau
apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari
tempat penyimpanan.

2. Melalui tinja yang terkontaminasi


Tinja yang sudah terkontaminasi mengandung virus atau bakteri dalam
jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian
binatang tersebut hingga di makanan, maka makanan itu dapat
menularkan penyakit diare kepada orang yang memakannya.
f. Bermacam – macam cacing (gelang, kremi, tambang, pita)
Penyakit cacing tambang ( hookworm disease) adalah suatu infeksi saluran usus
oleh cacing penghisap darah. Penyebabnya adalah Necator americanus dan
Ancylostoma duodenale yaitu nematode yang dikeluarkan lewat tinja dari manusia
yang terinfeksi. Cara pemindahannya adalah larva dalam tanah yang lembab /
basah dan menembus kulit, biasanya kulit kaki (Suparmin, 2002).