Anda di halaman 1dari 2

Sifat strukturasi adalah mengatasi tiga hal yaitu, wlaktu, ruang, dan maya, sehingga bisa

diterapkan pada berbagai situasi dan kondisi. Berbeda dengan pengertian yang digunakan
Durkhemian. Durkhemian mengatakan bahwa stuktur itu lebih mengekang. Hal tersebutlah
yang membuat Giddens mengatakan bahwa struktur itu bersifat memberdayakan yang
memungkinkan adanya sebuah praktik sosial. Giddens melihat sebuah struktur sebagai
sebuah sarana.
Meskipun bersifat obyektif, obyektivitas struktur sosial berbeda dengan obyektif
struktur dalam mazhab fungsionalisme maupun strukturalisme, di mana struktur menentang
dan mengekang pelaku. Bagi Giddens, obyektivitas struktur tidak bersifat eksternal
melainkan melekat pada tindakan dan praktik sosial. Struktural bukanlah benda melainkan
“skemata yang hanya tampil dalam praktik-praktik sosial.”
Giddens terutama melihat tiga gugus besar struktur. Pertama, struktur penandaan atau
signifikansi yang menyangkut skemat simbolik, pemaknaan, penyebutan, dan wacana. Kedua,
struktur penguasaan atau dominasi yang mencakup skemta penguasaan atas orang, Ketiga,
struktur pembenaran atau legitimasi yang menyangkut skemata normatif, yang terungkap
dalam tatanan hukum.
Struktur = Signifikansi Dominasi Legitimasi

Bingkai
Sarana-antara = Interpretasi fasilitas norma

Interaksi = komunikasi kekuasaan sangsi

Ambilah pengertian struktur sebagai sarana praktik sosial. Tindakan dan praktik sosial
seperti berbicara, berdiskusi, ataupun menulis mengandaikan struktur penandaan tertentu.
Conjutohnya adalah suatu tata bahasa yang terpahami oleh orang-orang dalam masyarakat
yang menjadi tujuan tindakan berbicara atau menulis itu. Demikian pula penguasaan dan
penggunaan aset finansial atau kontrol seorang kapten atas para sersan, atau juga penguasaan
dan pengontrolan majikan atas para buruh, mengandalkan skema dominasi. Ketika guru
menghukum murid yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Pemberian sangsi pada murid
itu melibatkan struktur legitimasi.
Demikian pula arus sebaliknya, yaitu struktur sebagai hasil sedimentasi keterulangan
praktik sosial. Pembakuan korporatisme-otoriter Orde Barusebagai struktur signifikasi hanya
terbentuk melalui pengulangan berbabagai praktik wacana mengenai asas tunggal. Negara
korporatis-otoriter Orde Baru menjadi skemata dominasi yang semakin baku melalui
keterulangan berbagai praktik penguasaan yang dilakukan dalam rupa wadah-wadah tunggal
seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI),
dan sebagainya.
Dualita antar struktur dan tindakan selalu melibatkan sarana-antara. Contohnya
korporatisme-otoriter Orde Baru mengandalkan bingkai interpretasi tentang anti wacana asas-
tunggal. Semisal tidak boleh ada Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) yang berdiri disamping
PWI. Antara struktur dominasi dam praktik penguasaan, misalnya, jebatan menteri
merupakan fasilitas sang menteri dalam memerintahkan seorang direktur jendral untuk
mengharuskan anak buahnya memilih golkar dalam pemilihan umum.
Gidden membedakan tiga dimensi internal pelaku. Ada motivasi tak sadar, kesadaran
praktis, dan kesadaran diskursif.
‘Motivasi tak sadar’ menyangkut keingi.nan atau kebutuhan yang berpotensi
mengarahkan tindakan, tetapi tidak dengan tindakan itu sendiri. Contohnya adalah jarang
sekali seorang karyawan pergi ke kantor untuk mencari uanng, beda halnya ketika hari itu
adalah hari gajian.
Lalu, kesadaran diskursif mengacu pada kapasitas kita mereflesikan dan memberikan
penjelasan rinci serta eksplisit atas tindakan kita. Contoh yang sesuai adalah ketika ada
seorang pegawai KORPRI yang ditanya mengapa memakai memakai seragam kantor?
Jawaban yang akan keluar dari mulutnya mungkin karena mengatasan. hindari amarah dari
sang
‘Kesadaran praktis’ menunjuk pada gugus pengetahuan praktis yang tidak selalu bisa
diurai.Contohnya ketika kita memasuki tempat ibadah. Kita akan berpenampilan memakai
gamis atau memakai sarung dan atasan yang sopan. Kesadaran praktis ini merupakan awal
untuk memahami proses berbagai perilaku dan praktik sosial menjadi sebuah struktur, dan
bagaimana struktur itu mengekang serta membuat tindakan sebuah praktik sosial.
Giddens berpendapat bahwasanya perubahan selalu terlibat dalam strukturasi,
walaupun hanya kecil dampaknya. Giddens pun mengutip ucapan dari Erving Goffman
bahwa seseorang mempunyai kemampuan untuk mengintropeksi diri dan akan meluas
menjadi rutinitas yang berulang. Rutinitas mengulang menyangkut dimana skemata yang
selama ini dilakukan untuk praktik sosial tidak lagi bisa dipakai sebagai prinsip pemaknaan
dan perorganisasian.
Contohnya adalah otoritarianisme Orde Baru merupakan tanda-tanda kesenjangan
antara rezim Orde Baru dan pemerintahan Indonesia yang baru.
Giddens mengatakan bahwa dialektika kontrol adalah penguasa akan selalu terlibat
relasi otonomi dan ketergantungan antara penguasa dan orang yang dikuasai. Ketika agen
tidak terlibat dalam dialektika kontrol, walaupun hanya sedikit dia sudah tidak menjadi agen.
Kaitan timbal balik antar keduanya dipakai untuk memahami apa itu istilah konflik dan
kontradiksi. Konflik mengacu pada pertikaian dalam struktur sosial yang konkret, sedangkan
kontradiksi adalah kondisi pertentangan pengorganisasian sebuah masyarakat.
Sekali lagi ditekankan bahwa teori strukturasi adalah sebuah cara pandang yang
menjadi pokokkarya Giddens yang selanjutnya.