Anda di halaman 1dari 16

ADMINISTRASI SUPERVISI PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN SUPERVISI
Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai
berikut: “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning
situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih
baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi
belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).
Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan
supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari
penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan
kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada
persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik
diantara guru-guru, karena bersifat demokratis. Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan
baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang
terkandung dalam perkataan itu ( semantik).

1. Etimologi
Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya
pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.

2. Morfologis
Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari dua kata.
Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor memang
mempunyai posisi diatas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang yang
disupervisinya.

3. Semantik
Pada hakekatnya isi yang terandung dalam definisi yang rumusanya tentang sesuatu
tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat telah merumuskan bahwa
supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik. Adam dan
Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya menyangkut perbaikan proses
belajar mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut:
“Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan
kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik”. Dengan
demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar
yang lebih baik.

Sedangkan pengertian supervisi menurut pendapat para ahli sebagai berikut :


1. Good Carter,
Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam
memimpin guru-guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk
menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi
tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran, dan metode mengajar dan evaluasi
pengajaran. God Carter melihatnya sebagai usaha memimpin guru dalam jabatan mengajar.

2. Boardman.
Menyebutkan Supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing
secara kontinyu pertumbuhan guru di sekolah baik secara individual dan kolektif, agar lebih
mengerti dan efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran dengan demikian mereka
dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara kontinyu, serta
mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern. Boardman melihat
supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.

3. Wilem Mantja (2007)


Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi)
yang dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan
ganda) yang harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan
mutu pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan
(guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan.

4. Kimball Wiles (1967)


Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in
the development of a better teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa
faktor manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan suasana
belajar mengajar yg lebih baik.

5. Mulyasa (2006)
Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan
sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang
lebih independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan
tugas.
6. Ross L (1980),
Mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan
menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang
supervisi sebagai pelayanan kapada guru – guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.
7. Purwanto (1987),
Supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para
guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.

Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut
“ serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang
diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna
meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena supervisi atau pembinaan guru
tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“
yakni pembinaan yang lebih diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan
kemampuan profesional guru.

B. PENGERTIAN SUPERVISOR
Orang yang melakukan supervise disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut
supervisor pendidikan. Menurut keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor
0134/0/1977, temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penelik
sekolah, dan para pengawas ditingkatkan kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang
yang ada di tiap provinsi.
Berikut ini beberapa pengertian supervisor menurut beberapa ahli antara lain :
1. Menurut Sarwoto (1993:107), pengertian supervisor adalah : ”Seorang di dalam suatu
organisasi yang bertanggung jawab terhadap kelompok kerjanya”.
2. Menurut Moekijat (1990:573), pengertian supervisor adalah : “Seorang anggota dari
management lini depan pertama yang bertanggung jawab atas pekerjaan dari kelompoknya
kepada tingkatan management yang lebih tinggi”.
3. Menurut Raphael, R. Kavanaugh dan Jack D. Ninemeire (2001:21) mengatakan bahwa
supervisor adalah : “Someone who manages entry level or other employee who do not have
responsibility”. Dapat di terjemahkan bahwa supervisor adalah seseorang yang bertanggung
jawab mulai dari level bawah atau pekerja lainnya yang tidak memiliki atasan yang
bertanggung jawab terhadap mereka

C. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA SUPERVISI DAN INSPEKSI


Kegiatan supervisi dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan,
pengawasan atau penilikan. Supervisi masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan
pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang
berposisi diatas, pimpinan– terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Inspeksi : inspectie
(belanda) yang artinya memeriksa dalam arti melihat untuk mencari kesalahan. Orang yang
menginsipeksi disebut inspektur. Inspektur dalam hal ini mengadakan :

1. Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya


2. Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah
ditetapkan/digariskan
3. Judging : mengandili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
4. Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
5. Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik

Hubungan atau persamaan antara supervisi pendidikan dengan inspeksi adalah


persamaannya terletak pada teknik pelaksanaannya:
a. Observasi kelas
b. Pertemuan pribadi
c. Studi dokumen
d. Rapat staf.

Perbedaan antara Inspeksi dan Supervisi antara lain sebagai berikut :


1. Inspeksi yaitu :
 Bertujuan memeriksa sampai seberapa jauh rencana jauh rencana telah dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan yang telah digariskan.

 Sebagai hasil inspeksi disusun suatu laporan mengenai kemajuan usaha dan keadaan semua
unsur-unsurnya. Jika unsur-unsur itu adalah guru/pegawai, maka laporan hasil inspeksi itu
disebut konduite.

 Sasaran inspeksi diarahkan kepada semua unsur dalam administrasi (guru, murid, pegawai,
ruang belajar, alat/ fasilitas, dsb).

 Fungsi inspeksi:
- Memeriksa; apakah segala sesuatu telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang telah
digariskan.
- Memvonis; mengadakan keputusan hasil penilaian sepihak dengan ukuran yang telah
ditentukan sebelumnya si inspektur.
- Membetulkan ; apa yang tidak sesuai dibetulkan/ dikoreksi menurut keten-tuan yang
seharusnya.
- Mengarahkan ; menjelaskan peraturan yang perlu diperhatikan sebagai pedoman kerja, dan
memberikan instruksi-instruksi yang perlu untuk menjamin pe-laksanaan peraturan-peraturan
itu.

2. Supervisi antara lain :


 Bertujuan untuk menemukan/meng-identifikasi kemampuan/ketidak mampuan guru dan
personil lainnya, untuk kemudian memberikan bantuan kepada mereka untuk meningkatkan
kemampuan/keahliannya.

 Sebagai hasil supervisi diperoleh guru dan personil lainnya yang lebih mampu dalam
profesinya.

 Sasaran supervisi sebagai usaha peningkatan kemampuan profesi, hanya ditujukan kepada
guru atau personil pendidikan lainnya.
 Fungsi supervisi:
* Meneliti; mengumpulkan data secara obyektif tanpa dilatarbelakangi oleh ukuranketentuan
me-ngenai apa yang benar dan apa yang salah.
* Menilai; berdasarkan data yang dikumpulkan, menentukan bersama secara kooperatif apa
yang baik dan apa yang kurang (lemah).
* Meningkatkan; bersama-sama berusaha menemukan cara-cara untuk mengadakan
perbaikan dan peningkatan.
* Membantu; dengan berbagai saran, nasihat dan informasi, guru diberi dorongan dan
bantuan dalam usaha meningkatkan ke-mampuan dirinya.

D. Tujuan dan sasaran Supervisi


1. Tujuan Supervisi
Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980;
Oliva, 1984; Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990). Tujuan umum
Supervisi adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar
personil tersebut mampu meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan
melaksanakan proses belajar mengajar.
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi
pendidikan yaitu :

a. Meningkatkan mutu kinerja guru


 Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai
tujuan tersebut
 Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan
siswanya.
 Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang
efektif, bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan
lainnya.
 Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar
siswa.
 Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat
pengajaran.
 Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru
dalam pengajaran.
 Sebagai dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.

b. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik

c. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola
dan dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa

d. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya


suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar
sebagaimana yang diharapkan.

e. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan
tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan
keberhasilan lulusan.

2. Sasaran Supervisi
Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah
peningkatan kemampuan profesional guru (Depdiknas, 1986; 1994 & 1995). Sasaran
Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi :
a. Supervisi Akademik, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah
akademik, yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran
pada waktu siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu

b. Supervisi Administrasi, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek


administrasi yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.

c. Supervisi Lembaga, Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang


berada di sekolah. Supervisi ini dimaksudskan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau
kinerja sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah),
Perpustakaan dan lain-lain.
E. MACAM-MACAM SUPERVISI
Supervisi pendidikan ada 2 (dua) macam, yaitu ‘supervisi akademis’ dan ‘supervisi
klinis.

1. Supervisi Akademis
Supervisi Akademis : kegiatan pembimbingan yang ditujukan untuk untuk
memperbaiki kondisi personil dan kondisi material yang memungkinkan terciptanya situasi
belajar mengajar yang lebih baik, sehingga tujuan dari pendidikan dapat tercapai.
Prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap
proses supervisi akademik di sekolah-sekolah, yaitu sebagai berikut.
a. Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis,
bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal. Hubungan demikian ini bukan saja antara
supervisor dengan guru, melainkan juga antara supervisor dengan pihak lain yang terkait
dengan program supervisi akademik.

b. Supervisi akademik harus dilakukan secara berkesinambungan. Supervisi akademik bukan


tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada kesempatan. Apabila
guru telah berhasil mengembangkan dirinya tidaklah berarti selesailah tugas supervisor,
melainkan harus tetap dibina secara berkesinambungan. Hal ini logis, mengingat problema
proses pembelajaran selalu muncul dan berkembang.

c. Supervisi akademik harus demokratis. Supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan


supervisi akademiknya. Titik tekan supervisi akademik yang demokratis, aktif dan kooperatif.
Supervisor harus melibatkan secara aktif guru yang dibinanya. Tanggung jawab perbaikan
program akademik bukan hanya pada supervisor melainkan juga pada guru. Karena itu,
program supervisi akademik sebaiknya direncanakan, dikembangkan dan dilaksanakan
bersama secara kooperatif dengan guru, kepala sekolah, dan pihak lain yang terkait di bawah
koordinasi supervisor.

d. Program supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan secara keseluruhan.
Dalam upaya perwujudan prinsip ini diperlukan hubungan yang baik dan harmonis antara
supervisor dengan semua pihak pelaksana program pendidikan.

e. Supervisi akademik harus komprehensif. Program supervisi akademik harus mencakup


keseluruhan aspek pengembangan akademik, walaupun mungkin saja ada penekanan pada
aspek-aspek tertentu berdasarkan hasil analisis kebutuhan pengembangan akademik
sebelumnya.
f. Supervisi akademik harus konstruktif. Supervisi akademik bukanlah untuk mencari
kesalahan-kesalahan guru, melainkan untuk mengembangkan pertumbuhan dan kreativitas
guru dalam memahami dan memecahkan problem-problem akademik yang dihadapi.

g. Dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi, keberhasilan program supervisi


akademik harus obyektif berdasarkan kebutuhan nyata pengembangan profesional guru

2. Supervisi klinis
Dikatakan supervise klinis karena prosedur pelaksanaannya lebih ditekankan kepada
mencari sebab-sebab atau kelemahan yang terjadi di dalam proses belajar mengajar, dan
kemudian secara langsung pula diusahakan bagaimana cara memperbaiki kelemahan atau
kekurangan tersebut.
Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan
melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual
yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan
modifikasi yang rasional.
Adapun ciri-ciri supervisi klinis menurut La sulo adalah sebagai berikut
a. Bimbingan supervisor kepada guru/ calon guru bersifat bantuan, bukan perintah atau intruksi

b. Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru atau calon guru yang akan
disupervisi dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisior.

c. Meskipun guru atau calon guru mempergunakan berbagai keterampilan mengajar secara
terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada beberapa keterampilan tertentu saja

d. Instrumen supervisi dikembangkandan disepakati bersama antara supervisor dan guru


berdasarkan kontrak

e. Balikan diberikan dengan segera dan secara objektif


f. Meskipun supervisor telah menganalisis dan menginterpretasi data yang direkam oleh
instrumen observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan guru/ calon guru diminta
terlebih dahulu menganalisis penampilannya

g. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau


mengarahkan

h. Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka

i. Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi perencanaan, observasi dan diskusi
balikan

j. Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk pembentukan atau peningkatan dan perbaikan
keterampilan mengajar

F. STRUKTUR MEKANISME SUPERVISI


Kepala Sekolah atau Madrasah melakukan aktifitasnya baik itu harian, mingguan
bulanan maupun tahunan dibawah bimbingan dan komando dari para pengawas pendidikan,
dalam hal ini bisa saja oleh ketua yayasan atau orang yang ditunjuk sebagai tim penasehat
sekolah. Kepala sekolah juga mendapatkan komando dari kepala bidang pendidikan, baik itu
dari tingkat gabungan sekolah maupun dari kabupaten.
Para pengawas pendidikan dan kepala bidang pendidikan mendapatkan bimbingan
dan komando kepala kantor wilayah pendidikan yang berada di provinsi. Selain itu, pengawas
dan kepala bidang pendidikan dalam melakukan tugas-tugasnya diharapkan akan saling
berkonsultasi, sehingga tugas-tugas yang menjadi kewajiban baik itu untuk kepala sekolah
maupun pengawas dan kepala bidang pendidikan dapat diselesaikan dengan baik.

G. SUPERVISI OLEH PENGAWAS


Secara struktural para pengawas melakukan supervisi ke sekolah atas nama Kanwil
dan Kepala Bidang. Tiap pengawas berwenang melaksanakan supervisi sesuai dengan banyak
sekolah yang menjadi tugasnya.
Hasil supervisi disampaikan keapada Kepla Bidang Pendidikan untuk dianalisis
dibantu oleh Pengawas yang bersangkutan. Pengolahaanya dilakukan terhadap yang
berhubungan dengan kurikulum, ketenagaan dan sarana. Hasil pengolahan disampaikan
kepada yang berkepentingan untuk ditindak lanjuti dengan tembusan kepada pengawas.

H. SUPERVISI OLEH KEPALA SEKOLAH ATAU MADRASAH


Kepala sekolah selaku pemimpin pendidikan, mempunyai tugas dan tanggung jawab
yang sangat berat yakni selain sebagai administrator pendidikan ia juga melaksanakan fungsi
selaku supervisor pendidikan. Kedua fungsi inilah yang merupakan tugas pokok yang harus
dilaksanakan oleh seorang kepala sekolah selama dalam jabatannya. Tugas selaku supervisor
terutama ialah menolong, membantu dan memberikan pelayanan kepada guru-guru secara
kontinyu sehingga dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam melaksanakan
proses belajar mengajar yang lebih baik, efektif dan efisien. Dalam hal ini peranan kepala
sekolah selaku supervisor ia harus mampu memberikan dorongan (motivating) dan support
(supporting), membantu (assisting) dan bekerjasama (shering) dengan guru-guru yang
dipimpinnya agar mereka lebih bergairah untuk mencapai prestasi kerja yang lebih produktif
guna terwujudnya tujuan supervisi pendidikan di sekolah yang lebih berdaya guna dan
berhasil guna. Untuk itu, kepala sekolah dalam melaksanakan fungsinya selaku supervisor
pendidikan harus mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Tugas-tugas tersebut
menurut M. Rifai, MA, antara lain disebutkan sebagai berikut :
1. Membantu stafnya memilih dan menyusun program dalam rangka “pupils-growth”, antara
lain:
(a) Membantu guru-guru memilih program pendidikan yang sesuai dan dibutuhkan oleh murid-
muridnya pada tingkat-tingkat perkembangan tertentu;
(b) Membantu mengembangkan kesanggupan mengobservasi dan kesanggupan-kesanggupan
lainnya diperlukan oleh guru untuk memperoleh data dari murid-muridnya;
(c) Membantu guru untuk menyadari bahwa perbedaan-perbedaan antara murid-murid
merupakan hal yang wajar dan karena itu tiap murid-murid masing-masing perlu mendapat
perhatian dan perlakuan yang wajar/cukup;
(d) Membantu untuk selalu menyadari bahwa murid belajar disebabkan adanya kebutuhan
(need), dan pelajaran yang diberikan kepadanya tidak akan diterima dengan baik jika tidak
sesuai dengan “need” itu;
(e) Membantu guru-guru mengembangkan kecakapannya untuk mengetahui “need” murid-murid
itu, dan jika perlu untuk dapat menimbulkannya.
2. Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan ketrampilannya dalam mengajar, dengan
cara:
(a) Mengadakan kunjungan-kunjungan kelas secara teratur, dan berencana;
(b) Membuat catatan-catatan tentang kunjungan-kunjungan itu yang kemudian dijadikan bahan
pembicaraan dalam pertemuan-pertemuan;
(c) Menyarankan kepada guru-guru menggunakan metode dan alat pelajaran yang lebih
progresif dan produktif;
(d) Mengadakan rapat-rapat sekolah secara teratur yang ditujukan kepada pemecahan masalah-
masalah PBM;
(e) Mencarikan bantuan tenaga ahli (konsultan, resoucers person = nara sumber) untuk hal-hal
yang kiranya kurang dikuasainya.

3. Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan
program pendidikan umumnya.
(a) Semua data mengenai kunjungan kelas, rapat guru dikumpulkan secara teratur untuk
kemudian digunakan sebagi data evaluasi;
(b) Menyusun rencana evaluasi untuk tiap masa tahun ajaran baru;
(c) Menambah data evaluasi dengan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data yang dapat
dilaksanakan di sekolah, baik dari staf maupun dari murid-murid;
(d) Mengadakan pertemuan dengan stafnya baik secara perorangan maupun kelompok untuk
membicarakan bersama hasil-hasil pengumpulan data itu secara efektif.
(e) Mendorong dan membantu anggota stafnya untuk mengadakan “self-evaluation”, usaha
mengevaluasi diri sendiri.

Tugas kepala sekolah selaku supervisor ini lebih khusus dikemukakan oleh Dr. S.
Nasution (ed) sebagai berikut:
1. Membantu guru atau guru-guru merencanakan dan melaksanakan tugas-tugas diluar sekolah
(diluar waktu mengajar), diantaranya:
(a) Merumuskan tujuan-tujuan pengajaran secara khusus;
(b) Merencanakan program testing dan menyusun tes-tes yang baik;
(c) Menganalisis hasil tes dan rencana untuk mengadakan remedial teaching (penyembuhan
kesulitan belajar);
(d) Mendorong dan mengikut-sertakan guru-guru dalam mempelajarai kurikulum;
(e) Membantu mengumpulkan bahan-bahan pelajaran yang terpilih;
(f) Membantu menyediakan buku-buku pelajaran;
(g) Membantu mengembangkan prosedur-prosedur pengajaran;
(h) Mendorong guru-guru mengadakan kunjungan satu sama lain baik di sekolah maupun di luar
sekolah;
(i) Membantu menggunakan sumber-sumber yang ada dalam masyarakat;
(j) Membantu mempelajari cara-cara hidup masyarakat, sehingga dapat memperkaya
pengajaran;
(k) Mengadakan workshop;
(l) Membimbing guru-guru mengadakan studi yang sistematis terhadap anak-anak yang
mendapat kesulitan-kesulitan;
(m) Membantu menggunakan catatan-catatan anekdot;
(n) Membantu mengusahakan alat-alat peraga.

2. Bekerjasama dengan guru kelas, dengan cara :


(a) Mengadakan observasi tatkala guru sedang mengajar, kemudian diikuti dengan diskusi untuk
perbaikan;
(b) Membantu guru-guru memelihara kelas;
(c) Membantu menganalisis kebutuhan-kebutuhan, minat dan tujuan-tujuan murid dalam kelas;
(d) Membantu guru mempergunakan alat-alat khusus, misalnya menggunakan tes dengan
manksud mengadakan diagnosis kesulitan belajar mengajar;
(e) Membantu menggunakan alat-alat pelajaran;
(f) Membantu mengadakan percobaan-percobaan atau demonstrasi-demonstrasi;
(g) Membantu menggunakan macam-macam alat penilaian;
(h) Membantu guru menggunakan cara-cara mengajar yang baru;
(i) Membantu guru menggunakan hasil-hasil penelitian orang lain.

3. Membantu guru-guru pada waktu pertemuan:


(a) Mengadakan pertemuan atau diskusi setelah kunjungan kelas. Saran-saran yang positif perlu
diberikan dengan harapan, dapat menambah semangat kerja untuk meningkatkan pendidikan.
(b) Pertemuan membicarakan laporan guru tentang kesukaran-kesukaran dan masalah yang
dihadapi yang memerlukan pemecahan bersama.

4. Kerjasama dengan guru-guru di luar kegiatan sekolah :


(a) Membantu guru untuk memasuki pertemuan profesional, seperti pertemuan guru-guru atau
PGRI;
(b) Menyarankan membaca majalah atau selebaran yang berkenaan dengan guru;
(c) Membantu guru-guru dalam memilih mata-pelajaran bila mereka meneruskan pelajaran atau
mengikuti kursus-kursus.

Yang terpenting dalam pelaksanaan tugas kepala sekolah sebagai supervisor


pendidikan ialah usaha untuk meningkatkan kemampuan (kualitas guru-guru) dalam
pertumbuhan jabatannya. Tetapi, hal ini dapat terlaksana dengan baik apabila Kepala sekolah
itu sendiri memiliki kemauan dan kemampuan untuk meningkatkan dirinya sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang khususnya dalam
bidang pendidikan. Ia tidak akan berhasil apabila sikap dan tingkah laku yang dianjurkan
kepada guru yang dipimpinnya, ternyata tidak terdapat pada dirinya.

http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2009/03/30/pentingnya-supervisi-pendidikan-sebagai-
upaya-peningkatan-profesionalisme-guru/
http://tristiono.wordpress.com/2009/03/16/supervisi-pendidikan/
http://janganasaltahu.blogspot.com/2012/10/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
http://yosiabdiantindaon.blogspot.com/2012/05/pengertian-supervisi-pendidikan.html
http://totoyulianto.wordpress.com/2013/12/12/pengertian-supervisi-pendidikan/
http://adhyibnu.blogspot.com/2012/05/babi-pendahuluan-sesuai.html
http://allegarut.blogspot.com/2013/07/pengertian-supervisor.html
Dikutip dalam buku Administrasi dan Supervisi Pendidikan, jilid 2, (M.Moh.Rifai, MA, 1982:18-
20)
http://kareba-toraja.blogspot.com/2012/10/administrasi-dan-supervisi-pendidikan_31.html