Anda di halaman 1dari 62

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CEREBRO


VASCULAR ACCIDENT DENGAN MASALAH KONSTIPASI DI
RUMAH SAKIT PANTI WALUYA MALANG

Telah disetujui untuk dilakukan penelitian

Oleh:
Venty Zuliana
NIM. 151324

PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN PANTI WALUYA MALANG
2017

i
HALAMAN PERNYATAAN

Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini:

Nama : Venty Zuliana

NIM : 12.1324

Institusi : Akademi Keperawatan Panti Waluya Malang

Menyatakan bahwa Proposal Karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan

Keperawatan Pada Klien Cerebro Vascular Accident dengan Masalah Konstipasi

di Rumah Sakit Panti Waluya Malang” adalah bukan proposal karya tulis ilmiah

orang lain, baik sebagian maupun keseluruhan, kecuali dalam bentuk kutipan yang

telah disebutkan sumbernya.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila

pernyataan ini tidak benar, saya bersedia mendapatkan sanksi yang ditentukan

oleh akademis.

Malang, 5 Desember 2017

Yang membuat pernyataan

(Venty Zuliana)

NIM: 151324

ii
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN CEREBRO VASCULAR ACCIDENT
DENGAN MASALAH KONSTIPASI DI
RUMAH SAKIT PANTI WALUYA MALANG

Untuk Memenuhi Persyaratan Dilanjutkan Penelitian

Oleh :

Venty Zuliana

NIM : 15.1324

Telah diuji di dewan penguji proposal dan disetujui untuk dilanjutkan penelitian Pada

Hari/Tanggal :

5 Desember 2017

Pembimbing I Pembimbing II Pembimbing III

(Wibowo, S.Kep., Ns. M.Biomed) (Ns. Nanik Dwi Astutik, S.Kep., M.Kep) (Fitria Hayati, S.Kep., Ns)

iii
Mengetahui,

Direktur

Akademi Keperawatan Panti Waluya Malang

(Maria Magdalena Setyaningsih, Ns., Sp.Kep. Mat)

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasih-Nya penulis

dapat menyelesaikan proposal karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan

Keperawatan Pada Klien Cerebro Vascular Accident dengan Masalah Konstipasi

di Rumah Sakit Panti Waluya Malang”. Penulis membuat proposal ini untuk

memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Ahli Madya

Keperawatan Akademi Keperawatan Panti Waluya. Penyusunan proposal ini,

peneliti telah banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Maria Magdalena Setyaningsih, Ns.Sp.Kep.Mat selaku Direktur

Akademi Keperawatan Panti Waluya Malang yang telah memberikan

kesempatan untuk menggunakan fasilitas Akademi Keperawatan Panti

Waluya Malang
2. Bapak Wibowo, S.Kep., Ns. M.Biomed selaku pembimbing 1, yang telah

memberikan bimbingan, saran, ide untuk penyusunan proposal ini.


3. Ibu Ns. Nanik Dwi Astutik, S.Kep., M.Kes selaku pembimbing 2 yang

telah memberikan bimbingan dan saran untuk penyusunan proposal ini.


4. Ibu Fitria Hayati, S.Kep., Ns selaku pembimbing 3 yang telah memberikan

saran dan bersedia membimbing penulis untuk penyusunan proposal ini.


5. Bapak Ibu dosen Akademi Keperawatan Panti Waluya Malang yang

selama pendidikan 3 tahun ini yang telah membimbing saya dalam belajar.
6. Kedua orang tua saya ibu Ruliyah dan bapak Purwandi yang senantiasa

memberikan semangat dan dorongan selama penulisan karya proposal tulis

ilmiah ini.

v
vi

7. Semua teman-teman Akademi Keperawatan Panti Waluya Malang yang

telah memberikan banyak bantuan, semangat, dan dorongan untuk

penulisan proposal karya tulis ilmiah ini.


8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah

membantu penulisan proposal karya tulis ilmiah ini.

Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan proposal karya tulis ilmiah ini

jauh dari sempurna. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran

yang bersifat membangun demi sempurnanya penelitian ini.

Malang, 5 Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………….....……………………….. i
HALAMAN PERNYATAAN..................................................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN...............................................................................iii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iv
DAFTAR ISI...........................................................................................................vi
DAFTAR BAGAN.................................................................................................vii
DAFTAR TABEL.................................................................................................viii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1. Latar Belakang...........................................................................................1
1.2. Batasan Masalah........................................................................................5
1.3. Rumusan Masalah......................................................................................5
1.4. Tujuan........................................................................................................5
1.5. Manfaat......................................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................8
2.1. Konsep Cerebro Vascular Accident...........................................................8
2.2. Konsep Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident.....................19
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Cerebro Vascular Accident
dengan Masalah Konstipasi.....................................................................35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..............................................................52
3.1. Desain Penelitian.....................................................................................52
3.2. Batasan Istilah..........................................................................................52
3.3. Partisipan.................................................................................................53
3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian....................................................................53
3.5. Pengumpulan Data...................................................................................53
3.6. Uji Keabsahan Data.................................................................................54
3.7. Analisis Data............................................................................................54
3.8. Etik Penelitian..........................................................................................55
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................56
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Pathway Konstipasi pada Cerebro Vascular Accident ................. 25


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan pada Klien Cerebro Vascular Accident dengan
Konstipasi.........................................................................................… 47
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bristol Stool Chart ……………………………...………………… 28

Gambar 2.2 gerakan latihan fleksi dan ekstensi lutut……………...…………… 33

Gambar 2.3 latihan gerak kaki……………………………………………... 33


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cerebro Vascular Accident (CVA) atau yang biasa disebut stroke merupakan

kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang disebabkan karena gangguan

peredaran darah otak. Menurut WHO gangguan fungsi otak fokal (global) yang

berlangsung selama 24 jam atau lebih pada stroke sering menyebabkan cacat

berupa kelumpuhan anggota gerak , gangguan bicara , proses berpikir daya ingat ,

dan bentuk-bentuk kecacatan yang lain sebagai akibat gangguan fungsi otak

(Muttaqin, 2011)

Cerebro Vascular Accident terjadi karena kerusakan dinding pembuluh darah di

otak. Sebagian besar kerusakan ini diakibatkan karena adanya proses penyempitan

pembuluh darah yang ada di otak yang disebabkan oleh faktor umur, jenis

kelamin, hipertensi, hiperglikemia, hiperkolesterolemia, kepribadian dan merokok

(Kosasih,dkk, 2015). Kerusakan dinding pembuluh darah di otak dapat

disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh darah, sumbatan

dan penyempitan atau pecahnya pembuluh darah, semua ini menyebabkan

kurangnya pasokan darah yang memadai (Irfan, 2010).

Bahan plak memicu mekanisme pembekuan yang mempengaruhi saraf intramural

bagian pleksus sistem saluran cerna, stimulasi simpatis dan parasimpatis yang

dapat mempengaruhi aktivitas gastrointestinal untuk meningkatkan atau

menurunkan aktivitas sistem saraf enterik usus (Prastya, 2013). Hambatan pada

otot polos abdomen dan neuron system saraf enterik menimbulkan penurunan
peristaltik usus yang berdampak pada gangguan pasase feses yang membuat feses

lebih lama di dalam kolon sehingga lebih keras dan sulit dikeluarkan dari anus

karena proses reabsorbsi air banyak terjadi di kolon yang menyebabkan konstipasi

(Guyton & Hall, 2010).

Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 7

per mil dan yang terdiagnosis tenaga kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil.

Prevalensi Stroke berdasarkan diagnosis nakes tertinggi di Sulawesi Utara

(10,8‰), diikuti DI Yogyakarta (10,3‰), Bangka Belitung dan DKI Jakarta

masing-masing 9,7 per mil. Prevalensi Stroke berdasarkan 92 terdiagnosis nakes

dan gejala tertinggi terdapat di Sulawesi Selatan (17,9‰), DI Yogyakarta (16,9‰),

Sulawesi Tengah (16,6‰), diikuti Jawa Timur sebesar 16‰ (Riskesdas, 2013).

Data yang didapatkan dari rekam medik RS Panti Waluya Sawahan Malang

tentang jumlah penderita stroke yang dirawat inap dari bulan Mei 2016 – Mei

2017 sebanyak 89 orang.

Fenomena yang penulis temukan ketika praktek klinik pada 13-25 Februari 2017

di Ruang Martha Paviliun RS Panti Waluya, dari 6 klien penderita stroke 4 klien

diantaranya mengalami kesulitan defekasi. Hal ini mungkin terjadi karena klien

jarang bergerak dan fungsi neurologisnya menurun sehingga gerakan peristaltik

pada usus berkurang yang menimbulkan konstipasi.

Konstipasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor resiko diantaranya peningkatan

usia, obat-obatan, kurangnya asupan serat dan cairan sehari-hari (Murakami dkk,

2007). Dari beberapa faktor tersebut penyebab tersering konstipasi adalah asupan
serat dan cairan yang kurang. Hal ini biasanya dialami pada penderita stroke

karena penurunan kemampuannya dalam makan dan minum. Konsumsi serat yang

kurang akan mengakibatkan seseorang mengalami sembelit atau konstipasi

(Muchtadi, 2009). Menurut Driskell & Garris (2009) dehidrasi (kurang cairan)

kronis akan dapat berakibat terjadinya konstipasi. Serat membantu pengeluaran

feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan memberi bentuk pada feses.

Selulosa dalam serat makanan mengatur peristaltik usus, sedangkan hemiselulosa

dan pektin mampu menyerap banyak air dalam usus besar, sehingga memberi

bentuk pada sisa makanan yang akan dikeluarkan (Raissa, 2012).

Selain asupan serat dan cairan, konstipasi juga bisa disebabkan oleh gangguan

fungsional dan kognitif yang berpengaruh pada sistem sensorik dan motorik

penderita stroke. Gangguan tersebut mengakibatkan penderita akan mengalami

immobilisasi yaitu ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai

penyakit atau impairment (gangguan pada alat atau organ tubuh) yang bersifat

fisik atau mental. Pasien stroke dengan gangguan mobilisasi hanya berbaring saja

tanpa mampu untuk mengubah posisi karena keterbatasan tersebut. Pasien dengan

immobilisasi akan mengakibatkan perubahan pada fungsi fisiologis. Bahaya

fisiologis akan mempengaruhi fungsi metabolisme normal, menurunkan laju

metabolisme dan menyebabkan gangguan gastrointestinal seperti nafsu makan dan

penurunan peristaltik dengan konstipasi. Immobilisasi yang lama akan

menyebabkan penurunan motilitas usus sehingga berdampak pada gangguan

pasase feses. Feses yang berada lebih lama di dalam kolon akan menjadi lebih

keras sehingga lebih sulit dikeluarkan dari anus sehingga terjadi defekasi tidak
tuntas, mengedan dan membutuhkan waktu yang lama saat buang air besar.

Konstipasi yang tidak ditangani dan berlangsung lama dapat menimbulkan

beberapa komplikasi, antara lain: hipertensi arterial, impaksi fekal yang parah

sehingga mengakibatkan obstruksi usus yang termasuk dalam peristiwa

kegawatan, fisura ani serta megakolon yang memerlukan tindakan operasi untuk

penyembuhannya agar tidak terjadi perforasi usus (Guy et al, 2013; Tania dkk,

2014; Manurung, 2015).

Konstipasi dapat beresiko pada pasien Cerebro Vascular Accident dimana

regangan ketika defikasi dapat menyebabkan stress pada abdomen, peregangan

sering disertai dengan tertahannya nafas, hal ini dapat meningkatkan intrakranial

dan intratorakal. Mengedan selama defekasi merupakan kontraindikasi pada

pasien resiko peningkatan intrakranial seperti pasien Cerebro Vascular Accident

karena bisa berakibat terjadinya valsava manuver yang bisa mengakibatkan

kematian (Umah&Syafi’i, 2014).

Sebagai perawat, pertolongan kesehatan yang dapat diberikan adalah memberikan

asuhan keperawatan kepada klien dengan pendekatan preventif, kuratif,

rehabilitatif dan kolaboratif agar masalah klien terselesaikan dan tidak bertambah

parah. Selain itu, melakukan intervensi berupa ROM pasif dan pemberian air

putih hangat. Oleh karena itu, penulis menulis karya tulis ilmiah yang berjudul

“Asuhan Klien Cerebro Vascular Accident dengan Masalah Konstipasi di Rumah

Sakit Panti Waluya Malang”.

1.2. Batasan Masalah


Masalah dalam karya tulis ilmiah ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Pada

Klien Cerebro Vascular Accident dengan Masalah Konstipasi di Rumah Sakit

Panti Waluya Malang.

1.3. Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Asuhan Keperawatan Pada Klien

Cerebro Vascular Accident dengan Masalah Konstipasi di Rumah Sakit Panti

Waluya Malang?

1.4. Tujuan
1.4.1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian karya tulis ilmiah ini adalah untuk melakukan asuhan

keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah konstipasi

di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.


1.4.2. Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.


2) Menetapkan diagnosis keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.


3) Menyusun perencanaan keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.


4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi Rumah Sakit Panti Waluya Malang.


5) Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

1.5. Manfaat

1.5.1. Manfaat Teoritis


1) Bermanfaat untuk pengembangan ilmu keperawatan yang preventif, kuratif,

rehabilitatif dan kolaboratif di bidang perawatan pada klien Cerebro


Vascular Accident dengan berbagai masalah atau perubahan, salah satunya

masalah konstipasi.
2) Sebagai bahan rujukan penelitian tentang pemberian asuhan keperawatan

yaitu pemberian ROM pasif dan pemberian air putih hangat pada klien

Cerebro Vascular Accident dengan masalah konstipasi.


1.5.2. Manfaat Praktis
1) Bagi Perawat
Meningkatkan kinerja perawat dalam mengatasi masalah keperawatan

konstipasi pada klien Cerebro Vascular Accident, baik dalam hal pencegahan

maupun menanggulangi masalah keperawatan yang telah terjadi.


2) Bagi Rumah Sakit
Sebagai masukan bagi Rumah Sakit Panti Waluya Malang dalam memberikan

asuhan keperawatan yang optimal bagi pasien dan hasil penelitian dapat

digunakan dalam rangka upaya penatalaksanaan terhadap masalah konstipasi

pada pasien Cerebro Vascular Accident di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.
3) Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat memotivasi mahasiswa untuk lebih

mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian yang lebih inovatif lagi

dan dapat dijadikan sumber referensi baru bagi mahasiswa tentang intervensi

untuk mengatasi konstipasi pada pasien Cerebro Vascular Accident.


4) Bagi Klien
Melalui penelitian ini membantu klien untuk mengatasi masalahnya dan

mengurangi resiko bertambah buruknya prognosis kondisi Cerebro Vascular

Accident karena konstipasi.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini, penulis akan menjelaskan tentang teori “Konstipasi pada Klien

Cerebro Vascular Accident ”. Pada bab ini juga akan disajikan materi sebagai

berikut: konsep Cerebro Vascular Accident , konsep konstipasi pada klien Cerebro

Vascular Accident , dan asuhan keperawatan Cerebro Vascular Accident dengan

masalah konstipasi.

2.1. Konsep Cerebro Vascular Accident

2.1.1 Definisi Cerebro Vascular Accident

Cerebro Vascular Accident (CVA) atau yang biasa disebut stroke, adalah

suatu kondisi yang terjadi ketika aliran darah menuju suatu bagian di otak

terganggu atau terhenti akibat tersumbatnya atau pecahnya pembuluh

darah di otak (Hariyanto, 2015). Menurut WHO, Cerebro Vascular

Accident adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat

gangguan fungsi fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang

berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa

adanya penyebab lain yang jelas selain vascular (Muttaqin, 2011).

2.1.2 Klasifikasi Cerebro Vascular Accident


1) Klasifikasi Cerebro Vascular Accident dibedakan menurut patologi

dari serangan Cerebro Vascular Accident meliputi:


a) Cerebro Vascular Accident Hemoragik
Cerebro Vascular Accident hemoragik adalah disfungsi neurologis

fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi

otak yang terjadi secara spontan bukan oleh trauma kapitis,


disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri, vena, dan

kapiler (Muttaqin, 2011).


Stroke hemoragik dibagi menjadi 2, yaitu :

(1) Perdarahan intraserebral (PIS) : Perdarahan primer yang

berasal dari pembuluh darah dalam parenkim otak.

(2) Perdarahan subaraknoid (PSA) : Suatu keadaan terdapatnya

atau masuknya darah ke dalam ruangan subaraknoid karena

pecahnya aneurisma atau sekunder dari perdarahan intra

serebral.

(Junaidi, 2011)

b) Cerebro Vascular Accident Nonhemoragik / Iskemik


CVA nonhemoragik / iskemik merupakan stroke yang terjadi

akibat pembuluh darah tersumbat sehingga menyebabkan aliran

darah ke otak terhenti sebagian atau seluruhnya. CVA jenis ini

merupakan kasus yang paling sering terjadi yaitu sekitar 80% dari

seluruh kasus CVA (Muttaqin, 2011, La Ode, 2012). Klasifikasi

Cerebro Vascular Accident iskemik menurut perjalanan penyakit

atau stadiumnya, yaitu :


(1) Transient Ischemic Attack (TIA)
Serangan iskemik transient sering disebut TIA .Gangguan

neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai

beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan

spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam (La

Ode, 2012).
(2) Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) terjadi selama

lebih dari 24 jam, tetapi dapat sembuh setelah 2 minggu tanpa


ada gejala Cerebro Vascular Accident yang tertinggal (La Ode,

2012).
(3) Cerebro Vascular Accident In Evolution (SIE) / Progresssing

Cerebro Vascular Accident


Perkembangan stroke terjadi perlaha-lahan sampai akut,

munculnya gejala makin memburuk, proses progresif berjalan

dalam beberapa jam atau beberapa hari (Smeltzer, dkk, 2012).


(4) Completed Cerebro Vascular Accident
Completed Cerebro Vascular Accident merupakan kelainan

neurologis yang sudah menetap atau permanent, dari sejak

awal serangan dan sedikit tidak ada perbaikan (Smeltzer, dkk,

2012).
2.1.3 Etiologi Cerebro Vascular Accident
Menurut Muttaqin (2011) penyebab dari Cerebro Vascular Accident antara

lain :
1) Trombosis Serebri.
Trombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi

sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat

menimbulkan edema dan kongesti di sekitarnya (Muttaqin, 2011).


2) Emboli serebri
Emboli serebri merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh

bekuan darah, lemak, dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari

thrombus di jantung yang terlepas dan menyumbat sistem arteri

serebri (Muttaqin, 2011).


3) Hemoragik.
Perdarahan intrakranial dan intraserebri meliputi perdarahan di dalam

ruang subarachnoid atau di dalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini

dapat terjadi karena aterosklerosis dan hipertensi. Pecahnya pembuluh

darah otak menyebabkan perembesan darah ke dalam parenkim otak

yang dapat mengakibatkan penekanan, pergeseran, dan pemisahan


jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan membengkak,

jaringan otak tertekan sehingga terjadi infark otak, edema, dan

mungkin herniasi otak (Muttaqin, 2011).


Faktor risiko vaskuler dari penyebab Cerebro Vascular Accident menurut

Wijaya & Putri (2013) dan Muttaqin (2011) antara lain :


1) Hipertesi
2) Penyakit kardiovaskuler
3) Diabetes Mellitus
4) Merokok
5) Alkoholik
6) Peningkatan Kolestrol
7) Obesitas
8) Peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral.
9) Riwayat kesehatan keluarga adanya Cerebro Vascular Accident
10) Umur (insiden ini meningkat sejalan dengan meningkatnya umur)
11) Stress Emosional
2.1.4 Manifestasi Klinis Cerebro Vascular Accident
Gejala khusus pada pasien Cerebro Vascular Accident antara lain :
1) Kehilangan motorik
Cerebro Vascular Accident adalah penyakit motor neuron atas dan

mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap gerakan motorik,

misalnya :
a) Hemiplegia(paralisis pada salah satu sisi tubuh)
b) Hemiparesis (kelemahan pada salah satu sis tubuh)
c) Menurunnya tonus otot abnormal
(Wijaya & Putri, 2013)
2) Kehilangan komunikasi
Fungsi otak yang dipengaruhi oleh Cerebro Vascular Accident adalah

bahasa dan komunikasi, misalnya :


a) Disartria, yaitu kesulitan berbicara yang ditunjukan dengan bicara

yang sulit dimengerti yang disebabkan oleh paralisis otot yang

bertanggung jawab untuk menghasilkan bicara.


b) Disfasia atau afasia atau kehilangan bicara yang terutama

ekspresif/represif.
c) Apraksia yaitu ketidakmampuan untuk melakukan tindakan yang

dipelajari sebelumnya.
(Smeltzer & Bare, 2008)
3) Gangguan persepsi
a) Homonimus hemianopsia, yaitu kehilangan setengah lapang pandang

dimana sisi visual yang terkena berkaitan dengan sisi tubuh yang

paralisis.
b) Amorfosintesis, yaitu keadaan dimana cenderung berpaling dari sisi

tubuh yang sakit dan mengabaikan sisi ruang yang sakit tersebut.
c) Gangguan hubungan visual spasia, yaitu gangguan dalam

mendapatkan hubungan dua atau lebih objek dalam area spasial.


d) Kehilangan sensori, antara lain tidak mampu merasakan posisi dan

gerakan bagian tubuh (kehilangan proprioseptik) sulit

menginterpretasikan stimulasi visual, taktil, auditorius.


(Wijaya & Putri, 2013)
Menurut Smeltzer,dkk (2012) gejala lain pada pasien Cerebro Vascular

Accident antara lain :


a) Kerusakan fungsi kognitif dan efek psikologik, bila kerusakan pada

lobus frontal, mempelajari kapasitas, memori atau fungsi intelektual

mungkin terganggu. Disfungsi ini dapat muncul dalam lapang

perhatian terbatas, kesulitan dalam pemahaman, lupa dan kurang

motivasi.
b) Disfungsi kandung kemih, setelah stroke pasien mungkin mengalami

inkontinensia urine karena kerusakan kontrol motorik


2.1.5 Patofisiologi Cerebro Vascular Accident
Aliran darah yang membawa glukosa dan oksigen ke otak sangat penting

bagi kehidupan dan metabolisme sel-sel otak. Otak sangat tergantung

kepada oksigen dan otak tidak mempunyai cadangan oksigen apabila tidak

adanya suplai oksigen maka metabolisme di otak mengalami perubahan,

kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi dalam waktu 3 sampai

10 menit. Iskemia dalam waktu lama menyebabkan sel mati permanen dan

berakibat menjadi infark otak yang disertai odem otak sedangkan bagian

tubuh yang terserang stroke secara permanen akan tergantung kepada


daerah otak mana yang terkena. Ada beberapa kelainan yang diduga

merupakan penyebab stroke. Akan tetapi aterosklerosis diduga sebagai

penyebab primer dari penyakit stroke. Aterosklerosis merupakan bentuk

pengerasan pembuluh darah arteri. Aterosklerosis merupakan kumpulan

perubahan patologis pada pembuluh darah arteri, seperti hilangnya

elastisitas dan penyempitannya lumen pembuluh darah (Junaidi, 2011).


Trombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah dan terbawa sebagai

emboli dalam aliran darah. Thrombus mengakibatkan iskemia jaringan

otak pada area yang disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan serta

edema dan kongesti area sekitar. Karena thrombosis biasanya tidak fatal,

jika tidak terjadi perdarahan massif. Oklusi pada pembuluh darah serebri

oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Jika

terjadi infeksi sepsis akan meluas pada dinding pembuluh darah, maka

akan terjadi abses atau ensefalitis, atau jika sisa infeksi berada pada

pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma

pembuluh darah. Hal ini menyebabkan perdarahan serebri, jika aneurisma

pecah atau ruptur (Muttaqin, 2011).


Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh rupture aterosklerotik dan

hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebri yang sangat luas akan

menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan penyakit

serebrovaskular, karena perdarahan yang luas terjadi destruksi massa otak,

peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat menyebabkan

herniasi otak pada falks serebri lewat foramen magnum. Selain kerusakan

parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relative banyak akan

mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial dan menyebabkan


menurunnya tekanan perfusi otak serta terganggunya drainase otak

(Muttaqin, 2011).
2.1.6 Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang diperlukan dalam membantu menegakkan

diagnosis klien Cerebro Vascular Accident meliputi :


1) Angiografi serebral
Membantu menentukan penyebab dari Cerebro Vascular Accident

secara spesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya rupture dan

untuk mencari sumber perdarahan seperti aneorisma atau malformasi

vaskuler (Muttaqin, 2011).


2) Lumbal pungsi
Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan lumbal

menunjukan adanya hemoragik pada subarachnoid atau perdarahan

pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukan adanya

proses inflamasi. Hasil pemeriksaan likuor yang merah biasanya

dijumpai pada perdarahan yang masif , sedangkan perdarahan yang

kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokom) sewaktu hari-

hari pertama (Muttaqin, 2011).


3) Computer Tomografi Scan (CT-Scan)
Mengetahui adanya tekanan normal dan adanya thrombosis, emboli

serebral, dan tekanan intrakranial (TIK). Peningkatan TIK dan cairan

yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan subarachnoid

dan perdarahan intracranial (Batticaca, 2008).


4) Magnetic Resonance Image (MRI)
Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi

serta besar/luas terjadinya perdarahan otak. Hasil pemeriksaan

biasanya didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari

hemoragik (Muttaqin, 2011).


5) USG Doppler
Mengidentifikasi penyakit arteriovena(masalah system karotis aliran

darah atau timbulnya plak) dan arterosklerosis (Batticaca, 2008).


6) EEG (electroencephalogram)
Mengidentifikasi masalah pada gelombang otak dan memperlihatkan

daerah lesi yang spesifik (Batticaca, 2008).


7) Pemeriksaan Laboratorium menurut Batticaca (2008) dan Muttaqin

(2011) antara lain:


a) Pemeriksaan darah rutin
b) Pemeriksaan kimia darah : pada Cerebro Vascular Accident

serangan akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat

mencapai 250mg/dl dan kemudian berangsur-angsur turun kembali.


c) Pemeriksaan darah lengkap : untuk mencari kelainan darah itu

sendiri.
d) Urine rutin
e) Analisa Gas Darah
f) Elektrolit.
2.1.7 Komplikasi Cerebro Vascular Accident
Menurut Hariyanto & Sulistyowati (2015) klien yang mengalami Cerebro

Vascular Accident rentan terhadap komplikasi seperti :


1) Peningkatan tekanan intrakranial
2) Disritmia jantung
3) Kontraktur
4) Immobilisasi yang dapat menyebabkan infeksi pernapasan decubitus

dan konstipasi
5) Paralisis yang dapat menyebabkan nyeri kronis, risiko jatuh, atropi.
6) Kejang akibat kerusakan/ gangguan pada listrik otak.
7) Nyeri kepala kronis seperti migraine
8) Malnutrisi
2.1.8 Penatalaksanaan Cerebro Vascular Accident
1) Penatalaksanaan umum pada klien Cerebro Vascular Accident

menurut Batticaca (2008) dan Muttaqin (2011) sebagai berikut :


a) Berusaha menstabilkan tanda tanda vital dengan:
(1) Mempertahankan saluran nafas paten, yaitu sering lakukan

penghisapan lendir, bila perlu berikan oksigen 1-2 liter/menit

bila ada hasil gas darah, kalau perlu lakukan trakeostomi;


(2) Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi klien, termasuk

usaha memperbaiki hipertensi dan hipotensi;


(3) Suhu tubuh harus dipertahankan.
b) Berusaha menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
c) Posisi kepala dan badan atas 200 -300, posisi lateral dekubitus bila

disertai muntah. Boleh dimulai mobilisasi bertahap bila

hemodinamik stabil. Posisi klien harus diubah tiap 2 jam.


d) Kandung kemih yang penuh dikosongkan dengan kateter
e) Nutrisi per oral hanya diberikan setelah tes fungsi menelan baik,

bila terdapat gangguan menelan atau pasien yang kesadaran

menurun dianjurkan menggunakan selang NGT


f) Mobilisasi dan rehabilitasi dini jika tidak ada kontraindikasi.
2) Penatalaksanaan pengobatan konservatif pada klien Cerebro Vascular

Accident menurut Carpenito (2013) sebagai berikut :


a) Diuretika : menurunkan edema serebral, yang mencapai tingkat

maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.


b) Antikoagulan : mencegah memberatnya thrombosis dan embolisasi

dari tempat lain dalam sistem kardiovaskular.


c) Antitrombosit : dapat diresepkan karena trombosit memainkan

peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.

2.2. Konsep Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident

2.2.1 Definisi Konstipasi

Menurut Stanley (2007), konstipasi adalah suatu penurunan frekuensi

pergerakan usus yang disertai dengan perpanjangan waktu dan kesulitan

pergerakan feses. Sembelit atau konstipasi merupakan keadaan

tertahannya feses (tinja) dalam usus besar pada waktu cukup lama karena

adanya kesulitan dalam pengeluaran. Hal ini terjadi akibat tidak adanya
gerakan peristaltik pada usus besar sehingga memicu tidak teraturnya

buang air besar dan timbul perasaan tidak nyaman pada perut (Akmal,

dkk, 2010). Menurut Alimul & Uliyah (2015), konstipasi adalah keadaan

individu yang mengalami atau berisiko tinggi mengalami stasis usus besar

sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras,atau keluarnya

tinja terlalu kering dan keras.

2.2.2 Etiologi Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident

1) Umur
Stroke paling banyak menyerang pada usia lanjut. Perubahan fungsi

digestif dan absorbsi nutrisi terjadi pada usia lanjut lebih disebabkan

karena gangguan pada sistem neurologis,daripada sistem pencernaan

itu sendiri. Pada usia lanjut, masalah konstipasi terjadi lebih sering

daripada individu yang lebih muda, hal ini disebabkan pada usia lanjut

peristaltic usus menurun. Pada usia lanjut juga mengalami penurunan

sekresi mucus di usus besar dan penurunan elastisitas dinding rektal

(Smeltzer & Bare, 2008).

2) Kondisi neurologis.
Fisiologi persarafan gastrointestinal terdiri dari saraf intrinsik dan

ekstrinsik. Sistem nervus enterik termasuk mienterik, submukosa dan

inervasi mukosa membuat jalur intrinsik. Nervus mienterik

mengendalikan motilitas GI, sementara neuron submukosa

mengendalikan aliran darah GI dan transportasi ion kolo. Saraf

intrinsik terdiri dari neuron parasimpatis dan simpatik. Saraf

parasimpatis, berasal dari saraf X (vagus), tentunya sepanjang cabang

arteri mesenterika superior mencapai usus halus dan kolon proksimal


melalui kolon transversum yang melintang di atas perut bagian atas

sampai berdekatan dengan limpa . Serabut parasimpatik dari pleksus

sakral mempersarafi kolon distal (Kasaraneni&Hayes, 2014). Stroke

dapat mengganggu saraf-saraf otonom yaitu stimulasi simpatis dan

parasimpatis yang dapat mempengaruhi aktivitas gastrointestinal

terutama dengan meningkatkan atau menurunkan aktivitas sistem

saraf enterik usus. Hambatan pada neuron sistem saraf enterik dapat

menimbulkan penurunan motalitas usus atau penurunan peristaltik

usus sehingga dapat menyebabkan konstipasi (Prastya, 2013).


3) Asupan cairan
Cairan yang dikonsumsi oleh pasien jelas akan mempengaruhi

konsistensi dari feses, semakin kurang konsumsi cairan maka semakin

keraslah konsistensi dari feses (Potter&Perry, 2010). Dehidrasi

sebagai penyebab konstipasi pada stroke karena banyak pasien tidak

terpenuhi kebutuhan cairannya secara optimal karena kebutuhan untuk

menurunkan ICP dan perbaikan peningkatan produksi urin. Pasien

dengan masalah menelan pada stroke memiliki tantangan tambahan

untuk mempertahankan kecukupan hidrasi. Hal ini menyebabkan

penurunan ketersediaan air untuk reabsorpsi dari ginjal dan

penyerapan air di kolon yang menyebabkan sembelit. Saluran klorida

di gen fibrosis kistik konduktansi transmembran regulator (CFTR)

menyebabkan banyak reabsorpsi air dari kolon. Hal ini menyebabkan

penurunan volume air di kolon, penurunan kadar air tinja dan

dorongan buang air besar menyebabkan konstipasi

(Kasaraneni&Hayes, 2014).
4) Diit
Pada pasien stroke sebagian besar mengalami gangguan/defisit

neurologis yang menyebabkan pasien mengalami gangguan makan

dan kelumpuhan. Sehingga klien menjadi malas untuk mengkonsumsi

makanan seperti makanan yang berserat karena merasa kesulitan

menelan. Karena makanan tertentu pada klien stroke sulit atau tidak

bisa dicerna. Ketidakmampuan akan menimbulkan dampak pada

gangguan gastrointestinal. Makan secara teratur mempengaruhi buang

air besar. Makan tidak teratur bisa mengganggu keteraturan kebiasaan

buang air besar. Individu yang makan pada waktu yang sama setiap

hari akan memiliki waktu yang teratur dan respon fisiologis terhadap

pola dan keteraturan asupan makanan dalam aktivitas peristaltik

kolonik dengan baik (Kosasih,dkk, 2015).

5) Aktivitas fisik
Penurunan fungsi motorik yang menyebabkan terjadi imobilisasi.

Gangguan mobilitas dan ketidakberdayaan (deconditioning) adalah

masalah yang paling sering dialami pasien stroke. Imobilisasi yang

berkepanjangan dapat menurunkan pergerakan peristaltik. Perubahan

terjadi pada otot abdomen dan dinding pelvis akan meningkatkan

risiko konstipasi (Ginting dkk, 2015). Menurut Smeltzer dan Bare

(2008), tirah baring yang lama merupakan penyebab terjadinya

konstipasi pada pasien stroke.


6) Posisi selama buang air besar
Pada klien yang menderita stroke yang mengalami imobilisasi dan

berbaring ditempat tidur, buang air besar terkadang sulit dilakukan

karena tidak memungkinkan klien untuk mengontraksi otot yang

diperlukan selama buang air besar (Potter&Perry, 2010).


7) Kesulitan berkomunikasi - penderita tidak dapat memberi tahu

seseorang saat ingin buang air besar.


8) Stress emosional
Klien yang menderita stroke dan tidak menerima keadaannya terus

menerus akan menyebabkan stress emosional. Jika seseorang menjadi

depresi maka saraf otonom system pencernaan akan memperlambat

penyampaian impuls dan menurunkan gerakan persistaltik yang

selanjutnya akan menyebabkan konstipasi (Potter&Perry, 2010).

9) Obat
Pada klien stroke secara terus menerus mengkonsumsi berbagai

macam obat-obatan yang beberapa obat memiliki efek samping yang

bisa mengganggu eliminasi normal. Obat penenang dan prosedur dosis

tinggi diikuti dengan pemberian morfin dan kodein, menyebabkan

konstipasi (Kosasih,dkk, 2015).


2.2.3 Patofisiologi Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident
Pada penderita dengan gangguan mobilitas fisik seperti stroke ataupun

penyakit lain yang mengharuskan pasien bedrest dalam jangka waktu yang

lama hal ini dapat mempengaruhi kontraksi otot abdomen, sehingga

kontaktilitas usus kurang bahkan tidak ada. Konstipasi dapat timbul dari

adanya defek pengisian maupun pengosongan rektum. Pengisian rektum

yang tidak sempurna terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif (misalnya

pada kasus immobilisasi). Statis tinja di kolon menyebabkan proses

pengeringan tinja yang berlebihan dan kegagalan untuk memulai reflek

dari rektum yang normalnya akan memicu evakuasi. Pengosongan rektum

melalui evakuasi spontan tergantung pada reflek defekasi yang dicetuskan

oleh reseptor tekanan pada otot-otot rektum, serabut-serabut aferen dan


eferen dari tulang belakang bagian sakrum atau otot-otot perut dan dasar

panggul. Kelainan pada relaksasi sfingter ani juga bisa menyebabkan

retensi tinja (Koniyo, 2011). Penampilan feses umumnya keras, kering

keluar dalam bentuk fragmen kecil-kecil (scybala), namun terkadang juga

terdapat bagian yang lunak atau cair yang biasa disebut “diare palsu”. Hal

ini dikarenakan perpanjangan penumpukan feses pada kolon rektosigmoid

(Hidayah, 2014).
Pada klien CVA terjadi defisit neurologis yang mengganggu sistem saraf

otonom yaitu saraf simpatis dan parasimpatis pada nervus vagus

(Muttaqin, 2011). Bahan plak memicu mekanisme pembekuan, yang dapat

menyebabkan terbentuknya bekuan darah dan penyumbatan arteri.

Sehingga mempengaruhi saraf intramural bagian pleksus pada sistem

saluran cerna, stimulasi simpatis dan parasimpatis dapat mempengaruhi

aktivitas gastrointestinal terutama dengan meningkatkan atau menurunkan

aktivitas sistem saraf enterik usus (Prastya, 2013). Ujung saraf simpatis

mengeluarkan norepinefrin, yang menimbulkan efek melalui dua cara

yaitu efek langsung (sebagian kecil) yang menghambat otot polos, dan

efek tak langsung (sebagian besar) dengan menghambat neuron-neuron

sistem saraf enteric. Hambatan pada otot polos abdomen dan neuron

system saraf enteric dapat menimbulkan penurunan motalitas usus atau

penurunan peristaltic usus sehingga berdampak pada gangguan pasase

feses. Feses yang berada lebih lama di dalam kolon akan menjadi lebih

keras sehingga lebih sulit dikeluarkan dari anus hal ini disebabkan oleh

proses reabsorbsi air banyak terjadi di kolon yang menyebabkan konstipasi

(Guyton & Hall, 2010).


2.2.4 Pathway Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident

Faktor-faktor risiko
stroke

Aterosklerosis, Katup jantung rusak, Aneurisma,


hiperkoagulasi, artesis miokard infark, fibrilasi, malformasi,
endokarditis arteriovenous
Pendarahan
Thrombosis serebral Penyumbatan pembuluh darah Intraserebral
otak oleh bekuan darah, lemak,
Pembuluh darah dan udara Perembesan darah
oklusi dalam parenkim
otak
Iskemik jaringan Emboli Serebral
Penekanan jaringan
otak otak
Stroke
Edema dan kongesti (cerebrovaskuler Infark otak, edema,
jaringan sekitar accident) dan herniasi otak

Defisit Neurologis

Disfungsi N.X
Disfungsi
(Vagus)
N.XI
(Assesoris)
Menghambat
stimulasi saraf
Kehilangan simpatis dan
Kontrol parasimatis
vounter
Menurunkan
Kelemahan aktivitas sistem
anggota saraf enteric usus
gerak

Penurunan
Kelemahan
peristaltik usus
otot pelvis
Penurunan
motalitas usus

Gangguan
pasase feses

Feses lama dikolon


alami reabsorbsi
air banyak

Konstipasi
Bagan 2.1. Pathway Cerebrovasculler Accident (Guyton, 2010; Koniyo, 2011 &
Muttaqin, 2011)
2.2.5 Manifestasi klinis Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident
Menurut Akmal, dkk (2010), ada beberapa tanda dan gejala yang umum

ditemukan pada sebagian besar atau terkadang beberapa penderita

konstipasi sebagai berikut:


1) Perasaan penuh, begah, atau kembung pada perut;
2) Ukuran feses yang keluar lebih kecil, feses lebih keras, panas,

berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada biasanya;


3) Terjadi penurunan frekuensi buang air besar.
4) Perubahan jumlah atau frekuensi gas (flatus) yang keluar berbau

lebih busuk daripada biasanya


5) Adanya tekanan atau perasaan penuh pada rectum
6) Perasaan sakit/ nyeri pada rectum saat defekasi
7) Adanya perasaan ingin defekasi, namun tidak dapat

mengeluarkannya
2.2.6 Pemeriksaan penunjang pada konstipasi
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penderita konstipasi

meliputi :

1) Pemeriksaan laboratorium dikaitkan dengan upaya mendeteksi faktor-

faktor resiko penyebab konstipasi, misalnya darah lengkap, glukosa

darah, kadar hormon tiroid/kadar TSH, elektrolit, serum, kalsium,

kreatinin (Toner&Claros, 2012).

2) Prosedur anuskopi dianjurkan dikerjakan secara rutin pada semua

pasien dengan konstipasi untuk menemukan adakah fisura, ulkus,

wasir dan keganasan.

3) Foto polos perut harus dikerjakan pada penderita konstipasi, terutama

yang terjadinya akut. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi adakah

impaksi feses dan adanya massa feses yang keras yang dapat

menyebabkan sumbatan dan perforasi kolon.


4) Proktosigmoidoskopi dikerjakan pada konstipasi yang baru terjadi

sebagai prosedur penapisan adanya keganasan kolon-rektum. Bila ada

penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari rektum atau

adanya riwayat keluarga dengan kanker kolon perlu dikerjakan

kolonoskopi.

5) MRI pemeriksaan yang menghindari paparan x-ray. Jelly dimasukkan

ke dalam rektum dan kemudian gambar diambil. Mengurangi

proktografi: ini melibatkan penyisipan pasta ke dalam rektum, dengan

sinar x diambil saat pasta dilewatkan dari rektum.

(Anandita, 2015)

2.2.7 Penatalaksanaan Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular Accident


Penatalaksanaan yang dapat di lakukan pada penderita Cerebro Vascular

Accident yang mengalami masalah konstipasi, yaitu :

1) Monitor tanda dan gejala konstipasi, pergerakan usus, frekuensi,

konsistensi, volume bentuk dan warna feses saat buang air besar (Ackley,

2011).

2) Observasi feses dengan skala Bristol


Pemeriksaan bentuk dan konsistensi feses sesuai dengan Bristol Stool

Chart, dapat digunakan untuk memprediksi waktu transit (Simadibrata,

2010).

Gambar 2.1 Bristol Stool Chart (Simadibrata, 2010)

3) Minum air putih

Berdasarkan penelitian Tampubolon (2008), pemberian air dapat

meningkatkan frekuensi defekasi dan membuat lebih cepat terjadi defekasi

pada klien konstipasi. Menurut Patel dan Sen (2015), pemberian air hangat

secara teratur terutama di pagi hari dapat meningkatkan kerja usus

sehingga membantu eliminasi fekal. Meningkatkan asupan cairan dan

minum air hangat setelah makan merupakan intervensi keperawatan dalam

mengatasi konstipasi (Bulechek,et al, 2013). Dengan minum 500 ml air

putih hangat (Lower Maximum Volume : LMV) yaitu volume minimal

yang dimasukkan ke dalam lambung yang mampu menyebabkan gerakan


peristaltik pada lambung (Hikaya, 2014). Rangsangan dari regangan

lambung ini melalui saraf otonom ekstrinsik menjadi pemicu utama

gerakan massa di kolon melalui refleks gastrokolik. Peregangan lambung

memicu peningkatan motilitas lambung melalui efek langsung peregangan

pada otot polos serta melalui keterlibatan pleksus intrinsik, saraf vagus,

dan hormon lambung gastrin. Derajat fluiditas air putih ini akan

mempercepat tingkat keenceran yang sesuai, sehingga isi lambung

semakin cepat dievakuasi. Hal inilah yang memicu tercetusnya refleks

gastrokolik (Sherwood, 2011). Refleks gastrokolik menstimulasi otot polos

kolon sehingga meningkatkan motilitas kolon dan mengatasi terjadinya

konstipasi (Hikaya, 2014).

4) Konsumsi Serat

Gangguan konstipasi dapat diterapi dengan mengkonsumsi makanan yang

mengandung tinggi serat. Serat-serat tersebut didalam kolon mampu

berikatan dengan air. Keadaan ini akan menyebabkan volume feses

menjadi lunak dan besar. Akibat membesarnya volume feses maka saraf

rektum akan semakin cepat ke saluran pencernaan paling bawah (Solikhah,

2013). Serat makanan adalah komponen karbohidrat kompleks yang tidak

dapat dicerna oleh enzim pencernaan, tetapi dapat dicerna oleh mikro

bakteri pencernaan. Serat makanan merupakan bahan baku yang baik

untuk pertumbuhan mikroflora usus (Lubis, 2009). Serat makanan tidak

dicerna di usus halus, akan tetapi di metabolisme oleh bakteri yang berada

dan melalui usus besar. Hal ini dapat menambah volume feses,

meningkatkan pengaruh laksatif, melunakkan konsistensi feses,


memperpendek transit time di usus, memproduksi flatus, hasil produksi

metabolisme bakteri dan keluaran anion organiknya akan mengubah garam

empedu dan asam lemak berantai pendek (Raissa, 2012). Serat makanan

menurut jenisnya dibedakan menjadi dua, yaitu serat larut dan serat tak

larut air. Serat larut berfungsi dalam memperlama waktu pengosongan

lambung sehingga seseorang dapat merasa kenyang lebih lama, sedangkan

serat tidak larut air dapat menurunkan waktu transit dalam kolon,

menghasilkan feses lebih lembek dan lebih banyak (Lean, 2013). Serat

larut air mudah di fermentasi, sehingga pertumbuhan dan perkembangan

bakteri kolon menyebabkan bertambahnya berat feses. Serat tidak larut air,

terutama lignin yang terdapat dalam dedak gandum tidak mengalami

fermentasi. Serat tidak larut air mampu menyerap air, sehingga mengalami

peningkatan berat dan mempunyai pengaruh laksatif paling besar. Serat

membantu pengeluaran feses dengan cara mengatur peristaltik usus dan

memberi bentuk pada feses. Selulosa dalam serat makanan mengatur

peristaltik usus, sedangkan hemiselulosa dan pektin mampu menyerap

banyak air dalam usus besar, sehingga memberi bentuk pada sisa makanan

yang akan dikeluarkan (Almatsier, 2010).

Konsumsi serat yang kurang akan mengakibatkan seseorang mengalami

sembelit atau konstipasi, sehingga sangat dianjurkan seseorang

mengkonsumsi serat sebesar 20-30 g per hari untuk orang dewasa.

Perbandingan konsumsi serat larut dan serat tak larut sebaiknya 1:3

Sumber serat larut yang baik adalah jenis kacang-kacangan, rumput laut,

agar-agar, apel, pisang, jeruk, wortel, bekatul, dan buncis, sedangkan


sumber serat tak larut seperti polong-polongan, buah berbiji, serta sayuran

(Muchtadi, 2009).

Konsumsi sayur dan buah yang cukup juga menurunkan risiko sulit buang

air besar (BAB) dan kegemukan. Konsumsi sayuran dan buah-buahan

yang cukup merupakan salah satu indikator sederhana gizi seimbang.

Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat semakin tinggi

kandungan fruktosa dan glukosanya, yang dicirikan oleh rasa yang

semakin manis.Dalam budaya makan masyarakat perkotaaan Indonesia

saat ini, semakin dikenal minuman jus bergula. Dalam segelas jus buah

bergula mengandung 150-300 Kalori yang sekitar separuhnya dari gula

yang ditambahkan. Selain itu beberapa jenis buah juga meningkatkan

risiko kembung dan asam urat. Oleh karena itu konsumsi buah yang terlalu

matang dan minuman jus bergula perlu dibatasi agar turut mengendalikan

kadar gula darah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan

konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 g

perorang perhari, yang terdiri dari 250 g sayur (setara dengan 2 1/2 porsi

atau 2 1/2 gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 g buah

(setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 1/2 potong

pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang). Bagi orang

Indonesia dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 400-600 g

perorang perhari bagi orang dewasa. Sekitar 2/3 dari jumlah anjuran

konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur (Izwardy,

2014.

5) ROM Pasif
Perawat mendorong ambulasi sering dan mengajarkan latihan pengerutan

otot abdomen untuk meningkatkan defekasi. Pengerutan otot abdomen

terdiri dari mengkontraksikan otot abdomen (empat kali sehari) dan

melakukan mengangkat lutut ke dada saat duduk di kursi atau berbaring di

tempat tidur (10-20 kali sehari). Pasien yang harus berbaring didorong

untuk melakukan latihan rentang gerak (6-10 kali sehari), membalik

dengan sering dari satu sisi ke sisi yang lain, dan telungkup (bila tidak

dikontraidikasikan) selama 30 menit setiap 4 jam. Latihan ini

meningkatkan tonus otot abdomen yang membantu mendorong isi kolon

(Koniyo, 2011).

Pengerutan otot abdomen terdiri dari mengontraksikan otot abdomen.

Latihan ini meningkatkan tonus otot yang membantu mendorong isi kolon

ROM pasif dapat mengatasi permasalahan pada pasien stroke yang

mengalami konstipasi dengan latihan pengerutan otot abdomen terdiri dari

mengontraksikan otot abdomen. Latihan ini meningkatkan defekasi

dengan meningkatkan tonus otot abdomen yang membantu mendorong isi

kolon (Asriani, 2015).

Cara latihan range of motion (ROM) yang dapat dilakukan adalah :

a) Gerakan fleksi dan ekstensi pada lutut

(1) Atur posisi pasien sebelum latihan dilakukan yaitu dengan posisi

tidur terlentang.
(2) Posisi kaki kanan pasien lurus, letakkan tangan kiri perawat di

bawah lutut pasien dengan tangan kanan perawat di bawah tumit

pasien (Gambar a).


(3) Lakukan gerakan fleksi lutut. Perawata menganggkat kaki kanan

pasien keatas setinggi 8 cm, kemudian tekuk lutut ke arah dada

(Gambar b).
(4) Lakukan gereakan ekstensi lutut untuk kembali ke posisi semula.

Perawat menurunkan kaki pasien ke bawah kearah tempat tidur dan

luruskan lutut (Gambar c).


(5) Ulangi gerakan 8 kali untuk masing-masing kaki.

(Suratun,dkk, 2008)

Gambar 2.2 gerakan latihan fleksi dan ekstensi lutut (Suratun,dkk, 2008)

b) Gerakan Kaki

Melakukan gerakan menekuk dan meluruskan pangkal paha

(Suratun,dkk, 2008).

Gambar 2.3 latihan gerak kaki (Suratun,dkk, 2008)

6) Posisi Defekasi

Pada klien immobilisasi seperti pada kasus stroke klien harus tetap dalam

keadaan datar saat diatas pispot dengan melakukan langkah berikut:


a) Rendahkan kepala tempat tidur yan datar dan bantu klien berguling ke

salah satu sisi tempat tidur dengan posisi membelakangi perawat.

b) Berikan sedikit bedak pada punggung dan pantat klien untuk

mencegah kulit lengket pada pispot

c) Letakkan pispot dengan pasti ke bawah pantat klien, letakkan pispot

diatas matras dengan bagian terbuka menghadap kaki klien

d) Untuk memberikan posisi nyaman pada klien, tinggikan kepala tempat

tidur setinggi 30 derajat

e) Letakkan handuk gulung atau bantal kecil dibawah lengkung

punggung klien untuk meningkatkan kenyamanan

f) Bantu klien menekuk lutut menjadi posisi tubuh dorsal recumbent.

Jangan meninggikan lutut jika terdapat kontraindikasi.

(Potter & Perry, 2010)

7) Pemberian Laksatif
Pasien stroke cenderung kurang bergerak, hal ini dapat menyebabkan

konstipasi, yang kemudian jika dibiarkan dapat menyebabkan

inkontinensia alvi. Untuk menghilangkan konstipasi dengan cepat, ada

beberapa obat pencahar yang dapat diberikan oleh dokter. Laksatif dapat

digunakan untuk menghindari impaksi usus dan inkontinensia alvi sebagai

hasilnya. Ada berbagai obat pencahar yang tersedia dengan cara yang

berbeda. Pencahar pencuci mulut yang bekerja dengan cara yang sama

seperti meningkatkan serat dalam makanan mereka, obat pencahar osmotik

yang bekerja dengan cara melunakkan tinja sehingga lebih mudah

dilewati, dan obat pencahar stimulan yang mendorong peristaltik dan

merangsang feses untuk melewati kolon. Penggunaan obat ini secara


teratur harus dihindari semaksimal mungkin. Menggunakan obat laksatif

terlalu sering dapat membuat tubuh bergantung pada obat pencahar agar

peristaltik usus berkontraksi (Hidayah, 2014).

2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Klien Cerebro Vascular Accident

dengan Masalah Konstipasi

2.3.1 Pengkajian
Menurut Rendy dan Margareth (2012) pengkajian merupakan pemikiran

dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan

informasi atau data tentang pasien agar mengidentifikasi,mengenali

masalah-masalah, kebutuhan kesehatan , dan keperawatan pasien baik

mental, sosial, dan lingkungan. Pemeriksaan dimulai dari pemeriksaan

yang meliputi beberapa hal dibawah ini, yaitu:


1) Anamnese
a) Identitas Klien
(1) Pasien : Nama (digunakan untuk membedakan antara klien

yang satu dengan yang lain), usia (kebanyakan terjadi pada

usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama,

tanggal dan jam masuk rumah sakit, nomor register dan

diagnosis medis (Muttaqin, 2011).


(2) Penanggung Jawab : Nama, umur, jenis kelamin, agama,

pendidikan, pekerjaan, alamat (Rendy&Margareth, 2012).


b) Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering muncul menjadi alasan klien untuk

meminta bantuan kesehatan adalah kelemahan anggota gerak

badan. Keluhan saat pengkajian klien mengeluh sulit buang air

besar selama beberapa hari (Akmal, 2010, Muttaqin, 2011).


c) Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah, bahkan, kejang

sampai tidak sadarkan diri selain gejala kelumpuhan separuh badan


atau gangguan fungsi otak yang lain. Adanya penurunan tingkat

kesadaran (Muttaqin, 2011). Klien kehilangan sensasi atau

paralisis, sering kelelahan saat aktivitas dan merasa kesulitan untuk

melakukan aktifitas karena kelemahan, sehingga klien di rumah

sakit sulit buang air besar selama 3 hari (Wijaya&Putri, 2013).

Pada riwayat penyakit saat ini klien mengalami Kesulitan BAB,

mengejan saat BAB, rasa tidak nyaman pada perut, merasa tidak

tuntas saat BAB, penurunan frekuensi buang air besar (BAB),

perubahan feses yang dikeluarkan saat defekasi dengan konsistensi

keras dan kering serta jumlah sedikit (Dermawan, 2010).


d) Riwayat Penyakit Dahulu
Adanya riwayat hipertensi,riwayat stroke sebelumya, diabetes

mellitus, penyakit kardiovaskuler, obesitas, karena hal ini

berhubungan dengan penurunan kualitas pembuluh darah otak

menjadi menurun (Muttaqin, 2011).

e) Riwayat Penyakit Keluarga


Biasanya ada riwayat penyakit keluarga yang menderita hipertensi,

diabetes mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu

(Muttaqin, 2011).
f) Pola Fungsi Kesehatan
(1) Pola Nutrisi
Pada pasien stroke biasanya terjadi kehilangan nafsu

makan,mual muntah selama fase akut/peningkatan TIK,

kehilangan sensasi pengecapan, kesulitan menelan

(Wijaya&Putri, 2013). Kondisi yang masih belum stabil

menyebabkan klien jarang mengkonsumsi serat karena masih


sulit mengunyah dan menelan jumlah makanan yang

dikonsumsi pun dapat mempengaruhi (Dermawan, 2010).


(2) Pola Eliminasi
Pada penderita stroke terjadi perubahan pola berkemih seperti

inkontinensia urine, urinaria, distensi abdomen, tidak ada

bising usus yang berakibat konstipasi (Wijaya&Putri, 2013).

Pada pengkajian konstipasi, pola eliminasi fekal yang dapat

dikaji meliputi frekuensi defekasi, perubahan pada pola

defekasi, kesulitan saat defekasi seperti, mengedan,

karakteristik feses yang keras, kering, dan sulit dikeluarkan,

penggunaan pencahar, serta ada atau tidaknya nyeri dan darah

saat defekasi (Miller, 2012). Selain itu klien tidak buang air

besar (BAB) lebih dari 3 hari, feses keluar sedikit, berwana

coklat kehitaman (Akmal, 2010).


(3) Pola Kebersihan Diri
Pada klien stroke biasanya mengalami defisit perawatan diri

karena keterbatasan tubuhnya untuk memenuhi personal

hygiene.
(4) Pola Aktifitas
Pada klien stroke merasa kesulitan untuk melakukan aktifitas

karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis,merasa

mudah lelah,gangguan tonus otot dan terjadi kelemahan

secara umum (Wijaya&Putri, 2013).


(5) Pola Tidur dan Istirahat
Pada klien stroke biasanya terjadi kesusahan dalam

beristirahat karena nyeri atau kejang otot (Wijaya&Putri,

2013).
g) Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum
Kesadaran : Pada klien stroke kesadarannya bervariasi ada

yang mengalami penurunan kesadaran dan ada kesadarannya

penuh.
Tanda-tanda Vital : Umumnya tekanan darah terjadi

peningkatan dan dapat terjadi hipertensi masif (tekanan darah

>200 mmHg), dan denyut nadi bervariasi, frekuensi pernapasan

meningkat (Muttaqin, 2011).


2) Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)
a) Kulit dan Kuku
Inspeksi : Kulit tampak pucat karena kekurangan oksigen,

terdapat lesi atau dekubitus pada tulang yang menonjol

seperti punggung, tulang ekor dan tungkai karena imobilitas

fisik. Pada kuku terdapat clubbing finger atau sianosis

(Muttaqin, 2011).
Palpasi : Turgor kulit buruk kembali >3 detik karena

kekurangan cairan. Capillary Refill Time (CRT) lambat

kembali >3 detik.


b) Kepala
Inspeksi : bentuk kepala normocephalik, rambut kotor tidak

terawat, kesulitan menggerakan otot wajah dan berekspresi,

wajah asimetris, dan otot wajah tertarik kebagian sisi tubuh

yang sehat.
Palpasi : Terdapat nyeri kepala .
(Muttaqin, 2011)
c) Mata
Inspeksi : salah satu kelopak mata tampak jatuh, sklera

ikterik, besar pupil anisokor, reflek pupil negatif,

konjungtiva anemis, penglihatan berkurang dan mengalami

gangguan.
Palpasi : bola mata teraba kenyal.
(Muttaqin, 2011)
d) Hidung
Inspeksi :lubang hidung simetris, terdapat pernafasan

cuping hidung pada klien sesak napas, terdapat produksi

secret, tidak ada kelainan penciuman.


Palpasi : tidak ada kelainan pada saat sinus di tekan.
(Debora, 2013)
e) Telinga
Inspeksi : keadaan kotor, banyak serumen, ada gangguan

penurunan pendengaran.
(Muttaqin, 2011)
f) Mulut
Inspeksi : sianosis, mukosa bibir kering, stomatitis, ada

plak, karies gigi, mengalami gangguan pengecapan, reflek

mengunyah dan menelan buruk, paralisis lidah.


(Setyadi, 2014)
g) Leher
Inspeksi : ada tidaknya kaku kuduk,adanya massa atau

tidak, adanya pembesaran kelenjar limfe atau tidak.


Palpasi : ada tidaknya deviasi trakea,ada tidaknya

bendungan atau tekanan pada vean jugularis, ada tidaknya

pembesaran kelenjar tiroid.


(Debora, 2013)

h) Thorax
Paru-paru
Inspeksi : tampak penggunaan otot nafas diafragma, tampak

retraksi interkosta, peninggkatan frekuensi pernafasan,

sesak napas
Perkusi : terdengar suara sonor pada ics 1-5 dextra dan ics

1-2 sinistra.
Palpasi : Taktil fremitus teraba sama kanan dan kiri, taktil

fremitus teraba lemah.


Auskultasi : pemeriksaan bisa tidak ada kelainan pada

kesadaran normal dan bisa juga terdapat bunyi nafas


tambahan seperti ronchi pada klien dengan peningkatan

produksi sekret dan kemampuan batuk yang menurun pada

kesadaran menurun.
(Muttaqin, 2011; Debora, 2013)
Jantung
Inspeksi : iktus kordis dapat terlihat atau tidak pada ics 5

midklavikular sinistra.
Palpasi : teraba iktus kordis pada ics 5 midklavikular

sinistra dengan ketinggian denyutan norma <1cm atau

tidak.
Perkusi : terdengar bunyi pekak pada ics 3-5 sinistra.
Auskultasi : terdengar BJ 1 di katup mitralis di ICS 5

midklavikular dekstra, dan di katup trikuspidalis di ICS 4

sternal line sinistra. Terdengar BJ 2 di katup pulmonal di

ICS 2 sternal line sinistra dan di katup aorta di ICS 2 sternal

line dekstra. Ada tidaknya suara jantung tambahan gallop

atau murmur.
(Debora, 2013)
i) Abdomen
Inspeksi : pemeriksaan abdomen dilakukan pada posisi

supine pada inspeksi ditemukan adanya distensi abdomen

(Miller, 2012).
Auskultasi : suara bising usus menurun <5x/ menit akibat

immobilitas fisik.
Perkusi diatas organ abdomen untuk mengetahui suara yang

dihasilkan dari rongga abdomen apakah timpani/dullnes

yang mana timpani adalah suara normal dan dullness

menunjukan adanya obstruksi. Suara dullness biasa

terdengar pada konstipasi.


Palpasi : klien mengatakan perut terasa begah pada saat

abdomen ditekan, teraba massa/tumpukan feses pada

abdomen region inguinalis sinistra.


(Debora, 2013; Aprisunadi, 2016)
j) Muskuloskeletal
Inspeksi : hemiplegia ( paralisi pada salah satu sisi ) karena

lesi pada sisi otak yang berlawanan, hemifaresis, atau

kelemahan salah satu sisi tubuh maupun seluruhnya

(Muttaqin, 2011).
Palpasi : periksa adanya edema atau tidak pada tangan dan

kaki (Debora, 2013)


k) Genetalia dan Rektum
Genetalia kotor atau tidak , terdapat distensi kandung

kemih. Pada pemeriksaan rectum dengan colok dubur dapat

dideteksi adanya massa feses ataupun nyeri pada rectum

(Setyadi, 2014).
l) Pengkajian Saraf Kranial
Pemeriksaan saraf kranial menurut Muttaqin (2011)

meliputi pemeriksaaan saraf kranial I-XII:


(1) Saraf I . Pada klien stroke tidak ada kelainan pada

fungsi penciuman
(2) Saraf II Difusi persepsi visual karena gangguan jaras

sensoris primer diantara mata dan korteks visual.

Gangguan hubungan visual spasial (mendapatkan

hubungan dua atau lebih objek dalam araa spesial)

sering terlihat dengan pasien hemipalgia.


(3) Saraf III, IV dan VI. Jika akibat stroke mengakibatkan

paralisis, pada satu sisi otot okularis didapatkan

penurunan kemampuan gerakan konjunggat unilateral

disisi yang sakit


(4) Saraf V, pada beberapa keaadaan stroke menyebabkan

paralisis saraf trigenimus, penurunan kemampuan

koordinasi gerakan mengunyah,penyimpanaagan

rahang bawah ke sisi ipsilateral, serta kelumpuhan

satu sisi sisi otot peterigosideus internus dan eksternus


(5) Saraf VII presepsi dalam pengecapan daalam batas

normal, wajah asimetris, dan otot wajah tertarik

kebagian sisi tubuh yang sehat.


(6) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif

dan tuli presepsi


(7) Saraf IX dan X kemampuan menelan kurang baik dan

kesulitan membuka mulut. Sentuh bagian belakang

faring pada setiap sisi dengan spacula. Jika

kontraksinya tidak ada dan sensasinya utuh maka ini

menunjukkan kelumpuhan nervus X. Aktivitas nervus

X (vagus) menghantarkan parasimpatis kranial dalam

memberikan persarafan yang luas ke esofagus dan

lambung dan dalam arti yang lebih sempit ke usus

halus, kandung empedu dan setengah pertama usus

besar (Ginting, 2008).


(8) Saraf XI tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus

dan trapezium
(9) Saraf XII lidah simetris, devisiasi pada satu sisi dan

fasikulasi, serta indra pengecap normal (Muttaqin,

2011).
m) Pengkajian Sistem Motorik
Stroke adalah penyakit saraf motorik atas dan

mengakibatkan kehilangan kontrol volunter terhadap


gerakan motorik. Oleh karena saraf motorik atas

bersilangan, gangguan kontrol motor kontrol volunter pada

salah satu sisi tubuh dapat menujukan kerusakan pada saraf

motorik atas di sisi yang berlawanan dari otak. Maka

pengkajian system motorik menurut Muttaqin (2011) yaitu:


(1) Inspeksi umum. Didapaatkan hemiplegia (paralisis pada

salah satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang

berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi

tubuh dalah sisi yang lain.


(2) Fasikulasi,Didapatkan pada otot-otot ekstremitas
(3) Kekuataan otot.
Pada peningkatan dengan mengguanakan tingkat

kekuatan otot pada sisi sakit.


(4) Keseimbangan dan koordinasi. Didapatkan mengalami

gangguan karena hemiparase dan hemiplegia.


(Muttaqin, 2011)

n) Pengkajian Sistem Sensorik


Kehilangan sensorik karena stroke dapat berubah kerusakan

sentuhan ringan atau mungkin lebih berat, dengan

kehilangan propriosepsis (kemampuan untuk merasakan

gerakan atau posisi bagian tubuh) serta kesulitan dalam

menginterpretasikan stimulasi visual, taktil dan auditorius

(Muttaqin, 2011). Pada pemeriksaan reflek dinding perut

superfisialis (reflek abdominalis) di temukan negatif atau

tidak terdapat kontraksi otot dimana pusar tidak bergerak

kearah otot yang berkontraksi. Hasil negatif menunjukan

bahwa dinding perut lembek (Bahar & Wuysang, 2015).


2.3.2 Diagnosa Keperawatan Konstipasi pada Klien Cerebro Vascular

Accident
Salah satu Diagnosa keperawatan yang terdapat pada klien CVA adalah

Konstipasi. Menurut Aprisunadi (2016) batasan karateristik dari diagnosa

konstipasi adalah:
1) Defekasi kurang dari 2 kali seminggu
2) Pengeluaran feses lama dan sulit
3) Mengejan saat defekasi
4) Feses keras
5) Peristaltik usus menurun
6) Distensi abdomen
7) Kelemahan umum
8) Teraba massa pada rektal

Faktor yang berhubungan :

1) Imobilisasi
2) Menurunnya aktivitas fisik
3) Ileus
4) Stress
5) Kurang privasi
6) Menurunya mobilitas intestinal
7) Perubahan atau pembatasan diet
2.3.3 Intervensi Keperawatan Konstipasi pada klien Cerebro Vascular

Accident
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident
dengan konstipasi

Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional


Tujuan 1) Klien dapat defekasi 1) Kaji pola buang 1) Dengan
jangka dengan teratur setiap air besar, mengkaji pola
panjang: 1-3 hari (Muttaqin, termasuk waktu, eliminasi dapat
Setelah 2011) jumlah dan diketahui
diberikan 2) Klien dapat defekasi frekuensi tinja, berbagai
asuhan secara spontan dan riwayat penyebab dari
keperawatan lancar tanpa kebiasaan buang konstipasi
selama 3x24 menggunakan obat air besar atau (Ackley &
jam klien laksatif (Muttaqin, penggunaan Ladwing, 2011).
mampu 2011) pencahar, diet,
memenuhi 3) Klien bebas dari termasuk serat,
kebutuhan ketidaknyamanan dan asupan
eleminasi alvi saat defekasi cairan (Ackley &
Tujuan (Ackley&Ladwing, Ladwing, 2011).
jangka 2011) 2) Kaji keadaan 2) Bising usus
pendek: 4) Konsistensi feses bising usus klien refleksi dari
Setelah
diberikan lembek dan (Tarwoto & peristaltik usus.
asuhan berbentuk Wartonah, Peristaltik usus
keperawatan (Ackley&Ladwing, 2015). yang lambat
selama 1x24 2011) menyebabkan
klien mampu 5) Bising usus normal konstipasi karena
mengatasi (5-30x/menit) penyerapan air di
masalah (Muttaqin, 2011) usus lebih
konstipasi 6) Klien dan keluarga banyak (Tarwoto
(Muttaqin, mampu & Wartonah,
2011) mengidentifikasi 2015).
indikator untuk 3) Berikan 3) Klien dan
mencegah konstipasi penjelasan pada kerluarga
(Ackley&Ladwing, klien dan mengerti tentang
2011) keluarga tentang penyebab
penyebab konstipasi
konstipasi (Muttaqin, 2011)
(Muttaqin, 2011)
4) Ajarkan keluarga 4) Dengan latihan
gerakan ROM gerak secara
dan dorong rutin dapat
keluarga untuk mengontraksi
membantu klien otot abdomen
latihan gerak sehingga
mengubah posisi motalitas usus
di tempat tidur, meningkat
mengangkat (Ackley &
pinggul tempat Ladwing, 2011).
tidur, melakukan
serangkaian
latihan gerak,
secara
bergantian
mengangkat
setiap lutut ke
dada (Ackley &
Ladwing, 2011).
5) Anjurkan pada 5) Dengan diet
klien dan seimbang tinggi
keluarga agar kandungan serat
klien makan merangsang
makanan yang peristaltik dan
mengandung eliminasi regular
serat seperti (Muttaqin,
buah dan sayur 2011)
sejumlah 400-
600gr/hari
(Izwardy, 2014).
6) Berikan asupan 6) Dengan masukan
cairan air putih cairan adekuat
hangat 500 ml membantu
tiap pagi / 1,5 – mempertahan-
2L per hari jika kan konsistensi
tidak ada feses yang sesuai
kontraindikasi. pada usus dan
(Hikayah, 2014) membantu
eliminasi regular
(Hikayah, 2014)
7) Berikan latihan 7) Dengan latihan
ROM pasif ROM pasif otot
seperti mem- abdomen akan
fleksikan kaki berkontraksi
kearah dada sehingga
secara motalitas usus
bergantian meningkat
(Asriani, 2015) (Asriani, 2015)
8) Lakukan 8) Dengan miring
mobilisasi kanan dan miring
miring kanan kiri membantu
dan miring kiri eliminasi dengan
(Umah&Syafi’i, memperbaiki
2014) tonus otot
abdomen dan
merangsang
nafsu makan
serta peristaltik
(Umah&Syafi’i,
2014)
9) Dengan posisi
9) Berikan posisi semi fowler
semifowler 300 dapat
saat melakukan memberikan
defekasi,jika kenyamanan dan
kondisi klien meningkatkan
memungkinkan kemampuan
(Potter & Perry, buang air besar
2010) (Potter & Perry,
2010)
10) Dengan
10) Berikan privasi memberikan
pada saat klien privasi klien
BAB (Potter & merasa tenang
Perry, 2010) saat melakukan
defekasi (Potter
& Perry, 2010)
11) Dengan
11) Bantu klien membiasakan
untuk BAB secara
membiasakan teratur dengan
melakukan waktu yang sama
eliminasi (BAB) pola eliminasi
secara teratur 30 akan kembali
menit sesudah reguler/normal
sarapan/makan secara signifikan
(Ackley&Ladwi lebih cepat
ng, 2011). (Ackley &
Ladwing, 2011).
12) Dengan
12) Kolaborasi pemberian
dengan tim pelunak feses
dokter dalam meningkatkan
pemberian efisiensi
pelunak feses pembasahan air
(laksatif, usus, yang
supositoria, melunakaan
enema) massa feses dan
(Muttaqin, 2011) membantu
eliminasi.
Dengan
observasi
penumpukan
feses dapat
diidentifikasi
adanya massa
pada rectum atau
kolon asenden
(Muttaqin,2011)
13) Dengan
13) Rangsangan stimulasi digital
anorektal digital. meningkatkan
Jari dilumasi aktivitas otot di
jelly dengan rektum dengan
sarung meningkatkan
dimasukkan tekanan rektal
dengan ringan ke untuk membantu
dalam rektum mengusir
dan diputar kotoran (Ackley
secara moderat & Ladwing,
dalam gerakan 2011).
melingkar. Ini
dilakukan sekitar
15 sampai 20
detik sampai
flatus / feses
keluar
(Ackley&Ladwi
ng, 2011). 14) Dengan
14) Observasi suara pemeriksaan
bising usus, pada abdomen
perkusi lapang dapat
abdomen, mengetahui
adanya massa efektifitas
feses pada intervensi
abdomen bagian terhadap
kiri bawah, konstipasi
(Tarwoto & (Tarwoto &
Wartonah, Wartonah, 2015).
2015). 15) Dengan skala
feses bristol
15) Observasi banyak
dengan skala digunakan
feses bristol sebagai ukuran
untuk menilai yang lebih
konsistensi tinja obyektif untuk
(Ackley&Ladwi menggambarkan
ng, 2011). konsistensi tinja
yang
menggambarkan
kondisi
konstipasi
(Ackley&Ladwi
ng, 2011).
2.3.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah

direncanakan mencangkup tindakan mandiri dan kolaborasi. Implementasi

juga sesuai dengan kondisi dan kebutuhan klien untuh dapat memenuhi

kebutuhan berdefekasi. (Debora, 2013)


2.3.5 Evaluasi Keperawatan
Hasil yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan meliputi :
1) Klien dapat defekasi dengan teratur setiap 1-3 hari
2) Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan

obat laksatif
3) Bising usus normal (5-30x/menit)
4) Klien bebas dari ketidaknyamanan saat defekasi
5) Konsistensi feses lembek dan berbentuk
6) Klien dan keluarga mampu mengidentifikasi indikator untuk

mencegah konstipasi
(Muttaqin, 2011, Ackley&Ladwing, 2011)
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Karya tulis ilmiah ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah asuhan

keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah

konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

3.2. Batasan Istilah

Asuhan keperawatan pada klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah

konstipasi di Ruang Unit Stroke dan Rawat Inap Dewasa Rumah Sakit Panti

Waluya Malang, maka dijabarkan oleh penulis adalah asuhan keperawatan

pada klien Cerebro Vascular Accident yang mengalami masalah konstipasi.

Dengan kriteria klien sebagai berikut :

1. Klien yang menderita stroke Nonhemoragik / Iskemik

2. Klien stroke dengan kesadaran composmentis serta GCS E4 M5 V6

3. Klien yang mengalami serangan stroke tidak lebih dari 2 kali

4. Klien stroke yang tidak diperbolehkan untuk diberikan terapi air putih

5. Klien stroke yang mengeluh sulit buang air besar (BAB) dalam waktu

lebih dari 3 hari.

6. Klien stroke yang tidak mampu buang air besar (BAB) dengan lancar

jika tanpa diberikan laksatif


Masalah konstipasi ini yang terjadi pada klien stroke yang telah menjalani

perawatan selama 3 hari yang dirawat di Ruang Unit Stroke dan Rawat Inap

Dewasa Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

3.3. Partisipan

Pada penelitian ini yang menjadi partisipan peneliti adalah 2 klien stroke

dengan masalah konstipasi di Rumah Sakit Panti Waluya Malang tanpa

batasan usia.

3.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian studi kasus ini dilaksanakan di Ruangan Unit Stroke dan Rawat

Inap Dewasa Rumah Sakit Panti Waluya Malang pada bulan Februari

sampai Mei 2018. Lama perawatan akan dilakukan selama 3 hari dan jika

pasien pulang kurang dari 3 hari akan dilanjutkan dengan homecare.

3.5. Pengumpulan Data

Mencari data klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah konstipasi

atau tidak dapat berdefekasi secara dengan baik.

Penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1) Wawancara
Wawancara adalah dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua

pihak dan beberapa pikhak yaitu pewawancara dalam hal ini penulis dan

terwawancara dalam hal ini adalah klien stroke yang mengalami

konstipasi. Sumber data yang didapat adalah dari klien, keluarga dan

perawat lainnya.

2) Observasi dan Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan

inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi pada sistem pencernaan pada

klien Cerebro Vascular Accident dengan masalah konstipasi.


3) Studi dokumen
Studi dokumen yang digunakan untuk melengkapi hasil penelitian

didapatkan dari data rekam medis klien Cerebro Vascular Accident

dengan masalah konstipasi di Ruangan Unit Stroke dan Rawat Inap

Dewasa Rumah Sakit Panti Waluya Malang.

3.6. Uji Keabsahan Data

Disamping integritas penulis, uji keabsahan data dilakukan dengan cara

berikut ini:

1) Memperpanjang waktu pengamatan / tindakan;


2) Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi dari tiga sumber

data utama yaitu klien, perawat dan keluarga klien yang berkaitan dengan

masalah yang diteliti.

3.7. Analisis Data

1) Pengumpulan data.
Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi, dokumen).

Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin dalam

bentuk transkrip (catatan terstruktur).

2) Penyajian data.
Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun

teks naratif. Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan identitas klien

dibuat inisial.
3) Kesimpulan.
Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan

dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan


perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode

induksi. Data yang dikumpulkan terkait dengan data pengkajian,

diagnosis, perencanaan, tindakan, dan evaluasi.

3.8. Etik Penelitian

Dicantumkan etika yang mendasari penyusunan karya tulis ilmiah, terdiri

dari :

1) Informed Consent (persetujuan menjadi klien)


Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti

dan memenuhi kriteria inklusif dan disertai judul penelitian dan manfaat

penelitian.
2) Anonimity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan peneltian tidak mencantumkan nama

responden namun hanya dicantumkan inisial saja.


3) Confidentiality (kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya

kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Ackley, Betty J. & Ladwing Gail B. (2011). Nursing Diagnosis Hanndbook An


Evidence Based Guide To Planning Care. U.Ed 9. America: Elsevier

Akmal, M. Zely, I. (2010). Ensiklopedi kesehatan untuk umum. Jogjakarta: Ar


ruzz Media

Almatsier, Sunita. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia.

Alimul,Aziz.& Uliyah,Musrifatul. 2015. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia


Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Anandita, Nur Safira. 2015. Irritable Bowel Syndrome. J MAJORITY Volume 4


Nomor 2

Aprisunadi. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus Pusat PPNI

Asriani, Sri. Pemberian Tindakan Rom Pasif Dalam Mengatasi Konstipasi Pada
Asuhan Keperawatan Ny. T Dengan Stroke Hemoragik Di HCU Anggrek II
Rsud Dr. Moewardi Surakarta. Karya Tulis Ilmiah : Prodi D-III Stikes
Kusuma Husada Surakarta.

Bahar, Ashari dan Devi Wuysang. 2015. Pemeriksaan Sistem Motorik Dan
Refleks Fisiologis, Patologis Dan Primitif. Makasar: Departemen Neurologi
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Batticaca,Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan


Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika

Bulechek, G. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC).6th Edition.


Missouri: Elseiver Mosby

Carpenito,L.J. 2013. Rencana Asuhan Keperawatan & Dokumentasi


Keperawatan. Jakarta : EGC

Driskell, Ahlers & Garris. 2009. The Impact Of Knowledge Management


Practices In Improving Student Learning Outcomes. Stimulation & Gaming,
Vol 40 No 2: Durham University

Ginting, Dameria ,dkk. 2015. Mengatasi Konstipasi Pasien Stroke Dengan Masase
Abdomen Dan Minum Air Putih Hangat. Jurnal Keperawatan Indonesia,
Volume 18 No.1.

Ginting, Almaycano. 2008. Pengaturan Proses Sistem Gastrointestinal. FK USU.


E-Respiratory.
Guy, H.,et al. 2013. Pressure Ulcer Prevention: Making A Difference Across A
Health Authority. Journal of Nursing. Vol 22. No 12

Guyton & Hall. 2010. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC

Hariyanto,Awan.& Sulistyowati,Rini. 2015. Keperawatan Medikal Bedah I


Dengan Diagnosis NANDA Internasional. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Hidayah, Dita Nur. 2014. Analisa Praktik Klinik Keperawatan Kesehatan


Masyarakat Perkotaan Pada Nenek E Dengan Masalah Konstipasi Di Wisma
Dahlia Pstw Budi Mulia 1 Cipayung. Depok: Karya Ilmiah Akhir Ners FIK
UI

Hikaya, Rosdian Indawahyuni Dkk.2014. Efektifitas Pemberian Terapi Air Pada


Pagi Hari Terhadap Kejadian Konstipasi Pada Pasien Imobilisasi Akibat
Gangguan Sistem Neurologi. Gorontalo: Skripsi FIKK UNG

Irfan, Muhammad. 2010. Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta: Graha Ilmu
Yogyakarta

Izwardy, Doddy,dkk. 2014. Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: KEMENKES RI.

Junaidi, Iskandar. 2011. Stroke Waspadai Ancamannya. Yogyakarta : ANDI

Kasaraneni, J.& Hayes,M. 2014. Stroke and Constipation. Health Vol.6.


http://dx.doi.org/10.4236/health.2014.619313

Koniyo. 2011. Efektifitas Rom Pasif Dalam Mengatasi Konstipasi Pada Pasien
Stroke Di Ruangan Neuro Badan Layanan Umum Daerah RSU Dr. M.M
Dunda Kabupaten Gorontalo: Jurnal Health and Sport Vol 3. No 1.

Kosasih, Cecep Ali, Solehati, Tetti, Prawesti, Ayu. 2015. Analisis Faktor-Faktor
Penyebab Kejadian Konstipasi Pasien Stroke di Ruangan Rawat Inap RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian.

La Ode,Sharif. 2012. Asuhan Keperawatan Gerontik Berstandar Nanda,NIC,NOC


Dilengkapi teori dan Contoh Asuhan Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Media

Lean, Michael E.J. 2013. Ilmu Pangan, Gizi & Kesehatan. Yogyakarta: Penerbit
Pustaka Belajar

Lubis, Z. 2009. Hidup Sehat dengan Makanan Karya Serat. Bogor. IPB Press.

Manurung, Putri Sari Angelia. 2015. Gambaran Perubahan Fisiologis Sistem


Gastrointestinal:Konstipasi pada Pasien Stroke yang Immobilisasi di RSUP
H. Adam Malik Medan. Skripsi Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera
Utara
Miller, C.A. 2012. Nursing For Wellness In Order Adults Ed.6 th. Philadelphia :
Lippincot Williams&Wilkins.

Muchtadi D. 2009. Gizi Anti Penuaan Dini. Bandung: Alfabeta

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: EGC

Patel, S.,&Sen,D.J. 2015. Say Yes To Warm For Remove Harm : Amazing
Wonders Of Two Stages Of Water!. Europan Journal Of Pharmaceutical And
Medical Research Vol.2 No.4. www.ejpmr.com

Potter, Perry. 2010. Fundamental Keperawatan .Edisi 7. Vol. 3. Jakarta: EGC

Prastya, Anndy. 2013. Pengaruh Mobilisasi Miring Kanan Miring Kiri Terhadap
Pencegahan Konstipasi Pada Pasien Stroke Infark Dengan Tirah Baring
Lama Di Ruang Icu Rsud Prof. Dr. Soekandar Mojokerto. Penelitian Prodi S1
Keperawatan Stikes Majapahit Mojokerto

Raissa, Talitha.2012. Asupan Serat Dan Ciran , Aktivitas Fisik Serta Gejala
Konstipasi Pada Lanjut Usia. Bogor : Skripsi IPB

Rendy, M.Clevo.& Margareth. 2012. Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan


Penyakit Dalam.Yogyakarta: Nuha Media

Setyadi, Imam Masykuri. 2014. Karya Tulis Ilmiah Kajian Asuhan Keperawatan
Pasien Dengan Gangguan Mobilisasi Pada Penyakit Stroke Non Hemoragik
Di Rsud Dr. Moewardi. Solo : Karya Tulis Ilmiah Stikes PKU
Muhammadiyah Surakarta Prodi D-III Keperawatan

Sherwood, L., 2011. Fisiologi Manusia: Darisel Ke Sistem Organ, Alih Bahasa
Bhram U, Pendit. Jakarta: EGC

Simadibrata, Marcellus,dkk. 2010. Konsensus nasional penatalaksanaan


Konstipasi di Indonesia. Jakarta: Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia
(PGI)

Smeltzer & Bare. 2008. Buku Ajar Keperwatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

. 2012. Buku ajar Medikal bedah brunner & suddart edisi 8 vol 2.
Jakarta: EGC

Stanley,Mickey. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2. Edisi 2. Alih


Bahasa : Eny Meiliya Dan Monica Ester. Jakarta: EGC

Tampubolon, L.F. 2008. Pengaruh Terapi Air Terhadap Proses Defekasi Pasien
Konstipasi Di Rsuj Sembiring Delitua Deli Serdang. Tesis. Depok: FIK UI
Tarwoto Dan Wartonah. 2015. Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.

Toner, F. & Claros, E. 2012. Preventing, Assessing, And Managing Constipation


In Older Adults. Lippincott Williams &Wilkins. www. nursing2012.com

Umah, Khoiroh & Syafi’i, Ahmad. 2014. Mobilisasi Tiap 2 Jam Terhadap
Kejadian Konstipasi Pasien Stroke. Journals Of Ners Community Vol.5 No.2.

Wijaya, Andra Saferi.& Putri,Yessie Mariza. 2013. KMB 2 Keperawatan Medikal


Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh Askep. Yogyakarta: Nuha
Media