Anda di halaman 1dari 4

Pidato kenegaraan

Berita Utama
Jumat, 16 Agustus 2013, 11:04:02 WIB

Presiden SBY Sampaikan Pidato Kenegaraan pada Sidang Bersama DPR/DPD

Presiden SBY menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan sidang bersama DPR dan DPD RI
di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (16/8) pagi. (foto: cahyo/presidenri.go.id)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan
sidang bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daearah (DPD) di
Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (16/8) pukul 09.00 WIB. Ini merupakan keempat kalinya
Presiden membacakan pidato kenegaraan di hadapan sidang bersama. Bertindak sebagai ketua
sidang tahun ini adalah Ketua DPD Irman Gusman.

Di awal pidatonya, Presiden SBY mengucapkan selamat Idul Fitri kepada kaum muslimin dan
muslimat di seluruh Tanah Air. "Sebagai Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, dan pribadi yang
tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, dari lubuk hati yang paling dalam, saya ingin
menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin, minal aidin wal faidzin," ujar SBY.

Toleransi dan penghormatan terhadap kemajemukan adalah poin penting yang disampaikan oleh
Presiden SBY pada pidato kenegaraannya. SBY antara lain menjelaskan bahwa kemajemukan
merupakan hakikat Indonesia yang harus dipertahankan. Kepala Negara juga menyatakan bahwa
perbedaan tidak bisa dijadikan alasan bagi tindakan kekerasan.

"Kita harus memaknai kemajemukan ini, harus cegah benturan dan kekerasan komunal. Kita
tidak membeda-bedakan orang serta kelompok," ujar SBY.

Sesuai dengan konstitusi, menurut SBY, tidak diperkenankan adanya pembedaan terhadap
individu dan kelompok, sebab setiap individu memiliki hak untuk hidup. Perbuatan kelompok
radikal yang kerap main hakim sendiri dan melakukan kekerasan terhadap agama, aliran atau
latar belakang tertentu jelas menyimpang dari konstitusi yang menjadi dasar negara.

Menurut Presiden SBYm dialog dan diskusi menjadi pilihan ketika terjadi gesekan dan
ketidakpahaman antarsatu kelompok dengan lainnya. Pemahaman mengenai kemajemukan dan
perbedaan, kata SBY, harus pula disampaikan sejak dini kepada putra-putri Indonesia, agar
mereka tumbuh menjadi orang-orang yang menghargai hak-hak manusia dalam perbedaan.

Berkaitan dengan itu, lebih jauh, SBY pun meminta agar para guru dan orang tua mendidik siswa
dan anak-anaknya terkait penghormatan atas kemajemukan tersebut.

Sebelumnya, Ketua DPD Irman Gusman dalam sambutannya mengingatkan, seluruh elemen
bangsa untuk menjaga agar jangan terjadi kemerosotan rasa nasionalisme dan moralitas untuk
menegakkan harkat serta martabat bangsa Indonesia.

"Peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI hendaknya menjadi momentum dan menegaskan


kembali komitmen bernegara sesuai amanat yang tertuang pada UUD 1945. Jangan biarkan
merosotnya semangat dan nasionalisme, sebagai modal untuk meningkatkan daya saing
Indonesia terhadap bangsa-bangsa lain di dunia," imbuh Irman Gusman.

Pidato kenegaraan yang selalu dilakukan setiap tahun menjelang 17 Agustus adalah sebagai
pertanggungjawaban Kepala Negara terhadap rakyat Indonesia yang diwakilkan oleh wakilnya
yang duduk di DPR dan DPD.

Pada kesempatan kali ini, turut hadir Ibu Hj Ani Bambang Yudhoyono, Wapres Boediono, Ibu
Herawati Boediono, Ketua DPR Marzuki Alie, Presiden ke-3 RI BJ Habibie, Wakil Presiden ke-
9 RI Hamzah Haz, Wakil Presiden ke-10 RI Jusuf Kalla, jajaran menteri KIB II, duta besar
negara-negara sahabat, dan perwakilan masyarakat berprestasi. (yor)

Twitter: @websitepresiden

VIVAnews – Hari ini, Jumat 16 Agustus 2013, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyampaikan
tiga pidato kenegaraan untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh besok Sabtu, 17 Agustus
2013. Pidato itu disampaikan Presiden SBY dalam rapat bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan
Dewan Perwakilan Daerah di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari meminta agar anggota DPR dan DPD tidak melakukan interupsi ketika
Presiden membacakan pidato kenegaraan. “Anggota DPR sebaiknya mendengarkan saja karena pembahasan
ada di tingkat Badan Anggaran dan komisi,” kata dia.
Pukul 09.00 WIB, Presiden SBY akan menyampaikan pidato terkait hari kemerdekaan RI, sedangkan pukul
14.30 WIB tentang Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2014 dan Nota
Keuangan.

Hajriyanto mengatakan, anggota DPR memang bisa saja melakukan interupsi. “Tapi kalau lihat materi pidato,
aspek yang mendapat tanggapan diberikan waktu dalam sidang berikutnya. Jadi interupsi lebih pas di
pembahasan untuk persetujuan RAPBN yang diajukan pemerintah,” ujar politisi Golkar itu.

Koordinator Panitia Pelaksana Tim Kerja Persiapan Sidang Bersama DPR dan DPD, Gusti Kanjeng Ratu
Hemas, mengatakan mulai pukul 09.00 WIB hingga malam nanti akan dilakukan tiga rangkaian sidang, yaitu
Sidang Bersama DPR-DPD dengan agenda Pidato Kenegaraan Presiden dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-68
Kemerdekaan RI pada pukul 09.00 WIB, Rapat Paripurna Luar Biasa DPR dengan agenda Pidato Presiden
tentang RAPBN 2014 dan Nota Keuangan pada pukul 14.30 WIB, serta Sidang Paripurna DPD dengan agenda
Pembukaan Tahun Sidang 2013-2014 pada pukul 19.00 WIB.

Merujuk pada pokok-pokok acara dalam Buku Petunjuk Acara Sidang Bersama DPR-DPD, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono beserta Ibu Negara Kristiani Herrawati, akan tiba pukul 08.45 WIB di lantai dasar
Gedung Nusantara. Di depan pintu utama gedung, Ketua DPD Irman Gusman dan istri Liestyana Rizal, serta
Ketua DPR Marzuki Alie dan istri Asmawati, menyambut Presiden dan istri. Mereka kemudian menuju
ruangan VIP.

Lima menit sebelum SBY tiba, Wakil Presiden Boediono dan istri Herawati akan tiba lebih dulu pukul 08.40
WIB. Ia akan disambut Wakil Ketua DPD Gusti Kanjeng Ratu Hemas dan Wakil Ketua DPR Muhammad
Sohibul Iman. Mereka kemudian juga menuju ruangan VIP.

Pukul 08.58 WIB, Presiden, Wakil Presiden, pimpinan DPR, dan pimpinan DPD akan bersama-sama
memasuki ruangan sidang paripurna. “Presiden akan menyampaikan kondisi kebangsaan Indonesia, refleksi
dan perspektif, serta seruan kepada seluruh rakyat Indonesia,” kata Hemas. (sj)

AKARTA - Wakil Ketua Komisi I DPR, TB Hasanuddin, mengajak publik untuk mencermati isi
Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) siang tadi. Salah satu yang
patut dicermati dan terus-menerus diamati adalah komitmen dan konsistensi SBY soal NKRI.

"Apakah hanya basa-basi semata, atau memang ada keseriusan SBY di akhir masa jabatannya,
terutama menyangkut kohesi dan keutuhan NKRI," kata Hasanuddin di Jakarta, Jumat (16/8)
petang.

Hasanuddin menambahkan, SBY dalam pidatonya juga menegaskan bahwa NKRI merupakan
harga mati. SBY, kata Hasanuddin, juga meminta pihak luar tidak menyakini Bangsa Indonesia.
"Masalahnya, beranikah SBY mengaplikasikan pidatonya? Publik meragukannya karena selama
sembilan tahun pemerintahannya, Aceh dan Papua justru tambah menghawatirkan," imbuh
Hasanuddin.

Mantan Sekretaris Militer Kepresidenan itu menambahkan, kasus bendera GAM di Aceh jelas
menunjukkan ketidaktegasan SBY. Bahkan, lanjutnya, orang Aceh masih enggan memasang
bendera Merah Putih. "Lalu tindakan apa yang akan diambil SBY? Konsistenkah dengan
pidatonya?" ucap Hasanuddin.

Pensiunan TNI berpangkat mayor jenderal itu juga menyinggung cara SBY menangani
Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang kian merajalela di mancanegara. "Beranikah SBY
misalnya memutuskan hubungan diplomatik dengan negara yang mengizinkan perwakilan OPM
atau menarik dubes RI dari negara itu?" tuturnya.

Lebih lanjut Hasanuddin juga menyoroti persoalan kehidupan beragama di dalam negeri semasa
pemerintahan SBY yang kini jadi sorotan di luar negeri, termasuk di PBB. Misalnya persoalan
Gereja Yasmin di Bogor, warga Syiah di Sampang, Madura, serta intimidasi dan diskriminasi
terhadap pengikut Akhmadiyah di berbagai daerah.

"Ada banyak kasus-kasus intoleransi lainnya yang belum terselesaikan secara tuntas, bahkan
muncul kasus-kasus baru. Mulai besok rakyat menunggu keberanian SBY mengaplikasikan
pidatonya," pungkas Hasanuddin.(jpnn)