Anda di halaman 1dari 28

Kolesistitis

Oleh dr. Beatrix Kumowal

RSUD DATOE BINANGKANG 2017


Laporan Kasus

I. Identitas pasien
Nama : Tn. Husni Kandoli
Alamat : Desa Lolak Lingkungan IV Kec.Lolak
Jenis kelamin : Laki-laki
Status : Kawin
Agama : Islam

II. Anamnesis
Keluhan utama : Nyeri Perut kanan atas sejak ±7 hari
SMRS
Riwayat penyakit :
Pasien datang dengan keluhan nyeri perut kanan atas, sejak 7 hari
SMRS. Pasien juga mengeluh kuning seluruh badan sejak 7 hari
SMRS. Nyeri dirasakan menjalar sampai ke punggung, muncul tiba-
tiba, berlangsung > 20 menit. Keluhan juga disertai nyeri pada ulu
hati, kembung, dan demam terus menerus namun tidak terlalu tinggi,
keluhan nyeri perut timbul setelah makan makanan berlemak, mual
(+) muntah (-),BAB dan BAK tidak ada keluhan. Sebelumnya
pasien pernah dirawat di RS Prof Kandou dengan keluhan yang
sama kemudian pasien meminta rawat lanjut RSUD Datoe
Binangkang,. Riwayat penyakit darah tinggi dan kencing manis
tidak ada. Riwayat minum alkohol dan merokok ada. Riwayat
alergi tidak diketahui
III. Pemeriksaan Fisik :
Keadaan umum :Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda – tanda vital : Tekanan darah : 110/70mmHg
Nadi :84x/menit,reguler,equal,isi cukup
Pernapasan : 20x/menit
Suhu : 36,80C
Kepala : Konjungtiva tidak anemis sklera
tidak ikterik
Faring tidak hiperemis, Tonsil T1-T1
Leher :JVP 5-1 cmH2O, tidak terdapat
pembesaran pada kelenjar tiroid dan
KGB.
Thorax :bentuk dada normal, gerak simetris,
BPH ICS IV peranjakan 2 cm.
Cor : Ictus cordis tidak tampak, teraba di ICS
IV linea midclav sinsitra, diameter 2 cm.
batas kanan jantung pada ICS IV linea
sternalis dextra, batas atas jantung pada
ICS II linea sternalis sinsitra, batas kiri
jantung pada ICS V linea midclav
sinistra. Batas pinggang jantung pada
ICS III linea parasternal sinstra. BJ I-II
regular, murmur -, gallop -
Pulmo : fremitus raba kiri sama dengan kanan,
sonor di seluruh lapang paru, vokal
resonan kanan sama dengan kiri,
vesikuler diseluruh lapang paru, ronki-/-,
wheezing -/-
Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan epigastrium
(+), Murphy sign (+), hepar dan lien
tidak teraba, timpani, RT tidak terisi,
bising usus (+) normal.
Ekstermitas :akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis -/-

IV. Diagnosis
WD : kolesistitis akut
DD : pankreatitis akut, kolelitiasis, ulkus peptic
Dasar diagnosis :
Pada anmanesis didapatkana danya nyeri pada perut kanan atas

yang menjalar sampai punggung dan disertai adanya demam.


Pada pemeriksaan fisik :
Murphy sign (+)
V. Pemeriksaan anjuran
Darah rutin, urin lengkap, usg abdomen, fosfatase alkali
Hasil pemeriksaan anjuran
1. Darah rutin
Hb : 13,1 g/dl
Leukosit : 10.910/mm3
Trombosit :496.000/mm3
Hematokrit : 39%

2. Urin lengkap
Makroskopik Mikroskopis
Warna : kuning jernih Eritrosit : 0-1 LPB
Reaksi : Asam Leukosit : 2-4 LPB
pH :7 Epitel : (+)
Berat jenis : negatif Kristal :Amorf (+)
Protein : negatif Silinder : negatif
Glukosa : negatif Bakteri : negatif
Bilirubin : negatif Candida : negatif
Urobilinogen : negatif
Keton : negatif
Blood : negatif
Nitrit : negatif
3. USG abdomen
Kolesistitis dengan multiple batu pasir di GB.

VI. Diagnosis Pasti


Kolesistitis dengan kolelithiasis

VII. Tatalaksana
Cairan RL
Petidine 1 x 50 mg
Cefotaksime inj 1 gram
Ad sanationam
VIII. Prognosis
Ad vitam
Ad fungsionam
: ad bonam

: ad bonam

: ad bonam
BAB I

Pendahuluan

I.1 Latar Belakang

Sekitar 95% penderita peradangan kandung empedu akut,memiliki


batu empedu. Kadang suatu infeksi bakteri menyebabkan terjadinya
peradangan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kolesistitis
diantarannya: Faktor biologi (jenis kelamin), faktor lingkungan, faktor
penyakit. Kolesistitis juga merupakan keadaan yang membuat 10% hingga
25% pasien harus menjalani pembedahan kandung empedu. Bentuk yang
akut lebih sering ditemukan di antara wanita yang berusia pertengahan;
bentuk kronis di antara manula. Kolesistitis dengan penanganan yang baik
mempunyai prognosis yang cukup baik.

I.2 Epidemiologi

Di Amerika Serikat, insiden kasus batu empedu pada wanita lebih tinggi
dibandingkan pada pria ( 2,5 : 1 ) dan terjadi peningkatan seiring
bertambahnya umur. Di masyarakat barat, komposisi utama batu empedu
adalah kolesterol, sedangkan penelitian di Jakarta didapatkan 73% batu
pigmen dan 27% batu kolesterol. Faktor resiko terjadinya batu empedu adalah
: usia, gender wanita, kehamilan, estrogen, obesitas, etnik, (penduduk asli
Amerika), sirosis, anemi hemolitik, nutrisi parenteral total. 1

Balzer dkk, melakukan penelitian epdiemiologi untuk mengetahui


seberapa banyak populasi penderita batu empedu di Jerman. Dilaporkan
bahwa dari 11.840 otopsi ditemukan 13,1% pria dan 33,7% wanita
menderita batu empedu. Faktor etnis dan genetic berperan penting dalam
pembentukan batu empedu. Selain itu, penyakit batu empedu juga relative
rendah di Okinawa Jepang.1
BAB II

Pembahasan

2.1 Definisi

Kolesistitis

Kolesistitis merupakan peradangan yang terjadi pada kandung


empedu. Kolesistitis terbagi menjadi dua yaitu kolesistitis akut dan
kronik. Kolesisttitis akut adalah suatu reaksi inflamasi akut dinding
kandung empedu yang disertai dengan keluhan nyeri perut kanan
atas, nyeri tekan, dan demam. Kolesistitis kronik lebih sering
karena batu, dan biasanya disebabkan oleh kolesistitis akut
berulang yang menyebabkan penebalan dinding kandung empedu
dan lama kelamaan efensiensinya berkurang.1,2

Kolelithiasis

Kolelithiasis adalah keadaan dimana terdapat batu empedu di


dalam kandung empedu yang memiliki ukuran, bentuk, dan
komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada
4F yaitu wanita ( female), usia di atas 40 tahun (forty), obese (fat),
dan fertile. Batu kandung empedu merupakan gabungan beberapa
unsur dari cairan empedu yang mengendap dan membentuk suatu
material mirip batu di dalam kandung empedu atau saluran
empedu. Komponen utama dari cairan empedu adalah bilirubin,
garam empedu, fosfolipid dan kolesterol. Batu yang ditemukan di
dalam kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu pigmen
yaitu coklat atau pigmen hitam, atau batu campuran.1
2.2 Etiologi
Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (
90% ) yang terletak diduktus sistikus sehingga menyebabkan stasis
cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus timbul tanpa
adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).
Faktor predisposisi terjadinya batu empedu antara lain perubahan
komposisi empedu ( sangat jenuh dengan kolesterol), statis empedu
( akibat gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme sfingter
oddi), dan infeksi ( bakteri dapat berpean sebagai pusat
presipitasi/pengendapan) kandung empedu.1

2.3 Patofisiologi

Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut


adalah :

 Stasis cairan empedu

 Infeksi kuman

 Iskemia dinding kandung empedu

Batu empedu yang mengobstruksi duktus sistikus


menyebabkan cairan empedu menjadi stasis dan kental,
kolesterol dan lesitin menjadi pekat dan seterusnya akan
merusak mukosa kandung empedu diikuti reaksi inflamasi dan
supurasi. Dinding kandung empedu akan meradang, kasus yang
lebih berat akan erjadi nekrosis dan rupture. Kolesistitis akut
akalkulus dapat timbul pada pasien yang dirawat cukup lama
yang mendapat nutrisi secara parenteral atau dapat juga terjadi
sumbatan karena keganasan kandung empedu.2,3

Faktor resiko kolesistitis adalah faktor yang menyebabkan


pembentukan batu empedu, termasuk hiperlipidemia, diet tinggi
karbohidrat, obesitas, diabetes mellitus, hemoglobinopati, atau
konsumsi alcohol dalam jangkanwaktu yang panjang. Faktor –
faktor resiko ini meningkat dengan bertambahnya usia
seseorang. Jika dilihat dari sudut jenis kelamin, perempuan
lebih beresiko karena pengaruh hormone dan kehamilan.

Patofisiologi kolelitiasis

a. Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari
keempat anion ini yaitu: bilirubinat, karbonat, fosfat dan
asam lemak. Pigmen (bilirubin) pada kondisi normal akan
terkonjugasi dalam empedu, dengan bantuan enzim
glokuroniltransferase.Kekurangan enzim ini mengakibatkan
presipitasi / pengendapan dari bilirubin tersebut.
b. Batu kolesterol, kolesteerol bersifat tidak larut dalam air,
kelarutan kolesterol sangat tergantung dari asam empedu
dan lesitin (fosflipid). Proses pembentukan batu kolesterol
adalah sebagai berikut :

 Supersaturasi koleterol

 Nukleasi kolesterol

 Disfungsi kandung empedu.1

2.4 Gejala Klinis


a. Kolesistitis

Keluhan khas adalah nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan
kenaikan suhu tubuh disertai menggigil. Rasa sakit yang
menjalar ke pundak atau scapula kanan dan dapat berlangsung
sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya keluhan bervariasi
tergantung dari beratnya inflamasi. Tanda randang peritoneum
juga dapat ditemukan pada kolesistitis akut apabila penderita
merasa nyeri semakin bertambah pada saat menarik nafas
dalam, selain itu terdapat juga anoreksia, mual dan muntah. 1

b. Kolelitiasis

Keluhan timbul bila batu bermigrasi menyumbat duktus


sistikus atau duktus koledokus. Gejala klinis dapaat berupa
kolik bilier, mual, mutah, dan lain-lain. Kolik bilier merupakan
keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini
akibat obstruksi transien duktus istikus oleh batu, sehingga
menyebabkan peningkatan intralumen an distensi kandung
empedu. Kolik biasanya timbul malam atau dini hari, setelah
makan berat ataua makanan berlemak malam hari. Nyeri
meningkat tajam dalam 15 menit dan menetap selama 3-5 jam,
timbul dikuadran kanan atas atau epigastrium, dapat menjalar
ke punggung kanan, atau bahu kanan, dan dapat menyerupai
angina pectoris. Episode kolik sering disertai mual, muntah.1

2.5 Diagnosis
a. Kolesistitis Akut

Anamnesis : nyeri perut kanan atas yang menjalar ke pundak


atau skapula kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit
tanpa reda, kenaikan suhu tubuh disertai menggigil, jaundice,
dapat pula disertai anoreksia, mual, muntah.
Pemeriksaan fisik : ikterus ringan, teraba massa kandung
empedu, nyeri tekan di daerah letak anatomis kandung empedu.
Tanda murhpy positif apabila nyeri tekan bertambah sewaktu
penderita menarik nafas panjang karena kandunh empedu yang
meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien
berhenti menarik nafas.2,3

b. Kolelitiasis

Anamnesis : Setengah sampai duapertiga penderita kolelitiasis


adalah asimtomatis. Keluhan yang mungkin timbul adalah
dispepsia yang kadang disertai intoleran terhadap makanan
berlemak. Pada yang simptomatis, pasien biasanya dating
dengan keluhan utama berupa nyeri di daerah epigastrium atau
nyeri/kolik pada perut kanan atas atau perikondrium yang
mungkin berlangsung lebih dari 15 menit, dan kadang beberapa
jam.
Pemeriksaan Fisik : Pasien dengan stadium litogenik atau batu
asimptomatik tidak memiliki kelainan dalam pemeriksaan fisik.
Selama serangan kolik bilier, terutama pada saat kolelitiasis
akut, pasien akan mengalami nyeri palpasi/nyeri tekan dengan
punktum maksimum didaerah letak anatomis kandung empedu.
Diketahui dengan adanya tanda Murphy positif apabila nyeri
tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas panjang
karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari
tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas. Riwayat
ikterik maupun ikterik cutaneous dan sclera dan bisa teraba
hepar.2,3

Pemeriksaan Penunjang Kolesistitis akut dan kolelithiasis


a. Pemeriksaan laboratoriun: leukositosis, peningkatan kadar
bilirubin (< 4 mg/dl), peningkatan serum transaminase dan
fosfastase alkali.
b. Pemeriksaan foto polos abdomen biasanya tidak khas untk
melihat adanya batu, karena hanya sekitar 10-15 % batu
kandung empedu berkadar kalsium tinggi sehingga bersifat
radioopak.
c. USG abdomen sangat bermanfaat untuk melihat besar, bentuk,
penebalan dinding kandung empedu, batu, dan saluran empedu
ekstrahepatik.
d. Kolesistografi, untuk penderita tertentu cukup baik karena
relatif murah, sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu
radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan ukuran batu.
Kontraindikasi : ileus paralitik, muntah, kadar bilirubin > 2
mg/dl, obstruksi pylorus, dan hepatitis karena keadaan tersebut
kontras tidak dapat mencapai hati.4

2.6 Diferensial Diagnosis


Kolesistitis akut : ulkus peptikum akut, pancreatitis akut,
hepatitis alkohlik
Kolelitiasis : pancreatitis akut, striktur duktus biliaris,
karsinoma kandung empedu, ulkus peptic.
2.7Tatalaksana
a. Tindakan umum
Tirah baring, cairan intravena, diet ringan tanpa lemak,
analgetik petidin dan terapi simptomatik lainnya
b. Antibiotik
Antibiotik pada fase awal sangat penting untuk mencegah
komplikasi peritonitis, kolangitis, dan septicemia. Umumnya
penyebab infeksi adalah bakteri E. coli, S. faecalis dan
Klebsiella. Dapat dipilih golongan sefalosporin dan
metronidazol atau golongan ureidopenisilin seperti piperasilin,
atau ampisilin sulbaktan, atau sefalosporin generasi ketiga.
Penisilin dan kontrimoksazol sama-sama disekresi dalam
empedu, namun sepertiga bakteri koliform empedu kini resisten
terhadap ampisilin. Sefotaksim mungkin merupakan antibiotic
terpilih.
c. Terapi operatif
Terapi definitif kolesistitis akut adalah kolesistektomi. Terapi
operatif ini dapat dilakukan secepatnya yaitu dalam waktu 2-3
hari atau ditunggu 6-10 minggu selepas diterapi dengan
pengobatan. Sebagian ahli memilih terapi operatif dini untuk
menghindari timbulnya gangrene atau komplikasi kegagalan
terapi konservatif. Sebagian lagi memilih dilakukan bila
kondisi penderita sudah stabil. Terapi operatif lanjut ini
merupakan pilihan terbaik karena operasi dini akan
menyebabkan penyebaran infeksi ke rongga peritoneum dan
teknik operasi menjadi lebih sulit kaaren aproses inflamasi akut
di sekitar dukutus akan mengaburkan gambaran anatomi.1

Tatalaksana Kolelitiasis

Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan


pengobatan. Nyeri yang hilang timbul bisa dihindari atau
mengurangi dengan makanan berlemak. Jika batu empedu
menyebabakan serangan nyeri berulang meskipun telah
dilakukan perubahan pola makan, makan dianjurkan untuk
menjalani pengangkatan kandung empedu (kolesistektomi).
Pengangkatan kandung empedu tidak menyebabkan
kekurangan zat gizi dan setelah pembedahan tidak perlu
dilakukan pembatasan makanan.1

Kolesistektomi terbagi dua yaitu operasi secara terbuka dan


lapparoskopik

a. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan
pasien dengan kolelitiasis simptomatik. Komplikasi yang
paling bermakna yang dapat terjadi dalah cedera duktus
biliaris yang terjadi pada 0,2 % pasien. Angka mortalitas
yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari 0,5%.
Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah
kolik biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut.1

b. Kolesistektomi laparoskopi
Indikasi awal hanya pada pasien dengan kolelitiasis
simtomatik tanpa danya kolesistitis akut. Karena semakin
bertambahnya pengalaman, banyak ahli bedah mulai
melakukan prosedur ini pada pasien dengan kolesistitis akut
dan koledokolitiasis. Dibandingkan dengan prosedur
konvensional, tindakan ini dapat mengurangi lama
perawatan di rumah sakit, namun ada penyulit yaitu resiko
cedera duktus biliaris.1

Bila pembedahan tidak dilakukan, dapat dilakukan terapi


medikamentosa atau menggunakan metode ESWL.
a. Terapi medikamentosa : diberikan pada pasien yang
menolaka operasi, atau pasien resiko tinggi untuk
kolesistektomi. Zat pelarut batu empedu yang digunakan
adalah asam kenodioksikolat (CDCA) dan ursodeoksikolat
(UDCA). Keduanya hanya efektif untuk batu kolesterol
yang kecil (<10mm) dan tidak dapat melarutkan pigmen.
Mekanisme kerjanya berdasarkan penghambatan sekresi
kolesterol, sehingga kejenuhan dalam kandung empedu
berkurang dan batu dapat melarut lagi. UDCA dengan dosis
8-10 mg/KgBB/hari atau 8-12 mg/KgBB/hari merupakan
pilihan karena efek samping diare atau rambut rontok lebih
kecil. UDCA diberikan selama 6-12 bulan. Sabiston
merekomendasikan kombinasi antara UDCA dan CDCA
dengan dosis masing-masing 7,5 mg/KgBB/hari. Terapi
dengan zat pelarut ini harus diberikan lama yaitu antara 3
bulan sampai 2 tahun dan baru dihentikan minimal 3 bulan
setelah batu-batu tersebut larut.

b. ESWL ( Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy) Prosedur


noninvasif ini menggunakan gelombang kejut berulang
(Repeated Shock Wave) yang diarahkan pada batu empedu
didalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan
maksud memecah batu tersebut menjadi beberapa sejumlah
fragmen. Pecahnya batu tersebut akan keluar melewati
saluran cerna. Namun beberapa komplikasi dapat timbul
apabila bpecahnya batu tersebut menyumbat saluran
pankreas sehingga menyebabkan pancreatitis, selain itu
dapat juga menyumbat saluran cerna yang sempit seperti
ileum terminale sehingga menimbulkan gejala ileus
obstruktif.1

2.8 Komplikasi
Kolesistitis akut tidak jarang menjadi kolesistitis rekuren, kadang
dapat berkembang dengan cepat menjadi gangren, empiema dan
perforasi kandung empedu, fistel, abses hati, dan peritonitis.
Kolelithiasis dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
a. Kolesistitis akut : biasanya dipresipitasi oleh obstruksi duktus
sistikus akibat kalkulus.
b. Kolesistitis kronik : inflamasi kronis menyebabkan penebalan
dan fibrosis kandung empedu , biasanya menjadi menyusut, dan
tidak berfungsi
c. Obstruksi saluran bilier skunder akibat perjalanan kalkulus ke
dalam duktus bilier komunis ( koledokolitiasis) dengan
jaundice obstruktif
d. Pankreatitis akut : terdapat hubungan yang kuat dengan batu
empedu. Batu pada ujung bawah duktus bilier komunis tidak
hanya merusak drainase pankreas, namun juga menimbulkan
refluks empedu ke dalam duktus pankreas.
e. Ileus batu empedu : terjadi ketika batu empedu mengalami
ulserasi ke dalam duodenum melalui fistula dan menyebabkan
obstruksi usus halus akibat impaksi batu
f. Karsinoma kandung empedu : jarang namum biasanya
berhubungan dengan kalkulus kandung empedu.
g. Empiema : setelah batu empedu terjepit di dalam duktus
sistikus akan terjadi distensi dan inflamasi , dengan kandungan
purulen pada kandung empedu.5

2.9 Prognosis

Penyembuhan spontan didapatkan pada 85% kasus, sekalipun


kandung empedu yang menjadi tebal, fibrotic, penuh dengan batu dan
tidak berfungsi lagi. Tindakan bedah akut pada usia tua (>75 tahun)
mempunyai prognosis yang jelek disamping kemungkinan timbul
banyak komplikasi pasca bedah.1
Kebanyakan pasien dengan batu empedu tetap asimtomatik
sepanjang hidupnya. Kolik bilier timbul pada 1% pasien, dan pilihan
terapi adalah kolesistektomi. Obstruksi duktus sistikus mengakibatkan
kolesistitis akut. Terapia dalah antibiotik dan kolesistektomi.

BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan

Kolesistitis merupakan peradangan yang terjadi pada kandung


empedu. Kolelithiasis adalah keadaan dimana terdapat batu
empedu di dalam kandung empedu yang memiliki ukuran,
bentuk, dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering
dijumpai pada 4F yaitu wanita ( female), usia di atas 40 tahun
(forty), obese (fat), dan fertile. Keluhan khas adalah nyeri perut
kanan atas, nyeri tekan dan kenaikan suhu tubuh disertai
menggigil. Rasa sakit yang menjalar ke pundak atau scapula
kanan dan dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa reda.
Keluhan timbul bila batu bermigrasi menyumbat duktus
sistikus atau duktus koledokus. Gejala klinis dapaat berupa
kolik bilier, mual, mutah, dan lain-lain.
Pada kolesistitis ditemukan leukositosis, peningkatan kadar
bilirubin (< 4 mg/dl), peningkatan serum transaminase dan
fosfastase alkali.

Daftar pustaka

1. Suzanna N. Bahan Ajar Gastroenterohepatologi. Jakarta: Bagian Ilmu


Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Ukrida; 2013. hlm 187 – 96
2. Sudoyo A W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar
ilmu penyakit dalam. Ed 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009
3. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Kedokteran Klinis. Ed ke 6.
Jakarta: Erlangga Medical Series; 2005. hlm 254-9
4. Davey P. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga Medical Series;
2007. hlm.245-9
5. Patel P. Lecture Note Radiologi. Ed ke 2. Jakarta: Erlangga Medical
Series; 2006. hlm 141-2
6.