Anda di halaman 1dari 45

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Pada era serba teknologi ini teknik pengelasan sangat diperlukan untuk berbagai
proses pengerjaan industri seperti, pemotongan logam dan penyambungannya, konstruksi
bangunan baja, dan konstruksi permesinan yang memang tidak dapat dipisahkan dengan
teknologi manufaktur. Teknologi pengelasan termasuk yang paling banyak digunakan karena
memiliki beberapa keuntungan seperti bangunan dan mesin yang dibuat dengan teknik
pengelasan menjadi ringan dan lebih sederhana dalam proses pembuatannya. Kualitas dari
hasil pengelasan sangat tergantung pada keahlian dari penggunanya dan persiapan sebelum
pelaksanaan pengelasaan
Pengelasan adalah suatu proses penyambungan logam menjadi satu akibat panas
dengan atau tanpa pengaruh tekanan atau dapat juga didefinisikan sebagai ikatan metalurgi
yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik antara atom. Definisi las berdasarkan DIN
(Deutche Industrie Normen) adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam
panduan yang dilaksanakan dalam keadaan lumer atau cair. Secara umum pengelasan dapat
didefinisikan sebagai penyambungan dari beberapa batang logam dengan memanfaatkan
energi panas
Penyambungan dua buah logam menjadi satu dilakukan dengan jalan pemanasan atau
pelumeran, dimana kedua ujung logam yang akan disambung di buat lumer atau dilelehkan
dengan busur nyala atau panas yang didapat dari busur nyala listrik (gas pembakar) sehingga
kedua ujung atau bidang logam merupakan bidang masa yang kuat dan tidak mudah
dipisahkan (Arifin,1997).
Saat ini terdapat sekitar 40 jenis pengelasan. Dari seluruh jenis pengelasan tersebut hanya dua
jenis yang paling populer di Indonesia yaitu pengelasan dengan menggunakan busur nyala
listrik (Shielded metal arc welding/ SMAW) dan las karbit (Oxy acetylene welding/OAW)
Diharapkan dengan adanya laporan ini dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa di
dalam praktek maupun teori pengelasan sehingga kelak dapat menunjang keterampilan dan
kemampuan mahasiswa di dalam dunia teknik pemesinan.
1.1 Tujuan

1.1.1. Tujuan umum praktikum pengelasan dasar adalah :


a) Siswa memiliki ketrampilan.
b) Siswa mampu melakukan pekerjaan sesuai lembar kerja.
c) Siswa mampu menggunakan alat kerja dengan baik dan benar.
d) Siswa dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

1.1.2. Tujuan Khusus praktikum pembentukan dasar antara lain :


a) Mahasiswa mengetahui praktikum pengelasan.
b) Mahasiswa mengetahui alat dan kelengkapan pada mesin las busur listrik Shielded metal arc
welding (SMAW) dan Oxy Asetiline Welding (OAW)
c) Mahasiswa mengetahui APD yang digunakan.
d) Mahasiswa mengetahui bagaimana cara mengoperasikan mesin las busur listrik (Shielded
metal arc welding (SMAW) dan Oxy Asetiline Welding (OAW)
e) Mahasiswa mengetahui penyebab dan kendala yang di alami selama kegiatan praktik
pengelasan.

1.2 Manfaat

Manfaat praktik kerja bangku adalah sebagai berikut :


1.2.1 Melatih praktikan (mahasiswa) mampu melaksanakan kegiatan pengelasan , sehingga
terampil melaksanakannya.
1.2.2 Memberi bekal praktikan (mahasiswa) tentang kegiatan pengelasan sehingga mampu
menerapkannya pada dunia industri.
1.2.3 Memberi bekal praktikan (mahasiswa) pengelasan sehingga saat menjadi tenaga pendidik
mampu mengajarkan siswanya dengan baik.
1.2.4 Melatih kemampuan praktikan (mahasiswa) mampu mengoperasikan mesin las busur listrik
(Shielded metal arc welding (SMAW) dan Oxy Asetiline Welding (OAW) dengan baik dan
benar agar nantinya dapat mengajukan sertifikasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian pengelasan busur listrik atau Shield Metal Arc Welding (SMAW)
Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dikenal juga dengan istilah Manual Metal Arc
Welding (MMAW) atau Las elektroda terbungkus adalah suatu proses penyambungan dua
keping logam atau lebih, menjadi suatu sambungan yang tetap, dengan menggunakan sumber
panas listrik dan bahan tambah/pengisi berupa elektroda terbungkus. Pada proses las
elektroda terbungkus, busur api listrik yang terjadi antara ujung elektroda dan logam
induk/benda kerja (base metal) akan menghasilkan panas.
Panas inilah yang mencairkan ujung elektroda (kawat las) dan benda kerja secara
setempat. Busur listrik yang ada dibangkitkan oleh mesin las.Elektroda yang dipakai berupa
kawat yang dibungkus oleh pelindung berupa fluks. Dengan adanya pencairan ini maka
kampuh las akan terisi oleh logam cair yang berasal dari elektroda dan logam induk,
terbentuklah kawah cair, lalu membeku maka terjadilah logam lasan (weldment) dan terak
(slag), seperti pada gambar

Gambar proses pengelasan busur listrik atau Shield Metal Arc Welding (SMAW)
Tegangan yang digunakan pada las busur listrik sangat menentukan terjadinya
loncatan bunga api, semakin besar tegangan semakin mudah terjadi loncatan bunga api listrik.
Hal yang perlu diperhatikan, bahwa tegangan yang tinggi akan membahayakan operator las,
karena tubuh manusia hanya mampu menderita tegangan listrik sekitar 42 volt. Selain
penggunaan arus dan tegangan yang bisa membahayakan operator, nyala busur listrik juga
memancarkan sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berinteraksi sangat tinggi.
Pancaran atau radiasi dari sinar tersebut sangat membahayakan mata maupun kulit manusia
(Bintoro, 1999).
Keuntungan pengelasan busur listrik atau Shield Metal Arc Welding (SMAW)
1.Biaya awal invesmen rendah
2. Secara operasional handal dan sederhana
3. Biaya material pengisi rendah
4. Material pengisi dapat bermacam-macam
5. Pada semua material dapat memakai peralatan yang sama
6. Dapat dikerjakan pada ketebalan berapapun
7. Dapat dikerjakan dengan semua posisi pengelasan
Kekurangan dari pengelasan busur listrik atau Shield Metal Arc Welding (SMAW)
1. Lambat, dalam penggantian elektroda
2. Terdapat slag yang harus dihilangkan
3. Pada low hydrogen electrode perlu penyimpanan khusus
4. Efisiensi endapan rendah.

2.2 Perlengkapan pengelasan busur listrik


Alat utama las busur manual adalah sebagai berikut:

1. Kabel tenaga
Pemilihan kabel tenaga yang digunakan untuk menginstal disesuaikan dengan
bebannya (trafo las nya) berupa ampere dan tegangan input trafo las. Hal ini menyangkut
ukuran kawat, panjang kabel, dan jenis kawatnya (serabut/tidak). Selanjutnya dalam
menginstal harus kuat dan tidak mudah lepas, sehingga aliran listrik dapat mengalir maksimal
dan tidak panas.

2. Trafo las
Pemilihan trafo las pada saat akan membeli, harus dipertimbangkan tentang
kebutuhan maksimal (beban pekerjaan yang akan dikenakan kepada trafo las tersebut.
Apabila beban pekerjaannya besar maka langkah pemilihannya adalah dapat dipertimbangkan
tentang tegangan input: 3PH, 2PH atau 1PH; Ampere output, dipertimbangkan dari diameter
elektroda yang akan digunakan. dan yang paling penting adalah duty cycle dari trafo tersebut.
dalam hal ini pilihlah trafo las yang memiliki duty cycle yang tinggi untuk ampere yang
tinggi, misal duty cycle 100% untuk arus sampai dengan 200 A. langkah berikutnya gunakan
tang ampere untuk mengecek kesesuaian out put arus pengelasan pada indikator dengan
kenyataannya yang terlihat pada tang ampere.
Jenis trafo las juga perlu dipertimbangkan apakah trafi AC atau DC. hal ini terkait
dengan jenis elektroda yang akan digunakan. jika menggunakan multi electrode, pilihlah trafo
DC. Cara mengoperasikan trafo las terlebih dahulu harus dilihat instalasinya. Kabel tenaga ke
trafo las, kabel massa, kabel elektroda dan kondisi trafo sendiri, apakah pada
tempat yang kering atau basah. setelah diketahui instalasinya baik, maka saklar utama pada
kabel tenaga di on kan, selanjutnya saklar pada trafo las di on kan. pastikan kabel massa dan
kabel elektroda tidak dalam kondisi saling berhubungan. atur arus pengelasan yang
dibutuhkan dan selanjutnya gunakan untuk mengelas. Apabila proses pengelasan telah
selesai, trafo las dimatikan kembali.

3. Kabel elektroda dan kabel massa


Kabel elektroda dan kabel massa harus menggunakan kabel serabut sehingga lentur
dengan ukuran disesuaikan dengan ampere maksimum trafo las (lihat ketentuan pada tabel)
kabel las. Kabel elektroda dan kabel massa harus terkoneksi )terinstall dengan kuat dengan
trafo las agar aliran arus pengelasan sesuai dengan ketentuan yang tertera dalam indikator
ampere pada trafo las. Penggunaan kabel elektroda dan kabel massa pada saat pengelasan
harus disiapkan dengan benar, yaitu dalam kondisi terurai, tidak tertekuk dan saling berlilitan.
Dengan kondisi semacam ini maka aliran arus pengelasan akan maksimal. Jika sudah tidak
dipakai, trafo las dimatikan dan kabel las digulung dan diletakkan dengan benar tidak saling
berbelit agar mudah dalam penggunaan di waktu yang lain.

4. Pemegang elektroda dan penjepit massa


Penjepit elektroda dan penjepit massa dibuat dari bahan yang mudah menghantarkan
arus listrik. bahan yang biasa digunakan adalah tembaha. Pada pemegang elektroda pada
mulutnya sudah dibentuk sedemikian rupa sehingga memudahkan tukang las
memasang/menjepit pada pemegang elektroda. Dalam penggunaannya elektroda harus
ditempat pada sela-sela yang ada, dapat diposisikan dengan sudut 180 derajat, 90 derajat atau
45 derajat terhadap pemegang elektroda. Sedang pada penjepit massa dibuat sedemikian rupa
sehingga dapat mencengkeram dengan kuat pada benda kerja.
Penjepit elektroda maupun penjepit massa tidak diperkenankan terkena busur las.
Pada penjepit elektroda, penggunaan elektroda disisakan 1 inch sehingga tidak sampai habis
menyentuh pemegang elektroda. Sedangkan pemegang massa tidak diperkenankan untuk
menjadi tempat mencopa elektroda/menyalaka elektroda agar tidak rusak. Penjepit benda
kerja ditempatkan pada dekat benda kerja atau meja las dengan kuat agar aliran listrik dapat
maksimal/tidak banyak arus yang terbuang.

2.3 Alat-alat bantu las


Alat-alat bantu las harus digunakan dengan benar sesuai fungsinya dan dengan teknik
yang benar pula. Di samping itu cara penyimpanannya harulah ditempatkan sedemikian rupa
sehingga tidak saling bertumpukan dan saling bergesekan satu sama lain.
Alat bantu las diantaranya adalah:
1. Meja las
Meja las adalah tempat untuk menempatkan benda kerja pada posisi yang
dipersyaratkan. Meja las harus diletakkan sedemikian rupa dan tidak mudah bergerak saat
tersenggol atau saat welder melakukan pengelasan. Gunakan benda kerja lain saat mencoba
penyalaan elektroda dan jangan dilakukan di meja las.

Gambar Meja las


2. Palu terak
Palu terak adalah alat untuk membersihkan terak dari hasil pengelasan. Dalam
menggunakan palu terak ini jangan sampai membuat luka pada hasil pengelasan maupun
pada base metalnya. karena luka bekas pukulan adalah merupakan cacat pengelasan. Palu
terak sebelum digunakan dicek ketajamannya dan kondisinya. Apabila sudah tumpul, maka
harus ditajamkan dengan menggerindanya. Setelah selesai menggunakannya, tempatkan palu
terak pada tempatnya secara rapi.

Gambar Palu las


3. Palu konde
Palu konde secara standar yang digunakan adalah berkapasitas 2 kg. penggunaan palu
konde adalah untuk membantu meluruskan, meratakan permukaan benda kerja yang berkelok
atau melengkung, untuk membentuk sudut pada benda kerja dengan tujuan mengurangi atau
meniadakan distorsi. atau ditunakan untuk tujuan membantu persiapan pengelasan. Palu
konde juga harus dikontrol kondisinya agar tidak kocak serta dalam penyimpananya harus
tertata rapi dan tidak saling bertumpukan atau bergesekan dengan alat lainnya.
Gambar Palu konde
4. Gerinda tangan
Gerinda tangan ini berfungsi untuk menyiapkan material yang akan di las berupa
penyiapan kampuh las. Gerinda ini juga digunakan untuk membantu dalam proses pengelasan
khususnya dalam pembersihan lasan sebelum di sambung atau sebelum ditumpuki dengan
lasan lapis berikutnya. gerinda tangan ini juga digunakan untuk membantu dalam
memperbaiki cacat las yang memerlukan penggerindaan dalam persiapannya sebelum
diperbaiki cacat pengelasan tadi.

Gambar Gerinda tangan


2.4 Teknik Pengelasan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk mendukung hasil las yang mulus,
kuat dan efisien dintaranya:

1. Parameter Pengelasan yang meliputi panjang busur, arus listrik, dan ketebalan benda
Table parameter pengelasan

2. Menyalakan dan mematikan busur listrik


a. Scratcing Methode
b. Tapping method

3. Geraka elektroda
a. Gerkan menarik (dragging motion)
b. Gerakan maju-mundur (whipping motion)
c. Gerakan melebar (weaving motion)

4. Menyambung las
a. Terak yang ada didalam las dibersihkan
b. Lengkung listrik dinyalakan dengan jarak kira-kira setengah inchi didepan kawah las
c. Elektroda digerakan ke kawah las dan diisi hingga sama besar dengan jalur ls sebelumnya

5. Perencanaan sambugan (joint design)


Gambar macam-macam sambungan pengelasan

6. Posisi pengelasan (welding position)

Gambar posisi saat pengelasan


2.5 Kawat elektroda
Kawat Elektroda terdiri dari dua bagian yaitu bagian yang berselaput (fluks) dan tidak
berselaput yang merupakan pangkal untuk menjepitkan tang las, yang ditunjukan pada
Gambar. Sedangkan fungsi fluks sendiri adalah untuk melindungi logam cair dari lingkungan
udara, menghasilkan gas pelindung, menstabilkan busur.
Gambar Kawat elektroda

Kawat elektroda dibedakan menjadi elektroda untuk baja lunak, baja karbon tinggi,
baja paduan, besi tuang, dan logam non ferro. Bahan elektroda harus mempunyai kesamaan
sifat dengan logam (Suharto, 1991). Pemilihan elektroda pada pengelasan baja karbon sedang
dan baja karbon tinggi harus benarbenar diperhatikan apabila kekuatan las diharuskan sama
dengan kekuatan material.
Klasifikasi kawat elektroda diatur berdasarkan standar American Welding Society
(AWS) dan American Society Testing Material (ASTM).
Menurut standar AWS penomoran kawat elektroda dengan kode EXXYZ adalah sebegai
berikut :
E: Kawat elektroda untuk las busur listrik.
XX : Menyatakan nilai tegangan tarik minimum hasil pengelasan dikalikan
dengan 1000 Psi (60.000 Ib/in2) atau 42 kg/mm2.
Y: Menyatakan posisi pengelasan, 1 berarti dapat digunakan untuk
pengelasan semua posisi
Z: Jenis selaput elektroda Rutil-Kalium dan pengelasan arus AC atau DC

Untuk spesifikasi kawat elektroda untuk baja karbon berdasarkan jenis dari lapisan
elektroda yang digunakan pada posisi pengelasan dan polaritas pengelasan yang terdapat
pada tabel.

Tabel Spesifikasi Elektroda Terbungkus dari Baja Lunak (Wiryosumarto, 2000).


2.6 Fungsi utama salutan fluks
Fungsi utama dari salutan fluks pada elektroda adalah:
a. Fluks memfasilitasi penyalaan busur dan meningkatkan intensitas dan stabilitas busur
b. Fluks menimbulkan gas untuk melindungi busur,
Fluks akan terurai dan menimbulkan gas (CO2, CO, H, dan sebagainya) yang
mengelilingi busur. Hal ini menjaga bentuk butiran logam dan cairan teroksidasi atau nitrasi
yang disebabkan oleh kontak dengan atmosfer.

c. Slag / terak melindungi logam las dan membantu pembentukan rigi


Selama pengelasan, fluks mencair menjadi terak yang melindungi cairan dan rigi las
dengan cara menutupinya. Dengan berbagai kekentalan (viskositas) dari terak,
memungkinkan untuk melaksanakan pengelasan dalam berbagai posisi dan memperbaiki
bentuk dari rigi las.

d. Fluks menghaluskan kembali logam las dengan deoksidasi


Bila pengelasan dilaksanakan pada udara terbuka, logam las tidak bisa terhindar dari
oksidasi walau penimbul gas dan pembentuk terak digunakan. Elemen deoksidasi seperti Mn
dan Si telah ditambahkan pada fluks, melindungi pembentukan lubang cacing dan
meningkatkan kekuatan dan ketangguhan dari logam las.
e. Fluks perlu ditambahi elemen campuran ke logam deposit
Elemen campuran yang tepat yang ditambahkan dari fluks untuk endapan logam akan
meningkatkan ketahanan terhadap korosi, panas dan abrasi.
f. Serbuk besi dalam fluks meningkatkan laju pengendapan dan efisiensi pengoperasian
Laju pengendapan dapat ditingkatkan dengan arus las yang tinggi atau diameter
elektrode las yang besar. Metode yang lain adalah menambahkan serbuk besi ke salutan fluks
pada elektrode las. Contoh khususnya adalah elektroda oksida serbuk besi.
g. Fungsi isolasi
Fluks memberikan isolasi listrik yang baik. Dalam hal electrode las dengan kurang hati-
hati disentuhkan ke permukaan las selama pengelasan, fluks mencegah geretan busur yang
tidak terduga, dengan demikian mencegah kerusakan las dan juga kecelakaan terhadap
manusia.
Fluks terdiri dari biji alam, serbuk dan oksida perekat, karbonat, silikat, zat
organik dan berbagai zat bubuk lainnya kecuali untuk logam, dicampurkan pada
perbandingan yang spesifik. Campuran ini ditempelkan / disalutkan ke kawat inti dengan
menggunakan air kaca sebagai perekat dan dikeringkan.
2.7 Pengelasan Oxy-Asetiline
Las Oxy-Acetylene (las asetilin) adalah proses pengelasan secara manual, dimana
permukaan yang akan disambung mengalami pemanasan sampai mencair oleh nyala (flame)
gas asetilin (yaitu pembakaran C2H2 dengan O2), dengan atau tanpa logam pengisi, dimana
proses penyambungan tanpa penekanan. Disamping untuk keperluan pengelasan
(penyambungan) las gas dapat juga dipergunakan sebagai: preheating, brazing, cutting dan
hard facing. Penggunaan untuk produksi (production welding), pekerjaan lapangan (field
work), dan reparasi (repair & maintenance).
Dalam aplikasi hasilnya sangat memuaskan untuk pengelasan baja karbon, terutama
lembaran logam (sheet metal) dan pipa-pipa berdinding tipis. Meskipun demikian hampir
semua jenis logam ferrous dan non ferrous dapat dilas dengan las gas, baik dengan atau tanpa
bahan tambah (filler metal).
Disamping gas acetylene dipakai juga gas-gas hydrogen, gas alam, propane, untuk
logam–logam dengan titik cair rendah. Pada proses pembakaran gas-gas tersebut diperlukan
adanya oxygen. Oxygen ini didapatkan dari udara dimana udara sendiri mengandung oxygen
(21%), juga mengandung nitrogen (78%), argon (0,9 %), neon, hydrogen, carbon dioksida,
dan unsur lain yang membentuk gas.

2.7.1 Pembuatan Oksigen


Secara teknis, oksigen di dapat dari udara yang dicairkan. Kemudian dengan cara
elektrolisa, campuran udara cair dan air dipisahkan oleh oksigen. Masalah yang sulit adalah
antara Nitrogen dan Oksigen . Nitrogen titik didihnya lebih besar, dan titik didih kedua gas
tersebut hanya berbeda 13 0C saja. (Oksigen = - 183 0C dan Nitrogen = -196 0C), sehingga
perlu pemurnian oksigen dilaksanakan secara berulang-ulang. Kemurnian yang dapat dicapai
sampai 99,5 % dan kemudian dimanfaatkan dalam tangki-tangki baja dengan tekanan kerja
antara 15-30 atm.
Keuntungan pemakaian oksigen adalah keadaan oksigen yang cukup cair tersebut,
dapat dipertahankan pada tangki penyimpan dan mudah pada saat pengangkutan. Pada saat
dibutuhkan dengan menggunakan alat (Gasificator) , oksigen cair dijadikan oksigen gas,
dengan tekanan yang besar kemudian oksigen gas tersebut disimpan pada botol-botol baja.

2.7.2 Pembuatan Asetililine


Secara komersial asetiline (c2h2) untuk industri las karbit, diperoleh dengan
mereaksikan kalsium karboid dengan air. Jadi asetiline adalah gas hidro karbon yang
diperoleh dari unsur-unsur kapur, karbon dan aair dengan reaksi berikut: Ca O + 3 C Ca +Co
108/g.mol. (jadi pembakaran kapur dengan karbon tanpa udara)
Asetiline tidak berbau atau berwarna sedangkan dalam perdagangan ada bau khusus
karena ada kotoran belerang dan phosphor. Asetiline murni mudah meledak karena faktor-
faktor tekanan dan temperatur. Tetapi faktor-faktor lain yang mempengaruhi expobility dari
asetiline adalah adanya kotoran-kotoran, katasilator, kelmbaban, sumber-sumber penyalaan,
ukuran dan bentuk tangki.
Karena alasan-alasan tersebut diatas, pada asetiline generator dibatasi, tekanan
asetiline maksimum 5atm. Karena asetiline diatas 5atm dapat meledak. Untuk mengatasinya
jika asetiline disimpan didalam tabung bertekanan lebih besar dari 5atm harus dilarutkan pada
aseton cair. Caranya adalah melapisi dinding tabung penyimpanan dengan asbes ferrous dan
dicelupkan dengan aseton cair.

Gambar Las Oxy-Asetiline

2.8 Silinder Penyimpanan Gas


Karena gas-gas yang disimpan didalam botol mempunyai tekanan lebih besar dari
tekanan atmosfir, maka harus diperhatikan kekuatan botol baja terhadap tekanan kerja, karena
pengangkutan menyebabkan gesekan, dan pergerakan gas dalam botol, harus diketahui jenis
gas tesebut, peka terhadap goncangan atau kenaikan temperature. Tutup-tutup silinder diberi
kode warna, supaya dapat diketahui isinya, tanpa membaca label terlebih dahulu. Misalnya
biru untuk oksigen, putih untuk asetilin, hijau tua untuk hydrogen putih dengan strip-strip
hitam untuk argon, dan merah untuk gas-gas lain.
2.8.1 Katup oksigen dan katup gas
Pada tabung penyimpan oksigen atau gas, terdapat katup untuk mengeluarkan oksigen
jika diperlukan dan menutupnya jika tidak digunakan. Type-typenya antara lain diafragma
dengan katup bola, cara kerjanya dengan memutar kran pemutar kekanan maupun kekiri
sesuai kebutuhan.
2.8.2 Presurre regulator
Pengatur tekanan atau lebih sering disebut katup pereduksi tekanan, dihubungkan
pada katup gas atau oksigen untuk mendapatkan tekanan kerja yang sesuai dengan torch,
pada umumnya terdiri dari kran yang dilengakapi dengan dua manometer, yang berhubungan
langsung dengan gas asetilin atau oksigen disebut manometer isi.
Sedangkan yang berhubungan dengan torch disebut manometer kerja. Nosel didalam
regulator terbuka dan tertutup oleh katup yang ditekan oleh pegas dan dihubungkan dengan
membran. Dengan cara mengatur tekanan ulir pada membran, tekanan gas yang masuk ke
torch mempunyai harga tertentu dankonstan.
2.8.3 Pembakaran oxy-acetylene.
Pembakaran adalah persenyawaan secara kimiawi antara zat-zat yang mudah terbakar
dengan oksigen. Oksigen tersedia di udara atau dapat ditambah secara khusus, misalnya
dalam tabung-tabung oksigen.
Kecepatan nyala tergantung dari tekanan dan komposisi campuran gas, setiap
campuran gas oksigen. Kecepatan maksimum tergantung perbandingan gas asetilin dan
oksigen berkisar antara 1 : 25. Proses pengelasan oksi asetiline dilakukan dengan membakar
gas asetiline untuk mendapatkan nyala temperature tinggi guna melelehkan logam induk dan
logam pengisi

Gambar Proses Pengelasan Oxy-Asetiline

2.9 Nyala Api Pengelasan Oxy-Asetiline


Nyala hasil pembakaran dapat berubah tergantung pada perbandingan antara gas
oksigen O2 dengan gas esetiline C2H2.
Berikut adalah macam penyalaan pada pengelasan Oxy-Asetiline

a. Nyala asetiline lebih atau nyala karburasi

Gambar Penyalaan Karburasi


Kegunaannya
1. Untuk memanaskan
2. Untuk mengelas permukaan yang keras dan ;logam putih
b. Nyala netral

Gambar Penyalaan Netral


Kegunaannya:
1. Untuk pengelasan biasa
2. Untuk mengelas baja atau besi tuang

c. Nyala oksigen lebih atau oksidasi

Gambar Penyalaan Oksidasi


Kegunaannya:
1. Untuk brazzing

Karena sifatnya mengubah komposisi logam cair maka nyala asetiline dan nyala
oksigen berlebih tidak dapat digunakan untuk pengelasan baja
Cara Menyalakan dan Mematikan Api pada Pengelasan Oxy-Asetiline

Cara Menyalakan Api


1. Buka katup tabung oksigen dan asetiline
2. Atur tekanan yang diinginkan sesuai dengan nosel yang dipakai
3. Buka sedikit katup asetiline brander
4. Nyalakan pemercik api dan sulutkan pada ujung brander
5. Buka perlahan katup oksigen pada brander
6. Atur katup oksigen dan asetiline sesuai nyala yang diinginkan

Cara Mematikan Api


1. Tutup katup oksigen pada brander
2. Tutup katup asetile pada brander
3. Tutup katup pada tabung oksigen dan asetiline
4. Buka lagi katup oksigen dan asetiline pada brander untuk pembuangan sisa gas yang masih
ada pada selang gas
5. Tutup semua katup
Tabel las oksi asetiline menurut ketebalan benda

2.10 Cacat-cacat Pada Pengelasan Oxy-Asetiline


Dengan kondisi pengelasan yang benar, teknik dan meterial sesuai standar, akan
menghasilkan pengelasan yang sangat berkualitas. Tetapi seperti pada proses pengelasan yang
lain, cacat las dapat terjadi.

Cacat yang sering terjadi pada proses pengelasan Oksi-Asetilin antara lain :
• Penetrasi yang kurang sempurna
• Fusi yang kurang sempurna
• Undercutting
• Porosity
• Longitudinal crak

1. Penetrasi yang kurang sempurna


Jenis cacat las ini dapat terjadi karena :
• Ketika melakukan pengelasan tidak melakukan penetrasi ke seluruh ketebalan
dari logam dasar (base metal)
• Ketika dua weld bead yang berhadapan tidak melalukan inter-penetrasi
• Ketika weld bead tidak melakukan penetrasi ke ujung dari fillet weld tetapi hanya
menyebranginya

Gambar Penetrasi yang kurang sempurna

Gas memiliki peranan yang sangat penting dalam penetrasi. Penetrasi yang kurang
sempurna biasanya disebabkan oleh tekanan gas yang rendah, dan dapat dihilangkan dengan
cara menaikkan tekanan pada manometer yang terdapat pada tabung gas. Selain itu cacat ini
dapat disebabkan oleh kecepatan pengelasan yang terlalu lambat dan penggunaan torch yang
salah atau tidak sesuai.

2. Kurangnya peleburan
Cacat las ini terjadi karena kurang atau tidak terjadi peleburan diantara logam las dan
permukaan dari base metal. Biasanya diakibatkan oleh kecepatan pengelasan terlalu lambat.
Terkadang juga diakibatkan pengaturan tekanan gas yang rendah.

Gambar Kurangnya peleburan (Fusi)


3. Undercutting
Cacat las ini diakibatkan oleh penggunaan parameter tekanan gas yang kurang tepat,
khususnya kecepatan pengelasan dan tekanan gas yang tidak sesuai. Kecepatan pengelasan
yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan undercutting terjadi.
Dengan mengurangi kecepatan pengelasan akan dapat mengurangi besarnya
undercutting bahkan menghilangkannya.

Gambar Undercutting

Jika hanya terdapat sedikit undercutting, maka kita dapat menaikkan tekanan gas, tetapi
jika tekanan gas dinaikkan terlalu tinggi, maka undercutting dapat terjadi.

4. Porositi
Porositi adalah lubang yang diakibatkan oleh gelembung gas yang telah membeku.
Penyebab utamyanya adalah kintaminasi atmosfir yang tinggi pada permukaan benda kerja.

Gambar Porositi
5. Keretakan membujur
Keretakan dapat dibagi menjadi dua, yaitu keretakan panas dan keretakan dingin.
Keretakan panas dapat terjadi kearena ketika weld bead berada antara temperature meleleh
dan membeku. Keretakan dingin biasanya terjadi pada saat weld bead membeku. Keretakan
lainnya dapat terjadi adalah karena kesalahan dalam penggunaan teknik pengelasan
Gambar Keretakan Membujur

2.11 Jenis Sambungan Pengelasan

Gambar Sambungan Pengelasan


1. Posisi datar
Pola pergerakan torch yang bergelombang direkomendasikan untuk proses pengelasan
posisi datar. Untuk single-pass, butted joint, pergerakan torch dilakukan dengan pergerakan
agak kebelakang. Untuk pengelasan butt joint agak sedikit menekan dinding untuk
memastikan semua area terisi.

2. Posisi Horizontal

Gambar Posisi horizontal


Untuk pengelasan fillet joint posisi horizontal, pergerakan melingkar
direkomendasikan. Untuk pengelasan butt joint, gerakan maju mundur dan sedikit menekan
dinding benda kerja direkomendasikan.
3. Posisi Vertikal

Gambar Posisi vertikal

4. Posisi diatas kepala (Overhead)

Gambar Posisi Overhead

2.12 Bahaya Dalam Pengelasan


Pada pekerjaan pengelasan banyak risiko yang akan terjadi apabila tidak hati-hati
terhadap penggunaan peralatan, mesin dan posisi kerja yang salah. Beberapa risiko bahaya
yang paling utama pada pengelasan (Wiryosumarto dan Okumura, 2004) antara lain :
1. Cahaya dan sinar yang berbahaya
Selama proses pengelasan akan timbul cahaya dan sinar yang dapat membahayakan
juru las dan pekerja lain yang ada di sekitar pengelasan. Cahaya tersebut meliputi:

a. Sinar ultraviolet
Sinar ultraviolet sebenarnya adalah pancaran yang mudah diserap, tetapi sinar ini
mempunyai pengaruh yang besar terhadap reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh. Bila
sinar ultraviolet yang terserap oleh lensa dan kornea mata melebihi jumlah tertentu maka
pada mata akan terasa seakan-akan ada benda asing di dalamnya. Dalam waktu antara 6
sampai 12 jam kemudian mata akan menjadi sakit selama 6 sampai 24 jam. Pada umunya rasa
sakit ini akan hilang setelah 48 jam.

b. Cahaya tampak
Semua cahaya tampak yang masuk ke mata akan diteruskan oleh lensa dan kornea ke
retina mata. Bila cahaya ini terlalu kuat maka akan segera menjadi lelah dan kalau terlalu
lama mungkin akan menjadi sakit. Rasa lelah dan sakit ini sifatnya juga hanya sementara.

d. Sinar inframerah
Adanya sinar inframerah tidak segera terasa oleh mata, karena itu sinar ini lebih
berbahaya sebab tidak diketahui, tidak terlihat dan tidak terasa. Pengaruh sinar inframerah
terhadap mata sama dengan pengaruh panas, yaitu menyebabkan pembengkakan pada
kelopak mata, terjadinya penyakit kornea, presbiopia yang terlalu dini dan terjadinya
kerabunan.

2. Arus listrik yang berbahaya


Besarnya kejutan yang timbul karena listrik tergantung pada besarnya arus dan
keadaan badan manusia.

Tingkat dari kejutan dan hubungannya dengan besar arus adalah sebagai berikut:
a. Arus 1 mA hanya akan menimbulkan kejutan yang kecil saja dan tidak
membahayakan.

b. Arus 5 mA akan memberikan stimulasi yang cukup tinggi pada otot dan
menimbulkan rasa sakit.
c. Arus 10 mA akan menyebabkan rasa sakit yang hebat.

d. Arus20 mA akan menyebabkan terjadi pengerutan pada otot sehingga orang yang
terkena tidak dapat melepaskan dirinya tanpa bantuan orang lain.

e. Arus 50 mA sangat berbahaya bagi tubuh.

f. Arus 100 mA dapat mengakibatkan kematian.

3. Debu dan gas dalam asap las


Debu dalam asap las besarnya berkisar antara 0,2 μm sampai dengan 3 μm.
Komposisi kimia dari debu asap las tergantung dari jenis pengelasan dan elektroda yang
digunakan. Bila elektroda jenis hydrogen rendah, di dalam debu asap akan terdapat fluor (F)
dan oksida kalium (K2O). Dalam pengelasan busur listrik tanpa gas, asapnya akan banyak
mengandung oksida magnesium (MgO). Gas-gas yang terjadi pada waktu pengelasan adalah
gas karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), ozon (CO3) dan gas nitrogen dioksida
(NO2).

4. Bahaya kebakaran.
Kebakaran terjadi karena adanya kontak langsung antara api pengelasan dengan
bahan-bahan yang mudah terbakar seperti solar, bensin, gas, cat kertas dan bahan lainnya
yang mudah terbakar. Bahaya kebakaran juga dapat terjadi karena kabel yang menjadi panas
yang disebabkan karena hubungan yang kurang baik, kabel yang tidak sesuai atau adanya
kebocoran listrik karena isolasi yang rusak.

5. Bahaya Jatuh.
Didalam pengelasan dimana ada pengelasan di tempat yang tinggi akan selalu ada
bahaya terjatuh dan kejatuhan. Bahaya ini dapat menimbulkan luka ringan ataupun berat
bahkan kematian karena itu usaha pencegahannya harus diperhatikan.
2.13 Alat Bantu dan Alat Keselamatan Kerja

Adapun alat bantu pada proses pengelasan sebagai berikut:

1. Sikat kawat (wire brush)


Sikat kawat berfungsi untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan sisa-sisa
terak yang masih ada setelah dibersihkan dengan palu terak.
Bahan serabut sikat terbuat dari kawat-kawat baja yang tahan terhadap panas dan elastis,
dengan tangkai dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian yang disikat.

Gambar Sikat Kawat

2. Palu las (chipping hammer).


Palu las digunakan untuk membersihkan terak yang terjadi akibat proses pemotongan
dan pengelasan dengan cara memukul atau menggores teraknya. Pada waktu membersihkan
terak, gunakan kacamata terang untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan terak.
Ujung palu yang runcing digunakan untuk memukul pada bagian sudut rigi-rigi. Palu las
sebaiknya tidak digunakan untuk memukul benda-benda keras, karena akan mengakibatkan
kerusakan pada bentuk ujungujung palu sehingga palu tidak bisa berfungsi sebagaimana
mestinya.

Gambar Palu Las


3. Tang penjepit
Untuk menjepit/memindahkan benda-benda yang panas yang memperoleh panas dari
hasil pemotongan dan pengelasan. Tangkai tang biasanya diisolasi.

Gambar Tang Penjepit


Adapun alat keselamatan kerja unutuk pengelasan sebagai berikut:
1.Topeng las (welding mask)
Untuk melindungi mata, kepala/rambut operator dari percikan-percikan pada saat
melakukan pemotongan dengan oksi-asetilin atau api las dan benda –benda panas lainnya.
Juga untuk melindungi muka operator las terhadap percikan hasil pemotongan, dan ledakan
percampuran gas yang tidak sempurna.
2.Sarung tangan kulit
Pekerjaan mengelas dan pemotongan selalu berhubungan dengan panas, kontak
dengan panas sering terjadi yaitu pada saat pengelasan dan pemotongan benda kerja yang
memperoleh panas secara konduksi dari proses pengelasan dan pemotongan. Untuk
melindungi tangan dari percikan-percikan api las dan percikan pada saat pemotongan benda-
benda panas maka operator las harus menggunakan sarung tangan.
3.Jaket kulit/Apron kulit.
Untuk melindungi kulit dan organ-organ tubuh pada bagian badan operator dari
percikan-percikan api las pada saat proses pengelasan dan pemotongan benda kerja serta
pancaran sinar las yang mempunyai intensitas tinggi maka pada baian badan perlu dilindungi
dengan menggunakan jaket kulit atau apron kulit.

Gambar Apron Kulit dan Kacamata Pengelasan

4.Kaca mata pengaman (safety glasses)


Untuk Melindungi mata pada saat membersihkan kampuh las serta terak hasil dari
pemotongan yang menggunakan palu terak maupun mesin gerinda.
BAB III
PERMASALAHAN
1. Perkenalan alat
- Bagaimana cara yang dilakukan untuk mempersiapkan alat dan perawatan alat?
2. Membuat rigi-rigi (alur) pada plat dengan pengelasan busur listrik atau las SMAW
- Mengapa elektroda dapat menempal pada benda kerja yang akan dilas tanpa mengeluarkan
percikan api?
3. Mengelas menggunakan busur listrik atau las SMAW secara horizontal pada benda kerja
- Apa saja yang hrus diperhatikan pada saat akan mengelas menggunakan las busur secara
horizontal?
4. Mengelas sudut luar dengan las busur listrik atau las SMAW
- Bagaimana penanganan yang dilakukan pada elektroda yang meleleh saat mengelas sudut
luar dengan menggunakan las busur listrik?
5. Mengelas sudut dalam dengan las busur listrik (SMAW)
- Bagaimana cara untuk mngelas sudut dalam agar memperoleh hasil lasan yang baik?
6. Mengelas sudut dalam dan luar dengan las busur listrik (SMAW)
- Bagaimana cara untuk mngelas sudut dalam dan luar agar memperoleh hasil lasan yang
baik?
7. Menyambung dua bahan dengan las busur listrik atau las SMAW
- Mengapa pada saat penyambungan dua benda kerja berupa plat dengan menggunaka las
busur listrik atau las SMAW mudah berlobang?
8. Pengenalan mesin las oxy-asetiline
- Apa saja bagian-bagian pada mesin las oxy-asetiline?
9. Membuat rigi-rigi lurus dengan mesin las oxy-asetiline pada benda kerja berupa plat
- Bagaimana cara yang baik untuk digunakan pada saat pengelasan oxy-asetiline?
10. Membuat rigi-rigi dengan bahan tambah berupa plat menggunakan mesin las oxy asetiline
- Apa saja yang dilakukan dalam penggunaan bahan tambah berupa kawat saat pengelasan oxy
asetiline?
11. Penyambungan benda kerja atau plat tanpa menggunakan bahan tambah
- Bagaimana cara yang tepat untuk mencegah melengkungnya benda kerja berupa plat saat
pengelasan oxy asetiline?
12. Penyambungan benda kerja berupa plat menggunakan mesin las dengan bahan tambah
- Bagaimana hasil lelehan bahan tambah yang baik pada saat pengelasan menggunakan mesin
las oxy asetiline?
13. UAS (Pengelasan sambungan dengan bahan tambah kawat)
- Berupa Penilaian Akhir Pengelasan dengan menggunakan mesin las oxy asetiline?

BAB 4
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

Praktikum pengelasan minggu ke-1


 Pengenalan alat
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Meja las
c. Topeng las
d. Sarung tangan las
e. Sepatu safety
f. Sikat kawat
g. Palu las
h. Klem massa

2. Bahan
a. Alat-alat pengelasan SMAW
Analisis percobaan:
1. Mahasiswa melakukan pembersihan alat-alat sekaligus mempelajari bagian-bagian alat-alat
pengelasan.

Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adalah agar dapat mengetahui alat-alat yang di gunakan saat
pengelasan.

Praktikum pengelasan minggu ke-2


 Membuat rigi-rigi pada plat dengan pengelasan busur listrik atau las SMAW
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Tang penjepit elektroda
c. Meja las
d. Topeng las
e. Sarung tangan las
f. Sepatu safety
g. Sikat kawat
h. Palu las
i. Klem massa

2. Bahan
a. Elektroda berselaput
b. Benda kerja
Analisa percobaan
1. Mengetahui bahan-bahan dan alat yang dibutuhkan untuk praktek pengelasan.
2. Menyalakan dan mengatur besar kecilnya ampere.
3. Pelatihan pengelasan plat dengan las busur listrik
4. Membuat rigi-rigi pada benda kerja dengan pengelasan busur listrik atau las SMAW
- Membuat rigi-rigi pada pengelasan busur listrik akan menghasilkan lasan yang masih
tertutup fluks karena sifat fluks yang melindungi inti dari logam atau kawat las.
Pembahasan
Tujuan perlakuan ini adalah untuk mngelas atau membuat rigi-rigi pada benda kerja
dengan menggunakan mesin las busur listrik.
Cara yang dilakukan untuk membuat rigi-rigi tidaklah mudah, karena dituntut untuk
memulai pengelasan dengan baik tanpa elektroda menempel pada benda kerja tanpa
mengeluarkan percikan apinya. Pada saat percikan api sudah menyala, kita juga harus tetap
mempertahankan nyala percikan api pada saat elektroda sudah menmpel pada benda kerja.
Elektroda dapat berhenti saja ditengah jalan pada saat mengelas tanpa mengeluarkan
percikan dapat dikarenakan posisi elektroda terlalu menenpel pada benda kerja. Jarak yang
pas antara elektroda dan benda kerja adalah sebesar diameter elektroda yang kita gunakan
pada saat mengelas.

Praktikum pengelasan minggu ke-3


 Mengelas menggunakan busur listrik atau las SMAW secara horizontal pada benda kerja
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Tang penjepit elektroda
c. Meja las
d. Topeng las
e. Sarung tangan las
f. Sepatu safety
g. Sikat kawat
h. Palu las
i. Klem massa

2. Bahan
a. Elektroda berselaput
b. Benda kerja atau besi berbentuk balok
Analisa percobaan
1. Mengelas menggunakan busur listrik atau las SMAW secara horizontal pada benda kerja
- Saat mengelas secara horizontal sering terjadi jalur las yang melenceng dan hasil dari
langkah awal lasan kurang rapih.
2. Penyambungan plat sederhana dengan tetap memperhatikan besar kecilnya ampere.
Langkah Kerja :
a) Mempersiapkan alat dan bahan selanjutnya memotong bahan pipa berbentuk persegi dengan
ukuran 50 mm x 50 mm.
b) Gergaji pipa ditengah-tengah dengan ukuran 25 mm.
c) Nyalahn mesin las dan atur ampere yang akan digunakan untuk mengelas.
d) Pastikan amper mesin las tidak besar agar waktu pengelasan benda kerja yang di las tidak
berlubang
e) Sambung bagian yang digergaji menggunakan elektroda dengan gerakan rigi-rigi.
f) Dinginkan benda kerja kedalam air dingin.
g) Bersihkan kerak las.
h) Menilaikan hasil penyambungan pada dosen pembimbing.
i) Membersihkan alat, bahan, dan laboratorium tempat praktik.
j) Mengembalikan alat dan bahan ke tempat semula.

Pembahasan
Tujuan perlakuan ini adalah untuk memperoleh hasil lasan secara horizontal. Cara
yang dilakukan pada praktek ini yaitu pada saat mengelas, sudut yang dihasilkan pada benda
kerja dengan elektroda sebesar 80 derajat. Tangan juga agak digerakan sedikit memutarkan
elektroda sekecil mungkin pada saat sudah menempel benda kerja dan berjalan secara
horizontal, maka hasil yang diperoleh akan baik. Pada saat selesai mengelas, tidak lupa untuk
membersihkan sisa fluks dengan palu las.
Jika las yang dihasilkan pada benda kerja kurang memuaskan maka ulangi proses
pengelasannya, tetapi sebelumnya bersihkan hasil las dengan menggunakan gerinda.

Praktikum pengelasan minggu ke-4


 Mengelas sudut luar dengan las busur listrik atau las SMAW
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Tang penjepit elektroda
c. Meja las
d. Topeng las
e. Sarung tangan las
f. Sepatu safety
g. Sikat kawat
h. Palu las
i. Klem massa
Bahan
a) Elektroda berselaput
b) Benda kerja atau besi berbentuk balok
Analisa percobaan
1. Mengelas sudut luar dengan las busur listrik atau las SMAW
- Hasil lelahan elektroda yang diperoleh saat mengelas sudut luar biasanya akan meleleh ke
bagian sisi benda kerja dan tinggi lasan kurang rapih.
Pembahasan
Tujuan perlakuan ini adalah untuk menyambung benda kerja pada bagian sudut luar.
Cara yang dilakukan pada proses pengelasan sudut luar tidak semudah dengan mengelas
cecara horizontal. Saat mengelas sudut luar tidak hanya memikirkan elektroda yang tetap
menempel di plat tanpa menghasilkan percikan api tetapi juga harus memikirkan bagaimana
posisi benda kerja dan elektroda yang pas untuk melakukan pengelasan.
Posisi yang pas pada saat mengelas sudut luar adalah dengan membuat benda kerja
berdiri secara horizontal. Karena dengan cara ini kita juga dapat mengatur lelelhan elektroda
yang keluar agar tidak meleleh pada salah satu bidang plat atau benda kerja.
Praktikum pengelasan minggu ke-5
 Mengelas sudut dalam dengan las busur listrik (SMAW)
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Tang penjepit elektroda
c. Meja las
d. Topeng las
e. Sarung tangan las
f. Sepatu safety
g. Sikat kawat
h. Palu las
i. Klem massa

2. Bahan
a. Elektroda berselaput
b. Benda kerja atau besi berbentuk balok
Analisis percobaan
1. Mengelas sudut dalam dengan las busur listrik (SMAW)
- Pengelasan sudut dalam dihasilkan dengan menempelnya elektroda secara merata pada
masing-masing sisi bagian dalam benda kerja
Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adalah mengasilhan penyambungan benda kerja pada sudut
bagian dalamnya. Cara untuk mengelas s sudut dalam lebih sulit dibandingkan dengan
mengelas sudut luar. Masalah yang dihadapi pada saat mengelas sudut dalam adalah lelahan
yang dihasilkan oleh elektroda hanya menempel pada salah satu sisi benda kerja saja.
Hal ini dapat dikarenakan pada saat mengelas sudut dalam posisi benda kerja dan
gerakan tangan yang dilakukan kurang tepat, tangan diharuskan untuk membuat sedikit
putaran kecil pada saat mengelas agar seluruh lelehan elektroda menempel dengan sempurna
pada kedua sisi benda kerja.

Praktikum pengelasan minggu ke-6


 Mengelas sudut dalam dan luar dengan las busur listrik (SMAW)
Analisis Alat dan Bahan :
3. Alat
j. Mesin las busur listrik
k. Tang penjepit elektroda
l. Meja las
m. Topeng las
n. Sarung tangan las
o. Sepatu safety
p. Sikat kawat
q. Palu las
r. Klem massa

4. Bahan
c. Elektroda berselaput
d. Benda kerja atau besi berbentuk balok
Analisis percobaan
2. Mengelas sudut dalam dengan las busur listrik (SMAW)
- Pengelasan sudut dalam dan luar dihasilkan dengan menempelnya elektroda secara merata
pada masing-masing sisi bagian dalam benda kerja
Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adalah mengasilhan penyambungan benda kerja pada sudut
bagian dalam dan luarnya. Cara untuk mengelas s sudut dalam lebih sulit dibandingkan
dengan mengelas sudut luar. Masalah yang dihadapi pada saat mengelas sudut dalam dalah
lelahan yang dihasilkan oleh elektroda hanya menempel pada salah satu sisi benda kerja saja.
Hal ini dapat dikarenakan pada saat mengelas sudut dalam posisi benda kerja dan
gerakan tangan yang dilakukan kurang tepat, tangan diharuskan untuk membuat sedikit
putaran kecil pada saat mengelas agar seluruh lelehan elektroda menempel dengan sempurna
pada kedua sisi benda kerja.

Praktikum pengelasan minggu ke-7


 Menyambung dua bahan dengan las busur listrik atau las SMAW
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Mesin las busur listrik
b. Tang penjepit elektroda
c. Meja las
d. Topeng las
e. Sarung tangan las
f. Sepatu safety
g. Sikat kawat
h. Palu las
i. Klem massa

2. Bahan
a. Elektroda berselaput
b. Benda kerja atau besi berbentuk balok
Analisa percobaan
1. Menyambung dua bahan dengan las busur listrik atau las SMAW
- Penyambungan dua buah benda kerja harus kuat dan tinggi elektroda pada hasil lasan tidak
terlalu tinggi atau lebar.
Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk menyambung dua benda kerja dengan
menggunakan las busur listrik. Cara untuk menyambung benda kerja adalah dengan memberi
titik lasan pada bagian pucuk sambungan benda kerja agar memudahkan proses
penyambungan berikutnya.
Penyambungan dengan las busur listrik akan sulit dilakukan jika tekanan pada mesin
terlalu tinggi, ampere pada mesin las busur listrik juga disesuaikan dengan benda kerja yang
akan dilas. Untuk benda kerja tipis atau plat, tegangan yang diberikan haruslah kecil, dan
semakin besar juga jika benda yang akan dilas memiliki ketebalan yang besar. Jika tegangan
yang diberikan tidak sesuai maka hasilnya adalah benda kerja akan berlubang karena bahan
tidak cukup mampu menahan tegangan yang diberikan oleh mesin las tig.
Sama halnya dengan mengelas sudut dalam, penyambungan yang dilakukan pada
pengelasan las tig juga bisa menempel pada salah satu bidnang saja karena adanya celah
antara plat satu dengan plat lainnya.

Praktikum pengelasan minggu ke-8


 Pengenalan mesin las oxy-asetiline
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las

2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
Pembahasan
Las Asitelin / Karbit
Las assitelin adalah pengelasan dengan memanfaatkan gas asetilin yang dipadukan dengan
gas oksigen. Dengan perpaduan gas yang tepat sehingga akan mengahasilkan nyala api yang
dapat digunakan untuk menyambung maupun memotong benda kerja. Benda kerja yang
disambung menggunakan las karbit ini hanya dengan ketebalan tertentu saja.
Alat-alat yang diperlukan dalam las asetilin terdiri dari : sebuah botol gas asetilin atau sebuah
generator asetilin, sebuh botol oksigen (gas asam), regulator dan pengukur oksigen, selang
dan satu unit pembakar (brender). Selain itu masih banyak yang diperlukan alat bantu lain
dan bahan tambahan yang digunakan pada waktu mengerjakan pengelasan yaitu : korek api
las, sikat kawat, palu terak, kawat las, kaca mata, sarung tangan, pakaian kerja.
Botol asetilin berisi bahan berpori seperti kapas, sutra tiruan atau asbes ang berfungsi sebagai
penyerap aseton. Bahan berpori tersebut diisikan sekitar 25% dan dapat menyerap aseton
sebanyak ±40% isi botol. Tiap 1 liter aseton pada tekanan 15kg/cm dapat melarutkan ±360
liter asetilin.
Gas asetilin ini dapat dibuat secara sederhana dengan cara mencampurkan karbit (calcium
carbide) ditambah air, dengan rumus kimia :CaC2 + 2H2O → C2H2 + Ca(OH)2 + Kalor.
Pencampuran ini dilakukan dalam sebuah tabung yang disebut generator asetilin. Bagian –
bagian utama generator asetilin ini adalah ruang karbit dan dapur gas, ruang air, ruang gas
asetilin, kunci air, alat pembersih gas dan alat pengaman bila kelebihan tekanan gas.
Kadar oksigen pada nyala api las asetilin sangat berperan sebagai bahan penunjang untuk
penhematan, kecepatan dan efisiensi kerja pada waktu pengelasan. Apabila kadar oksigen
kurang dari 90%, bahan seperti baja sukar sekali dilas. Kadar oksigen yang hanya 88% tidak
dapat dipakai untuk mengelas baja, bahkan perbedaan oksigen yang hanya 0,5% saja akan
menyebabkan hasil yang berbeda pada baja. Jadi untuk pekerjaan pengelsan kadar oksigen
harus selalu tinggi, sebab ketidakmurnian oksigen akan menyebabkan turunya suhu nyala api
pengelasan. Tetapi meskipun kadar zat asam berkurang, kita masih dapat melakukan
pekerjaan pengelasan, yaitu dengan cara memperlambat gerakan pengelasan.

a. Nyala asetilen lebih (nyala karburasi)


Bila terlalu banyak perbandingan gas asetilen yang digunakan maka di antara kerucut dalam
dan kerucut luar akan timbul kerucut nyala baru berwarna biru. Di antara kerucut yang
menyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang berwarna keputih-putihan, yang
panjangnya ditentukan oleh jumlah kelebihan asetilen. Hal ini akan menyebabkan terjadinya
karburisasi pada logam cair. Nyala ini banyak digunakan dalam pengelasan logam monel,
nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan pengerasan permukaan non-ferous.

Gambar 3: Nyala api karburasi.

b. Nyala netral
Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetilen sekitar satu. Nyala
terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar yang berwarna biru
bening. Oksigen yang diperlukan nyala ini berasal dari udara. Suhu maksimum setinggi 3300
sampai 3500 oC tercapai pada ujung nyala kerucut.
Gambar 4 : Nyala api netral.

c. Nyala oksigen lebih (nyala oksidasi)


Bila gas oksigen lebih daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan nyala netral
maka nyala api menjadi pendek dan warna kerucut dalam berubah menjadi ungu. Nyala ini
akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi atau dekarburisasi pada logam cair. Nyala yang
bersifat oksidasi ini harus digunakan dalam pengelasan fusion dari kuningan dan perunggu
namun tidak dianjurkan untuk pengelasan lainnya.

Gambar 5 : Nyala api oksidasi.

Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk mengenal atau memahami apa saja yang
digunakan pada mesin las oxy-asetiline dan memahami bagian-bagian mesin las dan
fungsinya.
Bagian pada mesin las oxy-asetiline diantaranya adalah
a. tabung gas oksigen dan htabung gas asetiline,
b. selang gas yang berfungsi sebagai aliran keluarnya gas,
c. brender yang berfungsi sebagai pegangan untuk pengelasan oxy-asetiline
d. katup pengunci pada bagian tabung berfungsi untuk menyetel aliran kerja dan aliran
keluarnya gas pada tabung gas.
e. Katup pengunci pada brender yang berfungsi untuk menyetel aliran gas agar memperoleh
penyalaan yang diinginkan

Praktikum pengelasan minggu ke-9


 Membuat rigi-rigi lurus dengan mesin las oxy-asetiline pada benda kerja berupa plat
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las

2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
c. Benda kerja berupa plat
Analisis percobaan
1. Membuat rigi-rigi tanpa bahan tambah dengan las oxy-asetiline
- Pengelasan menggunakan api netral menyebabkan lelehan pada benda kerja atau plat
Pembahasan
Tujuan pada perlakuan ini adalah untuk membuat rigi-rigi atau mengelas tanpa bahan
tambah Pada saat akan mengelas atau membuat rigi-rigi, nyala yang digunakan adalah nyala
netral. Besar tegangan gas yang digunakan jangan terlalu besar sebab dengan gas yang
terlalu besar benda kerja atau plat yang akan dilas akan berlubang.
Langkah pertama untuk membuat rigi-rigi adalah melelehkan terlebih dulu inti benda
kerja dan dilanjutkan berjalan dengan searah horizontal, jika benda kerja belum melelh maka
hasil yang diperolah kurang baik karena tingkat kematangan pada saaat dilelehkan belum
tercapai. Saat menggerakan tangan searah horizontal, gerkan juga pergelangan tangan
melingkar kecil seperti pengelasan busur listrik. Hasil yang baik pada pembuatan rigi-rigi
adalah adanya bekas lelehan dibagian samping bekas pengelasan

Praktikum pengelasan minggu ke-10


 Membuat rigi-rigi lurus dengan bahan tambah menggunakan las oxy-asetiline

Analisis Alat dan Bahan :


1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las

2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
c. Benda kerja berupa plat
d. Bahan tambah berupa kawat

Analisis percobaan
1. Membuat rigi-rigi tanpa bahan tambah dengan las oxy-asetiline
- Pengelasan menggunakan api netral menyebabkan lelehan pada bahan tambah berupa kawat
dan akan menyatu dengan benda kerja atau plat
Pembahasan
Tujuan pada perlakuan ini adalah untuk melelehkan bahan tambah agar menyatu
dengan benda kerja. Bahan tambah yang digunakan pada pengelasan las oxy-asetiline adalah
berupa kawat dengan diameter 3 mm. proses ini tidak semudah seperti yang dibayangkan.
Cara pertama untuk melakukan proses ini adalah menyetel tekanan gas agar benar-
benar berada pada nyala netral, karena jika tidak maka pelelehan yang terjadi pada bahan
tambah kurang sempurna. Mula-mula lelehkan terlebih dahulu benda kerja yang akan di las
dengan bahan tambah, selanjutnya disusul dengan pelelehan bahan tambah.
Saat keduanya sudah meleleh, arahkan lelhan bahan tambah tersebut searah
horizontal. Jika pada saat mengarahkan lelehan tersebut habis lanjutkan tahap sebelumnya
yaitu melelehkan bahan tambah terlebih dahulu lalu berjalan secara horizontal. Pada proses
pengelasan menggunakan bahan tambah, diusahakan melelehkan benda kerja atau plat
terlebih dahulu dahulu setelah itu disusul dengan melelehkan bahan tambah, jika pada saat
proses pelelehan benda kerja dan bahan tambah bareng dikhawatirkan tingkat kematangan
lelehan benda kerja belum tercapai.

Praktikum pengelasan minggu ke-11


 Penyambungan benda kerja atau plat tanpa bahan tambah menggunakan las oxy-asetiline
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las
2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
Analisa percobaan :
 Latihan penyambungan plat menggunakan bahan tambahan dan tanpa bahan tambah.

Langkah Kerja :
1. Mempersiapkan alat dan bahan untuk praktik pengelasan.
2. Memotong plat dengan ukuran 50 mm x 100 mm sebanyak 2 buah.
3. Nyalakan mesin las asitilen dan atur nyala api yang akan digunakan untuk mengelas.
4. Menitik ujung benda 1 dan 2 agar tidak lepas saat melakukan pengelasan.
5. Menyambung benda kerja 1 dan 2 menggunakan kawat hingga matang dengan gerakan rigi-
rigi.
6. Rapikan hasil las dengan pengulangan gerakan melingkar.
7. Dinginkan benda kerja kedalam air dingin.
8. Menilaikan hasil penyambungan pada dosen pembimbing.
9. Membersihkan alat, bahan, da laboratorium.
10. Mengembalikan alat dan bahan ke tempat semula.
1.
Pembahasan
Tujuan perlakuan ini adalah untuk menyambung dua benda kerja menjadi satu dengan
menggunakan mesin las oksi tanpa menambahkan bahan tambah berupa kawat
Cara yang dilakukan pertama kali adalah memberi las ttitik terlebih dahulu pada ujung
sambungan menggunakan bahan tambah. Selanjutnya dengan mengelas menggunakan mesin
las oksi tanpa menggunakan bahan tambah dibagian sambungan benda kerja dari ujung sisi
ke sisi satunya.
Pada proses ini kendala yang terjadi adalah mudah melengkungnya plat, dikarenakan
nyala yang dihasilkan tidak sesuai dengan nyala yang dikehendaki yaitu nyala netral. Tidak
hanya ada penyalaannya saja, tetapi dianjuran juga pemberian titik las pada bagian tengah
sambungan untuk menahan plat agar tidak melengkung.

Praktikum pengelasan minggu ke-12


 Penyambungan benda kerja berupa plat menggunakan mesin las oxy-asetiline dengan bahan
tambah.
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las

2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
c. Benda kerja berupa plat
d. Bahan tambah berupa kawat
Analisa percoban:
 Penyambungan benda kerja berupa plat menggunakan mesin las oxy-asetiline dengan bahan
tambah
- Proses penyambungan dengan bahan tambah menghasilkan penyambungan dengan dilapisi
bahan tambah yang dihasilkan dari pelelehan menggunakan nyala netral
Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adalah untuk menghasilkan penyambungan las asetiline
dengan penambahan bahan tambah berupa kawat. Cara ya dilakukan sama seperti membuat
rigi-rigi las dengan bahan tambah hanya saja pada saat melakukan pengelasan berada diatas
sambungan benda keja yang akan disamabung. Pada saat melakukan proses ini dianjurkan
untuk melelehkan benda kerja terlebih dahulu dan disusul dengan melelehkan bahan
tambahnya. Tinggi dan lebar lelehan bahan tambah diusahakan tidak terlalu tinggi dan terlalu
lebah, kurang lebih 1mm untuk tinggi dan 3mm untuk lebar lelehan bahan tambah yang
berupa plat. Kendala yang menghambat adalah pada saat mnyambung benda kerja mudah
melengkung karena benda kerja menerima panas dari las yang sangat tinggi

Praktikum pengelasan minggu ke-13


 UAS (Pengelasan sambungan dengan bahan tambah)
Analisis Alat dan Bahan :
1. Alat
a. Tabung gas oksigen
b. Tabung gas Asetiline
c. Klem selang
d. Brander
e. Regulator las
f. Selang las

2. Bahan
a. Gas Oksigen
b. Gas Asiteline (C2H2)
c. Benda kerja berupa plat
d. Bahan tambah berupa kawat
Analisis percobaan
 Pengelasan penyambungan dengan menggunakan las las oxy-asetilin dengan bahan tambah
berupa kawat
- Proses penyambungan pada dua benda kerja dihasilkan dengan menmpelnya lelehan benda
kerja dan bahan tambah dengan menggunakan las oksi.
Pembahasan
Tujuan dari perlakuan ini adaah untuk menyambungan dua benda kerja. Cara yang
dilakukan pada saat mnyambungkan sudut dalam tanpa bahan tambah adalah dengan
memberikan las titik pada bagian ujung benda kerja terlebh dahulu dengan bahan tambah.
Selanjutnya adalah proses penyambungan menggunakan bahan tambah. Proses ini hanya
melehkan benda kerja dibagian yang akan disambung. Diusahakan tidak ada rongga pada
sambungan benda kerja area jika ada rongga maka proses penyambungan yang dihasilkan
gagal atau benda kerja akan berlubang.
Proses penyambungan dengan bahan tambah berupa kawat dilakukan dengan cara
melelehkan benda kerja dan bahan tambah berupa kawat pada daerah benda kerja yang akan
dilas. Penyambungan bisa saja gagal karena tingkat kematangan yang dihasilkan bahan
tambah tidak sempurna.
BAB 5
PENUTUP

Kesimpulan
Mengacu pada permasalahan dan pembahasan pada bab 4 terkait proses pengelasan
menggunakan las busur listrik atau las SMAW (Shield Metal Arc Welding) didapat beberapa
kesimpulan, antara lain:
1. Untuk dapat mengelas dengan hasil lasan yang baik, perlu latihan dalam jangka waktu yang
tidak singkat.
2. Dalam mengelas kecepatan menggeser elektroda sangat menentukan hasil lasan. Jika terlalu
cepat, tembusan lasnya dangkal oleh karena kurang waktu pemanasan bahan dasar dan
kurang waktu untuk cairan elektroda menembus bahan dasar. Bila terlalu lambat akan
menghasilkan alur lasan yang lebar, kasar dan kuat, hal ini dapat menimbulkan kerusakan sisi
las (pada logam induknya). Oleh karena itu kecepatan elektroda harus tepat dan stabil.
3. Bila elektroda baru dipasang (masih panjang) maka ada kemungkinan ujung elektroda tidak
stabil saat digunakan untuk mengelas. Seperti tangan kita gemetar. Tetapi jika elektroda
sudah setengah dalam mengelas ini relatif cukup stabil.
4. Jarak ujung elektroda ke benda kerja juga sangat mempengaruhi hasil lasan. Jika terlalu dekat
elektroda bisa nempel pada benda kerja dan jika terlalu jauh lelehan elektroda tidak akan
menumpuk dan jika sangat jauh elektroda akan mati.
5. Saat penyambungan dua buah benda diusahakan pada bagian sambungan tidak ada rongga,
maka hasil lasan akan rapih dan kuat.
6. Pengelasan sudut dalam dan sudut luar harus memperhatikan lelehan elektroda agar
memperoleh sambungan yang baik dan rapih.

Untuk proses pengelasan menggunakan las oxy-aseteline didapat kesimpulan diantaranya


adalah:
1. Pada pengelasan menggunakan las oxy-aseteline ada 3 macam nyala yang dihasilkan yaitu
nyala karburasi, nyala netral dan nyala oksidasi.
2. Nyala yang sering digunakan pada saat mngelas menggunakan las oxy-aseteline adalah
menggunakan nyala netral. Dikarenakan nyala netral yang menghasilkan nyala yang stabil
untuk proses pelelehan benda kerja atau bahan tambah berupa kawat
3. Proses penyambungan dua benda kerja berupa plat saat menggunakan las oxy-aseteline harus
memperhatikan tingkat kemetangan lelehan benda kerja atau bahan tambah yang berupa
kawat
4. Penyambungan sudut luar dan sudut dalam menggunakan las oxy-aseteline diperoleh dari
pelelehan bahan tambah yang optimal serta tingkat kerpatan sambungan yang akan dilas.

Penggunaan alat bantu dan alat keselamatan kerja juga perlu diutamakan, karena pada
dasarnya jika kita mengindahkan keselamatan kerja maka akan diperoleh hasil yang baik
pada saat praktek.

Saran
Sebaiknya jumlah alat diperbanyak dan dalam kondisi yang baik sehingga dapat
praktikum berlangsung dengan baik, tertib dan cepat. Keadaan bengkel yang kurang tertata,
seharusnya sebagai laboratorium mesin harus bersih. Sehingga nyaman dan tidak
mengganggu keselamatan pekerja.
Kurangnya peralatan kerja, seharusnya peralatan dapat dipenuhi karena kerja bangku
merupakan dasar dari praktik permesinan lainnya. Juga mempengaruhi hasil dari
pekerjaan.sedikit,itu mengakibatkan keterlambatan menyelesaikan pekerjaan
Semua pekerjaan yang kita lakukan akan berhasil apabila disertai jiwa yang sabar, ulet,
terampil dan mau bekerja keras.

DAFTAR PUSTAKA

http://fahum.uinsby.ac.id/wp-content/uploads/2014/02/PEDOMAN-PENULISAN
SKRIPSI-SI.pdf (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Oka. 2013. Keselamatan kerja. http://lookallup.blogspot.com/2011/11/alat-keselamatan
kerjalaslistrik.html (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Muh. Maskur.2013.Las SMAW. http://maskurmuslim.blogspot.com/2014/01/peralatan-las-
listrik
beserta-bungsinya.html (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Ardza.2012. sifat fisika dan kimia. http://ardra.biz/sain-teknologi/metalurgi/besi-baja-iron
steel/pengujian-sifat-mekanik-bahan-logam/ (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Trie lestari. 2010. Sifat Kimia dan Fisika. http://tarielestarie35.blogspot.com/2011/11/sifat-
fisika-dan
kimia-zat.html (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Rizal ADB. 2011. Las OAW dan SMAW.\
https://www.google.co.id/search?
rlz=1C1ASRM_enID602ID602&sourceid=chrome&i
UTF-8&q=las+smaw+pdf&gws_rd=ssl (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
Akmal. 2013. SMAW. http://akmalchaka.blogspot.com/2010/04/smaw-shielded-metal-arc
welding.html (Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
FT ITS. 2010. Proses Pengelasan. digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16681-
2706100029
Chapter1.pdf las smaw pdf (Diunduh 11 November 2014 pukul 20.33 WIB)
praktikum.htmlhttp://limbongjunifer.wordpress.com/2012/02/12/laporan-hasil-pengelasan/
(Diunduh pada senin,15 Desember 2014)
http://l-changetheworlds.blogspot.com/2011/10/las-karbit-asetilen.html (Diunduh pada
senin,15
Desember 2014)
http://laskarbit.blogspot.com/2009/03/pengelasan-dengan-oksi-asetilin.html (Diunduh pada