Anda di halaman 1dari 38

Makrodontia Bilateral Terisolasi pada Premolar Kedua Mandibula:

Laporan Kasus

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas di Departemen Radiologi FKG UNPAD

ERKI RAMDHANI FEBRIANTI (160110130100)


BENAZIR AMRIZA DINI (160110130117)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT karena atas rakhmat dan karunia-Nya penulis

dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Makrodontia Bilateral Terisolasi

pada Premolar Kedua Mandibula: Laporan Kasus” sebagai salah satu tugas di

Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran.

Dalam pelaksanaannya penulis mendapatan banyak bantuan, bimbingan,

arahan, serta dukungan, baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Oleh

sebab itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Nina Djustiana, drg., M. Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Padjadjaran.

2. drg. Farina Pramanik, MM., Sp. RKG selaku pembimbing utama journal

reading kami.

3. Seluruh anggota kelompok C7 selaku pendukung kami dalam menyelesaikan

tugas journal reading.

Bandung, Agustus 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i

DAFTAR ISI..................................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 1

1.2 Identifikasi Masalah ............................................................................................ 2


1.3 Tujuan .................................................................................................................. 2
1.4 Manfaat ................................................................................................................ 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 4

2.1 Definisi ................................................................................................................ 4

2.2 Karakteristik Penyakit ......................................................................................... 4

2.3 Gambaran Radiografi............................................................................................5


2.4 Pemilihan Teknik Radiografi................................................................................6
2.5 Diferensial Diagnosis............................................................................................9
2.6 Perawatan Makrodontia......................................................................................11
2.7 Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi...............................................................12
2.8 Anomali Dental...................................................................................................13

BAB III LAPORAN KASUS.......................................................................................... 17

BAB IV DISKUSI ........................................................................................................... 21

4.1 Diskusi Kasus .................................................................................................... 21

ii
4.2 Interpretasi Foto Rontgen .................................................................................. 24

4.3 Pembahasan Interpretasi Foto Rontgen.................................................................26

BAB V KESIMPULAN....................................................................................................26

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 27

iii
DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Keterangan Halaman

2.1 Makrodontia pada Insisiv Sentral.....................................................5

2.2 Gambaran Radiografi Gigi 21.....................................................6

2.3 Ilustrasi gambaran 3 dimensi dan 2 dimensi rahang...........................9

2.4 Gambaran Geminasi Gigi 41.......................................................10

2.5 Gambaran Fusi Gigi 41 dan 42...................................................11

2.6 Supernumerari Gigi Premolar..........................................................14

2.7 Makrodontia Gigi Insisiv Sentral..........................................................14

2.8 Mikrodontia Gigi Molar 3.....................................................................15

2.9 Transposisi Gigi Kaninus dengan Premolar di Rahang Atas................15

3.1 Penampakan Klinis Rahang Bawah Regio Premolar Kanan dan Kiri..17

3.2 Penampakan Radiografi Panoramik......................................................18

3.3 Gambaran CBCT...................................................................................19

4.1 Gambaran Radiografi Makrodontia Bilateral Terisolasi pada


Premolar Kedua Mandibula.........................................................24

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gigi berasal dari jaringan epitelial mesenkim yang berada diatas epitel

oral. Gigi mulai terbentuk pada enam bulan intra uterin (Sadler, 2012). Pada masa

pembentukannya dapat terjadi kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan

anomali dental, salah satu diantaranya adalah makrodontia. Makrodontia

(megadonsia, megalodonsia, makrodontism) adalah anomali bentuk dan ukuran

yang lebih besar dari ukuran gigi normal. Suatu kasus juga dapat disebut

makrodontia apabila gigi yang berukuran normal berada pada rahang yang

berukuran lebih kecil dari normal (White, S. C and Pharoah, 2004). Prevalensi

makrodontia gigi permanen adalah 0,03-1,9%, dengan frekuensi yang lebih tinggi

pada laki-laki. Mekanisme patogenesis yang mengawali makrodontia masih

belum diketahui. Makrodontia ini sangatlah jarang terjadi. Makrodontia biasanya

berhubungan dengan gangguan sistemik atau sindrom seperti diabetes resisten

insulin, sindrom otodental, hemihiperplasia fasial, sindrom KBG, sindrom

Ekman-Westborg-Julin, dan sindrom XYY (Canoglu et al.,2012).

Makrodontia dapat dibedakan menjadi bentuk “true generalized”,

“relative generalized”, dan “isolated”. Pada makrodontia true generalized,

semua gigi lebih besar dari normal, dan kondisinya dapat diikuti dengan

gigantisme pituitari. Makrodontia relative generalized merujuk pada adanya gigi

yang normal atau sedikit lebih besar pada rahang yang lebih kecil. Makrodontia

1
2

isolated merujuk pada makrodontia pada satu gigi, dan merupakan kondisi yang

sangat jarang yang dapat dilihat sebagai pembesaran sederhana pada semua

struktur gigi yang bersangkutan atau berhubungan dengan anomali morfologi.

Tipe makrodontia ini lebih sering ditemukan pada insisif dan caninus, dan telah

dilaporkan jarang menyertai premolar dan molar. Faktanya, makrodontia premolar

sangat jarang dan seringkali disamakan dengan dengan fusi atau geminasi gigi

yang berdekatan untuk membentuk gigi tunggal. Sampai saat ini, hanya 8 kasus

makrodontia premolar kedua terisolasi yang telah dilaporkan di literatur, 5

diantaranya telah menunjukkan terjadinya bilateral (Canoglu et al.,2012).

Tergantung dari ukuran dan morfologinya, makrodontia dapat membuat

berbagai masalah fungsional dan estetik yang dapat membutuhkan perawatan

endodontik, prostetik, pembedahan, dan/atau ortodontik. Laporan kasus ini

menunjukkan temuan klinis dan radiografi dari makrodontia bilateral terisolasi

dari premolar kedua mandibular (Canoglu et al.,2012).

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, dapat diidentifikasikan

perasalahan sebagai berikut: bagaimanakah gambaran radiografi gigi makrodontia

bilateral terisolasi pada premolar kedua mandibula?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui gambaran

radiografi gigi makrodontia bilateral terisolasi pada premolar kedua mandibula.

2
3

1.4 Manfaat

Hasil yang didapatkan dari pembuatan makalah ini:

1) Dapat memberikan informasi mengenai gigi makrodontia berupa definisi,

etiologi, gambaran klinis, gambaran radiografi, dan diferensial diagnosis.

2) Dapat memberikan informasi mengenai gambaran radiografi gigi

makrodontia bilateral terisolasi pada premolar kedua mandibula.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Makrodontia atau megadontia atau megalodontia merupakan kelainan

pada ukuran gigi yang lebih besar dari seharusnya (White, S. C and Pharoah,

2004).Makrodontia merupakan kasus yang jarang ditemukan (Pasler, 2007).

Makrodontia terdiri dari empat tipe yaitu generalized true macrodontia, localized

true macrodontia, relative generalized macrodontia, dan makrodontia pada satu

gigi. True generalized macrodontia merupakan makrodontia yang terjadi pada

seluruh gigi. True generalized macrodontia merupakan keadaan makrodontia

pada seluruh gigi. Jenis yang paling jarang ditemukan. Localized true

macrodontia merupakan jenis gigi makrodontia pada sebagian sisi sering kali

menyebabkan hemihipertrofi pada wajah, sedangkan relative generalized

macrodontia merupakan kondisi dimana gigi dengan ukuran normal namun gigi

ada pada rahang dengan ukuran yang lebih kecil. Localized macrodontia lebih

sering ditemukan. Makrodontia pada satu gigi biasa ditemukan pada gigi insisiv,

dan kaninus (Scheid, R. C, 2012).

2.2 Karakteristik Penyakit

Makrodontia disebabkan karena adanya gangguan genetik yaitu pada

morfodiferensiasi tahap bell stage (Logan, 2000). Gangguan yang terjadi pada tipe

generalized macrodontia biasanya disebabkan karena adanya ketidakseimbangan

hormonal salah satunya adalah pituitary gigantism. Gambaran klinis dari

4
makrodontia menunjukan gambaran gigi yang lebih besar dan biasanya, terdapat

crowding, maloklusi, atau impaksi (White, S. C and Pharoah, 2004). Selain itu,

gambaran facial hemihyperplasia juga dapat terjadi karena adanya perbedaan

ukuran sisi satu yang memiliki gigi makrodontia dan sisi lainnya yang tidak

memiliki gigi makrodontia (Scully, C., 1996). Contoh gambaran klinis

makrodontia dapat dilihat pada Gambar 2.1.

(a) (b)
Gambar 2.1 Makrodontia pada Insisiv Sentral (a) True macrodontia, central incisor 12
mm diameter (Scully, C., 1996).
(b) Makrodontia pada insisiv dengan panjang 34 mm (Scheid, R. C, 2012)

Makrodontia merupakan keadaan abnormal gigi yang sangat jarang

ditemukan. Penelitian sebelumnya oleh Atak dan Erdem tahun 2007 pada 166

orang (70 laki-laki dan 96 perempuan) di Turkey hanya ditemukan 1 orang yang

memiliki gigi makrodontia (Atak & Erdem, 2007).

2.3 Gambaran Radiografi

Gambaran radiografi menunjukan peningkatan ukuran pada gigi yang

belum erupsi maupun yang telah erupsi. Seperti pada gambar 2.2, bentuk gigi

terlihat normal. Pada beberapa kasus, terdapat distorsi bentuk gigi makrodontia.

5
Selain itu, keadaan gigi crowding menyebabkan adanya gigi impaksi (White, S. C,

2009).

(a) (b)
Gambar 2.2 Gambaran Radiografi Gigi 21 (a) Gambaran radiografi gigi 21 dengan
ukuran yang lebih besar dalam dimensi mesio-distal dan coronal-apika
(White, S. C, 2009).
(b) gambaran radiografi gigi molar lebih besar dalam dimensi mesio-distal
(White, S. C, 2009)

2.4 Pemilihan Teknik Radiografi (pemilihan teknik yang tepat)

Dengan penggunaan radiografi yang tepat, dapat dibedakan ukuran yang

normal, lebih besar, atau lebih kecil. Namun, perlu diperhatikan posisi c-ray,

radiasi, dan posisi pasien agar tidak menyebabkan adanya distorsi pada ukuran

gigi (Pasler, 2007).

Radiografi terdiri dari radiografi konvensional dan digital.

2.4.1 Radiografi Konvensional

Radiografi konvensional adalah proses pembuatan gambaran radiografi

dimana gambar radiografi direkam pada sebuah film melalui suatu proses kimia.

Radiografi konvensional merupakan gambaran dua dimensi. Radiografi jenis ini

6
menghasilkan gambar analog yang dapat langsung diinterpretasikan. Untuk dapat

menginterpretasi gambaran tiga dimensi, diperlukan pengambilan gambar dari

berbagai posisi. Selain itu, gambaran radiografi konvensional dapat terlihat

superimpos dengan bagian anatomi lain. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan

interpretasi (Whaites, E., 2013). Radiografi konvensional dibagi menjadi dua

yaitu intraoral dan ekstraoral.

1. Radiografi Intraoral

Radiografi konvensional intraoral adalah teknik radiografi dengan meletakan

image reseptor pada mulut pasien. Radiografi konvesional intraoral terdiri dari

radiografi periapikal, bitewing, dan oklusal (Whaites, E., 2013).

1) Radiografi Periapikal

digunakan untuk mendeteksi inflamasi atau infeksi pada apikal gigi,

melihat jaringan periodontal, melihat posisi dari gigi yang belum erupsi, dan

melihat morfologi akar sebelum ekstraksi (Whaites, E., 2013).

2) Radiografi Bitewing

Radiografi bitewing digunakan untuk mendeteksi lesi karies dan

perjalanan penyakit dental karies, melihat restorasi yang ada, dan status

periodontal (Whaites, E., 2013).

3) Radiografi Oklusal

Radiografi oklusal digunakan untuk melihat periapikal dari bagian

anterior atas depan, mendeteksi kemunculan dari gigi kaninus yang tidak

erupsi, gigi supernumerer, dan odontoma, melihat posisi impaksi gigi

7
kaninus, evaluasi besar dari lesi kista atau tumor pada maksila anterior, dan

melihat fraktur pada gigi anterior dan tulang rahang (Whaites, E., 2013).

2. Radiografi Ekstraoral

Radiografi konvensional ekstraoral adalah teknik radiografi dengan

meletakan image reseptor di luar mulut. Radiografi konvensional ekstraoral terdiri

dari radiografi ekstraoral oblique lateral, lateral skull, dan panoramik (Whaites, E.,

2013).

1) Radiografi Lateral dan Oblique Lateral

Radiografi oblique lateral digunakan untuk melihat ada atau tidaknya dan

posisi dari gigi yang belum erupsi, deteksi fraktur mandibula, evaluasi lesi

pada rahang, dan kelainan pada rahang atau kelenjar saliva

2) Radiografi Panoramik

Radiografi panoramik digunakan untuk melihat bentuk, ukuran, dan posisi

dari lesi terkalsifikasi dan gigi yang belum erupsi, jaringan pendukung

periodontal, posisi gigi bungsi yang belum erupsi, kemunculan atau

kehilangan gigi, fraktur rahang (kecuali anterior), penyakit pada TMJ, dan

ketebalan alveolar.

2.4.2 Radiografi Digital

Radiografi digital atau computed radiography adalah proses pembentukan

gambar radiografi digital. Data digital yang didapat diubah dalam sebuah gambar

pada komputer. Gambar yang dihasilkan dapat dilihat pada layar monitor atau

dicetak menjadi film radiografi. Gambaran digital ini ditangkap dalam bentuk

voxel atau tiga dimensi (Erkonen & Smith, 2009). Salah satu jenis radiografi jenis

8
ini yang sering digunakan dalam kedokteran gigi adalah CBCT (Cone Beam-

Computed Tomography). CBCT dibagi berdasarkan FOV (field of view), yaitu

kecil terbatas untuk dentoalveolar (4cm3), medium untuk melihat gambaran

maxillofasial (8 cm3), dan large untuk melihat gambaran kraniofasial. CBCT

diindikasikan untuk melihat daerah gigi yang tidak erupsi, resorpsi eksternal pada

gigi yang tidak erupsi, assessment dari gigi yang impaksi, assessment dari celah

palatum, perencanaan untuk perawatan bedah dan orthodonti kompleks untuk

abnormalitas skeletal.

Gambar 2.3 Ilustrasi gambaran 3 dimensi dan 2 dimensi rahang (Whaites, E.,
2013)

2.5 Diferensial Diagnosis

Diferensial diagnosis dari makrodontia adalah kelainan dental anatomi

lainnya yaitu fusi dan geminasi (White, S. C. 2009). Geminasi atau twinning

adalah kondisi satu benih gigi yang membelah menjadi dua gigi seperti pada

gambar 2.2. Kondisi ini menyebabkan jumlah perhitungan gigi bertambah satu

(Slootweg, P. J., 2007). Geminasi memperlihatkan gigi yang berukuran besar

9
namun gigi geminasi memiliki dua kamar pulpa dan bentuk saluran akar seperti

pada umumnya (Pillai, 2015).

(a) (b) (c)

Gambar 2.4 Gambaran Geminasi Gigi 41


(a) Gambaran radiografi geminasi gigi 41 (White, S. C, 2009)
(b) Ilustrasi geminasi gigi terdapat satu akar (Slootweg, P. J., 2007).
(c) Gambaran klinis geminasi gigi insisiv (Slootweg, P. J., 2007).

Fusi adalah penyatuan dua benih gigi, Penyatuan kedua gigi ini dapat melalui

enamel saja maupun enamel dengan dentin seperti pada gambar 2.3. Kondisi gigi

fusi dapat mengakibatkan jumlah gigi berkurang (White, S. C, 2009; Slootweg, P.

J., 2007). Fusi memperlihatkan gigi berukuran besar dengan dua kamar pulpa dan

dua saluran akar yang dengan jelas dapat terlihat (Pillai, 2015).

10
(a)

(b) (c)

Gambar 2.5 Gambaran Fusi Gigi 41 dan 42


(a) Gambaran radiografi fusi pada gigi 41 dan 42 (White, S. C, 2009)
(b) Ilustrasi gambaran fusi terdapat dua akar (Slootweg, P. J., 2007).
(c) Gambaran klinis gigi fusi molar (Slootweg, P. J., 2007).

2.6 Perawatan Makrodontia

Perawatan pasien dengan gigi makrodontia adalah pemberian restorasi

estetik dan perawatan ortodonti untuk pasien dengan kasus yang berpotensi

mengalami maloklusi (Laskaris, 2011). Selain itu dapat juga dengan melakukan

ekstraksi gigi makrodontia dan kemudian digantikan dengan protesa (Cameron

Widmer, 2008).

11
2.7 Pertumbuhan dan Perkembangan Gigi

Gigi manusia mengalami siklus hidup dalam perkembangannya. Siklus

hidup gigi manusia terdiri dari beberapa tahap diantaranya yaitu tahap inisiasi

(bud stage), tahap proliferasi (cap stage), tahap histodiferensiasi dan

morfodiferensiasi (bell stage), tahap aposisi dan tahap kalsifikasi. Pertama adalah

tahap inisiasi (bud stage) yaitu tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi pada

saat embrio berumur 6 bulan. Sel lapisan basal pada tahap ini berproliferasi lebih

cepat dibandingkan sel lain yang menyebakan sel epitel menebal di bagian arkus

gigi yang meluas sepanjang batas rahang. Penebalan ini disebut primordium pada

bagian ektodermal gigi dan menghasilkan dental lamina (Cameron & Widmer,

2008).

Tahap kedua adalah tahap proliferasi (cap stage) yaitu tahap dimana

proses proliferasi sel terus berlangsung yang menyebabkan pertumbuhan tak

seimbang di bagian yang berbeda sehingga menghasikan bentuk seperti topi.

Invaginasi dangkal terjadi pada permukaan ujung. Sel periperal dari topi tersebut

kemudian membentuk epitelium enamel luar dan dalam (Camero & Widmer,

2008).

Tahap ketiga adalah tahap histodiferensiasi dan morfodiferensiasi (bell

stage) yaitu tahap dimana epitelum terus berinvaginasi dan memperdalam sampai

organ enamel menghasilkan bentuk seperti lonceng. Pada tahap ini terdapat

diferensiasi sel papila dental menjadi odontoblas dan sel epitelium enamel dalam

ke ameloblas. Tahap morfodiferensiasi mengatur bentuk dan ukuran gigi.

Gangguan pada tahap morfodiferensiasi dapat menyebabkan bentuk dan ukuran

12
gigi yang abnormal seperti peg shape, mikrodonsia, dan makrodontia (Cameron &

Widmer, 2008).

Tahap selanjutnya adalah tahap aposisi yaitu tahap yang menghasilkan

selaput seperti deposisi sekresi ekstraselular nonvital dalam pembentukan jaringan

matriks. Matriks ini terdeposit dari pertumbuhan sel, ameloblas, dan odontoblas

yang memanjang sepanjang dentinoenamel junction dan dentinocemental junction

pada tahap morfodiferensiasi. Sel-sel tersebut dianggap sebagai pusat

pertumbuhan kemudian saat dentinoenamel junction selesai dibentuk (Cameron &

Widmer, 2008).

Tahap terakhir adalah tahap kalsifikasi (mineralisasi) yaitu tahap deposisi

matriks yang melibatkan pengendapan garam kalsium inorganik dengan matriks

yang terdeposit (Cameron & Widmer, 2008).

2.8 Anomali Dental

Anomali dental berdasarkan kausalnya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu

bawaan (congenital), perkembangan (developmental), dan dapatan (acquired).

Kelainan perkembangan terjadi pada saat pembentukan gigi. Kelainan

perkembangan dapat berupa kelainan jumlah, ukuran, morfologi, dan erupsi

(White, S. C and Pharoah, 2004).

Kelainan jumlah gigi antara lain yaitu gigi supernumerer dan agenesis.

Supernumerer merupakan jumlah benih gigi berlebih. Berdasarkan lokasinya, gigi

supernumerer dibagi menjadi tiga, yaitu mesiodens, peridens, dan distodens.

Supernumerer pada bagian tengah gigi insisiv sentral maksila disebut dengan mesiodens.

13
Supernumerer pada darerah premolar disebut dengan peridens. Supernumerer pada bagian

molar disebut dengan distodens (Gambar). Agenesis merupakan hilangnya benih gigi dari

jumlah seharusnya. Berdasarkan jumlah benih gigi yang hilang, agenesis dibagi menjadi

tiga, yaitu hipodontia, oligodontia, dan anodontia. Hipodontia merupakan kehilangan satu

atau beberapa gigi. Oligodontia merupakan kehilangan banyak gigi. Anodontia

merupakan kegagalan untuk membentuk gigi (White, S. C and Pharoah, 2004).

Gambar 2.6 Supernumerari Gigi Premolar (White, S. C and Pharoah, 2004).

Kelainan ukuran gigi berupa makrodontia dan mikrodontia. Makrodontia

merupakan kelainan ukuran gigi lebih besar dari seharusnya. Mikrodonsia merupakan

kelainan ukuran gigi lebih kecil dari seharusnya (White, S. C and Pharoah, 2004).

Gambar 2.7 Makrodontia Gigi Insisiv Sentral (White, S. C and Pharoah, 2004).

14
Gambar 2.8 Mikrodontia Gigi Molar 3 (White, S. C and Pharoah, 2004).

Kelainan erupsi gigi berupa transposisi gigi. Transposisi gigi adalah kondisi gigi

tumbuh tertukar dalam satu rahang (White, S. C and Pharoah, 2004).

Gambar 2.9 Transposisi Gigi Kaninus dengan Premolar di Rahang Atas (White,

S. C and Pharoah, 2004).

Kelainan morfologi gigi berupa fusi, geminasi, concresence, taurodontism,

dilaserasi, dens invaginatus, dens in dente, odontoma, dens evaginatus, amelogenesis

15
imperfecta, dentinogenesis imperfekta, osteogenesis imperfekta, dentin displasia, regional

odontodisplasia, enamel pearl, talon cusp, turner’s hipoplasia, dan sifilis kongenital

(White, S. C and Pharoah, 2004).

16
BAB III

LAPORAN KASUS

Anak perempuan sehat berusia 12 tahun dirujuk ke departemen kedokteran

gigi anak untuk konsultasi menyangkut gigi berjejal lokal yang berhubungan

dengan makrodontia. Riwayat medis pasien normal dan tidak ada riwayat

keluarga anomali gigi. Dilaporkan bahwa anak tidak memiliki riwayat trauma

yang berhubungan dengan rahang. Pasien berada pada tahap mixed-dentition akhir

dan memiliki relasi molar Angle kelas III. Molar kedua sulung maksila dan

mandibula telah muncul sedikit dan premolar kedua kiri mandibula yang besar

telah berusaha untuk erupsi diantara premolar pertama dan molar pertama yang

berukuran normal (Gambar 2.1) (Canoglu et al.,2012).

Gambar 3.1 Penampakan Klinis Rahang Bawah Regio Premolar Kanan


dan Kiri (Canoglu et a.l, 2012).

17
Gambar 3.2 Penampakan Radiografi Panoramik A. Secara Keseluruhan B.
Penampakan Radiografi Regio Premolar Kanan C. Penampakan Radiografi Regio
Premolar Kiri (Canoglu et al.,2012).

Pemeriksaan radiografi dari rahang menunjukkan adanya premolar kedua

mandibula yang memiliki ukuran dan morfologi yang abnormal (Gambar 2.2).

Premolar kanan terimpaksi ke distal dan berukuran besar, mahkotanya

multituberkular berkontak dengan akar mesial molar pertama (Gambar 2.2). Akar

kerucut mendekati proksimal sampai ke kanalis alveolar inferior dan memiliki

ruang kanal akar tunggal dan besar. Premolar kiri sebagian terimpaksi dan

ditunjukkan dengan morfologi mahkota dan kanal akar yang sama (Gambar 2.2)

(Canoglu et al.,2012).

18
Gambar 3.3 Gambaran CBCT A. Potongan Frontal B. Potongan
Horizontal Rahang Bawah C. Gambaran 3D dari Bagian Frontal D. Gambaran
dari Sisi Lateral Kanan E. Gambaran dari Sisi Lateral Kiri (Canoglu et al.,2012).

Terlihat angulasi abnormal dari kedua premolar, 0,3 mm ketebalan

tomogram diperoleh pada CBCT. CBCT digunakan untuk menentukan posisi gigi

yang sesungguhnya pada bidang horizontal dan vertikal, sehingga memfasilitasi

pembedahan dengan kerusakan minimal atau tidak ada sama sekali ke gigi dan

struktur anatomi yang berdekatan (Gambar 2.3). Tomogram mengindikasikan

dengan tepat bahwa mahkota premolar makrodontia kanan mengarah ke lingual

dan sangat dekat ke proksimal akar gigi premolar pertama. Kedua gambar

19
tomografi 2 dimensi dan 3 dimensi mengonfimrasi bahwa bahwa premolar kedua

memiliki mahkota multituberkuler dan akar runcing tunggal dengan ruang kanal

akar yang besar dan tunggal (Canoglu et al.,2012).

Gigi dibedah pada sesi 2 berurutan dalam anestesi lokal. Kedua gigi

dibelah pada bagian servikal sebelum elevasi karena dimensi abnormal mahkota

gigi. Penyembuhan lama terjadi pada kasus kedua gigi. Mahkota premolar yang

telah diekstraksi berukuran mesiodistal 15,3 mm (kanan) dan 13,16 mm (kiri), dan

berukuran bukolingual 10,7 mm (kanan) dan 10,5 mm (kiri). Setelah 2 bulan,

terapi apppliance cekat diberikan oleh spesialis orthodonti untuk memperbaiki

maloklusi (Canoglu et al.,2012).

20
BAB IV

DISKUSI

4.1 Diskusi Kasus

Makrodontia merupakan kelainan ukuran gigi dengan ukuran lebih besar

dari seharusnya. Pada kasus ini, makrodontia terjadi pada gigi premolar kedua

kanan dan kiri mandibula. Menurut Ekman Westborg, makrodontia gigi premolar

kedua mandibula terjadi pada usia 8-14 tahun. Hal ini terjadi karena masa erupsi

gigi premolar kedua mandibula terjadi pada usia 11-12 tahun (Nelson, 2010).

Kasus ini merupakan makrodontia pada satu gigi yang jarang terjadi. Menurut

Logan, makrodontia pada satu gigi sering terjadi yaitu pada gigi insisiv dan

kaninus.

Gigi berjejal menjadi keluhan utama pada kasus ini. Menurut White, gejala

klinis dari makrodontia adalah adanya gigi berjejal. Selain itu, adanya impaksi

gigi premolar kedua disebabkan karena kurangnya ruangan untuk gigi erupsi.

Pada usia 12 tahun, gigi yang telah erupsi adalah gigi insisiv maksila

pertama dan kedua, caninus maksila, premolar pertama maksila, molar pertama

maksila, insisiv mandibula pertama dan kedua, caninus mandibula, premolar

pertama, premolar kedua mandibula, molar pertama mandibula sesuai dengan

gambaran klinis dan radiografi dari gigi geligi kasus (Scheid, R. C., 2012). Oleh

karena itu, pertumbuhan dan perkembangan anak pada kasus ini masih dalam

batas normal.

21
Menurut Logan, makrodontia terjadi karena adanya gangguan genetik

pada masa benih gigi yaitu di fase bell stage. Bell stage adalah tahap ketiga pada

pembentukan gigi yaitu tahap histodiferensiasi dan morfodiferensiasi. Pada

tahapan ini organ enamel dibentuk menghasilkan bentuk seperti lonceng serta

diferensiasi sel papila dental menjadi odontoblas dan sel epitelium enamel dalam

ke ameloblas. Tahap morfodiferensiasi mengatur bentuk dan ukuran gigi.

Ganguan pada tahap morfodiferensiasi dapat menyebabkan bentuk dan ukuran

gigi yang abnormal seperti peg shape, mikrodonsia, dan makrodontia (Cameron &

Widmer, 2008).

Pada penelitian sebelumnya, multituberculism ditemukan sebagai

kombinasi dengan makrodontia dan kasus anomali morfologi gigi lainnya yang

mencakup seluruh gigi geligi. Sesuai dengan kasus saat ini, multituberculism

muncul pada gigi makrodontia premolar. Pada sebagian besar kasus, perpanjangan

pulpa terlihat di pusat dentinal pada puncak bonjol. Invaginasi juga dapat muncul

akibat proliferasi aktif pada area enamel dengan terlipat dengan sel proliferasi

pada dental papila atau pergeseran bagian enamel ke papila akibat adanya tekanan

abnormal pada jaringan sekitar. Berdasarkan Stark, kemiripan morfologi dari gigi

makrodontia premolar kedua terisolasi dilaporkan sebelumnya. Dugmore10

menyarankan untuk menggunakan terminologi macrodont molariform premolars

(Canoglu et al.,2012).

Pemeriksaan radiografi dapat digunakan untuk alat bantu diagnosis atau

dapat menjadi preevaluasi sebelum tindakan bedah. Pada kasus ini, digunakan

foto radiografi panoramik dan CBCT. Radiografi panoramik digunakan untuk

22
melihat bentuk, posisi, ukuran dari gigi yang belum erupsi dalam dua dimensi,

sedangkan CBCT digunakan untuk melihat posisi dan ukuran dari gigi yang

belum erupsi dalam tiga dimensi.

Oleh karena itu, tindakan intervensi harus dilakukan sebelum dewasa.

Salah satu tindakan intervensi yang dapat dilakukan ialah dengan prosedur

ekstraksi. Setelah ekstraksi, dilakukan perawatan ortodonti untuk menghindari

gangguan pada rahang dan oklusi akibat tindakan ekstraksi (Canoglu et al.,2012).

Interpretasi dari radiografi konvensional bergantung kepada pengetahuan

dan pengalaman dalam menginterpretasi gambaran dua dimensi. Adanya

gambaran superimpos antara gigi dengan struktur disekitarnya menyebabkan

gambaran dua dimensi ini tidak dapat menyatakan lokasi secara akurat. Pada

kasus ini, radiografi konvensional digunakan untuk menyediakan informasi untuk

kepentingan diagnosis dan lokasi makrodontia premolar dalam arah bidang

vertikal dan horizontal juga hubungannya dengan gigi sebelahnya dan saraf

alveolaris inferior. Melengkapi gambaran radiografi, CBCT yang merupakan

gambaran tiga dimensi digunakan untuk mendapatkan gambaran detail dari

premolar yang berada dalam tulang alveolar. CBCT digunakan untuk dapat

menentukan teknik bedah yang paling baik, khususnya pada gigi makrodontia

premolar kiri (Canoglu et al.,2012).

Interpretasi pada radiografi konvensional bergantung kepada praktisi

(pengetahuan dan pengalaman) dalam membaca gambaran dua dimensi.

Gambaran radiografi tidak dapat digunakan untuk melihat lokasi secara akurat

karena adanya superimpos dari struktur yang berdekatan. Radiografi konvensional

23
memiliki informasi untuk mendiagnosis secara akurat lokasi dari makrodontia

premolar dalam arah bidang vertikal dan horizontal. Juga, radiografi konvensional

memperlihatkan hubungannya dengan gigi di sekitarnya dan saraf inferior alveoar.

CBCT untuk memperlihatkan impaksi premolar dalam arah 3 dimensi. Dengan

menggunakan CBCT, gambaran yang didapatkan akan terlihat detail tanpa

merusak bentuk morfologi dari gigi. Walaupun dosis lebih besar dikenakan ke

pasien untuk foto radiografi CBCT, informasi yang didapatkan dari gambaran

CBCT dapat digunakan untuk merencanakan teknik bedah yang akan digunakan

(Canoglu et al.,2012).

4.2 Interpretasi Foto Rontgen

Pasien pada kasus ini melakukan foto radiografi panoramik dan CBCT.

Gambaran radiografi yang akan dibahas pada makalah ini yaitu gambaran

radiografi panoramik sebagai gambaran radiografi konvensional.

Gambar 4.1 Gambaran Radiografi Makrodontia Bilateral Terisolasi pada Premolar


Kedua Mandibula

24
Tabel 4.2.1 Interpretasi Gigi 35

Elemen 35
Mahkota tampak ukuran lebih besar dan bentuk membulat
menyerupai gigi molar
Akar 1, mengerucut ke distal, akar belum tertutup
sempurna dan terlihat lebar saluran akar melebihi 2 mm
Ruang Membran menghilang di 1/3 apikal
Periodontal
Laminadura menghilang di 1/3 apikal
Alveolar Crest DBN
Furkasi -
Periapikal DBN
Kesan terdapat kelainan pada mahkota, akar, ruang
membran periodontal, dan lamina dura
Suspek Makrodontia gigi 35
Radiodiagnosis

Tabel 4.1 menunjukkan gigi 35 memiliki kelainan pada mahkota, akar, ruang

membran periodontal, dan lamina dura.

Tabel 4.2.2 Interpretasi Gigi 45

Elemen 45
Mahkota tampak ukuran lebih besar dan bentuk membulat
menyerupai gigi molar
Akar 1, mengerucut ke mesial, akar belum tertutup
sempurna dan terlihat lebar saluran akar melebihi 2 mm.
Ruang Membran menghilang di 1/3 apikal
Periodontal
Laminadura menghilang di 1/3 apikal
Alveolar Crest DBN

25
Furkasi -
Periapikal DBN
Kesan terdapat kelainan pada mahkota, akar, ruang
membran periodontal, dan lamina dura
Suspek Makrodontia gigi 45
Radiodiagnosis

Tabel 4.2 menunjukkan gigi 45 memiliki kelainan pada mahkota, akar, ruang

membran periodontal, dan lamina dura.

4.3 Pembahasan Interpretasi Foto Rontgen

Pasien pada kasus ini merupakan seorang anak perempuan berusia 12 tahun

mengeluhkan giginya berjejal. Hasil pemeriksaan radiografi panoramik

menunjukkan adanya gigi premolar kedua mandibula yang mengalami

makrodontia dan terimpaksi pada regio kanan dan kiri rahang. Kasus seperti ini

sangatlah jarang terjadi. Hal ini sesuai dengan penjelasan Cameron dan Widmer

bahwa frekuensi gigi permanen yang mengalami makrodontia hanya kurang lebih

1,1% dari seluruh populasi (Cameron and Widmer, 2008). Gigi makrodontia pada

kasus ini mengalami impaksi sesuai dengan pendapat Pillai tahun 2015 yang

menyebutkan bahwa salah satu komplikasi makrodontia adalah impaksi gigi

(Pillai, 2015).

Pasien memiliki makrodontia di kedua sisi mandibula (bilateral). Hal ini

sesuai dengan literatur sebelumnya yang menjelaskan bahwa makrodontia

terlokalisasi secara bilateral simetris (Laskaris,2011). Pasien dengan dua gigi

makrodontia pada kasus ini memiliki riwayat medis normal dan tidak memiliki

riwayat keluarga anomali gigi ataupun trauma sebelumnya. Hal ini sesuai dengan

26
pendapat Rajendran dan Sivapathasundharam tahun 2012 yang menyebutkan

bahwa satu atau dua gigi makrodontia umunya sangat jarang (Rajendran &

Sivapathasundharam, 2012)

Table 4.1 dan 4.2 menunjukkan keadaan mahkota gigi 35 dan 45 tampak

lebih besar dengan bentuk membulat menyerupai gigi molar. Hal ini sesuai

dengan literatur sebelumnya yang menjelaskan bahwa bentuk mahkota gigi

makrodontia membulat dan berukuran lebih besar dari normal (Laskaris,2011).

Pasien di kasus ini mengalami gigi berjejal akibat dari impaksi gigi premolar

mandibula bilateral. Laskaris menjelaskan bahwa makrodontia dapat mengawali

terjadinya gigi berjejal dan berpotensi erupsi gigi yang abnormal sebagai akibat

dari berkurangnya ruang yang ada di lengkung rahang. Pewaratan yang diperlukan

adalah restorasi estetik dan perawatan ortodonti untuk gigi berjejal

(Laskaris,2011).

Tabel 4.1 dan 4.2 menunjukkan gigi 35 dan 45 memiliki keadaan akar

mengerucut dengan lebar saluran akar melebihi 2 mm. Sesuai dengan penjelasan

Pillai tahun 2015 bahwa gigi makrodontia memiliki satu ruang pulpa yang besar

dan satu saluran akar yang dapat terdeteksi oleh gambaran radiografi (Pillai,

2015).

Gambaran radiografi alveolar crest dan periapikal pada kasus ini

menunjukkan dalam keadaan normal. Hal ini sesuai dengan literatur sebelumnya

yang tidak menyebutkan adanya kelainan yang terjadi pada alveolar crest dan

periapikal dari gigi makrodontia (Pillai, 2015 ; Cameron and Widmer,

27
2008).Sebagian besar temuan dalam gambaran radiografi pada kasus ini memiliki

kesamaan dengan literatur sebelumnya.

28
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat

disimpulkan bahwa makrodontia bilateral terisolasi pada premolar kedua

mandibula merupakan kasus yang sangat jarang terjadi dengan gambaran

radiografi berupa bentuk mahkota gigi makrodontia membulat dan berukuran

lebih besar dari normal, multituberculsm, satu ruang pulpa yang besar karena

adanya perpanjangan pulpa dan satu saluran akar.

Pemeriksaan radiografi dapat digunakan untuk alat bantu diagnosis atau

dapat menjadi preevaluasi sebelum tindakan bedah. Teknik radiografi

konvensional maupun digital dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang

diagnosis. Salah satu tindakan intervensi yang dapat dilakukan untuk menangani

makrodontia bilateral terisolasi pada premolar kedua mandibula ialah dengan

prosedur ekstraksi. Setelah ekstraksi, dilakukan perawatan ortodonti untuk

menghindari gangguan pada rahang dan oklusi akibat tindakan ekstraksi

29
DAFTAR PUSTAKA

Atac, A.T.A. and Erdem, Dilek. 2007. Prevalence and distribution of dental
anomalies in orthodontic patients. American Journal of Orthodontics and
Dentofacial Orthopedics 131(4). Pp: 511

Cameron, A.C. and Widmer, R. P. 2008. Handbook of Pediatric Dentistry Third


Edition. China: Mosby Elsevier. Pp: 236-237

Canoglu, E., Canoglu, H., Aktas, A., and Cehreli, Z.C. 2012. Isolated bilateral
macrodontia of mandibular second premolars: A case report. European
Journal of Dentistry 6(1). Pp: 330-334

Erkonen, W.E. and Smith, W.L. 2009. Radiology 101: The Basics and
Fundamentals of Imaging. Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 2.

Laskaris, G. 2011. Color Atlas of Oral Diseases in Childern and Adolescents.


New York: Tieme. Pp. 4-5

Library, W. 2017. Macrodontia (tooth) | World eBook Library - eBooks | Read


eBooks online. [online] Worldebooklibrary.org. Available at:
http://worldebooklibrary.org/articles/Macrodontia_(tooth) [Accessed 6 Aug.
2017].

Logan, C., Koh, S., Bebermeyer, R., Johnson, C. 2000. Case Report of
Gemination, and Brief Review of Other Dental Anomalies. The Journal of
The Greater Houston Dental Society 1(1). Pp: 14-16

Nelson, S.J. and Ash, M.M. 2010. Wheeler’s Dental Anatomy, Physiology, and
Occlusion. Saunders: Elsevier. Pp: 240-247

Pasler, F. A., Visser, H. 2007. Pocket Atlas of Dental Radiology. New York :
Thieme. Pp. 148

Pillai, K. G. 2015. Oral dan Maxiofacial Radiology Basic Principles and


Interpretation . India: Jaypee. Pp.205-206

Rajendran R., and Sivapathasundharam. 2015. Shafer’s Textbook of Oral


Pathology. India: Elsevier. Pp.40

Sadler, T. W., Langman, J. (2012). Langman's medical embryology. Philadelphia,


Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. Pp: 56

27
Scheid, R. C. and Weiss, G. 2012. Woelfel’s Dental Anatomy Eight Edition.
Philadelphia : Lippinscott Williams & Willkins. Pp. 333

Scully, C. and Welbury, R. 1996. Oral Diseases in Children and Adolescents.


London : Wolfe. Pp. 287

Slootweg, P. J. 2007. Dental Pathology A Practical Introduction. New York :


Springer. Pp. 11

Whaites, E. and Drage, N. 2013. Essentials of Radiography and Radiology. Fifth


Edition. London: Elsevier. Pp: 310-315

White, S. C. and Pharoah, M. J. 2004. Oral Radiology Principles and


Interpretation Fifth Edition. China: Mosby. Pp. 334-335.

White, S. C. and Pharoah, M. J. 2009. Oral Radiology Principles and


Interpretation Fifth Edition. China: Mosby. Pp. 399-302

28