Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

Mual dan muntah pada kehamilan biasanya dimulai pada kehamilan minggu ke-9
sampai ke-10, memberat pada minggu ke-11 sampai ke-13 dan berakhir pada minggu ke-12
sampai ke-14. Hanya pada 1-10% kehamilan gejala berlanjut melewati minggu ke-20 sampai
ke-22. Pada 0,3-2% kehamilan terjadi hiperemesis gravidarum yang menyebabkan ibu harus
ditatalaksana dengan rawat inap. 1
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam
urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan sebagainya.2
Sekitar 50-90% perempuan hamil mengalami keluhan mual dan muntah. Keluhan ini
biasanya disertai dengan hipersalivasi, sakit kepala, perut kembung, dan rasa lemah pada
badan. Keluhan-keluhan ini secara umum dikenal sebagai “morning sickness.” Istilah ini
sebenarnya kurang tepat karena 80% perempuan hamil mengalami mual dan muntah sepanjang
hari. 1
Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan hiperemesis gravidarum antara lain
hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya, berat badan berlebih, kehamilan multipel,
penyakit trofoblastik, nuliparitas dan merokok. 1
Apabila mual dan muntah yang dialami mengganggu aktivitas sehari-hari atau
menimbulkan komplikasi, keadaan ini disebut hiperemesis gravidarum. Komplikasi yang dapat
terjadi adalah ketonuria, dehidrasi, hipokalemia dan penurunan berat badan lebih dari 3 kg atau
5% berat badan. 1

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur
kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang
dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat aseton dalam
urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan sebagainya. 2
Mual dan muntah mempengaruhi hingga >50 % kehamilan. Kebanyakan perempuan
mampu mempertahankan kebutuhan cairan dan nutrisi dengan diet, dan simptom akan teratasi
hingga akhir trimester pertama.2

Tabel 1. Definisi-definisi Mual dan Muntah dalam Kehamilan 1

B. ETIOLOGI

Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Tidak ada bukti bahwa
penyakit ini disebabkan oleh faktor toksik, juga tidak ditemukan kelainan biokimia. Beberapa
faktor predisposisi yang ditemukan seperti :(3)

1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola


hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan
kehamilan ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan

2
karena pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk
berlebihan. Ditemukan peninggian yang bermakna dari kadar serum korionik
gonadotropin total maupun β-subunit bebasnya pada ibu dengan hiperemesis
dibandingkan dengan yang hamil normal.3
2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat
hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini
merupakan faktor organik. 3
3. Alergi, sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut
sebagai salah satu faktor organik. 3
4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini, rumah
tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut akan kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental
yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. 3,4,5
5. Faktor endokrin lainnya: hipertiroid, diabetes, dan lain-lain. Gejala mual-muntah
dapat juga disebabkan oleh gangguan traktus digestivus seperti pada penderita
diabetes melitus (gastroparesis diabeticorum). Hal ini disebabkan oleh gangguan
motilitas usus pada penderita.4,5

C. KLASIFIKASI
Secara klinis, hiperemesis gravidarum dibedakan atas 3 tingkatan, yaitu:

Tingkat I
Muntah yang terus-menerus (muntah 3-4 kali/hari, dan mencegah dari masuknya
makanan atau minuman selama 24 jam) yang menyebabkan ibu menjadi lemah, timbul
intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat-badan menurun, nyeri epigastrium, muntah
pertama keluar makanan, lendir dan cairan empedu, dan yang terakhir keluar darah. Nadi
meningkat sampai 100 kali per menit dan tekanan darah sistolik menurun. Mata cekung dan
lidah kering, turgor kulit berkurang, dan urin sedikit tetapi masih normal. Berat badan turun (2-
3kg dalam 1-2 minggu), 2

Tingkat II
Gejala lebih berat, penderita tampak lebih lemah dan tidak peduli pada sekitarnya.
Segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan, haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih
dari 100 - 140 kali per menit, tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg, apatis, kulit pucat,
lidah kotor, kadang ikterus, aseton, bilirubin dalam urin, dan berat badan cepat menurun.2

3

Tingkat III
Walaupun kondisi tingkat III sangat jarang, yang mulai terjadi adalah gangguan
kesadaran (delirium-koma), nadi kecil dan cepat,suhu meningkat, dan tekanan darah turun.
Muntah berkurang atau berhenti, tetapi dapat terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang
dikenal sebagai Ensefalopati Wernicke, dengana gejala: nistagmus, diplopia, dan perubahan
mental. Keadaan ini akibat kekurangan zat makanan termasuk vitamin B kompleks.Jika sampai
ditemukan kuning berarti sudah ada gangguan hati. ikterus. 2

D. PATOGENESIS
Penyebab pasti mual dan muntah yang dirasakan ibu hamil belum diketahui, tetapi
terdapat beberapa teori yang mengajukan keterlibatan faktor-faktor biologis, sosial dan
psikologis. Faktor biologis yang paling berperan adalah perubahan kadar hormon selama
kehamilan. Menurut teori terbaru, peningkatan kadar Human Chorionic Gonadotropin (hCG)
akan menginduksi ovarium untuk memproduksi estrogen, yang dapat merangsang mualdan
muntah. Perempuan dengan kehamilan ganda atau molahidatidosa yang diketahui memiliki
kadar hCG lebih tinggi daripada perempuan hamil lain mengalami keluhan mual dan muntah
yang lebih berat. Progesteron juga diduga menyebabkan mual dan muntah dengan cara
menghambat motilitas lambung dan irama kontraksi otot-otot polos lambung. Penurunan kadar
thyrotropin-stimulating hormone (TSH) pada awal kehamilan juga berhubungan dengan
hiperemesis gravidarum meskipun mekanismenya belum jelas. Hiperemesis gravidarum
merefleksikan perubahan hormonal yang lebih drastis dibandingkan kehamilan biasa.1
E. DIAGNOSIS

Amenore yang disertai muntah hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu.

Fungsi vital : nadi meningkat 100 kali per menit, tekanan darah menurun pada
keadaan berat, subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma).

Fisik : dehidrasi, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan menurun, pada vaginal
toucher uterus besar sesuai besarnya kehamilan, konsistensi lunak, pada
pemeriksaan inspekulo serviks berwarna biru (livide).

Pemeriksaan USG : untuk mengetahui kondisi kesehatan kehamilan juga untuk
mengetahui kemungkinan adanya kehamilan kembar ataupun kehamilan
molahidatidosa.

Laboratorium : kenaikan relatif hemoglobin dan hematokrit, shift to the left, benda
keton, dan proteinuria.

4

Pada keluhan hiperemesis yang berat dan berulang perlu dipikirkan untuk
konsultasi psikologi. 2,5

F. MANIFESTASI KLINIS
Mulai terjadi pada trimester pertama. Gejala klinik yang sering dijumpai adalah nausea,
muntah, penurunan berat badan, ptialism (salivasi yang berlebihan), tanda-tanda dehidrasi
termasuk hipotensi postural dan takikardi. Pemeriksaan laboratorium dapat dijumpai
hiponatremi, hipokalemia, dan peningkatan hematokrit. Hipertiroid dan LFT yang abnormal
juga dapat dijumpai. 2,4
Pada maternal, akibat defisiensi tiamin (B1) akan menyebabkan terjadinya diplopia,
palsi nervus ke-6, nistagmus, ataksia, dan kejang. Jika hal ini tidak segera ditangani, akan
terjadi psikosis Korsakoff (amnesia, menurunnya kemampuan untuk beraktivitas), ataupun
kematian. Oleh karena itu, untuk hiperemesis tingkat III perlu dipertimbangkan terminasi
kehamilan. Pada fetal, penurunan berat badan yang kronis akan meningkatkan kejadian
gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (IUGR) 2

G. PENATALAKSANAAN

Untuk keluhan hiperemesis yang berat, pasien dianjurkan untuk dirawat di rumah
sakit dan membatasi pengunjung.

Stop makanan per oral 24 — 48 jam.

Infus glukosa 10% atau 5% : RL = 2 : 1, 40 tetes per menit. 1

Obat 1

Vitamin B1, B2, dan B6 masing-masing 50-100 mg/hari/infus.

Vitamin B12 200 µg/hari/infus, vitamin C 200 mg/hari/infus.

Fenobarbital 30 mg I.M. 2 - 3 kali per hari atau klorpromazin 25 - 50 mg/hari I.M.
atau kalau diperlukan diazepam 5 mg 2- 3 kali per hari I.M.

Antiemetik: prometazin (avopreg) 2 - 3 kali 25 mg per hari per oral atau
proklorperazin (stemetil) 3 kali 3 mg per hari per oral atau mediamer B6 3 kali 1
per hari per oral.

Antasida : asidrin 3 x 1 tablet per hari per oral atau milanta 3 x 1 tablet per hari
per oral atau magnam 3 x 1 tablet per hari per oral. 2

 Diet sebaiknya meminta advis ahli gizi



Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa
roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2

5
jam sesudahnya. Makanan ini kurang mengandung zat gizi, kecuali vitamin C
sehingga hanya diberikan selama beberapa hari. 2

Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara
berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman
tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat gizi,
kecuali vitamin A dan D. 2

Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan.
Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan.
Makanan ini cukup dalam semua zat gizi, kecuali kalsium.2

 Rehidrasi dan suplemen vitamin


Pilihan cairan adalah normal salin (NaCl 0,9 %). Cairan dekstrose tidak boleh diberikan
karena tidak mengandung sodium yang cukup untuk mengoreksi hiponatremia. Suplemen
potasium boleh diberikan secara intravena sebagai tambahan. Suplemen tiamin diberikan secara
oral 50 atau 150 mg atau 100 mg dilarutkan ke dalam 100 cc NaCl. Urin output juga harus
dimonitor dan perlu dilakukan pemeriksaan dipstick untuk mengetahui terjadinya ketonuria. 2

 Antiemesis
Tidak dijumpai adanya teratogenitas dengan menggunakan dopamin antagonis
(metoklopramid, domperidon) fenotiazin (klorpromazin, proklorperazin), antikolinergik
(disiklomin) atau antihistamin H1-reseptor antagonis (prometazin, siklizin). Namun, bila masih
tetap tidak memberikan respons, dapat juga digunakan kombinasi kortikosteroid dengan
reseptor antagonis 5-Hidrokstriptamin (5-HT3) (ondansetron, sisaprid). 2

Tabel 2. Obat-obatan untuk Tata Laksana Mual dan Muntah dalam Kehamilan1

6
 Isolasi.
Dilakukan dalam kamar yang tenang cerah dan peradaran udara yang baik hanya dokter
dan perawat yang boleh keluar masuk kamar sampai muntah berhenti dan pasien mau makan.
Catat cairan yang masuk dan keluar dan tidak diberikan makan dan minum dan selama 24 jam.
Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa
pengobatan.4,6
 Terapi psikologik
Perlu diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkan rasa
takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalah dan konflik, yang
kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. 4,6

Penghentian kehamilan.

7
Pada sebagian kecil kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik jika memburuk. Delirium, kebutaan, takikardi,
ikterus, anuria dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. Dalam keadaan
demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan
abortus terapuetik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, tetapi dilain pihak tidak boleh menunggu sampai terjadi gejala irreversibel pada organ
vital. Gejala-gejala untuk mempertimbangkan abortus terapeutikus, ialah:5,6
a. Ikterus
b. Delirium atau koma
c. Nadi yang naik berangsur-angsur sampai di atas 130 kali/menit
d. Suhu meningkat di atas 38oC
e. Perdarahan dalam retina
f. Uremi, proteinuri, silinder yang merupakan tanda-tanda intoksikasi. 5,6

H. KOMPLIKASI
Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang berkepanjangan dapat
menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat mengalami syok. Dehidrasi yang
berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan
fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi
nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris, dan penurunan
kesadaran.1
Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat dicari tanda-tanda dehidrasi, kulit
tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan. Selain dehidrasi, akibat lain muntah
yang persisten adalah gangguan keseimbangan elektrolit seperti penurunan kadar natrium, klor
dan kalium, sehingga terjadi keadaan alkalosis metabolik hipokloremik disertai hiponatremia
dan hipokalemia. Hiperemesis gravidarum yang berat juga dapat membuat pasien tidak dapat
makan atau minum sama sekali, sehingga cadangan karbohidrat dalam tubuh ibu akan habis
terpakai untuk pemenuhan kebutuhan energi jaringan. Akibatnya, lemak akan dioksidasi.
Namun, lemak tidak dapat dioksidasi dengan sempurna dan terjadi penumpukan asam aseton-
asetik, asam hidroksibutirik, dan aseton, sehingga menyebabkan ketosis. Salah satu gejalanya
adalah bau aseton (buah-buahan) pada napas. Pada pemeriksaan laboratorium pasien dengan

8
hiperemesis gravidarum dapat diperoleh peningkatan relatif hemoglobin dan hematokrit,
hiponatremia dan hipokalemia, badan keton dalam darah dan proteinuria. 1
Robekan pada selaput jaringan esofagus dan lambung dapat terjadi bila muntah terlalu
sering. Pada umumnya robekan yang terjadi kecil dan ringan, dan perdarahan yang muncul
dapat berhenti sendiri. Tindakan operatif atau transfusi darah biasanya tidak diperlukan.
Perempuan hamil dengan hiperemesis gravidarum dan kenaikan berat badan dalam kehamilan
yang kurang (<7 kg) memiliki risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah, kecil untuk masa kehamilan, prematur, dan nilai APGAR lima menit kurang
dari tujuh.1

I. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan
memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang
fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala
yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan,
menganjurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil, tetapi lebih
sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan
roti kering atau biskuit dengan teh hangat. Makanan yang berminyak dan berbau lemak
sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman disajikan dalam keadaan panas atau sangat
dingin. Defekasi yang teratur hendaknya dapat dijamin, menghindarkan kekurangan
karbohidrat merupakan faktor yang penting, oleh karenanya dianjurkan makanan yang banyak
mengandung gula.6
J. PROGNOSIS
Dengan penanganan yang baik prognosis hiperemesis gravidarum sangat memuaskan.
Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat,
penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin. Literatur lain menyebutkan, prognosis
hiperemesi gravidarum umumnya baik, namun dapat menjadi fatal bila terjadi deplesi elektrolit
dan ketoasidosis yang tidak dikoreksi dengan tepat dan cepat.6

9
BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Y. R.
Umur : 39 tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Mongkoinit

10
Suku : Minahasa
Bangsa : Indonesia
Agama : Kristen Protestan
Nama suami : Tn. E. S.
Pekerjaan : Petani
MRS : 31 Juli 2017

B. ANAMNESIS
Anamnesis Utama
Anamnesis diberikan oleh penderita.

Keluhan utama:
Mual dan muntah-muntah

Riwayat penyakit sekarang:


Mual dan muntah dialami penderita sejak ± 1 minggu yang lalu, mual dan muntah semakin
hebat sejak 3 hari SMRS. Mual dan muntah setiap penderita makan dan minum. Dalam satu hari ini
penderita muntah lebih dari 10 kali. Mual dirasakan terutama sehabis makan, ulu hati terasa
nyeri, lalu muntah. Saat minum air putih pasien juga merasa mual lalu muntah. Muntah
tersebut berisi makanan atau minuman yang pasien baru konsumsi. Pasien mengeluh air
liurnya menjadi lebih banyak dan pangkal lidah terasa asam sedikit pahit. Pasien mengeluh
merasa lemas, nafsu makan menurun, BAK biasa, dan agak sulit untuk BAB. Berat badan
pasien yang tadinya 58 kg, saat ini menjadi 53 kg.

Riwayat penyakit dahulu


Penyakit darah tinggi, jantung, paru, hati, ginjal, kencing manis disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


Penyakit darah tinggi, jantung, paru, hati, ginjal, kencing manis disangkal

Riwayat Kehamilan

11
ANC rutin di bidan, pasien tidak memiliki riwayat KB.

Riwayat Obstetrik
An. I : 1996 / perempuan / cukup bulan / spontan letak kepala / puskesmas

An. II : 1998, abortus

An. III : 2000, abortus

An. IV : 2009, abortus

An. V : hamil saat ini

Riwayat Ginekologi

Riwayat Operasi :-
Riwayat Kuret :+
Riwayat Keputihan : -

Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 6 - 7 hari
HPHT : 5 juni 2017
HPL : 12 maret 2018
- Perkawinan 1 kali
- Menikah usia : 17 tahun
- Lama menikah : 22 tahun
- Riwayat KB : (-)

Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 31 juli 2017 pukul 11.40

Status Praesens
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 112x/menit

12
Pernafasan : 22 x/menit
Suhu : 36,5oC
Berat badan : 53 kg
Tinggi badan : 151 cm
Gizi : Normal
Mata : Konjungtiva anemis -/- ,
Sklera ikterik -/- , mata cowong +/+
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Tidak ada kelainan
Mulut : Mukosa bibir tampak kering, lidah kotor
Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Jantung : BJ I-II reguler murni, gallop (-), murmur (-)
Thorak : Suara napas dasar vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen : Datar, supel, nyeri tekan epigastrium (+), BU (+), ballotement (+)
Ekstremitas : Akral hangat , turgor kulit menurun

Status Ginekologi

Pemeriksaan luar

Inspeksi : fluksus Θ, fluor Θ, vulva tidak ada kelainan


Inspekulo : fluksus Θ, fluor Θ, vulva tidak ada kelainan

Portio: Livide , licin, OUE tertutup

Pemeriksaan dalam

fluksus Θ, fluor Θ, vagina tidak ada kelainan


fluksus Θ, fluor Θ, vulva tidak ada kelainan

Portio: Livide , licin, OUE tertutup

Corpus Uteri : sebesar kehamilan 8-10 minggu

13
A/ P : bilateral lemas, nyeri tekan Θ, massa Θ

Cavum Douglas : tidak menonjol

Diagnosis Kerja
G5P1 A3 usia 39 tahun, hamil 9-10 minggu dengan hiperemesis gravidarum grade II

Terapi
-
IVFD D5% + Neurobion 1 amp/24 jam → 28 tpm
-
IVFD RL : D5% → 2 : 1 →28 tpm
-
Ondansentron 1 amp/ 8 jam
-
Ranitidin 1 amp/ 12 jam
-
Magasida syr 3x4 cth

Follow Up
1 Agustus 2017
S : Muntah berkurang, mual berkurang.
O : KU : Tampak sakit sedang Kes : CM
TD : 110/70 mmHg R : 20x/m
Nadi : 90x/menit S : 36,3oC
A : G5P1 A3 usia 39 tahun, hamil 9-10 minggu dengan hiperemesis gravidarum
grade II
P : IVFD D5% + Neurobion 1 amp/24 jam → 28 tpm
IVFD RL : D5% → 2 : 1 →28 tpm
Ondansentron 1 amp/ 8 jam
Ranitidin 1 amp/ 12 jam
Magasida syr 3x4 cth

2 Agustus 2017
S : (-)
O : KU : Tampak sakit sedang Kes : CM

14
TD : 110/70 mmHg R : 20x/m
Nadi : 82x/menit S : 36,0oC
Hasil USG : FHR (+)
CRL 9 – 10 minggu
EDD : 5 Maret 2018
A : G5P1 A3 usia 39 tahun, hamil 9-10 minggu dengan hiperemesis gravidarum
grade II
P : Ondansentron 2 x 1
Folamil genio 1 x 1
Rawat jalan

BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien dengan diagnosis hiperemis gravidarum grade 2 pada kasus ini didasarkan pada
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang ada. Pada anamnesis didapatkan keluhan utama yaitu
mual dan muntah yang berlangsung sejak 1 minggu yang lalu, dan memberat sejak 3 hari
terakhir. Nafsu makan menurun, mual dan muntah terjadi setiap kali makan dan minum. BAK
biasa, dan BAB agak sulit. Pasien juga mengeluh air liurnya menjadi lebih banyak dan
pangkal lidah terasa asam sedikit pahit. Berat badan pasien yang tadinya 58 kg, saat ini
menjadi 53 kg.
Hal ini sesuai dengan teori, dimana pada pasien hiperemesis gravidarum adalah muntah
yang terjadi pada awal kehamilan sampai usia kehamilan 20 minggu. Keluhan muntah

15
kadang-kadang begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan
sehingga dapat mempengaruhi keadaan umum dan menganggu pekerjaan sehari-hari, berat
badan menurun, dan dehidrasi.2
Pada kasus ini hal yang mungkin menyebabkan terjadinya hiperemesis gravidarum
adalah faktor metabolik dan hormonal. Seperti yang dikemukakan dalam kepustakaan bahwa
diduga ada keterkaitan antara hiperemesis gravidarum dengan aktifitas trofoblas dan produksi
gonadotrofin (HCG), dimana serum HCG mencapai puncak pada kehamilan trimester I, ketika
kejadian mual dan muntah mencapai puncaknya. Jadi pada kasus ini, faktor metabolik dan
hormonal memegang peranan penting dalam proses terjadinya hiperemesis gravidarum
dengan usia kehamilan 9-10 minggu.3

Hiperemesis gravidarum grade 2 pada kasus ini, sesuai dengan teori bahwa, klasifikasi
grade 2 yaitu segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan kembali, nadi pada pasien ini
112x/m, tekanan darah sistolik kurang dari 80 mmHg, lidah kotor, berat badan cepat menurun
yang tadinya 58 kg, sekarang menjadi 53 kg.2

Penanganan hiperemesis gravidarum terutama bertujuan untuk mengatasi dehidrasi,


mengatasi kelaparan dengan pemberian glukosa dengan infus atau makanan dan juga
pemberian vitamin yang cukup. Ketika mengobati ibu dengan hiperemesis gravidarum,
pencegahan serta koreksi defisiensi nutrisi adalah prioritas utama agar ibu dan bayi tetap
dalam keadaan sehat.

Pada kasus ini penanganan awal diberikan IVFD D5% + Neurobion 1 amp sebab
penderita datang dalam keadaan lemah dan muntah-muntah yang begitu hebat pada 3 hari
SMRS, dan dilanjutkan dengan IVFD RL : D5% = 2 : 1, Ondansentron 1 amp/ 8 jam sebagai
antiemetik untuk mengatasi muntah yang terus menerus, Ranitidin 1 amp/ 12 jam untuk
mengurangi produksi asam lambung dan mengatasi refluks, Magasida syr 3 x 4 cth untuk
mengatasi gangguan saluran cerna akibat muntah yang berlebihan. Pada hari kedua pasien
masih mendapatkan terapi yang sama. Pada hari ketiga, pasien sudah tidak memakai infus dan
pasien diberikan obar oral Ondansentron 2 x 1, Folamil genio 1 x 1, dan pasien sudah
diperbolehkan untuk rawat jalan.

16
Pada kasus ini prognosisnya baik karena penanganan yang diberikan belum terlambat
dan ibu pulang dalam kondisi yang baik

17
BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

-
Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai
umur kehamilan 20 minggu, yang dapat mempengaruhi keadaan umum dan
menganggu pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, dan terdapat
aseton dalam urin bahkan seperti gejala penyakit apendisitis, pielititis, dan
sebagainya
-
Hiperemesis gravidarum diklasifikasikan menjadi 3 tingkatan.
-
Gejala klinik yang sering dijumpai adalah nausea, muntah, penurunan berat
badan, ptialism (salivasi yang berlebihan), tanda-tanda dehidrasi termasuk
hipotensi postural dan takikardi.
-
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang penderita.
-
Penatalaksanaan dengan memberikan rehidrasi dan suplemen vitamin, antiemesis,
terapi psikologik dan isolasi.
-
Komplikasinya yaitu dehidrasi, gangguan elektrolit, syok, menghambat tumbuh
kembang janin.

DAFTAR PUSTAKA

18
1. Gunawan K, Manengkei PSK, Ocviyanti D. Diagnosis dan tatalaksana
hiperemesis gravidarum. Vol.61. Jakarta: J Indon Med Assoc; 2011.h.459-65
2. Wibowo B, Soejono A. Hiperemesis gravidarum dalam ilmu kebidanan. Edisi
ketiga cetakan ketujuh. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo;
2005.h.275-280.
3. Mochtar R. Hiperemesis gravidarum dalam sinopsis obstetri. Edisi 2 cetakan
pertama. Jakarta: EGC; 1998.h.195-197
4. Hiperemesis Gravidarum, 26 Juli 2007. Di unduh dari : www.medicastore.com ,
tanggal 20 Desember 2014

5. Hartanto H. Penyakit saluran cerna. Dalam: Cunningham FG. Obstetric Williams.


Edisi ke-21. Jakarta: EGC; 2005.h.1424-1425

6. Moeloek FA. Hiperemesis gravidarum. Dalam : Standar Pelayanan Medik:


Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi
Indonesia;2006.h.21-22

19