Anda di halaman 1dari 30

BAB X

METODA MATRIKS KEKAKUAN LANGSUNG

10.1 Umum
Dalam bab-bab sebelumnya telah dijelaskan bawwa metoda matriks merupakan
metoda analisis yang berdasarkan konsep-konsep analisis klasik, tetapi dengan
menyajikan dan teknik solusi dalam bentuk matriks. Penyajian dengan cara matriks ini
memungkinkan pelaksanaan perhitungan analisis yang lebih standard dan massal serta
cocok dilakukan dalam operasi komputer yang standard. Dalam terapan terlihat bahwa
pemodelan diskrit struktur cenderung meningkatkan orde derajat kebebasan struktur.
Sebagai contoh, portal bangunan dua dimensi bertingkat tiga dan berbentang dua
mempunyai 4 x 3 = 12 titik simpul, masih merupakan suatu struktur yang relatif kecil,
tetapi kemungkinan akan mempunyai 12 x 3 = 36 derajat kebebasan. Penyelesaian
sistem persamaan dengan matriks berukuran 36 x 36 praktis sulit dilakukan dengan
tangan. Bangunan bertingkat 10 dan berbentang 4, kemungkinan akan mempunyai 11 x
5 x 3 165 derajat kebebasan, dan matriks kekakuan berukuran 165 x 165. Kedua contoh
di atas masih di dalam pemodelan struktur dua dimensi; model tiga dimensi (yang
merupakan model yang seyogyanya digunakan jika ingin mendapatkan hasil yang lebih
mendekati kenyataan di lapangan), tentunya akan memberikan orde matriks yang lebih
tinggi lagi. Dengan demikian, diperlukan suatu penuangan analisis yang dapat
diselesaikan dengan bantuan alat hitung berkapasitas tinggi seperti komputer.
Ditinjau dari segi pemograman, maka dibandingkan dengan metoda kekakuan,
metoda fleksibilitas memiliki beberapa kendala. Pertama, untuk struktur statis tidak tentu
berderajat banyak, terdapat lebih dari satu pilihan kombinasi komponen gaya kelebihan
yang dapat digunakan sebagai vektor yang perlu diterapkan. Di tengah program, ini
memerlukan suatu langkah manual dalam melakukan pilihan struktur primer (released
structure) yang akan digunakan; langkah manual ini akan mengurangi otonomisasi dari
program. Kedua, pemilihan kombinasi gaya kelebihan sebagai besaran anu tergantung
kepada bentuk struktur, sehingga analisis tergantung kepada bentuk struktur yang
dihadapi dan menjadi kurang umum. Pelepasan kekangan di dalam mendapatkan
sistem statis tentu juga perlu dilakukan dengan hati-hati karena jika tidak, kemungkinan
dapat diperoleh sistem ataupun sub-sistem yang labil. Hal berikutnya adalah
ketergantungan proses perakitan matriks fleksibilitas atas bentuk struktur, seperti yang
ditunjukkan di dalam perakitan matriks keseimbangan  EM  dalam Pers.(8.3.4).
Pembentukan matriks ini membutuhkan peninjauan struktur primer yang mencakup
keseluruhan sistem, sehingga matriks relatif akan besar tetapi :sparse”. Alasan-alasan di
atas membuat metoda fleksibilitas ketinggalan popularitas dibandingkan dengan metoda
kekakuan.
Di dalam metoda kekakuan, derajat kebebasan kinematis suatu struktur adalah
unik untuk suatu model diskrit tertentu, sehingga vektor perpinadahan menjadi unik pula.

209
Artinya, vektor perpindahan mencakup pasangan komponen perpindahan bebas yang
tidak perlu dipilih lagi. Dalam hal ini, metoda kekakuan akan berurusan dengan matriks
kekakuan yang unik. Ini tentunya sangat berbeda dengan metoda fleksibilitas yang
berurusan dengan matriks fleksibilitas yang berbeda untuk pilihan vektor gaya kelebihan
yang berbeda. Keunikan matriks kekakuan merupakan hal yang sangat memudahkan
dan sesuai dengan otonomisasi program. Ini merupakan salah satu alasan kenapa
metoda kekakuan lebih sering digunakan orang dibandingkan dengan metoda
fleksibilitas. Selain itu, matriks kompatibilitas  C M  dalam Pers.(9.4.4) lebih
berpenampilan baik ketimbang matriks keseimbangan  E M  dalam Pers.(8.3.4) yang
lebih sparse.
Bentuk metoda kekakuan dalam Bab IX masih menghadapi beberapa masalah jika
dituangkan ke dalam suatu program komputer. Pertama, seperti halnya dengan matriks
 EM  , pembentukan matriks kompatibilitas CM  dalam Pers.(9.4.4) masih
membutuhkan peninjauan struktur total yang relatif besar. Metoda ini sedikit banyak
masih terlalu tergantung kepada bentuk dan kesinambungan topologi struktur yang
dianalisis karena  C M  yang relatif berukuran besar ini perlu disusun dengan meninjau
kompatibilitas deformasi keseluruhan struktur. Dengan demikian, dibutuhkan suatu
metoda yang lebih cocok dan efisien untuk dituangkan di dalam suatu program
komputer. Pasal-pasal berikut menyajikan suatu versi dari metoda matriks kekakuan
yang sangat cocok diprogramkan dan saat ini populer diterapkan orang.

10.2 Dasar-dasar Metode Kekakuan Langsung


Pada dasarnya metoda kekakuan langsung secara prinsip serupa dengan metoda
kekakuan yang telah dibahas di dalam Bab IX sebelumnya. Perbedaan hanya terletak
pada penerapan transformasi dari perpindahan nyata dan khayal seperti yang diberikan
masing-masing Pers.(9.4.4) dan (9.4.5). Kalau di dalam Bab IX penerapan transformasi
tersebut dilakukan di dalam tahap struktur global, maka dalam metoda kekakuan
langsung proses ini dilakukan di dalam tahap elemen. Ini sangat memudahkan
dipandang dari beberapa segi. Pertama, matriks transformasi  C M  berobah menjadi
suatu matriks yang relatif lebih kecil karena hanya berkaitan dengann derajat kebebasan
elemen. Kedua, tidak lagi diperlukan peninjauan keserasiandeformasi struktur global
karena dalam hal ini yang ditinjau hanyalah vektor perpindahan elemen saja (yang
diambil memenuhi persyaratan keserasian deformasi pada titik-titik simpul), yang
merupakan sub-set dari vektor perpindahan global di samping kesinambungan topologi
struktur pada titik-titik simpul antar elemen. Hal ini membuat formulasi mejadi lebih
standard seperti yang akan diperlihatkan dalam bahasan berikut.
Pertama-tama, hubungan kekakuan disusun untuk elemen sebagai berikut.

 pi    pi0    k i  ui    pie    k i  ui  (10.2.1)

  e
di mana pi adalah vektor gaya ujung jepit ekivalen akibat beban elemen. Kemudian,
rotasi dari tata sumbu lokal ke global memberikan hubungan transformasi

210
 Pi    Ri  T  pi 
(10.2.2)
 pie    Ri  T  pie 
dan
 ui    Ri  ui 
(10.2.3)
ui    Ri u i 

Kesamaan kerja luar yang dilakukan oleh gaya pi di arah perpindahan khayal ui  ,   e

dengan kerja dalam yang dilakukan oleh gaya dalam di arah perpindahan khayal,
memberikan keseimbangan, dalam bentuk

 u   p   u   p   k  u 
T e T e
i i i i i i (10.2.4)
i i

di mana tanda  menyatakan perjumlahan untuk semua elemen yang ada.


Pemasukan Pers.(10.2.3) dan Pers.(10.2.2) ke dalam Pers.(10.2.4) menghasilkan

 u   p   u   R   k  R u 


i
i
T e
i
i
i
T
i
T
i i i (10.2.5)

Selanjutnya, vektor perpindahan nyata  ui  dan perpindahan khayal ui  elemen


dalam tata sumbu global, dikaitkan dengan vektor perpindahan nyata U S  dan
perpindahan khayal U S  struktur, dalam bentuk

U i   Ti U S  ; U i   Ti U S  (10.2.6)

di mana Ti 
T
dinamakan matriks tujuan (destination matrix), yang mengatur hubungan
vektor perpindahan struktur dengan vektor perpindahan elemen dalam tata sumbu
global. Pemasukan Pers.(10.2.6) dalam Pers.(10.2.5) memberikan kondisi terakit sistem
persamaan dalam bentuk

U S  T  Ti  T  Ri  T  pie   U S  T  Ti  T  Ri  T  k i   Ri Ti  U S  (10.2.7)
 i   i 

Dengan mengingat bahwa vektor perpindahan khayal U S  adalah bersifat sembarang
asalkan secara kinematis dimungkinkan (kinematically admissible), maka dari Pers.
(10.2.7) dapat disimpulkan bahwa

 K S U S    PS  (10.2.8)

dengan  K S  sebagai matiriks kekakuan, U S  vektor perpindahan dan  PS  vektor


gaya struktur yang diberikan oleh

 K S    Ti  T  Ri  T  k i  Ri Ti    Ti  T  K i  Ti  ;  K i    Ri  T  k i  Ri 


i i
(10.2.9)
 PS    Ti   Ri   p    Ti   Ri  T  pi0 
T T e
i
T

i i

211
Perhatikan bahwa vektor gaya dalam Pers.(10.2.9c) merupakan perjumlahan dari gaya
elemen ekivalen (atau minus dari gaya ujung jepit) sebagai sumbangan dari beban
elemen. Hadirnya beban titik simpul dapat secara langsung ditambahkan kepada bentuk
Pers.(10.2.9c), yaitu
 PS    PSJ    Ti  T  Ri  T  pie  (10.2.10)
i

Dalam melakukan perjumlahan matriks seperti dalam Pers.(10.2.9), perlu


diperhatikan beberapa hal. Pertama, vektor perpindahan elemen umumnya dinyatakan
terhadap suatu tata sumbu yang bersifat lokal untuk elemen. Dengan demikian,
diperoleh suatu bentuk matriks kekakuan yang standard untuk jenis elemen yang sama,
tetapi dengan orientasi yang berbeda-beda terhadap tata sumbu global struktur. Dalam
hal ini, matriks  Ri  dalam Pers.(10.2.2) mencakup proses rotasi yang tergantung
kepada orientasi tata sumbu lokal elemen terhadap tata sumbu global (bersama) seperti
telah dibahas dalam Bab 4. Kedua, perjumlahan dalam Pers.(10.2.9) dapat dilakukan
dengan melihat korespondensi vektor perpindahan elemen dengan vektor perpindahan
global struktur, sebagai mana diatur oleh matriks tujuan Ti  dalam Pers.(10.2.6).

10.3 Penomoran Derajat Kebebasan Struktur


Dalam perakitan persamaan kekakuan struktur, diperlukan identifikasi dari struktur
dan elemen-elemennya. Menyusul diskritisasi struktur dan pemilihan jenis elemen yang
digunakan, maka jumlah elemen dan titik simpul yang ada dapat ditentukan. Kemudian
semua elemen dan titik simpul diberi nomor urut agar dapat diidentifisir secara jelas.
Selain itu, dibutuhkan pula suatu array insidens (incidences) yang mengandung nomor-
nomor titik simpul yang ada dalam masing-masing elemen. Array insidens ini pulalah
yang digunakan untuk menetapkan orientasi dari tata sumbu lokal elemen terhadap tata
sumbu global. Selain itu, vektor insidens ini juga berfungsi untuk mengatur urutan nomor
titik simmpul yang ada pada masing-masing elemen. Kemudian, selain koordinat yang
menentukan geometri, untuk semua titik simpul juga diperlukan indikator yang
menunjukkan keaktifan dari derajat kebebasan. Array keaktifan (activity array) ini diberi
nilai indikatif yang membedakan antara komponen yang aktif dan yang tidak; misalnya,
nilai 1 (satu) untuk yang aktif dan 0 (nol) untuk yang non-aktif.
Tahap berikutnya adalah langkah otomatis di dalam menghitung jumlah derajat
kebebasan struktur yang dilakukan dengan menggunakan vektor aktifitas titik simpul.
Pertama-tama, suatu besaran N yang mewakili jumlah derajat kebebasan struktur,
diberi nilai nol. Kemudian, vektor aktifitas setiap titik sipul mulai dari titik pertama sampai
dengan yang terakhir, diperiksa. Setiap menemui unsur komponen aktif, nilai N
ditambah dengan 1 dan nilai unsur vektor aktifis yang tidak nol tersebut ditukar dengan
nilai N pada saat itu. Unsur vektor aktifitas yang bernilai nol, dilewati tanpa mengubah
nilainya. Pada akhir proses perhitungan, setiap derajat kebebasan aktif mendapat nolai
vektor keaktifan yang menunjukkan tempatnya dalam urutan derajat kebebasan struktur,
berikut jumlah total derajat kebebasan global.
Untuk jelasnya, tinjaulah suatu struktur portal yang dibagi atas 3 elemen balok-
kolom seperti dalam Gambar 10.3.1. Vektor insidens untuk semua elemen disusun
dalam Gambar 10.3.1(b). Dengan demikian ada 4 titik simpul dengan derajat kebebasan

212
(setelah proses rotasi) seperti dalam Gambar 10.3.1(c). Perhatikan bahwa penomoran
titik struktur adalah sembarangan, sekalipun nantinya akan terlihat bahwa urutan
penomoran titik simpul berpengaruh terhadap besar memori penyimpanan matriks
kekakuan dalam analisis yang dilakukan dengan program komputer, seperti dibahas
dalam Bab XI.

Gambar 10.3.1: Penomoran Derajat Kebebasan Struktur

Jumlah derajat kebebasan struktur diperoleh dengan memodifikasi vektor aktifis


titik simpul menuruti uraian sebelumnya. Hasil proses berupa vektor aktifitas yang
dimodifikasi, berikut jumlah derajat kebebasan struktur (dalam hal ini = 6), diperoleh
seperti dalam Gambar 10.3.1(d). Matriks tujuan setiap elemen dapat disusun dengan
menggunakan vektor aktifitas semua titik simpul elemen, menurut urutan titik simpul
dalam vektor insidens elemen. Hasilnya diberikan di dalam Pers.(10.3.1).

0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0  0 1 0 0 0 0
  
0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
T1     T2     T3    
1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0
0 1 0 0 0 0  0 0 0 0 1 0  0 0 0 0 0 0
     
0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1  0 0 0 0 0 0
(10.2.11)

213
Ternyata matriks tujuan elemen berukuran cukup besar, yaitu berukuran kolom
sebanyak derajat kebebasan struktur. Selain itu, kebanyakan unsur bernilai nol dan
matriks tujuan bersifat ”sparse”. Ini mengakibatkan operasi perhitungan yang sangat
tidak efisien. Hal ini dapat diatasi dengan cara sebagai berikut.

10.4 Vektor Tujuan


Tinjaulah sekarang matriks tujuan elemen 1 seperti dalam Pers.(10.3.1a). Matriks
ini sebenarnya hanya mengandung informasi bahwa.

U 11  0 (tidak aktif ) ; U 21  0 (tidak aktif ) ; U 31  0 (tidak aktif )


(10.4.1)
U 41  U S 1 ; U 51  U S 2 ; U 61  U S 3

Dengan demikian, matriks tujuan Ti  dapat diciutkan menjadi vektor tujuan
(destination vector)  Ti  dengan bentuk

T1    0 0 0 1 2 3
(10.4.2)

Vektor tujuan semua elemen dalam Gambar 10.3.1(c) diberikan selengkapnya


dalam bentuk Pers.(10.4.3).

derajat kebebasan elemen 1 2 3 4 5 6



elemen 1 0 0 0 1 2 3 (10.4.3)
vektor tujuan elemen 2 1 2 3 4 5 6
elemen 3 4 5 6 0 0 0

Sebuah contoh, elemen 1 mempunyai titik 1 dan 2 sebagai titik awal dan akhir,
engan vektor aktifitas masing-masing sebagai (0, 0, 0) dan (1, 2, 3). Dengan demikian
diperoleh korespondensi derajat kebebasan elemen 1 dan struktur sebagai berikut.

elemen 1 1 2 3 4 5 6
      (10.4.4)
struktur 0 0 0 1 2 3

Penggunaan vektor tujuan dalam merakitkan matriks kekakuan dan vektor gaya struktur,
diberikan dalam bahasan Pasal 10.5.

10.5 Perakitan Matriks Kekakuan Global


Vektor tujuan yang telah disusun seperti dalam Pasal 10.4 siap digunakan untuk
merakit matriks kekakuan global sebagai berikut. Sebagai contoh, dengan vektor tujuan
(0, 0, 0, 1, 2, 3) untuk elemen 1, K 46 dari matriks kekakuan elemen 1 yang telah

214
dirotasikan menurut ruas kanan Pers.(10.2.9a), akan dirakitkan ke unsur K 13 matrik
kekakuan struktur, K 56 elemen ke K 23 struktur dan sebagainya.

Unsur K 12 , K 23 , K 24 , dan sebagainya ( K IJ yang mempunyai indeks 1, 2, dan


3) tidak ikut dirakitkan, karena derajat kebebasan 1, 3, dan 3 elemen 1 tidak aktif.
Demikian perakitan dilakukan untuk semua elemen secara berurutan. Sumbangan dari
ketiga elemen kepada matriks kekakuan global diperlihatkan di dalam Tabel 10.5.1
berikut. Bentuk dari matriks kekakuan struktur menjadi

1
1 K 44  K112 1
K 45  K122 1
K 46  K132 K142 K152 K161
1
2 K 54  K 212 1
K 55  K 222 1
K 56  K 232 K 242 K 252 1
K 26
1
3 K 64  K 312 1
K 65  K 322 1
K 66  K 332 K 342 K 352 1
K 36
4 K 412 K 422 K 432 K 442  K113 K 452  K123 K 462  K133
5 K112 K122 K132 K 542  K 213 K 552  K 223 K 562  K 23
3

6 K112 K122 K132 K 642  K 313 K 652  K 323 K 662  K 333


(10.5.1)

Gambar 10.5.1: Sumbangan Kekakuan Elemen Terhadap Kekakuan Struktur

Perhatikan bahwa indeks m m


pada unsur K ij menendakan sumbangan dari matriks
kekakuan elemen ke- m . Penggunaan vektor tujuan dalam perakitan matriks kekakuan
global secara skematis ditunjukkan dalam Gambar 10.5.1.

215
Gambar 10.5.2: Perakitan Matriks Kekakuan Struktur

10.6 Perakitan Vektor Beban Global


Seperti telah dibahas dalam Bab IV, beban luar dapat digolongkan kepada dua
macam beban, yaitu beban titik simpul (yang bekerja pada titik simpul), dan beban lokal
yang bekerja pada suatu elemen tertentu. Dengan demikian, tahap perakitan beban juga
dapat dibagi sesuai dengan penggolongan beban seperti di atas.
Beban titik simpul merupakan beban langsung pada titik simpul dan dengan
demikian tidak termasuk atau tidak dipunyai oleh sesuatu elemen manapun, sehingga
perakitan dapat dilakukan langsung atas vektor beban global menurut Pers.(10.2.10).
Untuk memudahkan, komponen beban titik simpul dapat dinyatakan terhadap tata
sumbu global, sehingga proses rotasi tidak perlu dilakukan lagi.
Sebagai contoh, tinjaulah struktur portal dengan beban H , M , dam q seperti
terlihat dalam Gambar 10.6.1(a). Beban titik simpul bekerja di titik 2 dan 3 dengan
komponen masing-masing (H , 0, 0) dan ( 0, 0, M ) . Dengan vektor aktifitas (1,2,3)
untuk titik 2 dan (4, 5, 6) untuk titik 3, maka vektor beban titik untuk titik simpul dapat
dirakitkan sebagai terlihat dalam bentuk skematis Pers.(10.6.1) di bawah ini, sesuai
Gambar 10.6.1(d).

1 H  1 H 
  0
2 2 0 2   
0 
3   3 0 
  (10.6.1)
1 0 4 0
 
3 2   5  0
0
3 M  6  
  
M 

216
Selanjutnya, beban lokal atau beban elemen harus diganti dahulu menjadi beban
ekivalen, lalu secara konsisten dirakitkan kepada vektor beban global dengan
menggunakan vektor tujuan elemen. Untuk beban merata q pada elemen 2, gaya titik
ujung yang koresponden menjadi

 p   0
0
2 
1
2
1
qL  qL2
12
0 
1
2
1 
qL  qL2 
12
(10.6.2)
 

sebagai mana ditunjukkan dalam Gambar 10.6.1(c). Karena tata sumbu lokal elemen 2
sejajar dengan tata sumbu global, maka matriks rotasi elemen 2 menjadi matriks
identitas, sehingga
P    I   p    p 
2
0 T 0
2
0
2
(10.6.3)

Menurut bahasan Pasal 7.6.4, vektor beban ekivalen untuk elemen 2 menjadi

 P    P 
2
e
2
0
(10.6.4)
yang memberikan
 P   0
2
e

1
2
qL 
1
12
qL2 0 
1
2
1 
qL  qL2 
12
(10.6.5)
 

Gambar 10.5.2: Perakitan Matriks Kekakuan Struktur

217
Dengan vektor tujuan (1, 2, 3, 4, 5, 6) elemen 2, vektor beban dalam Pers.(10.6.5)
dirakitkan secara mudah dengan mengikuti proses sebagai berikut.

1  0   0 
    1 qL 
2   12 qL   2 
3  121 qL2   121 qL2 
     (10.6.6)
4  0   0 
5   12 qL    12 qL 
   1 2
6  121 qL2   12 qL 

Akhirnya, vektor beban global total diperoleh dengan menjumlahkan hasil dalam Pers.
(10.6.1) dan Pers.(10.6.6) sebagai berikut.

 PS    PS1 PS 2 PS 3 PS 4 PS 5 PS 6 

 H  12 qL  121 qL2 0  12 qL M  121 qL2  (10.6.7)

Perlu ditekankan lagi bahwa untuk struktur rangka sendi, semua gaya luar
dianggap/diatur dilimpahkan lewat titik simpul. Dengan demikian, rangka sendi hanya
menerima gaya titik simpul.

10.7 Kekangan Absolut


Dengan terakitnya matriks kekakuan dan vektor beban global, suatu langkah yang
perlu dilakukan adalah menerapkan persamaan kekangan untuk komponen perpindahan
yang diketahui besarnya (jika ada). Sebagai contoh dari kekangan, dapat disebutkan
penurunan (settlement) dari perletakan, dan syarat batas perletakan yang sudah lazim
dikenal (yaitu, tidak ada translasi maupun rotasi untuk jepit, hanya ada rotasi untuk
sendi, dan hanya ada rotasi dan translasi di arah pergerakan tumpuan rol). Bentuk yang
paling umum dari kekangan adalah sistem persamaan yang melibatkan beberapa
komponen perpindahan seperti yang diberikan oleh sistem persamaan

C11U 1  C12U 2  ...  C1N U N  B1


C 21U 1  C 22U 2  ...  C 2 N U N  B2
(10.7.1)

C M 1U 1  C M 2U 2  ...  C MN U N  BM

atau dalam bentuk matriks,


 C U    B (10.7.2)

Apa yang harus dilakukan dalam hal ini, adalah penentuan dari vektor perpindahan
U S  dari keseimbangan menurut Pers.(10.2.8), serta memenuhi syarat kekkangan
dalam Pers.(10.7.2). Penerapan syarat kekangan dalam Pers.(10.7.2) yang sangat

218
umum akan diberikan secara tersendiri dalam Bab 12. Dalam pasal ini, kita sementara
hanya membahas suatu bentuk khusus dari Pers.(10.7.2), yang dinamakan kekangan
absolut, sebagai mana dipaparkan dalam sajian berikut ini.
Bentuk yang paling sederhana dari Pers.(10.7.2) adalah kalau hanya ada satu
baris yang melibatkan satu derajat perpindahan, katakanlah U i sedemikian hingga
Pers.(10.7.2) menciut menjadi
Ui  U i (10.7.3)
di mana U i adalah suatu nilai yang diketahui atau diberikan dari perpindahan U i .
Kalau U i  0 , maka Pers.(10.7.3) menjadi
Ui  0 (10.7.4)
Untuk U i  0 , kasus dinamakan kekangan konstrain (constaint), dan untuk U i  0
, kasus dinamakan kekangan restrain (restraint), atau kekangan mutlak (absolute
constraint). Khususnya, bila yang dihadapi adalah persamaan kekangan mutlah, maka
derajat kebebasan ini dapat diikutkan di dalam persamaan global, atas nama kekangan
dalam Pers.(10.7.4) lalu diterapkan. Cara kedua adalah dengan tidak mengikutkan
komponen perpindahan dalam persamaan global, dengan jalan memberi nilai aktifitas
yang nol (non-aktif) untuk komponen perpindahan tersebut. Dalam uraian di sini, hanya
disajikan penerapan dari persamaan kekangan seperti dalam Pers.(10.7.3) atas
persamaan keseimbangan global struktur sebagai berikut.
Untuk kejelasan, tinjaulah suatu struktur portal bidang kaku seperti dalam Gambar
10.7.1. Titik 1 merupakan perletakan sendi dan titik 2 merupakan perletakan jepit yang
mengalami rotasi sebesar  2 sebagai nilai yang diketahui atau diukur. Pengaruh rotasi
ini dapat diperhitungkan dengan jalan mengaktifkan derajat kebebasan tersebut dari
awal analisis. Dengan demikian, ada 5 derajat kebebasan struktur seperti dalam
Gambar 10.7.1(b). Rotasi sebesar  2 pada titik 2 serta komponen perpindahan lain
yang ditimbulkannya dapat diperoleh dari sistem persamaan

 K 11 K12 K 13 K 14 K 15  U 1   P1 
K K 22 K 23 K 24 K 25  U 2   P2 
 21    
 K 31 K 32 K 33 K 34 K 35  U 3    P3  (10.7.5)
 
 K 41 K 42 K 43 K 44 K 45  U 4   P4 
   
 K 51 K 52 K 53 K 54 K 55  U 5   P5 

yang terhadapnya dikenakan persamaan kekangan

U 2  2 (10.7.6)
dengan cara sebagai berikut.

Pertama, sebelum melakukan modifikasi apapun terhadap Pers.(10.7.5), baris


kedua dituliskan kembali dengan modifikasi adanya gaya kekangan R2 yang menahan
rotasi sebesar  2 tersebut, yaitu
K 21U 1  K 22U 2  K 23U 3  K 24U 4  K 25U 5  P2  R2 (10.7.7)

219
Langkah kedua, unsur-unsur dalam kedua yang dikalikan dengan  2 dipindahkan ke
ruas kanan dalam Pers.(10.7.5), yaitu

 K 11 0 K 13 K14 K 15  U 1   P1  K 12 2 
K 0 K 23 K 24 K 25  U 2   P2  K 22 2 
 21    
 K 31 0 K 33 K 34 K 35  U 3    P3  K 32 2  (10.7.8)
 
 K 41 0 K 43 K 44 K 45  U 4   P4  K 42 2 
   
 K 51 0 K 53 K 54 K 55  U 5   P5  K 52 2 

Gambar 10.7.1: Struktur Dengan Pergerakan Perletakan

Langkah berikutnya adalah memodifikasi unsur-unsur dalam baris kedua menjadi nol,
kecuali unsur K 22 yang diambil tetap, dan komponen gaya yang koresponden dalam
ruas kanan menjadi K 22 2 . Setelah langkah ini, persamaan simultan menjadi

 K11 0 K13 K14 K 15  U 1   P1  K12 2 


 0 K 22 0 0 0  U 2   K 22 2 
    
 K 31 0 K 33 K 34 K 35  U 3    P3  K 32 2  (10.7.9)
 
 K 41 0 K 43 K 44 K 45  U 4   P4  K 42 2 
   
 K 51 0 K 53 K 54 K 55  U 5   P5  K 52 2 

Solusi dari sistem persamaan terakhir ini akan memberikan hasil sebagai mana dituntut
oleh kekangan dalam Pers.(10.7.6) beserta komponen-komponen lainnya yang
koresponden. Nilai-nilai komponen perpindahan dapat dimasukkan ke dalam Pers.
(10.7.7) untuk menetapkan gaya kekangan di arah  2 , yaitu

R2  K 21U 1  K 22U 2  K 23U 3  K 24U 4  K 25U 5  P2 (10.7.10)

Perhatikan bahwa sebenarnya baris kedua dari Pers.(10.7.9) pada hakekatnya


merupakan bentuk kekangan dalam Pers.(10.7.6), yang dalam persamaan simultan

220
ditempatkan di antara persamaan-persamaan lainnya dalam kaitan yang terpisah
(uncoupled).

10.8 Penyelesaian Persamaan Simultan


Dengan disusunnya sistem persamaan simultan yang merupakan kuantifikasi
kriteria keseimbangan sistem struktur menurut Pers.(10.2.8), maka vektor perpindahan
struktur dapat dihitung dengan menyelesaikan sistem persamaan tersebut. Dalam hal
ini, teknik penyelesaian dapat dipilih dari beberapa teknik solusi yang tersedia, sebagai
mana telah dipaparkan dalam Bab III.
Hal yang perlu diutarakan dalam kesempatan ini adalah bahwa jika analisis
menggunakan jasa komputer, maka umumnya matriks kekakuan disimpan tidak dalam
bentuk matriks bujur sangkar, dan juga tidak seluruhnya unsur-unsur matriks kekakuan
disimpan dalam ingatan komputer. Dengan demikian, penerapan teknik solusi dalam
Bab III dilakukan dengan mempertimbangkan cara penyimpanan matriks kekakuan dan
vektor gaya maupun vektor perpindahan dalam memori komputer.

10.9 Perhitungan Gaya-gaya Dalam


Secara umum kita dapat menghitung gaya-gaya reaksi maupun gaya-gaya dalam
pada semua elemen, serta vektor perpindahan struktur maupun perpindahan ujung-
ujung semua elemen. Namun dalam memunculkan keluaran analisis, format data yang
akan dimunculkan perlu diatur sebaik mungkin.
Kita mengetahui bahwa hasil keluaran solusi persamaan simultan adalah berupa
vektor perpindahan struktural. Keluaran ini kemudian diolah dan digunakan untuk
menentukan vektor perpindahan elemen demi elemen dalam masing-masing tata sumbu
lokal. Dalam rumus,
U i   Ti U S  (10.9.1)

yang merupakan vektor perpindahan elemen i dalam tata sumbu global, yang pada
gilirannya dirotasikan ke tata sumbu lokal

ui    Ri U i  (10.9.2)

Vektor perpindahan elemen dalam tata sumbu lokal ini kemudian dikalikan dengan
matriks kekakuan elemen dan hasilnya ditambahi dengan gaya-gaya akibat beban lokal
untuk mendapatkan gaya-gaya elemen dalam tata sumbu lokal,

 pi    pi0    k i  ui  (10.9.3)

Dalam praktek, tidak semua data keluaran hasil analisis dimunculkan. Untuk
perpindahan, karena perpindahan ujung-ujung elemen yang bertemu pada titik simpul
adalah identik, maka umumnya untuk perpindahan yang dimunculkan adalah vektor
perpindahan struktural (yang tentu saja dinyatakan terhadap tata sumbu global). Untuk
gaya-gaya, yang dimunculkan adalah gaya-gaya reaksi elemen-elemen (yang tentu saja
dinyatakan terhadap masing-masing tata sumbu lokal).

221
10.10 Prosedur Analisis Struktur
Bahasan mengenai langkah-langkah metoda analisis struktur dengan matriks
kekakuan langsung dalam pasal-pasal sebelumnya di sarikan dalam urutan langkah
sebagai berikut.
1. Tentukan model diskrit serta jenis elemen-elemen yang akan digunakan untuk
mewakili struktur yang sebenarnya di dalam analisis. Tetapkan jumlah elemen,
jumlah titik simpul serta derajat kebebasan aktif atau yang sengaja diaktifkan untuk
mengakomodir kekangan.
2. Untuk masing-masing elemen, lakukan langkah-langkah berikut ini.
a. Susun matriks kekakuan  k i  , matriks rotasi  Ri  dan vektor gaya ekivalen

p 
e
i

b. Rotasikan matriks kekakuan dan vektor gaya ekivalen ke tata sumbu global,

 K i    Ri  T  k i  Ri 
(10.10.1)
 Pi e    Ri  T  pie 
c. Rakitkanlah matriks kekakuan dan vektor gaya ekivalen ke dalam matriks
kekakuan dan vektor gaya.
3. Di akhir proses langkah 2, kita akan mendapatkan persamaan global

 K S  U S    PS  (10.10.2)
yang siap disolusikan.
4. Jika struktur dikenakan suatu kekangan, atas Pers.(10.10.2) terapkanlah metoda
kekangan absolut sebagai mana diatur dalam Pasal 10.7.

5. Solusikanlah persamaan untuk mendapatkan vektor perpindahan struktur U S 


yang siap digunakan untuk menentukan perpindahan dan gaya reaksi elemen-
elemen seperti dalam langkah berikut.
6. Untuk masing-masing elemen, lakukan langkah-langkah berikut ini.

a. Untuk elemen ke-i, susun vektor perpindahan U i 

U i   Ti U S  (10.10.3)

b. Rotasikan vektor perpindahan elemen dari tata sumbu global ke tata sumbu
lokal.
ui    Ri U i  (10.10.4)

c. Hitung vektor gaya elemen dalam tata sumbu lokal.

 pi    pi0    k i  ui  (10.10.5)

222
7. Tampilkan keluaran dari hasil analisis.
Urut-urutan langkah analisis di atas ditampilkan dalam alur proses analisis dalam
Tabel 10.10.1.

Tabel 10.10.1: Alur Proses Analisis Struktur

10.11 Contoh Penerapan


Untuk meningkatkan pengertian serta memperdalam pemahaman tentang isi
bahasan dalam bab ini, maka berikut ini disajikan beberapa contoh terkait.

Contoh 10.1: Struktur balok kantilever prismatis berbentang L dibebani gaya merata
q seperti dalam Gambar 10.11.1. Dengan memilih elemen balok
tunggal dalam merepresentasikan sistem struktur dalam analisis dengan
metoda kekakuan langsung, tetapkan jenis elemen yang digunakan serta

223
gambarkan bidang gaya dalam (momen dan geser lentur) akibat gaya
luar tersebut.

Gambar 10.11.1: Struktur Contoh 10.1

Penyelesaian:

Perhatikan bahwa dari sudut pandang metoda gaya, struktur adalah ststis tentu
sehingga gaya reaksi dapat dihitung dengan statika. Dari sudut pandang metoda
perpindahan, struktur adalah kinematis tentu dengan perpindahan translasi dan rotasi di
ujung 2 sebagai komponen perpindahan bebas. Dengan melihat derajat kebebasan aktif
ini, elemen balok lentur adalah jenis elemen paling sederhana yang dapat digunakan.
Matriks kekakuan elemen adalah

 12 EI / L3  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
 k1     6 EI / L 3  4 EI / L  6 EI / L2  2 EI / L 
2

 12 EI / L  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
  6 EI / L  2 EI / L  6 EI / L2  4 EI / L 
2

(10.11.1)

Karena tata sumbu lokal elemen berimpit dengan tata sumbu global struktur maka
matriks rotasi menjadi
1 0 0 0 
0 1 0 0 
 R1    
0 0 1 0 
 
0 0 0 1 
(10.11.2)

224
Vektor tujuan elemen dapat disusun dengan membandingkan derajat kebebasan elemen
dengan derajat kebebasan struktur dalam Gambar 10.11.1(b) dan 10.11.1(c) dengan
hasil
T1    0 0 1 2
(10.11.3)

Pemasukan matriks-matriks di atas ke dalam Pers.(10.10.1a) menghasilkan

 12 EI 6 EI 
 L3 
L2 
 K S    6EI 4 EI 
 2  
 L L 
(10.11.4)

Sekarang, vektor beban ekivalen dalam tata sumbu lokal dapat disusun dengan melihat
Gambar 10.11.1(d), dengan hasil

 p    qL
e
1
2

qL2
12

qL
2

qL2 
12 
 (10.11.5)

yang dapat dirotasikan ke tata sumbu global, dengan hasil

 P    qL
1
e

2

qL2
12

qL
2

qL2 
12 
 (10.11.6)

yang dengan menggunakan matriks tujuan memberikan vektor gaya global

 qL2 
 PS    qL   (10.11.7)
 2 12 

Dengan demikian, persamaan keseimbangan struktur menjadi

 12 EI 6 EI   qL 
 L3  
L     2 
2  U S 1  
(10.11.8)
 6 EI 4 EI  U S 2  2
 2    qL 
 L L   12 
dengan solusi
 qL4 qL3 
U S1 U S 2     
 8 EI 6 EI 
(10.11.9)

Penggunaan vektor tujuan atas vektor perpindahan global memberikan vektor


perpindahan elemen dalam tata sumbu lokal dengan hasil

225
 qL4 qL3 
U 1   0 0    (10.11.10)
 8 EI 6 EI 

yang karena matriks rotasi merupakan matriks identitas maka

 qL4 qL3 
 u1    I U 1   0 0   
(10.11.11)
 8 EI 6 EI 
Pemasukan hasil-hasil yang diperoleh ke dalam Pers.(10.10.6) menghasilkan gaya-gaya
ujung elemen
 p1   qL qL2 / 2 0 0 (10.11.12)

Dengan merobah vektor gaya ujung ke dalam gaya-gaya reaksi dalam, bidang gaya
lentur dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 10.11.1(e) dan 10.11.1(f).

Contoh 10.2: Struktur balok prismatis menerus di atas 4 perletakan dengan sub-
bentang masing-masing L dibebani gaya merata q seperti dalam
Gambar 10.11.2. Tetapkan jenis elemen paling sederhana yang dapat
digunakan merepresentir struktur dalam analisis serta gambarkan bidang
gaya dalam (momen dan geser lentur) akibat gaya luar tersebut.

Gambar 10.11.2: Struktur Contoh 10.2


Penyelesaian:

Untuk dapat menghitung momen lentur dan gaya geser langsung dari analisis,
maka digunakan jenis elemen seperti dalam Gambar 10.11.2(c). Derajat kebebasan
struktur diperlihatkan dalam Gambar 10.11.2(b). Karena pengambilan titik ujung 1 dan 2
seperti dalam gambar, maka tata sumbu lokal dan tata sumbu global dikaitkan oleh
matriks rotasi yang merupakan matriks identitas. Karena elemen memiliki ukuran,
panjang dan kekakuan yang sama, maka matriks kekakuan semua elemen identik,

226
 12EI / L3  6 EI / L2  12EI / L3  6 EI / L2 
 
 6 EI / L2  4 EI / L  6 EI / L2  2 EI / L 
 k1    k 2    k 3   

 12EI / L3  6 EI / L2  12EI / L3  6 EI / L2 
 
  6 EI / L  2 EI / L  6 EI / L2  4 EI / L 
2

(10.11.13)

dan juga  k1    k 2    k 3    K 1    K 2    K 3  . Perakitan matriks kekakuan elemen dapat


dilakukan dengan menggunakan vektor tujuan, yaitu
T1    0 1 0 2 ; T2    0 2 0 3 ; T3    0 3 0 4
(10.11.14)

dan matriks kekakuan struktur menjadi

 4 EI 2 EI 
 L  0  L  0 00 00 
 2 EI 4 EI 4 EI 2 EI 
 0   0 00 
KS    L L
2 EI
L L
4 EI

2 EI 
 00 0 0 00
 L L L 
 2 EI 2 EI 
 00 00 00 00 
 L L 
(10.11.15)

Vektor beban ekivalen dapat disusun berdasarkan Gambar 10.11.2(d) dengan hasil
sebagai berikut,

 p    p    p    qL / 2
e
1
e
2
e
3  qL2 / 12  qL / 2  qL2 / 12  (10.11.16)

dan vektor gaya global menjadi

 PS1    qL2 / 12  0  0   qL2 / 12


P     
 S 2   qL / 12  qL / 12  0  0 
2 2

    (10.11.17)


P
  
S 3 0  qL2
/ 12  qL2
/ 12   0 
 PS 4   0  0  qL2 / 12   qL2 / 12

Persamaan keseimbangan struktur menjadi

227
 4 EI 2 EI 
 L 
L
0 0 
 U 1   qL / 12
2
 2 EI 8EI 2 EI
  0  U   0 
 L L L   2    

 0 2 EI 8 EI 2 EI  U 3
    0 
 L L L  U 4   qL2 / 12
 2 EI 4 EI   
 0 0  
 L L 
(10.11.18)

dengan solusi
 qL3 qL3 qL3 qL3 
U 1 U2 U3 U 4       
 40 EI 120 EI 120 EI 40 EI 
(10.11.19)

Dengan bantuan matriks tujuan, vektor perpindahan global memberikan vektor-vektor


perpindahan elemen dalam tata sumbu global dan pada akhirnya dalam tata sumbu
lokal. Ini dapat dicoba sendiri oleh pembaca sebagai sekedar latihan.

Contoh 10.3: Struktur rangka sendi seperti dalam Gambar 10.11.3 dianalisis dengan
metoda kekakuan langsung. Tentukan perpindahan serta gaya-gaya
dalam batang.

Penyelesaian:

Struktur dapat dimodel dengan elemen pendel seperti dalam Gambar 10.11.3(e).
Matriks kekakuan elemen pendel telah dihitung dalam Pers.(7.7.5). Sebelum merakitkan
kepada persamaan global, matriks rotasi dalam Gambar 10.11.3(d) disusun dahulu
sebagai berikut.

u11  cos  sin  0 0  1


 2  
cos  sin  

U 1 U 21 U 12 U 22   R  U 
u1   0 0
(10.11.20)

Dengan demikian, matriks kekakuan elemen dalam tata sumbu global menjadi

228
cos  0  EA
 
EA 
 sin  
 K    R T  k  R  
0  L L  cos  sin  0 0 
 0 cos    EA EA   0 0 cos  sin  
   
 0 sin    L L 

 EA EA EA EA 
  L cos   sin  cos   cos 2   sin  cos  
2

L L L
 EA EA EA EA 
 sin  cos   cos 2   sin  cos   cos 2  
 L L L L 
  EA cos 2  
EA
sin  cos  
EA
cos 2  
EA
sin  cos  
 L L L L 
 EA EA EA EA 
 sin  cos   cos 2   sin  cos   cos 2  
 L L L L 
(10.11.21)

Untuk elemen 1, tata sumbu lokal diperoleh dengan rotasi   90 o dari tata sumbu
global, sehingga
0 0 0 0 
 EA EA 
0  L 0  
 K 1   0 0 0
L
0 
 EA EA 
0  0  
 L L
(10.11.22)

dengan vektor { 0 0 1 2 } berdasarkan derajat kebebasan struktur seperti dalam


Gambar 10.11.3(b). Untuk elemen 2,   135 o dan panjang adalah L 2 , sehingga

 EA 2 EA 2 EA 2 EA 2
    
 L L L L 
 EA 2 EA 2 EA 2 EA 2
  
 K 1    L L L L 
EA 2 EA 2 EA 2 EA 2
    
 L L L L 
 EA 2 EA 2 EA 2 EA 2
    
 L L L L 
(10.11.23)

dengan vektor tujuan { 0 0 1 2 } . Dengan demikian, matriks kekakuan struktur menjadi

 EA 2 EA 2 
  
KS    L L
 EA 2 
EA 1  2   

 L L 
(10.11.24)

229
Vektor gaya global adalah
 PS1   P  (10.11.25)
  
 PS 2   0 

sehingga persamaan keseimbangan struktur menjadi

 EA 2 EA 2 
   U 1   P 
L L    

 EA 2 

EA 1  2   U 2   0 
 L L 
(10.11.26)
dengan solusi
PL 1  2 
U 1 U2   1 (10.11.27)
EA  2 

Dengan bantuan matriks tujuan, vektor perpindahan global memberikan vektor-vektor


perpindahan elemen dalam tata sumbu global dan pada akhirnya dalam tata sumbu
lokal dengan hasil
PL  1 
U 1
1 U 21 U 31 
U 41  0
EA 
0
2
1
2 
PL  1 2 
U 1
2
U 22 U 32 U 42  0
EA 
0 1
2 
(10.11.28)
yang jika dirotasikan ke tata sumbu lokal memberikan

u 1
1 
u 12 
PL
EA
 0 1 ; u12  
u 22 
PL
EA
0  1 (10.11.29)

Perkalian dari depan dengan matriks kekakuan dan menambahkannya dengan vektor
gaya jepit ujung, memberikan vektor gaya elemen

p
1
1 
p 12    P  P ; p12   
p 22   P 2  P 2  (10.11.30)

Gaya-gaya ujung kedua elemen beserta keseimbangan titik simpul diberikan dalam
Gambar 10.11.3(f).

Contoh 10.4: Struktur balok kantilever prismatis berbentang L dibebani gaya terpusat
P seperti dalam Gambar 10.11.4. Dengan memilih elemen balok
tunggal dalam merepresentasikan sistem struktur dalam analisis dengan
metoda kekakuan langsung, tetapkan jenis elemen yang digunakan serta
gambarkan bidang gaya dalam (momen dan geser lentur) akibat gaya
luar tersebut.

230
Gambar 10.11.4: Struktur Contoh 10.4

Penyelesaian:

Perhatikan bahwa dari sudut pandang metoda gaya, struktur adalah ststis tentu
sehingga gaya reaksi dapat dihitung dengan statika. Dari sudut pandang metoda
perpindahan, struktur adalah kinematis tentu dengan perpindahan translasi dan rotasi di
ujung 2 sebagai komponen perpindahan bebas. Dengan melihat derajat kebebasan aktif
ini, elemen balok lentur adalah jenis elemen paling sederhana yang dapat digunakan.
Matriks kekakuan elemen adalah

 12 EI / L3  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
 k1     6 EI / L 3  4 EI / L  6 EI / L2  2 EI / L 
2

 12 EI / L  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
  6 EI / L  2 EI / L  6 EI / L2  4 EI / L 
2

(10.11.31)

Karena tata sumbu lokal elemen berimpit dengan tata sumbu global struktur maka
matriks rotasi menjadi

1 0 0 0
0 1 0 0
 R1   
0 0 1 0
 
0 0 0 1
(10.11.32)
Matriks tujuan elemen dapat disusun dengan membandingkan derajat kebebasan
elemen dengan derajat kebebasan struktur dalam Gambar 10.11.4(b) dan 10.11.4(c)
dengan hasil

231
0 0
0 0
T1    (10.11.33)
1 0
 
0 1

Pemasukan matriks-matriks di atas ke dalam Pers.(10.10.1a) menghasilkan

 12 EI 6 EI 
 L3 
L2 
 K S    6 EI 4 EI 
(10.11.34)
 2  
 L L 

Sekarang, vektor gaya global diberikan langsung oleh gaya terpusat pada ujung kanan,
sehingga diperoleh
 PS1   P  (10.11.35)
  
 PS 2   0 

Dengan demikian, persamaan keseimbangan struktur menjadi

 12 EI 6 EI 
 L3 
L2  U S1    P  (10.11.36)
 6 EI 4 EI  U S 2   0 
 2  
 L L 
dengan solusi
 PL3 PL2  (10.11.37)
U S 1 U S 2     
 3EI 2 EI 

Penggunaan matriks tujuan atas vektor perpindahan global memberikan vektor


perpindahan elemen dalam tata sumbu global dengan hasil

 PL2 
U 1
1 U 21 U 31 
U 41  0 0 
PL3
3EI
 
2 EI 

(10.11.38)

yang karena matriks rotasi merupakan matriks identitas maka

 PL2 
u 1
1 u 12 u 31 
u 14  0 0 
PL3
3EI
 
2 EI 
(10.11.39)

Pemasukan hasil-hasil yang diperoleh ke dalam Pers.(10.10.6) menghasilkan gaya-gaya


ujung elemen

232
 0 
 p11   12 EI / L3  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2    P
 1   0  
 p 2    6 EI / L
2
 4 EI / L  6 EI / L2  2 EI / L   PL3   PL
 1   2 

  
 p 3   12 EI / L  6 EI / L  12 EI / L  6 EI / L   3EI2    P 
3 2 3

 p 14    6 EI / L2  2 EI / L  6 EI / L2  4 EI / L   PL   0 
 2 EI 
(10.11.40)
Dengan merobah vektor gaya ujung ke dalam gaya-gaya reaksi dalam, bidang gaya
lentur dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 10.11.4(d) dan 10.11.4(e).

Contoh 10.5: Struktur balok prismatis berbentang L dibebani gaya terpusat P pada
tengah bentang seperti dalam Gambar 10.11.5. Dalam analisis,
perletakan rol di B ditangani dengan sistem kekangan di mana
perpindahan lateral di titik ini adalah nol. Dengan memilih elemen balok
tunggal dalam merepresentasikan sistem struktur dalam analisis dengan
metoda kekakuan langsung, tetapkan jenis elemen yang digunakan serta
gambarkan bidang gaya dalam (momen dan geser lentur) akibat gaya
luar tersebut.

Penyelesaian:

Dengan mengambil titik B sementara bebas dan nantinya akan dikekang, maka
model elemen yang digunakan mesti memiliki derajat kebebasan translasi di samping
rotasi seperti dalam Gambar 10.11.5(d). Dengan demikian, derajat kebebasan struktur
menjadi seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 10.11.5(b). Matriks kekakuan elemen
adalah
 12 EI / L3  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
 6 EI / L2  4 EI / L  6 EI / L2  2 EI / L 
 k1   

 12 EI / L3  6 EI / L2  12 EI / L3  6 EI / L2 
 
  6 EI / L  2 EI / L  6 EI / L2  4 EI / L 
2

(10.11.41)

yang memberikan matriks kekakuan global

  6 EI / L2 
 K S    12 EI / L2
3
(10.11.42)

  6 EI / L  4 EI / L 

Vektor gaya ekivalen diberikan oleh Gambar 10.11.5(e) sebagai

p
e
1 p 2e p3e 
p 4e    P / 2  PL / 8  P / 2  PL / 8
(10.11.43)

yang memberikan vektor gaya global

233
 PS1    P / 2  (10.11.44)
  
 PS 2   PL / 8

sehingga persamaan keseimbangan struktur menjadi

 12 EI / L3  6 EI / L2  U 1    P / 2  10.11.45)
   
  6 EI / L
2
 4 EI / L  U 2   PL / 8

Gambar 10.11.5: Struktur Contoh 10.5

Penerapan kekangan dalam hal ini adalah

U1  0 (10.11.46)

yang jika diterapkan atas sistem Pers.(10.11.45) akan memberikan modifikasi baris
pertama
12 EI 6 EI P
3
U 1  2 U 2    R1 (10.11.47)
L L 2
dan
 12 EI / L3 0  U 1   0  (10.11.48)
   
 0  4 EI / L  U 2   PL / 8

dengan solusi

234
 PL2  (10.11.49)
U 1 U 2   0 
 32 EI 

yang memberikan gaya reaksi

12 EI 6 EI P 5P
R1  3
U1  2 U 2   (10.11.50)
L L 2 16

Dengan bantuan matriks tujuan, vektor perpindahan global memberikan vektor-vektor


perpindahan elemen dalam tata sumbu global dan pada akhirnya dalam tata sumbu
lokal dengan hasil
 PL2 
U 1
1 U 21 U 31 
U 41  0 0 0 
32 EI 
(10.11.51)

yang jika dirotasikan ke tata sumbu lokal memberikan

 PL2 
u 1
1 u 12 u 31 
u 14  0 0 0 
32 EI 
(10.11.52)

Perkalian dari depan dengan matriks kekakuan dan menambahkannya dengan vektor
gaya jepit ujung, memberikan vektor gaya elemen

p 1
1 p 12 p31  11P
p 14   0
 3PL
(10.11.53)
5P
 16  16 16
Dengan merobah vektor gaya ujung ke dalam gaya-gaya reaksi dalam, bidang gaya
lentur dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 10.11.5(f).

10.12 Rangkuman
Dalam bab ini telah dibahas versi metoda matriks kekakuan yang dinamakan
metoda kekakuan langsung serta yang menggunakan perpindahan absolut elemen-
elemen. Selain bentuknya yang lebih standard, maka dibandingkan dengan metoda
matriks kekakuan yang menggunakan matriks kompatibilitas yang relatif besar serta
tergantung kepada kesinambungan topologi struktur, maka metoda kekakuan langsung
lebih efisien dan tidak tergantung kepada kesinambungan topologi struktur. Dalam
perakitan matriks kekakuan elemen kepada matriks kekakuan global, dan juga perakitan
vektor gaya elemen kepada vektor gaya global, digunakan matriks tujuan yang relatif
berukuran kecil.
Berdasarkan hal-hal di atas, maka metoda kekakuan langsung jauh lebih populer
serta lebih kerap diterapkan ketimbang metoda kekakuan relatif, khususnya dalam
analisis yang dituangkan ke dalam suatu program paket yang dijalankan dengan
bantuan komputer.

10.13 Soal-soal
Soal 10.1: Tentukanlah jenis elemen paling sederhana yang dapat digunakan untuk
memodelkan sistem struktur dalam Gambar 10.13.1. Kemudian dengan

235
metoda kekakuan langsung, analisislah struktur untuk menentukan
perpindahan struktur dan gaya-gaya dalam batang. Abaikan deformasi aksial
batang-batang.

Soal 10.2: Dengan mengabaikan deformasi aksial batang-batang, tentukanlah jenis


elemen paling sederhana yang dapat digunakan untuk memodelkan sistem
struktur dalam Gambar 10.13.2. Kemudian dengan metoda kekakuan
langsung, analisislah struktur untuk menentukan perpindahan struktur dan
gaya-gaya dalam batang.

Gambar 10.13.1: Sistem Struktur Soal 10.1

Gambar 10.13.2: Sistem Struktur Soal 10.2

Soal 10.3: Dengan menggunakan elemen pendel, modelkanlah sistem struktur rangka
sendi dalam Gambar 10.13.3, dan kemudian dengan metoda kekakuan
langsung, analisislah struktur untuk menentukan perpindahan struktur dan
gaya-gaya dalam batang.

236
Soal 10.4: Dengan menggunakan elemen pendel, modelkanlah sistem struktur rangka
sendi dalam Gambar 10.13.4, dan kemudian dengan metoda kekakuan
langsung, analisislah struktur untuk menentukan perpindahan struktur dan
gaya-gaya dalam batang.

Soal 10.5: Dengan mengabaikan deformasi aksial batang-batang, tentukanlah jenis


elemen paling sederhana yang dapat digunakan untuk memodelkan sistem
struktur dalam Gambar 10.13.5. Kemudian dengan metoda kekakuan
langsung, analisislah struktur untuk menentukan perpindahan struktur dan
gaya-gaya dalam batang.

Gambar 10.13.3: Struktur Soal 10.3 Gambar 10.13.4: Struktur Soal 10.4

Gambar 10.13.5: Sistem Struktur Soal 10.5

237
209,211,213,215,217,219,221,223,225,227,229,231,233,235
210,212,214,216,218,220,222,224,226,228,230,232,234,236

238