Anda di halaman 1dari 52

12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Konsep Anak

a. Pengertian anak

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang

perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa

anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai

dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/toddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-

5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang

ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang

anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan

perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses

perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping

dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak mungkin

pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan

pertumbuhannya. Demikian juga halnya perkembangan kognitif juga

mengalami perkembangan yang tidak sama. Adakalanya anak dengan

perkembangan kognitif yang lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi

oleh latar belakang anak. Perkembangan konsep diri ini sudah ada sejak

bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna dan akan mengalami

perkembangan seiring dengan pertambahan usia pada anak.


13

Demikian juga pola koping yang dimiliki anak hampir sama

dengan konsep diri yang dimiliki anak. Bahwa pola koping pada anak

juga sudah terbentuk mulai bayi, hal ini dapat kita lihat pada saat bayi

menangis. Salah satu pola koping yang dimiliki anak adalah menangis

seperti bagaimanan anak lapar, tidak sesuai dengan keinginannya, dan

lain sebagainya. Kemudian perilaku sosial pada anak juga mengalami

perkembangan yang terbentuk mulai bayi. Pada masa bayi perilaku sosial

pada anak sudah dapat dilihat seperti bagaimana anak mau diajak orang

lain, dengan orang banyak dengan menunjukkan keceriaan. Hal tersebut

sudah mulai menunjukkan terbentuknya perilaku sosial yang seiring

dengan perkembangan usia. Perubahan perilaku sosial juga dapat

berubah sesuai dengan lingkungan yang ada, seperti bagaimana anak

sudah mau bermain dengan kelompoknya yaitu anak-anak (Hidayat,

2005).

Anak adalah seseorang yang belum berumur 18 (delapan belas)

tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak merupakan

individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan,

artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam

memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Supartini,

2012).
14

2. Konsep Tumbuh Kembang Anak

a. Pengertian Tumbuh Kembang

Istilah tumbuh kembang mencakup dua peristiwa yang berbeda

sifatnya. Namun, peristiwa itu saling berkaitan dan sulit untuk

dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan (Soetjiningsih, 2005).

Pertumbuhan (growth), merupakan masalah perubahan dalam

besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu,

yang dapat diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilo). Ukuran

panjang dengan cm atau meter, umur tulang dan keseimbangan metaboli

(retensi kalsium dan nitrogen tubuh).

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam

struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur

sebagai hasil dari proses pematangan.

b. Teori Terkait Tumbuh Kembang

1) Freud (1856-1929)

Menurut Freud, memperkenalkan sejumlah konsep-konsep

tentang pikiran alam bawah sadar, mekanisme pertahanan diri, serta

ide, ego, dan superego. Berdasarkan teori perkembangan

psikoseksual Freud, kepribadian berkembang dalam lima tahap yang

tumbang tindih dari lahir hingga dewasa. Lokasi penekanan libido

dari satu tahap perkembangan ketahap perkembangan lain. Oleh

sebab itu, area tubuh tertentu memiliki kemaknaan khusus bagi

individu ditahap tertentu. Jika individu tidak mencapai


15

perkembangan yang memuaskan pada satu tahap, kepribadian akan

terfiksasi pada tahap tersebut. Fiksasi adalah imobilisasi atau

ketidakmampuan kepribadian untuk beralih ketahap berikutnya yang

disebabkan oleh kecemasan.

2) Erick H. Erickson (1963)

Kehidupan sebagai rangkaian tingkat pencapaian. Setiap tahap

mengindikasikan tugas yang harus diselesaikan. Tugas dapat

diselesaikan seluruhnya, sebagaian, atau malah gagal diselesaikan.

Erickson menekankan bahwa manusia harus berubah dan

menyesuaikan perilaku mereka guna mempertahankan control

terhadap hidup mereka. Dalam perkembangannya, tidak ada satu pun

tahap didalam perkembangan kepribadian yang dapat dilewatkan,

tetapi dalam kondisi cemas atau stres, individu dapat terfiksasi pada

tahap perkembangannya tertentu atau mundur ketahap perkembangan

sebelumnya.

3) Piaget (1952)

Perkembangan kognitif merujuk pada cara manusia dalam

belajar berpikir, menalar, dan menggunakan bahasa. Perkembangan

tersebut melibatkan kecerdasan, kemampuan persepsi, dan

kemampuan memproses informasi yang dimiliki oleh individu.

Perkembangan kognitif menggambarkan peningkatan kemampuan

mental dari pikiran yang tidak logis menjadi pemikir logis, dari

pemecahan masalah sederhana menjadi pemecahan masalah


16

komplek, dan dari pemahaman ide konkrit menjadi pemahaman

konsep abstrak.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Faktor yang mempengaruhi Tumbuh Kembang Menurut Rohmah

(2009) secara umum ada 2 faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah

herediter dan faktor lingkungan.

1) Faktor herediter

Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil

hasil proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang

terkandung dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan

kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Termasuk faktor genetik antara

lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis

kelamin, suku atau bangsa.

2) Posisi anak pada keluarga

Posisi anak sebagai anak tunggal, anak sulung, anak tengah,

anak bungsu akan mempengaruhi pola anak tersebut diasuh dan

dididik dalam keluarga. Anak tunggal tidak mempunyai teman bicara

atau beraktivitas kecuali dengan orang tuanya. Oleh karena itu,

kemampuan intelektual anak tunggal anak akan dapat lebih cepat

berkembang dan mengembangkan harga diri yang positif karena

terus-menerus berinteraksi dengan orang dewasa, yaitu orang tuanya

dan mendapat stimulasi secara psikososial. Akan tetapi, mereka akan

lebih bergantung dan kurang mandiri. Perkembangan motorik lebih


17

lambat karena tidak ada stimulasi untuk melakukan aktifitas fisik yang

biasanya dilakukan oleh saudara kandungnya.

3) Faktor lingkungan

Menurut Putra, dkk (2014), terdapat faktor lingkungan internal

yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, adalah sebagai berikut :

a) Intelegensi

Kecerdasan anak dimiliki sejak ia dilahirkan. Anak yang

dilahirkan dengan tingkat kecerdasan yang rendah tidak akan

mencapai prestasi yang cemerlang walaupun stimulus yang

diberikan lingkungan demikian tinggi. Sementara anak yang

dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tinggi dapat didorong oleh

stimulus lingkungan untuk berprestasi secara cemerlang.

b) Hormon

Hormon-hormon yang berpengaruh terhadap tumbuh 2 kembang

antara lain: growth hormone, tiroid, hormone seks, insulin, IGFs

(Insulin Like Growth Factors), dan hormon yang dihasilkan

kelenjar adrenal.

c) Emosi

Pendidikan dalam keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh

kembang anak. Sebagian besar waktu anak dihabiskan dalam

keluarga, apa yang anak rasakan dan apa yang anak lihat akan

memjadi model yang dapat ia tiru dalam berperilaku sehari-hari.

Cara anak berinteraksi dalam anak akan mempengaruhi anak


18

berinteraksi di luar rumah. Hubungan yang hangat dengan ayah,

ibu, saudara akan berpengaruh terhadap hubungan dengan teman

sebaya. Apabila kebutuhan emosi anak tidak terpenuhi dalam

tahap perkembangannya akan berpengaruh pada perkembangan

selanjutnya.

Putra, dkk (2014), terdapat juga faktor lingkungan eksternal

yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, adalah sebagai berikut :

a) Budaya lingkungan (mempengaruhi tingkah laku dan pola

pemeliharaan anak).

b) Nutrisi baik kuantitas maupun kualitas.

c) Penyimpangan dari keadaan sehat (sakit atau kecelakaan)

d) Olahraga (mempengaruhi sirkulasi dan menstimulasi

perkembangan otak)

e) Urutan posisi anak dalam keluarga.

f) Status sosial dan ekonomi keluarga.

g) Iklim atau cuaca.


19

d. Periode perkembangan anak

NO PERIODE SUB PERIODE WAKTU

1 Pranatal a. Embrio Konsepsi-8 minggu

b. Fetus Fetus muda (8-28

minggu)

Fetus tua (28 minggu-

lahir)

2 Post natal a. Neonatal a. Lahir-28 minggu

b. Bayi b. 1-12 bulan

3 Awal masa anak a. Toddler a. 1-3 tahun

b. Pra sekolah b. 3-6 tahun

4 Pertengahan Usia sekolah 6-12 tahun

masa anak

5 Akhir masa a. Pubertas a. Perempuan 10-11

anak tahun

b. Laki-laki 12-13 tahun

a. Perempuan 13-18

b. Adolesent tahun

b. Laki-laki 14-19 tahun

a. Rata-rata 12-17 tahun


20

e. Arah Pertumbuhan dan perkembangan

1) Directional Trend

a) Cephalocaudal/head to toe (mengangkat kepala dulu kemudian

dada dan diakhiri ekstremitas bagian bawah). Kemudian dada dan

di akhiri ekstremitas bagian bawah)

b) Proximodistall from the center outward (menggerakkan anggota

gerak yang paling dekat dengan jantung pusat tubuh kemudian

pada anggota yang jauh, contohnya menggerakkan bahu dulu baru

jari-jari).

c) Mass to spesifik/simple to complex (dari kemampuan yang

sederhana dulu baru kemampuan yang kompleks, contoh

melambaikan tangan dulu baru memainkan jari).

2) Sequential Trend

a) Semua dimensi pertumbuhan dan perkembangan dapat diketahui

melalui sequence dari masing-masing tahap pertumbuhan dan

perkembangan.

b) Masing-masing fase dipengaruhi oleh fase sebelumnya.

c) Dapat diprekdisikan: waktu tumbuh kembang dapat diperkirakan

telungkup duduk berdiri) tetapi kecepatan tumbuh kembang tidak

sama sangat individual, paling cepat sebelum dan sesudah lahir,

berangsur turun sampai dengan awal masa anak. Lambat pada

pertengahan masa anak dan cepat lagi masa adolescence.


21

3. Leukemia Limfoblastik Akut

a. Definisi

Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) adalah suatu penyakit

ganas yang progresif pada organ pembentuk darah, yang ditandai

perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit serta prekursornya

dalam darah dan sumsum tulang (Dorland, 2012 cit Fella, 2014).

Adapun pengertian lainya Acute Lymphoblastic Leukemia ialah

merupakan keganasan penyakit sel darah yang berasal dari sumsum

tulang ditandai oleh proliferasi sel-sel darah putih, dengan manifestasi

adanya sel-sel abnormal dalam darah tepi (Permono, 2012 cit Fella,

2014).

b. Etiologi

Etiologi pasti dari Acute Lymphoblastic Leukemia tidak diketahui.

Dosis tinggi radiasi, bahan kimia, obat-obatan, virus, dan kelainan

genetik telah terlibat dalam etiologi penyakit ini. Ada hubungan kuat

antara Epstein-Barr Virus (EBV) dan Human Immunodeficiency Virus

(HIV) pada pasien dengan sel B matang ALL. Puncak awal pada anak-

anak terjadi antara usia 2 dan 4 tahun dan menurun selama masa kanak-

kanak (Langhorne, 2011).

Penyebab Acute Lymphoblastic Leukemia belum diketahui, akan

tetapi beberapa faktor predisposisi atau faktor yang berperan telah

diketahui, termasuk faktor lingkungan dan genetik serta keadaan

imunodefisiensi.
22

Sedangkan menurut Hoffbrand (2012) cit Fella (2014) faktor-

faktor yang dapat menyebabkan Acute Lymphoblastic Leukemia antara

lain :

1) Radiasi ionisasi

Terbukti bahwa radiasi ionisasi bersifat leukemogenik pada

manusia.

2) Zat-zat kimia

Salah satu faktor yang berkaiatan dengan leukemogenesis

adalah terpaparnya populasi terhadap zat kimia tertentu seperti

polutan lingkungan dan obat-obatan.

3) Virus

Salah satu virus yang terbukti berperan dalam leukemogenesis

pada manusia ialah retrovirus HTLV-1.

4) Faktor genetik

Bukti peran faktor genetik pada peristiwa leukemogenesis

pada manusia berasal dari tingginya insiden ALL pada penderita

sindrom down, anemia fankoni dan sindrom bloom di mana

semuanya berkaitan dengan kelainan kromosom kongenital.

5) Onkogen

Pertumbuhan suatu sel normal berada di bawah pengaturan

sekelompok gen seluler yang di kenal sebagai proto-onkogen.

Beberapa penelitian menyebutkan ada aktivasi onkogen pada

beberapa kasus leukemia.


23

c. Epidemiologi

Setiap tahun di Amerika Serikat ada sekitar 14.382 kasus kanker

baru yang didiagnosis pada penduduk di bawah usia 20 tahun. Sekitar

2.970 (21%) dari kasus-kasus ini merupakan ALL. Tingkat kejadian

tahunan AS untuk ALL dibawah usia 20 tahun adalah 35,0 per satu juta

penduduk, dengan laki-laki memiliki insiden yang lebih tinggi daripada

perempuan. Terdapat perbedaan yang signifikan pada kejadian ALL

antara ras kulit hitam dan kulit putih, dimana anak-anak kulit putih

memiliki insiden hampir 2 kali lipat lebih besar. Puncak insidens ALL

paling tinggi terjadi pada usia 2-5 tahun. Secara internasional, terdapat

variasi antara ALL pada masa kanak-kanak dan remaja, dengan rata-rata

kejadian pertahun berkisar 9-47 per juta untuk laki-laki dan 7-43 per juta

untuk wanita (Robinson, 2011).

Yayasan Onkologi Anak Indonesia menyatakan, sebanyak 70%

merupakan penderita leukemia atau kanker darah. Pada tahun 2006

jumlah penderita leukemia rawat inap di Rumah Sakit di Indonesia

sebanyak 2.513 orang (DEPKES RI, 2012).

d. Klasifikasi

Acute Lymphoblastic Leukemia adalah keganasan hematopoietik

yang berasal dari sel prekursor limfoid sumsum tulang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) klasifikasi mendefinisikan

leukemia menggunakan morfologi, imunofenotipe, fitur genetik, dan fitur

klinis. WHO mengklasifikasikan ALL menjadi :


24

1) Prekursor B lymphoblastic leukemia/limfoma (sel B Acute

Lymphoblastic Leukemia) (75% dari pasien).

2) Prekursor T lympoblastic leukemia/limfoma (T-sel Acute

Lymphoblastic Leukemia) (25% dari pasien).

Keterlibatan sumsum dari 20% lympoblasts atau lebih, dengan

atau tanpa lesi massa, mengklasifikasikan penyakit menjadi leukemia.

Penyakit ini disebut limfoma ketika sebagian besar curah tumor di

mediastinum atau lainnya struktur nodal dan ada kurang dari 20%

ledakan di sumsum tulang.

The French American British (FAB) mengklasifikasikan

berdasarkan morfologi sel, yaitu :

1) L1: Limfoblast kecil, sitoplasma sedikit, dan nukleolus yang

mencolok, merupakan kasus terbesar pada anak, mencakup 85%.

2) L2 : Sel limfoblas lebih besar dari pada L1. Gambaran sel

menunjukkan adanya heterogenitas ukuran dengan nukleolus yang

menonjol serta sitoplasma yang banyak dan merupakan 14% kasus

ALL pada anak.

3) L3: Limfoblas besar, sitoplasma basofilik. Terdapat vakuola pada

sitoplasma dan menyerupai gambaran limfoma Burkitt, L3 mencakup

1% kasus LLA pada anak (Langhorne, 2011).

e. Gambaran Klinis

Kira-kira 66% anak dengan LLA mempunyai gejala dan tanda

penyakitnya kurang dari 4 minggu pada waktu didiagnosis, gejala


25

pertama biasanya non spesifik meliputi anorexia, sumsum tulang yang

progresif sehingga timbul anemia, perdarahan (trombositopenia), dan

demam (neutropenia, keganasan) (Nelson, 2008 cit Fella, 2014 ).

Gejala malaise, kelelahan, nyeri tulang, perdarahan, memar,

demam, keringat malam, dan infeksi. Nyeri, terutama pada anak-anak,

hasil dari peningkatan ledakan di sumsum tulang. keterlibatan SSP hadir

di 50% dari pasien dengan leukemia Burkitt, tapi jarang di ALL lainnya.

Kebanyakan manifestasi SSP melibatkan saraf kranial VI, III, IV, dan

VII dan menyebabkan penglihatan ganda, gerakan mata yang abnormal,

dysesthesia wajah, dan penurunan wajah, dan dagu mati rasa yang sering

diabaikan. keterlibatan parenkim otak langka di leukemia, seperti

keterlibatan testis pada diagnosis.

Pembesaran testis biasanya asimetris dan tidak menyakitkan.

Hepatosplenomegali dan limfadenopati ditemukan pada 20% kasus,

sebagian besar dengan T-Sel dan leukemia Burkitt. Bukti lisis tumor dan

disseminated intravascular coagulopathies (DIC) daerah hadir di 10%

sampai 20% dari pasien penyakit mediastinal umum di T-sel ALL

(Langhorne, 2011).

f. Patofisiologi

Leukemia merupakan proliferasi tanpa batas sel darah putih yang

imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah. Keadaan patologi

dan manifestasi klinisnya disebabkan oleh infiltrasi dan penggantian

setiap jaringan tubuh dengan sel-sel leukemia nonfungsional. Organ-


26

organ yang terdiri banyak pembuluh darah seperti limpa dan hati,

merupakan organ yang terkena paling berat. Tanda gejala leukemia yang

paling sering ditemukan merupakan akibat dari infiltrasi pada sum-sum

tulang. Tiga akibat yang utama adalah adalah anemia akibat penurunan

jumlah SDM, infeksi akibat neutropenia, dan tendensi perdarahan akibat

penurunan produksi trombosit. Invasi sel-sel leukemia ke dalam sum-sum

tulang secara perlahan-lahan akan melemahkan tulang dan cenderung

mengakibatkan fraktur. Karena sel-sel leukemia menginvasi periosteum,

peningkatan tekanan menyebabkan rasa nyeri yang hebat.

(Hockbenberry, 2005 cit Fella, 2014).

g. Gambaran Laboratorium

1) Pemeriksaan hematologik memperlihatkan adanya anemia normositik

normokromik dengan trobositopenia pada sebagian kasus. Jumlah

leukosit total dapat menurun, normal atau meningkat.

2) Pemeriksaan sediaan apus darah biasanya memperlihatkan adanya sel

blas dalam jumlah yang bervariasi. Sumsum tulang hiperseluler

dengan bias lekomotik >30%. Sel-sel bias tersebut di cirikan oleh

morfologi, uji imonologik, dan analisa sitogenetik.

3) Fungsi lumbal untuk pemeriksaan cairan cerebrospinal harus

dilakukan dan dapat menunjukkan bahwa tekanan cairan spinal

meningkat dan mengandung sel leukemia.


27

4) Pemeriksaan biokimia dapat memperlihatkan adanya kadar asam urat

serum laktat dehidrogenase serum yang meningkat, dan lebih jarang,

hiperkalsemia.

5) Uji fungsi hati dan ginjal di lakukan sebagai dasar sebelum

melakukan pengobatan. Pemeriksaan sinar x mungkin

memperlihatkan adanya lesi titik tulang dan masa mediastinum yang

disebabkan pembesaran timus atau kelenjar getah bening yang khas

(Hoffbrand, 2012 cit Fella, 2014)

h. Pengobatan

1) Kemoterapi

Terapi leukemia meliputi pemakaian agen kemoterapi, dengan

atau tanpa radiasi kranial, dalam empat fase yaitu :

a) Terapi induksi

Menghasilkan remisi total atau remisi dengan kurang dari 5% sel-

sel leukemia dalam sum-sum tulang. Hampir segera setelah

diagnosis ditegakkan, terapi induksi dimulai dan berlangsung

selama 4-6 minggu. Obat-obatan utama yang dipakai untuk

induksi ALL adalah kortikosteroid (terutama prednisone),

vinkristin dan Lasparaginase, dengan atau tanpa doksorubisin.

Karena banyak diantara obat ini juga menyebabkan mielosupresi

unsur-unsur darah yang normal, periode waktu yang terjadi segera

sesudah remisi merupakan periode yang sangat menentukan.

Tubuh pasien tidak lagi memiliki pertahanan dan sangat rentan


28

terhadap infeksi dan perdarahan spontan. Konsekuensinya, terapi

supportif selama periode ini sangat dibutuhkan.

b) Terapi profilaksis SSP/consolidation

Untuk mencegah agar sel-sel leukemia tidak menginvasi SSP.

Penanganan SSP terdiri atas terapi profilaksis melalui keoterapi

intratekal dengan metotreksat, sitarabin, dan hidrokortison.

Kadangkadang metotreksat, begitu juga sitarabin, dapat

disuntikkan secara intratekal sebagai agen tunggal. Karena adanya

kekhawatiran terhadap efek samping iradiasi kanial, terapi ini

hanya dilakukan pada pasienpasien yang beresiko tinggi dan yang

memiliki penyakit SSP.

c) Terapi intensifikasi/reinduction

Setelah remisi total tercapai, dilaksanakan suatu periode terapi

yang intensif untuk menghilangkan sel-sel leukemia yang masih

tersisa, terapi ini diikuti oleh terapi intensifikasi lambat (delayed

intensification) untuk mencegah munculnya klon leukemik yang

resisten. Penyuntikan intratekal yang menyertai kemoterapi yang

sistemik meliputi pemberian L-asparaginase, metotreksat dosis

tinggi atau sedang, sitarabin, vinkristin dan merkaptopurin, selama

periode beberapa bulan.

d) Terapi rumatan/maintenance

Terapi rumatan dimulai sesudah terapi induksi dan konsolidasi

selesai dan berhasil dengan baik untuk memelihara remisi dan


29

selanjutnya mengurangi julah sel leukemia. Regimen terapi obat

kombinasi yang meliputi pemberian merkaptopurin setiap hari,

metotreksat seminggu sekali, dan terapi intratekal secara periodik

diberikan selama terapi rumatan, harus dilakukan pemerikasaan

hitung darah lengkap untuk mengevaluasi respons sum-sum tulang

terhadap obat-obatan yang digunakan.

2) Transplantasi sum-sum tulang belakang

Pada anak dengan ALL, transplantasi sum-sum tulang tidak

direkomendasikan selama remisi yang pertama karena kemoterapi

masih mungkin memberikan hasil yang menakjubkan. Sum-sum

tulang yang digunakan untuk transplantasi bukan hanya dari donor

yang ada hubungan keluarga tetapi juga bisa dari donor yang tidak

memiliki hubungan keluarga asalkan antigennya cocok atau dari

darah yang antigennya tidak cocok (Hockbenberry, 2005 cit Fella

2014).
30

4. Konsep Nyeri

a. Pengertian

Nyeri sudah dikenal sejak kehadiran manusia dimuka bumi.

Namun mengingat kompleksnya masalah nyeri, maka nyeri didefinisikan

sebagai berikut.

1) Mc Caffery (1979), nyeri didefinisikan sebagai suatu fenomena yang

sulit dipahami, memengaruhi seseorang, serta eksistensinya diketahui

bila seseorang mengalaminya.

2) Kozier (1983), Nyeri adalah sensasi ketidaknyamanan yang

dimanifestasikan sebagai suatu penderitaan yang diakibatkan oleh

persepsi yang nyata, ancaman, dan fantasi luka.

3) International Association for the Study of Pain (IASP) (1979), nyeri

adalah pengalaman dan emosional yang tidak sensori menyenangkan

yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial,

atau digambarkan dalam ragam yang menyangkut kerusakan atau

sesuatu yang digambarkan dengan terjadinya kerusakan.

4) Tamsuri (2007), Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang

mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang

pernah mengalaminya.

b. Tanda dan gejala nyeri

Tanda dan gejala dari nyeri dapat menyebabkan bermacam-

macam perilaku yang tercermin, namun beberapa hal yang sering terjadi

berhubungan dengan respon psikologisnya antara lain :


31

1) Suara

Menangis, merintih, dan menarik/menghembuskan nafas.

2) Ekspresi wajah

Meringis, menggigit lidah, mengatupkan gigi, menggerutkan dahi,

membuka/ mata mulut dan menggigit bibir.

3) Pergerakan tubuh

Kegelisahan, mondar-mandir, otot tegang, immobilisasi dan bergerak

melindungi bagian tubuh.

4) Interaksi sosial

Menghindari percakapan dan kontak sosial, berfokus pada aktivitas

untuk mengurangi nyeri dan disorientasi waktu.

Sedangkan dalam hal respon fisiologisnya, pada saat impuls nyeri

naik ke medulla spinalis menuju ke batang otak dan thalamus, system

saraf otonom menjadi terstimulasi sebagai bagian dan respon stres. Nyeri

dengan intensitas ringan hingga sedang dan nyeri yang superfisial

menimbulkan reaksi nyeri yang sangat, yang merupakan sindrom

adaptasi umum. Respon fisiologi terhadap nyeri traumatik yang berat,

yang menyebabkan individu mengalami syok, kebanyakan individu

mencapai tingkat adaptasi, yaitu tanda-tanda fisik kembali normal.

Dengan demikian, klien yang mengalami nyeri tidak akan selalu

memperlihatkan tanda-tanda fisik (Perry & Potter, 2005).


32

c. Fisiologi nyeri

Reseptor nyeri adalah organ tubuh yang berfungsi untuk

menerima ransangan nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor

nyeri adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya

terhadap stimulasi kuat yang secara potensial merusak. Reseptor nyeri ini

disebut juga nociceptor. Secara otomatis, reseptor nyeri ini (nociceptor)

ada yang bermielin dan ada juga yang tidak bermielin dari saraf eferen.

Berdasarkan letaknya, nosiseptor dapat dikelompokkan dalam berbagai

bagian tubuh yaitu pada kulit (kutaneus), somatik dalam (deep somatic),

dan pada daerah visceral. Karena letaknya yang berbeda-beda inilah,

nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda. Nosiseptor

kutaneus berasal dari kulit dan subkutan. Nyeri yang berasal dari daerah

ini biasanya mudah untuk dilokalisasi dan didefinisikan. Reseptor

jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua kelompok, yaitu :

1) Serabut A delta

Merupakan serabut komponen yang tercepat (kecepatan

transmisi 6-30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam,

yang akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.

2) Serabut C

Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan transmisi

0,5-2 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam yang lebih

dalam, nyeri biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasikan.

Struktur reseptor nyeri somatik dalam meliputi reseptor nyeri yang


33

terdapat pada tulang, pembuluh darah, saraf, otot, dan jaringan

penyangga lainnya. Karena struktur reseptornya kompleks, nyeri

yang timbul merupakan nyeri yang tumpul dan sulit dilokalisasi.

Berdasarkan jenis ransangan dapat diterima oleh nosiseptor di

dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis nosiseptor, yaitu :

nosiseptor termal, nosiseptor mekanik, nosiseptor elektrik, dan nosiseptor

kimia. Adanya berbagai macam nosiseptor ini memungkinkan terjadi

nyeri karena pengaruh mekanis, kimia, listrik, atau karena perubahan

suhu. Serabut jenis A delta merupakan serabut nyeri yang lebih banyak

dipengaruhi oleh ransangan mekanik dari pada ransangan panas dan

kimia. Sedangkan serabut jenis C lebih dipengaruhi oleh ransangan suhu,

kimia, dan mekanik kuat (Zakiyah, 2015).

d. Klasifikasi Nyeri

Nyeri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu :

1) Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi dalam waktu mulai

terjadinya nyeri/masalah nyeri sampai masalah nyeri teratasi dan

berlangsung tidak melebihi 6 bulan. Serangan mendadak pada daerah

yang dirasakan adanya nyeri. Biasanya dapat dan ditandai dengan

peningkatan tegangan otot, cemas sehingga meningkatkan persepsi

nyeri dan gejala-gejala perilaku memberikan kemungkinan untuk

mengkaji kebiasaannya dalam mengalami nyeri. Nyeri akut biasanya

terjadi apabila terdapat luka/kerusakan jaringan kulit. Kerusakan ini


34

biasanya terjadi akibat trauma atau ruda paksa, luka operasi, laserasi,

dan lain sebagainya. Tetapi ketika jaringan yang terkena ini akan

mengalami proses penyembuhan, maka nyeri yang dirasakan juga

akan berkurang atau hilang.

2) Nyeri kronis

Nyeri kronis ialah nyeri yang berlangsung lama, intensitas

yang bervariasi dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan, nyeri ini

dapat bersifat superfisial ataupun dalam dan dapat berasal dari organ-

organ dalam, mulai dari otot dan bagian lainnya. Ketika sistem tubuh

mulai beradaptasi, maka respon otonom yang dapat terjadi pada nyeri

ini adalah berupa local adaptasi sindrom ataupun general adaptasi

sindrom (Zakiyah, 2015).

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri

Adapun beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nyeri, antara

lain :

1) Usia

Usia merupakan variabel penting yang dapat mempengaruhi

nyeri, khususnya pada anak dan lansia. Perbedaan perkembangan

yang ditemukan diantara kelompok usia ini dapat mempengaruhi

bagaimana anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri.

2) Jenis Kelamin

Secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara makna

dalam merespon terhadap nyeri. Akan tetapi, terdapat faktor


35

perbedaan hormon antara pria dan wanita yang dapat mempengaruhi

toleransi terhadap nyeri.

3) Kebudayaan

Keyakinan dan nilai-nilai budaya juga mepelajari cara individu

dalam mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan

dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Sosialisasi budaya

juga menentukan perilaku psikologis seseorang, sehingga hal ini

dapat mempengaruhi pengeluaran fisiologis endogen sehingga

terjadilah persepsi terhadap nyeri.

4) Makna nyeri

Pengalaman nyeri dan cara seseorang beradaptasi terhadap

nyeri itu berbeda, hal tersebut sangat berkaitan dengan latar belakang

budaya individu. Setiap orang akan mempersepsikan nyeri dengan

cara yang berbeda-beda apabila nyeri tersebut memberikan kesan

ancaman, kehilangan sesuatu, hukuman dan tantangan. Derajat dan

kualitas nyeri yang dirasakan klien berhubungan dengan makna nyeri.

5) Perhatian

Perhatian yang meningakat dihubungkan dengan nyeri yang

meningkat, sedanhkan upaya pengalihan dihubungkan dengan respon

nyeri yang menurun. Dengan memfokuskan perhatian dan

konsentrasi klien pada stimulus yang lain, maka perawat

menempatkan nyeri pada kesadaran yang perifer. Biasanya hal ini


36

menyebabkan toleransi nyeri individu meningkat, khususnya terhadap

nyeri yang berlangsung hanya selama waktu pengalihan.

6) Ansietas

Hubungan antara nyeri dan ansietas bersifat kompleks.

Ansietas seringkali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga

dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. Pola bangkitan otonom

adalah sama dengan nyeri dan ansietas. Stimulus nyeri mengaktifkan

bagian sistem limbik dapat memproses reaksi emosi seseorang

terhadap nyeri, yakni memperburuk atau menghilangkan nyeri.

7) Keletihan

Keletihan dapat meningkatkan persepsi nyeri, rasa kelelahan

menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan

kemampuan koping. Hal ini dapat menjadi masalah umum pada

setiap individu yang menderita penyakit dalam jangka lama. Apabila

keletihan disertai kesulitan tidur, maka persepsi nyeri terasa lebih

berat dan jika mengalami suatu proses periode tidur yang baik maka

nyeri akan berkurang.

8) Pengalaman sebelumnya

Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa

individu akan menerima nyeri dengan lebih mudah pada masa yang

akan datang. Apabila individu sejak lama sering mengalami

serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh, maka rasa takut

akan muncul. Akibatnya klien akan cenderung lebih siap untuk


37

melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan

nyeri.

9) Gaya koping

Pengalaman nyeri dapat menjadi suatu pengalaman yang

membuat merasa kesepian, gaya koping akan mempengaruhi cara

seseorang untuk mengatasi nyeri.

10) Dukungan keluarga dan sosial

Faktor lain yang bermakna mempengaruhi respon nyeri adalah

kehadiran orang-orang terdekat klien dan bagaimana sikap mereka

terhadap klien. Walaupun nyeri dirasakan, kehadiran orang yang

bermakna bagi klien akan meminimalkan sensasi nyeri yang

dirasakan. Apabila tidak ada keluarga atau teman, seringkali

pengalaman nyeri membuat klien semakin tertekan. Oleh karena itu,

kehadiran orang-orang yang paling dekat dengan klien dalam

memberi dukungan sangatlah berguna karena akan membuat

seseorang merasa lebih nyaman (Zakiyah, 2015).

f. Tingkat nyeri

Tingkat nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri

dirasakan oleh individu, pengukuran tingkat nyeri sangat subyektif dan

individual, kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan

sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda. (Brunner & Suddarth, 2002

cit Farid, 2010).


38

Individu dapat diminta untuk membuat tingkat nyeri pada skala

verbal (misal : tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat atau sangat nyeri).

Atau dengan angka 1-10 dengan penjelasan 0 = tidak nyeri dan 10 =

sangat nyeri. Pengukuran intensotas nyeri dapat dilakukan dengan

menggunakan dengan Vicual Analoque Scale (VAS), tingkat nyeri

numerik adalah sebagai berikut :

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Tidak ada nyeri Nyeri sedang Nyeri hebat

Skala tingkat nyeri numerik (Zakiyah, 2015)

Pasien diminta untuk menunjukkan angka dimana skala nyeri

yang dirasakan pasien. Angka 0 menunjukkan tidak adanya nyeri,

sedangkan angka 10 merupakan nyeri yang tidak tertahankan lagi oleh

pasien. Kriteria nyeri menurut angka di golongkan menjadi 5 yaitu : 0 =

Tidak nyeri, 1-3 =Nyeri ringan, 4-6 = Nyeri sedang, 7-9 = Nyeri berat

terkontrol, dan 10 = Nyeri berat tidak terkontrol (Zakiyah, 2015).

Skala pengukuran nyeri juga dapat ditampilkan sebagaimana

bagan berikut :

Tidak ada Nyeri Nyeri Nyeri berat Nyeri berat


nyeri ringan sedang terkontrol tidak terkontrol

Skala tingkat nyeri deskriptif (Zakiyah, 2015)


39

Pengukuran skala nyeri dilakukan dengan meminta pasien untuk

menunjuk tingkat nyeri yang dirasakan sesuai dengan keterangan yang

tercantum dalam tingkatan nyeri yang ada. Pengukuran nyeri untuk

pasien anak-anak dapat menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating

Scale, yaitu menggunakan ekspresi wajah sebagaimana tercantum dalam

bagan sebagai berikut :

Wong-Baker Faces Pain Rating Scales, (Zakiyah, 2015)

Pasien anak diminta menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai

dengan tingkat nyeri yang dirasakan.

g. Penatalaksanaan nyeri

Penatalaksanaan nyeri membutuhkan pengkajian yang tepat.

Terus menerus dan berkesinambungan. Pengkajian nyeri itu sendiri

memerlukan pengetahuan dasar yang harus dipelajari dengan bijak agar

lebih berani dalam pemberian obat, dalam penatalaksanaan nyeri juga

dibutuhkan penentuan skala nyeri dengan jalan meminta pada pasien

untuk menunjukkan daerah yang dirasakan nyeri sampai kepada tingkat

yang paling nyeri. Hal ini dilakukan untuk melokalisasi nyeri agar lebih

spesifik (Tamsuri, 2007).


40

5. Konsep Keluarga

a. Definisi Keluarga

Sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat, banyak ahli

memberikan definisi tentang keluarga. Berikut ini dikemukakan tiga

pengertian keluarga :

1) Menurut Sayekti (1994), keluarga adalah ikatan/persekutuan hidup

atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis

hidup bersama atau sendiri-sendiri, dengan atau tanpa anak sendiri

atau anak adopsi, dan tinggal dalam suatu rumah tangga (Mashudi,

2012).

2) Menurut Bailon dan Maglaya (1978), keluarga adalah dua atau lebih

dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan

perkawinan atau pengangkatan, dan mereka hidup dalam suatu rumah

tangga, berinteraksi satu sama orang lain, dan didalam perannya

masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaannya

(Mashudi, 2012).

3) Menurut Departemen Kesehatan RI 1998, keluarga adalah unit

terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri kepala keluarga dan

beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah

suatu atap atap dalam keadaan saling ketergantungan (Mashudi,

2012).

Menurut Duval dan Logan (1986), menguraikan bahwa keluarga

adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan


41

adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan

meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari

tiap keluarga (Efendi dan Makhfudli, 2009).

Menurut Departemen Kesehatan (1988), keluarga adalah unit

terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga serta beberapa

orang yang berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan saling

ketergantungan.

Friedman (1998) mendefinisikan bahwa keluarga adalah

kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan

aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing

yang merupakan bagian dari keluarga.

Sesuai dengan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

karakteristik keluarga adalah sebagai berikut :

1) Terdiri atas dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,

perkawinan atau adopsi.

2) Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka

tetap memperhatikan satu sama lain

3) Mempunyai tujuan menciptakan, mempertahankan budaya,

meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial keluarga

(Mashudi, 2012).

b. Struktur keluarga

Menurut Mashudi (2012), struktur keluarga terdiri dari

bermacam-bermacam, diantaranya adalah sebagai berikut :


42

1) Patrilineal, patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri atas sanak

saudara sedarah dalam beberapa generasi, hubungan itu disusun

melalui jalur garis ayah.

2) Matrilineal, matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari

sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi, hubungan itu

disusun melalui jalur garis ibu.

3) Matrilokal, matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal

bersama keluarga sedarah istri.

4) Keluarga kawinan, adalah hubungan suami-istri sebagai dasar bagi

pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi

bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami-istri.

Menurut Friedman dalam Mashudi (2012), struktur keluarga

terdiri atas pola dan proses komunikasi, struktur peran, struktur kekuatan,

struktur nilai, dan norma.

c. Tipe Keluarga

Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari

berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial

maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Menurut Mashudi (2012)

tipe keluarga adalah sebagai berikut :

1) Tradisional nuclear, keluarga inti yang terdiri atas ayah, ibu, dan

anak yang tinggal dalam satu rumah ditetapkan oleh sanksi-sanksi

legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu/keduanya dapat bekerja di

luar rumah.
43

2) Extended family, adalah keluarga inti ditambah dengan sanak

saudara, misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara, sepupu, paman,

bibi, dan lain sebagainya.

3) Reconstituted nuclear, pembentukan baru dari keluarga inti melalui

perkawinan kembali suami/istri, tinggal dalam pembentukan satu

rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari perkawinan lama

maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja

di luar rumah.

4) Middle agelaging couple, suami sebagai pencari uang, istri di rumah/

kedua-duanya bekerja di rumah, anak-anak, sudah meninggalkan

rumah karena sekolah/ perkawinan/ meniti karir.

5) Dyadic nuclear, suami-istri yang sudah berumur dan tidak

mempunyai anak, keduanya/ salah satu bekerja di luar rumah.

6) Single parent, satu orang tua sebagai akibat perceraian/ kematian

pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal dirumah/ di luar rumah.

7) Dual carrier, suami-istri atau keduanya orang karir dan tanpa anak.

8) Commuter married, suami-istri/ keduanya orang karir dan tinggal

terpisah pada jarak tertentu, keduanya saling mencari pada waktu-

waktu tertentu.

9) Single adult, wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan

tidak adanya keinginan untuk kawin.

10) Three Generation, tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah.
44

11) Institusional, anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalam suatu

panti-panti.

12) Comunal, satu rumah terdiri dari dua/ lebih pasangan yang monogami

dengan anak-anaknya dan bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.

13) Group marriage, satu perumahan terdiri atas orang tua dan

keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan tiap individu

adalah kawin dengan yang lain dan semua orang adalah orang tua

anak-anak.

14) Unmarried parent and child, ibu dan anak dimana perkawinan tidak

dikehandaki, anaknya di adopsi.

15) Cohibiting couple, dua orang atau satu pasangan yang tinggal tanpa

kawin.

Dari berbagai macam tipe keluarga tersebut, maka secara umum

negara Indonesia dikenal dua tipe keluarga yaitu tipe keluarga tradisional

dan tioe keluarga nontradisional (Mashudi, 2012).

d. Peran dan Fungsi Keluarga

Peran formal dalam keluarga (Nasrul Effendy, 1998) yang dikutip

oleh Efendi dan Makhfudli (2009) adalah sebagai berikut :

1) Peran sebagai ayah adalah sebagai suami dan istri dan ayah dari anak-

anaknya berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan

pemberi rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, anggota kelompok

sosial, serta anggota masyarakat dan lingkungan.


45

2) Peran sebagai ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya

berperan untuk mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan

pendidik anak-anaknya, pelindung dan salah satu anggota kelompok

sosial, serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan disamping

dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.

3) Peran sebagai anak adalah melaksanakan peran psikososial sesuai

dengan tingkat perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, dan

spiritual.

Secara umum fungsi keluarga Friedman (1998) dalam Suprajitno

(2012), adalah sebagai berikut :

1) Fungsi afektif (the affective function) adalah fungsi keluarga yang

utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan

anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini

dibutuhkan untuk perkembangan individu dan psikososial anggota

keluarga.

2) Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi (socialization and social

placement function) adalah fungsi mengembangkan dan tempat

melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan

rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah.

3) Fungsi reproduksi (the reproductive function) adalah fungsi untuk

mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.

4) Fungsi ekonomi (the economic function), yaitu keluarga berfungsi

untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat


46

untuk mengembangkan kemampuan individu untuk meningkatkan

penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

5) Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan (the health care function),

yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota

keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini

dikembangkan menjadi tugas keluarga dibidang kesehatan.

6. Dukungan Keluarga

a. Definisi dukungan keluarga

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan, dan penerimaan

keluarga terhadap anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa

orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan

bantuan jika diperlukan (Friedman, 1998).

Dukungan keluarga adalah suatu upaya yang diberikan kepada

orang lain, baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut

dalam melaksanakan kegiatan (Sarwono, 2005).

b. Bentuk dukungan keluarga

Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa

keluarga memiliki beberapa jenis dukungan yaitu :

1) Dukungan informasional

Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan disseminator

(penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian

saran, sugesti, informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu


47

masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat menekan munculnya

suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan

aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan

ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk, dan pemberian informasi.

2) Dukungan penilaian

Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik

membimbing dan menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber

dan validator identitas anggota keluarga diantaranya memberikan

support, penghargaan, dan perhatian.

3) Dukungan instrumental

Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit

diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan

minum, istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan.

4) Dukungan emosional

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat

dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-

aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan

dalam bentuk afeksi, kepercayaan, perhatian, dan mendengarkan.

Sedangkan menurut Kuncoro (2002), bentuk dari dukungan

keluarga meliputi :

1) Dukungan penghargaan (appraisal support)

Merupakan suatu dukungan sosial yang berasal dari keluarga

atau lembaga atau instansi terkait dimana pernah berjasa atas


48

kemampuannya dan keahliannya maka mendapatkan suatu perhatian

yang khusus.

2) Dukungan materi (Tangible Assistance)

Adalah dapat berupa servis (pelayanan), bantuan keuangan

dan pemberian barang-barang. Pemberian dukungan materi dapat

dicontohkan dalam sebuah keluarga atau persahabatan.

3) Dukungan informasi (Information Support)

Merupakan dukungan yang berupa pemberi informasi, saran

dan umpan balik tentang bagaimana seseorang untuk mengenal dan

mengatasi masalahnya dengan lebih mudah.

4) Dukungan emosional (Emosional Support)

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat

dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi.

Merupakan dukungan emosional yang mencakup ungkapan empati,

kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan misalnya

penegasan, pujian, dan sebagainya.

c. Ciri-ciri dukungan keluarga

Setiap bentuk dukungan keluarga mempunyai ciri-ciri menurut

Smet, (1994) dalam Setiadi, (2008) antara lain :

1) Informatif

Yaitu dukungan informasi yang disediakan agar dapat

digunakan oleh seseorang dalam menanggulangi persoalan-persoalan

yang dihadapi, meliputi pemberian nasehat, pengarahan, ide-ide atau


49

informasi lainnya yang dibutuhkan dan informasi ini dapat

disampaikan kepada orang lain yang mungkin menghadapi persoalan

yang sama atau hampir sama.

2) Perhatian emosional

Setiap orang pasti membutuhkan bantuan afeksi dari orang

lain, dukungan ini berupa dukungan simpatik dan empati, cinta,

kepercayaan, dan penghargaan. Dengan demikian seseorang yang

menghadapi persoalan merasa dirinya tidak menanggung beban

sendiri tetapi masih ada orang lain yang memperhatikan, mau

mendengar segala keluhannya, bersimpati, dan empati terhadap

persoalan yang dihadapinya, bahkan mau membantu memecahkan

masalah yang dihadapinya.

3) Bantuan instrumental

Bantuan bentuk ini bertujuan untuk mempermudah seseorang

melakukan aktivitasnya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang

dihadapinya, atau menolong secara langsung kesulitan yang dihadapi

misalnya dengan menyediakan peralatan lengkap dan memadai bagi

penderita, menyediakan obat-obat yang dibutuhkan dan lain-lain.

4) Bantuan penilaian

Yaitu suatu bentuk penghargaan yang diberikan seseorang

kepada pihak lain berdasarkan kondisi sebenarnya bagi penderita.

Penilaian ini bias positif dan negatif yang mana pengaruhnya sangat
50

berarti bagi seseorang. Berkaitan dengan dukungan sosial keluarga

maka penilaian yang sangat membantu adalah penilaian yang positif.

Efek dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan

kesejahteraan berfungsi bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan

dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan

mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit, fungsi kognitif, fisik, dan

kesehatan emosi. Disamping itu, pengaruh positif dari dukungan

sosial keluarga adalah pada penyesuaian terhadap kejadian dalam

kehidupan yang penuh dengan stress (Smet, 1994 dalam Setiadi,

2008).

d. Fungsi keluarga dalam memberikan dukungan sosial

Setiadi (2008) mengemukakan bahwa dengan berubahnya pola

hidup agraris menjadi industrialisasi, fungsi keluarga dikembangkan

menjadi :

1) Fungsi biologis

a) Untuk meneruskan keturunan.

b) Memelihara dan membesarkan anak.

c) Memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

d) Memelihara dan merawat anggota keluarga.

2) Fungsi psikologis

a) Memberikan kasih saying dan rasa aman.

b) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga.

c) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.


51

d) Memberikan identitas keluarga.

3) Fungsi sosialisasi

a) Membina sosialisasi pada anak.

b) Membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat

perkembangan anak.

c) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.

4) Fungsi ekonomi

a) Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memebuhi kebutuhan

keluarga.

b) Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi

kebutuhan keluarga.

c) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga

dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan

hari tua dan sebagainya.

5) Fungsi pendidikan

a) Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan,

keterampilan, dan membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat

dan minat yang dimilikinya.

b) Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang

dalam memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.

c) Mendidik anak sesuai dengan tingka-tingkat perkembangannya.


52

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga

Menurut Purnawan, (2008) dalam Setiadi, (2008) faktor-faktor

yang mempengaruhi dukungan keluarga adalah :

1) Faktor internal

a) Tahap perkembangan

Artinya dukungan keluarga dapat ditentukan oleh faktor usia,

dalam hal ini adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan

demikian setiap rentang usia (bayi-lansia) memiliki pemahanaman

dan respon terhadap perubahan kesehatan berbeda-beda.

b) Pendidikan atau tingkat pengetahuan

Keyakinan seseorang terhadap adanya dukungan terbentuk oleh

variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar belakang

pendidikan, dan pengalaman masa lalu. Kemampuan kognitif akan

membentuk cara berpikir seseorang termasuk kemampuan untuk

memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit dan

menggunakan pengetahuan tentang kesehatan untuk menjaga

kesehatan dirinya.

c) Faktor emosional

Faktor emosioanal juga mempengaruhi keyakinan terhadap

adanya dukungan dan cara melaksanakannya. Seseorang yang

mengalami respon stress dalam perubahan hidupnya cenderung

berespon terhadap berbagai tanda sakit, mungkin dilakukan

dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut dapat


53

mengancam kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat

tenang mungkin mempunyai respon emosional yang kecil selama

ia sakit. Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping

secara emosional terhadap ancaman penyakit, mungkin ia

menyangkal adanya gejala penyakitpada dirinya dan tidak mau

menjalani pengobatan.

d) Spiritual

Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani

kehidupannya, menyangkut nilai dan keyakinan yang

dilaksanakan, hubungan dengan keluarga atau teman, dan

kemampuan mencari harapan dan arti dalam hidup.

2) Faktor eksternal

a) Praktik di keluarga

Cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya

mempengaruhi penderita dalam melaksanakan kesehatannya.

Misalnya : klien juga akan melakukan tindakan pencegahan jika

keluarga melakukan hal yang sama.

b) Faktor sosioekonomi

Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan resiko

terjadinya penyakit dan mempengaruhi cara seseorang

mendefinisikan dan bereaksi terhadap penyakitnya.

c) Latar belakang budaya


54

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan

kebiasaan individu dalam memberikan dukungan termasuk cara

pelaksanaan kesehatan pribadi.

f. Sumber dukungan keluarga

Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang

dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau

diadakan untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan,

tetapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat

mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika

diperlukan). Dukungan sosial keluarga dapat berupa dukungan keluarga

sosial internal seperti dukungan dari suami-istri serta dukungan dari

saudara kandung atau dukungan sosial keluarga eksternal (Friedman,

1998).

g. Manfaat dukungan keluarga

Wills (1985) dalam Friedman (1998) menyimpulkan bahwa baik

efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-efek negatif dari

stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama (dukungan sosial secara

langsung mempengaruhi akibat-akibat dari kesehatan) pun ditemukan.

Sesungguhnya efek-efek penyangga dan utama dari dukungan sosial

terhadap kesehatan dan kesejahteraan boleh jadi berfungsi bersamaan.

Secara lebih spesifik, keberadaan dukungan sosial yang adekuat terbukti

berhubungan dengan menurunnya mortalitas, lebih sembuh dari sakit dan


55

dikalangan kaum tua, fungsi kognitif, fisik, dan kesehatan emosi (Ryan

dan Austin dalam Friedman, 1998).

7. Teori Keperawatan Kolcaba

Kenyamanan adalah hasil holistik yang ingin dicapai oleh setiap

individu dan erat kaitannya dengan disiplin keperawatan. Kenyamanan

adalah kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan dan harus dipenuhi oleh

setiap individu. Pencapaian kenyamanan seorang individu memberikan

kekuatan bagi pasien dalam membentuk sikap kesadaran terkait kesehatan

dirinya (Kolcaba, 1994 dalam Alligood, 2014).

Kolcaba, 1991 dalam Alligood, 2014 menggunakan idenya dari tiga

teori keperawatan sebelumnya untuk mensintesis atau mengidentifikasi jenis

kenyamanan menurut analisis konsep, adalah sebagai berikut :

1 Relief (kelegaan) merupakan arti kenyamanan dari hasil penelitian

Orlando (1961), yang mengemukakan bahwa perawat meringankan

kebutuhan yang diperlukan oleh pasien.

2 Ease (ketentraman) merupakan arti kenyamanan dari hasil penelitian

Henderson (1966), yang mendeskripsikan ada 13 fungsi dasar manusia

yang harus dipertahankan selama pemberian asuhan.

3 Transcendence dijabarkan dari hasil penelitian Paterson dan Zderad

(1975), yang menjelaskan bahwa perawat membantu pasien dalam

mengatasi kesulitannya.
56

Empat konteks kenyamanan, berdasarkan asuhan yang diberikan,

berasal dari literature keperawatan (Kolcaba, 2003 dalam Alligood 2014),

adalah sebagai berikut :

1 Konteks fisiologis

2 Konteks psikospiritual

3 Konteks sosiokultural

4 Lingkungan
57

B. Landasan Teori

a. Dukungan Keluarga

Teori tentang dukungan keluarga yang digunakan dalam penelitian ini

diambil dari buku Friedman (1998), dan Sarwono (2005), yang menyatakan

bahwa dukungan keluarga adalah sikap, tindakan, dan penerimaan keluarga

terhadap anggotanya. Dukungan keluarga juga didefinisikan sebagai

informasi verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku

yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam

lingkungannya atau yang berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat

memberikan keuntungan emosional dan berpengaruh pada tingkah laku

penerimanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat

mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan

baik secara moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam

melaksanakan kegiatannya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh

dukungan secara emosional merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran

atau kesan yang menyenangkan pada dirinya.

Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungan sosial yang

dipandang oleh keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan

untuk keluarga (dukungan sosial bisa atau tidak digunakan, tetapi anggota

keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap

memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan). Dukungan sosial

keluarga dapat berupa dukungan keluarga sosial internal seperti dukungan

dari suami-istri serta dukungan dari saudara kandung atau dukungan sosial
58

keluarga eksternal. Bentuk dukungan keluarga memiliki beberapa jenis

dukungan yaitu dukungan informasional (keluarga berfungsi sebagai sebuah

kolektor dan disseminator (penyebar) informasi tentang dunia dengan

menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat

digunakan mengungkapkan suatu masalah), dukungan penilaian (keluarga

bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik membimbing dan

menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator identitas

anggota keluarga diantaranya memberikan support, penghargaan, dan

perhatian), dukungan instrumental (keluarga merupakan sumber pertolongan

praktis dan konkrit diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan

makan dan minum, istirahat, terhindarnya penderita dari kelelahan),

dukungan emosional (keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk

istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi).

b. Tingkat nyeri

Teori tentang tingkat nyeri yang digunakan dalam penelitian ini

diambil dari buku (Brunner & Suddarth, 2002 dalam Farid, 2010), yang

menyatakan bahwa tingkat nyeri merupakan gambaran tentang seberapa

parah nyeri dirasakan oleh individu, pengukuran tingkat nyeri sangat

subyektif dan individual, kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama

dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda.

Dalam skala tingkat nyeri numerik, pasien diminta untuk membuat

tingkat nyeri pada skala verbal (misal : tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat

atau sangat nyeri). Atau dengan angka 1-10 dengan penjelasan 0 = tidak nyeri
59

dan 10 = sangat nyeri. Pengukuran intensotas nyeri dapat dilakukan dengan

menggunakan dengan Vicual Analoque Scale (VAS).

Dalam skala nyeri tingkat deskriftif, pasien diminta untuk

menunjukkan angka dimana skala nyeri yang dirasakan pasien. Angka 0

menunjukkan tidak adanya nyeri, sedangkan angka 10 merupakan nyeri yang

tidak tertahankan lagi oleh pasien. Kriteria nyeri menurut angka di golongkan

menjadi 5 yaitu : 0 = Tidak nyeri, 1-3 =Nyeri ringan, 4-6 = Nyeri sedang, 7-9

= Nyeri berat terkontrol, dan 10 = Nyeri berat tidak terkontrol (Zakiyah,

2015).

Dalam pengukuran nyeri Wong-Baker Faces Pain Rating Scale yang

menggunakan ekspresi wajah untuk pasien anak-anak, dapat dilakukan

pengukuran nyeri dengan meminta pasien untuk menunjuk tingkat nyeri yang

dirasakan sesuai dengan keterangan yang tercantum dalam tingkatan nyeri

yang ada.

c. Teori Keperawatan Kolcaba

Teori keperawatan Kolcaba yang digunakan dalam penelitian ini

diambil dari buku (Alligood, 2014), yang menyatakan bahwa kenyamanan

adalah hasil holistic yang ingin dicapai oleh setiap individu dan erat

kaitannya dengan disiplin keperawatan. Kenyamanan adalah kebutuhan dasar

manusia yang dibutuhkan dan harus dipenuhi oleh setiap individu.

Pencapaian kenyamanan seorang individu memberikan kekuatan bagi pasien

dalam membentuk sikap kesadaran terkait kesehatan dirinya.


60

Kolcaba menggunakan idenya dari tiga teori keperawatan sebelumnya

untuk mensintesis atau mengidentifikasi jenis kenyamanan menurut analisis

konsep, yaitu relief (kelegaan), ease (ketentraman), dan transcendence.

Terdapat juga empat konteks kenyamanan, berdasarkan asuhan yang

diberikan, berasal dari literature keperawatan, yaitu konteks fisiologis,

konteks psikospiritual, konteks sosiokultural, lingkungan.


61

B. Kerangka Teori

Lebih jelasnya kerangka teori yang akan diteliti adalah sebagai berikut :

Anak dengan Kanker Faktor yang mempengaruhi nyeri :


1. Kebudayaan
Acute Lymphoblastic 2. Makna nyeri
Leukemia (ALL) 3. Perhatian
4. Ansietas
5. Keletihan
Kemoterapi
6. Pengalaman sebelumnya
7. Gaya koping
Nyeri
8. Usia
9. Jenis Kelamin
10. Dukungan keluarga :
1. Dukungan informasional
2. Dukungan penilaian
Tingkat nyeri pada anak 3. Dukungan instrumental
4. Dukungan emosional

0 (Tidak nyeri)
2 (Nyeri ringan) Teori Comfort Kolcaba :
4 (Nyeri sedang)
1. Relief
6 (Nyeri berat)
2. Ease
8 (Nyeri sangat berat)
3. Transcedence
10 (Nyeri tidak tertahankan)

Gambar 2.1 Skema landasan teori

(Carpenito, 2001 ; Friedman, 1198 ; Sitzman & Eichelberger dalam Herlina, 2012 ;

Perry & Potter, 2005 ; Zakiyah, 2015)

Keterangan :

Tanda : Mempengaruhi

DITELITI TIDAK DITELITI


62

C. Kerangka Konsep Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Tingkat nyeri


Emosional Keluarga pada anak

Ringan
a. Afeksi 0 (Tidak nyeri)
b. Kepercayaan 2 (Nyeri ringan) Sedang
c. Perhatian 4 (Nyeri sedang)
d. Mendengarkan 6 (Nyeri berat) Berat
8 (Nyeri sangat berat)
10 (Nyeri tidak tertahankan) Tidak
Tertahankan

Gambar 2.2 Kerangka Penelitian


63

D. Pertanyaan Penelitian/Hipotesis

Hipotesis yang akan dikemukakan untuk menjawab pertanyaan penelitian

yaitu ;

Ha : Ada hubungan dukungan emosional keluarga dengan tingkat nyeri

pada anak Acute Lymphoblastic Leukemia akibat kemoterapi di Ruang

Hemato Onkologi Tulip III A RSUD Ulin Banjarmasin.