Anda di halaman 1dari 5

FAKTOR terpenting yang menyebabkan pendidikan di Jepang berhasil adalah adanya

persamaan persepsi antara pendidikan dan masyarakat, para penyelenggara pendidikan, dan
pemakai lulusan. Semua pihak mengerti bahwa arah tujuan pendidikan adalah untuk
menghasilkan efek yang berdampak untuk jangka panjang.

Mereka memiliki dan menerapkan sebuah standar etika dan moral yang sama yang harus
ditanamkan kepada anak. Etika terhadap Sang Pencipta, orang tua, guru, pemimpin, tetangga,
alam, dan lainnya yang menjadi keselarasan dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini
diterapkan Jepang sejak tahun 1700.

Karakter mandiri yang diterapkan di keluarga, lingkungan, sekolah, dan dunia kerja membuat
negeri ini sangat teratur dan tertib. Mulai dari tata kelola desa sampai kota sangat terkonsep
bagus dan bersih. Kesuksesan ini semua diawali dari pendidikan karakter di sekolah.

Nah, selama di Jepang pekan ini ada beberapa hal saya pelajari dari apa yang mereka
terapkan sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai universitas. Terkesan sepele, tapi
sulit dilaksanakan, namun akan berpengaruh besar terhadap kebiasaan yang baik, yaitu:

1. Perlakuan terhadap sampah


“Orang yang tak bisa membuang sampah di depan matanya, apa yang dia bisa?” Ini filosofi
pendidikan yang mereka anut. Maknanya, suatu hal yang tidak baik terjadi di depan kita.
Apabila hal itu mampu kita cegah atau atasi, maka akan membawa kebaikan untuk diri
sendiri dan orang lain. Tapi jika itu tak dapat dikerjakan, maka orang tersebut dinilai tak akan
mampu mengerjakan segala hal lainnya secara baik.

Biasanya tong sampah yang disediakan di sekolah hanya empat sampai lima jenis, sementara
di lingkungan umum jumlah tongnya lebih dari lima bahkan sampai 15 jenis. Disesuaikan
dengan perkiraan jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat di lingkungan tersebut.

Bagi murid PAUD/TK ini merupakan proses awal pembelajaran pengklasifikasian (bentuk,
warna, dll) penerapan karakter mandiri, bertanggung jawab, sabar, dan hidup sehat.

2. Rak sepatu yang rapi


Hampir semua jenjang pendidikan di Jepang punya pemandangan yang sama di pintu masuk
ke sekolahnya. Yakni, rak sepatu yang tersusun rapi dengan sepatunya yang juga rapi. Ini
merupakan aplikasi nilai moral yang tinggi bagi mereka untuk meletakkan sepatu pada
tempatnya. Kalimat yang selalu dipakai untuk mengingatkan dan memotivasi murid dalam
hal ini adalah: perhatikan sepatu, kalau sepatu rapi hati bersih. Kalau sepatu bersih, hati juga
bersih.

3. Cuci tangan dan bersihkan toilet


Menjaga kebersihan diri sendiri merupakan hal yang harus dilatih oleh para pendidik
semenjak anak berada di PAUD. Seperti mencuci tangan setiap usai bermain, sebelum dan
sesudah makan, sebelum dan sesudah masuk toilet. Anak PAUD diwajibkan bawa
saputangan dan menyimpannya di kelas, sehingga setiap saat anak memcuci tangan mereka
dapat mengeringkan dengan sapu tangan tersebut. Standar cara membersihkan toilet pun
sudah diajarkan di PAUD Jepang.

4. Memelihara tanaman dan hewan piaraan


Pendidikan memelihara tanaman dan hewan piaraan juga diajarkan di sekolah. Di PAUD,
setiap anak memiliki tanaman hias sendiri yang dirawatnya setiap hari, begitu pula di SD
Unesco di Nagoya, Jepang. Salah satu programnya adalah menanam dan mengamati
pertumbuhan sebatang pohon. Dari kelas 1 mereka sudah diberi tugas mengamati sebatang
pohon, dari proses awal pohon itu disemai sampai besar. Tujuan khususnya adalah
membiasakan anak melakukan penelitian sembari mengajari ia menulis, berhitung, membaca,
dan ilmu lainnya, di samping tujuan utamanya adalah mencintai lingkungan.

5. Menyayangi kakak dan adik kelas


Salah satu program yang khusus diterapkan di SD Unesco Jepang adalah kakak kelas harus
dapat membimbing adik-adik kelasnya. Setiap anak kelas satu, dua, dan tiga punya satu
kakak kelas yang ditunjuk guru untuk membimbing adik kelas mereka. Setiap jam istirahat
mereka bertemu di aula sekolah sekitar 15 menit untuk membahas masalah yang dihadapi
adik kelas masin-masing. Jadi, bila adik kelas mendapat masalah di sekolah, maka kakak
kelaslah yang akan ditanyai oleh guru. Bila kakak kelas mendapat masalah, maka guru akan
membantunya.

6. Jalan kaki atau naik sepeda


Mengantar anak ke PAUD harus dilakukan oleh orang tua dengan berjalan kaki atau naik
sepeda, meskipun di rumah mereka punya mobil. Hal ini merupakan pembiasaan sejak dini
kepada anak-anak bahwa berjalan kaki atau naik sepeda itu akan membuat badan sehat dan
membuat lingkungan bebas polusi.

7. Mencintai budaya lokal


“Kyouiku wa deai nari, deai wa kando nari”, artinya pendidikan adalah tempat untuk bertemu
dalam rangka mencapai kebahagiaan. Untuk melestarikan budaya, ada program menarik
dilaksanakan di TK dan SD, yaitu mengundang kakek dan nenek untuk bercerita kepada
anak-anak bagaimana dulu mereka menjaga negeri dan ibu bapak mereka.

Masih banyak lagi model penerapan karakter yang dilaksanakan di setiap lembaga
pendidikan di Jepang, selain yang saya sebutkan tadi. Lebih jauh lagi, keberhasilan
pendidikan karakter ini sangat sinergi dengan apa yang dipelajari anak di sekolah dengan
yang anak dengar, lihat, dan rasakan di lingkungannya.
TAK bisa dipungkiri lagi, bangsa kita saat ini sedang dalam kondisi “sakit”. Sakit
yang sangat mengkhawatirkan karena berhubungan dengan jati diri bangsa. Bangsa Indonesia
yang dulu dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, toleransi tinggi, suka bergotong royong
seakan-akan sudah pudar dari dalam diri masyarakat Indonesia. Lihat saja tragedi Tolikara
yang baru-baru ini terjadi. Ketenangan dan kedamaian di hari suci salah satu umat beragama
terusik karena segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki toleransi tinggi antar umat beragama,
seakan lenyap sudah karena peristiwa itu. Bersifat akut karena sudah melanda semua lini
masyarakat. Lihat kasus korupsi yang saat ini telah banyak di bongkar oleh Komisi
Pemberantas Korupsi. Ternyata tidak hanya dilakukan oleh mereka yang notebenenya dari
kalangan ekonomi lemah tetapi banyak berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas
bahkan terpelajar.

Jika kita mau jujur inilah salah satu hasil dari buah pendidikan yang selama ini
diterapkan negara kita. Pendidikan yang lebih mengedepankan hasil dari pada proses.
Mengagungkan angka dari pada nilai. Mengedepankan persaingan dengan sistem ranking dari
pada kebersamaan. Mengutamakan prestasi akademis dari pada non akademis. Padahal
kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi yang bersifat akademis semata.
Seperti kecerdasan untuk bekerjasama dengan orang lain dalam satu tim. Tidak akan pernah
diperoleh anak dalam sistem pendidikan yang lebih mengutamakan angka-angka dan hasil.
Sedangkan yang dibutuhkan dalam dunia kerja saat ini, bukanlah hanya kepintaran individual
tetapi kemampuan seseorang bekerjasama dalam tim. Hal inilah kiranya yang perlu menjadi
renungan bersama buat kita.

Tahun 2003, pemerintah kita menyadari tantangan dan kekeliruan dalam


penyelenggaraan pendidikan di negara kita. Pemerintah pun mengambil langkah, mulai
menggalakkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Tetapi yang terjadi
adalah kegamangan dari pendidik dalam menerapkan pendidikan karakter. Satu dasawarsa
lebih sudah berlalu sejak pencanangan pendidikan karakter dalam pendidikan nasional. Hasil
yang diperoleh masih sangat jauh panggang dari api. Apa yang sesungguhnya telah terjadi
dalam penerapan pendidikan karakter di dunia pendidikan kita? Mengapa terasa sulit
menerapkan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan kita? Pada tulisan ini, penulis
mencoba untuk mengajak pembaca untuk bercermin pada pendidikan karakter di Jepang.

Mengapa Jepang? Karena Negara Jepang merupakan salah satu negara maju dalam
semua bidang terutama ekonomi dan IPTEK tetapi tanpa meninggalkan akar budaya bangsa
mereka yang terkenal dengan disiplin tinggi dan pekerja keras. Lebih khusus lagi, refleksi
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter di Jepang.

Faktor pertama yang menjadi kunci keberhasilan dari pendidikan karakter di Jepang
adalah adanya persamaan persepsi antara pendidikan dan masyarakat, para penyelenggara
pendidikan dan pemakai lulusan. Semua pihak mengerti bahwa arah tujuan pendidikan adalah
untuk menghasilkan efek yang berdampak untuk jangka panjang. Contohnya dari yang paling
sederhana tentang aturan bagi murid SD yang harus berjalan kaki saat berangkat ataupun
pulang sekolah. Mereka tidak diantar atau tidak naik kendaraan umum. Kewajiban berjalan
kaki ini diterapkan ketat walaupun saat hujan deras atau pun turun salju cukup lebat
sekalipun.
Anak-anak tetap harus berangkat atau pulang sekolah dengan berjalan kaki
mengenakan payung, jas hujan dan sepatu boot kedap air. Pengecualian hanya diberikan
ketika anak kurang enak badan, terlambat sekolah sehingga tertinggal oleh rombongan atau
ketika badai taifun. Akan tetapi, walaupun harus berjalan kaki tidak disediakan jasa antar
jemput bagi anak-anak SD, namun keamanan dan keselamatan mereka tetap menjadi
perhatian bersama. Salah satu upaya untuk mewujudkan keselamatan tersebut, masyarakat
saling bergotong royong menjaga mereka selama perjalaan ke dan dari sekolah. Bukan hanya
orang tua dan polisi, namun juga guru dan para voluntir dari masyarakat diberdayakan untuk
menjaga anak-anak tersebut. Mereka tugas bergiliran, sesuai jadwal piket yang telah
ditentukan oleh PTA, guru dan anggota masyarakat.

Faktor kedua, pendidikan karakter menjadi fokus pada pendidikan anak usia dini.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter sedari dini sangatlah dipahami oleh
pemerintah Jepang. Sehingga fokus utama pendidikan anak usia dini (TK) dan dasar (SD)
adalah pada pembentukan karakter. Hal ini dapat dilihat dari pengembangan kurikulum yang
dilakukan di TK dan SD. Di TK anak dididik agar terbangun kekuatan anak untuk hidup dan
memiliki landasan hidup yang kuat untuk menapaki langkah selanjutnya di kehidupan
mereka. Landasan hidup yang dimaksud adalah kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial
yang baik, hubungan yang baik dengan lingkungan, kemampuan berbahasa serta kemampuan
ekspresi, kreativitas dan seni. Di SD setiap sekolah harus memastikan bahwa setiap aktivitas
pendidikan mereka mengandung nilai moral. Baik dalam mata pelajaran, aktivitas khusus
maupun pelajaran terintegrasi.

Dalam pelaksanaannya, kurikulum diterapkan dengan berpegang pada konsep


“seikatsu-ka (living environmental study)” dan “sougou gakusyuu (integrated learning)”
yaitu pendidikan yang berfokus pada minat anak-anak dan pentingnya belajar melalui
pengalaman langsung. Di Jepang sendiri, meskipun ada pelajaran moral (doutoku) dan ada
kurikulumnya secara spesifik apa yang harus diajarkan, namun apa definisi moral, baik-
buruk, benar-salah, sama sekali tidak ada batasannya. Penekanannya lebih kepada nilai-nilai
yang dianggap baik secara universal, seperti nilai-nilai kejujuran, kerja keras, menghormati
hak orang lain, disiplin, rasa malu ketika tidak memenuhi kewajiban, dan sebagainya.

Pengembangan kurikulum ini pun secara konsisten dilakukan oleh sekolah sampai
tahap evaluasi kurikulum. Contohnya program manajemen diri yang dilakukan di TK. Sejak
anak usia TK, anak telah dibiasakan untuk mengatur waktu tidur, bermain, belajar, membaca,
membantu orangtua dan lain-lain. Manajemen diri pun di evaluasi melalui beberapa formulir
isian atau kartu yang diisi anak dan orangtua. Contohnya tentang jadwal keseharian anak.
Pukul berapa bangun tidur, sarapan, bersekolah, bermain, mandi, belajar, membantu orang
tua dan sebagainya. Sekolah kemudian mengolah data yang diperoleh dari siswa. Berapa
persen anak yang dapat bangun pagi (sebelum jam 6), berpa persen yang tidur jam 9 malam,
rata-rata berapa buku yang dibaca anak dalam sehari dan lain-lain. Data ini yang nantinya
akan dijadikan bahan evaluasi bersama sekolah dan orang tua untuk memperbaiki kualitas
manajemen diri siswa. Melalui formulir evaluasi tersebut orangtua juga makin terpacu untuk
memotivasi anak agar lebih baik lagi.

Faktor Ketiga, mengutamakan membangun kesadaran atau kesukaan akan nilai-nilai


moral yang ditanamkan. Tidak ada doktrin atau paksaan dalam pembelajaran ketika
menanamkan nilai-nilai moral pada anak di Jepang. Sebagai contoh, dalam penyampaian
mata pelajaran moral, tentang berbohong, pendekatan yang dilakukan oleh guru Jepang
adalah tidak dengan mendoktrin tentang pentingnya untuk berlaku jujur, namun dengan
mengajak anak-anak berdiskusi tentang akibat-akibat berbohong. Tidak ada yang malu
bertanya dan mentertawakan teman yang sedang bertanya, bahkan dalam menjawab
pertanyaan guru pun, semuanya beradu cepat serentak mengacungkan tangan seraya
meneriakkan “haik” dengan lantang.

Diskusi interaktif itu menggiring siswa untuk berpikir tentang pentingnya


melaksanakan nilai-nilai moral yang akan diajarkan. Tidak ada proses menghafal, juga tidak
ada tes tertulis untuk pelajaran moral ini. Untuk mengecek pemahaman siswa tentang
pelajaran moral yang diajarkan, mereka diminta untuk membuat karangan, atau menuliskan
apa yang mereka pikirkan tentang tema moral tertentu. Kadang mereka juga diputarkan film
yang memiliki muatan moral yang akan diajarkan, kemudian mendiskusikan makna dari film
tersebut

Kesadaran untuk menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini pun sangat melekat pada
para pendidik. Mereka tidak hanya mengajar tetapi mendidik dengan sepenuh hati. Mereka
mendidik karena hanya dengan mendidik terjadi proses membangun moral/perilaku atau
karakter anak. Sedangkan dengan mengajar, anak hanya menjadi tahu dari tidak tahu dan
menjadi bisa dari tidak bisa.

Produk dari pengajaran adalah terbangunnya cara berpikir kritis dan kreatif yang
berhubungan dengan intelektual sementara produk dari pendidikan adalah terbangunnya
prilaku/akhlak yang baik. Inilah, beberapahal yang kiranya dapat menjadi bahan renungan
kita semua yang peduli pendidikan di negara kita. Sehingga slogan pendidikan karakter yang
banyak terpampang di sekolah tidak hanya sekadar tulisan saja. Mata pelajaran Agama,
Pendidkan Pancasila dan kewarganegaraan tidak hanya membuat anak menjadi cerdas dalam
di kertas saja. Karena yang dibutuhkan adalah aplikasi nilai moral itu dalam kehidupan
sehari-hari tidak hanya jago sebatas hafalan yang semua dapat diperoleh dalam semalam dan
hilang ketika mereka bergaul dalam masyarakat. Negara Jepang bisa maju karena tetap
berpegang kuat pada budaya leluhur mereka yang telah tertanam sejak tahun 1700. Dan
adanya satu persamaan etika yang jelas dalam kehidupan bermasayarakat. Bangsa kita pun
akan tetap dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, toleransi tinggi dan berbudaya gotong
royong yang tinggi ketika kita semuanya mau kembali pada nilai-nilai bangsa ini.
Wallaahu’alam bi showab.