Anda di halaman 1dari 11

BAB III

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas tentang diagnosa keperawatan.


Alasan prioritas, rencana tindakan, dan rasionalnya, implementasi dengan
kekuatan atau kelemahan dan evaluasi. Dalam bab ini juga akan dibahas tentang
kesenjangan antara konsep pada teori dengan kenyataan yang ada di lapangan.
Dari hasil pengkajian pada tanggal 18 Oktober 2011 pada Ny. A dengan TB Paru,
penulis memperoleh data yang digunakan untuk menegakkan diagnosa
keperawatan. Diantaranya kebutuhan bernapas dengan normal, pasien mengeluh
sesak nafas, menurut teori hal tersebut terjadi karena individu mengalami
penurunan jalannya gas (oksigen dan karbondioksida) yang aktual (atau dapat
mengalami potensial) antara alveoli paru-paru dan sistem vaskuler (Carpenito,
2001), klien juga mengalami batuk berdahak, RR : 26 x/menit, Terdapat
akumulasi sputum, Pada pengkajian paru, khususnya pada auskultasi terdapat
suara ronkhi pada lobus kanan atas, Klien terpasang O2 dengan kanul dengan
terapi 2 liter/menit, Irama napas klien tidak teratur.
Kebutuhan nutrisi adekuat, Pasien makan habis seperempat porsi, berat
badan klien sebelum sakit 50 kg, pada pengkajian nutrisi didapatkan data
Antopometri (A) meliputi TB : 148 cm, BB : 46 kg, LILA : 22 cm, IMT : 21
kg/m2, BBI : 43,2 – 52,8 kg, Biokimia (B) : Hb : 12,0 gr/dl, GDS : 155,0 gr%,
Clinical Sign (C) : Rambut jika dipegang dengan jari rontok, warna rambut putih,
lubrikasi batang rambut kering, Diet (D) : TKTP.
Kebutuhan keseimbangan gerak, Klien tampak lemah hal ini terjadi karena
individu mengalami kecapaian yang berlebihan terus menerus dan penurunan
kapasitas kerja fisik dan mental (Carpenito,2001). Semua aktivitas klien dibantu
oleh keluarga, Kemampuan pasien dalam bernapas dilakukan secara mandiri,
Kemampuan pasien dalam makan, berjalan, mandi, berpakaian, toileting, dibantu
oleh keluarganya, Indeks KATZ adalah F.
Dari pemeriksaan fisik diperoleh data keadaan umum pasien lemah, vital
sign TD : 120/80 mmHg, S : 36,1 0C, N : 96 kali/menit, RR : 26 kali/menit,
mukosa bibir kering. Pada dada I : bentuk dada simetris, P : vokal fremitus antara
paru-paru kanan dan kiri sama, tidak ada nyeri tekan, P : sonor, A : Terdapat suara
Ronkhi pada lobus kanan atas. Pada ekstermitas turgor kulit baik, terpasang infus
RL 20 tetes/menit. Dari data-data diatas penulis mengangkat diagnosa
keperawatan sebagai berikut :
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi sekret
Menurut NANDA 2009 – 2011, Tidak efektifnya bersihan jalan nafas
adalah ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari
saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas. Menurut NANDA
2009 – 2011, batasan karakteristik untuk diagnosa tidak efektifnya bersihan
jalan nafas adalah suara napas tambahan, perubahan frekuensi napas,
perubahan irama napas, sianosis, sesak napas, kesulitan berbicara, penurunan
bunyi napas, dispnea, sputum dalam jumlah yang berlebihan, batuk yang tidak
efektif, ortopnea, gelisah, dan mata terbuka lebar. Sedangkan data yang
ditemukan pada Ny. A adalah pasien mengatakan sesak nafas, klien juga
mengalami batuk berdahak, RR : 26 x/menit, Terdapat akumulasi sputum,
Pada pengkajian paru, khususnya pada auskultasi terdapat suara ronkhi pada
lobus kanan atas, Klien terpasang O2 dengan kanul dengan terapi 2 liter/menit,
Irama napas klien tidak teratur. Dari data teori dan data yang didapat dari
pasien sudah sesuai yaitu adanya frekuensi pernafasan tak normal, bunyi nafas
tak normal (ronchi), dispnea (sesak nafas), irama napas tidak normal (tidak
teratur), terdapat akumulasi sputum. Dari data diatas penulis memprioritaskan
masalah pada prioritas yang pertama karena bersifat segera yaitu suatu
keadaan yang mengancam dan memerlukan perawatan yang tepat dan apabila
tidak segera diatasi akan mengancam kehidupan (Effendy, 1995)
Untuk mengatasi masalah diatas penulis membuat rencana
keperawatan yang bertujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan jalan nafas kembali efektif dengan kriteria hasil Batuk
berdahak pada klien berkurang, RR klien berada pada rentang normal yaitu 16
– 24 x/menit, Tidak terdapat lagi suara ronchi pada paru-paru klien, Klien
tidak terpasang O2, yaitu berikan posisi semi fowler, rasionalnya adalah posisi
membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan
(Tarwoto, 2006). Kaji fungsi pernafasan rasionalnya adalah penurunan bunyi
nafas dapat menunjukkan atelektasis dan ronchi (Tarwoto, 2006). Bersihkan
sekret dari mulut rasionalnya adalah mencegah obstruksi atau aspirasi,
penghisapan dapat diperlukan bila pasien tak mampu mengeluarkan secret
(Tarwoto, 2006). Mencatat kemampuan untuk batuk efektif rasionalnya adalah
mengetahui apakah pasien mampu mengeluarkan sputum (Tarwoto, 2006).
Kobalorasi dengan pemberian obat sesuai indikasi rasionalnya adalah
menurunkan kekentelan sekret dan respon inflamasi (Tarwoto, 2006).
Adapun tindakan yang dilakukan selama 3x24 jam diantaranya
mengkaji fungsi pernafasan atau vital sign. Kekuatan tindakan ini adalah dapat
menunjukkan terjadinya ronkhi, akumulasi sekret dan ketidakmampuan
mengeluarkan sekret. Memberikan posisi semi fowler, kekuatan tindakan ini
yaitu dapat membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya
pernafasan. Kelemahannya, pasien merasa bosan, tidak nyaman untuk
bergerak. Mencatat kemampuan untuk batuk efektif, kekuatan tindakan ini
dapat mengetahui apakah pasien mampu mengeluarkan sputum, kelemahan
dari tindakan ini pasien merasakan nyeri abdomen saat batuk. Memberikan
obat ambroxol 20 mg dan Cefotaxim 2x1000 mg tindakan ini dapat
melemahkan bakteri yang ada pada jalan nafas dan mengurangi batuk.
Hambatan dari tindakan ini, pasien merasa bosan bila terus disuntik dan
minum obat.
Evaluasi yang didapat setelah 3x24 jam diperoleh pada tanggal 21
Oktober 2011 S: Pasien mengatakan masih batuk berdahak dan sesak napas, O
: RR : 26 x/menit, pasien sesak, terdapat ronchi, posisi semi fowler. A :
masalah belum teratasi. P: lanjutkan intervensi, berikan posisi semi fowler,
kaji fungsi pernafasan, catat kemampuan untuk batuk efektif, pertahankan
masukan cairan, bersihkan sekret dari mulut, kolaborasi dengan tim medis.
Evaluasi tanggal 21 Juli 2005 jam 12.00 WIB S : pasien mengatakan sesak
berkurang, O : RR : 24 kali/menit, terdapat ronchi, posisi tidur pasien tanpa
menggunakan registin. A : masalah teratasi sebagian. P : planing lanjutkan
intervensi. Karena keterbatasan waktu, penulis mendelegasikan ke perawat
ruangan untuk perawatan lebih lanjut.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan
dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang berisiko mengalami
penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan tak adekuat atau
metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik
(Carpenito, 2000 : 259). Menurut Marilynn.E.Doenges,1999;246 diagnosa
yang ditandai dengan berat badan dibawah 10% - 20%, melaporkan kurang
tertarik pada makanan, gangguan sensasi pengecap, tonus otot buruk. Data
yang didapat dari pasien yaitu pasien mengatakan nafsu makan menurun dan
sering mual dan muntah, pasien makan habis ¼ porsi, turgor kulit kering,
pasien muntah saat makan, Berat Badan sebelum sakit 40 kg Berat Badan
selama sakit 37 kg. Dari data teori dan yang ada di lapangan sudah sesuai
yaitu adanya penurunan berat badan, kurang tertarik pada makanan, gangguan
sensasi pengecap (mual muntah). Dari data diatas penulis memprioritaskan
masalah yang kedua karena bersifat urgen yaitu masalah pasien memerlukan
pelayanan yang tepat terhadap suatu keadaan yang tidak mengandung resiko
tinggi (Effendy, 1995 : 35)
Untuk mengatasi masalah diatas penulis membuat rencana
keperawatan yang bertujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
2x24 jam diharapkan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil pasien makan
habis 1 porsi, turgor kulit baik, tidak muntah atau mual, berat badan
meningkat. Antara lain catat status nutrisi pasien, catat turgor kulit. Rasional
dari tindakan ini adalah berguna dalam mendefinisikan derajat atau luasnya
masalah dan pilihan intervensi yang tepat. (Doenges, 1999 : 246). Awasi
masukan dan pengeluaran secara periodik. Rasionalnya dapat berguna dalam
mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan. (Doenges, 1999 : 247)
Selidiki anorexia, mual dan muntah, rasional dari tindakan ini adalah dapat
mempengaruhi pilihan diet dan mengidentifikasi area pemecahan masalah
untuk meningkatkan pemasukan atau penggunaan nutrien (Doenges, 1999 :
247). Dorong dan berikan periode istirahat sering, rasional : membantu
menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat
demam. (Doenges, 1999 : 247). Dorong makan sedikit dengan frekuensi
sering, rasional memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak
perlu/kebutuhan energi dari makan makanan banyak dan menurunkan iritasi
gaster. (Doenges, 1999 : 247). Dorong orang terdekat untuk membawa
makanan dari rumah. Rasional membuat lingkungan sosial lebih normal
selama makan dan membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural.
(Doenges, 1999 : 247) Kolaborasi dengan tim medis. Rasional : memberikan
bantuan dalam perencanaan diet.
Adapun tindakan yang dilakukan selama 2x24 jam diantaranya
mencatat status nutrisi pasien dan turgor kulit kekuatan dari tindakan ini dapat
mengidentifikasi pilihan intervensi yang tepat. Memonitor masukan dan
pengeluaran secara periodik. Kekuatan dari tindakan ini dapat mengetahui
masukan dan pengeluaran nutrisi pasien. Memonitor adanya mual dan muntah
kekuatan dari tindakan ini untuk mengetahui pilihan diet yang disukai pasien
untuk menambah masukan nutrisi pasien, menganjurkan pasien untuk
istirahat, kekuatan tindakan ini adalah dapat menghemat energi pasien,
hambatan dari tindakan ini adalah kadang pasien merasa bosan untuk tidur.
Menganjurkan makan sedikit tapi sering. Kekuatan tindakan ini adalah untuk
menghindari adanya muntah. Hambatan dari tindakan ini adalah pasien malas
untuk makan. Menganjurkan keluarga untuk membawa makanan tambahan
dari rumah yang pasien inginkan. Kekuatan dari tindakan ini adalah untuk
memberikan makanan kesukaan pasien dan menambah asupan nutrisi pasien.
Kolaborasi dengan tim medis yaitu memberikan obat plastasid sirup 3x1
sendok, memberikan injeksi ulkument 3x2 ml. Kekuatan dari tindakan ini
adalah dapat menurunkan mual dan muntah pasien.
Hambatan dari tindakan diatas adalah pasien malas untuk minum obat.
Pembenaran dari implementasi kolaborasi dengan tim medis adalah penulis
tidak melakukan kolaborasi dengan medis melainkan penulis hanya
meneruskan teraphy pada hari sebelumnya, karena perawat sudah memberikan
obat sebelum penulis melakukan asuhan keperawatan.
Evaluasi yang didapat setelah 2x24 jam diperoleh tanggal 20 Juli 2005
jam 12.00 WIB S : pasien mengatakan mual muntah. O : pasien mengatakan
habis ¼ porsi, turgor kulit kering, berat badan 37 kg. A : masalah belum
teratasi. P : lanjutkan intervensi, catat status nutrisi pasien dan catat turgor
kulit, awasi masukan dan pengeluaran secara periodik, selidiki anorexia mual
muntah, dorong dan berikan periode istirahat sering, dorong makan sedikit
dengan frekuensi sering, dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari
rumah, kolaborasi dengan tim medis. Tanggal 21 Juli 2005 S : pasien
mengatakan nafsu makan meningkat. O : pasien makan habis 1 porsi, pasien
tidak muntah waktu makan, turgor kulit baik, berat badan 37 kg. A : masalah
teratasi. P : planing pertahankan intervensi.

3. Intoleran aktivitas berhubungan denagan keletihan atau kelemahan fisik


Intoleran aktivitas adalah penurunan dalam kapasitas fisiologis
seseorang untuk melakukan aktivitas sampai tingkat yang diinginkan atau
yang dibutuhkan (Carpenito,2000). Menurut Carpenito, 2000 : 2 diagnosa
kelemahan, keletihan akibat aktivitas, pusing, dispnea, pucat aatau sianosis.
Sedangkan data yang ditemukan dari pasien adalah pasien mengatakan
badannya lemas, aktivitas dibantu keluarga, pasien bedrest. Dari data teori dan
data lapangan sudah sesuai yaitu dengan adanya kelemahan, keletihan. Untuk
diagnosa ini penulis memprioritaskan masalah yang ketiga karena masalah
pasien tidak mengandung resiko tinggi (Effendy, 1995 : 35). Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan intoleran aktivitas teratasi
dengan kriteria hasil pasien dapat beraktivitas sendiri. Adapun rencana
tindakan yang dilakukan adalah kaji kemampuan pasien untuk melakukan
aktivitas. Rasional,adalah mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan (Doenges,
1999). Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring, rasional ,
meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan dan menurunkan
regangan jantung dan paru (Doenges, 1999). Ubah posisi pasien dengan
perlahan dan pantau terhadap pusing, rasional, hipotensi postural/hipoxia
cerebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut, dan peningkatan risiko cidera
(Doenges, 1999). Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, rasional, meningkatkan
aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot (Doenges, 1999).
Gunakan teknik penghematan energi, rasional : mendorong pasien melakukan
banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan
(Doenges, 1999). Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila terjadi
nafas pendek, pusing. Rasional regangan atau stres kardiopulmonal berlebihan
atau stres dapat menimbulkan dekompensasi atau kegalalan (Doenges, 1999)
Adapun tindakan yang dilakukan untuk diagnosa intoleran aktivitas
berhubungan dengan keletihan atau kelemahan fisik. Meliputi, mengkaji
kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas, kekuatan dari tindakan ini
adalah dapat mengetahui pilihan intervensi pasien, menganjurkan dan
memberikan lingkungan yang tenang dan tirah baring kekuatannya dapat
menurunkan sesak nafas atau regangan jantung. Kelemahan atau hambatan
dari tindakan ini pasien sulit untuk istirahat karena seringnya keluarga
mengunjungi pasien. Mengubah posisi pasien dengan perlahan dan memantau
adanya pusing kekuatan tindakan ini dapat mengantisipasi risiko cidera.
Menganjurkan aktivitias sesuai kemampuan pasien, kekuatan tindakan ini
dapat mengembalikan / memperbaiki tonus otot dan aktivitas sampai keadaan
normal. Hambatan kadang dalam aktivitas,pasien memaksakan diri untuk
beraktivitas misal pasien akan BAK ke kamar mandi, menyarankan untuk
menghemat energi tindakan ini dapat mencegah kelemahan pasien,
menganjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila sesak nafas.
Evaluasi yang didapat setelah 2x24 jam didapat pada tanggal 20 Juli
2005 jam 12.00 WIB S : pasien mengatakan badan masih lemas. O : aktivitas
dibantu keluarga, pasien bedrest, keadaan umum lemah. A : masalah belum
teratasi. P : lanjutkan intervensi, kaji kemampuan pasien untuk melakukan
aktivitas, berikan lingkungan tenang, dan pertahankan tirah baring, ubah posisi
pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing, tingkatkan aktivitas
sesuai toleransi, gunakan teknik penghemat energi, anjurkan pasien
menghentikan aktivitas bila terjadi nafas pendek. Pada tanggal 21 Juli 2005
jam 12.00 WIB S : pasien mengatakan masih lemas. O : pasien dapat berjalan
dengan bantuan, keadaan lemah, pasien dapat duduk, miring kanan dan ke kiri.
A : masalah teratasi sebagian. P : planing lanjutkan semua intervensi dengan
pendelegasian ke perawat ruangan karena keterbatasan waktu penulis untuk
melakukan asuhan keperawatan.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi aturan tindakan
dan pencegahan berhubungan dengan keterbatasan kognitif
Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu
atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan-
ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan
(Carpenito, 2000 : 223). Menurut Marilynn.E.Doenges,1999;247 permintaan
informasi, menunjukkan kesalahan konsep tentang status kesehatan. Kurang
atau tidak akurat mengikuti instruksi atau perilaku menunjukan atau
memperlihatkan perasaan terancam. Ditemukan data dari pasien mengatakan
tidak mengerti mengenai penyakitnya, pasien bertanya tentang penyakitnya,
gelisah, bingung, pendidikan SD.
Data yang sesuai dengan teori adalah adanya permintaan informasi,
memperlihatkan perasaan terancam (gelisah, bingung). Dalam penempatan
diagnosa ini penulis memprioritaskan pada tempat keempat karena termasuk
masalah non urgen yaitu masalahnya timbul secara perlahan dan dapat
ditolerir oleh pasien sendiri (Effendy, 1995 : 35).
Adapun rencana keperawatan yang dibuat penulis bertujuan setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama kurang lebih 30 menit diharapkan
pasien mengerti tentang penyakitnya dengan kriteria hasil, pasien tidak lagi
bertanya mengenai penyakitnya, pasien tidak bingung. Adapun intervensi yang
dibuat antara lain : kaji kemampuan pasien untuk belajar. Rasional belajar
tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan
individu (Doenges, 1999 : 248). Berikan instruksi dan informasi tertulis.
Rasional, informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat
sejumlah besar informasi, pengulangan menguatkan belajar (Doenges, 1990 :
248). Tekankan pentingnya memberikan protein tinggi dan karbohidrat.
Rasional, memenuhi kebutuhan metabolik, membantu meminimalkan
kelemahan dan meningkatkan penyembuhan, cairan dapat mengencerkan atau
mengeluarkan sekret (Doenges, 1999 : 248). Identifikasi gejala yang harus
dilaporkan ke perawat, rasional dapat menunjukkan kemajuan atau
pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut
(Doenges, 1999 : 248).
Sedangkan implementasi yang dilakukan antara lain : mengkaji
kemampuan pasien seberapa jauh pasien mengerti tentang penyakitnya.
Kekuatan dari tindakan ini adalah dapat memberikan penyuluhan kesehatan
dan kesiapan fisik dan ditingkatkan. Pada tahapan individu memberikan
informasi tertulis mengenai penyakitnya dengan menjelaskan pengertian TB
Paru, etiologi, tanda dan gejala serta cara penularan TB, pencegahan, dan
pengobatan. Kekuatan dari tindakan ini adalah pasien dapat mengerti cara
penularan dan pencegahan serta pengobatan selama di rumah. Kelemahan dari
tindakan ini, pasien kurang dapat mengingat informasi yang diberikan apabila
penjelasan tidak sering diulang. Memberikan kesempatan pasien untuk
bertanya. Kekuatan dari tindakan ini bisa memotivasi dan meningkatkan harga
diri pasien pada diagnosa ini, ada dua intervensi yang penulis tidak lakukan
yaitu tekankan pentingnya memberikan protein tinggi dan karbohidrat dan
identifikasi gejala adanya nyeri dada, demam, kesulitan bernafas. Penulis tidak
melakukan intervensi tersebut karena penulis menganggap intervensi tersebut
sudah dilakukan pada diagnosa kurang nutrisi dan ketidakefektifan bersihan
jalan nafas.
Evaluasi dilakukan pada tanggal 21 Juli 2005 jam 10.30 WIB didapat
data subyektif pasien mengatakan sudah mengerti tentang penyakit TB Paru,
penyebab, tanda dan gejala, penularan dan pencegahan serta penatalaksanaan
di rumah. Didapat data obyektif pasien dan keluarga mampu menjelaskan dan
menjawab pertanyaan yang diberikan. Analisa masalah teratasi dengan planing
pertahankan intervensi.
Masalah keperawatan yang muncul pada fokus intervensi tetapi tidak
muncul pada pasien antara lain :
1. Resiko tinggi infeksi (Penyebaran aktivitas ulang) berhubungan dengan :
Pertahanan primer tidak adekuat, penurunan kerja silia atau
statis sekret
Kerusakan jaringan atau tambahan infeksi
Penurunan pertahanan atau penekanan proses inflamasi
Malnutrisi
Terpajan lingkungan.
Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu
berisiko terserang oleh agens patogent atau oportunistik (virus, jamur,
bakteri, protozoa, atau parasit lain) dari sumber-sumber eksternal. Sumber-
sumber endogen atau eksogen (Carpenito, 2000 : 204). Diagonosa ini tidak
diangkat penulis karena tidak ada data yang mendukung untuk mengambil
diagnosa tersebut yaitu dengan data tidak dapat diterapkan, adanya tanda-
tanda dan gejala membuat diagnosa aktual (Doenges, 1999 : 242).
Diagnosa ini tidak diangkat penulis tidak akan berdampak buruk karena
penyebabnya sudah dibahas dan diangkat dalam diagnosa keperawatan
tidak efektifnya bersihan jalan nafas yang telah diatasi masalahnya.
2. Risiko tinggi terhadap perusakan pertukaran gas berhubungan dengan :
Penurunan permukaan efektif paru, atelektasis
Kerusakan membran alveolar, kapiler
Sekret kental, tebal
Edema bronkial.
Kerusakan pertukaran gas : keadaan dimana seorang individu
mengalami penurunan jalannya gas (oksigen dan karbondioksida) yang
aktual (atau dapat mengalami potensial) antara alveoli paru-paru dan
sistem vaskuler (Carpenito, 2000 : 327).
Diagnosa ini tidak dapat diangkat karena tidak ada tanda dan gejala
yang mendukung pengambilan diagnosa tersebut. Diagnosa ini tidak
diangkat namun tidak berakibat buruk karena faktor risiko tidak muncul
atau ditemukan pada lapangan.
Masalah keperawatan yang muncul pada fokus intervensi terapi
tidak muncul pada pasien antara lain :
a. Risiko tinggi infeksi (penyebaran atau aktivitas ulang) berhubungan
dengan :
Pertahanan primer tak adekuat, penurunan kerja silia atau
stasis sekret
Kerusakan jaringan atau tambahan infeksi
Penurunan pertahanan atau penekanan proses inflamasi
Malnutrisi
Terpajan lingkungan.
Diagnosa ini tidak diangkat penulis karena tidak ada data yang mendukung
untuk mengambil tersebut.