Anda di halaman 1dari 23

BAB VIII

METODA MATRIKS FLEKSIBILITAS

8.1 Umum
Dalam bahasan Bab VI sebelumnya telah dijelaskan bahwa metoda gaya
memperlakukan gaya reaksi sebagai besaran yang tidak diketahui serta yang akan
dihitung terlebih dahulu. Penentuan komponen gaya menyangkut derajat ketidak-
tentuan statis sistem struktur, yaitu yang merupakan kelebihan jumlah komponen gaya
yang belum diketahui dibandingkan dengan jumlah persamaan keseimbangan bebas
yang tersedia.
Dalam Bab V juga telah dibahas konsep gaya kelebihan yang menyangkut orde
ketidak-tentuan statis sistem struktur yang dihadapi. Paparan di atas menyiratkan bahwa
selain persamaan keseimbangan, dibutuhkan persamaan tambahan sejumlah orde
ketidak-tentuan statis sistem struktur, dan persamaan tambahan ini diperoleh dengan
jalan penerapan kriteria keserasian perpindahan.
Andaikanlah kita menghadapi sistem persamaan dengan sejumlah f komponen
gaya yang tidak diketahui dan sejumlah e persamaan keseimbangan yang bebas;
dengan demikian, derajat ketidak-tentuan statis s menjadi

s  f e (8.1.1)
Ini berarti bahwa dari f komponen gaya yang tidak diketahui, ada sejumlah s gaya
kelebihan (redundants). Jika s gaya kelebihan ini dapat ditentukan, maka gaya-gaya
yang lain pun bisa dihitung dengan menggunakan keseimbangan.
Sayangnya, sejumlah s komponen gaya perlu dipilih tidaklah unik namun ada
sejumlah c kombinasi pilihan yang diberikan oleh

f!
c  C sf 
( f  s )! s ! (8.1.2)

Sejumlah c kombinasi dari sistem persamaan simultan berorde s dapat disusun


dengan menerapkan kriteria keserasian di arah s gaya-gaya yang dipilih sebagai gaya
kelebihan, dapat disusun dan diselesaikan untuk mendapatkan gaya-gaya kelebihan
tersebut. Gaya-gaya kelebihan yang terhitung kemudian dapat dimasukkan ke dalam
sistem persamaan keseimbangan berorde e untuk menghitung f  s  e komponen
gaya yang lainnya. Metoda ini dinamakan metoda keserasian atau konsistensi
perpindahan, merupakan metoda gaya dan dapat dipandang sebagai embrio dari pada
metoda matriks fleksibilitas, sebagai mana akan dipaparkan dalam pasal-pasal berikut
ini.

171
8.2 Keserasian Perpindahan
Keserasian perpindahan pada hakekatnya merupakan penyataan yang integral
dari pada distribusi regangan. Demikian juga sebaliknya, kompatibilitas regangan
merupakan penjabaran daripada suatu pola perpindahan yang serasi. Dalam analisis
sistem struktur yang terdiri atas komponen batang, kita lazimnya menggunakan kriteria
keserasian perpindahan yang disusun berdasarkan kompatibilitas regangan.
Di dalam konteks sistem struktur berbentuk rangka, keserasian perpindahan dapat
dikontrol pada fungsi perpindahan yang harus memenuhi kriteria kesinambungan dan
pemenuhan syarat-syarat batas natural pada permukaan struktur maupun perletakan.
Kemudian, keserasian perpindahan dikontrol pula pada titik-titik simpul, sesuai dengan
sifat kesinambungan antar elemen-elemen atau komponen-komponen yang bertemu
pada sambungan. Dalam sambungan yang kaku, keserasian perpindahan menuntut
translasi dan rotasi yang bernilai unik pada titik simpul. Dalam kasus sambungan sendi,
nilai translasi harus unik, namun ujung-ujung batang dapat saling berotasi antar
sesamanya. Lihat Gambar 8.2.1 sebagai penjelasan.

u u
0 03

0 01
v v

1 3 0 1 3 02

2 2

(a) sambungan kaku (b) sambungan sendi

Gambar 8.2.1: Keserasian Perpindahan Simpul

Pada perletakan, komponen perpindahan harus sesuai dengan kapasitas


kekangan yang ada. Untuk perletakan jepitan, baik translasi maupun rotasi, harus
bernilai nol. Dengan demikian, garis elastis perpindahan harus menyinggung garis
sistem awal batang. Untuk perletakan sendi, dua translasi adalah nol, tetapi rotasi
umumnya ada, sehingga garis elastis perpindahan umumnya tidak menyinggung garis
awal batang. Untuk perletakan rol, hanya perpindahan translasi yang orthogonal arah
pergerakan rol, yang bernilai nol. Lihat Gambar 8.2.2 sebagai penjelasan.
Untuk penampang interior batang, fungsi perpindahan harus memiliki fungsi
perpindahan yang menerus hingga turunan tertentu. Jika tidak ada gaya terpusat, fungsi
perpindahan memiliki turunan yang menerus hingga orde tiga. Jika tidak ada momen
terpusat pada suatu titik atau penampang, fungsi perpindahan memiliki fungsi turunan
yang menerus hingga orde dua. Untuk lokasi di mana momen lentur nol, maka turunan
kedua perpindahan bernilai nol di lokasi tersebut. Kurva perpindahan mengalami

172
perobahan dari cekung ke cembung atau sebaliknya. Lokasi ini dinamakan titik balik
(inflection point).

0 0

u=v=0=0 u,v=0 u v=0

(a) jepit (b) sendi (c) rol

Gambar 8.2.2: Keserasian Perpindahan Perletakan

8.3 Metoda Keserasian Perpindahan


Tinjaulah suatu sistem struktur balok prismatic yang diletakkan menerus di atas
empat perletakan dengan beban merata penuh seperti dalam Gambar 8.3.1. Kita dapat
memandang bahwa gaya yang tidak diketahui adalah R A , RB , RC dan RD sejumlah 4
buah sehingga f  4 dengan dua persamaan keseimbangan, yaitu keseimbangan gaya
di arah vertikal dan keseimbangan momen terhadap salah satu titik, sehingga e  2 dan
s  f  e  4  2  2 . Salah dua dari empat gaya reaksi yang belum diketahui ini dapat
dipilih sebagai gaya kelebihan, dengan jumlah kombinasi menurut Pers.(8.1.1) sebanyak

4!
C 24  6
(4  2)! 2! (8.3.1)

(enam) buah kombinasi pilihan, yaitu RA dan RB , RA dan RC , RA dan RD , RB dan Rc ,


RB dan RD , serta RC dan RD .

Sebagai contoh dari salah satu pilihan, kita mengambil pasangan RB dan Rc
sebagai kombinasi gaya kelebihan. Jika kita sementara membuat gaya-gaya kelebihan
ini menjadi nol dengan menghapuskan kekangan yang mengarahkannya (dalam hal ini,
perletakan rol di B dan C ) maka didapatkan satu sistem yang statis tentu seperti
dalam Gambar 8.3.1(b). Atas sistem yang statis tentu ini dikerjakan gaya luar, dan
sistem ini dinamakan sistem primer. Akibat gaya luar ini, perpindahan di arah RB dan
Rc adalah
11qL4 11qL4
 
0
B ; C  
0
(8.3.2)
12 EI 12 EI

Kemudian, atas sistem yang statis tentu ini dikerjakan RB dan Rc secara satu per satu
untuk memberikan sistem sekunder 1 dan sistem sekunder 2. Dalam sistem sekunder 1,
RB menimbulkan perpindahan di arah RB dan Rc sebesar

173
4 L3 7 L3
 BRB   RB ;  CRB   RB (8.3.3)
9 EI 18EI

Y q
A X  BRB  CRB
Z EI B EI C EI D
L L L RB
RB RC
(a) struktur (d) sistem sekunder 1

(b) sistem statis tentu

 BRC  CRC
 Bo  Co  Co
(c) sistem primer (e) sistem sekunder 2

Gambar 8.3.1: Metoda Keserasian Perpindahan, Model 1

Dalam sistem sekunder 2, RC menimbulkan perpindahan di arah RB dan Rc


sebesar
7 L3 4 L3
 BRC   RC ;  CRC   RC (8.3.4)
18EI 9 EI

Sesuai dengan hukum superposisi, perpindahan pada arah RB dan Rc akibat gaya luar
dan gaya kelebihan merupakan perjumlahan aljabar perpindahan dalam sistem primer
dan kedua sistem sekunder, yaitu

 B   B0   BRB   BRC
(8.3.5)
 C   C0   CRB   CRC

Agar sistem primer dan dua sistem sekunder memberikan hasil yang identik dengan
sistem struktur yang sebenarnya, maka keserasian perpindahan menyaratkan bahwa
perpindahan di arah RB dan Rc masing-masing bernilai nol, yaitu

B  0
C  0 (8.3.6)
yang memberikan

 B0   BRB   BRC  0
(8.3.7)
 C0   CRB   CRC  0

Substitusi bentuk-bentuk dalam Pers.(8.3.2) hingga (8.3.4) ke dalam Pers.(8.3.7)


memberikan sistem persamaan simultan

174
4 L3 7 L3 11qL4
RB  RC  0
9 EI 18EI 12 EI
(8.3.8)
7 L3 4 L3 11qL4
RB  RC  0
18EI 9 EI 12 EI

yang dapat dituliskan di dalam format matriks sebagai

 4 L3 7 L3  11qL4 
 
 9 EI3 18EI   RB    12 EI 
    (8.3.9)
 7L 4 L3   RC  11qL4 
18EI 9 EI   12 EI 

atau secara simbolis,


F R  0  (8.3.10)

dalam mana F  adalah matriks fleksibilitas struktur, R vektor gaya kelebihan dan
  vektor perpindahan. Solusi dari sistem persamaan simultan adalah
0

 RB  11qL / 10
R  F 1 0      (8.3.11)
RC  11qL / 10

Di lain fihak, persamaan keseimbangan memberikan

RA  RB  RC  RD  2qL 0
(0) R A  ( L) RB  (2 L) RC  (3L) RD  (3L / 2) 2qL  0 (8.3.12)

yang dengan memanfaatkan hasil dalam Pers.(8.3.11), menghasilkan

RA  4qL / 10 ; RD  4qL / 10 (8.3.13)

Fungsi perpindahan struktur balok dapat disusun dengan memandang gaya-gaya


kelebihan RB dan Rc sebagai gaya luar di samping gaya luar yang ada, yang bekerja di
atas sistem statis tentu, misalnya dengan menggunakan teknik integrasi langsung
persamaan diferensial balok.
Pada hematnya, pilihan kombinasi gaya-gaya kelebihan lainnya dapat digunakan
sebagai dasar analisis. Namun selain gaya-gaya reaksi R A , RB , RC dan RD , kita juga
dapat memilih 4 gaya lainnya sebagai besaran yang tidak diketahui. Sebagai contoh,
dari salah satu pilihan, kita mengambil pasangan momen M B dan M c sebagai
kombinasi gaya kelebihan. Jika kita sementara membuat gaya-gaya kelebihan ini
menjadi nol dengan menghapuskan kekangan yang mengarahkannya (dalam hal ini,
memasukkan sendi-sendi dalam di B dan C ) maka didapatkan satu sistem yang statis

175
tentu seperti dalam Gambar 8.3.2(b). Atas sistem yang statis tentu ini dikerjakan gaya
luar, dan sistem ini dinamakan sistem primer. Akibat gaya luar ini, perpindahan (dalam
hal ini, rotasi) di arah M B dan M c adalah

qL4 qL4 qL4 qL4


 BA
0
 ;  BC
0
 ;  CB
0
 ;  CD
0
 (8.3.14)
24 EI 24 EI 24 EI 24 EI

yang memberikan loncatan (kink) rotasi sebesar

qL4 qL4
 
0
B
0
BA  0
BC  ;  C   CB  CD  
0 0 0
(8.3.15)
12 EI 12 EI

Y MB q MC
X MB
A D
Z EI EI EI
L B L C L  BA
MB
 BC
MB
 CB
MB

(a) struktur (d) sistem sekunder 1

(b) sistem statis tentu


MC

 BA
o
 BC
o
 CB
o
CD
o
 BC
MC
 CB
MC
 CD
MC

(c) sistem primer (e) sistem sekunder 2

Gambar 8.3.2: Metoda Keserasian Perpindahan, Model 2

Kemudian, atas sistem yang statis tentu ini dikerjakan M B dan M c secara satu per
satu untuk memberikan sistem sekunder 1 dan sistem sekunder 2. Dalam sistem
sekunder 1, M B menimbulkan rotasi di arah M B dan M c sebesar

L L L
 BA
MB
 M B ;  BC
MB
 M B ;  CB
MB
 M B ;  CD
MB
0 (8.3.16)
3EI 3EI 6 EI

yang memberikan loncatan rotasi sebesar

2L L
 BMB   BA
MB
  BC
MB
 M B ;  CMB   CB
MB
  CD
MB
 MB (8.3.17)
3EI 6 EI

Dalam sistem sekunder 2, M C menimbulkan rotasi di arah M B dan M c sebesar

L L L
 BA
MC
 0 ;  BC
MC
 M C ;  CB
MC
 M C ;  CD
MC
 M C (8.3.18)
3EI 6 EI 6 EI
176
yang memberikan loncatan rotasi sebesar

L 2L
 BMC   BA
MC
  BC
MC
 M C ;  CMC   CB
MC
  CD
MC
 MC (8.3.19)
3EI 3EI

Sesuai dengan hukum superposisi, loncatan rotasi pada arah M B dan M c akibat
gaya luar dan gaya kelebihan merupakan perjumlahan aljabar perpindahan dalam
sistem primer dan kedua sistem sekunder, yaitu

 B   B0   BRB   BRC
(8.3.20)
 C   C0   CRB   CRC

Agar sistem primer dan dua sistem sekunder memberikan hasil yang identik dengan
sistem struktur yang sebenarnya, maka keserasian perpindahan menyaratkan bahwa
perpindahan di arah M B dan M c masing-masing bernilai nol, yaitu

B  0
C  0 (8.3.21)
yang memberikan
 B0   BMB   BMC  0
(8.3.22)
 C0   CMB   CMC  0

Substitusi bentuk-bentuk dalam Pers.(8.3.15), (8.3.17) dan (8.3.19) ke dalam


Pers.(8.3.22) memberikan sistem persamaan simultan

2L L qL3
MB  MC  0
3EI 6 EI 12 EI
(8.3.23)
L 2L qL3
MB  MC  0
6 EI 3EI 12 EI

yang dapat dituliskan di dalam format matriks sebagai

 2L L   qL3 

 3EI 6 EI   M B    12 EI 
 L 2 L  M C   qL3  (8.3.24)
   
 6 EI 3EI   12 EI 

atau secara simbolis,


F M   0  (8.3.25)

dalam mana F  adalah matriks fleksibilitas struktur, M  vektor gaya kelebihan dan
  vektor perpindahan. Solusi dari sistem persamaan simultan adalah
0

177
M B   qL2 / 10
M   F  1
 
 
0
  (8.3.26)
M C   qL / 10
2

Gaya-gaya reaksi lainnya dapat dihitung dengan memasukkan hasil dalam Pers.(8.3.26)
ke dalam persamaan keseimbangan. Fungsi perpindahan struktur balok dapat disusun
dengan memandang gaya-gaya kelebihan M B dan M c sebagai gaya luar di samping
gaya luar yang ada, yang bekerja di atas sistem statis tentu, misalnya dengan
menggunakan teknik integrasi langsung persamaan diferensial balok.

8.4 Metoda Matriks Fleksibilitas


Metoda keserasian perpindahan dalam Pasal 8.2 menghasilkan suatu hubungan
fleksibilitas untuk struktur yang ditinjau serta yang berkaitan dengan gaya kelebihan
yang dipilih sebagai besaran dasar yang belum diketahui. Dalam proses analisis
semacam ini, analisis yang dilakukan belum begitu standard, karena persamaan
simultan belum didasarkan atas kriteria keserasian perpindahan dalam tingkat elemen
yang kemudian dirakitkan ke dalam persamaan keserasian perpindahan struktur.
Pasal ini menyajikan suatu bentuk metoda fleksibilitas yang lebih standard serta
relatif tidak terlalu tergantung kepada konektivitas dan topologi struktur. Pertama-tama,
kita menyusun hubungan fleksibilitas untuk masing-masing elemen seperti yang
diberikan oleh Pers.(7.3.9). Masing-masing persamaan di tingkat elemen kemudian
dirakitkan ke dalam hubungan fleksibilitas tingkat struktural lewat proses transformasi
antar perpindahan tingkat elemen dan tingkat struktural.
Untuk memulai, tinjaulah suatu struktur yang dimodel dengan n elemen. Untuk
setiap elemen, dituliskan hubungan fleksibilitas yang kemudian semuanya dirakitkan ke
dalam hubungan fleksibilitas struktural,

FM S M   VM  (8.4.1)


dalam mana
 f1  0 0  0 
 0  f 2  0  0 
FM   
       (8.4.2)
 
 0 0 0   f n 
dan
S M   s1  s2   sn 
VM   v1  v2   vn  (8.4.3)

Sistem persamaan dalam Pers.(8.4.1) masih merupakan sekedar gabungan dari n


buah sub-sistem persamaan simultan yang lepas satu sama lain (uncoupled). Selain itu,
beberapa komponen perpindahan dan komponen gaya di tingkat elemen, koresponden
dengan komponen perpindahan dan komponen gaya tingkat struktural yang sama.
Dengan demikian, matriks fleksibilitas FM  dinamakan matriks fleksibilitas tidak terakit

178
(unassembled flexibility matrix). Untuk mendapatkan bentuk terakit, kita mengkaitkan
vektor gaya struktural terakit dengan vektor gaya struktural tidak terakit via hubungan
transformasional
S M   EM S S  (8.4.4)

Matriks EM  dalam persamaan di atas disusun dengan menggunakan kriteria


keseimbangan struktural sehingga matriks tersebut dinamakan matriks keseimbangan
(equilibrium matrix). Selanjutnya ditinjau medan gaya maya atau khayal (virtual force)
yang memiliki hubungan yang serupa dengan hubungan dalam Pers.(8.4.4), yaitu

 S M   EM  S S  (8.4.5)

Kerja khayal komplementer yang dilakukan oleh gaya khayal  S S  melalui


perpindahan nyata struktural VS  menjadi

 S M T VM   S S T VS  (8.4.6)

mengingat bahwa kerja yang dilakukan oleh suatu kelompok gaya adalah sama serta
tidak tergantung tata sumbu terhadap mana komponen gaya dan perpindahan
diukurkan. Tujuan kita sekarang adalah untuk menuliskan hubungan antara  S S  dan
VS  yang melibatkan matriks fleksibilitas terakit FS  , dalam bentuk

FS S S   VS  (8.4.7)

yang dapat dilakukan dengan cara berikut. Pertama, substitusi bentuk dalam
Pers.(8.4.5) dan (8.4.1) ke dalam (8.4.6) menghasilkan

 S S T EM T FM EM S S    S S T VS  (8.4.8)

Karena  S S  mencakup gaya khayal yang berseimbang namun sembarang, maka dari
Pers.(8.4.8) diperoleh
EM T FM EM S S   VS  (8.4.9)

yang identik dengan bentuk terakit dalam Pers.(8.4.7) dengan

FS   EM T FM EM  (8.4.10)

yang merupakan matriks fleksibilitas terakit (assembled flexibility matrix).

Vektor gaya S S  dalam Pers.(8.4.7) mencakup komponen-komponen yang


berkorespondensi dengan sub-vektor perpindahan bebas dan sub-vektor perpindahan

179
tidak bebas atau terkekang (constrained displacements) sehingga dapat dipartisi dalam
bentuk
S SJ 
S S      (8.4.11)
S 
 SR 

dalam mana S SJ  mencakup komponen perpindahan bebas dan S SR  mencakup


komponen perpindahan terkekang. Dengan itu, matriks keseimbangan juga terpartisi
dalam bentuk
E MJ 
EM      (8.4.12)
E MR 

Berkaitan dengan modus partisi ini, Pers.(8.4.7) juga dipartisi dalam bentuk

VSJ  FJJ   FJR  S SJ 


    
          (8.4.13)
V  F   FRR  S SR 
 SR   RJ
dalam mana
FJJ   E MJ T FM E MJ 
FJR   E MJ T FM E MR 
FRJ   E MR T FM E MJ  (8.4.14)

FRR   E MR T FM E MR 


Karena VSJ  berisi komponen perpindahan bebas yang belum diketahui sementara
VSR  berisi komponen perpindahan terkekang yang diketahui, maka solusi atas sistem
Pers.(8.4.13) dapat diambil berupa penentuan S SR  dari sub-sistem persamaan di
bawah partisi horisontal,

S SR   FRR  1VSR   FRJ S SJ  (8.4.15)

serta memasukkannya ke dalam sub-sistem persamaan di atas partisi horisontal untuk


mendapatkan VSJ , yaitu

VSJ   FJJ   FJR FRR 1 FRJ S SJ  FJR FRR 1VSR  (8.4.16)

Dalam praktek, proses penentuan solusi dilakukan dengan menghitung VSJ  dari
Pers.(8.4.16) dan S SR  dari Pers.(8.4.15) untuk S SJ  dan VSR  yang diketahui. Dapat
dicatat bahwa dengan menyertakan komponen perpindahan terkekang dalam VSR , kita

180
memiliki persamaan yang dapat digunakan untuk menghitung reaksi di arah komponen
perpindahan terkekang, yang tercakup dalam Pers.(8.4.15).
8.5 Contoh Penerapan
Untuk meningkatkan pengertian serta memperdalam pemahaman tentang isi
bahasan dalam bab ini, maka berikut ini disajikan beberapa contoh terkait.

Contoh 8.1: Struktur yang dalam Pasal 8.2 telah dianalisis dengan metoda keserasian
perpindahan, kali ini analisislah kembali dengan metoda matriks fleksibilitas.

Penyelesaian:

Struktur dalam Gambar 8.5.1 dibagi atas 3 elemen dengan model perpindahan
relatif seperti dalam Gambar 8.5.1(b). Pasangan gaya kelebihan diambil sebagai mana
ditunjukkan dalam Gambar 8.5.1(c). Persamaan fleksibilitas tidak terakit dalam
Pers.(8.5.1) untuk struktur ini menjadi

Y MB q MC
A B C D X
(a) struktur
Z EI EI EI
L L L
1 2

v11 , s11 v12 , s12 v13 , s13 v23 , s23


3 (b) model elemen

v12 , s12 v22 , s22


(c) gaya dan perpindahan
relatif struktur
VSJ 1 , S SJ 1 VSR1 , S SR1 VSR 2 , S SR 2 VSJ 2 , S SJ 2

Gambar 8.5.1: Struktur Contoh 8.1

 L L 
  3EI 
6 EI
0 0 0 0
  1
 v11   L 
L
0 0 0 0  s1 
 1   6 EI 3EI  s1 
v 2    2
0 s 2 
L L
v12   0 0   0
3EI 6 EI  1 (8.5.1)
 2  L L  2
v 2   0 0   0 0  s 2 
v13   6 EI 3EI   s13 
 3   
0  s 23 
L L
v 2   0 0 0  
3EI 6 EI 
 L L 
 0 0 0   0
 6 EI 3EI 

181
Dari Gambar 8.5.1(b) dan 8.5.1(c) diperoleh hubungan vektor gaya tidak terakit dengan
vektor gaya struktur dalam Pers.(8.3.4) sebagai berikut.
0 0  0  1
 s11  
 1  0 0  1 0   S SJ 1 
0   S SJ 2 
s
  02
0  1
s12    
 2   0 0  0  1    (8.5.2)
 s 2  0 0  0  1  S SR1 
 s13    
 3  0 0  0 0  S SR 2 
 s 2   
 E MJ  E MR 

Sub-matriks fleksibilitas dalam Pers.(8.3.120 dapat dihitung dengan memasukkan


bentuk dalam Pers.(8.5.1) dan (8.5.2) untuk FM , FMJ  dan FMR . Dengan demikian
diperoleh

 L   L 
 0   6 EI 0 
FSJJ    3EI L 
; FSJR   
L 
 0    0  
 3EI   6 EI  (8.5.3)
 L   2L L 
 0    3EI  6 EI 
FSRJ    6 EI L 
; FSRR   
L 2L 
 0     
 6 EI   6 EI 3EI 

Perhatikan bahwa FSRR  dalam Pers.(8.5.3) sama dengan F  dalam Pers.(8.2.14). Ini
tentu saja harus demikian karena kedua analisis menggunakan pasangan gaya
kelebihan yang sama sebagai vektor gaya yang tidak diketahui. Vektor gaya struktur dari
Gambar 8.5.1(c) diperoleh sebagai berikut.

 qL2 
 S   
S SJ    SJ1    122  (8.5.4)
S SJ 2   qL 

 12  

Dengan menggunakan hasil-hasil dalam Pers.(8.5.3) dan (8.5.4) di dalam Pers.(8.3.11),


didapatkan

 L L 
 0   0   qL2 
VSJ 1   3EI 6 EI
V   0 L L   
  0    12 
 SJ 2   3EI 6 EI   qL  2

           (8.5.5)
V   L 2L   12 
 SR1   6 EI 0  
3EI
0
  S SR1 
VSR 2   L 2 L   S SR 2 
 0   0  
 6 EI 3EI 

182
Dari Pers.(8.3.13) diperoleh
 8EI 2 EI    L   qL   qL 
2 2

 S SJ 1    5L 
5L  0  0  
  12   60 
   6 EI 
S SJ 2   2 EI 8EI  0  L   qL2   qL2  (8.5.6)
   0        
 5L 5L    6 EI   12   60 
Perpindahan bebas diperoleh dari Pers.(8.3.14) atau secara lebih mudah, dari
Pers.(8.5.5), yaitu

 L   qL   L   qL   5qL 
2 2 2

VSJ 1   3EI 0   12   6 EI
 0  
  36   216 
  L   qL2  
 
L   qL2   5qL2  (8.5.7)
VSJ 2   0      0      
 3EI   12   6 EI   36   216 

Contoh 8.2: Dengan menggunakan metoda matriks fleksibilitas, analisislah struktur


balok tunggal seperti dalam Gambar 8.5.2.

Penyelesaian:
Struktur ini telah dianalisis dengan metoda keserasian perpindahan dalam Pasal
6.2, seperti dalam Gambar 6.2.1. Untuk contoh ini, kita menggunakan model elemen
seperti dalam Gambar 8.5.2(b). Untuk model elemen ini, matriks fleksibilitas dapat
diperoleh sebagai sub-set dari bentuk dalam Pers.(7.3.13) untuk b  0 (deformasi geser
diabaikan), yaitu
 L3 L2 
 
 3EI 2 EI   S 1   V1 
2     (8.5.8)
 L L  S 2  V 2 
 2 EI EI 

Karena struktur dimodel hanya dengan satu elemen, maka

 L3 L2 
   S1  V1 
Fm    3EI2 2 EI  ; S m    ; Vm     (8.5.9)
 L L  S 2  V 2 
 2 EI EI 

Y  P
VSR1 , S SR1
X
Z 1 EI, L 2 VSJ 1 , S SJ 1
(a) struktur (c) gaya dan perpindahan relatif struktur

v1 , s1 P

v2 , s 2
(b) model elemen (d) vektor beban

183
Gambar 8.5.2: Struktur Contoh 8.2
Vektor gaya dan vektor perpindahan struktur dalam Gambar 8.5.2(c) disusun dalam
bentuk terpartisi sebagai
S  V 
S s    SJ1  ; Vs    SJ1  (8.5.10)
S SR1  VSR1 

di mana, menurut Gambar 8.5.2(d),

 2
( L  a) 
S SJ1    Pa  (8.5.11)
 L2 

dan, menurut Gambar 8.5.2(c),


VSJ1   0 (8.5.12)

Sekarang, matriks E M  dalam Pers.(8.3.4) dapat disusun untuk contoh ini,


dengan membandingkan Gambar 8.5.2(b) dan 8.5.2(c). Jadi

 S1  0  1 VSJ1 
    
1 
S 2   0 VSR1  (8.5.13)
E MJ E MR

Pemasukan E MJ  dan E MR  dalam Pers.(8.5.13) dan FM  dalam Pers.(8.5.9) ke


dalam Pers.(8.3.12) memberikan

 L3 L2   L3 L2 
   
2 EI  0   L  ; 2 EI  0   L 
2
FSJJ   0 1  3EI2     FSJR   0 1  3EI2    
 L L  1  EI   L L  1  2 EI 
 2 EI EI   2 EI EI 
(8.5.14)
 L3 L2 
 
2 EI  1   L 
3
FSRJ   FSJR T ; FSRR   1 0  3EI2    
 L L  0  3EI 
 2 EI EI 

Sistem persamaan global dalam Pers.(8.3.11) dalam hal ini menjadi

 L L2 
V SJ 1   EI 
2 EI   S SJ 1 
  2 3   (8.5.15)
V SR1   L L  S SR1 
 2 EI 3EI 

Dari Pers.(8.5.15) diperoleh

184
1
 3    2  
S SR1    L  VSR1    L  S SJ1 
 3EI    2 EI  
(8.5.16)
 3EI    L2   Pa 2 ( L  a)   3  a   a 
2

  3  0          P    1  
 L   2 EI   L2   2  L   L 
dan
   L2   3  a   a 
2

VSJ   FSJJ S SJ  FSJR S SR    L   Pa2


2
( L  a)     P   1   
 EI   L   2 EI   2  L   L 
 PL 2
 a   a 
2

   1   
 2 EI  L   L 
(8.5.17)

Gaya ujung elemen dapat dihitung dengan memasukkan hasil Pers.(8.5.11) dan (8.5.16)
dalam Pers.(8.5.13); hasilnya adalah

   3 a  a
2
Pa 2
  ( L  a )   P    1  
 S 1  0 1   L2
  2 L  L 
    2   (8.5.18)
S 2  1 0  3 P a  1  a   PL a  1  a 
2

 2  L      
L   L  L 

Contoh 8.3: Struktur rangka sendi seperti dalam Gambar 8.5.3. ingin dianalisis dengan
metoda fleksibilitas. Lakukanlah analisis lengkap, dengan gaya reaksi
batang 6 sebagai gaya kelebihan.

Penyelesaian:

Gambar 8.5.3(b) menunjukkan sistem statis tentu yang diperoleh dengan


mengaggap gaya reaksi batang 6 sebagai gaya kelebihan. Matriks fleksibilitas tidak
terakit untuk contoh ini adalah

 S11   L / EA 0 0 0 0 0  V11 
 2   
 S1   0 L / EA 0 0 0 0  V12 
 S13   0 0 L 2 / EA 0 0 0  V13 
 4     4  (8.5.19)
 1 
S 0 0 0 L 2 / EA 0 0  V1 
 S1   0
5
0 0 0 L / EA 0  V15 
 6   
S1   0 0 0 0 0 L / EA V16 

Vektor gaya dan perpindahan struktur dalam tata sumbu global adalah

S S   S SJ1 S SJ 2 S SJ 3 S SJ 4 S SJ 5 S SJ 6   0  P 0 0 0 S SR1 
(8.5.20)
VS   VSJ1 VSJ 2 VSJ 3 VSJ 4 VSJ 5 VSR1   VSJ 1 VSJ 2 VSJ 3 VSJ 4 VSJ 5 0

185
Perhatikan bahwa VSR1 dalam Pers.(8.5.20) adalah nol, karena perpindahan relatif
antara kedua ujung batang 6 yang ”terpotong”, adalah nol. Hubungan antara S M dan
S S dapat diperoleh dengan keseimbangan dari gaya-gaya dalam sistem yang statis
tentu, dengan mengerjakan S SJi dan S SRi satu persatu, dan mencatat gaya batang
karenanya. Hasilnya dapat diperoleh sebagai berikut, yaitu
 S11  1  1 0 0 0 0   S SJ 1 
 2 
 S 1  0  1 1 0 0  1  S SJ 2 
 S13  0 0 0  2 0  2   S SJ 3 
 4    (8.5.21)
 S 1  0  2 0 0 0  2  S SJ 4 
 S15  0 0 0 1  1  1  S SJ 5 
 6   
S1  0 0 0 0 0  1  S SJ 6 

Matriks fleksibilitas terakit dapat diperoleh dengan memasukkan bentuk dalam


Pers.(8.5.19) dan (8.5.21) dalam Pers.(8.3.9), dengan hasil

 1 1 0 0 0 1 
 1 2  2 2 1 0 0 2  2 2 

0 1 1 0 0 1 
FS   L 
EA  0 0 0 1 2 2 
1  1 2 2 

 (8.5.22)

0 0 0 1 1 1 

 1 2  2 2 
1  1 2 2   
 1 4 1  2 2  
Sekarang, solusi untuk gaya kelebihan menjadi

  0 
  P 
  

 

   
S R1    EA  0  L 1 2  2 2 1  1  2 2 1  0    P  (8.5.23)
 4L 1  2   EA  0   2 
  
  0 

Perpindahan beban diperoleh dengan menerapkan Pers.(8.3.14), yaitu


VSJ 1   1 1 0 0 0  0 
V   1 2  2 2 1 0 0   P
 SJ 2   
 
VSJ   VSJ 3   L  0

1 1 0 0  0 

V  EA  0 0 0 1 2 2

 1  0 
 SJ 4    

VSJ 5   0 0 0 1  1 
 0 

186
 PL 
 2 EA 
 

 22
1 
2 

PL
1  2   
 EA 
L   P  PL 
  1       (8.5.24)
EA 
 1  2  2 
 2   2 EA 
 PL 1  2 2   
 1   2 EA 
 PL 
 
 2 EA 

Gaya-gaya dalam elemen diperoleh dengan memasukkan hasil dalam Pers.(8.5.24) ke


dalam Pers.(8.5.21), dengan hasil

 S11   1  1 0 0 0 1   0 
 2   0 1 1  
0 0  1   P 
S1  
 S1   0
3 0 0 2 0  2   0   P P P P P P
 4  LV2       2  2   
S1   0 2 0 0  2  0   2 2 2 2 2 2
EA
 S15   0 0 0 1

 1  1   0P 
 6   
S1   0 0 0 0 0  1   2 
(8.5.25)

Y VSJ 3 , S SJ 3 VSJ 5 , S SJ 5
P 3 6 4 6 VSJ 2 , S SJ 2
VSR1 , S SR1 VSJ 4 , S SJ 4
bersilangan

2 5 L 2 5

3 4 3 4

1 X 1 VSJ 1 , S SJ 1
1 2
Z L
(a) struktur (b) sistem statis tentu (c) gaya dan perpindahan struktur

Gambar 8.5.3: Struktur Contoh 8.3

Contoh 8.4: Struktur balok menerus prismatis dalam dalam Gambar 8.5.4, memikul gaya
terpusat P pada ujung bebas 3 dari overstek, ingin dianalisis dengan
metoda fleksibilitas. Lakukanlah analisis yang dimintakan, untuk
menghitung reaksi batang dan perpindahan titik simpul.

Penyelesaian:

Batang 12 dan 23 dimodel dengan elemen batang seperti dalam Gambar 8.5.4(c).
Dalam hal ini, matriks fleksibilitas tidak terakit diberikan oleh

187
 L3 L2 
 0 0 
3EI 2 EI
 S11   L2 L
 V11 
 1  0 0  V 1 
 S 2   2 EI EI  2 
 2  2  2
(8.5.26)
S1   0 L3 L V1 
0 
S 22   3EI 2 EI  V22 
 0 L2 L 
0
 2 EI EI 

Vektor gaya dan perpindahan struktur dengan menganggap reaksi vertikal di titik 2
sebagai gaya kelebihan, adalah
 S SJ 1   0  VSJ 1  VSJ 1 
S   P  V  V 
S S    SJ 2     ;  SJ 2   SJ 2 
   (8.5.27)
 S SJ 3   0  V SJ 3  VSJ 3 

 S SR1    S R1 
 
VSR1   
 0  

Y L L
v11 , s11
P X
2
Z 1 EI EI 3
v12 , s12
(a) struktur
VSR1 , S SR1 VSJ 2 , S SJ 2 v12 , s12

VSJ 1 , S SJ 1 VSJ 3 , S SJ 3 v22 , s22


(b) gaya dan perpindahan struktur (c) model elemen

Gambar 8.5.4: Struktur Contoh 8.4

Vektor gaya struktur dilaitkan dengan vektor gaya elemen dengan merujuk Gambar
8.5.4(b) dan 8.5.4(c); hasilnya adalah

 s11  0 1 0 1  S SJ1 
 1 
 s 2  1 L 1 0 S SJ 2 
 2   (8.5.28)
s1  0 1 0 0  S SJ 3 
s 22  0 
0 1 0  S SR1 

Matriks fleksibilitas terakit menjadi

188
 L3 L2 
 0 0 
3EI 2 EI
0 1 0 0  L2 L
 0 1 0 1
1  0 
L 1 0  2 EI 0

1 L 1 0
FS    EI 
0 1 0 1  L3 L2  0 1 0 0
  0 0   
1 0 0 0  3EI 2 EI  0 0 1 0
 0 L2 L 
0
 2 EI EI 
 L 3L 2
L L 
2

 
 EI2 2 EI EI 2 EI 
 3L 8 L3 2 L2 5 L3 
  2 EI 3EI EI 6 EI  (8.5.29)
 L 2 L2 2L L2 
 
 EI2 EI EI 2 EI 
 L 5 L3 L2 L3 
 2 EI 6 EI 2 EI 3EI 
Vektor gaya kelebihan menjadi

1   0 
 L3    2 5L3 L3     5 
S SR1     0   L   P    P  (8.5.30)
 3EI    2 EI 6 EI 2 EI     2 
  0 

yang dapat digunakan menghitung perpindahan bebas sebagai

 L 3L2 L   L2   PL2 
     
VSJ 1   EI2 2 EI EI   0   2 EI   4 EI 
  3L 8L3 2 L2     5L3   5   7 PL2 
VSJ 2     P       P     (8.5.31)
V   2 EI 3EI EI     6 EI   2   12 EI 
 SJ 3   L 2 L2 2 L   0   L2    3PL 
2

   2 EI   4 EI 
 EI EI EI 

Pemasukan hasil Pers.(8.5.27a) dan (8.5.30) dalam bentuk Pers.(8.5.28)


memberikan gaya elemen sebagai

 s11  0 1 0 1   0   3 P 
 1     2 
 s 2  1 L 1 0  P    PL 
 2    (8.5.32)
s1  0 1 0 0  0    P 
s 22  0  5
0 1 0  P   0 
2   

Konversi gaya ujung ke dalam gaya dalam dapat menghasilkan gaya dalam yang
dapat digambarkan untuk memberikan bidang momen dan bidang lintang. Pembaca
dipersilahkan mencoba sendiri proses ini sebagai latihan.

8.6 Rangkuman

189
Sebagai sari dari pada bahasan dalam bab ini, berikut ini diberikan beberapa
catatan yang penting untuk disimak.
1. Metoda fleksibilitas termasuk metoda gaya, di mana gaya kelebihan diambil
sebagai besaran dasar yang belum diketahui serta akan dihitung.
2. Metoda matriks fleksibilitas dalam bab ini berbeda dengan metoda keserasian
perpindahan dalam bab sebelumnya. Kalau orde dari pada persamaan simultan
dalam metoda keserasian perpindahan tergantung kepada orde ketidak-tentuan
statis atau jumlah gaya kelebihan, maka dalam metoda fleksibilitas dalam bab ini,
seluruh perpindahan, baik yang aktif maupun terkekang disertakan dalam
formulasi.
3. Dalam versi metoda gaya ini, perumusan dimulai dari hubungan fleksibilitas tingkat
elemen serta merakitkannya ke hubungan fleksibilitas tingkat structural.

4. Proses perakitan dilakukan dengan menggunakan matriks keseimbangan EM 


yang menghubungkan vektor-vektor gaya elemen dengan vektor gaya structural.

5. Proses penyusunan matriks keseimbangan EM  melibatkan tinjauan struktur


secara global. Dengan demikian, metoda analisis dengan cara ini masih agak
tergantung kepada bentuk dan kesinambungan topologis sistem struktur. Selain
itu, matriks tersebut memiliki unsur-unsur tidak nol yang tersebar (sparse). Ukuran
dari pada matriks EM  juga cukup besar, hamper setara dengan ukuran matriks
fleksibilitas FS  struktur itu sendiri.

6. Ukuran dari pada matriks fleksibilitas FS  tergantung dari pada jumlah komponen
vektor gaya yang tidak diketahui.

8.7 Soal-soal

Soal 8.1: Struktur dalam Gambar 8.7.1 dimintakan dianalisis dengan metoda
fleksibilitas, dengan memilih reaksi di titik 3 sebagai gaya kelebihan.

Soal 8.2: Struktur balok terjepit dengan sendi dalam di 3 seperti dalam Gambar 8.7.2,
memiliki gaya terpusat di titik 3. Analisislah struktur dengan fleksibilitas. Ambil
reaksi perletakan di titik 2 sebagai gaya kelebihan.

190
Y P
1
1 EI , A, L 2
L/2 L/2
Y P
2L L
1 2 X
EI , A, L 2
1 EI 3 EI 2
Z

3 X

Gambar 8.7.1: Struktur Soal 8.1 Gambar 8.7.2: Struktur Soal 8.2

Soal 8.3: Struktur balok dalam Gambar 8.7.3 memikul gaya terpusat i gaya terpusat P
di ujung overstek. Lakukan analisis struktur dengan metoda fleksibilitas,
dengan mengambil reaksi perletakan titik 2 sebagai gaya kelebihan.

Soal 8.4: Struktur rangka sendi dalam Gambar 8.7.4 dimintakan untuk dianalisis dengan
metoda fleksibilitas. Ambil reaksi batang pendel 3 sebagai gaya kelebihan.

Soal 8.5: truktur portal buntung dalam Gambar 8.7.5 dimintakan untuk dianalisis dengan
motoda fleksibilitas. Ambil reaksi rol titik 3 sebagai gaya kelebihan. Abaikan
deformasi aksial batang.

Y
3 3 P
4 EA

Y
P
1 2 2 X
L 2 EA EA 1
1 EI, L EI, L 3
Z

1 X 2

Z L/2 L/2

Gambar 8.7.3: Struktur Soal 8.3 Gambar 8.7.4: Struktur Soal 8.4

191
Y P
2
3
EI 2

1 EI L

1 X
L L/2 L/2
Z

Gambar 8.7.5: Struktur Soal 8.5

192
171,173,175,177,179,181,183,185,187,189,191
172,174,176,178,180,182,184,186,188,190,192

193