Anda di halaman 1dari 29

BAB V

PEMODELAN SISTEM STRUKTUR

5.1 Umum
Struktur adalah suatu sistem yang mengambil tempat dalam ruang, dengan
komponen atau bagian yang memiliki ukuran-ukuran tertentu. Struktur dapat merupakan
sistem yang kompleks, yang jika tidak dimodelkan dengan suatu bentuk yang lebih
sederhana, akan sulit dianalisis dengan cara tertentu, baik cara eksak maupun cara
numerik.
Sebelum melakukan proses analisis, pemodelan struktur merupakan suatu
langkah awal untuk mendapatkan suatu model analisis untuk digunakan sebagai
representasi sistem struktur sebenarnya. Model representasi ini tentulah tidak persis
sama dengan struktur nyata, karena mendapatkan sistem yang relative mudah, sering
diperlukan langkah penyederhanaan (simplikasi) yang membutuhkan asumsi
pendekatan.
Bab ini bertujuan untuk membahas pemodelan struktur, yang mencakup proses
diskritisasi dalam Pasal 5.2, vektor perpindahan dan gaya dalam Pasal 5.3, kriteria
keseimbangan dan keserasianperpindahan dalam Pasal 5.5. Aspek ketidaktentuan
statis dan kinematis disajikan dalam Pasal 5.5, yang diikuti dengan aturan hubungan
gayadan perpindahan dalam Pasal 5.6. Aspek transformasi antara tata sumbu yang
mengkaitkan vektor perpindahan dan gaya., disajikan dalam Pasal 5.7. Beberapa
contoh penerapan yang merupakan latihan pendalaman materi disajikan dalam Pasal
5.8.

5.2 Diskritisasi Struktur


Sebagai mana umumnya di dalam metoda analisis numerik lainnya, metoda
matriks analisis suatu struktur juga didasarkan atas model diskrit dari struktur yang
ditinjau. Model diskrit ini diperoleh dengan cara membagi-bagi struktur atas sejumlah
elemen di mana setiap elemen dilingkupi oleh pembatas (berupa bidang untuk struktur
elemem tiga dimensi, garis untuk elemen dua dimensi,dan titik elemem untuk satu
dimensi). Dengan demikian, elemen merupakan bagian terkecil dari struktur yang
ditinjau. Kemudian, pada pada pembatas antara elemen (dan kadang-kadang di dalam
elemen) diambil titik simpul sebagai lokasi percontohan (sampling) komponen medan
tertertu (misalnya medan perpindahan, gaya, dan lain-lain) yang mewakili medan
tersebut untuk keseluruhan struktur. Di dalam struktur berbentuk rangka, dapat
dimengerti bahwa titik juga sekaligus berfungsi sebagai pembatas antara elemen. Titik
simpul pada struktur rangka secara taktis dapat diambil pada lokasi di mana terjadi
perobahan mendadak dari sifat bahan atau geometri dari sruktur, atau tempat
bekerjanya beban titik ataupun terpusat. Sebagai contoh, struktur dalam Gambar 5.2.1

75
dapat dimodel dengan beberapa elemen seperti dalam Gambar 5.2.1(b) sampai
5.2.1(d). Tentunya di samping ketiga model ini masih banyak lagi diskrit yang dapat
digunakan.
Karena analisis di dalam model diskrit hanya mengenal bsaran pada titik-titik
simpul, maka medan gaya, perpindahan, deformasi, atau medan-medan lainnya, harus
terlebih dahulu diolah dengan suatu cara tertentu sedemikian hingga terwakili oleh
besaran pengganti (representatif) pada titik simpul. Dalam hal ini medan perpindahan
ataupun medan lainnya dalam seluruh titik bermateri struktur diambil sebagai interpolasi
dari besaran atau komponen titik simpul. Besaran-besaran titik simpul merupakan
besaran-besaran anu yang belum diketahui dan yang nantinya akan ditentukan dalam
analisis struktur.
Sebagai contoh, kita meninjau suatu struktur portal dalam Gambar 5.2.1(a), yang
dimodel dengan 3 macam. Dalam model 1 yang diperlihatkan dalam Gambar 5.2.1(b),
titik E dan F sebagai titik tangkap gaya terpusat tidak disertakan atau dipilih sebagai
titik simpul. Dalam model ini, struktur dibagi atas 3 elemen batang, yaitu batang AB ,
BC dan CD masing-masing sebagai elemen 1, 2 dan 3 dengan titik A , B , C dan
D sebagai titik simpul. Dengan demikian, gaya terpusat pada titik E merupakan gaya
interior elemen 1 dan gaya terpusat pada titik F merupakan gaya interior elemen 2.
Titik simpul A dan D merupakan perletakan.

Dalam model 2 yang ditunjukkan Gambar 5.2.1(c), titik F sebagai titik tangkap
gaya terpusat tidak disertakan atau dipilih sebagai titik simpul. Dalam model ini, struktur
dibagi atas 4 elemen batang, yaitu batang AE , EB , BC dan CD masing-masing
sebagai elemen 1, 2, 3 dan 4 dengan titik A, E , B , C dan D sebagai titik simpul.
Dengan demikian, gaya terpusat pada titik E merupakan gaya titik simpul E dan
gaya terpusat pada titik F merupakan gaya interior elemen 2. Titik simpul A dan D
merupakan perletakan.
Dalam model 3 yang ditunjukkan Gambar 5.2.1(d), titik F sebagai titik tangkap
gaya terpusat juga disertakan atau dipilih sebagai titik simpul. Dalam model ini, struktur
dibagi atas 5 elemen batang, yaitu batang AE , EB , BF , FC dan CD masing-
masing sebagai elemen 1, 2, 3, 4 dan 5 dengan titik A, E , B, F , C dan D sebagai
titik simpul. Dengan demikian, gaya terpusat pada titik E merupakan gaya titik simpul
E dan gaya terpusat pada titik F merupakan gaya titik simpul F . Titik simpul A
dan D juga merupakan perletakan.

Dalam model 1, gaya terpusat pada titik E yang bukan titik simpul, dan gaya
terpusat pada titik F yang juga bukan titik simpul, perlu digantikan atau diwakili oleh
komponen-komponen gaya yang bekerja di arah derajat kebebasan titik-titik simpul yang
membatasi elemen yang bersangkutan pada mana gaya luar bekerja. Demikian juga
halnya gaya terpusat pada titik F yang bukan titik simpul dalam model 2. Dalam model
3, semua gaya-gaya terpusat merupakan gaya titik simpul yang nantinya dapat
disertakan dalam persamaan global struktur (persamaan keseimbangan ataupun
keserasian perpindahan).

76
Gambar 5.2.1: Diskritisasi Struktur

Pengambilan atau pemilihan model diskrit sebagai representasi struktur yang


sebenarnya dalam proses analisis, merupakan langkah yang sangat subyektif karena
sangat tergantung kepada kemauan atau bahkan selera perekayasa. Semakin banyak
jumlah elemen, dan dengan dengan demikian jumlah titik simpul dan orde persamaan
simultan, maka semakin halus model yang digunakan serta kemungkinan semakin teliti
hasil perhitungan yang diperoleh, namun semakin tinggi upaya (effort) perhitungan yang
harus dilakukan.

5.3 Vektor Perpindahan dan Gaya


Dalam modelisasi struktur, langkah awal dimulai dengan memilih titik-titik simpul
(nodes) yang berperan sebagai batas-batas elemen sekaligus sebagai titik-titik
penghubung antar elemen atau perletakan. Pada titik-titk simpul, diperkenalkan derajat
kebebasan (degrees of freedom). Untuk kasus struktur ruang (tiga dimensi) kaku, pada
masing-masing titik simpul di arah sumbu ( X , Y , Z ) diambil komponen perpindahan
translasi serta komponen vektorial perpindahan rotasi, yang menghasilkan 6 derajat
kebebasan. Di masing-masing arah vektorial perpindahan juga dipasangkan komponen
vektorial gaya-gaya, sehingga misalnya untuk titik simpul i ada 6 derajat kebebasan
dan 6 komponen gaya yang diatur dalam vektor sebagai berikut.

U    U xi , 
U yi , U zi ,  ix ,  iy ,  iz
(5.3.1)
 F    Fxi , Fyi , Fzi , M xi , M yi , M  i
z

77
Elemen balok-kolom struktur rangka ruang kaku yang memiliki ujung 1 dan 2 seperti
dalam Gambar 5.3.1, vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan
vektor perpindahan dan vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1x , u 1y , u 1z ,  x1 ,  1y ,  z1 , u x2 , u 2y , u z2 ,  x2 ,  y2 ,  z2 
(5.3.2)
 f    f x1 , f y1 , f z1 , m1x , m1y , m1z , f x2 , f y2 , f z2 , m x2 , m 2y , m z2 
1
Dalam hal ini, komponen perpindahan translasi u x berkoresponden dengan komponen
gaya translasi f x , komponen perpindahan rotasi  y berkoresponden dengan
1 2

2
komponen gaya momen m y , dan sebagainya.
Untuk kasus struktur rangka bidang kaku (dua dimensi) pada masing-masing titik
simpul di arah sumbu ( X , Y ) diambil 2 komponen perpindahan translasi serta 1
komponen vektorial perpindahan rotasi, yang menghasilkan 3 derajat kebebasan.
Dengan demikian, vektor perpindahan dan vektor gaya titik simpul i dalam kasus
bidang ( X , Y ) menjadi
U    U xi , U yi ,  iz 
(5.3.3)
 F    Fxi , Fyi , M  i
z

Untuk elemen balok-kolom struktur rangka bidang kaku yang memiliki ujung 1 dan 2,
vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor perpindahan dan
vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1x , u 1y ,  z1 , u x2 , u y2 ,  z2 
(5.3.4)
 F    Fx1 , Fy1 , M 1z , Fx2 , Fy2 , M z2 
Untuk kasus struktur grid bidang pada masing-masing titik simpul di arah sumbu
( X , Y ) diambil 1 komponen perpindahan translasi tegak lurus bidang, serta 2
komponen vektorial perpindahan rotasi, yang menghasilkan 3 derajat kebebasan.
Dengan demikian, vektor perpindahan dan vektor gaya titik simpul i dalam kasus
struktur grid bidang ( X , Y ) menjadi
U    U zi ,  iy ,  iz 
(5.3.5)
 F    Fzi , M , i
y M zi 
Untuk elemen grid bidang ( X , Y ) di arah sumbu X yang memiliki ujung 1 dan 2,
vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor perpindahan dan
vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1z ,  1y ,  z1 , u z2 ,  y2 ,  z2 
(5.3.6)
 F    Fz1 , M 1y , M 1z , Fz2 , M y2 , M z2 

78
Untuk elemen torsi bidang ( X , Y ) di arah sumbu X yang memiliki ujung 1 dan 2,
vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor perpindahan dan
vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u    x1 ,  x2 
(5.3.7)
 F    M 1x , M x2 
Untuk kasus struktur rangka ruang (tiga dimensi) sendi, pada masing-masing titik
simpul di arah sumbu ( X , Y , Z ) diambil komponen perpindahan translasi yang
menghasilkan 3 derajat kebebasan. Di masing-masing arah vektorial perpindahan juga
dipasangkan komponen vektorial gaya-gaya, sehingga misalnya untuk titik simpul i
ada 3 derajat kebebasan dan 3 komponen gaya yang diatur dalam vektor sebagai
berikut.

U    U xi , U yi , U zi 
(5.3.8)
 F    Fxi , Fyi , Fzi 
Elemen pendel struktur rangka ruang sendi yang memiliki ujung 1 dan 2, vektor
perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor perpindahan dan vektor
gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1x , u 1y , u 1z , u x2 , u 2y , u z2 
(5.3.9)
 f    f x1 , f y1 , 1 2
f , f , f , f
z x y
2
z
2

Untuk kasus struktur rangka bidang (dua dimensi) sendi, pada masing-masing titik
simpul di arah sumbu ( X , Y ) diambil komponen perpindahan translasi yang
menghasilkan 2 derajat kebebasan. Di masing-masing arah vektorial perpindahan juga
dipasangkan komponen vektorial gaya-gaya, sehingga misalnya untuk titik simpul i
ada 2 derajat kebebasan dan 2 komponen gaya yang diatur dalam vektor sebagai
berikut.

U    U xi , U yi 
(5.3.10)
 F    Fxi , Fyi 
Elemen pendel struktur rangka bidang sendi pada bidang ( X , Y ) yang memiliki ujung 1
dan 2, vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor
perpindahan dan vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1x , u 1y , u x2 , u 2y 
(5.3.11)
 f    f x1 , f y1 , 2
f , f
x y
2

Untuk kasus struktur rangka garis (satu dimensi) sendi, pada masing-masing titik
simpul di arah sumbu X diambil komponen perpindahan translasi yang menghasilkan

79
1 derajat kebebasan. Di masing-masing arah vektorial perpindahan juga dipasangkan
komponen vektorial gaya-gaya, sehingga misalnya untuk titik simpul i ada 1 derajat
kebebasan dan 1 komponen gaya yang diatur dalam vektor sebagai berikut.

U    U xi 
(5.3.12)
 F    Fxi 

Gambar 5.3.1: Model Beberapa Elemen Batang

Elemen pendel struktur rangka garis sendi pada sumbu X yang memiliki ujung 1 dan
2, vektor perpindahan dan gaya pada ujung 1 dan 2 memberikan vektor perpindahan
dan vektor gaya lengkap sebagai berikut.

 u   u 1x , u x2 
(5.3.13)
 f    f x1 , f x
2

Vektor perpindahan dan vektor gaya serta model beberapa elemen yang sudah
diturunkan terdahulu, yaitu elemen balok-kolom ruang kaku dalam Pers.(5.3.2), elemen
balok-kolom bidang kaku dalam Pers.(5.3.4), elemen grid dalam Pers.(5.3.6), elemen

80
torsi dalam Pers.(5.3.7), elemen pendel ruang dalam Pers.(5.3.9), elemen pendel
bidang dalam Pers.(5.3.11) serta elemen pendel garis dalam Pers.(5.3.13), diperagakan
dalam Gambar 5.3.1.

5.4 Kriteria Keseimbangan dan Kompatibilitas


Komponen gaya-gaya dan komponen perpindahan elemen masing-masing
mengikuti kriteria keseimbangan sebagai mana akan dipaparkan dalam bahasan berikut
ini. Berbagai jenis elemen akan dibahas, mulai dari elemen yang paling komplit hingga
elemen yang paling sederhana.

5.5.1 Kriteria Keseimbangan


Komponen gaya-gaya elemen maupun titik simpul sesamanya dihubungkan
dengan kriteria keseimbangan. Untuk kesederhanaan, komponen-komponen gaya dan
perpindahan elemen dinyatakan terhadap satu sistem koordinat yang khusus
diperuntukkan bagi elemen tersebut, yang dinamakan tata sumbu lokal (local
coordinates), sedangkan komponen-komponen gaya dan perpindahan struktural atau
titik-titik simpul dinyatakan terhadap satu sistem koordinat yang khusus diperuntukkan
bagi struktur, yang dinamakan tata sumbu global (global coordinates). Masing-masing
tata sumbu elemen (lokal) memiliki hubungan transformasional terhadap tata sumbu
global. Bahasan mengenai ini akan dipaparkan secara lebih mendalam dalam Pasal 5.7
mendatang.
Untuk struktur total atau titik simpul dalam kasus struktur rangka kaku ruang,
persamaan keseimbangan adalah

F x  0; F
y  0; F z 0
(5.5.1)
M x  0; M y  0; M z 0

Untuk masing-masing elemen, dapat dituliskan persamaan keseimbangan yang


koresponden dengan kasus elemen. Sebagai contoh, untuk elemen balok-kolom rangka
kaku ruang, keseimbangan di berikan oleh persamaan yang identik dengan Pers.(5.5.1).
Untuk kasus balok-kolom bidang, persamaan keseimbangan diberikan oleh

F x  0; F y  0; M z 0 (5.5.2)

Untuk kasus grid pada bidang ( X , Y ) , persamaan keseimbangan adalah

F x  0; F y  0; M x 0 (5.5.3)

Persamaan keseimbangan dapat disusun untuk masing-masing jenis elemen lainnya,


dengan misalnya menggunakan model elemen dalam Gambar 5.3.1.

5.5.2 Kriteria Keserasian Perpindahan

81
Demi menjamin integritas dari sistem struktur baik sebelum perpindahan dan
deformasi akibat gaya luar terjadi maupun sesudahnya, maka medan perpindahan
harus tetap memenuhi kriteria kompatibilitas, baik melalui syarat batas natural (syarat
batas perpindahan) pada perletakan, syarat kontinuitas perpindahan dalam titik simpul,
dan sebagainya. Sebagai contoh, syarat kontinuitas perpindahan pada titik simpul dan
syarat batas perpindahan diberikan dalam Gambar 5.5.1.

Gambar 5.5.1: Kompatibilitas Perpindahan

5.5 Ketidak-tentuan Statis dan Kinematis Struktur


Dalam uraian di atas telah dipaparkan bahwa komponen gaya maupun komponen
perpindahan memiliki hubungan antar sesamanya, antar komponen gaya dengan
kriteria keseimbangan dan antar komponen perpindahan dengan kriteria kompatibilitas.
Hubungan antara jumlah komponen gaya yang tidak diketahui dengan jumlah
persamaan keseimbangan memberikan kondisi ketidak-tentuan statis sistem, sementara
jumlah komponen perpindahan bebas (derajat kebebasan) memberikan kondisi ketidak-
tentuan kinematis sebagai mana akan dibahas berikut ini.

5.5.1 Ketidak-tentuan Statis


Derajat ketidak-tentuan sistem, baik struktur global maupun elemen secara lokal
ditentukan oleh selisih dari pada jumlah komponen gaya dengan jumlah persamaan
keseimbangan. Jika jumlah komponen gaya sistem dinyatakan dengan f dan jumlah
persamaan keseimbangan yang bebas satu sama lain (independen) dinyatakan dengan
e , maka derajat ketidak-tentuan statis sistem yang dinyatakan dengan s diberikan
oleh

82
s  f e (5.5.1)

Besaran f dan e dapat ditentukan untuk kasus yang dihadapi. Sebagai contoh, untuk
kasus sistem struktur balok sederhana, ada 2 persamaan keseimbangan, yaitu

F y 0 M z 0 (5.5.2)

sehingga e  2 , dan komponen gaya yang tidak diketahui adalah reaksi perletakan di
kedua ujung sehingga f  2 dan s  f  e  2  2  0 ; dengan demikian, sistem struktur
berupa balok sederhana merupakan sistem yang statis tentu.
Untuk elemen balok-kolom bidang, ada 6 komponen gaya yang tidak diketahui dan
3 persamaan keseimbangan seperti diberikan oleh Pers.(5.5.3), sehingga f  6 dan
e  3 sehingga elemen balok-kolom sebagai sistem yang mandiri memiliki
s  f  e  6  3  3 ; dengan demikian, sistem struktur berupa elemen balok-kolom
merupakan sistem yang statis tidak tentu orde ketiga.
Untuk kasus sistem struktur yang lebih umum, derajat ketidak-tentuan statis dapat
ditentukan dengan cara standard berikut ini. Andaikanlah suatu struktur diwakili oleh
model diskrit dengan jumlah elemen (member) m dan jumlah simpul (joint) n , dalam
mana setiap elemen memiliki sejumlah m f komponen gaya dan me persamaan
keseimbangan, dan setiap titik simpul memiliki sejumlah ne persamaan keseimbangan,
sementara ada sejumlah r reaksi perletakan dan h sendi dalam. Dengan demikian,
jumlah komponen gaya menjadi
f  m f .m  r  h (5.5.3)

dan jumlah persamaan bebas menjadi


e  me . m  n e . j (5.5.4)

sehingga derajat ketidak-tentuan statis diberikan oleh

s  f  e  ( m f  me ) m  ne . n  r  h (5.5.5)

Cara analog dapat digunakan jika suatu sistem struktur dimodel dengan menggunakan
campuran beberapa jenis elemen.
Dari penerapan Pers.(5.5.5) akan terlihat bahwa untuk model diskrit yang berbeda-
beda, m dan n akan berbeda, namun peningkatan nilai m dan n akan memberikan
nilai s yang tetap. Dengan demikian, kita dapat menuliskan kesimpulan berikut ini.

Derajat ketidak-tentuan statis adalah tetap serta tidak


tergantung kepada model diskrit yang digunakan (5.5.6)
untuk mewakili sistem struktur dalam analisis.

5.5.2 Ketidak-tentuan Kinematis


Derajat ketidak-tentuan kinematis elemen tidak memiliki relevansi yang tinggi.
Yang relevan kita perlu mengetahui adalah ketidak-tentuan kinematis sistem struktur

83
global. Yang penting kita perlu mengetahui adalah model diskrit yang bagai mana yang
digunakan dalam analisis struktur. Untuk suatu model diskrit, kita memperhatikan jumlah
komponen perpindahan titik simpul yang bebas, dikurangi dengan derajat kebebasan
perletakan yang terkekang (restrained). Jika suatu sistem struktur dimodel dengan
sejumlah n titik simpul di mana setiap titik simpul memiliki ne derajat kebebasan,
sementara ada sejumlah r reaksi perletakan dan h sendi dalam, maka derajat
ketidak-tentuan kinematis yang dinyatakan dengan k diberikan oleh

k  ne . n  r  h (5.5.7)

Sebagai contoh, kita tinjau sistem struktur portal kaku bidang yang diperagakan
dalam Gambar 5.2.1 serta yang telah dimodel dengan 3 cara. Dalam model 1, n  4 dan
ne  3 , sementara r  6 (3 reaksi perletakan A dan 3 reaksi perletakan B ) dan
h  0 (tidak ada sendi dalam). Dengan demikian, untuk model ini k  ne . n  r  h
 3  4  6  0  6 . Dengan demikian, sistem struktur menurut model diskrit ini adalah
kinematis tidak tentu berderajat 6. Dalam model 2, n  5 dan ne  3 , sementara r  6
dan h  0 . Dengan demikian, untuk model ini k  ne . n  r  h  3 5  6  0  9 .
Dengan demikian, sistem struktur menurut model diskrit ini adalah kinematis tidak tentu
berderajat 9. Dalam model 3, n  6 dan ne  3 , sementara r  6 dan h  0 sehingga
untuk model ini k  ne . n  r  h  3 6  6  0  12 . Dengan demikian, sistem struktur
menurut model diskrit ini adalah kinematis tidak tentu berderajat 12.
Dari bentuk Pers.(5.5.7) terlihat bahwa untuk struktur yang sama dengan model
diskrit yang berbeda-beda, peningkatan jumlah titik simpul akan menimbulkan
peningkatan derajat ketidak-tentuan kinematis struktur. Berdasarkan hal ini, kita
memberikan kesimpulan berikut.

Derajat ketidak-tentuan kinematis tidak tetap tetapi


tergantung kepada model diskrit yang digunakan (5.5.8)
untuk mewakili sistem struktur dalam analisis.

5.6 Hubungan Aksi dan Perpindahan


Hubungan antara aksi dan perpindahan merupakan pencerminan sifat-sifat
mekanis dari apa sistem struktur dibuat. Sebagai contoh yang sangat sederhana, kita
meninjau suatu struktur dalam Gambar 5.6.1 berupa pegas elastis linier sempurna
dengan panjang awal L dan akibat gaya s , pegas memanjang sebesar v . Hubungan
linier antara s dan v dituliskan dalam bentuk

v f s (5.6.1)
dan sebaliknya,
s  k v (5.6.2)
di mana
k  f 1 (5.6.3)
atau

84
1 1
k atau f  (5.6.4)
f k

Gambar 5.6.1: Sistem Pegas Elastis

Bentuk dalam Pers.(5.6.1) yang menghubungkan gaya terhadap perpindahan


dinamakan hubungan fleksibilitas dalam mana v adalah perpindahan dan f .s juga
merupakan besaran perpindahan. Dengan demikian, persamaan fleksibilitas
mengkaitkan perpindahan dengan perpindahan. Dengan perkataan lain, persamaan
fleksibilitas melambangkan kriteria kompatibilitas. Dalam hal ini, f dinamakan faktor
fleksibilitas.
Bentuk dalam Pers.(5.6.2) yang menghubungkan perpindahan terhadap
perpindahan dinamakan hubungan kekakuan dalam mana s adalah gaya dan k.v
juga merupakan besaran gaya. Dengan demikian, persamaan kekakuan mengkaitkan
gaya dengan gaya. Dengan perkataan lain, persamaan kekakuan melambangkan
kriteria keseimbangan. Dalam hal ini, k dinamakan faktor kekakuan.
Untuk suatu sistem berderajat kebebasan ganda, hubungan fleksibilitas
berbentuk persamaan simultan linier dalam format

v1  f 11 s1  f 12 s 2  ...  f 1m s1
v 2  f 21 s1  f 22 s 2  ...  f 2 m s1
(5.6.5)

v m  f m1 s1  f m 2 s 2  ...  f mm s m

atau secara simbol matriks,


 v   f  s (5.6.6)

untuk sistem statis tidak tentu berderajat m . Untuk suatu sistem berderajat kebebasan
ganda, hubungan kekakuan berbentuk persamaan simultan linier dalam format

s1  k11u1  k12 u 2  ...  k1m u1


s 2  k 21u1  k 22 u 2  ...  k 2 m u1
(5.6.7)

s n  k n1u1  k n 2 u 2  ...  k nn u n

atau secara simbol matriks,


 s   k  u (5.6.8)

untuk sistem kinematis tidak tentu berderajat n.


85
Secara umum, tidak ada hubungan spesial antara matriks fleksibilitas [ f ]
dengan matriks kekakuan [k ] , karena pada umumnya derajat ketidak-tentuan statis
yang menentukan ukuran matriks fleksibilitas dan vektor gaya, tidak sama dengan
derajat ketidak-tentuan kinematis yang menentukan ukuran matriks kekakuan dan
vektor perpindahan. Hanya jika derajat ketidak-tentuan statis dan derajat ketidak-
tentuan kinematis yang sama, serta komponen gaya dan komponen perpindahan yang
koresponden satu sama lain, berlaku hubungan

 k  f    f  k    I  (5.6.9)
atau
 k    f  1 ;  f    k  1 (5.6.10)

5.7 Transformasi Matriks


Dalam keseluruhan bahasan, segala sesuatu besaran berkomponen (dengan
demikian, vektor) disusun dalam matriks berbentuk persegi, bujur sangkar maupun
bentuk kolom ataupun baris. Kita mengetahui bahwa sesuatu besaran yang dinyatakan
dalam komponen, memiliki bentuk varian seturut dengan tata sumbu terhadap mana
komponen-komponen diukurkan. Bentuk yang satu memiliki hubungan transformasional
dengan bentuk lainnya. Dengan demikian, dalam pasal ini kita akan membahas aspek
tata sumbu, konvensi tanda serta hubungan transformasional antar matriks.

5.7.1 Tata Sumbu Lokal dan Global


Dalam menjabarkan sistem struktur riel melalui model diskrit yang terdiri atas
elemen-elemen, titik-titik simpul termasuk perletakan dan sendi dalam (jika ada), kita
memerlukan tata sumbu sebagai referensi. Untuk kemudahan formulasi, maka setiap
elemen yang berupa batang dapat diberi tata sumbu lokal yang khusus baginya, yang
dipilih sedemikian hingga formulasi matriks-matriks elemen dapat dilakukan dengan
mudah. Tata sumbu ini dinamakan koordinat lokal (local coordinates) karena bersifat
lokal dan spesial bagi elemen.
Dalam mendefinisikan serta membentuk struktur global, digunakan satu tata
sumbu bersama bagi semua elemen-elemen yang ada. Pada arah tata sumbu yang
dinamakan tata sumbu global (global coordinates) manunggal inilah semua komponen
perpindahan dan gaya, baik komponen elemen maupun global, diukurkan. Semua tata
sumbu, termasuk tata-tata sumbu lokal dan tata sumbu global mengikuti aturan tangan
atau sekrup kanan (right hand screw rule).
Untuk jelasnya, andaikanlah suatu elemen k memiliki tata sumbu lokal
xk
1
k
,x ,x
2
k
3  k k

yang terhadap tata sumbu global  X 1 , X 2 , X 3  dalam mana r1i , r2i , r3i ,
k

i  1,3 merupakan koefisien arah sumbu-sumbu lokal terhadap sumbu-sumbu global.
Dalam hal ini, dipunyai hubungan transformasional antara kedua tata sumbu dalam
bentuk

86
 X 1   r11 r12 r13   x1 
k k k k

   k k  k 
 X 2   r21 r22 r23   x 2 
k
(5.7.1)
 X  r k r k r k   x k 
 3   31 32 33   3 
atau secara simbolis
 X    r k  xk  (5.7.2)

Jelaslah kiranya bahwa matriks  r  yang


k
dinamakan matriks rotasi berfungsi
merotasikan vektor dari tata sumbu lokal ke tata sumbu global. Matriks rotasi ini berbeda
untuk elemen dengan tata sumbu lokal yang berbeda. Dengan perkataan lain,
komponen-komponen lokal elemen dirotasikan dari masing-masing tata sumbu lokal
yang berbeda ke tata sumbu global yang sama dengan matriks rotasi yang berbeda.

5.7.2 Konvensi Tanda


Sebagai pegangan dalam memiliki pandangan dan pengertian yang sama dalam
sajian keseluruhan buku ini, diperlukan konvensi tanda yang secara konsisten dianut
dalam buku ini. Berikut ini diberikan beberapa perjanjian tanda menyangkut tata sumbu,
komponen perpindahan dan komponen gaya.
1. Dalam tata sumbu global, komponen gaya luar pada titik simpul, gaya reaksi
perletakan dan perpindahan titik simpul diberi tanda positif jika arah vektorial
komponen berarah ke sumbu positif tata sumbu global seperti dalam Gambar
5.7.1.
2. Gaya luar elemen, komponen gaya maupun komponen perpindahan ujung
dikaitkan dengan tata sumbu lokal, dan diberi tanda positif jika arah vektorial
komponen berarah ke sumbu positif tata sumbu lokal seperti dalam Gambar 5.7.2.

Gambar 5.7.1: Komponen Global Positif


3. Gaya-gaya dalam (momen, geser dan aksial) elemen dikaitkan dengan tata sumbu
lokal, dan diberi tanda positif jika momen menimbulkan tekan pada serat atas

87
batang, geser memutarkan batang searah sumbu z dan gaya aksial menimbulkan
tarik pada batang, seperti dalam Gambar 5.7.3.

Gambar 5.7.2: Komponen Gaya dan Perpindahan Ujung Elemen Positif

Gambar 5.7.3: Gaya-gaya Dalam Elemen Positif

5.7.3 Translasi Gaya dan Perpindahan Melalui Badan Kaku


Pandanglah dua titik A (0,0,0) dan titik B ( x, y , z ) dalam ruang yang
dihubungkan sesamanya dengan tuas kaku seperti dalam Gambar 5.7.5. Komponen
gaya-gaya pada kedua titik adalah

 f a    f xa , f ya , f za , m xa , m ay , m za 
(5.7.3)
 f b    f xb , f yb , f zb , m xb , m by , m zb 
Jika komponen gaya-gaya pada ujung A dipandang sebagai pindahan dari komponen
gaya-gaya pada ujung B , maka dapat dituliskan

f xa  f xb ; f ya  f yb , f za  f zb ; m xa   z f yb  y f zb  m xb
m ya   z f xb  x f zb  m by ; m za   y f xb  x f yb  m zb

yang secara matriks dapat dituliskan dalam bentuk

88
 f xa   1 0 0 0 0 0  f xb 
 a   
 fy   0 1 0 0 0 0  f yb 
 f z   0 0 0 0  f zb 
a
0 1
 a     (5.7.4)
m x   0  z y 1 0 0 m xb 
m ay   z 0 x 0 1 0 m by 
 a   
m z   y x 0 0 0 1 m zb 

atau secara simbolis


 f a   V AB  f b  (5.7.5)

Gambar 5.7.4: Translasi Komponen Gaya Dalam Ruang

Matriks VAB  merupakan matriks translasi yang dalam kaitan ini memindahkan
komponen-komponen gaya dari ujung B ke ujung A (bedakan dengan: dari ujung B
ke ujung A ). Dengan demikian, matriks tersebut sering dinamakan matriks transfer.

Khusus untuk elemen balok-kolom bidang seperti dalam Gambar 5.7.5, vektor
gaya dan vektor perpindahan titik-titik ujung diberikan oleh

 f a    f xa , f ya , m za ;  u    u , u ,  
a
a
x
a
y
a
z
(5.7.6)
 f b    f xb , f yb , m zb  ; u    u , u ,  
b
b
x
b
y
b
z

89
Gambar 5.7.5: Translasi Komponen Gaya Dalam Balok-kolom Bidang
Dengan demikian, hubungan translasional antara komponen-komponen gaya ujung B
kepada komponen-komponen gaya ujung A seturut Pers.(5.7.4) diberikan oleh

 f xa  1 0 0  f xb 
 a   b
 f y   0 1 0   f y  (5.7.7)
 m a  0 L 1   m b 
 z   z 
atau
 f a   VBA  f b  (5.7.8)

Di lain fihak, perpindahan pada titik B dapat dipandang sebagai fungsi dari pada
perpindahan pada titik A dengan hubungan

u xb  u xa ; u by  u ya  L .  za ;  zb   za

yang dapat dituliskan dalam formulasi matriks

u xb  1 0 0  u xa 
 b   a
u y   0 1 L  u y  (5.7.9)
 b  0 0 1   a 
 z   z 
atau
 u b   V AB  u a  (5.7.10)

Pemeriksaan atas bentuk dalam Pers.(5.7.7) dan (5.7.9) memberikan hubungan

V AB   VBA  T atau VBA   V AB  T


(5.7.11)

5.7.4 Rotasi Tata Sumbu


Dalam Ayat 5.7.3 kita mempelajari hubungan translasional antara vektor
perpindahan maupun vektor gaya. Hal ini menyangkut kaitan antara komponen dalam
aspek titik yang berbeda. Sekarang kita mempelajari komponen gaya atau perpindahan
pada titik yang sama, namun dinyatakan terhadap tata sumbu yang berbeda. Hal ini
menyangkut proses rotasi tata sumbu sebagai mana akan dibahas berikut ini.

Andaikanlah suatu gaya F dinyatakan dengan komponen ( f x , f y , f z ) yang


diukur terhadap tata sumbu ( x, y , z ) dan dengan komponen ( Fx , Fy ,Fz ) yang
diukur terhadap tata sumbu ( X , Y , Z ) seperti dalam Gambar 5.7.6. Kedua set
komponen tersebut dihubungkan dengan

90
 f x   11 12 13   Fx 
    
 f y    21  22  23   Fy  (5.7.12)
 f   33   Fz 
 z   31 32
atau
 f      F  (5.7.13)

dalam mana    adalah matriks rotasi yang unsur-unsurnya merupakan koefisien arah
sumbu-sumbu ( x, y , z ) terhadap ( X , Y , Z ) . Baris pertama hingga ketiga merupakan
koefisien arah sumbu x hingga z ; yang dari Gambar 5.7.6 diperoleh
11  cos  ; 12  sin  ; 13  0 ;
 21   sin  ;  22  cos  ;  23  0 ; (5.7.14)
31  0 ; 32  0 ; 33  1;
sehingga
 cos  sin  0
     sin  cos  0 (5.7.15)
 0 0 1 

Matriks rotasi dalam Pers.(5.7.15) dapat digunakan untuk merotasikan seluruh


komponen gaya pada suatu titik. Untuk kasus balok-kolom ruang, kita memperoleh

Gambar 5.7.6: Proses Rotasi Dalam Kasus Portal Bidang

 f x   cos  sin  0 0 0 0  Fx 
 f   sin  cos  0 0 0 0  Fy 
 y 
 f z   0 0 1 0 0 0  Fz 
     (5.7.16)
m x   0 0 0 cos  sin  0  M x 
m y   0 0 0  sin  cos  0  M y 
    
m z   0 0 0 0 0 1  M z 

atau

91
 f    R F  (5.7.17)

dalam mana
    O 
 R    (5.7.18)
 O     

Dengan cara serupa, kita dapat merotasikan komponen-komponen gaya dari tata
sumbu ( X , Y , Z ) terhadap ( x, y , z ) . Hasilnya adalah

 Fx  cos   sin  0  f x 
    
 Fy    sin  cos  0  f y  (5.7.19)
F   0 0 1  f z 
 z 
atau
 F   T  f  (5.7.20)

Namun, dari Pers.(5.7.13) kita bisa mendapatkan

 F      1 f  (5.7.21)
dalam mana
cos   sin  0
   sin  0
1
cos  (5.7.22)
 0 0 1

Pengamatan atas bentuk Pers.(5.7.19) dan (5.7.22) memberikan hubungan

  T    1
(5.7.23)

yang dinamakan kontragrediens (contra-gredience).

5.7.5 Gabungan Rotasi dan Translasi


Proses translasi dan rotasi telah dibahas dalam pasal-pasal terdahulu secara
tersendiri. Pertanyaan sekarang adalah urutan dari kedua proses jika dialami oleh suatu
sistem struktur, apakah rotasi terjadi terlebih dahulu baru translasi atau sebaliknya.
Menurut teori Chasles, perpindahan badan kaku terdiri atas dua komponen, yaitu rotasi
dan translasi. Teori ini tidak menyebutkan apa-apa mengenai urutan terjadinya kedua
ragam tersebut, tetapi karena suatu medan perpindahan badan kaku harus unik, maka
urutan terjadinya kedua ragam perpindahan kaku tidak akan mempengaruhi hasil akhir
perpindahan, sebagai mana akan ditunjukkan berikut ini.

Tinjaulah suatu proses transformasi antara dua sumbu ( x, y , z ) dan ( X , Y , Z ) .


Tanpa mengurangi keabsahan secara umum, maka untuk kesederhaan kita mengambil
suatu titik pada elemen balok-kolom AB seperti dalam Gambar 5.7.7. Kita meninjau
dua urutan proses perpindahan, yaitu (a) rotasi dulu, baru translasi, dan (b) translasi
dulu, baru rotasi. Urutan (a) mencakup rotasi dari ( x, y , z ) ke ( X , Y , Z ) pada titik B ,
kemudian translasi sumbu dari ( X , Y , Z ) ke ( X , Y , Z ) pada B . Rotasi dari
( x, y , z ) ke ( X , Y , Z ) memberikan

92
 F Bx  cos   sin  0  Fxb 
 B    
 F y    sin  cos  0  FyB  (5.7.24)
M Bz   0 0 1 M zB 
  

atau
F    R
B B  FB  (5.7.25)

Kemudian, translasi dari B ke A memberikan

0  F x 
B
 FxA   1 0
 A   B 
 Fy    0 1 0  F y  (5.7.26)
M A   Y X 1 M z 
B
 z   

atau
 FA   V AB  F B  (5.7.27)

Gambar 5.7.7: Gabungan Proses Rotasi dan Translasi

Gabungan kedua proses memberikan


 FA   TAB'  FB  (5.7.28)
dalam mana
 cos   sin  0
T   V  R 
'
AB AB B

 sin  cos  0 (5.7.29)
 Y cos   X sin  Y sin   X cos  1

Urutan (b) mencakup translasi dari titik B ke titik A , dan proses ini diberikan
oleh

 F xA   1 0 0  FxB 
 A    
F y    0 1 0  FyB  (5.7.30)
M zA   Y X 1 M zB 
  
atau

93
F   V  F 
A AB B (5.7.31)

Kemudian, rotasi dari ( X , Y , Z ) ke ( X , Y , Z ) memberikan

0  F x 
A
 FxA  cos   sin 
 A   A 
 Fy    sin  cos  0  F y  (5.7.32)
M A   0 0 1 M z 
A
 z   
atau
 F A    R A  F A  (5.7.33)

Gabungan kedua proses memberikan

 FA   TAB' '  FB  (5.7.34)

dalam mana
cos   sin  0
T    R  V 
''
AB A AB   sin  cos  0 (5.7.35)
  Y X 1
Akan tetapi, mengingat

X  X cos   Y sin  ; Y   X sin   Y cos  (5.7.36)


maka

 cos   sin  0
T 
''
AB

 sin  cos  0 (5.7.37)
  Y cos   X sin  Y sin   X cos  1

sehingga berdasarkan pengamatan atas Pers.(5.7.29) dan (5.7.37), diperoleh

T   T 
''
AB
'
AB (5.7.38)

yang mengindikasikan bahwa proses transformasi badan kaku adalah unik dan tidak
tergantung kepada urutan proses translasi dan rotasi.

5.8 Contoh Penerapan


Untuk memperdalam pengertian dan pemahaman mengenai bahan sajian dalam
bab ini, maka berikut ini disajikan beberapa contoh penerapan.

Contoh 5.1: Suatu struktur berupa portal bidang seperti dalam Gambar 5.8.1 ingin
dimodel dengan dua elemen batang 12 dan 23 . Jika deformasi batang
aksial diabaikan, maka tentukanlah jenis elemen paling sederhana yang
dapat digunakan untuk pemodelan diskrit struktur.
Penyelesaian:

94
Dengan mengabaikan deformasi aksial batang, titik 2 tidak bertranslasi horizontal
maupun vertical, sehingga komponen perpindahan bebas struktur hanyalah berupa
rotasi titik simpul 1, 2 dan 3 seperti dalam Gambar 5.8.1(b). Dengan demikian, jenis
elemen paling sederhana yang cukup untuk permodelan struktur adalah elemen balok
seperti terlihat dalam Gambar 5.8.1(c).

Contoh 5.2: Dalam Contoh 5.1, pilihlah tata sumbu global dan tata sumbu lokal untuk
masing-masing elemen. Dengan pilihan tata sumbu tersebut, tentukanlah
matriks rotasi untuk transformasi dari tata sumbu lokal ke tata sumbu global
bagi masing-masing elemen.

Penyelesaian:

Tata sumbu global ( X , Y , Z ) struktur dipilih seperti dalam Gambar 5.8.2(a),


dengan titik 1 sebagai titik awal dan sumbu X diambil mendatar, kemudian sumbu Y

Gambar 5.8.1: Struktur Contoh 5.1

dan Z disesuaikan menurut aturan tangan kanan. Untuk elemen 1, titik awal diambil
titik 1 dan sumbu x1 diambil sesuai sumbu pusat elemen dari titik 1 ke titik 2 (vertikal)
sementara sumbu y1 dan z1 disesuaikan menurut aturan tangan kanan seperti dalam
Gambar 5.8.2(c). Sudut rotasi untuk elemen ini menjadi  1  90 o , sehingga matriks
rotasi untuk elemen ini menjadi

95
 cos 90 o sin 90 o 0 0 0 0
 
 sin 90
o
cos 90 o 0 0 0 0
 0
 R1    0 0 1 0 0
 (5.8.1)
 0 0 0 cos 90 o sin 90 o 0
 0 0 0  sin 90 o cos 90 o 0
 
 0 0 0 0 0 1

namun karena yang muncul hanya derajat kebebasan rotasi, maka matriks rotasi yang
diperlukan hanya merupakan baris ketiga dan keenam serta kolom ketiga dan keenam;
sehingga diperoleh

 R1   
1 0
 (5.8.2)
0 1 

Gambar 5.8.2: Struktur Contoh 5.2

Untuk elemen 2, titik awal diambil titik 2 dan sumbu x 2 diambil sesuai sumbu
pusat elemen dari titik 2 ke titik 3 (horizontal) sementara sumbu y 2 dan z 2
disesuaikan menurut aturan tangan kanan seperti dalam Gambar 5.8.2(c). Sudut rotasi
untuk elemen ini menjadi  2  0 o , sehingga matriks rotasi untuk elemen ini menjadi

 cos 0 o sin 0 o 0 0 0 0
 
 sin 0
o
cos 0 o 0 0 0 0
 0
 R2    0 0 1 0 0
 (5.8.3)
 0 0 0 cos 0 o sin 0 o 0
 0 0 0  sin 0 o cos 0 o 0
 
 0 0 0 0 0 1

namun karena yang muncul hanya derajat kebebasan rotasi, maka matriks rotasi yang
diperlukan hanya merupakan baris ketiga dan keenam serta kolom ketiga dan keenam;
sehingga diperoleh

96
 R2   
1 0
(5.8.4)
0 1

Contoh 5.3: Dalam contoh ini, ulangilah soal dalam Contoh 5.2, namun kali ini
perhitungkanlah ragam deformasi aksial batang-batang.

Gambar 5.8.3: Struktur Contoh 5.3

Penyelesaian:

Dengan memperhitungkan deformasi aksial batang, titik 2 bertranslasi horizontal


maupun vertikal, sehingga komponen perpindahan bebas struktur adalah berupa rotasi
titik simpul 1, 2 dan 3, ditambah translasi horizontal dan vertikal titik simpul 2 seperti
dalam Gambar 5.8.3(b). Dengan demikian, jenis elemen paling sederhana yang cukup
untuk permodelan struktur adalah elemen balok-kolom seperti terlihat dalam Gambar
5.8.3(c).
Tata sumbu global dan tata sumbu local elemen-elemen batang tetap dipilih
seperti dalam Gambar 5.8.2(b), dengan  1  90 o dan  2  0 o . Untuk elemen 1, matriks
rotasi menjadi

 cos 90 o sin 90 o 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0
   1
 sin 90
o
cos 90 o 0 0 0 0  0 0 0 0 0
 0 0 0 1 0 0 0
 R1    0 0 1 0 0
  
 0 0 0 cos 90 o sin 90 o 0 0 0 0 0 1 0
 0 0 0  sin 90 o cos 90 o 0 0 0 0 1 0 0
   
 0 0 0 0 0 1  0 0 0 0 0 1
(5.8.5)

dan untuk elemen 2, matriks rotasi menjadi

97
 cos 0 o sin 0 o 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0
  0
 sin 0
o
cos 0 o 0 0 0 0  1 0 0 0 0
 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
 R2      (5.8.6)
 0 0 0 cos 0 o sin 0 o 0 0 0 0 1 0 0
 0 0 0  sin 0 o cos 0 o 0 0 0 0 0 1 0
   
 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1

Contoh 5.4: Struktur dalam Gambar 5.8.4 ingin dimodel dengan batang 12 sebagai
elemen 1 dan batang 23 sebagai elemen 2, dengan u1 , u 2 ,..., u 9 seperti
dalam Gambar 5.8.4(b) sebagai perpindahan struktur, sedemikian hingga
syarat batas perletakan rol titik 3 dengan mudah dapat diterapkan dengan
menuliskan u 8  0 . Tentukanlah jenis elemen yang akan digunakan dan
susunlah matriks rotasi kedua elemen.

Gambar 5.8.4: Struktur Contoh 5.4

Penyelesaian:

Dengan memperhitungkan deformasi aksial batang, titik 2 bertranslasi horizontal


maupun vertikal, sehingga komponen perpindahan bebas struktur mencakup translasi
horizontal dan vertikal titik simpul 2 sebagai mana telah diambil dalam Gambar 5.8.4(b).
Dengan demikian, jenis elemen paling sederhana yang cukup untuk permodelan struktur
adalah elemen balok-kolom seperti terlihat dalam Gambar 5.8.4(c).

98
Tata sumbu global dipilih seperti dalam Gambar 5.8.2(b) dan derajat kebebasan
elemen dipilih seperti dalam Gambar 5.8.4(c), sehingga sudut  bernilai 0 o untuk
ujung 1 dan 2 elemen 1, dan sudut  bernilai 315 o untuk ujung 1 dan 90 o untuk
ujung 2 elemen 2. Untuk elemen 1, matriks rotasi menjadi

 cos 0 o sin 0 o 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0
   1
 sin 0
o
cos 0 o 0 0 0 0  0 0 0 0 0
 0 0 0 1 0 0 0
 R1    0 0 1 0 0
  
 0 0 0 cos 0 o sin 0 o 0 0 0 0 0 1 0
 0 0 0  sin 0 o cos 0 o 0 0 0 0 1 0 0
   
 0 0 0 0 0 1  0 0 0 0 0 1
(5.8.7)

dan untuk elemen 2, matriks rotasi menjadi

 cos 315 o sin 315 o 0 0 0 0   2/2  2 /2 0 0 0 0


   
 sin 315 0   2/2  2 /2
o
cos 315 o 0 0 0 0 0 0 0
 0  0
 R2    0 0 1 0 0

0 0 1 0 0

 0 0 0 cos 90 o sin 90 o 0  0 0 0 0 1 0
 0 0 0  sin 90 o cos 90 o 0  0 0 0 1 0 0
   
 0 0 0 0 0 1  0 0 0 0 0 1

(5.8.8)

Contoh 5.5: Suatu sistem struktur balok dengan titik 2 diambil sebagai sendi dalam,
seperti dalam Gambar 5.8.5 ingin dimodel dengan dua elemen, yaitu
batang 12 sebagai elemen 1 dan batang 23 sebagai elemen 2. Dengan
mengabaikan deformasi aksial balok, tentukan derajat kebebasan struktur
dan model elemen paling sederhana yang cukup untuk digunakan dalam
modelisasi struktur.

Penyelesaian:

Gambar 5.8.5(a) menunjukkan struktur balok dengan perpindahan yang


ditunjukkan dalam Gambar 5.8.5(b), di mana terlihat adanya loncatan (kink) dalam
rotasi. Dengan demikian diperlukan 2 komponen rotasi pada titik 2, yaitu  21 untuk
rotasi titik ujung kanan elemen 1 dan  23 untuk rotasi titik ujung kiri elemen 2. Namun,
terdapat defleksi vertikal yang sama untuk kedua ujung (ujung kanan elemen 1 dan
2
ujung kiri elemen 2) yang dinyatakan sebagai u y dalam Gambar 5.8.5(c). Dengan
mengabaikan deformasi batang, elemen 1 dan 2 dapat dimodel dengan elemen balok
seperti dalam Gambar 5.8.5(d).

99
Gambar 5.8.5: Struktur Contoh 5.5

5.9 Rangkuman
Bahasan dalam bab ini dirangkum dalam beberapa pokok sari bahasan sebagai
berikut ini.

1. Untuk dapat memulai analisis, struktur yang sebenarnya perlu dimodel dalam
suatu sistem diskrit yang diupayakan sesederhana mungkin, namun cukup andal
dalam merepresentasikan struktur dengan ketelitian yang cukup.
2. Ketidak-tentuan statis sistem struktur adalah tetap serta tidak tergantung kepada
model diskrit yang digunakan.
3. Ketidak-tentuan kinematis sistem struktur tidak tetap serta tergantung kepada
model diskrit yang digunakan.
4. Untuk dapat menuliskan hubungan antara gaya dan perpindahan elemen,
digunakan tata sumbu lokal yang berlaku untuk elemen tersebut.
5. Untuk keseluruhan struktur, digunakan suatu tata sumbu global yang terhadapnya
dapat dituliskan hubungan transformasional dari masing-masing tata sumbu lokal
elemen.

5.10 Soal-soal
Soal 5.1: Struktur rangka kaku bidang dalam Gambar 5.10.1 ingin dimodel dengan 5
elemen batang, yaitu segmen 12, 23, 34, 25 dan 46. Dengan
memperhitungkan deformasi aksial batang, pilihlah jenis elemen paling
sederhana yang dapat mewakili masing-masing segmen batang tersebut di
atas. Pilihlah tata sumbu lokal untuk masing-masing elemen dan pilih satu
tata sumbu global untuk struktur. Kemudian, susunlah matriks rotasi untuk
masing-masing elemen.

100
Soal 5.2: Struktur rangka kaku bidang dalam Gambar 5.10.2 ingin dimodel dengan 3
elemen batang, yaitu segmen 12, 23, dan 35. Dengan memperhitungkan
deformasi aksial batang, pilihlah jenis elemen paling sederhana yang dapat
mewakili masing-masing segmen batang tersebut di atas. Pilihlah tata sumbu
lokal untuk masing-masing elemen dan pilih satu tata sumbu global untuk
struktur. Kemudian, susunlah matriks rotasi untuk masing-masing elemen.

Soal 5.3: Suatu struktur rangka bidang yang kaku pada titik simpul 2 seperti dalam
Gambar 5.10.3 ingin dimodel dengan 5 elemen batang, yaitu segmen 12, 23,
14, 24 dan 35. Dengan memperhitungkan deformasi aksial batang, pilihlah
jenis elemen paling sederhana yang dapat mewakili masing-masing segmen
batang tersebut di atas. Pilihlah tata sumbu lokal untuk masing-masing
elemen dan pilih satu tata sumbu global untuk struktur. Kemudian, susunlah
matriks rotasi untuk masing-masing elemen.

Gambar 5.10.1: Struktur Soal 5.1 Gambar 5.10.2: Struktur Soal 5.2

Soal 5.4: Suatu struktur rangka sendi seperti dalam Gambar 5.10.4 dimodel dengan 3
elemen batang, yaitu segmen 12, 13, dan 23. Dengan mengambil titik 1, 1
dan 2 sebagai ujung awal dari masing-masing elemen 1, 2 dan 3, maka
pilihlah tata sumbu global dan tata sumbu lokal untuk masing-masing
elemen. Kemudian, pilihlah jenis elemen yang digunakan serta susunlah
matriks rotasi untuk masing-masing elemen.

Gambar 5.10.3: Struktur Soal 5.3 Gambar 5.10.4: Struktur Soal 5.4

101
Soal 5.5: Suatu struktur boks seperti dalam Gambar 5.10.5 dicor kaku pada titik simpul
1, 2, 3 dan 4 dan ingin dimodel dengan 4 elemen batang, yaitu segmen 12,
13, 24 dan 35. Dengan mengambil titik 1, 1, 2 dan 3 sebagai ujung awal dari
masing-masing elemen 1, 2, 3 dan 4, maka pilihlah tata sumbu global dan
tata sumbu lokal untuk masing-masing elemen. Kemudian, pilihlah jenis
elemen yang digunakan serta susunlah matriks rotasi untuk masing-masing
elemen.

Gambar 5.10.5: Struktur Soal 5.5

102
45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71
46,48,50,52,54,56,58,60,62,64,66,68,70,72

103