Anda di halaman 1dari 15

Rickettsiosis

MPPD Departement Penyakit Dalam


Subdivisi Penyakit Tropis Infeksi
Supervisor Pembimbing:
Dr. dr. Risna Halim Mubin, Sp.PD-KPTI
PENDAHULUAN

❖Gram negatif, obligate intracellular bakteri


❖Pleomorphic coccobacilli, ~ 2 um in length

❖Termasuk genera : Rickettsia, Ehrlichia, Orientia,


and Coxiella

❖Host alami: haiwan dan arthropoda


KELOMPOK ETIOLOGI
PENYAKIT EPIDEMIOLOGI
PENYAKIT (AGENT)

Rickettsia Amerika, Asia


Epidemic typhus
Prowazekii (China,India), Africa
TYPHUS GROUP
Seluruh dunia ( Thailand,
Murin typhus
Rickettsia typhi Indonesia, Amerika
Syarikat, Mexico.

Scrub typhus Orientia Asia, Australia Utara,


(Chigger fever) tsutsugamushi Rusia
SCRUB TYPHUS

SPOTTED FEVER Rocky Mountain Rickettsia Mexico, America Utara &


GROUP spotted fever Rickettsii Selatan

Korea, Ukraine, United


Rickettsialpox Rickettsia akari State, Thailand, Sri
langka

Aljazira, Mesir, Afrika,


Q-fever Coxiella burnetii
Lain-lain Madagaskar, Libya
Ehrlichia
Ehrlichiosis chafeensis, Eropah, Asia , Afrika
ETIOLOGI
Patofisiologi
Patofisiologi
Patofisiologi
Manifestasi
Klinis
Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis
Komplikasi
• Rocky Mountain spotted fever (RMSF):
• bronchopneumonia
• gagal jantung kongestif (karena kelebihan cairan)
• jangka Panjang pada individu tertentu (terutama yang defisiensi enzim G6PD):
kelumpuhan parsial ekstremitas bawah, gangren yang membutuhkan amputasi,
gangguan pendengaran, kehilangan kontrol usus atau kandung kemih, gangguan
gerakan, dan gangguan bahasa.
• Rickettsialpox biasanya self-limited tanpa komplikasi.
• Demam Boutonneuse kadang-kadang dapat menjadi fatal dengan
kegagalan multiorgan, ensefalopati, dan koagulopati.
• Louse-boorne typhus dan murine typhus: komplikasi jarang terjadi tapi
dapat meliputi gangren, parotitis, otitis, mioperikarditis, pneumonia,
dan pleuritis.
• Scrub typhus, komplikasi biasanya terjadi setelah minggu pertama
penyaki, dapat berupa jaundice, gagal ginjal, pneumonitis, ARDS, syok
septik, miokarditis dan meningo-ensefalitis.
• Demam Q, komplikasi meliputi demam Q kronis, endokarditis,
miokarditis, meningoensefalitis, glomerulonefritis, dan sindrom hormon
antidiuretik yang tidak tepat (SIADH).
Tatalaksana

Terapi :
• Pengobatan harus dimulai sejak awal minggu
pertama penyakit
• doksisiklin (pilihan pertama)
• tetrasiklin (alternatif)
profilaksis :
• kontrol vektor
• vaksin hidup & vaksin mati, namun tidak
efektif
Pencegahan

• Edukasi kebersihan lingkungan


• Berantas tikus, kutu, dan vector lain
• Modifikasi bangunan
• Mencuci pakaian dengan air panas untuk
mematikan vector, atau dengan permentrin
1%, dapat diulang dalam interval 6 minggu
• Vaksin  data belum membuktikan
keefektifan
Terima Kasih