Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kolera adalah salah satu penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat
mengakibatkan dehidrasi progresif yang cepat dan berat serta dapat menimbulkan
kematian yang disebabkan oleh Vibrio Kolera yang memproduksi enteroksin
dalam jumlah besar, sehingga memberikan pengaruh yang ekstrim pada aktivitas
sekresi dari sel epitel mukosa usus halus dan bentuk feses yang khas seperti air
tajin atau rice water stool. Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut
gastroenteritis masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari
masyarakat di Indonesia.
Kementerian Kesehatan Masyarakat dan Penduduk Yaman telah melaporkan
kepada World Health Organization (WHO) Jumlah kumulatif kasus kolera yang
dilaporkan di Yaman sejak Oktober 2016 adalah 997.525 termasuk 2.351
kematian terkait dengan tingkat kematian kasus sebesar 0,23%. Negara ini
mengalami gelombang kedua wabah ini selama bulan April, dan dari 27 April
sampai 30 November 2017, jumlah kasus kolera yang dilaporkan adalah 971.698,
termasuk 2.222 kematian terkait dengan tingkat kematian kasus sebesar 0,23%.
Konflik yang sedang berlangsung, menghancurkan infrastruktur kesehatan, air
bersih dan sanitasi dan gizi buruk telah menyebabkan masyarakat lebih rentan
terhadap penyakit, termasuk kolera dan penyakit menular endemik lainnya.
Pada Agustus 2010 telah terjadi kejadian luar biasa di Kabupaten Jember
dalam kurun waktu empat minggu terjadi 747 kejadian kolera dan empat
kematian. Laboratorium Bakteriologi Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar
kesehatan melakukan ivestigasi untuk mencari penyebab kejadian tersebut. Telah
dikumpulkan 32 sampel usap dubur dari penderita diaremaupun kontak yang
berhubungan dengan penderita diare, berserta 11 sampel air yang berasal dari
sumber air maupun air limbah. Berdasarkan pemeriksaan kultur dari sampel

1
tersebut di ketahui penyebab KLB diare di Jember adalah Vibrio cholera, dan
ditemukan pengindap kolera yang tidak menunjukkan gejala (carrier)
Berdasarkan laporan Pusat Komunikasi Public Departemen Kesehatan RI
melalui Direktorat Jendral Pengendalian dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL)
menginformasikan telah terjadi kolera sejak awal april hingga awal agustus 2008
di Kabuapaten Paniai dan Kabupaten Nabire provinsi Papua dan telah menelan
korban 105 penderita meninggal dunia.
Sampai saat ini tidak ditemukan data yang menunjukan kejadian penyakit
kolera di Sumatera Utara.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui pemetaan penyakit kolera terkait dengan potensial PHEIC.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui definisi dan etiologi penyakit kolera
2. Untuk mengetahui gejala klinis dan diagnosis penyakit kolera
3. Untuk mengetahui alur penentuan PHEIC
4. Untuk mengetahui cara penyebaran penyakit kolera
5. Untuk mengetahui cara pemutusan rantai penyakit kolera

1.3 Manfaat Penulisan


Manfaat yang diharapkan dari penulisan ini adalah:
1. Bagi Penulis
Sebagai penambahan wawasan mengenai penyakit kolera terkait
potensial PHEIC.
2. Bagi Pembaca
Sebagai penambahan wawasan dan dapat digunakan sebagai dasar
untuk melakukan pembelajaran selanjutnya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit taun atau kolera (juga disebut Asiatic Cholera) adalah penyakit
menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae.
Kolera ditemukan pada tahun 1883, penemuan ini ditemukan oleh bakteriologi
Robert Koch (Jerman, 1843- 1910).2
Menurut permenkes no: 1501 tahun 2010 kolera merupakan kejadian diare yang
ditandai dengan buang air besar yang mengucur seperti cairan beras dan berbau khas sehingga
dalam waktu singkat tubuh kekurangan cairan (dehidrasi). Pada pemeriksaan specimen tinja

ditemukan kuman kolera (Vibrio cholera) dan atau dalam darah ditemukan zat antinya..10 kasus
penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah menurut Permenkes No.1501
tahun 2010: Kolera, pes bubo, demam berdarah dengue,ampak, polio, difteri,
pertusis, rabies, malaria, avian influenza H5N1.12
Sebagai ketua komisi, Koch pergi ke Mesir di mana epidemi sedang
berlangsung dan di sana ia menemukan beberapa jenis bakteri di usus yang
menyebabkan orang mati karena penyakit kolera tetapi ia tidak dapat mengisolasi
organisme atau hewan yang terinfeksi. Kemudian pada tahun 1883 Koch pergi ke
India, di mana ia menulis bahwa ia berhasil mengisolasi bakteri basil berbentuk
seperti koma. Ia menemukan bahwa bakteri tumbuh di pakaian kotor lembab dan
di dalam kotoran pasien dengan penyakit tersebut.
Kolera adalah infeksi diare akut yang disebabkan oleh konsumsi makanan
atau air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Kolera tetap menjadi
ancaman global bagi kesehatan masyarakat dan indikator ketidaksetaraan dan
kurangnya pembangunan sosial. Periset memperkirakan bahwa setiap tahun, ada
sekitar 1,3 sampai 4,0 juta kasus, dan 21.000 sampai 143.000 kematian di seluruh
dunia karena kolera.2
Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan
yang disebabkan oleh suatu enterotoksin yang dihasilkan oleh vibrio Kolera,
ditandai dengan diare cair ringan sampai diare cair berat dengan muntah yang
dengan cepat menimbulkan syok hipololemik, asidosis metabolik dan tidak jarang
menimbulkan kematian.2
2.2 Etiologi

3
Penyebab kolera, adalah bakteri Vibrio cholerae, yang merupakan bakteri
gram negatif, berbentuk basil (batang) dan bersifat motil (dapat bergerak),
memiliki struktur antogenik dari antigen flagelar H dan antigen somatik O,
gamma-proteobacteria, mesofilik dan kemoorganotrof, berhabitat alami di
lingkungan akuatik dan umumnya berasosiasi dengan eukariot.
Kolera adalah mikroorganisme berbentuk batang, berukuran pendek,
sedikit melengkung dapat bergerak, bersifat gram negatif dan mempunyai flagela
polar tunggal. Terdapat berbagai serotipe V. Kolera yang dapat menimbulkan
diare akut. V. Kolera tumbuh dengan mudah pada bermacam media laboratorium
nonselektif yaitu agar Mac Conkey dan beberapa media selektif termasuk agar
garam empedu, agar gliserin-telurit-taurokholat serta agar trosulfat-sitrat-garam-
empedu-sukrosa (TCBS). Dikenal 2 biotipe V. Kolera diklasifikasikan sebagai
klasik dan Elthor berdasarkan atas hemolisin, hemaglutinasi, kerentanan terhadap
polimiksin B, dan kerentanan terhadap bakteriofag. Basil ini juga dibagi menjadi
serogrup (yaitu serovar) didasarkan pada aniten somatik atau O. V. Kolera
mempunyai dua tipe antigenik O mayor (Ogawa dan India) dan tipe intermediate
tidak stabil (Hikojima). Kuman V. Cholera akan mati pada suhu 50 0 C dalam
waktu 2 menit.2

Gambar 2.1 Morfologi Vibrio Cholera

2.3 Epidemiologi
Pandemi penyakit kolera pertama kali ditemukan di Gangga Delta, suatu
bagian dari distrik di India pada tahun 1817 dan berlangsung sampai tahun 1824.
Pada daerah ini, pandemi kolera telah terjadi sebanyak 8 kali selama 230 tahun
terakhir. Selanjutnya penyakit ini menyebar dari India ke Asia Tenggara, Cina,
Jepang, Timur Tengah, dan selatan Rusia. Pandemi kedua berlangsung dari tahun
1827-1835 yang tersebar di wilayah Amerika Serikat dan Eropa, yang dilanjutkan
dengan pandemi ketiga pada tahun 1839-1856, dimana wabah Kolera meluas
sampai Afrika Utara dan mencapai Amerika Selatan, dengan negara yang paling
parah terkena dampak wabah kolera di wilayah Amerika Selatan pada saat itu
adalah Brasil.

4
Pada tahun 1863-1875 terjadi pandemi keempat, wabah Kolera melanda wilayah
sub-Sahara Afrika. Pandemi kelima dan keenam berlangsung pada tahun 1881-
1896 dan 1899-1923. Mesir, Jazirah Arab, Persia, India dan Filipina merupakan
negara yang terkena dampak paling parah epidemi. Sementara daerah lain yang
terkena wabah kolera, adalah Jerman pada tahun 1892 dan Naples 1910-1911.
Pandemi ke tujuh terjadi pada tahun 1961 di Indonesia yang ditandai oleh
munculnya strain baru, yang dijuluki El Tor, dan masih berlanjut hingga hari ini di
negara-negara berkembang. Pada akhir atau pandemic ke delapan tahun 1992,
epidemi kolera dilaporkan di Madras dan tempat-tempat lain di India dan di
Bangladesh Selatan (19, 109). Epidemi berlanjut sampai tahun 1993, dan V.
cholerae O139 menyebar ke seluruh Bangladesh dan India dan negara-negara
tetangga. Wabah atau kasus karena V. cholerae O139 sejak saat itu telah
dilaporkan terjadi di Pakistan, Nepal, China, Thailand, Kazakhastan, Afghanistan,
dan Malaysia (14, 20, 107, 135). Kasus impor telah dilaporkan di Inggris dan
Amerika Serikat (14, 107). Surveilans baru-baru ini selama tahun 1996 dan 1997
telah menunjukkan bahwa V. cholerae O139 terus menyebabkan wabah kolera di
India dan Bangladesh dan hidup berdampingan dengan vibrio El Tor (35, 89, 91).
Jika wabah kolera akibat serogroup baru ini terus terjadi dan mempengaruhi lebih
banyak negara, ini mungkin merupakan pandemi kedelapan (135).
Jumlah kasus kolera yang dilaporkan ke WHO terus meningkat dalam
beberapa tahun terakhir. Selama tahun 2016, 132 121 kasus diberitahukan dari 38
negara, termasuk 2420 kematian. Perbedaan antara angka-angka ini dan perkiraan
beban penyakit ini adalah karena fakta bahwa banyak kasus tidak dicatat karena
keterbatasan sistem surveilans dan ketakutan akan dampak pada perdagangan dan
pariwisata.2
Endemi dan epidemi kolera sering memperlihatkan suatu pola musiman.
Air serta makanan yang tercemar, terutama jenis kerang-kerangan, memegang
peranan besar dalam transmisi penyakit. Penyebaran dari orang ke orang jarang
ditemukan, tetapi mungkin terjadi di tempat terlalu padat penduduknya, karena
diperlukan jumlah organisme yang besar untuk menimbulkan infeksi, selain
hambatan asam lambung yang akan membunuh sebagian besar vibrio yang

5
tertular pada daerah-daerah endemis kolera, penyakit ini merupakan penyakit
anak-anak, di daerah pedesaan Banglades angka serangan penyakit adalah 5-10
kali lebih besar pada anak-anak berusia antara 2-9 tahun. Dibandingkan dengan
orang-orang dewasa, hal ini terjadi diakibatkan karena kekebalan yang timbul
karena paparan yang berulang terhadap V. Kolera. Kolera jarang dilaporkan terjadi
pada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun, mungkin disebabkan oleh imunitas
pasif yang didapat dari ASI.3

2.4 Patogenesis
Setelah tertelan, vibrio harus melewati lingkungan asam lambung, apabila
berhasil vibrio akan membentuk koloni di usus kecil bagian atas yaitu pada
permukaan sel-sel epitel di dalam lapisan mukosa. Perlekatan terutama
diperantarai oleh Toxin Coregulated Pilus (TCP), dinamakan demikian karena
sintosis TCP diatur secara paralel dengan toksin kolera (Kolera Toxin, CT).
Toksin kolera adalah suatu toksin protein yang terutama menimbulkan
diare cair yang merupakan ciri khas kolera. Toksin kolera tersusun dari sebagian
enzimatikmonomerik (sub unit A) dan sebagian ikatan pentamerik (sub unit B).
Pentamer B berikatan pada ganglioside G M 1, suatu reseptor glikolipid
pada permukaan sel epitel jejenum, dan kemudian mengirim sub unit A ke target
sistoliknya. Sub unit A aktif (A 1) memindahkan secara irerversibel ribosa ADP
dan nikotinamid adenin dinukleotida (NAD) ke target protein spesifiknya,
komponen pengaturan ikatan GTP dari adenilat siklase dalam sel epitel usus.
Ketika rebosilasi ADP yang disebut protein G menaikan pengaturan sub unit
katalitik siklase, hasilnya adalah tingginya kadar AMP siklik (CAMP) dalam
akumulasi intraseluler.
CAMP sebaliknya menghambat sistem transpor ekskresi florida dalam sel
kriptus sehingga menimbulkan akumulasi natrium klorida dalam lumen usus.
Sejak air bergerak pasif untuk mempertahankan osmolitas, cairan isotonik
terakumulasi dalam lumen. Ketika volume cairan melebihi kapasitas penyerapan
usus, terjadi diare cair. Cairan diare yang hilang bersifat isotonis terhadap plasma
dan relatif mengandung konsentrasi tinggi bikarbonat dan kalium. Kehilangan

6
cairan dengan cara demikian ini biasanya mengakibatkan defisit isotonus natrium
dalam air, asidosis terjadi karena defisit biasa dan pengosongan kalium. Jika
cairan dan elektrolit yang keluar tidak diganti secara adekuat, dapat terjadi syok
karena dehidrasi berat dan asidosis karena kehilangan bikarbonat.3
Keparahan kehilangan cairan dan elektrolit pada kolera diansdingkan
dengan kehilangan karena enteropatogen lain yang menghasilkan enterotoksin yan
sangat terkait dengan toksin kolera misalnya E. coli, salmonella dapat akibat dari
toksin lain dalam virulensi V. kolera.3

2.5 Manifestasi Klinis


Diare cair dan muntah timbul sesudah masa inkubasi 6 jam sampai 72 jam
(rata-rata 2-3 hari) kadang-kadang sampai 7 hari. Kolera dimulai dengan awitan
diare berair tanpa rasa nyeri (tenesmus) dengan tiba-tiba yang mungkin cepat
menjadi sangat banyak dan sering langsung disertai muntah. Feses memiliki
penampakan yang khas yaitu cairan agak keruh dengan lendir, tidak ada darah dan
berbau agak amis. Kolera di juluki air cucian beras (rise water stool) karena
kemiripannya dengan air yang telah digunakan untuk mencuci beras. nyeri
abdominal di daerah umbilikal sering terjadi. Pada kasus-kasus berat sering
dijumpai muntah-muntah, biasanya timbul setelah awitan diare kurang lebih 25 %
penderita anak-anak mengalami peningkatan suhu rektum (38-39C), pada saat
dirawat atau pada 24 jam pertama perawatan gejala klinisnya sesuai dengan
penurunan volume cairan, pada kehilangan 3-5 % BB normal, mulai timbul rasa
haus.
Kehilangan 5-8 %, hipotensi postural, kelemahan, takikardia dan
penurunan turgor kulit, di atas 10% BB atau lebih merupakan diare masif, dimana
terdapat dehidrasi berat dan kolaps peredaran darah, dengan tanda-tanda tekanan
darah menurun (hipotensi) dan nadi lemah dan sering tak terukur, pernafasan
cepat dan dalam, oliguria, mata cekung pada bayi, ubun-ubun cekung, kulit terasa
dingin dan lembab disertai turgor yang buruk, kulit menjadi keriput, terjadi
sianosis dan nyeri kejang pada otot-otot anggota gerak, terutama pada bagian
betis. Penderita tampak gelisah, disertai letargi, somnolen dan koma. Pengeluaran
tinja dapat berlangsung hingga 7 hari. Manifestasi selanjutnya tergantung pada

7
pengobatan-pengobatan pengganti yang memadai atau tidak. Komplikasi biasanya
disebabkan karena penurunan volume cairan dan elektrolit. Komplikasi dapat
dihindari dan proses dapat dibatasi apabila diobati dengan cairan dan garam yang
menandai. Tanda awal penyembuhan biasanya adalah kembalinya pigmen empedu
di dalam tinja. Pada umumnya diare akan cepat berhenti.3

2.6 Diagnosis
Dalam menegakan suatu diagnosis kolera meliputi gejala klinis,
pemeriksaan fisik ,reaksi aglutinasi dengan anti serum spesifik dan kultur
bakteriologis. Menegakkan diagnosis penyakit kolera yang berat terutama diderah
endemik tidaklah sukar. Kesukaran menegakkan diagnosis biasanya terjadi pada
kasus-kasus yang ringan dan sedang, terutama di luar endemi atau epidemi.
1. Gejala klinik
Kolera yang tipik dan berat dapat dikenal dengan adanya berak-berak yang
sering tanpa mulas diikuti dengan muntah-muntah tanpa mual, cairan tinja
berupa air cucian beras, suhu tubuh yang tetap normal atau menurun dan
cepat bertambah buruknya keadaan pasien dengan gejala-gejala akibat
dehidrasi, renjatan sirkulasi dan asidosis yang jelas.4
2. Pemeriksaan Fisik.
Adanya tanda-tanda dehidrasi yaitu keadaan turgor kulit, mata cekung,
Ubun ubun besar yang cekung, mulut kering,denyut nadi lemah atau tiada,
takikardi, kulit dingin, sianosis, selaput lendir kering dan kehilangan
berat badan
3. Kultur Bakteriologis
Diagnosis pasti kolera tergantung dari keberhasilan mengisolasi V. Kolera
0 dari tinja penderita penanaman pada media seletif agar gelatin tiosulfat-
sitrat-empedu-sukrosa (TCBS) dan TTGA. Tampak pada TCBS organisme
V. Kolera menonjol sebagai koloni besar, kuning halus berlatar belakang
medium hijau kebiruan. Pada TTGA koloni kecil, opak dengan zone
pengkabutan sekelilingnya.
4. Reaksi aglutinasi dengan antiserum spesifik

8
Yaitu melalui penentuan antibodi-antibodi vibriosidal, aglutinasi dan
penetralisasi toksin, titer memuncrat dan ke 3 antibodi tersebut akan terjadi
7-14 hari setelah awitan penyakit-titer antibodi vibriosidal dan aglutinasi
akan kembali pada kadar awal dalam waktu 8-12 minggu setelah masa
ikubasi penyakit, sedangkan titer antitoksin akan tetap tinggi hingga 12-18
bulan. Kenaikan sebesar 4x atau lebih selama masa penyakit akut atau
penurunan titer selama masa penyembuhan.4
5. Pemeriksaan darah
Pada darah lengkap ditemukan angka leukosit yang meninggi yang
menunjukkan adanya suatu proses infeksi, pemeriksaan terhadap pH,
bikarbonat didalam plasma yang menurun, dan pemeriksaan elektrolit
untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa. 4

2.7 Diagnosis Banding


Diagnosis banding kolera adalah diare sekretoris lainnya dengan gambaran
klinis yang mirip dengan kolera ialah diare yang disebabkan oleh enterotoxigenic
E. Coli (ETEC), Shigella, salmonela. Dapat dibedakan berdasarkan simtom, gejala
klinis dan sifat tinja yaitu berdasarkan tabel berikut:5

Tabel 2.1 Simptom, Gejala Klinis dan Sifat Tinja


Simtom dan Rotavirus E. coli E. coli Salmonel Shigella V.
gejala enterotoksi enteroinvasif la Cholerae
genik
Mual dan Dari - - + Jarang Jarang
muntah permulaan

Panas + - + + + -
Sakit Tenesmus Kadang- Tenesmus Tenesmus Tenesmus Kolik
kadang kolik kolik kolik
Gejala lain - Sering Hipotensi Pusing, Pusing , -
distensi bakterine dapat ada
abdomen mia, kejang
toksemia
sistemik
Sifat tinja :

9
- Volume Sedang Banyak Sedikit Sedikit Sedikit Sangat
banyak
- Frekuensi >10x Sering Sering Sering Sering Hamper
sekali terus
- Kosistensi Berair Berair Kental Berlendir Kental Berair
- Mucus Jarang + + + Sering Flacks
- Darah - - + Kadang Sering -
- Bau - + Tidak spesifik Bau telur Tidak Anyir
berbau
- Warna Hijau Tidak Hijau Hijau Hijau -
kuning berwarna
- Leukosit - - + + + -
- Sifat lain - - - - - Tinja
seperti air
cucian
beras

2.8 Penatalaksaan
Dengan mengetahui patogenesis dan patofisiologi penyakit kolera, maka
pengobatan pada kolera dapat di terapi secara tepat. Dasar pengobatan kolera
yaitu pengobatan yang bersifat simtomatik, causal, penggantian cairan dan
dietetik.6
a. Terapi cairan
Pengobatan utama pada kolera adalah penggantian cairan elektrolit dan
keseimbangan asam basa yang cepat dan adekuat, yaitu dengan
pemberian cairan yang tergantung pada dehidrasi ringan, sedang, berat
menurut WHO yaitu sebagai berikut : (tabel 2).

Tabel 2.2 Penentuan Derajat Dehidrasi Menurut WHO

10
Rehidrasi dilaksanakan dua tahap yaitu : terapi rehidrasi dan maintenance.
Penderita dehidrasi berat dengan shock hipovolemik harus segera diberi cairan
pengganti secara intravena. Pada anak yang berusia lebih muda dapat menerima
cairan kurang lebih 30 ml/tts selama satu jam pertama, 40 ml/ts/dalam 2 jam
berikutnya serta kurang lebih 40 mg/kg selama jam ketiga dan selanjutnya pada
anak-anak yang berusia lebih lanjut dan orang dewasa biasanya diberikan jumlah
keseluruhan tersebut dalam 3-4 jam sedangkan kecepatan dan jumlah yang tepat
dari cairan pengganti serta pemeliharaan selanjutnya disesuaikan dengan derajat
dehidrasi dan pengeluaran tinja yang terus berlangsung. Sesudah itu biasanya
dapat dimulai terapi oral dengan tujuan mempertahankan cairan yang masuk agar
sama dengan yang keluar. 6
Monitoring atau pemantauan yang cermat dan teliti terhadap tanda-tanda
vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu serta perlu diperhatikan adanya ronkhi
paru-paru yang sering akibat edema paru dan edema kelopak mata, untuk

11
mencegah terjadinya hidrasi berlebihan. cairan intravena yang dipilih yang dapat
menggantikan kehilangan cairan isotonus dan elektrolit yang terjadi melalui tinja
kolera dan WHO mengemukakan bahwa RL sebagai larutan yang terbaik dan
perlu ditambahkan kalium klorida (sebanyak 10 m Ek/l) atau diberikan per oral
jika fungsi ginjal baik untuk mencegah hipokalemia berat. Rehidrasi oral dapat
diberikan secukupnya adalah tindakan utama kecuali apabila anak kesadarannya
kurang, muntah terus menerus, menderita ileus dan dalam keadaan syok pada
keadaan ini yang paling tepat adalah rehidrasi intravena.
Penderita dengan derajat dehidrasi sedang atau ringan mula-mula dapat
diberikan cairan pengganti oral dengan tujuan mempertahankan cairan yang
masuk agar sama dengan yang keluar. Larutan tersebut dapat dibuat dengan
menggunakan air minum biasa yang bersih (Oralit).
Penderita dengan dehidrasi sedang mendapatkan 100 mg/kg larutan garam
dehidrasi oral selama 4 jam dan 50 ml/kg dalam waktu yang sama diberikan
kepada penderita dengan dehidrasi ringan. 6
Penderita dengan derajat dehidrasi ringan larutan oral dapat diberikan
sebanyak 100 m/kg/hari hingga diare berhenti. Bayi yang disusui ASI hendaknya
dipertahankan untuk menyusui secara libitum selama pengobatan. Serta ibu harus
menjaga kebersihan dirinya, seperti sebelum dan sesudah menyusui ibu harus
mencuci tangan dengan sabun dibawah air berish dan sabun serta ibu harus
menjaga kebersihan putting susu ibu.

b. Terapi causal
Pengobatan berdasarkan causal yaitu pemberian antibiotika merupakan obat
utama untuk membunuh kuman vibrio dan memperpendek masa dan volume diare
secara bermakna. Tetrasiklin dengan dosis 50 mg/kgBB/hari selama 3 hari, atau
chloramphenikol dengan dosis 50-100 ml/kgBB/hari selama 5 hari atau dapat
diberikan doksisiklin 4 mg/kgBB/selama 3 hari. 6

c. Terapi berdasarkan simtomatik


Pemberian antipiretik dengan preparat salisilat (asetosal, aspirin) yang
berguna untuk menurunkan panas yang terjadi akibat dehidrasi atau panas karena

12
infeksi penyerta, juga dapat mengurangi sekresi cairan yang keluar bersama tinja
Pemberian antiemetik seperti chlorpromazine (largactil) terbukti selain mencegah
muntah dapat juga mengurangi sekresi dan kehilangan cairan bersama tinja.
Pemberian dalam dosis adekuat 1 mg/kgBB/hari. 6

d. Terapi dietetik
Bahan makanan yang kaya energi atau tinggi kalori, protein dan mengandung
kalium dapat diberikan. Perhatian pada masukan makanan sangat penting dan
harus dimulai sesegera difisit telah terganti untuk meminimalkan dampak nutrisi
pada penyakit. Bayi yang disusui ASI tetap diberikan secara libitum untuk
mengatasi kehilangan cairan dan mencegah gangguan status gizi penderita. 6

2.9 Pencegahan
Tindakan pencegahan terbaik terhadap kolera adalah menghindari
makanan dan air yang tercemar dengan pengadaan air bersih, fasilitas
pembuangan feses yang bersih, peningkatan gizi, dan perhatian pada persiapan
makan dan penyimpanan di rumah dapat menurunkan insidensi kolera secara
bermakna. 7
Pemberian vaksin dapat diberikan pada individu-individu yang berisiko
tinggi pada suatu daerah endemik kolera. Dengan imunisasi dengan vaksin
standard yaitu pemberian seluruh sel bakteri mati yang mengandung 10 biliun
vibrio mati per ml, hanya memberikan proteksi 60-80% untuk masa 3-6 bulan.
Vaksin disini tidak berpengaruh pada carier dalam pencegahan penularan,
sehingga vaksin kolera tidak efektif untuk mengatasi suatu keadaan endemik.
Hingga saat ini higieni saja yang memberikan pencegahan yang mantap. 7
Dengan adanya pengendalian terhadap wabah dengan mengusahakan
untuk mengenali kontak kasus dan mengobati karier yang membawanya, sehingga
keduanya merupakan hal yang sangat penting untuk mengurangi angka kesakitan
dan kematian. 7
Dua jenis vaksin secara oral tersedia saat ini yaitu an attenuated live
vaccine berdasarkan genetically modified V.cholerae galur O1 (Orochol) yang
diberikan dalam dosis tunggal dan sel dari galur O1 V.cholerae yang sudah

13
dimatikan dengan purified cholera toxin (Dukoral) yang memberikan pencegahan
yang sangat kuat diberikan dalam 2 dosis 1-6 minggu secara terpisah. Orochol
tidak dianjurkan bagi wisatawan untuk penggunaan secara rutin bila berkunjung
ke daerah endemik kolera, kecuali mereka yang mempunyai risiko tinggi seperti
petugas kesehatan yang bertugas di derah endemik. Wisatawan dianjurkan makan
dan minum yang bersih. Dosis ulang dibutuhkan karena imunitas tidak
berlangsung lama. Vaksin Dokoral saat ini sedang dicoba di Mozambique untuk
menurunkan insidens pada populasi yang berisiko tinggi. Vaksin baru sedang
dicoba berdasarkan pemahaman molekuler dari patognenitas kolera.11

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk kolera adalah:


1. Hanya minum air yang matang dan air kemasan yang di jual di toko.
2. Gunakan air bersih untuk memasak, mencuci piring, sikat gigi, mandi,
mencuci baju.
3. Hati-hati jika mencampur minuman dengan es batu, jangan menggunakan es
batu dengan air mentah.
4. Jangan makan daging mentah atau makanan laut yang kurang matang.
5. Cuci dan kupas buah atau sayuran saat akan mengkonsumsinya.
6. Selalu cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan.
7. Miliki fasilitas MCK dengan pembuangan limbah yang baik agar tidak
mengkontaminasi air bersih di sumur.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia tujuan dari rencana keselamatan air
adalah memastikan air minum yang aman melalui praktek penyediaan air bersih
yang meliputi :
1. Mencegah kontaminasi sumber air
2. Mengobati air untuk mengurangi atau menghilangkan kontaminasi yang bisa
hadir sejauh yang diperlukan untuk memenuhi target kualitas air
3. Mencegah rekontaminasi selama penyimpanan, distribusi dan penanganan air.
Akses global terhadap air bersih, sanitasi yang layak dan pendidikan yang
kebersihan yang tepat dapat mengurangi penyakit dan kematian akibat penyakit,
yang mengarah pada peningkatan kesehatan, pemberantasan kemiskinan dan
pembangunan social ekonomi. Program CDC seperti safe water system dapat

14
memberdayakan masyarakat untuk memperbaiki air mereka dengan
menggunakan pilihan pengobatan rumah tangga. Sanitasi dan kebersihan sangat
penting untuk kesehatan, kelangsungan hidup, dan pembangunan. Banyak
Negara ditantang untuk menyediakan sanitasi yang layak bagi seluruh populasi
mereka, sehingga orang-orang beresiko terhadap penyakit terkait air, sanitasi, dan
kebersihan (WASH).11
WHO pada bulan oktober 2017 meluncurkan stategi untuk pengendalian
kolera yang bertujuan untuk menggurangi kematian akibat kolera hingga 90%
dan untuk menghilangkan kolera sebanyak 20 negara pada tahun 2030.2
Cara menetralisir air yang terkontaminasi bakteri kolera dengan klorin,
konsentrasi residu bebas klorin lebih besar dari atau sama dengan 0,5 mg / L (0,5
ppm atau bagian per juta) setelah sekurang-kurangnya 30 menit waktu kontak
pada pH kurang dari 8.0.11
2.10 Prognosis
Prognosis tergantung pada kecepatan dimulainya pemberian terapi yang sesuai.
Dengan pengobatan yang adekuat, hampir semua pasien kolera benar-benar
sembuh dan angka kematian dapat diturunkan sampai 0%.8

15
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 IHR dan PHEIC


IHR (International Health Regulation) adalah suatu instrumen
internasional yang secara resmi mengikat untuk diberlakukan oleh seluruh negara
anggota WHO, maupun bukan negara anggota WHO tetapi setuju untuk
dipersamakan dengan negara anggota WHO.9
Dalam IHR (2005) dipersiapkan Legal Framework guna pengumpulan
informasi secara cepat dan tepat dalam menentukan apakah suatu kejadian
merupakan Public Health Emergency of International Concern
(PHEIC)/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia, yang
diharapkan berguna bagi suatu negara untuk mendapatkan bantuan. Di samping
itu, dipersiapkan pula prosedur pelaporan baru yang bertujuan untuk mempercepat
alur informasi secara cepat dan akurat kepada WHO tentang potensi PHEIC yang
dapat dilaksanakan oleh suatu negara yang mengalami PHEIC, negara lainnya dan
pengelola transportasi. 9

16
Setiap negara anggota diwajibkan untuk mengembangkan, memperkuat,
dan mempertahankan kem ampuan dasar pada setiap level administrasi, agar dapat
mendeteksi melaporkan, serta menangani risiko kesehatan masyarakat yang
berpotensi menimbulkan PHEIC. Di samping itu, juga dibutuhkan kemampuan
khusus untuk melaksanakan pemeriksaan di bandara, pelabuhan dan lintas batas
darat.
Untuk membantu suatu negara mengidentifikasi apakah suatu keadaan
merupakan PHEIC, IHR (2005) mempersiapkan instrumen yang mengarahkan
negara untuk mengkaji suatu kejadian di wilayahnya dan menginformasikan
kepada WHO setiap kejadian yang merupakan PHEIC sesuai dengan kriteria
sebagai berikut : 9
1. Berdampak/berisiko tinggi bagi kesehatan masyarakat
2. KLB atau sifat kejadian tidak diketahui
3. Berpotensi menyebar secara internasional
4. Berisiko terhadap perjalanan ataupun perdagangan

Apabila suatu kejadian dianggap sebagai PHEIC, WHO akan membentuk


Emergency Commitee yang independen untuk mengkaji dan menginformasikan
perkembangannya dengan memberi saran kepada Direktur Jenderal WHO. 9
Cara pencegahan air yang terkontaminasi dnegan bakteri kolera dengan
menggunakan cairan clorin.
1. Buat larutan onduk klorin 1% dengan melarutkan 14,28 gram HTH
70%/

17
Gambar 3.2 Kriteria Penentuan PHEIC
Sumber : Global Health, Buku Saku IHR, pdf
3.2 Telaah Kolera Terkait Potensial PHEIC
Salah satu tujuan IHR (2005) yakni mencegah, melindungi terhadap dan
menanggulangi penyebaran penyakit antar negara tanpa pembatasan perjalanan
dan perdagangan yang tidak perlu. Penyakit yang dimaksud ialah penyakit
menular yang sudah ada, baru dan yang muncul kembali serta penyakit tidak
menular yang bisa menyebabkan PHEIC/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang
Meresahkan Dunia. 10
Makin canggihnya alat transportasi dan komunikasi. Hal ini menyebabkan
dunia manusia bebas bergerak dan bepergian keseluruh pelosok dunia dengan
mudah dan cepat. Hal ini antara lain mengakibatkan makin mudah berpindahnya
penyakit menular khususnya kolera sehingga berpotensi sebagai PHEIC.
Kontaminasi air yang dikonsumsi oleh manusia oleh feses yang
mengandung kuman kolera merupakan penyebab penyakit kolera. Selain itu,
makanan seperti sayuran yang dipupuk dengan kotoran manusia dan tidak
dibersihkan pada waktu mengkonsumsinya. Pada feses penderita kolera dijumpai
jutaan atau lebih kuman Vibrio cholerae dalam setiap mililiter fesesnya.
Penyebaran penyakit kolera ini dapat melalui jalur trtansportasi baik laut maupun
udara, rute perdagangan dan rute perpindahan penduduk. penyakit ini menyebar
melalui kontak orang ke orang yang melibatkan individu yang terinfeksi ringan

18
atau asimptomatis (carrier), melalui air, makanan yang terkontaminasi dengan
tinja. Kuman ini dapat bertahan hidup di air selama 3 minggu. 10
Kolera ditransmisikan melalui meminum air atau memakan makanan yang
terkontaminasi dengan bakteri kolera. Wabah kolera dapat terjadi secara sporadis
diberbagai belahan dunia, dimana suplai air, sanitasi, dan higienitasnya tidak
memadai. Wilayah dengan jumlah penduduk yang sangat padat dan tingkat
sanitasi yang sangat rendah seringkali menjadi langganan “tempat persinggahan”
bagi penyakit ini.
Keadaan wilayah di Indonesia dan didukung dengan pola hidup
masyarakat didaerah daerah pinggiran yang kurang memperhatikan kesehatan
lingkungan akan membuat penyebaran penyakit ini berlangsung cepat. Karena
selain air yang terkontaminasi oleh bakteri V.Cholera, penyakit ini juga
diperantarai oleh lalat. Jika lalat tersebut hinggap ditempat yang ada feces orang
yang terinfeksi kolera dan kemudian terbang kemakanan yang tidak ditutup rapat,
maka akan sangat mungkin sekali orang yang memakan makanan tersebut akan
terjangkit kolera, dengan gejala awalnya adalah menderita diare akut. Setiap orang
bisa terkena kolera, namun anak‐anak lebih banyak yang meninggal akibat
penyakit ini, karena mereka lebih cepat mengalami dehidrasi dibandingkan
dengan orang dewasa. Tanpa penanganan yang tepat, tingkat kematian akibat
penyakit ini bisa mencapai 50%. Sehingga apabila terjadi endemik kolera
penanganan yang tepat dan akurat dari pemerintah merupakan hal sangat penting
dilakukan. 10

3.3 Telaah Pemetaan Penyakit Kolera Terkait Potensial PHEIC

Pada tahun 2015 dilaporkan oleh WHO terjadi 172.454 kasus dengan 1304
dilaporkan mengalami kematian (CFR 0,75%). Wabah terus terjadi di beberapa
negara. Secara keseluruhan dilaporkan 41% kasus terjadi di Afrika, 37% di Asia
dan 21% di Amerika. Kolera masih menjadi masalah utama kesehatan di dunia,
khususnya bagi negara-negara berkembang yang tidak memiliki sarana sanitasi
dan sumber daya air yang memadai.

19
Pada tahun 2015 di benua Afrika, 16 negara melaporkan total 71.176
kasus, dengan 937 kasus kematia. Dibandingkan dengan tahun 2014 jumlah kasus
105.287, menurun 32%.10
Di benua amerika dilaporkan sebanyak 36.664 kasus dan 337 kematian.
Lima negara yang melaporkan adanya kasus kolera adalah Kuba, Rrepublik
Dominika, Haiti, Meksiko dan Amerika Serikat.beberapa kasus berkaitan dengan
konsumsi makanan laut (seafood) yang di impor dari luar negeri.
Di Asia 13 negara melaporkan adanya kasus kolera sebanyak 64.590
dengan 30 kasus kematian. Hal ini terjadi peningkatan sebanyak 14 % dari tahun
2014.
Berdasarkan pengalaman, menunjukkan bahwa karantina dan embargo
pada pergerakan orang dan barang tidak efektif dalam mengendalikan penyebaran
penyakit kolera. Negara dengan yang terkena kolera di harapkan kesigapannya
untuk dapat mendeteksi dan menanggapi wabah kolera yang ada. Edukasi harus
diberikan kepada masyarakat dan wisatawan tentang resiko kolera, gejala,
pencegahan dan kapan serta dimana melaporkan kasus yang terjadi.

Gambar 3.3 Distribusi Negara dengan kolera Tahun 2015

3.4 Negara-Negara Terkait Kasusu Kolera Tahun 20158

20
Perkiraan Perkiraan
Tingkat Kasus
Populasi jumlah Jumlah
Negara kejadian/ kematian
beresiko kasus Kematian
1,000 (%)
tahunan pertahun
Nigeria 110,198,368 2.00 220,397 3.80 8,375
Ghana 20,866,095 2.00 41,732 3.80 1,586
Madagascar 17,917,602 2.00 35,835 3.80 1,362
Niger 14,463,309 2.00 28,927 3.80 1,099
Burkina Faso 12,898,436 2.00 25,797 3.80 980
Mali 10,909,050 2.00 21,818 3.80 829
Cameroon 10,518,415 2.00 21,037 3.80 799
Chad 10,197,079 2.00 20,394 3.80 775
Guinea 8,918,347 2.00 17,837 3.80 678
Benin 8,273,524 2.00 16,547 3.80 629
Angola 8,210,632 2.00 16,421 3.80 624
Senegal 6,216,271 2.00 12,433 3.80 472
Togo 5,486,232 2.00 10,972 3.80 417
Sierra Leone 5,004,219 2.00 10,008 3.80 380
Liberia 3,245,552 2.00 6,491 3.80 247
Mauritania 2,670,971 2.00 5,342 3.80 203
Guinea-Bissau 1,269,299 2.00 2,539 3.80 96
Gabon 1,042,669 2.00 2,085 3.80 79
Gambia 537,805 2.00 1,076 3.80 41
Comoros 437,172 2.00 874 3.80 33
Cape Verde 190,164 2.00 380 3.80 14
Sao Tome and
131,889 2.00 264 3.80 10
Principe
Ethiopia 68,805,272 4.00 275,221 3.80 10,458
Democratic
Republic of the 47,265,282 4.00 189,061 3.80 7,184
Congo
United
Republic of 40,475,997 4.00 161,904 3.80 6,152
Tanzania
Kenya 27,818,252 4.00 111,273 3.80 4,228
Uganda 22,431,561 4.00 89,726 3.80 3,410
Mozambique 19,653,157 4.00 78,613 3.80 2,987
Côte d'Ivoire 14,422,207 4.00 57,689 3.80 2,192
Zimbabwe 7,846,187 4.00 31,385 3.80 1,193
Malawi 7,356,710 4.00 29,427 3.80 1,118
South Sudan 7,356,287 4.00 29,425 3.80 1,118

21
Perkiraan Perkiraan
Tingkat Kasus
Populasi jumlah Jumlah
Negara kejadian/ kematian
beresiko kasus Kematian
1,000 (%)
tahunan pertahun
Zambia 6,872,832 4.00 27,491 3.80 1,045
Eritrea 5,454,101 4.00 21,816 3.80 829
Burundi 4,985,687 4.00 19,943 3.80 758
Rwanda 4,876,529 4.00 19,506 3.80 741
Congo 3,371,606 4.00 13,486 3.80 512
Central African
2,870,948 4.00 11,484 3.80 436
Republic
Lesotho 1,486,602 4.00 5,946 3.80 226
Namibia 1,481,698 4.00 5,927 3.80 225
Swaziland 513,054 4.00 2,052 3.80 78
Dominican
1,702,855 5.70 9,639 1.40 138
Republic
Jamaica 548,297 0.10 55 1.00 1
Saint Lucia 62,089 0.10 6 1.00 0
Haiti 8,214,012 26.00 210,589 1.20 2,584
Sudan 26,382,481 1.64 43,267 3.20 1,385
Afghanistan 17,890,622 1.64 29,341 3.20 939
Yemen 10,698,614 1.64 17,546 3.20 561
Somalia 7,419,853 1.64 12,169 3.20 389
Djibouti 417,018 1.64 684 3.20 22
Tajikistan 457,640 0.10 46 1.00 0
Indonesia 5,107,432 0.45 2,298 1.00 23
India 411,700,175 1.64 675,188 3.00 20,256
Bangladesh 66,495,209 1.64 109,052 3.00 3,272
Nepal 18,523,751 1.64 30,379 3.00 911
Timor-Leste 572,109 1.64 938 3.00 28
Bhutan 401,486 1.64 658 3.00 20
China 90,838,800 0.10 9,084 1.00 91
Philippines 24,295,524 0.10 2,430 1.00 24
Cambodia 9,911,802 0.10 991 1.00 10
Papua New
3,772,420 0.10 377 1.00 4
Guinea
Lao People's
Democratic 3,325,771 0.10 333 1.00 3
Republic
Solomon
357,984 0.10 36 1.00 0
Islands

22
Perkiraan Perkiraan
Tingkat Kasus
Populasi jumlah Jumlah
Negara kejadian/ kematian
beresiko kasus Kematian
1,000 (%)
tahunan pertahun
Vanuatu 101,609 0.10 10 1.00 0
Micronesia
77,714 0.10 8 1.00 0
(Fed. States of)
Kiribati 65,488 0.10 7 1.00 0
Marshall
13,107 0.10 1 1.00 0
Islands
Palau 6,755 0.10 1 1.00 0
Nauru 3,509 0.10 1 1.00 0
Total 1,264,311,192 2,855,714 95,284

Dari tabel diatas di dapati data : Negara yang memiliki populasi


beresiko tertinggi ialah Negara india dengan populasi 411.700.175, dan Negara
yang memiliki resiko yang paling rendah ialah Nauru dengan populasi 3.509.
Negara dengan jumlah kasus kematian pertahun tertinggi ialah Negara india
dengan jumlah 20.256 dan Negara yang memeiliki jumlah kasus, kematian
pertahun terendah ialah Saint Lucia , Tajikistan, Solomo Islands, Vanuatu,
Micronesia (fed. States Of), Kiribati, Marshall Islands, palau, Nauru dengan
jumlah 0

23
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan yang
disebabkan oleh kelompok enterotoksin yang dihasilkan oleh vibrio Kolera
yang ditandai dengan diare cair ringan, diare cair berat dengan muntah yang
dengan cepat dapat menimbulkan syok hipovolemik, asidosis metabolik dan
tidak jarang menimbulkan kematian.
2. Penyebab kolera adalah mikroorganisme berbentuk batang, berukuran pendek,
sedikit melengkung, dapat bergerak, bersifat gram negatif dan mempunyai
flagela polar tunggal.
3. penyebaran melalui makanan dan air yang terkontaminasi merupakan media
perantara penularan kolera.
4. Penularan biasanya terjadi di tempat yang padat penduduknya dengan tingkat
sosial ekonomi dan gizi penduduk yang rendah dan keadaan sanitasi
lingkungan yang tidak bersih.
5. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia tujuan dari rencana keselamatan air
adalah memastikan air minum yang aman melalui praktek penyediaan air
bersih yang meliputi :
a. Mencegah kontaminasi sumber air
b. Mengobati air untuk mengurangi atau menghilangkan kontaminasi yang
bisa hadir sejauh yang diperlukan untuk memenuhi target kualitas air
c. Mencegah rekontaminasi selama penyimpanan, distribusi dan penanganan
air.
Akses global terhadap air bersih, sanitasi yang layak dan pendidikan yang
kebersihan yang tepat dapat mengurangi penyakit dan kematian akibat
penyakit, yang mengarah pada peningkatan kesehatan, pemberantasan

24
kemiskinan dan pembangunan social ekonomi. Program CDC seperti safe
water system dapat memberdayakan masyarakat untuk memperbaiki air
mereka dengan menggunakan pilihan pengobatan rumah tangga. Sanitasi dan
kebersihan sangat penting untuk kesehatan, kelangsungan hidup, dan
pembangunan. Banyak Negara ditantang untuk menyediakan sanitasi yang
layak bagi seluruh populasi mereka, sehingga orang-orang beresiko terhadap
penyakit terkait air, sanitasi, dan kebersihan (WASH).
6. Manifestasi klinisnya diare cair dan muntah biasanya timbul sesudah masa
inkubasi 6 jam sampai 72 jam. Diare tanpa rasa nyeri (tenesmus). Feses yang
khas yaitu cairan agak keruh dengan lendir, tidak ada darah dan berbau agak
amis atau seperti cucian air beras (Rice Water Stool).
7. Salah satu tujuan IHR (2005) yakni mencegah, melindungi terhadap dan
menanggulangi penyebaran penyakit antar negara tanpa pembatasan
perjalanan dan perdagangan yang tidak perlu. Penyakit yang dimaksud ialah
penyakit menular yang sudah ada, baru dan yang muncul kembali serta
penyakit tidak menular yang bisa menyebabkan PHEIC/Kedaruratan
Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia.
4.2 Saran
4.2.1 Untuk KKP :
1. KKP perlu sosialisasi kepada masyarakat di sekitar pelabuhan ataupun
bandar udara terkait penyakit kolera.
2. Mengecek dan mengamati secara teliti setiap orang yang akan ataupun
yang pulang dari negara yang endemik kolera.

4.2.2 Untuk Lintas Sektor :


1. Dinas Kesehatan : Meningkatkan upaya promitif dan preventif
terhadap penyakit kolera terutama bagi masyarakat ekonomi
menengah kebawah.
2. Pemerintah Kab/Kota/Provinsi/Pusat : Memberikan perhatian lebih
kepada lingkungan masyarakatnya baik lingkungan fisik, lingkungan
sosial dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

25
4.2.3 Untuk pelaku perjalanan Internasional :
1. Perlu dilakukan vaksinasi sebelum berangkat ke negara endemik
kolera.
2. Hati-hati dalam mengkonsumsi makanan dan minuman.
3. Sering mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.

4.2.4 Untuk masyarakat :


1. Gunakan air bersih untuk memasak, mencuci piring, sikat gigi, mandi,
mencuci baju.
2. Hati-hati jika mencampur minuman dengan es batu, jangan
menggunakan es batu dengan air mentah.
3. Jangan makan daging mentah atau makanan laut yang kurang matang.
4. Cuci dan kupas buah atau sayuran saat akan mengkonsumsinya.
5. Selalu cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah makan.
6. Miliki fasilitas MCK dengan pembuangan limbah yang baik agar tidak
mengkontaminasi air bersih di sumur.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Noersahid H Suraatmadja S dan Asnil P.O, Gastroenteritis Akut


Gastroenterologi Anak Praktis, FKUI 2010, hal 51-70.
2. Cholera. [available at : http//www.who.int/cholera/en/] diakses 10-02-
2017.
3. Depkess tahun 2008. [Available at : http/www.depkes.go.id/] diakses 10-
02-2017
4. Gomez H.F dan Cleary T.G., Kolera, Nelson, Ilmu Kesehatan Anak,
volume 6, edisi 15, EGC, Jakarta, 2012, hal 102
5. Keusch G.T dan Deresiewicz R.L., Kolera, Harrison Prinsip-prinsip Ilmu
Penyakit Dalam, Volume 4, Edisi 5, EGC, Jakarta, 2010, hal 766-768.
6. Puspandari N. Investigasi Penyebab Kejadian Luar Biasa Kolera di Jember
Terkait Cemaran Sumber Air. 2012. Purworejo. [available at: http://e-
journal.akbid-purworejo.ac.id/index.php/jkk2/article/view/47] diakses 11-
02-2017
7. Soemarsono H.S., Kolera, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi 3,
Buku Penerbit FKUI, Jakarta, 2015, hal 443
8. World Health Organization (WHO), 2015. Updated Global Burden of
Cholera Endemic Contries.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4455997/
9. Rohde J.E dan Baswedan S, Diare, Prioritas Pediatri di Negera Sedang
Berkembang, Yayasan Essentia Medica, Yogyakarta, 2010 , hal 203-211.
10. Country-specific cholera cases and deaths. [Available at :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4455997/table/pntd.00038
32.t002/] Diakses 10-02-2017.
11. Centers for disease control and prevention (CDC). 2017. Vaccines cholera.
https://www.cdc.gov/cholera/vaccines.html

27
12. Permenkes RI, No. 1501/MENKES/PER/X/2010, Tentang Definisi
Cholera. Hal: 13. Jakaeta

28