Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim

Alhamdulillah, marilah kita panjatkan segala puji syukur kita kehadirat Allah SWT yang senantiasa

memberikan nikmat dan anugrah-Nya kepada kita semua. Tentu dengan nikmat dan anugerah itu, kita

masih diperkenankan untuk tetap hidup dalam keadaan sehat, dan yang terpenting kita masih ditetapkan

dalam iman dan islam.

Shalawat Allah semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW, karena beliaulah yang

membimbing kita hingga berada di jalan kebenaran dari jalan yang gelap gulita. Juga bagi keluarga, para

sahabat, dan para umatnya yang setia mengikuti petunjuk dan tuntunan beliau hingga hari kebenaran tiba.

Atas terselesaikanya makalah ini Tidak kalah pentingnya, rasa sayang dan terima kasih kepada

Guru yang senantiasa mendo’akan dalam penyelesaian makalah ini.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan

kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi

perbaikan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya

dan umumnya bagi para pembaca.


A. Musaqah

Akad musaqah merupakan peluang bagi orang lain untuk bekerja dan mendapatkan pekerjaannya
dengan cara yang halal dan diridai Allah swt.. Sedangkan bagi majikan juga merasa sangat terbantu. Islam
sangat menganjurkan musaqah karena memberi manfaat sosial yang sangat tinggi.

1. Hadist
jumhur ulama fiqh mengatakan: bahwa akad Al-musaqah itu dibolehkan.Dasar hukum yang
digunakan para ulama dalam menetapkan hukum musaqah adalah:
a. Dari Ibnu Umar: “Sesungguhnya Nabi SAW. Telah memberikan kebun kepada penduduk khaibar
agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan, baik
dari buah – buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R Muslim).
b. Dari Ibnu Umar: ” Bahwa Rasulullah SAW telah menyerahkan pohon kurma dan tanahnya kepada
orang-orang yahudi Khaibar agar mereka mengerjakannya dari harta mereka, dan Rasulullah SAW
mendapatkan setengah dari buahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)[9]
c. “Bahwa Rasulullah Saw, melakukan kerjasama perkebunan dengan penduduk Khaibar dengan
ketentuan bahwa mereka mendapatkan sebagian dari hasil kebun atau pertanian itu. (H.R.
Muttafaqun ‘alaih)

1. Pengertian dan dasar hukum Musaqah


Musaqah berasal dari kata al-saqa, yaitu seseorang yang bekerja mengurus pohon anggur, tamar,
atau lainnya supaya mendatangkan kemaslahatan dan mendapatkan bagian tertentu dari hasil yang
diurus sebagai imbalannya.
Secara istilah, musaqah adalah mempekerjakan manusia untuk mengurus pohon dengan menyiram
dan memeliharanya serta hasil yang direzekikan Allah swt. dari pohon itu untuk mereka berdua
(pendapat Syekh Syihab ad-Din al-Qalyubi dan Syekh Umarah).
Dasar hukumnya dalah hadits Nabi saw. riwayat Imam Muslim dari Ibnu Amr, r.a bahwa Rasulullah
saw. bersabda yang artinya: “Memberikan tanah khaibar dengan separoh dari penghasilan, baik buah-
buahan maupun pertanian (tanaman).” Pada riwayat lain dinyatakan bahwa Rasul menyerahkan tanah
khaibar itu kepada Yahudi, untuk diolah dan modal dari hartanya, penghasilan separohnya untuk Nabi.

2. Rukun Musaqah
Rukun musaqah meliputi beberapa hal:
1. Antara pemilik kebun dan tukang kebun (penggarap) hendaknya orang yang sama-sama berhak
bertasaruf (membelanjakan harta keduanya).
2. Kebun dan semua pohon yang berbuah boleh diparokan (bagi hasil), baik yang berbuah tahunan
(satu kali dalam satu tahun) maupun yang berbuah hanya satu kali kemudian mati, seperti jagung
dan padi.
3. Syarat Musaqah
Syarat musaqah adalah sebagai berikut:
a) Ahli dalam akad.
b) Menjelaskan bagian penggarap.
c) Membebaskan pemilik dari pohon.
d) Hasil dari pohon dibagi dua antara pihak-pihak yang melangsungkan akad sampai batas akhir,
yakni menyeluruh sampai akhir.Tidak disyaratkan untuk menjelaskan mengenai jenis benih,
pemilik benih, kelayakan kebun, serta ketetapan waktu.

4. Macam-macam
Musaqah ada 2 macam, yaitu :
1. Musaqah yang bertitik tolak pada manfaatnya, yaitu pada hasilnya berarti pemilik tanah (tanaman)
sudah menyerahkan kepada yang mengerjakan segala upaya agar tanah (tanaman) itu
membawa hasil yang baik.
2. Musaqah yang bertitik tolak pada asalnya (Cuma mengairi), yaitu mengairi saja, tanpa ada
tanggung jawab untuk mencari air. Maka pemiliknyalah yang berkewajiban mencarikan jalan air,
baik dengan menggali sumur, membuat parit, bendungan, ataupun usaha-usaha yang lain.

Hukum Musaqah
a. Hukum musaqah sahih
Menurut ulama Hanafiyah hukum musaqah sahih adalah:
· Segala pekerjaan yang berkenaan dengan pemeliharaan pohon diserahkan kepada penggarap, sedang
biaya yang diperlukan dalam pemeliharaan dibagi dua,
· Hasil dari musaqah dibagi berdasarkan kesepakatan,
· Jika pohon tidak menghasilkan sesuatu, keduanya tidak mendapatkan apa-apa,
· Akad adalah lazim dari kedua belah pihak,
· Pemilik boleh memaksa penggarap untuk bekerja kecuali ada uzur,
· Boleh menambah hasil dari ketetapan yang telah disepakati,
· Penggarap tidak memberikan musaqah kepada penggarap lain kecuali jika di izinkan oleh pemilik.
Menurut ulama Malikiyah:
· Sesuatu yang tidak berhubungan dengan buahtidak wajib dikerjakandan tidak boleh disyaratkan,
· Sesuatu yang berkaitan dengan buah yang membekas di tanah tidak wajib dibenahi oleh penggarap.
· Sesuatu yang berkaitan dengan buah tetapi tidak tetap adalah kewajiban penggarap, seperti menyiram
atau menyediakan alat garapan, dan lain-lain.
Menurut ulama Syafi’iyah dan Hanabilah sepakat dengan ulama Malikiyah akan tetapi menambahkan
bahwa segala pekerjaan yang rutin setiap tahun adalah kewajiban penggarap, sedangkan pekerjaan yang
tidak rutin adalah kewajiban pemilik tanah.
b. Hukum musaqah fasid
Musaqah fasid adalah akad yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan syara’.
Menurt ulama Hanafiyah, musaqah fasid meliputi:
· Mensyaratkan hasil musaqah bagi salah seorang dari yang akad,
· Mensyaratkan salah satu bagian tertentu bagi yang akad,
· Mensyaratkan pemilik untuk ikut dalam penggarapan,
· Mensyaratkan pemetikan dan kelebihan pada penggarap,Mensyaratkan penjagaan pada penggarap
setelah pembagian,
· Mensyaratkan kepada penggarap untuk terus bekerja setelah habis wakt akad,
· Bersepakat sampai batas waktu menurut kebiasaan,
· Musaqah digarap oleh banyak orang sehingga penggarap membagi lagi kepada penggarap lainnya.

5. Habis waktu Musaqah


Menurut ulama Hanafiyah, musaqah dianggap selesai apabila:
a. Habis waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yang akad
b. Meninggalnya salah seorang yang akad
c. Membatalkan, baik dengan ucapan jelas atau adanya uzur.
Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat musaqah selesai jika habis waktu.

3. Musaqah yang dibolehlkan


Para ulama berbeda pendapat dalam masalah yang diperbolehkan dalam musaqah. Imam Abu Dawud
berpendapat bahwa yang boleh dimusaqahkan hanya kurma. Menurut Syafi’iyah, yang boleh hanyalah
kurma dan anggur saja sedangkan menurut Hanafiyah semua pohon yang mempunyai akar kedasar bumi
dapat dimusaqahkan, seperti tebu.

Menurut Imam Malik musaqah diperbolehkan untuk semua pohon yang memiliki akar yang kuat,
seperti delima, tin, zaitun dan pohon-pohon yang serupa dengan itu dan dibolehkan pula untuk pohon-
pohon yang berakar tidak kuat, seprti semangka dalam keadaan pemilik tidak lagi memiliki kemampuan
untuk menggarapnya.

Menurut mazhab Hanbali, musaqah dibolehkan untuk semua pohon yang buahnya dapat dimakan.
Dalam kitab al-mughni, Imam Malik berkata, musaqah diperbolehkan untuk pohon tadah hujan dan
diperbolehkan pula untuk pohon-pohon yang perlu disiram.

4. Hikmah Musaqah
Memberi kesempatan pada orang lain untuk bekerja dan menikmati hasil kerjanya, sesuai dengan
yang dikerjakan. Sementara itu, pemilik kebun/tanah garapan memberikan kesempatan kerja dan
meringankan kerja bagi dirinya.
B. Muzaraah dan Mukhabarah

1. Pengertian
Menurut etimologi, muzara,ah adalah wazan “mufa’alatun” dari kata “az-zar’a” artinya menumbuhkan.
Al-muzara’ah memiliki arti yaitu al-muzara’ah yang berarti tharhal-zur’ah (melemparkan tanaman),
maksudnya adalah modal.
Sedangkan menurut istilah muzara’ah dan mukhabarah adalah:
a) Ulama Malikiyah; “Perkongsian dalam bercocok tanam”
b) Ulama Hanabilah: “Menyerahkan tanah kepada orang yang akan bercocok tanam atau
mengelolanya, sedangkan tanaman hasilnya tersebut dibagi antara keduanya.
c) Ulama Syafi’iyah: “Mukhabarah adalah mengelola tanah di atas sesuatu yang dihasilkan dan
benuhnya berasal dari pengelola. Adapun muzara’ah, sama seperti mukhabarah, hanya saja
benihnya berasal dari pemilik tanah.
Muzara’ah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan imbalan sebagian
hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan benihnya ditanggung
pemilik tanah
Mukhabarah ialah mengerjakan tanah (orang lain) seperti sawah atau ladang dengan imbalan
sebagian hasilnya (seperdua, sepertiga atau seperempat). Sedangkan biaya pengerjaan dan benihnya
ditanggung orang yang mengerjakan.
Munculnya pengertian muzara’ah dan mukhabarah dengan ta’rif yang berbeda tersebut karena
adanya ulama yang membedakan antara arti muzara’ah dan mukhabarah, yaitu Imam Rafi’I berdasar
dhahir nash Imam Syafi’i. Sedangkan ulama yang menyamakan ta’rif muzara’ah dan mukhabarah
diantaranya Nawawi, Qadhi Abu Thayyib, Imam Jauhari, Al Bandaniji.Mengartikan sama dengan memberi
ketetntuan: usaha mengerjakan tanah (orang lain) yang hasilnya dibagi.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Muzaraah merupakan asal dari ijarah (mengupah atau
menyewa orang), dikarenakan dalam keduanya masing-masing pihak sama-sama merasakan hasil yang
diperoleh dan menanggung kerugian yang terjadi.
Imam Ibnul Qayyim berkata: Muzaraah ini lebih jauh dari kezaliman dan kerugian dari pada ijarah.
Karena dalam ijarah, salah satu pihak sudah pasti mendapatkan keuntungan. Sedangkan dalam
muzaraah, apabila tanaman tersebut membuahkan hasil, maka keduanya mendapatkan untung, apabila
tidak menghasilkan buah maka mereka menanggung kerugian bersama.

2. Dalil
Dalil Muzara’ah
Hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:
”Dari Ibnu Umar berkata “Rasullullah memberikan tanah Khaibar kepada orang-orang Yahudi dengan
syarat mereka mau mengerjakan dan mengolahnya dan mengambil sebagian dari hasilnya”.

Hadist yang diriwayatakn oleh Imam Bukhori dari Abdillah


Dari Abdullah RA berkata: Rasullah telah memberikan tanah kepada orang Yahudi Khaibar untuk di kelola
dan ia mendapatkan bagian (upah) dari apa yang dihasilakn dari padanya.”
Hadist-hadist tersebut di atas menunjukan bahwasannya bagi hasilMuzara’ah diperbolehkan, karena Nabi
SAW sendiri pernah melakukannya.

Dalil Mukhabarah
Berkata Rafi’ bin Khadij: “Diantara Anshar yang paling banyak mempunyai tanah adalah kami, maka kami
persewakan, sebagian tanah untuk kami dan sebagian tanah untuk mereka yang mengerjakannya, kadang
sebagian tanah itu berhasil baik dan yang lain tidak berhasil, maka oleh karenanya Raulullah SAW.
Melarang paroan dengan cara demikian.(HR.Bukhari)

Dari Ibnu Umar: “Sesungguhna Nabi SAW. Telah memberikan kebun kepada penduduk khaibar agar
dipelihara oleh mereka dengan perjanjian mereka akan diberi sebagian dari penghasilan, baik dari buah –
buahan maupun dari hasil pertahun (palawija)” (H.R Muslim)

1. Pendapat Yang Memperbolehkan Muzâra’ah

Pendapat Jumhur ulama diantaranya Imam Malik, para ulama Syafiiyyah, Abu Yusuf dan Muhammad bin
Hasan (dua murid Imam Abu Hanifah), Imam Hanbali dan Dawud Ad-Dzâhiry. Mereka menyatakan bahwa
akad muzâra’ah diperbolehkan dalam Islam[4]. Pendapat mereka didasarkan pada al-Quran, sunnah, Ijma’
dan dalil ‘aqli.
Dalil al-Quran

Surah al-Muzammil: 20

‫ض ِل ه‬
ِ‫َّللا‬ ِ ‫َوآخ َُرونَ يَض ِْربُونَ فِي ْاْل َ ْر‬
ْ َ‫ض يَ ْبتَغُونَ ِم ْن ف‬
Artinya : “…dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah…”

Surat al-Zukhruf : 32

َ ‫شت َ ُه ْم ِفي ْال َح َيا ِة الدُّ ْن َيا ۚ َو َرفَ ْعنَا َب ْع‬


‫ض ُه ْم‬ َ َ‫ت َر ِب َك ۚ ن َْح ُن ق‬
َ ‫س ْمنَا َب ْينَ ُه ْم َم ِعي‬ َ ‫أ َ ُه ْم َي ْق ِس ُمونَ َر ْح َم‬
َ‫س ْخ ِريًّا ۗ َو َر ْح َمتُ َربِ َك َخي ٌْر ِم هما يَ ْج َمعُون‬ ُ ‫ضا‬ ُ ‫ت ِليَت ه ِخذَ بَ ْع‬
ً ‫ض ُه ْم بَ ْع‬ ٍ ‫ض دَ َر َجا‬ٍ ‫فَ ْوقَ بَ ْع‬
Artinya : “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas
sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Kedua ayat diatas menerangkan kepada kita bahwa Allah memberikan keluasan dan kebebasan kepada
umat-Nya untuk bisa mencari rahmat-Nya dan karunia-Nya untuk bisa tetap bertahan hidup di muka bumi.

Hadits
Rasulullah SAW bersabda:

‫قال عنه هللا رضي هريرة أبي عن‬: ‫له كانت من( سلم و عليه هللا صلى هللا رسول قال‬
‫) أرضه فليمسك أبى فإن أخاه ليمنحها أو فليزرعها أرض‬
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Berkata: Bersabda Rasulullah Saw (barangsiapa yang memiliki tanah maka
hendaklah ditanami atau diberikan faedahnya kepada saudaranya jika ia tidak mau maka boleh ditahan
saja tanah itu.” (Hadits Riwayat Muslim)

ُ‫ع َها فَإ ِ ْن لَ ْم يَ ْز َر ْع َها فَ ْليَ ْز َر ْع َها أَخَاه‬


ُ ‫ض فَ ْليَ ْز َر‬
ٌ ‫َت لَهُ أ َ ْر‬
ْ ‫َم ْن َكان‬
Artinya:“Barang siapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia menanaminya atau hendaklah ia menyuruh
saudaranya untuk menanaminya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

‫سله َم َعا َم َل أَه َل خَيبَ َر‬ ُ ‫صلهى‬


َ ‫َّللا َعلَي ِه َو‬ ُ ‫ى هللاُ َعنهُ (أ َ هن َر‬
َ ِ‫سو ُل هللا‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ع َم ُر َر‬
ُ ‫َع ِن ابِن‬
ِ ‫جه ُ البُخ‬
‫َاري‬ َ َ ‫خر ُج ِمن َها ِمن ث َ َم ٍر أَو زَ رعٍ) أ‬
َ ‫خر‬ ُ َ‫َطر ماَي‬
ٍ ‫بش‬
Artinya :” Diriwayatkan oleh Ibnu Umar R.A. sesungguhnya Rasulullah Saw. Melakukan bisnis atau
perdagangan dengan penduduk Khaibar untuk digarap dengan imbalan pembagian hasil berupa buah-
buahan atau tanaman” (HR. Bukhari).

Ijma’

Banyak sekali riwayat yang menerangkan bahwa para sahabat telah melakukan praktek muzâra’ah dan
tidak ada dari mereka yang mengingkari kebolehannya. Tidak adanya pengingkaran terhadap
diperbolehkannya muzâra’ah dan praktek yang mereka lakukan dianggap sebagai ijma’.[5]
Dalil ‘Aqli

Muzâra’ah merupakan suatu bentuk akad kerjasama yang mensinergikan antara harta dan pekerjaan,
maka hal ini diperbolehkan sebagaimana diperbolehkannya mudarabah untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Sering kali kita temukan seseorang memiliki harta (lahan) tapi tidak memiliki keterampilan khusus
dalam bercocok tanam ataupun sebaliknya. Di sini Islam memberikan solusi terbaik untuk kedua pihak agar
bisa bersinergi dan bekerjasama sehingga keuntungannya pun bisa dirasakan oleh kedua pihak. Simbiosis
mutualisme antara pemilik tanah dan penggarap ini akan menjadikan produktivitas di bidang pertanian dan
perkebunan semakin meningkat.
2. Pendapat Yang Melarang Muzâra’ah

Abu Hanifah, Zafar dan Imam Syafii berpendapat bahwa muzâra’ah tidak diperbolehkan. Abu Hanifah dan
Zafar mengatakan bahwa muzâra’ah itu fâsidah (rusak) atau dengan kata lain muzâra’ah dengan
pembagian 1/3, 1/4 atau semisalnya tidaklah dibenarkan.

Imam Syafi’i sendiri juga melarang prakterk muzâra’ah, tetapi ia diperbolehkan ketika didahului
olehmusâqâh apabila memang dibutuhkan dengan syarat penggarap adalah orang yang sama. Pendapat
yangAshah menurut ulama Syafiiyyah juga mensyaratkan adanya kesinambungan kedua pihak dalam
kedua akad (musâqâh dan Muzâra’ah) yang mereka langsungkan tanpa adanya jeda waktu.
Akad muzâra’ahsendiri tidak diperbolehkan mendahului akad musâqâh karena
akad muzâra’ah adalah tabi’, sebagaimana kaidah mengatakan bahwa tabi’ tidak boleh
mandahului mathbu’nya. Adapun melangsungkan akadmukhâbarah setelah musâqâh tidak diperbolehkan
menurut ulama Syafiiyyah karena tidak adanya dalil yang memperbolehkannya.

Para ulama yang melarang akad muzâra’ah menggunakan dalil dari hadis dan dalil aqli.

4. Hukum
Hukum muzara’ah dan mukhabarah
1) Hukum muzara’ah dan mukhabarah sahih Menurut ulama Hanafiyah, hukum muzara’ah yang sahih
adalah sebagai berikut:
a) Segala keperluan untuk memelihara tanaman diserahkan kepada penggarap.
b) Pembiayaan atas tanaman dibagi antara penggarap dan pemilik tanah.
c) Hasil yang diperoleh dibagikan berdasarkan kesepakatan waktu akad.
d) Menyiram atau menjaga tanaman.
e) Dibolehkan menambah penghasilan dan kesepakatan waktu yang telah ditetapkan.
f) Jika salah seorang yang akad meninggal sebelum diketahui hasilnya, penggarap tidak
mendapatkan apa-apa sebab ketetapan akad didasarkan pada waktu.

2) Hukum Muzara’ah fasid Menurut ulama Hanafiyah, hukum muzara’ah fasid adalah:
a) Penggarap tidak berkewajiban mengelola.
b) Hasil yang keluar merupakan pemilik benih.
c) Jika dari pemilik tanah, penggarap berhak mendapatkan upah dari pekerjaannya

5. Syarat
Syarat Muzara’ah dan mukhabarah
Disyaratkan dalam muzara’ah dan mukhabarah ini ditentukan kadar bagian pekerja atau bagian pemilik
tanahdan hendaknya bagian tersebut adalah hasil yang diperoleh dari tanah tersebutseperti sepertiga,
seperempat atau lebih dari hasilnya.
4. Habis Waktu Muzara’ah
Beberapa hal yang menyebabkan mujara’ah habis:
- Habis mujara’ah.
- Salah seorang yang akad meninggal.
- Adanya uzur.

6. Rukun
Rukun-rukun dalam Akad Muzara’ah
Jumhur ulama’ yang membolehkan akad Muzara’ah menetapkan rukun yang harus dipenuhi, agar akad itu
menjadi sah.
a. Ijab qabul (akad)
b. Penggarap dan pemilik tanah (akid)
c. Adanya obyek (ma’qud ilaih)
d. Harus ada ketentuan bagi hasil.
Dalam akad Muzara’ah apabila salah satunya tidak terpenuhi, maka pelaksanaan akad Muzara’ah tersebut
batal.
Rukun-rukun dalam Akad Mukhabarah
1. Akad mukhabarah diperbolehkan, “Sesungguhnya Nabi telah menyerahkan tanah kepada penduduk
Khaibar agar ditanami dan diperlihara,dengan perjanjian bahwa mereka akan diberi sebagian
hasilnya.”(HR.Muslim dari Ibnu Umar ra.)
2. Adapun rukun mukhabarah menurut pendapat umum antara lain: Pemilik dan penggarap sawah /
ladang. Sawah / ladang Jenis pekerjaan yang harus dilakukan Kesepakatan dalam pembagian hasil (upah)
Akad (sighat)

7. Macam-macam
Macam-Macam Muzara’ah
Ada empat 4 macam bentuk Muzara’ah.
1. Tanah dan bibit berasal dari satu pihak sedangkan pihak lainnya menyediakan alat juga melakukan
pekerjaan. Pada jenis yang pertama ini hukumnya diperbolehkan. Status pemilik tanah sebagai penyewa
terhadap penggarap dan benih berasal dari pemilik tanah, sedangkan alatnya berasal dari penggarap.
2. Tanah disediakan satu pihak, sedangkan alat, bibit, dan pekerjaannya disediakan oleh pihak lain. Hukum
pada jenis yang kedua ini juga diperbolehkan. Disini penggarap sebagai penyewa akan mendapatkan
sebagian hasilnya sebagai imbalan.
3. Tanah, alat, dan bibit disediakan pemilik, sedang tenaga dari pihak penggarap. Bentuk ketiga ini
hukumnya juga diperbolehkan. Status pemilik tanah sebagai penyewa terhadap penggarap dengan
sebagian hasilnya sebagai imbalan.
4. Tanah dan alat disediakan oleh pemilik, sedangkan benih dan pekerjaan dari pihak penggarap. Pada
bentuk yang keempat ini menurut, Zhahir riwayat, muzara’ah menjadi fasid. Ini dikarenakan misal akad
yang dilakukan sebagai menyewa tanah maka alat dari pemilik tanah menyebabkan sewa-menyewa
menjadi fasid, ini disebabkan alat tidak mungkin mengikuti kepada tanah karena ada bedanya manfaat.
Sebaliknya, jika akad yang terjadi menyewa tenaga penggarap maka bibit harus berasal dari penggarap
yang mana akan menyebabkan ijarah menjadi fasid, ini disebabkan bibit tidak mengikuti penggarap
melainkan kepada pemilik.
8. Hikmah
Muzara’ah
Adapun manfaat yang lainnya,antara lain: Terwujudnya kerjasama yang saling menguntungkan antara
pemilik tanah dengan petani dan penggarap Meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tertanggulanginya
kemiskinan Terbukanya lapangan pekerjaan,terutama bagi petani yang memiliki kemampuan bertani tetapi
tidak memiliki tanah garapan.
Mukhabarah
Dalam MUKHABARAH, yang wajib zakat adalah penggarap (petani), karena dialah hakikatnya yang
menanam, sedangkan pemilik tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya. Jika benih berasal dari
kdeuanya, maka zakat diwajibkan kepada keduanya jika sudah mencapai nishab, sebelum pendapatan
dibagi dua.
Adapun hikmah Mukhabarah antara lain:
a. Terwujudnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pemilik tanah dengan petani penggarap.
b. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
c. Tertanggulanginya kemiskinan.
d. Terbukanya lapangan pekerjaan, terutama bagi petani yang memiliki kemampuan bertani tetapi tidak
memiliki tanah garapan.