Anda di halaman 1dari 1

Seperti biasanya aku selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah, kalian tahu apa alasanya?

, yup itu karena aku


tidak sabar untuk bertemu dengannya.

Kali ini aku berangkat lebih awal dari biasanya, sesampainya di sekolah aku duduk manis di bangkuku berharap ia
datang dan menyapaku dengan senyuman manisnya.

Upss… Ya aku hampir lupa, aku tunisha hamda biasa dipanggil tunu atau nisha. “Hei tunu!… Tumben kau pagi
sekali??”. Yah dia mengagetkanku saja. Dia temanku namanya sherya. “Yahhh kau tau sendiri lahhhh…”. Jawabku
santai. “Ya ya aku tau, kau pasti sedang menanti kedatangan pangeranmu itu kan?”. “Nah itu kau tau”.

Tidak lama siswa siswi pun mulai banyak yang berdatangan. Ada sedikit rasa was was di hatiku. “Kenapa dia belum
datang juga?”. Gumamku. Sherya yang melihatku resah pun ia mencoba menghiburku. “Tunu sudahlah kau jangan
resah dan gelisah seperti itu, dia pasti datang”. “Tapi ini sudah jam 7.15 dia belum datang juga”.

Tok.. Tokk.. Tokk.. Sekiranya seperti itulah bunyi langkah kaki seseorang “Itu pasti siddharth!” ucap sherya
antusias. Yah pria yang aku sukai itu bernama siddharth nasution cowok blasteran indo-india. Dia memang pria
yang mampu memikat hati para wanita siapapun itu yang melihatnya karena ketampanannya termasuk diriku. Dan
saat sosok itu memasuki ruang kelas “Pagi anak anak!” yah dia ternyata si guru killer itu. “Hehe maaf kukira itu
sidd tadi” “Iya tidak papa”.

Saat guru killer itu menerangkan pelajaran tiba-tibaaa… “Maaf pak saya terlambat” sontak diriku pun menoleh ke
sumber suara itu. Dan betapa bahagianya aku ketika melihatnya. Begitu pula dengan sherya yang ikut bahagia.
Namun sesaat senyum di bibirku memudar ketika melihat tatapan mata guru killer itu. “Kau!!! Jam berapa ini
kenapa kau baru datang?” “Maaf pak tadi mancet!” aku pun tidak tega melihatnya dimarahi oleh pak guru tapi apa
yang bisa aku lakukan? “Sekarang juga kau berdiri di depan selama bapak mengajar!!”. “I.. Ii.. Iyy.. Iyyaaa..
Pakkk”.

Kini jam pelajaran pun selesai, aku pun sedikit lega. Aku bergegas nenghampiri sidd. “Sidd kau baik baik saja?”
“Yah seperti yang kau lihat” “Ayo duduklah kau pasti lelah kan 2 jam berdiri di sini”. Aku pun mengajaknya duduk.
Ia pun mengangguk.

“Sidd ini minumlah!”. Aku menyodorkan aqua ke sidd dan ia menerima aqua itu. Ia langsung meneguk habis aqua
itu. “Tunu terima kasih yaa”. “Iya sama sama”. Terjadilah suasana hening di antara kita. Aku pun mencoba untuk
mencairkanya. “Emm tunu/sidd”. Ucapku bebarengan. “Kau dulu” bebarengan lagi dan akhirnya aku mengalah.
“Kau saja sidd”.

“Tunu aku tau selama ini perasaanmu kepadaku”. Aku sedikit terkejut mendengarnya. “Tapi maaf aku tidak
diizinkan sama sekali untuk berpacaran oleh kedua orangtuaku, sebenarnya aku juga menyukaimu, tapi maaf aku
tidak bisa menerimamu!”. “Tidak apa apa sidd aku nengerti, karena cinta itu tidak harus memiliki bukan?”. “Yah
kau benar, tapi kita masih bisa berteman kan?”. “Iya kita bertemanlah”. “Janji?”. “Janji!”.

Aku dan sidd pun kini berteman. Sejak kejadian itu hubunganku dengan sidd sangat dekat tapi bukan sebagai
sepasang kekasih melainkan sebagai seorang sahabat.

Tamat