Anda di halaman 1dari 20

‫هللا أكبر هللا اكبر هللا اكبر ال اله اال هللا هللا اكبر هللا اكبر وهلل الحمد‬

‫هللا أكبر كبيرا والحمد هلل كثيرا وسبحان هللا بكرة وأصيال الاله اال هللا وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز‬
‫جنده وهزم‬

‫ الاله اال هللا والنعبد اال اياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون الاله اال هللا و هللا اكبر هللا‬.‫األحزاب وحده‬
‫اكبر وهلل الحمد‬.

‫الحمد هلل الذى شرع للمسلمين الصيام فى شهر رمضان سببا على تكفير الذنوب و مضاعفة األجور من صام‬
‫ أشهد أن الاله اال هللا وحده ال شريك له وأشهد أن‬.‫نهاره وقام لياله ايمانا واحتسابا غفر له ما تقم من ذنبه‬
‫ وصلى هللا على محمد خير األنام وسيدنا‬.‫محمدا عبده ورسوله أرسل إلى جميع عباد هللا من اإلنس والجان‬
‫ اما بعد‬.‫المرسلين وعلى آله وصحبه والتابعين وتابعهم إلى آخرالزمان‬

Al-Hamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadhirat Allah SWT atas


perkenan-Nyalah kita bisa berkumpul di tempat ini untuk menunaikan shalat
Idul Fitri sembari kita mengumandangkan Takbir, Tahmid dan Tahlil sebagai
pengakuan kita akan kebesaran-Nya. Idul Fitri adalah hari raya Islam yang
disebut hari raya berbuka, setelah sebulan penuh kita berpuasa, menahan
lapar dan dahaga, kini tibalah saatnya hari berbuka.

Shalawat dan salam kita kirimkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad
SAW, Nabi yang telah mengajarkan kepada kita pentingnya menunjukkan
kepedulian kepada sesama. Keselamatan dan kesejahteraan semoga tercurah
kepada beliau, keluarganya, sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya.

1. ‫عوا ِإلَى َم ْغ ِف َر ٍة ِم ْن َر ِب ُك ْم‬


ُ ‫ار‬
ِ ‫س‬َ ‫ َو‬Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu
Ayat ini menyerukan agar mu`min berpacu meraih ampunan dari segala dosa,
dan menempuh jalan ke surga sebagai imbalan beribadah dan beramal shalih
selama di dunia. Al-Razi berpendapat, tidak ada jalan untuk meraih maghfirah
selain melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala yang dilarang. Para
ahli ushul fiqih menykmpulkan bahwa bersegera meriah ampunan itu
hukumnya wajib, karena tidak ada perintah secara paksa selain wajib segera
dipenuhi. Setelah ayat sebelumnya memerintah agar pandai menjaga diri dari
hal-hal yang menjerumuskan ke neraka, maka pada ayat ini diserukan agar
memburu maghfirah dan surga. Dengan demikian jalan menuju keselamatan
abadi adalah menjauhi segala yang dilarang dan menaati segala yang
diperintahkan. Al-Razi mengutip beberapa pendapat dengan cara apa
bersegera meih maghfirah dan surga itu; (a) menurut Ibn Abbas, maghfirah
dan surga adalah al-Islam, karena aturannya mencakup segala aspek
kehidupan, (b) menurut Ali bin Abi Thalib adalah dengan memenuhi segala
perintah syari’ah, (c) menurut Utsman bin Affan meraih maghfirah adalah
dengan ikhlash dalam menjalankan segala ibadah, (d) menurut Abu al-Aliah,
dengan hijrah, (e) menurut al-Dlahak dan Muhammad bin Ishaq dengan jihad,
(f) menurut Sa’id bin Jubair, mengerakan takbir al-Ihram untuk shalat, (g)
menurut Utsman, bersegera dalam shalat lima waktu, (h) menurut Ikrimah
bersegera dalam segala taat, (i) menurut al-Asham bersegera dalam taubat
dari roba dan dosa lain, karena ayat ini masih satu rangkaian dengan ayat
sebelumnya. Meraih ampunan dari segala dosa, dan surga sebagai pahala amal
dunia, merupakan merupakan kebahagiaan yang paripurna.

ُ ‫س َم َواتُ َو ْاأل َ ْر‬


2. ‫ض‬ َّ ‫ض َها ال‬ َ ‫و َجنَّ ٍة‬dan
ُ ‫ع ْر‬ َ kepada surga yang luasnya seluas langit dan
bumi
Surga pada ayat ini digambarkan seluas langit dan bumi. Luas langit dan bumi
tidak bisa diukur oleh jangkauan manusia. Abu Muslim menandaskan bahwa
ukuran langit dan bumi memberikan gambaran bahwa surga itu tidak bisa
diukur oleh jangkauan manusia. Luasnya tidak terbatas, ni’matnya tiada
terhingga. Raja Heraqlius menanggapi ayat ini dengan mengirim surat isinya
ُ َّ‫ض فَأَيْنَ الن‬
bertanya: ‫ار‬ ُ ‫س َم َواتُ َو ْاأل َ ْر‬
َّ ‫ض َها ال‬ َ ‫ع ْوتَنِي إِلَى َجنَّ ٍة‬
ُ ‫ع ْر‬ َ َ‫ د‬anda mengajak ku untuk
menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, lalu kalau begitu di mana
neraka? Rasul SAW menjawab: ‫إِذَا َجا َء اللَّ ْي ُل فَأَيْنَ النَّ َها ُر‬kalau waktu malam tiba, lalu
kemana perginya siang? Hr. Ahmad.

Soal jawab tersebut kelihatan sekali ketinggian isi dialognya. Rasul SAW tahu
bahwa pertanyaan Heraqlius itu hanya mengetes, maka dijawab dengan
pertanyaan yang mengtes pula. Ditanya tentang letaknya neraka, karena surga
seluas langit dan bumi, bagaikan pertanyaan tentang di mana letaknya siang
tatkala malam tiba? Bukankah siang dan malam itu tidak sama? Oleh karena
itu tak perlu timbul tanda Tanya tentang luasnya surga yang melebihi langit
dan bumi. Surga berada bukan di langit atau di bumi.

Menurut al-Razi, terdapat beberapa masalah tentang pengertian bahwa surga


seluas langit dan bumi itu yang patut disoroti antara lain: (1) bumi diciptakan
Allah SWT berlapis-lapis, juga langit yang luasnya tidak terjangkau manusia.
Perumpamaan ini mengisyaratkan bahwa ;uas surgaa seluas berbagai bumi,
dan berbagai langit, maka tidak diketahui selebar apa luasnya. Hanya Allah
SWT yang tahu. (2) Apa yang disebut suga seluas langit dan bumi itu adalah
untuk satu orang. Tegasnya setiap penghuni surga menguasai seluruh
kawasan surga, dan tidak ada yang membatasinya. Setiap penghuni surga
merasakan berkuasa atas seluruh surga. (3) menurut Abu Muslim,
perumpamaan surga seluas langit dan bumi ini menggunakan istilah
perniagaan. Dengan kata lain surga itu yang diberikan kepada muttaqin
senilai harga seluas langit dan bumi. Siapa pun tidak akan memapu membeli
surga dengan nilai transaksi duniawi. (4) Luas surga itu tidak terbatas, tapi
supaya ada banyangan di masyarakat awam, maka digambarkan seperti
luasnya langit dan bumi. Manusia membayangkan luasnya bumi saja tidak
akan yang bisa menjangkau apalagi ditambah dengan tujuh langit.

ْ ‫أ ُ ِعد‬yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,


2. َ‫َّت ِل ْل ُمتَّقِين‬

ْ ‫ أ ُ ِعد‬menggunakan kata kerja lampau memberi isyarat (a)


Perkataan ‫َّت‬
kepastian bahwa surga itu benar-benar disedikan untuk orang yang bertaqwa,
(b) surga telah tersedia sejak diciptakan langit dan bumi. Surga yang luas itu
sudah disedikan bagi orang yang bertaqwa. Kalimat ini juga memberi isyarat
bahwa untuk mencapai maghfirah dan surga, mesti menempuh jalan taqwa,
mesti menjadi muttaqin, serta segera meraih maghfirah. Perhatikan hadits
berikut:

‫َّللاِ قَ ْب َل أ َ ْن ت َ ُموتُوا‬ ُ َّ‫سلَّ َم فَقَا َل يَا أَيُّ َها الن‬


َّ ‫اس تُوبُوا إِلَى‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ‫َّللاِ قَا َل َخ‬
ُ ‫طبَنَا َر‬ َ ‫ع ْن َجابِ ِر ب ِْن‬
َّ ‫ع ْب ِد‬ َ
‫صدَقَ ِة فِي‬َّ ‫صلُوا الَّذِي بَ ْي َن ُك ْم َوبَيْنَ َربِ ُك ْم بِ َكثْ َرةِ ِذ ْك ِر ُك ْم لَهُ َو َكثْ َرةِ ال‬
ِ ‫صا ِل َح ِة قَ ْب َل أ َ ْن ت ُ ْشغَلُوا َو‬
َّ ‫َوبَاد ُِروا بِ ْاأل َ ْع َما ِل ال‬
َ ‫الس ِِر َو ْالعَ َالنِيَ ِة ت ُ ْرزَ قُوا َوت ُ ْن‬
‫ص ُروا َوتُجْ بَ ُروا‬

Dari Jabir bin Abd Allah diriwayatkan bahwa Rasul SAW pernah khuthbah yang
menyerukan: Wahai manusia, taubatlah kepada Allah semelum mati.
Bersegeralah amal shalih sebelum disibukkan. Jalinlah hubungan baik
antaramu dan Tuhanmu dengan dzikir dan banyak bersedekah, baik di kala
rahasia ataupun terang-terangan, nisaya kamu mendapat rejeki, mendapat
pertolongan dan diberi kecukupan. Hr. Ibn Majah, al-Bayhaqi (384-458H)
Al-Baydlawi menyimpulkan bahwa kalimat ْ ‫أ ُ ِعد‬menjadi dalil bahwa
َ‫َّت ِل ْل ُمتَّقِين‬
surga itu telah diciptakan Allah SWT, yang letaknya di luar alam ini.

3. ‫اء‬
ِ ‫اء َوالض ََّّر‬ َّ ‫(الَّذِينَ يُ ْن ِفقُونَ فِي ال‬yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),
ِ ‫س َّر‬
baik di waktu lapang maupun sempit,

Menurut Abu al-Su’ud, awal ayat ini bisa berfungsi sebegai penjelas dari al-
Muttaqin, menerangkan sifat orang yang bertaqwa yang mendapat jaminan
surga. Namun bisa juga sebagai awal pembicaraan sifat orang yang disebutkan
pada kelanjutannya. Orang yang bertaqwa memiliki sifat yang baik, bukan
hanya terhadap Allah SWT dengan banyak beribadah ritual, tapi juga dalam
sosial, bukan hanya ibadah badani tapi juga dengan harta. Dalam ayat ini
ditegaskan bahwa mereka berinfak di jalan Allah, baik di kala sempit maupun
luas, di kala suka maupun duka. Al-Baidlawi menerangkan bahwa ‫اء‬
ِ ‫س َّر‬
َّ ‫ِفي ال‬
ِ ‫ َوالض ََّّر‬mengandung arti sepanjang hayat, karena manusia tidak pernah lepas
‫اء‬
dari kedua hal antara suka dan duka, antara kelapangan dan kesempitan.
Namun tentu saja infaq yang dikeluarkan juga mengikuti kondisi, besar tatkala
kaya, infaq kecil tatkala kekurangan. Jangan malas infaq tatkala leluasa, jangan
malu infaq yang kecil tatkala kekurangan. Nilai infaq sangat dipengaruhi oleh
keikhlasan. Adapun jumlahnya bukan ditentukan oleh berapa nominal, tapi
berepa prosen dari apa yang dimiliki. Dengan demikian, orang kaya maupun
miskin, pasti mampu berinfaq.

َ ‫اظمِينَ ْالغَ ْي‬


4. ‫ظ‬ ِ ‫و ْال َك‬dan
َ orang-orang yang menahan amarahnya

Al-kazhimin ialah orang yang menahan amarah tatkala melihat orang yang
kurang ia senangi, padah dia memiliki kekuasaan untuk memarahinya. Rasul
SAW bersabda:
ِ ‫ق َحتَّى يُخَيِ َرهُ فِي أَي ِ ْال ُح‬
‫ور شَا َء‬ ِ ِ‫وس ْالخ ََالئ‬ َ ‫َّللاُ يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة‬
ِ ‫علَى ُر ُء‬ َ َ‫ظا َو ُه َو يَ ْست َِطي ُع أ َ ْن يُن َِفذَهُ د‬
َّ ُ‫عاه‬ ً ‫غ ْي‬ َ ‫َم ْن َك‬
َ ‫ظ َم‬

Barangsiapa yang menahan amarah, padahal dia memiliki kekuatan untuk


memarahinya, maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat sebagai
pembesar makhluq sehingga dipiluhkan baginya para bidarari yang
diinginkannya. Hr. Ahmad, Abu Daud dan al-Turmidzi. Menurut Nashiruddin
al-Bani, kualitas hadits ini sebagai hadits hasan.

Jadi yang memiliki derajat tinggi itu menahan marah tatkala mampu
memarahinya. Kalau menahan marah, karena tidak bisa marah, bukanlah
sesuatu yang diunggulkan. Menahan amarah lebih mengarah pada
pengendalian diri dalam berucap, sikap dan tindakan. Rasul SAW bersabda:

‫ب‬ َ َ‫سهُ ِع ْندَ ْالغ‬


ِ ‫ض‬ َ ‫شدِيدُ الَّذِي يَ ْم ِلكُ نَ ْف‬
َّ ‫ع ِة إِنَّ َما ال‬
َ ‫ص َر‬ َ ‫لَي‬
َّ ‫ْس ال‬
ُّ ‫شدِيدُ بِال‬

Orang kuat, bukanlah yang berani bertindak pada manusia hinga bikin orang
lain takut, tapi yang kuat adalah yang mampu mengendalikian dirinya tatkala
marah. Hr.al-Bukhari dan Muslim.

5. ‫اس‬ َ َ‫و ْال َعافِين‬dan


ِ َّ‫ع ِن الن‬ َ mema`afkan (kesalahan) orang.

Orang yang mampu menahan amarah belum tentu bebas dari rasa sakit hati,
bahkan dendam. Mu`min yang baik, bukan hanya menahan amarah, tapi
mampu memaafkan orang yang bersalah, sebagaimana mana ditegaskan pada
kalimat ini. Memberi maaf paling berat pada manusia yang berdosa, adalah
tatkala marah. Oleh karena itu, sifat mu`min yang baik, bukan hanya mampu
menahan amarah, tapi juga memberi maaf ketika marah. Allah SWT memuji
orang yang demikian sebagai manusia yang memiliki derajat tinggi Qs.42:37:
َ‫َضبُوا ُه ْم يَ ْغ ِف ُرون‬
ِ ‫ش َوإِذَا َما غ‬ ِ ‫اإلثْ ِم َو ْالفَ َو‬
َ ‫اح‬ ِ ْ ‫َوالَّذِينَ يَجْ تَنِبُونَ َكبَائِ َر‬

dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-


perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi ma`af. Qs.42:37

menurut al-Baydlawi, memafkan manusia utamanya pada orang yang berbuat


salah, padah sebenarnya berhak untuk menghukum atau membalas
kesalahannya. Bila memeafkan orang yang demikian, maka ampuan Allah
akan tercurah pada mereka. Ayat ini bukan berarti melarang malawan pada
yang berbuat zhalim, tapi kalau memberi maaf bisa lebih bermanfaat, maka
nilainya jauh lebih baik, karena termasuk kategori shabar. Allah SWT
berfirman Qs.16:126:

َّ ‫صبَ ْرت ُ ْم لَ ُه َو َخي ٌْر ِلل‬


َ‫صابِ ِرين‬ ُ ‫عاقَ ْبت ُ ْم فَعَاقِبُوا بِ ِمثْ ِل َما‬
َ ‫عوقِ ْبت ُ ْم بِ ِه َولَئِ ْن‬ َ ‫َوإِ ْن‬

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama
dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar,
sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Qs.16:126

6. َ‫َّللاُ ي ُِحبُّ ْال ُمحْ ِسنِين‬


َّ ‫و‬Allah
َ menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Allah SWT sangat mencintai orang yang berbuat ihsan. Kalimat ini dilertakan
sebagai pengunci ayat yang menerangkan sifat manusia pada manusia.
Dengan demikian ihsan itu ada yang berkaitan dengan kewajiban pada Allah
ada pula yang berkaitan dengan sesama manusia.

‫علَى ُك ِل‬ َ َ‫سان‬ َ ْ‫اإلح‬ِ ْ ‫َب‬ َّ ‫سلَّ َم قَا َل إِ َّن‬


َ ‫َّللاَ َكت‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع ْن َر‬ َ ‫ظت ُ ُه َما‬ْ ‫َان َح ِف‬ ِ ‫شدَّا ِد ب ِْن أ َ ْو ٍس قَا َل ثِ ْنت‬
َ ‫ع ْن‬
َ
ُ‫ش ْف َرتَهُ فَ ْلي ُِرحْ ذَبِي َحتَه‬
َ ‫َيءٍ فَإِذَا قَت َْلت ُ ْم فَأَحْ ِسنُوا ْال ِقتْلَةَ َوإِذَا ذَبَحْ ت ُ ْم فَأَحْ ِسنُوا الذَّ ْب َح َو ْلي ُِحدَّ أ َ َحدُ ُك ْم‬
ْ ‫ش‬
Dari Syaddad bin Aws. Ia mengatakan: dua hal yang saya pelihara dari Rasul
SAW. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan berlaku
ihsan (baik) dalam segala hal. Jika kamu membunuh sesuatu, maka hendaklah
berlaku baik ketika membunuhnya. Jika kamu menyembelih, hendaklah belaku
baik ketika menyembelihnya. Tajamkanlah mata pisaumu, agar tidak terlalu
menyakitkan yang disembelih. Hr. Muslim (206-261H).

Kalimat َ‫سان‬ ِ ْ ‫َب‬


َ ْ‫اإلح‬ َّ ‫ ِإ َّن‬dalam Hadits ini mengisyaratkan bahwa kita
َ ‫َّللاَ َكت‬
diperintah Allah SWT untuk ihsan. Sedangkan perkataan ٍ‫َيء‬ ْ ‫علَى ُك ِل ش‬
َ
mengandung ma’na bahwa ihsan itu mesti diterapkan dalam segala kehidupan
dan diberlakukan kepada siapa pun, baik kepada Allah SWT maupun kepada
sesama makhluq-Nya. Ihsan kepada Allah SWT telah disabdakan Rasul SAW
ketika mendapat pertanyaan dari Mali`ikat Jibril:

َ‫أ َ ْن ت َ ْعبُدَ هللاَ َكأَنَّكَ ت ََراهُ فَإ ِ ْن لَ ْم ت َ ُك ْن ت ََراهُ فَإِنَّهُ يَ َراك‬

“Ihsan’ ialah: menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekalipun


engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Hr.Muslim[11]

Ihsan kepada sesama manusia diperintahkan langsung dalam berbagai ayat al-
Qur`an antara lain Qs.4:36:

‫ار ذِي ْالقُ ْربَى‬ ِ ‫ين َو ْال َج‬ َ ‫سانًا َوبِذِي ْالقُ ْربَى َو ْاليَت َا َمى َو ْال َم‬
ِ ‫سا ِك‬ َ ْ‫ش ْيئًا َوبِ ْال َوا ِلدَي ِْن إِح‬
َ ‫َّللاَ َو َال ت ُ ْش ِر ُكوا بِ ِه‬
َّ ‫َوا ْعبُدُوا‬
‫ورا‬ َّ ‫ت أ َ ْي َمانُ ُك ْم إِ َّن‬
ً ‫َّللاَ َال ي ُِحبُّ َم ْن َكانَ ُم ْخت ًَاال فَ ُخ‬ ْ ‫سبِي ِل َو َما َملَ َك‬َّ ‫ب َواب ِْن ال‬ِ ‫ب بِ ْال َج ْن‬
ِ ‫اح‬ ِ ‫ص‬َّ ‫ب َوال‬ِ ُ‫ار ْال ُجن‬ ِ ‫َو ْال َج‬

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan


sesuatupun. Dan berbuat Ihsan (berlaku baikbaiklah) kepada ibu-bapa, karib-
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri, Qs.4:36

6. َ ‫ َوالَّذِينَ ِإذَا فَعَلُوا فَا ِح‬Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan
ً ‫شة‬
perbuatan keji

Perkataan َ‫ َوالَّذِين‬pada pangkal ayat ini menurut sebagiann ulama merupakan


poko kalimat, tapi menurut yang lainnya sebagai sambungan dari ayat
sebelumnya. Jika dianggap sebagai pokok kalimat berarti keterangannya yang
tercantum pada ayat 136. Jika perkatan ini difahami sebagai satu kesatuan
dengan ayat sebelumnya berati sebagai keterangan َ‫( ْال ُمحْ ِسنِين‬orang yang ihsan)
atau َ‫( ِل ْل ُمتَّقِين‬yang bertaqwa). Sedangkan ً‫شة‬ ِ َ‫ فَ َعلُوا ف‬mengandung arti segala
َ ‫اح‬
perbuatan yang sangat buruk, terkadang berma’na zina. Ibnu Asyur
menerangkan bahwa ً‫شة‬ ِ َ‫ فَ َعلُوا ف‬mengandung arti antara lain (1) dosa besar
َ ‫اح‬
seperti zina, (2) perbuatan dosa yang berdampak negatif pada orang lain, (3)
َّ ‫إِ َّن‬
perbuatan ma’shiat yang amat dimurkai Allah SWT. Rasul SAW bersabda: َ‫َّللا‬
‫ش‬ َ ْ‫ض ْالفُح‬
َ ‫ش َوالتَّفَ ُّح‬ ُ ‫يُ ْب ِغ‬Rasul SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT membenci
keburukan dan yang mengakibatkan buruk. Hr. Ahmad (164-241H). Al-
Nawawi (631-678H); berpendapat ‫ َوأ َ َّما ْالفُحْ ش فَ ُه َو ْالقَبِيح ِم ْن ْالقَ ْول َو ْال ِف ْعل‬bahwa al-
Fuhsy ialah kejelekan dalam perkataan maupun perbuatan. Kata al-Qadli ‫صل‬ ْ َ‫أ‬
‫ع ْن ْال َحد‬
َ ‫الزيَادَة َو ْال ُخ ُروج‬
ِ ‫ ْالفُحْ ش‬arti asal dari al-Fuhsy adalah melebihi, melampaui
َ ‫ التَّفَ ُّح‬terkadang berarti orang yang berbuat kejahatan,
batas. Adapun ‫ش‬
terkadang berma’na yang berbuat kerusakan. Segala yang buruk dalam istilah
Arab disebut al-Fuhsy. Menurut Al-Asqalani (773-852H), ‫ش‬ ْ
َ ْ‫الفُح‬ialah ‫علَى‬
َ ‫الزيَادَة‬
ِ
َّ ‫ ْال َحد فِي ْال َك َالم ال‬melampaui batas kewajaran dalam kata-kata yang buruk.
‫س ِيئ‬
َ ‫ َالتَّفَ ُّح‬adalah kesengajaan berbuat buruk yang mengakibatkan
Sedangkan‫ش‬
َ ْ‫ ََ ْالفُح‬adalah
orang lain merasa terhina. Al-Kusymihani berpendapat bahwa ‫ش‬
‫ َويَ ْد ُخل فِي ْالقَ ْول َو ْال ِف ْعل‬، ‫ع ْن ِم ْقدَاره َحتَّى يُ ْست َ ْقبَح‬
َ ‫ ُكل َما خ ََر َج‬segala yang melampaui ukuran
kewajaran sehingga berakibat buruk, baik berupa perkataan ataupun
ِ َ‫ ْالف‬adalah
tindakan. Al-Daudi berpendapat bahhwa ‫احش‬ ‫الَّذِي يَقُول ْالفُحْ ش‬yang
َ ‫ الت َّفَ ُّح‬adalah ‫ َي ْست َ ْع ِمل ْالفُحْ ش ِليُض ِْحك النَّاس‬berkata buruk
berkata buruk, sedangkan ‫ش‬
atau jorok supaya orang lain tertawa. Pendapat semacam ini dikutip pula oleh
Abu Tayib,. Al-Mubarakfuri, (1283-1353H) Berkomentar ‫ قَا َل فِي النِ َهايَ ِة‬: ‫ش ُه َو‬ ُ ْ‫ْالفُح‬
‫صلَ ٍة قَبِي َح ٍة ِم ْن ْاأل َ ْق َوا ِل‬ ِ ‫شةُ بِ َم ْعنَى‬
ْ ‫ َو ُك ُّل َخ‬، ‫الزنَا‬ ِ َ‫يرا َما ت َِردُ ْالف‬
َ ‫اح‬ ِ َ‫ب َو ْال َمع‬
ً ِ‫ َو َكث‬، ‫اصي‬ ِ ‫ُك ُّل َما يَ ْشتَدُّ قُ ْب ُحهُ ِم ْن الذُّنُو‬
، ُ‫ع ْنه‬
َ ‫ع َّز َو َج َّل‬ َّ ‫ب َو ُك ُّل َما نَ َهى‬
َ ُ‫َّللا‬ ِ ُ ‫شة‬
ِ ‫الزنَا َو َما َي ْشتَدُّ قُ ْب ُحهُ ِم ْن الذُّنُو‬ ِ َ‫ ْالف‬: ‫وس‬
َ ‫اح‬ ِ ‫ َوقَا َل فِي ْالقَا ُم‬. ‫َو ْاأل َ ْفعَا ِل‬
Diterangkan dalam kitab al-Nihayah bahwa al-Fuhsy intu mencakup segala
sesuatu yang amat buruk berupa dosa dan kema’siatan. Namun istilah tersebut
sering digunakan untuyk perbautan zina. Yang jelas segala yang buruk, baik
perkataan maupun perbuatan termasuk al-Fuhsy. Dalam kamus sering
diistilahkan pada perbuatan zina dan pada segala yang sangat buruk dan
segala yang dilarang Allah SWT.

Istilah al-Fuhsy dan al-Tafahusy digunakan untuk perkataan buruk,


sebagaimana dalam hadits berikut:

‫ت‬ْ َ‫ فَقَال‬،‫علَيْكَ يَا أ َ َبا ْالقَا ِس ِم‬ َّ ‫ فَقَالُواال‬،ُ‫سلَّ َم يَ ُهود‬


َ ‫سا ُم‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ ُ ‫علَى َر‬
َّ ‫سو ِل‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ‫ دَخ َل‬:‫ت‬ ْ َ‫ قَال‬،َ‫شة‬ َ ‫ع ْن‬
َ ِ‫عائ‬ َ
َ‫ أَال ت َ ْس َمعُ ُه ْم يَقُولُون‬: ُ‫ قُ ْلت‬،”‫ش‬ َ ْ‫َّللاَ ال ي ُِحبُّ ْالفُح‬
َ ‫ش َوال التَّفَ ُّح‬ َّ ‫ ِإ َّن‬،ُ‫شة‬ َ ‫”يَا‬:َ‫ فَقَال‬،ُ‫سا ُم َواللَّ ْعنَة‬
َ ِ‫عائ‬ َ ‫ َو‬:ُ‫شة‬
َّ ‫علَ ْي ُك ُم ال‬ َ ِ‫عائ‬ َ
َ‫َّللاُ َو ِإذَا َجا ُءوك‬ َّ ‫ فَأ َ ْنزَ َل‬،”‫علَ ْي ُك ْم‬
َ ‫ َو‬:ُ‫ت َما أَقُول‬ َ ‫”أ َ َو َما‬:‫سلَّ َم‬
ِ ‫س ِم ْع‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ ُ ‫علَيْكَ ؟ فَقَا َل َر‬
َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ َ ‫سا ُم‬
َّ ‫ال‬
َّ ‫َحي َّْوكَ بِ َما َل ْم يُ َح ِيكَ بِ ِه‬
ُ‫َّللا‬

Diriwayatkan dari Aisyah: seorang yahudi datang kepada Rasul SAW, dengan
mengatakan ‫علَيْكَ يَا أَبَا ْالقَا ِس ِم‬
َ ‫سا ُم‬َّ ‫(ال‬mampuslah kau abu al-Qasim). Kemudian
Aisyah mengatakan ُ‫سا ُم َواللَّ ْعنَة‬ َّ ‫علَ ْي ُك ُم ال‬
َ ‫( َو‬mampuslah kamu dan terkutuk!). Rasul
SAW bersabda: :” ‫ش‬ َ ْ‫َّللاَ ال ي ُِحبُّ ْالفُح‬
َ ‫ش َوال التَّفَ ُّح‬ َّ ‫ ِإ َّن‬،ُ‫شة‬ َ ‫(يَا‬wahai Aisyah, Allah tidak
َ ِ‫عائ‬
mencintai al-Fuhsy, tidak pula mencintai al-Tafahusy. Aisyah berkata:
bukankah dia mengatakan ‫علَيْكَ ؟‬ َ ‫سا ُم‬ َّ ‫ ?ال‬Rasul bersabda bukankah sudah aku
katakan kepadanya ‫علَ ْي ُك ْم‬ َ ‫? َو‬. tidak lama kemudian turunlah ayat ‫أَلَ ْم ت ََر ِإلَى الَّذِينَ نُ ُهوا‬
‫سو ِل َو ِإذَا َجا ُءوكَ َحي َّْوكَ ِب َما َل ْم‬
ُ ‫الر‬
َّ ‫صيَ ِة‬ ِ ‫اإلثْ ِم َو ْالعُد َْو‬
ِ ‫ان َو َم ْع‬ َ ‫ع ِن النَّجْ َوى ث ُ َّم يَعُودُونَ ِل َما نُ ُهوا‬
ِ ْ ‫ع ْنهُ َويَتَنَا َج ْونَ ِب‬ َ
‫ير‬
ُ ‫ص‬ِ ‫س ْال َم‬
َ ْ‫صلَ ْونَ َها فَ ِبئ‬ َّ ‫َّللاُ َويَقُولُونَ فِي أ َ ْنفُ ِس ِه ْم لَ ْو َال يُ َع ِذبُنَا‬
ْ َ‫َّللاُ ِب َما نَقُو ُل َح ْسبُ ُه ْم َج َهنَّ ُم ي‬ َّ ‫يُ َح ِيكَ ِب ِه‬Apakah
tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan
pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu
dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa,
permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang
kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam
yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan
pada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tiada menyiksa kita disebabkan apa
yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka neraka Jahannam yang akan
mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Qs.58(al-Mujadilah):8. Hr. Muslim.

Berdasar beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa ‫التفحش – – الفحش‬


‫ الفاحشة‬mencakup (1) ucapan buruk seperti mengutuk, mencerca, mencela,
menghina; (2) tindakan atau perbuatan seperti zina.

Seperti telah diungkapkan di atas, arti dari al-Fuhsy dan al-Tafahusy itu
antara lain perkataan kotor, ungkapan menyakitkan, sesuatu yang membawa
akibat buruk dan terkadang berma’na zina. Bila semua yang buruk-buruk itu
telah dianggap biasa di masyarakat maka kehancuran akan segera tiba. Dalam
hadits lain disebutkan bahwa perzinahan merajalela merupakan pertanda
mendekati kehancuran. Rasul SAW bersabda: َ‫ع ِة أ َ ْن ي ُْرفَ َع ْال ِع ْل ُم َويَثْبُت‬ َ ‫سا‬ ِ ‫ِم ْن أ َ ْش َر‬
َّ ‫اط ال‬
‫الزنَا‬ ْ َ‫ب ْالخ َْم ُر َوي‬
ِ ‫ظ َه َر‬ َ ‫ ْال َج ْه ُل َويُ ْش َر‬di antara pertanda mendekati saat (kiamat /
kehancuran) adalah ilmu telah diangkat, kebodohan merajalela, banyaknya
yang minum khamr, dan tersebarnya perzinahan. Hr. Musim.

Rasul SAW bersabda: ُ‫شةُ إِالَّ فَشَا فِ ْي ِه ُم ال َموت‬


َ ‫اخ‬ َ َ‫وال‬tidaklah
ْ ‫ظ َه َر‬
ِ َ‫ت فِ ْي ِه ُم الف‬ َ merajalela
perzinaan pada mereka, kecuali kematian melanda mereka. Hr. al-Thabrani
(260-360H), al-Hakim (321-425H), al-Bayhaqi (384-458H), al-Dailami (445-
509H).

Ada juga ulama yang membedakan antara pengertian ‫ الفحش‬dengan ‫احشَة‬


ِ َ‫الف‬.
Istilah ‫ الفُحش‬berma’na umum mencakup segala keburukan, baik perkataan,
sikap, maupun tindakan, baik yang bobotnya ringan maupun berat. Sedangkan
ِ َ‫ الف‬lebih banyak digunakan pada perbuatan yang sangat buruk seperti: (1)
‫احشَة‬
ً ‫س ِب‬
zinah sebagaimana pada firman Allah SWT ‫يال‬ َ ‫شةً َو‬
َ ‫سا َء‬ ِ ‫َو َال ت َ ْق َربُوا‬
ِ َ‫الزنَا إِنَّهُ َكانَ ف‬
َ ‫اح‬
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Qs.17:32. (2) menikahi janda
ً ِ‫سب‬
ayah; ‫يال‬ َ ‫شةً َو َم ْقتًا َو‬
َ ‫سا َء‬ ِ َ‫ف إِنَّهُ َكانَ ف‬
َ ‫اح‬ َ ‫اء ِإ َّال َما قَ ْد‬
َ َ‫سل‬ ِ ‫س‬َ ِ‫و َال ت َ ْن ِك ُحوا َما نَ َك َح آَبَاؤُ ُك ْم ِمنَ الن‬Dan
َ
janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu,
terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat
keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Qs.4:22.
Dalam al-Qur`an dikemukakan bahwa ‫ الفواحش‬sebagai bentuk jama dari ‫فاحشة‬
itu ada yang bersifat lahir ada pula yang batin, sebagaimana tersurat pada
firman-Nya: ‫ق َوأ َ ْن ت ُ ْش ِر ُكوا‬ ِ ‫ي بِغَي ِْر ْال َح‬
َ ‫اإلثْ َم َو ْالبَ ْغ‬
ِ ْ ‫طنَ َو‬
َ َ‫ظ َه َر ِم ْن َها َو َما ب‬
َ ‫ش َما‬ ِ ‫ي ْالفَ َو‬
َ ‫اح‬ َ ِ‫قُ ْل إِنَّ َما َح َّر َم َرب‬
َ‫َّللاِ َما َال ت َ ْعلَ ُمون‬ َ ‫طانًا َوأ َ ْن تَقُولُوا‬
َّ ‫علَى‬ َ ‫س ْل‬
ُ ‫اَّللِ َما لَ ْم يُن َِز ْل بِ ِه‬
َّ ِ‫ب‬Katakanlah: “Tuhanku hanya
mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang
benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah
tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“. Qs.7:33

َ ُ‫ظلَ ُموا أ َ ْنف‬


7. ‫س ُه ْم‬ َ ‫أ َ ْو‬atau menganiaya diri sendiri,

َ ُ‫ظلَ ُموا أ َ ْنف‬


Sebagian ulama berpendapat bahwa ‫س ُهم‬ َ adalah dosa yang hanya
berakibat pada diri sendiri dan tidak menimbulkan kerugian pada orang lain.
Ada pula yang berpendapat sebagai dosa kecil, tidakl termasuk dosa besar
berbeda dengan ‫ فاحشة‬sebagaimana disebutkan di atas. Bila dikaitakan dengan
َ ُ‫ظلَ ُموا أ َ ْنف‬
kalimat sebelumnya, pengertian ‫س ُه ْم‬ َ merupakan dosa yang dilakukan
tapi tidak terkait dengan orang lain. Nampaklah bahwa dosa itu terdiri ‫فاحشة‬
ْ yaitu dosa yang tidak terkait
yang berkaitan dengan orang lain, dan ‫ظلم النفس‬
dengan orang lain. Itulah sebabnya zina, perkataan buruk, menghina,
mengumpat, menggunjing, menyakiti orang lain termasuk ‫ فاحشة‬sedangkan
minum khamr, memakan makan yang haram, memboroskan harta, menyia-
ْ atau dosa menyangkut
nyiakan waktu, ceroboh, masuk ke kategori ‫ظلم النفس‬
diri sendiri.

8. ‫َّللاَ فَا ْست َ ْغفَ ُروا ِلذُنُوبِ ِه ْم‬


َّ ‫ذَ َك ُروا‬mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun
terhadap dosa-dosa mereka

Orang yang bertaqwa, atau orang yang bakal meraih maghfirah akan segera
َّ ‫ ذَ َك ُروا‬mengingat Allah juga dalam arti sadar akan kesalahan yang terlanjur
َ‫َّللا‬
dilakukan, ‫ فَا ْست َ ْغفَ ُروا ِلذُنُوبِ ِه ْم‬pada saat itu pula mohon ampun pada Allah dengan
bertaubat. Perlu disadari bahwa tidak ada manusia yang bebas dari dosa,
disadari ataukah tidak, kecil ataukah besar. Seorang mu`min bukan berarti
tidak pernah berbuat salah, tapi yang segera bertaubat tatkala terlanjur
melakukan kesalahan. Itulah sebabnya dalam meraih ampunan Allah dan
surga, seoranmg mu`min mesti mema’lumi kesalahan orang lain dengan
memberi maaf, dan menyadari akan kesalahan diri sendiri dengan segera
taubat.

9. ُ‫َّللا‬ َ ُ‫و َم ْن يَ ْغ ِف ُر الذُّن‬dan


َّ ‫وب ِإ َّال‬ َ siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain
daripada Allah?

Kalimat tanya seperti merupakan berita gembira bagi yang mau bertaubat.
Kalau mereka bertaubat, siapa lagi yang bakal mencurahkan ampunan selain
Allah. Ini juga merupakan jaminan dari Allah SWT yang memiliki ampunan
yang sangat luas tidak terbatas.

10. َ‫علَى َما فَعَلُوا َو ُه ْم يَ ْعلَ ُمون‬ ِ ‫ولَ ْم ي‬Dan


َ ‫ُص ُّروا‬ َ mereka tidak meneruskan perbuatan
kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Setelah diberi kabar gembira bahwa Allah SWT yang memiliki ampunan yang
luas, maka pada penghunjung ayat ini ditekankan syarat dan ketentua tetap
berlaku. Ampunan bakal tercurah bagi yang berbuat dosa sebesar apapun,
apabila ‫علَى َما فَعَلُوا‬ ِ ‫ َولَ ْم ي‬mereka tidak meneriskan perbuatannya, alias
َ ‫ُص ُّروا‬
segera menghentikan kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Dengan
demikian ampuan Allah Maha Luas, bakal diberikan kepada yang baertaubat
dengan syarat dan ketentuan tidak mengulangi lagi dosa yang pernah
dilakukan. Kemudian dikunci dengan kalimat َ‫ َو ُه ْم يَ ْعلَ ُمون‬padahal mereka dalam
keadaan mengetahui atau dalam keadaan sadar.

11. ُ ‫أُولَئِكَ َجزَ اؤُ ُه ْم َم ْغ ِف َرة ٌ ِم ْن َر ِب ِه ْم َو َجنَّاتٌ تَجْ ِري ِم ْن تَحْ ِت َها ْاأل َ ْن َه‬Mereka itu
‫ار خَا ِلدِينَ ِفي َها‬
balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya
mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya;
Inilah jaminan bagi yang berusaha keras meraih maghfirah dan surga, maka
pahalanya akan diberikan sesuai yang diinginkan. Ampunan Allah dan surga
merupakan ganjaran yang nilainya tiada terhingga. Keni’matan surga tidak
pernah terputus atau terhenti sejenakpun. Keni’matan surga bagaikan air
ِ ‫و ِن ْع َم أَجْ ُر ْال َع‬dan
mengalir yang tidak pernah berhenti, sebagai َ‫املِين‬ َ itulah sebaik-
baik pahala orang-orang yang beramal

E. Beberapa Ibrah:

1. Untuk meraih surga dan ampunan mesti ditempuh langkah dengan segera
melakukan segala perintah syari’ah dan menjauhi segala yang dilarangnya.
Jangan menunda untuk beramal baik apa pun.

2. Luas surga yang seluas langut dan bumi, berarti tidak bisa diukur oleh
manusia. Manusia tidak bisa mengukur berapa luas langit dan bumi, seperti
itulah luasnya surga.

3. Surga telah tersedia yang diperuntukkan bagi orang yang bertaqwa dan
yang meraih ampunan dengan segera. Orang yang berpacu meraih surga
antara lain meningkatkan taqwa, menginfakkan harta, memberi maaf kepada
sesame.

4. Orang yang meraih surga memang bukan hanya yang tidak pernah berbuat
dosa, tapi juga yang pernah melakukan kesalahan baik yang berakibat pada
orang lain ataupun diri sendiri, tapi dengan segera bertaubat dan tanpa
mengulangi lagi kesalahannya.
5. Tiada manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan, maka janganlah
berhenti dari taubat serta membina kesadaran, serta mema’lumi kesalahan
orang lain dengan memaafkan.

6. Dosa terdiri atas berbagai macam ada yang termasuk fakhisyah ada pula
yang termasuk zhalmun-Nafs. Jika ingin meraih maghfirah hendaklah
menjauhi segala perbuatan dosa tersebut. Jika terlanjur melakukannya,
segeralah bertaubat dengan (1) menyesali kekeliruan, (2) memohon ampun
secepatnya, (3) menghentikan perbuatan yang salah, (4) mengganti kesalahan
dengan berbagai kebaikan.

7. Allah SWT Maha pemberi maghfirah dan surga, maka untuk meraihnya
mesti memenuhi syarat serta ketentuan yang berlaku. Penuhilah syarat dan
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SAW dan Rasul-Nya, kalau ingin
meraih surga dan maghfirah.

Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita tundukkan kepala kita, melupakan
kebesaran diri kita di hadapan manusia, mengakui betapa kecil dan lemahnya
kita di hadapan Allah Penggenggam langit dan bumi.

َ‫ع ْال ُم ْلكَ ِم َّم ْن تَشَا ُء َوت ُ ِع ُّز َم ْن تَشَا ُء َوت ُ ِذ ُّل َم ْن تَشَا ُء بِيَدِكَ ْال َخي ُْر إِنَّك‬
ُ ‫اللَّ ُه َّم َمالِكَ ْال ُم ْل ِك تُؤْ تِي ْال ُم ْلكَ َم ْن تَشَا ُء َوت َ ْن ِز‬
ٌ ‫َيءٍ قَد‬
‫ِير‬ ْ ‫علَى ُك ِل ش‬ َ

“Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada


orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala
kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

‫ص َحابِ ِه َو َم ْن ت َ ِب َعهُ اِلَى يَ ْو ِم ال ِدي ِْن‬


ْ َ ‫علَى ا َ ِل ِه َوا‬
َ ‫علَى نَ ِبيِنَا ُم َح َّم ٍد َو‬
َ ‫س ِل ْم‬ َ ‫اَللَّ ُه َّم‬
َ ‫ص ِل َو‬

Ya Allah Ya Rabb, kami berlindung pada-Mu dari hawa nafsu yang penuh
ambisi, yang selalu mau menang sendiri dan tidak mau peduli dengan
penderitaan sesama. Jadikanlah kami hamba-hamba yang tahu mensyukuri
nikmat dan karunia-Mu. Tanamkanlah dalam hati kami kepekaan rasa, yang
membuat kami mampu meraba penderitaan saudara-saudara kami dan mau
membantunya.

ٌ ‫ان َو َال تَجْ َع ْل فِي قُلُو ِبنَا ِغ اال ِللَّذِينَ آ َمنُوا َربَّنَا ِإنَّكَ َر ُء‬
‫وف َر ِحيم‬ َ َ‫َربَّنَا ا ْغ ِف ْر لَنَا َو ِ ِإل ْخ َوانِنَا الَّذِين‬
ِ ْ ِ‫س َبقُونَا ب‬
ِ ‫اإلي َم‬

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“

ُ ‫س ِم ْي ٌع قَ ِريْبٌ ُم ِجي‬
‫ْب‬ ِ ‫اء ِم ْن ُه ْم َواأل َ ْم َوا‬
َ َ‫ت اِنَّك‬ ِ ‫ت َو ْال ُمؤْ ِمنِيْنَ َو ْال ُمؤْ ِمنَا‬
ِ َ‫ت اَألَحْ ي‬ ِ ‫اَللَّ ُه َّم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َما‬
ِ ‫الدَّع َْوا‬.
‫ت‬

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan


mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.

Ya Allah yang Maha Kuat! berikanlah kami kekuatan agar kami mampu
memikul beban yang dititipkan di pundak kami, Ya Allah yang maha Maha
Kaya lepaskanlah kami dari lilitan utang dan kesulitan ekonomi kami, Ya Allah
yang Maha Penyayang buanglah rasa benci dan dendam yang bersemayam di
dalam dada kami, Ya Allah yang Maha Pengasih tanamkanlah dalam dada kami
rasa kasih kepada orang tua kami, anak-anak kami, dan saudara-saudara
kami. Ya Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Penerima Taubat dengarlah
permohonan kami dan terimalah taubat kami. Innaka Antas Samiud Du’a wa
Innaka Antat Tawwabur Rahim.

Ya Allah Ya Rabb, anugerahkan rasa syukur kepada kami agar kami dapat
mengerti arti jasa ibu bapak kami, terkhusus ibu kami, yang bersedia dengan
tulus menampung kami selama berbulan-bulan di dalam rahimnya dalam
keadaan lemah dan bertambah lemah, yang rela bersakit-sakit bersimbah
darah ketika melahirkan kami, yang bersedia mempertaruhkan nyawanya
demi agar kami dapat menghirup udara kehidupan, yang bersedia terganggu
tidurnya setiap malam demi agar kami dapat tertidur lelap, yang bersedia
menahan rasa lapar dan dahaganya demi agar kami dapat merasakan
kenyang.

Ya Allah Ya Rabb, kami tahu keridhaan-Mu terdapat pada keridhaannya dan


kemurkaan-Mu terdapat pada kemurkaannya, maafkan kami jika selama ini
khilaf telah melukai hatinya atau membuatnya tidak ridha kepada sikap dan
tingkah laku kami. Maafkan kami ya Allah jika kami tidak mampu membalas
kebaikannya. Kami tahu bahwa yang ia butuhkan dari kami bukanlah materi
dan harta tapi cinta dan kasih sayang kami seperti ia menyayangi kami di
waktu kecil. Maafkan kami jika ia sakit kami tak menjenguknya. Jika ia butuh,
kami tak di sampingnya. Jika ia merindukan kami, kami tak datang
menyapanya. Ya Allah ya Rabb Jadikanlah kami hamba-hamba yang siap
mengistimewakannya di dalam hati kami, lalu mau membalas jasa-jasanya,
meski kami sadar tidak akan mampu membalasnya.

‫ربنااغفر لنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغيرا‬

Ya Allah Ya Rabb. Kabulkanlah permohonan orang-orang kecil bangsa kami


yang merindukan ketenangan, kestabilan dan kemakmuran. Jangan Engkau
timpakan azab kepada kami hanya karena kedurhakaan segelintir orang di
antara kami. Jadikanlah kami mulia dengan kesederhanaan kami dan
janganlah Engkau hinakan kami dengan curahan rezki yang melimpah ruah.

Bimbinglah ya Allah derap langkah kami dan pemimpin kami yang dengan
tulus ikhlas hendak mengeluarkan kami dari keterpurukan dan kesulitan
hidup, dengan kemurahan dan kasih sayang-Mu. Agar kami dapat
mengantarkan bangsa kami ini menuju negeri yang lebih baik yaitu Baldatun
Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur.