Anda di halaman 1dari 30

PANDUAN ASUHAN GIZI KLINIK

DISUSUN OLEH

INSTALASI GIZI RSUD KOTA BAUBAU

2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
berkat dan anugerah yang telah diberikan kepada penyusun, sehingga buku
panduan asuhan gizi klinik rumah sakit umum daerah kota bauabau dapat selesai
disusun. Sehingga buku panduan asuhan gizi klinik ini merupakan panduan kerja
bagi semua pihak yang terkait dengan asuhan gizi.
Dalam panduan asuhan gizi klinik ini diuraikan tentang tata laksana diet
berdasarkan penyakit. Tak lupa penyusun menyampaikan ucapan terimah kasih
yang sedalam-dalamnya atas semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan panduan asuhan gizi klinik.

Baubau, Agustus 2016

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gizi adalah suatu komponen penting yang diperlukan oleh tubuh
untuk dapat tumbuh serta berkembang. Gizi juga berpengaruh
langsung terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), sehingga
seluruh individu memerlukan pelayanan gizi yang berkualitas.
Pelayanan gizi adalah suatu upaya memperbaiki, meningkatkan
gizi makanan, dietetik masyarakat, kelompok, individu atau klien yang
merupakan suatu rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan,
pengolahan, analisis, simpulan, anjuran, implementasi dan evaluasi gizi,
makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status kesehatan optimal
dalam kondisi sehat atau sakit.
Pelayanan gizi di rumah sakit ini diberikan dan disesuaikan dengan
keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi, dan status
metabolisme tubuh. Keadaan gizi pasien sangat berpengaruh pada proses
penyembuhan penyakit, sebaliknya kondisi penyakit juga dapat berpengaruh
terhadap keadaan gizi pasien. Sering terjadi kondisi pasien yang semakin
buruk karena tidak tercukupinya kebutuhan zat gizi untuk perbaikan organ
tubuh yang mengakibatkan beberapa masalah gizi. Sehingga diperlukan
asuhan gizi yang bermutu guna mempertahankan status gizi yang optimal
dan untuk mempercepat penyembuhan.
Dengan demikian pelayanan gizi merupakan salah satu sub sistem
dalam pelayanan kesehatan paripuma yang berfokus pada keamanan pasien
dan wajib mengacu pada standar yang berlaku.
Saat ini ASDI sudah mengadopsi Standarized Nutrition Care
Process (NCP -ADA) menjadi Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT).
Proses Asuhan Gizi Terstandar (pAGT) adalah metoda pemecahan
masalah yang sistematis, yang mana dietisien professional menggunakan
cara berfikir kritisnya dalam membuat keputusan untuk menangani
berbagai masalah yang berkaitan dengan gizi, sehingga dapat
memberikan asuhan gizi yang efektif dan berkualitas tinggi. Proses
asuhan gizi hanya dilakukan pada pasien/klien yang teridentifikasi
resiko gizi atau sudah malnutrisi dan membutuhkan dukungan gizi
individual. Proses tersebut mencakup asesmen, diagnosis, intervensi serta
monitoring dan evaluasi gizi.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang
mengutamakan keselamatan pasien maka dilakukan pendekatan
modem di bidang pelayanan kesehatan yang berfokus kepada pasien,
dimana kebutuhan terbaik pasien yang diutamakan. Sejalan dengan itu
pelayanan asuhan gizi sebagai bagian dari pelayanan kesehatan juga
dituntut untuk selalu meningkatkan kualitasnya melalui pelayanan gizi
yang berfokus pada keselamatan pasien, yang disebut dengan pelayanan
gizi berbasis patient safety dan sejalan dengan standar akreditasi.

B. Tujuan
Tersedianya panduan yang terstandar bagi tenaga gizi dalam
melakukan PAGT di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga terlaksana
pelayanan gizi yang berkualitas.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan asuhan gizi klinik yang dibahas dalam
buku panduan ini mencakup:
1. Latar belakang, tujuan, ruang lingkup, dan dasar hokum
2. Tata laksana diet berdasarkan penyakit

D. Dasar Hukum
1. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Undang Undang Nonor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 78 tahun 2013
tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit (PGRS).
BAB II
TATA LAKSANA DIET

A. Diabetes Mellitus
1. Definisi
Kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang mengalami
peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan hormon
insulin secara absolute atau relatif.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia (GDS, GOP, HBA 1C)
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (NI.S.4.)
b. Kelebihan asupan karbohidrat (Nl.5.8.)
c. Perubahan nilai laboratorium (NC.2.2.)
d. Kurang pengetahuan terkait makanan dan zat gizi (NB.l.l.)
e. Kurang dapat menjagaJ monitoring diri (NB.l.4.)
f. Pemilihan makanan yang salah (NB.1.7.)
4. Intervensi Tujuan :
a. Menurunkan konsumsi karbohidrat untuk membantu menormalkan
kembali kadar glukosa darah, dan mencegah kenaikan berat badan.
b. Membatasi pemberian makanan tinggi lemak.

Prinsip diet : Rendah KH, 3 J (Tepat Jumlah, Jenis, Jadwal)


Macam diet : Diet OM dengan kalori yang disesuaikan dengan
kebutuhan pasien
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat :
a. Energi dihitung berdasarkan rumus PERKENI (2006), dengan
memperhitungkan basal, jenis kelamin, usia, aktifitas dan faktor
kegemukan, Energi diberikan untuk memenuhi kebutuhan basal
metabolisme, aktifitas pada saat sakit, mengurangi berat badan pasien
dan mempercepat proses penyembuhan pasien.
b. Protein normal diberikan sebesar 10-15% dari kebutuhan total.
c. Lemak sedang diberikan 20-25% dari kebutuhan total.
d. Karbohidrat sisa dari kebutuhan total.
e. Batasi penggunaan gula sederhana termasuk gula pasir, gula aren,
madu, dan sirup, bahkan meningkatkan asupan serat sebesar 25-30
gram/hari, terutama untuk membantu memperlambat waktu
pengosongan lam bung, meningkatkan waktu transit dengan
memperlambat pergerakan di usus halus.
f. Pertahankan BB ideal.
g. Makanan diberikan dengan porsi kecil tapi sering, dengan frekuensi
makan: 3 x makan utama, 3X selingan dengan mematuhi prinsip 3J
(tepat jumlah, jadwal dan jenis).
h. Olahraga cukup.

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU


1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu
2 Biokimia Nilai Lab GDS, GD2PP, Setiap hari
GDP
3 Klinik/Fisik TD Setiap hari
4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan yang
disajikan

B. Penyakit Hati
1. Definisi
Hati merupakan salah satu alat tubuh penting yang berperan dalam :
a. Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein
b. Penyimpanan mineral yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah
merah serta vitamin-vitamin larut lemak
c. Mengatur volume dan sirkulasi darah
d. Detoksifikasi obat-obatan dan racun-racun
Dengan demikian, jika terjadi kelainan atau kerusakan
pada hati, akan berpengaruh terhadap fungsi saluran cema dan
penggunaan makanan dalam tubuh sehingga sering menyebabkan
gangguan gizi.
Dua jenis penyakit hati yang sering ditemukan adalah Hepatitis
dan Sirosis Hati. Hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh
keracunan toksin tertentu atau karena infeksi virus dan bersifat akut atau
kronis. Penyakit disertai anoreksi, demam, rasa mual dan muntah,
sertajaundice. Sirosis hati adalah kerusakan hati yang menetap
disebabkan oleh hepatitis kronis, penyumbatan saluran empedu, dan
berbagai kelainan metabolisme. Dalam keadaan berat disertai
asites, hipertensi portal, dan hemetamesis melena yang dapat berakhir
dengan koma hepatik.

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia (SGOT, SGPT, Bilirubin dire, indirek, dan total, Albumin)
c. Klinikl Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (N1.5.4.)
b. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)

4. Intervensi
Tujuan :
a. Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan mencegah kerusakan lebih
lanjut serta meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa
b. Mencegah katabolisme protein
c. Mencegah atau mengurangi asites, varises esofagus, dan hipertensi
portal
d. Mencegah koma hepatic

Macam diet : Diet DH I - DR III

Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien

Syarat :
a. Energi tinggi untuk mencegah pemecahan protein diberikan secara
bertahap
b. Lemak cukup 20-25% dalam bentuk mudah dicema, sedangkan pada
penderita dengan malabsorbsi lemak asupan lemak dibatasi < 40
g/hari, pada pasien dengan steatorea gunakan lemak dengan asam
lemak rantai sedang (MCT)
c. Protein agak tinggi 1.2-1.5 g/kg BB, sedangkan pada gejala
ensefalopati yang disertai peningkatan amoniak dalam darah, protein
dibatasi 30-40 g/hari
d. Garam rendah jika disertai hipertensi dan asites
e. Pemberian makanan dengan porsi kecil tetapi frekuensi pemberian
sering
f. Hindari bahan makanan yang dapat menimbulkan rasa kembung dan
tidak nyaman

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU


1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu
2 Biokimia Nilai Lab SGDT, SGPT, Setiap hari
Bilirubin, Albumin
3 Klinik/Fisik TD Setiap hari
4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan
C. Penyakit Kandung Empedu

1. Definisi
Kandung empedu memiliki fungsi untuk mengkonsentrasikan
dan menyimpan empedu yang diproduksi oleh hati. Empedu membantu
pencemaan serta absorbsi lemak dan vitamin larut lemak, mineral besi,
serta kalsium. Penyakit kandung empedu umumnya terdiri atas infeksi
(kolesistitis) dan batu empedu (kolelitiasis). Kolesistitis adalah
peradangan kandung empedu yang disebabkan penyumbatan saluran
empedu oleh batu empedu. Penyakit ini disertai jaundice (ikterus) karena
cairan empedu yang tidak bisa masuk ke saluran cema berubah wama
menjadi bilirubin yang berwama kuning dan masuk ke peredaran
darah, Sedangkan kolelitiasis adalah terbentuknya batu empedu yaitu
batu kolesterol atau batu pigmen yang terdiri dari polimer bilirubin
dan garam kalsium. Faktor risiko terjadinya batu kolesterol adalah
obesitas, konsumsi lemak yang tinggi dan dislipidemia, sedangkan
faktor risiko batu pigmen adalah berat badan kurang, asupan lemak
kurang, serta sirosis hati.

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LI LA, IMT)
b. Biokimia (SGOT, SGPT, Bilirubin dire, indirek, dan total)
c. KlinikJ Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi

3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (N1.5.4.)
b. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)

4. Intervensi
Tujuan:
a. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal.
b. Mengistirahatkan kandung empedu

Macam diet : Diet Rendah lemak


Bentuk makanan : Disesuaikan dengan kondisi pasien

Syarat :
a. Energi cukup sesuai kebutuhan, bila kegemukan diberikan diet rendah
energi secara bertahap
b. Lemak 20-25% dari kebutuhan total, pada pasien dengan steatorea
gunakan lemak dengan asam lemak rantai sedang (MeT) sehingga
mengurangi kebutuhan akan cairan empedu
c. Protein agak tinggi 1.2-1.5 g/kg BB
d. Serat tinggi dalam bentuk pektin yang dapat mengikat kelebihan asam
empedu dalam saluran cema
e. Hindari bahan makanan yang dapat menimbulkan rasa kembung dan
tidak nyaman
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab SGOT, SGPT, Setiap hari


Bilirubin

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

D. Penyakit Jantung
1. Definisi
Penyakit jantung terjadi akibat proses berkelanjutan, dimana jantung
secara berangsur-angsur kehilangan kemampuan untuk melakukan fungsi
secara normal. Jantung masih mampu mengkompensasi
ketidakefisienan fungsinya dan mempertahankan sirkulasi darah
normal di awal penyakit melalui pembesaran dan peningkatan nadi.
Namun dalam keadaan tidak terkompensasi, sirkulasi darah yang tidak
normal menyebabkan sesak nafas, rasa lelah, dan rasa sakit di daerah
jantung. Berkurangnya aliran darah juga dapat menyebabkan kelainan pada
fungsi ginjal, hati, otak, serta tekanan darah, yang berakibat terjadinya
resorpsi natrium dan menimbulkan edema.
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai
peningkatan fraksi lipid dalam plasma seperti kolesterol total, LDL, dan
trigliserida atau penurunan fraksi lipid dalam plasma yaitu HDL.
Peningkatan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida merupakan
predisposisi terhadap terjadinya aterosclerosis atau penyakit jantung
koroner. Sedangkan rendahnya kadar HDL dihubungkan dengan
hipertrigliseridemia. Peningkatan fraksi lipid dalam plasma darah dapat
terjadi karena faktor keturunan dan asupan lemak yang tinggi yang
berhubungan dengan kegemukan.

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, fMT)
b. Biokimia (Troponin T, CKMB, LDL, HDL, kolesterol total,
trigliserida)
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (NI.5.4.)
b. Kelebihan intake zat gizi (NI. 5.6.2)
c. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung
b. Menurunkan BB bila terlalu gemuk
c. Mencegah dan menghilangkan penimbunan garam atau air
d. Mengubah jenis dan asupan lemak makanan

Macam diet: Diet OJ I - DJ IV


Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi cukup, untuk mempertahankanl mencapai berat badan normal
b. Protein cukup 1 g/ kg BB, terutama dari ikan yang banyak mengandung
omega 3 atau protein nabati
c. Lemak sedang 20% kebutuhan total, < 10% berasal dari lemakjenuh
d. KH sedang 50-60% kebutuhan total
e. Kolesterol rendah < 200 mg, terutamajika disertai dislipidemia
f. Serat tinggi terutama serat larut air
g. Garam rendah 2-3g/ hari jika disertai hipertensi dan asites
h. Makanan mudah dicema dan tidak menimbulkan gas

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Troponin T, Setiap hari


CKMB, LDL, HDL,
Kolesterol total, Trigliserida

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan
E. Penyakit Pembuluh Darah
1. Definisi
Penyakit pembuluh darah otak atau stroke adalah kerusakan pada
bagian otak yang terjadi bila pembuluh darah yang membawa oksigen
dan zat-zat gizi ke bagian otak tersumbat atau pecah. Keadaan tersebut
biasanya ditandai dengan kelumpuhan separuh tubuh (hemiplegia),
gangguan menelan (disfagia), bicara pelo (disartria), dan gangguan
komunikasi (afasia). Penyakit ini pada umumnya didahului oleh sejumlah
faktor resiko seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan dislipidemia.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia (Troponin T, CKMB, LDL, HDL, kolesterol total,
trigliserida)
c. Klinikl Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (N1.5.4.)
b. Kelebihan intake zat gizi (N!. 5.6.2)
c. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Memberikan makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan gizi
pasien dengan memperhatikan komplikasi penyakit
b. Memperbaiki keadaan stroke seperti disfagia dan dekubitus
c. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien


Syarat:
a. Energi cukup, 25-45 kkal/ kg BB, pada fase akut energi diberikan 1100
-1500 kkall kg BB
b. Protein cukup I g/ kg BB, terutama dari ikan yang banyak mengandung
omega 3 atau protein nabati
c. Lemak sedang 20-25% kebutuhan total, < 10% berasal dari lemakjenuh
d. KH cukup, 60-70% kebutuhan total, pada pasien dengan DM diutamakan
KH kompleks
e. Kolesterol dibatasi < 300 mg
f. Serat cukup untuk membantu menurunkan kadar kolesterol darah dan
mencegah konstipasi
g. Penggunaan garam dibatasi 5g/ hari
h. Cairan cukup yaitu 6-8 gelasl hari, kecuali pada keadaan edema atau
asites, cairan dibatasi. Pada keadaan disfagia cairan dapat dikentalkan
dengan gel dan diberikan secara hati-hati
i. Makanan diberikan porsi kecil dan sering
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Troponin T, Setiap hari


CKMB, LDL, HDL,
Kolesterol total, Trigliserida

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

F. Penyakit Ginjal
1. Definisi
Fungsi utama ginjal adalah memelihara keseimbangan
homeostatik cairan, elektrolit, dan bahan organik dalam tubuh melalui
proses filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi. Di sam ping itu, ginjal mempunyai
fungsi endokrin penting seperti sintesis hormon eritropoietin serta sekresi
renin dan aldosteron, mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif, dan
degradasi berbagai jenis hormon. Penyakit ginjal yang biasa ditemukan
adalah sindroma nefrotik, gagal ginjal akut dan kronik, serta gagal ginjal
dengan dial isis.
Sindroma nefrotik adalah kumpulan manifestasi penyakit yang
ditandai oleh ketidakmampuan ginjal untuk memelihara keseimbangan
nitrogen sebagai akibat meningkatnya permeabilitas membran kapiler
glomerulus. Kehilangan protein melalui urin yang ditandai oleh proteinuria
masif menyebabkan hipoalbuminemia yang diikuti oleh edema (retensi
air), hipertensi, hiperlipidemia, anoreksia, dan rasa lemah.
Gagal ginjal akut terjadi karena menurunnya fungsi ginjal secara
mendadak yang terlihat dari penurunan GFR atau tes kliren
kreatinin dan terganggunya kemampuan ginjal untuk mengeluarkan
produk-produk sisa metabolisme. Penyakit ini disertai oliguria (urin <
500 mil 24jam) sampai anuria. Penyebab penyakit dikarenakan
kekurangan cairan tubuh secara berlebihan akibat diarel muntah,
perdarahan hebat atau trauma pada ginjal akibat kcelakaan, keracunan
obat, dan luka bakar. Pada gagal ginjal akut terjadi katabolisme
protein berlebihan yang dipengaruhi oleh berat ringannya penyakit,
gangguan fungsi ginjal, status gizi pasien, dan jenis terapi yang diberikan.
Gejala penyakit dapat disertai anoreksia, nausea, rasa lelah, gatal,
mengantuk, pusing, dan sesak nafas. Dalam katabolik berat, pasien
memerlukan dial isis. Jika faktor penyebab dapat diatasi, fungsi ginjal dapat
kembali normal.
Penyakit ginjal kronik adalah keadaan dimana terjadi penurunan
fungsi ginjal yang cukup berat secara perlahan-lahan disebabkan oleh
berbagai penyakit ginjal. Penyakit bersifat progresif dan umumnya tidak
dapat pulih kembali. Gejalanya adalah tidak ada nafsu makan, mual,
muntah, pusing, sesak nafas, rasa lelah, edema pada kaki dan tangan serta
uremia.
Sedangkan dial isis dilakukan terhadap pasien dengan penurunan
fungsi ginjal berat, dimana ginjal sudah tidak mampu mengelarkan produk
sisa metabolisme, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit,
serta memproduksi hormon. Dialisis dilakukan bila hasil tes kliren kreatinin
< 15 mil menit.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia (Ureum, Kreatinin, Kalium, Fosfor)
c. Klinikl Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (N1.5.4.)
b. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Memberikan makanan secukupnya tanpa memberatkan kerja ginjal
b. Menurunkan kadar ureum darah
c. Mengganti kehilangan protein terutama albumin
d. Mengurangi edema dan menjaga keseimbangan cairan tubuh
e. Mengontrol hipertensi
f. Memperbaiki dan mempertahankan status gizi optimal dan mempercepat
penyembuhan
g. Mencegah atau mengurangi progresivitas gagal ginjal dengan
memperlambat turunnya laju filtrasi glomerulus

Macam diet: Diet Rendah Protein 1 - Diet Rendah Protein fIT


Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi cukup untuk mempertahankan keseimbangan energi nitrogen
positif yaitu 25-35 kkal/ kg BB per hari
b. Protein rendah 0.6 gl kg BB pad a gagal ginjal kronik, protein 0.6- 1.5 g/
kg BB pada gagal ginjal akut, protein 0.8-1 gl kg BB pada sindroma
nefrotik, serta protein 1-1.2 gl kg BB pad a pasien gagal ginjal dengan
dialisa
c. Lemak sedang 20-30% dari kebutuhan total
d. Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total dikurangi energi yang
berasal dari protein dan lemak
e. Natrium dibatasi bila ada hipertensi, edema, asites, oliguria atau anuria
f. Kalium dibatasi apabila ada hiperkalemia, oliguria, atau anuria
g. Fosfor dibatasi <17 mgl kg BB
h. Cairan dibatasi yaitu sebanyak jumlah urin sehari ditambah pengeluaran
cairan melalui keringat dan pemapasan (500 ml)

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Ureum, Setiap hari


Kreatinin, Kalium, Fosfor

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

G. Penyakit Saluran Kemih


1. Definisi
Penyakit saluran kemih salah satunya batu ginjal. Batu ginjal
terbentuk bila konsentrasi mineral atau garam dalam urin mencapai nilai
yang memungkinkan terbentuknya kristal dan akan mengendap di
tubulus ginjal atau ureter. Meningkatnya konsentrasi garam-garam
ini disebabkan adanya kelainan metabolisme atau pengaruh
lingkungan. Sebagian besar batu ginjal merupakan garam kalsium, fosfat,
oksalat, serta asam urat. Batu ginjal lainnya adalah batu sistin tetapi jarang
terjadi.
Batu ginjal lebih banyak ditemukan pad a orang dewasa laki-laki
daripada orang dewasa perempuan. Hiperkalsiuria, hiperurikosuria,
hiperoksalouria, rendahnya volume dan pH urin merupakan faktor risiko
terjadnya batu ginjaJ. Gejala penyakit ini adalah rasa nyeri pada
abdomen, mual, muntah, infeksi pada saluran kemih, dan sering buang air
kecil.
Sebagian besar batu ginjal terdiri dari batu oksalat atau kalsium
fosfat. Umumnya hiperkalsiuria (>200 mg dalam urin sehari) terjadi karena
tingginya absorbsi kalsium. Sedangkan batu asam urat terkait dengan
penyakit gout artritis yaitu penyakit yang bersifat malignant dan penyakit
gastrointestinal yang disertai diare.
Pen yak it ini berpengaruh terhadap metabolisme purin. Batu asam
urat terbentuk karena hiperurikemia, dehidrasi, atau nilai pH urin yang
rendah (bersifat asam).

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Penurunan kebutuhan zat gizi (Nl.S.4.)
b. Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan :
a. Mencegah atau memperlambat terbentuknya batu ginjal
b. Meningkatkan ekskresi garam dalam urin dengan cara mengencerkan
urin melalui peningkatan asupan cairan
c. Memberikan diet sesuai dengan komponen utama batu ginjal
Macam diet: Diet Rendah Oksalat dan Diet Batu asam urat
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi sesuai kebutuhan
b. Protein sedang I O-IS% dari kebutuhan energi total
c. Lemak sedang 10-2S% dari kebutuhan energi total
d. Karbohidrat sisa dari kebutuhan total
e. Cairan tinggi yaitu 2,S-3 liter/ hari, yang separuhnya berasal dari air
putih
f. Natrium dibatasi 2300 mg (setara dengan S g garam dapur) pada batu
kalsium fosfat dan oksalat, karena natrium dapat memicu hiperkalsiuria
g. Kalsium normal yaitu SOO-800 mg/ hari
h. Serat tidak larut air tinggi, karena serat dapat mengikat kalsium sehingga
membatasi penyerapannya
i. Membatasi makanan tinggi oksalat (kentang, ubi, bayam, bit, stroberi,
anggur, kacang-kacangan, teh, coklat, oval tin, milo)
j. Hindari makanan sumber protein yang mengandung purin tinggi > 100
mg/100 g bahan makanan (otak, hati, jantun, ginjal, jeroan, ekstrak
daging/kaldu, bebek, sardin, makarel, remis, kerang)
k. Makanan yang menhasilkan sisa basa tinggi (susu, susu asam, minyak
kelapa, kelapa, santan, semuajenis sayuran terutama bayam dan bit,
semua jenis buah) diutamakan, dan membatasi makanan yang
menghasilkan sisa asam tinggi (nasi, roti dan hasil terigu lainnya,
spagety, cereal, mie, cake, dan kue kering)

5. Monitoring dan Evaluasi


NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan
H. Penyakit Gout
1. Definisi
Gout adalah salah satu penyakit artritis yang disebabkan oleh
metabolisme abnormal purin yang ditandai dengan meningkatnya kadar
asam urat dalam darah. Hal ini diikuti dengan terbentuknya timbunan
kristal berupa garam urat di persendian yang menyebabkan
peradangan sendi pada lutut dan/ atau jari. Peradangan ini disebabkan
oleh reaksi jaringan sendi terhadap pembentukan kristal urat yang
bentuknya menyerupai jarum. Gout berhubungan dengan gangguan
metabolisme purin yang menimbulkan hiperurisemia jika kadar asam urat
dalam darah melebihi 7,5 mg/ dl. Namun, hiperurisemia atau keadaan
meningginya urat dalam darah tidak selalu diserai penyakit gout. Pada
penyakit gout atau hiperurisemia kadang-kadang dapat terjadi
pembentukan kristal urat dalam ginjal. Kristal tersebut akan larut dalam
urin yang bersifat alkalis.

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia (Asam urat)
c. Klinik/ Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal
b. Menurunkan kadar asam urat dalam darah dan urin

Macam diet: Diet Rendah Purin


Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi sesuai dengan kebutuhan, bila berat badan berlebih atau
kegemukan, asupan energi sehari dikurangi secara bertahap sebanyak
500-1000 kkal dari kebutuhan energi normal hingga tercapai berat
badan normal
b. Protein cukup yaitu 1-1,2 g/ kg BB atau 10-15% dari kebutuhan energi
total, hindari bahan makanan, hindari makanan sumber protein yang
mempunyai kandungan purin > 150 mg/ 100 g
c. Lemak sedang 10-20% dari kebutuhan energi total, lemak berlebih
dapat menghambat pengeluaran asam urat atau purin melalui urin
d. Karbohidrat dapat diberikan lebih banyak, yaitu 65-75% dari kebutuhan,
dianjurkan menggunakan sumber karbohidrat kompleks
e. Cairan disesuaikan dengan urin yang dikeluarkan, rata-rata 2-2.5 Iiter/
hari
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Asam Urat Setiap hari

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

I. Penyakit Kanker
1. Definisi
Kanker adalah pembelahan dan pertumbuhan sel secara abnormal
yang tidak dapat dikontrol sehingga cepat menyebar. Sel-sel ini
merusak jaringan tubuh sehingga mengganggu fungsi organ tubuh yang
terkena. Kanker disebut juga neoplasma maligna yaitu massa jaringan yang
dibentuk oleh sel-sel kanker yang berarti ganas.
Penyebab kanker belum diketahui dengan pasti, tapi sering
dikaitkan dengan faktor lingkungan (polusi, bahan kimia, dan virus)
dan makanan yang mengandung bahan karsinogen. Karsinogenesis atau
perkembangan kanker terjadi dalam dua tahap yaitu inisiasi dan
promosi. Inisiasi adalah awal terjadinya perubahan sel yang disebabkan
oleh interaksi bahan-bahan kimia, radiasi, dan virus dengan DNA dalam
sel. Perubahan terjadi dengan cepat, tetapi sel yang telah berubah ini tidak
aktif selama waktu yang telah ditentukan, sehingga pada tahap ini tidak
dapat dirasakan oleh pasien. Sedangkan tahap promosi adalah aktifnya
sel-sel kanker yang menjadi matang, berkembang, dan kemudian
menyebar dengan cepat. Tahap inisiasi hingga manifestasi klinis dapat
terjadi dalam waktu 20 tahun.
Gangguan gizi yang dapat timbul pada pasien penyakit kanker
disebabkan kurangnya asupan makanan, tindakan medik, efek psikologis,
dan pengaruh keganasan sel kanker. Gejala kanker dalam keadaan berat
dinamakan cachexia yang manifestasinyasecara klinisadalah anoreksia,
penurunan berat badan, gangguan refleks, lemah, anemia, kurang energi
protein, dan keadaan deplesi secara keseluruhan.
Beberapa faktor penyebab gangguan gizi yang dapat timbul
karena penyakit kanker adalah:
a. Kurang nafsu makan yang disebabkan oleh faktor psikologis dan
low respon terhadap kanker berupa cepat kenyang atau perubahan pada
indra pengecap
b. Gangguan asupan makan yang disebabkan gangguan pada saluran cema
(kesulitan mengunyah, menelan, dan penyumbatan), absorbsi zat gizi,
kehilangan cairan dan elektrolit karena muntah dan diare
c. Perubahan metabolisme protein, karbohidrat, lemak
d. Peningkatan pengeluaran energy

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. lnadekuat oral intake (NL2.1.)
b. Peningkatan kebutuhan (NI.5.1)
4. Intervensi
Tujuan :
a. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit
serta daya terima pasien untuk mencapai dan mempertahankan status gizi
optimal
b. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan
c. Mengurangi rasa mual, muntah, dan diare

Macam diet: Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein


Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi tinggi yaitu 36 kkall kg BB untuk laki-Iaki, dan 32 kkal/ kg BB
untuk perempuan, jika dalam keadaan gizi kurang, maka kebutuhan
meningkat menjadi 49 kkall kg BB untuk laki-Iaki, dan 36 kkall kg BB
untuk perempuan
b. Protein tinggi 1-1,5 gl kg BB
c. Lemak sedang 15-20% dari kebutuhan energi total
d. Karbohidrat sisa dari kebutuhan energi total
e. Porsi makan kecil tetapi sering
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Klinik/Fisik Perubahan penampilan (otot, 1 minggu


lemak, subkutan)
3 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan yang
disajikan

J. Penyakit Luka Bakar


1. Definisi
Luka bakar adalah kerusakan jaringan permukaan tubuh yang
disebabkan oleh panas pada suhu tinggi yang menimbulkan reaksi
pada seluruh sistem metabolisme. Luka bakar diklasifikasikan
berdasarkan :
a. Kedalaman pengaruh panas terhadap tubuh (derajat luka bakar)
Derajat I adalah derajat luka bakar dimana terjadi kematian pada lapisan
atas epidermis kulit yang disertai pelebaran pembuluh darah sehingga
kulit tampak kemerah-merahan
Derajat Il adalah derajat luka bakar di mana terjadi kerusakan epidermis
dan dermis, sedangkan pembuluh darah di bawah kulit menumpuk dan
mengeras. Selain timbul wama kemerah-merahan pada kulitjuga timbul
gelembung-gelembung
Oerajat III adalah derajat luka bakar dimana terjadi kerusakan seluruh sel
epitel kulit (spidermis, dermis, dan sub kutis) dan otot. Pembuluh darah
mengalami trombosis
b. Luasnya permukaan tubuh yang terkena pengaruh panas
Luka bakar dinyatakan dalam persen luas tubuh. Untuk dewasa
perkiraan tubuh yang terkena didasarkan pada bagian tubuh yang
terkenamenurut rumus 9 yang dikembangkan oleh Wallace yaitu :
 Kepala (9%)
 Tubuh bagian belakang (18%)
 Ekstremitas bawah kanan (18%)
 Organ genital (1%)
 Tubuh bagian depan (18%)
 Ekstremitas atas (18%)
 Ekstremitas bawah kiri (18%)
Penilaian luka bakar yang memerlukan perawatan dan pengobatan
adalah sebagai berikut:
a. Luka bakar derajat II dengan luas luka bakar > 15%
b. Luka bakar derajat III dengan luas luka bakar >20%
c. Luka bakar pada daerah genital dan anus
d. Luka bakar yang disertai trauma berat terutama pada jalan napas,
tulang, dan alat tubuh dalam rongga perut

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LfLA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinik/Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
Peningkatan kebutuhan (NL5.1)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Mengusahakan dan mempercepat penyembuhan jaringan yang rusak
b. Mencegah terjadinya keseimbangan nitrogen yang negatif
c. Memperkecil terjadinya hiperglikemia dan hipertrigliserida
d. Mencegah terjadinya gejala-gejala kekurangan zat gizi mikro
Macam diet: Diet Luka Bakar I-II
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Memberikan makanan dalam bentuk cair sedini mungkin
b. Kebutuhan energi dihitung dengan pertimbangan kedalaman dan luas
luka bakar yaitu: 25 kkall kg BB aktual + 40 kkal x % luka bakar
c. Protein tinggi 20-25% dari kebutuhan energi total
d. Lemak sedang 15-20% dari kebutuhan energi total
e. Karbohidrat sisa dari kebutuhan energi total
f. Vitamin diberikan di atas AKG yang dianjurkan, untuk membantu
mempercepat penyembuhan
g. Mineral tinggi terutama zat besi, seng, natrium, kalium, kalsium, fosfor,
dan magnesium
h. Cairan tinggi
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Mineral Setiap hari

3 Klinik/Fisik Perubahan penampilan (otot, 1 minggu


lemak, subkutan)
4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

K. Penyakit Saluran Cema


1. Definisi
Saluran cema adalah saluran yang berfungsi untuk mencema
makanan, mengabsorbsi zat-zat gizi, dan mengekskresi sisa-sisa pencemaan.
Saluran cema terdiri atas mulut, kerongkongan, lam bung, usus halus, usus
besar, dan anus. Gangguan pencemaan dan absorbsi dapat terjadi
pada proses menelan, mengosongkan lam bung, absorbsi zat-zat gizi,
dan proses buang air besar (defekasi). Gangguan ini antara lain terjadi
karena infeksi atau peradangan, gangguan motilitas, perdarahan atau
hematemesis melena, kondisi saluran cema pasca bedah, dan tumor atau
kanker. Penyakit-penyakit saluran cema yang terjadi antara lain stenosis
esofagus, gastritis akut atau kronik, hematemesis melena, ulkus
peptikum, GERD, divertikulosis, lBO, hemoroid, diare, dan konstipasi.
Manifestasi yang terjadi dapat berupa disfagia, dispepsia, siarem
konstipasi, hematemesi, melena, hematokezia.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
Perubahan nilai laboratorium terkait gizi (NC.2.2.)
4. Intervensi
Tujuan :
a. Memberikan makanan secukupnya yang memungkinkan istirahat pada
saluran cema
b. Mengurangi risiko perdarahan ulang
c. Mencegah aspirasi
d. Mengusahakan keadaan gizi sebaik mungkin
e. Menetralkan sekresi asam lam bung yang berlebihan
f. Memperbaiki ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
g. Mencegah iritasi dan inflamasi pada saluran cema

Macam diet: Diet Sisa Rendah I-II


Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Mudah cema, porsi kecil, dan sering diberikan
b. Energi dan protein cukup sesuai kemampuan pasien untuk menerimanya
c. Lemak rendah 10-15% dari kebutuhan total
d. Rendah serat terutama serat tidak larut air yang ditingkatkan secara
bertahap
e. Cairan cukup terutama bila ada muntah dan konstipasi
f. Tidak mengandung makanan atau bumbu yang tajam, baik secara tennis,
mekanis, maupun kimia
g. Laktosa rendah bila ada gejala intoleransi laktosa, umumnya tidak
dianjurkan minum susu terlalu banyak
h. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja selama 24-48 jam
untuk memberi istirahat pada saluran cema, setelah fase akut teratasi
dapat diberikan makanan secara bertahap

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik Gejala gangguan Setiap hari


pencemaan (mual, Setiap
hari muntah, konstipasi,
nyeri epigastrum, kembung)
4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

L. Komplikasi Kehamilan
1. Definisi
Kehamilan adalah suatu peristiwa bertemunya sel telur dan sel
sperma hasil dari pertemuan itu akan bemidasi di dalam rahim selama
beberapa waktu dan tumbuh kembang menjadi bayi. Beberapa gangguan
kehamilan antara lain hiperemesis dan preeklamsia.
Hiperemesis adalah suatu keadaan pada awal kehamilan (sampai
trimester II) yang ditandai dengan rasa mual dan muntah yang berIebihan
dalam waktu relatif lama. Keadaan ini bila tidak diatasi dapat menimbulkan
dehidrasi dan penurunan berat badan.
Preeklamsia merupakan sindrom yang terjadi pada saat kehamilan
masuk minggu kedua puluh dengan tanda dan gejala seperti hipertensi,
proteinuria, kenaikan berat badan yang cepat (karena edema), mudah timbul
kemerah-merahan, mual, muntah, pusing, nyeri lambung, oliguria, gelisah,
dan kesadaran menurun.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
Peningkatan kebutuhan (NI.5.I)
4. Intervensi
Tujuan:
a. Memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup untuk
mempertahankan status gizi optimal
b. Menjaga agar penarnbahan berat badan tidak melebihi normal
c. Mencapai keseimbangan nitrogen
d. Mencegah atau mengurangi retensi garam atau air
e. Mencapai dan mernpertahankan tekanan darah normal
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi dan semua zat gizi cukup. Pada pre eklamsia berat, makanan
diberikan secara berangsur, sesuai kemampuan pasien
b. Protein tinggi 1,5-2 gl kg BB
c. Lemak rendah pada hiperemesis <10% dari kebutuhan energi total,
sebagian lernak berupa lemak tidakjenuh tunggal dan lemak tidakjenuh
ganda
d. Karbohidrat sisa dari kebutuhan energi total
e. Pada preeklamsia garam diberikan rendah sesuai berat ringannya retensi
garam atau air
f. Vitamin dan mineral cukup
g. Pada hiperemesis makanan diberikan dalam bentuk kering
h. Cairan disesuaikan dengan keadaan pasien 7-10 gelas per hari, pada
keadaan oliguria cairan dibatasi sesuai dengan cairan yang keluar melalui
urin, muntah, keringat, dan pernapasan
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik Gejala hiperemesis Setiap hari


(mual, muntah, kembung),
TD
4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

M. Hipertensi
1. Definisi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan
darah sistolik lebih dari 140 mrnl-lg dan tekanan darah diastolik lebih dari
90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima
menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan
darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat
rnenimbulkan kerusakan pad a ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit
jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi
secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Faktor resiko
Hipertensi adalah umur, jenis kelarnin, riwayat keluarga, genetik
(faktor resiko yang tidak dapat diubah/dikontrol), kebiasaan merokok,
konsurnsi garam, konsumsi lernak jenuh, penggunaan jelantah,
kebiasaan konsurnsi minurn rninurnan beralkohol. obesitas, kurang
aktifitas fisik. stres, penggunaan estrogen. Ada pun klasifikasi hipertensi
terbagi menjadi:
a. Berdasarkan penyebab :
 Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial
Hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui (idiopatik),
walaupun dikaitkan dengan kornbinasi faktor gaya hidup seperti
kurang bergerak (inaktivitas) dan pola makan. Terjadi pada sekitar
90% penderita hipertensi.
 Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Hipertensi yang diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10%
penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar
1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat
tertentu (misalnya pil KB).
b. Berdasarkan bentuk Hipertensi :
Hipertensi diastolik {diastolic hypertension}. Hipertensi campuran (sistol
dan diastol yang rneninggi), Hipertensi sistolik (isolated systolic
hypertension).

2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TD, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
4. Intervensi
Tujuan:
a. Membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh
b. Menurunkan tekanan darah pad a pasien hipertensi
Macam diet: Diet Rendah Garam I-TIl
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat :
a. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin
b. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit
c. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air
dan/ hipertensi

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan
N. Diet pada Tindakan Bedah
1. Definisi
Pengaruh pembedahan terhadap metabolisme pasca bedah tergantung
berat ringannya pembedahan, keadaan gizi pasien pra bedah, dan
pengaruh pembedahan terhadap kemampuan pasier. untuk mencerna dan
mengabsorbsi zat zat gizi. Setelah pembedahan sering terjadi peningkatan
ekskresi nitrogen dan natrium yang dapat berlangsung selama 5-7 hari atau
lebih pasaca bedah. Peningkatan eksresi kalsium terjadi setelah operasi
besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak
(imobilisasi). Dernam meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan
vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, IMT)
b. Biokimia
c. Kliniki Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
Peningkatan kebutuhan (NI.5.1)
4. Intervensi
Tujuan :
Mengusahakan agar status gizi pasien dalam keadaan optimal pad a saat
pembedahan, sehingga tersedia cadangan untuk mengatasi stres dan
penyembuhan luka

Bentuk makanan : bertahap disesuaikan dengan kondisi pasien


Syarat:
a. Energi pada pasien dengan status gizi kurang sebanyak 40-45 kkall kg
BB, pad a pasien status gizi Icbih diberikan sebanyak 10-25% di
bawah kebutuhan normal, pada status gizi baik dibcrikan sesuai
kebutuhan energi normal ditambah faktor stres 15%
b. Protein pada status gizi kurang diberikan tinggi 1,5-2 g/ kg BB
sedangkan pada status gizi baik atau kegemukan diberikan 0,8-1 g/ kg
BB
c. Lemak cukup 15-25% dari kebutuhan energi total
d. Karbohidrat cukup sisa kebutuhan energi total
e. Rendah sisa pada pasien pra bedah agar mudah dilakukan
pembersihan saluran cerna sehingga tidak mengganggu proses
pembedahan

5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik TD Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan

O. Diet Penyakit Paru Obstruktif


1. Definisi
Penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) merupakan
kumpulan berbagai kelainan pada sistem pernafasan yang menimbulkan
penyurnbatan saluran nafas dalam waktu yang lama. Kelainan tersebut
antara lain asma kronis, bronkitis kronis, dan emfisema. Karena
gangguan ini, pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam alveoli paru
akan menurun sehingga perfusi oksigen ke dalarn jaringan turut
berkurang. Dengan demikian konsumsi karbohidrat harus dikurangi
karena metabolisme karbohidrat untuk menghasilkan energi
memerlukan lebih banyak oksigen bila dibandingkan dengan lemak.
2. Assesment
a. Antropometri (TB, BB, LILA, [MT)
b. Biokimia
c. Klinikl Fisik (TO, KU, RR, suhu)
d. Riwayat Gizi
3. Diagnosis Gizi
a. Peningkatan kebutuhan 0'!I.5.1)
b. Penurunan kebutuhan zat gizi (N1.5.4.)

4. Intervensi
Tujuan:
a. Mencapai dan mernpertahankan status gizi optimal
b. Tidak memberatkan sistem pernafasan
Macam diet : Diet TKTP Rendah KH
Bentuk makanan : disesuaikan dengan kondisi pasien
Syarat:
a. Energi tinggi 40-45 kkall kg BB
b. Lemak tinggi 25-40% dari kebutuhan energi total
c. Karbohidrat rendah 35-45% dari kebutuhan energi total
d. Protein cukup, sisa dari kebutuhan energi total
e. Porsi makan kecil tetapi sering
5. Monitoring dan Evaluasi

NO MONITOR EVALUASI WAKTU

1 Antropometri Perubahan berat badan 1 minggu

2 Biokimia Nilai Lab Setiap hari

3 Klinik/Fisik TD, Gejala batuk/Sesak Setiap hari


4 Asupan Membandingkan daya Setiap hari
terima makanan dengan
yang disajikan
BAB IV.
DOKUMENTASI

Dokumentasi atau pencatatan adalah serangkaian kegiatan


mengumpulkan data dan mengolah data kegiatan pelayanan gizi rumah sakit
dalam jangka waktu tertentu, untuk menghasilkan bahan bagi penilaian kegiatan
pelayanan gizi rumah sakit maupun untuk pengambilan keputusan. Pencatatan
ini dilakukan pada setiap langkah kegiatan yang dilakukan. Pelaporan
dilakukan berkala sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.

A. Pencatatan dan Pelaporan Asuhan Gizi Klinik Ruang Rawat Inap


1. Formulir skrining gizi
2. Formulir asuhan gizi rawat inap
3. Formulir rekap harian asuhan gizi rawat inap
4. Formulir monitoring evaluasi asuhan gizi rawat inap
5. Laporan jumlah pasien asuhan rawat inap setiap bulannya
B. Pencatatan dan Pelaporan Konseling Poli Rawat Jalan
1. Formulir konseling rawatjalan
2. Formulir rekap harian konseling rawatjalan
3. Laporan jumlah pasien konseling rawat jalan setiap bulannya
BAB V.
PENUTUP

Demikian Panduan Asuhan Gizi Klinik ini dibuat dengan harapan dapat
digunakan sebagai panduan dalam pelaksanaan kegiatan asuhan gizi di
Instalasi Gizi Rumah Sakit umum daerah kota baubau. Penulis menyadari bahwa
buku panduan ini masih banyak kekurangan, apabila ada hal-hal yang perlu
disempurnakan, maka akan dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya.

Direktur
RSUD Kota Baubau,

dr. H. HASMUDIN, Sp. B


NIP. 19650510 199703 1 008
Direktur
Rumah Sakit umum daerah
kota baubau

Dr.H.HASMUDIN,SpB

NIP 19481025 197703 1 003