Anda di halaman 1dari 12

Makalah Metode Penelitian Kuantitatif

DISUSUN OLEH :

NAMA : SUCI AMELIA PUTRI


KELAS : K5B
NPM : 165140113P

YAYASAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN STIKES UMITRA


BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017/2018
A. Pendahuluan

Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang analisisnya secara umum memakai
analisis statistik. Penelitian kuantitatif dikembangkan oleh penganut positivisme yang
dipelopori oleh Auguste Conte. Aliran ini berpendapat bahwa untuk memacu perkembangan
ilmu-ilmu sosial, maka metode-metode IPA harus diadopsi ke dalam riset-riset ilmu sosial
(Harahap, 1992).

Karenanya dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati menjadi
penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan
berstruktur (angket) yang disusun berdasarkan pengukuran terhadap variabel yang diteliti
yang kemudian menghasilkan data kuantitatif.
PEMBAHASAN

Berbeda dengan penelitian kualitatif yang menekankan pada studi kasus, penelitian kuantitatif
bermuara pada survey. Richard dan Cook (dalam Abdullah Fajar, 1992) mengemukakan
perbedaan paradigma penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagai berikut :

A. Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif


1. latar belakang masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi dilakukannya penelitian,
apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan
antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat
deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti
sebelumnya. Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:
a. Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari bidang
keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
b. Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c. Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian
d. Penjelasan bahwa masalah tersebut relevan, aktual dan sesuai dengan situasi dan
kebutuhan zaman
e. Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
f. Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi
perkembangan ilmu

2. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah


a. Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang
seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori
sebagainya.
b. Pemilihan Masalah

1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)


2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)
3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti
4). Menghubungkan dua variabel atau lebih (Nazir: 1988)

c. Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu,
dan lain-lain.
d. Perumusan Masalah
1. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2. Jelas dan padat
3. Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian

Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat dirumuskan
dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan
dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita
lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan.
Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk
mengumpulkan informasi lebih lanjut.

Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria
yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai
berikut :
a. Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-
gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala
lainnya.
b. Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada
maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut
juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan
lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan
yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran
lebih jauh.
c. Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara
empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi
juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace Suryadi: 2000).

e . Perumusan Tujuan dan Manfaat Penelitian


a. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari
masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah
kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.
b. Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis (Arikunto:1992)

f. Telaah Pustaka
1. Manfaat Telaah Pustaka
2. Untuk memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti
3. Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran
4. Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan
hipotesa
5. Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian

g. Pembentukan Kerangka Teori

Kerangka teori merupakan landasan pemikiran yang membantu arah penelitian,


pemilihan konsep, perumusan hipotesa dan memberi kerangka orientasi untuk
klasifikasi dan analisis data (Koentjaraningrat:1973). Kerangka teori dibuat berdasarkan
teori-teori yang sudah ada atau berdasarkan pemikiran logis yang dibangun oleh peneliti
sendiri. Teori yang dibahas atau teori yang dikupas harus mempunyai relevansi yang
kuat dengan permasalahan penelitian. Sifatnya mengemukakan bagaimana seharusnya
tentang masalah yang diteliti tersebut berdasar konsep atau teori-teori tertentu. Khusus
untuk penelitian hubungan dua variabel atau lebih maka dalam landasan teori harus
dapat digambarkan secara jelas bagaimana hubungan dua variabel tersebut.

h. Perumusan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap
paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Hipotesa merupakan kristalisasi
dari kesimpulan teoritik yang diperoleh dari telaah pustaka. Secara statistik hipotesis
merupakan pernyataan mengenai keadaan populasi yang akan diuji kebenarannya
berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Konsep merupakan definisi dari sekelompok fakta atau gejala (yang akan diteliti). Konsep ada
yang sederhana dan dapat dilihat seperti konsep meja, kursi dan sebagainya dan ada konsep yang
abstrak dan tak dapat dilihat seeprti konsep partisipasi, peranan dan sebagainya. Konsep yang tak
dapat dilihat disebut construct. Karena construct bergerak di alam abstrak maka perlu diubah
dalam bentuk yang dapat diukur secara empiris, atau dalam kata lain perlu ada definisi
operasional.

Definisi operasional adalah mengubah konsep dengan kata-kata yang menggambarkan perilaku
atau gejala yang dapat diamati dan dapat diuji kebenarannya oleh orang lain. Konsep yang
mempunyai variasi nilai disebut variabel.
Variabel dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Variabel deskrit/katagorikal misalnya : variabel jenis kelamin.
b. Variabel Continues misal : variabel umur
Proses pengukuran variabel merupakan rangkaian dari empat aktivitas pokok yaitu:

1. Menentukan dimensi variabel penelitian. Variabel-variabel penelitian sosial sering kali


memiliki lebih dari satudimensi. Semakin lengkap dimensi suatu variabel yang dapat
diukur, semakin baik ukuran yang dihasilkan.
2. Merumuskan dimensi variabel. Setelah dimensi-dimensi suatu variabel dapat ditentukan,
barulah dirumuskan ukuran untuk masing-masing dimensi. Ukuran ini biasanya
berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan dimensi tadi.
3. Menentukan tingkat ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran. Apakah skala:
nominal, ordinal, interval, atau ratio.
4. Menguji tingkat validitas dan reliabilitas dari alat pengukur apabila yang dipakai adalah
alat ukur yang baru.

Contoh yang bagus proses pengukuran suatu variabel dikemukakan oleh Glock dan Stark (dalam
Ancok:1989) yang mengembangkan suatu konsep untuk mengukur tingkat religiusitas. Menurut
pendapat mereka konsep religiusitas mempunyai lima dimensi sebagai berikut :

1. Ritual Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang mengerjakan kewajiban ritual di
dalam agama mereka. Seperti sholat, puasa, membayar zakat, dan lain-lain, bagi yang
beragama Islam. atau pergi ke gereja dan kegiatan ritual lainnya bagi yang beragama
Kristen.

2. Ideologi Involvement, yaitu tingkatan sejauh mana orang menerima hal-hal yang
dogmatik di dalam agama mereka masing-masing. Misalkan apakah seseorang yang
beragama percaya tentang adanya malaikat, hari kiamat, surga, neraka, dan lain-lain hal
yang sifatnya dogmatik.

3. Intellectual Involvement, sebenarnya jauh seseorang mengetahui tentang ajaran


agamanya. Seberapa jauh aktivitasnya di dalam menambah pengetahuan agamanya, apakah
dia mengikuti pengajian, membaca buku-buku agama, bagi yang beragama Islam. bagi yang
beragama Kristen apakah dia menghadiri Sekolah Minggu, membaca buku-buku agama, dan
lain-lain. Demikian pula dengan orang pemeluk agama lainnya, apakah dia mengerjakan hal-
hal yang serupa.

4. Experiential Involvement, yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan


spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misalnya, apakah seseorang
pernah merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan; apakah di apernah merasakan bahwa
jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.

5. Consequential Involvement, yaitu dimensi yang mengukur sejauh mana perilaku


seseorang dimotifikasikan oleh ajaran agamanya. Misalkan apakah dia menerapkan ajaran
agamanya di dalam kehidupan sosial. misalnya, apakah dia pergi mengunjungi tetangganya
yang sakit, mendermakan sebagian kekayaannya untuk kepentingan fakir miskin.
Menyumbangkan uangnya untuk pendirian rumah yatim piatu, dan lain-lain.

Dimensi-dimensi yang disebut di atas kemudian diperinci dalam aspek yang lebih kecil
dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dijadikan komponen
alat pengukur yang terhadap dimensi tingkat religiusitas.

C. Validitas dan Reliabiltas Instrumen


Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur variabel yang kita teliti sebelumnya harus dilakukan
uji validitas dan reliabilitas. Bila instrumen/alat ukur tersebut tidak valid maupun reliabel,
maka tidak akan diperoleh hasil penelitian yang baik.
Validitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul
mengukur apa yang akan diukur.
Ada beberapa jenis validitas, namun yang paling banyak dibahas adalah validitas konstruk.
Konstruk atau kerangka konsep adalah istilah dan definisi yang digunakan untuk
menggabarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok atau individu yang menjadi pusat
perhatian penelitian. Konsep itu kemudian seringkali masih harus diubah menjadi definisi
yang operasional, yang menggambarkan bagaimana mengukur suatu gejala. Langkah
selanjutnya adalah menyusun pertanyaan-pertanyaan/ pernyataan-pernyataan yang sesuai
dengan definisi itu.
Untuk mencari definisi konsep tersebut dapat ditempuh dengan berbagai cara sebagai berikut :
a. Mencari definisi konsep yang dikemukakan para ahli. Untuk ini perlu dipelajari buku-
buku referensi yang relevan.
b. Kalau dalam literatur tidak dapat diperoleh definisi konsep-konsep penelitian, maka
peneliti harus mendefinisikan sendiri konsep tersebut. Untuk tujuan ini peneliti dapat
mendiskusikan dengan ahli-ahli yang kompeten dibidang konsep yang akan diukur.
c. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang-orang
yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden (Ancok: 1989). Misalnya
peneliti ingin mengukur konsep “religiusitas”. Dalam mendefinisikan konsep ini peneliti
dapat langsung menanyakan kepada beberapa calon responden tetnang ciri-ciri orang
yang religius. Berdasar jawaban calon responden, kemudian disusun kerangka suatu
konsep. Apabila terdapat konsistensi antra komponen-komponen konstruk yang satu
dengna lainnya, maka konstruk itu memiliki validitas.

Cara yang paling banyak dipakai untuk mengetahui validitas konstruk suatu instrumen/alat
pengukur ialah dengan mengkorelasikan skor/nilai yang diperoleh pada masing-masing
pertanyaan/pernyataan dari semua responden dengan skor/nilai total semua
pertanyaan/pernyataan dari semua responden. Korelasi antara skor/nilai setiap
pertanyaan/pernyataan dan skor/nilai total haruslah signifikan berdasarkan ukuran statistik
tertentu misalnya dengan menggunakan teknik korelasi product moment.

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengkur dapat dipercaya
atau dapat diandalkan. Reliabilitas menunjukkan kemantapan/konsistensi hasil pengukuran.
Suatu alat pengukur dikatakan mantap atau konsisten, apabila untuk mengukur sesuatu berulang
kali, alat pengukur itu menunjukkan hasil yang sama, dalam kondisi yang sama.

Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang
mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda,
kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi
untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama,
pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai.
Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena
sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan
pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya,
kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin
reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat
pengukur tersebut.
Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu:
a. teknik ulangan
b. teknik bentuk pararel dan
c. teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua.

Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat
ukur menjadi dua kelompok. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Mengajukan instrumen kepada sejumlah responden kemudia dihitung validitas itemnya. Item
yang valid dikumpulkan menjadi satu, item yang tidak valid dibuang.
b. Membagi item yang valid tersebut menjadi dua belahan. Untuk mebelah instrumen menjadi
dua, dapat dilakukan dengan salah satu cara berikut: 1). Membagi item dengan cara acak
(random). Separo masuk belahan pertama, yang separo lagi masuk belahan kedua; atau (2)
membagi item berdasarkan nomor genap-ganjil. Item yang bernomor ganjil dikumpulkan
menjadi satu dan yang bernomor genap juga dijadikan satu. Untuk menghitung reliabilitasnya
skor total dari kedua belahan itu dikorelasikan.

D. Penetapan Metode Penelitian


Penetapan metode penelitian mencakup :
1. penentuan subyek penelitian (populasi dan sampel)
2. metode pengumpulan data(penyusunan angket)
3. metode analisis data (pemilihan analisis statistik yang sesuai dengan jenis data)
E. Pembuatan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah pedoman yang disusun secara sistematis dan logis tentang apa
yang akan dilakukan dalam penelitian. Rancangan penelitian memuat: judul, latar belakang
masalah, masalah, tujuan, kajian pustaka, hipotesis, definisi operasional, metode penelitian,
jadwal pelaksanaan, organisasi/tenaga pelaksana dan rencana anggaran.

F. Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data diperlukan kemampuan melacak peta wilayah, sumber informasi
dan keterampilan menggali data. Untuk itu diperlukan pelatihan bagi para tenaga pengumpul
data.
G. Pengolahan, Analisis dan Interpretasi Hasil Penelitian
Pengolahan data meliputi :
1. editing
2. coding
3. katagorisasi dan
4. tabulasi data.
Analisis data bertujuan menyederhanakan data sehingga mudah dibaca dan ditafsirkan. Dalam
penelitian kuantitatif analisis data menggunakan statistik.
Interpretasi bertujuan menafsirkan hasil analisis secara lebih luas untuk menarik kesimpulan.

H. Menyusun Laporan Penelitian


Untuk memudahkan menyusun laporan maka diperlukan kerangka laporan out line
DAFTAR PUSTAKA

 Abdullah Fajar, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor:
1 Juni – Agustus 1992. Balai Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga
 Ace Suryadi, Teori dan Praktek Perumusan Masalah Dalam Penelitian Sosial
Keagamaan, Makalah Tidak Diterbitkan, 2000.
 Djamaluddin Ancok, Teknik Penyusunan Skala Pengukuran; PPK UGM, Yogyakarta,
1989.
 Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1973.
 Harahap, Nasruddin, Penelitian Sosial : Latar Belakang, Proses : Persiapan
Pelaksanaannya, dalam Jurnal Penelitian Agama Nomor: 1 Juni – Agustus 1992. Balai
Penelitian P3M IAIN Sunan Kalijaga
 Moh. Nasir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1988.
 Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta, 1985.
 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta, PT. Rineka
Cipta, 1992.
 Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Logos: Jakarta, 1997