Anda di halaman 1dari 14

PENGERTIAN LINGKUNGAN

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Baik lingkungan alam maupun
lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan,
minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.

Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi
perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa
dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan
biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang
yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-
hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan
tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.

Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan
sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya
dalam membentuk kepribadian seseorang.

LINGKUNGAN HIDUP

Secara khusus, kita sering menggunakan istilah lingkungan hidup untuk menyebutkan segala
sesuatu yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup segenap makhluk hidup di bumi.

Adapun berdasarkan UU No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang
dengan semua benda dan kesatuan makhluk hidup termasuk di dalamnya manusia dan
perilakunya yang melangsungkan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lainnya.

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

1. Unsur Hayati (Biotik)

Unsur hayati (biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti
manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan jasad renik. Jika kalian berada di kebun sekolah,
maka lingkungan hayatinya didominasi oleh tumbuhan. Tetapi jika berada di dalam kelas,
maka lingkungan hayati yang dominan adalah teman-teman atau sesama manusia.

2. Unsur Sosial Budaya

Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang
merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial.
Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma
yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.

3. Unsur Fisik (Abiotik)

Unsur fisik (abiotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup,
seperti tanah, air, udara, iklim, dan lain-lain. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar
peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi. Bayangkan, apa yang
terjadi jika air tak ada lagi di muka bumi atau udara yang dipenuhi asap? Tentu saja
kehidupan di muka bumi tidak akan berlangsung secara wajar. Akan terjadi bencana
kekeringan, banyak hewan dan tumbuhan mati, perubahan musim yang tidak teratur,
munculnya berbagai penyakit, dan lain-lain.

KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2


jenis, yaitu:

1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam

Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah
menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang
memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang
meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam
sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.

Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Letusan gunung berapi

Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan
tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.

Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara

lain berupa:

1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.

2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.

3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.

4) Gas yang mengandung racun.

5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.

b. Gempa bumi

Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di
antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena
gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa,
namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.
Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan
letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai
akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:

1) Berbagai bangunan roboh.

2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.

3) Tanah longsor akibat guncangan.

4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.

5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).

c. Angin topan

Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke
kawasan bertekanan rendah.

Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan
angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal
yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan
Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi
bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah
terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan
global.

Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan
atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya.
Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup
dalam bentuk:

1) Merobohkan bangunan.

2) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.

3) Membahayakan penerbangan.

4) Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.

2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia

Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan
kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi
mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan
modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak
diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak
kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan
lingkungan hidup.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:

a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya
kawasan industri.

b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan
kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.

c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.

Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak
pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:

a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).

b. Perburuan liar.

c. Merusak hutan bakau.

d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.

e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.

f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).

g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBANGUNAN


BERKELANJUTAN

Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan
hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung
jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha
untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-
masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya
bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa
harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program
pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan
lingkungan.

Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara


bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan
dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan
merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya
terkandung 2 gagasan penting, yaitu:
a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.

b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi


kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:

a. Menjamin pemerataan dan keadilan.

b. Menghargai keanekaragaman hayati.

c. Menggunakan pendekatan integratif.

d. Menggunakan pandangan jangka panjang.

Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi
berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:

a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan
berkelanjutan.

b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.

c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan


pengawasan.

1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung


jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan
hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:

a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna
Tanah.

b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan


Lingkungan Hidup.

c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa


Mengenai Dampak Lingkungan).

d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan
pokoknya:

1) Menanggulangi kasus pencemaran.

2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).


3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).

e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.

2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah

Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap
kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan
hidup antara lain:

a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)

Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan
masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang
disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah
dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan
lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan
terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus.
Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam
pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk
daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering
atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b. Pelestarian udara

Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan
udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya
oksigen.

Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen
berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme.
Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap
bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih
dan sehat antara lain:

1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita

Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu
memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan
tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu
tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik


pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan
cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan
industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan
menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada
cerobong asap pabrik.
3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan
ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta
dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas
ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di
atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar
ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan
akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan
global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c. Pelestarian hutan

Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi
dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar
yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan.
Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya
menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen,
penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.

Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:

1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.

2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.

3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.

4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.

5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai
pengelolaan hutan.

d. Pelestarian laut dan pantai

Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan
pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut,
pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam
kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan
telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap
gempuran ombak.

Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:

1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar
pantai.

2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena
karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.

3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.
4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e. Pelestarian flora dan fauna

Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan
alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan
gangguan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi
kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora
dan fauna di antaranya adalah:

1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.

2) Melarang kegiatan perburuan liar.

3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.


MAKHLUK HIDUP DAN LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Makhluk hidup adalah kajian utama dari ilmu biologi. Makhluk hidup dapat berupa
organisme bersel satu sampai organisme multi seluler. Dalam biologi dan ekologi, organisme
(bahasa Yunani: organon yang berarti alat) adalah kumpulan molekul-molekul yang saling
memengaruhi sedemikian sehingga berfungsi secara stabil dan memiliki sifat sebagai
makhluk hidup.

Sebagai makhluk yang menempati alam semesta ini dan memanfaatkan segala isi yang ada
didalamnya, makhluk hidup memiliki hubungan antara tiap-tiap komponen pengisi alam
semesta ini. Makhluk hidup pada dasarnya tidak mampu berdiri sendiri sehingga
membutuhkan proses interaksi. Tanpa di sadari pula makhluk hidup mengalami atau
melakukan interaksi dengan lingkungan tempat makhluk hidup itu tinggal.

Oleh sebab itu, penulis akan mencoba mengungkapkan lebih jelas hubungan makhluk hidup
dengan lingkungannya.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang disebut dengan makhluk hidup?


2. Apa saja ciri-ciri makhluk hidup?
3. Bagaimana hubungan antara makhluk hidup?
4. Bagaimana proses rantai makanan terjadi?
5. Bagaimana hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya?
6. Mengetahui pengertian dari makhluk hidup
7. Mengetahui ciri-ciri makhluk hidup
8. Mengetahui hubungan antara makhluk hidup
9. Mengetahui proses rantai makanan terjadi
10. Mengetahui hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Makhluk Hidup

Makhluk hidup adalah kajian utama dari ilmu biologi. Makhluk hidup dapat berupa
organisme bersel satu sampai organisme multi seluler. Dalam biologi dan ekologi, organisme
(bahasa Yunani: organon yang berarti alat) adalah kumpulan molekul-molekul yang saling
memengaruhi sedemikian sehingga berfungsi secara stabil dan memiliki sifat sebagai
makhluk hidup.

Istilah “organisme” (Yunani ργανισμός – organismos, dari ργανον Yunani Kuno – Organon
“organ, instrumen, alat”) pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada 1701 dan
mengambil definisi saat ini oleh 1834 (Oxford Dictionary Inggris). Hal ini langsung berkaitan
dengan “organisasi” panjang. Ada sebuah tradisi panjang mendefinisikan organisme sebagai
mengorganisir diri makhluk.

2.2 Ciri-ciri Makhluk Hidup

1. Bernafas (respirasi)

Proses pengambilan oksigen dari luar tubuh untuk proses pembakaran bahan makanan
didalam tubuh. Proses pembakaran menghasilkan energi / tenaga. Pernapasan juga
menghasilkan energi dan gas sisa yaitu karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Tumbuhan
bernapas melalui lubang-lubang kecil pada daun yang disebut stomata dan melalui lubang-
lubang kecil yang terdapat pada permukaan kulit batang yang disebut lentisel. Lentisel adalah
lubang-lubang kecil pada batang tumbuhan sebagai tempat keluar masuknya karbon diokasia
dan oksigen

2. Bergerak

Tumbuhan bergerak misalnya akar menembus tanah.

3. Memerlukan makanan

Tumbuhan memperoleh makanan melalui proses fotosintesis.

4. Tumbuh

Terjadi karena adanya penambahan jumlah dan ukuran sel yang membangun makhluk
hidup. Pertumbuhan pada makhluk hidup dipengaruhi oleh factor luar dan factor
dalam. Faktor dalam misalnya zat tumbuh (hormon) atau factor keturunan. Faktor luar
misalnya faktor lingkungan

5. Berkembangbiak (Reproduksi)

Kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan. Tujuan berkembang biak adalah
untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya. Makhluk hidup berkembang biak
secara kawin (seksual) dan tak kawin (aseksual). Hewan umumnya berkembang biak secara
seksual. Hewan bertulang belakang (vertabrata) seperti kura-kura, burung dan tikus
berkembang biak secara seksual. Hewan tidak bertulang belakang (avertabrata) dapat
berkembang biak secara aseksual, yaitu dengan membentuk tunas seperti hydra dan ubur-
ubur. Pada tumbuhan, perkembangbiakan seksual dilakukan dengan biji, seperti pada
mangga, rambutan dan jagung. Sedangkan perrkembangbiakan aseksual dilakukan seperti
pada pembentukan tunas (pisang , bambu) atau umbi batang (kentang) atau setek batang atau
cangkok.

6. Peka terhadap rangsang (Iritabilita)


Adalah kemampuan makhluk hidup untuk menerima dan menanggapi suatu rangsangan

7. Mengeluarkan zat-zat sisa (ekskresi)

Setiap hari urin (air seni) harus dikeluarkan. Urin yang diproduksi didalam ginjal dialirkan
kekantong air seni (kantong kemih), kemudian dikeluarkan dari tubuh melalui saluran
kencing. Urin mengandung urea dan karbon dioksida hasil pernapasan, harus dikeluarkan dari
tubuh karena bersifat racun bagi tubuh. Hewan mengeluarkan zat-zat sisa dari prosese
metabolisme. Metabolisme adalah proses pertukaran zat yang terjadi didalam mahkluk hidup.
Misalnya proses pernafasan dan pencernaan makanan.

Tumbuhan juga mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme. Zat sisa pada tumbuhan berupa
karbon dioksida (sebagai sisa proses pernafasan) dan oksigen (sebagai sisa proses
fotosintesis). Zat-zat sisa dikeluarkan melalui stomata (yg terdapat pada daun) atau lentisel
(yg terdapat pada batang). Pada tumbuhan hijau, zat-zat tersebut akan diperlukan kembali.
Karbon dioksida diperlukan untuk fotosintesis dan oksigen diperlukan untuk respirasi.

2.3 Hubungan Antara Makhluk Hidup

Hubungan antara makhluk hidup akan terbentuk suatu simbiosis yang dapat menguntungkan
kedua makhluk tersebut, menguntungkan salah satunya dan yang lain rugi, dan bahkan
menguntungkan salah satunya tetapi tidak merugikan yang lainnya . Diantara simbiosis-
simbiosis tersebut adalah :

1. Simbiosis Mutualisme

Simbiosis mutualisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang bersifat saling
menguntungkan. Contohnya, simbiosis antara seekor kerbau dengan burung jalak.

1. Simbiosis Parasitisme

Simbiosis parasitisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang mengakibatkan
makhluk hidup yang satu mendapatkan keuntungan, sedangkan makhluk hidup lainnya
mengalami kerugian. Misalnya, hubungan antara tanaman jeruk dengan benalu, bunga
raflesia dengan inangnya, dan kutu dengan hewan tempat ia tinggal.

1. Simbiosis Komensalisme

Simbiosis komensalisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup yang menguntungkan
salah satu pihak, tetapi tidak merugikan pihak lain. Contohnya ikan hiu dengan ikan remora.
Ikan remora yang berenang di dekat tubuh ikan hiu akan turut menjelajah ke mana pun ikan
hiu itu pergi.

2.4 Rantai Makanan

Rantai makanan adalah perjalanan makan dan dimakan dengan urutan tertentu antarmakhluk
hidup.

Padi dimakan oleh tikus, kemudian tikus dimakan oleh ular, ular dimakan oleh burung elang.
Setelah beberapa waktu burung elang mati, bangkainya membusuk dan bercampur dengan
tanah membentuk humus. Humus sangat dibutuhkan tumbuhan, terutama rumput. Begitulah
seterusnya sehingga proses ini berjalan dari waktu ke waktu.

Agar rantai makanan dapat terus berjalan, maka jumlah produsen harus lebih banyak
daripada jumlah konsumen kesatu, konsumen kesatu lebih banyak daripada konsumen kedua,
dan begitulah seterusnya. Ada satu lagi komponen yang berperan besar dalam rantai
makanan, yaitu pengurai Pengurai adalah makhluk hidup yang menguraikan kembali zat – zat
yang semula terdapat dalam tubuh hewan dan tumbuhan yang telah mati. Hasil kerja pengurai
dapat membantu proses penyuburan tanah.

2.5 Hubungan Makhluk Hidup dan Lingkungannya

Makhluk hidup sangat bergantung kepada lingkungannya. Lingkungan ada dua macam, yaitu
lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik merupakan lingkungan yang
terdiri atas makhluk hidup. Misalnya, hewan, tumbuhan, dan manusia. Lingkungan abiotik
adalah lingkungan yang terdiri atas benda-benda tak hidup. Misalnya, air, batu, pasir, udara,
cahaya matahari, dan tanah.

Hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya akan membentuk ekosistem. Jadi,
apabila kita menyebut ekosistem sungai, maka berarti di dalamnya terdapat ikan, tumbuhan,
air, plankton, cahaya matahari, dan udara.

Rantai makanan tidak akan terputus selama semua mata rantai tersedia. Misalnya, rantai
makanan di hutan akan terus terbentuk jika ada rumput, rusa, dan harimau. Jika tidak ada
rumput, maka rusa akan kelaparan dan kemudian mati. Jika rusa banyak yang mati, maka
harimau menjadi kelaparan. Hal ini membahayakan keselamatan hewan ternak dan manusia
yang tinggal di tepi hutan. Jika harimau banyak yang mati, maka jumlah rusa tidak terkendali.
Hal ini bisa menyebabkan kelaparan karena rumput yang tersedia tidak mencukupi. Jadi,
setiap perubahan lingkungan berpengaruh terhadap berlangsungnya kehidupan.

Contoh lain hubungan makhluk hidup dengan lingkungannnya adalah antara tumbuhan dan
cacing. Cacing adalah hewan yang hidup di dalam tanah. Makanan cacing berupa daun –
daun yang telah membusuk. Untuk memperoleh makanannya, cacing membuat lubang –
lubang di dalam tanah. Tanpa disengaja, lubang – lubang tersebut memudahkan udara dan air
masuk ke dalam tanah. Jadi, cacing sangat membantu dalam penggemburan dan penyuburan
tanah. Tanah yang subur sangat diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang.
Tumbuhan yang yang baik akan menghasilkan makanan yang berkualitas. Makanan yang
berkualitas sangat diperlukan manusia.

2.6 Usaha Mengatasi berbagai Masalah Lingkungan Hidup

Untuk menanggulangi masalah kerusakan yang terjadi pada lingkungan perlu diadakan
konservasi. Konservasi dapat diartikan sebagai upaya untuk memelihara lingkunganmulai
dari lingkungan keluarga, masyarakat sampai bangsa. Pada umumnya permasalahan yang
terjadi dapat diatasi dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada pengelolaan sumber daya
alam baik yang dapat maupun yang tidak dapat diperbaharui dengan memperhatikandaya
dukung dan daya tampungnya.
2. Untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan sumber dayaalam
maka diperlukan penegakan hokum secara adil dan konsisten.

3. Memberikan kewenangan dan tanggung jawab secara bertahap terhadap


pengelolaansumber daya alam dan lingkungan hidup.

4. Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara bertahap dapat
dilakukandengan cara membudayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi.

5. Untuk mengetahui keberhasilan dari pengelolaan sumber daya alam dan lingkunganhidup
dengan penggunaan indicator harus diterapkan secara efektif.

6. Penetapan konservasi yang baru dengan memelihara keragaman konservasi yang sudahada
sebelumnya.

7. Mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan


lingkunganglobal.

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Makhluk hidup adalah kumpulan molekul-molekul yang saling memengaruhi sedemikian


sehingga berfungsi secara stabil dan memiliki sifat sebagai makhluk hidup. Ciri-ciri makhluk
hidup, yaitu bernafas, bergerak, membutuhkan makanan, tumbuh, berkembangbiak, peka
terhadap rangsang, dan mengeluarkan zat sisa. Dalam memenuhi kebutuhannya makhluk
hidup berinteraksi dengan makhluk hidup yang lainnya yang disebut dengan simbiosis. Ada
beberapa simbiosis yang terjadi antara hubungan tiap makhluk hidup, yaitu simbiosis
mutualisme, simbiosis parasitisme, dan simbiosis komensalisme.

Antara tiap makhluk hidup terjadi sebuah rantai makanan untuk keberlangsungan hidup.
Rantai makanan adalah perjalanan makan dan dimakan dengan urutan tertentu antarmakhluk
hidup.

Disamping hubungan makhluk hidup dengan makhluk hidup yang lainnya, ada juga
hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya. Hubungan antara makhluk hidup dengan
lingkungannya akan membentuk ekosistem.

Untuk menanggulangi masalah kerusakan yang terjadi pada lingkungan perlu diadakan
konservasi. Konservasi dapat diartikan sebagai upaya untuk memelihara lingkunganmulai
dari lingkungan keluarga, masyarakat sampai bangsa.

3.2 Saran

Masyarakat harus menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam pemanfaatan sumber daya
harus memperhatikan dampak yang timbul dari penggunaan sumber daya tersebutterhadap
lingkungan sekitar agar tidak terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A dkk. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Gunawan, Totok dkk. 2004. Fakta dan Konsep Geografi. Jakarta: Ganeca Exact.

Wahyono, Budi. http://www.crayonpedia.org/mw/ makhluk hidup dan lingkungannya


diakses 12 Mei 2012

Sugandi, Dede. 2005. Geografi. Bandung: Regina

http://kamuspengetahuan.blogspot.com/2011/08/makhluk-hidup-organisme.html, diakses 12
mei 2012