Anda di halaman 1dari 19

A.

Sejarah Istilah Sosiologi

Pada tahun 1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan
Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi.
Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa
pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.
Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki
masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana
perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi
dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.
Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah
ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim,
Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa).
Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang
amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
Émile Durkheim — ilmuwan sosial Perancis — berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin
akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi
berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.

Pada tahun 1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan
pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu
organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain. Karl Marx
memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial
menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat. Max Weber memperkenalkan pendekatan
verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang
menjadi penuntun perilaku manusia.Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic
Sosiology.!

Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial yang ada. Sosiologi
juga bersumber dari filsafat. Filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan (mater
scientarium) semua ilmu pengetahuan yang kita ketahui selama ini . Filsafat pada masa itu mencakup
pula segala usaha pemikiran mengenai masyarakat. Makin berkembangnya zaman dan tumbuhnya
peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat mulai
memisahkan diri dan berkembang menurut tujuan masing-masing.

Astronomi (ilmu tentang bintang-bintang) dan fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang filsafat
yang pertama kali memisahkan diri. Kemudian, diikuti oleh ilmu kimia, biologi, dan geologi. Pada
abad ke-19, dua ilmu pengetahuan baru muncul, yaitu psikologi (ilmu yang mempelajari perilaku dan
sifat-sifat manusia) dan sosilogi (ilmu yang
mempelajari masyarakat). Dengan demikian, timbullah sosiologi sebagai ilmu pengetahuan
yang di dalam proses pertumbuhannya dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu kemasyarakatan
lainnya, seperti ekonomi dan sejarah.

Pemikiran terhadap masyarakat dan lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu
pengetahuan yang dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di Benua Eropa. Banyak usaha
dilakukan manusia baik bersifat ilmiah maupun nonilmiah yang membentuk sosiologi sebagai
ilmu pengetahuan dan berdiri sendiri.

Beberapa faktor pendorong utama munculnya sosiologi adalah meningkatnya perhatian


terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam
masyarakat.

sosiologi di Amerika Serikat dihubungkan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan keadaan


sosial manusia dan sebagai pendorong untuk menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh
kehahatan pelanggaran, pelacuran, pengangguran, kemiskinan, konflik, peperangan, dan
masalah sosial lainnya.

Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melatar belakangi kelahiran sosiologi adalah adanya
krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker, misalnya mengaitkan kelahiran
sosiologi dengan serangkaian perubahan di bidang sosial politik. Perubahan berkenaan dengna
adanya reformasi Marthin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan
modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, terjadinya Revolusi Industri pada
abad ke-18, serta terjadinya Revolusi Prancis.

Pada abad ke-19 seorang filsuf bangsa Prancis bernama Auguste Comte, telah menulis
beberapa buku yang berisi pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia
berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai urutan-urutan tertentu berdasarkan logika.
Setiap penelitian dilakukan melalui tahap-tahap tertentu untuk mencapai tahap akhir, yaitu
Ilmiah. Oleh sebab itu, Auguste Comte menyarankan agar semua penelitian terhadap
masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Dari
kondisi tersebut, diartikan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum
yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Sosilogi lahir pada saat-
saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Lahirnya sosiologi tercatat pada tahun 1842, tatkala Auguste Comte menerbitkan buku
berjudul Positive-philosophy. Beberapa pandangan penting yang dikemukakan oleh Auguste
Comte adalah "hukum kemajuan manusia" atau "hukum tiga jenjang", Menurut pandangan
ini, sejarah akan melewati tiga jenjang yang mendaki.

1. Jenjang Teologi
Pada jenjang ini, manusia mencoba menjelaskan gejal disekitarnya dengan mengacu pada hal-
hal yang besifat adikodrati

2. Jenjang Metafisika
pada jenjang ini, manusia mengacu pada kekuatan-kekuatan metafisi atau abstrak.

3. Jenjang Positif
pada jenjang ini, penjelasan gejala alam ataupun sosial dilakukan dengan mengacu pada
deskripsi ilmiah.

Setengah abad setelah Herbert Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian


masyarakat dalam bukunya yang berjudul Priciples of Sociology, istilah sosiologi menjadi lebih
populer. Berkat jasa Herbert Spencer pula, sosiologi akhirnya berkembang dengan pesat.
Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis, Jerman, dan
Amerika Serikat walaupun arah perkembangannya di ketiga negara tersebut berbeda satu
sama lain. Sosilogi kemudian menyebar ke berbagai benua dan negara-negara lain termasuk
Indonesia.

Setengah abad setelah Herbert Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian masyarakat
dalam bukunya yang berjudul
Priciples of Sociology,
istilah sosiologi menjadi lebih populer. Berkat jasa Herbert Spencer pula, sosiologi akhirnya
berkembang dengan pesat. Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis,
Jerman, dan Amerika Serikat walaupun arah perkembangannya di ketiga negara tersebut berbeda satu
sama lain. Sosilogi kemudian menyebar ke berbagai benua dan negara-negara lain termasuk
Indonesia. http://visiuniversal.blogspot.com/2014/02/sejarah-dan-perkembangan-
sosiologi.html#sthash.Xj0BiPpb.dpuf
Baru pada abad ke 20 inilah sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena: 1.

Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia, 2.

Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi, 3.

Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi, 4.

Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak
mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.

Pada akhir abad ke 20 ini, maka salah satu kelemahan (masih dianggap ketinggalan) dari sosiologi,
namun yang pada saat ini juga sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan
perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antar manusia yang dapat diamati adalah
adalah interaksi tidak langsung lewat telepon, internet, dan lain-lain yang menghubungkan manusia
yang saling berjauhan letaknya. http://www.dee-nesia.com/2012/12/sejarah-perkembangan-
sosiologi.html#sthash.7JINXjSO.dpuf
SEJARAH

B. PERKEMBANGAN SOSIOLOGI DI INDONESIA

Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak
mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah
banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka. Sri Paduga Mangkunegoro
IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda
(intergroup relation) dalam ajaran Wulang Reh. Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara yang di kenal
sebagai peletak dasar pendidikan nasinal Indonesia banyak memperaktekan konsep-konsep penting
sosiologi seperti kepemimpinandan kekeluargaan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang
didirikannya. Hal yang sama dapat juga kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang di
tulis oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19.
Mereka mengemukakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berfikir untuk memahami masyarakat
Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologi untuk memahami
masyarakat Aceh yang hasilnya di pergunakan oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah
tersebut. Dari uraian tersebut terlihat bahwa sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum
perang dunia ke II hanya di anggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Dengan kata lain, sosiologi belum di anggap cukup penting untuk di pelajari dan di gunakan sebagai
ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain. Secara formal, sekolah tinggi
hukum (Rechts Shoge School) di jakarta pada waktu itu menjadi satu-satunya lembaga perguruan
tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di indonesia walaupun hanya sebagai pelengkap mata
kuliah ilmu hukum. Namun, seiring perjalanan waktu, mata kuliah tersebut kemudian di tiadakan
dengan alasan bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang
terjadi di dalamnya tidak di perlukan dalam pelajaran hukum. Dalam perdagangan mereka, yang
perlu di ketahui adalah perumusan peraturannya dan sistem-sistem untuk menafsirkannya. Sementara,
penyebab terjadinya sebuah peraturan dan tujuan sebuah peraturan dianggap tidaklah penting. Setelah
proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang
cukup signifikan. Adalah Soenaryo Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi
dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di akademi ilmu politik Yogyakarta (sekarang menjadi
Fakultas ilmu Sosial dan Politik UGM). Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan
akademi di Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia
untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950. Banyak para pelajar Indonesia yang khusus
memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia. Buku sosiologi
dalam bahasa Indonesia pertama kali di terbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul
Sosiologi Indonesia
yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. kehadiran buku ini mendapatkan
sambutan baik dari golongan terpelajar di Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu.
Buku ini seakan mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha
memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat Indonesia saat itu.
Selepas itu, muncul buku sosiologi yang di terbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diklat
kuliah sosiologi yang di tulis oleh seorang mahasiswa. Selanjutnya bermunculan buku-buku sosiologi
baik yang tulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari bahasa asing. Sebagai
contoh, buku
Social Changes in Yogyakarta
karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Tidak kurang pentingnya, tulisan-tulisan tentang
masalah-masalah sosiologi yang tersebar di berbagai majalah, koran, dan jurnal. Selain itu, muncul
pula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik diberbagai Universitas di Indonesia dimana sosiologi mulai di
pelajari secara lebih mendalam bahkan pada beberapa Universitas, di dirikan jurusan sosiologi yang di
harapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia.
http://windiaulina.blogspot.com/2012/10/sejarah-perkembangan-sosiologi-di.html
C. SOSIOLOGI PARIWISATA
1. Pengertian Sosiologi Pariwisata
Saudara mahasiswa, kita akan lebih fokus pada studi sosiologi
pariwisata, yaitu dengan bertanya “mengapa dan bagaimana mempelajari
sosiologi pariwisata?”. Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, terlebih
dulu kita perlu mengingat kembali objek studi utama sosiologi, yaitu struktur
masyarakat, kelompok sosial, lembaga sosial, hubungan-hubungan timbal
balik individu, peranan dan sebagainya seperti telah disebutkan sebelumnya.
Sebagaimana kita tahu, kegiatan kepariwisataan melibatkan orang,
sekelompok orang, lembaga, dan dinamika interaksi sosial yang
dilakukannya untuk mencapai atau memenuhi kepentingan kegiatan
kepariwisataan. Karena itu, sosiologi pariwisata secara umum dapat
disebutkan sebagai studi tentang individu dan masyarakat, organisasi dan
lembaga sosial yang berhubungan dengan layanan kebutuhan perjalanan
wisata bagi wisatawan dan kegiatan kepariwisataan.
Jawaban terhadap pertanyaan tentang mengapa mempelajari sosiologi
pariwisata dapat dikemukakan di sini, yaitu semakin maraknya fenomena dan
permasalahan sosial yang timbul terka
it kepariwisataan. Kegiatan pariwisata
sedang tumbuh pesat sebagai bidang yang secara sosial ekonomi memiliki
dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Di Indonesia, bidang pariwisata
ini juga tumbuh pesat dengan ditandai oleh arus kunjungan wisatawan
nusantara dan mancanegara yang cenderung meningkat. Keadaan ini
mendorong peranan pemerintah dan masyarakat yang makin kuat dalam
menanggapi pesatnya pertumbuhan bidang ini.
Bagi kalangan mahasiswa, dan warga masyarakat lainnya yang tertarik
mempelajari sosiologi pariwisata dapat memahami objek, ruang lingkup,
konsep dan teori serta perspektif permasalahan; dan mengembangkannya
dalam bentuk pemecahan masalah un
tuk mendorong pertumbuhannya dan
memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat yang berkeadilan sosial.
Sedangkan jawaban untuk pertanyaan tentang bagaimana mempelajari
sosiologi pariwisata dikemukakan secara
bertahap dan beruru
tan serta diawali
SOSI4415/MODUL 1
1.21
semakin besar, masyarakat lokal juga
semakin besar menaruh harapan pada
kunjungan wisatawan.
Perjalanan wisata yang makin luas dan meningkat jangkauan
kunjungannya pada masyarakat lokal; bisa mengamati maupun menikmati
objek dan daya tarik wisata baik alam maupun budaya serta kedekatan
hubungan (langsung) dengan masyarakat menunjukkan minat wisatawan dan
karakteristik sosialnya.

a. Kelompok wisatawan yang tinggal di kota-kota besar di daerah atau


negara asal cenderung berminat pada objek wisata alam.

b. Pendapatan dan kelas sosial berpengaruh pada perjalanan wisata; ada


kecenderungan semakin tinggi pendap
atan dan kelas sosial semakin
berminat melakukan perjalanan wisata.
Keadaan itu menunjukkan bahwa perj
alanan wisata yang dilakukan
dipengaruhi oleh kondisi dan latar belakang sosial masyarakat calon
wisatawan. Perjalanan wisata terus berkembang yang menunjukkan pola baru
perjalanan wisata di negara-negara industri. Sebelumnya perjalanan wisata
dilakukan berdasarkan rombongan wisatawan yang diorganisir oleh Biro
Perjalanan Wisata. Pola baru perjal
anan wisata di negara-negara maju
(industri) ditandai oleh tumbuhnya klub-klub wisata yang mengorganisir
perjalanan wisata dengan fasilitas yang menarik yaitu biaya yang lebih murah
bagi anggota klub. Klub tersebut timbul berkat keinginan besar masyarakat
yang memiliki kebiasaan berwisata. Klub-klub tersebut awalnya timbul di
Eropa, kemudian berkembang di Amerika.
Pola perjalanan wisatawan ke daerah-daerah tujuan wisata di seluruh
dunia, termasuk ke negara-negara berkembang mengalir dari masyarakat di
negara-negara yang secara sosial eko
nomi memiliki standar kehidupan yang
tinggi. Dari masyarakat yang memiliki sistem sosial yang ketimpangan
pendapatannya rendah, warganya (penduduknya) hidup dalam budaya dan
gaya perkotaan, serta mereka hidup dari kegiatan industri dan perdagangan
yang memiliki jangkauan informasi yang mudah, cepat dan luas (Abram,
WTO, 1997). Selanjutnya para wisatawan mancanegara umumnya berasal
dari masyarakat industri kelas sosial ekonomi berpenghasilan menengah, di
mana sebagian kecil dari mereka tergolong pada kelas sosial bawah-atas
yang tinggal di kota-kota besar dan bekerja sebagai manajer profesional,
pegawai kantor, supervisor, dan pekerja spesialis.
dengan menguraikan hal-hal yang berhubungan dengan pengertian sosiologi
pariwisata.
Pandangan mengenai sosiologi pariwisata menurut McIntosh (1977)
ditunjukkan oleh hal-hal terkait dengan fenomena sosial kepariwisataan yang
timbul, karena ditandai oleh perkembangan kegiatannya yang pesat dan luas
di masyarakat. Kelompok dan organisasi yang bergerak di bidang perjalanan
wisata, pelaksana perjalanan yang bekerja untuk pelayanan kebutuhan
perjalanan wisatawan tumbuh dan berkembang pesat akhir-akhir ini. Keadaan
ini menggambarkan permintaan yang meningkat akan kebutuhan perjalanan
wisata. Jumlah calon wisatawan yang ingin melakukan perjalanan wisata
(berwisata) ke daerah tujuan wisata di masyarakat negara berkembang makin
meningkat, terutama mereka yang berasal dari negara-negara industri (maju
secara sosial ekonomi).
Calon wisatawan melakukan perjalanan wisata secara berkelompok
(besar, sedang dan kecil), maupun secara individual. Para wisatawan yang
berkunjung ke berbagai daerah tujuan wisata berlangsung ke dalam pola
berkelompok maupun individual
secara relatif berimbang.
Keadaan yang digambarkan tersebut, terutama meningkatnya jumlah
wisatawan memiliki dampak yang luas. Perjalanan wisata mempengaruhi
timbulnya keterbukaan dan meningkatkan penghargaan atas orang, kelompok
dan masyarakat di banyak bangsa di dunia. Dan pemberlakuan kebijakan
pemerintah mendukung kegiatan pariwisata berupa makin terbuka dan
beragamnya kegiatan pariwisata yang mendorong tumbuhnya usaha-usaha
yang bergerak dalam pelayanan perjalanan wisata dan usaha lainnya yang relevan

 Sosiologi Industri
Sosiologi industri ialah suatu cabang ilmu sosial yang membahas
karakter dan arti dunia kerja serta kehidupan manusia yang terlibat di
dalamnya. Permasalahan yang berhubungan dengan industri tidak hanya
segala sesuatu yang berhubung
an langsung dengan kegiatan kerjanya tapi juga
banyak hal lain yang secara tidak langsung akan mempengaruhi aktivitas kerja
dalam industri tersebut.
Suatu tinjauan terhadap variasi
-variasi tersebut memperlihatkan bahwa
ia menyebar ke dalam spektrum pekerjaan, dimulai dari tenaga pelaksanaan
yang paling bawah kepada manajer dalam perusahaan.
Sosiologi industri yang disebut juga sebagai sosiologi organi
sasi,
membahas sikap dan ideologi setiap pimpinan pada suatu tingkat dalam
struktur organisasi dan juga membahas apa saja yang dilakukan individu di
dalam organisasi. Adanya suatu keterkaitan antara perpindahan kerja dengan
kebiasaan did alam bekerja yang
dialami oleh orang
-orang, yang merupakan
suatu landasan utama, baik bagi konflik maupun konsensus dalam suatu
organisasi.
Sosiologi industri membahas pula tentang jenis
-jenis masyarakat yang
terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, di dalam aktivita
s dan
eksistensi organisasi

Pengertian Sosiologi Politik


Sebelum membahas perkembangan, pe
ndekatan dan peranan sosiologi
politik, terlebih dahulu perlu memahami pengertian dan hakikat sosiologi
politik. Hal ini penting, agar dalam me
mpelajari materi selanjutnya memiliki
pemahaman yang jelas mengenai apa itu sosiologi politik, apa cakupannya dan
di mana posisinya antara sosiologi dan il
mu politik? Apakah sebagai cabang dari
sosiologi, atau merupakan pokok bahasan te
rsendiri terpisah dari kedua disiplin
ilmu tersebut?
Sosiologi politik berasal dari dua kata, yang secara terpisah mempunyai
arti sendiri-sendiri sebagai suatu disipl
in ilmu, yaitu sosiologi dan politik.
Istilah "sosiologi" pertama kali dimunculkan oleh Auguste Comte (1798-1857),
salah seorang pendiri disiplin ilmu ini, pada tahun 1839 di dalam bukunya
Cours
de Philosophie Positive
, jilid IV (Duverger, 1989, hal 1). Secara sederhana
"sosiologi" berarti studi tentang masyarak
at dipandang dari suatu segi tertentu.
Comte dan 'Spencer (1820-1903) yang ju
ga seorang pendiri lainnya (Rush &
Althoff, 1990: 1), menekankan masyarakat sebagai unit dasar dari analisis
sosiologis. Sementara, berbagai lembaga lainnya, seperti.. keluarga, dan
lembaga-lembaga politik, ekonomi da
n keagamaan dan interelasi antara
lembaga-lembaga tersebut merupakan sub-unit dari analisk
Para sosiolog modern mendefinisikan sosiologi sebagai "ilmu
pengetahuan yang membahas kelompok
-kelompok sosial" (Jhonson, 1961: 2)
dan "studi mengenai interaksi-interaksi
manusia dan interrelasinya" (Ginsburg,
1934: 7). Dari sudut pandang ini, sosiol
ogi memberikan pusat perhatian pada
tingkah laku individual dan tingkah laku kolektifnya secara terpisah dari
masyarakat, karena hal ini bukan merupakan bidang kajian psikiarti dan
psikologi, melainkan tingkah laku manusia dalam konteks sosial.
Dari uraian di atas, dapat kita ikhtisarkan beberapa pengertian sosiologi
sebagai berikut:
a. sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang masyarakat;

c. sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kelompok-kelompok sosial


dalam masyarakat;

d. sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia, baik individu
maupun kelompok dan relasinya dengan masyarakat, atau tingkah laku
manusia dalam konteks sosial.
Setelah dipahami apa itu sosiologi, selanjutnya perlu dipahami apa itu
"politik". Banyak batasan mengenai apa
itu "politik". Beragamnya batasan ini
sangat tergantung dari sudut pandan
g para pembuat batasan itu masing-
masing. Para pembuat batasan hanya meneropong satu aspek atau unsur saja
dari politik. Unsur itu diperiakukannya sebagai konsep pokok, yang dipakainya
untuk meneropong unsur-unsur lainnya.
Hal ini tentu saja sangat menyulitkan
kita untuk memahami apa itu politik.
Namun demikian untuk memberikan
gambaran mengenai apa itu politik,
berikut akan diuraikan konsep-konsep
pokok yang mendasari perumusa
n atasan mengenai politik.

C. Pengertian sosiologi perkotaan

Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang dilakukannya
sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain mata pencaharian
hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi
suatu permasalahan.

Pengertian kota menurut para ahli

1. Max Weber berpendapar bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya dapat
memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu harus dihasilkan
oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi menurut Max Weber, ciri kota
adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem hukum dan lain-lain tersendiri,
dan bersifat kosmopolitan.
2. Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan
penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan sebagai pusat
pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah sekitar kota memanfaatkan
penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-kota tersusun dalam suatu hirarki
berbagai jenis.
3. Sjoberg berpendapat bahwa , sebagai titik awal gejala kota adalah timbulnya golongan literati
(golongan intelegensia kuno seperti pujangga, sastrawan dan ahli-ahli keagamaan), atau berbagai
kelompok spesialis yang berpendidikan dan nonagraris, sehingga muncul pembagian kerja tertentu.
Pembagian kerja ini merupakan cir-kota.
4. Wirth, mendifinisikan kota sebagai “pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni
oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosialnya menjadi
longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation)
5. Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai “persekutuan yang dibentuk guna melindungi
hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat –alat yang diperlukan agar anggota
masing-masing dapat mempertahankan diri”. Perbedaan antara kota dan pedesaan menurut mereka
adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan materi.
6. Harris dan Ullman , berpendapat bahwa kota merupakan pusat pemukiman dan pemabfaatan bumi
oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya yang cepat dan luasnya
kota-kota menunjukkan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi, tetapi di pihak lain juga berakibta
munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia. Yang perlu diperhatikan, menurut Harris dan
Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa depan agar keuntungan dari konsentrasi
pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling tidak kerugian dapat diperkecil.
7. Menurut ahli geografi indonesia yakni Prof.Bintarto, (1984:36) sebagai berikut :kota dapat
diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial ekonomi
yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai benteng budaya
yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemutusan penduduk
yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan
dengan daerah belakangnya.”
8. Menurut Arnold Tonybee, sebuahkota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi merupakan
suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kotamenunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing.

Para sosiolog dan ahli terkait dengan sosiologi sampai saat ini masih terus melakukan
penyelidikan tentang sifat dan hakikat pengertian sosiologi. Nampaknya belum ada suatu
kesepakatan bersama yang formal tentang pengertian sosiologi, sungguhpun demikian ada
beberapa pengertian dasar tentang sosiologi yang dapat digunakan sebagai patokan sementara.
Berdasarkan akar katanya, Sosiologi
berasal dari dua kata Yunani yaitu “
socius
” yang berarti “kawan atau teman” dan “
logos
” yang berarti “ilmu atau pengetahuan”. Teman atau kawan dapat dimengerti secara luas
sebagai “keberadaan orang
-orang lain da
lam suatu hubungan”. Dengan demikian berdasarkan asal katanya maka sosiologi berarti
“ilmu tentang berkawan” atau “ilmu tentang bagaimana manusia berkawan”
Beberapa pengertian tentang sosiologi yang telah dikemukakan beberapa ahli terkemuka yang
mungkin bermanfaat antara lain sebagai berikut:
a.
Giddens (2004) mendefinisikan bahwa “
sociology is the study of human social life, groups and socities
” (sosiologi merupakan studi/ilmu yang mempelajari tentang
kehidupan sosial manusia, kelompok dan masyarakat).

b. Pitrin Sorokin mengatakan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari (1) hubungan dan
pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial, (2) hubungan dan pengaruh timbal balik
antara gejala sosial dan gejala non-sosial dan (3) ciri-ciri umum semua gejala sosial (Soekanto, 2003).

c. Roucek dan Waren menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar
manusia dan kelompok-kelompok (Soekanto, 2003).

d. Ouburn dan Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap
interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi sosial (Soekanto, 2003).

e. Doorn dan Lammers menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-
struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil (Soekanto, 2003).

f. Soemarjan dan Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu masyarakat yang mempelajari
struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial (Soekanto, 2003).

g. Green (1960) dalam Rahardjo (1999) menyatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mepelajari
kehidupan manusia dalam masyarakat, dalam pelbagai aspeknya.

Pengertian umum menyatakan bahwa sosiologi adalah “ilmu tentang masyarakat”. Menurut
Priyotamtomo (2001), sosiologi mepelajari perilaku
masyarakat dan perilaku sosial manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnnya. Kelompok
tersebut mencakup: keluarga, suku, komunitas, pemerintah, organisasi soaial, kelompok ekonomi,
kelompok politik, dan lain sebagainya. Sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi kelompok,
menelusuri asal-susul pertumbuhannya serta menganalisis pengaruh kegiatan kelompok terhadap para
anggotanya.
e.
Sosiologi Pedesaan dan Ruang Lingkupnya
Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk di
dalamnya perubahan sosial dalam perkembangannya melahirkan berbagai teori sosiologi dan berbagai
cabang sosiologi. Obyek kajian yang berbeda selanjutnya menjadi cabang baru seperti sosiologi
industri, sosiologi politik, sosiologi agama dan cabang sosiologi lainnya. Perkembangan ini juga
termasuk sosiologi pedesaan dan sosiologi pertanian sebagai cabang sosiologi yang khusus mengkaji
masalah tentang masyarakat pedesaan dan dinamikanya. Priyotamtomo (2001) mendeskripsikan
bahwa sosiologi pedesaan merupakan suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan
antar kelompok yang
D. SOSIOLOGI KESEHATAN

Sosiologi kesehatan adalah studi tentang pe rawatan kesehatan sebagai suatu


tem yang telah te rle mbaga dalam masyarakat
, kesehatan (health) dan
kondisi
rasa sakit (illness)
h
ubungannya dengan faktor
-
faktor sosial
(
Ruder man : 1981
).
Menurut ASA (
American Sociological Association; 1986
) Sosiologi kese hatan :
merupakan sub bidang yan
g men
gaplikasikan
perspektif, konsep
-
konsep dan
teori
-
teori serta metodologi
di bidang sosiologi
untuk melakukan kaj ian
terhadap fe nomena yang be rkaitan de ngan penyakit dan kese hatan manusia.
Sebagai suatu bidang yang
spesifik
sosiologi kesehatan
diartik
an pula sebagai
bidang ilmu
yang mene mpatkan pe rmasalahan
penyakit
dan
kesehatan
dalam
konteks
sosio
k
ultural dan perilaku
.
Termasuk dalam kajian bidang ini a
ntara
lain;
de skripsi dan penjelasan atau te ori
-
te ori yang berhubungan dengan
distribusi penyakit
d
alam
be rbagai kelompok masyarakat;
perilaku atau
tindakan
yang diambil ole h individu dalam upaya
me
njaga
atau
meningkatkan
serta
menanggulang
i
keluhan sakit, pe nya
k
it dan cacat tubuh; pe rilaku dan
kepe rcayaan/
keyakinan be rkaitan de ngan kesehatan, penyaki
t, cacat
tubuh
, dan
organisasi serta penyedia pe rawatan kesehatan; organisasi dan profe si atau
peke rjaan di bidang kese hatan, system ruj ukan dari pelayanan pera watan
kesehatan, peng obatan sebagai suatu institusi sosial dan hubungannya d
en
gan
institusi sosi
al yang lainnya; nilai
-
nilai
budaya dan masyarakat kaitannya dengan
kesehatan, keluhan sakit dan kecacatan
se rta
pe ran faktor sosial
da
lam kaitan
dengan penyakit, khususnya ke tidakteraturan emosi dan persoalan stress yang
dikaitkan dengan pe nyakit.
SOSIOLOGI PEMBANGUNAN: PENGERTIAN, SEJARAH, DAN PERSPEKTIF A.

PENGERTIAN
Sosiologi pembangunan menurut Ufford merupakan satu disiplin ilmu yang tumbuh dari disiplin ilmu
antropologi budaya dan ilmu sosiologi umum dan digunakan untuk memahami proses perubahan di
Negara Dunia Ketiga. Antropologi budaya memberi pengertian tentang bentuk-bentuk masyarakat,
sistem kekerabatan dan kebudayaan primitif serta untuk menentukan jalannya proses. Sosiologi
merupakan susunan (struktur) masyarakat modern dan kebudayaan perspektif yang membandingan
segala unsur ke arah proses- proses itu berjalan.

BAB IV . MASYARAKAT MULTIKULTURAL

A. Masyarakat dalam Perspektif Sosiologi

1. Pengertian Masyarakat

a. Emile Durkheim

Masyarakat adalah suatu kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggotanya.

b. Karl Marx

Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita ketegangan organisasi ataupun


perkembangan karena adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terpecah secara
ekonomis.

c. Max Weber

Masyarakat adalah suatu struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan
nilai-nilai yang dominan pada warganya.

d. Selo Soemardjan

Masyarakat merupakan orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.

Menurut Marion Levy, ada empat kriteria yang perlu dipenuhi agar suatu kelompok dapat
disebut masyarakat. Yaitu:

1. Kemampuan bertahan yang melebihi masa hidup anggotanya.


2. Perekrutan seluruh atau sebagian anggotanya melalui reproduksi atau kelahiran.
3. Adanya sistem tindakan utama.
4. Kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama secara bersama-sama.

2. Unsur-Unsur Masyarakat

Menurut Soerjono Soekanto, unsur-unsur dalam suatu masyarakat dapat diuraikan sebagai
berikut.

1. Terdapat sekurang-kurangnya dua orang manusia yang hidup bersama.


2. Mereka berhubungan dalam waktu yang cukup lama.
3. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
4. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama.

Charles P. Loomis, mengemukakan bahwa masyarakat sebagai suatu sistem sosial memiliki
sejumlah unsur, di antaranya sebagai berikut.

Kepercayaan dan Pengetahuan

Perilaku anggota masyarakat sangat dipengaruhi oleh hal yang mereka yakini dan ketahui
tentang kebenaran, sistem religi, serta cara-cara penyembahan pada Yang Maha Kuasa.

Perasaan

Perasaan adalah keadaan jiwa manusia yang berkenaan dengan situasi alam sekitarnya,
termasuk sesama manusia.

Tujuan

Tujuan adalah hasil akhir atas suatu tindakan dan perilaku seseorang yang harus dicapai, baik
melalui perubahan-perubahan maupun dengan cara mempertahankan suatu keadaan yang
sudah mantap.

Kedudukan dan Peran

Kedudukan adalah posisi seseorang secara umum pada masyarakat dalam hubungan dengan
orang lain. Peran ialah perilaku yang diharapkan dari seseorang sesuai dengan statusnya.

Kaidah / Norma

Kaidah/norma merupakan pedoman tentang perilaku yang diharapkan atau pantas menurut
kelompok atau masyarakat.

Tingkat/Pangkat

Tingkat/pangkat seseorang dalam masyarakat terkait dengan hak dan kewajiban tertentu.
Tingkat/pangkat diperoleh setelah melalui penilaian terhadap perilaku seseorang.

Kekuasaan

Kekuasaan adalah setiap kemampuan untuk mempengaruhi orang lain. Kekuasaan melalui
pewarisan atau pemilihan.

Sanksi

Sanksi merupakan suatu bentuk ganjaran yang diperoleh seseorang karena perilakunya.
Sanksi dapat berupa reward atau punishment.

Fasilitas (Sarana)
Fasilitas (sarana) adalah semua bentuk cara, metode, dan benda-benda yang digunakan
manusia untuk mencapai tujuan.

3. Realitas Sosial Budaya dalam Masyarakat

Interaksi Sosial

Interaksi sosial adalah hubungan dan pengaruh timbal balik antarindividu, antara individu dan
kelompok, dan antarkelompok.

Status dan Peran

Status adalah posisi seseorang secara umum pada masyarakat dalam hubungannya dengan
orang lain. Peran merupakan perilaku yang diharapkan dari seseorang sesuai dengan
statusnya. Peran merupakan aspek masyarakat yang kurang lebih bersifat dinamis.

Nilai

Nilai adalah sesuatu yang baik yang diinginkan, dicita-citakn, dan di anggap penting oleh
warga masyarakat. Pergeseran nilai akan mempengaruhi kebiasaan dan tata kelakuan.

Norma

Norma merupakan wujud konkret dari nilai sosial, ketentuan yang berisi perintah maupun
larangan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama. Norma dibuat untuk
melaksanakan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat yang dianggap baik dan benar.

Lembaga Sosial/Pranata Sosial

Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, lembaga adalah sistem hubungan sosial
yang terorganisasi yang mewujudkan nilai-nilai dan tata cara umum tertentu dan memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat. Lembaga merupakan suatu sistem untuk mencapai suatu tujuan
yang oleh masyarakat dianggap penting. Contoh lembaga sosial dalam masyarakat adalah
lembaga agama, pendidikan, keluarga, dan politik.

Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses individu belajar berinteraksi ditengah-tengah masyarakat.

Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang merupakan bentuk perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan
norma dan nilai yang berlaku.

Pengendalian Sosial

Usaha yang dilakukan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang
berlaku disebut pengandalian sosial.

Proses Sosial
Proses sosial merupakan proses interaksi dan komunikasi antarkomponen masyarakat dari
waktu ke waktu hingga mewujudkan suatu perubahan.

Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya adalah perubahan struktur sosial dan budaya akibat adanya
ketidaksesuaian di antara unsur-unsurnya.

PENGERTIAN DESA
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa Desa, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.