Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam industri migas

merupakan suatu permasalahan yang banyak menyita perhatian berbagai

organisasi saat ini. Berbagai segi permasalahan yang dapat timbul dari K3,

seperti kemanusiaan, biaya, manfaat ekonomi, segi hukum, dan akibat

pertanggung jawaban, serta citra organisasi itu sendiri (Rewi Lukiatsinto

dan Noeroel Widjayati, 2014)

Bahaya terhadap K3 adalah jenis bahaya yang riskan menimbulkan

keselakaan, seperti terluka atau resiko kematian pada para pekerja akibat

terjatuh, kebakaran, akibat mesin/alat berat , dan arus listrik, serta benda

yang terjatuh dari suatu ketinggian (Rewi Lukiatsinto dan Noeroel

Widjayati, 2014).

Didalam setiap proses pekerjaan, dapat menyebabkan terjadinya

berbagai macam resiko seperti, kecelakaan kerja, kebakaran atau ledakan,

penyakit akibat kerja dan pencemaran terhadap lingkungan yang ditunjang

dari potensi bahaya yang bersifat fisik, radiasi, ergonomi, psikologi

maupun dari pencemaran lingkungan. (Rewi Lukiatsinto dan Noeroel

Widjayati, 2014)

Menurut jamsostek angka kecelakaan kerja pada tahun 2011

terdapat 99.491 kasus atau rata-rata 414 kasus kecelakaan kerja per hari,

sedangkan pada tahun 2010 hanya 98.711 kasus kecelakaan kerja, tahun

1
2

2009 terdapat 96.314 kasus, tahun 2008 terdapat 94.736 kasus, dan tahun

2007 terdapat 83. 714 kasus.

Kecelakaan kerja yang terjadi seringkali menjadi perhatian utama

bagi perusahaan, baik karena resiko yang ada pada suatu proses produksi

maupun yang tidak dari proses produksi. (Rewi Lukiatsinto dan Noeroel

Widjayati, 2014)

Upaya untuk pengendalian kecelakaan kerja dan penyakit akibat

kerja, perlu adanya usaha untuk mengidentifikasi faktor-faktor/sumber-

sumber bahaya di tempat kerja dan dievaluasi resiko serta dilakukan upaya

pengendalian yang memadai. Dalam bidang K3 terdapat cara untuk

mengidentifikasi, menganalisa dan mengevaluasi faktor-faktor bahaya

ditempat kerja. Salah satu cara untuk mengidentifikasi bahaya adalah

analisa keselamatan kerja atau lebih dikenal dengan istilah Job Safety

Analysys. Penerapan Job Safety Analysys (JSA) merupakan suatu hal yang

sangat dibutuhkan dalam setiap industry minyak dan gas di DEPOT

TBBM dapat menyebabkan potensi bahaya yang dapat menyebabkan

kerugian oleh sebab itu penerapan JSA adalah solusinya.

Melalui teknik Analisa Keselamatan Pekerjaan, maka suatu tugas-

tugas atau pekerjaan dapat dipisah-pisahkan kedalam suatu langkah-

langkah dasar dan masing-masing dianalisa untuk menemukan potensi

bahaya. Dari langkah-langkah dasar pemisahan pekerjaan, selanjutnya

dipertimbangkan masing-masing langkah untuk menentukan apakah

potensi bahaya dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan dan gangguan


3

kesehatan kepada tenaga kerja. (Manajemen dan Implementasi K3

ditempat Kerja, Tarwaka, 2008)

1.2 Tema

PENERAPAN  BIASA AJA NULISNYA GAUSAH KAPITAL

SEMUA Job Safety Analysys (JSA) di PT PERTAMINA (PERSERO)

DEPOT TBBM BALONGAN INDRAMAYU GROUP REGION III

1.3 Tujuan

1.3.1 Umum  DIKASIH KATA TUJUAN DIDEPANNYA

Tujuan umum yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui

bagaimana penerapan Job Safety Analysys (JSA) di PT

PERTAMINA (PERSERO) DEPOT TBBM BALONGAN

INDRAMAYU GROUP REGION III

1.3.2 Khusus

1. Untuk mengetahui Program Job Safety Analysys (JSA) di PT

PERTAMINA (PERSERO) DEPOT TBBM BALONGAN

INDRAMAYU GROUP REGION III

2. Untuk mengetahui Prosedur Job Safety Analysys (JSA) di PT

PERTAMINA (PERSERO) DEPOT TBBM BALONGAN

INDRAMAYU GROUP REGION III


4

3. Untuk mengetahui Penerapan Job Safety Analysys (JSA) di PT

PERTAMINA (PERSERO) DEPOT TBBM BALONGAN

INDRAMAYU GROUP REGION III

4. Untuk Mempelajari cara identifikasi hazzard dan

mengembangkannya dalam pencegahan menggunakan Job

Safety Analysys (JSA) di PT PERTAMINA (PERSERO)

DEPOT TBBM BALONGAN INDRAMAYU GROUP

REGION III

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Perusahaan

1. Perusahaan dapat memanfaatkan tenaga mahasiswa yang

praktek kerja lapangan dalam membantu menyelesaikan tugas-

tugas untuk kebutuhan di unit-unit kerja yang relevan.

1.4.2 Bagi Akamigas Balongan

1. Menciptakan kerja sama yang saling bermanfaat antara

Akamigas Balongan dengan perusahaan tempat pelaksanaan

kerja praktek

2. Kontribusi untuk perbaikan kurikulum agar sesuai dengan

kebutuhan di lapangan.

1.4.3 Bagi Mahasiswa

1 Dapat mengenal secara dekat dan nyata kondisi di lingkungan

kerja.
5

2 Dapat mengaplikasikan keilmuan yang diperoleh di bangku

kuliah dalam praktek dan kondisi kerja yang sebenarnya.

3 Dapat memberikan pengalaman tentang kerja nyata di dalam

perusahaan.

4 Dapat mengambil ilmu dari pembimbing secara langsung.

1.5 Ruang Lingkup

Mengetahui cara pembuatan dan pengaplikasian Job Safety Analysis

(JSA) di PT PERTAMINA (PERSERO) DEPOT TBBM BALONGAN

INDRAMAYU GROUP REGION III