Anda di halaman 1dari 23

Presentasi Kasus

TB PARU

Disusun Oleh:

Uray Dearika Putri Hendry

030.11.291

Pembimbing:

Dr. S. Abidin, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT DR MINTOHARDJO JAKARTA
Dokter Pembimbing : Dr. S. Abidin, Sp.A Tanda tangan :
Nama Mahasiswa : Uray Dearika Putri Hendry
NIM : 030.11.291

I. IDENTITAS
PASIEN
Nama : An. Z Suku Bangsa : Betawi
Umur : 4 tahun Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-Laki Pendidikan :-
Alamat : Kebon kacang

ORANG TUA/ WALI


AYAH
Nama : Tn. Z Agama : Islam
Tgl lahir(Umur): 30 tahun Pendidikan : SMK
Suku Bangsa : Betawi Pekerjaan : Karyawan Restoran

Alamat : Kebon Kacang


Gaji : Rp. 2.300.000/bulan

IBU
Nama : Ny. D Agama : Islam
Umur : 23 tahun Pendidikan : SMA
Suku bangsa : Betawi Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan orang tua : anak kandung/angkat/tiri/asuh

II. ANAMNESIS
Alloanamnesis dengan ibu pasien, pada 18 desember 2017, pukul 12.30 WIB

KELUHAN UTAMA
Batuk ± 1 bulan SMRS

2
KELUHAN TAMBAHAN
Demam ± 1 minggu SMRS dan terdapat benjolan pada leher

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


Pasien an. Z datang ke Poli Anak RUMKITAL Dr. Mintohardjo pada Kamis, 18/12/17 pukul
11.00 WIB dengan keluhan batuk sejak 1 bulan yang lalu. Batuk dirasakan berdahak namun sulit untuk
dikeluarkan. Ibu pasien mengatakan bahwa dahak pernah keluar sedikit dan berwarna hijau
kekuningan dan tidak pernah disertai darah. Batuk dirasakan terus-menerus dan tidak dipengaruhi oleh
dingin. Pasien sudah mengkonsumsi obat batuk yang didapatnya dari puskesmas namun keluhan batuk
tetap ada.
Sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu timbul panas, sebelumnya pasien sering mengalami
demam naik turun tanpa sebab yang jelas.. Disertai keringat malam. Tidak disertai menggigil. Ibu
pasien juga mengatakan bahwa terdapat benjolan pada leher di sisi kanan dan kiri, makin hari makin
membesar dan sekarang besarnya kurang lebih 2,5cm.
Semenjak sakit ini nafsu makan menjadi berkurang. Ibu pasien tidak pernah secara rutin
mengontrol berat badan pasien, namun ibu pasien merasakan bahwa pasien tampak mengurus dan juga
celana pasien menjadi lebih longgar dibandingkan sebelumnya.
Pasien mengatakan tidak terdapat keluhan pusing, pilek, nyeri menelan, mimisan, gusi berdarah,
riwayat perdarahan lain, mual, muntah, nyeri perut, serta tidak terdapat benjolan di ketiak, maupun
selangkangan. Buang air besar normal. Buang air kecil lancar, tidak terdapat rasa nyeri dan perih saat
berkemih.
.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit dengan keluhan yang sama
dan pasien tidak memiliki riwayat alergi maupun asma.

3
RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
KEHAMILAN

Perawatan Antenatal Rutin kontrol ke bidan


Penyakit Kehamilan Tidak ada penyakit selama kehamilan

KELAHIRAN
Tempat Kelahiran Bidan

Penolong Persalinan Bidan

Cara Persalinan Pervaginam

Masa Gestasi Cukup bulan (38 minggu)

Riwayat kelahiran Berat Badan : 2700 gram


Panjang Badan Lahir : 47 cm
Lingkar kepala : ibu pasien tidak ingat
Langsung menangis/tidak langsung menangis
APGAR score : ibu pasien tidak tahu
Kelainan bawaan : tidak ada

RIWAYAT PERKEMBANGAN
Pertumbuhan gigi pertama : 8 bulan (Normal:5-9 bulan)
Motorik kasar:
 Tengkurap : 4 bulan (Normal: 4-6 bulan)
 Duduk : 7 bulan (Normal: 7-9 bulan)
 Berdiri berpegangan : 9 bulan (Normal: 9-12 bulan)
 Berdiri tanpa berpegangan : 10 bulan (Normal: 12 bulan)
 Berjalan : 12 bulan (Normal: 12-18 bulan)
Perkembangan pubertas :-

4
Gangguan Perkembangan : Tidak ada
Kesan Perkembangan :
Tidak terdapat gangguan perkembangan, tumbuh kembang pasien sesuai usia

RIWAYAT IMUNISASI
Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)

Hepatitis B Lahir 1 bulan 6 bulan - - -

Polio Lahir 2 bulan 4 bulan - - -

BCG 1 bulan - - -

DPT 2 bulan 4 bulan 6 bulan - - -

Campak 9 bulan - - - - -

MMR - - - - - -

TIPA - - - - - -

Kesan : Imunisasi dasar pasien lengkap

RIWAYAT MAKANAN
Umur
ASI/PASI Buah/ Biskuit Bubur Susu Nasi Tim
(bulan)

0–2 ASI - - -

2–4 ASI - - -

4–6 ASI - - -

6–8 ASI + PASI + + -

8 – 10 ASI + PASI + + +

5
10-12 ASI + PASI + - +

Kesan :
Pasien mendapat ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, berikutnya diikuti PASI secara bertahap

Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah


Nasi/pengganti 3x/hari
Sayur 3x/hari
Daging 1-2x/minggu (1 potong)
Telur 3x/minggu
Ikan 1x/hari
Tahu 1x/hari
Tempe 1x/hari (1 potong)
Susu (merk/takaran) 3x/minggu

Kesan : Makanan cukup bervariasi

RIWAYAT PENYAKIT YANG PERNAH DIDERITA


PENYAKIT UMUR PENYAKIT KETERANGAN
Diare - Morbili -
Otitis - Parotitis -
Radang Paru 2tahun Demam Berdarah -
Tuberculosis - Demam Tifoid -
Kejang - Cacingan -
Ginjal - Alergi -
Jantung - Kecelakaan -
Darah - Operasi -
Difteri - Herpes di ketiak -

6
RIWAYAT KELUARGA
Corak Produksi
Tanggal lahir Jenis Lahir Mati Keterangan
No Hidup Abortus
(umur) kelamin mati (sebab) kesehatan

1. 7 tahun Laki-laki Ya - - - Sehat

2. 4 tahun Laki-laki Ya - - - Sakit

DATA KELUARGA
Ayah Ibu

Perkawinan ke- 1 1

Umur saat menikah 27 tahun 18 tahun

Kosanguinitas Tidak ada Tidak ada

Keadaan kesehatan Sehat Sehat

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


Riwayat hipertensi (-), kencing manis (-), asma (-) TB (+)
Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga lain/ orang serumah
Ayah pasien mempuyai keluhan batuk lama, didiagnosa TB paru dan sudah tuntas
pengobatan. Kakak pasien didiagnosa TB paru dan sudah tuntas pengobatan.

DATA PERUMAHAN
• DATA PERUMAHAN
Kepemilikan rumah: Rumah Kontrakkan
Keadaan rumah:
Rumah berukuran 50 m2, 2 lantai dengan 3 kamar tidur, ruang tamu, dan 1 kamar
mandi, serta dapur. Ventilasi rumah baik. Sirkulasi udara dalam rumah cukup baik. Cahaya
matahari tidak masuk ke dalam rumah, hanya ruang tamu. Untuk keperluan mandi dan mencuci
menggunakan air PDAM. Untuk minum dan memasak menggunakan air galon isi ulang

7
rumahan. Rumah dibersihkan tiap hari. Sampah rumah tangga di buang di bak sampah depan
rumah dan rutin diangkut petugas kebersihan tiap 2 hari sekali. Pasien tinggal bersama ayah,
ibu, adiknya.

Keadaan lingkungan:
Rumah berada di pemukiman padat penduduk dengan jarak antar rumah yang rapat/menempel.
Berada di dalam gang sempit dengan lebar jalan 1,5 m. Aliran got tertbuka dan tidak tersumbat,
tidak berbau. Tempat pembuangan sampah utama cukup jauh dari rumah dan tertutup

Kesan: Kondisi rumah tidak cukup baik. Lingkungan rumah padat, jarak sangat berdekatan.74

III. PEMERIKSAAN FISIK


Tanggal : 18 Desember 2017 (perawatan hari ke-1)

Pukul : 15.00 WIB

PEMERIKSAAN UMUM
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Vital sign : TD :
Nadi : 86/menit, reguler , isi cukup
Suhu : 38.00C
RR : 24x/menit
Data Antropometri : BB : 9,5 kg TB : 100 cm
Lingkar kepala : cm
Lingkar dada : cm
Lingkar lengan atas : cm

BB/TB = 9,5/15 x 100 % = 63 %


 Kesan gizi: gizi buruk

8
PEMERIKSAAN SISTEMATIS

KEPALA
Bentuk dan ukuran : Normocephali
Rambut dan kulit kepala : Warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : mata tidak tampak cekung, palpebra tidak ada kelainan, konjungtiva tidak pucat, kornea
jernih, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+ , refleks cahaya tidak langsung +/+
Telinga : Normotia, nyeri tarik & tekan -/-, liang telinga lapang
Hidung : Normosepti, sekret -/-, deviasi septum (-), nafas cuping hidung (-)
Bibir : kering,Warna kemerahan, mukosa tampak basah,
Mulut : Mukosa mulut tampak basah
Gigi-geligi : Gigi geligi tumbuh baik, caries (-)
Lidah : normoglotia, lidah bersih tampak basah, artrofi papil lidah (-)
Tonsil : T1-T1 tenang
Faring : permukaan licin, hiperemis (+), arcus faring simetris, uvula di tengah

LEHER :
Terdapat pembesaran KGB permukaan licin, ukuran kira-kira 2,5cm, tidak dapat di gerakkan,
tidak terdapat kaku kuduk

THORAKS
Dinding thoraks
I : Bentuk datar, simetris kanan dan kiri dalam keadaan statis dan dinamis
PARU
I : Pergerakan dada simetris kanan dan kiri, tidak ada bagian yang tertinggal, tidak ada retraksi
P : Vocal fremitus sama kuat di kedua lapang paru
P: Sonor di seluruh lapang paru
Batas paru kanan-hepar : Linea midclavikularis dextra setinggi ICS V
Batas paru kiri-gaster: Linea axilaris anterior sinistra setinggi ICS VII
A: Suara nafas vesikuler+/+, wheezing -/-, rhonki +/+

9
JANTUNG
I : Ictus cordis terlihat pada linea midclavicularis sinistra setinggi ICS V
P : Ictus cordis teraba pada linea midclavicularis sinistra setinggi ICS V
P : Batas kanan jantung pada linea parasternalis dextra setinggi ICS III, IV, V
Batas kiri jantung pada linea midclavicularis sinistra setinggi ICS V
Batas atas jantung pada linea parasternalis sinistra setinggi ICS II
A: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
• I : bentuk tampak sedikit cekung, simetris, tidak tampak pelebaran vena

A : Bising usus (+) 3-4x/menit

P : supel, turgor kulit kembali cepat, nyeri tekan abdomen (+)


P: Timpani pada seluruh kuadran abdomen

ANUS
Tidak ada kelainan

GENITAL
Jenis kelamin laki-laki, tidak ada kelainan

ANGGOTA GERAK
Akral dingin (+/+), tidak terdapat oedem pada keempat ekstremitas

KULIT
Warna kulit sawo matang, kelembapan baik, tidak ada efloresensi bermakna

PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

10
Refleks fisiologis : Biceps +/+ , Triceps +/+ , Patella +/+ , Achilles +/+
Refleks patologis : Babbinsky -/- , Chaddok -/- , Tanda rangsang meningeal (-)

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Darah tepi
18 Desember 2017

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan


Hemoglobin 9,9 g/dL 10,7– 14,7 g/dL
Eritrosit 5,04 x 10^6/uL 4,60 – 6,2x 10^6/uL
Leukosit 45x10^3/uL 5 – 10 x 10^3/uL
Trombosit 552x 10^3/uL 150 – 450 x 10^3/uL
LED 60 mm/ jam <10
Hitung jenis
Basofil 0 0-1
Eosinofil 1 0-5
Neutrofil Batang 0 2-6
Neutrofil Segmen 80 50-70
Limfosit 17 20-40
Monosit 2 2-8

V. RINGKASAN
Pasien an. Z laki-laki berusia 4 tahun, BB 9,5 kg dan TB 110 cm datang dengan keluhan batuk 1
bulan SMRS. Batuk dirasakan berdahak namun sulit untuk dikeluarkan. Pasien mengatakan bahwa
dahak pernah keluar sedikit dan berwarna hijau kekuningan dan tidak pernah disertai darah. Batuk
tidak dipengaruhi oleh dingin. Demam 1 minggu SMRS dirasakan naik turun, demam tidak tinggi,
kontak dengan penderita Tb paru BTA +.

Screening Skor TB Anak


Tabel 1. Hasil Skoring TB Anak

11
NO Parameter Skor
1. Riw. Kontak 3
2. Uji Tuberkulin -
3. Berat Badan 1
4. Demam 1
5. Batuk 1
6. Pembesaran KGB 1
TOTAL 7

VI. DIAGNOSIS KERJA


TB paru
Gizi Kurang

VII. ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Uji tuberkulin
 Pemeriksaan Mikroskopik BTA
 Foto thorax PA

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad sanactionam : ad bonam

IX. PENATALAKSANAAN
Medika mentosa
 RL 10 tpm
 Ceftriaxone 1x1grm
 Pamol 3x1cth
 Terbutalin camp 3x1 bks
 INH 1x100mg
 Rifampisin 1x150mg
 Pirazinamid 1x300mg
 Prednisolon 3x1 tab

12
Non medika mentosa
 Menjelaskan kepada Ibu pasien bahwa anaknya menderita infeksi TB, hal ini
kemungkinan didapatkan karena tertular dari anggota keluarga yang lain.
 Menyarankan untuk memeriksakan anggota keluarga yang sering mengalami batuk
yang kambuh ke poli paru RSAL untuk pemeriksaan dahak dan foto thorak
 Pengobatan pasien direncakan selama ± 6 bulan dan akan dievaluasi pada akhir
pengobatan
 Obat harus diminumkan secara rutin setiap pagi hari saat perut masih kosong dan harus
segera kontrol sebelum obat habis
 Obat sementara diberikan selama 2 minggu untuk mengevaluasi kepatuhan minum obat
 Menjelaskan bahwa penyakit ini bisa disembuhkan asal rutin minum obat dan orang
disekitar rumah yang dicurigai menderita TB paru segera diperiksakan dan mendapat
terapi yang sesuai untuk mengurangi resiko kekambuhan pada anak
 Konsul ke spesialis gizi, untuk perbaikan gizi anak untuk menunjang kesembuhan dari
anak.
 Bila timbul keluhan kuning pada mata, mual, dan muntah, segera periksa ke dokter
walau belum waktunya
 Obat Rifampisin dapat menyebabkan cairan tubuh (air seni, air mata, keringat, ludah)
berwarna merah

13
LEMBAR FOLLOW-UP
Hari S O A P

19/12/ Demam (-) CM, TSS RL 10 tpm


2017 Sesak (-) HR 90x/menit, Ceftriaxone 1x1grm
Batuk (+) RR 25x/menit, suhu 37,3oC.
TB Paru Pamol 3x1cth
Nyeri ulu hati (-) Pulmo : snv +/+, Rh +/+, Wh -
Gizi kurang
Nafsu makan menurun (+) /- Terbutalin camp 3x1 bks
Lemas (+) INH 1x100mg
Rifampisin 1x150mg
Pirazinamid 1x300mg
Prednisolon 3x1 tab

14
20/12/ Demam (-) CM, TSS Pasien pulang :
2017 Sesak (-) HR 87x/menit, Ceftriaxone 1x1grm
Batuk (+) RR 23x/menit, suhu 37,0oC.
TB Paru INH 1x100mg
Nyeri ulu hati (-) Pulmo : snv +/+, Rh +/+, Wh -
Gizi kurang
Nafsu makan menurun (-) /- Rifampisin 1x150mg
Lemas (-) Pirazinamid 1x300mg

15
16
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini diagnosisnya adalah TB Paru berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis

Pada kasus ini, diagnosis TB paru berdasarkan anamnesisnya yaitu, pasien


datang berobat dengan keluhan batuk sejak 1 bulan yang lalu. Batuk dirasakan berdahak
namun sulit untuk dikeluarkan. Ibu pasien mengatakan bahwa dahak pernah keluar
sedikit dan berwarna hijau kekuningan dan tidak pernah disertai darah. Batuk dirasakan
terus-menerus dan tidak dipengaruhi oleh dingin. Pasien sudah mengkonsumsi obat
batuk yang didapatnya dari puskesmas namun keluhan batuk tetap ada.
Sejak kurang lebih 1 minggu yang lalu timbul panas, sebelumnya pasien sering
mengalami demam naik turun tanpa sebab yang jelas.. Disertai keringat malam. Tidak
disertai menggigil. Ibu pasien juga mengatakan bahwa terdapat benjolan pada leher di
sisi kanan dan kiri, makin hari makin membesar dan sekarang besarnya kurang lebih
2,5cm.
Demam yang tidak diketahui penyababnya merupakan salah satu gejala
tuberkulosis. Terjadi akibat peran dari sel makrofag dan sel dendritik yang terinfeksi
oleh kuman TB sehingga memproduksi sitokin pro-inflamasi seperti TNF-α, IL-1b, IL-
6, IL-8, IL-12, IL-15 dan IFN-γ.3 Terdapat riwayat kontak dengan penderita TB dewasa
yaitu ayah pasien mempunyai keluhan batuk lama dan didiagnosa TB Paru pengobatan
telah tuntas.

Pemeriksaan Fisik

Dari keadaan umum pasien tampak sadar dan tampak kurus. Tanda vital
didapatkan normal, suhu tinggi. Status generalis dalam batas normal dan didapatkan
ronkhi, dan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Dari pemeriksaan status gizi
menurut persentil NCHS, didapatkan hasil sebagai berikut.

BB/TB = 9,5/15 x 100 % = 63 %


Penurunan berat badan merupakan gejala umum yang sering dijumpai pada TB
paru pada anak. Umumnya pasien TB anak mempunyai status gizi kurang atau bahkan
gizi buruk. Dengan alasan tersebut, kriteria penurunan berat badan menjadi penting.1,2

14
Pada penderita terjadi penurunan berat badan dan penilaian status gizi pada saat
penderita dirawat menunjukkan hasil gizi kurang.
Dalam menegakkan diagnosis TB anak, semua prosedur diagnostik dapat
dikerjakan, namun apabila dijumpai keterbatasan sarana diagnostik yang tersedia, dapat
menggunakan suatu pendekatan lain yang dikenal sebagai sistem skoring. Sistem
skoring tersebut dikembangkan diuji coba melalui tiga tahap penelitian oleh para ahli
yang IDAI, Kemenkes dan didukung oleh WHO dan disepakati sebagai salah satu cara
untuk mempermudah penegakan diagnosis TB anak terutama di fasilitas pelayanan
kesehatan dasar. Sistem skoring ini membantu tenaga kesehatan agar tidak terlewat
dalam mengumpulkan data klinis maupun pemeriksaan penunjang sederhana sehingga
diharapkan dapat mengurangi terjadinya underdiagnosis maupun overdiagnosis TB.
Penilaian/pembobotan pada sistem skoring dengan ketentuan sebagai berikut:

• Parameter uji tuberkulin dan kontak erat dengan pasien TB menular


mempunyai nilai tertinggi yaitu 3.
• Uji tuberkulin bukan merupakan uji penentu utama untuk menegakkan
diagnosis TB pada anak dengan menggunakan sistem skoring.
• Pasien dengan jumlah skor ≥6 harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan
mendapat OAT.

Setelah dinyatakan sebagai pasien TB anak dan diberikan pengobatan OAT (Obat
Anti Tuberkulosis) harus dilakukan pemantauan hasil pengobatan secara cermat
terhadap respon klinis pasien. Apabila respon klinis terhadap pengobatan baik, maka
OAT dapat dilanjutkan sedangkan apabila didapatkan respons klinis tidak baik maka
sebaiknya pasien segera dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan untuk
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Diagnosis Tuberculosis paru ditegakkan dengan sistem skoring berdasarkan


manifestasi klinis
Parameter 0 1 2 3
Laporan
Kontak TB Tidak jelas - keluarga(BTA BTA (+)
(-) /tidak jelas)
Uji tuberkulin negatif - - positif
Berat badan / BB/TB <90% /

15
keadaan gizi - BB/U <80% - -
Demam yang
tidak diketahui - ≥ 2 minggu - -
sebabnya
Batuk kronik - ≥ 3 minggu - -
Pembesaran ≥ 1 cm
kelenjar limfe jumlah > 1
(kolli, tidak nyeri
aksila,inguinal)
Pembengkakan Ada
tulang/ sendi pembengkakan
panggul/ lutut/
falang
Normal/ Gambaran
Foto kelainan tidak sugestif TB
jelas
TOTAL
SKOR 6

Catatan:
Parameter Sistem Skoring:
o Kontak dengan pasien pasien TB BTA positif diberi skor 3 bila ada bukti tertulis
hasil laboratorium BTA dari sumber penularan yang bisa diperoleh dari TB atau
dari hasil laboratorium.
o Penentuan status gizi:
 Berat badan dan panjang/ tinggi badan dinilai saat pasien datang (moment
opname).
 Dilakukan dengan parameter BB/TB atau BB/U. Penentuan status gizi untuk
anak usia <5 tahun merujuk pada buku KIA Kemenkes, sedangkan untuk anak
usia >5 tahun merujuk pada kurva CDC 2000.
 Bila BB kurang, diberikan upaya perbaikan gizi dan dievaluasi selama 1 bulan.

o Demam (≥2 minggu) dan batuk (≥3 minggu) yang tidak membaik setelah diberikan
pengobatan sesuai baku terapi di puskesmas

16
o Gambaran foto toraks menunjukkan gambaran mendukung TB berupa: pembesaran
kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat, atelektasis, konsolidasi
segmental/lobar, milier, kalsifikasi dengan infiltrat, tuberkuloma.

Diagnosa kerja tuberculosis anak ditegakkan bila jumlah skor ≥ 6. Jika dijumpai
skrofuloderma langsung di diagnosis TBC. Diagnosis pasti TB paru pada anak
ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB pada pemeriksaan apusan langsung (direct
smear) dan/atau biakan yang merupakan pemeriksaan baku emas (gold standard).
Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa pemeriksaan kuman Mycobacterium
tuberculosis menunjukkan hasil positif hanya pada 10 - 15% pasien yang mana hal ini
dikarenakan jumlah kuman yang sedikit pada TB anak (paucibacillary) dan lokasi
kuman di daerah parenkim yang jauh dari bronkus. Akan tetapi pemeriksaan sputum
BTA atau bilas lambung tetap penting untuk dilakukan.2,4 Skor tertinggi terletak pada
uji tuberkulin dan adanya kontak TB dengan BTA positif. Uji tuberkulin mempunyai
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai uji tapis
dalam menunjang diagnosis. Demikian pula dengan adanya kontak dengan pasien TB
dewasa BTA positif. Pasien TB dewasa dengan BTA positif dapat menjadi sumber
penularan yang utama karena berdasarkan penelitian akan menularkan kepada sekitar
65% orang disekitarnya.1,3

Pengobatan
Dari scoring system yang dibuat diperoleh total skor 6 sehingga pasien harus
ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
Pengobatan TB dibagi menjadi dua fase yaitu fase intensif (dua bulan pertama) dan
dilanjutkan dengan fase lanjutan/sterilisasi (empat bulan atau lebih). Pemberian
panduan obat ini bertujuan untuk mencegah terjadinya resistensi obat dan untuk
membunuh kuman intraselular dan ekstraselular, sedangkan pemberian obat jangka
panjang bertujuan selain untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan
terjadinya kekambuhan.2,5 Penurunan berat badan perlu dikonsulkan ke dokter spesialis
gizi.
Susunan panduan OAT pada anak adalah 2RHZ/4RH yaitu pada fase intensif
terdiri dari Isoniazid (H), Rifampisin (R) dan Pirazinamid (Z) yang diberikan setiap hari
selama 2 bulan (2 RHZ) dan fase lanjutan yang terdiri dari Rifampisin (R) dan Isoniazid
(H). 1,2

17
Penilaian hasil terapi dilakukan baik dengan evaluasi klinis, laboratorium
maupun radiologis, namun dasar utama evaluasi terapi adalah keadaan klinis pasien.
Terapi TB yang berhasil berdampak nyata pada keadaan klinis pasien. Pasien akan
meningkat nafsu makannya, berat badan naik secara bermakna dan pasien menjadi lebih
jarang sakit. Keluhan klinis seperti demam dan batuk juga akan menghilang. 1,2
Sejak terdiagnosis hingga mendapatkan terapi yaitu sekitar 10 hari, penderita
memperlihatkan perbaikan secara klinis berupa hilangnya demam, berkurangnya batuk,
batuk sudah tidak disertai dengan adanya darah dan perbaikan nafsu makan.

Tuberkulosis adalah penyakit akibat infeksi kuman Mikobakterium tuberkulosis


yang bersifat sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh dengan
lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer. Kuman batang
aerobik dan tahan asam ini, merupakan organisme patogen maupun saprofit. Jalan
masuk untuk organisme adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka
terbuka pada kulit. Sebagian besar infeksi TB menyebar lewat udara melalui
terhirupnya nukleus droplet yang berisikan organisme basil turbekel dari seseorang
yang terinfeksi. 1,2
Tuberkulosis paru merupakan penyakit serius terutama pada bayi dan anak kecil,
anak dengan malnutrisi, dan anak dengan gangguan imunologis. Sebagian besar anak
menderita tuberkulosis primer pada umur muda dan sebagian besar asimtomatik dan
sembuh spontan tanpa gejala sisa. Pada beberapa pasien penyakit berkembang menjadi
tuberkulosis pasca primer.1,2
Paru merupakan port d entree lebih dari 98 % kasus infeksi TB. Karena
ukurannya yang sangat kecil (<5 µm), kuman TB dalam droplet nuklei yang terhirup
dapat mencapai alveolus. Pada sebagian kasus, kuman TB dapat dihancurkan
seluruhnya oleh mekanisme imunologis non spesifik. Akan tetapi pada sebagian kasus,
tidak seluruhnya dapat dihancurkan. Pada individu yang tidak dapat menghancurkan
seluruh kuman, makrofag alveolus akan memfagosit kuman TB yang sebagian besar
dihancurkan. Akan tetapi, sebagian kecil kuman TB yang tidak dapat dihancurkan akan
terus berkembang biak dalam makrofag, dan akhirnya menyebabkan lisis makrofag.
Selanjutnya kuman TB membentuk lesi ditempat tersebut, yang dinamakan fokus
primer Ghon.6

18
DAFTAR PUSTAKA
1. Price. A,Wilson. L. M. Tuberkulosis Paru. Dalam: Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit, bab 4, Edisi VI. Jakarta: EGC, 2004 : 85264.
2. Nastiti R, Darmawan B S, dkk. Tuberkulosis. Bab 4. Buku ajar respirologi anak,
edisi pertama. IDAI 2010. 162-252
3. Sumarmo, S., Soedarmo, P., Hadinegoro, S. R. (2010) Buku Ajar Infeksi dan
Pediatri Tropis. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
4. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W, editor. Kapita Selekta

19
Kedokteran Jilid 2, Ed. 3. Jakarta: Media Aesculapius FKUI; 2000. h. 459-61.
5. Sectish, Theodore C, and Charles G, Prober. Pneumonia. Dalam: Behrman R.E.,
et.al (editor). Ilmu Kesehatan Anak Nelson’s vol. 2 edisi. 15. Jakarta: Penerbit
Buku kedokteran EGC. 2000. h. 882
6. Nelson LJ, Schneider E, Wells CD, and Moore M.Nelson Textbook of Pediatrics.
Chapter XVII Infection : Section III Bacterial Infection: Tuberculosis. 18th
edition. Philadelphia: W.B.Saunders Company, 2007

20