Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia administrasi publik memiliki hubungan yang sangat erat dengan apa

yang dikerjakan pemerintah. Hal tersebut diungkapkan oleh Keban (2014:17) dengan

menjelaskan bahwa apa yang dikerjakan di dalam dunia administrasi publik adalah

yang dikerjakan pemerintah dengan jumlah dan jenis yang sangat banyak dan variatif,

baik menyangkut pemberian pelayanan di berbagai bidang kehidupan (public

services), maupun yang berkenaan dengan mengejar ketertinggalan masyarakat lewat

program-program pembangunan. Secara umum, program-program tersebut

dilaksanakan oleh pejabat pemerintahan di sektor publik. Dengan demikian, mengacu

pada pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa apa yang menjadi kegiatan

administrasi publik adalah segala hal yang sangat banyak dan variatif, baik itu berupa

pelayanan publik maupun program-program pembangunan.

Adapun pekerjaan dari pemerintah sendiri cakupannya sangat luas dan

bervariasi karena bidang atau urusan yang ditangani oleh pemerintah menyangkut

seluruh aspek kehidupan manusia. Pekerjaan pemerintah pun menjadi semakin

kompleks tatkala kepentingan publik yang harus dipenuhi juga semakin kompleks

(Keban, 2014: 18-19). Hal ini menyebabkan pemerintah dituntut untuk dapat bekerja

secara lebih responsif, akuntabel, efektif dan efisien. Untuk mewujudkan hal tersebut,

maka penyelengaraan pemerintahan di Indonesia memberlakukan konsep

desentralisasi yaitu dengan melimpahkan sebagian urusan pemerintah kepada

pemerintah daerah.

1
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, pasal

1 ayat (8) menjelaskan bahwa “Desentralisasi adalah penyerahan urusan pemerintahan

oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom berdasarkan asas otonomi”. Adapun,

urusan pemerintahan yang dilimpahkan tersebut ialah urusan pemerintah konkuren

yang terdiri dari urusan yang bersifat pilihan dan wajib. Pemerintah daerah berwenang

merencanakan dan mengatur pembangunan di daerah. Dalam mengatur pembangunan

di daerah pemerintah daerah juga harus memperhatikan lingkungan hidup. Bidang

lingkungan hidup merupakan salah satu urusan konkuren bersifat wajib yang menjadi

tanggung jawab bagi setiap daerah otonom.

Saat ini, pemerintah pusat dan pemerintah daerah berupaya untuk

melaksanakan pembangunan dalam rangka mengatasi permasalahan di bidang

lingkungan hidup. Hal tersebut dikarenakan lingkungan hidup merupakan salah satu

aspek terpenting bagi manusia dalam melangsungkan kehidupannya. Lingkungan

hidup merupakan salah satu sumber kesejahteraan bagi manusia. Apabila tingkat

kualitas lingkungan hidup semakin baik, maka semakin tinggi pula kualitas kehidupan

manusia. Kondisi tersebut telah dijelaskan di dalam Undang-Undang Nomor 32

Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bagian umum

bahwa “lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak asasi bagi setiap warga

negara Indonesia sebagaimana yang telah diamanatkan pada Pasal 28 H Undang-

Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat

serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa tingkat kualitas lingkungan hidup mempengaruhi tingkat kesejahteraan

masyarakat.

2
Namun, seiring perkembangan zaman, ternyata tidak semata-mata membuat

kondisi lingkungan hidup menjadi lebih baik. Tidak dipungkiri bahwa kondisi

lingkungan hidup saat ini sangat memprihatinkan. Disamping itu timbul permasalahan

kualitas lingkungan hidup yang kian menurun, seperti adanya pencemarah udara, air

dan tanah. Bahkan isu menurunnya kualitas lingkungan hidup telah menjadi

permasalahan yang umum di Indonesia.

Salah satu bentuk permasalahan lingkungan hidup adalah adanya lingkungan

yang kumuh, karena setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat

tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, yang merupakan

kebutuhan dasar manusia. Negara juga bertanggung jawab melindungi segenap

bangsa Indonesia melalui penyelengaraan perumahan dan kawasan permukiman agar

masyarakat mampu bertempat tinggal serta menghuni rumah yang layak dan

terjangkau di dalam perumahan yang sehat, aman, harmonis, dan berkelanjutan.

Dijelaskan di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2011 pasal 1 ayat (1) bahwa

“perumahan dan kawasan permukiman adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas

pembinaan, penyelenggaraan perumahan, penyelenggaraan kawasan permukiman,

pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap

perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah, pendanaan dan sistem

pembiayaan, serta peran masyarakat”.

Disamping itu, pemerintah juga berperan dalam menyediakan dan

memberikan kemudahan dan bantuan perumahan dan kawasan permukiman bagi

masyarakat melalui penyelenggraan perumahan dan kawasan permukiman. Dijelaskan

dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman

sudah tidak sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan perumahan dan permukiman

3
yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi, dan teratur

sehingga perlu diganti.

Adanya kawasan kumuh telah menjadi salah satu faktor bahwa kondisi

lingkungan hidup secara global mulai mengalami penurunan kualitas. Pada dasarnya

suatu permukiman kumuh terdiri dari beberapa aspek penting, yaitu tanah/lahan,

rumah/perumahan, komunitas, sarana dan prasarana dasar, yang terajut dalam suatu

sistem sosial, sistem ekonomi dan budaya baik dalam suatu ekosistem lingkungan

permukiman kumuh itu sendiri atau ekosistem kota. Oleh karena itu, permukiman

kumuh harus senantiasa dipandang secara utuh dan integral dalam dimensi yang lebih

luas. Pengertian rumah kumuh sendiri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011

Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman adalah permukiman yang tidak layak

huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan

kualitas bangunan serta sarana dan prasana yang tidak memenuhi syarat.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang

Nomor 20 Tahun 2011 Tentang Rumah Susun. Kebijakan tersebut merupakan salah

satu kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah dalam rangka mengendalikan

lingkungan hidup dan kawasan permukiman melalui upaya penyelenggaraan penataan

ruang dengan memperhatikan faktor kelestarian lingkungan hidup. Hal ini mengingat

bahwa penyelenggaraan penataan ruang terdiri dari serangkaian kegiatan yang

diarahkan untuk dapat mendukung terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup yang

berkelanjutan. Adapun wujudnya ialah dengan adanya penyediaan rumah susun

sederhana sewa (rusunawa) pada setiap wilayah alternatif kota maupun kawasan

perkotaan. Amanat tersebut tertuang di dalam Pasal 5 ayat (1) yang berbunyi “Negara

bertanggung jawab atas penyelenggaraan rumuah susun yang pembinaannya

dilaksanakan oleh pemerintah”. Serta pada Pasal 11 ayat (1) yang berbunyi

4
“Pemerintah melakukan pembinaan penyelenggaraan rumah susun secara nasional

untuk memenuhi tertib penyelenggaraan rumah susun”.

Dengan adanya dasar hukum diatas, Melalui Peraturan Walikota Nomor 21

Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Nomor 45 Tahun 2012

Tentang Pengelolaan Rumah Susun Sederhana Sewa Milik Pemerintah Kota Pasuruan

dan Peraturan Daerah Kota Pasuruan Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan

Rumah Susun Sederhana Sewa Milik Pemerintah Kota Pasuruan, Pemerintah Kota

Pasuruan melalui Perangkat Daerah terkait telah menerapkan program yang

konsepnya terintegrasi dengan amanat yang terkandung dalam kebijakan penataan

ruang. Khususnya dalam rangka menghindari rumah kumuh di wilayah pesisir Kota

Pasuruan. Program tersebut merupakan program pembangunan rumah susun

sederhana sewa (rusunawa) yang secara khusus dimaksudkan untuk menghindari

rumah kumuh di Kota Pasuruan, khususnya wilayah pesisir Kota Pasuruan seperti

Kecamatan Gadingrejo dan Kecamatan Panggungrejo.

Di Kota Pasuruan terdapat tiga rusunawa, yang pertama terletak Kelurahan

Tambakan Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan. Pada rusunawa pertama ini

terdapat setidaknya 196 unit. Rusunawa di daerah ini diperuntukkan bagi warga yang

bertempat tinggal di sekitar rusunawa yaitu daerah mayangan dan tambakan. Daerah

tersebut adalah daerah yang tergolong dalam lingkungan kumuh dikarenakan berada

persis di pinggir laut. Rusunawa kedua berletak di Kelurahan Petahunan Kecamatan

Gadingrejo Kota Pasuruan. Pada rusunawa II ini terdapat setidaknya 196 unit, berbeda

dengan rusunawa yang pertama, rusunawa yang kedua ini diprioritaskan kepada

masyarakat sekitar yang kurang mampu, masyarakat berpenghasilan rendah (MBR)

dan tidak memiliki tempat tinggal. Memiliki fasilitas yang sama kedua rusunawa ini

memiliki tempat parkir dan taman untuk bersosialisasi. Disetiap rumah juga memiliki

5
ruang tamu, satu kamar tidur, dapur, ruang jemur pakaian serta tempat cuci.

Rusunawa ketiga yang saat ini masih dalam tahap pembangunan berlokasi di

Kelurahan Tembokrejo Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan. Berbeda dengan dua

rusunawa sebelumnya, pada rusunawa III ini memiliki fasilitas umum yang tidak

dimiliki oleh dua rusunawa sebelumnya seperti musholla sampai toilet umum untuk

tamu, tipe rumah dari rusunawa III ini juga berbeda dengan dua rusunawa

sebelumnya. rusunawa III memiliki tipe 36 per unit sedangkan rusuwa I dan II

memiliki tipe 24 per unitnya.

Pembangunan rusunawa merupakan salah satu program yang dibuat oleh

pemerintah untuk menghindari rumah kumuh. Program tersebut juga disambut baik

oleh masyarakat sekitar yang memang menginginkan keberadaan rumah susun di

Kota Pasuruan, beberapa masyarakat berharap dengan adanya rumah susun di Kota

Pasuruan bisa membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik. Tidak hanya

masyarakat, Walikota Pasuruan juga menginginkan agar masyarakat miskin yang

tinggal di sekitar rumah susun bisa pindah ke rusunawa agar lingkungan Kota

Pasuruan bisa menjadi lebih bersih dan terhindar dari lingkungan yang kumuh. Tetapi

program penempatan rumah susun di Kota Pasuruan mengalami kendala karena

adanya isu-isu dalam masyarakat yang menyebutkan bahwa rusunawa di Kelurahan

Tambakan ini tergolong angker. Isu-isu tersebut menyebabkan dua blok rusunawa di

Kelurahan Tambakan Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan ini tidak diminati

masyarakat.

Dengan adanya kendala isu-isu yang beredar di masyarakat kebijakan

pemerintah yang menginginkan bahwa rusunawa menjadi salah satu upaya untuk

menghindari rumah kumuh menjadi terhambat. Berdasarkan latar belakang yang telah

diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul tentang

6
“IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMBANGUNAN RUSUNAWA DALAM

RANGKA MENGHINDARI RUMAH KUMUH DI KOTA PASURUAN (Studi

pada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Pasuruan)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana implementasi kebijakan pembangunan rusunawa dalam rangka

menghindari rumah kumuh di Kota Pasuruan ?

2. Apa saja hambatan dalam penerapan implementasi kebijakan pembangunan

rusunawa ?

3. Apa dampak yang ditimbulkan dari adanya kebijakan pembangunan rusunawa ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah berusaha menjawab perumusan masalah yang telah

dilakukan. Sesuai dengan perumusan masalah yang telah disebutkan sebelumnya

tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi kebijkan pembangunan rusunawa

dalam rangka menghindari rumah kumuh di Kota Pasuruan.

2. Untuk mengetahui apa saja hambatan dalam penerapan implementasi

pemabangunan rusunawa.

3. Untuk mengetahui dampak apa saja yang ditimbulkan dari adanya kebijakan

pembangunan rusunawa.

7
D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoritis

a. Bagi Penulis

1. Dengan melakukan penelitian, diharapkan dapat memberikan pengalaman

yang berguna bagi peneliti untuk berfikir secara analisis dan dinamis di

masa yang akan datang;

2. Mengetahui dan mendeskripsikan kondisi serta permasalahan terkait

kebijkaan publik;

3. Selain sebagai syarat menyelesaikan pendidikan, juga menambah ilmu

pengetahuan bidang ilmu administrasi khususnya implementasi kebijakan

publik.

b. Bagi Akademis

1. Sebagai bahan referensi bagi penelitian selanjutnya, untuk

memperdalam penelitian mengenai implementasi kebijakan;

2. Menjadikan acuan dan pembanding bagi penelitian berikutnya serta

berbagai upaya pendorong mahasiswa peka dan kritis terhadap

permasalahan yang terjadi dan juga menumbuhkan rasa perduli bagi

masyarakat tentang adanya masalah yang disampaikan oleh peneliti;

3. Memberikan sumbangan kajian ilmiah bagi pengembangan dalam

bidang ilmu administrasi publik terutama tentang kajian rekomendasi

kebijakan publik.

2. Secara Praktis

a. Bagi Instansi Pemerintah

8
1. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan suatu

masukan berbagai pihak khususnya pada Dinas Perumahan dan

Permukiman Kota Pasuruan;

2. Dapat digunakan acuan dan wacana bagi pemerintah setempat untuk

lebih meningkatkan perannya dalam menerapkan kebijakan di Kota

Pasuruan.

b. Bagi Masyarakat

1. Memberikan pandangan untuk masyarakat dalam setiap proses

penerapan kebijakan di daerah.

E. Sistematika Pembahasan

Untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang penulisan ini agar dapat

diketahui dan dimengerti secara jelas dari masing-masing bab. Secara garis besar

penulisan ini dibagi dalam lima bab, dan disusun sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini diawali dengan memuat uraian tentang latar

belakang penelitian serta permasalahan yang disajikan secara umum.

Kemudian perumusan masalah, yaitu menentukan rumusan masalah

yang akan diteliti. Kemudian tujuan penelitian, yaitu menentukan

tujuan atau sasaran yang akan diteliti. Kontribusi penelitian yaitu

mencakup dari beberapa antara lain kontribusi teoritis dan kontribusi

praktis. Dan sebagai penutupnya yaitu menguraikan tentang sistematis

penulisan ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

9
Pada bab ini memuat uraian tentang berbagai macam teori-teori

yang digunakan oleh peneliti untuk mendukung dalam pelaksanaan

penelitian serta dalam proses mengalisa.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

Pada bab ini memuat uraian tentang metode penelitian yang

digunakan dalam penulisan skripsi ini. Metode yang digunakan adalah

metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, maka dalam

bab ini diuraikan fokus penelitian, lokasi penelitian, sumber dan jenis

data penelitian, metode pengumpulan data, instrumen penelitian dan

analisa yang digunakan.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini memuat uraian data hasil penelitian, analisa data

dan interpretasi data yang diperoleh oleh peneliti sehingga dapat

menjawab permasalahan penelitian.

BAB V PENUTUP

Pada bab ini adalah bagian terakhir dari penulisan skripsi

memuat uraian tentang kesimpulan dari analisa data yang telah

dilakukan, diuraikan secara garis besar dan umum. Sedangkan saran

berisi uraian tentang masukan-masukan yang diberikan oleh peneliti

terhadap hasil penelitiannya.

10
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kebijakan Publik

1. Pengertian Kebijakan Publik

Kebijakan (policy) memiliki arti yang beragam. Salah satu definisi kebijakan

publi diberikan oleh Robert Eyestone. Ia mengatakan secara luas bahwa kebijakan

publik dapat didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan

lingkungannya. Konsep yang ditawarkan Eyestone ini mengandung pengertian

yang sangat luas dan kurang pasti karena apa yang dimaksud dengan kebijakan

publik dapat mencakup banyak hal. (Winarno, 2012; 20)

Definisi lain yang dikemukakan oleh Thomas R. Dye (1978; 1987: 1) yang

menyatakan bahwa kebijakan publik ialah “whatever goverments choose to do or

not to do” (pilihan tindakan apa pun yang dulakukan atau tidak ingin dilakukan

oleh pemerintah).

Sedangkan Carl Friedrich memandang kebijakan sebagai suatu arah tindakan

yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu

lingkungan tertentu yang memberikan hambatan-hambatan dan peluang-peluang

terhadap kebijakan yang diusulkan untuk menggunakan dan mengatasi dalam

rangka mencapai suatu tujuan atau merealisasikan suatu sasaran atau suatu

maksud maksud tertentu. Definisi yang diberikan oleh Friedrich ini menyangkut

dimensi yang luas karena kebijakan tidak hanya dipahami sebagai tindakan yang

dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kelompok maupun oleh individu.

(Winarno, 2012; 21)

11
Pendapat ahli lainnya seperti James E. Anderson mengatakan bahwa kebijakan

itu adalah serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu guna

memevahkan suatu masalah tertentu (Wahab, 2012; 21).

Berdasarkan banyak pengertian kebijakan yang dikemukakan diatas, dapat

dikatakan bahwa kebijakan adalah arah tindakan yang mempunyai tujuan yang

diambil oleh seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah

atau permasalahan.

2. Proses Kebijakan Publik

Proses kebijakan publik berkenaan dengan proses membuat pilihan-pilihan

kebijakan lengkap dengan tahapan-tahapannya, yang secara teoritis dilandasi oleh

berbagai faktor atau pertimbangan, dan nampak dalam model-model kebijakan

publik (Hill, 2005: 66).

1.1 Tahap-Tahap Kebijakan

Dalam rangka memecahkan masalah ada beberapa tahap penting

antara lain (Dunn, 2004: 67), penetapan agenda kebijakan (agenda

setting), formulasi kebijakan (policy formulation), adopsi kebijakan

(policy adoption), implementasi kebijakan (policy implementation), dan

penilaian kebijakan (policy assessment).

Pada tahap penetapan agenda kebijakan, ditentukan apa yang

menjadi masalah publik yang perlu dipecahkan.

Pada tahap formulasi kebijakan, para analis mengidentifikasikan

kemungkinan kebijakan yang dapat digunakan dalam memecahkan

masalah.

12
Adopsi kebijakan merupakan tahap berikutnya, dimana ditentukan

pilihan kebijakan melalui dukungan para administrator dan legislatif.

Tahap ini ditentukan setelah melalui suatu proses rekomendasi.

Implementasi kebijakan merupakan suatu tahap dimana kebijakan

yang telah diadopsi tersebut dilaksanakan oleh unit-unit administratif

tertentu dengan memobilisasikan dana dan sumber daya yang ada. Pada

tahap ini, proses monitoring dilakukan.

Dan tahap akhir adalah tahap penilaian kebijakan dimana berbagai

unit yang telah ditentukan melakukan penilaian tentang apakahsemua

proses implementasi telah sesuai dengan apa yang telah ditentukan atau

tidak. Dalam tahap tersebut proses evaluasi diterapkan.

1.2 Analisis Kebijakan

Sejalan dengan tahap-tahap yang telah disebutkan sebelumnya,

maka berikut ini akan dijelaskan proses-proses analisis kebijakan,

yaitu:

1.2.1 Identifikasi Masalah

Informasi tentang suatu masalah kebijakan publik

dapat diperoleh lewat berbagai sumber tertulis seperti

indikator sosial (social indocators), data sensus, laporan-

laporan survey nasional, journal, koran, dsb, dan juga

melalui interview langsung dengan masyarakat.

1.2.2 Identifikasi Alternatif

Dalam mengidentifikasikan alternatif ini, C.V.

Patton & D.S. Sawicki (1993) mengidentifikasikan

berbagai metode seperti researched analysis, no-action

13
analysis, quick surveys, literature review, comparison of

real- world experiences, passive collection and

classification, development of typologies, analogies,

metaphor, synectics, brainstorming, comparation with

an ideal, feasible manipulations, modifying existing

solutions. Dan output yang diharapkan dari tahap ini

adalah teridentifikasikannya alternatif-alternatif

kebijakan, yang siap untuk dibandingkan antara satu

dengan yang lainnya, untuk kemudian dipilih atau

diseleksi.

1.2.3 Seleksi Alternatif

Dalam studi analisis kebijakan publik, seleksi

alternatif merupakan salah satu tahap yang sangat vital

(Quade, 1982: 70). Dalam tahap ini seorang perencana

atau policy analyst akan melakukan seleksi alternatif

yang terbaik untuk diajukan ke policy makers.

Untuk menseleksi atau memilih diantara alternatif

kebijakan yang ada secara efektif, diperlukan kriteria

atau standart yang rasional. Dengan merenapkan kriteria

tersebut seorang analis dapat merekomendasikan

alternatif mana yang paling baik dalam kaitannya

dengan pencapaian tujuan. Berikut adalah kriteria untuk

memilih alternatif kebijakan menurut Quade (1982: 71)

dan Dunn (1994: 71), yaitu : (1) Menyepakati kriteria

14
alternatif, (2) Penentuan alternatif terbaik, (3)

Pengusulan alternatif terbaik.

1.3 Implementasi Kebijakan

Implementasi berkenaan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan

pada realisasi program (Gordon, 1986). Dalam hal ini, administrator

mengatur cara untuk mengorganisir, menginterpretasikan, dan

menerapkan kebijakan yang telah diseleksi. Mengorganisir berarti

mengatur sumber daya, unit-unit dan metode-metode untuk

melaksanakan program. Melakukan interpretasi berkenaan dengan

menterjemahkan bahasa atau istilah-istilah program kedalam rencana-

rencana dan petunjuk-petunjuk yang dapat diterima dan feasible.

Menerapkan berarti menggunakan instrumen-instrumen, mengerjakan

atau memberikan pelayanan rutin, melakukan pembayaran-

pembayaran. Atau dengan kata lain implementasi merupakan tahap

merealisasi tujuan-tujuan program.

1.4 Evaluasi Kebijakan

Evaluasi digunakan untuk mempelajari tentang hasil yang

diperoleh dalam suatu program untuk dikaitkan dengan

pelaksanaannya, mengendalikan tingkah laku dari orang-orang yang

bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program, dan mempengaruhi

respons dari mereka yang berada diluar lingkungan politik. Evaluasi,

tidak saja berguna untuk mempertimbangkan kegunaan dari program

yang sedang berjalan, tetapi juga untuk melihat kegunaan program dan

inisiatif baru, peningkatan efektivitas manajemen dan administrasi

15
program, serta mempertanggungjawabkan hasil kepada pihak yang

mensponsori program tersebut (Rossi & Freeman, 1993: 4).

Untuk dapat melakukan evaluasi, perlukan rincian tentang apa

yang perlu dievaluasi, pengukuran terhadap kemajuan yang diperoleh

dengan mengumpulkan data, dan analisis terhadap data yang ada

terutama berkaitan dengan output dan outcome yang diperoleh untuk

kemudian dibandingkan dengan tujuan suatu program. Hubungan

sebab-akibat harus diteliti secara cermat antara kegiatan program

dengan output dan outcome yang nampak. Pertanyaan kunci yang

sering diungkapkan dalam suatu proses evaluasi kebijakan adalah

apakah outcome yang muncul merupakan hasil dari pelaksanaan

program yang ada, atau dari faktor-faktor lain di luar program tersebut.

Problem yang biasanya dihadapi dalam evaluasi kebijakan adalah

kelemahan dalam penyusunan indikator keberhasilan, dalam

merumuskan masalah, mengidentifikasi tujuan, perbedaan tentang

persepsi terhadap tujuan antara penilai dan yang dinilai, perbedaan

dalam orientasi waktu, dbs. Salah satu problem yang terpenting adalah

unsur subjektivitas dalam evaluasi. Memang diharapkan bahwa

evaluasi perlu adanya unsur objektivitas dan transparansi. Namun,

dalam kenyataan, evaluasi sangat bersifat politis, karena ada

kecenderungan untuk melaporkan hasil yang sukses meskipun dalam

kenyataannya tidak sukses sebagai akibat dari kepentingan tertentu.

B. Implementasi Kebijakan

1. Pengertian Implementasi Kebijakan

16
Dalam arti seluas-luasnya, implementasi sering dianggap sebagai bentuk

pengoperasionalisasian atau penyelenggaraan aktivitas yang telah ditetapkan

berdasarkan undang-undang dan menjadi kesepakatan bersama di antara beragam

pemangku kepentingan (stakeholders), aktor, organisasi (publik atau privat),

prosedur, dan teknik secara sinergis yang digerakkan untuk bekerjasama guna

menerapkan kebijakan ke arah tertentu yang dikehendaki (Wahab, 2015; 133).

Implementasi menurut Webster, secara lexicografis merumuskan bahwa istilah

to implement (mengimplementasikan) itu berarti to provide the means for carrying

out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); to give practical effect to

(menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu). Van Meter dan Van Hom (1975)

merumuskan proses implementasi sebagai “those actions by public or private

individuals (or groups) that are directed at the achievement of objective set fort in

prior policy decision” (tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh

individual/pejabat-pejabat atau kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan

pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan).

Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier (1979), menjelaskan makna

implementasi ini dengan mengatakan bahwa, “Memahami apa yang senyatanya

terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan

fokus perhatian implementasi kebijakan, yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-

kegiatan yang timbu sesudah disahkannya pedoman-pedoman kebijakan publik

yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk

menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian.”.

Berdasarkan banyak pengertian implementasi yang dikemukakan diatas, dapat

dikatakan bahwa implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan pihak-

pihak yang berwenang (pemerintah atau swasta) yang bertujuan untuk

17
mewujudkan sesuatu yang sudah ditetapkan, implementasi dilakukan untuk

melakasanakan program yang telah disusun demi tercapainya tujuan dari program

yang telah direncanakan.

2. Model Proses Implementasi Kebijakan

Dalam proses implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn (2012: 158-

159) menawarkan suatu model dasar, model yang mereka tawarkan mempunyai

enam variabel yang membentuk kaitan (linkage) antara kebijakan dan kinerja

(performance). Model seperti ini diungkapkan oleh Van Meter dan Van Horn,

tidak hanya menentukan hubungan-hubunganantar variabel-variabel bebas dan

variabel terkait mengenai kepentingan-kepentingan, tetapi juga menjelaskan

hubungan-hubungan antara variabel-variabel bebas. Variabel-variabel tersebut

dijelaskan oleh Van Meter dan Van Horn sebagai berikut :

2.1. Ukuran-Ukuran Dasar dan Tujuan-Tujuan Kebijakan

Variabel ini didasarkan pada kepentingan utama terhadap faktor-faktor

yang menentukan kinerja kebijakan. Menurut Van Meter dan Van horn,

identifikasi indikator-indikator kinerja merupakan tahap yang krusial dalam

analisis implementasi kebijakan. Indikator-indikator kinerja ini menilai sejauh

mana ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan telah direalisasikan.

Dalam menentukan studi implementasi, tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran

suatu program yang dilaksanakan harus diidentifikasi dan diukur karena

implementasi tidak dapat berhasil atau mengalami kegagalan bila tujuan-

tujuan itu tidak dipertimbangkan. Dalam merencanakan ukuran-ukuran dasar

dan sasaran-sasaran, kita dapat menggunakan pernyataan-pernyataan dari para

pembuat keputusan sebagimana direfleksikan dalam banyak dokumen, seperti

18
regulasi-regulasi dan garis-garis pedoman program yang menyatakan kriteria

untuk evaluasi kinerja kebijakan (Winarno, 2012: 159-161).

2.2. Sumber-Sumber Kebijakan

Disamping ukuran-ukuran dasar dan tujuan-tujuan kebijakan, yang

perlu diperhatikan dalam proses implementasi kebijakan adalah sumber-

sumber yang tersedia. Sumber-sumber layak mendapat perhatian karena

menunjang keberhasilan implementasi kebijakan. Sumber-sumber yang

dimaksud mencakup dana atau perangsang (incentive) lain yang mendorong

dan memperlancar implementasi yang efektif.

Empat faktor tambahan lain yang tercakup dalam model proses

implementasi kebijakan seperti yang dikemukakan oleh Van Meter dan Van

Horn adalah komunikasi antar organisasi dan kegiatan-kegiatan pelaksanaan,

karakteristik-karakteristik badan-badan pelaksana, lingkungan sosial, ekonomi

dan politik yang mempengaruhi yurisdiksi atau organisasi implementasi, dan

kecenderungan (disposition) para pelaksana (implementors) (Winarno, 2012:

161).

2.3. Komunikasi Antar Organisasi dan Kegiatan-Kegiatan Pelaksanaan

Komunikasi antara organisasi-organisasi merupakan suatu proses yang

kompleks dan sulit. Dalam meneruskan pesan-pesan ke bawah dalam suatu

organisasi atau dari suatu organisasi ke organisasi lainnya, para komunikator

dapat menyimpangkannya atau menyebarluaskannya, baik secara sengaja

maupun tidak sengaja.

Menurut Van Meter dan Van Horn, implementasi yang berhasil sering

kali membutuhkan mekanisme-mekanisme dan prosedur-prosedur lembaga.

Hal ini sebenarnya akan mendorong kemungkinan yang lebih besar bagi

19
pejabat-pejabat tinggi (atasan) untuk mendorong pelaksana (pejabar-pejabat

bawahan) bertindak dalam suatu cara yang konsisten dengan ukuran-ukuran

dasar dan tujuan-tujuan kebijakan (Winarno, 2012: 161-162).

2.4. Karakteristik Badan-Badan Pelaksana

Dalam melihat karakteristik badan-badan pelaksana, seperti dinyatakan

oleh Van Meter dan Van Horn, maka pembahasan ini tidak bisa lepas dari

struktur birokrasi. Struktur birokrasi diartikan sebagai karakteristik-

karakteristik, norma-norma dan pola-pola hubungan yang terjadi berulang-

ulang dalam badan-badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial

maupun nyata dengan apa yang mereka miliki dengan menjalankan kebijakan.

Van Meter dan Van Horn mengetengahkan beberapa unsur yang mungkin

berpengaruh terhadap suatu organisasi dalam mengimplementasikan kebijakan

: (1) Kompetensi dan ukuran staf suatu badan; (2) Tingkat pengawasan

hierarkis terhadap keputusan-keputusan sub-unit dan proses-proses dalam

badan-badan pelaksana; (3) Sumber-sumber politik suatu organisasi (misalnya

dukungan di antara anggota-anggota legislatif dan eksekutif); (4) Vitalitas

suatu organisasi; (5) Tingkat komunikasi-komunikasi “terbuka”, yang

didefinisikan sebagai jaringan kerja komunikasi horizontal dan vertikal secara

bebas serta tingkat kebebasan yang secara relatif tinggi dalam komunikasi

dengan individu-individu diluar organisasi; dan (6) Kaitan formal dan

informal suatu badan dengan badan “pembuatan keputusan” atau “pelaksana

keputusan” (Winarno, 2012: 166)

2.5. Kondisi-Kondisi Ekonomi, Sosial dan Politik

Kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik merupakan variabel

selanjutnya yang di identifikasi oleh Van Meter dan Van Horn. Dampak

20
kondisi-kondisi ekonomi, sosial dan politik pada kebijakan publik merupakan

pusat perhatian yang besar selasa dasawarsa yang lalu. Para peminat

perbandingan politik dan kebijakan publik secara khusus tertarik dalam

mengidentifikasikan pengaruh variabel-variabel lingkungan pada hasil-hasil

kebijakan (Winarno, 2012: 167).

2.6. Kecenderungan Pelaksana (Implementors)

Van Meter dan Van Horn mengungkapkan, intensitas kecenderungan-

kecenderungan pelaksana akan mempengaruhi kinerja kebijakan. Dalam

keadaan seperti ini, Van Meter dan Van Horn menyarankan agar orang melihat

kepada peran pengawasan dan pelaksanaan untuk menjelaskan perbedaan-

perbedaan keefektifan implementasi. Oleh karena itu, para pengkaji

implementasi kebijakan harus mengumpulkan banyak individu yang berasal

dari unsur kecenderungan yang beragam (Winarno, 2012: 168-169).

Gambar 1

Model Proses Implementasi Kebijakan


Ukuran-ukuran

Dasar dan tujuan-tujuan

Komunikasi antar
organisasi dan kegiatan-
kegiatan pelaksanaan

Kebijaksanaan

Karakteristik-karakteristik Kecenderungan
dan badan-badan pelaksana-
pelaksana pelaksana Kinerja

Sumber-Sumber

Kondisi-kondisi
ekonomi, sosial dan
politik

21
3. Pendekatan-Pendekatan Implementasi Kebijakan

3.1 Pendekatan-Pendekatan Struktural (Stuctural Approaches)

Secara umum dapat dikatakan bahwa struktur yang bersifat

organis tampaknya amat cocok untuk situasi-situasi implementasi, di

mana kita perlu merancang bangun struktur yang mampu

melaksanakan suatu kebijakan yang senantiasa berubah, bila

dibandingkan dengan merancang bangun suatu struktur khusus untuk

program yang sekali selesai. Namun, karena pertimbangan-

pertimbangan tertentu, bentuk struktur yang organis seringkali tidak

mudah diterima di kalangan dinas-dinas pemerintah (Wahab, 2015:

234-236).

3.2 Pendekatan-Pendekatan Prosedural dan Manajerial (Procedural

and Managerial Approaches)

Implementasi dipandang sebagai semata-mata masalah teknis atau

masalah manajerial. Disini, prosedur-prosedur yang dimaksud

termasuk diantaranya yang menyangkut penjadwalan (scheduling),

perencanaan (planning), dan pengawasan (control). Dengan demikian,

logikanya bahwa sesudah identifikasi masalah dan pemilihan

kebijakan yang dilihat dari sudut biaya dan efektivitasnya paling

memenuhi syarat, maka tahap implementasi itu akan mencakup

urutan-urutan langkah sebagai berikut :

1. Merancang bangun (mendesain) program serta perincian tugas dan

perumusan tujuan yang jelas, penentuan ukuran prestasi kerja,

biaya, dan waktu;

22
2. Melaksanakan program, dengan mendayagunakan struktur-struktur

dan personalia, dana, sumber-sumber, prosedur-prosedur, dan

metode-metode yang tepat;

3. Membangun sistem penjadwalan, monitoring, dan sarana-sarana

pengawasan yang tepat, guna menjamin bahwa tindakan-tindakan

yang tepat dan benar dapat segera dilaksanakan.

Namun, pendekatan ini mengasumsikan adanya tingkat

kemampuan pengawasan yang tinggi atas pelaksanaan dan hasil akhir

suatu program, dan dianggap terisolasi dari pengaruh lingkungan.

Teknik manajerial yang merupaka perwujudan dari pendekatan ini

ialah perencanaan jaringan kerja dan pengawasan network planning

and control (NPC) yang menyajikan suatu kerangka kerja proyek yang

dapat direncanakan, implementasinya dapat diawasi dengan cara

mengidentifikasi tugas-tugas yang harus diselesaikan, hubungan

diantara tugas-tugas tersebut, dan urutan-urutan logis dimana tugas-

tugas itu harus dilaksanakan (Wahab, 2015: 237-238).

3.3 Pendekatan-Pendekatan Keprilakuan (Behavioral Approaches)

Pendekatan keprilakuan diawali dengan suatu kesadaran bahwa

sering kali terdapat penolakan terhadap perubahan (resistence to

change). Dalam kenyataannya, alternatif-alternatif yang tersedia

jarang yang sederhana seperti menerima atau menolak, dan

sebenarnya terbentang spectrum kemungkinan reaksi sikap, mulai dari

penerimaan aktif hingga penerimaan pasif, acuh tak acuh, serta

penolakan pasif dan penolakan aktif (Wahab, 2015: 240).

23
Menurut pendekatan ini, tujuannya untuk menciptakan suasana

saling percaya, terutama dengan cara pihak pimpinan menunjukkan

perhatian yang besar terhadap kepentingan orang-orang dan terhadap

perasaan mereka yang kurang jelas, seperti tentang kemungkinan

kehilangan rekan kerja, ketidakamanan pribadi, dan sebagainya

(Wahab, 2015: 242).

Penerapan analisis keperilakuan (behavioural analysis) pada

masalah-masalah manajemen yang paling terkenal ialah yang disebut

“OD” (organizational development / pengembangan organisasi). OD

adalah suatu proses untuk menimbulkan perubahan-perubahan yang di

inginkan dalam suatu organisasi, melalui penerapan ilmu-ilmu

keperilakuan (Eddy, 1970;1981).

Bentuk lain dari pendekatan keperilakuan ialah management by

objectives (MBO). MBO merupakan suatu pendekatan yang

menggabungkan unsur-unsur yang terdapat dalam pendekatan

prosedural atau manajerial dengan unsur-unsur yang termuat dalam

analisis keperilakuan (Wahab, 2015: 243).

3.4 Pendekatan-Pendekatan Politik (Political Approaches)

Pendekatan politik ini secara fundamental menentang asumsi

yang diketengahkan oleh ketiga pendekatan terdahulu, khususnya

pendekatan keperilakuan. Pada umumnya, para ilmuan sosial

menentang asumsinya bahwa konflik itu adalah suatu bentuk

penyimpangan yang dapat disembuhkan dengan cara

menyempurnakan kemampuan komunikasi antar pribadi

(interpersonal communication). Konflik yang berlangsung diantara

24
dan di dalam lingkungan kebanyakan organisasi dan kelompok-

kelompok sosial merupakan gejala yang sifatnya endemis, karenanya

tidak hanya diatasi lewat komunikasi dan koordinasi.

Dengan demikian, keberhasilan suatu kebijakan pada akhirnya

akan tergantung pada kesediaan dan kemampuan kelompok-kelompok

yang dominan untuk memaksakan kehendaknya. Apabila kelompok-

kelompok yang dominan itu tidak ada, implementasi kebijakan yang

dikehendaki mungkin hanya akan bisa dicapai melalui suatu proses

yang panjang yang bersifat inkremental dan saling pengertian diantara

mereka yang terlibat (partisan mutual adjustmen). Dalam situasi

tertentu, distribusi kekuasaan kemungkinan dapat pula menimbulkan

kemacetan pada saat implementasi kebijkan, walaupun sebenarnya

kebijakan tersebut secara formal telah disahkan (Wahab, 2015: 245).

4. Hambatan dalam Implementasi Kebijakan

Menurut Grow dan Mors, dalam implementasi kebijakan terdapat berbagai

hambatan antara lain :

1. Hambatan politik, ekonomi, dan lingkungan;

2. Kelemahan institusi;

3. Ketidakmampuan SDM di bidang teknis dan administratif;

4. Kekurangan dalam bantuan teknis;

5. Kurangnya desentralisasi dan partisipasi;

6. Pengaturan waktu (timing);

7. Sistem informasi yang kurang mendukung;

8. Perbedaan agenda tujuan antara aktor;

9. Dukungan yang berkesinambungan. (Turner dan Hulme, 1997:66-67).

25
Semua hambatan ini dapat dengan mudah dibedakan atas hambatan dari dalam

dan dari luar. Hambatan dari dalam dapat dilihat dari ketersediaan dan kualitas

input yang digunakan seperti SDM, dana struktur organisasi, informasi, sarana

dan fasilitas yang dimiliki, serta aturan, sistem dan prosedur yang harus

digunakan. Dan hambatan dari luar dapat dibedakan atas semua kekuatan yang

berpengaruh langsung ataupun tidak langsung kepada proses implementasi itu

sendiri, seperti peraturan atau kebijakan pemerintah, kelompok sasaran,

kecenderungan ekonomi, politik, kondisi sosial budaya, dsb.

5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Implementasi

Salah satu pendapat tentang keberhasilan atau kegagalan dari implementasi

kebijakan disampaikan oleh D.L. Weimer dan Aidan R. Vining (1999: 398),

setelah mempelajari berbagai literatur tentang implementasi, menurut mereka ada

tiga faktor umum yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, yaitu :

1. Logika yang digunakan oleh suatu kebijakan, yaitu sampai seberapa

benar teori yang menjadi landasan kebijakan atau seberapa jauh

hubungan logis antara kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan tujuan

atau sasaran yang telah ditetapkan;

2. Hakekat kerja sama yang dibutuhkan, yaitu apakah semua pihak yang

terlibat dalam kerja sama telah merupakan suatu assembling yang

produktif; dan

3. Ketersediaan sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan,

komitmen untuk mengelola pelaksanaannya.

26
C. Administrasi Pembangunan

1. Pengertian Administrasi Pembangunan

Administrasi pembangunan bersumber dari administrasi negara. Dengan

demikian, kaidah-kaidah umum administrasi negara berlaku pula pada

administrasi pembangunan. Namun, administrasi pembangunan memberi

perhatian lebih luas daripada hanya membahas penyelenggaraan administrasi

pemerintahan dalam pengertian umum, seperti memelihara keamanan, hukum dan

ketertiban, mengumpulkan pajak, memberikan pelayanan publik, dan

menyelenggarakan hubungan dengan negara lain. Administrasi pembangunan

bersifat dinamis dan inovatif karena menyangkut upaya mengandalkan perubahan-

perubahan sosial. Dalam upaya itu, administrasi pembangunan sangat

berkepentingan dan terlibat dalam pengerahan sumber daya dan pengalokasiannya

untuk kegiatan pembangunan (Katz, 1971: 63).

Pada dasarnya administrasi pembangunan adalah bidang studi yang

mempelajari sistem administrasi negara di negara yang sedang membangun serta

upaya dan praktik administrasi pembangunan diperlukan adanya perhatian dan

komitmen terhadap nilai-nilai yang mendasari dan perlu diwujudkan menjadi

dasar etika birokrasi. Dengan demikian, ada dua sisi dalam batasan pengertian

administrasi pembangunan tersebut. Pada sisi pertama, tercakup upaya untuk

engenali peranan administrasi negara dalam pembangunan. Degan kata lain,

administrasi dari proses pembangunan, yang membedakannya dengan administrasi

negara dalam pengertian umum. Pada sisi kedua, tercakup kehendak untuk

mempelajari dengan cara bagaimana membangun administrasi negara dan tugas

pembangunan. Namun, tak kurang pentingnya adalah perhatian dan komitmen

27
terhadap kepentingan publik yang dapat menjadi ukuran bagi kredibilitas dan

akuntabilitasnnya.

Fred W. Riggs mengatakan bahwa administrasi pembangunan berkaitan

dengan proses administrasi dari suatu program pembangunan, dengan metode-

metode yang digunakan oleh organisasi besar terutama pemerintah untuk

melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan kegiatan-kegiatan yang telah

direncanakan guna menemukan sasaran-sasaran pembangunan mereka. Kemudian

Fred juga mengungkapkan bahwa arti dari istilah “administrasi pembangunan”

dikaitkan dengan implikasinya, tidak dengan pengertiannya secara langsung.

Termasuk di dalamnya adalah peningkatan kemampuan administratif. Jelasnya,

apabila suatu program pembangunan berhasil dilaksanakan, dengan sendirinya

akan mendorong terjadinya perubahan-perubahan di lingkungan masyarakat

politik, termasuk perubahan kemampuan masyarakat dalam bidang administrasi.

Menurut Siagian, administrasi pembangunan meliputi dua pengertian, yaitu

pertama tentang administrasi dan kedua tentang pembangunan. Administrasi

adalah keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan-keputusan yang telah

diambil dan pelaksaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau

lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam bukunya

yang berjudul Administrasi Pembangunan, pembangunan didefinisikan sebagai

suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perobahan yang berencana

yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju

modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation-building). Apabila definisi

tersebut diatas dianalisis lebih lanjut akan terlihat beberapa ide pokok yang sangat

penting diperhatikan apabila seseorang berbicara tentang pembangunan : (1)

Bahwa pembangunan merupakan suatu proses. Proses berarti suatu kegiatan yang

28
terus-menerus dilaksanakan (never ending); (2) Bahwa pembangunan merupakan

usaha yang secara sadar dilaksanakan; (3) Bahwa pembangunan dilakukan secara

berencana dan perencanaan itu berorientasi kepada pertumbuhan dan perobahan;

(4) Bahwa pembangunan mengarah kepada modernitas. Modernitas disini

diartikan sebagai cara hidup yang baru dan lebih baik daripada sebelumnya serta

kemampuan untuk lebih menguasai alam lingkungan dalam rangka usaha

peningkatan kemampuan swa-sembada dan mengurangi ketergantungan pada

pihak lain; (5) Bahwa modernitas yang dicapai melalui pembangunan itu bersifat

multi-dimensionil. Artinya bahwa modernitas itu mencakup seluruh aspek

kehidupan bangsa dan negara, terutama aspek politik, ekonomi, sosial-budaya,

pertahanan dan keamanan nasional dan administrasi; (6) Bahwa kesemua hal yang

telah disebutkan ditujukan kepada usaha membina bangsa (nation-building) yang

terus menerus harus dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan bangsa dan

negara yang telah ditentukan sebelumnya.

2. Dimensi Spesial dalam Administrasi Pembangunan

Pertimbangan dimensi ruang dan daerah dalam administrasi pembangunan

memiliki cara pandang atau pendekatan (Heaphy, 1971: 66). Cara pandang

pertama menyebutkan bahwa dimensi ruang dan daerah dalam perencanaan

pembangunan adalah perencanaan pembangunan suatu kota, daerah ataupun

wilayah. Pendekatan ini memandang kota, daerah atau wilayah sebagai suatu

wujud (entity) bebas yang perkembangannya tidak terikat dengan kota, daerah

atau wilayah lain sehingga penekanan perencanaanya mengikuti pola yang lepas

dan mandiri (independent). Cara pandang kedua melihat bahwa pembangunan di

daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan

29
daerah, dalam pendekatan ini merupakan pola perencanaan pada suatu yurisdiksi

ruang atau wilayah tertentu yang dapat digunakan sebagai bagian pola

perencanaan pembangunan nasional. Cara pandang yang ketiga adalah cara

pandang yang melihat bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah instrumen

bagi penentuan alokasi sumber daya pembangunan dan lokasi kegiatan di daerah

yang telah direncanakan secara terpusat yang berguna untuk mencegah terjadinya

kesenjangan ekonomi antar-daerah.

Ada beberapa aspek dari dimensi ruang dan daerah yang berkaitan dengan

administrasi pembangunan daerah. Aspek pertama adalah regionalisasi atau

perwilayahan. Aspek kedua adalah ruang, akan tercermin dalam penataan ruang,

tata ruang dalam hal ini menurut Wetzing (1978; 68) merupakan jabaran suatu

produk perencanaan fisik. Konsepsi tata ruang ini tidak hanya menyangkut suatu

wawasan yang disebut wawasan spesial, tetapi menyangkut pula aspek-aspek non-

spasial atau a-spasial (Foley, 1970: 68). Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa

struktur fisik ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor-faktor nonfisik, seperti

organisasi fungsional, pola sosial budaya, dan nilai kehidupan komunitas

(Porteous, 1981: 68).

Penataan ruang secara umum memiliki pengertian sebagai suatu proses yang

melipti proses perencanaan atau pemanfaatan ruang yang terkait satu dengan

lainnya. Berdasarkan konsepsi ini, penataan ruang dapat disebutkan secara lebih

spesifik sebagai upaya mewujudkan tata ruang yang terencana, dengan

memperlihatkan keadaan lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial,

interaksi antar-lingkungan, tahapan dan pengelolaan pembangunan, serta

pembinaan kemampuan kelembagaan dan sumber daya manusia yang ada dan

tersedia, dengan selalu mendasarkan pada kesatuan wilayah nasional dan

30
ditujukan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, memelihara lingkungan

hidup, dan diarahkan untuk mendukung upaya pertahanan keamanan. Aspek yang

ketiga adalah otonomi daerah. Aspek keempat yaitu partisipasi masyarakat dalam

pembangunan. Dalam hal ini masyarakat bersama-sama dengan aparatur

pemerintah, menjadi stakeholder dalam perumusan, implementasi, dan evaluasi

dari setiap upaya pembangunan. Aspek kelima adalah sebagai implikasi dari

dimensi administrasi dalam pembangunan daerah yang dikaitkan dengan

kemajemukan adalah dimungkinkannya keragaman dalam kebijaksanaan (policy

diversity).

3. Kerangka Sistem dalam Administrasi Pembangunan

Administrasi pembangunan adalah sebuah istilah yang sering digunakan untuk

menunjuk upaya atau kegiatan pemerintah (daerah) memenuhi peranannya

mencapai pembangunan. Untuk itu pendekatan sistem dianggap mampu

memberikan kerangka yang berguna dalam memecahkan problem administrasi

pembangunan. Administrasi pembangunan adalah cara yang dilakukan

pemerintah mengisi peranan dominan di dalam proses pembangunan secara

keseluruhan. Secara umum “administrasi pembangunan” mirip dengan

“administrasi negara” tradisional terutama dalam kaitannya dengan cara-cara

yang ditempuh pemerintah dalam menerapkan aturan-aturan, kebijaksanaan serta

norma-norma tertentu.

4. Peran Pemerintah dalam Administrasi Pembangunan

Adanya peran serta fungsi pemerintah dalam administrasi pembangunan agar

supaya tata masyarakat berjalan dengan teratur dan harmonis, maka dari itu

31
diperlukannya suatu pemerintah. Dengan kata lain, pemerintah mempunyai peran

serta fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut mau tidak

mau harus ada dan diterima oleh semua orang yang menjadi warga negara/warga

bangsa yang bersangkutan. Dalam hubungan ini perlu diperhatikan bahwa

masyarakat terdiri dari individu-individu yang dinamis. Karena kedinamisan

individu-individu di dalam masyarakat maka semakin lama semakin rumit pula

kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskannya, bukan saja bagi dirinya sendiri

tetapi juga bagi kaum kerabatnya dan akhirnya juga bagi bangsanya. Kedinamisan

individu-individu di dalam masyarakat, seluruhnya berobah menjadi kedinamisan

masyarakat itu sendiri. Beberapa menifestasi kedinamisan tersebut ialah :

1. Manusia yang nampaknya semakin lama semakin cerdas menuntut lebih

banyak dari pemerintahnya. Oleh karena itu pemerintahpun harus berbuat

lebih banyak bagi para warganya.

2. Tingkat pendidikan yang semakin tinggi yang mengakibatkan para warga

negara semakin sadar akan hak dan kewajibannya di dalam masyarakat.

Oleh karena itu semakin pintar pula menuntut apa yang menjadi haknya

meskipun memang harus diakui tidak selalu diimbangi oleh meningkatnya

kesadaran terhadap kewajibannya kepada bangsa, negara dan

pemerintahnya.

3. Kebudayaan yang dicapai semakin lama semakin tinggi dalam arti bahwa

norma-norma kemanusiaan serta nilai-nilai sosial semakin menunjukkan

adanya kesadaran bahwa martabat manusia, kepribadian dan hak-hak

universilnya yang ia ingin supaya dihargai, bukan saja oleh anggota

masyarakat lainya, akan tetapi juga oleh pemerintah.

32
5. Fungsi-Fungsi Pemerintah dalam Administrasi Pembangunan

Untuk mencapai tujuan yang berat, mau tidak mau pemerintah harus

melaksanakan kegiatan-kegiatan di bidang pembangunan. akan tetapi

melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan itu tidak semata-mata merupakan

tugas dan tanggung jawab pemerintah. Akan tetapi dalam pada itu pemerinah

mempunyai fungsi-fungsi tertentu dalam pembangunan nasional. Berikut adalah

fungsi-fungsi pemerintah dalam administrasi pembangunan menurut Siagian

(1985) :

5.1 Pemerintah Sebagai Stabilisator

Salah satu ciri dari bangsa-bangsa yang terbelakang ialah bahwa

bangsa-bangsa itu sering dilanda oleh ketidakstabilan di bidang politik,

ekonomi dan sosial. Oleh karena itu salah satu fungsi pemerintah dalam

administrasi pembangunan ialah bertindak selaku stabilisator.

a. Stabilisasi Politik, di bidang politik pemerintah harus dapat

menciptakan suatu suasana politik yang tidak sering mengalami

rongrongan dari dalam maupun dari luar negeri. Rongrongan itu

dapat timbul sebagai akibat dari beberapa faktor seperti faktor

ekonomi dan faktor ideologi. Oleh karena itu, pemerintah dalam

suatu negara yang terbelakang perlu merealisasi stabilitas

politik yang mantap dan kontinu.

b. Stabilitas Ekonomi, disamping ketidakstabilan politik sebagai

salah satu ciri negara-negara terbelakang stabilitas ekonomipun

jarang terdapat di negara-negara tersebut. Beberapa manufestasi

daripada ketidakstabilan di bidang ekonomi itu ialah : (1) inflasi

yang sering melanda tata perekonomian, (2) tingkat pendapatan

33
rakyat banyak yang tidak mengalami kenaikan, bahkan

mungkin pula menurun, (3) produktifitas masyarakat sebagai

keseluruhan yang tetap rendah, (4) kurang atau tidak adanya

usaha untuk merubah struktur perekonomian yang agraris

sentris menjadi, misalnya industri sentris, atau paling sedikit

agraris masinal. Oleh karena itu, salah satu fungsi pemerintah

selaku stabilisator adalah untuk menciptakan iklim

perekonomian yang sedemikian rupa sehingga stabilitas

ekonomi dapat diusahakan dan dipertahankan sebagai titik tolak

untuk pertumbuhan dan perkembangan di bidang ekonomi,

terutama dengan menciptakan kelas menengah pribumi yang

kuat.

c. Stabilitas Sosial Budaya, jika dikatakan bahwa pemerintah

dalam suatu negara menjadi stabilisator pula dalam budang

sosial budaya, hal ini adalah disebabkan oleh kenyataan bahwa

salah satu “penyakit” dari masyarakat di negara-negara

terbelakang itu ialah bahwa sebagian besar penduduk masih

mengikatkan dirinya secara ketat kepada norma-norma sosial

yang sudah usang. Norma-norma sosial yang sudah usang itu

sering merupakan faktor penghalang bagi pembangunan. oleh

karenanya, suatu pemerintah harus berusaha menciptakan

norma-norma sosial budaya yang baru yang kiranya akan

mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan, tanpa mengganti

kepribadian bangsa yang bersangkutan.

34
5.2 Pemerintah Sebagai Inovator

Pemerintah dalam suatu negara yang terbelakang perlu

mengusahakan agar supaya pemerintah itu sebagai keseluruhan, mau

pun para pejabatnya menjadi sumber-sumber ide baru, terutama yang

berhubungan dengan kegiatan-kegiatan pembangunan. Dalam

hubungan ini kiranya perlu ditambahkan bahwa apabila suatu

pemerintah sebagai keseluruhan ingin berhasil dalam menjalankan

perannya sebagai innovator, maka kesyahan (legitimacy) pemerintah

tersebut perlu didasarkan kepada dasar yang kuat (Prof. Fred W. Riggs,

1969 : 108). Bidang-bidang dimana inovasi perlu dilaksanakan ialah :

(1) bidang administrasi negara/pemerintah itu sendiri, (2) innovasi

konsepsionil, yaitu pemerintah dan seluruh aparaturnya harus

merupakan sumber dari ide-ide baru, (3) inovasi sistem, prosedur serta

metode kerja,.

5.3 Pemerintah Sebagai Pelopor

Kepeloporan pemerintah bagi suatu negara yang terbelakang

adalah sangat penting. Kepeloporan ini mencakup berbagai aspek

kehidupan bangsa. Kepeloporan dalam suatu bidang akan mempunyai

pengaruh yang positif terhadap bidang-bidang lain, misalnya dalam

bidang ekonomi. Kepeloporan lain yang perlu dilaksanakan oleh suatu

pemerintah pada suatu negara terbelakang ialah kepeloporan dalam

objektifitas bertindak.

D. Rusunawa

1. Pengertian Rusunawa

35
Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2011 rumah susun adalah bangunan

gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam

bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal

maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki

dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi

dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.

Pengertian rumah susun sewa (rusunawa) berdasarkan PERMEN No 14 Tahun

2007 tentang Pengelolaan Rumah Susun Sewa yaitu bangunan gedung bertingkat

yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang

distrukturkan secara fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal dan

merupakan satuan-satuan yang masing-masing digunakan secara terpisah, status

penguasaannya sewa serta dibangun dengan menggunakan dana anggaran

pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja daerah

dengan fungsi utamanya sebagai hunian.

Dari banyak pengertian rusunawa diatas, dapat dikatakan bahwa rusunawa

adalah bangunan rumah bertingkat yang dibangun dalam satu gedung dan

lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara

fungsional dalah arah horizontal maupun vertikal yang status penguasaannya sewa

serta dibangun dengan menggunakan dana APBN/APBD yang berfungsi sebagai

hunian.

2. Tujuan Rusunawa

Penyelenggaraan rumah susun bertujuan untuk :

a. Menjamin terwujudnya rumah susun yang layak huni dan terjangkau

dalam lingkungan yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan serta

36
menciptakan permukiman yang terpadu guna membangun ketahanan

ekonomi, sosial dan budaya.

b. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan ruang dan tanah, serta

menyediakan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dalam

menciptakan kawasan permukiman yang lengkap serta serasi dan

seimbang dengan memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan dan

berwawasan lingkungan.

c. Mengurangi luasan dan mencagah timbulnya perumahan dan permukiman

kumuh.

d. Mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan yang serasi, seimbang,

efisien dan produktif.

e. Memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi yang menunjang kehidupan

penghuni dan masyarakat dengan tetap mengutamakan tujuan pemenuhan

kebutuhan perumahan dan permukiman yang layak, terutama bagi MBR

f. Memberdayakan para pemangku kepentingan di bidang pembangunan

rumah susun.

g. Menjamin terpenuhinya kebutuhan rumah susun yang layak dan

terjangkau, terutama bagi MBR dalam lingkungan yang sehat, aman,

harmonis dan berkelanjutan dalam suatu sistem tata kelola perumahan dan

permukiman yang terpadu.

h. Memberikan kepastian hukum dalam penyediaan, kepenghunian,

pengelolaan dan kepemilikan rumah susun.

37
3. Macam-Macam Rusunawa

Macam-macam rumah susun menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2011

yaitu :

3.1 Rumah Susun Umum

Rumah susun umum adalah rumah susun yang diselenggarakan

untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan

rendah.

3.2 Rumah Susun Khusus

Rumah susun khusus adalah rumah susun yang diselenggarakan

untuk memenuhi kebutuhan khusus.

3.3 Rumah Susun Negara

Rumah susun negara adalah rumah susun yang dimiliki negara

dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian, sarana pembinaan

keluarga, serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai

negeri.

3.4 Rumah Susun Komersial

Rumah susun komersial adalah rumah susun yang

diselenggarakan untuk mendapatkan keuntungan.

4. Persyaratan Pembangunan Rusunawa

Pembangunan rumah susun dilakukan melalui perencanaan teknis,

pelaksanaan dan pengawasan teknis. Perencanaan teknis, pelaksanaan dan

pengawasan teknis dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan. Persyaratan pembangunan rumah susun menurut Undang-Undang No

20 Tahun 2011 meliputi :

38
4.1 Persyaratan Administratif

Dalam melakukan pembangunan rumah susun, pelaku

pembangunan harus memenuhi ketentuan administratif yang meliputi

status hak atas tanah dan izin mendikikan bangunan (IMB).

4.2 Persyaratan Teknis

Persyaratan teknis pembangunan rumah susun terdiri atas tata

bangunan yang meliputi persyaratan peruntukan lokasi serta intensitas

dan arsitektur bangunan dan keandalan bangunan yang meliputi

persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.

4.3 Persyaratan Ekologis

Pembangunan rumah susun harus memenuhi persyaratan

ekologis yang mencakup keserasian dan keseimbangan fungsi

lingkungan. Pembangunan rumah susun yang menimbulkan dampak

penting terhadap lingkungan harus dilengkapi persyaratan analisis

dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

undangan.

E. Permukiman Kumuh

1. Pengertian Permukiman Kumuh

Menurut Undang-Undang No 1 Tahun 2011 permukiman kumuh adalah

permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat

kepadatan bangunan yang tinggi dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana

yang tidak memenuhi syarat.

Masrun (2009) memaparkan bahwa permukiman kumuh mengacu pada aspek

lingkungan hunian atau komunitas. Permukiman kumuh dapat diartikan sebagai

39
suatu lingkungan permukiman yang telah mengalami penurunan kualitas atau

memburuk baik secara fisik, sosial ekonomi, maupun sosial budaya, yang tidak

mungkin dicapainya kehidupan yang layak bagi penghuninya, bahkan dapat pula

dikatakan bahwa para penghuninya benar-benar dalam lingkungan yang sangat

membahayakan kehidupannya.

Dari beberapa pengertian permukiman kumuh yang telah disebutkan, maka

dapat disimpulkan bahwa permukiman kumuh adalah kawasan permukiman yang

tidak layak huni.

2. Ciri-Ciri Permukiman Kumuh

Ciri-ciri permukiman kumuh seperti yang diungkapkan oleh Suparlan (dalam

Jawas Dwijo Putro, 2011: 22) adalah sebagai berikut :

1. Fasilitas umum yang kondisinya kurang atau tidak memadai.

2. Kondisi hunian rumah dan permukiman serta penggunaan ruang-ruangnya

mencerminkan penghuninya yang kurang mampu atau miskin.

3. Adanya tingkat frekuensi dan kepadatan volume yang tinggi dalam

penggunaan ruang dan ketidakberdayaan ekonomi penghuninya.

4. Permukiman kumuh merupakan suatu satuan-satuan komuniti yang hidup

secara tersendiri dengan batas-batas kebudayaan dan sosial yang jelas, yaitu

berwujud sebagai :

a. Sebuah komuniti tunggal, berada di tanah milik negara, dan karena itu

dapat digolongkan sebagai hunian liar.

b. Satuan komuniti tunggal yang merupakan bagian dari sebuah RT atau

sebuah RW.

40
c. Sebuah satuan komuniti tunggal yang terwujud sebagai sebuah RT atau

RW atau bahkan terwujud sebagai sebuah Kelurahan, dan bukan hunian

liar.

5. Penghuni permukiman kumuh secara sosial dan ekonomi tidak homogen,

warganya mempunyai mata pencaharian dan tingkat kepadatan yang

beranekaragam, begitu juga asal muasalnya. Dalam masyarakat permukiman

kumuh juga dikenal adanya pelapisan sosial berdasarkan atas kemampuan

ekonomi mereka yang berbeda-beda tersebut.

6. Sebagian besar penghuni permukiman kumuh adalah mereka yang bekerja di

sektor informal atau mempunyai mata pencaharian tambahan di sektor

informil.

Sedangkan ciri-ciri permukiman kumuh menurut Khomarudin (1997) adalah

sebagai berikut :

1. Lingkungan yang berpenghuni padat (melebihi 500 orang per Ha);

2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah;

3. Jumlah rumahnya sangat padat dan ukurannya dibawah standar;

4. Sarana prasarana tidak ada atau tidak memenuhi syarat teknis dan kesehatan;

dan

5. Hunian dibangun diatas tanah milik negara atau orang lain dan diatur

perundang-undangan yang berlaku

Khomarudin (1997) juga menggambarkan lingkungan kumuh sebagai berikut :

1. Lingkungan permukiman yang kondisi tempat tinggal atau tempat huniannya

berdesakan;

2. Luas rumah tidak sebanding dengan jumlah penghuni;

3. Rumah hanya sekedar tempat untuk berlindung dari panas dan hujan;

41
4. Hunian bersifat sementara dan dibangun di atas tanah bukan milik penghuni;

5. Lingkungan dan tata permukimannya tidak teratur tanpa perencanaan;

6. Prasarana kurang (mck, air bersih, saluran buangan, listrik, jalan lingkungan);

7. Fasilitas sosial kurang (sekolah, rumah ibadah, balai pengobatan);

8. Mata pencaharian yang tidak tetap dan usaha non-formal; dan

9. Pendidikan masyarakat rendah.

3. Faktor Penyebab Meningkatnya Jumlah Kawasan Kumuh

Penyebab adanya kawasan kumuh atau peningkatan jumlah kawasan kumuh

yang ada di kota menurut Suparlan (1997) (dalam Jawas Dwijo Putro, 2011: 22)

adalah sebagai berikut :

1. Faktor Ekonomi Seperti Kemiskinan dan Krisis Ekonomi

Faktor ekonomi atau kemiskinan mendorong bagi pendatang untuk

mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kota-kota. Dengan

keterbatasan pengetahuan, keterampilan, dan modal, maupun adanya

persaingan yang sangat ketat di antara sesama pendatang maka

pendatang-pendatang tersebut hanya dapat tinggal dan membangun

rumah dengan kondisi yang sangat minim di kota-kota. Di sisi lain

pertambahan jumlah pendatang yang sangat banyak mengakibatkan

pemerintah tidak mampu menyediakan hunian yang layak.

2. Faktor Bencana

Faktor bencana dapat pula menjadi salah satu pendorong perluasan

kawasan kumuh. Adanya bencana, baik bencana alam seperti misalnya

banjir, gempa, gunung meletus, longsor maupun bencana akibat perang

42
atau pertikaian antar suku juga menjadi penyebab jumlah rumah kumuh

meningkat dengan cepat.

Menurut Khomarudin (1997) penyebab utama tumbuhnya permukiman kumuh

adalah sebagai berikut :

1. Urbanisasi dan migrasi yang tinggi terutama bagi kelompok masyarakat

berpenghasilan rendah;

2. Sulit mencari pekerjaan;

3. Sulitnya mencicil atau menyewa rumah;

4. Kurang tegasnya pelaksanaan perundang-undangan;

5. Perbaikan lingkungan yang hanya dinikmati oleh para pemilik rumah serta

disiplin warga yang rendah; dan

6. Semakin sempitnya lahan permukiman dan tingginya harga tanah.

4. Macam-Macam Kawasan Kumuh

Permukiman kumuh dipilah atas tiga macam berdasarkan asal atau proses

terjadinya, yaitu (Sutanto, 1995) :

4.1 Kumuh Bangunan (created)

Kumuh bangunan (created) yaitu daerah hunian masyarakat

ekonomi lemah dengan ciri fisik sebagai berikut :

1. Bangunan mudah dipindah;

2. Dibangun dengan bahan seadanya; dan

3. Sebagian besar dibangun sendiri oleh penghuni (kumuh sejak

awal).

4.2 Kumuh Turunan (generated)

43
1. Rumah-rumah yang semula dibangun dengan ijin, pada bagian

kota yang lama, kondisinya semakin memburuk sehingga menjadi

rumah kumuh;

2. Desa lama yang terkepung oleh pemekaran kota yang cepat; dan

3. Bangunan dan prasarana merosot oleh kurangnya pemeliharaan.

4.3 Kumuh dalam Proyek Perumahan (in project housing)

1. Kelompok proyek perumahan yang disediakan oleh badan

pemerintah bagi masyarakat ekonomi lemah;

2. Rumah-rumah diperluas sendiri oleh penghuni dengan

pemeliharaan sangat jelek yang mengakibatkan kemerosotan jasa

prasarana.

44
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan guna mendapatkan sesuatu yang dilakukan atau

diteliti secara sistematis, terencana dan mengikuti konsep ilmiah yang ada. Motode

penelitian yang sesuai dengan pokok permasalahan dan tujuan penelitian sangat

diperlukan dalam suatu penelitian, fungsinya adalah agar diperoleh data yang relevan

dengan permasalahan penelitian. Adapun pedekatan yang digunakan dalam penelitian

ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono (2016; 9) metode penelitian

kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,

digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah

eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan

data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif,

dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dan generalisasi.

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu penelitian

deskriptif. penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang berupaya untuk

mendeskripsikan atau memberikan gambaran dan menguraikan keadaan dengan

sebenarnya terjadi berdasarkan dengan fakta-fakta yang ada. Peneliti menggunakan

metode penelitian deskriptif agar dapat mendeskripsikan subyek atau obyek peneliti

berdasarkan fakta-fakta yang ada dilapangan. Alasan peneliti menggunakan jenis

penelitian kualitatif ini karena pada proses dan jenis penelitian kualitatif dipandang

lebih mendukung dan memberi arti dalam menyerap masalah yang berkaitan dengan

fokus penelitian.

45
B. Fokus Penelitian

Menurut Moleong (2007) fokus penelitian adalah penetapan masalah yang

menjadi pusat perhatian pada suatu penelitian. Fokus penelitian sangat penting dalam

penelitian yang bersifat kualitatif. dengan penetapan fokus yang jelas, peneliti dapat

membuat keputusan yang tepat tentang data mana yang dikumpulkan dan mana yang

tidak diperlukan atau mana yang akan dibuang.

Fokus penelitian yang telah ditetapkan dalam penelitian ini antara lain :

1. Jalannya implementasi kebijakan pembangunan rusunawa dalam rangka

menghindari rumah kumuh di Kota Pasuruan yang meliputi :

a. Mekanisme kebijakan yang dilakukan

b. Manfaat yang dirasakan masyarakat Kota Pasuruan khususnya

masyarakat di lingkungan kumuh.

c. Hasil yang telah didapat oleh pemerintah Kota Pasuruan.

2. Hambatan dalam penerapan implementasi kebijakan pembangunan

rusunawa dalam rangka menghindari rumah kumuh di Kota Pasuruan.

3. Dampak yang ditimbulkan dari adanya kebijakan pembangunan rusunawa

di Kota Pasuruan.

C. Lokasi dan Situs Penelitian

Lokasi penelitan ini berkaitan dengan tempat yang dipilih sebagai objek

penelitian. Lokasi penelitian adalah tempat dimana sebenarnya peneliti menangkap

fenomena dari objek yang diteliti untk memperoleh data atau informasi yang

diperlukan. Pada penelitian ini, lokasi yang telah ditentukan oleh penulis adalah Kota

Pasuruan Provinsi Jawa Timur.

46
Sedangkan situs penelitian adalah objek yang akan dilakukan penelitian. Situs

penelitian merupakan tempat atau peristiwa yang didalamnya peneliti dapat

mengamatai keadaan sebenarnya dari objek penelitian. Berkaitan dengan hal tersebut

yang menjadi situs penelitian adalah Dinas Perumahan dan Perumahan Rakyat dan

Kawasan Permukiman Kota Pasuruan karena penelit tertarik dan memiliki rasa

penasaran yang tinggi terhadap implementasi kebijakan pembangunan rusunawa di

Kota Pasuruan.

D. Sumber dan Jenis Data

Adapun sumber data yang penulis gunakan dalam rangka menyusun skripsi ini

adalah sebagai berikut :

1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan mengadakan penelitian

secara langsung dengan sumber data melalui proses wawancara secara

langsung. Adapun sumber data informan yang terkait dengan penelitian ini

adalah sebagai berikut:

a. Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota

Pasuruan.

b. Kepala Bidang

c. Masyarakat

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari kariawan, arsip atau

catatan secara literature yang ada pada Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan

Permukiman Kota Pasuruan maupun yang diperoleh penulis sendiri. secara

spesifik dapat dilihat dari struktur organisasi, visi-misi, dan tupoksi Dinas

47
Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pasuruan. Sedangkan

sumber data yang diperoleh penulis adalah dari dukumen Dinas Perumahan

Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Pasuruan serta media elektronik

(internet) dan buku-buku penunjang.

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2016; 137) terdapat dua hal utama yang mempengaruhi

kualitas data hasil penelitian, yaitu, kualitas instrumen penelitian dan kualitas

pengumpulan data. Kualitas instrumen penelitian berkenaan dengan validitas dan

reliabilitas instrumen dan kualitas pengumpulan data berkenaan ketepatan cara-cara

yang digunakan untuk mengumpulkan data. Oleh karena itu instrumen yang telah

teruji validitas dan reliabilitasnya, belum tentu dapat menghasilkan data yang valid

dan reliabel, apabila instrumen tersebut tidak digunakan secara tepat dalam

pengumpulan datanya. Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan oleh

peneliti adalah :

1. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesific bila

dibandingkan dengan teknik yang lain. Menurut Sutrisno Hadi (1986) dalam

Sugiyono (2016) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses

yang kompleks, stuatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan

psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan

dan ingatan. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan bila,

penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala

alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

2. Wawancara

48
Menurut Sugiyono (2016; 137) wawacara digunakan sebagai teknik

pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk

menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin

mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah

respondenya sedikit/kecil.

3. Dokumentasi

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan alat bantu dalam proses penelitian karena

digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data. Dalam hal mendukung

proses pengumpulan data dan memperoleh data yang diinginkan, peneliti

menggunakan instrumen berupa :

1. Peneliti sendiri, yaitu dengan cara melihat dan mengamati secara langsung

peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek penelitian.

2. Pedoman wawancara atau interview guide, digunakan sebagai kerangka dasar

dalam melakukan wawancara agar wawancara yang digunakan peneliti tetap

terarah dan tetap menjaga relevansi terhadap masalah dalam penelitian.

Perangkat penunjang, meliputi buku catatan, alat tulis menulis, dan alat bantu lain

untuk merekam serta mencatat data-data yang diperlukan dalam penelitian.

G. Analisis Data

Dalam hal analisis data kualitatif, Bogdan dalam Sugiyono (2016; 244)

menyatakan bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-

49
bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat diinformasikan

kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengoranisasikan daa,

menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola,

memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang

dapat diceritakan kepada orang lain.

Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah model interaktif oleh Miles

dan Huberman, Menurut Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2016; 246),

mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara

interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya

sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data condensation, data display, dan

conclution drawing/verification.

Data
Collection Data Display

Data
Reduction
Conclusion Drawing
/ Verification

Gambar 2
Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif
Sumber : Miles dan Huberman

1. Pengumpulan Data (Data Collection)

Tahap pengumpulan data peneliti menggunakan teknik yaitu wawancara,

observasi dan dokumentasi. Penggumpulan data degan cara observasi dan

50
dokumentasi bertujuan sebagai bahan penunjang yang memperkuat data-data

wawancara yang dibutuhkan untuk penelitian. Peneliti dalam tahap ini

melakukannya secara berulang-ulang sehingga data yang dikumpulkan lengkap

dan relevan dengan penelitian.

2. Reduksi Data (Data Reduction)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu

segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti

merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang

penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan

memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk

melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

3. Penyajian Data (Data Display)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data.

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dengan bentuk uraian

singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini

Miles dan Huberman (1984) menyatakan yang paling sering digunakan untuk

menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat

naratif. Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami

apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah

difahami tersebut.

4. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing/Verification)

Langkah terakhir dari analisis data kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan

verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan

akan berubah bila tidak ditemukannya bukti-bukti yang kuat yang mendukung

pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang

51
dikemukakan pada tahap aawal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan

konsisten, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang

kredibel.

Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat

menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga

tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah

dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah

penelitian berada di lapangan.

52