Anda di halaman 1dari 13

JUKEMA

Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67


, Februari 2000: 0 - 0
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP STATUS MORBIDITAS
BALITA DI DAERAH TERTINGGAL 2008

The Effect of Environment for Children Under-Five Morbidity Status in


Disadvanteged Region 2008

Felly philipus Senewe 1, Anwar Dede Musadad 2 dan Helper Sahat P Manalu 3
1
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl Muhammadiyah No.91,
batoh,lueng bata,kota banda aceh,23117, Indonesia
2
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl Muhammadiyah No.91,
batoh,lueng bata,kota banda aceh,23117, Indonesia
3
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Aceh, Jl Muhammadiyah No.91,
batoh,lueng bata,kota banda aceh,23117, Indonesia
1
ratnadewipurnama31@gmail.com, 2ratnadewipurnama31@gmail.com, 3r atnadewipurnama31@gmail.com

ABSTRAK

Masalah Penelitian Status Morbiditas anak balita berhubungan dengan beberapa faktor yaitu faktor pada ibu
hamil atau melahirkan dengan faktor dari bayi / balita. Anak balita yang hidup dirugikan daerah memiliki status
kesejahteraan yang kurang baik. Dalam RPJMN 2004-2009 menunjuk 199 kabupaten sebagai daerah tertinggal.
Jumlah wilayah secara kuantitatif tetap sebanyak 44% dari 457 kabupaten/kota di Indonesia. Tujuan Penelitian
Tujuan analisis adalah untuk mengetahui pengaruh faktor penentu dengan status rnorbiditas balita di wilayah
tertinggal. Metode Metode yang digunakan adalah data Penelitian Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007
dengan jumlah sampel sebanyak 42.585 balita di daerah tertinggal. Melakukan analisis univariat dan bivariat
Chi-square. Hasil Hasil anak di bawah lima prevalensi di wilayah tertinggal sebesar 58, l%, (58,3%),
penggunaan air minum keluarga <20 liter (58,5%), kualitas fisik air tercemar (60,1%), pengolahan air sebelum
diminum tidak dimasak 59,4%). Ada juga air dalam ruangan dari pembuangan bahan limbah berbahaya di
rumah tangga (58,9%). Faktor risiko terbesar terkait status morbiditas balita adalah tingkat pendidikan rendah
untuk kepala keluarga (OR 1, 184), kualitas air minum yang tercemar (OR I,100), tingkat sosial ekonomi rumah
tangga miskin (OR l, 082), pengolahan air sebelum diminum tidak dimasak (OR 1.072), keberadaan bahan
berbahaya dan racun (B3 dalam rumah tangga (polusi air dalam ruangan) sebesar OR 1.072, secara statistik
memiliki arti (p <0,05).

Kata kunci: Balita, Daerah Tertinggal, Lingkungan, Air Bersih

ABSTRACT

Research Problems Morbidity status of children under five associated with several factors, namely factors in
pregnant or childbearing mothers with factors of infants / toddlers. Under-five children who live disadvantaged
areas have poor welfare status. In the 2004-2009 RPJMN appointed 199 districts as disadvantaged areas.
Quantitative number of areas remains as much as 44% of the 457 districts / cities in Indonesia. Research
Objectives The purpose of the analysis is to determine the influence of determinants with the status of infant
childbirth in the disadvantaged areas. Method The method used is the Basic Health Research (RISKESDAS)
2007 with the number of samples of 42,585 under-five children in disadvantaged areas. Conducting univariate
and Chi-square bivariate analyzes. Results Results children under five prevalence in underdeveloped areas were
58, l%, (58.3%), drinking water use family <20 liters (58.5%), physical quality of contaminated water (60.1%),
water treatment before drinking not cooked 59.4%). There is also indoor water from disposal of hazardous
waste materials in households (58.9%). The biggest risk factors related to under-five morbidity status were low
education level for head of household (OR 1, 184), quality of contaminated drinking water (OR I, 100), socio-
economic level of poor household (OR 1, 082), water treatment before drunk (OR 1.072), the presence of
hazardous and toxic substances (B3 in households (indoor water pollution) of OR 1,072, statistically meaning
(p <0.05).

Keywords: Children under five disease, disadvantaged region. environment, clean water

54
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
PENDAHULUAN Kor 2004, ditemukan di daerah tertinggal
angka kematian bayi sebesar 42/1000 KH,
Kesehatan bayi di bawah lima tahun angka kematian anak balita sebesar
(balita) di Indonesia sampai sekarang ini 12/1000 KH, dan angka kernatian balita
masih jauh dari keadaan yang diharapkan sebesar 54/1000 KH, serta tingkat
karena masih cukup besar jumlah balita kemiskinan sebesar 40,4%. Dengan data
yang meninggal. Kematian balita masih Surkesnas 2004 ditemukan prevalensi balita
cukup tinggi yakni 46/1000 kelahiran hidup yang rnenderita sakit dalam bulan terakhir
selama periode tahun 1998-2002 (SDKJ sebesar 29,6%, (Senewe (I) 2006; Senewe
2002/2003) dan sedikit menurun rnenjadi (2) 2006; Senewe (3), 2006). Riset
44/000 kelahiran hidup selama periode Kesehatan Dasar yang disingkat Riskesdas
tahun 2002-2007(SDKJ 2007). Balita yang tahun 2007 itu merupakan riserberbasis
tinggal didaerah tertinggal mempunyai masyarakat yang dilaksanakan oleh Badan
status kesehatan yang kurang baik. Penelitian dan Pengernbangan Kesehatan
(SDKI,2002/2003; SOK, 2007). Depkes RI pada tahun 2007. Riset ini
Daerah tertinggal adalah daerah didasarkan pada kebutuhan informasi dasar
kabupaten yang relatif kurang berkernbang untuk Indonesia tentang berbagai indikator
dibandingkan daerah lain dalam skala kesehatan yang menjadi komitmen global
nasional dan berpenduduk yang relatif maupun nasional seperti indikator yang
tertinggal. Suatu daerah dikategorikan disepakati dalarn Millenium Development
sebagai daerah tertinggal karena beberapa Goals (MDGs), Grand Strategy
faktor penyebab antara lain faktor Departemen Kesehatan, Renstra
geografis, daerah tertinggal relatif sulit Departemen Kesehatan dan Standar
dijangkau karena letaknya yang jauh di Pelayanan Minimum (SPM) bidang
pedalaman perbukitan/pegunungan, kesehatan. Badan Litbangkes, 2007;
kepulauan, pesisir, dan pulau-pulau Balitbangkes, 2005; Renstra Depkes, 2005;
terpencil sehingga sulit dijangkau oleh WH0,2003; UNDP ,2003).
jaringan baik transportasi maupun media indikator-indikator kesehatan yang
kornunikasi atau jangkauan pelayanan telah dicapai, Surmber data yaitu data
kesehatan, (Stranas Pembangunan Daerah Riskesdas 2007, data Susenas Kor 2007,
Tertinggal, 2004). (Balitbangkes, 2007; Mosley, 1984;
Pembangunan daerah tertinggal McCarthy, 1992).
merupakan upaya terencana untuk Tujuan analisis ini adalah untuk
mengubah suatu daerah yang dihuni oleh rnengetahui pengaruh faktor lingkungan
komunitas dengan berbagai permasalahan dengan status morbiditas balita di daerah
sosial ekonomi dan keterbatasan fisik, tertinggal. Dengan analisis secara deskriptif
menjadi daerah yang maju dengan analisis univariat dan bivariat Chi-square
kornunitas yang kualitas hidupnya sama dari data Riskesdas ini maka diharapkan
atau tidak jauh tertinggal dibandingkan dapat dipergunakan oleh pengambil
dengan masyarakat Indonesia lainnya. kebijakan baik ditingkat Provinsi dan
Dalam RPJMN 2004-2009 telah Kabuparen/Kota maupun di tingkat
ditetapkan 199 kabupaten sebagai daerah Nasional untuk melihat seberapa pengaruh
tertinggal, Secara kuantitatif jumlah daerah kesehatan Balita khususnya kebijakan di
tertinggal tersebut adalah sebanyak 44% daerah tertinggal .
dari 457 kabupaten/kota di Indonesia, (fr.
H. M. Lukman Edy, M.Si, 2008; Kesehatan
daerah tertinggal, 2007).
Dari analisis lanjut sebelumnya
dengan menggunakan data Susenas
55
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
(kemiskinan).
KERANGKA KONSEP
Karaktristik demografi
-umur
-jenis kelamin
-perkotaan/perdesaan
-provinsi/kab
-pendidikan Status morbiditas Penyakit
-pekerjaan orang tua balita di daerah tertinggal
(sakit / tidak )
Lingkungan
-sanitasi lingkungan (akses
air bersih )
-pengolahan air minum
-B3 indoor air pollution

Analisis ini rnenggunakan surnber data


Akses air bersih ditanyakan pada RT jumlah
sekunder yaitu :data Riskesdas 2007 dan
pemakaian air untuk keperluan RT dan
data Susenas Kor 2007 (dari BPS). Data
berapa jarak/lama waktu yang dibutuhkan
dimerging antara data Susenas Kor 2007
untuk memperoleh air (pulang-pergi)
dan Riskesdas 2007 kernudian dilakukan
dalam jarak: (KM) dan lama (menit). Status
analisis deskriptif dan krostabulasi antara
morbiditas balita diukur dari keluhan
variabel. Populasi adalah seluruh balita
balita pemah menderita sakit menular
yang berada di kabupaten/kota di
atau penyakit tidak menular dalam I bulan
Indonesia.
atau l tahun terakhir. Status Morbiditas
dihitung secara score, artinya jika ada
BAHAN DAN CARA
keluhan ('ya') maka dicatat sebagai
pernah sakit. Berdasarkan tingkat
Berdasarkan kerangka pikir
pelayanan, kategori tersebut dinyatakan
kelangsungan hidup ibu dan anak,
sebagai 'tidak akses','akses kurang', 'akses
Faktor terkontaminasi dengan lingkungan
dasar', 'akses menengah', dan 'akses
sekitar dapat berbagai faktor antara
optimal'. Risiko kesehatan masyarakat,
lain polusi dari dalam lingkungan rumah
Pada kelompok yang akses terhadap air
(indoor polution) atau dari luar lingkungan
bersih rendah ('tidak akses' dan 'akses
rumah (outdoor pollution). [Sumber:
kurang') dikategorikan sebagai mempunyai
Mosley and Chen (1984), McCarthy and
risiko tinggi.
Maine (1992) dan SKN (2004).
Sampel adalah semua balita dalam
HASIL
blok sensus yang merupakan sampel
Riskesdas dan berada di 199 kabupaten/kota
Karakteristik demografi balita dan
daerah tertinggal seluruh Indonesia. Jurnlah orang Tuanya
sampel sebanyak 42.585 balita. Variabel
Demografi: umur, jenis kelamin, menurut status morbiditas balita
perkotaan/perdesaan, kabupaten, provinsi, ditemukan 58,l % balita menderita sakit.
pendidikan dan pekerjaan orang tua balita, Balita yang berada di daerah tertinggal
sanitasi/kondisi lingkungan rumah (akses dengan status sosial ekonomi orang tua
air bersih/air minum, pengolahan air bahan (Ql.Q2) sebesar 52,9%,pemakaian air
berbahaya dan beracun (BJ) indoor perkapita kurang 17,14 liter (23,9%),
pollution) dan sosial ekonomi pemakaian perkapita kurang 20 liter
56
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
(32,6%), kawasan Jawa, Bali (53,2%),

Tabel l, menunjukkan karakteristik balita dan orang tuanya yang berdomisili di daerah
tertinggal,
Karatateristik demografi balita dan % Jumlah
orang tuanya
Status morbiditas balita
sakit 58,1 24747
tidak sakit 41,9 17838
Jenis kelamin
Laki –laki 51,2 21814
Perempuan 48,8 20771
Umur
0 tahun 16,6 7063
1 tahun 19,5 8321
2 tahun 21,1 8982
3 tahun 22,2 9455
4 tahun 20,6 8764
Kawasan
Jawa 53,2 22636
luar jawa bali 46,8 19948
Klafikasi daerah
Perkotaan 16,1 6869
perdesaan 83,9 35716
Kelompok umur gabungan
Bayi 16,6 7063
Balita 83,4 35521
Pendidikan kepala
RT(38945) 4,6 1809
Bekerja tidak bekerja 95,4 37136
Status social ekonomi
Kuintil 1 29,6 12533
Kuintil 2 23,3 9896
kuintil 3 19,4 8240
kuintil 4 15,8 6594
kuintil 5 11,8 4860

Pemakaian air perkapita 17,14 liter


Kurang (<=17,4 liter) 23,9 10066
Cukup(>20liter) 76,1 32040
pemakaian air perkapita 20 liter
kurang (<=20 liter) 32,6 3722
cukup (>20 liter ) 67,4 28365

Kualitas fisik air minum


Tercemar 13,9 5913
Tidak 86,1 36672

Pengolahan air sebelum diminum


Tidak di masak 26,1 11108
Dimasak 73,9 31477

B3 indoor air pollution


Tidak b3 54,4 23146
Tidaj ada 45,6 19439

57
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0

Tabel 2. Persentase Status Morbiditas


Klasifikasi daerah perdesaan (83,9%), Balita di Daearah Tertinggal di Indonesia
umur balita (83,4%), pendidikan KRT Menurut Karakteristik Demografi,
rendah (78,5%), KRT yang bekerja (95,4%), Rikesdas 2007
kualitas fisik air minum tidak tercemar
(86,1 %), pengolahan air di masak sebelum Jumlah balita Status morbiditas Jumla
diminum (73,9%), dan B3 indoor air balita h
% % balita
pollution (54,4%). (sakit) (tidak
Pada Tabel 2, menunjukkan status sakit)
Penyakit pada balita menurut kelompok Kelompok Umur
umur paling banyak. sakit adalah pada 0 Tahun 49,1 50,9 7.063
umur 1 tahun (62,6%) hal ini kemungkinan 1 Tahun 62,6 37,4 8.321
2 Tahun 59,4 40,6 8.982
sudah mulai mendapat makanan 3 Tahun 59,1 40,9 9.455
tambahan, sedangkan pada usia 0 tahun 4 Tahun 58,8 41,2 8.764
masih cukup kecil karena kemungkinan ada Jenis Kelamin
efek protektif dari ibu pada waktu bayi Laki-Laki 58,7 41,3 21.814
dalam kandungan, Menurut jenis kelarnin Perempuan 57,5 42,5 20.771
temyata laki-laki (58,7%) sedikit lebih
tinggi yang sakit dibandingkan perernpuan
. Sedangkan menurut klasifikasi desa
Klafikasi Desa
ternyata balita yang sakit lebih banyak Perkotaan 57,5 42,5 6.869
tinggal di perdesaan (58,2%) dari pada di Perdesaan 58,2 41,8 35.716
perkotaan. kalau menurut pekerjaan
orangtua ternyata balita banyak yang sakit Pekerjaan RT
pada orang tua yang bekerja sebagai Tdk Kerja/Ibu RT 56,0 44,0 1.809
TNI/POLRI/BUM 53,1 46,9 2.261
buruh (62,6%) dan Wiraswasta/dagang
N 52,9 47,1 1.182
(58,6%) dibandingkan jenis pekerjaan lain Pegawai Swasta 58,6 41,4 6.135
misalnya pembantu RT, Menurut latar Wiraswasta/Dagan 57,7 42,3 22.027
belakang pendidikan orangtua diternukan g 62,6 37,4 5.531
balita yang sakit banyak pada orangtua Petani/Nelayan
yang berpendidikan rendah (tamat SD ke Buruh
Pendidikan Kk
bawah) yaitu 59,6%. Provinsi dengan Tdk Tamat 59,1 40,9 11.187
indikator Kabupaten Tertinggal. SD/Tidak Sekolah 59,6 40,4 12.768
Diternukan persentase balita yang Tamat SD 57,3 42,7 6.638
sakit di atas 70% paling banyak di di Tamat SLTP 55,9 44,1 6.590
kabupaten tertinggal di 3 provinsi yaitu Tamat SLTA 50,7 49,3 1.784
Tamat PT
Banten(7 I ,2%), NTT (71,4%), dan Papua
Barat (70,7%).

58
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0

Tabel 2. Lanjutan Persentase Status Morbiditas Balita

Karakteristik Demografi Status Morbiditas Balita Jumlah Balita


%(Sakit) %(Tidak Sakit)
Provinsi
Di Aceh 63,8 36,2 2.291
Sumatra Utara 57,7 41,3 1.305
Sumatra Barat 54,7 45,3 1.745
Riau 46,4 53,6 564
Jambi 47,2 52,8 503
Sumatra Selatan 50,2 49,8 2.150
Bengkulu 62,3 37,7 950
Lampung 49,9 50,1 2.448
Bangka Belitung 60,8 39,2 281
Kepulauan Riau 52,6 47,4 83
Jawa Barat 61,8 38,2 3.261
Jawa Tengah 51,2 48,8 1.334
Du Yogyakarta 53,1 46,9 479
Jawa Timur 60,5 39,5 3.242
Banten 71,2 28,8 1.750
Bali 56,4 43,6 250
NTB 59,1 40,9 2.905
NTT 71,4 28,6 3.327
Kalimantan Barat 47,7 52,3 1.898
Kalimantan Tengah 54,3 45,7 507
Kalimantan Selatan 64,9 35,1 316
Kalimantan Timur 57,0 43,0 281
Sulawesi Utara 61,5 38,5 112
Sulawesi Tengah 64,9 35,1 1.791
Sulawesi Selatan 58,7 41,3 2.483
Sulawesi Tengara 43,9 56,1 1.391
Gorontalo 65,4 34,6 582
Sulawesi Barat 46,4 53,6 871
Maluku 48,9 51,1 863
Maluku Utara 49,2 50,8 627
Papua Barat 70,7 29,3 626
Papua 56,8 43,2 1.468
Indonesia 58,1 41,9 42.585

Status morbiditas balita dan status Paling banyak balita sakit pada kuintil 1
sosial ekonomi orangtuanya. dan kuintil 2 (miskin) yaitu diatas 58%,
Pada Tabel 3. status penyakit pada kelihatannya faktor status sosial ekonomi
balita menurut status sosial ekonomi RT
cukup berpengaruh pada balita yang sakit

59
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0

Tabel 3. Persentase Status Morbiditas Balita di Daerah Tertinggal Menurut


Status Sosial Ekonomi,Riskesdas 2007

status sosial ekonomi RT Status morbiditas balita Jumlah


(orangtua balita) %(sakit) %(tidak sakit) balita
status social ekonomi RT
kuintil1 58,9 41,1 12.461
kuintil 2 58,8 41,2 9.822
kuintil 3 57,4 42,6 8.188
kuintil 4 57,4 42,6 6.646
kuintil 5 55,5 44,5 4.989

Status morbiditas balita dan Sedangkan menurut rata-rata yang


kesehatan lingkungan kondisi kesehatan ditemukan dari Riskesdas 2007 temyata
lingkungan yang dikaji pada saat ini yaitu akses air bersih yang kurang 17 liter juga
akses air bersih, pengolahan air minum, paling banyak balita yang sakit (58,8%).
kualitas fisik air minum yang tercernar Balita sakit dengan kualitas fisik air
(misalnya bau., berbusa, atau berwarna), minum yang tercemar (rnisalnya bau,
limbah serta golongan bahan berbahaya dan berbusa, atau berwarna) sebesar 60, l %,
beracun (B3). Pada Tabel 4, rnenunjukkan pengolahan air rninum tidak dimasak
Status Penyakit pada balita menurut akses ke (59,4%), dan di dalam rurnah tangga ada
air bersih, <20 liter paling banyak balita yang bahan B3 sebesar 58,9%
sakit (59%). .

Tabel 4. Persentase Status Morbiditas Balita di Daerah Tertinggal Menurut Status


Kesehatan Lingkungan, Riskesdas 2007

60
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
Status morbiditas balita Jumlah balita
status kesehatan lingkungan %(sakit) %(tidak sakit)
pemakaian air perkapita (17ltr)
<=17,14 liter (kurang) 58,8 41,2 10.066
>17,14 (cukup) 57,7 42,3 32,040
pemakain air perkapita (20ltr)
<=20liter (kurang) 59,0 41,0 13.723
>20 liter (cukup) 57,4 42,6 28.365
kualitas fisik air minum
tercemar 60,1 39,9 1913
tidak 57,8 42,2 36.672
pengolahan air sebelum di minum
tidak dimasak 59,4 40,6 11.107
masak 57,7 42,3 31.477
b3 Indoor air pollution
ada 58,9 41,1 23.146
tidak ada 57,2 42,8 19.439

Hubungan faktor morbiditas balita l,082), jenis kelamin laki-laki (OR 1,048),
risiko dengan rnempunyai hubungan Selain itu ada juga kualitas fisik air
dengan variabel status rnorbiditas balita minum yang tercemar (OR I, 100),
yaitu pendidikan KRT yang rendah (OR I, pengolahan air sebelum diminum yang tidak
184 ). Tingkat sosial ekonomi hubungan dimasak (OR 1,072), adanya bahan
antara faktor-faktor yang berhubungan berbahaya dan beracun (B3) dalam rumah
dengan status morbiditas balita di daerah tangga (indoor air pollution) sebesar OR
tertinggal rnenurut analisis bivariat 1,072, konsumsi air RT <20 liter (OR
ditemukan ada beberapa variabel yang 1,067), yang kesemuanya variabel di atas
kepala rumah tangga miskin (OR secara statistik bermakna (p<0,05).

Tabel 5. Hubungan Variabe\Bebas dengan Status Morbiditas Balita di Daerah


Tertinggal, Riskesdas 2007

Status Morbiditas Balita


Variabel Bebas % % total Or 95% CI Nilai P
(sakit) (tidak)
kelompok umur 0,613 0,613 0,68 0,000
bayi (0 thn) 48,7 51,3 6951 0
balita (1-4 thn) 59,4 40,6 35634
klafikasi daerah 0,970 0,921 1,022 0,130
perkotaan 56,0 44,0 5806
perdesaan 57,9 42,1 36779
kawasan 0,975 0,938 0,013 0,102
jawa bali 56,6 43,4 17388
luar jawa bali 58,3 41,7 25197
pendidikan KRT 1,184 1,128 1,244 0,000
rendah (<=SLTP) 58,1 41,9 29945
tinggi(SLTA) 55,3 44,7 9189
pekerjaan KRT 0,918 0,835 1,010 0,042
tidak bekerja 57,1 42,9 1501
bekerja 57,5 42,5 37597
tingkat sossek KRT 1,082 1,041 1,125 0,000
miskin (q1-q2) 58,3 41,7 22429
tidak miskin(q3-q5) 56,5 43,5 19694

61
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
jenis kelamin balita 1,009 1,090 0,008
laki-laki 57,8 42,2 21846 1,048
perempuan 57,4 42,6 20739
pemakaian air perkapita (20 1,067 1,024 1,112 0,001
liter) 58,5 41,5 13912
kurang (<=20 liter) 57,0 43,0 12186
cukup
kualiatas fisik air minum 1,100 1,040 1,164 0,001
tercemar 60,1 39,9 5913
tidak 57,8 42,2 36672
pengolahan air sebelum di 1,072 1,026 1,120 0,002
munum 59,4 40,6 11107
tidak dimasak 57,7 42,3 31477
dimasaki
B3 indoor air pollution 1,070 1,029 1,112 0,000
ada 58,9 41,1 23146
tidak 57,2 42,8 19439

PEMBAHASAN 50% dari kebutuhan dan jumlah serta


fungsi upaya kesehatan bersumber daya
Kesehatan di daerah tertinggal masyarakat (UKBM) rnasih jauh dari
memang menjadi salah satu kebutuhan kebutuhan, Dari permasalahan tersebut
dasar masyarakat (basic need). Tetapi sejauh kelihatan bahwa pernbangunan kesehatan
mana kondisi kesehatan masyarakat tentu antara daerah maju dari daerah tertinggal
kita dapat rnelihatnya sendiri, Tujuan rnengalami kesenjangan cukup signifikan,
pembangunan kesehatan di daerah tertinggal hal itu tentu akan berdampak pada
diarahkan untuk meningkatkan mutu sumber pembangunan manusia Indonesia. Sesuai
daya manusia yang sehat, cerdas dan dengan keterbatasan sumber daya yang
produktif mernelihara dan meningkatkan ada di daerah tertinggal, diperlukan
kesehatan masyarakat akan tercapai bila pendekatan khusus agar terjadi percepatan
derajat kesehatan masyarakat dapat pembangunan di bidang kesehatan untuk
ditingkatkan melalui peningkatan mutu memperkecil jurang kesenjangan
dan jangkauan pelayanan kesehatan yang (disparitas), (Renstra Depkes, 2005).
merata serta mengembangkan kesadaran Dalarn kajian ditemukan prevalensi
dan perilaku hidup sehat di kalangan balita sakit di daerah tertinggal sebesar 5 8,
kehidupan masyarakat (Stranas PDT, 2004). I%. Jika di bandingkan dengan kajian
Pembangunan kesehatan hasil Susenas 2004 diternukan balita sakit
diselenggarakan dengan strategi didaerah tertinggal sebesar 25% (Senewe
pembangunan nasional berwawasan (3),2006), angka ini masih sangat tnggi
kesehatan, profesionalisme, desentralisasi, dan terjadi peningkatan yang cukup
dan jaminan perneliharaan kesehatan signifikan. Prevalensi balita sakit di daerah
rnasyarakat (JPKM) dengan memperhatikan tertinggal sedikit lebih tinggi untuk
berbagai tantangan saat ini dan di masa balita yang tinggal di kawasan Luar Jawa
depan. Di daerah tertinggal, pembangunan Bali dibandingkan kawasan lawa Bali,
kesehatan juga telah dilaksanakan secara juga menurut klasifikasi daerah ada sedikit
bertahap dan berkesinambungan bersama perbedaan balita sakit yang berada di
dengan lintas sektor serta dukungan dari perdesa an sedikit lebih tinggi dari
rnasyarakat maupun swasta, Di sisi perkotaan. Prevalensi ini lebih banyak
Jain upaya ini masih dihadapkan pada pada balita yang sakit dibandingkan pada
beberapa hambatan yang cukup signifikan, bayi. KaJau menurut pendidikan kepala
khususnya di daerah-daerah tertinggal. rurnah tangga (KRT)balita sakit banyak
Ketersediaan bidan desa baru memenuhi ditemukan pada K.RT berpendidikan

62
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
rendah (<SLTA), sedangkan menurut kajian ini faktor lingkungan yang sehat
pekerjaan tidak ada perbedaan KRT yang dengan tersedianya akses air bersih
bekerja atau tidak. Menurut tingkat pada setiap rumah tangga, hal ini sangat
pengeluaran rumah tangga per kapita penting agar supaya lebih banyak bayi
temyata balita sakit lebih banyak pada dan balita yang tinggal di daerah tertinggal
kelompok miskin (q1-q2) dibandingkan tercukupi untuk air bersih.
tidak miskin. Balita sakit ditemukan Akses ini juga sangat penting untuk.
lebih tinggi pada riwayat persalinan kernudahan mendapatkan air yang cukup
pernah ditolong oleh tenaga non tiap keluarga, akses air bersih dao air
kesehatan (dukun bayi). Balita sakit juga minum yang secara kualitas fisik tidak
temyata mempunyai akses pemakaian air tercemar sehingga penduduk juga
bersih yang kurang ( <20 liter). terlindungi akan konsurnsi air yang bersih.
Balita sakit ternyata untuk akses ke Program kesehatan lingkungan di daerah
fasilitas kesehatan pemerintah maupun ke tertinggal harus ditingkatkan misalnya
upaya kesehatan berbasis masyarakat jumlah penduduk yang memperoleh
rnasih sangat sulit/jauh. Balita sakit juga airbersih, jurnlah penduduk buang air besar
tidak rnemiliki buku KIA dan tidak ada di jamban saniter atau jumlah rumah yang
kunjungan petugas kesehatan untuk memenuhi syarat kesehatan baik (Srranas
neonatal (KNI). Bali ta sakit sebagian besar PDT, 2004).
kua\itas fisik air tercemar (berbau., Menurut WH0 2003, jumlah
berwarna, berasa dll), juga pengolahan pemakaian air bersih rumah tangga per
air sebelum di minum tidak dimasak kapita sangat terkait dengan risiko
dan di dalam rumah tangga ada bahan. kesehatan masyarakat yang berhubungan
Dari analisis bivariat ditemukan faktor dengan h.igiene. Rerata pemakaian air
yang paling signifikan mempunyai bersih individu adalah rerata jumlah
hubungan untuk terjadinya balita sakit pemakaian air bersih rumah tangga dalarn
yaitu pemakaian air bersih yang kurang 20 sehari dibagi dengan jurnlah aoggota
liter per kapita balita tidak mendapat rumah tangga. Riskesdas 2007
vitamin A, balita tidak mendapat imunisasi rnenunjukkan secara nasional, terdapat
BCG dan akses untuk ke fasilitas kesehatan 16,2% rurnah tangga yang pemakaian air
rawat jalan tidak tersedia. Wilayah bersihnya masih rendah (5,4% tidak akses
Indonesia memiliki 6% dari persediaan air dan 10,8% akses kurang), berarti
dunia atau sekitar 21% persediaan air Asia mempunyai risiko tinggi untuk mengalami
Pasifik. Namun dernikian, kelangkaan dan gangguan kesehatan/penyakit. Sebesar
kesulitan mendapatkan air bersih dan 26,9% rumah tangga mempunyai akses
layak pakai menjadi permasalahan yang dasar (minimal) 25,3% akses rnenengah,
mulai muncul di banyak tempat, dan 31,6% akses optimal. Bila rnengacu
kecenderungan konsumsi air naik secara pada kriteria Joint Monitoring Program
cepat sedangkan ketersediaan air bersih WHO-Unicef, di mana batasan minimal
cenderung menurun akibat kerusakan alam akses untuk konsumsi air bersih adalah 20
dan pencemaran. Sekarang itu pemenuhan liter/orang/hari, rnaka secara nasional akses
kebutuhan air bersih telah rnenjadi hal terhadap air bersih menurut jumlah
yang sangat mendasar. Ada beberapa pemakaian air per orang per hari adalah
kabupaten di daerah Papua, NTT, NTB, 83,8%, atau rnengalami penurunan
Sultra, Sulteng, Jambi dan Kaltim dibandingkan data tahun 2004 sebesar
jumlah curah hujannya kurang dari 1000 m 88,7%. Sedangkan persentase nasional
selama tahun 2005, Seperti curah hujan rumahtangga dengan rerata pemakaian air
yang rendah rnaka potensi sumber daya bersih per orang per hari < 20 liter adalah
air permukaan dan air tanah juga rendah 14,4%, (UNDP, 2003; PODES,2005)
(Kemeneg LH,2005). Berdasarkan hasil
63
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
KESIMPULAN DAN SARAN daerah tertinggal harus melibatkan sektor
lain.
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
Dari hasil yang ditemukan rnaka
dapat diambil kesirnpulan bahwa kondisi 1. Badan Litbang Depkes RI: ‘Panduan
balita di daerah tertinggal adalah sebagai penyusunan proposal - protokol,
berikut: Prevalensi balita sakit di peuilaian proposal dan laporan
daerah tertinggal sebesar 58, I%, sebagian akhir penelitian’, tahun 2005.
besar ditemukan pada kelompok umur 1 2. Badan Litbang Depkes RI: ‘Pedom1111
tahun dan kecil pada usia bayi. pewawancara Riskesdas dan
Kuesioner RKD07’.RT dan RKD07
1. Prevalensi penyakit pada balita .Indonesia tahun 2007.
banyak ditemukan di kawasan luar 3. Lukman Edy, H.M., M.Si.,
Jawa-Bali(58,3%), tinggal perdesaan ‘Evaluasi 3 tahun daerah
(57,9%),kualitas fisik air yang tertinggal’, Januari 2008
tercemar (60,1%), pengolahan 4. Kementerian Negara lingkungan Hidup
airsebelum diminum tidak dimasak 2005, ‘Status Lingkungan Hidup
(59,4%), dan ada 83 Indoor air Indonesia 2005’, Jakarta.
pollution. 5. KesehatanTertinggal
2. Faktor risiko yang paling besar http://www.lukman-
berhubungan dengan status edy.web.id/article/2/tahun/2007/bulan/12
morbiditas balita yaitu pendidikan /tanggal/13/id/89. desember 2007.
KRT yang rendah (OR 1,184), 6. McCarthy, James and Deborah Maine.
kualitas fisik air minum yang
‘A framework for analyzing the
tercernar (OR 1,100), Tingkat sosek
determinants of maternal mortality’.
KRT miskin (OR 1,082), pengolahan
In studies of Family Planning, 23 ()):
air sebelurn diminwn yang tidak
dimasak (OR 1,072), adanya bahan 23-33, 1992
berbahaya dan beracun (B3) d.alam 7. Mosley, W Henry and Lincoln C Chen.
rumah tangga (indoor air pollution)'; ‘An analytical framework for study
sebesar OR 1,072,yang kesemuanya of child survival in developing
variabel di atas secara statistik countries’. In Population and
berrnakna (p<0,05). Development Reviews IO
(suppl):2245,1984
Saran 8. PODES 2005, ‘Survei Potensi Desa,
BPS 2005’.
Selanjutnya dari kesimpulan diatas 9. Rencana Strategis DepartemenKesenatan
yang dapat disarankan untuk penentu 2005-2009,Depkes RI tahun 2005
kebijakan dan program kesehatan balita 10. Riskesdas 2007, Badan Litbangkes
baik sektor kesehatan maupun selctor Depkes RI Jakarta2008.
lainnya adalah : 11. Senewe (1), FP., Afifah Tin: ‘Status
Masih tetap perlu mendapatkan Mortalitas Baiita di Daerah
perhatian yang khusus untuk kesehatan Tertinggal tahun 2004’. Jurnal Ekologi
bayi dan balita yang tinggal di daerah Kesehatan, April tahun 2006, vol.5,
tertinggal baik oleh sektor kesehatan no. I, hal.394-402.
maupun dari sektor yang lain dan 12. Senewe (2), FP., Sanjaya: Status Gizi
penyediaan air minum yang cukup untuk Balita di DaerahTertinggal lahun 2004:
keluarga sangat penting apalagi untuk ‘K.ajian Data SKRT 2004
bayi atau balita. Penyediaan air minum di
64
JUKEMA
Vol. 10, No. 1 Maret 2011: 54-67
, Februari 2000: 0 - 0
(Nutritional Status of Under-Five in
Less Developed Areas Analysis of
Household Health Sw,,ey of 2004)’.
Jurnal Penelidan Gizi dan Malcanan
(The Journal of Food and Nutrition
Research), Juni tahun 2006, vol.29 no.
I, hal.48-.55
13. Senewe (3), FP, Pangaribuan, L,
Pritasari ‘Kajian Status Morbiditss
Belita di Daerah Tertinggal
tahun2004’. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan, April tahun 2006, vol.9,
no.2,hai.82-92.
14. Strategi Nasional Pembangunan Daerah
Tertioggal, ‘Materi Negara
Pembangunan Daerah Tertinggal’ , RJ
Jakarta 2004
15. Swvei Dernogrsf Keseheian
Indonesia (SDKl) 2002/2003
16. Survei Dernografi Kesehatan Indonesia
(SDKJJ 2007
17. Susenas 2007, ‘Pedornan Pencacah
Kor dan kuesioner VSEN2007’ .K,
Badan Pus at Statistik (BPS), Jakarta
2007
18. United Nations Development Program.
Human Development Report 2003.
‘Millenium Development Goals
(MDGsJ: a compact among nations to
end human poverty’, New York,
Oxford University Press, 2003.
19. World Health Organization 2003,
‘Milenium Development Goals World
Health Organization’ . Geneva 2003.

65
66