Anda di halaman 1dari 5

Generasi gadget/ Risetnya di Google/ Modal ‘copas’ langsung di-share orang dihujat// Pala lo peyang/

Enak dikemplang/ Otak di pinggang/ Minta ditendang///

Penggalan lirik lagu di atas adalah lirik lagu milik grup band Slank berjudul Pala Lo Peyang. Dalam lagu
itu, grup rock yang digawangi Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ridho (gitar), Abdee (gitar), dan Ivanka (bass)
menyindir pedas fenomena penggunaan media sosial (medsos). Sindiran terkait kecenderungan
penggunaan medos yang kini lebih sering digunakan untuk menebar kebencian dan menyebar berita
bohong alias hoax.

“Ini lagu buat orang-orang yang menyebarkan kebencian, yang menyebarkan berita hoax,” ujar Vokalis
Slank Kaka di Jakarta Convention Center, seperti dilansir Kapanlagi.com

Mungkin, para personil Slank gerah dengan kelakukan orang-orang yang getol membagikan konten hoax.
Slank juga mungkin senewen dengan pengguna medsos yang gemar mem-posting ujaran kebencian
(hate speech) dan provokasi. Meski begitu, two thumbs up buat Slank. Sebab, kejengkelan Slank
terhadap generasi gadget yang alay sekaligus lebay diluapkan dengan berkaya.

Lagu Pala Lo Peyang terdapat dalam album studio ke-22 Slank. Titel album diberi nama sama dengan
single yang liriknya dituliskan di atas. Album baru Slank itu dirilis pada 7 Februari 2017. Sikap Slank yang
sudah dinobatkan sebagai Duta Santri atas fenomena hoax bisa kita jadikan pelajaran. Bahwa, kesal
dengan hoax jangan justru menyebar hoax. Kesal dengan ujaran kebencian jangan melakukan hal serupa.
Akan tetapi, berkaryalah. Hidup Slankers!

Slank bukanlah satu-satunya orang atau kelompok yang gusar dengan wabah hoax dan ujaran kebencian.
Banyak pihak lain yang juga geram dengan fenomena jumud itu. Murka banyak orang atas fenomena
hoax dan ujaran kebencian bisa dimaklum. Sebab sebelumnya, banyak orang yang sudah depresi gara-
gara kisah picisan dalam sinetron Si Boy yang hobi balapan dan acara kontes dangdut yang nyanyinya
sebentar tapi komentar jurinya gak kelar-kelar. Sungguh tayangan yang menyebalkan!

Kembali ke tema hoax. Kemajuan teknologi informasi—diakui atau tidak—memang membawa dua sisi
yang bersebrangan. Ambiguitas kedua sisi itu bisa dikatakan ibarat mata uang koin gopean warna perak.
Koin yang kalau dipakai buat kerokkan sakitnya naudzubillah itu di satu sisi bergambar bunga melati dan
di sisi lain bergambar burung garuda. Kedua gambar itu berlawanan sisi namun dalam satu tempat. Dan
itulah konsekuensi teknologi informasi yang tumbuh dengan pesat.
Di satu sisi, kemajuan teknologi yang membrojolkan medsos adalah “berkah” bagi umat manusia. Sebab
dengan medsos, kita bisa dengan mudah mengakses dan berbagi informasi sekaligus meyambung tali
silaturahmi—termasuk mendapatkan calon istri/suami. Namun dengan medsos pula, kemerosotan moral
dan konflik horizontal rentan terjadi.

Medsos kini lebih banyak dimanfaatkan sebagai arena adu hujat dan saling “sikat”. Kecenderungan saling
serang dan saling menjatuhkan begitu masif di lini masa salah satunya dengan menebar hoax. Netizen—
sebutan untuk pengguna internet—begitu mudah menumpahkan unek-uneknya di medsos. Celakanya,
unek-unek yang ditaburkan netizen di facebook, twitter, instagram, dan jejaring sosial lainnya kadang
tanpa tedeng aling-aling. Habek be sangeunahna ngomong ngacobelo. Tidak jarang, akibat stausnya,
netizen harus berurusan dengan hukum.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Noor Iza
mengatakan, dalam menangani banyaknya sebaran konten negatif di medsos, Kementerian Kominfo
terus melakukan upaya komunikasi secara intensif dengan pihak penyelenggara konten. Berkaitan
dengan penutupan situs konten negatif, Noor Iza mengatakan sudah banyak situs dan konten yang tidak
layak telah ditutup Kementerian Kominfo.

“Sampai sekarang sudah ada lebih dari 774000 situs yang ditutup, lebih dari 3200 akun Twitter yang
ditutup per tahun 2016, Facebook dan Instagram 1300 lebih, file-file video di Youtube 1100 lebih, dan
Telegram ada dua,” paparnya saat Case Conference atas Penanganan Kasus Cyber Pornografi “Official Loli
Candy’s Group” pada Media Sosial Facebook di Kantor KPAI, Jakarta, seperti yang dirilis di website resmi
Kementerian Kominfo Selasa (21/03/2017).

Sedangkan, di situs berita merdeka.com, Noor Izza mengatakan, konten negatif internet setidaknya da 10
kategori. Yaitu pornografi, SARA, penipuan/dagang ilegal, narkoba, perjudian, radikalisme, kekerasan,
anak, keamanan internet, dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Dari kesepuluh kategori itu, konten
pornografi-lah yang paling banyak diblokir.

Tak hanya itu, medsos pun tak luput dari pantauan Kementerian Kominfo. Tiga media sosial, yakni
Twitter, Facebook, dan Youtube terus dimonitor Kementerian Kominfo. Dari ketiganya itu, berdasarkan
data di tahun 2015, pengguna Twitter paling banyak menyebarkan konten negatif dibandingkan dengan
dua medsos lainnya sebesar 1833. Sementara Facebook berjumlah 840 dan Youtube 86.
Kecenderungan hoax dan ujaran kebencian, serta konten negatif lainnya diklaim akibat rendahnya minat
baca (literasi) masyarakat kita. Minat baca (literasi) masyarakat khususnya generasi muda masih sangat
rendah. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menyebut, tingkat
melek literasi buku di Indonesia hanya mencapai indeks 0,001. Ini artinya dari setiap 1000 orang di
Indonesia, hanya satu orang yang gemar membaca. Astagfirullah!

Generasi kita cenderung lebih memilih menghabiskan waktunya dengan bermain telepon genggam,
bermain game online, atau diuk ngajedog terpaku di depan layar televisi. Kegiatan itu membuat generasi
muda otomatis “alergi” terhadap minat baca. Jarang ada generasi muda yang bersedia membedah isi
buku bacaan apalagi melakukan kajian kitab-kitab monumental karya ulama.

Permasalahan kian meruncing saat orang-orang malas melakukan verifikasi informasi. Berita-berita
provokatif yang palsu dan menyesatkan ditelan mentah-mentah. Akibatnya, terjadi kekacauan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia. Keengganan husnudzon itulah yang dimanfaatkan oknum tertentu untuk
membuat judul bombastis.

Padahal, isi berita yang disajikan belum tentu selaras dengan judul yang dikedepankan. Belum lagi,
validitas berita yang diberikan pun belum tentu mengandung kebenaran. Namun, rendahnya minat baca
membuat masyarakat kita terbius dengan judul yang aduhai. Hoax pun laku keras sekeras-kerasnya dan
dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ada juga informasi yang disajikan secara mandiri oleh pemilik akun medsos. Misalnya, pengguna akun
Facebook mem-posting foto tentang korban perang yang dibumbui caption menyentuh. Tidak lupa
ditambah embel-embel “ketik amin”. Ribuan pengguna lainnya pun terbuai dengan postingan itu. Ada
yang manut mengetik “amin” ada juga yang ngacaprak menulis sumpah serapah. Padahal, belum tentu
foto itu sesuai dengan caption-nya.

Atau foto aktor laga Jackie Chan yang mengenakan busana khas Arab. Dalam keterangan foto itu, tertulis
“Subhanallah, Jackie Chan masuk Islam”. Ramai-ramai pengguna medsos mengomentarinya dan tidak
lupa membagikannya. Padahal, foto itu adalah foto salah satu adegan dalam salah satu film besutan
Jackie Chan. Tanpa disaring, informasi yang belum jelas langsung di-sharing.
Ada juga berita berpotensi bohong yang viral di aplikasi pesan seperti Blackberry Messenger (BBM) dan
What’s App (WA). Pesan siaran atau broadcast tentang sesuatu hal nyaris di-share begitu saja. Tanpa
konfirmasi dan kroscek informasi.

Pesan siaran seperti “Waspada saat ini berkeliaran penculik anak….” atau “Dapet dari grup sebelah,
penjaga makam Rasululullah bla, bla, bla..”. Pesan-pesan semacam itu kerap ditambah dengan perintah
“sebarkan” atau “jangan berhenti di kamu”. Kebanyakan, kita langsung menuruti perintah itu. Kita
sebarkan sehingga berita yang tidak jelas kebenarannya semakin viral dan berantai.

Padahal, bagi umat Islam, Allah sudah memperingatkan soal verifikasi berita. Dalam surat Al-Hujarat ayat
6, Allah tegas memerintahkan kita untuk melakukan kroscek atas informasi atau berita yang kita
dapatkan. Perintah Allah untuk meneliti suatu informasi agar kita tidak terkena musibah yang hanya akan
membuat kita menyesal.

Begitu dahsyatnya dampak negatif dari hoax sampai kita diminta untuk berhati-hati dalam menerima
berita. Terlebih, berita yang diterima belum jelas sumbernya. Sehingga, validitasnya pun menjadi sumir.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum
tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” QS. Al-
Hujurat Ayat 6.

Allah jelas memerintahkan kita untuk menjauhi kebohongan. Wajtanibu qoulazzur (dan jauhilah
perkataan-perkataan dusta—QS. Al-Hajj ayat 30). Firman Allah itu—termasuk firman Allah dalam surat
Al-Hujarat ayat 6—semestinya menjadi rambu bagi kita, umat Islam, untuk kritis terhadap informasi yang
diterima.

Namun, justru kita malah menjadi penggandrung hoax. Kita baik secara sadar atau tidak, senang dengan
berita bohong. Robert Feldman, psikolog dari University of Massachusetts mengatakan, kebohongan
memiliki keterkaitan dengan eksistensi diri. Riset yang dimuat dalam Journal of basic and Applied Social
Psychology itu menunjukkan, sedikitnya 60 persen dari orang yang diriset berbohong dalam setiap
perbincangan. Kondisi nyaris sama terjadi di dunia maya. Masyarakat kita sering memoles informasi
sumir dengan kebohongan sehingga menghasilkan hoax berantai.
Sedangkan Dr. Pamela Rutledge dari Director of the Media Psychology Research Center mengatakan, era
teknologi informasi membuat masyarakat rawan terkontaminasi paparan informasi. Gelombang
informasi (berita) yang begitu deras membuat masyarakat semakin malas mencari kebenaran. Kemalasan
itulah yang membuka ruang pelaku hoax melancarkan aksinya.

Perkembangan teknologi digital seperti sosial media menjungkalkan minat membaca. Pernyataan itu
diungkapkan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Waktu yang seharusnya digunakan membaca buku
ternerangus akibat aktivitas berbasis gadget. Sesuatu yang menjadi trending topic atau viral di medsos
adalah sesuatu yang kini dicandui masyarakat kita. Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun
2012 melansir bahwa 91 persen penduduk Indonesia dengan rentang usia 10 tahun ke atas lebih doyan
menonton televisi. Sedangkan mereka yang suka membaca buku hanya 17 persen.

Soal minat baca, Central Connecticut State University mempublikasikan hasil risetnya pada 7 Maret
tahun lalu. Riset bertajuk World’s Most Literate Nations (WMLN) itu merupakan riset yang meneliti
tentang tingkat minat baca (literasi) di hampir seluruh negara di dunia. Hampir 200 negara masuk
menjadi objek penelitian riset itu. Namun, karena keterbatasan data, hasil riset dari 61 negara sajalah
yang dipublikasikan.

Dari 61 negara yang diriset, tentu kita ingin tahu di urutan ke berapa Indonesia dalam peringkat minat
baca. Dan, jeng jeng jeng (efek musik seperti di sinetron), Indonesia duduk di posisi ke-60. Andai tidak
ada negara Botsawana, Indonesia akan menjadi juru kunci dalam urutan ranking minat baca. Ya Allah. Ini
artinya, negara kita tercinta, Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ing madya mangun karya ing ngarsa
sung tulada tut wuri handayani, amat sangat rendah sekali minat bacanya!

Data di atas sangat relevan dengan kecenderungan banyak orang yang seperti kesurupan setan telepon
genggam yang diberi predikat telepon pintar. Hampir seluruh waktunya dihabiskan dengan berselencar di
medsos. Banyak orang yang kini dengan rela hati melibatkan diri dalam diskusi imajiner di medos. Diskusi
yang dangkal dan tidak tuntas sebab yang dibahas kebanyakan konten palsu. Debat pun isinya hanya
saling hujat. Wajar, bila kini hoax laku keras meski hoax bisa membuat nalar menjadi tidak waras.
(Redaksi Majalah Santri).