Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia terkadang pernah mengalami beberapa permasalahan yang dapat membuat


seseorang mengalami kegelisahan. Kegelisahan berasal dari kata gelisah yang berartikan tidak
tentram hatinya atau cemas. Kegelisahan dapat diketahui melalui gejala tingkah laku atau gerak-gerik
seseorang dalam situasi tertentu.

Nyatanya banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi gelisah. Diantaranya ada
perasaan tidak tenang dan lain sebagainya. Timbulnya rasa gelisah didalam diri manusia dapat
disebabkan karena ada rasa takut yang berlebihan karena takut kehilangan atas hak nya dan penyebab
yang lain nya.

Dalam menghilangkan perasaan gelisah, ada beberapa cara yang perlu kita ketahui dalam
mengatasi kegelisahan. Diantaranya dengan bersikap tenang dan memerlukan sedikit pemikiran untuk
intropeksi diri. Apabila kita sudah mengetahui beberapa cara untuk mengatasi kegelisahan, maka
perasaan gelisah dapat dihilangkan atau diatasi. Sesuai dengan penjelasan diatas, di dalam makalah
ini akan lebih dibahas tentang manusia dan kegelisahan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kegelisahan
2. Apa saja yang termasuk sebagai kegelisahan
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu kegelisahan
2. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk sebagai kegelisahan

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 1


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata “gelisah”. Gelisah artinya rasa yang tidak tentram di hati atau
merasa selalu khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas dan sebagainya. Kegelisahan
menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, artinya merasa gelisah,
khawatir, cemas atau takut dan jijik. Rasa gelisah ini sesuai dengan suatu pendapat yang menyatakan
bahwa manusia yang gelisah itu dihantui rasa khawatir atau takut.

Manusia suatu saat dalam hidupnya akan mengalami kegelisahan. Kegelisahan ini, apabila
cukup lama hinggap pada manusia, akan menyebabkan suatu gagguan penyakit. Kegelisahan yang
cukup lama akan menghilangkan kemampuan untuk merasa bahagia.

Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkahlaku atau gerak gerik seseorang dalam
situasi tertentu. Gejala gerak gerik atau tingkah laku itu umumnya lain dari biasanya, misalnya
berjalan mondar-mandir dalam ruang tertentu sambil menundukkan kepala, duduk merenung
sambil memegang kepala, duduk dengan wajah murung,malas bicara, dan lain-lain.kegelisahan
juga merupakan ekspresi dari kecemasan. Masalah kecemasan atau kagalisahan berkaitan juga
dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami
frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.

Bentuk- bentuk kegelisahan manusia berupa keterasingan, kesepian, ketidakpastian.


Perasaan-perasaan semacam ini silih berganti dengan kebahagiaan, kegembiraan dalam kehidupan
manusia. Tentang perasaan cemas ini, Sigmund Freud membedakannya menjadi tiga macam, yaitu :

1. Kecemasan obyektif (kenyataan), kegelisahan ini timbul akibat adanya pengaruh dari luar
atau lingkungan sekitar.
Contoh : Tini seorang ibu muda, mempunyai anak berumur dua tahun, Tina namanya.
Tina tumbuh sehat, lucu, lincah, dan sangat akrab dengan ibunya. Hampir seluruh waktu
Tini tercurahkan untuk Tina. Ia keluar kerja demi Tina, anak yang baru seorang itu. Tiba-
tiba Tina sakit ; muntah-muntah disertai buang air. Tini bingung, anaknya segera dibawa
kerumah sakit. Kata dokter, Tina harus dirawat di rumah sakit dan tidak boleh ditunggui.
Tina menangis terus, tetapi ibunya harus meninggalkannya. Tini gelisah, cemas,
khawatir, memikirkan nasib anaknya. Pada contoh tersebut jelas bagi kita, bahwa

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 2


kecemasan yang diderita oleh ibu Tini adalah karena adanya bahaya dari luar yang
mengancam anaknya.
2. Kecemasan neurotik (saraf). Kecemasan ini timbul akibat pengamatan tentang bahaya
dari naluriah. Menurut Sigmund freud kecemasan ini dibagi dalam tiga macam, yakni :
a) Kecemasan yang timbul akibat penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan
ini timbul karena orang itu takut akan bayangannya sendiri, atau takut akan
idenya sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego.
Contoh : Ujang anak laki-laki berumur 10 tahun, duduk di kelas 4 SD. Pada suatu
hari ia diberi tahu ayahnya bahwa bulan depan ayahnya pindah ke kota lain.
Mereka sekeluarga harus pindah. Sudah tentu ia harus ikut. Jadi, ia harus pindah
sekolah ke kota tempat ayahnya bertugas. Ibunya tampak gelisah, karena ia telah
merasa betah tinggal di tempat itu berkat adanya seorang ibu yang aktif
mengumpulkan dan memajukan ibu-ibu. Lebih-lebih Ujang, karena baik di
kampong maupun di sekolah ia memiliki banyak kawan. Ia takut kalau di tempat
baru kelak ia tidak merasa betah. Namun bila tidak ikut pindah, ia akan ikut
siapa?. Bila ikut pindah, bagaimana suasana di tempat baru nanti?. Ia takut pada
bayangannya sendiri.
b) Rasa takut irasional atau fobia. Rasa takut ini mudah menular sehingga kadang-
kadang tanpa alasan dan hanya karena pandangan saja, yang kemudia dilanjutkan
dengan khayalan yang kuat dan dapat menimbulkan rasa takut.
Contoh : Orang takut ular, binatang berbulu, atau takut lintah. Rasa takut seperti
ini dapat kita tekan, sehingga berkurang, atau hilang sama sekali. Pengalaman
ketika kecil dapat menjadikan anak takut akan sesuatu, seperti benda tajam, takut
darah, dan sebagainya.
c) Rasa takut lain seperti rasa gugup, gagap, dan sebagainya.
Contoh : Seseorang yang tidak bisa menyanyi atau bicara di depan umum, tiba-
tiba diminta untuk menyanyi atau berpidato, ia akan gelisah, gemetar, dan hilang
keseimbangan, sehingga sulit berbicara atau bernyanyi.
3. Kecemasan moral
Tiap pribadi memiliki bermacam-macam emosi, antara lain : iri, benci, dendam, dengki,
marah,takut, gelisah, cinta, rasa kurang (inferiot). Sifat seperti rasa iri, benci, dengki,
dendam dan sebagainya adalah sifat yang tidak terpuji baik diantara sesama manusia,
maupun dihadapan Tuhan. Dengan adanya sifat itu, seseorang akan merasa khawatir,
takut, cemas, gelisah, dan putus asa. Setiap orang memiliki emosi, dan emosi penting

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 3


bagi kemajuan. Namun, emosi tidak terbendung akan menyebabkan perasaan–perasaan
cemas, gelisah, khawatir, benci dan perasaan negative lainnya. Perasaan itu demikian
hebatnya, sehingga dapat mendesak dan mengusir pikiran-pikiran tenang, tentram, segar,
dan damai.
Contoh : Datuk Maringgih iri melihat kemajuan usaha Bagindo Sulaiman, ayah Siti
Nurbaya. Hatinya selalu gelisah, takut usahanya akan mati, kalah bersaing. Karena itu, ia
menyuruh orang agar membakar toko Bagindo Sulaiman.
B. Sebab-Sebab Orang Gelisah

Bila dikaji, sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakikatnya orang takut kehilangan
hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari
dalam.
Contoh :

Bila ada suatu tanda bahaya (bahaya banjir, gunung meletus, atau perampokan), orang tentu
akan gelisah. Hal itu disebabkan karena adanya bahaya yang mengancam akan hilangnya beberapa
hak orang sekaligus, misalnya hak hidup, hak milik, hak memperoleh perlindungan, hak
kemerdekaan hidup, dan mungkin hak nama baik. Misalnya kentongan yang dipukul terus-
menerus dan bersaut-sautan makin lama makin dekat, membuat orang-orang gelisah. Apakah
yang akan terjadi? Meskipun peristiwa belum ada, tetapi hal itu merupakan tanda bahaya.

C. Usaha-Usaha Mengatasi Kegelisahan

Dalam mengatasi kegelisahan diperlukan nilai-nilai agama seperti bersifat qana’ah (berpikir
positif). Pertama-tama harus dimulai dari diri sendiri, yaitu bersikap tenang. Dengan bersikap
tenang, sehingga ketidaksabaran atau kecemasnnya dapat dikurangi dengan berdo’a kepada
Tuhan serta berusaha keras untuk mengatasi hal yang membuatnya menjadi gelisah dan mungkin
segala kesulitan dapat diatasi.

Contoh :

Dokter yang menghadapi anak atau istrinya yang sedang sakit, justru tidak dapat merasa
tenang, karena ada ancaman terhadap haknya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa bila menghadapi
keluarganya yang sakit, karena ia merasa khawatir. Dalam hal ini ia harus bersikap seperti
menghadapi pasien yang bukan keluarganya. Cara lain untuk mengatasi kegelisahan, manusia
diperintahkan untuk meningkatkan iman, takwa, dan amal shaleh. Seperti firman Allah SWT yang
artinya : “sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 4


kesusahan, ia berkeluh kesah, tetapi bila mendapat kebaikan, ia amat kikir, kecuali orang–orang yang
mengerjakan shalat, mereka yang tetap mengerjakan shalatnya, dan orang–orang yang dalam hartanya
tersedia bagian tertentu bagi orang miskin (yang tidak dapat meminta), dan orang– orang yang
mempercayai hari pembalasan, dan orang–orang yang takut terhadap adzab Tuhannya ”. (Q.S. Al-
Ma’aarij : 19-27)

Hanya dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan dan memasrahkan diri kepada Tuhan,
maka hati gelisah manusia akan hilang. Mendekatkan diri bukan hanya dengan cara melalui hubungan
vertikal dengan Tuhan, tetapi juga melalui hubungan horizontal dengan sesama manusia sebagaimana
yang diperitahkan oleh Tuhan.

D. Bentuk-Bentuk Kegelisahan
1. Keterasingan
Keterasingan berasal dari kata terasing, asal kata dari kata dasar asing. Kata asing berarti
sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti tersisihkan dari pergaulan,
terpisahkan dari yang lain,atau terpencil. Jadi, keterasingan berarti hal-hal yang berkenaan
dengan tersisihkan dari pergaulan, terpisah dari yang lain atau terpencil. Apapun makna yang
kita lekatkan pada istilah keterasingan, yang jelas ia merupakan bagian dari hidup manusia.
Sebagai bagian dari hidup manusia, sebagaimana juga kegelisahan, maka keterasingan pun
memiliki sifat universal. Ini berarti bahwa keterasingan tidak pernah mengenal perbedaan
manusia.
Contoh :
Jaksa Penuntut Umum menganggap Tahir Bin Jarot sebagai keturunan penjahat. Ia
menjadi penjahat, karena dalam darahnya mengalir darah penjahat. Ia sangat
berbahaya, karena itu ia harus dibuang ke Nusa Kambangan selama 7 tahun. Di sana
ia mengalami keterasingan.
Murni gadis lincah, bebas, dan pandai bergaul. Kawannya banyak dan hilir mudik
bergantian datang dan mengajak pergi. Pada suatu hari tersiar berita ia mendapat
“kecelakaan”. Sejak itu ia tidak pernah menampakkan diri dan tak ada kawan yang
hilir mudik datang berkunjung dan mengajak pergi. Ia menyembunyikan diri di
kamar, malu keluar. Ia hidup dalam keterasingan.
a) Sebab- sebab keterasingan
Bila kita memperhatikan contoh pertama jelas bahwa Tahrir terasing karena
mendapat hukuman. Mungkin setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan, ia kurang
dapat diterima oleh masyarakat. sedangkan pada contoh yang kedua Murni tidak mau

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 5


bergaul lagi dengan kawan-kawannya, hidup menyendiri, karena malu atas perbuatannya
yang melanggar moral. Jadi, sebab-sebab hidup terasing itu bersumber pada :
1) Perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat, antara lain mencuri, bersikap
angkuh atau sombong. Sikap dan perbuatan seseorang tidaklah mesti sesuai dengan
aspirasi orang lain, lebih-lebih dalam masyarakat yang beragam seperti masyarakat
kita ini, bilamana ketidaksesuaian ini berkembang bisa diduga akan timbul jarak
antara orang satu dengan lainnya. Ketidaksesuaian ini bisa jadi timbul lantaran
seseorang menampakkan sikap dan perbuatan yang di mata orang lain negatif seperti
misalnya sombong, menganggap dirinya lebih tinggi, angkuh, kaku, pemarah, dan
semacamnya.
Sikap yang sejenis dengan angkuh atau sombong ialah sikap kaku, pemarah, dan suka
berkelahi. Sikap seperti itu menjauhkan kawan dan mendekatkan lawan. Orang segan
berkawan dengan orang yang bersikap seperti itu, sebab takut terjadi konflik batin
atau konflik fisik.
2) Sikap rendah diri.
Sikap rendah diri menurut Alex Gunur adalah sikap kurang baik. Sikap ini
menganggap atau merasa dirinya selalu atau tidak berharga, tidak atau kurang laku,
tidak atau kurang mampu dihadapan orang lain. Sikap ini disebut juga sikap minder.
Jadi, bukan orang lain yang menganggap dirinya rendah, tetapi justru dirinya sendiri,
tetapi juga tidak baik bagi masyarakat. Sikap rendah diri disebabkan antara lain
kemungkinan cacat fisik, status sosial-ekonominya, rendah pendidikannya, dan
karena kesalahan perbuatannya.
Keterasingan karena cacat fisik
Cacat fisik tidak perlu membuat hidup terasing karena itu adalah
kehendak Tuhan. Namun, seringkali manusia memiliki jalan pikiran yang
berbeda. Erasa malu anak atau cucunya cacat fisik, maka disingkirkannya
anak tersebut dari pergaulan ramai, hidup dalam keterasingan.
Keterasingan karena sosial-ekonomi
Ekonomi kuat atau lemah adalah anugerah Tuhan. Orang tidak boleh
membanggakan kekayaan dan tidak boleh pula merasa rendah diri karena
keadaan ekonomi yang minim. Namun dalam kenyataan lain keadaannya,
orang-orang yang tergolong lemah ekonominya seringkali merasa
rendah diri. Akibatnya orang-orang kaya sering membanggakan
kekayaannya, meskipun tanpa disengaja.

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 6


Keterasingan karena rendah pendidikan
Banyak juga orang yang merasa rendah diri karena rendah
pendidikannya dan tidak dapat mengikuti jalan pikiran orang yang
berpendidikan tinggi dan banyak pengalaman. Dalam pergaulan orang-orang
yang berpendidikan rendah dan kurang berpengalaman biasanya menyendiri,
mengasingkan diri karena merasa sulit menempatkan diri. Ingin bertanya
takut salah,juga takut ditanya, takut jawabannya tidak benar. Akibatnya ia
menjauhkan diri dari pergaulan.
Keterasingan karena perbuatannya
Orang terpaksa hidup dalam keterasingan karena merasa malu, dunia
rasanya sempit, bila melihat orang, mukanya ditutupi. Itu semua akibat dari
perbuatannya, yang tidak bisa diterima oleh masyarakat lingkungannya.
Banyak perbuatan yang tidak dapat diterima oleh masyarakat.
b) Usaha-usaha untuk mengatasi keterasingan
Keterasingan biasanya terjadi karena sikap sombong, angkuh, pemarah, kaku,
rendah diri, atau karena perbuatan yang melanggar norma hukum. Untuk mengatasi
keterasingan ini diperlukan kesadaran yang tinggi. Orang bersikap demikian karena
menganggap semua yang mereka lakukan adalah benar. Lain halnya dengan orang yang
rendah diri. Orang yang mempunyai sifat ini biasanya sadar akan kekurangannya. Untuk
meningkatkan harga diri, ia harus banyak belajar dan bergaul. Pergaulan itu dilakukan
sedikit demi sedikit dan terus meningkat, sehingga akhirnya menjadi biasa.
2. Kesepian
Kesepian berasal dari kata sepi, artinya sunyi, lengang, tidak ramai, tidak ada orang
atau kendaraan, tidak banyak tamu, tidak banyak pembeli, tak ada apa-apa, dan sebagainya.
Kesepian adalah keadaan sepi atau hal sepi.
Contoh :
Setelah anaknya yang telah menikah itu memiliki rumah sendiri, ibu Hadi
merasa kesepian.

a) Sebab-sebab terjadinya kesepian


Bermacam-macam penyebab terjadinya kesepian. Salah satunya adalah frustasi.
Orang yang frustasi tidak mau diganggu,ia lebih senang dalam keadaan sepi, tidak suka
bergaul, dan sebagainya. Ia lebih senang hidup sendiri.

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 7


Bila kita perhatikan sepintas lalu mungkin keterasingan dan kesepian hampir
serupa, tetapi sebenarnya tidak sama, walaupun keduanya ada hubungannya. Perbedaan
antara keduanya hanya terletak pada sebab akibat. Kesepian merupakan akibat dari
keterasingan dan keterasingan sebagai akibat sombong, angkuh, kaku, keras kepala,
sehingga dijauhi kawan-kawan sepergaulan. Akibatnya, orang yang dijauhi
itu hidup terasing, terpencil dari keramaian hidup sehingga mereka merasa kesepian.
3. Ketidakpastian
Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu (pikirannya) atau
mendua, atau apa yang dipikirkan tidak searah dan kemana tujuannya tidak jelas. Itu semua akibat
pikirannya yang tidak dapat konsentrasi. Ketidakkonsentrasian itu disebabkan oleh berbagai
sebab, yang paling utama adalah kekacauan pikiran. Ketidakpastian atau ketidaktentuan adalah
bagian hidup manusia. Setiap orang hidup pasti pernah mengalaminya. Bahkan anak kecil
sekalipun pernah mengalaminya, misalnya, ketika anak kecil ditinggalkan ibunya, ia menangis
kebingungan. Kebingungan itu menunjukan adanya ketidakpastian, seperti anak ayam yang
kehilangan induknya.
Menurut Siti Meichati dalam bukunya Kesehatan Mental menerangkan beberapa
penyebab seseorang tak dapat berpikir dengan pasti. Sebab-sebab itu ialah :
 Obsesi
Obsesi merupakan gejala neurose jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan
tertentu yang terus menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau
penyebab lain yang tidak diketahui oleh penderita. Misalnya selalu berpikir ada orang
yang ingin menjatuhkan dia.
 Phobie
Yaitu rasa ketakutan yang tak terkendalikan atau tidak normal terhadap sesuatu
hal atau kejadian, tanpa diketahui sebab-sebabnya.
 Kompulasi
Ialah adanya keraguan yang sangat mengenai apa yang telah dikerjakannya,
sehingga ada dorongan yang tidak disadari untuk selalu melakukan perbuatan
perbuatan yang serupa berulang kali.
 Histeria
Ialah neurose jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental kekecewaan,
pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri,
atau sugesti dari sikap orang lain.
 Delusi

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 8


Menunjukan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan keyakinan palsu.
Tidak dapat memakai akal sehat, tidak ada dasar kenyataan dan tidak sesuai dengan
pengalaman.
Delusi ini ada tiga macam, yaitu :
a) Delusi persekusi : menganggap adanya keadaan yang jelek di
sekitarnya. Akibatnya, banyak orang menjauhinya.
b) Delusi keagungan : menganggap dirinya orang penting dan besar.
Orang seperti ini biasanya gila hormat dan menganggap orang di
sekitarnya tidak penting. Akibatnya, semua orang menjauhinya. Jadi,
hampir sama dengan delusi persekusi.
c) Delusi melancholis : merasa dirinya bersalah, hina dan berdosa. Hal
ini dapat mengakibatkan buyutan atau dikenal dengan nama delirium
tremens., hilangnya kesadaran dan menyebabbkan otot-otot tak
terkuasai lagi. Ia kehilangan ingatannya sama sekali, mengalami
tensi tinggi dan mengingat sesuatu yang belum pernah dialami.
 Halusinasi
Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan pancaindera. Seperti para prewangan
(medium) dapat digolongkan pada pengalaman halusinasi. Dengan sugesti diri, orang
dapat juga berhalusinasi. Halusinasi buatan, misalnya dapat dialami oleh orang yang
mabuk atau pemakai obat bius. Kadang-kadang karena halusinasi, orang merasa
mendapat tekanan-tekanan terhadap dorongandorongan itu menemukan sasarannya.
Ini tampak pada perbuatan-perbuatan penderita (penderita itu dapat menyadari
perbuatannya itu, tetapi tidak dapat menahan rangsangan khayalan sendiri).
 Keadaan emosi
Dalam keadaan tertentu, seseorang sangat dipengaruhi oleh emosinya. Jika emosi
telah menguasai keseluruhan pribadinya, ia akan mengalami gangguan nafsu makan,
pusing-pusing, muka merah, nadi cepat, keringat, tekanan darah tinggi/lemah.
Sikapnya bisa apatis atau biasa juga terlalu gembira dengan melampiaskan dalam
gerakan-gerakan lari-larian, menyanyi, tertawa atau berbicara. Sikap ini dapat pula
berupa kesedihan menekan, tidak bernafsu, tidak bersemangat, gelisah, resah, suka
mengeluh, tidak mau berbicara, diam seribu bahasa, atau termenung menyendiri.
Orang seperti ini tidak mungkin dapat berpikir dengan tenang dan baik. Untuk
mengatasi atau menghilangkan pikiran yang kacau itu perlu mencari penyebabnya.

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 9


Andaikata telah diketahui penyebabnya, namun kekacauan pikiran tersebut tidak
hilang, penderita perlu diajak ke psikolog.
E. Manusia dan Kegelisahan
Gelisah tergolong penyakit batin, istimewanya penyakit ini dapat menyerang siapa saja, dari
golongan apa, dan bangsa apapun. Bila dibandingkan dengan rasa takut, daerah operasinya lebih
luas. Sebab orang yang pemberani, tak mungkin diserang oleh rasa takut. Atau orang yang
mempunyai obat penangkal takut juga tidak akan dijamahnya. Umpama orang yang pernah
mengerjakan perbuatan salah sudah pasti tidak akan takut untuk dituntut. Begitu pula seorang
yang kaya, pasti tidak akan takut kelaparan, dan sebagainya. Tetapi walaupun benar, kaya,
pandai, jujur, dan sebagainya pasti akan dilanda perasaan gelisah.

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 10


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kegelisahan merupakan bagian hidup manusia. Tiap manusia, dengan tidak memperdulikan
segala latar belakang dan kemampuannya, pasti akan mengalami kegelisahan, entah sebentar atau
lama, relative ringan ataupun berat. Yang demikian ini boleh jadi sangat wajar mengingat manusia
mempunyai hati dan perasaan.

Adapun bentuk-bentuk kegelisahan berupa keterasingan, kesepian, dan ketidakpastian


mempunyai hubungan yang erat dan mempengaruhi satu sama lain. Keterasingan dalam satu dan
lain kesempatan bisa membuahkan kegelisahan. Dan sebaliknya, kegelisahan yang begitu hebat
bisa saja menimbulkan keterasingan. Kemudian dari keterasingan yang dialami seseorang bisa
saja menciptakan kondisi kesepian dan karena kesepian itupun bisa saja menimbulkan
ketidakpastian. Keterasingan bisa jadi merupakan perilaku sosiopatik dan sikap apatis yang
tidak menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan tidak bisa hidup
sendiri.

Untuk mengatasi kegelisahan yang dialami manusia, cara yang paling ampuh adalah kita
dituntut untuk bersifat qana’ah (berpikir positif) kembalikan semuanya kepada Allah SWT dan selalu
mengingat Dia.

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 11


DAFTAR PUSTAKA

Hari Cahyono, Cheppy. 1987. Ilmu Budaya Dasar. Surabaya : Usaha Nasional.

https://repository.unikom.ac.id/34165/1/BABVIIIMANUSIADANKEGELISAHAN.pdf

Sosial Budaya Manusia dan Kegelisahan 12