Anda di halaman 1dari 30

ketika terjadi pemadaman catu daya utama (PLN) maka dibutuhkan suplai cadangan listrik dan

pada kondisi tersebut Generator-Set diharapkan dapat mensuplai tenaga listrik terutama untuk
beban-beban prioritas. Genset dapat digunakan sebagai sistem cadangan listrik atau "off-grid"
(sumber daya yang tergantung atas kebutuhan pemakai). Genset sering digunakan oleh rumah
sakit dan industri yang membutuhkan sumber daya yang mantap dan andal (tingkat keandalan
pasokan yang tinggi), dan juga untuk area pedesaan yang tidak ada akses untuk secara
komersial dipasok listrik melalui jaringan distribusi PLN yang ada.

Suatu mesin diesel generator set terdiri dari:


1. Prime mover atau pengerak mula, dalam hal ini mesin diesel (dalam bahasa inggris disebut diesel engine)
2. Generator
3. AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)
4. Baterai dan Battery Charger
5. Panel ACOS (Automatic Change Over Switch)
6. Pengaman untuk Peralatan
7. Perlengkapan Instalasi Tenaga

Mesin Diesel

Mesin diesel termasuk mesin dengan pembakaran dalam atau disebut dengan motor bakar, ditinjau dari cara
memperoleh energi termalnya (energi panas). Untuk membangkitkan listrik, sebuah mesin diesel dihubungkan
dengan generator dalam satu poros (poros dari mesin diesel dikopel dengan poros generator).

Keuntungan pemakaian mesin diesel sebagai penggerak mula:


* Desain dan instalasi sederhana
* Auxilary equipment (peralatan bantu) sederhana
* Waktu pembebanan relatif singkat

Kerugian pemakaian mesin diesel sebagai Penggerak mula:


*Berat mesin sangat berat karena harus dapat menahan getaran serta kompresi yang tinggi.
* Starting awal berat, karena kompresinya tinggi yaitu sekitar 200 bar.
* Semakin besar daya maka mesin diesel tersebut dimensinya makin besar pula, hal tersebut menyebabkan
kesulitan jika daya mesinnya sangat besar.
* Konsumsi bahan bakar menggunakan bahan bakar minyak yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan
pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar jenis lainnya, seperti gas dan batubara.

Cara Kerja Mesin Diesel

Prime mover atau penggerak mula merupakan peralatan yang berfungsi menghasilkan energi mekanis yang
diperlukan untuk memutar rotor generator. Pada mesin diesel/diesel engine terjadi penyalaan sendiri, karena
proses kerjanya berdasarkan udara murni yang dimampatkan di dalam silinder pada tekanan yang tinggi (± 30
atm), sehingga temperatur di dalam silinder naik. Dan pada saat itu bahan bakar disemprotkan dalam silinder
yang bersuhu dan bertekanan tinggi melebihi titik nyala bahan bakar sehingga bahan bakar yang diinjeksikan
akan terbakar secara otomatis. Penambahan panas atau energi senantiasa dilakukan pada tekanan yang
konstan.

Tekanan gas hasil pembakaran bahan bakar dan udara akan mendorong torak yang dihubungkan dengan poros
engkol menggunakan batang torak, sehingga torak dapat bergerak bolak-balik (reciprocating). Gerak bolak-
balik torak akan diubah menjadi gerak rotasi oleh poros engkol (crank shaft). Dan sebaliknya gerak rotasi poros
engkol juga diubah menjadi gerak bolak-balik torak pada langkah kompresi.

Berdasarkan cara menganalisa sistim kerjanya, motor diesel dibedakan menjadi dua, yaitu motor diesel yang
menggunakan sistim airless injection (solid injection) yang dianalisa dengan siklus dual dan motor diesel yang
menggunakan sistim air injection yang dianalisa dengan siklus diesel (sedangkan motor bensin dianalisa dengan
siklus otto).

Perbedaan antara motor diesel dan motor bensin yang nyata adalah terletak pada proses pembakaran bahan
bakar, pada motor bensin pembakaran bahan bakar terjadi karena adanya loncatan api listrik yang dihasilkan
oleh dua elektroda busi (spark plug), sedangkan pada motor diesel pembakaran terjadi karena kenaikan
temperatur campuran udara dan bahan bakar akibat kompresi torak hingga mencapai temperatur nyala.
Karena prinsip penyalaan bahan bakarnya akibat tekanan maka motor diesel juga disebut compression ignition
engine sedangkan motor bensin disebut spark ignition engine.
Pada mesin diesel, piston melakukan 2 langkah pendek menuju kepala silinder pada setiap langkah daya.
1. Langkah ke atas yang pertama merupakan langkah pemasukan dan penghisapan, di sini udara dan bahan
bakar masuk sedangkan poros engkol berputar ke bawah.
2. Langkah kedua merupakan langkah kompresi, poros engkol terus berputar menyebabkan torak naik dan
menekan bahan bakar sehingga terjadi pembakaran. Kedua proses ini (1 dan 2) termasuk proses pembakaran.
3. Langkah ketiga merupakan langkah ekspansi dan kerja, di sini kedua katup yaitu katup isap dan buang
tertutup sedangkan poros engkol terus berputar dan menarik kembali torak ke bawah.
4. Langkah keempat merupakan langkah pembuangan, disini katup buang terbuka dan menyebabkan gas akibat
sisa pembakaran terbuang keluar. Gas dapat keluar karena pada proses keempat ini torak kembali bergerak
naik keatas dan menyebabkan gas dapat keluar. Kedua proses terakhir ini (3 dan 4) termasuk proses
pembuangan.
5. Setelah keempat proses tersebut, maka proses berikutnya akan mengulang kembali proses yang pertama,
dimana udara dan bahan bakar masuk kembali.

Berdasarkan kecepatan proses diatas maka mesin diesel dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Diesel kecepatan rendah (<>
2. Diesel kecepatan menengah (400 - 1000 rpm)
3. Diesel kecepatan tinggi ( >1000 rpm)

Sistem starting atau proses untuk menghidupkan/menjalankan mesin diesel dibagi menjadi 3 macam sistem
starting yaitu:

1. Sistem Start Manual


Sistem start ini dipakai untuk mesin diesel dengan daya mesin yang relatif kecil yaitu <>

2. Sistem Start Elektrik


Sistem ini dipakai oleh mesin diesel yang memiliki daya sedang yaitu <>

3. Sistem Start Kompresi


Sistem start ini dipakai oleh diesel yang memiliki daya besar yaitu > 500 PK. Sistem ini memakai motor dengan
udara bertekanan tinggi untuk start dari mesin diesel. Cara kerjanya yaitu dengan menyimpan udara ke dalam
suatu botol udara. Kemudian udara tersebut dikompresi sehingga menjadi udara panas dan bahan bakar solar
dimasukkan ke dalam Fuel Injection Pump serta disemprotkan lewat nozzle dengan tekanan tinggi. Akibatnya
akan terjadi pengkabutan dan pembakaran di ruang bakar. Pada saat tekanan di dalam tabung turun sampai
batas minimum yang ditentukan, maka kompressor akan secara otomatis menaikkan tekanan udara di dalam
tabung hingga tekanan dalam tabung mencukupi dan siap dipakai untuk melakukan starting mesin diesel.

AMF (Automatic Main Failure) dan ATS (Automatic Transfer Switch)


AMF merupakan alat yang berfungsi menurunkan downtime dan meningkatkan keandalan sistem catu daya
listrik. AMF dapat mengendalikan transfer Circuit Breaker (CB) atau alat sejenis, dari catu daya utama (PLN) ke
catu daya cadangan (genset) dan sebaliknya. Dan ATS merupakan pelengkap dari AMF dan bekerja secara
bersama-sama.

Cara Kerja AMF dan ATS

Automatic Main Failure (AMF) dapat mengendalikan transfer suatu alat dari suplai utama ke suplai cadangan
atau dari suplai cadangan ke suplai utama.AMF akan beroperasi saat catu daya utama (PLN) padam dengan
mengatur catu daya cadangan (genset). AMF dapat mengatur genset beroperasi jika suplai utama dari PLN mati
dan memutuskan genset jika suplai utama dari PLN hidup lagi.

Baterai (baterry dan accu)

Battery merupakan suatu proses pengubahan energi kimia menjadi energi listrik yang berupa sel listrik. Pada
dasarnya sel listrik terdiri dari dua buah logam/ konduktor yang berbeda dicelupkan ke dalam larutan maka
akan bereaksi secara kimia dan menghasilkan gaya gerak listrik antara kedua konduktor tersebut. Proses
pengisian battery dilakukan dengan cara mengalirkan arus melalui sel-sel dengan arah yang berlawanan dengan
aliran arus dalam proses pengosongan sehingga sel akan dikembalikan dalam keadaan semula. Battery yang
digunakan pada sistem otomatis GenSet berfungsi sebagai sumber arus DC pada starting diesel.

Battery Charger

Alat ini berfungsi untuk proses pengisian battery dengan mengubah tegangan PLN 220V atau dari generator itu
sendiri menjadi 12/24 V menggunakan rangkaian penyearah. Battery Charger ini biasanya dilengkapi dengan
pengaman hubung singkat (Short Circuit) berupa sekering/ fuse.

Panel ACOS
ACOS (Automatic Change Over Switch) merupakan panel pengendalian generator dan terdapat beberapa
tombol yang masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.
Tombol pengontrol operasi Gen Set automatic, antara lain yaitu :
Off, Automatic, Trial Service, Manual Service, Manual Starting, Manual Stoping, Signal Test, Horn Off, Release,
Start, Start Fault, Engine Running, Supervision On, Low Oil Pressure, Temperature To High, Generator Over
Load.

Sistem Pengaman Genset

Sistem pengaman harus dapat bekerja cepat dan tepat dalam mengisolir gangguan agar tidak terjadi kerusakan
fatal. Proteksi pada mesin generator ada dua macam yaitu :
1) Pengaman alarm
Bertujuan memberitahukan kepada operator bahwa ada sesuatu yang tidak normal dalam operasi mesin
generator dan agar operator segera bertindak.
2) Pengaman trip
Berfungsi untuk menghindarkan mesin generator dari kemungkinan kerusakan karena ada sistem yang berfungsi
tidak normal maka mesin akan stop secara otomatis.
Jenis pengaman trip antara lain :
1) Putaran lebih (over speed)
2) Temperatur air pendingin tinggi
3) Tekanan minyak pelumas rendah
4) Emergency stop
5) Reverse power

Pentanahan (grounding)

a) Pentanahan sistem, pentanahan untuk suatu titik pada penghantar arus dari sistem. Pada umumnya titik
tersebut adalah titik netral dari suatu mesin, transformator, atau untuk rangkaian listrik tertentu.
b) Pentanahan peralatan sistem, pentanahan untuk suatu bagian yang tidak membawa arus dari sistem,
misalnya : Semua logam seperti saluran tempat kabel, kerangka mesin, batang pemegang sakelar, penutup
kotak sakelar.

Relay pengaman pada genset:

a) Relay arus lebih


Thermal Over Load Relay (TOLR) digunakan untuk melindungi motor dan perlengkapan kendali motor dari
kerusakan akibat beban lebih atau terjadinya hubungan singkat antar hantaran yang menuju jaring atau antar
fasa.
b) Relay tegangan lebih
bekerja bila tegangan yang dihasilkan generator melebihi batas nominalnya.
c) Relay diferensial
bekerja atas dasar perbandingan tegangan atau perbandingan arus, yaitu besarnya arus sebelum lilitan stator
dengan arus yang mengalir pada hantaran yang menuju jaring-jaring.
d) Relay daya balik
berfungsi untuk mendeteksi aliran daya aktif yang masuk ke arah generator.

Sekering

berungsi untuk mengamankan peralatan atau instalasi listrik dari gangguan hubung singkat
Jika suatu sekering dilewati arus di atas arus kerjanya, maka pada waktu tertentu sekering tersebut akan lebur
(putus). Besarnya arus yang dapat meleburkan suatu sekering dalam waktu 4 jam dibagi arus kerja disebut
faktor peleburan berkisar 1 hingga 1,5.

Elevator dan Escalator Dalam Perencanaan Gedung Bertingkat


Posted by Muhammad Taufan

Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi yang nyaman untuk aktifitas
perpindahan orang dan barang secara VERTIKAL. Sarana angkut vertikal yang bekerja secara mekanik elektrik
adalah :

 Elevator (Lift).
 Eskalator

Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13, tenaga manusia dan binatang
merupakan tenaga penggerak.

Pada tahun 1850 telah diperkenalkan elevator uap dan hidrolik. Tahun 1852 terjadi babak baru dalam sejarah
elevator yaitu penemuan elevator yang aman pertama di Dunia oleh Elisha Graves Otis.

ELEVATOR / LIFT

Elevator penumpang pertama dipasang oleh Otis di New York pada tahun 1857. Setelah meninggalnya Otis pada
tahun 1861, anaknya, Charles dan Norton mengembangkan warisan yang ditinggalkan oleh Otis dengan
membentuk Otis Brothers & Co., pada tahun 1867.

Pada tahun 1873 lebih dari 2000 elevator Otis telah dipergunakan di gedung-gedung perkantoran, hotel, dan
department store di seluruh Amerika, dan lima tahun kemudian dipasanglah elevator penumpang hidrolik Otis
yang pertama.Berikutnya adalah era Pencakar Langit.

Pada tahun 1889 Otis mengeluarkan mesin elevator listrik direct-connected geared pertama yang sangat
sukses.

Pada tahun 1903, Otis memperkenalkan desain yang akan menjadi “tulang punggung” industri elevator,yaitu :
elevator listrik gearless traction yang dirancang dan terbukti mengalahkan usia bangunan itu sendiri. Hal ini
membawa pada berkembangnya jaman struktur-struktur tinggi, termasuk yang paling menonjol adalah Empire
State building dan World Trade Center di New York, John Hancock Center di Chicago dan CN Tower di Toronto.

Selama bertahun-tahun ini, beberapa dari inovasi yang dibuat oleh Otis dalam bidang pengendalian otomatis
adalah Sistem Pengendalian Sinyal, Peak Period Control, Sistem Autotronik Otis dan Multiple Zoning. Otis
adalah yang terdepan di dunia dalam pengembangan teknologi komputer dan perusahaan tersebut telah
membuat revolusi dalam pengendalian elevator sehingga tercipta peningkatan yang dramatis dalam hal waktu
reaksi elevator dan mutu berkendara dalam elevator.

CARA KERJA ELEVATOR / LIFT

Pada sistem geared atau gearless (yang masing-masing digunakan pada instalasi gedung dengan ketinggian
menengah dan tinggi), kereta elevator tergantung di ruang luncur oleh beberapa steel hoist ropes, biasanya
dua puli katrol, dan sebuah bobot pengimbang (counterweight). Bobot kereta dan counterweight menghasilkan
traksi yang memadai antara puli katrol dan hoist ropes sehingga puli katrol dapat menggegam hoist ropes dan
bergerak serta menahan kereta tanpa selip berlebihan. Kereta dan counterweight bergerak sepanjang rel yang
vertikal agar mereka tidak berayun-ayun.

Mesin Lift “Gearless”


Mesin untuk menggerakkan elevator terletak di ruang mesin yang biasanya tepat di atas ruang luncur kereta.
Untuk memasok listrik ke kereta dan menerima sinyal listrik dari kereta ini, dipergunakan sebuah kabel listrik
multi-wire untuk menghubungkan ruang mesin dengan kereta. Ujung kabel yang terikat pada kereta turut
bergerak dengan kereta sehingga disebut sebagai “kabel bergerak (traveling cable)”.

Jalur Lift (Hoistway) dan ruang mesin di atasnya

Mesin geared memiliki motor dengan kecepatan lebih tinggi dan drive sheave dihubungkan dengan poros motor
melalui gigi-gigi di kotak gigi, yang dapat mengurangi kecepatan rotasi poros motor menjadi kecepatan drive-
sheave rendah. Mesin gearless memiliki motor kecepatan rendah dan puli katrol penggerak dihubungkan
langsung ke poros motor.

Sistem pergerakan Elevator/Lift dengan Gearless

Pada sistem hidrolik (terutama digunakan pada instalasi di gedung rendah, dengan kecepatan kereta
menengah), kereta dihubungkan ke bagian atas dari piston panjang yang bergerak naik dan turun di dalam
sebuah silinder. Kereta bergerak naik saat oli dipompa ke dalam silinder dari tangki oli, sehingga mendorong
piston naik. Kereta turun saat oli kembali ke tangki oli.

Aksi pengangkatan dapat bersifat langsung (piston terhubungkan ke kereta) atau roped (piston terikat ke
kereta melalui rope). Pada kedua cara tersebut, pekerjaan pengangkatan yang dilakukan oleh pompa motor
(energi kinetik) untuk mengangkat kereta ke elevasi yang lebih tinggi sehingga membuat kereta mampu
melakukan pekerjaan (energi potensial). Transfer energi ini terjadi setiap kali kereta diangkat. Ketika kereta
diturunkan, energi potensial digunakan habis dan siklus energi menjadi lengkap sudah. Gerakan naik dan turun
kereta elevator dikendalikan oleh katup hidrolik.
ESKALATOR

Pada tahun 1899, Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co., yang mana dari dia
timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata scala, yang dalam bahasa Latin berarti
langkah-langkah (step), dengan elevator). Bergabungnya Seeberger dan Otis telah menghasilkan eskalator
pertama step type eskalator untuk umum, dan eskalator itu dipasang di Paris Exibition 1900 dan memenangkan
hadiah pertama. Mr. Seeberger pada akhirnya menjual hak patennya ke Otis pada tahun 1910.

Eskalator lurus dan melengkung

Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah berhasil mengembangkan


eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung melengkung/curve daripada melingkar/spiral) dan secara
eksklusif dijual sejak pertengahan tahun 1980. Eskalator ini dipasang di Osaka, Jepang pada tahun 1985.
CARA KERJA ESKALATOR

Pendaratan/Landing

Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan untuk jalan ke ruang mesin yang
berada di bawah floor plates.

Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga bergerak. Comb plate ini sedikit
miring ke bawah agar geriginya tepat berada di antara celah-celah anak tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi
comb plate berada dibawah permukaan cleat.

Landasan penopang/Truss

Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara pendaratan bawah dan atas.
Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak berongga yang terbuat dari bagian-bagian bersisi dua yang
digabungkan bersama dengan menggunakan sambungan bersilang sepanjang bagian dasar dan tepat dibawah
bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada penopang beton atau baja.

Struktur perletakan Eskalator pada lantai gedung

Lintasan

Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai anak tangga, yang menarik
anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua lintasan: satu untuk bagian muka anak tangga (yang
disebut lintasan roda anak tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda
trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak tangga muncul dari bawah
comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang kembali ke dalam landasan penopang.
Sistem pergerakan Eskalator

Anak tangga (individual steps) dari Eskalator

Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak tangga mengelilingi bagian ujung dan
kemudian menggerakkannya kembali ke arah yang berbeda. Lintasan overhead berfungsi untuk memastikan
bahwa roda trailer tetap berada di tempatnya saat rantai anak tangga diputar kembali.
AUDIT ENERGI PADA SEBUAH GEDUNG BERTINGKAT
Posted by Muhammad Taufan

 1. DEFINISI AUDIT ENERGI

Energi merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pembangunan.


Dengan akselerasi pembangunan yang meningkat dewasa ini, pertambahan penduduk
dan peningkatan taraf hidup menyebabkan laju konsumsi energi semakin meningkat
pula. Tanpa dilakukannya usaha menghemat energi, akan mengakibatkan habisnya
cadangan energi dalam waktu yang relatif singkat dan dampaknya suatu pembangunan
yang berkelanjutan (sustainable) tidak dapat direalisasikan. Penggunaan energi di
Indonesia dapat dikelompokkan dalam sektor-sektor industri rumahtangga bangunan
komersial dan transportasi. Penggunaan energi pada sektor industri dan bangunan
komersial cukup tinggi dibandingkan yang lain sehingga perlu menjadi fokus kegiatan
konservasi energi. Makin berkembangnya perekonomian dicatat dengan makin
banyaknya pendirian bangunan komersial karena itu Khusus untuk bangunan komersial
perlu dilakukan langkah-langkah konservasi energi sebelum dan sesudah pembangunan
gedung komersial tersebut. Pada bangunan gedung pengguna energi dapat
dikelompokkan pada empat pengguna energi terbesar yaitu : Sistem AC, Sistem
pencahayaan, sistem transportasi gedung, peralatan kantor dan lainnya. Dari hasil
survei sejumlah pihak didapatkan persentasi penggunaan energi peralatan gedung
komersial rata-rata adalah seperti terlihat pada gambar di bawah ini ; Gambar
persentase penggunana energi di gedung Sumber : Ditjen LPE, Departemen Energi dan
sumberdaya Mineral Ada perbedaan hasil yang significant dalam melaksanakan
konservasi energi di bangunan sebelum dan sesudah pembangunan gedung tersebut.
Pembangunan suatu gedung komersial yang direncanakan secara matang untuk
memenuhi kaidah-kaidah konservasi energi akan memberikan banyak keuntungan dan
manfaat bagi pemilik dan pemakai gedung tersebut. Dengan perencanaan awal yang
matang dan menyeluruh serta memenuhi kaída-kaidah hemat energi tanpa
mengorbankan kenyamanan pemakaian gedung seperti kenyamana termal dan visual
maka pemakaian energi gedung akan lebih rendah dibandingkan dengan tanpa
perencanaan hemat energi. Dengan rendahnya pemakaian energi gedung akan
memberikan manfaat untuk pemilik gedung dengan kemampuan yang tinggi untuk
menggunakan bangunan secara terus menerus karena biaya operasionalnya yang
rendah. Biaya opersional yang rendah untuk gedung komersial selanjutnya akan
membuat harga sewa gedung menjadi lebih rendah sehingga mendorong para penyewa
tetap bertahan di bangunan tersebut. Konservasi energi adalah salah satu bentuk
pengelolaan energi yang benar dan efisien. Alat utama kegiatan konservasi energi
adalah audit energi. Seperti juga halnya audit keuangan, audit energi merupakan suatu
penelusuran atas sumber daya energi dari mulai masuknya sampai ke pengguna akhir
untuk mencari kebocoran kebocoran serta membuat rekomendasi yang akan
memperbaiki sistem pemanfaatan energi dari suatu fasilitas (gedung atau pabrik).
Sebagai contoh untuk melaksanakan kegiatan konservasi energi pada bangunan
gedung baik sebelum ataupun sesudah bengunan itu berdiri harus melihat hal-hal
sebagai berikut : ·
Sistem Selubung Bangunan · Sistem Tata Udara Pada Bangunan Gedung · Sistem Tata
Cahaya Pada Bangunan Gedung · Sistem transportasi gedung dan motor-motor ·
Sistem kelistrikan gedung · Sistem otomasi terigtegrasi gedung Hal lain yang menjadi
faktor keberhasilan kegiatan konservasi energi di gedung adalah pemilihan teknologi
yang tepat serta kreatifitas untuk membuat disain atau modifikasi sistem menjadi lebih
efektif dalam menghemat energi

1. Selubung bangunan

Selubung bangunan adalah bagian terluar dari gedung yang melingkupi seluruh
bangunan dalan menghambat aliran panas dari lingkungan luar. Yang menjadi
komponen selubung bangunan ini adalah dinding beserta jendela kaca dan pintu serta
selubung atap. Luasan dan jenis selubung bangunan (dinding dan atap) mempengaruhi
perolehan kalor/panas, akibat konduksi dari luar dan radiasi matahari. Untuk
mengurangi perolehan panas yang berarti pula menurunkan beban pendinginan sistem
AC, maka pemilihan dinding luar dan atap serta kaca dan kombinasi luasan dinding
dengan kacanya akan menjadi penentu efektifitas selubung bangunan dalam
menghambat aliran panas dari luar. Sistem AC yang menjadi pengguna energi terbesar
di gedung sekitar 60 persen menyebabkan perhatian terhadap selubung bangunan ini
harus lebih mendalam. Disain selubung gedung yang terlalu banyak melibatkan jendela
kaca menyebabkan beban pendinginan AC yang besar sehingga akan membuat
konsumsi listik untuk AC yang besar. Diperlukan suatu kombinasi antara dinding keras
dan kaca dari selubung bangunan gedung yang optimal serta penggunaan peneduh dan
vegetasi yang baik diluar gedung. Sebagai tolok ukur tingkat efektiftas selubung
bangunan ini dalam mengatasi beban AC telah ditetapkan untuk kondisi Indonesia
ukuran RTTV (Roof Thermal Transfer Value)untuk selubung atap dan OTTV (Overall
Thermal Transfer Value) untuk selubung dinding.

2. Sistem Tataudara

Pada bangunan gedung sistem tataudara menjadi komponen utama yang paling besar
penggunaan energinya yaitu sekitar 60 persen. Penggunaan yang sangat besar ini
menjadikan sistem AC sebagai fokus utama dalam kegiatan penghematan energi di
gedung. Sistem AC pada gedung pada umumnya dapat dibagi dua bagian utama yaitu
sistem refrigerasi yang merupakan penggerak utama pengkondisian udara. Sistem
refrigerasi ini terdiri atas kompresor, evaporator, kondenser dan katup ekspansi. Pada
umumnya sistem refrigerasi ini menggunakan refrigerant (freon) yang saat ini masih
banyak menggunakan refrigerant yang menyebabkan kerusakan ozone serta
menimbulkan pemanasan global. Sistem kedua adalah sistem tataudara yang
mengalirkan udara pada duct setelah didinginkan oleh sistem refrigerasi. Pada sistem
tataudara ini terdiri atas duct aliran udara, kipas pengalir udara suplai dan diffuser
pendistribusi udara dingin. Parameter tingkat hemat sistem AC gedung adalah ditandai
dengan efisiensi sistem refirgerasinya dan pencapaian kenyamanan ruangan sesuai
standar kenyamanan orang Indonesia. Tingkat efisiensi sistem AC ditandai dengan
kemampuan pengambilan panas gedung dibandingkan dengan energi listrik yang
dikonsumsi angka standar efisiensi sistem refrigerasi gedung menurut SNI tahun 1993
maksimum kw/TR sebesar 0,9. Angka ini menunjukkan bahwa sistem refrigerasi
maksimum menkonsumsi listrik 0,9 kW untuk menghasilkan kemampuan mengambil
panas gedung sebesar 1 Ton Refrigerasi atau 12.000 Btu/hr atau 3024 kcal/jam.
Sementara tingkat kenyamanan dalam ruangan dimana sistem AC-nya beroperasi pada
kondisi efisien energi adalah pada suhu 25 + 2 oC dan kelembaban udara relatif
sebesar 60 +10 % Suatu sistem yang baik seperti sistem AC yang efisien perencanaan
awal dalam penentuan jenis sistem AC yang dipilih serta peralatan yang diadakan
sangat menentukan dalam pencapaian tujuan konservasi energi pada sistem AC
gedung. Ada berbagai macam sistem refrigerasi yang dapat dipilih untuk kondisi gedung
tertentu seperti sistem chiller water cooler, chiller air cooler, sistem package atau
kombinasinya. Sementara pada sistem distribusi udara bisa menggunakan sistem
seperti AHU dengan chilled water atau refrigerant atau juga menggunakan fan coil
sistem untuk mengalirkan udara dingin ke ruangan-ruangan yang dilayani oleh sistem
AC. Pemilihan sistem refrigerasi dan distribusi udara ditentukan oleh banyak faktor
terutama adalah kondisi dan lokasi penempatan dari sistem AC di gedung serta
anggaran yang dimiliki oleh pemilik gedung. Selain itu yang terutama adalah bahwa
sistem AC yang didisain kapasitasnya sesuai dengan beban panas yang harus diatasi.
Program konservasi energi pada sistem AC lebih baik dilakukan pada saat awal
perencaaan bangunan dibandingkan dengan setelah bangunan itu berdiri karena
modidikasi sistem yang telah ada akan lebih menyulitkan dan akan mempengaruhi
bagian-bagian lain dimana semua sistem telah dihitung secara terintegrasi.

3. Sistem tatacahaya

Pada bangunan gedung sistem tatacahaya menempati urutan kedua dalam


mengkonsumsi energi listrik. Pada bangunan gedung pada umumnya pencahayaan
digunakan untuk area publik seperti membaca di kantor, lorong-lorong dan lobby
sehingga pencahayaannya lebih terdistribusi. Perencanaan pencahaayan gedung yang
hemat energi akan lebih baik dilakukan sebelum bangunan berdiri karena sifatnya yang
terdistribusi sehingga mempengaruhi area yang luas dari tempat lampunya berada.
Perubahan sistim pencahayaan atau retrofitting setelah bangunan berdiri akan
memberatkan biaya perubahan langit-langit dari ruangan yang diperbaiki. Untuk
mendapatkan pencahayaan dalam ruangan yang optimal diperlukan pemilihan jensi
lampu yang hemat energi sesuai dengan peruntukkan ruangan serta pemilihan armatur
yang efektif dalam merefleksikan cahaya ke bawah. Penentuan jenis warna dinding
serta letak tinggi dari armatur sangat menentukan tingakt pencahayaan yang sampai ke
bidang yang akan diterangi. Tingkat terang ini akan menentukan berapa banyak jumlah
lampu dan daya masing-masing lampu yang diperlukan. Pencahayaan ruangan yang
hemat energi ditentukan juga oleh efisiensi lampu yang ditandai dengan parameter
lumen per watt.. Untuk penerangan publik yang menggunakan jenis lampu fluorescent,
penggunaan ballast elektronik akan lebih mengurangi daya listrik yang dibutuhkan untuk
pencahayaan dalam ruangan. Indonesia adalah negara tropis yang dianugrahi cahaya
matahari yang melimpah sepanjang tahun. Sumber cahaya yang gratis dan murah ini
tidak secara optimal dimanfaatkan sebagai sumber cahaya penerangan alami siang
hari. Ada kekhawatiran bahwa penggunaan cahaya alami ini akan menambah beban AC
gedung. Sebenarnya hal itu tidak beralasan selama cahaya alami yang dimanfaatkan itu
adalah cahaya pantulan dan bukan cahaya langsung. Cahaya pantulan memiliki
panjang gelombang yang tinggi sementara cahaya langsung masih mengandung
spektrum yang memiliki panjang gelombang rendah. Spektrum dengan panjang
gelombang rendah ini akan menimbukan efek rumah kaca sementara cahaya pantulan
tidak menimbulkan efek rumah kaca dan menjadi beban pendinginan AC yang rendah.

4. Sistem Transportasi gedung


Saat ini gedung komersial khususnya yang berada di kota besar tidak terhindarkan
untuk menggunakan transportasi vertical. Hal ini terutama disebabkan keterbatasan
lahan yang menyebabkan pembangunan gedung mengarah ke atas. Perencanaan awal
transportasi vertical yang efisien energinya ditentukan oleh faktor-faktor seperti
peruntukan gedung, laju perkiraan jumlah orang dan pemilihan teknologi sistem
transportasi verticalnya. Sistem trasnportasi vertical yang modern dan dapat diprogram
ulang adalah sistem yang akan lebih mendukung program konservasi energi dalam
gedung baik dalam perencanaan awal maupun retrofit dikemudian hari.

5. Sistem kelistrikan

Sumber utama energi untuk operasional gedung saat ini adalah dari listrik. Listrik ini bisa
disuplai dari PLN atupun dari genset milik sendiri. Akan lebih baik jika dalam
perencanaan awal sudah dilibatkan aspek konservasi energi dalam pembuatan sistem
kelistrikan gedung. Aspek konservasi energi dari sistem kelsitrikan gedung adalah
terbaginya beban secara merata pada masing-masing fasa, telah terpisahnya msing-
masing beban seperti AC, penerangan dan lift pada saluran kabel yang tersendiri. Telah
adanya alat pengukur konsumsi energi lisitrik pada masing-masing sistem pengguna
energi sehingga pemakaian energinya dapat dimonitor. Monitoring dilakukan untuk
menilai keberhasilan sejumlah langkah konservasi energi yang bisa dilakukan pada
sistem-sistem pengguna energi tadi. Selain itu dengan telah terpisahnya beban listrik
sistem pengguna energi pada saluran kabel yang berbeda akan memudahkan kontrol
operasi sistem tadi apalagi jika gedung menggunakan sistem otomasi terintegrasi
(Building Automation System/BAS). Pemasangan kapasitor bank pada jaringan listrik
diawal pembangunan juga akan meningkatkan efisiensi penggunan listrik sistem
kelistrikan gedung. Jika tidak dilakukan minimal ada alokasi tempat yang tepat di panel
induk untuk pemasangan kapasitor bank ini dikemudian hari, Pemilihan genset yang
efisien dalam mengkonsumsi bahan bakar juga diperlukan seandainya genset
diperlukan untuk mengganti suplai listrik dari PLN saat beban puncak jika saat dimana
harga energi alternatif pengganti solar yaitu BBN biosolar harganya cukup murah dan
ekonomis.

6. Sistem Otomasi Terintegrasi Gedung (BAS)


Dengan kemajuan teknologi komputer dan informasi maka untuk meningkatkan
performa operasi sistem-sistem pengguna energi digunakan building otomation system
(BAS) penggunaan BAS ini juga dapat mengintegrasikan kerja sistem tadi. Pada
operasional sistem AC penggunaan BAS akan dapat mengatur jam nyala dari sistem
chiller dan AHU serta mengatur jumlah chiller yang nyala. Sementara pada lampu BAS
ini akan dapat mengatur jam nyala dari lampu dan juga mengatur jumlah lampu yang
nyala disesuaikan dengan pencahayaan alami siang hari yang masuk. Pengaturan
lampu dan sistem AC tadi hanya dapat dilakukan oleh BAS dengan syarat bahwa
jaringan kabel listriknya telah terpisah masing-masing. Sementara itu pada lift
penggunaan BAS dapat mengatur jumlah lift nyala sesuai jam yang telah ditetapkan.
Penggunaan sistem BAS ini sudah tentu akan dapat mendukung program penggunaan
energi listrik yang efisien pada bangunan gedung dengan syarat bahwa sistem
kelistrikan dan semua sistem pengguna energi tadi direncanakan secara terintegrasi
dan dipersiapkan dari awal untuk dikontrol oleh BAS.

7. KAPAN AUDIT ENERGI DIPERLUKAN

Audit energi adalah kegiatan untuk mengetahui pola pemakaian energi dari peralatan
pengguna energi yang ada di gedung. Pola pemakaian energi ini diamati pada
peralatan-peralatan utama pengguna energi seperti AC, lift, Pencahayaan, boiler dan
motor-motor. Dengan didapatkannya pola pemakaian energi maka langkah-langkah
untuk melakukan efisiensi dan pengelolaan energi di gedung menjadi lebih terarah.
Untuk menetapkan tingkat efisiensi peralatan penggguna energi yang ada di gedung
dilakukan perbandingan hasil pengamatan dan pengukuran dengan acuan standar yang
berlaku seperti SNI dan lainnya. Audit energi : ” Kegiatan yang dimaksud untuk
mengidentifikasi dimana dan berapa energi digunakan serta berapa potensi
penghematan yang mungkin diperoleh dalam suatu fasilitas pengguna energi ”. Tujuan
audit energi : ” Adalah untuk menentukan cara yang terbaik untuk mengurangi
penggunaan energi per satuan output dan mengurangi biaya operasi/biaya produksi ”
Ada 4 pertanyaan dasar yg harus perlu dijawab dalam Audit Energi baik di : “ bangunan
kantor, komersial atau fasilitas publik “
1. Berapa banyak energi yang telah digunakan, dan dimana sajakah
dimanfaatkannya?
2. Berapa banyak energi yang harus digunakan pada kondisi operasi yang
ada saat ini?
3. Seberapa hemat energi yang dapat dikonsumsi pada kondisi operasi yang
telah diperbaiki?
4. Seberapa aman/sehat bagi manusia dan lingkungan pemanfaatan energi
tersebut? Suatu kegiatan audit energi adalah merupakan alat untuk mendukung
program konservasi energi disuatu fasilitas pengguna energi. istilah konservasi
energi ini harus dibedakan dengan penghematan energi. Konsep yang berlaku
dari konservasi energi ini adalah suatu kegiatan untuk mendukung pemakaian
energi yang tepat dan efisien pada suatu fasilitas pengguna energi tanpa
mengurangi produktifitas atau kenyamanannya. Untuk mencapai ini diperlukan
batasan-batasan standar yang harus ditaati. Dengan adanya batasan ini maka
penghematan energi tidak akan dilakukan secara semena-mena sehingga
merugikan pengguna, sebagai contoh ada persepsi yang salah mengghemat
energi lampu pada ruangan kantor adalah dengan mematikan begitu saja
sejumlah lampu pada ruangan itu, sehingga mengakibatkan sulitnya kegiatan
membaca dan aktifitas lainnya. Mematikan lampu pada ruangan kantor dibatasi
oleh tingkat terang minimal (lux) yang harus dipenuhi agar sesuai dengan
peruntukkannya.
LIFT PADA GEDUNG BERTINGKAT
Posted by Muhammad Taufan

I. JENIS ELEVATOR / LIFT


Secara umum jenis lift dilihat dari pemakaian muatan dapat digolongkan
menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1. Lift Penumpang ( Passenger Elevator)
2. Lift Barang ( Freight elevator )
3. Lift Pelayan ( Dumb Waiter, lift barang berukuran kecil ).

Secara teknis lift-lift tersebut tidak jauh berbeda secara prinsip.


Perbedaan yang nyata pada interior dan perlengkapan operasi dari lift-lift
tersebut. Juga pada sistem pengamanan operasi yang dipasang sebagian
besar sama, hanya pada dumb waiter sistem pengamanan operasi yang
disediakan lebih sederhana.

Perbedaan tersebut akan semakin nyata apabila dibandingkan antara lift


barang untuk pabrik (besar) dengan lift penumpang yang dipergunakan
didalam gedung-gedung diperkantoran. Lift barang untuk pabrik (sesuai
dengan kebutuhan) dilengkapi dengan pembuka pintu yang lebih besar,
baik dipasang dengan pembukaan secara horizontal (terdiri lebih dari dua
pintu) maupun yang dipasang dengan sistem pembukaan pintu vertikal
(biasanya terdiri dari dua daun pintu atau lebih)

Perbedaan lain juga dapat dilihat pada cara penulisan kapasitas


muatannya. Kapasitas digerakan pada COP (Car Operation Panel,
Operation Panel Board) didalam kereta biasanya dinyatakan dalarn
kilogram (kg) atau (Ib) untuk jenis lift barang, sedangkan untuk
penumpang sering dinyatakan dalam jumlah orang (persons) atau
kombinasi keduanya. Akan tetapi perbedaan tersebut akan menjadi
semakin tipis apabila kita bandingkan lift penumpang dan lift barang yang
terpasang dalam gedung perkantoran. Hal tersebut disebabkan karena
sebagian besar lift barang yang terpasang didalam gedung hunian
dipersyaratkan juga untuk dapat mengangkut penumpang atau orang.
Jenis Elevator / lift dilihat dari penggunaannya, adalah ;
1. Passenger Elevator.
2. Observation Elevator (Panoramic Elevator, Lift Capsul).
3. Service Elevator (passenger-freight elevator).
4. Fireman lift (lift Pemadam Kebakaran).

Observation elevator adalah jenis lift penumpang yang sebagian besar


pada dindingnya atau pintunya dilengkapi dengan kaca. Sehingga
memungkinkan penumpangnya dapat melihat kearah luar. Lift jenis ini
biasanya dipasang pada pertokoan atau hotel yang memiliki pemandangan
yang bagus.

II. KOMPONEN UTAMA ELEVATOR

Komponen utama elevator terdiri dari 2 ( dua ) bagian besar , yaitu ruang
mesin ( Machine Room ) dan ruang luncur ( Hoistway ).

1. Ruang mesin ( Machine Room )

Ruang mesin adalah ruang terpenting, dimana diruangan tersebut


terjadinya semua proses pengoperasian elevator berlangsung secara
keseluruhan. Didalam ruang mesin terdapat beberapa alat penggerak
elevator.
2. Motor penggerak

Motor penggerak elevator ini memiliki asupan daya tegangan bolak-balik


(Ac) dari PLN yang sangat berperan dalam pelaksanaan kerja elevator,
motor penggerak ini mempunyai kemampuan putar antara 50 putaran per
menit sampai dengan 210 putaran per menit. Dengan kapasitas tegangan
motor yang disesuaikan dengan kapasitas angkut .
Motor penggerak ini dilengkapi dengan rem magnet ( magnetic brake )
yang berfungsi menahan motor ketika kereta telah sampai pada lantai
yang dituju, pergerakan cepat atau lambatnya elevator diatur oleh PLC
(Programable Logic Control) . Motor penggerak dalam menarik dan
menurunkan elevator menggunakan tali baja ( rope ) yang melingkar pada
puli mesin ( sheave ).
Jenis Penggerak Elevator / lift pada umumnya
Pada umumnya jenis penggerak lift dapat digolongkan menjadi dua
kelompok yaitu :
A. Lift dengan sistem pengerak hidrolis (hydrolic elevator).
B. Lift dengan sistem penggerak dengan motor listrik (traction type
elevator).
Perbedaan pokok dari kedua jenis lift tersebut yaitu :

No Perbandingan Traction Machine Hydrolic


1. Pelayanan tidak terbatas terbatas 20
meter
2. Pemakaian Lebih dari 80 start Terbatas 80 start
/stop perjam. /stop perjam
3. Kecepatan Tidak terbatas Terbatas (maks
(1000m/menit) 90 m/menit)

Jenis Lift Dengan Traction Motor


Lift yang mempergunakan tarction motor dapat dibedakan menjadi 2
(dua) yaitu :
1. Jenis Tarikan Langsung (Drum Type)
2. Jenis Tarikan Gesek (Traction Drive)
1. Drum Type Elevator

Cara operasi lift jenis ini seperti crane-crane pada proyek kontruksi
bangunan, dengan menggulung tali baja pada tabung gulung. Pemakaian
jenis lift ini pada lift penumpang tidak terlalu populer seperti pada lift
traksi jenis motor pully, hal ini disebabkan adanya beberapa keterbatasan
dalam pemakaian. Oleh karena itu lift jenis ini hanya dipergunakan untuk
lift-lift dengan kapasitas kecil seperti pada lift perumahan (home
elevator) dan (lift pelayan) dumbwaiter.
Adapun kelemahan tersebut, antara lain :
a. Kecepatan yang dapat dicapai secara teknis terbatas ( +/- 15 m/menit)
b. Kapasitas angkut terbatas (maksimal 200 kg).
c. Penggunaan tenaga listrik lebih boros ( tanpa bobot imbang ).
2. Traction Type Elevator
Lift jenis ini dapat digolongkan menjadi 2 (dua ) penggolongan, yaitu :
a. Dilihat dari segi mesin penggerak , dibagi menjadi 2 (dua ) yaitu :
a.1 Geared Elevator
a.2 Gearless Elevator
b. Dilihat dari jenis motor traksi yang dipergunakan dapat menjadi dua
(2) jenis, yaitu :
b.1 Lift traksi motor AC
b.2 Lift traksi motor DC

Geared elevator dengan penggerak motor AC geared biasanya


dipergunakan pada lift berkecepatan rendah dan sedang. Sebaliknya
Gearless elevator dengan penggerak motor DC ( AC VVVF ) dipergunakan
pada lift kecepatan tinggi.

Pada umumnya lift jenis traksi meletakkan motor traksi dan panel control
diatas ruang luncur (hoistway), namun demikian dalam beberapa kasus
tertentu penempatan motor traksi dan panel control ada yang diletakkan
samping bawah atau disamping atas ruang luncur. Untuk mengatasi
masalah dimana ketinggian bangunan yang terbatas.
3. Governor

Governor adalah komponen penggerak utama dalam elevator, didalam


governoor ini terdapat saklar yang berfungsi untuk menonaktifkan semua
rangkaian sehingga otomatisasi elevator mati dan tidak berfungsi. Selain
saklar juga terdapat pengait rem, pengait rem ini berfungsi untuk
menghentikan kawat selling dan kawat selling ini menarik rem yang ada di
kereta elevator.
4. Panel

Panel ini adalah tempat control elevator secara otomatis, panel ini
terdapat inverter motor dan program logic control yang berfungsi untuk
mengatur geraknya elevator.
5. Ruang luncur
Ruang luncur ini adalah tempat dimana elevator beroperasi berbentuk
lorong vertikal, disinilah elevator menjangkau tiap-tiap lantainya.didalam
ruang luncur ini terdapat beberapa komponen utama yang tak kalah
pentingnya dibandingkan dalam ruang mesin.
6. Kereta ( Sangkar )

Kereta elevator beroperasi pada ruang luncur dan menapak pada rail di
kedua sisinya, pada sisi kanan dan kiri terdapat pemandu rail ( sliding
guide ) yang berfungsi memandu atau menapaki rail.

Selain pemandu rail ( sliding guide ) juga terdapat karet peredam (


silencer rubber ) yang berfungsi untuk mengurangi kejutan ketika
elevator berhenti maupun mulai start, selain itu pula terdapat pendeteksi
beban (switch overload) yang terdapat dibawah kereta elevator. Pada
pintu kereta elevator juga terdapat sensor gerak ( safety ray ) dan sensor
sentuh ( safety shoe ) yang terpasang pada pintu kereta dan berfungsi
supaya untuk penumpang elevator tidak terjepit pintu elevator, didalam
kereta elevator juga terdapat tombol-tombol pemesanan lantai ( floor
button ) yang akan dituju oleh pengguna elevator.

Kereta elevator memiliki pintu otomatis yang digerakkan oleh motor


stepper yang bekerja berdasarkan sinyal digital yang asalnya dari sensor
kedekatan ( proximity ) yang berfungsi menentukan level atau tidaknya
lantai, setelah lantai dinyatakan level atau rata maka motor stepper akan
membuka pintu secara otomatis.
Ada beberapa komponen pendukung kerja elevator antara lain seperti
dibawah ini :
1. Saklar pintu ( door contact )
Saklar pintu ( door contact ) ini termasuk dalam komponen pengaman
elevator.
2. Kunci pintu ( door lock )
Berfungsi untuk mengunci pintu agar pintu tidak dapat dibuka dari luar
3. Saklar batas atas ( final up ) dan bawah ( final down )
Saklar batas atas dan bawah berfungsi untuk mengamankan kereta
elevator terhadap kemungkinan terjadinya kelebihan kecepatan.
7. Saklar Pintu

Saklar pintu atau sering disebut dengan door contact adalah salah satu
komponen yang termasuk penting dalam pengamanan elevator, cara kerja
dari saklar pintu ( door contact ) ini adalah saklar di hubungkan kabel
saklar pintu ( door contact ) tiap-tiap lantai secara seri.
Apabila salah satu pintu dibuka secara sengaja maka elevator tidak akan
bekerja, ini dikarenakan untuk keselamatan pengguna elevator atau
bagian perawatan elevator.
8. Bobot imbang ( counterweight )

Bobot imbang atau counterweight biasanya terpasang dibelakang atau


disamping kereta elevator, bobot dari bobot imbang ini harus sesuai
dengan ketentuan yang ada. Faktor-faktor yang menentukan berapa berat
dari bobot imbang ini diantaranya harus memperhitungkan berat kereta,
kapasitas penuh pada kereta dan faktor keseimbangan.
9. Peralatan Pengaman ( Safety Device )
Peralatan pengaman safety device pada lift meliputi
a. Circuit braker
Memutuskan sumber (aliran) listrik dari panel induk (sub panel) ke panel
control lift.
Menjaga peralatan elektronik dari lift jika terjadi arus lebih (over
current).
b. Governoor

Memutuskan power/aliran listrik ke control panel lift jika governor


mendeteksi
terjadinya overspeed (kecepatan lebih) pada traffict lift (putaran roda
pulley
governoornya). Menjepit sling governor (catching).Secara mekanik bandul
governor akan menjepit sling overnor (rope governor) dan dengan
terjepitnya
sling ini,maka sling ini akan menarik safety wedge pada unit safety
gear/safety
wedge yang terletak di bawah car lift dan akan mencengkaram rail untuk
melakukan pengereman secara paksa terhadap lift.
c. Final limit switch (upper/bagian atas)
Merupakan double proteksi untuk menghentikan operasi lift jika limit
switch (upper)
gagal beroperasi.
d. Limit switch (upper/bagian atas)
Berfungsi menjaga lift beroperasi melewati batas travel lantai
tertingginya.
e. Emergency exit (manhole)
Penumpang dapat di evakuasasi dari dalam sangkar melalui manhole ini
pada saat
emergency.Manhole ini hanya dapat di buka dari sisi luar bagian atas.jika
pintu ini
terbuka lift otomatis akan berhenti.
f. Emergency light (lampu emergency)
Lampu emergency akan menyala secara otomatis jika terjadi pemadaman
sumber listrik.Lampu ini dapat bertahan rata-rata sampai dengan 15
menit.
g. Safety gear/safety wedge
Melakukan pengereman (menjepit) terhadap rail jika governor
mendeteksi terjadinya
over speed.
h. Limit switch (Lower/bagian bawah)
Menjaga lift beroperasi melewati batas travel lantai terendahnya.
i. Final limit switch (lower/bagian bawah)
Merupakan double proteksi untuk menghentikan opersi lift jika limit
switch
gagal beroperasi.
j. Lubang kunci pintu luar
Terletak di sisi sebelah atas dari pintu luar lift yang memungkinkan untuk
di buka
jika ingin melakukan pertolongan darurat pada penumpang jika terjadi
emergency.
k. Door lock switch
Mencegah pintu terbuka pada saat lift sedang beroperasi (running).Pintu
hanya
dapat di buka setelah sangkar berhenti.
l. Interphone
Penumpang dapat berkomunikasi dengan petugas teknisi (building
maintenance)
di ruang mesin,ruang control atau ruang security jika terjadi pemdaman
listrik atau
hal emergency.
m. Safety shoe
Mendeteksi gangguan pada saat pintu akan menutup dan membuka
kembali
jika mendeteksi sesuatu.Photocell dapat di gunakan secara bersamaan
safety shoe ini.
n. Weighing Device (pendeteksi beban)
Memberikan / mengaktifkan buzzer alarm pada saat weighing device ini
mendeteksi
beban sangkar yang berlebih.jika weighing device ini aktif pintu lift akan
tetap terbuka
sampai dengan sangkar di kurang bebannya.
o. Apron
Mencegah penumpang terjatuh ke dalam hoistway (ruang luncur lift) pada
saat
penumpang mencoba keluar ketika lift berhenti tidak level.
p. Buffer
Jika sangkar atau counterweight (beban penyeimbang) bergerak ke arah
paling bawah,
buffer akan mengurangi terjadinya shock (guncangan).
10. Lobi lift ( Lift Hall ):
a. Lobi lift (Lift Hall) adalah ruang bebas yang lerletak didepan pintu hall
lift.
b. Tombol Lantai (Hall button ) adalah Tombol pemanggil kereta, di hall.
c. Sakelar Parkir (Parking switch) terletak di lobby utama didekat tombol
lantai (hall button),
berfungsi mematikan dan menjalankan lift.
d. Sakelar Kebakaran (Fireman Switch) terletak di lobby utama disisi atas
hall button,
berfungsi untuk mengaktipkan fungsi fireman control atau fireman
operation.
e. Petunjuk Posisi Kereta (Hall indicator) terletak di transom masing-
masing lift.
Berfungsi untuk mengetahui posisi masing-masing kereta.
11. Konstruksi tali baja tarik
Tali baja tarik khusus untuk lift harus dibuat dari kawat baja yang cukup
kuat, tetapi cukup lemas tahan tekukan, dimana tali tersebut bergerak
bolak balik melalui roda. Batas patah elemen kawat baja ialah kira-kira
19.000 kgf/cm2 atau 190kgf/mm2 (high content carbon steel).
Konstruksi tali yang khas untuk lift terdiri dari 8 pintalan yang dililitkan
bersama, arah kekiri ataupun kekanan dengan inti ditengah dari serat
sisal manila henep, yang jenuh mengandung minyak lumas. Tiap-tiap
pintalan terdiri dari 19 kawat yaitu 9.9.1, artinya 9 kawat diluar, 1
dipusat dan 9 lagi diantaranya. Biasanya 9 elemen kawat baja yang diluar
dibuat dari baja "lunak" (130 kgf7mm2) agar menyesuaikan gesekan
dengan roda puli dari besi tuang, tanpa rnenimbulkan keausan
berlebihan. Konstruksi tali sering disebut atau ditulis 8x19 atau 8 x 9.9.1.
FC (fibre core).
Inti serat sisal dapat juga diganti dengan serat sintetis. Adapun tujuannya
hanya sebagai bantalan untuk mempertahankan bentuk bulat tali dan
memberikan pelumasan pada elemen kawat. Tali baja yang dilengkapi inti
serat diberi kode FC (fibre core), untuk membedakan dengan tali yang
dilengkapi inti kawat baja atau kawat besi yang diberi kode IWC
(independent wire core). Yang tersebut terakhir tidak memberikan
pelumasan dan tidak digunakan untuk lift karena tidak luwes.
Dilihat dari segi arah pilinan, tali dibedakan atas 2 jenis yaitu :
1. Regular lay, jika arah pilinan kawat berlawanan dengan arah lilitan dan
strand
2. Lang lay, jika arah pilinan kawat sama searah dengan lilitan dan stand.

Keuntungan dari lang lay ialah kemuluran tali lebih kecil yaitu 0.1 %
hanya dibanding dengan regular lay 0.5%. Tekanan pada alur puli lebih
kecil sehingga lebih awet dan lebih luwes, tidak mempunyai sifat kaku
(menendang) saat mau dipasang. Lang lay dipakai untuk instalasi lift
berkecepatan tinggi diatas 300 m/menit, dan jarak lintas diatas 200 m.
Lang lay juga lebih tahan terhadap fatigue, tetapi batas patah lebih kecil
kira-kira 10% dibanding dengan regular lay. Umpama pada tali
berdiameter 13 mm, untuk regular lay batas patah 6500 kgf, sedangkan
pada lang lay sebesar kira-kira 5800 kgf.
Tali baja kompensasi

Tali baja kompensasi dipasang sebagai pengimbang berat tali baja tarik,
terutama pada instalasi lift dengan tinggi lintas lebih dari 35 meter dan
lift dengan berkecepatan 210 m/menit keatas. Lift dengan lintas rendah
sampai 35 m dan berkecepatan dibawah 210 m/menit menggunakan
rantai gelang sebagai pengimbang berat tali baja tarik.

Salah satu manfaat penggunaan kompensasi berat atas tali baja ialah
menjaga hubungan traksi T1/T2 konstan sepanjang lintasan. Lonjakan
kereta dapat terjadi saat bobot imbang membentur peredam di pit. Oleh
karena itu overhead harus diperhitungkan tingginya untuk cukup
menampung tinggi ruang aman disamping lonjakan kereta setinggi
setengah langkah peredam. Setelah terjadi Ionjakan, kereta akan jatuh
kembali ke posisi menggantung dengan menimbulkan tegangan dinamis
pada tali baja tarik sesaat, setelah lonjakan. Kejutan semacam itu juga
dapat terjadi saat pesawat pengaman bekerja yaitu kereta meluncur
overspeed kebawah tiba-tiba dihentikan, sehingga bobot irnbang
melonjak keatas sesaat dan kembali ke kedudukannya menggantung
dengan menimbulkan tegangan dinamis pada tali baja tarik.

Tali kompensasi mempunyai peranan meredam peristiwa lonjakan


tersebut. Untuk mengurangi tegangan dinamis pada tali baja tarik,
terutama pada lift berkecepatan diatas 210 m/m, maka dipasang roda
teromol di pit sebagai penegang tali kompensasi. Teromol tersebut
beralur sesuai dengan jumlah dan besarannya tali kompensasi serta duduk
pada rumah yang bebas naik-turun mengikuti ayunan, yang dipandu oleh
sepasang rel vertikal.

Gerakan ayunan naik-turun rumah teromol tersebut perlu diredam dengan


satu atau dua buah shock breaker (sejenis yang digunakan pada
kendaraan bermotor) yang diikat pada dasar pit sekaligus sebagai
penahan kereta agar tidak atau hampir tidak melonjak. Posisi kereta
diujung atas dimulai dari tali kendor atau kecepatan Vo = 0, saat bobot
imbang membentur penyangga dan terhenti. Tahapan berikutnya
tegangan puncak tali terjadi saat tali baja tarik menahan kereta yang
turun kembali dari lonjakan.

Jika tali kompensasi tidak dilengkapi dengan teromol penegang yang


sesuai, dan peredam dari bobot imbang tidak dilengkapi dengan saklar
pemutus arus, maka kereta dapat saja meloncat sampai membentur
bagian bawah lantai kamar mesin, yaitu sesaat setelah bobot imbang
membentur penyangga. Peristiwa ini sering disebut oleh teknisi lapangan
sebagai peristiwa "jatuh keatas".
Mengenal pekerjaan MEP (Mekanikal Elektrikal dan Plumbing) pada proyek gedung- Pada
kesempatan ini saya akan berbagi sedikit pengalaman mengenai pekerjaan MEP (mekanikal
elektrikal dan plumbing) khususnya di proyek gedung. Pada artikel ini saya tidak akan jauh
menjelaskan tentang pekerjaan MEP karena mungkin bukan bidangnya orang sipil. Penting buat
engineer harus tahu pekerjaan MEP karena semua pekerjaan akan saling berkaitan.

Proyek gedung merupakan proyek yang terdiri dari beberapa disiplin ilmu terutama struktur,
arsitektur, dan Mekanikal elektrikal plumbing. Pada artikel ini akan sedikit perkenalan mengenai
pekerjaan MEP karena sangat berhubungan dengan pekerjaan arsitektural. Di dalam satu
proyek semua divisi pekerjaan saling kejar-kejaran untuk memenuhi target skedul. Itulah
mengapa bekerja di proyek sangat menguras pikiran dan fisik. Semua divisi berpacu untuk
mengikuti skedul. Apabila salah satu divisi pekerjaan telat, divisi pekerjaan lain akan terkena
dampaknya.

Berikut ini apa saja pekerjaan MEP (mekanikal elektrikal plumbing) dalam proyek gedung. Saya
akan menggambarkan secara sederhana tentang MEP khususnya di proyek hotel.

1. Plumbing adalah pekerjaan pemipaan yang terdapat pada bangunan gedung seperti
pipa untuk air bersih, air kotor, pipa ventilasi, dan air hujan. Pada pekerjaan pemipaan ini
biasanya menggunakan material pipa PVC, pipa PPR, atau pipa galvanis. Untuk air
bersih dan air panas/dingin biasanya menggunakan pipa PPR.

Pemipaan

 Pemadam Kebakaran/Fire Hydrant adalah pekerjaan MEP yang masih berhubungan


dengan pemipaan air khususnya untuk keperluan pemadam kebakaran jika terjadi
kebakaran. Jenis pekerjaan ini biasanya menggunakan pipa besi SCH 40 untuk
mengalirkan air. Sistem dari pekerjaan pemadam kebakaran pada bangunan hotel akan
berkolaborasi dengan pekerjaan elektrikal. Tiap kamar akan dipasang Alat bernama
smoke detector yang akan mendeteksi asap atau api yang berada di kamar sehingga
secara otomatis sistem pemadam kebakaran akan bekerja sendiri dengan mengeluarkan
air melalui alat Sprinkler.
Pipa pemadam kebakaran

 MVAC adalah pekerjaan instalasi AC (air conditioner) pada hotel. Seiring dengan
kemajuan teknologi AC, sekarang ini di hotel-hotel menggunakan beberapa sistem AC
yaitu split wall dan VRV (Variable Refrigerant Volume). Info lebih lengkap mengenai
AC bisa baca artikel tipe dan jenis AC

AC

 Pekerjaan elektrikal adalah pekerjaan yang berhubungan dengan instalasi listrik.


Pekerjaan elektrikal mencakup panel TM & Transformer, kabel daya tegangan
menengah, panel listrik tegangan rendah, panel distribution box, kabel daya listrik,
tegangan rendah, armatur lampu penerangan, saklar, stop kontak dan key tag, kabel
instalasi penerangan, instalaso stop kontak, dan sistem penangkal petir.

Elektrikal
 Pekerjaan elektronik adalah pekerjaan yang berhubungan dengan instalasi sistem-
sistem dihotel seperti fire alarm system, sistem tata suara, sistem telepon, sistem data,
sistem cctv, dan sistem MATV.
 Pekerjaan Mekanikal Pekerjaan yang berhubungan dengan alat mesin besar seperti Lift
dan ekskalator.

Itulah beberapa pekerjaan MEP (Mekanikal Elektrikal dan Plumbing) pada proyek gedung secara
simpel. Pada umumnya proyek gedung hanya itu-itu saja untuk pekerjaan MEP. Simpel bukan?.
Proyek-proyek gedung yang mempunyai tingkat kesulitan di bidang MEP adalah hotel dan rumah
sakit karena sistem-sistemnya lebih kompleks. Demikian artikel ini semoga bermanfaat.