Anda di halaman 1dari 29

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berdirinya suatu negara tidak lepas dari adanya wilayah, penmerintah dan
warga negara. Warga Negara adalah orang-orang yang secara resmi ikut menjadi
bagian dari penduduk yang dimana mereka menjadi salah satu unsur negara.
Hak-hak yang menyangkut kewajiban warga negara berpengaruh pada
eksistensi persatuan serta kedaulatan suatu negara. Warga negara yang efektif
terletak pada sistem yang tepat dan aktif dari pendidikan kewarganegaraan yang
mengajarkan kepada individu warga negara mengenai hak-hak dan kewajiban-
kewajibannya. Kecenderungannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara hak-hak warga negara meningkat, tanpa selaras dengan kewajiban-
kewajiban warga negara. Ditandai salah satu indikasinya adalah merosotnya nilai
patriotisme, yang merupakan perasaan cinta kepada tanah air dan bangsa, dan
lebih mengaktual kewajiban dibandingkan hak (Ahmadi, Abu. 2003)
Inti dalam Pendidikan Kwearganegaraan dan warga negara adalah
mengembalikan keseimbangan antara keduanya, salah satunya adalah membangun
kesadaran hak dan kewajiban warga negara untuk ikut serta dalam kegiatan
layanan-layanan kepada masyarakat lokal, regional, nasional dan internasional
sebagai wujud warga negara yang baik. Bicara mengenai kewarganaegaraan
tentunya tidak lepas dari asas-asas dari kewarganegaraan itu sendiri. Asas ius
sanguine maupun ius soli serta asas bipatride dan apatride sempat menjadi
permasalahan klasik di indonesia. (Ahmadi, Abu. 2003).

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 1


1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan warga negara?
2. Apa pengertian hak dan kewajiban?
3. Bagaimana kedudukan warga negara dalam negara?
4. Apa hak dan kewajiban warga negara Indonesia?
5. Bagaimana hak dan kewajiban warga negara, orang tua, masyarakat dan
pemerintah menurut undang – undang ?

1.3 Tujuan Pelaksanaan


1.3.1 Tujuan Umum
1. Sebagai standar kompetensi di Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Palembang.
3. Untuk memahami apa itu hak dan kewajiban warga negara

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui pengertian hak dan kewajiban warga negara.
2. Untuk mengetahui kedudukan warga negara dalam negara.
3. Untuk mengetahui hak dan kewajiban warga negara Indonesia.
4. Untuk mengetahui hak dan kewajiban warga negara, orang tua,
masyarakat dan pemerintah menurut undang – undang.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah kewarganegaraan kali ini, adalah
sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian hak dan kewajiban
warga negara.
2. Mahasiswa mampu mengetahui kedudukan warga negara dalam
negara.
3. Mahasiswa mampu mengetahui hak dan kewajiban warga negara
Indonesia.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 2


4. Mahasiswa mampu mengetahui hak dan kewajiban warga negara,
orang tua, masyarakat dan pemerintah menurut undang – undang.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN WARGA NEGARA DAN KEWARGANEGARAAN


A. Warga Negara
Warga mengandung arti peserta, anggota atau warga dari suatu organisasi
atau perkumpulan. Warga negara artinya warga atau anggota dari organisasi yang
bernama negara. Kita juga sering mendengar kata-kata seperti warga desa, warga
kota warga masyarakat, warga bangsa dan warga dunia. Warga diartikan sebagai
anggota atau peserta. Jadi warga negara secara sederhana diartikan sebagai
anggota dari suatu negara (Kaelani, M.S, 2007).
Istilah warga negara merupakan terjemahan kata citizens (bahasa Inggris)
yang mempunyai arti ;
 warga negara,
 petunjuk dari sebuah kota,
 sesama warga negara,
 sesama penduduk
 orang setanah air
 bawahan atau kawula
Istilah warga Negara lazin digunakan untuk menunjukan hubungan yang
sederajat antara warga dengan negaranya. Dengan memiliki status sebagai warga
Negara orang memiliki hubungan dengan negaranya. Hubungan itu nantinya
tercermin dalam hak dan kewajiban. Seperti halnya kita sebagai anggota sebuah
organisasi, maka hubungannya itu berwujud peranan hak dan kewajiban secara
timbal balik (Kaelani, M.S, 2007).
Menurut As Hikam dalam Ghazalli (2004), warga negara sebagai
terjemahan dari citizen artinya adalah anggota dari suatu komunitas yang
membentuk negara itu sendiri.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 3


Pada masa lalu, dipakai istilah kawula atau kawula negara (misalnya zaman
Hindia Belanda) yang menunjukkan hubungan yang tidak sederajat dengan
negara. Istilah kawula memberi kesan bahwa warga hanya sebagai objek atau
milik negara. Sekarang ini istilah warga negara lazim digunakan untuk
menunjukkan hubungan yang sederajat antara warga negara dengan negaranya
(Ghazali, A. M. 2004)
Denggan memiliki status ssebagai warga Negara, orang memiliki hubunga
dengan Negara. Hubunngan itunantinya tercer,min dalam ak da kewajiban. Perti
halnya kita sebagai anggota organisasi, maka hubungan itu berwujud peranan, hak
dan kewajiban secara tial balik. Anggta memiliki ak dan kewajiban terhadap
anggotanya (Kaelani, M.S, 2007)..
Perlu dijelaskkan istilah rakyat, penduduk, dan warga Negara. Rakyat lebih
merupaka konsep politis. Rakyat menunjukka pada orang-orang yang berada di
bawah satu peerintahan dan tunduk terhadap pemerintahan itu. Istilah rakyat
umumnya dilawankan dengan pennguasa. Peduduk adalah orang-orang yang
bertemptt tinggal disuatu wilayah Negara dala kurun waktu tertentu. Orang yang
berada disuatu wilayah Negara dapat dibedakaknn menjadi peduduk dan
nonpenduduk. Ada pun peduduk Negara dapat dibedakan menjadi wrga Negara
dan orang asing atau bukan warga Negara (Kaelani, M.S, 2007).

Untuk lebih jelasnya secara skematis dapat dilihat sebaga berikut.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 4


B. Kewarganegaraan
Kewarganegaraan (citizenship) artinya keanggotaan yang menunjukkan
hubungan atau ikatan antara negara dengan warga negara. Menurut memori
penjelasan dari pasal II Peraturan Penutup Undang-Undang No.62 Tahun 1958
tentang Kewaranegaraan Republik Indonesia, kewarganegaraan diartikan segala
jenis hubungan dengan suatu Negara yang mengakibatkan adanya kewajiban
Negara itu melindungi orang yang bersangkutan (Kaelani, M.S, 2007)..
Pengertian kewarganegaraan dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Kewarganegaraan dalam arti yuridis dan Sosiologis
Kewarganegaraan dalam arti yuridis ditandai dengan adanya ikatan
hukum antara orang-orang dengan Negara. Adanya ikatan hukum itu
menimbulkan akibat-akibat tertentu, yaitu orang tersebut berada dibawah
kekuasaan Negara yang bersangkutan. Tanda dari ikatan hukum misalnya akta
kelahiran, surat pernyataan,bukti kewarganegaraan, dan lain-lain (Ghazali, A.
M. 2004)
Kewarganegaraan dalam arti sosiologis, tidak ditandai dengan ikatan
hukum, tetapi ikatan emosional, seperti ikatan perasaan, ikatan keturunan,
ikatan nasib, ikatan sejarah, dan ikatan tanah air. Dengan kata lain ikatan ini

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 5


lahir dari penghayatan warga Negara yang bersangkutan (Ghazali, A. M.
2004.)
Dari sudut kewarganegaraan sosiologis, seseorang dapat dipandang
Negara sebagai warga negaranya sebab ikatan emosional, tingkah laku dan
penghayatan hidup yang dilakukan menunjukan bahwa orang tersebut sudah
seharusnya menjadi anggota Negara tersebut. Namun dari sudut yuridis orang
tersebut tidak memenuhi kewarganegaraan yuridis sebab tidak memiliki bukti
ikatan hukum Negara (Ghazali, A. M. 2004)
Jadi, dari sisi kewarganegaraan sosiologis ada hal yang belum pernah
terpenuhi yatu persyaratan yuridis yang merupakan ikatan formal orang
tersebut dengan Negara. Disisi lain, terdapat orang yang memiliki
kewarganegaraan dalam arti yuridis, namun tidak memiliki kewarganegaraan
dalam sosiologis. Ia memiliki ikatan hukum dengan Negara, tetapi ikatan
emosional dan penghayatan hidupnya sebagai warga Negara tidak ada. Jadi,
ada kalanya terdapat seorang warga Negara secara yuridis saja sebagai warga
Negara, sedangkan sosiologis belum memenuhi. Adalah sangat ideal apabila
seorang warga Negara memiliki persyaratan yuridis dan sosiologis sebagai
warga Negara (Ghazali, A. M. 2004).

b) Kewarganegaraan dalam arti formil dan materiil


Kewarganegaraan dalam arti formil menunjuk pada tempat
kewarganegaraan. Dalam sistematika hukum, masalah kewarganegaraan
berada pada hukum publik (Ghazali, A. M. 2004)
Kewarganegaraan dalam arti materiil menunjuk pada akibat hukum dari
status kewarganegaraan, yaitu adanya hak dan kewajiban warga Negara.
Kewarganegaraan seseorang mengakibatkan orang tersebut memiliki
pertalian hukum serta tunduk pada hukum. Orang yang sudah memiliki
kewarganegaraan tidak jatuh pada kekuasaan atau kewenangan Negara lain.
Negara lain tidak berhak memperlakukan kaidah-kaidah hukum pada orang
yang bukan warga negaranya (Ghazali, A. M. 2004)

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 6


2.2 KEDUDUKAN WARGA NEGARA DALAM NEGARA
Warga negaralah yang berperan sebagai pendukung Negara dan memiliki
arti penting bagi Negara. Hubungan antara Negara dan warga Negara terwujud
dalam bentuk hak dan kewajiban antara keduanya. Warga Negara memiliki hak
dan kewajiban terhadap Negara. Begitu juga sebaliknya, Negara memiliki hak dan
kewajiban terhadap warganya. Dengan istilah sebagi warga Negara, ia memiliki
hubungan timbal balik yang sederajat dengan negaranya (Winarno. 2007).

A. Penentuan Warga Negara


Dalam penetuan kewarganegaraan didasarkan pada sisi kelahiran dikenal
dua asas yaitu asas ius soli dan asas ius sanguinis. Ius artinya hukum atau dalil.
Soli berasal dari kata solum yang artinya negeri atau tanah. Sanguinis yang berarti
darah.
 Asas ius soli
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan
dari tempat dimana orang tersebut dilahirkan
 Asas ius sanguinis
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan seseorang ditentukan
berdasarkan keturunan dari orang tersebut.
Selain sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada
aspek perkawinan yang mencakup asas kesatuan hukum dan asas persamaan
derajat.
 Asas persamaan hukum didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu
ikatan yang tidak terpecah sebagai inti dari masyarakat. Berdasarkan asas ini
diusahakan bahwa status kewarganegaraan suami dan istri adalah sama dan
satu.
 Asas persamaan derajat berasumsi bahwa suatu perkawinan tiddak
menyebabkan perubahan status kewarganegaraan suami atau istri. Jadi mereka
dapat berbeda kewarganegaraan seperti halnya ketika belum berkeluarga.

B. Warga Negara Indonesia

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 7


Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang diakui oleh
UU sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada orang ini akan diberikan
Kartu Tanda Penduduk, berdasarkan Kabupaten atau (khusus DKI Jakarta)
Provinsi, tempat ia terdaftar sebagai penduduk/warga. Kepada orang ini akan
diberikan nomor identitas yang unik (Nomor Induk Kependudukan, NIK) apabila
ia telah berusia 17 tahun dan mencatatkan diri di kantor pemerintahan. Paspor
diberikan oleh negara kepada warga negaranya sebagai bukti identitas yang
bersangkutan dalam tata hukum internasional (Winarno. 2007).
Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun 2006
tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Menurut UU ini, orang yang
menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah:
 Setiap orang yang sebelum berlakunya UU tersebut telah menjadi WNI
 Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI
 Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu
warga negara asing (WNA), atau sebaliknya
 Anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI dan ayah
yang tidak memiliki kewarganegaraan atau hukum negara asal sang ayah
tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut
 Anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal
dunia dari perkawinan yang sah, dan ayahnya itu seorang WNI
 Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNI
 Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNA yang diakui oleh
seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum
anak tersebut berusia 18 tahun atau belum kawin
 Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir
tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya.
 Anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia
selama ayah dan ibunya tidak diketahui
 Anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan
ibunya tidak memiliki kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 8


 Anak yang dilahirkan di luar wilayah Republik Indonesia dari ayah dan ibu
WNI, yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan
memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan
 Anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan
kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum
mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Selain itu, diakui pula sebagai WNI bagi:


 Anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun
dan belum kawin, diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan
asing
 Anak WNI yang belum berusia lima tahun, yang diangkat secara sah sebagai
anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan
 Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat
tinggal di wilayah RI, yang ayah atau ibunya memperoleh kewarganegaraan
Indonesia
 Anak WNA yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak secara sah
menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh WNI.

Kewarganegaraan Indonesia juga diperoleh bagi seseorang yang termasuk


dalam situasi sebagai berikut:
 Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat
tinggal di wilayah Republik Indonesia, yang ayah atau ibunya memperoleh
kewarganegaraan Indonesia
 Anak warga negara asing yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak
secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara
Indonesia
Di samping perolehan status kewarganegaraan seperti tersebut di atas,
dimungkinkan pula perolehan kewarganegaraan Republik Indonesia melalui
proses pewarganegaraan. Warga negara asing yang kawin secara sah dengan
warga negara Indonesia dan telah tinggal di wilayah negara Republik Indonesia

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 9


sedikitnya lima tahun berturut-turut atau sepuluh tahun tidak berturut-turut dapat
menyampaikan pernyataan menjadi warga negara di hadapan pejabat yang
berwenang, asalkan tidak mengakibatkan kewarganegaraan ganda. (Winarno.
2007).
Berbeda dari UU Kewarganegaraan terdahulu, UU Kewarganegaraan
tahun 2006 ini memperbolehkan dwikewarganegaraan secara terbatas, yaitu untuk
anak yang berusia sampai 18 tahun dan belum kawin sampai usia tersebut
(Winarno. 2007).

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 10


2.3 HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA INDONESIA
A. Pengertian Hak Dan Kewajiban
Ketika lahir, manusia secara hakiki telah mempunyai hak dan kewajiban.
Tiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda, tergantung pada
misalnya, jabatan atau kedudukan dalam masyarakat (Winarno. 2007).
Menurut Prof. Dr. Notonegoro “Hak adalah kuasa untuk menerima atau
melakukan suatu yang semestinya diterima atau dilakukan melulu oleh pihak
tertentu dan tidak dapat dilakukan oleh pihak lain manapun juga yang pada
prinsipnya dapat dituntut secara paksa olehnya.”
Menurut pengertian tersebut individu maupun kelompok ataupun elemen
lainnya jika menerima hak hendaknya dilakukan sesuai dengan aturan yang
berlaku dan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain jadi harus pihak yang
menerimannya lah yang melakukan itu. Dari pengertian yang lain hak bisa berarti
sesuatu yang mutlak menjadi milik kita dan penggunanya tergantung kepada kita
sendiri contohnya hak mendapatkan pengajaran. Dalam hak mendapatkan
pengajaran ini adalah tergantung dari diri kita sendiri, kalau memang menganggap
bahwa pengajaran itu penting bagi kita pasti kita akan senagtiasa akan belajar atau
sekolah atau mungkin kuliah. Tapi kalau ada yang menganggap itu tidak penting
pasti tidak akan melakukan hal itu (Winarno. 2007).
Kewajiban berasal dari kata wajib. Menurut Prof. Dr. Notonegoro “wajib
adalah beban untuk memberikan sesuatu yang semestinya dibiarkan atau
diberikan melulu oleh pihak tertentu tidak dapat oleh pihak lain manapun yang
pada prinsipnya dapat dituntut secara paksa oleh yang berkepentingan.
Kewajiban pada intinya adalah sesuatu yang harus dilakukan. Disini kewajiban
berarti suatu keharusan maka apapun itu jika merupakan kewajiban kita harus
melaksaakannya tanpa ada alasan apapun itu. Dari pengertian yang lain
kewajiban berarti sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa tanggung
jawab.”

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 11


B. Hak Dan Kewajiban Warga Negara
Hak dan kewajiban warga Negara tercantum dalam pasal 27 sampai
dengan pasal 34 UUD 1945. Beberapa hak dan kewajiban tersebut antara lain,
sebagai berikut:
1) Hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Pasal 27 ayat (2) UUD
1945 berbunyi:
“tiap-tiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak bagi kemanusian.” Pasal ini menunjukan asas keadilan sosial dan
kerakyatan.
2) Hak membela Negara. Pasal 27 ayat (2) 1945 berbunyi:
“setiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan Negara.”
3) Hak berpendapat. Pasal 28 UUD 1945, yaitu “kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan
sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”
4) Hak kemerdekaan memeluk agama. Pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945:
Ayat (1) berbunyi: ”Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.” Ini
berarti bahwa bangsa Indonesia percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ayat (2) berbunyi: “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut
agamnya dan kepercayaannya itu.”
5) Hak dan kewajiban membela Negara dinyatakan dalam pasal 30 ayat (1)
UUD 1945, yaitu: “tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut serta
dalam usaha pertahanan Negara.”
6) Hak untuk mendapatkan pengajaran, tercantum dalam pasal 31 ayat (1)
dan (2)
Ayat (1) berbunyi: “tiap-tiap warga Negara berhak mendapatkan
pengajaran.”
Ayat (2) berbunyi: “pemmerintah mengusahakan dan menyelenggarakan
suatu system pengajaran nasional yang diatur dengan UUD 1945”

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 12


7) Hak untuk mengembangkan dan memajukan kebudayaan nasional
Indonesia, tercantum dalam pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yang berbunyi:
“Negara memanjukan kebudayaan nasional Indonesia ditengah
peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam
memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”
8) Hak untuk mendapatkan kesejahteraan, yaitu tedapat pada pas 33 ayat (1),
(2) dan (3).
Ayat (1) berbunyi: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan.”
Ayat (2) bebunyi: “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara
dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.”
Ayat (3) berbunyi: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.”
9) Hak mendapatkan keadilan sosial tercatum dalam pasal 34 yang berbunyi:
“Fakir miskin dan anak-anakyang terlantar dipelihara oleh negara.”
10) Kewajiban menaati hukum dan pemerintahan. Pasal 27 ayat (1) berbunyi:
“segala warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan
tidak ada kecualinya.”
11) Kewajiban membela Negara. Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi: “setiap
warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
Negara.”
12) Kewajiban dalam upaya pertahanan Negara. Pasal 30 ayat(1) berbunyi:
“tiap-tiap warga Negara berhak dan wajib ikut sertadalam usaha
pertahanan Negara.”

C. Hak Dan Kewajiban Negara Terhadap Warga Negara


Selain itu ditentukan pula hak dan kewajiban yang dimiliki Negara
terhadap warga Negara, antara lain:
1) Hak Negara untuk ditaati hukum

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 13


2) Hak Negara untuk dibela
3) Hak Negara untuk menguasai bumi, air dan kekayaan untuk kepentingan
rakyat.
4) Kewajiban warga Negara untuk menjamin system hukum yang adil
5) Kewajiban Negara untuk menjamin hak asasi warga Negara
6) Kewajiban warga Negara untuk mengembangkan sistem pendidikan
nasional untuk rakyat.
7) Kewajiban Negara memberikan jaminan sosial dan kebebasan beragama.
Kebebasan agama sesuai pada UUD 1945 Pasal 28 E yang berbunyi :
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya, serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan
pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

2.4 HAK DAN KEWAJIBAN WARGA NEGARA, ORANGTUA,


MASYARAKAT, DAN PEMERINTAH

Bagian Kesatu
Hak dan Kewajiban Warga Negara
Pasal 5

1. Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh


pendidikan yang bermutu.
2. Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosionl, mental, intelektual,
dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
3. Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat
yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
4. Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
berhak memperoleh pendidikan khusus.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 14


5. Setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan meningkatkan
pendidikan sepanjang hayat.

Pasal 6

1. Setiap warga negara yang berusia tujuh tahun sampai dengan lima belas
tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.
2. Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan
penyelenggara pendidikan.

Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Orangtua
Pasal 7

1. Orangtua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan


memperoleh informasi tentang perkembangan pendidikan anaknya.
2. Orangtua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan
pendidikan dasar kepada anaknya.

Bagian Ketiga
Hak dan Kewajiban Masyarakat
Pasal 8
Masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
dan evaluasi program pendidikan.

Pasal 9

Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya dalam


penyelenggaraan pendidikan.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 15


Bagian Keempat
Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Pasal 10

Pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing,


membantu, dan mengawasi penyelenggaran pendidikan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 11

1. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan


kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu
bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
2. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna
terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh
tahun sampai dengan lima belas tahun.

Bagian Kelima
Hak dan Kewajiban Peserta Didik
Pasal 12

1. Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak :


a. Mendapat pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan
diajarkan oleh pendidik yang seagama.
b. Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan
kemampuannya.
c. Mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orangtuanya tidak
mampu membiayai pendidikannya.
d. Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan lain
yang setara.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 16


e. Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar
masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu
yang ditetapkan.

2. Setiap peserta didik berkewajiban :


a. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan
proses dan keberhasilan pendidikan.
b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi
peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendidikan
yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
4. Ketentuan mengenai hak dan kewajiban peserta didik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.

2.5 Hak dan Kewajiban Antara Orang Tua dan Anak Bedasarkan UUD
Nomor 1 Tahun 1974

Pasal 45

(1) Kedua orang tua wajib memelihara dan menddidik anak-anak mereka sebaik-
baiknya
(2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai
anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus
meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.

Pasal 46

(1) Anak wajib menghormati orang tua dan mentaati kehendak mereka yang baik.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 17


(2) Jika anak telah dewasa, ia wajib memelihara menurut kemampuannya, orang
tua dan keluarga dalam garis lurus ke atas bila mereka itu memerlukan
bantuannya.
Pasal 47

(1) Anak yang belum mencapai umur 18 ( delapan belas ) tahun atau belum
pernah melangsungkan perkawinan ada di bawah kekuasaan orang tuanya
selama mereka tidak dicabut dari kekuasaannya.
(2) Orang tua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam
dan di luar Pengadilan.

Pasal 48

Orang tua tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggandakan


barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 (delapan
belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, kecuali apabila
kepentingan anak itu menghendakinya.

Pasal 49

(1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap
seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua
yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saidara kandung yang
telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan
dalam hal-hal:
a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;
b. Ia berkelakuan buruk sekali.
(2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk
memberi pemeliharaan kepada anak tersebut.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 18


2.6 Pandangan Islam Mengenai Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak
Anak merupakan anugrah yang diberikan kepada kita, mereka merupakan
titipan dari ilahi, mereka merupakan amanah dari tuhan yang maha kuasa yang
harus benar-benar kita jaga. Sebagai seorang muslim Bukan saja sang anak yang
mempunyai kewajiban terhadap orangtua, orang tua pun mempunyai kewajiban
terhadap anak yang harus ditunaikan. Kewajiban orang tua terhadap anaknya
adalah sebuah wujud aktualitas hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua.
Kewajiban sebagai orangtua yang harus didapatkan oleh sang anak. Dalam agama
islam kewajiban orang tua terhadap anak antara lain dapat kita lihat sebagai
berikut :

A. Anak mempunyai hak untuk hidup


Kewajiban orangtua terhadap anaknya tetap bisa hidup, meski dalam
keadaan bagaimanpun, sesulit apapun ekonomi dalam keluarga, jangan sampai
kehidupan anak terabaikan. Sering kita lihat bahwa anak pendapat perlakuan yang
tidak sesaui. Orang tua sering mengabaikan kewajibannya terhadap anak-anaknya,
bahkan terdapat kasus yang sering menimpa anak yang mengakibatkan anak itu
meninggal.
‘Janganlah kamu membunuh anak anakmu karena takut miskin. Kami akan
memberikan rizqi kepadamu dan kepada mereka.’ ( QS. Al-An’am: 151)
Kemudian dalam satu hadist nabi yang di riwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim dari abdullah bin Mas`ud Ra. Aku pernah bartanya, Ya Rasulullah, Dosa
apa yang paling besar? Kemudian nabi bersabda “ kamu menyekutukan allah
padahal dialah yang telah menciptakan kamu , kemudian apalagi tanyaku lagi,
beliau menjawab “kamu membunuh anak-anak kamu karena kamu takut ia makan
bersamamu.
Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa orang tua mempunyai kewajiban
agar anak tetap bisa hidup betapapun susahnya kondisi ekonomi orang tua, dan
mereka berdosa jika mereka mengabaikan anak-anak mereka. Ayat itu juga
memberi jaminan kepada kita bahwa Allah pasti akan memberikan rejeki baik
kepada orang tua maupun anak, asalkan mereka berusaha dan tawakal.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 19


B. Menyusui
Wajib atas seorang ibu menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana
firman Allah yang artinya : “Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama
dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS AI
Baqarah: 233)
Air susu dalam beberapa hari kelahiran mempunyai beberapa kelebihan,
antara lain mengandung zat antibody yang sangat diperlukan oleh bayi. Bayi yang
memperoleh air susu jenis ini akan mempunyai daya kekebalan tubuh yang lebih
baik. Seorang ibu diwajibkan untuk menyusui anaknya sampai 2 tahun penuh,
kecuali ada alasan syari. Menyusui anak sampai dua tahun ini akan menumbuhkan
pengaruh positif terhadap sang anak baik secara fisik maupun secara mental.

C. Memberi Nama yang Baik


Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang
tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang
baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan al-Qur’an dan ketiga,
mengawinkan ketika menginjak dewasa.” Rasulullah saw diketahui telah
memberi perhatian yang sangat besar terhadap masalah nama. Kapan saja beliau
menjumpai nama yang tidak menarik (patut) dan tak berarti, beliau mengubahnya
dan memilih beberapa nama yang pantas. Beliau mengubah macam-macam nama
laki-laki dan perempuan. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Aisyah ra,
bahwa Rasulullah saw biasa merubah nama-nama yang tidak baik. (HR.
Tirmidzi).
Berkenaan dengan nama-nama yang bagus untuk anak, Rasulullah saw
bersabda, “Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan
nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian.” (HR.Abu Dawud)
Pemberian ‘nama yang baik’ bagi anak adalah awal dari sebuah upaya
pendidikan terhadap anak anak. Ada yang mengatakan; ‘apa arti sebuah nama’.
Ungkapan ini tidak selamanya benar. Islam mengajarkan bahwa nama bagi
seorang anak adalah sebuah do’a. Dengan memberi nama yang baik, diharapkan
anak kita berperilaku baik sesuai dengan namanya. Adapun setelah kita berusaha

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 20


memberi nama yang baik, dan telah mendidiknya dengan baik pula, namun anak
kita tetap tidak sesuai dengan yang kita inginkan, maka kita kembalikan kepada
Allah s.w.t. Nama yang baik dengan akhlaq yang baik, itulah yang kita
harapkan. Nama yang baik dengan akhlaq yang buruk, tidak kita harapkan.
Apalagi nama yang buruk dengan akhlaq yang buruk pula. Celaka berlipat ganda.

D. Mengaqiqahkan Anak
Menurut keterangan A. Hasaan ‘aqiqah adalah; ‘ menyembelih kambing
untuk (bayi) yang baru lahir, dicukur dan diberi nama anak itu, pada hari
ketujuhnya.
Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Tiap tiap seorang anak tergadaikan dengan
‘aqiqahnya yang disembelih atas namanya ada hari ketujuh kelahirannya, lalu ia di
cukur, dan diberi nama. (HR. Ahmad dan Imam yang empat ).

E. Memberi makan dan keperluan lainnya


Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan
cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah
karena anaknya, dan warisanpun berkewajiban demikian. Rasulullah s.a.w.
bersabda; ‘Cukup berdosa orang yang menyia nyiakan ( tanggung jawab)
memberi makan keluarganya.’ ( HR Abu Daud )
“... dan kewajiban bagi ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara
yang patut....” (Qur`an Albaqarah : 233)

F. Memberi rizqi yang‘thayyib’. Rasulullah s.a.w. bersabda;


Dari Abu Rafi’ r.a. telah berkata; Telah bersabda Rasulullah s.a.w. ‘Kewajiban
orang tua terhadap anaknya adalah mengajarinya tulis baca, mengajarinya
berenang dan memanah, tidak memberinya rizqi kecuali rizqi yang baik.’ HR Al
Hakim.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 21


G. Mendidik anak
Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran
seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat
bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu
tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak
ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang
tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”
Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan
sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga,
mendidik mereka dengan al-Qur’an.”

 Pendidikan tentang agama.

Rasulullah s.a.w. bersabda;


‘Tiap bayi dilahirkan dalam kadaan suci ( fithrah Islamy ) . Ayah dan
Ibunyalah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nashrany, atau Majusyi. HR
Bukhari. Mendidik anak pada umunya baik laki laki maupun perempuan adalah
kewajiban bagi kedua orang tuanya. Dan mendidik anak perempuan mempunyai
nilai tersendiri dari pada mendidik anak laki laki. Boleh jadi karena mereka adalah
calon Ibu rumah tangga yang bakal menjadi ‘Madrasah’ pertama bagi anak
anaknya’. Boleh jadi juga karena kaum wanita mempunyai beberapa keitimewaan
atau ke khassan tersendiri., sehingga di dalam Al Qur aan pun terdapat surat An
Nisa, tetapi tidak ada surat ‘Ar Rijal’. Wallaahu a’lam. Rasulullah s.a.w. bersabda:
‘Barang siapa mempunyai dua anak perempuan dan dia asuh dengan baik
maka mereka akan menyebabkannya masuk sorga. ( HR Al Bukhary )Mengenai
kekhassan kaum wanita, antara lain Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Wanita itu
bagaikan tulang rusuk. Apabila anda biarkan begitu saja, dia akan tetap bengkok.
Namun apabila anda luruskan sekaligus, dia akan patah’.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 22


H. Menyediakan tempat tidur terpisah antara laki laki dan perempuan.
Dalam ajaran agama Islam mengejarkan ‘hijab’ sejak dini. Meskipun
terhadap sesama Muhrim, karena keluargalah yang pertama sekali memberi
pelajaran kepada anak. Bila dalam keluarga tidak mengajarkan sejak dini. Bila
telah berusia tujuh tahun tempat tidur mereka harus dipisahkan. Rasulullah s.a.w.
bersabda; ‘Suruhlah anak anakmu sholat bila berumur tujuh tahun dan gunakan
pukulan jika mereka sudah berumur sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur
mereka ( putra putri ).
Maksudnya, kewajiban mendidik anak untuk mengerjakan sholat dimulai setelah
anak berumur tujuh tahun. Bila telah berusia sepuluh tahun anak belum juga mau
mengerjakan sholat, boleh dipukul dengan pukulan ringan, yang mendidik, bukan
pukulan yang membekas atau menyakitkan.

I. Kasih Sayang
Hilangkanlah rasa benci pada anak apa pun yang mereka lakukan, do’akan
dia selalu, agar menjadi anak yang sholeh, santunilah dengan lemah lembut,
shobarlah menghadapi perilakunya yang tidak baik, hadapi segalanya dengan
penuh kearifan, jangan mudah membentak apalagi memukul tanpa alasan,
tempatkan dia dengan ikhlash pada hati anda, belailah dengan penuh kasih sayang
nasehati dengan santun. Satukan hati kita dengan anak anak. Semoga Allah
menjadikan mereka ‘ waladun shalihun yad’uu lahu’. Itulah harapan orang tua
yang baik. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa ;
Seorang datang kepada Nabi s.a.w. dan bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah hak
anakku ini? Nabi s.a.w. menjawab;’ Kau memberinya nama yang baik, memberi
adab yang baik dan memberinya kedudukan yang baik ( dalam hatimu). ( HR At
Tuusy )
Kecintaan orang tua kepada anak tidak cukup dengan hanya memberinya
materi baik berupa pakaian, makanan atau mainan dan sebagainya. Tapi yang
lebih dari pada itu adalah adanya perhatian dan rasa kasih sayang yang tulus dari
kedua orang tua.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 23


Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 24
J. Memberikan pengajaran keterampilan.
Islam memberantas pengangguran. Salah satu penyebab adanya
panganguran adalah apabila seseorang tidak mempunyai ketrapilan tertentu. Bila
dia punya ketrampilan tertentu, paling tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna
buat dirinya ataupun orang lain.
Rasulullah s.a.w. bersabda; ‘Mengapa tidak kau ajarkan padanya (anak itu)
menenun sebagaimana dia telah diajarkan tulis baca?’ (HR An- Nasai)
Kalimat ‘menenun’ sebagai mewakili jenis jenis ketrampilan yang lain. Artinya
tidak terbatas pada menenun saja. Kerajinan tangan apapun selama itu
bermanfa’at dan tidak dilarang dalam Agama adalah suatu hal yang ma’ruf.

K. Mengarahkan anak
Orang tua wajib mengarahkan anak-anak, serta menekankan mereka untuk
memilih kawan, teman duduk maupun teman dekat yang baik. Hendaknya orang
tua menjelaskan kepada anak tentang manfaat di dunia dan di akhirat apabila
duduk dan bergaul dengan orang-orang shalih, dan bahaya duduk dengan orang-
orang yang suka melakukan kejelekan ataupun teman yang jelek. Sudah menjadi
kewajiban orang tua untuk mencari tahu setiap keadaan anak, menanyakan tentang
teman-temannya. Betapa banyak terjadi seorang anak yang jelek mengajak teman-
temannya untuk berbuat kemungkaran dan kerusakan, serta menghiasi perbuatan
jelek dan dosa di hadapan teman-temannya. Padahal anak kecil seringkali meniru,
suka menuruti keinginannya serta suka mencari pengalaman baru. Oleh karena itu,
orang tua hendaknya berupaya agar anak berteman dengan teman-teman yang
baik dan shalih, serta berasal dari keluarga yang baik. Di samping itu juga
berupaya untuk memuliakan teman-teman si anak agar mudah memberi
bimbingan dan arahan pada mereka dan mereka pun akan bersikap lembut di
hadapan orang tua.
Bila suatu ketika orang tua mendapati anaknya berbuat kejelekan dan
kerusakan, tidak mengapa orang tua berusaha mencari tahu tentang keadaan
anaknya. Walaupun dengan hal itu mereka terpaksa melakukan salah satu bentuk
perbuatan tajassus (mata-mata). Ini tentu saja dengan tujuan mencegah kejelekan

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 25


dan kerusakan yang terjadi, karena sesungguhnya Allah k tidak menyukai
kerusakan. Inilah kiranya sebuah kewajiban yang tak boleh dilupakan oleh setiap
orang tua. Hendaknya orang tua mengingat sebuah ucapan yang dituturkan oleh
‘Amr bin Qais
“Sesungguhnya pemuda itu sedang tumbuh. Maka apabila dia lebih
mengutamakan untuk duduk bersama orang-orang yang berilmu, hampir-hampir
bisa dikata dia akan selamat. Namun bila dia cenderung pada selain mereka,
hampir-hampir dia rusak binasa.”

L. Menikahkannya
Bila sang buah hati telah memasuki usia siap nikah, maka nikahkanlah.
Jangan biarkan mereka terus tersesat dalam belantara kemaksiatan. Do’akan dan
dorong mereka untuk hidup berkeluarga, tak perlu menunggu memasuki usia
senja. Bila muncul rasa khawatir tidak mendapat rezeki dan menanggung beban
berat kelurga, Allah berjanji akan menutupinya seiring dengan usaha dan kerja
keras yang dilakukannya, sebagaimana firman-Nya, “Kawinkanlah anak-anak
kamu (yang belum kawin) dan orang-orang yang sudah waktunya kawin dari
hamba-hambamu yang laki-laki ataupun yang perempuan. Jika mereka itu orang-
orang yang tidak mampu, maka Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka
dari anugerah-Nya.” (QS. An-Nur:32)
Keselamatan iman jauh lebih layak diutamakan daripada kekhawatiran-
kekhawatiran yang sering menghantui kita. Rasulullah dalam hal ini bersabda,
“Ada tiga perkara yang tidak boleh dilambatkan, yaitu: shalat, apabila tiba
waktunya, jenazah apabila sudah datang dan ketiga, seorang perempuan apabila
sudah memperoleh (jodohnya) yang cocok.” (HR. Tirmidzi)
Apabila mati seorang manusia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal : 1
sedekah jariah yang pernah ia lakukan, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang
shaleh yang mendoakannya “ Hadist Riwayat Muslim).

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 26


BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Warga Negara adalah orang-orang yang secara resmi ikut menjadi bagian
dari penduduk yang dimana mereka menjadi salah satu unsur penting
terbentuknya suatu negara. Negara belum dikatakan utuh jika tidak memiliki
warga negara, wilayah, serta pemerintahan. Warga negara memiliki hak dan
kewajiban dalam hubungannya dengan negara yang diatur dalam konstitusi negara
UUD 1945.
Hak dan Kewajiban merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, akan
tetapi terjadi pertentangan karena hak dan kewajiban tidak seimbang. Bahwa
setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban untuk mendapatkan penghidupan
yang layak, tetapi pada kenyataannya banyak warga negara yang belum
merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupannya. Semua itu terjadi karena
pemerintah dan para pejabat tinggi lebih banyak mendahulukan hak daripada
kewajiban. Padahal menjadi seorang pejabat itu tidak cukup hanya memiliki
pangkat akan tetapi mereka berkewajiban untuk memikirkan diri sendiri. Jika
keadaannya seperti ini, maka tidak ada keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Jika keseimbangan itu tidak ada maka akan terjadi kesenjangan sosial yang
berkepanjangan.
Untuk mencapai keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu dengan cara
mengetahui posisi diri kita sendiri. Sebagai seorang warga negara harus tahu hak
dan kewajibannya. Seorang pejabat atau pemerintah pun harus tahu akan hak dan
kewajibannya. Seperti yang sudah tercantum dalam hukum dan aturan-aturan
yang berlaku. Jika hak dan kewajiban seimbang dan terpenuhi, maka kehidupan
masyarakat akan aman sejahtera. Hak dan kewajiban di Indonesia ini tidak akan
pernah seimbang.
Apabila masyarakat tidak bergerak untuk merubahnya. Karena para pejabat
tidak akan pernah merubahnya, walaupun rakyat banyak menderita karena hal ini.
Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan materi daripada memikirkan

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 27


rakyat, sampai saat ini masih banyak rakyat yang belum mendapatkan haknya.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang berdemokrasi harus bangun dari
mimpi kita yang buruk ini dan merubahnya untuk mendapatkan hak-hak dan tak
lupa melaksanakan kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia.
Adapun hak dan keawajiban antara orang tua dan anak bedasarkan UUD
nomor 1 tahun 1974, bahwasanya kedua orang tua wajib memelihara dan
menddidik anak-anak mereka sebaik-baiknya sampai anak itu kawin atau dapat
berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua
orang tua putus (perceraian), dan anak wajib menghormati orang tua dan mentaati
kehendak mereka yang baik.

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 28


DAFTAR PUSTAKA

Abu, Abdillah ahmad. 2011. Ensikopledia Anak. Jakarta Timur Indonesia: Darus
Sunnah
Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarat: PT Rineka Cipta.
Al-Hafizh, Ibnu Hajar. 2010. Bulughul Maram Ed. Terjemahan. Jakarta: Akbar
Media
Ghazali, A. M. 2004. Civics Education: Pendidikan Kewarganegaraan Perspektif
Islam. Bandung: PT Mulya
Kaelani, M.S. dan Achmad Zubaidi. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk
Perguruan Tinggi. Penerbit Paradigma:Yogyakarta
Noor, Arifin. 2007. ISD (Ilmu Sosial Dasar) Untuk UIN, STAIN, PTAIS Semua
Fakultas dan Jurusan Komponen MKU. Pustaka Setia: Bandung
Salim, Ahmad Abdul. 2009. Hukum Mambaca Alquran Untuk Orang
Mati Jakarta: Media Dakwah.
Shalihin, Syarah Riyadhahush. 2010. Jilid 1. Imam Nawawi Gema Insani. Jakarta
Syahminan, Zaini. 1992. Arti Anak Bagi Seorang Muslim. Surabaya: Al-Iklas
Winarno. 2007. Pendidikan kewarganegaraan. Surkarta: PT Bumi Aksara

Makalah Kewarganegaraan Kelompok 3 29