Anda di halaman 1dari 2

Alergi Hidup

Pagi hari di suatu desa terpencil terlihat anak kecil berlari-lari kesana kemari.
Sembari menghirup udara segar, Dimas kembali meneguk teh yang dibuatkan oleh
gurunya.

Dimas : “Saya ingin mati saja pak, saya sudah tidak kuat dengan beban hidup ini. Masalah
keluarga, masalah kantor dan masalah lainnya yang membebani saya.”

Guru : “Ternyata kamu sedang sakit ya.”

Dimas : “Saya tidak sakit pak, saya hanya ingin mati.”

Guru : “Itu namanya kamu sedang sakit alergi hidup.”

Dimas : “Tapi saya benar-benar ingin mati pak.”

Guru : “Apa tidak sebaiknya kamu pikir-pikir dulu?”

Dimas : “Saya sudah memikirkannya matang-matang pak dan saya yakin dengan apa yang
saya putuskan.”

Guru : “Baiklah, kalau begitu bawalah ini! (dengan menyodorkan botol kecil pada Dimas)
Kalau kamu ingin mati minumlah ini!”

Dimas : “(Dengan wajah heran) “Apakah bapak yakin ingin memberikan racun ini pada
saya?”

Guru : “Kalau kamu memang ingin mati, nanti sore minumlah setengah botol, dan
setengahnya lagi kamu minum besok sore.”

Dimas : “Baiklah pak.”

Dalam perjalanan pulang, Dimas tak berhenti berpikir kenapa gurunya yang satu
ini tidak mencegah keinginannya seperti guru-gurunya yang lain. Malah gurunya
memberikan sebotol racun padanya.

Sore harinya ia meminum setengah botol. Dimas yang sadar ia akan mati,
perilakunya berubah seratus delapan puuh derajat. Pada istrinya pun ia menjadi amat
lembut.

Istri : “Ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi berubah seperti ini?”

Dimas : “Ah...tidak apa-apa kok. Aku begini karena aku mencintaimu.”


Istri : “Aku juga mencintaimu.”

Pagi harinya Dimas menjadi sangat ramah kepada seluruh karyawannya. Dimas
melakukan itu juga karena ia sadar bahwa ia akan mati. Siangnya ia pulang dan mengajak
keluarganya jalan-jalan. Sekali lagi ia melakukan itu karena ia yakin akan mati dan ingin
memberikan kenangan indah untuk keluarganya.

Anak : “Terima kasih ayah sudah mau mengajakku dan bunda jalan-jalan.”

Dimas : “Sama-sama sayang. Ayah sangat mecintaimu.”

Anak : “Aku juga ayah. Aku sangat menyayangi ayah. Karena ayah yang selalu sibuk
sekarang mau meluangkan waktu untuk kita.”

Setelah seharian Dimas memberikan kenangan terindahnya untuk semua orang,


Dimas kembali menuju rumah gurunya.

Dimas : “Saya telah memberi kenangan indah pada semua orang yang dekat dengan
saya.”

Guru : “Lalu apakah kau masih ingin mati?”

Dimas : “Sebenarnya saya ingin mengurungkan niat saya, karena hari ini saya merasa
kehidupan saya lebih indah.”

Guru : “Kalau begitu buang saja botol itu.”

Dimas : “Tapi bagaimana dengan setengahnya yang telah saya minum kemarin?”

Guru : “Sebenarnya itu hanya air putih biasa, jadi kamu tidak perlu merasa khawatir.
Hidup itu jangan dijadikan beban. Anggap saja hidup itu seperti air yang mengalir. Kamu
harus ikut mengalir dengan air itu. Jika kamu berhenti atau tidak mengikuti aliran itu,
maka kau akan mati dengan sia-sia.”

Dimas : “Terima kasih pak.”

Guru : “Ya, sama-sama.”