Anda di halaman 1dari 15

SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN

DI RUANG ALEXANDRI RSUD DR. H. MOCH. ANSYARI SALEH


BANJARMASIN

POKOK BAHASAN : Terapi bermain stimulasi kognitif


SUB POKOK BAHASAN: Terapi bermain mengenal warna, huruf
WAKTU: 45 Menit
HARI/TANGGAL: Senin, 21 Agustus 2017
TEMPAT: Ruang Alexandri
SASARAN : Anak usia Pra Sekolah (3-5 tahun)
PELAKSANA : Kelompok 3 (Adi fahrizal, Aulia Fatimah, Eko Kresno Putro)

A. Latar Belakang
Hospitalisasi selama kanak-kanak adalah pengalaman yang memiliki efek yang lama,
kira-kira satu dari tiga anak pernah mengalami hospitalisasi (Foster and Humsberger, 1998).
Hospitalisasi menjadi stresor terbesar bagi anak dan keluarganya yang menimbulkan
ketidaknyamanan, jika koping yang biasa digunakan tidak mampu mengatasi atau
mengedalikan akan berkembang menjadi krisis. Tetapi besarnya efek tergantung pada
masing-masing anak dalam mempersepsikannya.
Hospitalisasi adalah kebutuhan klien untuk dirawat karena adanya perubahan atau
gangguan fisik, psikis, sosial dan adaptasi terhadap lingkungan. Hospitalisasi terjadi apabila
dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami suatu gangguan fisik maupun
mentalnya yang memungkinkan anak untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Hospitalisasi dapat merupakan satu penyebab stres bagi anak dan keluarganya. Tetapi
tingkat stresor terhadap panyakit dan hospitalisasi tersebut berbeda menurut anak secara
individu. Mungkin seorang anak menganggap hal itu sebagai hal yang biasa tetapi mungkin
yang lainnya menganggap hal tersebut sebagai suatu stresor. Upaya yang dilakukan adalah
meminimalkan stress sebagai pengaruh negatif dari hospitalisasi yaitu melakukan kegiatan
“Terapi Bermain”. Bermain dipercaya mampu menurunkan stress pada anak akibat
lingkungan yang baru dan tindakan invasif selama proses perawatan di rumah sakit.
Bermain dan anak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Aktivitas
bermain selalu dilakukan anak dan aktivitas anak selalu menunjuk kepada kegiatan bermain.
Bermain dan anak sangat erat kaitannya hubungannya. Menurut Catron dan Allen dalam
bukunya Early Childhood Curriculum A Creative-Play Model (1999) mengatakan bahwa
bermain merupakan wahana yang memungkinkan anak-anak berkembang optimal. Bermain
secara langsung mempengaruhi seluruh wilayah dan aspek perkembangan anak. Kegiatan
bermain memungkinkan anak belajar tentang diri mereka sendiri, orang lain, dan
lingkungannya. Dalam kegiatan bermain, anak bebas untuk berimajinasi, bereksplorasi, dan
menciptakan sesuatu.
Mewarnai gambar merupakan terapi permainan yang kreatif untuk mengurangi stress dan
kecemasan serta meningkatkan komunikasi pada anak. Menggambar atau mewarnai bila
sebagai suatu permainan yang “nondirective” memberikan kesempatan anak untuk bebas
berekspresi dan sangat “theurapeutic”(sebagai permainan penyembuh/ “theurapeutic play”)
(Whaley, 1991). Mengekpresikan perasaan dengan menggambar/ mewarnai gambar, berarti
memberikan pada anak suatu cara untuk berkomunikasi, tanpa menggunakan kata (Veltman,
2000).
Salah satu manfaat bermain bagi anak adalah untuk meningkatkan daya kreativitas dan
membebaskan anak dari stres. Kreativitas anak akan berkembang melalui permainan. Ide-ide
yang orisinil akan keluar dari pikiran mereka. Bermain juga dapat membantu anak untuk
lepas dari stres kehidupan sehari-hari. Stres pada anak dapat disebabkan oleh rutinitas harian
selama hospitalisasi yang membosankan.
Berdasarkan hal di atas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan kegiatan terapi
aktifitas bermain tentang bermain mewarnai terhadap anak usia sekolah di Ruang 15 RSSA
Malang.

2. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan terapi bermain selama kurang lebih 30 menit diharapkan anak dapat
terstimulasi kemampuan motorik dan kreativitasnya.
b. Tujuan Instruksional Khusus
 § Anak dapat melakukan interaksi dan bersosialisasi dengan dengan teman
sesamanya
 § Menurunkan perasaan hospitalisasi.
 § Dapat beradaptasi dengan efektif terhadap stress karena penyakit dan dirawat
 § Meningkatkan latihan konsentrasi
 § Mengurangi rasa takut dengan tenaga kesehatan.
 § Melanjutkan perkembangan ketrampilan motorik halus.

3. Sasaran
Yang menjadi sasaran dalam terapi bermain adalah anak yang sedang menjalani
perawatan di ruang Alexandri RSUD Dr. H. Moch Ansyari Saleh usia prasekolah (3-6 tahun).

4. Sarana dan Media


a. Sarana:
- Ruangan tempat bermain.
- Lantai untuk anak dan orang tua.
b. Media:
- pensil warna
- kertas
- Jam / pengukur waktu

5. Materi (terlampir)

6. Susunan Acara
Permainan mewarnai dilakukan dalam waktu kurang lebih 30 menit dengan susunan acara
sebagai berikut:
Waktu Kegiatan perawat Kegiatan peserta
1. Mengucapkan salam 1. Membalas salam
5 Menit 2. Memperkenalkan diri 2. Mendengarkan penjelasan
Pembukaan3. Menjelaskan tujuan dan peraturan 3. Mendengarkan penjelasan
(perkenalan kegiatan
) 4. Menjelaskan media yang akan 4. Mendengarkan penjelasan
dijadikan media permainan
1. Mengumpulkan klien yang telah 1. Ikut berkumpul
diseleksi
20 Menit 2. Meminta kepada setiap anak untuk2. Memperkenalkan diri dan
Permainan menyebutkan namanya masing- bersalaman dengan peserta yang
masing dan bersalaman dengan lainnya
semua peserta yang lain
3. Menjelaskan kembali tentang
permainan beserta alat-alatnya 3. Mendengarkan penjelasan
4. Meminta anak-anak untuk bersiap-
siap memulai mengambil kertas 4. Mulai bersiap-siap untuk memulai
bergambar dan mewarnai dengan mewarnai gambar
kreasi masing-masing

5 Menit 1. Memberikan kesimpulan 1. Mendengarkan


Penutup permainan 2. Menjawab salam penutup
(Terminasi 2.
) Mengucapkan salam penutup

7. Skema Terapi Bermain


a. Deskripsi tugas Terapis
Leader
 Memimpin jalannya acara bermain
 Membuka perkenalan
 Membuat dan mengatur setting tempat dan waktu
 Menutup kegiatan bermain
Fasilitator
 Mendampingi / membantu peserta dalam bermain
Observer
 Mengobservasi jalannya acara permainan
 Memberikan sekilas penilaian
 Memberikan kritik dan saran setelah acara selesai
 Mengevaluasi dan memberikan feedback pada leader
b. Setting Tempat

leader

fasilitator

peserta

observer

Pembagian tugas:
Leader : Eko Kresno Putro
Moderator : Adi Fahrizal
Fasilitator : Aulia Fatimah

8.Evaluasi
Yang dievaluasi dalam kegiatan ini adalah:
Û Persiapan
 Kesiapan alat-alat permainan dan ruangan untuk bermain
 Kesiapan peserta dalam mengikuti permainan
 Ketepatan waktu
Û Proses.
 Kemampuan leader memimpin permainan
 Kemampuan fasilitator dalam memfasilitasi anak
 Respon anak selama bermain (kontak mata, kehadiran penuh, antusiasme anak selama
bermain)
Û Hasil
 Kesan –kesananak setelah melakukan terapi bermain
NAMA PESERTA YANG HADIR DALAM TERAPI BERMAIN :
1.
2.
3.
4.
5.

RESPON PESERTA :
1.

2.

3.

4.

5.
TERAPI BERMAIN
A. PENGERTIAN BERMAIN
Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalamdirinya yang tidak
disadari (Wholey and Wong, 1991).
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh
kesenangan (Foster, 1989).
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock).
Bermain adalah ungkapan bahasa secara alami pada anak yang diekspresikan melalui bio-
psiko-sosio anak yang berhubungan dengan lingkungan (Cindy Smith).
Kesimpulan: Bermain merupakan bahasa dan keinginan dalam
mengungkapkan konflik dari anak yang tidak disadarinya serta dialami dengan kesenangan
yang diekspresikan melalui bio-psiko-sosio yang berhubungan dengan lingkungan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir.

B. KATEGORI BERMAIN
 Bermain aktif
Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri atau kegembiraan
timbul dari apa yang dilakukan oleh anak. Contoh: bermain sepak bola.
 Bermain pasif/hiburan
Energi yang dikeluarkan sedikit, anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya
melihat), kesenangan diperoleh dari kegiatan orang lain. Contoh: memberikan
support, menonton televisi.

C. JENIS PERMAINAN
1.Permainan bayi
Permainan sederhana oleh anggota keluarga dilakukan pada usia 0-1 tahun.
Contoh: petak umpet, dakon, kejar-kejaran.
2.Permainan perorangan
Untuk menguji kecakapan, ada peraturan sedikit, dilakukan pada todler dan
prasekolah. Contoh: menendang bola.
3.Permainan tetangga
Permainan kelompok, pada prasekolah dan sekolah.
Contoh: bermain polisi dan penjahat.
4.Permainan tim
Permainan terorganisir, punya aturan tertentu, dilakukan pada usia sekolah dan remaja.
Contoh: sepakbola, kasti, lari.
5.Permainan dalam ruang
Permainan pada anak sakit atau lelah, dilakukan pada cuaca buruk atau hujan.
Contoh: main kartu, tebak-tebakan, teka-teki.

D. CIRI-CIRI BERMAIN
 Selalu bermain dengan sesuatu atau benda
 Selalu ada timbal balik, sifat interaksi
 Selalu dinamis, berkembang
 Ada aturan tertentu
 Menuntut ruangan tertentu.

E. KLASIFIKASI BERMAIN

1. Menurut Isi
a. Social affective play
Anak belajar memberi respon dan berhubungan dengan orang lain terhadap respon
yang diberikan oleh lingkungan dalam bentuk permainan, misalnya orang tua
berbicara memanjakan anak tertawa senang, dengan bermain anak diharapkan dapat
bersosialisasi dengan lingkungan.
b. Sense of pleasure play
Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada disekitarnya,dengan
bermain dapat merangsang perabaan alat, misalnya bermain air atau pasir, mengenal
rasa, bau.
c. Skill play
Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh keterampilan tertentu dan
anak melakukan secara berulang-ulang, misalnya mengendarai sepeda roda tiga.
d. Dramatika play (Role play)
Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya menjadi ayah atau ibu.

2. Menurut Karakteristik Sosial


a. Solitary play
Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain
yang bermain disekitarnya. Biasa dilakukan oleh anak balita todler.
b. Paralel play
Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing-masing
mempunyai mainan yang sama tetapi yang satu dengan yang lainnya tidak ada
interaksi dan tidak saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak toddler dan
pre school. Contoh : bermain balok.
c. Asosiatif play
Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yang sama tetapi
belum terorganisasi dengan baik, belum ada pembagian tugas,anak bermain
sesukanya, satu sama lain kadang saling meminjamkan.
d. Kooperatif play
Anak bermain bersama dengan sejenisnya, permainan terorganisasi dan terencana
dan ada aturan tertentu. Saling diskusi dan memiliki tujuan tertentu. Biasanya
dilakukan oleh anak usia sekolah dan adolescent.

F. FUNGSI BERMAIN
1. Perkembangan Sensorik Motorik
Melalui permainan anak akan mampu mengungkapkan kemampuan fisiknya. Bayi
dengan penglihatan, taktil, dan rangsangan. Todler dan pra sekolah melalui gerakan
tubuh, dimana kematangan dan maturitas akan membedakan masing-masing usia.
2. Perkembangan Kognitif/intelektual
Membantu mengenal benda sekitar(warna, bentuk, kegunaan). Perkembangan ini
diperoleh melalui eksplorasi dan manipulasi benda disekitarnya baik dalam hal warna,
ukuran, dan pentingnya benda tersebut. Contoh: bermain mengisi teka-teki silang.
3. Kreatifitas
Anak mengembangkan kreatifitas, mencoba ide baru, bermain dengan semua media,
puas dengan kreatifitas baru, dan minat terhadap lingkungan tinggi. Misalnya
menyusun balok.
4. Perkembangan Sosial
Diperoleh dengan belajar berinteraksi dengan orang lain dan mempelajari peran dalam
kelompok, belajar memberi dan menerima, belajar benar salah, dan mampu mengenal
tanggungjawab.
5. Kesadaran Diri (Self awarness)
Anak belajar memahami kemampuan dirinya, kelemahan dan tingkah laku terhadap
orang lain.
6. Perkembangan Moral
Diperoleh melalui interaksi dengan orang lain, bertingkah laku sesuai harapan teman,
menyesuaikan dengan aturan kelompok. Contoh: dapat menerapkan kejujuran.
7. Terapi
Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang
tidak enak, misalnya: marah, takut, benci.
8. Perkembangan Komunikasi
Bermain sebagai alat komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat mengatakan
secara verbal, misalnya: melukis, menggambar, bermain peran.

G. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS BERMAIN


1. Tahap perkembangan, tiap tahap mempunyai potensi/keterbatasan.
2. Status kesehatan, pada anak sakit maka perkembangan psikomotor dan kognitif
terganggu.
3. Jenis kelamin, dimana anak laki-laki lebih tertarik dengan mekanikal sementara anak
wanita mother role.
4. Lingkungan yang meliputi: lokasi, negara, kultur.
5. Alat permainan.
6. Intelegensia.
7. Status sosial ekonomi.

H. TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN


1. Tahap Eksplorasi
Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain.
2. Tahap Permainan
Setelah tahu cara bermain, anak mulai masuk dalam tahap perminan.
3. Tahap Bermain Sungguhan
Anak sudah ikut dalam perminan.
4. Tahap Melamun
Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan berikutnya.

I. KARAKTERISTIK BERMAIN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN


1. Bayi (1 bulan)
a. Visual : permainan dapat dilihat dengan jarak dekat (20-25 Cm), gantungkan
benda yang terang dan menyolok.
b. Auditori : bicara dengan bayi, menyanyi, musik, radio, detik jam.
c. Taktil : memeluk, menggendong, memberi kehangatan.
d. Kinetik : mengayun, naik kereta dorong.

2. Bayi (2-3 bulan)


a. Visual : buat ruangan menjadi terang, gambar, cermin ditembok, bawa bayi ke
ruangan lain, letakkan bayi agar dapat memandang disekitar.
b. Auditori : bicara dengan bayi, beri mainan bunyi, ikut sertakan dalam
pertemuan keluarga.
c. Taktil : memandikan, mengganti popok, menyisir rambut dengan lembut,
gosok dengan lotion/bedak.
d. Kinetik : jalan dengan kereta, gerakan berenang, bermain air.

3. Bayi (4-6 bulan)


a. Visual : bermain cermin, anak nonton TV, beri mainan dengan warna terang.
b. Auditori : anak bicara, ulangi suara yang dibuat, panggil nama, remas kertas
didekat telinga, pegang mainan berbunyi didekat telinga.
c. Taktil : beri mainan lembut/kasar, mandi cemplung/cebur.
d. Kinetik : bantu tengkurap, sokong waktu duduk.

4. Bayi (6-9 bulan)


a. Visual: mainan berwarna, bermain depan cermin,”ciluk ....ba”, beri kertas
untuk dirobek-robek.
b. Auditori: panggil nama “Mama ...Papa, dapat menyebutkan bagian tubuh,beri
tahu yang anda lakukan, ajarkan tepuk tangan dan beri perintah sederhana.
c. Taktil : meraba bahan bermacam-macam tekstur, ukuran, main air mengalir,
berenang.
d. Kinetik : letakkan mainan agak jauh lalu suruh anak untuk mengambilnya.

5. Bayi (9-12 bulan)


a. Visual : perlihatkan gambar dalam buku, ajak pergi ke berbagai tempat,
bermain bola, tunjukkan bangunan agak jauh.
b. Auditori : tunjukkan bagian tubuh dan sebutkan, kenalkan dengan suara
binatang.
c. Taktil : beri makanan yang dapat dipegang, kenalkan dingin, panas dan
hangat.
d. Kinetik : beri mainan yang dapat ditarik dan didorong. Mainan yang
dianjurkan untuk bayi 6-12 bulan:
 Blockies warna-warni jumlah, ukuran.
 Buku dengan gambar menarik.
 Balon, cangkir dan sendok.
 Boneka bayi.
 Mainan yang dapat didorong dan ditarik.

6. Todler (2-3 tahun)


a. Mulai berjalan, memanjat, berlari.
b. Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya.
c. Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu.
d. Perhatiannya singkat.
e. Mulai mengerti memiliki “ Ini milikku ....”
f. Karakteristik bermain “Paralel Play”
g. Toddler selalu bertengkar saling memperebutkan mainan/sesuatu.
h. Senang musik/irama.

Mainan untuk toddler:


 Mainan yang dapat ditarik dan didorong.
 Alat masak.
 Malam, lilin.
 Boneka, blockies, telepon, gambar dalam buku, bola, dram yang dapat
dipukul, krayon, kertas.
7. Pra Sekolah (4-5 tahun)
a. Dapat melompat, berlari, bermain dan bersepeda.
b. Sangat energik dan imaginatif.
c. Mulai terbentuk perkembangan moral.
d. Mulai bermain dengan jenis kelamin dan bermain dengan kelompok.
e. Karakteristik bermain: assosiative play, dramatic play, skill play.
f. Laki-laki aktif bermain di luar, perempuan didalam rumah.

Mainan untuk pra sekolah:


 Peralatan rumah tangga.
 Sepeda roda tiga.
 Papan tulis/kapur.
 Lilin, boneka, kertas.
 Drum, buku dengan kata sederhana, kapal terbang, mobil, truk.

8. Usia Sekolah (6-12 tahun)


a. Bermain dengan kelompok yang berjenis kelamin sama.
b. Dapat belajar dengan aturan kelompok.
c. Belajar independent, cooperative, bersaing, menerima orang lain.
d. Karakteristik “Cooperative Play”.
e. Laki-laki: Mechanical, perempuan : Mother Role.

Mainan untuk anak usia sekolah:


 6-8 tahun
Kartu, boneka, robot, buku, alat olah raga, alat untuk melukis,
mencatat, sepeda.
 8-12 tahun
Buku, mengumpulkan perangko, uang logam, pekerjaan tangan,
kartu,olah raga bersama, sepeda, sepatu roda.

9. Remaja (13-18 tahun)


a. Bermain dalam kelompok seperti sepak bola, basket, bulutangkis.
b. Senang mendengarkan musik, melihat TV, mendengarkan radio.
c. Membaca majalah, buku.

J. ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)


Pengertian APE adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak
disesusikan dengan usia dan tingkat perkembangannya.

Kegunaan
 a.Pengembangan aspek fisik: merangsang pertumbuhan fisik anak.
 b.Pengembangan bahasa: melatih bicara dan menggunakan kalimat yang benar.
 c.Pengembangan aspek kognitif: pengenalan suara, bentuk, ukuran, dan warna.
 d.Pengembangan aspek sosial: hubungan atau interaksi ibu-anak, keluarga,masyarakat.

Syarat
 a.Aman, disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak.
 b.Ukuran dan berat sesuai usia.
 c.Desainnya harus jelas. Memiliki ukuran, susunan, warna tertentu serta jelas maksud
dan tujuannya.
 d.Berfungsi untuk mengembangkan berbagai aspek perkembangan anak (motorik,
bahasa, kognitif, sosialisasi).
 e.Dapat dimainkan dengan berbagai variasi, tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah.
 f.Harus tetap menarik.
 g.Mudah diterima oleh semua kebudayaan.
 h.Tidak mudah rusak. Jika ada bagian yang rusak mudah diperbaiki dan diganti,
pemeliharaan mudah, terbuat dari bahan yang mudah didapat,harga terjangkau.

Alat Permainan Balita dan Perkembangan yang Distimuli


 Motorik kasar: sepeda roda tiga/dua, mainan yang ditarik dan didorong.
 Motorik halus: gunting, bola, balok, lilin.
 Kognitif: buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna.
 Bahasa: buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, televisi.
 Menolong diri sendiri: gelas/piring plastik, sendok, baju, sepatu, kaos kaki.
 Tingkah laku sosial: alat permainan yang dapat dipakai bersama seperti bola, tali,
dakon.

5. Kesalahan dalam Pemilihan Alat


 Memberikan sekaligus banyak mainan.
 Alat permainan dianggap bagus atau perlu oleh orang tua tapi kontradiksi bagi anak.
 Alat terlalu mahal.
 Terlalu lengkap dan sempurna.
 Tidak sesuai dengan umur anak.
 Terlalu banyak mainan dengan tipe yang sama.
 Tidak teliti keamanannya.

DAFTAR PUSTAKA

Foster and Humsberger. 1998. Family Centered Nursing Care of Children. WB sauders
Company. Philadelpia. USA

Hurlock, E. B. 1991. Perkembangan anak. jilid I. Erlangga. Jakarta

Markum, dkk. 1990. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. IDI. Jakarta

Merenstein, et al. 2002. Buku Pegangan Pediatri. Edisi 17. Widya Medika. Jakarta

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. EGC. Jakarta

Whaley and Wong.1991. Nursing Care infants and children. Fourth Edition. Mosby Year
Book. Toronto. Canada