Anda di halaman 1dari 9

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OPTIMASI JEMBATAN GANTUNG PEJALAN KAKI


DENGAN JUDESA
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat untuk menempuh
ujian Sarjana Teknik Sipil

Disusun oleh :
HYDROWANSI SIREGAR
130404019

Disetujui oleh :
Ir. Torang Sitorus, MT.
NIP 19571002 198601 1 001

BIDANG STUDI STRUKTUR


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERISTAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang. Untuk menunjang


perkembangan, dibutuhkan partisipasi dari setiap elemen masyarakat. Masyarakat
dipedesaan sangat diharapkan dapat membantu perkembangan bangsa. Kondisi
geografis Indonesia bervariasi, beberapa daerah dengan kondisi perbukitan dan
pegunungan. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan suatu daerah lebih terisolir
oleh hambatan seperti sungai atau jurang sehingga diperlukan sebuah jalur
penghubung, seperti jembatan. Jembatan merupakan bagian terpenting dalam
sarana transportasi darat. Umumnya jembatan digunakan untuk penghubung jalan
yang melintasi sungai, bukit, pengunungan, penghubung antar akses jalan
(persimpangan tak sebidang), maupun penghubung antar pulau. Terkadang sesuai
analisis teknis dan kebutuhan di lapangan diperlukan jembatan dengan bentangan
yang cukup panjang. Tipe jembatan yang telah digunakan adalah jembatan balok
sederhana untuk bentang-bentang pendek, jembatan rangka, jembatan gantung,
jembatan cable stayed dan jembatan tipe pelengkung (arch bridge).
Jembatan gantung merupakan pilihan yang efisien dan efektif sebagai
sarana transportasi untuk menyeberangi sungai atau jurang. Keunggulan jembatan
gantung dibandingkan dengan jembatan lainnya, antara lain: memiliki nilai
estetika dan memiliki bentang relatif panjang untuk melewati sungai atau jurang
dimana pemasangan tiang-tiang penyangga secara menerus dengan bentang
pendek tidak dimungkinkan. Jembatan gantung sederhana dapat digunakan
sebagai panghubung yang cukup panjang (40-120) meter. Jembatan gantung
memiliki beberapa elemen struktur dominan, seperti kabel utama, batang
penggantung, gelagar memanjang, dan menara. Diantara elemen struktur tersebut,
perlu diteliti elemen mana yang memberi kontribusi dominan terhadap tingkat
keamanan struktur, dan seberapa besar pengaruh perubahan kuantitas dimensi
elemen struktur terhadap perubahan tingkat keamanan struktur.
Isyana Anggraeni, Bernardinus Herbudiman, (2008) dalam penelitiannya yang
membahas tentang “Studi Parameter Desain Dimensi Elemen Struktur Jembatan
Gantung Pejalan Kaki dengan Bentang 120 m” menyebutkan bahwa usaha
memperbesar elemen struktur yang paling banyak memberikan pengaruh terhadap
berkurangnya lendutan pada gelagar memanjang adalah memperbesar diameter
dimensi kabel utama.
Dalam merancang jembatan gantung pejalan kaki yang aman namun cukup
ekonomis, perlu ditentukan pilihan dimensi yang sesuai. Jembatan gantung
pejalan kaki didesain sedemikian rupa sehingga praktis dalam pengerjaannya,
ekonomis, dan dapat dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Suatu jembatan gantung sebenarnya merupakan sistem struktur yang sederhana.
Secara sederhana beban-beban yang bekerja pada dek disalurkan ke kabel utama
melalui kabel penggantung dan kemudian diteruskan ke pondasi terutama melalui
pylon-pylon untuk komponen yang vertikal dan melalui blok-blok jangkar untuk
komponen yang horizontal. (Wiratman Wangsadinata, dkk, 2011)

Gambar 1.1 Jembatan gantung pejalan kaki


Judesa (jembatan gantung asimstris untuk pedesaan) dikembangkan oleh
Puslitbang Jalan dan Jembatan dan dibangun untuk pertama kali di Desa Cihawuk,
Pangalengan, Kabupaten Bandung tahun 2014. Konstruksi Judesa dikembangkan
dengan sistem modular sehingga pembangunan dapat melibatkan peranan
masyarakat bahkan secara swadaya. Metode konstruksi yang digunakan juga
dirancang untuk dapat dilaksanakan dari satu sisi sungai/satu arah yang dapat
dimanfaatkan untuk membuka jalur perintis dan mengurangi pengangkutan
material menyeberangi sungai atau hambatan yang ingin dilalui dengan jembatan.
Kosep judesa hampir sama dengan jambatan gantung pejalan kaki pada umumnya.
Perbedaannya terletak pada menara (pylon), jembatan gantung pada umumnya
menggunakan menara pada kedua sisi jembatan sebagai penyangga kabel
sehingga gaya-gaya yang terjadi ditahan bersama-sama oleh kedua menara. Pada
judesa menggunakan menara pada satu sisi, sehingga gaya-gaya yang terjadi
hanya ditahan oleh satu menara penyangga.
Penelitian dan pengkajian terhadap judesa masih hanya dilakukan oleh
Puslitbang Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional nomor 4
tahun 2017, salah satu prioritas pada 2018 adalah pemberdayaan masyarakat padat
karya infrastruktur melalui pembangunan 20 jembatan gantung baru diberbagai
provinsi di Indonesia.

Gambar 1.2 Jembatan gantung asimetris untuk pejalan kaki (judesa)


2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang dibahas
adalah :
1. Bagaimana struktur jembatan gantung pejalan kaki dalam menahan beban
yang rencana?
2. Bagaimana struktur judesa dalam menahan beban yang rencana?
3. Bagaimana perbandingan perilaku struktur jembatan gantung pejalan kaki dan
judesa?
4. Bagaimana perbandingan material yang digunakan dalam jembatan gantung
pejalan kaki dan judesa?

3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Untuk mengetahui perilaku struktur jembatan gantung pejalan kaki dalam
menhan beban rencana.
2. Untuk mengetahui perilaku judesa dalam menahan beban rencana.
3. Mengetahui perbandingan perilaku struktur jembatan gantung pejalan kaki
dengan judesa.
4. Mengetahui perbandingan jumlah material yang digunakan dalam
pembangunan suatu jembatan gantung pejalan kaki dengan judesa.

4. PEMBTASAN MASALAH
Untuk memperjelas ruang lingkup yang akan dibahas dalam penulisan ini
dan mempermudah penulis dalam menganalisa maka dibuat batasan masalah yang
meliputi:
1. Ukuran panjang dan lebar jembatan adalah sama
2. Mutu bahan yang digunakan pada kedua jenis jembatan yang direncanakan
sama.
3. Pembebanan sesuai dengan peraturan pembebanan SNI-1727-2013
4. Jembatan gantung kelas I
5. Mutu baja strand adalah fy = 1500 MPa
6. Mutu baja adalah Bj 37
7. Analisa struktur secara manual, dan dengan software SAP 2000
8. Menara dibuat dari bahan Baja
9. Blok anker dari beton cor mutu K-200

5. MANFAAT PENULISAN
Manfaat yang diharapkan diperoleh dari penulisan ini berupa perencanaan
suatu struktur jembatan gantung. Perencanaan berupa jembatan gantung pejalan
kaki dengan pylon simetris dan pylon asimetris. Jembatan gantung asimetris
dikembangkan oleh Balai Litbang Kementerian Pekerjaan Umum Pusat Jalan dan
Jembatan sejak 2014 dan dilaksanakan di Bandung sepanjang 42 meter. Jembatan
ini biasa disebut “Judesa” (Jembatan Gantung Asimetris untuk Pedesaaan).
Penulisan ini juga sebagai sarana sosialisasi atas penelitian yang dilakukan
Balitbang PU Pusjatan. Melalui tulisan ini diharapkan masyarakat bertambah
pemahaman akan jembatan gantung yang akan dibangun. Kepada para pembaca
sehingga menambah pengetahuan akan jembatan gantung.

6. METODOLOGI PENULISAN
Penulisan ini menganlisis perilaku jembatan gantung pejalan kaki dan
judesa serta perbandingan penggunaan bahan jembatan gantung dengan judesa.
Metode yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini adalah studi literatur
dimana penulis mengumpulkan dan mempelajari referensi-referensi yang
berhubungan dengan penulisan yang dilakukan. Membuat perencanaan jembatan
gantung sesuai dengan pedoman yang telah ada, dan membadingkan hasil
perencanaan yang dibuat.
Flowchart Penulisan :

Mulai

Latar belakang Masalah

Studi Literatur
1. Buku teks
2. Jurnal-jurnal ilmiah
3. Peraturan yang berhubungan
4. Majalah ilmiah

Perumusan Masalah

Pembahasan:
1. Perencanaan Jembatan simetris
2. Perencanaan Jembatan asimetris
3. Verifikasi analisa struktur dengan SAP 2000

Perbandingan dan Hasil

Kesimpulan dan Saran

SELESAI
7. SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan dalam tugas akhir ini akan dibuat dalam 5 (lima) bab uraian
sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Dalam bab ini dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tuuan penulisan, pembatasan masalah, manfaat penulisan, metode penulisan,
dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan Pustaka
Dalam bab ini berisi dasar teori, rumus dan segala sesuatu yang digunakan
untuk menghitung struktur jembatan gantung pejalan kaki.
Bab III : Metodologi Penulisan
Bab ini berisi tentang metodologi yang dilakukan dalam analisa berupa
pengumpulan data dan analisis data yang telah diperoleh.
Bab IV : Pembahasan
Bab ini berisi tentang perencanaan jembatan gantung pejalan kaki dan analisa
struktur dengan program SAP 2000
Bab V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini beris tentang kesimpulan dari hasil pembahasan dan saran-saran yang
diberikan atas hasil yang diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

Gatot Sukmara, Widi Nugraha, 2016, “Jembatan Gantung Asimetris Untuk


Pedesaan (Judesa)”, Makalah Seminar Hasil Litbang, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Jalan dan Jembatan, Kementerian PUPR, Bandung.
Isyana Anggraeni, Bernardinus Herbudiman, 2008, “Studi Parameter Desain
Dimensi Elemen Struktur Jembatan Gantung Pejalan Kaki dengan
Bentang 120 m”, Media Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional,
Bandung.
Menteri Pekerjaan Umum, 2010. Pedoman Perencanaan dan Pelaksanaan
Konstruksi Jembatan Gantung untuk Pejalan Kaki. Lampiran Surat Edaran
Menteri Pekerjaan Umum No. 02/SE/M/2010, Jakarta.
N D Shah, dkk, 2010, “Analysis of Long Span Suspension Bridges using Series
Method”, International Journal of Advanced Engineering Technology,
Changa India.
N. Retno Setiati, dkk, 2015, “Kekuatan Struktur Jembatan Gantung Sederhana
untuk Pejalan Kaki”, Jurnal HPJI Vol. 1, Bandung.
Wiratman Wangsadinata, Donald Essen Ireng, Guntorojati, 2011, “Jembatan
Gantung Ultra Panjang untuk Jembatan Selat Sunda”, Jurnal Ilmiah
Media Engineering Vol. 1, Jakarta