Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH EPIDEMIOLOGI

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

DISUSUN OLEH :

AGUSTINA ()

FIRANI ()

FONI ()

ISDA ()

JAMILAH A ()

NINA ()

RIBKA ()

UDIN ()

WAHYU ()

DIV ANALIS KESEHATAN

INSTITUT ILMU KESEHATAN (IIK)

BHAKTI WIYATA

KEDIRI

2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat serta hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah EPIDEMIOLOGI tentang “DEMAM
BERDARAH DENGUE”. ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini kami sedikit mengalami kesulitan, namun berkat
bantuan yang diberikan dari berbagai pihak, sehingga kesulitan-kesulitan tersebut bisa
teratasi dengan baik. Dengan demikian lewat lembaran ini kami hendak menyampaikan
ucapan terimah kasih kepada mereka, teriring doa agar segenap bantuannya dalam urusan
penyelesaian makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa makalah ini bukanlah sebuah proses akhir dari
segalanya, melainkan langkah awal yang masih memerlukan banyak koreksi, olehnya itu
kritik dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Amin.

Kediri, 12 April 2015

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................................. 2

DAFTAR ISI ........................................................................................................................................... 3

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................................. 5
1.2 RUMUSAN MASALAH .............................................................................................................. 5
1.3 TUJUAN MAKALAH ................................................................................................................. 6

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Tinjaun Pustaka ........................................................................................................................... 7
2.2 Faktor Risiko Penularan Demam Berdarah Dengue ................................................................ 7
2.3 Klasifikasi kasus dan berat penyakit ......................................................................................... 7
2.4 Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya ............................................................................ 8
A. Gambaran Klinis DBD .......................................................................................................... 9
B. Diagnosis DBD ........................................................................................................................ 9
C. Pencegahan DBD .................................................................................................................. 10
2.5 Pengobatan ................................................................................................................................. 11

BAB III RANCANGAN SURVEILENS


3.1. Tujuan Khusus .......................................................................................................................... 16
3.2 metode ......................................................................................................................................... 16

BAB IV HASIL SURVEILENS


4.1 Tabel A. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat
(data puskesmas) tahun 2005 ................................................................................................... 18
4.2 Tabel B. kejadian penyakit DBD menurut golongan Umur wilayah ciputat
( data puskesmas) tahun 2006 .................................................................................................. 19
4.3 Tabel C. kejadian penyakit DBD menurut golongan Umur wilayah ciputat
( data puskesmas) tahun 2007 .................................................................................................. 20
4.4 Tabel D. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan waktu wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005 ............................................................................................................. 22
4.5 Table E. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006 ............................................................................................................. 23
4.6 Tabel F. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat
(data puskesmas) tahun 2007 ................................................................................................... 25
4.7 Tabel G. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005 ............................................................................................................. 26
4.8 Tabel H. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006 ............................................................................................................. 28
4.9 Tabel I. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2007 ............................................................................................................. 29

3
4.10 Tabel Perbandingan jumlah penderita DBD di wilayah ciputat dari tahun 2005-
2007 .......................................................................................................................................... 31

BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPULAN ........................................................................................................................... 32


5.2 SARAN ........................................................................................................................................ 33

DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan
sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD
disebabkan adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini agen penyebab
DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor
genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan
tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.

Demam Berdarah Dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. Data
dari seluruhdunia menunjukkan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah penderita
DBD setiap tahunnya. Sementara itu, terhitung sejak tahun 1968 hingga tahun 2009,
WorldHealth Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara dengan kasus
DBD tertinggi di Asia Tenggara.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan salah satu masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah
penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan
penduduk. Di Indonesia Demam Berdarah pertama kali ditemukan di kota Surabaya pada
tahun 1968, dimana sebanyak 58 orang terinfeksi dan 24 orang diantaranya meninggal dunia
(Angka Kematian (AK) : 41,3 %). Dan sejak saat itu, penyakit ini menyebar luas ke seluruh
Indonesia.

Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae.
DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi virus Dengue.
Virus Dengue penyebab Demam Dengue (DD), Demam Berdarah Dengue (DBD) dan
Dengue Shock Syndrome (DSS) termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis)
yang sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviride, dan mempunyai 4 jenis
serotipe, yaitu: Den-1, Den-2, Den-3, Den-4.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Dari makalh ini dapat di buat peumusan masalah, yaitu :


A. Apakah devinisi dari DBD atau DHF ?
B. Bagaaimana gejala dari DBD atau DHF ?
C. Bagaimana pemeriksaan laboratorium dari DHF atau DBD ?
D. Bagaimana pencegan dari DBD atau DHF ?
E. Bagaimana pengobatan dari DBD atau DHF?
F. Bagaimana contoh dari kasus DBD atau DHF ?

5
1.3 TUJUAN MAKALAH

Dari makalh ini di dapatkan tujuan yaitu :


A Untuk menetukan devinisi dari DBD atau DHF
B untuk menentukan gejala dari DBD stau DHF
C untuk menentukan pemeriksaan laboratorium dari DHF atau DBD
D untuk menentukan pencegan dari DBD atau DHF
E untuk menentukan pengobatan dari DBD atau DHF
F untuk menentukan contoh dari kasus DBD atau DHF

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)


Demam Berdarah adalah salah satu penyakit di daerah tropis yang di sebabkan oleh
virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti (betina).
Menurut Depkes (2005), Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang
disebabkan oleh virus dari golongan Arbovirus yang ditandai dengan demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2‐7 hari,
manifestasi perdarahan (peteke, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis,
perdarahan mukosa, perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri) termasuk uji
tourniquet (Rumple Leede) positif, trombositopeni (jumlah trombosit ≤ 100.000/l,
hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit ≥ 20%) disertai atau tanpa pembesaran hati
(hepatomegali).

2.2 Faktor Risiko Penularan Demam Berdarah Dengue


Beberapa faktor penularan DBD sebagai berikut:

 Pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat


 Mobilisasi penduduk karena membaiknya sarana dan prasarana transportasi dan
terganggu atau melemahnya pengendalian populasi sehingga memungkinkan
terjadinya KLB
 Kemiskinan yang mengakibatkan orang tidak mempunyai kemampuan untuk
menyediakan rumah yang layak dan sehat
 Pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar
 Pendidikan dan pekerjaan masyarakat, jarak antar rumah, keberadaan tempat
penampungan air, keberadaan tanaman hias dan pekarangan.

2.3 Klasifikasi kasus dan berat penyakit

Sekarang ini disepakati bahwa dengue adalah suatu penyakit yang memiliki presentasi
klinis bervariasi dengan perjalanan penyakit dan luaran (outcome) yang tidak dapat
diramalkan3.

Diterbitkannya panduan World Health Organization (WHO) terbaru di tahun 2009 lalu,

merupakan penyempurnaan dari panduan sebelumnya yaitu panduan WHO 1997.

Klasifikasi kasus yang disepakati sekarang adalah:

Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs),

Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan

Dengue berat (severe Dengue.

7
2.4 Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya :

Dengue probable :

1. Bertempat tinggal di /bepergian ke daerah endemik dengue

2. Demam disertai 2 dari hal berikut :

Mual, muntah

Ruam

Sakit dan nyeri

Uji torniket positif

Lekopenia

Adanya tanda bahaya

3. Tanda bahaya adalah :

Nyeri perut atau kelembutannya

Muntah berkepanjangan
Terdapat akumulasi cairan

Perdarahan mukosa

Letargi, lemah

Pembesaran hati > 2 cm

Kenaikan hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang

cepat

Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti kebocoran


plasma tidak jelas).

Kriteria dengue berat :

Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS), akumulasi


cairan dengan distress pernafasan.

Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi

Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT ≥ 1000, gangguan kesadaran,
gangguan jantung dan organ lain)

8
Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan uji tourniquet,
walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi sangat membantu diagnosis,
sensitivitas uji ini sebesar 30 % sedangkan spesifisitasnya mencapai 82 %.

A. Gambaran Klinis DBD

Masa inkubasi virus dengue dalam manusia (inkubasi intrinsik) berkisar antara 3
sampai 14 hari sebelum gejala muncul, gejala klinis rata-rata muncul pada hari keempat
sampai hari ketujuh, sedangkan masa inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk)
berlangsung sekitar 8-10 hari. Manifestasi klinis mulai dari infeksi tanpa gejala demam,
demam dengue (DD) dan DBD, ditandai dengan demam tinggi terus menerus selama 2-7 hari;
pendarahan diatesis seperti uji tourniquet positif, trombositopenia dengan jumlah trombosit ≤
100 x 109/L dan kebocoran plasma akibat peningkatan permeabilitas pembuluh. Tiga tahap
presentasi klinis diklasifikasikan sebagai demam, beracun dan pemulihan.

Terdapat 4 tahapan derajat keparahan DBD, yaitu :


-Derajat I : Dengan tanda terdapat demam disertai gejala tidak khas dan uji torniket + (positif)
-Derajat II : Yaitu derajat I ditambah ada perdarahan spontan di kulit atau perdarahan lain
-Derajat III : Ditandai adanya kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah serta penurunan
tekanan nadi (<20 mmHg), hipotensi (sistolik menurun sampai <80 mmHg), sianosis di
sekitar mulut, akral dingin, kulit lembab dan pasen tampak gelisah
-Derajat IV : Ditandai dengan syok berat (profound shock) yaitu nadi tidak dapat diraba dan
tekanan darah tidak terukur.

B. Diagnosis DBD

Diagnosis klinis :
Ditandai demam akut, trombositopenia, perdarahan ringan-berat, kebocoran plasma
hemokonsentrasi, efusi pleura, hipoalbuminemia.
Diagnosis Laboratorium :
a. Pemeriksaan Hematologi Rutin.
b. Uji virology
c. Uji serologi
Terdapat lima uji serologi dasar yang umum digunakan untuk mendiagnosis infeksi Dengue
secara rutin yaitu :
1. Uji hambatan hemaglutinasi (Hemaglutinasi inhibition = HI)
2. Uji Fiksasi komplemen (Complemen fixation = CF)
3. Uji Netralisasi (Neutralization test = NT)
4. IgM Capture enzymelinked immunosorbent assay (MAC ELISA)
5. Indirect lg G ELISA

9
C. Pencegahan DBD

Usaha pencegahan dan pemberantasan DBD yang telah dilakukan pemerintah, antara
lain dengan metode pengasapan (fogging) dan abatisasi. Penyemprotan sebaiknya tidak
dipergunakan, kecuali keadaan genting selama terjadi KLB atau wabah.

Upaya yang paling tepat untuk mencegah demam berdarah adalah membasmi jentik-jentiknya
ini dengan cara sebagai berikut :

Bersihkan ( kuras ) tempat penyimpanan air (seperti bak mandi/WC, drum dll) seminggu
sekali.

Tutuplah kembali tempayan rapat-rapat setelah mengambil airnya, agar nyamuk Demam
berdarah tidak dapat masuk dan bertelur disitu.

Gantilah air di vas bunga dan pot tanaman air setiap hari
Kubur atau buanglah sampah pada tempatnya, plastik dan barang-barang bekas yang bisa
digenangi air hujan
Untuk tempat-tempat air yang tidak mungkin atau sulit dikuras, taburkan bubuk Abateke
dalam genangan air tersebut untuk membunuh jentik-jentik nyamuk. Ulangi hal ini setiap 2-3
bulan sekali atau peliharalah ikan ditempat itu.
Takaran penggunaan bubuk Abate adalah sebagai berikut : untuk 10 liter air cukup dengan 1
gram bubuk Abate atau 10 gram untuk 100 liter dan seterusnya. Bila tidak ada alat
untukmenakar, gunakan sendok makan. Satu sendok makan peres (yang diratakan di atasnya)
berisi 10 gram Abate. Anda tinggal membaginya atau menambahnya sesuai dengan
banyaknya air yang akan diabatisasi.Takaran tak perlu tepat betul. (Abate dapat dibeli di
apotik-apotik).
Selain itu, usaha pencegahan dan tindakan efektif terhadap penyebaran penyakit dapat
dilakukan dengan cara :

Kontrol terhadap sumber atau reservoir infeksi

Kasus atau karier penyakit yang merupakan sumber utama infeksi dapat dilakukan dengan
cara :

a. Diagnosa dini

Mendeteksi secara dini penyakit yang terjadi di masyarakat agar cepat diobati dan tidak
menjadi kronis.

b. Notifikasi

Setiap kasus penyakit menular yang telah terdeteksi perlu segera dilaporkan pada dinas
kesehatan setempat agar dapat ditanggulangi dan melakukan persiapan lain yang diperlukan
untuk penanganan medis yang lebih lanjut.

c. isolasi

10
Isolasi penderita dilakukan untuk membatasi penyebaran penyakit ke masyarakat.

d. Terapi

Merupakan bagian dari tindakan preventif yang bertujuan mengurangi periode masa
penularan dan hari kesakitan.

e. Karantina

Berupa isolasi orang sehat atau binatang yang bersal dari daerah yang diduga menderita
penyakit infeksi, lama waktu isolasi biasanya sesuai masa inkubasi penyakit yang ada.

f. Survailans Epidemiologi

Berupa penelitian atau survei di lapangan terhadap sesuatu yang diduga penyebab terjadinya
penyakit.

g. Desinfeksi

Melakukan suci hama pada tinja, urine, muntahan pasien serta peralatan yang telah dipakai
oleh penderita

2.5 Pengobatan
Pengobatan penderita demam berdarah dapat dilakukan dengan cara :

Mengganti cairan tubuh Penderita diberi minum sebanyak 1,5- 2 liter dalam 24 jam.
Gastroenteritis oral solution/ kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit) kalo perlu 1 sendok
makan setiap 3- 5 menit. Belum ada obat untuk melumpuhkan virus dengue. Yang dilakukan
dalam penanggulangan DBD hanya memberikan infus sedini mungkin. Contoh cara
menanggulangi anak sakit demam berdarah.

Bila anak tidak muntah-muntah, berikan minum banyak. Tujuan utamanya adalah mengganti
cairan yang merembes melalui dinding pembuluh darah. Untuk menurukan demam boleh
diberi obat penurun panas, sebaiknya dari golongan parasetamol seperti panadol atau tempra.
Atau anak dikompres dingin pada jidat, puncak kepala atau di atas dada sebelah kiri.
Kesulitan timbul bila anak muntah muntah terus. Sampai apapun yang masuk langsung
dimuntahkan. Pada kondisi begini anak harus dilarikan kerumah sakit untuk diberikan cairan
melalui infus.

11
Riwayat alamiah penyakit

Patofisiologi DBD

12
Epidemiologi DBD

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dan mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang bervariasi antara yang paling
ringan, demam dengue (DD), DBD dan demam dengue yang disertai renjatan atau dengue
shock syndrome (DSS). Dalam 50 tahun terakhir, kasus DBD meningkat 30 kali lipat dengan
peningkatan ekspansi geografis ke negara-negara baru dan, dalam dekade ini, dari kota ke
lokasi pedesaan. Penderitanya banyak ditemukan di sebagian besar wilayah tropis dan
subtropis, terutama Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika dan Karibia.
Virus dengue dilaporkan telah menjangkiti lebih dari 100 negara, terutama di daerah
perkotaan yang berpenduduk padat dan pemukiman di Brazil dan bagian lain Amerika
Selatan, Karibia, Asia Tenggara, dan India. Jumlah orang yang terinfeksi diperkirakan sekitar
50 sampai 100 juta orang, setengahnya dirawat di rumah sakit dan mengakibatkan 22.000
kematian setiap tahun diperkirakan 2,5 miliar orang atau hampir 40 persen populasi dunia,
tinggal di daerah endemis DBD yang memungkinkan terinfeksi virus dengue melalui gigitan
nyamuk setempat. Jumlah kasus DBD tidak pernah menurun di beberapa daerah tropik dan
subtropik bahkan cenderung terus meningkat dan banyak menimbulkan kematian pada anak,
90% di antaranya menyerang anak di bawah 15 tahun. Di Indonesia, setiap tahunnya selalu
terjadi KLB di beberapa provinsi, yang terbesar terjadi tahun 1998 dan 2004 dengan jumlah
penderita 79.480 orang dengan kematian sebanyak 800 orang lebih. Pada tahun-tahun
berikutnya jumlah kasus terus naik tapi jumlah kematian turun secara bermakna
dibandingkan tahun 2004. Misalnya jumlah kasus tahun 2008 sebanyak 137.469 orang
dengan kematian 1.187 orang atau case fatality rate (CFR) 0,86% serta kasus tahun 2009
sebanyak 154.855 orang dengan kematian 1.384 orang atau CFR 0,89%. Penderita DBD yang
tercatat selama ini, tertinggi adalah pada kelompok umur <15 tahun (95%) dan mengalami
pergerseran dengan adanya peningkatan proporsi penderita pada kelompok umur 15-44 tahun,
sedangkan proporsi penderita DBD pada kelompok umur >45 tahun sangat rendah seperti
yang terjadi di Jawa Timur berkisar 3,64%.

Triad Epidemiologi

1. Agent
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue, sejenis virus yang tergolong
arbovirus yang masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti
betina. Virus dengue termasuk genus flavivirus dari keluarga flaviviridae. Virus yang
berukurang kecil (50 nm) ini mengandung RNA berantai tunggal. Virionnya
mengandung nukleokapsid berbentuk kubus yang terbungkus selubung lipoprotein.
Genome virus dengue berukurang panjang sekitar 11.000 pasang basa dan terdiri dari
tiga gen protein struktural yang mengodekan nukleokapsid atau protein inti (core, C)
satu protein terikat membran (membrane,M) satu protein penyelubung (envelope, E)
dan tujuh gen protein nonstruktural (nonstructural, NS). Selubung glikoprotein
berhubungan dengan hemaglutinasi virus dan aktivitas netralisasi. Virus dengue
membentuk kompleks yang khas didalam genus flavivirus berdasarkan karakteristik

13
antigenik dan biologisnya. Ada empat serotipe virus yang kemudian dinyatakan
dengan DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Infeksi yang terjadi dengan serotipe
manapun akan memicu imunitas seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Walaupun
secara antigenik serupa, keempat serotipe tersebut cukup bebeda di dalam
menghasilkan perlindungan silang selama beberapa bulan setelah terinfeksi salah
satunya. Virus dengue dari keempat serotipe tersebut juga dihubungkan dengan
kejadian epidemi demam dengue saat bukti yang ditemukan tentang DHF sangat
sedikit atau bahkan tidak ada. Keempat virus serotipe tersebut juga menyebabkan
epidemi DHF yang berkaitan dengan penyakit yang sangat berbahaya dan mematikan.
Dapat menyerang semua umur baik anak anak maupun orang dewasa. Faktor penyebar
(vektor) penyakit DBD adalah Aedes aegypti dan aedes Albopictus. Penyakit ini
termasuk termasuk dalam kelompok anthropod borne disease karena virus dengue
sebagai penyebab demam berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Nyamuk
aedes aegypti hidup di daratan rendah beiklim tropis- subtropis. Badan nyamuk relatif
lebih kecil dibandingkan nyamuk yang lainnya. tubuh dan tungkain ditutupi sisik
dengan garis garis putih keperakan. Di bagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua
garis melengkung vertikal dibagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari nyamuk
spesies ini. Nyamuk ini sangat menyukai tempat yang teduh dan lembab, suka
bersembunyi dibawah kerindangan pohon. Ataupun pada pakaian yang tergantung dan
bewarna gelap. Nyamuk ini bertelur pada genangan air yang jernih yang ada dalam
wadah pada air kotor ataupun air yang langsung bersentuhan dengan tanah. Hanya
nyamuk wanita yang mengigit dan menularkan virus dengue.nyamuk aedes aegypty
bersifat diurnal, yaitu aktif pada pagi dan siang hari. Umumnya mengigit pada waktu
siang hari (09.00-10.00) atau sore hari pukul (15.00-17.00). Nyamuk ini akan bertelur
tiga hari setelah menghisap darah, karena darah merupakan sarana untuk mematangkan
telurnya. Dalam waktu kurang dari delapan hari telur tersebut sudah menetas dan
berubah menjadi jentik-jentik larva dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa yang siap
menggigit. Kemampuan terbang nyamuk mencapai radius 100-200 m.

2. Host
Dalam hal ini manusia lah yang menjadi host atau target penyakit DBD(11).
Meskipun penyakit DBD dapat menyerang segala usia beberapa penelitian
menunjukkan bahwa anak-anak lebih rentan tertular penyakir yang berpontensi
mematikan ini. Di Indonesia penderita penyakit DBD terbanyak berusia 5-11 tahun.
Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan jenis kelamin penderita tetapi angka
kematian lebih banyak pada anak perempuan dibandingkan laki-laki. Anak-anak lebih
rentan terkena penyakit ini salah satunya disebabkan oleh imunitas yang relatif lebih
rendah di bandingkan orang dewasa. Manusia yang terkena gigitan nyamuk aedes
aegypti tidak selalu dapat mengakibatkan demam berdarah dan virus dengue yang
sudah masuk kedalam tubuh pun tidak selalu dapat menimbulkan infeksi. Jika daya
tahan tubuh cukup maka dengan sendirinya virus tersebut dapat dilawan oleh tubuh.
Sebelum seseorang terkena DBD, didalam tubuhnya telah ada satu jenis serotipe virus

14
dengue (serangan pertama kali). Biasanya, serangan pertama kali ini menimbulkan
demam dengue. Ia akan kebal seumur hidup terhadap serotipe yang menyerang
pertama kali itu. Namun hanya akan kebal maksimal 6 bulan – 5 tahun terhadap
serotipe virus dengue lain.

3. Environment
Di Indonesia, penyakit DBD menjadi masalah kesehatan masyarakat karena
jumlah penderitanya tinggi dan penyebarannya yang semakin luas, terutama di musim
penghujan. Sejumlah pakar setuju bahwa kondisi ini juga di pengaruhi oleh budaya
masyarakat yang senang menampung air untuk keperluan rumah tangga dan
kebersihan dirinya. Hal ini menjadi faktor eksternal yang memudahkan seseorang
menderita DBD. Nyamuk ini sangat senang berkembang biak di tempat penampungan
air karena tempat itu tidak terkena sinar matahari langsung. Nyamuk ini tidak dapat
hidup dan berkembang biak di daerah yang berhubungan langsung dengan tanah.
Berikut ini tempat perkembangbiakan nyamuk, yaitu: - Tempat penampungan air
untuk keperluan sehari-hari, seperti drum, tangki, tempayan, bak mandi dan ember. -
Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari- hari, seperti tempat minum
burung, vas bunga, perangkap semut, dan barang-barang bekas yang dapat
menampung air. - Tempat penampungan air alamiah, seperti lubang pohon, lubang
batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bambu.
Penelitaan juga menunjukkan di daerah dengan persediaan air tanpa PAM,
perkembangan nyamuk aedes aegypti lebih tinggi karena penampungan air lebih
banyak dibandingkan di daerah yang sudah tersedia air dengan saluran pipa. Di daerah
ini air tidak perlu ditampung lebih dahulu sehingga nyamuk tidak sempat berkembang
biak. Lingkungan memegang peranan yang besar dalam penyebaran penyakit demam
berdarah sehingga menjaga lingkungan sekitar menjadi prioritas utama agar kasus
DBD tidak terjadi lagi.

15
BAB III

RANCANGAN SURVEILENS

3.1. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui masalah pelaksanaan sureveilens epidemiologi penyakit DBD

a. Masalah pengumpulan data

b. Masalah pengolahan dan analisa data

c. Masalah penyebaran informasi dan interpretasi

d. Diperolehnya kecenderungan penyakit DBD

2. Untuk mengetahui gambaran epidemiologi

a. Untuk mengetahui distribusi proporsi penyakit DBD

b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penyakit DBD menurut umur

c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penyakit DBD menurut waktu

d. Untuk mengetahui distribusi proporsi penyakit DBD menurut tempat

e.. Diperolehnya trend waktu atau kecenderungan penyakit DBD menurut waktu

3.2. Metode

a. Pengumpulan data

Data sekunder penderita DBD dari PusKesMas ciputat, tangerang, banten,


pengambilan data dengan cara kuantitatif

b. Waktu pengambilan data

Penulis mengambil data pada bulan November 2008

c. Tempat pengambilan data

Penulis mengambil data secara langsung dari PUSKESMAS Ciputat,


Tangerang, Banten.

16
d. Pengolahan dan analisis data

Penyusun mengentry data dengan microsof excel dan data disajikan dalam
grafik batang untuk melihat kecenderungan menurut waktu dan golongan
umur dan tempat.

17
BAB IV

HASIL SURVEILENS

4.1 Tabel A. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2005

Golongan Umur Jumlah Penderita %


0-10 tahun 37 28.90
11-20 tahun 22 17.19
21-30 tahun 13 10.15
31-40 tahun 39 30.47
41-50 tahun 10 7.81
51-60 tahun 4 3.12
61-70 tahun 3 2.34
Jumlah 128 100

Grafik A. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan umur pada tahun 2005 adalah berkisar pada usia 31-40 tahun sebanyak 39 pasien.

Garis tren A. Kejadian penyakit DBD menurut golongan umur wialayah ciputat tahun
2005

18
4.2 Tabel B. kejadian penyakit DBD menurut golongan Umur wilayah ciputat

( data puskesmas) tahun 2006

Golongan Umur Jumlah Penderita %


0-10 tahun 6 21.42
11-20 tahun 8 28.57
21-30 tahun 6 21.42
31-40 tahun 2 7.14
41-50 tahun 2 7.14
51-60 tahun 2 7.14
61-70 tahun 2 7.14
Jumlah 28 100

Grafik B. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2006

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan umur pada tahun 2006 adalah berkisar pada usia 11-20 tahun sebanyak 8 pasien, hal
ini disebabkan karena pada usia tersebut merupakan usia yang rentan, anak-anak sekolah

19
sering bermain di tempat-tempat yang nenjadi sarang nyamuk, di kebun atau halaman rumah,
nenggunakan botol atau kaleng bekas yang berisi air, padahal tempat tersebut merupakan
sarang nyamuk, Pada tahun 2006 mengalami penurunan jumlah pasien karena pihak
puskesmas sudah melakukan pencegahan dengan melakukan pemberantasan jentik nyamuk
dan foging sehingga jumlah angka kesakitan bisa diturunkan.

Garis tren B. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2006

4.3 Tabel C. kejadian penyakit DBD menurut golongan Umur wilayah ciputat

( data puskesmas) tahun 2007

Golongan Umur Jumlah Penderita %


0-10 tahun 22 10.62
11-20 tahun 51 24.63
21-30 tahun 48 23.18
31-40 tahun 47 22.70
41-50 tahun 16 7.73
51-60 tahun 18 8.71
61-70 tahun 5 2.42
Jumlah 207 100

Grafik C. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Umur wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2007

20
Interpretasi :

dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan umur pada tahun 2007 adalah berkisar pada usia 21-30 tahun sebanyak 48 pasien.

Garis tren C. kejadian penyakit DBD menurut golongan Umur wilayah ciputat

( data puskesmas) tahun 2007

21
4.4 Tabel D. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan waktu wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

Bulan Jumlah Penderita %


Januari 18 14.06
Februari 29 22.65
Maret 13 10.15
April 5 3.90
Mei 7 5.47
Juni 5 3.90
Juli 0 0
Agustus 23 17.97
September 0 0
Oktober 0 0
November 23 17.97
Desember 5 3.90
Jumlah 128 100

Grafik D. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Waktu wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan waktu pada tahun 2005 adalah pada bulan februari yaitu sebanyak 29 pasien, hal ini

22
disebabkan karena pada bulan februari merupakan musim hujan, sehingga penyebaran
nyamuk DBD meningkat.

Garis tren D. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2005

4.5 Table E. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006

Bulan Jumlah Penderita %


Januari 3 10.71
Februari 4 14.28
Maret 3 10.71
April 5 17.86
Mei 3 10.71
Juni 5 17.86
Juli 1 3.57
Agustus 3 10.71
September 0 0
Oktober 0 0
November 1 3.57
Desember 0 0
Jumlah 28 100

23
Grafik E. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2006

Interpretasi:

dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan waktu pada tahun 2006 adalah pada bulan april yaitu sebanyak 5 pasien, hal ini
disebabkan karena pada bulan april merupakan peralihan dari musim hujan ke musim panas,
sehingga jumlah nyamuk DBD meningkat karena cepat berkembang biak, cuaca peralihan
dari musim hujan ke musim panas mempermudah nyamuk berkembang biak, pada tahun ini
mengalami penurunan jumlah pasien karena pihak puskesmas sudah melakukan antisipasi
atau pencegahan dengan foging dan pemberantasan jentik nyamuk.

Garis tren E. kejadian Penyakit DBD menurut Golongan Waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2006

24
4.6 Tabel F. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2007

Bulan Jumlah Penderita %


Januari 17 8.21
Februari 31 14.97
Maret 20 9.66
April 23 11.11
Mei 45 21.73
Juni 35 16.90
Juli 8 3.86
Agustus 18 8.71
September 3 1.45
Oktober 3 1.45
November 0 0
Desember 4 1.93
Jumlah 207 100

Grafik F. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2007

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan waktu pada tahun 2007 adalah pada bulan mei yaitu sebanyak 45 pasien, hampir
sama dengan tahun 2006, hal ini disebabkan karena pada bulan mei merupakan peralihan dari
musim hujan ke musim panas, sehingga jumlah nyamuk DBD meningkat karena cepat
berkembang biak, cuaca peralihan dari musim hujan ke musim panas mempermudah nyamuk
berkembang biak, tetapi pada tahun 2007 mengalami peningkatan jumlah pasien karena pada
tahun 2006 jumlah pasien menurun sehingga pihak puskesmas tidak melakukan pencegahan

25
lagi seperti foging, hal ini berdampak pada tahun 2007 dengan jumlah pasien yang meningkat
lagi.

Garis tren F. kejadian penyakit DBD menurut golongan Waktu wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun 2007

4.7 Tabel G. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

Tempat Jumlah Penderita %

Ciputat 13 10.15

Cipayung 11 8.59

Pisangan 42 32.81

Rempoa 23 17.97

Cempaka putih 18 14.06

Cirendeu 2 1.56

Jumlah 128 100

26
Grafik G. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan tempat pada tahun 2005 adalah di wilayah pisangan yaitu sebanyak 42 pasien.

Garis tren G. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2005

27
4.8 Tabel H. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006

Tempat Jumlah Penderita %


Ciputat 9 32.14
Cipayung 0 0
Pisangan 6 21.43
Rempoa 2 7.14
Cempaka putih 7 25
Cirendeu 4 14.29
Jumlah 28 100

Grafik H. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006.

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan tempat pada tahun 2006 adalah di wilayah ciputat yaitu sebanyak 9 pasien, hal ini
di sebabkan karena wilayah ciputat merupakan wilayah yang yang lokasinya tidak begitu jauh
dari pisangan, daerah yang jaraknya dekat denagn pisangan antara lain cipayung, ciputat,
rempoa, sehingga ada kemungkinan vektor nyamuk berpindah ke daerah-daerah tersebut.
Sedangkan wilayah pisangan sendiri mengalami penurunan jumlah penderita dari 42 nenjadi
6 karena sudah melakukan pencegahan dengan melakukan foging.

28
Garis tren H. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2006

4.9 Tabel I. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2007

Tempat Jumlah Penderita %

Ciputat 42 20.29

Cipayung 21 10.14

Pisangan 34 16.42

Rempoa 51 24.64

Cempaka putih 29 14.01

Cirendeu 30 14.50

Jumlah 207 100

29
Grafik I. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat (data
puskesmas) tahun 2007

Interpretasi:

Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kejadian penyakit DBD terbanyak menurut
golongan tempat pada tahun 2007 adalah wilayah rempoa yaitu sebanyak 51 pasien, hal ini di
sebabkan karena wilayah rempoa merupakan wilayah yang dekat dengan wilayah pisangan,
daerah tersebut merupakan daerah yang sudah menjadi langganan untuk penyakit DBD, pada
tahun 2007 mengalami peningkatan jumlah penderita karena pada tahun sebelumnya sudah
mengalami penurunan, sehingga pihak puskesmas tidak melakukan kegiatan foging lagi,
namun ternyata jumlah penderiat kembali menigkat.

Garis tren I. kejadian penyakit DBD menurut golongan tempat wilayah ciputat

(data puskesmas) tahun


2007

30
4.10 Tabel Perbandingan jumlah penderita DBD di wilayah ciputat dari tahun 2005-
2007

Tahun Jumlah penderita Grafik


2005 128 Perbandingan
2006 28 jumlah penderita
2007 207 DBD di wilayah
ciputat dari tahun
2005-2007

31
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan
adanya manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian (Arief Mansjoer &Suprohaita; 2000; 419).

Prinsip tepat dalam pencegahan DHF (Sumarmo, 1998 ; 57)

Dari informasi yang didapat disimpulkan bahwa:

1. yang dimaksud dengan Surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara


sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah –masalah kesehatan dan kondisi
yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah
kesehatan tersebut, agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien
melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi
kepada penyelenggara program kesehatan.

2. SIK (Sistem Informasi Kesehatan) dan Surveilans memilki sebuah kesamaan dalam
penerapannya. Yaitu sama-sama digunakan untuk melakukan perencanaan (planning) di
bidang kesehatan. Di Indonesia Sistem Surveilans Epidemiologi merupakan subsistem dari
SIKNAS (Sistem Informasi Kesehatan Nasional) dan mempunyai fungsi strategis dalam
intelijen penyakit dan masalah kesehatan untuk penyediaan data dan informasi epidemiologi
dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.

3. Terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit,meskipun tidak menimbulkan kematian


tetapi membuat pasien lebih lama dirawat di rumah sakit.

4. langkah-langkah surveilans dimulai dari pengumpulan data,lalu pengolahan dan


penyajian data,kemudian analisis dan interpretasi data,pembuatan laporan,rekomendasi tindak
lanjut dan akhirnya tindakan pencegahan dan penanggulangannya.

5. Indikator kinerja surveilans ini sering rancu dengan tujuan surveilans, dan indikator
kinerja program. Kerancuan ini dapat mengakibatkan timbulnya kelemahan manajemen
penyelenggaraan sistem surveilans, terutama penyelenggaraan sistem surveilans yang berada
dalam satu paket dengan penyelenggaraan intervensi program

6. Sistem SKD yang diterapkan saat ini, lanjut Hari, merupakan adopsi dari sistem
EWARS yang awalnya dikembangkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sistem ini lalu
dimodifikasi dengan menyesuaikan karakteristik Indonesia.

7. Penyajian data surveilans bisa dengan menggunakan tabel dan grafik.

32
5.2 Saran

1. Pemerintah harus menjalankan system SKD daan memantau system tersebut setiap
waktu supaya betul-betul dijalankan agar dapat mencegah timbulnya kasus KLB

2. Masyarakat harus mengetahui kegunaan dari surveilans epidemiologi yang bukan hanya
sebagai pengumpul data atau penyelidikan KLB,sehingga tidak menyebabkan aplikasi system
surveilans di Indonesia tidak berjalan optimal, padahal system ini dibuat cukup baik untuk
mengatasi masalah kesehatan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan & Komunitas. Jakarta: EGC.

Handrawan, Nadusel. 2007. Cara Mudah Mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta: Media
Kompas Nusantara.

Hastuti, Oktri. 2008. Demam Berdarah Dengue. Yogyakarta : Kanisius.

Achmadi, Umar Fahmi, dkk. 2010. Buletin Jendela Epidemiologi: Demam Berdarah Dengue.
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI.

Andini, Dwi. 2012. Patofisiologi DHF. Unpad Choir. Tersedia di:


http://www.slideshare.net/DwiAndini2/patofisiologi-dhf, diakses tanggal 6 November 2013

BBTKLPP. 2013. Surveilans Epidemiologi. Terdapat di


http://www.btklsby.go.id/2010/01/surveilans-epidiomiologi.php. diakses pada tanggal 6
November 2013.

Candar, Aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor
Risiko Penularan. Tersedia
di: http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/aspirator/article/download/2951/2136,
diakses tanggal 5 November 2013

Chandra, Aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor
Risiko Penularan. Aspirator Vol. 2 No. 2: 110 –119.
http://www.ejournal.litbang.depkes.go.id. diakses pada Selasa, 5 November 2013.

Epidemiologi, Jendela Buletin. 2010. Demam Berdarah Dengue. Jakarta : Kementerian


Kesehatan RI : Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi. (E-Jurnal).
www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20DBD.pdf diakses tanggal 6
November 2013.

Erdiati, Leviana. 2009. Pengembangan sistem surveilens epidemiologi. Jakarta: Fakultas


Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, tersedia
di http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/125435-S-5643-Pengembangan%20sistem-
Literatur.pdf., diakses 6 November 2013.

Health, Public. Surveilens Epidemiologi DBD. http://www.indonesian-


publichealth.com/2013/02/surveilans-epidemiologi-dbd.html. diakses pada Selasa, 5
November 2013.

Isna, Nilna R. 2013. Pendahuluan Surveilans Epidemiologi. Terdapat di


http://catatankuliahnya.wordpress.com/category/semester-4/. diakses pada tanggal 6
November 2013.

34
Iswanto, Joni. Demam Berdarah dan Diagnosa Klinik.
http://www.sumbarsehat.com/2012/06/demam-berdarah-dan-diagnosa.html. diakses pada
Selasa, 5 November 2013.

Keputusan menteri kesehatan republik indonesia. 2003. Pedoman penyelenggaraan sistem


surveilans epidemiologi Penyakit menular dan penyakit tidak menular terpadu. Menteri
Kesehatan Republik Indonesia.

Noor, Noor Nasri. 2000. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Rineka
Cipta Murti, Bhisma. 1997. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University

Nurhaeni Fadhilla, Syilfa. 2010. Bagaimana Sistem Survailens Penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD)?, Tersedia di www.cilpacubb.blogspot.com/2010/11/bagaimana-sistem-
surveilans-penyakit_26.html diakses pada 7 November 2013 pukul 08.16 WIB.

Sitepu , Frans Yosep. 2010. Evaluasi Dan Implementasi Sistem Surveilans Demam Berdarah
Dengue (Dbd) Di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Balaba Vol. 8, No. 01, Jun 2012 : 5-
10. http://bpk.litbang.depkes.go.id/index.php/blb/article/download/3259/3255, diakses
Tanggal 6 November 2013.

Soegijanto, Soegeng. Patogenesa dan Perubahan Patofisiologi Infeksi Virus Dengue.


Surabaya: UNAIR. Tersedia di : diakses tanggal 6 November 2013

Topik Utama Buletin Jendela Epidemiologi. 2010. Demam Berdarah Dengue di Indonesia
Tahun 1968-2009. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian Kesehatan RI.

Web :

http://regional.kompas.com/read/2013/05/19/04590153/Kejadian.Luar.Biasa.DBD.di.Ciamis
diakses pada tanggal 6 April 2015

35