Anda di halaman 1dari 13

1. Apa perbedaan pembaharuan periode klasik dan modern?

2. Sebutkan tokoh-tokoh muhammadiyah dari permulaan berdiri sampai saat ini?

1. KH Ahmad Dahlan (1912-1923)

Ahmad Dahlan yang bernama kecil Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak
kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia
menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama
dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran
pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu
Taimiyah.
Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad Dahlan
(suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai
pengganti nama kecilnya). Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi Khatib Amin di
lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua
kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.
Dahlan kemudian sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan
hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan
mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus
dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu
tidak mungkin tanpa organisasi.
Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, Dahlan gigih
membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga
untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun dan memajukan bangsa ini dengan
membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.
Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia melalui
pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai
Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu
ialah sebagai berikut:

- KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya
sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat;
- Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang
murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat
dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
- Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang
amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; dan
- Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan
wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

2. KH Ibrahim (1923-1932)

Kyai Haji Ibrahim adalah ketua umum Muhammadiyah yang kedua yang menggantikan KH. Ahmad
Dahlan. KH. Ibrahim adalah ulama yang hafal Al-Quran (hafidh), ahli seni baca Al-Quran (qira'at), serta
mahir dalam bahasa Arab. Pada periode kepemimpinannya, cabang-cabang Muhammadiyah banyak
didirikan di berbagai tempat di Indonesia.

3. KH Hisyam (1934-1936)

Kiai Haji Hisyam adalah murid langsung dari KH. Ahmad Dahlan. Pada umur 61 tahun dia terpilih
menjadi Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang ketiga. Ia memimpin Muhamadiyah selama tiga
tahun.
Dalam masa periode kepemimpinan Hisyam ini, Muhammadiyah telah membuka sekolah dasar
tiga tahun (volkschool atau sekolah desa) dengan menyamai persyaratan dan kurikulum sebagaimana
volkschool gubernemen. Setelah itu, dibuka pula vervolgschool Muhammadiyah sebagai lanjutannya.
Saat pemerintah kolonial Belanda membuka standaardschool, yaitu sekolah dasar enam tahun,
maka Muhammadiyah pun mendirikan sekolah yang semacam dengan itu. Bahkan, Muhammadiyah
juga mendirikan Hollands Inlandse School met de Qur'an Muhammadiyah untuk menyamai usaha
masyarakat Katolik yang telah mendirikan Hollands Inlandse School met de Bijbel.

4. KH Mas Mansyur (1937-1942)

Mas Mansyur dikukuhkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres
Muhammadiyah ke-26 di Jogjakarta pada bulan Oktober 1937. Terjadi pergeseran era kepemimpinan
di bawah komando Mansyur.
Pergeseran kepemimpinan dari kelompok tua kepada kelompok muda dalam Pengurus Besar
Muhammadiyah tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah saat itu sangat akomodatif dan
demokratis terhadap aspirasi kalangan muda yang progresif demi kemajuan Muhammadiyah. Bahkan
Pengurus Besar Muhammadiyah pada periode Mas Mansyur juga banyak didominasi oleh angkatan
muda Muhammadiyah yang cerdas, tangkas, dan progresif.

5. Ki Bagoes Hadikoesoemo (1944-1953)

Pada tahun 1937, Ki Bagoes diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah.
Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga
Rakyat), Ki Bagus mengisi posisi ketua umum melalui mekanisme mukmatar darurat. Posisi ini dijabat
hingga tahun 1953.
Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, Ki Bagoes termasuk dalam anggota BPUPKI dan
PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945
dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok
pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui
oleh semua anggota PPKI.

6. Buya AR Sutan Mansur (1953-1959)

Tercatat selama masa kepemimpinannya dua periode (1953-1959) Sutan Mansur berhasil
merumuskan khittah (garis perjuangan) Muhammadiyah. Antara lain mencakup usaha-usaha
menanamkan dan mempertebal jiwa tauhid, menyempurnakan ibadah dengan khusyuk dan tawadlu,
mempertinggi akhlak, memperluas ilmu pengetahuan, menggerakkan organisasi dengan penuh
tanggung jawab, memberikan contoh dan suri tauladan kepada umat, konsolidasi administrasi,
mempertinggi kualitas sumber daya manusia, serta membentuk kader handal.
Dalam bidang fikih, Sutan Mansur dikenal sangat toleran. Dia misalnya tidak terlalu
mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam masalah furu'iyyah (hukum agama yang tidak pokok).
Hasil Putusan Tarjih Muhammadiyah dipandangnya hanya sebagai sikap organisasi Muhammadiyah
terhadap suatu masalah agama, itu pun sepanjang belum ditemukan pendapat yang lebih kuat.
Karenanya HPT menurut dia tidak mengikat anggota Muhammadiyah.

7. KH Yunus Anis (1959-1962)

Selama periode kepemimpinannya, Yunus Anis mengawal gagasan tentang Kepribadian


Muhammadiyah. Perumusan tersebut digarap oleh sebuah tim yang dipimpin oleh K.H. Faqih Usman,
dan kemudian diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-35 tahun 1962 yang bertepatan
dengan setengah abad Muhammadiyah.

8. KH Ahmad Badawi (1962-1968)

KH Ahmad Badawi adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1962-1965.
Citra politik Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Badawi memang sedang tersudut, karena
banyaknya anggota Muhammadiyah yang menjadi anggota dan pengurus Masyumi yang saat itu
sedang menjadi target penghancuran oleh rezim Orde Lama. Citra ini memang sengaja dihembus-
hembuskan oleh PKI, bahwa Muhammadiyah dituduh anti-Pancasila, anti-NASAKOM, dan pewaris
DI/TII. Muhammadiyah pada saat itu berhadapan dengan adanya banyak tekanan politik masa Orde
Lama.
Menghadapi realitas politik seperti itu, Muhammadiyah akhirnya dipaksa berhadapan dengan
urusan-urusan politik praktis. Muhammadiyah sendiri kurang leluasa dalam beradaptasi dan
berinteraksi dengan sistem politik yang dibangun Orde Lama. Akhirnya, Muhammadiyah mengambil
kebijakan politik untuk turut serta terlibat dalam urusan-urusan kenegaraan. Meski demikian, realitas
menunjukkan bahwa Muhammadiyah hanya mampu mengerem laju pengaruh komunis di masa Orde
Lama yang kurang mengedepankan nilai agama dan moralitas bangsa.

Kebijakan Muhammadiyah seperti itu akhirnya membawa kedekatan Badawi dengan Presiden
Soekarno. Semenjak 1963, Badawi diangkat menjadi Penasehat Pribadi Presiden di bidang agama.

9. KH Faqih Usman (1968-1968)

Faqih Usman banyak terlibat aktif di berbagai gerakan Islam yang sangat membantu pengembangan
Muhammadiyah. Dia pernah memimpin majalah Bintang Islam sebagai media cetak Muhammadiyah
Jawa Timur. Kegiatannya dalam Muhammadiyah memperluas jaringan pergaulannya, sehingga iapun
terlibat aktif di berbagai organisasi masyarakat, seperti Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) pada tahun
1937.
Pada tahun 1940-1942, dia menjadi anggota Dewan Kota Surabaya. Pada tahun 1945 dia menjadi
anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Ketua Komite Nasional Surabaya. Pada tahun 1959, dia
menerbitkan majalah Panji Masyarakat (Panjimas) bersama-sama dengan Buya Hamka, Joesoef
Abdullah Poear, dan Joesoef Ahmad. Majalah ini memiliki ikatan yang erat dengan Muhammadiyah.
Dia juga ikut andil dalam Partai Masyumi sejak didirikannya pada tanggal 7 Nopember 1945 dalam
Muktamar Ummat Islam di Yogyakarta. Dia duduk sebagai salah seorang Pengurus Besar Masyumi,
dan pada tahun 1952 duduk sebagai Ketua II sampai dengan tahun 1960, yaitu pada saat Masyumi
dibubarkan.
Faqih Usman banyak terlibat dalam aktivitas politik di negeri ini. Dia pernah dipercaya
Pemerintah RI untuk memimpin Departemen Agama pada masa Kabinet Halim Perdanakusumah sejak
21 Januari 1950 sampai 6 September 1950. Pada tahun 1951 ia ditunjuk sebagai Kepala Jawatan
Agama Pusat. Situasi politik di tanah air yang tidak stabil saat itu menyebabkan susunan kabinet pun
jatuh bangun. Ia dipercaya kembali sebagai Menteri Agama pada masa Kabinet Wilopo sejak 3 April
l952 sampai 1 Agustus 1953. Fenomena terpilihnya Faqih Usman sebagai Menteri Agama yang kedua
kalinya sempat menimbulkan konflik politik antara Masyumi dan Nahdhatul Ulama. K.H. Abdul Wahab
Hasbullah yang merupakan representasi kubu NU menuntut agar jabatan Menteri Agama diberikan
kepada unsur NU. Namun, setelah diadakan pemungutan suara, ternyata Faqih Usman (representasi
Masyumi) yang terpilih. Hal ini mempengaruhi peta politik Islam di tanah air, karena akhirnya justru
mempercepat proses pemisahan Nahdhatul Ulama (NU) dari Masyumi.

10. KH AR Fachrudin (1968-1990)


Pada Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujungpandang, Fachruddin terpilih sebagai ketua. Hampir
seperempat abad ia menjadi pucuk pimpinan Muhammadiyah, sebelum digantikan oleh almarhum KH
Azhar Basyir.
Semasa hidupnya Pak AR memberi contoh hidup welas asih dalam ber-Muhammadiyah. Sikap
hidup beliau yang teduh, sejuk, ramah, menyapa siapa saja, sering humor, dan bersahaja, adalah
pantulan dari mutiara terpendam dalam nuraninya.
AR tidak bersedia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar
Muhammadiyah ke-42 tahun 1990 di Yogyakarta, walaupun masih banyak Muktamirin yang
mengharapkannya. Ia berharap ada alih generasi yang sehat dalam Muhammadiyah. Setalah tidak
menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, dan menjabat sebagai Penasehat PP Muhammadiyah,
Pak AR masih aktif melaksanakan kegiatan tabligh ke berbagai tempat. Hingga akhirnya, penyakit
vertigo memaksanya harus beristirahat, sesekali di rumah sakit. Namun, dalam keadaan demikian,
sepertinya beliau tidak mau berhenti. Pak AR wafat pada 17 Maret 1995 di Rumah Sakit Islam Jakarta
pada usia 79 tahun.

11. KH Ahmad Azhar Basyir (1990-1995)

Pada Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1995, Azhar Basyir terpilih sebagai Ketua
Muhammadiyah menggantikan KH AR Fakhruddin. Berkenaan dengan dimensi tasawuf dalam
Muhammadiyah, Azhar Basyir menyatakan bahwa Muhammadiyah juga menganut tasawuf, seperti
yang ditulis Buya Hamka dalam buku Tasauf Modern. Menurutnya, orang dapat saja melakukan
kegiatan yang berorientasi dunia tanpa meninggalkan dzikir.
Demikianlah ketegasan tokoh ini dalam menetapkan garis kebijakan Muhammadiyah. Melalui
gagasan dan pemikirannya itulah Azhar Basyir dikenal sebagai ulama yang banyak menguasai ilmu
agama, kehadirannya dalam khazanah pemikiran Islam seumpama sumur yang tak surut ditimba.

12. Prof Dr Amien Rais (1995-1998)

Amien Rais dikenal sebagai cerdik cendekia terkemuka yang telah menempatkannya di posisi Ketua
Dewan Pakar ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), yang lahir dan besar dari rahim Orde Baru.
Namun, kondisi politik dan perekonomian yang sudah terlanjur membusuk dan sangat tidak sehat bagi
demokratisasi mendorongnya mengambil langkah berani yang tidak populer dan bersuara lantang
tentang silang sengkarut praktik KKN (korupsi, kolusi, Nepotisme) di tubuh birokarasi serta eksploitasi
serakah kekayaan negeri yang sangat merugikan negara di sejumlah perusahaan besar asing seperti
Busang dan Freeport . Seperti resiko yang diduga banyak orang, Amien Rais kemudian terpental dari
posisinya di ICMI.
Namun kehadirannya di Muhammadiyah dan lompatan-lompatan gagasannya justru dianggap
sejalan dengan watak gerakan pembaharuan yang kritis dan korektif, hal itu kemudian menuai
dukungan penuh. Maka tahun 1993, dihadapan peserta Tanwir Muhammadiyah yang berlangsung di
Surabaya Amien Rais kembali menggulirkan isu besar, yakni perlunya suksesi kepresidenan. Sebuah
langkah janggal pada saat itu sebab gurita kepemimpinan Orde Baru masih sangat mencengkeram.
Keberaniannya mengambil resiko yang tak jarang bahkan mengancam jiwanya, diakui suami
Kusnariyati Sri Rahayu ini sebagai sikap amal ma'ruf nahi mungkar yang sesungguhnya amanat dan
sekaligus ruh gerakan dakwah Muhammadiyah. Aminen Rais juga merasa bahagia menerjang segala
resiko perjuangannya karena mendapat support penuh dari istri dan kelima putra-putrinya: Ahmad
Hanafi, Hanum Salsabilla, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan Ahmad Baihaqi.
Dapat dikata, aktivitas bermuhammadiyah Amien Rais tidak pernah terlepas dari pandangan
keprihatinannya terhadap kehidupan politik nasional yang menurutnya perlu direformasi untuk
menghindari keterpurukan bangsa yang semakin dalam. Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru dengan
mundurnya Soeharto dari jabatan presiden selama 32 tahun, situasi politik berlangsung mencekam
dan sangat meresahkan. Maka bersama berbagai komponen tokoh bangsa lainnya Amien Rais
mendirikan Majelis Amanat Rakyat (MARA) untuk mencari solusi terbaik pasca reformasi. Tak sedikit
yang mengaggap sudah kepalang tanggung jika Amien Rais harus berhenti hanya sampai disitu, atas
desakan dari berbagai komponen bangsa yang menginginkan perubahan paradigma politik Indonesia,
Amien Rais kemudian mendirikan partai politik yang diberi nama Partai Amanat Nasional (PAN).
Sebagai konsekuensi dari langkah politik itu, Amien Rais harus melepaskan posisi puncak di
Muhammadiyah.

13. Prof Dr KH Ahmad Syafii Maarif (1998-2005)

Syafii Maarif adalah figur ilmuwan yang selalu menempatkan kekuatan religi dalam setiap pergulatan
dengan ilmunya. Ia sejarawan dan ahli filsafat, tetapi di tengah masyarakat (setidaknya masyarakat
Yogyakarta) dia lebih dikenal sebagai seorang agamawan.
Ketika reformasi di Indonesia sedang bergulir, Amien Rais yang saat itu menjabat sebagai Ketua
Pimpinan Pusat Muhammadiyah harus banyak melibatkan diri dalam aktivitas politik di negeri ini
untuk menjadi salah satu lokomotif pergerakan dalam menarik gerbong reformasi di Indonesia.
Muhammadiyah harus diselamatkan agar tidak terbawa oleh kepentingan-kepentingan jangka
pendek. Pada saat itulah, ketika Muhammadiyah harus merelakan Amien Rais untuk menjadi
pemimpin bangsa, maka Syafi'i Ma'arif menggantikannya sebagai Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. Sebagai salah seorang Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ia terpilih dan
dikukuhkan sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Sidang Pleno Diperluas yang
diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Ia harus melanjutkan tongkat kepemimpinan
Muhammadiyah sampai Muktamar Muhammadiyah ke-44 tahun 2000 di Jakarta.
Pada Muktamar ke-44 tahun 2000 ia dipilih kembali menjadi Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah untuk periode masa jabatan 2000-2005. Setelah Muktamar ke-45 di Malang, jabatan
Ketua PP Muhammadiyah berganti sebutan menjadi Ketua Umum.

14. Prof Dr KH Din Syamsuddin (2005-sekarang)

Sebagai cendekiawan muslim yang cukup konsen mendorong proses demokratisasi, Din Syamsuddin
merasa berkepentingan untuk turut mengawal arah perkembangan dan kemajuan proses demokrasi di
negara yang memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia ini. Ikhtiar mulia ini, tercermin dalam sebuah
statemennya: Kemenangan politik Islam di Indonesia tidak hanya ditandai oleh perolehan suara partai-
partai Islam dan penguasaan posisi politik kenegaraan. Tapi pada sejauh mana nilai-nilai Islam seperti
keadilan, kebenaran dan persamaan dapat menjadi bagian dari watak bangsa. Ini yang harus terus
diperjuangkan bersama seluruh komponen bangsa.
Sementara di kancah internasional, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta ini telah menorehkan kiprah yang tak sedikit dalam usahanya merajut relasi konstruktif dan
menyuarakan urgensi hubungan damai antar pemeluk agama melalui berbagai forum yang
domotorinya seperti World Peace Forum/ WPF, Asian Committee on Religions for Peace/ ACRP, Tokyo.
World Conference on Religions for Peace/ WCRP, New York. World Council of World Islamic Call
Society, Tripoli. World Islamic People's Leadership, Tripoli. Strategic Alliance Russia based Islamic
World. UK-Indonesia Islamic advisory Group.

Sumber: situs resmi Muhammadiyah dan dokumen lainnya.

3. Apa latar belakang berdirinya muhammadiyah?

Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah


Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena
berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara
terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid,
bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Berkaitan dengan latar belakang
berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor penyebabnya adalah pertama,
faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan terhadap al-Qur’an
dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua, faktor obyektif
di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal ketidakmurnian
amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-
satunya rujukan oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Keinginan dari Kiyai Haji Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang
dapat dijadikan sebagai alat perjuangan dan da’wah untuk nenegakan amar ma’ruf
nahyi munkar yang bersumber pada Al-Qur’an, surat Al-Imron:104 dan surat Al-
ma’un sebagai sumber dari gerakan sosial praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid.
Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam Indonesia,
sebagai bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara
dalam awal bermuatan faham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya
umat islam di indonesia memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsif-
prinsif ajaran islam, terutama yang berhubuaan dengan prinsif akidah islam yag
menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid, bid’ah, dan khurafat. Sehingga
pemurnian ajaran menjadi pilihan mutlak bagi umat islamm Indonesia.
Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber
keprihatinan untuk mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan.
Keterbelakangan umat islam dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama
keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren tidak bisa selamanya dianggap menjadi
sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir moderen. Kesejarteraan
umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika kebodohan masih
melengkupi umat islam indonesia.
Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme Eropa
ke dunia timur yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan
proyek imperialalisme dan modernisasi bangsa Eropa, selain keinginan untuk
memperluas daerah koloni untuk memasarkan produk-produk hasil refolusi industeri
yang melada erofa.
Imperialisme Eropa tidak hanya membonceng gerilya gerejawan dan para
penginjil untuk menyampaikan ’ajaran jesus’ untuk menyapa umat manusia diseluruh
dunia untuk ’mengikuti’ ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin modernisasi yang
sedang melanda erofa. Modernisasi yang terhembus melalui model pendidikan barat
(belanda) di indonesia mengusung paham-paham yang melahirkan moernisasi erofa,
seperti sekularisme, individualisme, liberalisme dan rasionalisme. Jika penetrasi itu
tidak dihentikan maka akan terlahir generasi baru islam yang rasional tetapi liberal
dan sekuler.
Faktor-faktor yang melatar belakangi berdirinya organisasi Muhammadiyah
Setiap organisasi yang ada di dunia pada umumnya pasti memiliki faktor-faktor
yang melatar belakangi berdirinya organisasi tersebut. Khususnya dalam organisasi
Muhammadiyah memiliki beberapa faktor penting yaitu ada faktor dari dalam dan
faktor dari luar. Berikut kami kutip dari situs resmi Muhammadiyah tentang faktor
yang melatar belakangi berdirinya Muhammadiyah yaitu:

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri
yang tercermin dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam.
Sikap beragama umat islam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan
sebagai sikap beragama yang rasional. Sirik, taklid, dan bid’ah masih
menyelubungai kehidupan umat islam, terutama dalam lingkungan kraton, dimana
kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama yang demikian bukanlah
terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, tetapi merupakan warisan
yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad
sebelumnya. Seperti diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi
oleh dua hal, yaitu Tasawuf/Tarekat dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut
para pedagang dan kaum sufi memegang peranan yag sangat penting. Melalui
merekalah islam dapat menjangkau daerah-daerah hampir diseluruh nusantara ini.

2. Faktor eksernal

Faktor lain yang melatarbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah


faktor yang bersifat eksternal yang disebabkan oleh politik penjajahan kolonial
belanda. Faktor tersebut antara lain tanpak dalam system pendidikan kolonial serta
usaha kearah westrnisasi dan kristenisasi.
Pendidikan kolonial dikelola oleh pemerintah kolonial untuk anak-anak bumi
putra, ataupun yang diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan
financial dari pemerintah belanda. Pendidikan demikian pada awal abad ke 20
telah meyebar dibeberapa kota, sejak dari pendidikan dasar sampai atas, yang
terdiri dari lembaga pendidikan guru dan sekolah kejuruan. Adanya lembaga
pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan diawal abad 20, yaitu
pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial. Kedua jenis pendidikan ini
dibedakan, bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari
kurikulumnya.
Pendidikan kolonial melarang masuknya pelajaran agama dalam sekolah-
sekolah colonial, dan dalan artian ini orang menilai pendidikan colonial sebagai
pendidikan yang bersifat sekuler, disamping sebagai peyebar kebudayaan barat.
Dengan corak pendidikan yang demikian pemerintah colonial tidak hanya
menginginkan lahirnya golongan pribumi yang terdidik, tetapi juga
berkebudayaan barat. Hal ini merupakan salah satu sisi politik etis yang disebut
politik asisiasi yang pada hakekatnya tidak lain dari usaha westernisasi yang
bertujuan menarik penduduk asli Indonesia kedalam orbit kebudayaan barat. Dari
lembaga pendidikan ini lahirlah golongan intlektual yang biasanya memuja barat
dan menyudutkan tradisi nenekmoyang serta kurang menghargai islam, agama
yang dianutnya. Hal ini agaknya wajar, karena mereka lebih dikenalkan dengan
ilmu-ilmu dan kebudayaan barat yang sekuler anpa mengimbanginya dengan
pendidiakan agama konsumsi moral dan jiwanya. Sikap umat yang demikianlah
tankanya yang dimaksud sebagai ancaman dan tantangan bagi islam diawal abad
ke 20.

Visi dan Misi Muhammadiyah


Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da’wah amar ma’ruf
nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama
Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah
berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi
aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu’amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan
yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif.
Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau
mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-’alamin dalam kehidupan di
muka bumi ini.
Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an
dan as-Sunnah dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif
dalam melaksanakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar di segala bidang,
sehingga menjadi rahmatan li al-‘alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan
menuju terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai Allah
Subhanahu wa taala dalam kehidupan di dunia ini. Misi Muhammadiyah adalah:
1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah
Subhanahu wa taala yang dibawa oleh Rasulullah yang disyariatkan sejak
Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
2) Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa
ajaran Islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan
kehidupan yang bersifat duniawi.
3) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an sebagai kitab
Allah yang terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.
4) Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan
masyarakat. Lihat Tanfidz Keputusan Musyawarah Wilayah ke-39
Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 2005 di Kota Sawahlunto

Profil Pendiri Muhammadiyah


Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, Nama kecil KH.
Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh
orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.
Pendiri Muhammadiyah ini termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana
Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor
penyebaran agama Islam di Jawa.
Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana
'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki
Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru
Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar,
dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada
periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran
pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan
Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama
menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan
menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad
Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia
mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak
Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang
Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti
Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj
Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.
Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H.
Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH.
Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah
(adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah
dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.
Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Dahlan masuk Boedi
Oetomo - organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau
memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota. Pelajaran yang
diberikannya terasa sangat berguna bagi anggota Boedi Oetomo sehingga para
anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai Dahlan membuka sekolah sendiri
yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen.
Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional
yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia. Saran itu kemudian
ditindaklanjuti Kiai Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama
Muhammadiyah pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330). Organisasi ini
bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah beliau
berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.
Nama Kiai Haji Akhmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia. Dalam kancah
perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau
sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya
merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.
Kiai Dahlan menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai yakni KH.
Muhammad Shaleh di bidang ilmu fikih; dari KH. Muhsin di bidang ilmu Nahwu-
Sharaf (tata bahasa); dari KH. Raden Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi); dari
Kiai Mahfud dan Syekh KH. Ayyat di bidang ilmu hadis; dari Syekh Amin dan Sayid
Bakri Satock di bidang ilmu Al-Quran, serta dari Syekh Hasan di bidang ilmu
pengobatan dan racun binatang.
Pada usia 54 tahun, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, Kiai Haji Akhmad
Dahlan wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di kampung
Karangkajen, Brontokusuman, wilayah bernama Mergangsan di Yogyakarta. Atas
jasa-jasa Kiai Haji Akhmad Dahlan maka negara menganugerahkan kepada beliau
gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan
tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember
1961.

4. Sebutkan landasan normatif dan landasan operasional?

5. Sebutkan yayasan dibawah muhamamdiyah?