Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS KEPATUHAN WAJIB PAJAK MENGGUNAKAN PERSPEKTIF

ETIKA BUDAYA LOKAL SIPA SIPAKATAU SIPAKALEBBI SIPAKAINGE

Winda Winarda/10800113148
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
UIN Alauddin Makassar
wwwindaww@gmail.com

ABSTRACK

Taxes are a source of revenue for the development of the country's largest country
Indonesia. However, the level of awareness of taxpayer compliance in carrying out the
tax is still very minimal, it is caused due to the lack of deployment ethics taxpayers in
the implementation of the tax. The purpose of this writing is to know how the rate of a
tax if the taxpayer compiance upholding the ethics and culture of the local sipa
sipakatau sipakalebbi sipakainge in the execution of taxation. By using the theory of
utilitarianism ethics and theory of planned behavior writers trying to unravel that tax
compliance could be improved if the taxpayer has a high ethical and sipa sipakatau
sipakalebbi sipakainge able to effect compliance and awareness of taxpayers to pay
taxes voluntarily.

Keywords : Taxpayer Compliance, Ethics, Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dominasi pajak sebagai sumber penerimaan merupakan satu hal yang sangat wajar,
sumber penerimaan ini mempunyai umur tidak terbatas, terlebih dengan semakin
bertambahnya jumlah penduduk yang mengalami peningkatan setiap tahunnya
(Hardiningsih dan Yulianawati, 2011). Penerimaan perpajakan merupakan salah satu
pilar utama penerimaan APBN yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja
negara dalam rangka pembangunan nasional (Cahyonowati, 2011). Penerimaan pajak
diharapkan terus meningkat agar pembangunan negara dapat berjalan dengan baik.
Dalam peningkatan pendapatan negara, pemerintah telah memberikan kepercayaan
penuh kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk meningkatkan penerimaan negara dari
sektor pajak yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan (Mangoting dan
Sadjiarto,2013). Pajak adalah kewajiban yang melekat kepada setiap yang memenuhi
syarat yang telah ditetapkan oleh undang-undang agar membayar sejumlah uang ke kas
negara yang bersifat memaksa, dan tidak mendapatkan imbalan secara langsung
(Tiraada,2013).
Sistem pembayaran pajak di Indonesia yaitu self assessment system (SAS) sejak
tahun 1983, yang sebelumnya memakai official assesment system (OAS). Berubahnya
penggunaan OAS ke SAS dianggap sebagai reformasi yang besar karena OAS tidak
melibatkan keaktifan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan sedangkan
SAS melibatkan peran keaktifan wajib pajak dalam penentuan besarnya pajak yang
terutang dan melaporkan secara teratur jumlah pajak terutang dan melaporkan secara
teratur jumlah pajak yang terutang dan yang telah dibayar sebagaimana ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan kata lain, sistem ini memberi
wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus
dibayar (Witono,2008).
Kesadaran wajib pajak untuk membayar pajak tepat waktu akan mempengaruhi
tinggi rendahnya terhadap kepatuhan wajib pajak. Kesadaran adalah keadaan
mengetahui atau mengerti, sedangkan perpajakan adalah perihal pajak. Sehingga
kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak. Penilaian
positif wajib pajak terhadap pelaksanaan fungsi negara oleh pemerintah akan
menggerakkan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk membayar pajak, maka
dari itu kesadaran wajib pajak mengenai perpajakan amatlah diperlukan guna
meningkatkan kepatuhan Wajib pajak (Jotopurnomo,2013).
Setelah timbul kesadaran membayar pajak dari masyarakat maka peran
pemerintah juga tidak jauh dari hal tersebut, kesadaran wajib pajak untuk membayar
pajak juga tergantung dari cara pemerintah memberikan penerangan dan pelayanan
kepada masyarakat sebagai wajib pajak agar kesan dan pandangan yang keliru tentang
arti dan fungsi pajak dapat dihilangkan, kesadaran merupakan unsur dalam diri manusia
untuk memahami realitas dan bagaimana mereka bertindak atau bersikap terhadap
realitas yang dikuatkan dengan teori etika utilitarianisme yang mana dijelaskan bahwa
suatu tindakan yang baik dikatakan baik apabila berdampat baik untuk orang banyak
seperti hanlnya kesadaran membayar pajak yang hasil pembayaran pajaknya akan
digunakan untuk pembangunan negara yang akan membawa kebaikan bagi masyarakat.
Penelitian-penelitian sebelumnya telah diungkap beberapa faktor yang
mempengaruhi kepatuhan wajib pajak membayar pajak dalam penelitian Masinambow
(2013) menjelaskan bahwa Kesadaran merupakan unsur dalam diri manusia dalam
memahami realitas dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi realitas tersebut. Pasal
1 ayat 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang “Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan” menyebutkan bahwa pajak adalah kontribusi wajib pajak kepada
negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk
keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Susilawati (2013) juga
menyebutkan faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak adalah kesadaran wajib
pajak, pengetahuan, dan sanksi pajak.
Kepatuhan pajak adalah keadaan saat wajib pajak memenuhi semua kewajiban
perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Lebih lanjut kepatuhan pajak dibagi
menjadi dua, yaitu: 1) kepatuhan pajak formal dan 2) kepatuhan pajak material.
Kepatuhan pajak formal adalah kepatuhan yang diatur sesuai dengan ketentuan dalam
undang-undang perpajakan. kepatuhan materiil adalah suatu keadaan dimana wajib
pajak selain memenuhi kewajiban yang berhubungan dengan nama dan bentuk
kewajiban perpajakan, juga terutama memenuhi hakekat kewajiban perpajakannya.
(Mangoting,2013).
Pelayanan adalah cara melayani (membantu mengurus atau menyiapkan segala
keperluan yang dibutuhkan seseorang). Sementara itu fiskus adalah petugas pajak.
Pelayanan fiskus dapat diartikan, cara seorang petugas pajak dalam membantu
mengurus atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan wajib pajak dalam
mengurus pajak mereka. Penyebab rendahnya kepatuhan pajak dapat disebabkan oleh
kurangnya kualitas pelayanan petugas pajak. Besarnya biaya-biaya yang harus
dikeluarkan Wajib pajak dalam menyelenggarakan kewajiban perpajakannya juga turut
menentukan tingkat kepatuhan perpajakan
Lingkungan wajib pajak termasuk pula kebudayaan masyarakat yang telah
melekat dalam kesehariannya. Dalam antropologi, kebudayaan menyangkut berbagai
cara hidup umat manusia yang tercermin dalam pola-pola tindakan (action) dan
perilakunya (behavior). Menurut Karmadi (2002) Beragam wujud warisan budaya lokal
memberi kita kesempatan untuk mempelajari kearifan lokal dalam mengatasi masalah-
masalah yang dihadapi di masa lalu. Masalahnya kearifan lokal tersebut seringkali
diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan.
Dalam wujud kebudayaan sebagai suatu ide-ide, gagasan, nilai-nilai, dan norma-norma,
maka komunikasi dapat berfungsi sebagai alat untuk mensosialisasikan nilai-nilai
budaya kepada masyarakatnya.
Budaya memberi corak pada tingkah laku, pemikiran, kepribadian dan
mentalitas serta identitas dari masyarakat tersebut (Taibe, 2006). Budaya lokal yang
diangkat peneliti dalam hal ini adalah budaya bugis Makassar yaitu sipa sipakatau,
sipakalebbi, dan sipakainge. Dalam konteks budaya masyarakat Bugis dikenal budaya
sipakatau (saling menghargai) dan sipakalebbi’ (saling menghormati) dan sipakainge
(saling mengingatkan) (Yusuf, 2015). Pendekatan yang mengapresiasi kearifan lokal
sebagai salah satu solusi meretas perdebatan yang banyak timbul dikalangan masyarakat
di masa sekarang ini.
Sesungguhnya budaya bugis Makassar mengandung esensi nilai luhur yang
universal, namun kurang teraktualisasi secara sadar dan dihayati dalam kehidupan
sehari-hari padahal jika diaktualisasi secara mendalam layaknya dulu di zamannya
mungkin banyak masalah yang terselesaikan tanpa ada perdebatan yang panjang. Jika
kita menelusuri secara mendalam, dapat ditemukan bahwa hakikat inti kebudayaan
bugis Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada konsepsi mengenai “tau”
(manusia), yang manusia dalam konteks ini, dalam pergaulan sosial, amat dijunjung
tinggi keberadaannya. Dari konsep “tau” inilah sebagai esensi pokok yang mendasari
pandangan hidup orang bugis Makassar, yang melahirkan penghargaan atas sesama
manusi.
Budaya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan termasuk kepatuhan wajib
pajak dalam membayar pajak. Sesuai yang telah dipaparkan diatas penulis berusaha
mengungkap apakah etika budaya sipa sipakatau sipakalebbi sipakainge pada
kebudayaan makassar dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak apabila
diaplikasikan dalam keseharian wajib pajak. Mampukah kearifan lokal budaya bugis
menjadi satu faktor kepatuhan wajib pajak seperti layaknya faktor-faktor yang telah
diteliti oleh peneliti sebelumnya sehingga dapat menjadi satu sumbangsi dalam
pencapaian target penerimaan pajak dari wajib pajak yang telah terdaftar sebagai wajib
pajak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pendahuluan diatas peneliti ingin meneliti budaya lokal
bugis makassar yakni budaya sipakatau (saling menghargai) dan sipakalebbi’ (saling
menghormati) dan sipakainge (saling mengingatkan) jika ditanamkan dan dihayati
secara mendalam oleh wajib pajak dan diaplikasikan secara totalitas dalam pelaksanaan
perpajakan apakah akan berdampak pada kepatuhan wajib pajak mungkinkah akan
meningkatkan pendapatan pajak negara yang mampu membantu pembangunan Negara
dengan sumbangsi dana dalam APBN. Maka dapat dirumuskan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana meningkatkan kepatuhan wajib pajak menggunakan perspektif
etika?
2. Bagaimana pengaruh budaya lokal sipa sipakatau sipakalebbi sipakainge
terhadap kepatuhan pajak ?
3. Bagaimana hubungan tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap tingkat
penerimaan pajak ?

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

A. Teori Etika Utilitarianisme


Arief, dkk (2014) menjelaskan, Teori utilitarianisme atau utilitarisme yang
berasal dari kata Latin utilis yang berarti “bermanfaat”, berpandangan bahwa suatu
perbuatan atau tindakan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus
menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.
Utilitarianism, suatu tindakan dinilai baik, jika bertujuan mencapai sesuatu yang baik,
atau akibat yang ditimbulkannya baik dan bermanfaat. Semakin tinggi kegunaannya
maka semakin tinggi nilainya. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk
menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the
greatest number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar. Perbuatan yang
mengakibatkan paling banyak orang merasa senang dan puas adalah perbuatan yang
terbaik.
Dapat dipahami pula bahwa utilitarisme sangat menekankan pentingnya
konsekuensi perbuatan dalam menilai baik buruknya suatu perbuatan. Kualitas moral
suatu perbuatan dalam menilai baik buruknya tergantung pada konsekuensi atau akibat
yang dibawakan olehnya. Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar,
maka perbuatan itu adalah baik. Sebaliknya, jika perbuatan membawa lebih banyak
kerugian daripada manfaat, perbuatan itu harus dinilai buruk. Utilitarianisme tidak
boleh dimengerti dengan cara egoistis. Beberapa pandangan yang mendukung teori ini,
menyatakan bahwa daya tarik pendekatan utilitarian terutama didasarkan pada nilai-
nilai positif dari etika ini, yaitu rasionalitas, kebebasan, dan universalitas.
Teori utilitarianisme menganggap tindakan itu etis apabila secara tulus suatu
tindakan itu dilakukan untuk kepentingan orang banyak. Oleh karena itu, dalam situasi
dimana kita perlu mengambil kebijakan atau tindakan berdasarkan teori etika
utilitarianisme, perlu menggunakan perasaan atau intuisi moral kita untuk
mempertimbangkan secara jujur apakah tindakan yang kita ambil memang manusiawi
atau tidak terlepas dari perbedaan persepsi akan konsep manfaat itu sendiri.
Teori utilirianisme kaitannya dengan budaya wajib pajak yaitu dianggap bahwa
ketika wajib pajak berbuat baik tapi hanya bermanfaat untuk diri individu maka hal baik
tersebut tidak dianggap baik dalam teori ini, tapi perbuatan baik dianggap baik jika hal
baik itu memiliki manfaat baik untuk banyak orang, ini berkaitan erat dengan budaya
sipa sipakatau, sipakalebbi, sipakainge. selanjutnya budaya sipakatau mengajarkan sifat
saling menghargai sesama wajib pajak dan instrumen pajak lainnya. Sipakalebbi itu
sendiri mengajarkan sifat saling menghormati, kemudian sipakainge adalah sifat saling
mengingatkan karena dalam pelaksanaan perpajakan ini tidak semua orang benar, ada
saatnya dibutuhkan sifat saling mengingatkan dalam pelaksanaan perpajakan tersebut.

B. Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior )


Anggraini (2015) menjelaskan Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned
Behavior). Teori ini dikembangkan oleh Ajzen yang merupakan pengembangan dari
Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action). Teori Perilaku Terencana
(Theory of Planned Behavior) ini menekankan pada niat perilaku sebagai akibat atau
hasil kombinasi beberapa kepercayaan. Niat merupakan konsepsi dari tindakan
terencana dalam mencapai tujuan berperilaku .
Theory of Planned Behavior menyatakan bahwa keyakinan dapat berasal dari
individu yang akan membentuk suatu perilaku, keyakinan juga dapat diperoleh dari
pengaruh orang lain atau orang sekitar yang akan membentuk norma subjektif, dan yang
terakhir adalah keyakinan individu yang menghasilkan sikap yang nemguntungkan atau
merugikan yang akan diterima sehingga akan membentuk kontrol perilaku persepsian.
Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior) digunakan untuk mengkaji
perilaku individu sebagai wajib yang dipengaruhi oleh niat (intention) untuk berperilaku
patuh (Anggraini,2015)
Determinan intensi teori perilaku terencana tidak hanya dua (sikap terhadap
perilaku yang bersangkutan dan norma-norma subjektif) melainkan tiga dengan
diikutsertakannya aspek kontrol perilaku yang dihayati (perceived behavioral control),
yaitu :
a. Behavioral Beliefs
Behavioral beliefs merupakan keyakinan individu akan hasil dari suatu
perilaku dan evaluasi atas hasil tersebut.
b. Normative Beliefs
Normative beliefs yaitu keyakinan tentang harapan normatif orang lain dan
motivasi untuk memenuhi harapan tersebut.
c. Control Beliefs
Control beliefs merupakan keyakinan tentang keberadaan hal-hal yang
mendukung atau menghambat perilaku yang akan ditampilkan dan
persepsinya tentang seberapa kuat hal-hal yang mendukung dan menghambat
perilakunya tersebut (perceived power).
Keyakinan mengenai perilaku apa yang bersifat normatif dan motivasi untuk
bertindak sesuai dengan harapan normatif tersebut membentuk norma subjektif dalam
diri individu. Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan
individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang
bersangkutan. Dalam teori perilaku terencana, faktor utama dari suatu perilaku yang
ditampilkan individu adalah intensi untuk menampilkan perilaku
tertentu(Anggraini,2015)
Intensi diasumsikan sebagai faktor motivasional yang mempengaruhi perilaku.
Intensi merupakan indikasi seberapa keras seseorang berusaha atau seberapa banyak
usaha yang dilakukan untuk menampilkan suatu perilaku. Sebagai aturan umum,
semakin keras intensi seseorang untuk terlibat dalam suatu perilaku, semakin besar
kecenderungan ia untuk benar-benar melakukan perilaku tersebut. Intensi untuk
berperilaku dapat menjadi perilaku sebenarnya hanya jika perilaku tersebut ada di
bawah kontrol individu yang bersangkutan. Individu tersebut memiliki pilihan untuk
memutuskan menampilkan perilaku terterntu atau tidak sama sekali. Sampai seberapa
jauh individu akan menampilkan perilaku, juga tergantung pada faktor-faktor non
motivasional. (Deviana dan Hardiningsih, 2014)
Keterkaitan theory of planned behavior terhadap budaya sipa sipakatau,
sipakalebbi, sipakainge yaitu seberapa besar niat wajib pajak untuk mengaplikasikan
sipa sipakatau sipakalebbi sipakainge ini dalam kepatuhan pajak. Ketika wajib pajak
yakin akan mengaplikasikan sipa sipakatau, sipakalebbi, sipakinge sebagai suatu
kesadaran yang harus ditingkatkan dan akan menjadi suatu kontrol untuk meningkatkan
perilaku kepatuhan pajak. kepatuhan pajak yang tinggi secara tidak langsung akan
berdampak pada tingkat penerimaan pajak yang juga akan tinggi. Semua hal tersebut
berkaitan langsung dengan manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat luas dengan
adanya pembangunan hasil dari penerimaan pajak oleh wajib pajak yang patuh.

C. Urgensi Kepatuhan Wajib Pajak


Menurut Undang-Undang Perpajakan, No. 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara
yang terhutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan
untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak merupakan
pungutan yang bersifat wajib yang dibebankan kepada masyarakat (induvidu dan badan)
sesuai dengan kemampuan ekonomis yang dimiliki dan pajak juga merupakan peralihan
kekayaan dari sektor rakyat ke sektor pemerintah untuk mem-biayai pengeluaran
negara.
Frey and Feld (2002) dalam Mukhlis (2012) menjelaskan bahwa wajib pajak
akan merespon positif atas bagaimana otoritas pajak memperlakukan mereka.
Khususnya kesediaan moral wajib pajak untuk membayar pajak atau tax morale akan
meningkat manakala pejabat pajak menghargai dan menghormati mereka (respect), dan
kemudian berdampak terhadap masyarakat yang merasa puas dan meyakini bahwa pajak
yang dipungut benar-benar dipergunakan untuk kebutuhan publik. Sebaliknya manakala
pejabat pajak menganggap wajib pajak sematamata sebagai subyek yang harus dipaksa
untuk membayar pajaknya, maka wajib pajak cenderung merespon dengan aktif untuk
mencoba menghindar membayar pajak. Beberapa faktor yang mempengaruhi tax
morale, seperti; persepsi adanya kejujuran aparat; kepercayaan terhadap instansi
pemerintah; penghargaan atau rasa homat dari aparat pajak ( respect); dan sejumlah
sifat-sifat individu lainnya. Dengan demikian mengharapkan tingkat kepatuhan pajak
yang tinggi, selalu disertai adanya keseimbangan antara tingkat kepatuhan wajib pajak
pada satu sisi dan kepatuhan fiskus dalam melaksanakan aturan perpajakan pada sisi
lainnya.
Kepatuhan Wajib Pajak merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang
dilakukan oleh pembayar pajak dalam rangka memberikan kontribusi bagi
pembangunan. Pendapatan Negara yang diharapkan didalam pemenuhannya dilakukan
secara sukarela. Kepatuhan Wajib pajak menjadi aspek penting mengingat sistem
perpajakan Indonesia menganut sistem Self Assessment System dimana dalam prosesnya
mutlak memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung, membayar dan
melapor kewajibannya. (Tiraada,2013).
Kepatuhan wajib pajak dapat dipengaruhi oleh dua jenis faktor yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri
wajib pajak sendiri dan berhubungan dengan karakteristik individu yang menjadi
pemicu dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Berbeda dengan faktor internal,
faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri Wajib pajak, seperti situasi dan
lingkungan di sekitar wajib pajak. (Fuadi, 2013).
Faktor internal kepatuhan pajak yang berasal dari diri wajib pajak disini dapat
pula dilihat dari etika wajib pajak dimana etika merupakan perbuatan yang dianggap
mulia oleh masyarakat. Semua pengertian mengenai etika tersebut mengacu atau
merujuk pada perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, atau pantas menurut adat
istiadat yang berlaku di suatu lingkungan atau kalangan masyarakat tertentu
(Badjuri,2010). Secara umum, menurut Gosh dan Crain 1996 etika dipahami sebagai
gambaran dari prinsip-prinsip moral atau nilai-nilai individu berdasarkan keyakinan
(belief) dan sikap (attitudes) yang telah terinternalisasi (Cahyonowati,dkk,2012).
Pengertian Etika menurut Firdaus (2005) dalam jurnal Samsi,dkk:2012 adalah
perangkat prinsip moral atau nilai. Masing-masing orang memiliki perangkat nilai,
sekalipun tidak dapat diungkapkan secara eksplisit. Prinsip-prinsip yang berhubungan
dengan karakteristik nilai-nilai sebagian besar dihubungkan dengan perilaku etis yaitu
kejujuran, integritas, mematuhi janji, loyalitas, keadilan, kepedulian kepada orang lain,
menghargai orang lain, menjadi warga yang bertanggungjawab, mencapai yang terbaik,
dan ketang-gunggugatan. Maryani dan Ludigdo (2001) dalam Samsi,dkk (2012)
mendefinisikan etika sebagai seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang
mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan
yang dianut oleh sekelompok atau segolongan manusia atau masyarakat atau profesi.
Etika menjadi faktor internal dari kepatuhan wajib pajak karena merupakan
sikap dari diri wajib pajak, ketika etika wajib pajak tercipta maka wajib pajak akan
menekankan bahwa sesuatu yang baik juga akan menghasilkan sesuatu yang baik,
seperti yang di jelaskan pada teori etika utilitarianisme bahwa jika suatu perbuatan
mengakibatkan manfaat paling besar, maka perbuatan itu dianggap baik. Sebaliknya,
jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat, perbuatan itu akan
dinilai buruk. Disinilah wajib pajak seharusnya berfikir untuk berbuat baik, apabila
wajib pajak telah menanamkan dalam dirinya bahwa berbuat baik untuk manfaat yang
besar dan untuk kepentingan bersama akan menggugah keinginan wajib pajak untuk
patuh dalam kewajiban perpajakan.
Kepatuhan wajib pajak juga didukung oleh Theory of Planned Behavior dimana
wajib pajak yang telah menanamkan dalam dirinya akan pentingnya beretika dalam
pelaksanaan perpajakan maka akan timbul niat yang baik untuk patuh terhadap
peraturan perpajakan, juga akan meningkatkan tingkat kepatuhan dalam pelaksanaan
perpajakan tersebut yang berdampak signifikan terhadap penerimaan pajak. Kepatuhan
pajak memiliki peranan yang cukup signifikan dalam rangka pencapaian kesejahteraan
hidup masyarakat. Adanya kepatuhan pajak yang tinggi dapat meningkatkan
penerimaan negara. Kondisi ini pada akhirnya dapat berdampak pada kenaikan
anggaran negara yang akan dialokasikan ke berbagai sektor dan pemerintahan di
bawahnya, sedangkan tingkat kepatuhan pajak yang rendah, mencerminkan adanya
ketidakrelaan masyarakat dan fiskus dalam melaksanakan kewajiban dan aturan
perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Mukhlis,2012).
Hidayat dan Nugroho (2010) dari hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa
semakin besar niat seseorang untuk tidak patuh terhadap pajak, akan semakin besar pula
kemungkinan orang itu untuk menampilkan perilaku ketidak-patuhan pajak. Pengaruh
niat tidak patuh yang signifikan terhadap perilaku ketidakpatuhan pajak menunjukkan
bahwa perilaku ketidakpatuhan pajak yang ditampilkan sangat dipengaruhi oleh niat
untuk tidak patuh. Demikian pula sebaliknya, perilaku kepatuhan pajak sangat
dipengaruhi oleh niat untuk patuh pajak.
Hofstede (1991) dalam Hidayat dan Nugroho (2010) mengungkapkan bahwa
dalam kaitannya dengan wajib pajak orang pribadi, niat untuk berperilaku tidak patuh
pajak ternyata tidaklah semata-mata didasari oleh sikapnya yang tidak patuh. Walaupun
sikap seseorang tidak patuh, namun niat orang itu dapat saja berkebalikan dengan
sikapnya. Hal ini dikarenakan dimensi kultur masyarakat timur yang kental. Dalam
kultur masyarakat timur, seseorang akan cenderung mengikuti dan meng-anut nilai-nilai
atau pendapat dari orang-orang yang ada dilingkungan sosialnya (Hofstede 1991).
Pengaruh tekanan sosial yang cukup besar menggambarkan besarnya pengaruh sosial
ini. Jika tekanan sosial disekitar wajib pajak adalah untuk patuh terhadap pajak, maka
niatnya akan cenderung untuk patuh pula terhadap pajak.

D. Sikap Wajib Pajak Dan Budaya Lokal Sipa Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge
Koentjaraningrat (1981) dalam Taibe (2006) mengungkapkan bahwa kehidupan
manusia tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan, kebudayaan dan manusia adalah
sebuah dinamika hidup yang memiliki ritme dan nada dasar yang menghasilkan sebuah
melodi yang indah, dinamis serta hidup dan bergerak. Melalui kebudayaan perilaku
diartikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam
rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Budaya
memberi corak pada tingkah laku, pemikiran, kepribadian dan mentalitas serta identitas
dari masyarakat tersebut.
Dalam kehidupan sosial suku bugis Makassar dikenal budaya sipakatau,
sipakalebbi, sipakainge yang sejatinya harus selalu ditanamkan dalam generasi agar
tetap memiliki adat kesantunan. Sipakatau adalah sifat yang tidak saling membeda-
bedakan. Maksudnya, semua orang sama. Tidak ada perbedaan derajat, kekayaan, dsb.
Dalam kehidupan, kita tidak selayaknya membedakan orang-orang, dimana dalam hal
ini kita dituntut untuk saling menghargai hak dan kewajiban satu sama lain. Antara sang
penguasa dan yang dikuasai diharapkan adanya sikap saling menghargai dan
menyokong satu sama lain, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sang penguasa
tentunya membutuhkan dukungan dari masyarakat bawah dalam memenuhi
kepentingannya, serta masyarakat bawah pun membutuhkan pemimpin yang mampu
memberikan kesejahteraan bagi mereka (Razak, 2015).
Seperti yang diungkapkan dalam asas pemungutan pajak oleh Smith dalam
Supramono dan Damayanti (2009:3) dalam Tiraada (2013), menyatakan bahwa
seharusnya pemungutan pajak didasarkan atas asas-asas berikut :
a. Equality
Harus terdapat keadilan, serta persamaan hak dan kewajiban di antara Wajib
Pajak dalam suatu Negara. Keadilan dalam pemungutan pajak ini dibedakan
menjadi dua, antara lain :
 Keadilan Horizontal
Keadilan horizontal berarti beban pajak yang sama kepada semua
Wajib Pajak yang memperoleh penghasilan sama dengan jumlah tanggungan
yang sama pula tanpa membedakan jenis penghasilan atau sumber penghasilan.
 Keadilan Vertikal
Keadilan vertical berarti pemungutan pajak adil. Jika Wajib Pajak
dalam kondisi ekonomi yang sama maka akan dikenakan pajak yang sama.
b. Certainty
Penetapan pajak harus jelas, tidak dilakukan secara sewenang-wenang.
Wajib Pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti besarnya pajak terutang, kapan
harus dibayar, dan batas waktu pembayaran.
c. Convenience
Pemungutan pajak harus memperhatikan kenyamanan (convenience) dari
Wajib Pajak, dalam arti pajak harus dibayar oleh Wajib Pajak pada saat-saat yang
tidak menyulitkan Wajib Pajak, yaitu pada saat memperoleh penghasilan (pay as
you earn).
d. Economics
Biaya untuk pemungutan pajak harus seminim mungkin. Dengan biaya
pemungutan yang minimal, diharapkan dapat menghasilkan penerimaan pajak yang
sebesar-besarnya.
Dari asas pemungutan pajak diatas digambarkan bagaimana saling menghargai
dan saling menyokong dalam perpajakan, tidak ada unsur untuk merugikan wajib pajak.
Ada banyak kebijakan dalam pelaksanaan pajak, yang diusahakan hanyalah bagaimana
wajib pajak tidak merasa terbebani dengan kewajibannya. Yang diharapkan pada
pemungutan pajak adalah meningkatkan penerimaan pajak yang secara sukarela
dibayarkan tanpa pemaksaan wajib pajak.
Sipakalebbi adalah sifat saling menghargai sesama manusia. Kita sesama
manusia, harus saling menghargai. Saling menghargai inilah yang diharapkan memberi
efek agar dapat menjalin suatu hubungan yang baik termasuk hubungan antara wajib
pajak dengan fiskus, yang seharusnya saling menghargai satu sama lain agar wajib
pajak merasa nyaman apabila dalam pelayanan fiskus terhadap wajib pajak terjalin
hubugan saling menghargai dan begitupun sebaliknya fiskus akan merasa nyaman
melayani wajib pajak ketika wajib pajak berlaku sopan, pada sipakalebbi ini lebih
menekankan etika sopan santun satu samalain.
Paseng sipakatau sipakalebbi bukanlah berarti suatu nilai bugis yang
menempatkan pelakunya sebagai orang yang berada pada posisi satu tingkat di bawah
orang yang dihormati. Bahkan sebaliknya, menghormati orang dalam bingkai sipakatau
sipakalebbi justru juga turut meninggikan kehormatan dan kemuliaan orang yang
menghormati. Dalam kumpulan Haji Andi Ninnong dikatakan “akka’i padammu rupa
tau natanrereko (angkatlah sesamamu manusia supaya engkau juga ditunjang).”
Ungkapan ini menggambarkan bahwa kalau seseorang mengharapkan penghargaan dari
orang lain, hendaknya ia mulai dengan menghargai orang lain terlebih dahulu.
Penghargaan akan datang karena ada sesuatu yang patut dihargai, dan salah satu yang
patut dihargai adalah menghormati dan menghargai orang lain (Latif,2012).
Dalam hal ini wajib pajak mampu menghargai petugas pajak, ketika petugas
pajak berlaku yang pantas untuk dihargai, ketika dalam pelayanan petugas pajak
melakukan pelanggaran atas ketentuan umum dan tata cara perpajakan yang mengatur
ketentuan bagi petugas pajak dapat menurunkan tingkat kepercayaan wajib pajak maka
secara langsung wajib pajak tidak akan menghargai petugas pajak. Hal tersebut juga
berlaku bagi wajib pajak yang melakukan pelanggaran maka akan diberi sanksi
perpajakan yang di atur dalam pasal 7 UU KUP No. 28 Tahun 2007.
Sipakainge adalah sifat dimana kita saling mengingatkan. Apabila ada diantara
kita yang melakukan kesalahan apa salahnya kita saling mengingatkan karena manusia
adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain dan tidak lepas dari
kesalahan. Dimana dengan tujuan dengan saling mengingatkan kita dapat merubah dan
menghindari sifat-sifat tercela yang tidak disukai oleh Allah SWT. Hubungannya
dengan pajak adalah sebagai instrumen pajak antara fiskus, sesama wajib pajak akan
lebih baik jika dalam pembayaran pajak kita saling mengingatkan tentang waktu
pembayaran pajak, saling mengingatkan untuk tetap patuh terhadap peraturan
perpajakan, saling mengingatkan agar tidak terjadi penyalahgunaan pajak.
Karena dengan saling mengingatkan juga akan meningkatkan kesadaran wajib
pajak akan kewajiban pembayaran pajak. Widayati dan Nurlis (2010) dalam Arum
(2012) menguraikan beberapa bentuk kesadaran membayar pajak yang mendorong
wajib pajak untuk membayar pajak. Pertama, kesadaran bahwa pajak merupakan bentuk
partisipasi dalam menunjang pembangunan negara. Dengan menyadari hal ini, wajib
pajak mau membayar pajak karena merasa tidak dirugikan dari pemungutan pajak yang
dilakukan.
Kedua, kesadaran bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban
pajak sangat merugikan negara. Wajib pajak mau membayar pajak karena memahami
bahwa penundaan pembayaran pajak dan pengurangan beban pajak berdampak pada
kurangnya sumber daya finansial yang dapat mengakibatkan terhambatnya
pembangunan negara. Ketiga, kesadaran bahwa pajak ditetapkan dengan Undang-
undang dan dapat dipaksakan. Wajib pajak akan membayar karena pembayaran pajak
disadari memiliki landasan hukum yang kuat dan merupakan kewajiban mutlak setiap
warga negara.
Karena tingkat kesadaran wajib pajak yang tinggi setelah mengaplikasikan sipa
sipakainge ini maka diharapkan semua warga negara dapat lebih patuh dalam
membayar pajak sehingga dapat memenuhi fungsi dari pajak. Fungsi pajak menurut
Indrawati (2006:167) dalam Laksono (2011) dibagi menjadi:
a. Fungsi Penerimaan (Budgetair)
Fungsi pajak terletak di sektor publik sebagai sumber dana atau sarana
untuk mengumpulkan uang pajak sebanyak-banyaknya, sesuai undang-undang
yang berlaku pada waktunya akan digunakan untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran negara.
b. Fungsi Mengatur (Regulated)
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu yang
letaknya di luar bidang keuangan, seperti di bidang ekonomi, sosial dan lain
sebagainya.
c. Fungsi Demokrasi
Pajak sebagai fungsi demokrasi adalah fungsi yang merupakan salah satu
pengeluaran atau wujud salah satu sistem gotong royong, termasuk kegiatan
pemerintah.
d. Fungsi Distribusi
Fungsi distribusi yaitu suatu fungsi yang lebih menekankan unsur
pemerataan dan keadilan masyarakat.
Mengingat fungsi pajak yang begitu banyak dan penting bagi Negara sebagai
sumber dana APBN untuk pembangunan negara maka sudah seharusnya wajib pajak
menjadi wajib pajak yang patuh agar anggaran-anggran yang telah dirancang dapat
terealisasi dengan baik. mengaplikasikan sipa Sipakatau (saling menghormati),
sipakalebbi (saling menghargai) dan sipakainge (saling mengingatkan) oleh wajib pajak
yang berusaha diterjemahkan dalam pengaplikasian perilaku instrumen pajak mampu
membantu peningkatan kepatuhan pajak yang berdampak signifikan terhadap
pendapatan seperti yang dijelaskan pada teori Utilitarianisme bahwa suatu perbuatan
atau tindakan dapat dikatakan baik jika dapat menghasilkan manfaat. Akan tetapi bukan
bermanfaat untuk pribadi seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang atau sekelompok
masyarakat.

III. KESIMPULAN

Kepatuhan wajib pajak dapat ditingkatkan menggunakan perspektif etika jika


wajib pajak menyadari bahwa sikap patuh membayar pajak merupakan perbuatan baik
yang dianggap mulia oleh masyarakat. Kesadaran wajib pajak berasal dari dalam diri
wajib pajak, kemudian bagaimana merealisasikannya. Disinilah fungsi etika karena
etika merupakan faktor internal dari kepatuhan pajak yang berasal dari diri wajib
pajak. Budaya lokal sipa sipakatau sipakalebbi sipakainge berpengaruh signifikan
terhadap tingkat kepatuhan pajak. Dimana dengan mengimplementasian budaya lokal
sipa sipakatau sipakalebbi sipakainge mampu memberi kesadaran wajib pajak atas
kewajibannya dan membayar pajak secara sukarela tanpa ada paksaan. Ketika
kesadaran wajib pajak meningkat dan tingkat kepatuhan atas kewajiban dalam
membayar pajak maka akan menigkatkan penerimaan pajak yang kemudian akan
bermanfaat bagi masyarakat apabila dana hasil dari pembayaran pajak difungsikan
sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini,fibria. (2015). Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Pajak Wajib


Pajak Orang Pribadi. SOSIO-E-KONS, Vol. 7 No. 3.

Arif, Moh. Lutfi Saiful., Robiatul Aulia., Nurul Herawati. (2014). Persepsi Mahasiswa
Akuntansi Tentang Praktik Creative Accounting. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma JAMAL Vol. 5.No. 1.

Arum, Harjanti Puspa. (2012). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Pelayanan Fiskus,
Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Yang
Melakukan Kegiatan Usaha Dan Pekerjaan Bebas (Studi Di Wilayah Kpp
Pratama Cilacap). Skripsi.

Badjuri, Achmad. (2010). Peranan Etika Akuntan Terhadap Pelaksanaan Fraud Audit.

Cahyonowati, Nur. (2011). Model Moral dan Kepatuhan Perpajakan: Wajib pajak
Orang Pribadi. JAAI Vol.15.No. 2.
Deviana, dhisa dan Pancawati Hardiningsih. (2014). Kepatuhan Wajib Pajak Badan
Dalam Perspektif Tax Professional. Prosiding Seminar Nasional Multi Disiplin
Ilmu & Call For Papers Unisbank (Sendi_U). sitas Stikubank Semarang.

Fuadi, Arabella Oentari dan Yenni Mangonting (2013). Pengaruh Kualitas Pelayanan
Petugas Pajak, Sanksi Perpajakan dan Biaya Kepatuhan Pajak Terhadap
Kepatuhan Wajib pajak UMKM. Tax & Accounting Review, Vol.1, NO.1.
Hardiningsih, P. & Yulianawati, N. (2011). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kemauan Membayar Pajak. Dinamika Keuanagn dan Perbankan Vol.3, No.1.
Hidayat, Widi,. & Nugroho, Argo Adhi. (2010). Studi Empiris Theory of Planned
Behavior dan Pengaruh Kewajiban Moral pada Perilaku Ketidakpatuhan Pajak
Wajib Pajak Orang Pribadi. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, Vol. 12, No. 2.
Jotopurnomo, C dan Mangoting, Y. (2013). Pengaruh Kesadaran Wajib pajak, Kualitas
Pelayanan Fiskus, Sanksi Perpajakan, Lingkungan Wajib pajak Berada terhadap
Kepatuhan Wajib pajak Orang Pribadi di Surabaya. Tax & Accounting Review,
Vol.1, No.1.
Karmadi, Agus Dono. (2002). Budaya Lokal sebagai Warisan Budaya dan Upaya
pelestariannya.
Laksono, Jati Purbo. (2011). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan
Wajib Pajak Badan Pada Perusahaan Industri Manufaktur Di Semarang.Skripsi.
Latif, Syarifuddin. (2012). Meretas Hubungan Mayoritas-Minoritas Dalam Perspektif
Nilai Bugis. Vol.12. No.1.
Mangoting, Y., & sadjiato, A. (2013). Pengaruh Postur Motivasi Terhadap Wajib pajak
Orang Pribadi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol. 15, No.2.
Masinambow, Andree.(2013). Analisis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Wajib
Pajak Orang Pribadi Dalam Memenuhi Kewaj iban Membayar Pajak Pada
Kantor Pelayanan Pajak Pratama Manado. Jurnal EMBA 1857. Vol.1 No.4.

Mosyarofah, S. Purnomo. (2008). Pengaruh Kesadaran Dan Persepsi Tentang Sanksi,


dan Hasrat Membayar PajakTerhadap Kepatuhan Wajib pajak. JAMBSP Vol. 5
No. 1.

Mukhlis, Imam. (2012). Pentingnya Kepatuhan Pajak Dalam Meningkatkan


Kesejahteraan Hidup Masyarakat.

Perwira,Annisa Dyiah dan zaki Baridwan. (2016). Pengaruh Pengetahuan Pajak, Sanksi
Pajak, Keadilan Pajak Dan Niat Untuk Patuh Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Orang Pribadi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis (JIMFEB).

Razak, Fitriani Sari Handayani. (2015). Kuasa Wacana Kebudayaan Bugis Makassar
Dalam Pilkada Di Kabupaten Pinrang (Studi Kasus: Mplementasi Nilai-Nilai
Sipakatau, Sikainge’ Dan Sipakalebbi Dalam Memobilisasi Massa Pada Pilkada
Pinrang Tahun 2013). Jurnal Politik Profetik. Vol.5.No.1.

Samsi,Nur., Akhmad Riduwan., Bambang Suryono. (2012). Pengaruh Pengalaman


Kerja, Independensi, Dan Kompetensi Terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan
Dengan Kepatuhan Etika Auditor Sebagai Variabel Pemoderasi. Jurnal Ilmu &
Riset Akuntansi Vol. 1 No. 12.

Susilawati, Ketut Evi., dan Ketut Budiartha. (2013). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak,
Pengetahuan Pajak, Sanksi Perpajakan Dan Akuntabilitas Pelayanan Publik Pada
Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor. E-Jurnal Akuntansi Universitas
Udayana.

Taibe, Patmawaty. (2006). The Effects Of Bugis Culture Upbringing Pattern To


Cinderella Complex Tendency In Bugis Women. University 45 Makassar.
Tiraada, A.M, Tryana (2013). Kesadaran Perpajakan, Sanksi Pajak, Sikap Fiskus
Terhadap Kepatuhan WPOP Di Kabupaten Minahasa Selatan. Journal EMBA
Vol. 1 No.3

Witono. (2008). Peranan Pengetahuan Pajak pada Kepatuhan Wajib pajak. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan Vol.7, No.2.

Yusuf, Muhammad (2015). Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Kearifan


Lokal: Pemikiran Ulama Bugis dan Budaya Bugis. Analisa Journal of Social
Science and Religion. Vol.22 No.01.